• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIK LAPANG PENYULUHAN DAN PE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIK LAPANG PENYULUHAN DAN PE"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIK LAPANG PENYULUHAN

DAN PEMBANGUNAN PERTANIAN

OLEH : KELOMPOK 1

1. ERNA D1A113008

2. ANISA D1A113003

3. DESRI ASFRIANTI DAMIN D1A113005

4. DITA SEPTIANI KAMAL D1A113006

5. MARSULI D1A113027

6. RASID D1A113041

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HALU OLEO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan tepat pada waktunya. Praktik lapang yang bertempat di Desa Sindang Kasih merupakan tugas mata kuliah Penyuluhan Pembangunan Pertanian Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo. Penulis berharap semoga laporan ini dapat memberikan informasi dan pemahaman tentang kondisi social ekonomi masyarakat Desa Sindang Kasih, efektifitas kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Sindang Kasih, dan untuk mengetahui pembangunan pertanian di desa tersebut.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman guna penyempurnaan penulisan laporan ini di masa mendatang. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Kendari, 7 Juni 2015

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...i

DAFTAR ISI ...ii

BAB I. PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II. KAJIAN PUSTAKA...3

2.1 Sejarah Penyuluhan Pertanian di Indonesia...3

2.2 Pengertian Penyuluhan Pertanian...4

2.3 Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian...5

BAB III. METODE PRAKTIKUM...12

3.1 Waktu dan Lokasi Praktik...12

3.2 Teknik Penentuan Responden...12

3.3 Variabel Praktik...12

3.4 Teknik Pengumpulan Data...13

3.5 Analisis Data...14

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...15

4.1 Hasil Praktik...15

4.2 Pembahasan...16 DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dengan sangat jelas UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, mendefinisikan penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraanya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan demikian penyuluhan pertanian mengambil peranan yang sangat penting terhadap pembangunan pertanian di Indonesia karena dengan adanya kegiatan penyuluhan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pelaku utama dan pelaku usaha serta melestarikan lingkungan hidup.

Dalam kegiatan penyuluhan, materi, waktu dan metode yang digunakan oleh penyuluh harus sesuai dengan kondisi social ekonomi masyarakat sasaran. Dan setiap usaha untuk mengembangan pertanian tidak terlepas dari ketersediaan sarana dan prasarana, apabila sarana dan prasarana di tempat penyuluhan tersedia maka proses penyuluhan lebih cepat berhasil.

Akan tetapi setiap upaya pengembangan masyarakat petani tidak terlepas dari masalah-masalah yang dihadapi, misalnya dalam upaya pengembangan sector pertanian melalui usaha budidaya tanaman padi sawah dihapkan pada masalah saluran irigasi yang tidak memadai, hama dan penyakit tanaman padi sawah atau bahkan sikap dan perilaku masyarakat petani yang sulit untuk berkembang. Dan setiap daerah memiliki potensi dan masalahnya masing-masing sehingga perlu diadakan suatu penelitian untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada dalam suatu wilayah.

Untuk itu, praktikum Mata Kuliah Penyuluhan Pembangunan Pertanian melakukan penelitian di Desa Sindang Kasih, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan untuk mengetahui potensi dan masalah di desa tersebut, sebab desa tersebut merupakan salah satu desa penghasil produk pertanian di Sulawesi Tenggara.

(5)

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

 Bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Sindang Kasih ?  Bagaimana efektifitas kegiatan penyuluhan (dilihat berdasarkan materi,

waktu, dan metode penyuluhan yang biasa digunakan) ?

 Apakah sarana dan prasarana pendukung pengembangan potensi pertanian di Desa Sindang Kasih tersedia ?

 Bagaimana proses pembangunan yang sedang dan telah berlangsung di Desa Sindang Kasih ?

 Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat terutama permasalahan yang berkaitan dengan usahatani, peternakan, perkebunan, pengolahan tahu, dan industri keripik ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktik lapang ini adalah sebagai berikut :  Untuk mengetahui kondisi social ekonomi masyarakat Desa Sindang

Kasih,

 Untuk mengetahui efektifitas kegiatan penyuluhan (dilihat berdasarkan materi, waktu, dan metode penyuluhan yang biasa digunakan),

 Untuk mengamati ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pengembangan potensi pertanian,

 Untuk mengetahui proses pembangunan yang sedang dan telah berlangsung di Desa Sindang Kasih,

(6)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Penyuluhan Pertanian

Perkembangan penyuluhan pertanian di Indonesia menunjukkan perjalanan waktu yang cukup panjang, awalnya timbulnya penyuluhan ditandai berdirinya Botanical Garden atau sekarang disebut Kebun Raya Bogor pada tanggal 18 Mei 1817.

Pada tahun 1905 berdirilah Departemen Pertanian yang langsung membentuk Dinas penyuluhan pertanian atau dalam istilah bahasa Belanda disebut Landbauw Voorlichting Dienst (LVD). Adapun tujuan pembentukan dinas penyuluhan pada saat itu sebagian besar adalah untuk memenuhi kepentingan penjajah. Adanya istilah tanam paksa (cultur stelsel) dan kerja rodi yang memaksa rakyat Indonesia untuk bercocok tanam diperuntukkan bagi kepentingan Belanda. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, terjadi perubahan yang mendasar dalam konsepsi, pengertian, tujuan dan aspek- aspek lain dalam penyuluhan pertanian. Selanjutnya Penyuluh yang mampu dan terlatih juga semakin diperlukan sejak penyuluhan mendapat tempat terdepan dalam pembangunan pertanian pada tahun 1954, melalui metoda Demontrasi Massal (DEMAS) yaitu percontohan teknik bercocok tanam dengan penerapan panca usahatani, hingga berkembang menjadi sistem bimbingan massal (BIMAS) dan Intensifikasi Massal (INMAS).

