Keteguhan Iman di Atas Bara Ujian
Al-Ustadzah Ummu Maryam Lathifah
Sekeping kisah keberanian yang menakjubkan, tentang seorang ibu dengan bayinya yang berbicara, sempat terlontar dari lisan Khairul Anam n yang tidak pernah berucap dari hawa nafsu. Meski sepenggal, tidak urung cerita itu membuat hati terpana. Seorang wanita, yang sedang dirundung cinta terhadap buah hatinya yang masih di buaian dekapannya, lebih memilih mati bersama cahaya matanya di atas keimanan dengan cara yang sangat mengerikan, daripada hidup di dalam keamanan nisbi kekufuran. Ternyata, cerita akhir hidupnya ini hanya sebagian dari kisah besar yang akan terus menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
Tatkala dera, siksa, dan nestapa ditimpakan Quraisy dengan bertubi-tubi kepada para sahabat yang mulia, Rasulullah n sempat menasihatkan agar mereka bersabar, karena umat-umat beriman sebelum mereka pun telah mengalami siksaan yang jauh lebih dahsyat, tetapi tetap teguh di atas jalan kebenaran. Demikianlah sunnatullah. Seseorang tidak akan dibiarkan mengatakan bahwa dirinya telah beriman, kecuali pasti akan ditimpakan ujian kepadanya.
Cobaan keimanan ini pula yang menimpa sekelompok orang yang menerima dakwah seorang pemuda muwahhid pada masa sebelum kenabian Muhammad n. Kejadiannya diabadikan di dalam surat al-Buruj. Allah k berfirman,
ﭧ ﭦ ﭥ ﭤ ﭣ ﭢ ﭡ ﭠ ﭟ ﭞ ﭝ ﭜ ﭛ ﭚ ﭙ ﭘ ﭗ ﭖ ﭕ ﭔ ﭓ ﭒ
ﭑ
ﮀ ﭿ ﭾﭽ ﭼ ﭻ ﭺ ﭹ ﭸ ﭷ ﭶ ﭵ ﭴ ﭳ ﭲ ﭱ ﭰ ﭯ ﭮ ﭭ ﭬ ﭫ ﭪ ﭩ ﭨ
ﮙ ﮘ ﮗ ﮖ ﮕ ﮔ ﮓ ﮒ ﮑ ﮐ ﮏ ﮎ ﮍ ﮌ ﮋ ﮊ ﮉ ﮈ ﮇ ﮆ ﮅ ﮄ ﮃ ﮂ ﮁ
ﮣ ﮢ ﮡ ﮠ ﮟﮞ ﮝ ﮜ ﮛ ﮚ
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan (demi) hari yang dijanjikan, serta (demi) yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah Ash-habul Ukhdud (orang-orang yang membuat parit), yang berapi (dan api itu dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.
perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, bagi mereka azab Jahannam, dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.” (al-Buruj: 1—11)
Di dalam hadits Sahabat Shuhaib z, yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim v dalam Shahih-nya, pada “Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa’iq” no. 3005, Rasulullah n menghikayatkan sejarah ini sebagai berikut.
