PROFIL DARAH TIKUS PUTIH (
Rattus norvegicus
) YANG
DIINFEKSIKAN
Trypanosoma evansi
DAN DIBERIKAN
EKSTRAK KULIT BATANG JALOH
(
Salix tetrasperma
Roxb)
Blood Profile of Rats (Rattus norvegicus) Infected with Trypanosoma evansi
Treated with Willow Tree Bark Extract (Salix tetrasperma Roxb)
Yudha Fahrimal1, Eliawardani1, Afira Rafina2,Al Azhar3, dan Nuzul Asmilia41Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
2
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
3
Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
4
Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
E-mail: [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran darah (hematokrit, eritrosit, leukosit, dan diferensial leukosit) tikus yang diinfeksi
Trypanosoma evansi (T. evansi) dan diberi ekstrak kulit batang jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Duapuluh lima ekor tikus jantan dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor tikus. Kelompok 0 (K0) tanpa perlakuan, kelompok I (K1) hanya
diinfeksikan dengan 103 T. evansi, kelompok II (K2) diinfeksikan dengan 103T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 30 mg/kg bobot
badan, kelompok III (K3) diinfeksikan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 45 mg/kg bobot badan, dan kelompok IV (K4)
diinfeksi dengan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 60 mg/kg bobot badan. Infeksi T. evansi dilakukan secara intraperitoneal
sedangkan ekstrak diberikan secara oral selama 3 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ± SD nilai hematokrit dan
eritrosit tikus dari K1, K2, K3 dan K4 lebih rendah dari K0. Sebaliknya, rata-rata ± SD jumlah leukosit (103/µl) lebih tinggi dari K0. Diferensial
leukosit menunjukkan jumlah masing-masing sel leukosit semua tikus dalam kelompok perlakuan meningkat setelah pemberian ekstrak kulit
batang jaloh kecuali eosinofil dan limfosit yang justru menurun. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Infeksi T. evansi menurunkan kadar
hematokrit dan eritrosit namun meningkatkan kadar leukosit tikus dan pemberian ekstrak kulit batang jaloh dosis rendah dalam waktu yang singkat mampu mengembalikan profil darah tikus mendekati nilai normal.
_____________________________________________________________________________________________________________________ Kata kunci: Trypanosoma evansi, ekstrak kulit batang jaloh, eritrosit, leukosit, hematokrit
ABSTRACT
This study was performed to determine blood profile (level of hematocrite, erythrocyte, leukocyte, and differential leucocytes) of rats infected with Trypanosoma evansi (T. evansi) and treated with willow tree bark (Salix tetrasperma Roxb) extract. The study used a unidirectional completely randomized design. Subjects were 25 male rats randomly assigned to 5 groups consisting of 5 rats. Group 0 (K0) were untreated control, group I (K1) were rats infected with 103 T. evansi, group II (K2) were rats infected with 103 T. evansi and treated with 30 mg/kg body
weight of willow tree bark extract, group III (K3) were rats infected with 103 T. evansi and treated with 45 mg/kg BW of willow tree bark extract,
and group IV (K4) were rats infected with 103 T. evansi and treated with 60 mg/kg body weight of willow tree bark extract. Infection was
performed by intraperitonal injection and willow tree bark extract was given orally for 3 consecutive days. Result of this study showed that haematocrite and erythrocyte values from KI, KII, KIII, and KIV rats were lower than those of control rats (K0). However, Leukocyte values (103/μL) were higher than those of control group. On the other hands, means of rat leukocyte from treated groups were higher than those of
untreated control. Differential leukocyte count showed that number of neutrophil, basophil and monocyte increased while number of eosinophil and lymphocyte were lower than those of untreated control. It can be concluded that T. evansi infection might reduce hematocrite and erythrocyte values,but increased leukocyte of rats and administration of low doses of willow tree bark extract for a short period of time might improve blood profile of rats close to its normal value.