(7)

bagi insan yang peduli dengan pembangunan pertanian. Oleh karena itu, lahirlah penyuluhan pertanian adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraanya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Adapun pengertian penyuluhan menurut para ahli, sebagai berikut :

a) Menurut Asngari (2003), penyuluhan adalah kegiatan mendidik orang (kegiatan pendidikan) dengan tujuan mengubah perilaku klien sesuai dengan yang direncanakan/dikehendaki yakni orang semakin modern. Ini merupakan usaha mengembangkan potensi individu klien agar lebih berdaya secara mandiri.

b) Menurut A.W Van Den Ban dan Hawkins (1999), penyuluhan adalah keterlibatan sesorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar.

c) Menurut Wiriaatmadja, penyuluhan merupakan system pendidikan di luar sekolah, di mana mereka belajar sambil berbuat untuk menjadi tahu, mau, dan mampu menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi secara baik, menguntungkan dan memuaskan.

d) Menurut Margono Slamet, penyuluhan adalah suatu pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal) untuk petani dan keluarganya dengan tujuan mereka mampu dan sanggup memerankan dirinya sebagai warga Negara yang baik sesuai bidang profesinya, serta mampu dan sanggup berswadaya untuk memperbaiki atau meningkatkan kesejahteraannya sendiri dan masyarakat.

(8)

peningkatan kemandirian agar mereka mau dan mampu, sanggup dan berswadaya memperbaiki/ meningkatkan daya saing usahanya, kesejahteraan sendiri serta masyarakatnya.

f) Menurut Salim. F (2005), penyuluhan pertanian adalah upaya pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal dibidang pertanian, agar mampu menolong dirinya sendiri baik di bidang ekonomi, social maupun politik, sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka dapat dicapai.

2.3 Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian

1. Sumber Penyuluhan Pertanian (Tenaga Penyuluh)

Penyuluh pertanian adalah orang yang bertugas memberikan dorongan kepada para petani sehingga terjadi perubahan cara berpikir, cara bekerja dan cara hidupnya dengan memanfaatkan berbagai teknologi pertanian terbaru yang relevan dengan kondisi jaman dan lingkungan sosial.

Seorang tenaga penyuluh harus mempunyai 3 peranan penting, yaitu; 1. Sebagai fasilitator, memberikan pengetahuan, fasilitas atau cara-cara

baru dalam bertani/beternak sehingga petani lebih terarah dalam meningkatkan usahanya.

2. Sebagai mediator, menghubungkan kepentingan lembaga pemerintah / lembaga penyuluhan dengan sasaran penyuluhan sehingga terjadi perubahan pola pikir dan pola kerja dalam kaitannya mensukseskan program pemerintah..

3. Sebagai dinamisator, menimbulkan perubahan melalui pelayanan, peragaan atau contoh, pemberian petunjuk serta motivasi kepada petani/peternak.

Berdasarkan tugasnya, maka penyuluh pertanian dibedakan atas :

1. Penyuluh yang langsung berhubungan dengan para petani/peternak. instansi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan pertanian; Balai Benih, BPTP, Bank, Perguruan Tinggi dan lainnya.

(9)

Dalam proses komunikasi pertanian, antara penyuluh dengan sasaran penyuluhan, akan disampaikan segala hal menyangkut ilmu dan teknologi pertanian-peternakan yang kesemuanya itu disebut sebagai materi penyuluhan. Sehingga materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan pertanian.

Ilmu bersifat teori dan dengan bantuan ilmu petani dapat memikirkan segala sesuatu yang relevan dengan kondisi usahatani yang sedang dijalankan, sedangkan teknologi bersifat praktek yakni berupa penjabaran atau apa yang harus dilakukan dari apa yang telah dipikirkan. Oleh karena itu, materi penyuluhan haruslah sesuai dengan kebutuhan sasaran penyuluh (petani-peternak) sehingga dengan demikian sasaran penyuluhan akan memiliki perhatiannya dan termotivasi untuk mempraktekkannya. Dalam bahasa teknik penyuluhan pertanian, materi penyuluhan seringkali disebut sebagai informasi pertanian (Berisi data atau bahan yang dibutuhkan penyuluh, petani-peternak dan masyarakat tani).

Agar penyuluhan itu dapat diterima dan dimanfaatkan oleh sasaran penyuluhan, maka syarat-syarat materi penyuluhan yang dibuat haruslah :

a. Sesuai dengan tingkat kemampuan sasaran, sehingga dapat dipraktekkan,

Memiliki resiko kegagalan yang relative kecil dan biaya rendah. b. Mudah dilakukan dan bersifat praktis.

c. Tidak bertentangan dengan tata adat, kepercayaan dan pola pertanian-peternakan yang telah terbiasa dilakukan (tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang ada),

d. Memberikan keuntungan secara nyata bagi sasaran penyuluhan (Berpengaruh positif terhadap tingkat kehidupan petani/petrenak), e. Mengesankan dan memotivasi petani/peternak untuk melaksanakan

perubahan dan cara pikir, cara kerja dan cara hidup menuju perkembangan dan kemajuan,

f. Menggairahkan para petani/peternak sehingga mereka seakan-akan terbujuk untuk selalu mau memperhatikan, menerima, mencoba dan melaksanakan/menerapkannya dalam usahanya.

Selain itu, kegiatan penyuluhan dapat berisikan beberapa materi seperti a. Pengalaman, misalnya pengalaman petani yang sukses

mengembangkan komoditas tertentu.

(10)

c. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

d. Tidak merusak lingkungan, tercipta better living, better farming, better business, dan better environment

3. Metode Penyuluhan Pertanian

Untuk mencapai tujuan kegiatan penyuluhan secara baik dan terarah, diperlukan metode atau cara-cara penyuluhan pertanian yang bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan sehingga para petani-peternak dapat “menolong dirinya sendiri”, mengubah memperbaiki pola pikir, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.

