Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
P U T U S A N
Nomor 54/Pdt.G/2015/PN.Kdr
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Kediri yang memeriksa dan memutus perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase, pada tingkat pertama menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara :
ABDULLAH ABU BAKAR SE selaku Walikota Kediri untuk dan atas nama Pemerintah Kota Kediri, dalam hal ini memberikan kuasa kepada Dr. H. NURBAEDAH SH.,S.Ag. MH, C.W. SURYO WARDHANA SH, IMAM MOHKLAS, SH., para Advokat dari Kantor Advokat dan Bantuan Hukum “ Dr. H. NURBAEDAH SH., S.Ag. MH & REKAN “ beralamat di Perum Permata Hijau Blok O – 11 Jl. Kapten Tendean Kota Kediri, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 22 Mei 2015, selanjutnya disebut sebagai Pemohon ;
MELAWAN
1 Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya yang beralamat di Jl. Ketintang Baru VIII No. 10 Surabaya, dalam hal ini diwakili oleh SUHIRMANTO, S.H. Sekretaris Majelis Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya beralamat di Jl. Ketintang Baru VIII No.10 Surabaya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 14 Juli 2015, selanjutnya disebut sebagai Termohon I ;
2 PT FAJAR PARAHIYANGAN yang berkedudukan di Jl. Cikutra No. 175 A, Bandung, dalam hal ini memberikan kuasa kepada ANDONO KRISTANTO, S.H., M.H., RONALD ARMADA WIYONO, S.H., M.H., dan MAULIDIAZETA WIRIARDI, S.H., M.H., Para Advokad dari Kantor “WINS dan Partners Law Firm“ yang beralamat di Perkantoran Graha Asri Blok RK No.9 Jalan Raya Ngagel 176-179, Surabaya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 01 Juli 2015 selanjutnya disebut sebagai Termohon II ;
Pengadilan Negeri tersebut ; Setelah membaca berkas perkara ;
Halaman 1 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Setelah mendengar kedua belah pihak yang berperkara ;TENTANG DUDUK PERKARA
Menimbang, bahwa berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Pengadilan Dalam Empat Lingkungan Peradilan Buku II Edisi 2007, Permohonan pembatalan putusan arbitrase diberlakukan Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Khusus. Tata cara pengajuan Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan dalam bentuk gugatan (bukan voluntair) dan disidangkan oleh Majelis Hakim ;
Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Pengadilan Dalam Empat Lingkungan Peradilan Buku II Edisi 2007 tersebut di atas, maka terhadap Permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan oleh ABDULLAH ABU BAKAR SE selaku Walikota Kediri untuk dan atas nama Pemerintah Kota Kediri berlaku hukum acara Perdata Khusus dan para pihak dalam perkara ini selanjutnya akan disebut sebagai Pemohon dan Termohon ;
Menimbang, bahwa Pemohon dengan Surat Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase tanggal 22 Juni 2015 yang diterima dan didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kediri pada tanggal 22 Juni 2015 dalam Register Nomor 54/Pdt.G/2015/PN.Kdr, telah mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase sebagai berikut :
1 Bahwa permasalahan dalam perkara ini berkaitan dengan dilakukannya Pemutusan Kontrak oleh Pemohon / dahulu Termohon Arbitrase terhadap Termohon II/ dahulu Pemohon Arbitrase (PT Fajar Parahiyangan) yang dikarenakan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan Sub Kontrak V oleh Termohon II sebagai penyedia barang/jasa dalam pekerjaan Pembangunan Jembatan Brawijaya Kota Kediri berdasarkan perjanjian kerja konstruksi Sub Kontrak V No. 1697.05/SUB.KONT.FISIK/APBD/2013 ( selanjutnya disebut sebagai sub kontrak V ), yang perjanjian Sub Kontrak V tersebut adalah merupakan salah satu kontrak tahunan dari Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan No. 1697/XII/ KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal 8 Desember 2010 ( selanjutnya disebut sebagai Kontrak Induk).
Penyelesaian pekerjaan dalam Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan (Kontrak Induk) No. 1697/XII/ KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
8 Desember 2010 maupun perjanjian Sub Kontrak tersebut menggunakan danaAnggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kota Kediri tahun anggaran 2010, 2011, 2012 serta tahun anggaran 2013 ( Multiyears ). Pada awalnya pekerjaan Termohon II / dahulu Pemohon Arbitrase (PT Fajar Parahiyangan) sejak pelaksanaan pekerjaan mulai Sub Kontrak I sampai dengan Sub Kontrak IV tidak mengalami kendala, namun pada saat pelaksanaan pekerjaan Sub Kontrak V tanpa dasar alasan yang dapat dibenarkan oleh hukum, pekerjaan Termohon II/dahulu Pemohon Arbitrase ( PT Fajar Parahiyangan ) mulai minggu ke – 10 tanggal 10 Juni 2013 s/d 20 Desember 2013 mengalami keterlambatan pekerjaan mencapai – 12.203 % (Minus) dari jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Sub Kontrak V. Prosentase Keterlambatan pekerjaan Termohon tersebut setiap minggu semakin bertambah sehingga masuk dalam kategori kontrak kritis dan meskipun Pemohon telah berupaya mengejar keterlambatan pekerjaan oleh Termohon tersebut baik dengan melakukan Teguran, Peringatan, Rapat Koordinasi serta Rapat - rapat pembuktian ( Show Cause Meeting ) I tanggal 9 Oktober 2013, Show Cause Meeting (SCM) II tanggal 17 Oktober 2013 dan show cause meeting 3 tanggal 20 Desember 2013, namun tetap saja Termohon II sebagai penyedia barang dan jasa pada pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pembangunan sampai 100% ( Kontrak kritis ) sebagaimana ditetapkan dalam Sub Kontrak V dan bahkan berdasarkan rapat pembuktian 3 (show cause meeting) tanggal 20 Desember 2013 keterlambatan pekerjaan pembangunan oleh Termohon mencapai - 62.921 % (Minus). Padahal sebagaimana tertuang dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) Kontrak Tahunan Sub Kontrak V, serah terima hasil pekerjaan sesuai target fisik yang ditetapkan dalam Sub Kontrak V harus sudah diserah terimakan kepada Pemohon paling lambat 31 Desember 2013. Sehingga apabila dihitung dari 100 % target penyelesaian yang seharusnya dicapai pada pembangunan jembatan brawijaya sesuai dengan Sub Kontrak V dengan keterlambatan pekerjaan yang mencapai – 62.921% dapat diketahui fakta bahwa pekerjaan pembangunan yang dilaksanakan oleh Termohon hanyalah mencapai 37.079 % dari target 100 % pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Sub Kontrak V. Dan atas keterlambatan pekerjaan tersebut telah pula diakui oleh Termohon II/Pemohon arbitrase dalam surat pernyataan tertanggal 27 Desember 2013 yang dibuat dan ditandatangani oleh Simon Godfried Errol selaku Kepala cabang PT Fajar Parahiyangan untuk Jawa dan Bali serta diakui pula dalam Berita Acara Persetujuan Pembayaran Halaman 3 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
