• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. STUDI POTENSI BENCANA ALAM DI WILAYAH PESISIR JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VII. STUDI POTENSI BENCANA ALAM DI WILAYAH PESISIR JAWA BARAT"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang pantai (shoreline) kedua, Indonesia selain memiliki kekayaan sumber daya alam pesisir yang melimpah juga memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi. Konfigurasi empat pulau besar dan deretan pulau kecil yang menempatkan Laut Jawa sebagai perairan dalam di tengah kepulauan Indonesia, memposisikan pantura Jawa menjadi sasaran gelombang badai pasang yang mengakibatkan abrasi parah di pesisir Indramayu. Posisi lempeng tektonik di sebelah selatan Jawa mengakibatkan Gempa bumi menimbulkan tsunami yang melanda dahsyat pesisir Ciamis . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di pesisir tersebut. Data potensi bencana terdiri atas data pakar, sumber potensi bencana, dan pendapat pakar mengenai hubungan kontekstual antars umber potensi bencana sesuai dengan teknik yang digunakan pada model ini yaitu interpretive structural modeling (ISM). Hasil analisis data dan pendapat pakar menunjukkan bahwa di Kabupaten Indramayu bencana alam gelombang badai pasang menempati peringkat tertinggi,diikuti oleh banjir dan abrasi. Selanjutnya di Kabupaten Ciamis bencana alam tsunami menempati peringkat tertinggi, yang kemudian diikuti oleh Gempa bumi dan gelombang badai pasang.

Kata Kunci: potensi bencana, interpretive structural modelling, gelombang badai pasang

7.1.

Pendahuluan

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam di wilayah pesisir sekaligus potensi terjadinya bencana alam. Hasil diskursus dengan pakar terkait menunjukan bahwa ada perbedaan antara penyebab bencana dan akibat bencana. Penyebab bencana contohnya adalah gempa bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya tsunami. Gempa bumi juga terjadi disebabkan oleh gerakan dinamis berbagai lempeng di perut bumi. Contoh lain adalah perubahan iklim yang mengakibatkan banjir dan perubahan iklim ini juga diakibatkan oleh pemanasan global. Dengan demikian diketahui ada rangkaian gerakan di dalam bumi (geologycal hazard) dan di atmosfer (hydro meteorologycal hazard) yang menjadi penyebab terjadinya bencana alam (natural hazard) dan akibat yang akan ditimbulkannya kemudian (disaster) di permukaan bumi (Thome, 2006)(Lampiran 3). Oleh karena keterkaitan dan sifatnya yang merugikan maka untuk kepentingan penelitian, diskursus dengan pakar menetapkan penyebab dan akibat bencana tersebut dianalisis sebagai elemen potensi bencana. Bencana alam yang berpotensi terjadi tersebut antara lain gempa bumi, tsunami, gelombang badai pasang, banjir, erosi, abrasi, akresi, gerakan tanah jenis amblesan/perosokan dan longsoran/keruntuhan, intrusi air laut, serta angin kencang. Bencana alam tersebut berisiko buruk bagi masyarakat yang bermukim menggantungkan hidupnya di pesisir, dan juga bagi ekosistem pesisir itu sendiri.

(2)

Identifikasi potensi bencana alam disamping potensi sumberdaya alam merupakan salah satu aspek penting dalam pertimbangan perumusan kebijakan pengembangan wilayah. Dengan memahami potensi bencana alam yang mungkin terjadi maka langkah preventif proaktif dan kesiapsiagaan sebelum terjadinya bencana, serta langkah penanggulangan ketika terjadi bencana, dan langkah pemulihan setelah terjadi bencana dapat dimasukkan dalam rumusan kebijakan pengembangan wilayah. Sejauh ini, identifikasi potensi bencana alam di kawasan pesisir belum dilakukan secara komprehensif. Hal ini terbukti dalam kebijakan pengembangan wilayah pesisir yang pada umumnya belum berdasarkan pada mitigasi bencana (Forum Mitigasi Bencana, 2007). Penelitian tahap ini bertujuan untuk mengetahui jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di pesisir, dengan mengambil kasus pantai utara (pantura) di Kabupaten Indramayu dan pantai selatan (pansela) di Kabupaten Ciamis.

7.2.

Model Analisis Potensi Bencana Alam di Wilayah Pesisir

Provinsi Jawa Barat

Model analisis sumber potensi bencana digunakan untuk menentukan potensi bencana dengan menggunakan metode interpretrative structural modelling (ISM). Untuk itu perlu ditentukan dahulu elemen pembentuk ISM, yaitu jenis bencana yang potensial terjadi di pesisir pantura dan pansela, serta menentukan keterkaitan pengaruh antara masing-masing elemen tersebut melalui diskursus dengan para pakar (VAXO).

Gambar 35. Garis besar alat analisis ISM Sumber : Saxena dalam Marimin (2005)

Penentuan elemen pembentuk ISM

Penilaian ISM berdasarkan nilai VAXO

Proses Pembentukan SSIM dan RM rata-rata

Proses Revisi SSIM dan RM rata-rata

Hasil ISM :

(3)

Selanjutnya menetapkan hubungan kontekstual antarelemen dan menyusun structural selfinteraction matrix (SSIM) dan reachability matrix (RM). Setelah RM diperoleh, bencana yang paling potensial untuk pantura dan pansela akan dapat ditetapkan. Secara garis besar metode ISM (Saxena dalam Marimin, 2005) dapat dilihat pada Gambar 35.

