• Tidak ada hasil yang ditemukan

UTAMI TRIE WAHYUNI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UTAMI TRIE WAHYUNI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

EFEK METODE PRIMING DALAM MENINGKATKAN INISIASI SPONTAN ANAK AUTIS TERHADAP TEMAN SEBAYA

Yang Roswita, Utami Trie Wahyuni Fakultas Psikologi, Unika Soegijapranata

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah efek dari metode priming dapat meningkatkan inisiasi spontan anak autis terhadap teman sebayanya. Subjek penelitian ini adalah seorang anak autis berusia 6 tahun dan belum memiliki inisiasi spontan terhadap teman sebaya. Anak autis jarang untuk mempunyai inisiasi sosial terhadap teman sebayanya. Metode priming adalah suatu metode intervensi yang berisi tuntutan yang rendah, sesi penguatan yang tinggi di dalam aktivitas di sekolah yang digunakan untuk meningkatkan inisiasi spontan anak autis terhadap teman sebayanya di sebuah lembaga prasekolah. Penelitian ini menggunakan model rancangan kasus tunggal dengan desain AB dimana A merupakan baseline dan B merupakan treatment dari metode Priming yang terdiri dari 4 tahap yaitu Activity Sessions (Sesi Aktivitas), Priming Sessions (Sesi Priming), Whole Class Sessions and Reduce Priming Sessions. Setelah baseline, teman sebayanya dilatih untuk melakukan inisiasi sosial secara langsung kepada anak autis. Guru memberikan prompt untuk mendekatkan anak-anak ini dalam berinteraksi sosial ketika memang diperlukan dan diberikan reinforcement positif berupa reward sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima dimana metode priming dapat meningkatkan inisiasi spontan anak autis terhadap teman sebayanya.

Kata kunci: Autis, metode priming, inisiasi spontan, prompting, reinforcement positif, teman sebaya

PENDAHULUAN

Autisme terjadi pada 5 dari setiap

10.000 kelahiran, dimana jumlah

penderita laki-laki empat kali lebih besar

dibandingkan penderita perempuan.

Jumlah anak autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150-200 ribu orang (dalam Maulana, 2007).

Kata autis berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri, yang ditujukan

pada seseorang yang menunjukkan

gejala “seakan-akan hidup di dunianya sendiri”. Istilah autisme infantile (early

infantile autism) baru diperkenalkan

sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak

berabad-abad yang lampau. Kanner

beranggapan bahwa penyandang autisme tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seakan-akan berada dalam dunianya sendiri (Handojo, 2004).

Anak autis yang bersekolah tentunya akan mempunyai interaksi yang sulit dengan guru maupun teman-teman di sekolah karena anak autis memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi dan interaksi sosial. Dalam Buku Makalah (Seminar Autism Update, 2006) anak autis biasanya memiliki ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, dan bersikap acuh terhadap orang lain yang

mencoba berkomunikasi dengannya,

kurang responsif, menghindari kontak mata, interaksi sosial dan kurang dapat

memahami aturan-aturan dalam

berinteraksi sosial.

Ciri-ciri interaksi sosial pada anak autis dalam Peeters (2004) yaitu :

[Type your a ddr ess ]  [T ype your phone number ]  [T ype your e -mail add re ss ]

UT

AM

I

T

RI

E

WAH

YU

NI

07.

92.

0122

aM

1_050302@yah

oo.

com

(2)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

Menjauhkan diri secara sosial, antara lain: menyendiri dan tidak peduli dalam sebagian besar situasi. Interaksi pasif, antara lain: terbatasnya pendekatan sosial

secara spontan; kepasifan mungkin

mendorong terjadinya interaksi dari anak-anak lain; Interaksi aktif tapi aneh, antara lain: kelihatan adanya pendekatan sosial secara spontan (paling sering dengan orang dewasa dan kurang dengan anak-anak

lain); interaksi mungkin melibatkan

keasyikan yang bersifat repetitif dan

idiosinkratik/aneh (tak henti-hentinya

bertanya dan rutinitas verbal).

Penelitian yang dilakukan oleh

Shafer, dkk (1984) menunjukkan bahwa teman sebaya dapat meningkatkan perilaku sosial yang positif bagi anak autis dan selama proses bermain dengan teman sebaya ini maka anak autis belajar untuk

meniru (modeling) berbagai macam

interaksi sosial yang dilakukan oleh teman sebaya.