angsuran Pelaksanaan Pekerjaan tertanggal 27 Desember 2013 yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Simon Godfried Errol selaku Kepala Cabang PT Fajar Parahiyangan untuk Jawa dan Bali. Maka keterlambatan pembangunan yang dilakukan oleh Termohon II tersebut adalah termasuk merupakan kelalaian Termohon II sebagai penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan Sub Kontrak V pada pembangunan Jembatan Brawijaya yang oleh karena kelalaian Termohon tersebut sangatlah merugikan Pemohon. Sehinggga oleh karena Termohon telah lalai menyelesaikan pekerjaan Sub Kontrak V pembangunan Jembatan Brawijaya maka Pemohon sebagai pemilik pekerjaan melakukan pemutusan kontrak kepada Termohon II atas dasar ketentuan Pasal 16 Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan (Sub Kontrak V) No. 1697.05/SUB.KONT.FISIK/APBD/2013 jo Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Kontrak Induk nomor : 1697/XII/KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal 8 Desember 2010 Tentang Pemutusan Hubungan Kontrak. Namun ternyata meskipun Termohon II telah mengakui keterlambatan pekerjaannya sehingga telah melakukan kelalaian dalam menyelesaikan pekerjaan Sub Kontrak V pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri, Termohon II membawa permasalahan pemutusan kontrak yang dilakukan oleh Pemohon tersebut ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia Perwakilan Surabaya.
2 Bahwa pada tanggal 13 Mei 2015 Badan Arbitrase Nasional Indonesia ( BANI) Perwakilan Surabaya telah membacakan Putusan Reg. No. 13/ARB/ BANI-SBY/I/2015 yang amar putusannya adalah sebagai berikut:
MENGADILI 1 Mengabulkan seluruh permohonan Pemohon.
2 Menyatakan perbuatan pemutusan kontrak secara sepihak yang dilakukan oleh Termohon merupakan perbuatan melanggar hukum.
3 Menghukum Termohon untuk mencabut Surat Nomor : 050/927/419.48/2013 tanggal 24 Desember 2013, perihal : Pemutusan Kontrak terhadap PT FAJAR PARAHIYANGAN sebagai Penyedia Jasa Paket Pembangunan Jembatan Brawijaya.
4 Menghukum Termohon untuk memberikan perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan kepada Pemohon dengan penyesuaian harga satuan berdasarkan harga satuan 2015, dengan jangka waktu penyelesaian pekerjaan selama 277 (dua ratus tujuh puluh tujuh) hari kalender yang
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
terhitung sejak ditandatanganinya Addendum terhadap Sub Kontrak Vdalam Paket Pembangunan Jembatan Brawijaya dengan Pemohon, selambat – lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sejak putusan ini didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya meliputi kedudukan hukum Termohon.
Jika dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kalender sejak putusan ini didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri yang wilayah hukumnya meliputi kedudukan hukum Termohon, Termohon belum membuat dan mendandatangani kontrak sebagaimana dimaksud diatas, maka Termohon dihukum untuk membayar ganti kerugian kepada Pemohon sebesar Rp. 1.485.628.354.00 ( satu milyar empat ratus delapan puluh lima juta enam ratus dua puluh delapan ribu tiga ratus lima puluh empat rupiah).
5 Memerintahkan Termohon untuk tidak mencairkan jaminan pelaksanaan dan jaminan uang muka atas nama Pemohon, serta tidak memasukkan Pemohon ke dalam daftar hitam (black list) pengadaan barang/jasa nasional, serta tidak melakukan pelelangan ulang terhadap paket pekerjaan tersebut.
6 Memerintahkan Termohon untuk menganggarkan kembali sisa anggaran yang belum terserap dalam pelaksanaan pekerjaan ini ke dalam APBD Tahun Anggaran 2015 atau APBD Perubahan Tahun Anggaran 2015. 7 Menghukum Termohon membayar biaya perkara Arbitrase ini sebesar Rp.
108.850.000.- ( seratus delapan juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah) kepada Pemohon.
8 Menyatakan putusan majelis Arbitrase ini Final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak.
9 Memerintahkan kepada Sekretaris Majelis untuk mendaftarkan turunan resmi putusan ini di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kediri atas biaya Pemohon dan Termohon, dalam tenggang waktu sebagaimana ditetapkan dalam undang – undang.
3 Bahwa pengajuan Permohonan Pembatalan Putusan BANI Surabaya ini kepada Ketua Pengadilan Negeri Kota Kediri, masih dalam tenggang waktu 30 ( tiga puluh ) hari terhitung sejak Pemberitahuan Putusan BANI Surabaya Reg. No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 telah diserahkan dan didaftarkan pada Pengadilan Negeri Kota Kediri pada tanggal 8 JUNI 2015 dengan No. 02/WASIT/2015/PN.KDR. Maka sehubungan pengajuan Halaman 5 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Permohonan pembatalan Putusan BANI Surabaya oleh Pemohon masihdalam tenggang waktu sebagaimana yang telah ditentukan oleh Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut sebagai UU No. 30 Tahun 1999) khususnya Pasal 71 jo Pasal 72 ayat (1), oleh karena itu Permohonan Putusan BANI Surabaya ini sudah sepatutnya diterima dengan baik oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri.
4 Adapun dasar hukum Pemohon (Pemkot Kediri) mengajukan Permohonan Pembatalan Putusan BANI Reg. No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 ini adalah Ketentuan Pasal 70 huruf (c) Undang Undang No. 30 Tahun 1999 yang mengatur : Terhadap putusan arbitrse para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur – unsur sebagai berikut : “(c) putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan perkara”. Dan Putusan BANI diambil tidak berdasarkan ketentuan hukum. Serta Putusan BANI diambil tidak berdasarkan perjanjian namun hanya berdasarkan klaim sepihak Termohon II.
