• Tidak ada hasil yang ditemukan

case kejang demam komplek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "case kejang demam komplek"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)c . KEJANG DEMAM KOMPLEKS. Oleh : Xxxxxxxx. Preseptor : Dr.Hj.Gustina Lubis, Sp.A (K). x  

(2)    

(3)  

(4)    

(5)          .

(6) x x

(7)   

(8)    Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam biasanya terjadi pada usia antara 3 bulan dan 5 tahun dan tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.1,2 Kejang demam terdiri dari kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum, tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal dan tidak berulang dalam waktu 24 jam.1 Kejang demam kompleks adalah kejang demam dengan  ! ciri berikut :1 1.

(9) Kejang lama > 15 menit. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. 2.

(10) Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial 3.

(11) Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.  "#$%%& Kejang demam adalah jenis kejang yang paling sering terjadi pada anak, sekitar 2 ± 5 % dari populasi, pada usia antara 5 bulan dan 5 tahun dengan manifestasi paling sering pada usia 2 tahun3. Insiden di seluruh dunia bervariasi, 5 ± 10 % di India, 8,8 % di Jepang, 14 % di Guam, 0,35 % di Hongkong dan 0,5 ± 1,5 % di Cina. Kejang demam terjadi pada semua ras dan insidennya sedikit lebih predominan pada anak lelaki.4 Kejang demam kompleks terjadi rata-rata 25 ± 50 % dari seluruh kasus kejang demam. Kejang demam kompleks berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam berulang, kejang demam dengan status epileptikus dan epilepsi.5. ' %%&# ( %)(%  Kejang demam sering berhubungan dengan infeksi virus penyebab demam pada anak, seperti herpes simpleks-6 (HHSV-6), ` , dan influenza A.4 Penyakit yang mendasari demam berupa infeksi saluran pernapasan atas, otitis media, gastroenteritis, dan infeksi 2.

(12) saluran kemih. Risiko berulangnya kejang demam akan meningkat pada anak dengan riwayat orangtua dan saudara kandungnya juga pernah menderita kejang demam. Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan sederhana.2 Kejang demam kompleks berhubungan dengan banyak faktor, seperti gejala klinisnya, infeksi virus, faktor genetik dan metabolik, serta kemungkinan adanya abnormalitas struktur otak. Gurner et al baru-baru ini berhasil memetakan suatu lokus genetik di kromosom 12 yang berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks juga memiliki kemungkinan untuk menjadi salah satu gejala adanya infeksi meningitis bakterial akut.5. *  Kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik klonik bilateral dan sering berhenti sendiri. Setelah kejang anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.2 Kejang demam kompleks memiliki manifestasi klinis yang berbeda dari kejang demam simpleks, yakni : 5 -

(13) Dapat memiliki durasi yang lebih lama (hingga > 15 menit) -

(14) Dapat muncul dengan beberapa kali kejang dalam 24 jam -

(15) Dapat terjadi kejang lagi pada 24 jam berikutnya -

(16) Kejang bersifat fokal, dengan kemungkinan tampilan : p

(17) Klonik dan atau tonik p

(18) Kehilangan tonus otot sesaat p

(19) Dimulai pada salah satu sisi tubuh, dengan atau tanpa generalisasi. sekunder p

(20) Gerakan kepala atau mata ke salah satu sisi p

(21) Kejang diikuti paralisis unilateral transien (dalam beberapa menit atau jam,. kadang-kadang beberapa hari) +&%#&%x#& . Kejang demam dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang. menyeluruh. Pada anamnesis dapat ditanyakan : 4 -

(22) ½ampilan kejang, umum atau fokal, dan berapa lama durasi kejangnya -

(23) Riwayat demam dan penyakit lain yang diderita oleh anak è.

(24) -

(25) Riwayat penyebab demam, misalnya penyakit virus dan gastroenteritis -

(26) Riwayat penggunaan obat pada anak -

(27) Riwayat kejang pada anak sebelumnya, masalah neurologik, keterlambatan tumbuh kembang, atau penyebab lain dari kejang seperti trauma. -

(28) ½anyakan faktor risiko terjadinya kejang demam, seperti : p

(29) Riwayat keluarga yang pernah atau tidak menderita kejang demam p

(30) Suhu tubuh yang tinggi p

(31) Riwayat prenatal dan keterlambatan perkembangan p

(32) Penyakit perinatal (saat usia 28 hari pertama) p

(33) Riwayat konsumsi alkohol dan rokok saat kehamilan ibu, karena dapat. meningkatkan risiko terjadinya kejang demam sebanyak 2 kali lipat Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan : 4 -

(34) Pemeriksaan sistem untuk mencari penyebab demam, misalnya otitis media, faringitis, atau penyakit virus lain -

(35) Pemeriksaan neurologis -

(36) ½anda rangsangan meningeal -

(37) ½anda-tanda trauma atau keracunan Diagnosis banding kejang demam pada anak dapat berupa : 4 -

(38) Bakteremia dan sepsis -

(39) Meningitis dan ensefalitis -

(40) Status epileptikus. +$)(!,&! !(,&$$  1.