Menurut Shafer, dkk (1984), inisiasi adalah setiap respon perilaku apapun yang dilakukan di dalam proses interaksi sosial terhadap anak-anak lainnya. Carney dalam Cartledge & Milburn (1995). Hauck memberikan definisi inisiasi sosial sebagai berikut:

Inisiasi positif yang meliputi

memberikan afeksi (inisiasi secara fisik atau ekspresi secara verbal); memberikan informasi (tentang sesuatu yang orang lain tidak tahu); menyapa (berbicara ataupun

gerak-gerik tubuh); bermain inisiasi

dengan orang lain; memberi perhatian terhadap orang lain, benda ataupun suatu aktivitas; mencari informasi dari orang lain secara verbal atau non-verbal. Inisiasi negatif yang meliputi sikap agresi (agresi secara fisik atau merusak barang orang lain); provokator (mengucapkan kata-kata atau gerak-gerik tubuh yang negatif,

menyerobot mainan atau tempat duduk temannya). Inisiasi level rendah yang meliputi imitasi (anak menirukan perilaku anak lain); ekolali; melihat muka, badan atau perilaku anak lain; anak berpindah lebih dekat dengan anak lain; anak berkontak mata dengan anak lain; interaksi ritual dimana anak melakukan inisiasi yang khusus pada anak lain. Inisiasi mencari perhatian yang meliputi verbal dan

nonverbal. Menghindar yaitu anak

berpindah atau menjaga jarak dari anak yang lain (move out of proximity).

Inisiasi sosial menurut Zanolli, dkk (1996), meliputi inisiasi verbal dan inisiasi non-verbal. Inisiasi verbal antara lain menyapa temannya, memperkenalkan diri kepada orang lain, menyebutkan nama salah satu temannya, menawarkan sesuatu kepada orang lain, mengatakan secara spontan keinginannya, sedangkan inisiasi non-verbalnya antara lain tersenyum dan tertawa dengan sudut mulut yang naik keatas, melihat wajah temannya selama kurang lebih 2 detik, menyentuh salah satu anggota tubuh temannya dan juga termasuk memukul ataupun mencubit temannya.

Priming dalam bahasa inggris berarti

dasar atau insight untuk memulai sesuatu atau yang mendasari atau diawal sekali (Echols & Shadily, 2005, h.447). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Zanolli, dkk (1996, h.406), metode Priming merupakan suatu metode intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan inisiasi spontan anak autis prasekolah terhadap teman-teman sebayanya dalam pendidikan di kelas regular. Priming

meliputi tiga aspek yaitu : (1)

Dilaksanakan lebih dahulu dan

menggunakan materi yang sama seperti yang digunakan didalam aktivitas nyata yang ada. Artinya, priming adalah usaha

(3)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

melaksanakan aktivitas nyata yang ada. (2)

Tidak terlalu menuntut anak untuk

melakukan hal-hal tertentu, karena priming terdiri dari tugas-tugas yang mudah sekali dilaksanakan oleh anak. (3) Penuh dengan sumber-sumber yang memiliki potensi atau

kemungkinan tinggi untuk terus

memperkuat perilaku-perilaku positif yang sudah berhasil dilakukan anak (Zanolli & Daggett, 1998).

Dalam penelitian yang telah dilakukan Zanolli, dkk (1996), tahapan priming

dilakukan menjelang anak autisme

menjalani suatu aktivitas permainan anak-anak. Dalam hal ini, tugas anak autisme adalah mengarahkan perilaku sosialnya sendiri kepada seorang teman sebaya yang terlebih dahulu telah diberitahu dan dilatih tentang cara merespon perilaku anak autisme tersebut.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah efek dari metode

priming dapat meningkatkan inisiasi

spontan anak autis terhadap teman

sebayanya.

HIPOTESIS

Metode Priming meningkatkan inisiasi spontan anak autis terhadap teman sebayanya.

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian kuasi eksperimen dengan

rancangan subjek tunggal (Single subject

design).

Subjek

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak yang sudah mendapatkan diagnosa autis berusia 6 tahun dan belum

memiliki inisiasi spontan untuk

berinteraksi terhadap teman-teman

sebayanya. Penelitian dilakukan di sebuah lembaga prasekolah dan didalam satu kelas berisi anak-anak yang berusia 4-6 tahun dimana salah satu anak autis dan

selebihnya adalah anak-anak yang

merupakan anak-anak normal prasekolah.