5 Bahwa telah terbukti Termohon II /dahulu Pemohon Arbitrase (PT Fajar Parahiyangan) yang selanjutnya disebut sebagai Termohon II telah melakukan tipu muslihat di dalam forum Arbitrase untuk mendapatkan keuntungan yang tidak wajar. Dan Termohon II (PT Fajar Parahiyangan) dalam forum arbitrase telah melakukan tipu muslihat dengan cara menyatakan prestasi pekerjaan fisik dalam pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri telah berhasil Termohon II selesaikan sebesar 75 % (berdasarkan Sub Kontrak I sampai dengan Sub Kontrak V) dari keseluruhan pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri atas dasar serapan anggaran pembangunan Jembatan Brawijaya Kota Kediri yang berhasil diserap oleh Termohon II (PT Fajar Parahiyangan) sebesar Rp. 47.231.600.400 (empat puluh tujuh milyar dua ratus tiga puluh satu juta enam ratus ribu empat ratus rupiah) dari total nilai pekerjaan sebesar Rp. 66.409.000.000,- (enam puluh enam milyar empat ratus sembilan juta rupiah). Padahal sudah sangat jelas dan tidak dapat dibantah lagi, dalam pelaksanaan pekerjaan Sub Kontrak V Termohon II telah melakukan kelalaian dengan gagal menyelesaikan pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri sampai selesai 100 % dan hanya mampu menyelesaikan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
37,079 % yang mengakibatkan pekerjaan Sub Kontrak V oleh Termohonmengalami deviasi sebesar – 62,921% ( Vide Bukti P – 1, P - 2 ) sehingga mengakibatkan Termohon II tidak dapat melakukan serah terima hasil pekerjaan sesuai target fisik yang telah ditetapkan dalam Sub Kontrak V yang seharusnya sudah diserah terimakan kepada Pemohon oleh Termohon II paling lambat 31 Desember 2013 sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) Sub Kontrak V ( Vide Bukti P – 3 ) yang dibuat dan ditanda tangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen dengan Simon Godfried Errol selaku Kepala Cabang PT Fajar Parahiyangan, sehingga apabila Termohon dalam forum arbitrase menyatakan telah berhasil menyelesaikan pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya sebesar 75 % berdasarkan jumlah serapan anggaran yang berhasil Termohon serap dari keseluruhan pekerjaan (Sub Kontrak I s/d Sub Kontrak V), tindakan tersebut jelas – jelas tipu muslihat Termohon II dalam forum arbitrase yang semata – mata bertujuan untuk menguntungkan Termohon II dalam forum arbitrase. Sehingga pertimbangan putusan BANI Surabaya hal. 46 alinea 2 yang menyatakan “ bahwa Majelis minta konfirmasi dari termohon dan Termohon tidak membantah, bahwa Pemohon membenarkan telah menerima pembayaran sejumlah Rp. 47.231.600.440 (empat puluh tujuh milyar dua ratus tiga puluh satu juta enam ratus ribu empat ratus empat puluh ribu rupiah) yaitu 71,12% dari nilai kontrak induk sebesar Rp. 66.409.000.000,- ( enam puluh enam milyar empat ratus sembilan juta rupiah) sehingga fakta tersebut melumpuhkan dalil sanggahan Termohon tentang volume pekerjaan 37.079 % , jelas – jelas mengandung tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon II. Maka dengan demikian sudah seharusnya Pengadilan Negeri Kediri membatalkan Putusan BANI Perwakilan Surabaya Reg.No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015.
6 Bahwa pertimbangan hukum BANI Perwakilan Surabaya (selanjutnya disebut Termohon I) hal 45 alinea 3 dalam Putusan Reg No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 yang menyatakan ‘’...menunjukkan tidak tersedianya anggaran seperti yang disebutkan dalam kontrak....”, jelas - jelas mengandung tipu muslihat. Oleh karena anggaran pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri telah tersedia dalam APBD Pemerintah Kota Kediri. Bahkan sebaliknya Termohon II sebagai penyedia barang dan jasa pada pelaksanaan pekerjaan Jembatan Brawijaya Kediri dalam pelaksanaan Sub Halaman 7 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Kontrak V tidak dapat melaksanakan kewajibannya, yang dibuktikan darinilai kontrak yang telah disepakati dalam Sub Kontrak V yaitu sebesar Rp. 21.223.262.200,00 (dua puluh satu milyar dua ratus dua puluh tiga juta dua ratus enam puluh dua ribu dua ratus rupiah), Termohon II hanya dapat menyerap anggaran sebesar Rp. 7.869.373.391,- ( tujuh milyar delapan ratus enam puluh sembilan juta tiga ratus tujuh puluh tiga ribu tiga ratus sembilan puluh satu rupiah) ( Vide Bukti P – 4 ) atau 37,079 % dari target 100 % yang ditetapkan dalam Sub Kontrak V. Sehingga jika Termohon I dalam pertimbangan putusannya menyatakan Pemohon tidak mampu menyediakan anggaran sesuai kontrak, pertimbangan putusan tersebut jelas – jelas mengandung tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon II dalam forum arbitrase. Oleh karena pertimbangan putusan Termohon I tersebut diatas nyata – nyata mengandung tipu muslihat yang semata – mata menguntungkan Termohon II/dahulu Pemohon Arbitrase dalam forum arbitrase maka sudah seharusnya Putusan BANI Perwakilan Surabaya Reg.No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 dibatalkan oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri.