ُ،تت ررببببكك درببقك ِّيببننإب ِ:كبببلبمكلرلب لكَاببقك ُ،ركببببكك َاببمملكفك ُ،ررحبَاببسك هتلك نكَاككوك ُ،مركتلكبرقك نكَاكك نرمكِيفب كرلبمك نكَاكك
ُ،بر ببهبَارك كك لكببسك َاذكإب هبببقبِيربطك ِّيببفب نكَاببككفك ُ،هتببمتلنعكِيت َاببمملكغت هبِيرلكإب ثكعكبكفك َ.ركحرسنلَا هتمرلنعكأت َامملكغت ِّيملكإب ثرعكبرَافك ركحبَاببسم لَا َىتكأك َاذكإبفك ُ،هبِيرلكإب دكعكقكوك ببهبَارملَابب رممك ركحبَاسملَا َىتكأك َاذكإب نكَاككفك ُ،هتبكجكعرأكفك هتمكلككك عكمبسكوك هبِيرلكإب دكعكقكفك تك ِيببشب خك َاذكإبوك ُ،ِّيببلبهرأك ِّينبببسك بكحك ِ:لر ببقتفك ُ،ركحبَاسم لَا تك ِيشب خك َاذكإب ِ:لكَاقكفك ُ،بب هبَارملَا َىلكإب كك لبذك َاكك شك فك ُ،هتبكركضك َ.رتحبَاسم لَا ِّينبسك بكحك ِ:لر قتفك ُ،كك لكهرأك رتحبَاببسم لآ مت ببلكعر أك مكورِيكلرَا ِ:لكَاقكفك ُ،سك َانملَا تب سك بكحك در قك ةةمكِيظب عك ةةبمَادك َىلكعك َىتكأك ذرإب كك لبذككك وكهت َامكنكِيربكفك
ربببمرأك نرببمب كك ببِيرلكإب بم ببحكأك بب ببهبَارملَا رتببمرأك نكَاكك نرإب ممهتلملَا ِ:لكَاقكفك ُ،َارمجكحك ذكخكأكفك ُ؟لتضكفرأك بتهبَارملَا مبأك لتضكفرأك َ.ست َانملَا ِّيك ضب مرِيك َىتمحك ُ،ةكبمَادملَا هبذبهك لر تتقرَافك ربحبَاسم لَا
تك ببنرأك ُ،ِّيمببنكبت يرأك ِ:بتببهبَارملَا هتببلك لكَاببقكفك ُ،هتركبكخرأكفك بكهبَارملَا َىتكأكفك ُ،ست َانملَا َىضك مكوك ُ،َاهكلكتكقكفك َاهكَامكركفك
َ.ِّيم لكعك لم دتتك لكفك تك ِيلبتتبرَا نب إبفك ُ،َىلكتكبرتتسك كك نمإبوك ُ،َىركأك َامك ككربمرأك نرمب غكلكبك درقك ُ،ِّيننمب لتضك فرأك مكورِيكلرَا
س
ر ببِيلبجك عكمبببسك فك ُ،ءبَاوكدرلرك َا ربئبَابسك نرببمب سك َاببنملَا يوبَادكببِيتوك ُ،صك ركبببرلرك َاوك هكببمككرلركَا ئترببرِيت متلكغتلرَا نكَاككوك
ِّيببننإب ِ:لكَاقكفك َ.ِّينبتكِيرفكشك تك نرأك نرإب ُ،عتمكجرأك ككلك َانكهتَاهك َامك ِ:لكَاقكفك ُ،ةةركِيثبكك َاِيكَادكهكبب هتَاتكأكفك ُ،ِّيكمبعك درقك نكَاكك كبلبمكلرلب َ.كك َافكشك فك هكللَا تت ورعك دك هبللَابب تك نرمكآ تك نرأك نرإبفك ُ،هتللَا ِّيفبشرِيك َامكنمإب ُ،َادمحكأك ِّيفبشرأك لك
نر ببمك ِ:كت ببلبمكلرَا هتببلك لكَاقكفك ُ،ست لبجرِيك نك َاكك َامككك هبِيرلكإب سك لكجك فك كك لبمكلرَا َىتكأكفك ُ،هتللَا هتَافكشكفك هبللَابب نكمكَآفك
هتبتذنعكِيت لرزكِيك مرلكفك هتذكخكأكفك َ.هتللَا كك ببركوك ِّيبنرك ِ:لكَاقك ُ؟يربِيرغك ببرك ككلكوك ِ:لكَاقك َ.ِّيبنرك ِ:لكَاقك ُ؟ككركصك بك كك ِيرلكعك دمرك ئ
ت رببببرتت َاببمك كك ربحرببسب نرببمب غكببلكبك درببقك ُ،ِّيم ببنكبت ير أك ِ:كتببلبمكلرَا هتلك لكَاقكفك ُ،مبلكغتلرَابب ءكِّيجبفك ُ،مبلكغتلرَا َىلكعك لمدك َىتمحك َ.لت عكفرتكوك لتعكفرتكوك ُ،صك ركبرلرك َاوك هكمككرلركَا
َىببلكعك لم دك َىببتمحك هتبتذنببعكِيت لرزكببِيك مرببلكفك هتذكببخكأكفك َ.هتببللَا ِّيفبببشر ِيك َاببمكنمإب ُ،َادمببحكأك ِّيفبببشرأك لك ِّيننإب ِ:لكَاقكفك