Peneliti juga memberikan Informed

Consent untuk ditandatangani orangtua

subjek. Teman sebaya

Teman sebaya merupakan anak-anak normal di prasekolah yang sesuai dengan

kriteria-kriteria yaitu: teman sebaya

bersedia mendekati subjek secara suka rela tanpa desakan atau perintah dari guru atau

pengamat; secara verbal telah

mengemukakan rasa tertarik pada subjek; teman sebaya terlihat sering bermain-main dengan subjek; memiliki kemampuan sosial yang baik (penilaian guru kelas). Dari 14 anak yang ada di kelas subjek maka dipilih tiga orang teman sebaya (berinisial S, L dan V) yang akan mendampingi subjek di tahap treatment I dan tahap treatment II. Lalu pada ketiga teman sebaya diberikan pelatihan.

Pemberi Perlakuan dan Pengamat

Pemberi perlakuan adalah guru kelas subjek dimana di kelas subjek ada dua orang guru yang mendampingi. Pemberi perlakuan diberikan pelatihan tentang metode priming yang akan dilakukan di dalam kelas. Didalam penelitian ini, pengamat adalah sarjana psikologi yang pernah menangani anak autis. Tugas pengamat adalah melihat rekaman video selama penelitian dan mengamati perilaku yang dilakukan subjek lalu mengisi lembar

Anecdotal Records.

(4)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

Alat pengumpulan data yang

digunakan adalah Anecdotal Records. Pada

Anecdotal Records disediakan kolom

keterangan untuk setiap tingkah laku yang dilakukan subyek serta kolom untuk penulisan apakah perilaku diberi prompt

(dibantu) oleh guru atau unprompt

(perilaku inisiasi spontan).

Data yang dikumpulkan dalam

penelitian ini adalah data perilaku inisiasi spontan yang berupa perilaku nonverbal dan perilaku verbal. Perilaku nonverbal meliputi tersenyum (subjek tersenyum dan tertawa dengan sudut mulut yang naik keatas), melihat wajah teman sebaya (subjek melihat wajah teman sebaya selama 2 detik atau sampai teman sebaya merespon kembali), dan menyentuh teman sebaya termasuk memukul, mencubit serta perilaku non verbal lainnya.

Perilaku verbal meliputi perkataan “tunjukkan gambarmu”; “lihat saya”; “lihat kepunyaan saya”; “berikan kepada saya” dan menyebutkan salah satu nama teman sebaya serta perilaku verbal lainnya (perkataan apa saja yang dikatakan ketika melihat muka teman sebaya atau objek yang dipegang teman sebaya).

Setiap perilaku diatas ini akan

diberikan satu tanda (√) di kolom yang sudah disediakan di lembar Anecdotal

Records. Jadi skor 1 berarti mendapatkan

satu tanda (√) untuk inisiasi spontan dan skor 0 berarti tidak ada terjadi inisiasi spontan yang terjadi. Pengukuran dilihat dari banyak sedikitnya skor unprompt (inisiasi spontan) yang dikumpulkan setiap

tahapnya. Penilaian persetujuan

(agreement) diberikan apabila kategori perilaku ditandai (√) oleh ketiga pengamat maupun dua pengamat. Disagreement diberikan bila hanya satu pengamat yang memberikan tanda (√) pada lembar pengukuran. Reliabilitas dalam penelitian

ini dihitung dengan cara = agreement / (agreements + disagreements) x 100. Desain Eksperimen

Penelitian ini menggunakan model

single subject design yaitu suatu desain

penelitian eksperimen untuk mengevaluasi efek suatu perlakuan (intervensi) dengan

subjek tunggal. Tahap A adalah

pengamatan baseline terhadap target

perilaku yang natural dilakukan subyek

dalam penelitian. Tahap B adalah

treatment yang akan diberikan kepada

subjek dan perubahan perilaku yang terjadi akan dicatat (Barlow & Hersen, 1976, h.142). Treatment dari metode Priming yang digunakan terdiri dari 4 tahap yaitu

Activity Sessions (Sesi Aktivitas), Priming Sessions (Sesi Priming), Whole Class and Reduce Priming.

Prosedur Penelitian Baseline

Baseline adalah tahap dimana subjek

tidak diberi perlakuan apapun juga. Subjek dan tiga teman sebaya berada di dalam kelas bersama dengan pemberi perlakuan (guru) dan pengambil gambar (handycam). Subjek dan teman sebaya diberikan kertas bergambar dan diminta untuk mewarnai gambarnya. Baseline ini dilakukan selama 5x pertemuan dan setiap pertemuan dibutuhkan waktu 45 menit.