Metode ISM yang berbasis komputer ini digunakan untuk membantu mengidentifikasi hubungan antara ide dan struktur tetap pada isu yang kompleks. Tahapan ISM antara lain: inisialisasi (pakar, elemen, dan data antarelemen), agregasi model, dan penentuan elemen driver power sumber bencana. Sumber potensi bencana ditentukan berdasarkan elemen yang mempunyai driver- power tertinggi dan dependence terendah (Marimin, 2005).

Data sumber potensi bencana merupakan basis data yang dirancang berkaitan dengan penentuan driver power dari penyebab potensi bencana yang diolah pada model sumber potensi bencana. Data tersebut terdiri dari data pakar tentang sumber potensi bencana, dan pendapat pakar mengenai hubungan kontekstual antarsumber potensi bencana sesuai dengan teknik yang digunakan pada model ini yaitu ISM. Marimin (2005) menyebutkan bahwa hubungan kontekstual antarelemen (dalam hal ini sumber potensi bencana) berupa label V, A, X, dan O dengan pengertian :

V : Jika sumber potensi pertama mempengaruhi/lebih penting dari sumber potensi ke dua

A : Jika sumber potensi ke dua mempengaruhi/lebih penting dari sumber potensi pertama

X : Jika sumber potensi pertama dan sumber potensi ke dua sama sama mempengaruhi/sama penting

O : Jika tidak ada hubungan kontekstual diantara kedua sumber potensi bencana

Setelah elemen disusun berdasarkan VAXO tersebut, ditetapkan hubungan kontekstual antarsubelemen dan dilanjutkan menyusun structural self interaction matrix (SSIM). Tabel reachability matrix dihasilkan setelah dilakukan pengecekan dengan transivity, agar diketahui adanya hubungan antarsub elemen. Hasil revisi SSIM dan matriks yang memenuhi aturan transivity

diolah guna menetapkan pilihan berjenjang dan diklasifikasikan dalam 4 sektor dengan matrik (Marimin, 2005) seperti pada Gambar 36:

(4)

Sektor 1 Weak driverweak dependent variable (autonomous). Variabel sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistem

Sektor 2 Weak driver–strongly dependent variable (dependent). Variabel sektor ini merupakan variabel tidak bebas.

Sektor 3 Strong driver–strongly dependent variable (linkage). Hubungan antarvariabel tidak stabil.

Sektor 4 Strong driver – weak dependent variable (independent). Variabel sektor ini merupakan variabel bebas.

DDDD

Gambar 36. Matrik driver power-dependence dalam analisis ISM Sumber : Marimin (2005)

Adapun langkah penyusunan model terlihat seperti pada Gambar 37berikut ini :

Gambar 37. Diagram alir model sumber potensi bencana Sumber : Diolah dari Marimin (2005)

7.3.

Hasil Analisis Potensi Bencana Alam di Wilayah Provinsi

Pesisir Jawa Barat

Puradimaja (2007) menyebutkan sejumlah jenis bencana yang berpotensi terjadi di pesisir Jawa Barat adalah gempa bumi, tsunami, gelombang badai

Konversi VAXO ke Biner (Mijk)

Inisialisasi

:: Pakar (Pi), i = 1 ... m

:: Elemen Potensi (Ej), j = 1 ... n

:: Pendapat Pakar (Aijk) dalam bentuk

VAXO Mulai Rata-Rata Pendapat          ≥ < =

= = 5 . 0 , 1 5 . 0 , 0 1 1 p M p M V m i ijk m i ijk jk Penentuan Matriks SSIM

Matriks Singular

Penentuan Driver Power,

Dependence, dan Level Elemen Selesai

Tidak Ya 0 2 4 12 10 8 6 4 2 0 8 10 12 Sektor 3 Sektor 4 Sektor 2 Sektor 1 Dependence Driver Power 0 2 4

(5)

pasang, banjir, intrusi air laut, abrasi, akresi, erosi, dan gerakan tanah yaitu longsoran/keruntuhan tanah (land slide) dan amblesan/perosokan (settlement /land subsidence). Namun berdasarkan hasil diskursus dengan para pakar diketahui bahwa secara spesifik jenis bencana yang berpotensi terjadi di pesisir Indramayu adalah angin kencang/puting beliung, gelombang badai pasang, banjir, intrusi air laut, abrasi, akresi, erosi dan gerakan tanah jenis amblesan/perosokan (settlement/land subsidence). Di Pesisir Ciamis adalah angin kencang/puting beliung, gelombang laut, banjir, erosi, gerakan tanah jenis longsor/keruntuhan (land slide), Gempa bumi, tsunami, abrasi, akresi, dan intrusi air laut.

7.3.1. Kabupaten Indramayu

7.3.1.1. Angin Kencang/Puting Beliung

Iklim di Pantura Jawa Barat tidak lepas dari iklim Indonesia yang dipengaruhi oleh angin muson yang mengakibatkan dua musim yaitu musim barat dan timur (Puradimaja, 2007). Pada saat musim angin barat, angin kencang menyebabkan gelombang tinggi dari wilayah barat ke timur. Namun pada musim angin timur, angin kencang menyebabkan gelombang tinggi dari wilayah timur ke arah barat. Fenomena ini berdampak pada perilaku gelombang yang mengkikis lereng pemisah darat dan laut sehingga mengakibatkan abrasi (Puradimaja, 2007). Selain angin kencang tersebut, masyarakat pantura juga mengenal angin puting beliung seperti yang baru terjadi pada awal tahun 2008 dan telah merusak 90 rumah di dua desa Pesisir Indramayu (Nugroho, 2008). Angin puting beliung dikenal dengan beberapa istilah lokal misalnya di Cirebon dikenal dengan angin kumbang, sedangkan di Kabupaten Bandung dikenal dengan angin puyuh atau sirit batara (Zakir et al., 2006).