ِّيببفب ركَاببشك ئرمبلرَا عكضك وكفك ُ،ربَاشك ئرمبلرَابب َاعكدكفك ُ،َىبكأكفك َ!كك نبِيدب نر عك عرجبررَا ِ:هتلك لك ِيقبفك ُ،بب هبَارملَابب ءكِّيجب فك ُ،بب هبَارملَا ُ،َىبكأكببفك َ!كك ببنبِيدب نر عك عرجبررَا ِ:هتلك لك ِيقبفك كب لبمكلرَا سب ِيلبجكبب ءكِّيجب ممثت ُ،هتَاقمشب عكقكوك َىتمحك هتقمشك فك ُ،هبسب أررك قب ربفرمك َ.هتَاقمشب عكقكوك َىتمحك هببب هتقمشك فك ُ،هبسب أررك قب ربفرمك ِّيفب ركَاشك ئرمبلرَا عكضك وكفك ِ:لك َاببقكفك ُ،هبببَاحكببصر أك نرببمب رةببفكنك َىببلكإب هتعكفكدكفك ُ،َىبكأكفك َ!ككنبِيدب نرعك عرجبررَا ِ:هتلك لكِيقبفك مبلكغتلرَابب ءكِّيجب ممثت
لمإبوك ُ،هبببنبِيدب نرببعك عكببجكرك نرإبببفك ُ،هتببتكوكررذت مرببتتغرلكبك َاذكإبببفك ُ،لكبكجكلرَا هببب َاودتعكصر َافك ُ،َاذك كك وك َاذككك لببكجك َىلكإب هببب َاوبتهكذرَا لت بببكجكلرَا متببهببب فك ببجكركفك َ.تك ئرببشب َاببمكبب مرببهبِينبفبكرَا ممهتلملَا ِ:لكَاقكفك ُ،لكبكجكلرَا هببب َاودتعبصك فك هببب َاوبتهكذك فك َ.هتوحتركطر َافك َ.َاوطت قكسك فك
هتعكفكدكببفك َ.هتببللَا متهبِينبَاببفككك ِ:لكَاقك ُ؟كك بتَاحكصر أك لكعكفك َامك ِ:كتلبمكلرَا هتلك لكَاقكفك ُ،كبلبمكلرَا َىلكإب ِّيشبمرِيك ءكَاجكوك
مت ببهببب تر أك ببفكككنرَافك َ.تكئرببشب َاببمكبب مرببهبِينبفبكرَا ممببهتلملَا ِ:لكَاببقكفك ُ،هببببب َاوبتهكذكفك َ.هتوفتذبقرَافك لمإبوك هبنبِيدب نرعك عكجكرك نرإبفك
Dahulu ada seorang raja dari kaum sebelum kalian. Raja ini memiliki tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut beranjak tua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya saya ini sudah tua. Utuslah seorang pemuda kepada saya untuk saya ajari ilmu sihir.”
Sang raja pun mengirimkan seorang pemuda yang kemudian diajari ilmu sihir. Dalam perjalanan si pemuda menuju tukang sihir, ada seorang rahib. Pemuda itu pun duduk mendengarkan ucapan sang rahib. Ajaran sang rahib menjadikannya takjub. Maka dari itu, setiap kali mendatangi si ahli sihir, ia pun selalu melewati (tempat) sang rahib dan duduk mengambil ilmu darinya. Akibatnya, ketika ia mendatangi si tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya. Ia mengeluhkan hal ini kepada sang rahib. Sang rahib berkata, “Apabila engkau takut kepada penyihir itu (karena terlambat datang), katakanlah, ‘Keluargaku menahanku.’ Apabila engkau takut kepada keluargamu (karena terlambat pulang), katakanlah, ‘Si penyihir menahanku’.”
Dalam kebiasaannya pulang pergi demikian, suatu ketika ia melewati seekor binatang yang sangat besar yang menahan perjalanan manusia. Ia berkata, “Hari ini aku akan mengetahui apakah sang rahib yang lebih utama atau si penyihir.”
nanti engkau pasti diberi ujian. Apabila engkau ditimpa ujian, jangan kautunjukkan (manusia) kepadaku.”
Pemuda itu pun bisa menyembuhkan penyakit buta dan lepra, dan mengobati manusia dari seluruh jenis penyakit. Seorang teman duduk sang raja mendengar keahliannya. Ia, yang telah buta, mendatangi si pemuda sambil membawa banyak hadiah. Katanya, “Semua hadiah ini menjadi milikmu jika engkau dapat menyembuhkanku.”
