1 ANALISIS ENZIM PENCERNAAN PADA USUS IKAN MAS (Cyprinus carpio)
Nurul azmi (4133341008)*
Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam Universitas Negeri Medan Jalan. willem iskandar pasar V medan estate,Medan, Sumatera Utara 20221
*Penulis Koresponsdensi, Email: [email protected]
ABSTRAK
Pada hewan tingkat tinggi seperti ikan, makanan dicerna dalam saluran khusus yang pada umumnya sudah berkembang dengan baik. Jadi, pencernaan makanan pada hewan ini berlangsung didalam organ gastrointestinal (secara ekstraseluler). Sistem gastrointestinal tersusun atas berbagai organ yang secara fungsional dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu daerah penerimaan, daerah penyimpanan, daerah pencernaan, dan penyerapan nutrien, serta daerah penyerapan air dan ekskresi.
Penelitian dilakukan dengan berbagai uji seperti Tes pengaruh empedu terhadap lemak, tes pembuktian adanya amilase, tes pembuktian adanya maltase, tes pembuktian adanya tripsin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: bahwa pada usus ikan mas (Cyprinus carpio) terdapat enzim amilase, enzim maltase dan enzim tripsin.
Kata kunci: Enzim, lemak, amilase, maltase, usus, empedu.
ABSTRACT
In higher animals such as fish, food is digested in the special channels that are generally already well developed. Thus, digestion of food in these animals takes place within the gastrointestinal organs (in the extracellular). Gastrointestinal system is composed of various organs that are functionally can be divided into four parts: the reception area, storage area, area digestion and absorption of nutrients, as well as regional water
absorption and excretion.
Research carried out by various tests such as testing the effect of bile on fat, tests proving the existence of amylase, maltase proving tests, tests proving the existence of trypsin. The results showed that: that the intestines carp (Cyprinus carpio) are enzymes amylase, maltase enzyme and enzyme trypsin.
2 PENDAHULUAN
Sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. Pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel. Bagian-bagian utamanya terdiri dari mulut, hulu kerongkongan, kerongkongan, lambung, usus kecil, dan usus besar (Guyton,1995).
Secara umum, dalam mulut makanan dihancurkan secara mekanis oleh gigi dengan jalan dikunyah. Makanan yang dimakan dalam besar diubah menjadi ukuran lebih kecil. Selama penghancuran secara mekanis berlangsung, kelenjar yang ada disekitar mulut mengeluarkan cairan yang disebut saliva atau ludah. Ada tiga kelenjar yang mengeluarkan saliva yaitu kelenjar parotid, kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual. Didalam saliva terdapat enzim saliva yaitu suatu enzim amilase yang berfungsi untuk memecah
molekul amilum menjadi maltosa dengan proses hidrolisis. Proses ini berjalan lebih baik apabila makan dikunyah lebih halus. Enzim ptialin bekerja secara optimal pada pH 6,6.selain itu, saliva juga berfungsi untuk membasahi makanan sehingga dapat mempermudah proses menelan makanan (Poedjiadi, 2006). Liur juga mengandung enzim amilase dan lipase. Amilase akan memecah pati dan glikogen menjadi maltosa dan oligosakarida, sedangkan enzim lipase liur pada manusia kurang mempunyai peran pada proses pencernaan.Selain mengandung enzim ptialin, air liur juga mengandung senyawa penyangga derajat keasaman (bufer) yang berguna untuk memecah terjadinya penurunan pH agar proses pencernaan dapat berjalan normal ( Kent, 1994 ). Setelah melalui mulut makanan menuju ke esophagus (Zona Progresif) melalui faring. Dalam ikan,rongga mulut meneruskan diri menjadi faring dengan beberapa pasang insang sebagai jalan masuk makanan dan air. kemudian makanan menuju lambung (ventricilus) (Duke, 1995).