Dalam kegiatan penyuluhan kita mengenal ada 3 metode pendekatan penyuluhan, yaitu :

a. Metode pendekatan perorangan (personal approach method)

Melakukan hubungan atau pendekatan secara langsung dengan sasaran yaitu seorang petani, biasanya dilakukan secara berdialog langsung, melakukan kunjungan ke rumah, sawah/ladang/padang/kandang, surat menyurat, melalui telepon, dll. Metode ini sangat efektif, tetapi akan banyak menyita waktu dan energi.

b. Metode pendekatan kelompok (Group approach method)

Dilakukan terhadap kelompok tani dimana para petani diajak dan didampingi serta diarahkan secara berkelompok untuk melaksanakan suatu kegiatan yang tentunya lebih produktif atas dasar kerja sama, dengan saling tukar pendapat dan pengalaman, demonstrasi, kursus,karyawisata, perlombaan kelompok, dan lainnya yang sifatnya kelompok. Metode ini biasanya lebih berdaya guna dan hasilnyapun akan lebih mantap.

c. Metode pendekatan massal (mass approach method)

(11)

dan tahap minat pada para petani/peternak pendengar penyuluhan, itupun kalau pendekatan-pendekatannya dapat dilakukan dengan baik, dapat menarik perhatian para petani/peternak kepada sesuatu hal yang lebih menguntungkan.

Sedangkan menurut mekanisme diterimanya materi/isi penyuluhan oleh para petani/peternak, maka metode penyuluhan dapat dibedakan atas: a. Metode yang dapat didengar, yaitu pesan-pesan penyuluh akan diterima

petani/peternak melalui pendengaran. Misalnya percakapan tatap muka, telepon, radio, tape recorder, pidato, ceramah dan lainnya.

b. Metode yang dapat dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh dapat dilihat atau diterima melalui penglihatannya. Misalnya pesan dalam bentuk gambar, spanduk/poster, leaflet, brosur, film bisu, pameran tanpa penjelasan vocal, slides dan lainnya.

c. Metode yang dapat di dengar dan dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh disampaikan melalui peragaan yang disertai petunjuk-petunjuk lisan, gambar di televisi, film bersuara, telepon bergambar, karyawisata, demonstrasi dan lainnya.

Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diketahui dalam metode penyuluhan, adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan untuk berpikir kreatif

b. Dilakukan di lingkungan kerja/kegiatan sasaran c. Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya. d. Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan e. Menciptakan hubungan yang akrab dengan sasaran. 4. Sasaran Penyuluhan Pertanian

Sasaran penyuluhan pertanian yaitu siapa sebenarnya yang akan disuluh atau ditujukan kepada siapa penyuluhan tersebut. Sehingga dalam konteks yang demikian, sasaran penyuluhan pertanian adalah para petani/peternak beserta keluarganya.

Sasaran penyuluhan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

a. Sasaran utama yang meliputi :  Petani dan keluarganya.

 Langsung terlibat dalam kegiatan.

(12)

 Perlu dilakukan identifikasi sebelum melaksanakan penyuluhan b. Sasaran penentu yang meliputi :

 Tidak terlibat langsung/bukan pelaksana kegiatan bertani, tetapi secara langsung /tidak langsung terlibat dalam penentuan kebijakan dan/atau menyediakan kemudahan-kemudahan pelaksanaan dan pengelolaan usahatani.

 Pimpinan lembaga pertanian, peneliti/ilmuwan, lembaga perkreditan, pedagang, produsen dan penyalur saprodi-alsintan, pengusaha/industri pengolahan hasil pertanian.

c. Sasaran Pendukung

 Secara langsung atau tidak langsung tidak memiliki hubungan dengan kegiatan pertanian tetapi dapat dimintai bantuan guna kelancaran penyuluhan pertanian.

 Pekerja sosial, seniman, biro iklan, konsumen hasil pertanian.

Beberapa istilah sasaran penyuluhan dalam penyuluhan pertanian:

 Petani naluri adalah petani yang cara usahanya masih seperti yang diwariskan oleh nenek moyangnya.

 Petani maju adalah petani yang telah menerapkan teknologi baru dalam usaha atau kegiatan-kegiatan bertaninya dan bersikap maju (progresif).  Petani teladan adalah petani yang usahanya dicontoh oleh para petani

lainnya di lingkungannya, akan tetapi mereka itu sendiri tidak/kurang aktif dalam penyebarluasannya.

 Kontak Tani merupakan petani-petani teladan yang aktif/berperan serta dalam usaha menyebarluaskan teknologi baru kepada para petani di desanya.

5. Media Penyuluhan Pertanian

Menurut bentuknya media penyuluhan pertanian dapat dibedakan :

a. Media visual : madia yang sifatnya dapat dilihat (slide, transparansi, gambar mati).

b. Media audio : media yang sifatnya dapat didengar (radio, peta didengar). c. Media audio visual : media yang sifatnya dapat didengar dan dilihat

(televisi, film).

d. Media tempat memeragakan (papan tulis, papan tempel, OHP, papan planel).

(13)

6. Waktu Penyuluhan Pertanian

Untuk melakukan pendekatan-pendekatan haruslah diketahui waktunya yang tepat, sebab pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara serampangan maka penyuluh akan mendapat penerimaan yang kurang baik sehingga maksudnya tidak kesampaian. Penyuluh harus mengetahui:

a. Kapan para petani/peternak ada di lapangan, aktif bekerja,

b. Kapan para petani/peternak ada dirumah, bersantai-santai dengan keluarga, c. Kapan para petani/peternak brkumpul disuatu tempat, bersantai

berbincang-bincang mengemukakan berbagai berita dan masalah.

(14)

BAB III. METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu Dan Lokasi Praktik

Praktik lapang mata kuliah Penyuluhan Pembangunan Pertanian dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2015 mulai dari pukul 09.10 sampai 11.30. Praktik lapang ini bertempat di Desa Sindang Kasih, Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

3.2 Teknik Penentuan Responden

Pengambilan sampel responden dalam praktikum Penyuluhan Pembangunan Pertanian ini menggunakan beberapa teknik. Di bawah ini disajikan secara rinci tentang teknik pengambilan responden.

