Luh Gede Eka Wahyuni1, Luh Diah Surya Adnyani2, Ni Putu Astiti Pratiwi3
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Semenjak dikeluarkannya surat edaran Permendikbud Nomor 4 Tahun 2020 yang menghimbau seluruh tingkat satuan pendidikan, khususnya sekolah dasar, untuk melaksanakan proses pembelajaran dalam jaringan (daring), sektor pendidikan merasakan berbagai persoalan terkait ketercapaian indikator dan tujuan pembelajaran yang
dicanangkan. Sulitnya penyampaian materi pelajaran karena kurangnya interaksi langsung antara guru dan siswa menjadi persoalan utama dalam sistem ini. Menurunnya motivasi dan keinginan anak untuk belajar mandiri juga menjadi salah satu hal yang harus mendapat perhatian lebih. Keadaan ini sangat menuntut guru untuk lebih mampu mengasah kompetensinya dalam mengajar.
Undang-MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BERBANTUAN STUDIO
CAMTASIA
1,2,3Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNDIKSHA
Email: [email protected]
ABSTRACT
The limited skills of teachers in developing digital learning media in the learning process are the main reasons for this community service activity. 20 elementary English teachers in Sukasada District participated in the activity. It was carried out for one day virtually through Zoom Meeting which was then continued with assistance for approximately one week through WhatsAp. The products produced in this activity were learning videos designed by participants based on the syllabus. The result of the product evaluation showed that the product quality of the participants was included in "Good" category. This means that participants have been able to design their own learning videos using Camtasia. During two-time implementation in the learning process, it was reported that the videos were sufficiently able to increase student motivation and communication skills. It means that the teachers are already ready to implement their own digital learning video in distance learning. However, the effectiveness of using video as a learning media for learning English needs to be studied more deeply.
Keywords: camtasia, digital learning media, video
Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan media pembelajaran digital untuk digunakan dalam proses pembelajaran merupakan alasan utama kegiatan pengabdian ini berlangsung. Sekitar 20 orang guru Bahasa Inggris SD se-Kecamatan Sukasada menjadi peserta kegiatan. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari secara virtual melalui Zoom Meeting yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan video dan penggunaannya selama kurang lebih satu minggu melalui WhatsAp. Produk yang dihasilkan dalam kegiatan ini berupa video-video pembelajaran yang didesain oleh peserta berdasarkan silabus. Berdasarkan hasil penilaian terhadap produk peserta menggunakan rubrik penilaian, dapat dikatakan bahwa kualitas produk peserta termasuk dalam katagori “Baik”. Artinya, peserta telah mampu merancang video pembelajarannya sendiri menggunakan Camtasia. Selama dua kali penggunaan dalam proses pembelajaran, dilaporka bahwa video cukup mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan keterampilan berkomunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa guru Bahasa Inggris SD sudah siap untuk mengimplementasikan video pembelajarannya sendiri selama pembelajaran jarak jauh. Namun, efektifitas penggunaan video sebagai media pembelajaran Bahasa Inggris perlu dikaji lebih dalam lagi.
Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen pasal 10
menegaskan bahwa guru harus
mengembangkan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Khususnya dalam kompetensi pedagogik, salah satu unsur yang harus dikuasai adalah kemampuan guru dalam mengembangkan dan memanfaatkan media dan sumber belajar. Hal ini ditegaskan lagi dalam Permendiknas Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses. Tertulis bahwa untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, guru wajib menggunakan media dan sumber belajar dalam pembelajaran. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa media atau sumber belajar merupakan hal penting yang harus dimanfaatkan oleh guru dalam menyampaikan konten pembelajarannya.
Istilah media atau sumber belajar sering dikaitkan dengan media pembelajaran. Media pembelajaran berupa alat fisik (contohnya buku, tape recorder, kaset, video, film, slide, foto, grafik, realita, model, dan lain-lain) untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar (Gagne & Briggs dalam Arsyad, 2002). Dijelaskan lebih lanjut bahwa media pembelajaran merupakan sarana komunikasi guru yang dapat berupa perangkat keras maupun lunak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Media pembelajaran mengacu pada materi yang disajikan dalam bentuk kata-kata, gambar atau video yang digunakan untuk menyampaikan materi dan melakukan kegiatan pembelajaran (Sari dkk., 2017) serta untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik untuk mendapatkan informasi (Mayer, 2001). Fungsinya untuk menyampaikan pesan secara tepat sehingga peserta didik tidak akan mengarah pada kesalahpahaman (Sari dkk., 2017). Singkatnya, media pembelajaran dapat dianggap sebagai peralatan pembelajaran yang memfasilitasi proses belajar mengajar.