3 Bahwa selain itu tipu muslihat juga dilakukan oleh Termohon II dalam Forum Arbitrase dengan cara adanya bukti Surat Pernyataan tanggal 16 April 2015 (dahulu bukti P – 21 dalam Arbitrase) di muka forum arbitrase yang juga telah tercantum dalam Putusan Arbitrase Reg. No. 13/ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 hal 24 alinea I ( Vide Bukti P – 5 ), yang dibuat dan ditanda tangani oleh Budi Witjaksana yang pada pokoknya berisi bahwa Surat Pernyataan tanggal 27 Desember 2013 dibuat dan disusun secara sepihak oleh Pejabat Pembuat Komitmen pada Dinas Pekerjaan Umum, agar Pemohon (Forum Arbitrase) mau menandatangani Surat Pernyataan a quo dan bila tidak menandatangai surat pernyataan tersebut maka termin pembayaran atas prestasi pekerjaan berdasarkan Sub Kontrak V yang telah dilaksanakan Pemohon tidak dicairkan ( putusan Arbitrase hal 46 alinea 5). Surat Pernyataan tersebut adalah jelas – jelas merupakan tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon II dalam Forum Abitrase yang semata – mata bertujuan untuk menguntungkan Termohon II saja, mengingat Budi Witjaksana sebagai orang yang membuat dan menandatangai Surat pernyataan tertanggal 16 April 2015 tersebut bertindak sebagai Kepala Cabang PT Fajar Parahiyangan Jawa Bali yang dalam perkara arbitrase No.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
13/ARB/BANI SBY/I/2015 adalah merupakan Pihak Pemohon dalamForum Arbitrase mewakili PT Fajar Parahiyangan, sehingga jelas – jelas surat pernyataan yang dibuat dan ditanda tangai oleh BUDI WITJAKSANA tersebut adalah merupakan tipu muslihat yang dilakukan oleh pihak Termohon II/dahulu pemohon arbitrase.
4 Bahwa tipu muslihat yang dilakukan oleh Termohon II/dahulu Pemohon Arbitrase dalam Forum Arbitrse semakin kuat telah dilakukan oleh Termohon II oleh karena Surat Pernyataan tersebut dibuat dan ditanda tangani oleh Budi Witjaksana pada tanggal 16 April 2015 sedangkan sejak mulai tanggal 2 April 2015 sampai dengan tanggal 22 April 2015 tahapan persidangan dalam forum Arbitrase pada saat itu masih dalam acara pembuktian para pihak ( Vide Bukti P – 6 ) serta Surat Pernyataan tanggal 27 Desember 2013 ( Vide Bukti T – 7 ) yang pada pokoknya berisikan tentang pengakuan Termohon II ( PT Fajar Parahiyangan) atas adanya keterlambatan kegiatan Pembangunan Jembatan Brawijaya Tahun Anggaran 2013, telah Pemohon ajukan sebagai alat bukti di forum arbitrase lebih dahulu daripada dibuat dan diajukannya Surat Pernyataan tanggal 16 April 2013 tersebut, yaitu Surat Pernyataan tanggal 27 Desember 2013 Pemohon ajukan pada tanggal 8 April 2015 sedangkan Surat Pernyataan tanggal 16 April 2015 yang dibuat oleh Budi Witjaksana tersebut di ajukan Termohon II di forum arbitrase pada tanggal 22 April 2015, sehingga jelas – jelas Surat Pernyataan tanggal 16 April 2013 yang dibuat oleh BUDI WITJAKSANA tersebut merupakan rekayasa/tipu muslihat Termohon II guna melumpuhkan bukti Pemohon/Termohon Arbitrase yang notabene Surat Pernyataan tanggal 16 April 2013 dibuat dan ditandatangani oleh Budi Witjaksana pada saat pemeriksaan alat bukti pada sidang Arbitrase di BANI Surabaya sedang berlangsung. Sedangkan isi dari Surat pernyataan tanggal 27 Desember 2013 yang dibuat dan ditanda tangani oleh Simon Godfried Errol sebagai Kepala Cabang PT Fajar Parahiyangan Jawa Bali saat itu hingga perkara arbitrase No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 diputus oleh BANI Surabaya pada tanggal 13 Mei 2015 kenyataannya tidak pernah dicabut oleh pembuatnya sehingga Surat pernyataan tanggal 27 Desember 2013 tersebut adalah sah sebagai alat bukti. Maka dengan demikian sudah sangat jelas dan tidak dapat terbantahkan lagi Surat Pernyataan tanggal 16 April 2015 yang dibuat secara sepihak oleh BUDI WITJAKSANA adalah merupakan tindakan rekayasa/tipu muslihat yang
Halaman 9 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
dilakukan oleh Termohon II dalam Forum Arbitrase yang semata – matabertujuan untuk menguntungkan Termohon II saja yang mengakibatkan Putusan BANI Surabaya yang dalam pertimbangan hukumnya pada hal. 46 alinea 4 yang menyatakan “ Menimbang bahwa bukti T – 15 yaitu Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Pemohon, tidak dapat diterima sebagai alat bukti karena Surat tersebut dibuat dan disusun secara sepihak oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri atau Termohon, agar Pemohon mau menandatangai Surat Pernyataan a quo, dan bila tidak mau menandatangai Surat Pernyataan tersebut maka termin pembayaran atas prestasi pekerjaan berdasarkan Sub Kontrak V yang telah dilaksanakan oleh Pemohon tidak dicairkan (Bukti P – 21)....dst ”, jelas - jelas mengandung tipu muslihat yaitu adanya Surat Pernyataan tanggal 16 April 2013 guna melumpuhkan bukti Pemohon/ Termohon Arbitrase yang seharusnya tidak dapat dijadikan dasar untuk mengabulkan permohonan Termohon II/dahulu Pemohon Arbitrase pada BANI Surabaya. Dengan demikian sudah seharusnya Pengadilan Negeri Kediri membatalkan Putusan BANI Surabaya Reg. No. 13/ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015.
5 Bahwa perlu kami sampaikan bahwa dalam UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa selain alasan pembatalan putusan yang diatur dalam ketentuan pasal 70, juga dimungkinkan pembatalan putusan Arbitrase dilakukan berdasarkan alasan – alasan lain diluar yang tercantum dalam ketentuan Pasal 70, berdasarkan hal – hal tersebut dibawah ini :
• Berdasarkan penjelasan umum alinea ke 18 UU Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa secara tegas dikatakan alasan – alasan pembatalan putusan Arbitrase tidak hanya berdasarkan alasan - alasan pembatalan yang tercantum dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase saja dengan adanya Frase “ antara lain”.
Yang bunyi penjelasan umum UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa alinea 18 tersebut adalah sebagai berikut : Bab VII mengatur tentang pembatalan putusan arbitrase. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal, antara lain:
a Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan palsu.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
b Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifatmenentukan yang sengaja disembunyikan pihak lawan; atau c Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh
salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.