(41) Pemeriksaan Laboratorium1 Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain, misalnya gastroenteritis dengan dehidrasi yang disertai demam. Pemeriksaan yang dapat dilakukan misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula darah 2.

(42) Pungsi Lumbal1 Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan terjadinya meningitis, karena pada bayi kecil manifestasi meningitis cenderung tidak jelas. Pungsi lumbal sangat dianjurkan pada bayi kurang dari 12 bulan. Pada bayi antara 12-18 bulan dianjurkan, tetapi tidak rutin pada bayi usia > 18 bulan. Bila yakin bukan meningitis secara klinis, pungsi lumbal tidak perlu dilakukan. [.

(43) 3.

(44) Elektroensefalografi (EEG) EEG dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral. Perlambatan EEG ditemukan pada 88% anak yang EEG-nya dilakukan pada hari kejang terjadi, dan 33 % pada tiga sampai tujuh hari setelah serangan kejang.2 EEG tidak dapat memprediksi berulangnya kejang atau perkiraan terjadinya epilepsi pada pasien kejang demam, sehingga EEG ini tidak direkomendasikan untuk dilakukan.1 4.

(45) Pencitraan Foto rontgen kepala, C½-Scan, atau MRI jarang dikerjakan dan tidak rutin, hanya atas indikasi adanya kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis), paresis nervus VI, atau papil edema.1 Suatu penelitian menunjukkan bahwa hasil C½-Scan yang dilakukan pada anak dengan serangan kejang demam kompleks pertama tidak memiliki adanya kondisi intrakranial patologis yang membutuhkan penanganan bedah saraf emergensi.4. - (,&$$ 1.

(46) Pengobatan fase akut saat anak kejang Saat pasien sedang kejang, semua pakaian yang ketat dibuka, anak dimiringkan apabila muntah untuk mencegah aspirasi. Bebaskan jalan napas untuk menjamin oksigenasi. Pengisapan lendir dapat dilakukan secara teratur, berikan oksigen, kalau perlu dilakukan intubasi. ½anda vital mesti dipantau dan diawasi, sperti kesadran, suhu tubuh, tekanan darah, pernafasan, dan fungsi jantung.2 Obat yang dapat diberikan saat pasien kejang adalah diazepam intravena dengan dosis 0,3 ± 0,5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1 ± 2 mg/ menit atau dalam waktu 3 ± 5 menit dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dapat berupa diazepam rektal dengan dosis 0,5 ± 0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau dosis 5 mg diazepam rektal untuk anak di bawah usia 3 tahun dan 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.1 Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian masih kejang, anjurkan ke rumah sakit untuk pemberian diazepam intravena. Bila masih kejang, dapat diberikan fenitoin intravena dengan dosis awal 10 ± 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 -.

(47) mg/menit. Bila kejang berhenti dapat diberikan dosis selanjutnya 4 ± 8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal.1 Setelah kejang berhenti dengan pemberian diazepam, dapat diberikan fenobarbital    secara intramuskular dengan dosis awal 10 ± 20 mg/kgBB, lalu dilanjutkan setelah 24 jam dosis awal dengan 4 ± 8 mg/kgBB/hari 2.

(48) Pemberian obat saat demam dan mencari penyebab demam Antipiretik dapat digunakan untuk menurunkan panas, dengan obat yang dipakai adalah parasetamol dengan dosis 10 ± 15 mg/kgBB/kali sebanyak 4 kali dan tidak lebih dari 5 kali. Dapat juga diberikan ibuprofen 5 ± 10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari.1 Dapat juga diberikan antibiotik bila ada indikasi, misalnya otitis media dan pneumonia. 4 3.