7.3.1.2. Gelombang Badai Pasang

Kajian yang dilakukan terhadap wilayah Indramayu dengan metode SMB

(sverdrup munk bretch neider) menunjukkan bahwa pada umumnya gelombang sesuai dengan arah angin yaitu dari arah barat laut, utara dan timur laut masing-masing sebesar 22,25 %, 10,88 % dan 20,10 % (Puradimaja, 2007). Secara keseluruhan yaitu sebesar 28,40 % tinggi gelombang mencapai antara 0,5-0,8 meter, sedang gelombang teduh dengan ketinggian < 0,3 m sebesar 28,40 %. Selain itu pesisir Indramayu juga dilanda fenomena gelombang badai pasang yang terjadi sewaktu-waktu pada lokasi-lokasi tertentu menyusul terjadinya badai

(6)

atau tiupan angin yang sangat kencang di lautan (fenomena metereologi). Tinggi gelombangnya dapat mencapai beberapa meter di daerah dekat sumber angin, dan gelombang terus berlangsung selama angin bertiup dan reda bersama dengan redanya tiupan angin (Setyawan, 2007).

7.3.1.3. Abrasi

Prasetya (2006) menyebutkan bahwa abrasi di wilayah pantura sudah terjadi sejak tahun 1970, sejak terkonsentrasinya kegiatan ekonomi di pesisir pulau Jawa dan puncaknya pada tahun 1995. Penyebabnya belum diketahui secara jelas apakah merupakan proses alam sebagai akibat pertumbuhan anak Delta Cimanuk atau pengaruh langsung dari penambangan pasir laut. Tetapi jika melihat dinamika gerak arus laut yang didasarkan pada teori, kemungkinan besar pertumbuhan anak Delta Cimanuk sebagai penyokong terjadinya abrasi di gisik ini, kemudian dipacu penambangan pasir laut. Di Gisik Tirtamaya dan Gisik Krangkeng-Juntinyuat, abrasi telah merusak areal Taman Wisata dengan penyebab yang tidak berbeda. Abrasi ini telah merusak lahan pertanian dan tambak udang seperti terlihat pada Gambar 38. Kemunduran garis pantai (shoreline) di Pesisir Indramayu mengakibatkan terjadinya pengurangan sebesar 1-5 m per tahun (Puradimaja, 2007). Indramayu termasuk kedalam jenis klasifikasi pantai mundur (retrogation coast) (Valentin dalam Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007). Nampaknya ada dua proses yang bertanggung jawab atas mundurnya garis pantai, yaitu abrasi laut dan stagnasi suplai endapan aluvium.

Gambar 38. Abrasi di Pantai Kabupaten Indramayu Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat (2007)

Di Pantai Limbangan, abrasi diduga ada kaitan dengan kegiatan pengerukan di Pelabuhan Khusus (Pelsus) Jeti. Untuk memperdalam alur agar kapal-kapal besar pembawa liquid petroleum gas (LPG) bisa berlabuh, pasir dikeruk dan dibuang ke tengah laut (Puradimaja, 2007).

(7)

7.3.1.4. Erosi

Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, erosi sama dengan abrasi yaitu proses penggerusan daratan oleh arus air. Perbedaannya abrasi merupakan penggerusan oleh arus air laut, sedangkan erosi merupakan penggerusan oleh air sungai. Abrasi yang banyak terjadi di wilayah pesisir Jawa Barat termasuk Indramayu berupa runtuhan. Erosi umumnya terjadi pada alur sungai yang membelok sedangkan yang terjadi pada tebing gusur luar tingkungan, selalu dihantam oleh kekuatan arus air sungai. Pada daerah dataran lanjutan proses erosi ini membentuk meander (Puradimaja, 2007).

Selain erosi tebing sungai yang dapat terjadi secara alami, perilaku manusia dapat pula mempercepat proses erosi seperti di sekitar lokasi terjadi penambangan batukali. Pengambilan bongkahan batukali dapat mempercepat arus air sungai, sehingga kekuatan arus menghantam tebing lebih kuat dan terjadi lekukan pada kaki tebing sungai. Karena sudah tidak ada penahan maka tebing sungai bagian atas runtuh membahayakan permukiman.

7.3.1.5. Gerakan Tanah

Gerakan tanah dapat terjadi apabila di bawah lapisan yang keras dijumpai adanya lapisan kompresibilitasnya tinggi, sehingga apabila beban yang ada di atas lapisan keras tersebut melebihi daya dukung yang diijinkan maka kemungkinan besar akan terjadi longsor/keruntuhan (land slide) atau amblesan/perosokan (settlement/land subsidence). Dari hasil pengamatan lapangan, analisis sifat fisik tanah pelapukan dan kemiringan lereng, dapat terlihat bahwa daerah penelitian merupakan daerah yang mempunyai kerentanan gerakan tanah sangat rendah. Artinya di Indramayu pada zona ini, jarang terjadi gerakan tanah jenis longsor/keruntuhan (Puradimaja, 2007).

Di daerah yang berpotensi terjadi gerakan tanah yaitu daerah pematang/ pemisah daratan dan lautan di mana lapisan keras berada pada kedalaman 5-10 meter dan dibawahnya didapatkan lapisan lempung/lanau lunak. Demikian pula dibeberapa tempat di daerah dataran rawa setempat bagian atas sudah padat akan tetapi bagian bawah masih merupakan lapisan lempung/lanau lunak sehingga bila ada beban yang cukup berat juga akan mengakibatkan terjadinya amblesan/ perosokan (land subsidence/settlement)(Puradimaja, 2007).