Sebagai salah satu fasilitas pembelajaran (Aini, 2013), media pembelajaran dapat juga berupa 1) realia (diambil dari benda-benda nyata dan dijadikan objek untuk materi), 2) gambar, 3) buku cetak, 4) papan, 5) overhead proyektor (ditunjukkan dalam bentuk transparan), 6) flipchart (berisi beberapa poin penting diskusi yang ditulis pada kertas besar), dan 7) teknologi presentasi berbasis komputer (termasuk alat visual / audio-visual). Namun, tidak semua jenis media pembelajaran sesuai untuk pembelajaran peserta didik, terutama untuk anak-anak. Mengajar anak-anak sangat berbeda dengan mengajar orang dewasa karena mereka memiliki karakteristik dan keunikan yang memengaruhi proses pembelajarannya (Harmer, 2007).
Para guru perlu memahami karakteristik anak-anak terlebih dahulu, terutama anak-anak-anak-anak generasi Z, sebelum memilih dan mengimplementasikan media, terutama dalam situasi pembelajaran di tengah pandemi Covid’19 ini. Mengingat kegiatan proses pembelajaran kini sudah beralih menjadi pembelajaran daring, tidak banyak jenis media pembelajaran yang bisa digunakan karena keterbatasan ruang dan waktu. Oleh karena itu, media pembelajaran yang sangat sesuai untuk digunakan adalah yang berbasis teknologi/multimedia (Mustakin, 2020). Namun, kondisi siswa dalam hal penggunaan teknologi dan informatika perlu diketahui terlebih dahulu.
Terkait dengan pembelajaran Bahasa Inggris, berdasarkan hasil interview dan survey yang dilakukan di beberapa sekolah di Kecamatan Sukasada, ditemukan beberapa hal. Pertama,
peserta didik memiliki ketertarikan dan antusias yang kurang dalam belajar Bahasa Inggris di kelas, khususnya dalam mempelajari kosa kata yang baru bagi mereka. Namun, mereka sangat senang mempelajari Bahasa Inggris melalui Youtube. Artinya, peserta didik sudah terbiasa menggunakan teknologi seperti
handphone dan laptop dalam belajar. Kedua,
Kebanyakan dari mereka memiliki daya konsentrasi yang pendek.
Wawancara dengan guru mengenai proses pembelajaran menunjukkan bahwa peserta didik hanya mampu memperhatikan penjelasan gurunya selama kurang lebih 5 menit saja dan setelah itu mereka mulai ribut dan mengobrol. Apalagi jika teknik penyampaian materi yang kurang menarik perhatian peserta didik, mereka sama sekali tidak memerhatikan.
Ketiga, kebanyakan dari proses pembelajaran
hanya menekankan pada aktivitas menghapal daftar kosa kata tanpa adanya kegiatan lanjutan yang bersifat aplikatif.
Hal ini dikarenakan oleh keterbatasan guru dalam mempersiapkan media pembelajaran yang riil. Keempat, guru juga mengungkapkan bahwa peserta didiknya akan sangat termotivasi ketika guru menggunakan media visual dalam pembelajaran, seperti misalnya video. Mereka percaya bahwa penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didiknya akan sangat membantu meningkatkan output siswanya. Namun, mereka mengungkapkan bahwa sangat sulit menyiapkan media pembelajaran visual yang bervariasi dan inovatif seperti itu.
Mengingat pembelajaran sekarang yang harus berlandaskan pada student-centered, Mall
Assisted Language Learning (MALL), dan
skill development serta penerapan konteks
pembelajaran Abad 21 (lebih dikenal dengan era digital), maka media pembelajaran berbasis teknologi sebagai pembelajaran visualisasi sangat disarankan, salah satunya berupa video (Adnyani dkk., 2019; Wahyuni & Tantri, 2019). Salah satu aplikasi teknologi yang dapat digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran digital adalah Studio Camtasia. Studio Camtasia merupakan sebuah platform untuk mengembangkan media pembelajaran berbentuk video animasi. Wahyuni & Tantri (2019) menjelaskan beberapa keuntungan
menggunakan Camtasia untuk
mengembangkan media pembelajaran yang berbasis teknologi, baik bagi guru maupun siswa.