_____________________________________________________________________________________________________________________
Key words: Trypanosoma evansi, willow tree bark extract, erythrocytes, leukocytes, hematocrite
PENDAHULUAN
Tripanosomiasis (surra) hewan merupakan penyakit menular akut atau kronis pada hewan yang disebabkan oleh protozoa hemoflagelata patogen Trypanosoma evansi (T. evansi). Penyakit parasit darah ini pada awalnya ditemukan oleh Evans tahun 1880 pada kuda di India, dan kemudian diketahui menginfeksi berbagai jenis hewan berdarah panas di berbagai negara. Derajat kerentanan hewan-hewan ini terhadap tripanosomiasis berbeda-beda, namun kuda, unta, dan anjing diketahui paling rentan terhadap penyakit ini. Tripanosomiasis tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia dan menyerang hewan seperti kuda, sapi, kerbau, dan
anjing (Partoutomo, 1995). Penyebaran penyakit diperantarai oleh gigitan vektor serangga penghisap darah, terutama Tabanus sp., Chrysop sp., dan
Haematopota spp. (Hoare, 1972).
Upaya pengendalian penyakit surra sampai saat ini masih sangat tergantung kepada obat-obat komersial. Tripanosida yang sudah lazim digunakan diantaranya
suramin, diminazene azeturat, isometamedium,
quinapyramine, dan cymelarsan. Akhir-akhir ini,
resistensi Trypanosoma terhadap obat tripanosida ini sudah terjadi di berbagai negara Asia (Stevenson et al., 1985, Zhang, et al., 1991; Zhou et al., 2004), dan Afrika (Afewerk et al., 2000; Delespaux et al., 2008). Di Indonesia, hampir semua isolat T. evansi yang ada
di Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor resisten terhadap isometamedium atau diminazen azeturate
(Sukanto et al., 1987) sehingga perlu dilakukan penemuan obat baru yang mampu mengobati penyakit surra. Obat baru tersebut haruslah mempunyai sifat aman, mudah didapat, murah, dan dari sumber yang terbarukan. Kriteria ini dapat dipenuhi oleh tanaman yang ada di alam.
Salah satu tanaman yang diduga mengandung bahan antitripanosoma adalah jaloh (Salixtetrasperma Roxb). Hal ini dikarenakan ekstrak kulit batang jaloh efektif terhadap Plasmodium bergei (P. bergei) (Asmilia, 2010). Trypanosoma evansi dan P. bergei adalah parasit protozoa dalam darah yang berada dalam satu kelas Apicomplexa. Penelitian ini mencoba mengkaji peranan ekstrak kulit batang jaloh dalam mencegah terjadinya tripanosomiasis dan pengaruhnya terhadap profil darah tikus. Telah diketahui bahwa tikus sangat peka terhadap T. evansi dan menunjukkan berbagai perubahan hematologi dan biokimia (Wolkmer et al., 2009 yang disitasi Paim et al., 2011). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efek antitripanosoma dari ekstrak kulit batang jaloh dan pengaruh ekstrak tersebut terhadap gambaran darah tikus.
MATERI DAN METODE
Dua puluh lima ekor tikus putih (Rattus novergicus)
strain Wistar berumur 3 bulan dengan bobot badan
80-100 g dikandangkan pada suhu ruangan dan diberikan pakan pelet tikus komersial dan menerima air ad libitum. Tikus dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor. Kelompok K0 (kontrol negatif) adalah tikus yang tidak diinfeksi dengan T. evansi dan tidak diberikan ekstrak kulit batang jaloh. K1, K2, K3 dan K4 adalah tikus yang diinfeksikan dengan 0,3 ml darah yang mengandung 1x103 T. evansi secara intraperitoneum dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh secara oral dengan dosis masing-masing 0, 30, 45, dan 60 mg/kg bobot badan selama 3 hari berturut-turut.
Pembuatan Ekstrak Kulit Batang Jaloh
Pembuatan ekstrak etanol menggunakan modifikasi metode yang dikemukakan oleh Jones dan Kinghorn (2005). Secara singkat, 3 kg kulit batang jaloh yang masih segar (baru diambil dari pohon) dikeringkan pada suhu ruangan dan dipotong-potong sepanjang 2,5 cm dan dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol selama 24 jam. Proses maserasi dilakukan secara berulang-ulang sampai diperoleh larutan jernih. Larutan hasil maserasi disaring dengan menggunakan kapas dan kertas saring. Selanjutnya ekstrak diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu berkisar 30-40 C sampai diperoleh ekstrak kasar/kental.