(49) Pemberian terapi profilaksis Profilaksis diberikan untuk mencegah berulangnya kejadian kejang demam. Pengobatan profilasis ini diberikan bila kejang demam menunjukkan salah satu ciri sebagai berikut :1 -

(50) Kejang lama > 15 menit -

(51) Ada kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis ½odd, serebral palsi, retardasi mental, hidrosefalus -

(52) Kejang fokal -

(53) ½erapi profilaksis ini dipertimbangkan bila : kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam, terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan, dan kejang demam terjadi > 4 kali per tahun. Profilaksis yang diberikan terdiri dari dua jenis, yakni :2 -

(54) Profilaksis  

(55)   . Profilaksis ini hanya diberikan pada saat pasien demam, dimana orangtua atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya demam pada anak. Dapat diberikan diazepam rektal dengan dosis 5 mg (untuk anak dengan berat badan < 10 kg) atau 10 mg ( anak dengan berat badan >10 kg), bila anak menunjukkan suhu • 38,5°C. -

(56) Profilaksis terus menerus dengan pemberian antikonvulsan setiap hari. Antikonvulsan yang dapat diberikan adalah asam valproat dengan dosis 15 ± 40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis.1 Pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. .

(57) .)%&% -

(58) Kejang demam kemungkinan akan berulang bila ada faktor risiko berikut : 1 1.

(59) Ada riwayat kejang demam dalam keluarga 2.

(60) Usia terjadinya kejang demam kurang dari 12 bulan 3.

(61) Suhu tubuh yang rendah saat kejang 4.

(62) Cepatnya terjadi kejang setelah demam Bila seluruh faktor risiko ada, maka kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80 %, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya sekitar 10 ± 15 %. Kejang demam lebih besar kemungkinan berulangnya pada tahun pertama kehidupan.1 -

(63) Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.1 Akan tetapi, kejang demam kompleks, yang terjadi sebelum usia 1 tahun, atau dipicu oleh suhu <39°C dihubungkan dengan peningkatan mortalitas 2 kali lipat pada 2 tahun pertama setelah kejang terjadi.4 -

(64) Kejang demam kompleks, riwayat epilepsi atau abnormalitas neurologis pada keluarga, dan keterlambatan tumbuh kembang dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi di kemusian hari. Anak dengan 2 faktor risiko ini memiliki kemungkinan 10 % untuk mengalami kejang tanpa demam.4.  .    †.

(65) x x 

(66)       

(67) 

(68)    Nama. : LPS. Umur. : 2 tahun 11 bulan. Jenis Kelamin. : Perempuan. Alamat. : Pauh, Limau Manis, Padang. %$/#0)(%(((0!"1  . Seorang anak perempuan umur 2 tahun 11 bulan dirawat di Bangsal Anak RSUP. Dr.. M. Djamil Padang sejak 9 Desember 2010 dengan : ! $2 . Kejang berulang 3 jam yang lalu sebelum masuk Rumah Sakit. 34 4(  ()&2 -

(69). Batuk sejak 3 hari yang lalu, berdahak. -

(70). Demam sejak 4 jam yang lalu, tinggi, terus-menerus, tidak menggigil dan tidak berkeringat. -

(71). Kejang berulang 3 jam yang lalu, frekuensi 5 kali, lama kira-kira 5 menit, jarak antara kejang sekitar 30 sampai 60 menit, kejang seluruh tubuh dengan mata melihat ke atas. -

(72). Anak sadar setelah kejang, ini merupakan kejang yang kedua. -

(73). Mual tidak ada, muntah tidak ada. -

(74). Sesak napas tidak ada. -

(75). Riwayat trauma kepala tidak ada. -

(76). Buang air kecil warna dan jumlah biasa. -

(77). Buang air besaar warna dan konsistensi biasa. -

(78). Anak telah dibawa berobat ke RS Marnaini Asri, diberi Stesolid supp. 10 mg, Dumin supp.125 mg, dan dipasang IVFD RL 8 tetes/menit, lalu anak dirujuk ke RS Dr.M.Djamil Padang dengan keterangan kejang demam kompleks. 34 4( !!2 Anak pernah kejang demam 1 tahun yang lalu dan dirawat di RS Dr.M.Djamil selama 1 minggu ÿ.

