• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sering Nyanyi di Musik Lorong, Kini Jadi Pemusik Level Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sering Nyanyi di Musik Lorong, Kini Jadi Pemusik Level Nasional"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Sering Nyanyi di Musik

Lorong, Kini Jadi Pemusik

Level Nasional

UNAIR NEWS – Kegemaranya bermusik dimulai sejak ia masih duduk

di bangku sekolah. Sadar bahwa minatnya begitu tinggi di bidang tarik suara, maka ia memutuskan untuk menjadi penyanyi. Ia dulu dikenal sebagai salah satu pentolan grup musik Yovie and Nuno. Sejak 2012, ia memutuskan untuk hengkang dan bersolo karir sampai saat ini.

Ia adalah Dudi Oris. Sebelum berkuliah pada program studi D-3 Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga tahun angkatan 1996, ia sempat mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Namun, karena suasana akademis dan kemahasiswaan di universitas tersebut tak mendukung minat dan bakatnya, Dudi akhirnya memutuskan untuk pindah kuliah ke UNAIR.

Dudi menyempatkan waktunya untuk berbagi cerita di sela-sela waktu sebelum mengisi acara “Gala Dinner and Awards: Emerald Night of FEB UNAIR”, Sabtu (27/8), di Dyandra Convention Center. Pada saat itu, Dudi dianugerahi menjadi bintang tamu pada malam puncak acara kemeriahan ulang tahun FEB yang ke-55. Pada saat kuliah, ia mengaku memiliki teman-teman seperjuangan yang asyik. Buktinya, meski sudah lama tak mengarungi kehidupan kampus, ia masih sering berhubungan via telepon, hingga terkadang berkumpul lagi.

“Saya punya teman-teman yang cukup kuat kebersamaannya. Sampai sekarang masih sering kontak dan ketemuan. Aku dulu di D-3 MP (manajemen pemasaran, red). Kalau ditanya (apakah lulus atau tidak), saya selalu bilang kalau saya adalah jebolannya UNAIR. Kalau teman-teman ketika godain dulu, selalu bilang MP bukan manajemen pemasaran, tapi manajemen parkir. Karena banyak

(2)

nongkrong di parkirannya,” kenang Dudi seraya bercanda.

Semasa kuliah, Dudi bergabung dengan sebuah grup musik beraliran jazz. Ia berkeliling dari satu panggung ke panggung lainnya di wilayah Surabaya hingga Malang. Grup musik tersebut beranggotakan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas di UNAIR.

Salah satu kegiatan yang paling menyenangkan sekaligus mendasarinya untuk pindah dari salah satu kampus swasta ke UNAIR adalah acara musik yang secara rutin digelar, yakni musik lorong. Apakah pada masa itu sering diselenggarakan acara pentas musik?

“Rutin!” seru Dudi. “Di Ekonomi itu punya satu acara legend namanya Musik Lorong. Ndak tahu, sekarang masih ada atau nggak? Itu dulu semuanya besar dari situ. Ari Lasso juga di situ, Ahmad Dhani itu dulu juga di situ. Fadli ‘Padi’ juga di Musik Lorong itu,” imbuh Dudi.

Acara musik bernama “Musik Lorong” merupakan acara off air yang mewadahi minat dan bakat musik mahasiswa, khususnya mahasiswa FEB untuk bisa tampil di sana. Dudi mengakui, gaung mengenai acara Musik Lorong itu terdengar luas.

“Itu bukan acara festival, tapi lebih ke acara off air. Itu dulu (gaungnya, red) sampai ke mana-mana. Maksudnya, yang kedengarannya ke mana-mana saat itu, karena anak-anak dari kampus lain dulu pengin sekali manggung di situ (musik lorong,

red). Jadi, acaranya diselenggarakan oleh mahasiswa Ekonomi

sendiri, di area lorong atau selasar situ,” imbuh lulusan SMAN 5 Surabaya.