Perkiraan Status Parasitemia
Kejadian dan derajat parasitemia pada masing-masing hewan diperiksa setiap hari dengan pemeriksaan apusan darah. Darah diambil dari vena
ekor dan diteteskan pada permukaan kaca obyek, kemudian dibuat sediaan apus tipis. Darah diwarnai dengan pewarnaan Giemsa dan diperiksa secara mikrokopis dan dihitung jumlah parasit pada 10 bidang pandang pada pembesaran 1000x (Paim et al., 2011).
Sampel Darah
Sampel darah diambil pada hari ke-3 pasca-infeksi. Pengambilan darah (3 ml) dilakukan dengan punksi
jantung setelah tikus dianestesi dengan kloroform. Setelah pengambilan darah tikus dikorbankan secara anestesia. Untuk pemeriksaan hematologi 1 ml darah dari setiap tikus ditempatkan pada tabung yang mengandung 10% asam etilen diamin tetraasetat (EDTA).
Pemeriksaan Hematologi
Nilai hematokrit diperoleh melalui sentrifugasi menggunakan mikrosentrifus (Sigma) pada 16.000 rpm selama 5 menit. Jumlah eritrosit dan diferensial leukosit masing-masing dihitung menggunakan metode Hayem
dan Turk melalui pengamatan mikroskopis
sebagaimana yang dijelaskan oleh Schalm et al. (1995). Analisis Data
Data kuantitatif dari parameter yang diukur dianalisis berdasarkan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hematokrit
Rata-rata ± SD nilai hematokrit darah tikus K0, KI, KII, KIII, dan KIV disajikan pada Tabel 1. Rata-rata nilai hematokrit darah tikus kelompok K0 dalam penelitian ini 40% dan masih berada dalam batas kisaran nilai hematokrit normal 39-53% (Aboderin dan Oyetayu, 2006). Rata-rata nilai hematokrit darah tikus yang diinfeksi T. evansi lebih rendah (33,6%) dibandingkan nilai hematokrit tikus K0. Tikus yang diinfeksi T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh dosis 30-60 mg/kg bobot badan (K2, K3, dan K4) memiliki nilai hematokrit yang lebih tinggi daripada tikus K1(kontrol positif), tetapi nilai hematokritnya lebih rendah dan berbeda nyata (P<0,05) daripada tikus K0.
Penurunan nilai hematokrit pada kelompok tikus yang diinfeksi dengan T. evansi tanpa diberi ekstrak kulit batang jaloh disebabkan karena jumlah parasitemia yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wayan et al. (1981) dan Paim et al. (2011) yang menyatakan bahwa pada saat parasitemia tinggi terjadi penurunan nilai hematokrit, jumlah eritrosit, dan kadar hemoglobin.
Pemberian ekstrak kulit batang jaloh per oral mampu meningkatkan nilai hematokrit darah tikus yang diinfeksi T. evansi (Tabel 1). Meskipun peningkatan ini tampaknya tidak dipengaruhi oleh dosis ekstrak yang diberikan, nilainya secara nyata lebih tinggi dibandingkan nilai hematokrit tikus yang diinfeksikan dengan T. evansi tapi tidak diberikan ekstrak kulit
batang jaloh. Diduga bahwa ekstrak kulit batang jaloh mengandung senyawa yang mampu menghambat infeksi T. evansi sehingga pengaruhnya terhadap hematokrit berkurang. Uji fitokimia menunjukkan bahwa pada ekstrak tanaman jaloh terkandung sejumlah tanin, triterpen, viz. β-amyrin, lupeol, kalsinasterol, steroids (viz. β-sitosterol dan stigmasterol) (Bhakuni et al., 1971).
Faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan nilai
packed cell volume (PCV) adalah kesalahan teknis saat pengambilan, penanganan dan penghantaran sampel darah (Harvey, 2001) serta lisis sel-sel darah akibat waktu penyimpanan yang lama (Hohenhaus, 2007). Pada penelitian ini semua faktor tersebut sudah diminimalkan sehingga pengaruhnya terhadap nilai hematokrit dapat diabaikan.