Didalam lambung ini akan terjadi proses pencernaan protein, lemak, dan karbohidrat. Pencernaan protein di lambung akan mengalami denaturasi oleh kerja HCl dan dihidrolisis oleh enzim pepsin,
3 sehingga protein menjadi peptid.
Pencernaan protein, lemak dan karbohidrat di lambung merupakan tahap awal, tetapi secara intensif dilakukan di usus. Sedangkan pada ikan yang tidak mempunyai lambung, pencernaan protein dilakukan pada usus depan oleh enzim protease akan memecah protein menjadi asam amino (Gordon, 1979).
Dari lambung (Zona Progresif), makanan masuk ke usus (Zona Degresif) yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya. Usus bermuara pada anus (Zona Egresif). Di dalam usus, makanan akan merangsang keluarnya hormon kolsistokinin. Hormon ini yang memacu keluarnya getah empedu dari hati. Getah empedu terbuat dari sel-sel darah merah yang telah rusak di dalam hati. Pengeluaran getah empedu tersebut melalui pembuluh hepatikus yang kemudian ditampung di dalam kantong empedu. Fungsi getah empedu untuk memperhalus butiran-butiran lemak menjadi emulsi sehingga mudah larut dalam air dan diserap oleh usus, dan saluran untuk ekskresi pigmen dan substansi toksik dari aliran darah, seperti alkohol dan bahan kimia lainnya(Gordon, 1979).
BAHAN DAN METODE Bahan
Bahan yang digunakan dalam analisis enzim pencernan pada usus ikan
mas (cyprinus carpio) adalah Tabung reaksi, Botol warna, gelap, Mortar dan alu, Gelas piala, Pembakaran spiritus, Penjepit kayu, Pipet tetes, Rak tabung reaksi, Gelas ukur 20 ml, Corong kaca, Kertas saring, Papan seksi , Dissecting set.
Alat
Alat yang digunakan dalam pembuatan analisis enzim pencernan pada usus ikan mas (cyprinus carpio) adalahUsus ikan mas, Akuades, Toluen, Larutan kanji matang encer, Maltoa albumin/putih telur, Minyak goreng, Gliserin 50%, Reagen biuret, Reagen benedict, Korek api, Kertas karbon.
Tahapan Penelitian
Yang harus kita lakukan pertama kali adalah membuat ekstrak usus yaitu dengan cara mengambil usus ikan mas untuk bahan membuat ekstrak pada usus tersebut. Lalu mengambil kantung empedu pada ikan mas dengan hati-hati kemudian mebersihkan usus tersebut dengan akuades lalu memasukan usus tersebut ke dalam mortar yang sudah disediakan.
Mengambil gliserin 50% dan masukan dalam mortar, lalu haluskan usus tersebut dan ambil 4-5 tetes toluene, lalu haluskan kembali. Masukan usus tersebut kedalam botol, kemudian tutup rapat-rapat dan bungkus botol dengan kertas karbobn.
4 Pemakaian gliserin sendiri dimaksudkan
untuk membantu proses peluruhan enzim pencernaan yang ada di usus halus.
Simpan ekstrak usus tersebut ke dalam ruang gelap selama 6-7 hari. Waktu satu minggu ini adalah waktu yang optimum bagi gliserin untuk meluruhkan enzim pencernaan pada usus halus. Pada saat inilah toluen memainkan perannya yaitu sebagai pengawet yang menjaga enzim dari kerusakan atau membusuk selama penyimpanan
Setelah itu saring ekstrak dan lakukan tes tersebut untuk pembuktian adanya amilase, maltase, dan tripsin.
Toluen berfungsi sebagai pelarut materi organik sekaligus sebagai pengawet tanpa merubah struktur/ konformasi senyawa organik yang diawetkannya.
Gliserin adalah cairan bening, Dalam percobaan ini Persenyawaan gliserin dengan asam lemak akan membentuk lemak.