Karir musik

Meski demikian, ia mengaku tak sempat menamatkan studinya. Karena saat itu ia harus memilih antara karir bermusik dan pendidikan. Pada saat itu, ia berniat untuk menunda sebentar kesibukan kuliahnya. Namun, karena ia merasa sudah jatuh cinta

(3)

dengan musik, Dudi akhirnya harus memilih untuk meninggalkan kuliah.

Pada tahun 2001, Dudi mulai bergabung dengan grup musik Yovie and Nuno. Bersama Yovie and Nuno, ia telah merilis empat album, yakni “Semua Bintang”, “Kemenangan Cinta”, “The Special One”, dan “Winning Eleven”. Pada tahun 2012, ia memutuskan untuk hengkang dari Yovie and Nuno dan bersolo karir.

“Dulu awalnya bergabung itu ikutan audisi, nekad aja. Kalau Surabaya kan bonek ya. Hahaha. Jadi, dulu aku punya band yang sudah established. Setelah beberapa tahun akhirnya bubar. Kalau saya memulai lagi di tempat yang sama, kayaknya gimana gitu ya. Ya mending aku memulai lagi di tempat yang baru. Akhirnya, hijrah ke Jakarta. Iseng aja ikutan audisi Yovie and Nuno, dan alhamdulillah dipercaya sama mas Yovie untuk jadi

frontman,” tutur pria dengan satu anak tersebut.

Setelah hengkang, kini ia bersolo karir dan berbisnis dengan kawan-kawan kuliah. Keputusannya itu telah ia pikirkan dengan matang sebelumnya. “Karena semuanya udah aku tata sejak awal. Dari hobi menjadi profesi, sekarang sudah bergeser lagi. Sekarang lebih santai, ada waktu, bisa pilih-pilih hari untuk nyanyi. Untuk sekarang, album udah siap tunggu waktu kapan dirilis aja. Saat ini, mini album udah ada enam lagu,” imbuh Dudi.

Terkait tantangan dalam dunia musik saat ini, Dudi mengungkapkan,”Ada semakin banyak artis baru yang luar biasa. Tapi, balik lagi ke awal, modal agar bisa bertahan lama yaitu jujur, fokus, dan jangan pernah merasa jago. Ini ada korelasinya dengan menghargai karya dan pendapat orang lain,” ujar Dudi mengakhiri wawancaranya. (*)

Penulis: Defrina Sukma S. Editor : Dilan Salsabila

(4)

FKp UNAIR Bekali Mahasiswa

dengan Kompetensi BTCLS

UNAIR NEWS – Diberlakukakannya Masayarakat Ekonomi Asean (MEA)

di tahun 2015 lalu, menuntut perawat pada sebuah pelayanan kesehatan memiliki pengetahuan dan skill tentang Basic Trauma

Cardiac Life Support (BTCLS). Hal inilah yang mendorong

Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR, melakukan kerja sama dengan Badan Diklat PPNI Provinsi Jawa Timur untuk mengadakan pelatihan BTCLS di Kampus FKP UNAIR. Acara yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 21 Agustus 2016, diutamakan untuk mahasiswa tingkat terakhir dalam upaya pembekalan menuju dunia kerja.

Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) sendiri merupakan

tindakan untuk memberikan pertolongan pada korban bencana atau gawat darurat guna mencegah kematian dan kerusakan organ. Pada kegiatan BTCLS terdapat enam fase, yakni fase deteksi, fase supresi, fase pra rumah sakit, fase rumah sakit dan fase rehabilitasi.

Perlunya BTCLS tidak hanya berkaitan dengan prasyarat untuk sebuah profesi, melainkan dianggap penting dengan melihat kasus kejadian di lapangan. Sebagai gambaran, khususnya kecelakaan lalu lintas dan bencana alam saat ini meningkat. Dari peristiwa gawat darurat tersebut tidak semua korban meninggal di tempat, tetapi justru yang terbanyak meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit atau puskesmas. Hal ini terjadi karena keterampilan BTCLS ini belum disiapkan secara baik.