Treatment I

Treatment pertama adalah Activity Sessions (Sesi Aktivitas), sesi ini teman

sebaya diarahkan untuk berinisiasi

terhadap subjek dan di setiap kesempatan guru memberikan reinforcement positif

apabila teman sebaya dan subjek

(5)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

dilakukan selama 5x pertemuan dan setiap pertemuan dibutuhkan waktu 45 menit. Treatment II

Treatment kedua adalah Priming

Sessions (Sesi Priming), subjek bersama

ketiga teman sebaya diberikan kertas bergambar untuk diwarnai dan guru melakukan prompt dengan membisikkan

Behavior Definitions sebanyak 10x kepada

subjek agar berinisiasi dengan teman

sebaya. Guru juga memberikan

reinforcement positif apabila teman sebaya

dan subjek melakukan inisiasi. Treatment ini dilakukan selama 5x pertemuan, setiap pertemuan dibutuhkan waktu 45 menit. Treatment III

Treatment ketiga adalah whole class

dimana merupakan gabungan sesi aktivitas dan sesi priming di sini subjek berada di dalam kelas bersama teman-teman sebaya yang berjumlah 14 anak diberikan kertas bergambar untuk diwarnai. Di sesi ini, teman sebaya diarahkan untuk berinisiasi terhadap subjek dan di setiap kesempatan guru memberikan reinforcement positif

apabila teman sebaya dan subjek

melakukan inisiasi. Treatment ini

dilakukan 5x pertemuan dan setiap pertemuan dibutuhkan 45 menit.

Treatment IV

Treatment keempat adalah reduce priming dimana merupakan sesi yang sama

dengan sesi priming namun guru

membisikkan Behavior Definition kepada subjek diturunkan menjadi sebanyak 5x dan di setiap kesempatan guru memberikan

reinforcement positif apabila teman sebaya

dan subjek melakukan inisiasi. Subjek berada di dalam kelas bersama 14

teman-teman sebayanya diberikan kertas

bergambar untuk diwarnai. Treatment

keempat ini dilakukan selama 5x

pertemuan dan setiap pertemuan

dibutuhkan waktu 45 menit.

Analisis Data

Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis kuantitatif.

Analisis kuantitatif berdasarkan

penghitungan hasil dari lembar Anecdotal

Records selama treatment dilakukan dan

dapat dilihat dari hasil gambar grafik subjek yang berupa peningkatan dari hasil

baseline sampai hasil treatment. HASIL PENELITIAN

Baseline

Baseline dilaksanakan di sekolah

subjek selama 5x pertemuan. Subjek tidak diberikan perlakuan atau treatment sama sekali dan bermain bebas bersama-sama teman sebaya. Subjek jarang sekali melakukan inisiasi spontan terhadap teman sebayanya bahkan pada sesi pertama dan sesi kedua subjek sama sekali tidak melakukan inisiasi spontan terhadap teman sebayanya.

Treatment I

Treatment pertama dilaksanakan 5x

pertemuan dilakukan di dalam kelas subjek ditemani oleh tiga orang teman sebayanya

dan seorang guru. Subjek duduk

berdekatan dengan tiga teman sebaya sehingga sangat memungkinkan bagi subjek untuk melakukan inisiasi spontan dengan teman-teman sebaya.

Treatment II

Treatment kedua dilaksanakan 5x

pertemuan dilakukan didalam kelas

ditemani oleh tiga orang teman dan guru membisikkan 10x behavior definition.

Treatment III

Treatment ketiga dilaksanakan 5x

(6)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

oleh keempatbelas orang teman sebayanya dan seorang guru. Disini ada peningkatan perilaku inisiasi spontan yang dilakukan subjek dibandingkan sesi baseline.

Treatment IV

Treatment keempat dilaksanakan 5x

pertemuan di dalam kelas subjek ditemani keempat belas teman sebayanya dan seorang guru yang membisikkan 5x

behavior definition.

Tabel 6. Hasil Perilaku Inisiasi Spontan pada Baseline, Sesi Activity, Sesi Priming, Sesi Whole Class, Sesi Reduce Priming

Tahap Sesi Skor

Sesi Baseline 1 2 3 4 5 0 0 5 1 2 Sesi Activity 1 2 3 4 5 25 9 10 29 7 Sesi Priming 1 2 3 4 5 0 0 13 15 2 Sesi Whole Class 1 2 3 4 5 33 14 24 22 32 Sesi Reduce Priming 1 2 3 4 5 29 27 18 12 26 PEMBAHASAN

Hasil analisis penelitian ini

menunjukkan bahwa metode priming berpengaruh untuk meningkatkan perilaku inisiasi spontan pada anak autis terhadap teman-teman sebayanya.