1. Penentuan desa penelitian dilakukan secara purposive (disengaja) dengan ketentuan sesuai dengan kebutuhan praktikum.

2. Penarikan sampel dengan acak (Random Sampling), yaitu penarikan sampel secara acak dan tidak bermaksud untuk memilah-milah sampel.

3.3 Variabel Praktik

Dalam praktikum ini kami hanya menggunakan dua variable yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Dalam penelitian ini kami ingin melihat pengaruh dari efektivitas penyuluhan pertanian dan ketersediaaan sarana dan prasarana terhadap pembangunan pertanian di Desa Sindang Kasih. Adapun yang termaksud dalam variabel bebas yaitu penyuluhan pertanian dan sarana serta prasarana, sedangkan yang termaksud dalam variabel terikat yaitu pembangunan pertanian.

Sehingga apabila penyuluhan pertanian berjalan efektif dan sarana serta prasarana di Desa Sindang Kasih tersedia maka pembangunan pertanian di desa tersebut berjalan baik. Dan sebaliknya apabila penyuluhan pertanian tidak efektif dan sarana serta prasarana di Desa Sindang Kasih tidak tersedia maka pembangunan pertanian di desa tersebut tidak baik.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

(15)

dicirikan dengan observasi tak berperanserta, tehnik kuesioner, mencatat dokumen, dan partisipasi tidak berperan.

Menurut Sugiyono (2008) ada empat macam teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan gabungan/triangulasi. Berdasarkan pada pandangan Sugiyono maka teknik pengumpulan data dalam praktikum ini kami menggunakan ke empat teknik tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. Teknik Wawancara

Kami melakukan wawancara langsung dengan responden di tempat responden bekerja dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang sebelumnya telah kami persiapkan. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan pekerjaan dan kehidupan responden serta lingkungan sekitarnya. Pada saat wawancara kami menambahkan beberapa pertanyaan tambahan sebagai umpan balik (feed back) terhadap tanggapan atau jawaban dari pertanyaan sebelumnya untuk memperdalam informasi yang kami peroleh.

b. Teknik Observasi

Saat melakukan wawancara dan setelah wawancara kami melakukan observasi atau pengamatan terhadap kegiatan responden dan lingkungan sekitar responden baik lingkungan social maupun lingkungan alam. Dengan melakukan observasi (pengamatan) kami lebih merasakan kehidupan dari responden. Selain itu, pada saat observasi kami dapat melakukan dokumentasi dengan mengambil foto-foto.

c. Teknik Dokumen

Agar data dari hasil wawancara dan observasi lebih akurat dan mendukung hasil penelitian maka kami juga mengumpulkan data dari hasil penelitian sebelumnya yang juga bertempat di Desa Sindang Kasih.

Dalam kelompok 1 terdapat 6 orang, setiap orang mendatangi responden yang berbeda yaitu, petani sawah dan hortikultura, pekebun, pembuat tahu, pembuat kripik dan peternak. Dengan demikian dapat mengefisiensikan waktu dan dapat diperoleh data dari berbagai responden yang memiliki pekerjaan yang berbeda pada waktu yang sama.

d. Teknik Triangulasi

(16)

dokumen dan sumber data seperti hasil penelitian sebelumnya agar diperoleh keabsahan dalam penulisan laporan ini.

3.5 Analisis Data

Adapun analisis data dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Tahap pertama pengolahan data dimulai dari penelitian pendahuluan hingga tersusunnya usulan penelitian.

2. Tahap kedua, pengolahan data yang lebih mendalam dilakukan dengan cara mengolah hasil kegiatan wawancara dan pengumpulan berbagai informasi lapangan di lokasi penelitian.

3. Tahap ketiga, setelah itu dilakukan pemeriksaan keabsahan data hasil wawancara dengan sejumlah nara sumber yang dijadikan informan penelitian serta membandingkan data tersebut dengan berbagai informasi yang terkait. 4. Tahap akhir adalah analisis data dalam rangka menjawab

(17)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Praktik

4.1.1 Gambaran Umum Desa Sindang Kasih

Desa Sindang Kasih merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Struktur sosial masyarakat di desa Sindang Kasih bersifat heterogen karena secara sosial budaya masyarakat terdiri dari beberapa suku yaitu suku Sunda, suku Muna, suku Tolaki dan suku Bugis walaupun mayoritas masyarakat di desa tersebut adalah suku Sunda. Suku Muna, suku Bugis dan suku Tolaki merupakan suku pendatang di desa Sindang Kasih dan menjadi bagian dari masyarakat asli desa karena ikatan pernikahan antara masyarakat setempat dengan masyarakat di luar desa. Sehingga suku di desa Sindang Kasih yang semula seragam yaitu suku Sunda seiring perkembangan zaman telah membentuk suku yang beragam.

Mayoritas masyarakat di Desa Sindang Kasih bekerja sebagai petani, peternak dan petani sekaligus pedagang sayur-sayuran. Pola permukiman masyarakat di desa Sindangkasih yaitu mengelompok karena terdiri atas beberapa dusun. Jarak antara rumah penduduk tidak terlalu jauh dan berjejeran. Kondisi tanahnya tidak rata ada dataran tinggi dan ada dataran rendah. Lahan pertanian terletak disekitar rumah penduduk seperti kebun terong yang dibuat di samping rumah, selain itu kandang hewan ternak seperti ayam dan sapi tidak dibuat jauh dari permukiman melainkan di samping rumah. Dengan tujuan lebih mudah merawat dan memberi makan hewan ternak tersebut.

4.1.2 Karakteristik Responden

a. Responden 1 (petani padi sawah dan hortikultura)

Bapak Lili Harun yang berusia 56 tahun dengan pengalaman menjadi petani selama 46 tahun. Bapak Lili Harun beretnik Jawa Barat (Sunda), merupakan penduduk asli Jawa Barat yang kemudian berpindah dan hidup menetap di Sindang Kasih selama puluhan tahun. Memiliki banyak pengalaman dalam budidaya padi sawah di Sindang Kasih. Sehingga dapat menjadi nara sumber yang tepat.