10 Bahwa alasan – alasan lain dalam permohonan pembatalan Putusan BANI pun juga secara tegas telah diatur sebagaimana tercantum dalam Yurisprudensi MARI No. 03/ARB.BTL/2005 tertanggal 17 Mei 2006 antara PT Comarindo Expres Tama Tour & Travel melawan Yemen Airways, bahwa terdapat alasan – alasan lain di luar yang tercantum dalam Pasal 70 UU Arbitrase dimana pada pokoknya dengan merujuk kepada penjelasan umum Penjelasan Umum alinea 18 UU Arbitrase, maka alasan – alasan pembatalan putusan arbitrase tidak hanya/mutlak berdasarkan alasan yang tercantum dalam pasal 70 UU Arbitrase melainkan juga digunakan alasan – alasan lainnya di luar alasan yang tercantum dalam pasal 70 UUArbitrase.
11 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (1) UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, mengatur “arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum atau berdasarkan keadilan dan kepatutan”.
Atas dasar ketentuan hukum tersebut sudah sangat jelas Termohon I dalam mengambil putusan perkara arbitrase Reg No. 13/ARB/BANI SBY/I/2013 tanggal 13 Mei 2015 sudah seharusnya berpedoman pada ketentuan hukum yang berlaku dalam pengadaan barang dan jasa Pemerintah sebagaimana diatur dalam Kepres 80 tahun 2003 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah jo Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 8 Tahun 2006 Tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pelaksanaan Pengadaan barang dan jasa Pemerintah jo Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah jo Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa jo Pasal 39.3.b Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 Tentang Standart Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultasi. Oleh karena pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri dibiayai menggunakan APBD Kota Kediri maka proyek tersebut termasuk dalam rangka pengadaan barang dan jasa Halaman 11 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Pemerintah sehingga peraturan – peraturan tersebut adalah merupakan hukumyang memaksa (dwingende regel) yang harus diterapkan dan tidak dapat disimpangi oleh Termohon I dalam memutus perkara arbitrase a quo. Namun kenyataannya dalam putusan perkara arbitrase Reg No. 13/ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015, Termohon I semata – mata hanya berdasarkan pada klaim sepihak dari Termohon II saja tanpa mendasarkan pada peraturan – peraturan tersebut diatas.
12 Bahwa Termohon I dalam mengambil putusan arbitrase Reg No. 13/ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 tidak berdasarkan isi perjanjian akan tetapi hanya berdasarkan pada klaim sepihak dari Termohon II/dahulu Pemohon, yaitu dengan cara Termohon I dalam mengambil putusan arbitrase Reg No. 13/ ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 tidak berdasarkan isi perjanjian Sub Kontrak V No. 1697.05/SUB.KONT.FISIK/ APBD/2013 yang adalah merupakan kontrak pelaksanaan dari Kontrak Induk nomor :1697/XII/KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal 8 Desember 2010, yang dalam ketentuan pasal 7 ayat (1) Sub Kontrak V telah mengatur “ Kontrak kerja konstruksi harga satuan ini berlaku dan mengikat kedua pihak sejak ditandatangani ”. Sehingga semestinya Termohon I dalam mengambil putusan arbitrase Reg No. 13/ARB/BANI-SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 sudah seharusnya berpedoman pada Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan (Sub Kontrak V) No. 1697.05/SUB.KONT.FISIK/APBD/2013. Namun pada kenyataannya Termohon I dalam memutus perkara arbiter a quo telah mengenyampingkan isi perjanjian Sub Kontrak V tersebut serta mengenyampingkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Sub Kontrak V Tentang Jangka Waktu Pelaksanaan Kontrak, yang berbunyi “ Jangka Waktu pelaksanaan kontrak adalah 265 ( dua ratus enam puluh lima) hari kalender terhitung mulai sejak ditanda tanganinya Sub Kontrak V tertanggal 11 April 2013 sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 harus sudah dilaksanakan Serah terima Hasil Pekerjaan sesuai target fisik yang ditetapkan dalam Sub Kontrak V dengan Berita acara Pemeriksaan Pekerjaan dari Pihak Kedua kepada Pihak Pertama “.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
13 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat 1 Sub Kontrak Vtersebut sudah sangat jelas bahwa Termohon II sudah seharusnya menyerahkan hasil pekerjaan Sub Kontrak V yang telah selesai 100% pada tanggal 31 Desember 2013. Akan tetapi sejak minggu ke 10 tanggal 10 Juni 2013 s/d 20 Desember 2013 mengalami keterlambatan pekerjaan mencapai – 12.203 % (Minus) dari jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan dalam Sub Kontrak V dan prosentase keterlambatan tersebut semakin lama semakin bertambah hingga pada diadakannya Show Cause Meeting 3 pada tanggal 20 Desember 2013 ( Vide Bukti P – 8) telah terbukti bahwa keterlambatan pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya oleh Termohon II mencapai – 62, 921 % (Minus). Dengan demikian sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 sejatinya Termohon II tidak dapat menyerahkan hasil pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat (1) Sub Kontrak V tersebut. Namun demikian Termohon I telah mengenyampingkan isi perjanjian Sub Kontrak V tersebut padahal surat perjanjian tersebut adalah sah dan mengikat para pihak dalam hal ini adalah pihak Pemohon dan Termohon II. Dengan demikian pertimbangan Termohon I dalam mengambil keputusan dalam perkara arbiter a quo jelas – jelas hanya berpedoman pada klaim sepihak dari pihak Termohon II/Pemohon Arbiter saja tanpa didasarkan pada isi perjanjian Sub Kontrak V yang dibuat oleh para pihak dalam hal ini pihak Pemohon dan Termohon II.