Pemuda itu menjawab, “Sesungguhnya saya ini tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Apabila Anda mau beriman kepada Allah, saya akan mendoakan Anda, maka Allah pun menyembuhkan Anda.” Teman sang raja itu pun beriman kepada Allah dan Allah l menyembuhkannya.
Teman raja itu kemudian mendatangi sang raja dan duduk menemaninya seperti biasa. Sang raja bertanya, “Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?”
Ia menjawab, “Rabbku.”
Raja itu berkata, “Apakah engkau berani memiliki tuhan selain aku?” Sang teman menjawab, “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.”
Sang raja pun menghukum temannya dan terus-menerus menyiksanya. Akhirnya, temannya menunjukkannya kepada si pemuda, lalu si pemuda pun dibawa ke hadapan sang raja.
Sang raja berkata, “Anakku, sihirmu telah mencapai tingkatan engkau sanggup menyembuhkan kebutaan dan kusta. Engkau pun bisa melakukan yang demikian dan demikian.”
Pemuda itu menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah.”
Sang raja pun menghukumnya dan terus-menerus menyiksanya, hingga akhirnya, si pemuda pun menunjukkan sang raja kepada sang rahib, gurunya.
Sang rahib didatangkan. Dikatakan kepadanya, “Kembalilah (kepada agamamu semula) dari agamamu yang sekarang!” Namun, sang rahib menolak.
Raja pun meletakkan gergaji di atas belahan rambut kepala sang rahib, lalu membelahnya hingga belahan tubuhnya terjatuh.
Berikutnya, didatangkanlah si pemuda. Dikatakan kepadanya, “Kembalilah (kepada agamamu semula) dari agamamu yang sekarang!” Namun, ia juga menolak.
Sang raja menyerahkannya kepada sekumpulan pengikutnya dan berkata, “Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Dakilah gunung itu dengannya. Kalau kalian sudah mencapai puncaknya dan ia mau kembali dari agama barunya, biarkan dia. Jika tidak mau, lemparkan ia dari puncak itu.”
Mereka pun membawanya pergi mendaki gunung. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba, gunung itu mengguncangkan mereka hingga tentara-tentara itu pun terjatuh dari gunung. Pemuda itu kembali dengan berjalan kaki menemui sang raja.
Raja itu bertanya, “Apa yang telah dilakukan orang-orang yang menyertaimu?”
Ia menjawab, “Allah telah melindungiku dari mereka.”
Sang raja menyerahkan pemuda itu kepada sekelompok orang yang lain. “Bawalah dia pergi dengan perahu ke tengah lautan. Kalau ia mau kembali dari agamanya, biarkan. Namun, jika ia tidak mau, lemparkan ke lautan.”
Mereka pergi membawanya. Pemuda itu berdoa lagi, “Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Perahu itu pun mengguncangkan mereka sehingga mereka tercebur, tenggelam ke lautan. Sang pemuda datang kembali berjalan kaki menemui raja.
Sang raja bertanya lagi, “Apa yang dilakukan orang-orang yang bersamamu?”
“Allah telah melindungiku dari mereka. Sungguh, engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan kepadamu.”
Sang raja bertanya, “Apa yang harus kulakukan?”
“Kumpulkan orang-orang di suatu bukit. Saliblah aku di sebuah batang pohon, lalu ambillah sebatang anak panah dari tabung anak panahku. Letakkan anak panah itu di busurnya lalu katakan, ‘Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.’ Kemudian, panahlah aku. Jika engkau melakukan semua ini, niscaya engkau sanggup membunuhku.”
Sang raja pun mengumpulkan manusia di sebuah bukit, menyalib si pemuda di atas sebatang pohon, dan mengambil sebatang anak panah dari tabung anak panah si pemuda. Kemudian, ia meletakkannya di busur panah dan berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.” Ia pun memanah sang pemuda. Anak panah itu menancap di pelipis si pemuda. Pemuda itu meletakkan tangannya di tempat anak panah itu menancap, lalu meninggal.
Sang raja didatangi seseorang dan dikatakan kepadanya, “Tahukah Anda apa yang sebenarnya Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan (yaitu keimanan manusia) telah menimpa Anda. Manusia telah beriman.”