(18)

Ibu Kharma yang beretnik Sunda merupakan petani jagung dan kacang-kacangan serta memiliki kebun jeruk. Ibu Kharma memiliki 4 orang anak dan seorang suami yang bekerja sebagai petani padi sawah dan pekerjaan sampingan pedagang. Ibu Karma sudah bekerja sebagai petani selama 1 tahun lebih.

c. Responden 3 (pemilik industry rumahan keripik ubi dan pisang)

Responden yang ke dua yaitu Bapak Dedi yang merupakan pemilik sekaligus pengolah industry rumahan keripik ubi dan pisang. Bapak Dedi menjalankan usahanya bersama seorang istri dan tiga orang anak. Pak Dedi telah menjalankan usahanya selama enam tahun yang mulai dirintis pada tahun 2009.

d. Responden 4 (pemilik industry rumahan pengolahan tahu)

Responden yang ke tiga adalah pemilik sekaligus pengolah tahu yang bernama Pak Amir yang berusia 60 tahun. Pak Amir mengolah usaha tahu bersama istri yang bernama Ibu Marti. Usaha tersebut telah berjalan selama 12 tahun. Sehingga dengan pengalaman yang cukup lama Pak Amir dan Ibu Marti sangat baik dijadikan sebagai responden untuk mengetahui berbagai informasi tentang pengolahan tahu seperti cara pembuatan tahu, bahan dan alat yang diperlukan, harga pasaran tahu dan lain-lain.

e. Responden 5 (masyarakat)

Rusan Achmari satus sudah menikah dan pekerjaan sebagai pedagang sayur.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Keadaan Pertanian di Desa Sindang Kasih dan Masalah yang Dihadapi Petani

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani yaitu Lili Harun yang berusia 56 tahun. Petani di Desa Sindang Kasih telah memasuki generasi kedua yang lahan persawahannya sekitar 60 ha adalah milik petani dan sisanya milik orang lain atau dapat dikatakan sebagai petani penggarap. Dengan pembagian 2 : 1 yaitu petani 2 dan pemilik lahan 1. Sedangkan generasi pertama telah beralih dari usaha budidaya padi sawah menjadi usaha budidaya tanaman hortikultura.

(19)

melakukan penyuluhan kepada masyarakat desa Sindang Kasih hanya pada waktu-waktu tertentu ketika petani membutuhkannya misalnya pada saat tanaman padi terserang hama. Metode-metode yang digunakan oleh penyuluh pada saat melakukan penyuluhan yaitu dengan metode berkelompok dengan diskusi, melakukan pelatihan atau menerapkan langsung dilapangan. Penyuluh juga menyediakan bibit padi untuk para petani dengan harga 2500/kantong. Kegiatan penyuluhan di Desa Sindang Kasih dapat dikatakan efektif terlebih lagi penyuluh pertanian di desa tersebut tinggal di sekitar masyarakat sehingga mudah berkomunikasi. Namun terdapat beberapa orang petani yang kurang ikut serta dalam kegiatan diskusi antara petani dan penyuluh sehingga kurang memperoleh informasi.

Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pengembangan potensi pertanian yang ada didesa Sindang Kasih yaitu seperti traktor, pacul, alat penggilingan padi dan pembangunan jalan yang baik. Untuk traktor yang tersedia berjumlah lima buah untuk lima kelompok tani yang total anggotanya sekitar 30 orang petani. Traktor tersebut disewakan dengan biaya sewa sebesar Rp 1.500.000. untuk anggota kelompok tani dan selain dari anggota kelompok tani menyewanya dengan biaya sewa Rp 1.800.000. Ada juga sebagian masyarakat yang memiliki modal meminjamkan alat pemanen padi yang hasilnya langsung dalam bentuk gabah. Dari hasil panen tersebut, maka dilakukan sistem bagi hasil dengan perbandingan 10 : 1.

(20)

Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat terutama permasalahan yang berkaitan dengan uahatani yaitu masyarakat desa Sindang Kasih masih kekurangan pupuk. Pupuk digunakan oleh masyarakat bermacam-macam, akan tetapi pupuk yang paling sering digunakan oleh masyarakat Desa Sindang Kasih yaitu pupuk urea dan NPK. Selain itu, system pertanian di Desa Sindang Kasih adalah system pertanian tadah hujan karena hanya memanfaatkan air tadah hujan sehingga hanya bisa melakukan penanaman satu kali dalam setahun. Sekalipun terdapat bendungan atau waduk akan tetapi bendungan atau waduk tersebut kering pada saat musim kemarau. Sebernarnya pemerintah setempat telah membangun sumur bor untuk mengairi persawahan akan tetapi karena mata air di tempat tersebut sangat dalam sehingga air yang dikeluarkan tidak cukup. Dan sekarang sumur bor tersebut sudah tidak dimanfaatkan lagi. Masalah lain yang dihadapi para petani terkait usahataninya yaitu hama ulat, walang sangit dan tikus yang menyerang tanaman padi. Untuk mengatasi hama ulat dengan menyemprotkan pestisida, untuk hama tikus para petani melakukan penanaman padi secara serentak, dan untuk hama walang sangit petani menyemprotkan dangke. Luas persawahan di Desa Sindang Kasih sekitar 150 hektar akan tetapi ketika para petani panen harga beras langsung turun, berbeda dengan di Desa Jati Bali yang ketika panen harga beras naik. Sehingga petani di Desa Sindang Kasih kurang menikmati harga beras yang naik.

Selain padi sawah petani di Desa Sindang Kasih juga menanam tanaman hortikultura atau sayur-sayuran. Untuk petani yang memiliki sawah, mereka akan menanam hortikultura setelah panen untuk mengisi waktu senggang. Adapun hasil dari panen hortikultura para petani langsung menjualnya di pasar baruga dengan menggunakan truk.