Rangkaian pelatihan yang disambut antusias oleh peserta tersebut, diawali dengan pre test BTCLS yang bertujuan untuk

(5)

mengukur tingkat pengetahuan peserta terkait kegawatdaruratan trauma dan kardiovaskular. Hal ini guna memberikan gambaran kepada peserta tentang konten dari pelatihan BTCLS. Lalu dilakukan ujian evaluasi baik teori maupun praktik pada hari terakhir.

“Kita memang ingin mempersiapkan mahasiswa keperawatan agar mampu menangani pasien-pasien dengan kasus-kasus trauma dan kardiovaskular, sehingga dapat menekan tingkat kecacatan maupun kematian akibat kasus trauma dan jantung,” ujar Dr. Hanik.Endang Nihayati, S.Kep. Ns., M.Kep selaku dosen di departemen Keperawatan Jiwa, Gerontik dan komunitas FKp UNAIR, sekaligus penanggungjawab acara pelatihan. (*)

Penulis : Okky Putri Rahayu Editor : Nuri Hermawan

Ciptakan Ide Sistem Pakar,

Siffian Menangkan Lomba Esai

Help Centre

UNAIR NEWS – Bagi sebagian mahasiswa, menentukan mata kuliah

pilihan memang bukan perkara mudah. Mata kuliah yang seharusnya menunjang minat dan bakat mahasiswam, nyatanya banyak yang diambil dengan tidak cermat. Banyak dari mahasiswa mengambil mata kuliah pilihan dalam Kartu Rencana Studi (KRS), hanya karena ingin menambah jumlah SKS saja. Bahkan ada yang hanya sekedar ikut-ikutan teman. Keadaan ini mendorong Siffian Assauri, mahasiswa S1-Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR untuk menciptakan sistem pakar. Dalam esainya yang berjudul “Sistem Pakar Penentu Mata Kuliah Pilihan Bagi Mahasiswa UNAIR”, Siffian berinisiatif

(6)

menciptakan suatu website untuk membantu mahasiswa dalam menentukan mata kuliah pilihan sesuai minat dan bakatnya. “Jadi nanti dalam website mahasiswa terkait ada semacam direktori untuk menyimpan pertanyaan seputar mata kuliah pilihan. Sistemnya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada mahasiswa dan setelah itu menyimpulkan mata kuliah pilihan apa yang sesuai minat dan bakatnya,”ujar Siffian saat ditemui usai pengumuman hasil final lomba pada Rabu (31/8).

Bagi mahasiswa yang aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bridge tersebut, dirinya sudah sering mengikuti lomba menulis esai. Kepiawaiannya dalam menulis dan membuat ide memang diakui juri cukup bagus dan inovatif. Sistem pakar yang dia ciptakan dianggap sangat membantu mahasiswa dalam membantu memilih mata kuliah pilihan. Terobosan tersebut nantinya diharapkan mampu membantu mahasiswa agar tidak mengambil mata kuliah pilihan karena alasan menghabiskan SKS ataupun sekedar ikutan teman.

Menurut Siffian, website yang dia ciptakan tidak cukup sulit untuk segera direalisasikan. Namun akan dibutuhkan banyak data untuk membuat pertanyaan seputar mata kuliah pilihan. Pertanyaan-pertanyaan akan diambil langsung dari silabus masing-masing mata kuliah pilihan, sehingga kemampuan mahasiswa dapat diukur sesuai atau tidaknya untuk mata kuliah tersebut.

Pada presentasi esai yang berlangsung selama 10 menit dan dilanjutkan pertanyaan dewan juri dalam durasi 10 menit pula, Siffian mendapatkan nilai tertinggi dan berhasil menjadi juara. Idenya yang sangat inovatif dan memberikan sumbangsih yang besar bagi UNAIR tersebut mampu mengalahkan enam finalis lainnya.