Sang Raja pun memerintahkan agar digali parit-parit besar di mulut-mulut jalan. Setelah parit-parit itu digali, ia nyalakan api di dalamnya. Ia berkata, “Siapa yang tidak mau kembali dari agama barunya, bakarlah ia di dalam parit itu!” Atau dikatakan kepada orang itu, “Ceburkan dirimu ke dalam parit itu!”
Manusia pun melemparkan diri ke parit-parit api itu, hingga datanglah seorang wanita membawa bayinya. Ia mundur menghindar agar tidak terjatuh ke dalam parit. Si bayi pun berkata, “Wahai Ibunda, bersabarlah, karena sungguh engkau berada di atas kebenaran.”
Disebutkan dalam riwayat at-Tirmidzi, yang dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani v, bahwa jenazah anak muda tersebut ditemukan dalam keadaan tangannya masih memegang pelipisnya sebagaimana ketika meninggal, dan ‘Umar z memerintahkan agar ia dikuburkan lagi.
Permata Berharga dari Kisah Ash-habul Ukhdud
Kita dapat mengambil banyak pelajaran dari kisah agung ini. Ternyata, kewajiban yang paling besar dan perkara yang pertama kali harus diajarkan, didakwahkan, dan diamalkan oleh seluruh manusia, siapa pun dia, adalah kewajiban menauhidkan Allah l, yaitu mengesakan-Nya dalam seluruh peribadahan. Tidaklah diberi taufik untuk bertauhid dengan benar melainkan orang yang telah dipilih oleh Allah k. Jadi, sepantasnyalah orang yang mendapatkan nikmat teragung ini bersyukur kepada-Nya, menyampaikan tauhid kepada manusia, dan berdoa agar ia kokoh di atas tauhid hingga ajal menjemputnya. Allah l berfirman,
ﮣ ﮢ ﮡ ﮠ ﮟ ﮞ ﮝ ﮜ
ﮧ ﮦ ﮥ ﮤ
“Wahai manusia, ibadahilah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 21)
Mayoritas kisah di dalam al-Qur’an bertujuan membangun asas tauhidullah di jiwa para hamba Allah l. Di antaranya adalah kisah di dalam al-Buruj, yang dijelaskan di dalam hadits yang shahih ini.
Kita juga melihat bahaya besar sihir dan pelakunya. Ternyata, sihir adalah penyebab besar bagi kesesatan dan kelemahan umat manusia. Kita juga mengetahui bahwa sihir dan kesyirikan memiliki hubungan yang sangat erat. Pelaku keduanya adalah “berkerabat”, karena penyeru sihir dan penyeru kesyirikan adalah satu, yaitu setan yang terkutuk. Setan tidak akan membantu manusia kecuali dengan mahar berupa kekufuran dan kesyirikan mereka. Banyak pelaku kesyirikan yang juga melakukan sihir, mempelajarinya, mengamalkannya, bahkan mengajarkannya.
Mayoritas penguasa yang rusak, baik pada masa dahulu maupun sekarang, bersandar pada sihir dan pelakunya. Contohnya adalah Fir’aun. Pada masa ini, banyak pejabat negara yang berkonsultasi, berziarah, atau memohon bimbingan dan dukungan kepada “kiai putih”, “paranormal Islam”, dan orang-orang dengan berbagai label lain yang mengaburkan hakikat mereka sebagai pelaku sihir dan kesyirikan.
Ilmu sihir dan syubhat-syubhat syirik adalah ilmu-ilmu yang merusak. Kita harus berlindung kepada Allah l dari kejelekannya. Tidak hanya itu, kita pun harus berupaya melindungi manusia dan generasi penerus kita darinya. Kita berlindung kepada Allah k dengan berdoa dan menuntut ilmu syar’i kepada para ulama, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa kita lihat penjagaan Allah l terhadap pemuda yang beriman di dalam kisah ini. Ia menuntut ilmu syar’i, meyakininya, dan mengamalkannya, sehingga terjaga dari kebinasaan di dunia dan di akhirat. Melalui tangannya, Allah k menunjuki sejumlah besar manusia di negerinya.