4.2.2 Industri Rumahan Keripik Ubi dan Pisang dan Masalah yang Dihadapi oleh Pemilik Usaha

(21)

sendiri dengan bantuan istri dan ke tiga orang anaknya. Usaha keripik tersebut sudah berjalan selama 6 tahun. selain itu Pak Dedi juga menjual sayur yang bergantian dengan anak sulungnya apabila Pak Dedi sedang memproduksi kripik maka anaknya yang menjual akan tetapi apabila tidak memproduksi Pak Dedi kembali menjual sayur.

Awal ketertarikan Pak Dedi dengan usaha ini adalah dengan melihat di TV tentang pengolahan keripik ubi dan pisang sehinga dia memberanikan diri untuk mencoba dan belajar secara otodidak dalam membuat bumbu-bumbu keripiknya dan alat untuk menipiskan bahan baku dari keripik ini. Pak Dedi bersama keluarganya perna gagal dalam melakukan usahanya ini dengan kendala pemasokan bahan baku yang tidak lancer dan sarana serta prasarana yang tidak mendukung .

Akan tetapi pak Dedi dan sang istri tidak puas dengan apa yang terjadi karena mereka tetap yakin bahwa usaha yang meraka lakukan akan berhasil suatu hari nanti, akhirnya Pak Dedi pun memulai lagi usahanya pada tahun 2009 hingga sekarang. Usaha Pak Dedi pun cukup sukses karena selama menjalankan usaha dari 2009 ini tidak memiliki kendala apapun dalam pemasokan bahan baku dari luar.

Pak Dedi memproduksi kripik sebnayak 4 kali per minggu dimana produksinya itu selang seling kalau misalkan hari ini membuat kripik ubi maka esok harinya akan membuat kripik pisang, bahan baku yang digunakan pak Dedi diambil dari daerah sebelakwa dan palangga, yang diantarkan oleh pemasok sendiri kerumah pak Dedi sebanyak 2 karung per satu kali produksi. Dua karung bahan baku ini biasanya menghasilkan 40 gantung yang biasanya terdiri dari beberapa bentuk ukuran produk, ada yang di jual secara eceran Rp 500, ada juga yang per kilo dan ada juga yang dijual dengan bungkus yang besar dengan harga Rp 5.000. dalam satu gantung terdapat 24 bungkus kripik.

(22)

Pak Dedi mempunyai keinginan untuk memperbesar usahanya akan tetapi tidak memiliki modal yang cukup, Pak Dedi mengharapkan bantuan dari pemerintah desa untuk membantunya akan tetapi belum juga ada respon dari pemerintah desa. Pak Dedi berharap jika usaha ini lebih besar lagi akan memberikan peluang untuk orang lain bekerja sehingga usaha ini bisa memberikan manfaat oleh masyarakat sekitar produksi.

Usaha mereka pernah dikunjungi oleh Badan POM akan tetapi tidak ada manfaat yang mereka peroleh dari kunjungan tersebut, padahal mereka sudah berharap banyak dengan adanya kunjungan tersebut. Pak Dedi sempat ingin mengurus persyaratan agar produknya dapat mempunyai kode produksi akan tetapi persoalan waku dan jarak yang sangat jauh yang harus di tempuh Pak Dedi dalam mengurus semua itu membuat sampai sekarang hal itu belum juga tercapai. Jika ada yang bersedia mengurus hal tersebut mereka mau membayar tapi dengan catatan tidak terlalu mahal.

Beberapa tahun lalu ada orang yang mengatasnamakan usaha Pak Dedi sekeluarga untuk meminta bantuan dari pemerintah, akan tetapi hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan pak Dedi atau anggota keluarga yang lain, karena hal ini pak Dedi dan keluarga mendapat caci maki dari warga sekitar, sehinga pak Dedi dan keluarga trauma dengan hal yang harus berurusan dengan pemerintah mengenai permintaan bantuan dari pemerintah untuk usahanya. Karena peristiwa tersebut Pak Dedi dan keluarga memutuskan menjalankan usahanya tanpa bantuan dari pemerintah.

4.2.3 Industri Rumahan Pengolahan Tahu

Pak Amin adalah seorang kepala keluarga yang menjalankan usaha pabrik tahu ini bersama istrinya ibu marti selama 12 Tahun. Pekerjaan utama adalah mengelola pabrik tahu dan pekerjaan sampingan adalah menggarap sawah. Jenis pekerjaan yang ini sudah sesuai dengan keinginan dan harapannya untuk menambah penghasilan keluarga.

(23)

pribadi sebesar Rp. 5.000.000. adapun bahan dasarnya atau kedelai diambil dari Konda.

Bahan dasarnya adalah kedelai, dari kedelai bisa menghasilkan beberapa produk yaitu:

1. Tahu basah

2. Ampas tahu menjadi tempe gembus

3. Air tahu dapat dikemas didalam botol aqua kecil dan langsung bisa

5. Kain Saring atau kain blancu 6. Kain pengaduk

7. Cetakan 8. Keranjang 9. Rak bamboo

10. Tungku atau kompor

11. Alat penghancur / mesin penggiling 12. Alat pemotong

 Langkah-langkah (proses) pembuatan tahu jambi adalah sebagai berikut: 1. Kedelai yang tersedia dicuci hingga bersih.

2. Lalu kedelai yang sudah bersih tersebut direndam dalam air selama ± 2-3 jam.

(24)

4. Setelah digiling kedelai yang sudah halus tersebut kita masukkan dalam bak-bak untuk selanjutnya dipanaskan.

5. Setelah dipanaskan selama ± 10 menit kemudian selanjutnya dipindahkan ke kain penyaring dan dibutuhkan waktu ± 10 menit agar sari kedelai dapat terpisah dari ampasnya. Untuk mempermudah proses terpisahnya sari kedelai dari ampasnya maka ditambahkan air sambil terus diaduk-aduk.

6. Ampas tahu akan tetap bertahan dalam kain sementara sari dari kedelai akan jatuh kedalam bak yang sudah disiapkan dibawahnya.

7. Ampas tahu yang tertahan pada kain lalu dibuang, sedangkan sari tahu dalam bak akan diolah lebih lanjut untuk menjadi tahu.