“Saya senang bisa mendapat juara. Tapi tetap saja sistem pakar ini masih perlu diuji coba dulu jika ingin diaplikasikan. Namun kesulitannya tidak banyak, hanya butuh pengumpulan data

(7)

saja untuk direktori nya,”ujar Siffian dengan optimis. (*) Penulis: Okky Putri Rahayu

Editor: Nuri Hermawan

Stan UKM Pramuka Juara

Display UKM 2016

UNAIR NEWS – Bersamaan dengan Display UKM (Unit Kegiatan

Mahasiswa) 2016 di Gedung Student Center (SC) kampus C Universitas Airlangga, panitia juga melakukan penilaian terhadap stan-stan ke-37 UKM pesertanya. Ada empat kriteria penilaian yang ditentukan panitia, yaitu kesesuaian dengan tema “Semarak Kemeriahan”, visi dan misi, kebersihan, serta maskot UKM.

Berdasarkan total nilai yang diberikan tiga juri yang dihadirkan, merujuk pada empat kriteria tersebut, stan UKM Pramuka memperoleh nilai tertinggi sebagai Juara I. Sedangkan juara II diraih stan UKM Teater Mata Angin, dan juara III oleh stan KSR PMI (Korp Sukarelawan Palang Merah Indonesia).

”Stan yang berhasil menjadi juara mendapat hadiah uang, juara I memperoleh Rp 500 ribu, juara II Rp 300 ribu, dan juara III sebesar Rp 150 ribu,” kata Adi, penanggungjawab lomba stan ini.

Seperti diketahui, sebanyak 37 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Airlangga ikut menggelar acara tahunan “Display UKM 2016”, di Gedung SC UNAIR, 29-30 Agustus 2016. Ke-37 UKM tersebut terbagi dalam lima divisi, diantaranya adalah divisi UKM olahraga, kerokhanian, bela diri, kesenian, dan minat khusus. Mereka menggelar display UKM dengan tema “Semarak

(8)

Kemerdekaan” dengan semangat “Panca Tirta”, yakni semangat dan prestasi yang dihadirkan oleh kelima divisi dari 37 UKM UNAIR. Display UKM yang dibuka Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Subhan, SH., MH., CN itu menghadirkan semua mahasiswa baru 6.726-an (S1 dan vokasi). Mereka dihadirkan secara bergiliran sesuai dengan kapasitas tempat display hingga selama dua hari. Pada acara inilah mahasiswa baru bebas memilih rencana kegiatannya bersama UKM-UKM tersebut.

Mahasiswa baru UNAIR menunggu giliran untuk menghadiri ke-37 stand dalam Display UKM 2016. Saat menunggu, mereka dihibur dengan beragam aktivitas UKM. (Foto: Bambang Bes)

”Lumayan dapat 150-an peminat. Ini nanti bisa aktif sekitar 50-an saja sudah bagus,” kata seorang penggiat di stan UKM Kependudukan. Aktivitas UKM Kependudukan ini antara lain bermitra dengan BKKBN, misalnya mensosialisasikan pencegahan terhadap kawin muda. (*)

(9)

Lakukan Inovasi dan Kreasi,

Raih Predikat Perawat Teladan

Nasional

UNAIR NEWS – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

mengadakan sebuah rangkaian acara Penganugerahan Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Nasional 2016 di Jakarta pada tanggal 14-21 Agustus. Pemberian penghargaan oleh Kemenkes tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada tenaga kesehatan yang dinilai berprestasi dan dapat berinovasi dalam menyelesaikan permasalahan keperawatan yang ditemui.

Dalam acara yang bertajuk “Tenaga Kesehatan Teladan Penggerak Pembangunan Kesehatan Masyarakat” tersebut, Wina Methania, S.Kep., Ners, mendapat anugerah sebagai Perawat Teladan Puskesmas Tingkat Nasional perwakilan Provinsi Kalimantan Timur. Tentu, ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi alumnus Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga tahun 2007 ini.