7.3.1.6. Gempa bumi

(8)

lokasinya ada di zona batas Lempeng-Lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik yang bergerak relatif terhadap satu-sama lainnya sekitar 6-12 cm/tahun. Dikaitkan dengan wilayah pesisir, Indramayu terletak agak jauh dari pertemuan lempeng tersebut. Sumber gempa bumi yang dominan potensi merusaknya adalah yang di bawah laut pada zona subduksi di bagian atas/dangkal, yaitu dari sepanjang palung laut dalam yang merupakan pertemuan lempengnya sampai kedalaman 60 km, misalnya di sepanjang pesisir barat Sumatra dan selatan Jawa (Hilman, 2008). Gempa bumi di Indramayu pada tanggal 9 Agustus 2007 terjadi karena tumbukan lempeng di kedalaman 286 km, sehingga walaupun kekuatannya 7,3 SR karena tidak masuk kedalam kriteria bencana maka tidak menimbulkan dampak kerusakan (Suhardjono, 2007). Fenomena geologi meyakini bahwa gempa bumi dangkal tidak akan pernah terjadi di Indramayu, dengan demikian gempa bumi dan dampak kolateralnya (tsunami) dapat diabaikan (Hilman, 2008).

7.3.1.7. Tsunami

Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai gempa bumi, menurut para pakar gempa bumi dan kelautan, tsunami diyakini tidak akan pernah terjadi di pesisir Indramayu (Hilman, 2008).

7.3.1.8. Banjir

Wilayah pesisir utara Jawa Barat yang merupakan dataran rendah dan tempat bermuaranya beberapa sungai termasuk DAS Cisanggarung, Cimanuk dan Citarum memiliki potensi terjadinya banjir di setiap musim penghujan (Puradimaja, 2007). Berdasarkan peta rawan banjir Provinsi Jawa Barat (LREP, 1999), hampir seluruh kabupaten dan kota di wilayah pesisir utara Jawa Barat memiliki kategori rawan banjir. Berdasarkan peta digital lahan sawah rawan banjir yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian, mulai dari Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon, maka sebagian besar sawah diwilayah kabupaten tersebut memiliki potensi rawan banjir. Demikian juga meluapnya Sungai Cimanuk menyebabkan banjir di Kecamatan Indramayu. Peta kawasan rawan banjir pantura Jawa Barat dapat dilihat pada Gambar 39.

7.3.1.9. Akresi

Akresi adalah proses penumpukan pasir di daerah gisik akibat dari gerakan dan gelombang yang membawa pasir ke daerah tersebut (Puradimaja, 2007). Di pesisir Indramayu, penumpukan terjadi pada muara Sungai Cimanuk,

(9)

dengan besar pertambahan penumpukan pasir dari 0 hingga 7 km ke arah laut, seluas kurang lebih 45 km2. Akresi atau pertambahan gisik akibat penumpukan pasir tersebut telah membentuk Delta Cimanuk yang dari tahun ketahun semakin meluas, yang mulanya ke arah barat dan kemudian menyebar ke arah timur. Pembuatan Kanal Cimanuk ke arah timur laut ditakini telah menyebabkan terbentuknya anak Delta Cimanuk. Munculnya anak Delta Cimanuk ini telah menguntungkan karena bertambahnya lahan pantai, namun di sisi lain dapat mengakibatkan pendangkalan di muara-muara sungai, dan dermaga/pelabuhan tempat pendaratan kapal nelayan atau kapal ikan lainnya.

Gambar 39. Peta kawasan rawan banjir pesisir pantai utara Jawa Barat Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat

7.3.1.10. Intrusi Air Laut

Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan untuk berbagai keperluan, seperti air untuk kebutuhan pemukiman dan industri. Pengambilan air tanah yang tidak seimbang dengan pemasukan air dari permukaan mengakibatkan air laut yang lebih berat masa jenisnya langsung masuk ke akuifer (tempat penampungan air di dalam tanah) hingga mengendap. Di wilayah Indramayu, khususnya di Kandanghaur air payau sudah merembes hingga 8 km dan air asin 6 km. Diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, intrusi air laut akan mencakup 50% luas wilayah gisik atau pantai utara (pantura) Jawa Barat (BPLHD Jawa Barat, 2007).

(10)

7.3.2. Aplikasi Metode ISM dalam Studi Potensi Bencana Alam

Wilayah Pesisir Indramayu

Hasil diskursus dengan para pakar menetapkan bahwa bencana alam yang berpotensi terjadi di Kabupaten Indramayu terdiri dari sepuluh sub elemen yaitu Gempa bumi, tsunami, abrasi, gelombang badai pasang, angin kencang/puting beliung, gerakan tanah jenis longsor/keruntuhan (land slide), banjir, erosi, intrusi air laut, dan akresi. Walaupun dari sudut pandang geologi, pesisir Indramayu diyakini tidak akan mengalami Gempa bumi dangkal yang akan mengakibatkan dampak kolateral tsunami, studi potensi bencana alam dalam penelitian ini tetap akan memasukan Gempa bumi dan tsunami sebagai sub elemen potensi bencana alam. Analisis ISM dalam aplikasi MKP2B2MB dimulai dengan input hubungan antarelemen seperti yang dapat dilihat pada Gambar 40.