Media pembelajaran yang dikembangkan menggunakan Studio Camtasia ini membantu guru menyampaikan materi kepada para siswa. Karena konten telah disesuaikan dengan silabus, maka guru mudah untuk memastikan bahwa kompetensi dapat dicapai. Media pembelajaran itu juga membantu siswa mempelajari kosa kata Bahasa Inggris karena dilengkapi dengan pengejaan dan pengucapan yang benar oleh narator, sehingga mereka memiliki model yang baik untuk melakukannya. Media pembelajaran tersebut juga dapat menyajikan materi kontekstual untuk para siswa. Menurut hasil penelitian Adnyani dkk. (2019), secara keseluruhan, video pembelajaran berbasis Camtasia yang dihasilkan dianggap sebagai media
pembelajaran yang baik dan
diimplementasikan dengan tepat di tingkat dasar. Media pembelajaran yang baik harus terlihat menarik, sederhana, akurat, sah, dan terstruktur. Media akan menjadi media yang sangat bagus ketika mudah dilihat, menarik bagi siswa untuk dipelajari, sederhana dan mudah digunakan, andal, valid, dan desain secara sistematis. Disinilah pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi perlu untuk dioptimalkan oleh guru jika ingin meningkatkan kualitas proses pembelajaran, terutama jika guru telah difasilitasi oleh peralatan TIK yang lengkap.
Terkait dengan penggunaan teknologi, kebanyakan guru-guru sekolah dasar di Kecamatan Sukasada sudah memiliki fasilitas teknologi seperti laptop dan handphone. Fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, sehingga guru dapat menggunakannya selama proses pembelajaran daring. Namun, gurulah yang ternyata belum mampu memanfaatkan teknologi tersebut dalam mengembangkan media pembelajarannya. Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan, guru-guru Bahasa Inggris di Kecamatan Sukasada hanya memiliki satu jenis media teknologi yang digunakan, yaitu flashcard. Sebagian besar kegiatan dilakukan dengan menunjukkan
flashcard dan menghafal kosakata. Kegiatannya sangat monoton dan tidak ada interaksi yang terjadi selama proses pembelajaran. Itu membuat peserta didik kehilangan minat dan keterlibatan mereka untuk belajar karena bosan. Hal ini disebabkan karena para guru yang mengajar Bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Kecamatan Sukasada, sebagian besar tidak memiliki latar belakang bahasa Inggris.
Itu membuat mereka tertinggal dalam memahami keterbatasan materi, memilih media yang sesuai, dan memilih strategi untuk menyampaikan materi. Media yang digunakan sejauh ini diambil dari internet, namun isinya kurang cocok dengan konten silabus. Selain itu, mereka tidak dapat dan tidak mengerti apa yang harus digunakan untuk membuat media pembelajaran mereka sendiri. Dengan demikian, menghafal menjadi satu-satunya solusi yang mereka miliki. Mereka mengatakan bahwa mereka sangat memerlukan bimbingan yang intensif dalam pembuatan media ajar inovatif mereka sendiri.
Berdasarkan situasi di sekolah dasar di Kecamatan Sukasada, dipandang perlu untuk mengadakan pelatihan dan bimbingan tenis untuk guru-guru yang mengajar Bahasa Inggris SD di Kecamatan Sukasada, khususnya sekolah-sekolah yang berada di desa-desa dekat dengan DAS, dalam membuat media pembelajaran berbasis teknologi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, situasi
dan kondisi lingkungan sekolah. Pelatihan ini bertujuan guna memperkenalkan dunia digital yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar Bahasa Inggris serta meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran digital.