14 Bahwa berdasarkan ketentuan pasal 1338 KUHPerdata yang mengatur “ semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang undang berlaku sebagai undang undang bagi mereka yang membuatnya ”. Maka sudah semestinya Termohon I dalam mengambil putusan arbitrse perkara a quo berpedoman pada isi perjanjian Sub Kontrak V yang berlaku mengikat bagi para pihak dalam hal ini Pemohon dan Termohon II. Oleh karena Perjanjian Sub Kontrak V adalah merupakan perjanjian yang dibuat dan disepakati oleh Pemohon dan Termohon II. Dan oleh karenanya sudah merupakan kewajiban dari Termohon I dalam memutus sengketa arbitrase dalam perkara a quo berpedoman pada Halaman 13 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak, namun dalamperkara arbiter a quo, Termohon I telah nyata – nyata mengenyampingkan keberadaan Surat Perjanjian Sub Kontrak V yang telah dibuat dan disepakati oleh pihak Pemohon dan Termohon II dalam pelaksanaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri. Sehingga sudah jelas – jelas Termohon I dalam mengambil putusan arbitrase tidak berdasarkan pada perjanjian Sub Kontrak V yang merupakan perjanjian yang dibuat dan disepakati oleh Pemohon dan Termohon II, akan tetapi hanya berdasarkan klaim sepihak dari Termohon II/dahulu Pemohon Arbitrase. Dengan demikian sudah seharusnya Pengadilan Negeri Kota Kediri membatalkan Putusan Arbitrase Reg No. 13/ARB/ BANI-SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015.
15 Bahwa dengan diajukannya Permohonan Pembatalan a quo serta oleh karena putusan Termohon I Reg No. 13/ARB/BANI-SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 nyata – nyata diambil atas dasar tipu muslihat serta putusan Termohon I Reg. No 13/ARB/BANI-SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 diambil tidak berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku maupun putusan arbitrase a quo diambil hanya semata – mata berdasarkan atas klaim sepihak dari Termohon II saja maka terhadap pelaksanaan Putusan Arbitrase Reg. No. 13/ARB/BANI-SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 sudah seharusnya ditolak atau setidak – tidaknya ditangguhkan pelaksanaannya oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri sampai dengan adanya putusan yang berkekuatan hukum tetap dalam perkara Pembatalan Putusan Arbitrase a quo. Dan untuk menghindari setiap kemungkinan Pemohon mengalami kerugian yang timbul dari permohonan eksekusi tersebut serta tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak bertentangan dengan tertib hukum acara yang berlaku sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 62 ayat (2) UU Arbitrase, permohonan tindakan pendahuluan (Provisi) ini sudah seharusnya dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri sampai dengan perkara pembatalan Putusan BANI a quo telah berkekuatan hukum tetap dan tidak terdapat upaya hukum lain. Pasal 62 ayat 2 UU Arbitrase berbunyi sebagai berikut: "Ketua Pengadilan Negeri
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebelum memberikanperintah pelaksanaan, memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4 dan Pasal 5, serta tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum”;
Bahwa berdasarkan alasan - alasan tersebut di atas, Pemohon mohon kepada Yth. Ketua Pengadilan Negeri Kota Kediri untuk memeriksa, mengadili serta menjatuhkan putusan yang amarnya adalah sebagai berikut:
DALAM PROVISI :
• Menolak seluruh permohonan terkait dengan Pelaksanaan Putusan BANI Reg No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 sampai selesainya upaya hukum terkait dengan Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase ini sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku;
DALAM POKOK PERKARA
1 Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2 Membatalkan Putusan BANI Reg No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tertanggal 13 Mei 2015;
3 Menyatakan Putusan BANI Reg No. 13/ARB/BANI SBY/I/2015 tertanggal 13 Mei 2015 tidak berkekuatan hukum ;
4 Menyatakan Surat Nomor : 050/927/419.48/2013 tanggal 24 Desember 2013, perihal : Pemutusan Kontrak terhadap PT Fajar Parahiyangan sebagai Penyedia jasa Paket Pembangunan jembatan Brawijaya sah dan tetap berlaku.
5 Menghukum Para Termohon untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini ;
Menimbang, bahwa pada hari persidangan yang telah ditentukan, Pemohon dan Termohon masing-masing menghadap Kuasanya tersebut ;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah mengupayakan perdamaian diantara para pihak ;
Menimbang, bahwa oleh karena upaya perdamaian tidak berhasil, pemeriksaan permohonan pembatalan putusan arbitrase dilanjutkan dengan pembacaan permohonan oleh Pemohon ;
Halaman 15 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa setelah membacakan permohonannya, pemohonmenyatakan adanya perubahan dalam permohonan yang pada pokoknya menambah Petitum sebagai berikut :
Petitum angka 4 :
“Menyatakan Surat Nomor 050/927/419.48/2013 tanggal 24 Desember 2013, perihal : Pemutusan Kontrak terhadap PT Fajar Parahiyangan sebagai Penyedia jasa paket Pembangunan jembatan Brawijaya sah dan tetap berlaku”;
Menimbang, bahwa terhadap permohonan pembatalan putusan arbitrase tersebut pihak Termohon memberikan jawaban pada pokoknya sebagai berikut : Jawaban Termohon I :
Tentang Eksepsi :
1. Bahwa Termohon I sebagai lembaga peradilan sebagaimana Pengadilan pada Peradilan Umum tidak dapat digugat, bahkan Undang-undang No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa tidak mengatur pembatalan putusan arbitrase terhadap sebuah Lembaga Arbitrase;
2. Bahwa sepanjang sejarah peradilan di Indonesia tidak ada satu pengadilanpun yang dituntut atau digugat, sehingga secara mutatis mutandis Badan Arbitrasepun tidak dapat digugat;
3. Bahwa Termohon I mengajukan keberatan atas perubahan dan penambahan petitum yang dilakukan oleh Pemohon;
4. Perubahan dan penambahan ini juga melanggar dan bertentangan dengan hukum acara perdata, mengingat alasan yang diajukan diatas Termohon I, mohon kepada Pengadilan Negeri Kediri untuk menolak segala perubahan dan penambahan petitum dan sekaligus menyatakan Permohonan gugatan ini ditolak atau setidak tidaknya gugatan dinyatakan tidak dapat diterima
5. Perubahan dan penambahan petitum ini jelas sudah menimbulkan kerugian pada Termohon I
II. Tentang Pokok Perkara:
6. Bahwa Termohon I menolak seluruh dalil-dalil yang disampaikan Pemohon dalam permohonannya;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
7. Bahwa Putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 13/ARB/BANI-SBY/I/2015tanggal 13 Mei 2015 merupakan putusan final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak;