Jumlah eritrosit
Rata-rata ± SD jumlah eritrosit tikus K0, KI, KII, KIII, dan KIV setelah diberi perlakuan selama 3 hari berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 1. Jumlah eritrosit normal pada tikus menurut Aboderin dan Oyetayu (2006) berkisar 7,2x106-9,6x106. Rata-rata eritrosit pada kelompok K0 adalah 7,62x106 dan masih berada dalam kisaran normal tersebut. Jumlah eritrosit pada tikus kelompok KI mengalami penurunan dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan jumlah eritrosit pada tikus kelompok K0. Jumlah eritrosit pada tikus
yang diinfeksi T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 30-60 mg/kg bobot badan (K2-K4) menunjukkan peningkatan dibandingkan jumlah eritrosit tikus pada K1. Besarnya peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya dosis ekstrak kulit batang jaloh yang diberikan.
Penurunan jumlah eritrosit pada kelompok KI disebabkan karena rusaknya sel darah merah akibat infeksi yang terjadi (Wayan et al., 1981; Paim et al., 2011). Hal ini sejalan dengan pendapat Ressang (1984) bahwa toksin yang dikeluarkan oleh T. evansi dapat menyebabkan peruntuhan eritrosit sehingga jumlah eritrosit menurun dan terjadi anemia. Jenis anemia yang disebabkan oleh infeksi tripanosomiasis ini bersifat tidak responsif (Paim et al., 2011)
Leukosit Total
Rata-rata ±SD jumlah leukosit darah tikus K0, KI, KII, KIII, dan KIV setelah diberi perlakuan selama 3 hari berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 2.
Rata-rata jumlah leukosit pada tikus kelompok K0 dalam penelitian ini adalah 14,8x103 dan masih berada dalam kisaran jumlah leukosit normal yaitu 5,103 -25,103 sel/μl (Aboderin dan Oyetayu, 2006). Jumlah leukosit pada tikus yang terinfeksi T. evansi meningkat dan nilainya berbeda nyata dari tikus kelompok kontrol. Peningkatan leukosit yang nilainya berbeda secara nyata dari tikus kelompok kontrol juga didapat pada
Tabel 1. Rata-rata ± SD tingkat parasitemia, nilai hematokrit, dan jumlah eritrosit darah tikus (%) setelah diberi perlakuan selama 3 hari berturut-turut
Perlakuan Tingkat parasitemia
(%)
Nilai hematokrit (%)
Jumlah eritrosit (106/ μl) K0 (kontrol, tidak diinfeksi T. evansi dan tidak diberi ekstrak
kulit batang jaloh) 0,00±0,00
a 40,00±0,70a 7,62±0,33d
K1 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh
dosis 30 mg/kg bobot badan) 16,60±1,95
b 33,60±2,70b 2,50±0,72a
K2 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh
dosis 30 mg/kg bobot badan) 9,00±6,04
cd
36,60±3,91ab 4,64±0,95b K3 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh dosis
45 mg/kg bobot badan) 7,80±5,76
d
35,60±3,20b 6,30±0,52c K4 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh
dosis 600 mg/kg bobot badan) 14,80±3,35
bc
35,80±3,56b 6,60±0,55c a, ab, b, bc, c, cd, dSuperskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
Tabel 2. Rata-rata±SD jumlah leukosit dan diferensial leukosit tikus setelah diberi perlakuan selama 3 hari berturut-turut
Perlakuan Jumlah leukosit (103/μl) Neutrofil (103/μl) Eosinofil (103/μl) Basofil (103/μl) Limfosit (103/μl) Monosit (103/μl)
K0 (kontrol, tidak diinfeksi T. evansi dan tidak diberi ekstrak kulit batang jaloh)
14,80±11,3a 3,200,80a 3,601,08a 0,200,20a 16,401,50a 0,200,20a
K1 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh dosis 30 mg/kg bobot badan)
40,40±3,04b 1,000,55a 16,801,20b 0,200,20a 17,860,86a 1,600,24b
K2 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh dosis 30 mg/kg bobot badan)
38,20±1,78b 4,00 1,76ac 6,401,86a,c 0,40 0,24 a 8,602,66b 2,801,02 b
K3 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh dosis 45 mg/kg bobot badan)
34,80±2,90b 8,600,81b 7,200,86c 0,200,20 a 6,001,70b 1,600,51b
K4 (diinfeksi T. evansi dan diberi ekstrak kulit batang jaloh dosis 600 mg/kg bobot badan)
31,80±3,20a 4,201,76ac 7,201,07c 0,400,24 a 9,801,93b 2,400,68b a, ac, b, c
tikus terinfeksi T. evansi yang diberikan ekstrak kulit batang jaloh dosis 30-60 mg/kg bobot badan. Peningkatan nilai leukosit ini lebih rendah, namun nilainya tidak berbeda nyata dari tikus kelompok terinfeksi T. evansi tanpa perlakuan ekstrak kulit batang jaloh (K1).