“Untuk dapat menjadi perawat teladan tingkat nasional, tenaga kesehatan di puskesmas menjalani seleksi penilaian kelayakan dengan melakukan pemaparan inovasi yang dikembangkan dalam menjalankan tugasnya,” ujar Wina dalam kesempatan wawancara via telepon dengan UNAIR NEWS pada Selasa, (30/8).

Sebelumnya, pada 2013, perempuan kelahiran Malang 22 Maret 1985 ini mendapat anugerah sebagai perawat teladan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional tingkat Kota Bontang. Wina kembali mendapatkan penghargaan serupa pada tahun 2016, yang kemudian menjadikannya perawat teladan di puskesmas tingkat nasional perwakilan Provinsi Kalimantan Timur.

(10)

“Prosesnya saya mengikuti penilaian tingkat kota. Bentuknya adalah presentasi dan tanya jawab dengan dewan juri. Karena meraih juara I, maka langsung mengikuti penilaian tingkat provinsi. Di provinsi juga melalui proses presentasi dan tanya jawab,” ujar Wina yang berdinas di Puskesmas Bontang Utara I, Kota Bontang, Kalimantan Timur ini.

Wina mengaku, sebagai koordinator SP2TP dan koordinator perawat, dirinya berinovasi untuk dapat meningkatkan kinerja perawat sesuai dengan Undang-undang No. 38 tentang Keperawatan. Sesuai UU tersebut, ia membuat Asuhan Keperawatan Rawat Jalan (ASKERAJA).

“Sebagai koordinator 34 posyandu balita di wilayah, saya berinovasi (eksternal) dengan mengembangkan posyandu balita berbasis “DOOR”. Yakni Database, Open Mind, Organization, dan

Revitalization. Inovasi ini dalam rangka penurunan angka

kematian ibu dan angka kematian bayi,” ujarnya bercerita. Melalui penghargaan tersebut, tenaga kesehatan di puskesmas, diharapkan tidak hanya melakukan kegiatan yang sudah rutin, namun juga terus melakukan inovasi dan kreasi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh Editor : Dilan Salsabila

FKM UNAIR Luluskan Doktor

ke-100

UNAIR NEWS – Program studi Doktor Ilmu Kesehatan Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga meluluskan doktor ke-100 pada Ujian Doktor Terbuka, Selasa (30/8). Lulusan

(11)

doktor ke-100 atas nama Yessy Dessy Arna melakukan penelitian tentang model asuhan keperawatan komunitas untuk korban pelecehan seksual anak.

“Model asuhan keperawatan komunitas yang saya teliti adalah Nir Ketaton berbasis FCN (Family Centered Nursing), HCS (Health Care System) dan Atraumatic Care. Nir Ketaton merupakan pendekatan asuhan keperawatan secara spiritual. FCN merupakan asuhan keperawatan berbasis pendekatan keluarga, HCS merupakan konsep penekanan penurunan stres dengan memperkuat pertahanan diri. Asuhan keperawatan komunitas Nir Ketaton ini terbukti menurunkan stres pada anak korban kekerasan seksual,” jelas Yessy.

Prodi S-3 Ilmu Kesehatan sendiri berdiri sejak tahun 2008. Saat ini prodi tersebut diketuai Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., M.S. Daya tampung prodi S-3 Ilmu Kesehatan sebesar 30 mahasiswa pada setiap semesternya, sehingga sampai saat ini telah meluluskan 100 mahasiswa.

“Lulusan keseratus ini merupakan hasil kerjasama yang indah semua sivitas akademika di lingkungan di FKM. Dan hal ini tandai dengan syukuran tumpengan sederhana,” jelas Nyoman.

Lulusan prodi Ilmu Kesehatan diharapkan mampu menghasilkan temuan ilmiah baru dan berperan aktif dalam pengembangan ilmu kesehatan. Beban studi satuan kredit semester yang harus ditempuh untuk mahasiswa yang bidang ilmunya linier adalah 48 sks, sedangkan yang non-linier 56 sks. (*)

Penulis: Humas FKM

(12)

Perguruan Tinggi Harus Banyak

Menampung Mahasiswa Miskin

Berprestasi

UNAIR NEWS – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode

2009-2014 Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA memberikan orasi ilmiah kepada 1.506 mahasiswa baru pascasarjana. Orasi ilmiah tersebut disampaikan pada acara pengukuhan mahasiswa baru pascasarjana semester gasal tahun akademik 2016-2017 yang berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC) UNAIR, Kamis (1/9).