8. Bahwa menurut hukum yaitu Undang-undang No. 30 tahun 1999 terutama Pasal 62 angka (4) diatur:
“Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau pertimbangan putusan arbitrase”
9. Bahwa alasan untuk mengajukan pembatalan terhadap putusan arbitrase secara normatif sudah diatur dalam pasal 70 Undang-Undang No. 30 tahun 1999, yaitu ada 3 (tiga) alasan dan alasan ini bersifat limitatif berupa :
a. Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu;
b. Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau
c. Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa;
10. Bahwa Termohon I menolak dengan tegas dalil Pemohon, yang mendasarkan alasan pembatalan putusan arbitrase pada adanya tipu muslihat di dalam Putusan Arbitrase No.13/ARB/BANI-SBY/II/2015 ;
11. Bahwa Termohon I telah memenuhi seluruh proses Acara Perdata Arbitrase, dengan menela’ah secara seksama bukti-bukti tertulis, baik yang diajukan oleh Pemohon maupun Termohon II, sehingga dari pembuktian tersebut telah diambil putusan arbitrase secara obyektif dan dilandasi keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan;
12. Bahwa keseluruhan substansi dan materi dalam Pokok Perkara beserta bukti-bukti tersebut sudah dipertimbangkan oleh Termohon I, dan bahkan khususnya tentang Volume pekerjaan antara kedua pihak telah mampu dibuktikan oleh Termohon II dalam persidangan arbitrase, bahwa volume pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan oleh Termohon II adalah sebesar 75 % dan bukan 37,079% seperti yang didalilkan oleh Pemohon dalam bantahannya;
13. Bahwa hal tersebut diperkuat dengan fakta hukum bahwa Pemohon telah membayar kepada Termohon II uang sebesar Rp. 47.231.600.400 (empat puluh tujuh milyar dua ratus tiga puluh satu juta enam ratus ribu empat ratus rupiah) Halaman 17 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
dari nilai kontrak sebesar Rp. 66.409.000.000 (enam puluh enam milyar empatratus sembilan juta rupiah);
14. Bahwa didalam persidangan arbitrase Pemohon tidak membantah dan bahkan membenarkan telah membayar kepada Termohon II uang sejumlah Rp. 47.231.600.400 (empat puluh tujuh milyar dua ratus tiga puluh satu juta enam ratus ribu empat ratus rupiah), suatu jumlah yang nilainya jauh diatas 37,079% volume pekerjaan;
Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka Termohon I mohon kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kediri yang memeriksa Perkara ini untuk berkenan memberikan putusan sebagai berikut :
I. Tentang Eksepsi :
- Menerima Eksepsi Termohon I
• Menyatakan Permohonan Pemohon tidak dapat diterima
II. Tentang Pokok Perkara :
1 Menolak Permohonan Pemohon untuk seluruhnya;
2 Menyatakan Putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 13/ARB/BANI-SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 merupakan putusan final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak;
3 Menghukum Pemohon untuk membayar biaya perkara ini. Atau
Apabila Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini berpendapat lain, maka mohon putusan seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Jawaban Termohon II : DALAM EKSEPSI
1 Bahwa Termohon II dengan ini menyatakan menolak dengan tegas seluruh dalil yang disampaikan oleh Pemohon dalam permohonannya, kecuali untuk hal-hal yang diakui secara tegas.
2 Bahwa Pemohon dalam persidangan tanggal 15 Juli 2015 telah mengajukan perubahan permohonannya dengan menambahkan petitum butir 4 yang pada pokoknya memohon kepada Majelis Hakim Pemeriksa Perkara untuk
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
menyatakan Surat No 050/927/419.48/2013 tanggal 24 Desember 2013 sahdan tetap berlaku.
3 Bahwa dalam praktek persidangan, perubahan terhadap gugatan diperbolehkan dengan pembatasan/syarat, yaitu tidak merubah mengenai pokok gugatan (termasuk petitum), apabila perubahan yang dilakukan kemudian merubah pokok gugatan maka perubahan tersebut harus ditolak. Hal ini sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 226 K/ Sip/1973 tanggal 17 Desember 1975 yang memuat kaedah hukum sebagai berikut :
“perubahan gugatan pada persidangan 11 Pebruari 1969 adalah mengenai pokok gugatan, maka perubahan itu harus ditolak”
4Bahwa perubahan yang diajukan oleh Pemohon a quo merupakan perubahan yang berkaitan dengan materi pokok gugatan (in casu permohonan), karena perubahan tersebut merubah “permohonan pembatalan putusan arbitrase” menjadi “sengketa pemutusan kontrak” yang telah diputus oleh Termohon I. Oleh karena telah terjadi perubahan materi pokok gugatan (in casu permohonan), maka perubahan yang diajukan oleh Pemohon tidak memenuhi pembatasan/syarat yang diperbolehkan dalam persidangan, sehingga perubahan a quo haruslah ditolak.
5Bahwa namun apabila Majelis Hakim Pemeriksa Perkara beranggapan lain dengan menerima dan menyetujui perubahan yang diajukan oleh Pemohon, maka dengan demikian secara hukum Majelis Hakim Pemeriksa Perkara tidak berwenang untuk memeriksa perkara/permohonan ini (tidak memiliki kompetensi absolut), dengan alasan sebagai berikut :
a Bahwa dalam Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan (Kontrak Induk) Nomor : 1697/XII/KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal 8 Desember 2010 telah sangat jelas disebutkan forum penyelesaian perselisihan yang disepakati adalah arbitrase, sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 3 Undang Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut “UU Arbitrase”) Pengadilan Negeri Kediri tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara mengenai pemutusan kontrak sepihak yang telah diputus oleh Termohon I.
Halaman 19 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
b Bahwa kompetensi Pengadilan Negeri hanya sebatas ketentuan Pasal 70UU Arbitrase yaitu membatalkan putusan arbitrase dengan alasan limitatif berupa :
1 Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu;
2 Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau
3 Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.
Berdasarkan ketentuan Pasal 62 ayat (4) UU Arbitrase, Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili mengenai benar tidaknya penerapan hukum yang dijadikan pertimbangan oleh Termohon I dalam memutus perkara dan berdasarkan ketentuan Pasal 3 UU Arbitrase, Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara mengenai pemutusan kontrak sepihak yang telah diputus oleh Termohon I.
c Bahwa oleh karena materi pokok permohonan berada di luar kewenangan Pengadilan Negeri Kediri untuk memeriksa dan mengadili, maka sudah seharusnya Majelis Hakim Pemeriksa Perkara menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard).