Peningkatan jumlah leukosit pada tikus kelompok K1 sampai K4 menunjukkan tingkat imunitas yang muncul untuk melawan infeksi T. evansi. Infeksi T.
evansi meningkatkan jumlah sel darah putih (Wayan et
al., 1981). Imunitas seluler merupakan cara utama melawan infeksi T. evansi pada tikus, bukannya respons imun humoral (Queiroz et al., 2001). Terdapat kecenderungan semakin meningkat dosis ekstrak kulit batang jaloh semakin menurun jumlah leukosit. Akan tetapi, data dari jumlah leukosit total saja tidak dapat memberikan informasi yang spesifik mengenai status kekebalan dari hewan sehingga diperlukan penghitungan jumlah masing-masing jenis sel dari leukosit (Aboderin dan Oyetayo, 2006).
Diferensial leukosit
Hasil yang diperoleh menunjukkan variasi jumlah sel yang meningkat atau menurun baik pada kelompok yang terinfeksi maupun pada kelompok tikus terinfeksi yang diberikan ekstrak kulit batang jaloh (Tabel 2). Neutrofil
Jumlah neutrofil pada tikus yang diinfeksi oleh T.
evansi menurun dan nilainya berbeda sangat nyata
(P<0,01) dari kelompok kontrol. Hasil yang diperoleh ini sesuai dengan temuan dari Paim et al. (2011) bahwa tikus yang diinfeksikan dengan T. evansi mengalami neutrofilia. Berbeda dengan tikus, kerbau yang diinfeksikan dengan parasit darah ini mengalami peningkatan jumlah neutrofil (Damayanti et al., 1994).
Jumlah neutrofil juga bervariasi antar kelompok perlakuan. Pemberian ekstrak jaloh pada tikus yang diinfeksikan T. evansi menaikkan jumlah neutrofil melebihi batas normal dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tikus yang diberikan dosis 45 mg/kg bobot badan (Tabel 2). Penyebab dari kondisi ini belum diketahui dengan pasti dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara jumlah neutrofil dengan status infeksi, perjalanan penyakit dan dosis ekstrak jaloh yang diberikan dengan jangka waktu penelitian yang lebih lama.
Monosit
Tikus dari semua kelompok perlakuan jumlah monositnya lebih tinggi dibandingkan tikus tanpa infeksi dan jumlah monosit tertinggi terdapat pada kelompok tikus yang diberikan ekstrak kulit batang jaloh dosis 30 mg/kg bobot badan (Tabel 2). Hasil temuan ini berbeda dengan hasil yang ditemukan oleh Paim et al. (2011) bahwa tikus yang diinfeksikan dengan T. evansi memiliki jumlah leukosit yang tidak berbeda secara nyata dengan tikus kontrol yang tidak terinfeksi. Hasil yang diperoleh berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh pada penelitian
menggunakan kambing kerdil di Afrika yang menemukan bahwa infeksi T. evansi menyebabkan monositemia berat (penurunan monosit sangat rendah) (Ogbaje et al., 2011). Hal ini mungkin terkait dengan fungsi dari monosit sebagai sel pertahanan awal spesifik pada tikus untuk menyingkirkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Eosinofil
Tikus yang diinfeksi dengan T. evansi mengalami kenaikan jumlah eosinofil dan nilainya berbeda nyata dengan kelompok kontrol (Tabel 2). Temuan ini mirip dengan yang ditemukan oleh Paim et al (2011) bahwa tikus terinfeksi T. evansi memiliki jumlah eosinofil lebih tinggi meskipun nilainya tidak berbeda secara nyata dari kelompok kontrol. Hasil penelitian pada kambing kerdil di Afrika juga menemukan bahwa infeksi T. evansi menyebabkan kenaikan eosinofil namun nilainya tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (Ogbaje et al., 2011). Kenaikan jumlah eosinofil ini wajar dan mungkin terkait dengan lama dan tingkat infeksi karena eosinofil bertugas khusus untuk menanggulangi infeksi parasit (Roitt et al., 2001).