8. Sari tahu yang ada dalam bak kemudian akan ditambahkan biang/bibit (air tahu) secara terus menerus sambil terus diaduk untuk memisahkan sari kedelai dari air biasa. Penambahan biang/bibit (air tahu) bertujuan agar sari kedelai dalam bak dapat mengendap dengan baik.

9. Proses inipun memakan waktu ± 20 menit sampai air akan terpisah dari sarinya. Setelah itu air biasa tersebut akan disedot hingga terpisah dari sari kedelai. Air ini tidak selanjutnya dibuang, melainkan digunakan untuk menjadi biang/bibit (air tahu) pada proses diatas.

10. Setelah yang tersisa dalam bak hanyalah sari kedelai, maka sari-sari tersebut akan diangkat dengan menggunakan penyaringan untuk seterusnya dimasukkan ke cetakan tahu.

11. Setelah dirasa sudah cukup maka cetakan kemudian ditutup. Proses ini berfungsi untuk memberi bentuk pada produk tahu yang nantinya diasilkan sekaligus unutk meniriskan air yang masih tertempel pada sari kedelai tersebut.

12. Lama penyimpanan dalam cetakan ± 15 menit. Jika kita ingin tahu yang lebih keras kita tinggal menambah waktu pendiaman dalam cetakan. 13. Kemudian tahu yang sudah tercetak tersebut diris menajdi

potongan-potongan kecil.

(25)

dengan cara berkeliling kampung, dari rumah kerumah setiap hari di sekitar Desa Sindang Kasih dan terkadang sampai di Desa Jati Bali. Limbah pabrik tahu ini tidak mengganggu masyarakat setempat karena pengusaha tersebut sudah menyiapkan saluran pipa yang akan terus mengalir ke sungai. Sehingga dalam usaha pengolahan tahu ini dapat dikatakan tidak mengalami masalah dan modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar.

4.2.4 Keadaan Peternakan di Desa Sindang Kasih

Hewan ternak yang dihasilkan di Desa Sindang Kasih yaitu mayoritas sapi, ayam potong dan itik. Sedangkan untuk hewan kambing masih jarang. Untuk kandang hewan ternak tidak diletakkan jauh dari rumah pemilik melainkan di samping rumah. Sebab dengan jarak antara kandang dengan rumah pemilik yang dekat memudahkan pemilik hewan ternak dalam memantau hewan ternaknya atau pun memberikan makanan.

Hewan ternak langsung dipasarkan ke pemotongan sapi tapi biasanya pembeli atau tengkulak dari pasar yang dating membeli. Jika sedang lebaran maka pembeli yang datang langsung ke rumah pemilik. Adapun harga sapi jantan dengan umur 2-3 tahun dijual dengan harga Rp. 8.000.000. sedangkan untuk sapi yang berumur 1 tahun seharga Rp. 4.000.000. Untuk sapi induk dengan umur 2-3 tahun dijual seharga Rp. 6.000.000. sampai Rp. 7.000.000.

Sebelumnya ada bantuan untuk memelihara sapi dari LIPI. Masalah yang dihadapi oleh peternak yaitu sudah tidak ada bantuan yang diberikan seperti dulu, sebut saja bantuan obat-obatan untuk sapi. Sehingga usaha peternak di Desa Sindang Kasih dijalankan tanpa bantuan pemerintah. Masalah lain yaitu sulitnya untuk menyiapkan makanan untuk hewan ternak. Untuk sapi makanan yang diberikan yaitu rumput atau sisa-sisa hasil panen.

(26)

Berdasarkan pada Bab IV Hasil dan Pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Desa Sindang Kasih mayoritas bekerja sebagai petani padi sawah dan sayur-sayuran, peternak sapi, ayam, dan itik, serta telah berdiri industry rumahan pengolahan tahu, dan industry rumahan pembuatan keripik ubi dan pisang.

Adapun masalah yang dialami masyarakat petani dalam usahatani yaitu tidak memadainya saluran irigasi untuk mengairi sawah, keringnya bendungan pada saat musim kemarau, serta sumur bor yang tidak dapat digunakan. Sedangkan pembangunan yang telah berlangsung di Desa Sindang Kasih dalam usahatani yaitu telah dibangun pabrik penggilingan gabah dan pengadaan traktor. Untuk hewan ternak di Desa Sindang Kasih mayoritas sapi, ayam potong dan itik, untuk kambing masih sangat jarang yang memelihara. Untuk pemasaran hewan ternak yaitu pembeli atau tengkulak dating langsung ke rumah peternak. Sedangkan untuk industry rumahan pengolahan tahu dan keripik ubi dan pisang, pemilik usaha hanya mengandalkan modal pribadi dibandingkan harus meminjam ke badan perkreditan.

Untuk kegiatan penyuluhan pertanian di Desa Sindang Kasih dapat dikatakan sudah efektif karena materi yang disampaikan oleh penyuluh sudah sesuai kebutuhan petani, waktu penyampaian pada saat tertentu ketika petani membutuhkan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam usahatani atau pun ketika harus mendiskusikan upah kerja pada hari tanam. Sedangkan metode yang digunakan yaitu berkelompok dengan diskusi.

(27)

5.2 Saran

Kami menyarankan agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat memerhatikan para petani, peternak, dan pemilik industry rumahan. Karena mereka merupakan ujung tombak pembangunan pertanian di Indonesia dan bekerja keras agar produksi pertanian bisa meningkat. Setiap masalah yang dialami oleh mereka akan memperlambat pembangunan pertanian.

Hendaknya penyediaan sarana dan prasarana di pedesaan ditingkatkan bukan hanya focus pada pembangunan perkotaan. Penyediaan bibit, benih, pupuk, dan traktor sangat dibutuhkan untuk menjamin produksi pertanian yang tinggi.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Kurnia. 2014. Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif.

http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2014/03/metode-dan-tehnik-pengumpulan-data.html Diakses tanggal 9 Juni 2015.