METODE
Kegiatan ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahapan pertama yaitu kegiatan menganalisis situasi untuk dapat merumuskan permasalahan. Tahapan kedua adalah menentukan strategi pemecahan masalah yang dilakukan dalam tiga langkah pemecahan; pertama, perencanaan pelatihan untuk mempersiapkan materi, instrumen, jadwal,, tempat, dan waktu kegiatan; kedua, pelaksanaan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama satu hari, yaitu tanggal 29 Agustus 2020 yang kemudian dilakukan pendampingan pembuatan video secara mandiri melalui WhatsAp. Strategi pemecahan ini dilakukan dengan harapan bahwa guru mampu membuat media pembelajaran digitalnya sendiri menggunakan Camtasia. Ceramah, tanya jawab, demonstrasi, dan
individual technical assistance dilakukan
untuk mencapai tujuan kegiatan. Keberhasilan kegiatan pelatihan ini dilihat dari kualitas produk peserta.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC yang kemudian dilanjutkan dengan laporan ketua panitia yang sekaligus memberikan arahan mengenai kebijakan pemerintah tentang penggunaan teknologi yang terintegral sebagai
media pembelajaran di masa pandemi Covid-19.
Arahan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat pentingnya penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran jarak jauh.
Gambar 1. Kegiatan Pembukaan yang Dilanjutkan dengan Laporan Ketua Pelaksana Ditengah-tengah penjelasan, diskusi kecil
dilakukan dengan para peserta untuk mengetahui media pembelajaran yang telah digunakan selama proses pembelajaran jarak jauh dan efektifitasnya terhadap siswa. Dari hasil diskusi, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan guru hanya menggunakan media PowerPoint untuk memberikan materi tentang kosa kata
(vocabulary) kepada siswanya. Walaupun cukup
efektif, tetapi penggunaan PowerPoint yang terus menerus membuat siswa menjadi bosan. Ada beberapa guru yang menggunakan video yang diunduh melalui Youtube, namun beberapa konten dalam video kurang berkaitan dengan cakupan materi. Karena keterbatasan dalam menyediakan media pembelajaran yang sesuai dan menarik, guru lebih banyak memberikan
soal-soal latihan berupa tes. Berawal dari inilah ketua pelaksana menjelaskan betapa pentingnya penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan cakupan kompetensi selama mengajar di masa pandemi ini. Karakteristik siswa yang lebih kepada audio-visual learners menjadi alasan utama media pembelajaran digital digunakan dalam proses pembelajaran. Laporan ketua panitia pelaksana ditutup dengan menjelaskan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini, yaitu guru-guru mampu merancang dan
membuat videonya sendiri serta
menggunakannya dalam proses pembelajaran daring.
Kegiatan selanjutnya mengenai bimbingan teknis penggunaan Camtasia dalam membuat video disampaikan oleh narasumber.
Gambar 2. Penjelasan Tutorial Pembuatan Video Pembelajaran oleh Narasumber
Selama kegiatan berlangsung, diskusi antara peserta dengan narasumber terkait teknis penggunaan Camtasia pun memberikan kesan yang sangat baik. Tidak ada kendala yang berarti bagi peserta selama mengikuti tutorial pembuatan video itu.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan virtual ini, selama kurang lebih 1 minggu, peserta (dengan partnernya) diminta untuk membuat sebuah video pembelajaran menggunakan Camtasia berdasarkan materi yang akan diajarkan di
pertemuan selanjutnya. Selama mengerjakan tugas ini, peserta akan dibimbing secara individual melalui WhatsAp untuk melakukan diskusi mengenai hal-hal teknis yang menjadi kendala. Respon peserta sangat baik. Mereka sangat antusias mencoba membuat video pembelajarannya sendiri. Ketika mengalami kendala, tak segan-segan peserta menghubungi narasumber untuk meminta saran, bahkan ada juga yang melakukan panggilan video untuk berdiskusi langsung.
Gambar 3. Kegiatan Pendampingan Pengembangan Video Pembelajaran Melalui WhatsApp
Satu per satu, peserta mengumpulkan video pembelajarannya. Video-video yang telah dikumpulkan tersebut kemudian dinilai
menggunakan rubrik penilaian untuk mengetahui kualitasnya. Berikut merupakan hasil penilaian video menggunakan rubrik.
Tabel 1. Hasil penilaian video permbelajaran yang dibuat oleh peserta
No Aspek
Skor Kelompok
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K10
1 As1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
3 As3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 As4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 5 As5 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 6 As6 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 7 As7 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 8 As8 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 9 As9 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 10 As10 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Total 35 35 35 35 36 36 34 38 35 36
Apabila dilihat dari total skor masing-masing video, rata-rata skor berada pada katagori “Baik” yang artinya peserta telah mampu menghasilkan video pembelajarannya sendiri sesuai dengan karakteristik media pembelajaran digital yang baik.