Hasil yang berkebalikan, yakni nilai eusinofil sedikit menurun akibat infeksi T. evansi ditemukan pada kerbau oleh Damayanti et al. (1994). Hasil penelitian ini dan penelitian lain di atas menunjukkan keunikan dari infeksi T. evansi dan semakin mempertegas pernyataan bahwa perbedaan hewan menampakkan efek patologi yang berbeda.
Pemberian ekstrak kulit batang jaloh dengan dosis 30-60 mg/kg bobot badan pada tikus yang diinfeksikan dengan T. evansi menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dibandingkan tikus yang dinfeksi oleh T.
evansi tetapi tidak diberikan ekstrak. Meskipun
penurunan jumlah eosinofil, yang bertugas menanggulangi infeksi parasit, ini masih sedikit lebih tinggi daripada tikus kelompok kontrol (tanpa infeksi), kondisi ini mengindikasikan bahwa ekstrak kulit batang jaloh memiliki efek anti terhadap T. evansi.
Limfosit
Jumlah limfosit pada kelompok yang diinfeksikan dengan T. evansi meningkat meskipun nilainya tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kelompok kontrol (Tabel 2). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Paim
et al. (2011) bahwa tikus terinfeksi oleh T. evansi
mengalami limfositosis, dan menunjukkan peranan limfosit dalam sistem tanggap kebal seluler. Hal yang menarik adalah pemberian ekstrak kulit batang jaloh dosis 30-60 mg/kg bobot badan pada kelompok tikus yang diinfeksikan dengan T. evansi justru menurunkan jumlah limfosit di bawah jumlah limfosit tikus pada kelompok kontrol (Tabel 2). Karena limfosit merupakan sel imun yang berperanan penting dalam sistem tanggap kebal humoral dan selular (Schalm et al., 1995), hasil ini menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit batang jaloh kemungkinan bersifat imunodepresi.
Basofil
Jumlah basofil pada kelompok kontrol (K0), kelompok yang diinfeksikan T. evansi (K1) dan kelompok terinfeksi T. evansi yang diberikan ekstrak kulit batang jaloh 60 mg /kg bobot badan (K4) tidak berbeda nyata (P>0,05) (Tabel 2). Kelompok yang diinfeksikan T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh dosis 30 mg/kg bobot badan (K2) dan 45 mg/kg bobot badan (K3) meningkat dan berada di atas normal, meskipun tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Gambaran ini menunjukkan bahwa infeksi T. evansi tidak menyebabkan perubahan jumlah basofil. Peningkatan basofil pada tikus kelompok K2 dan K3 mungkin disebabkan oleh pengaruh lain yang belum diketahui.
KESIMPULAN
Infeksi T. evansi menurunkan kadar hematokrit dan eritrosit namun meningkatkan kadar leukosit tikus. Pemberian ekstrak kulit batang jaloh dosis rendah dalam waktu yang singkat mampu mengembalikan profil darah tikus mendekati nilai normal. Semakin rendah dosis ekstrak kulit batang jaloh, semakin bagus efeknya dalam meningkatkan nilai hematokrit.
DAFTAR PUSTAKA
Aboderin, F.I. and V.O. Oyetayo. 2006. Haematological studies of rats fed different doses of probiotic, Lactobacillus plantarum, isolated from fermenting corn slurry. Pakistan J. Nutr. 5:102-105. Afewerk, Y., P.H. Clausen, G. Abebe, G. Tilahun, and D. Mehlitz.
2000. Multiple-drug resistant Trypanosoma congolense
populations in village cattle of Metekel District, North-West
Ethiopia. Acta Trop. 76:231-238.
Asmilia, N. 2010. Uji Preklinis Antimalaria Ekstrak Ethyl Asetat
Daun Jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Laporan. Proyek
Penelitian I-MHERE. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Bhakuni, D.S., M.L. Dhar, M.M. Dhar, B.N. Dhawan, B. Gupta, and C.R. Srimal. 1971. Screening of Indian plants for biological activity: Part III. Indian J. Exp. Biol. 9:91-102.