Prosedur Analisis
Tes pengaruh empedu terhadap lemak
Tabung reaksi A dan tabung reaksi B di isi dengan kantung empedu dengan menggunting sedikit permukaannya, hal ini dilakukan untuk mengambil cairan yang ada didalam empedu tersebut. Mengencerkan empedu dengan akuades
sehingga volumenya menjadi 2 ml Memasukan 2 ml akuades kedalam tabung B sebagai kontrol. Menambahkan 2 tabung tersebut masing-masing 2ml minyak goreng. Kocok keduanya kuat-kuat dan biarkan selama 5-10 menit. Hal ini di lakukan untuk membandingkan besarnya gumpalan lemak dalam masing-masing tabung.
Minyak goreng termasuk dalam lemak netral. Lemak netral adalah persenyawaan asam lemak dengan gliserol. Tiga molekul asam lemak (rantai panjang atom karbon dan hidrogen dengan satu gugugs karboksil di salah satu ujungnya) berikatan kovaln dengan satu molekul gliserol (satu molekul terdiri dari tiga karbon dengan tiga sisi gugus hidroksil) melalui proses sintesis dehidrasi.
Tes pembuktian adanya amilase 2 tabung reaksi masing-masing di beri label A DAN B, menuangkan reagen bebedict kedalam tabung tersebut masing-masing 2 ml mMenyiapkan 2 tabung reaksi lagi dan di bering masing-masing label C dan D. Memasukan larutan kanji matang encer masing-masing 2 ml kedalam tabung C dan D. Untuk tabung C tambahkan 1ml akuades. Goyang kedua tabung selama 5-10 menit.
Meneteskan sebanyak 5 tetes larutan kedalam tabung C ketabung A, dan larutan dalam tabung D ke tabung B.
5 Panaskan tabung A dan B selama 5 menit
dan amati perubahan warna yang terjadi pada larutan tabung A dan B
Amilum digunakan sebagai sumber zat pati yang dapat dicerna oleh enzim amilase
Tes pembuktian adanya maltase Prosedur pembuktian adanya maltase sama seperti tes pembuktian adanya amilase, hanya saja larutan kanji encer di ganti dengan maltose.
Tes pembuktian adanya tripsin 2 tabung reaksi masing-masing di beri label A dan B, lalu memasukan
kedalam tabung masing-masing 1 ml putih telur yang sudah di encerkan. Lalu panaskan tabung tersebut hingga mendidih.
Dinginkan kedua tabung A dan 1 ml akuades untuk tabung B. Diamkan 5-10 menit. Meneteskan masing-masing 5 tetes reagen biuret kedalam tabung A Mengamati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing tabung.
Telur ayam. Ketiga komponen pokok telur adalah kulit telur, putih telur a albumin dan kuning telur. Albumin mengandung protein, glukosa, lemak, garam dan air.
HASIL DAN PEMBAHASAN Tes pengaruh empedu terhadap lemak
Tabung Perlakuan Hasil
A Empedu + aquades + minyak goreng
• larutan empedu terpisah dari larutan minyak • Setelah di aduk larutan minyak terpisah
dengan larutan air dan empedu
B Aquades + minyak goreng ( kontrol
• Larutan air dan minyak goreng terpisah
• Setelah di aduk larutan menjadi putih keruh dan lapisan minyak dan air terpisah dimana larutan minyak berasa di atas
6 gambar 1: pengaruh empedu terhadap lemak
sumber : gambar pribadi pemakalah Pembahasan
terdapat dua lapisan, sehingga pada lapisan atas berwarna kuning keemasan yang merupakan minyak dan lapisan bawah berwarna hijau tua yang merupakan cairan empedu, keadaan ini dikarenakan berat jenis minyak lebih ringan daripada air sehingga minyak cenderung berada di atas dan zat-zat lain yang mengandung air berada di bagian bawah. Pembuktian bahwa empedu membantu penyerapan lemak dapat di lihat dari gumpalan lemak yang di hasil kan dari pencampuran empedu dan minyak lebih kecil dibandingkan dengan campuran minyak dengan air. hal ini terjadikarena peroses emulsifikasi (proses pelapisan lemak untuk memperkecil ukuran lemak) yang di lakukan oleh cairan empedu tadi.