(79) 34 4( !)&2 ½idak ada anggota keluarga yang pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam 34 ($0!2 Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, tidak mengkonsumsi obatobatan atau jamu, tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil, kontrol teratur ke bidan, riwayat imunisasi ½½ tidak diketahui, dan gestasi cukup bulan 34 )2 Lahir spontan ditolong bidan, langsung menangis kuat. Berat badan lahir 2700 gram, tetapi panjang badan lupa.  34 (#!$2  ASI. : 0 bulan ± 20 bulan. Susu Formula : 20 bulan ± 27 bulan Bubur susu. : 4 bulan - 8 bulan. Nasi ½im. : 8 bulan - 1 tahun. Nasi Biasa. : usia > 1 tahun, 3x 1 porsi per hari. Kesan makanan dan minuman : kualitas dan kuantitas cukup. 34 $!2 BCG. : umur 1 bulan ( 

(80) +). DP½. : umur 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan. Polio. : umur 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan. Hepatitis B. : umur 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan. Campak. :-. Kesan : imunisasi dasar tidak lengkap. 34  % (%%$2 Pasien merupakan anak kedua, ayah tamat SD, pekerjaan buruh. Ibu tamat SD, tidak bekerja. Penghasilan keluarga. Rp 500.000 sebulan.. 34 

(81) !$0!$0&2 Riwayat pertumbuhan fisik tengkurap umur 4 bulan, duduk 7 bulan, berdiri 10 bulan, dan bicara satu suku kata 24 bulan. Anak masih suka mengisap jari. Sampai usia sekarang anak hanya bisa menyebut ¶ma¶, ¶pa¶. Anak belum bisa bercakap-cakap dengan lancar.. Ë.

(82) 34 &(!&#)!$2  ½inggal di rumah permanen sederhana, pekarangan cukup luas, sumber air minum dari sumur gali, buang air besar di WC dalam rumah, sampah dibakar. Kesan : higiene dan sanitasi cukup baik. $)((2 Keadaan umum. : sakit sedang. Kesadaran. : sadar. ½ekanan Darah. : 90 / 50 mmhg. Frekuensi denyut nadi. : 124 x /menit. Frekuensi nafas. : 30 x/ menit. Suhu. : 37,8 oC. Panjang badan. : 89 cm. Berat badan. : 11 kg. Status gizi :. Berat Badan menurut Umur. : 78,5 %. ½inggi Badan menurut Umur. : 95,6%. Berat Badan menurut ½inggi Badan : 84,5 % Kesan. : Gizi Kurang.  $)(  $(2 Kulit. : ½eraba hangat, sianosis tidak ada, pucat tidak ada, kuning tidak ada, turgor kembali cepat. Kepala. : Bentuk bulat, simetris, tidak ada deformitas, rambut lebat, berwarna coklat, tidak mudah dicabut. Leher. : ½idak teraba pembesaran KGB. Mata. : Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter pupil 2 mm/2mm, reflek cahaya +/+ normal. ½elinga. : ½idak ditemukan kelainan. Hidung. : ½idak ditemukan kelainan, nafas cuping hidung tidak ada. Mulut. : Mukosa mulut dan bibir basah. ½enggorokan. : ½onsil ½2-½2 hiperemis, faring hiperemis. Dada. : Paru -

(83). Inspeksi : Normochest, simetris kiri dan kanan. -

(84). Palpasi : Fremitus kiri sama dengan kanan. 0.

(85) -

(86) Perkusi : Sonor -

(87) Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi tidak ada , wheezing tidak ada Jantung -

(88). Inspeksi: Iktus tidak terlihat. -

(89). Palpasi : Iktus teraba 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V. -

(90). Perkusi : Ñ

(91) Batas kanan : Linea Sternalis dextra Ñ

(92) Batas kiri : 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V Ñ

(93) Batas atas : Linea Parasternalis sinistra RIC II. -

(94). Auskultasi : Bunyi jantung normal, irama teratur, bising tidak ada. : Inspeksi : Distensi tidak ada. Perut. Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, hepar dan lien tidak teraba Perkusi : ½impani Auskultasi : Bising usus (+) normal. Punggung. : ½idak ditemukan kelainan. Alat kelamin. : Status pubertas A1, M1,G1. Anggota gerak. :. Atas. :. Akral hangat, refilling kapiler baik Reflek fisiologis : Refleks biseps (+/+), Refleks triseps (+/+) Bawah. :. Akral hangat, refilling kapiler baik Refek fisiologis : Reflek sendi lutut (+/+), Reflek pergelangan kaki (+/+) Reflek patologis : Reflek babinsky (-/-), Reflek openheim (-/-), Reflek chaddock (-/-), Reflek scaefer (-/-), Reflek Gordon (-/-). $)(0%) %)!$2 Darah : Hemoglobin Leukosit. : 9,1 gr% : 13.500/ mm3. Hitung jenis leukosit : 0/ 1/ 7/ 84/5/3 Eritrosit. : 3.960.000/mm3. Hematokrit. : 29 %. ½rombosit. : 280.000/mm3. MCH. : 22,98 pg (N = 27-37 pg). 00.