Damayanti, R., R.J. Graydon, and P.W. Ladds. 1994. The Pathology of eperimental Trypanosoma evansi infection in the Indonesian
buffalo (Bubalus bubalis). J. Comp. Path. 110:237-252.
Delespaux, V., D. Geysen, P. Van den Bossche, and S. Geerts. 2008. Molecular tools for the rapid detection of drug resistance in
animal Trypanosomes. Trends in Parasitol. 24:236-242.
Harvey, J.W. 2001. Atlas of Veterinary Hematology: Blood and Bone
Marrow of Domestic Animals. W.B. Saunders Company, USA.
Hoare, C.A., 1972. The Trypanosomes of Mammals. A Zoological
Monograph. Backwell Scientific Publications, Oxford.
Hohenhaus, A.E. 2007. Transfusions Containing Red Blood Cells.
Proceeding of the WSAVA Congress in Australia. Australia. Jones, W.P. and D.G. Kinghorn. 2005. Extraction of Plant Secondary
Metabolites: Methods in Biotechnology. In Natural Products
Isolation. S. Sarker, D., S.Z. Latif, and A.I. Gray (Eds.). Vol 20,.
2nd ed. Humana Press inc. Totowa, New Jersey.
Ogbaje, C.I., I.A. Lawal, and O.J. Ajanusi. 2011. Infectivity and pathogenicity of Sokoto (Northern Nigeria) isolate of
Trypanosoma evansi in West African dwarf goats. Int. J. Anim.
Vet. Advanc. 3(3):117-124.
Paim, C.F., M.M.M.F. Duarte, M.M. Costa, A.S. Da Silva, P. Wolkmer, C.B. Silva, C.B.V. Paim, R.T. França, C.M.A. Mazzanti, S.G. Monteiro, A. Krause, and S.T.A. Lopes. 2011.
Cytokines in rats experimentally infected with Trypanosoma
evansi. Exp. Parasitol. 128:365-370.
Partoutomo, S. 1995. Study on the epidemiology of T. evansi in Java.
Thesis. Department Biomedical and Tropical Veterinary Science. James Cook University. Australia.
Queiroz, A.O., P.A. Legey, S.C.C. Xavier, and A.M. Jansen. 2001. Specific antibody levels and antigenic recognition of wistar rats
inoculated with distinct isolates of Trypanosoma evansi.
Memórias do Instituto Oswaldo Cruz. 96:965-967.
Resang, A. A. 1984. Patologi Khusus Veteriner. Edisi Kedua.
Percetakan Bali, Denpasar.
Roitt, I., J. Brostoff, and D. Male. 2001. Immunology. 6th ed. Mosby.
Philadelphia, USA.
Schalm, O.W., N.C. Jain, and E.J. Carrol, 1995. Veterinary
Hematology. 3rd ed. Lea and Febiger, Philadephia.
Stevenson, P., G. Okech., C. Mwendia, and K.R. Sones. 1985. Comparison of the Isometamedium-based trypanocidal drugs Samorin® and Veridium® in cattle under field conditions at
Nguruman, Kenya. Acta Trop. 77:195-201.
Sukanto, I.P., R.C. Payne, dan R. Graydon. 1987. Tripanosomiasis di
Madura: Survei parasitologik dan serologik. Penyakit Hewan.
(13):14-16.
Wayan, T.A., B. Narianodan, dan S. Mangkuwijdojo. 1981. Perubahan
hematologi kelinci yang diinfeksi dengan Trypanosoma evansi.
Proceeding Seminar Nasional II. Jakarta:35-43.
Zhang, ZQ, C. Giroud, and T. Baltz. 1991. In vivo and in vitro
sensitivity of Trypanosoma evansi and T. equiperdum to
diminazene, suramin, MelCy, quinapyramine and
isometamidium. Acta Trop. 50:101-110.
Zhou, J., J. Shen, D. Liao, Y. Zhou, and J. Lin. 2004. Resistance to drug by different isolates Trypanosoma evansi in China. Acta Trop. 90:271-275.