Sebagai tindak lanjut dari pembuatan video pembelajaran ini, peserta diminta untuk menggunakannya dalam proses pembelajaran. Peserta pun diwawancarai untuk melihat responnya dan siswa mereka mengenai efektifitas penggunaan media pembelajaran digital di masa pandemi Covid-19. Bila dibandingkan dengan sebelum menggunakan media pembelajaran digital, proses pembelajaran bagi siswa dirasa lebih efektif. Selama dua kali penggunaan video sebagai media pembelajaran Bahasa Inggris, peserta mengatakan bahwa siswa menjadi lebih tertarik untuk belajar karena video yang digunakan memiliki gambar, suara, dan informasi yang menarik. Fitur-fitur ini mampu membantu siswa terlibat langsung kedalam materi secara lebih kontekstual (Akerele, 2012). Hal serupa juga diungkapkan oleh Bauk & Radlinger (2013) bahwa video yang dihasilkan dengan menggunakan Camtasia mampu menciptakan konten materi yang lebih
interaktif untuk proses pembelajaran. Jika guru mampu melibatkan siswa dalam pembelajaran yang kontekstual dan interaktif melalui media pembelajaran digital, maka tujuan pembelajaran akan dengan mudah tercapai (Oyesola, 2014; Wahono, 2006).
Menurut guru, media pembelajaran digital juga dapat membantu siswa lebih memahami materi
dengan baik dibanding sebelum
menggunakannya. Penggunaan video sebagai media pembelajaran yang dilengkapi dengan audio mampu menjaga perhatian siswa dalam belajar (Dewi dkk., 2020) sehingga membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah (Nuari & Ardi, 2014; Hasibuan, 2015). Wahyuni & Tantri (2020) mengatakan bahwa pemahaman siswa sekolah dasar mengenai materi pembelaaran cenderung meningkat karena mereka menikmati proses pembelajarannya ketika guru menggunakan media pembelajaran yang dilengkapi dengan audio dan visual. Sekali siswa mampu membangun pemahamannya sendiri, mereka akan memeroleh pengalaman yang lebih bermakna dari proses pembelajarannya, meningkatkan kemampuan dalam berbahasa, meningkatkan kreatifitasnya (Wang, 2015), meningkatkan motivasi belajar dan
kemampuan berkomunikasi (Parvin & Salam, 2015). Karena media pembelajaran berbasis teknologi memberikan cara baru dan menarik dalam penyampaian materi, guru dapat menciptakan kegiatan pembelajaran yang bervariasi bagi siswa untuk memahami konsep dengan mudah (Hasibuan, 2015).
Disamping perubahan sikap yang ditunjukkan oleh siswa, peserta pelatihan juga melaporkan adanya perubahan positif terhadap keterampilan berkomunikasi siswa. Pertama, dengan menggunakan gambar-gambar yang lebih autentik dan kontekstual dalam video, siswa mampu meningkatkan pemahaman mereka mengenai kosa kata Bahasa Inggris (Ulfa dkk., 2017). Melalui visualisasi, video mampu membantu siswa mengingat kosa kata Bahasa Inggris dan menggunakannya dalam konteks berbeda selama stimulus yang diperlukan dalam menggunakan bahasa ada (Abuzahra dkk., 2016). Kedua, cara siswa melafalkan dan mengucapkan kata dengan benar. Berdasarkan dari laporan guru, setelah beberapa kali berlatih, siswa sudah mampu mengucapkan kata-kata dengan benar karena video memberikan contoh pengucapan yang benar (Rasyid, 2016). Petunjuk dan cara pengucapan yang benar yang ditampilkan oleh media pembelajaran audio-visual akan menjadi contoh yang sangat baik bagi siswa dimana nantinya mereka akan mampu belajar untuk memilah kosa kata yang harus digunakan dalam berkomunikasi (Dharmawan & Saniyati, 2016).
Dengan diperolehnya video pembelajaran yang dibuat oleh peserta sebagai produk akhir kegiatan pelatihan dan bimbingan teknis ini serta laporan mereka mengenai data-data efektifitas penggunaannya dalam mengajar, dapat dikatakan bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan ini telah tercapai.