7 gambar 2: pembuktian adanya amilase
sumber : gambar pribadi pemakalah
A=Benedik + kanji+usus+ panaskan dihasilkan:
B=benedik + kanji+ aquades+panaskan dihasilkan:
Sebelum di panaskan warnya biru yang di sebabkan oleh benedik namun setelah di panaskan selama 5 menit warnanya berubah menjadi hijau tua
Sebelum di panaskan wananya biru yang di sebabkan oleh benedik namun setelah di panaskan selama 5 menit warnanya tetap menjadi biru
Pembahasan
Dalam percobaan yang kami lakukan pada tabung A di dapatkan hasil akhir berwarna hijau itu artinya pada usus ikan tersebut di tidak terdapat enzim amilase. itu tandanya terjadi kesalahan, yang seharusnya secara literatur di dalam usus tersebut terdapat enzim amilase dan warna yang dihasilkan adalah merah bata dan terdapat endapan hal ini mungkin terjadi kerana kesalahan penambahan larutan, baik sengaja atau tidak.
8 benedict berfungsi untuk menguji adanya karbohidrat. Dalam percobaan dilakukan pemanasan cairan, hal ini bertujuan untuk mempercepat reaksi.
Tes pembuktian adanya maltase
Gambar 3: pembuktian adanya maltasi Sumber: gambar pribadi pemakalah A=Benedik + maltose+usus+
panaskan dihasilkan
B=benedik + maltose + aquades + panaskan dihasilkan:
Sebelum di panaskan warnya biru yang di sebabkan oleh benedik namun setelah di panaskan selama 5 menit warnanya berubah menjadi kemerahan
Sebelum di panaskan wananya biru yang di sebabkan oleh benedik namun setelah di panaskan selama 5 menit warnanya tetap menjadi kemerahan
Pembahasan
Perubahan yang terjadi berupa perubahan warna larutan menjadi agak merah. Perubahan warna ini lebih baik daripada praktikum analisis amilase. Reaksi yang terjadi adalah, sukrosa bereaksi dengan enzim yang berada pada ekstrak usus dan hasil reaksi
9 dideteksi oleh reagen Benedict membentuk warna kemerahan. Sehingga hasil praktikum yang kami lakukan sesuai literatur yang mana di dalam usus memang terkandung maltase.
Pembuktian adanya tripsin
Gambar 4 : uji tripsin Sumber : gambar pribadi penulis
A=putih telur yang
encer+panaskan + usus +biuret. Di hasilkan :
B=putih telur yang
encer+panaskan+ aquades +biuret. Di hasilkan :
Sebelum di panaskan warnya bening keputihan setelah di panaskan dan di beri ekstrak usus dan biuret warnanya menjadi kuning kecoklatan .
Sebelum di panaskan warnya bening keputihan setelah di panaskan dan di beri ekstrak usus dan biuret warnanya menjadi putih keruh
Pembahasan
Setelah penambahan biuret, seharusnya tabung reaksi A terjadi perubahan warna menjadi ungu, sedang pada tabung reaksi Bseharusnya warna menjadi merah muda mendekati orange. Warna ungu pada tabung reaksi A timbul karena reagen Biuret bereaksi dengan gugus amin yang terdapat pada asam amino. Biuret merupakan reagen yang bersifat
10 basa, sehingga gugus amin dari asam amino bertindak sebagai asam Dengan membentuk NH4+. Reaksi menghasilkan senyawa basa NH4OH yang menyebabkan larutan berwarna ungu. Larutan pada tabung raksi B berwarna orange atau merah muda karena tidak terjadi reaksi penguraian protein albumin air sehingga hasil reaksi tidak dapat bereaksi dengan reagen Biuret. Namun pada hasil praktikum yang kami lakukan terdapat kesalahan ini mungkin karena pemanasan albumin yang terlalu lama sehingga albumin terlebih dulu menggumpal. Di tambahlagi jumlah larutan yang tidak memadai sehingga warna yang di hasilkan adalah kuning kecoklatan dan putih keruh.