Berdasarkan hasil tabel dan grafik secara keseluruhan dapat dilihat bahwa ada peningkatan dari baseline sampai ke sesi

reduce priming. Namun pada sesi priming

hasil perilaku inisiasi spontan mengalami penurunan dari sesi sebelumnya terutama pada pertemuan pertama dan kedua dimana inisiasi spontan tidak muncul sama sekali. Hal tersebut terjadi karena pada pertemuan pertama dan kedua, pemberi perlakuan (guru) belum paham dan terlatih untuk memberikan 10x behavior definition. Selain itu dari pengamatan, pemberi perlakuan (guru) belum bisa memahami

kondisi subjek dan kapan harus

memberikan behavior definition kepada subjek sehingga treatment sesi priming ini tidak terlihat efektivitasnya. Subjek juga terlihat teriak-teriak kepada guru karena disuruh untuk melakukan suatu perilaku tertentu ketika subjek asyik mewarnai tugas yang disukainya.

Pada sesi activity, perilaku inisiasi spontan terlihat mulai lebih banyak muncul dibandingkan tahap baseline. Hal ini disebabkan karena prosedur dari metode

priming dapat dilaksanakan dengan baik

seperti teman-teman sebaya yang dapat memberikan prompt dengan tepat serta

reinforcement positif yang sudah mulai

diberikan oleh guru. Namun juga terlihat grafik naik turun, hal ini karena subjek masih terlihat lebih fokus mengerjakan tugasnya mewarnai yang disukainya dan tidak menghiraukan teman-temannya.

Pada sesi whole class dan sesi reduce

priming, subjek berada di dalam kelas

(7)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

skor inisiasi spontan yang terjadi itu karena penambahan teman-teman sebaya yang banyak memancing inisiasi subjek. Guru juga memberikan reinforcement positif

apabila subjek dan teman sebaya

melakukan suatu inisiasi sosial.

Naik-turunnya perilaku subjek ini juga

dipengaruhi oleh emosi subjek yang masih labil dimana subjek kurang suka diganggu

ketika sedang mengerjakan tugas

mewarnai yang disukainya.

Pada sesi reduce priming juga dapat dilihat bahwa subjek mengalami naik-turun perilaku inisiasi spontan hal ini dapat terjadi karena guru membisikkan behavior

definitions sebanyak 5x sehingga hanya

ada sedikit waktu untuk subjek melakukan inisiasi spontan terhadap teman sebaya. Subjek juga sering merasa terganggu oleh guru karena harus melakukan suatu perilaku ketika subjek sedang asyik mewarnai gambarnya. Namun di sesi

reduce priming ini mulai terlihat

mengalami peningkatan daripada sesi

priming, hal ini karena guru yang mulai

terlatih untuk membisikkan behaviour

definition kepada subjek dengan tepat.

Keseluruhan proses diatas tidak lepas dari yang dinamakan proses modeling, dimana berarti seseorang membentuk dirinya serupa sosok orang lain. Menurut Bandura bahwa orang belajar dengan cara mengamati orang lain melakukan suatu tindakan belajar tanpa melakukan tindakan tersebut sendiri dan tanpa secara langsung mendapatkan reinforcement atau hukuman

atas perilaku tersebut

(Friedman&Schustack, 2008).

Dalam hal ini subjek menerima semua perilaku verbal maupun nonverbal dari teman-teman sebaya maupun guru tanpa

mempertimbangkan apa akibat dari

perilaku yang baru saja ditirukan subjek, Bandura dalam George, C.B. (2004),

menyebut hal ini sebagai

observasional/modeling atau biasa disebut

Social Learning Theory (Teori

Pembelajaran Sosial).

Metode priming ini secara efektif sangat mempengaruhi munculnya inisiasi spontan pada subjek, hal ini dapat terlihat pada saat kondisi subjek diisolasi dengan tiga teman sebaya maupun pada kondisi generalisasinya yaitu pada kondisi kelas yang sebenarnya. Hal ini memperlihatkan bahwa inisiasi spontan tidak akan terjadi tanpa menggunakan metode priming pada setiap tahap. Metode ini juga didukung oleh reinforcement positif dengan reward

social. Peneliti sadar bahwa penelitian ini

tentu saja tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan. Kelemahan dalam penelitian

ini terjadi karena penelitian ini

menggunakan setting sekolah sehingga waktu penelitian harus disesuaikan dengan libur sekolah.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa ada peningkatan inisiasi spontan dari tahap baseline sampai tahap

treatment. Pada setiap tahap treatment skor

inisiasi spontan anak autis ini mengalami peningkatan dibandingkan saat baseline.