SIMPULAN
Setelah kegiatan pelatihan dan bimbingan teknis berlangsung, dapat disimpulkan bahwa peserta guru Bahasa Inggris SD se-Kecamatan
Sukasada sudah memiliki pemahaman
bagaimana mengembangkan media
pembelajaran digital untuk digunakan dalam proses pembelajaran daringnya. Hal ini dapat diketahui dari produk-produk yang dihasilkan yaitu berupa video pembelajaran. Selain itu, peserta juga melaporkan bahwa penggunaan video ini dalam proses pembelajaran ternyata lebih efektif untuk siswa terutama dalam memotivasi belajar mereka dan pengembangan keterampilan dasar berkomunikasi. Ketercapaian dari kegiatan pengabdian ini juga terlihat dari hasil penilaian produk peserta yang dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian, dimana rata-rata kualitas video berada pada katagori “Baik”.
DAFTAR RUJUKAN
Abuzahra, N., Farrah, M., & Zalloum, S. (2016). Using cartoon in language classroom from a constructivist point of view. Arab World English Journal
(AWEJ), 3, 229-245.
Adnyani, L. D. S., Pratiwi, N. P. A., & Tantri, A. A. S. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis
TIK untuk Sekolah Dasar. Undiksha:
Unpublished Reseach Report.
Aini, W. (2013). Instructional media in teaching English to young learners: A case study in elementary schools in Kuningan. Journal of English and Education, vol. 1 , no. 1, pp. 196-205. Akerele, J. A. & Afolabi, A. F. (2012). Effect
of video on the teaching of library studies among undergraduates in Adeyemi College of Education Ondo. Library Philosophy and Practice (e-journal), vol. 1, no. 7.
Arsyad, Azhar. (2002). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Bauk, S. & Radlinger, R. (2013). Teaching
ECDIS by camtasia studio : Making the content more engaging. International
Journal on Marine Navigation, and Safety
of Sea Transportation, 7 (3), pp. 375-380.
Dewi, N.K.A.P., Adnyani, L. D. S., & Wahyuni, L. G. E. (2020). Describing camtasia video as learning media: An analysis of response in Efl Context.
Journal of Educational Research and
Education, 4(02), 165-170.
Dharmawan, Y. and Saniyati, M. (2016). Improving Students’ Pronunciation By Using Audio-Visual-Assisted Text. The Fourth International Conference on Education and Language (4th ICEL). pp 75-80.
Harmer, J. (2007). The Practice of English
Language Teaching, Fourth edi. England:
Pearson Education Limited.
Hasibuan, N. (2015). Pengembangan pendidikan islam dengan implikasi teknologi pendidikan. FITRAH , vol. 1, no. 2, pp. 189-206.
Mayer, R.T. (2001). Multi-Media Learning.
USA: Cambridge University Press. Mustakim. (2020). Efektivitas pembelajaran
daring menggunakan media online selama pandemi covid-19 pada mata pelajaran matematika. Al asma: Journal of Islamic Education, 2 (01), 1-12.
Nuari, F., Ardi, H., & M.Hum. (2014). Using camtasia studio 8 to produce learning video to teach English through e-learning.
JELT, 3, 1–9.
Oyesola, G. O. (2014). Criteria for Selecting Audio-Visual Material in Geography in Post Primary Institution.
Parvin, R. & Salam, S. (2015). The effectiveness of using technology in
english language classrooms in government primary schools in Bangladesh. Forum for International Research in Education, vol. 2, no. 1, pp. 47-59.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tentang Standar Proses.
Rasyid, S. (2016). Using Cartoon Movie to Improve Speaking Skill. Research in
English and Education (READ),
1(2),161-168
Sari, R., Gafari, M., & Sumarsih. (2017). The development of writing learning media in audio visual based on explanatory text at the students of class xi man 2 model medan, indonesia. International Journal of Education, Learning and Development
, 5 (10), 48-63.
Ulfa, F., Salim, A., & Permana, D. (2017). Teaching Vocabulary Using Cartoon Movie at SDN Bunklotok Batujai Lombok Tengah. Journal of Language
and Language Teaching, 5(1) : 23-27.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Wahono, R. S. (2006). Aspek dan Kriteria Penilaian Media Pembelajaran. 1-2. Wahyuni, L. G. E. & Tantri, A. A. S. 2020.
English learning media for efl elementary learners: A development of Camtasia-based digital video. Proceeding of
ICIRAD.
Wang, Z. (2015). An analysis on the use of video materials in college english teaching in China. International Journal
of English Language Teaching, vol. 2,