Melalui orasi ilmiahnya, Prof. Nuh memberikan pesan kepada mahasiswa baru agar menjalani studi bukanlah sekadar demi mendapatkan gelar. “Mengetahui tujuan dan konsekuensi. Toga menjadi tujuan apakah menjadi konsekuensi. Mulailah menata niat, niat mencari ilmu. Sebab tujuan mencari ilmu adalah meningkatkan kepribadian,” kata Prof. Nuh.

Mendikbud RI yang ikut menggagas diadakannya beasiswa Bidikmisi ini, berharap agar UNAIR menjadi perguruan tinggi yang lebih banyak lagi menampung mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi.

“Perguruan tinggi yang baik bukan perguruan tinggi yang membeber mobil-mobil mewah berparkir. Tapi perguruan tinggi y a n g m e m b e b e r k a r p e t m e r a h u n t u k a n a k - a n a k m i s k i n berprestasi,” ujar profesor yang saat ini menjadi dosen bidang Teknik Elektro ini.

Pada kesempatan ini, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu mengatakan, kompetisi dan kerjasama adalah dua hal yang harus berjalan beriringan dalam menjalani hidup. “Hidup ini dibatasi dinding kerjasama dan dinding kompetisi. Jangan sekali-kali menganggap tidak penting kompetisi atau kerjasama. Pada dua-duanya lah hidup ini berjalan,” ungkapnya.

(13)

Ia mengatakan agar mahasiswa memiliki visi misi yang jauh ke depan. Sebab, tantangan zaman semakin kompleks dan beragam. Ia mencontohkan dengan kehadiran teknologi mutakhir seperti munculnya Go-Jek dan Uber.

“Permasalahan begitu kompleks, sebab persoalan manusia begitu banyak. Pesan saya, latih diri untuk bisa melihat jauh ke depan. Kita harus tahu tujuan hidup ke depan, sebab persoalan semakin kompleks. Kalau kita tidak bisa melakukan itu, kita akan jadi bangsa yang kalah,” ujar Prof. Nuh.

“Pendidikan adalah sistem terbaik dan teruji untuk memotong persoalan dan rantai kemiskinan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S.

Referensi

Dokumen terkait

♦ Klik Minimum Cost Method (jika memilih ini, maka program akan mengerjakan dengan metode Minimum Cost Method.. ♦ Klik Vogel’s approximation Method (jika memilih ini, maka

Maka dari itu setidaknya walaupun anda memulai untuk membangun website anda dengan cara lama, anda harus pikirkan cara-cara lama yang menurut anda masih efektif, namun poles

Sedangkan Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik atau atau semua zat bila dilarutkan dalam air tidak mengalami ionisasi

46 alinea 4 yang menyatakan “ Menimbang bahwa bukti T – 15 yaitu Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Pemohon, tidak dapat diterima sebagai alat

Seberapa besar nilai usaha produk agroindustri olahan kerupuk kulit sapi yang dihasilkan dalam sekali proses produksi ditinjau dari biaya, produksi, pendapatan.. Apakah

3.1.2 Mengenal pasti bahan, alatan dan tempat memilih induk dan membiak ikan.. 3.1.3 Menerangkan kaedah menentukan jantina

Jika wajah pasien tidak termasuk, hampir dipastikan bahwa lesi pada traktus terdapat di bagian bawah dari batang otak atau medula spinalis.. Karena medula spinalis merupakan

Az európai házi méh „M” melyben megjelenik az Apis mellifera iberica és Apis meilifera mellifera, az afrikai „A” és az észak mediterrán „C” melybe