DALAM POKOK PERKARA
1 Bahwa Termohon II menolak seluruh dalil-dalil yang disampaikan Pemohon dalam gugatannya, kecuali hal-hal yang diakui secara tegas kebenarannya oleh Termohon II.
2 Bahwa Termohon II menyatakan Putusan Majelis Arbiter Reg. No. 13/ARB/ BANI-SBY/I/2015 tanggal 13 Mei 2015 merupakan putusan yang tepat dan beralasan hukum.
3 Bahwa dalil-dalil yang diajukan oleh Termohon II di dalam persidangan arbitrase adalah dalil-dalil yang ditunjang dengan alat bukti surat yang telah diakui kebenarannya oleh Majelis Arbiter, sehingga putusan Majelis Arbiter (in casu Termohon I) didasarkan pada bukti-bukti surat yang sah, yang telah diuji dan diteliti kebenarannya dalam persidangan.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Oleh karena dalil-dalil Termohon II didasarkan pada bukti-bukti surat yangsah, maka dalil Pemohon yang menyatakan Termohon II telah melakukan tipu muslihat merupakan dalil yang mengada-ada, karena esensi dari proses pembuktian adalah untuk saling melumpuhkan dalil-dalil dan bukti-bukti yang disampaikan selama persidanga. Hal ini sesuai dengan sistem adversarial (adversarial system) yang berlaku dalam hukum pembuktian, yang mengharuskan pemberian hak yang sama kepada para pihak yang berperkara untuk saling mengajukan kebenaran masing-masing, serta mempunyai hak untuk saling membantah kebenaran yang diajukan pihak lawan sesuai dengan proses adversarial (adversarial proceeding).
4 Bahwa Termohon II menolak dalil Pemohon dalam hal. 7 butir 5 permohonannya yang pada pokoknya menyatakan Termohon II telah melakukan tipu muslihat dengan menyatakan prestasi pekerjaan fisik yang telah diselesaikan adalah sebesar 75% dari keseluruhan pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri.
Sebagaimana Pemohon akui dalam hal. 2 butir 1 permohonannya, bahwa Sub Kontrak V merupakan salah satu kontrak tahunan dari Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan (Kontrak Induk) Nomor : 1697/XII/KONT.FISIK/ APBD/2010 tanggal 8 Desember 2010, maka oleh karenanya Sub Kontrak V merupakan satu kesatuan yang tidak berdiri sendiri dan tidak dapat dipisahkan dengan Kontrak Induk. Hal ini terbukti dan dapat dilihat pada bagian recital Sub Kontrak V yang menyebutkan Sub Kontrak V merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kontrak Induk, selain itu dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b Addendum 04 dinyatakan bahwa Kontrak Induk terdiri dari beberapa Sub Kontrak I sampai dengan Sub Kontrak V.
Oleh karena Sub Kontrak V merupakan bagian dari Kontrak Induk, maka dalil Pemohon yang menyatakan prestasi pekerjaan fisik yang telah dilaksanakan oleh Termohon II hanya sebesar 37,079% merupakan dalil yang tidak benar dan harus dikesampingkan, karena hanya didasarkan pada pelaksanaan Sub Kontrak V dan memandang Sub Kontrak V bukan bagian dari Kontrak Induk.
Prestasi pekerjaan fisik yang telah berhasil diselesaikan oleh Termohon II seharusnya dinilai dari pelaksanaan Sub Kontrak I sampai dengan Sub Kontrak Halaman 21 dari 44 Putusan Nomor 54/Pdt/G/2015/PN.Kdr
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
V, sebagaimana anggaran yang telah terserap yaitu sebesar Rp47.231.600.440,00 (empat puluh tujuh milyar dua ratus tiga puluh satu juta enam ratus ribu empat ratus empat puluh rupiah) dari total nilai pekerjaan sebesar Rp 66.409.000.000,00 (enam puluh enam milyar empat ratus sembilan juta rupiah), yang terbukti dengan adanya Laporan Termyn Proyek Brawijaya dan Surat Perintah Pencairan Dana. Selain itu di dalam persidangan arbitrase, Pemohon tidak membantah mengenai besarnya anggaran yang telah terserap yang telah didalilkan oleh Termohon II, sehingga tidak adanya bantahan tersebut harus dikategorikan sebagai pengakuan oleh Pemohon atas dalil Termohon II, dan oleh karenanya fakta prestasi pekerjaan fisik yang telah berhasil diselesaikan oleh Termohon II adalah sebesar ± 75%.
Bahwa selain dalil-dalil tersebut di atas, dalil Termohon II yang menyatakan prestasi fisik pekerjaan Termohon II mencapai 75% tersebut didasarkan pada bukti-bukti surat yang telah diperiksa kebenarannya dan diajukan dalam persidangan, sehingga dalil Pemohon yang menyatakan Termohon II telah melakukan tipu muslihat haruslah dikesampingkan dan ditolak.
5 Bahwa Termohon II menolak dalil Pemohon dalam hal. 8 butir 6 permohonannya yang pada pokoknya menyatakan pertimbangan hukum Termohon I hal. 45 alinea 3 dalam Putusan Reg. No. 13/ARB/BANI SBY/ I/2015 tanggal 13 Mei 2015 yang menyatakan “...menunjukkan tidak tersedianya anggaran seperti yang disebutkan dalam kontrak....”, jelas-jelas mengandung tipu muslihat.
Pertimbangan Termohon I a quo didasarkan pada dalil Termohon II dalam persidangan arbitrase yang pada pokoknya menyatakan Pemohon yang tidak dapat mengalokasikan anggaran sesuai dengan Kontrak Induk serta sebagaimana tertuang dalam Surat Dinas Pekerjaan Umum Kota Kediri No. 600/488.A/419.48/2010 tanggal 23 Juni 2010 dan Keputusan Walikota Kediri No. 681 Tahun 2010 tanggal 7 Juli 2010, yang kesemuanya menyebutkan biaya pekerjaan pembangunan Jembatan Brawijaya didapat dari Dana APBD Tahun Anggaran 2010, 2011, dan 2012.
Dalil Termohon II a quo dibuktikan dengan bukti-bukti surat yang telah diperiksa kebenarannya dan diajukan dalam persidangan arbitrase, yaitu :
1 Addendum 01 Surat Perjanjian Kerja Konstruksi Harga Satuan Nomor : 01/ADDENDUM/KONT.FISIK/APBD/2010 tanggal 27 Desember
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]