Gambar 40. Contoh input hubungan antarelemen metode ISM dalam program MKP2B2MB untuk Kabupaten Indramayu

Tingkat level sub elemen potensi bencana alam di Kabupaten Indramayu dapat di lihat pada Gambar 41. Gelombang badai pasang menempati posisi pada sektor IV dan level 5, yang menunjukan mempunyai potensi yang sangat besar terjadi di Kabupaten Indramayu dengan tingkat ketergantungan terhadap potensi lainnya sangat rendah. Semakin kecil level sub elemen bencana, akan semakin kecil dampak risiko bencananya. Adapun matriks driver power-dependence untuk elemen potensi bencana alam di Kabupaten Indramayu dapat dilihat pada Gambar 42. Kondisi tersebut disebabkan kejadian gelombang

(11)

badai pasang tidak terlalu dipengaruhi oleh sub elemen lainnya, melainkan karena posisi pantai di Kabupaten Indramayu sangat landai sehingga sangat rentan terhadap bahaya gelombang badai pasang. Selain itu gelombang badai pasang dipengaruhi oleh adanya pergantian musim sehingga cukup memberikan pengaruh terhadap pergerakan massa air seperti arus.

Gambar 41. Tingkat level sub elemen potensi bencana alam di Kabupaten Indramayu

Gambar 42. Matriks Driver power – dependence untuk elemen potensi bencana alam di Kabupaten Indramayu

(12)

Pada musim barat pergerakan arus umumnya menuju ke arah timur atau arus timur dengan kecepatan berkisar antara 3 -14 mil per hari. Musim timur arus bergerak sebaliknya yaitu menuju arah barat dengan kecepatan berkisar antara 1 - 13 mil per hari. Musim peralihan I (bulan Maret sampai bulan Mei) dan peralihan II (bulan September sampai bulan November) kecepatan arus laut masing-masing adalah 1 mil per jam dan 6 mil per jam (Latief, 2008).

Berdasarkan analisis ISM yang telah dilakukan, akhirnya dapat ditentukan bahwa dari sepuluh jenis bencana yang mungkin terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu, yang berpotensi paling merusak adalah gelombang badai pasang sebagai elemen kunci. Selanjutnya diikuti oleh banjir dan abrasi, serta jenis bencana lainnya sebagaimana dapat dilihat dalam Gambar 43.

Gambar 43. Struktur hirarkhi sub elemen potensi bencana alam di Kabupaten. Indramayu

7.3.3. Kabupaten Ciamis

7.3.3.1. Angin Kencang/Puting Beliung

Puradimadja (2007) menyebutkan bahwa musim Timur yang berlangsung pada periode Juni sampai September sangat berpotensi membangkitkan angin kencang/puting beliung dengan kecepatan maksimum yang merusak. Sebagaimana yang terjadi pada musim timur pada hari Rabu 28 September 2007 pukul 16.30 telah menerjang Ciamis yang mengakibatkan puluhan rumah rusak

Level 1

Level 5 Level 4

GELOMBANG BADAI PASANG BANJIR PUTING BELIUNG ABRASI INTRUSI AIR LAUT GERAKAN TANAH JENIS AMBLESAN EROSI AKRESI Level 2 Level 3 Elemen Kunci GEMPABUMI TSUNAMI

(13)

dan puluhan pohon besar tumbang. Angin tersebut terus menuju Tasikmalaya dan merusak puluhan rumah lainnya (Ridha, 2007).

7.3.3.2. Gelombang Badai Pasang

Gelombang merupakan faktor fisik dominan di perairan Pantai Selatan (pansela) Jawa Barat, karena sebagian besar perairan ini mempunyai tinggi gelombang cukup besar di perairan lepas pantai yaitu antara 2-5 m, sehingga menghambat budidaya perikanan dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi wisata pesisir. Berdasarkan sumbernya, gelombang di pantai selatan dapat dibedakan dari jenis gelombang swell (gelombang rambat), wind waves

(gelombang angin) dan gelombang tinggi yang terjadi akibat super posisi swell dan wind wave (Latief, 2008). Selain akibat superposisi tersebut, fenomena gelombang badai pasang dapat terjadi sewaktu-waktu pada lokasi tertentu karena badai atau tiupan angin yang sangat kencang pada saat pasang di lautan (fenomena meteorologi) sering terjadi melanda pansela Ciamis (Hadi, 2008).

7.3.3.3. Abrasi

Panjang garis pantai (shoreline) pesisir selatan provinsi Jawa Barat membentang dari kabupaten Ciamis sampai dengan kabupaten Sukabumi dengan panjang pantai sekitar 355 km. Pengikisan gisik atau abrasi yang telah berlangsung selama 15 tahun terakhir telah meningkat antara kurun waktu 2001 sekitar 30,05 ha/tahun dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 35,35 ha/tahun Pengikisan pantai ini dijumpai di bagian Barat Pangandaran sepanjang 1 km (Puradimadja, 2007).

7.3.3.4. Erosi

Erosi yang dijumpai di lokasi penelitian adalah erosi permukaan yang terjadi akibat adanya aliran air permukaan yang mengerosi material hasil pelapukan. Jenis erosi lainnya adalah erosi sungai umumnya terjadi pada sungai-sungai besar yang mengalir di daerah timur Pesisir Selatan Jawa Barat. Erosi ini umumnya secara alami terjadi pada sungai dengan morfologi tua dan salah satu cirinya adalah erosi mendatar (melebar) serta terjadi proses pendangkalan. Erosi yang terjadi mengancam tebing sungai dan tanggul-tanggul yang dibuat, terutama pada alur sungai yang membelok (kelokan sungai). Selain secara alami, aktivitas manusia dapat pula mempercepat proses erosi tersebut. Aktivitas yang dapat mempercepat proses ini adalah pertambangan/penggalian bahan

(14)

bangunan (pasir, kerikil, batukali). Aktivitas ini mempercepat arus sungai dan proses sedimentasi dengan cepat sehingga menambah laju erosi. Dalam beberapa kasus aktivitas ini membahayakan keberadaan infrastruktur yang berada di sungai seperti jembatan dan tanggul-tanggul.