(95) MCV. : 73,23 fl (N = 76-96 fl). MCHC. : 31,38 % (N = 32-34 %). Kesan : anemia mikrositik hipokromik Urin : Protein Bilirubin. : (-). Reduksi. : (-). : (-). Urobilin. : (+). Kesan : urin dalam batas normal Feses : anak belum BAB. &%),2 Kejang Demam Kompleks ½onsilofaringitis akut Anemia mikrositik hipokromik e.c.suspek defisiensi Fe Gizi kurang Speech delayed.

(96) )"2 -

(97). Makanan lunak 1100 kkal. -

(98). Luminal 75 mg I.M. -

(99). Paracetamol 110 mg P.O (½ • 38,5°C). -

(100). Ambroxol 3 x 5 mg. 52 Ñ

(101) Pemeriksaan feses rutin Ñ

(102) SI-½IBC Ñ

(103) Konsultasi ke bagian pediatri sosial. $ !2

(104) &&$0)"!(!.'6x S/ Demam ada, tidak tinggi Sesak nafas tidak ada Batuk ada, berdahak 02.

(105) Pilek tidak ada Mual dan muntah tidak ada Kejang tidak ada Anak mau makan BAK warna dan jumlah biasa BAB belum ada 1 hari O/ ½ekanan Darah. : 90 / 60 mmhg. Frekuensi denyut nadi. : 124x /menit. Frekuensi nafas. : 32 x/ menit. Suhu. : 37,60C. Mata. : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik. Kesan : febris ec. ½onsilofaringitis akut Anemia ec. Suspek defisiensi Fe ½erapi : -

(106) Makanan Lunak 1100 kkal -

(107) Luminal 3 x 40 mg P.O -

(108) Paracetamol 110 mg (½ • 38,5°C) -

(109) Ambroxol 3 x 5 mg 

(110) &&$0)"!(!* Pasien pulang paksa karena keluarga merasa anak sudah membaik dan tidak kejang lagi. Pasien diresepkan obat Paracetamol 110 mg dan Luminal 2 x 25 mg. Pasien diminta control setiap bulan teratur ke poliklinik anak RSUP Dr.M.Djamil Padang.. 0è.

(111) 

(112) 

(113)    1.

(114) UKK Neurologi IDAI. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. 2006. 2.

(115) Soetomenggolo ½, Ismael S. Buku Ajar Neurologi Anak. Jakarta : IDAI; h. 244-51. 3.

(116) Roberton DM, South M. Practical Paediatrics Sixth Edition. UK : Churchill Livingstone. 2007; page 582. 4.

(117) ½ejani NR. Febrile Seizure. Dalam emedicine.medscape.com 5 Februari 2010. 5.

(118) Kimia A, Ben-Joseph EP, Rudloe ½, Capraro A, Sarco D, Hummel D, Johnston P, Harper MB. Yield of Lumbar Puncture Among Children Who Present With ½heir First Complex Febrile Seizure. Pediatrics 2010;126;62 -69.. 0[.

(119)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan sistem jaring pada budidaya pendederan juvenil lobster pasir Panulirus homarus tidak berpengaruh terhadap respons

Dalam petualangan kamu dari level ke level kamu dapat mengembangkan skill kamu, setelah level kamu mencapai level 11 kamu bisa melakukan digivolution dan kalau perkembangan level

Dari laporan presensi dan laporan lembur yang diberikan oleh manajer klinik kepada bagian keuangan, oleh bagian keuangan akan dilakukan proses perhitungan gaji dan proses

(2017), bakteri Esherichia coli dapat diisolasi dari ruang kandang burung puyuh di desa Garot Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, semakin tinggi plate media maka

Sesuai dengan perumusan masalah, yaitu “bagaimanakah pemaknaan dan apa mitos yang dapat diungkap dari video Takotak Miskumis”, terungkap bahwa Cameo Project

Catatan: Cheat ini akan tidak aktif atau mati ketika cheat ditekan untuk yang

Pada sembilan mesin yang digunakan untuk produksi kain C1037 sering mengalami downtime sehingga perlu dilakukan langkah-langkah serta metode yang dapat menganalisa

Penelitian ini dilakukan dari bulan November-Januari, penelitian lapangan pertama dilakukan pada bulan November, setelah itu peneliti melakukan analisis data dan