fungsi enzim dan cairan empedu a. Enzim
Fungsi enzim sebagai katalis atau senyawa yang bisa mempercepat terjadinya proses reaksi tanpa dirinya sendiri habis karena proses reaksi. Zat penting ini untuk melepaskan molekul uap air dalam tubuh, pelepasan unsur dan zat kimiawi lainnya, melepaskan molekul-molekul, serta banyak lagi. Semua itu bertujuan untuk memperlancar proses pencernaan serta metabolisme pada tubuh.
b. Cairan empedu
Gambar 5 : cairan empedu Sumber : gambar pribadi pemakalah
empedu berperan dalam proses pencernaan lemak, yaitu sebelum lemak dicernakan, lemak harus bereaksi dengan empedu terlebih dahulu. Selain itu, cairan empedu berfungsi menetralkan asam klorida, menghentikan aktivitas pepsin pada protein, dan merangsang gerak peristaltik usus
11 pengaruh cairn empedu terhadp lemak
Cairan empedu diperlukan untuk mencernakan lemak dalam makanan, pada saat kita makan, kantong empedu akan mengerut, memompakan cairan empedu melewati saluran-saluran empedu masuk ke usus duabelas jari untuk mencernakan lemak.
Sekresi empedu diatur oleh faktor syaraf (impuls parasimpatis) dan hormon (sekretin dan CCK) yang sama dengan yang mengatur sekresi cairan pankreas. Saat asam lemak dan asam amino mencapai usus halus, CCK dilepas untuk mengkontraksi otot kandung empedu dan merelaksasi sfingter Oddi. Cairan empedu kemudian didorong ke dalam duodenum (Roger Watson, 2002).
KESIMPULAN
Setelah melakukan pengamatan dan menganalisis hasil pengamatan maka dapat disimpulkan bahwa pada usus ikan mas (Cyprinus carpio) terdapat enzim amilase, enzim maltase dan enzim tripsin. Enzim amilase dan enzim maltase diuji dengan reagen Benedict dengan hasil positif berupa terbentuknya sedikit endapan orange pada permukaan bawah tabung reaksi, sedangkan enzim tripsin diuji dengan reagen Biuret dimana hasil positifnya ditunjukkan dengan terbentuknya cincin ungu pada permukaan atas larutan. Sementara itu melalui uji pengaruh empedu terhadap lemak dapat disimpulkan bahwa empedu memilki fungsi untuk membantu penyerapan lemak oleh usus melalui proses yang dinamakan emulsifikasi. Namun sayangnya pada praktikum kami pada uji maltase gagal karena tidak di hasilkan warna merah bata. Begitu juga dengan tripsin karena seharusnya warna yang di hasilkan adlah orange.
Pada usus ikan mas dapat di simpulkan bahwa empedu benar benar mengemulsi lemak dengan sihasilkan butiran butiran lemak yang lebih kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta. Almigo
Campbel, Neil. A., et. al. 1999. Biology, 5th ed
Duke, NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal. Comstock Publishing: New York. Frandson Guyton A. C., Hall J. E. 1997. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC
Gordon, M. S. 1979. Animal Physiology. Mc Millan Publishing Co
Isnaeni, W, 2006. Fisiologi Hewan.
Yogyakarta: Kanisius
Poedjiadi, A. 2006. Dasar – Dasar Biokimia. Edisi Revisi. Jakarta: UI - Press
12 Watson, Roger. 2002. Anatomi dan
Fisiologi untuk Perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Winarno, F.G., 1994. Bahan Tambahan
Makanan. Jakarta:Gramedia