Dengan demikian hipotesis dalam

penelitian ini diterima, hal ini berarti bahwa ada pengaruh penerapan metode

priming yang efektif dalam meningkatkan

inisiasi spontan pada anak autis. Saran

a. Bagi pihak sekolah

Diharapkan dapat melanjutkan

intervensi dengan menggunakan

(8)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

__________________________________________________________________________________________

inisiasi spontan pada subjek agar perilaku inisiasi spontannya konsisten. b. Bagi terapis dan Psikolog

Hasil penelitian ini diharapkan dapat

digunakan oleh terapis maupun

psikolog sebagai metode untuk

membantu meningkatkan inisiasi

spontan anak autis yang sesuai dengan karakteristik subjek dalam penelitian ini dalam berinteraksi dengan teman sebayanya.

DAFTAR PUSTAKA

Cartledge, G. & Milburn, J.F. 1995. Teaching Social Skills to Children and Youth. USA: Allyn and Bacon.

Echols, J. M. & Shadily, H. 2005. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Friedman, H.S. & Schustack. 2008. Psikologi Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern,

Edisi Ketiga, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

George, C.B. 2004. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog

Dunia. Yogyakarta: Prismasophie.

Handojo, Y. 2004. Autisma. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia.

Maulana, M. 2007. Anak Autis: Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju

Anak Cerdas dan Sehat. Yogyakarta: Katahati.

Peeters, T. 2004. Autisme. Jakarta: Dian Rakyat.

Seminar Autism Update, Buku Makalah Hari Ketiga. 2006. Jakarta: PROKIDS

Shafer, M.S., Egel, A.L., & Neef, N.A. 1984. Training Mildly Handicapped Peers To Facilitate Changes In The Social Interaction Skills Of Autistic Children. Journal of Applied

Behavior Analysis. Virginia Commonwealth University and The University of Maryland,

College Park (Vol. 17, No. 4, Hal 461-476).

Zanolli, K., Daggett, J. & Adams, T. 1996. Teaching Preschool Age Autistic Children to Make Spontaneous Initiations to Peers Using Priming. Journal of Autism and Developmental

Disorders. University of Kansas (Vol. 26, No. 4, Hal. 407-422).

Zanolli, K. & Daggett, J. 1998. The Effects of Reinforcement Rate on The Spontaneous Social Initiations of Socially Withdrawn Preschoolers. Journal of Applied Behavior Analysis. University of Kansas (Vol. 31,No.1, Hal. 117-125).

(9)

SERI KAJIAN ILMIAH, Volume 14, Nomor 1, Januari 2011

Gambar

Tabel  6.  Hasil  Perilaku  Inisiasi  Spontan  pada  Baseline,  Sesi  Activity, Sesi  Priming,  Sesi Whole Class, Sesi Reduce Priming

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, efek signifikan natrium diklofenak terhadap licking time terjadi pada fase kedua (fase inflamasi), meskipun berdasarkan hasil penelitian yang

layanan yang memadai memberikan nilai skor tertinggi dibandingkan indikator kemegahan hotel; Penilaian responden terhadap dimensi tanggungjawab sosial hotel pada masyarakat, dimana

Tuntunan Islam dalam urusan politik dan kenegaraan dalam garis besarnya sudah ada dalam Alquran dan Hadis Nabi. Namun dalam penerapan dan pelaksanaannya secara

BPPI sangat berharap agar RUU yang akan digarap, mampu mengatasi berbagai kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan pelestarian pusaka Indonesia, yang dirasakan selama

Terhadap usulan pemberian fasilitas Pajak Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2015 tentang Fasilitas dan Kemudahan di Kawasan Ekonomi Khusus

Berikutnya Shou- Ren Hu (2010) mengidintifikasi bahwa jumlah kereta api yang lewat, jalan raya pemisah, jumlah kendaraan, alat pendeteksi hambatan, dan rambu-rambu

mikroba pada beberapa jenis antibiotika yang berbeda–beda dapat diakibatkan oleh penggunaan pada suatu jenis antibiotika dalam upaya pengobatan dan pencegahan penyakit yang

Dari permasalahan tersebut maka dibutuhkan penelitian lanjutan untuk membuat suatu sistem kendali beberapa AC (Air Conditioner) dan pada ruangan yang berbeda secara jarak