Anonim. 2014. Contoh Teknik Analisis Data Penelitian. http://tesisdisertasi.blogspot.com/2014/11/contoh-teknik-analisis-data-penelitian.html Diakses tanggal 11 Juni 2015.

Damayanti Hilda. 2013. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. https://damayantihilda4.wordpress.com/2013/04/14/variabel-penelitian-dan-definisi-operasional/ Diakses tanggal 11 Juni 2015.

Deddy Randu. 2010. Unsur-unsur Penyuluhan Pertanian. http://deddyrandu. blogspot.com/2010/03/unsur-unsur-penyuluhan-pertanian.html Diakses tanggal 9 Juni 2015.

(29)

LAMPIRAN Lampiran 1. Kuisioner dalam wawancara

a. Kuisioner wawancara tentang pertanian (padi sawah dan hortikultura)

1. Apa saja materi atau pesan yang disampaikan oleh penyuluh kepada para petani? Setiap kapan kegiatan penyuluhan dilakukan ? dan bagaimana cara penyuluh menyampaikan materi atau pesannya kepada para petani ?

2. Apa saja sarana dan prasarana yang sudah ada di Desa Sindang Kasih (misalnya pembangunan bendungan, irigasi dan lain-lain)?

3. Pabrik apa saja yang sudah dibangun di Desa Sindang Kasih untuk mempermudah kegiatan usahatani ?

4. Bagaimanakah pembangunan di Desa Sindang Kasih ?

5. Apa saja masalah yang dihadapi dalam usahatani ? serta hama dan penyakit apa yang menyerang tanaman budidaya ?

6. Apakah bapak/ibu memiliki pekerjaan lain selain bertani ? 7. Apakah ada bantuan dari pemerintah setempat ?

8. Apakah lahan yang digarap adalah milik pribadi ? 9. Di mana bapak menjual hasil panen sayur-sayuran ?

b. Kuisioner wawancara tentang industry rumahan (keripik ubi dan pisang)

1. Berapakali membuat kripik dalam waktu satu minggu?

2. Berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan dalam sekali membuat kripik?

3. Darimana bahan baku kripik ini di ambil? 4. Berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan? 5. Ada berapa varian rasa kripik ini?

6. Apa kendala yang di hadapi dalam membuat kripik ini? 7. Sejak kapan usaha ini mulai dirintis?

8. Darimana mendapat ide membuat kripik ini? 9. Mengapa mengambil usaha ini?

10. Apa pekerjaan lain yang bapak tekuni ?

c. Kuisioner wawancara tentang industry rumahan (pengolahan tahu) 1. Bagaimana proses pembuatan tahu ini ?

2. Apa saja bahan yang disiapkan ?

3. Bagaimana proses pemasaran produk tahu ini ? 4. Berapa harga jual dari produk tahu ?

5. Apakah warga sekitar mendukung dengan adanya pabrik tahu ini ? 6. Apakah limbah pabrik tahu ini tidak mengganggu warga sekitar ? 7. Apakah ada pekerjaan sampingan selain mengelolah pabrik tahu ? d. Kuisioner wawancara tentang peternakan

(30)

3. Berapa harga hewan ternak sapi ?

4. Apa saja masalah yang dihadapi dalam memihara hewan ternak ? 5. Di mana letak kandang hewan ternak yang bapak/ibu pelihara ?

(31)

Lampiran 2

a. Gambar Pengolahan tahu di industry tahu

Gambar 1. Kedelai kering Gambar 2. sesudah direndam

Gambar 3. Kedelai digiling Gambar 4. Kedelai direbus

(32)
(33)

b. Gambar pembuatan keripik ubi dan pisang di industri tahu

Gambar 1. Ubi diiris Gambar 2. Ubi yang direndam

Gambar 3. Ubi digoreng Gambar 4. Ubi ditiriskan

(34)
(35)

c. Gambar keadaan persawahan di Desa Sindang Kasih

sn

Gambar 1. Kondisi pengairan sawah Gambar 2. Persawahan

(36)

d. Gambar keadaan peternakan di Desa Sindang Kasih

Gambar 1. Keadaan kandang sapi Gambar 2. Sapi di samping rumah

Gambar

Gambar 5. Ampas tahu
Gambar 7. Tahu yang didiamkan
Gambar 2. Ubi yang direndam
Gambar keadaan persawahan di Desa Sindang Kasih
+2

Referensi

Dokumen terkait

3. Standar prestasi yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebanyak 20 pemeriksaan bagi setiap pemeriksa per tahun, oleh karena itu para pemeriksa hendaknya

Wawancara singkat yang dilakukan peneliti melibatkan empat orang yang memiliki latar belakang berbeda berdasarkan jenis kelamin, usia pendidikan dan pekerjaan yang berbeda

Mengingat penyediaan infrastruktur jalan tol untuk kemajuan dan pemerataan pembangunan dengan bentuk Kerjasama Pemerintah dan Swasta masih akan terus berkembang

AMI yang sebelumnya merupakan gerakan arsitek muda yang berusaha mendobrak kemapanan dan kemandegan perkembangan desain Indonesia (;klaim mereka,tentunya) dengan

Tahapan selanjutnya utnuk menggabungkan kedua aspek yang berbeda tersebut dengan konsep arsitektur anti tradisi maka hasil analisis (geometri dasar) dari massa

Radang akut mukosa kavum nasi oleh infeksi ( self limiting disease) yang sering diikuti infeksi sekunder oleh bakteri yang bermanifestasi sebagai kumpulan gejala dimana gejala

 – 1 terpajan cairan tubuh tercampur darah  – 3 terpajan langsung dengan virus di Lab.. Luka tusuk  #aru.. PE2ERIKSAAN KESEHATAN PE2ERIKSAAN KESEHATAN?. 8 Dilakukan secara

(3) UPTD Satuan Pendidikan Formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf g angka 1 dipimpin Kepala Sekolah yang dijabat oleh jabatan fungsional guru sesuai