Dari ayat-ayat al-Buruj dan hadits yang telah lewat, kita juga memahami bahwa kekuatan yang hakiki adalah kekuatan Allah l. Allah k berfirman,
ﮨ ﮧ ﮦ ﮥ ﮤ
“Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar keras.” (al-Buruj: 12)
ﯚ ﯙ
ﯘ ﯗ
“(Allah) Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Buruj: 16)
Allah k berjanji di dalam ayat-ayat-Nya yang lain bahwa Ia akan menguatkan dan memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-Nya yang beriman apabila mereka istiqamah dan kokoh di atas kebenaran. Kekuatan apa pun, dari negeri atau kelompok mana pun, apabila tidak dibangun di atas agama Allah l yang lurus dan shahih, ujungnya adalah kelemahan dan kebinasaan, meskipun masanya berlalu lama.
dilakukan sang raja untuk membendung al-haq dan dakwah ilallah tidak memberikan pengaruh, justru tipu dayanya berbalik kepada dirinya. Hal ini menjadikan setiap orang yang masih memiliki akal yang selamat dan kalbu yang hidup tumbuh rasa takutnya kepada Allah l, sehingga ia pun takut memaksiati-Nya, dan tidak merasa aman dari kemurkaan dan balasan makar Allah l.
Kisah pemuda ini menjadikan kita menyadari betapa besarnya nikmat ilmu din yang lurus dan shahih, dan pengaruh baiknya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ilmu yang paling agung adalah ilmu tauhid dan akidah as-Salafush Shalih. Di antara pengaruh ilmu din dan akidah yang lurus ini, yang bisa kita lihat pada diri sang pemuda dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya, adalah ketenangan kalbu, perasaan aman, keyakinan, dan kekokohan di atas al-haq. Mereka menyadari bahwa pertolongan Allah k itu hanya diperoleh melalui satu jalan, yaitu berdiri teguh di atas agama yang lurus dan benar, dan mendakwahkannya dengan seluruh kemampuan, di atas metode yang diridhai-Nya.
Apabila akidah yang benar sudah menancap di sanubari, baik sanubari seorang laki-laki maupun seorang perempuan, amalan-amalan dan pengorbanan yang besar pun terasa ringan dilakukan. Kalbu yang mengenali al-haq meyakini bahwa semua yang dilakukan untuk Allah k dan di jalan-Nya, tidak akan sia-sia dan akan dibalas dengan pahala yang jauh lebih besar di akhirat.
Hal itu seperti apa yang dilakukan si pemuda dan orang-orang yang beriman melalui kedua tangannya, termasuk si ibu yang membawa bayinya. Sang ibu hanya merasa bimbang, bukan karena rasa takutnya atas keselamatan dirinya, melainkan karena kasih sayangnya kepada sang putra. Oleh karena itu, Allah l pun menguatkannya, menurunkan mukjizat-Nya dengan menjadikan bayinya dapat berbicara. Akhirnya, ia pun tidak lagi ragu untuk memilih kematian di tangan sang raja zalim daripada hidup di dalam kemurkaan Allah l.
Demikianlah ujian dahsyat keimanan. Setiap orang dari kita pasti mengalaminya, sesuai dengan tingkatan keimanan kita. Allah k berfirman,
ﯚ ﯙ ﯖ ﯕ ﯔﯓ ﮭ ﮬ ﮫ ﮪ ﮣ
ﯛ
ﯘ
ﯗ
ﮱ ﮰ ﮯ ﮮ
ﮩ ﮨ ﮧ ﮦ ﮥ ﮤ
“Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Sesungguhnya Kami telah menguji orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui siapa orang-orang yang jujur (dalam keimanannya) dan siapa orang-orang-orang-orang yang berdusta.” (al-‘Ankabut: 2—3)
Semoga Allah k menganugerahi kita kekuatan, pertolongan, curahan ilmu yang bermanfaat, dan amalan yang diterima di sisi-Nya, sehingga kita tegak di atas keimanan di tengah gelombang fitnah yang dahsyat pada hari ini.
(Disarikan dari tulisan asy-Syaikh Nazzar bin Hasyim ‘Abbas hafizhahullah, lulusan al-Jami’ah al-Islamiyyah Madinah, administrator situs Rayatus Salaf Sudan, dalam mauqi’ ajurry.com dan wahyain.com)
Sumber: Majalah Muslimah Qonitah Edisi 19 – Qonitah.com