7.3.3.5. Gerakan Tanah

Salah satu jenis gerakan tanah yaitu longsor/keruntuhan tanah (land slide) kerap terjadi di Ciamis yang merupakan daerah dengan pegunungan terjal. Keruntuhan tanah ini sering terjadi akibat faktor alam (seperti curah hujan yang tinggi) dan kegiatan manusia yang bersifat destruktif. Ada beberapa faktor penyebab tingginya potensi keruntuhan tanah di Jawa Barat (Puradimaja, 2007):

• Banyaknya batuan dari endapan gunung api seperti lava dengan tanah penutup yang tebal dan subur dimana air sering menumpang di atasnya, tanah jenis ini terdapat di Ciamis Selatan.

• Antara September-Maret/April ditandai oleh curah hujan yang relatif tinggi yakni rata-rata 220-650 mm/bulan dan hujan harian pernah mencapai 92 mm/hari. Kejadian tanah runtuh umumnya berlangsung pada musim hujan dan puncaknya pada Oktober-Januari yang dimulai dengan hujan lebih dari dua hari berturut-turut dengan curah hujan harian berkisar antara 46-76 mm;

• Tata lahan di lereng atas, banyak ditanami jenis tanaman berakar kurang kuat seperti lahan basah (sawah) dan perladangan. Hal ini menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga sangat potensial terjadinya keruntuhan.

7.3.3.6. Gempa bumi

Perihal gempa bumi telah dijelaskan terdahulu merujuk kepada Hilman (2008). Indonesia dan sekitarnya merupakan daerah yang memiliki konvergensi lempeng yang sangat rumit, dimana terdiri dari subduksi, collision, back-arc thrusting, back-arc and opening faults. Berdasarkan kondisi tersebut apabila ditinjau dari sudut pandang geofisik, hal ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu daerah yang paling aktif di dunia (Latief, 2008), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 38.

Tidak kurang dari 460 gempa bumi dengan magnitudo M > 4.0 terjadi setiap tahunnya (Hilman, 2008). Banyak diantara gempa bumi besar tersebut yang menimbulkan kerusakan serta jumlah korban sangat besar (Latief, 2008). Banyak diantara gempa bumi dangkal yang besar yang terjadi di bawah laut membangkitkan tsunami berkekuatan besar. Dalam Gambar 44, tampak

(15)

bahwa Indonesia berada pada kawasan rawan gempa bumi, hal ini ditunjukkan dengan titik-titik merah sebagai catatan kejadian gempa bumi dengan kedalaman yang relatif dangkal, selain itu juga kawasan Indonesia dipenuhi oleh titik hijau untuk gempa bumi kedalaman sedang serta titik biru untuk gempa bumi dengan sumber gempa pada kedalaman yang relatif dalam.

Gambar 44. Tektonik lempeng Asia Tenggara termasuk Indonesia Sumber : Hall,1997 dalam Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007.

Gambar 45. Plot Gempa bumi yang terjadi di Indonesia dari 1960-2000 Sumber : Triyoso dalam Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007

Dari sudut pandang geologi, Indonesia ditempatkan sebagai kawasan yang rawan bencana alam yang disebabkan oleh pergerakan dari lempeng-lempeng bumi yang dikenal sebagai subduksi (subduction). Pergerakan ini diantaranya ada yang menujam dan dapat membangkitkan aktivitas vulkanik sehingga secara keseluruhan dapat menyebabkan rangkaian bencana alam gempa bumi, gunung merapi bahkan tsunami (Puradimaja, 2007).

(16)

Gambar 46. Proses penunjaman lempeng (subduction) Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007

7.3.3.7. Tsunami

Tsunami adalah gelombang laut dengan periode panjang berupa gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut. Gangguan impulsif itu bisa berupa Gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik, atau longsor/keruntuhan (land slide) di dasar laut. Bencana tsunami yang terjadi di Ciamis mengakibatkan terjadinya kerusakan besar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Jenis sarana dan tingkat kerusakan di Ciamis akibat tsunami

No. Jenis sarana Tingkat kerusakan Keterangan

Ringan Berat/hancur

1. Rumah 703 703

2. Sekolah 1 2 3. Hotel/penginapan - 346

4. Perahu - 229 unit

5. Alat tangkap ikan - 947 6. Jalan 8.500 m2 11.700 m2 7. Jembatan 1 unit 5 unit 8. Sarana ibadah 3 12 9. Puskemas - 1 10. Kantor pemerintah - 41 11. Sawah - 110 ha Hancur 12. Kebun - 27 ha Hancur 13. Pantai wisata Pangandaran - Rusak berat

(17)

Gambar 47. Pembangkitan tsunami oleh Gempa bumi tektonik dasar laut Sumber : Latief (2008) Pusat Kajian Tsunami ITB

Gambar 48. Zona pembangkitan tsunami berdasarkan aktivitas seismik Sumber : Latief (2008) Pusat Kajian Tsunami ITB

7.3.3.8. Banjir

Di daerah barat pesisir Selatan Jawa Barat daerah banjir hanya dijumpai disekitar sungai-sungai utama dan terjadi pada saat musim hujan. Kondisi yang terjadi adalah debit air sungai melebihi volume maksimum kapasitas alur sungai. Biasanya banjir yang terjadi tidak berlangsung lama karena air cepat mengalir ke daerah yang lebih rendah dan laut. Hal yang harus diwaspadai adalah adanya banjir bandang akibat perubahan lahan di daerah hulu. berdasarkan peta prakiraan daerah potensi rawan banjir November-Desember, untuk wilayah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007, yang terbilang tinggi tingkat potensi banjirnya adalah daerah Bogor dan Ciamis. Memasuki Desember mendatang, daerah potensi rawan banjir yang termasuk tingkat potensi tinggi antara lain

(18)

Ciamis dan Indramayu. Besarnya sedimentasi pada aliran sungai utama mengakibatkan pendangkalan di daerah muara. Akibatnya semua aliran pada anak sungai yang menginduk pada sungai utama tersebut ikut tertahan dan melimpah ke daerah sekitarnya (Puradimaja, 2007).

7.3.3.9. Akresi

Perihal akresi telah dijelaskan terdahulu merujuk kepada Puradimaja (2007). Majunya garis pantai (shoreline) terjadi akibat pendangkalan di muara sungai, misalnya yang terjadi di Segara Anakan dan Teluk Tangkisan, Ciamis. Pendangkalan ini disebabkan oleh tingginya kandungan material yang tersedimentasi. Material ini terdiri dari endapan aluvial dan aluvial pasiran yang berasal dari hasil erosi di bagian hulu. Selain dari tingginya material sedimentasi, rendahnya gradien sungai serta melemahnya arus sungai di daerah muara mengakibatkan terjadinya banjir sungai. Pendangkalan yang terjadi karena adanya banjir rutin dengan frekuensi yang cukup tinggi menghasilkan endapan limpah banjir setiap tahunnya dan berkembangnya muara sungai yang cukup jauh kearah laut.

7.3.3.10. Intrusi Air Laut

Daerah pesisir Selatan secara umum masih merupakan daerah dengan tingkat kependudukan dan industri yang rendah, kecuali pada beberapa lokasi tertentu. Hal ini mengakibatkan pengambilan air tanah belum seintensif daerah pesisir pantai utara Jawa Barat, sehingga intrusi air laut secara umum relatif belum terjadi. Kualitas air di muara yang bersifat payau merupakan kualitas alami air tanah daerah tersebut, mengingat daerah tersebut merupakan daerah pasang surut dan ketersediaan air tanah sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Luasan pantai di sepanjang pesisir ini yang cenderung sempit, maka penggunaan air tanah di sepanjang pesisir harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari fenomena ini terjadi.

7.3.4. Aplikasi Metode ISM dalam Studi Potensi Bencana Alam

Wilayah Pesisir Ciamis

Diskursus terdahulu dengan pakar menetapkan bahwa enam penyebab dan empat akibat bencana yang sebagian besar memiliki keterkaitan, seluruhnya dinilai sebagai sepuluh elemen bencana alam yang berpeluang besar terjadi di Kabupaten Ciamis, yaitu gempa bumi, tsunami, abrasi, gelombang badai pasang, angin kencang/puting beliung, gerakan tanah jenis longsor/ keruntuhan (land slide), banjir, erosi, intrusi air laut, dan akresi.

(19)

Analisis ISM untuk Kabupaten Ciamis dalam aplikasi MKP2B2MB dimulai dengan input hubungan antarelemen seperti yang dapat dilihat pada Gambar 49. Hasil penelitian mengenai tingkat level sub elemen potensi bencana alam di Kabupaten Ciamis dapat dilihat pada Gambar 50.

Gambar 49. Contoh input hubungan antarelemen metode ISM dalam program MKP2B2MB untuk Kabupaten Ciamis

Gambar 50. Tingkat level sub elemen potensi bencana di Kabupaten Ciamis

~ Pokor

I

'

~

,..."

"'_EJemon

,

~'"

,

~"

,

~'e

,

ANeill'! KEtlCIIIlGlPUliNG BEL

,

ANGIN HNCANG!PUTING BEL

<T

,

-ANr.IN HNrANr.II'!ITINr._I'IFl_

V-e(ijJo 1 danoVJ·O

A -el.l-0<1001 oijJ.l

Xoe(ijJ. 1 don eij).1

o

_«ij)_ Ooh1 eij)_0

"

SSlfA Rot,-rot. AM Rot.-rot& AM FrnI

No Elemen N orM E ieme<1

GEMPA BUMI

,

TSUNAMI

,

GELOMBANG BADAl PA

,

ABRASI

,

BANJIR

,

ANGIN KENCANG!PUTIN

,

EROSI

INTAUSI AIR LAUT

,

MRESI

'"

GERArAN TANAH JENIS

'

...

,

"

,

,

,

'

)

SSIM FrnI 5",,101 ~ ~ ~ ~ N ... EJemon INTAUSI AIR LAUT AAAESI GERMAN TANAH JENIS LONGS EAOSI INTAUSI AIR LAUT I>.I(RFRI

,

...,

.

,

'"

,

c

"

ern

II

S_",-,

II

L -Groll< ~, Level

,

,

,

,

,

,

L

F

(20)

Hasil analisis ISM menentukan bahwa gempa bumi, tsunami dan gelombang badai pasang merupakan bencana alam yang berpotensi paling besar terjadi di Kabupaten Ciamis. Sub elemen tsunami, gempa bumi dan gelombang badai pasang berada pada sektor IV level 4 (lihat Gambar 50), artinya bahwa elemen-elemen tersebut memiliki tingkat ketergantungan paling rendah terhadap kejadian bencana alam lainnya. Matriks driver power-dependence elemen-elemen potensi bencana alam di Ciamis dapat dilihat pada Gambar 51.

Gambar 51. Matriks Driver power – dependence untuk elemen potensi bencana alam di Kabupaten Ciamis

Tsunami merupakan dampak turunan dari gempa bumi. Potensi tsunami di wilayah pesisir Kabupaten Ciamis disebabkan oleh kondisi geotektonik dan topografi. Kondisi tektonik daerah ini mempunyai tingkat seismisitas yang relatif tinggi dibandingkan dengan kawasan utara sehingga di beberapa daerah di kawasan selatan sering terjadi gempa bumi dan tsunami, yang dapat berkembang menjadi bencana alam. Di samping itu kondisi oseanografi sebagai daerah open sea terhadap Samudera Hindia relatif rawan terhadap proses abrasi, keruntuhan dan gerakan tanah.

Driver Power

(21)

Gambar 52. Struktur hirarkhi sub elemen potensi bencana alam di Kabupaten Ciamis

Berdasarkan analisis ISM yang telah dilakukan, maka dapat ditentukan bahwa dari sepuluh jenis bencana yang mungkin terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Ciamis, yang berpotensi paling merusak adalah gempa bumi, tsunami dan gelombang badai pasang sebagai elemen kunci. Selanjutnya diikuti oleh abrasi dan gerakan tanah jenis longsoran , serta jenis bencana lainnya dapat dilihat dalam Gambar 52.

7.4. Kesimpulan Studi Potensi Bencana Alam di Wilayah Pesisir

Jawa Barat

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa data sumber potensi bencana merupakan basis data yang dirancang berkaitan dengan penentuan driver power dari penyebab potensi bencana yang diolah pada model sumber potensi bencana. Data sumber potensi bencana terdiri dari data pakar, sumber potensi bencana, dan pendapat pakar mengenai hubungan kontekstual antar sumber potensi bencana sesuai dengan teknik yang digunakan pada model ini yaitu IS M (interpretive structural modelling).

INSTRUSI AIR LAUT GERAKAN TANAH JENIS LONGSORAN/KERUNTUHAN TSUNAMI ABRASI Elemen Kunci EROSI AKRESI ANGIN KENCANG / PUTING BELIUNG

GEMPA BUMI GELOMBANG

BADAI PASANG Level 1 Level 2 Level 3 Level 4 INSTRUSI AIR LAUT

(22)

Analisis data dan pendapat pakar menghasilkan temuan sebagai berikut, di Kabupaten Indramayu bencana alam gelombang badai pasang menempati peringkat tertinggi pada level 5 sebagai elemen kunci. Selanjutnya dikuti oleh abrasi dan banjir pada level 4, kemudian intrusi air laut, gerakan tanah jenis amblesan, dan puting beliung pada level 3. Erosi dan akresi berada pada level 2, dan terakhir yaitu Gempa bumi dan tsunami pada level 1. Fenomena geologi menyatakan bahwa gempa bumi dapat terjadi di Indramayu, tetapi diluar kedalaman lebih dari 60 km, dengan demikian dampak kolateralnya yaitu tsunami tidak akan terjadi.

Selanjutnya di Kabupaten Ciamis bencana alam gempa bumi, tsunami dan gelombang badai pasang menempati peringkat tertinggi level 4 dan menjadi elemen kunci, yang kemudian diikuti oleh abrasi pada level 3. Kemudian angin kencang/puting beliung, dan gerakan tanah jenis longsoran/keruntuhan menempati level 2, serta banjir, erosi, intrusi air laut, dan akresi pada level 1.

Dengan telah diketahuinya potensi bencana yang mengancam wilayah pesisir Indramayu dan pesisir Ciamis, maka kebijakan pengembangan yang akan diterapkan untuk kedua wilayah pesisir tersebut sudah harus mempertimbangkan laju kemerosotan kualitas lingkungan yang telah terjadi sejak tahun 1970an di pantai utara (pantura) Jawa. Dengan demikian kebijakan pengembangan tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga aspek ekologi dan sosial sehingga kebijakan pengembangan menjadi berkelanjutan dan berperspektif mitigasi bencana.

Gambar

Gambar 35. Garis besar alat analisis ISM  Sumber : Saxena dalam Marimin (2005)
Gambar 36. Matrik driver power-dependence dalam analisis ISM        Sumber : Marimin (2005)
Gambar 39.   Peta kawasan rawan banjir pesisir pantai utara Jawa Barat  Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat
Gambar  40.  Contoh input hubungan antarelemen metode ISM dalam program  MKP2B2MB untuk Kabupaten Indramayu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Guru dalam mengajar bukan hanya sekedar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan sikap sopan santun yang baik melalui proses pembelajaran yang disampaikan, contoh salah satu

berbeda, nilai F hitung yang didapatkan adalah 5,349 (Lampiran 8), nilai ini lebih besar dari F tabel 2,770 maka terdapat perbedaan yang nyata pada rata-rata motilitas

PROSES DAN DAMPAK PROGRAM PELATIHAN TATA BOGA TERHADAP MOTIVASI BERWIRAUSAHA WARGA BELAJAR (Studi Deskriptif pada Program Pelatihan Tata Boga PKBM

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan antara kelompok yang menggunakan metode investigasi kelompok dan yang meng- gunakan metode ekspositori

Modalitas epistemik ’keharusan’ dalam bahasa Minangkabau dialek Pariaman dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti kata aruih

Karena Perusahaan tidak dapat mengontrol metode, volume, atau kondisi aktual penggunaan, Perusahaan tidak bertanggung jawab atas bahaya atau kehilangan yang disebabkan dari

Untuk menerapkan manajemen stratejik suatu organisasi harus dapat merumuskan visi, misi, tujuan dan strateji yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Penerapan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1) Hasil penelitian menunjukkan