S
EJARAH DAN PERKEMBANGAN
PERMUKIMAN
D A L A M S T R U K T U R T A T A
R U A N G K O T A
SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA & PERM. DI
INDONESIA
Perkembangan perumahan di perkotaan merupakan bagian dari perkembangan perkotaan secara keseluruhan yang dipengaruhi oleh perkembangan berbagaifaktor seperti ekonomi, sosial budaya, politik, teknologi dan keadaan alam
perkembangan perumahan di perkotaan akan lebih mudah dimengerti dengan
menguraikan terlebih dahulu perkembangan perkotaan di Indonesia sebagai
dampak dari berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Kota dapat menunjukkan ciri dari berbagai zaman dan budaya yangmempengaruhinya. Sepanjang perkembangan sejarah, kota berkembang mengikuti perkembangan penduduknya.
Kota tumbuh menjadi lebih besar (berkembang dari permukiman pedesaan yang
sudah ada atau dengan membangun kota baru).
Kota dapat mengalami kemunduruan (Banyumas di Jawa Tengah, Situbondo
dan Bondowoso di Jawa Timur.
Kota dapat lenyap sama sekali (ditinggal oleh penduduknya; hancur akibat
perang, bencana alam, atau akibat mundurnya kegiatan ekonomi yang mendukungnya).
Kota-kota tua di Indonesia sulit dikenali bahan bangunan tidak tahan lama(kayu, bambu, daun-daunan) dan jalan tidak diperkeras dengan konstruksi yang
tidak tahan lama jika ditinggalkan penduduknya umumnya sulit dikenali
lokasinya yang pasti dan pola kotanya. ciri utama kota kuno yang masih dapat dikenali hasil catatan orang Indonesia, Eropa, Cina, dan India adalah : kerajaan
Sriwijaya, Tarumanegara, dan Majapahit.
Kota-kota tua yang masih dapat dilihat bekasnya dan dapat dipelajari sisa-sisanyaadalah kota-kota yang dibangun setelah masuknya Agama Islam ke Indonesia dan
kota-kota setelah kedatangan orang-orang Eropa (terutama bangsa Belanda).
Perkembangan kota dibagi secara kronologis kedalam empat masa : masa
kedaulatan, masa Republik Indonesia merdeka penuh perkembangan perkotaan membawa dampak pada perkembangan permukiman dari masa ke masa.
KOTA & PERMUKIMAN SEBELUM MASUKNYA PENGARUH EROPA
Masa sebelum masuknya pengaruh Eropa (khususnya kebudayaan Belanda) Kota-kota di Indonesia tumbuh dan berkembang di bawah pengaruh kebudayaan
Hindu dan Budha, disusul kemudian oleh kebudayaan Islam.
Kota-kota tersebut pada umumnya merupakan pusat-pusat kerajaan atau
perdagangan : Muarakaman, Tarumanegara, Majapahit, Mataram, Banten, Tuban, Sriwijaya, Samudera Pasai, Perlak, Jailolo, Todore, Ternate, Bacan, dan Makasar.
Kebanyakan pola tata ruang kota-kota kerajaan di Jawa (seperti : pola kota
kerajaan Yogyakarta dan Surakarta) mengikuti suatu pola dasar dengan
memeperhatikan empat arah mata angin yaitu arah Utara, Selatan, Barat dan Timur
serta dengan suatu anggapan bahwa kota merupakan sesuatu organisme yang
hidup, seperti manusia (Johan Silas, 1981) penyusunan tata ruang mengikuti
tubuh manusia :
Utara : tempatnya kepala (menunjukkan hal-hal yang resmi dan kebesaran).
Selatan : letak kaki dan kelamin (menunjukkan kekeluargaan atau keturunan).
Timur : arah matahari terbit dan melambangkan tangan kanan (menunjukkan kerja atau yang
Konsep tata ruang kota yang berada di bawah pengaruh kebudayaan Hindu masihdapat dilihat pada pola perkampungan dan kota-kota kecil di Bali. Konsep Tri
Hita Karana.
Arah Laut : letak kuburan atau tempat yang kotor (pemandian umum).
Arah Gunung Agung : tempat paling suci (Hindu Bali)
Antara L dan GA : pembangunan perumahan.
Tempat yang jauh dari GU tetapi dekat dengan gunung
Kampung di Bali dianggap sebagai makhluk yang hidup
KOTA DAN PERMUKIMAN SETELAH MASUKNYA PENGARUH EROPA
Kota-kota sebelum kedatangan bangsa Eropa, dapat dikelompokkan atas dua :Kota Pantai
pusat perdagangan regional dan
internasional yang memiliki pelabuhan.
Tinggal orang-orang dari berbagai suku
dan bangsa, berkelompok secara
terpisah (masing-masing dipimpin oleh ketua kelompok dan tunduk pada raja/sultan).
Kota Pantai berpusat di alun-alun (di
sebelah Barat alun-alun terdapat masjid,
disebelah Selatannya keraton, di
sebelah timur terdapat pasar.
Di sekitar alun-alun dan bangunan utama
terdapat perumahan bangsawan.
Rumah-rumah rakyat mengelilingi rumah para bangsawan.
Kadangkala kotanya dikelilingi oleh
tembok pengaman dan parit.
Perkampungan orang asing ditempatkan
terutama terdapat di Jawa
ditunjang dengan kegiatan pertanian.
Perdagangan hasil pertanian (bahan
makanan) melalui kota-kota pantai
dengan alat transpor sungai atai pedati.
Berpusat di istana dengan alun-alunnya
(seperti kota pantai). lebih jauh dari pusat kota).
Kota pedalaman di Sumatera kegiatan
pertanian sangat sedikit (dibangun di
sekitar muara sungai).
Penentuan lokasi dan perencanaan kota dilakukan olehraja-raja (termasuk keputusan untuk memindah suatu kota/kerajaan).
Tanah pada masa ini belum merupakan masalah.
Kedatangan bangsa Eropa (Belanda) membawa perubahan kepada perkembangan kota-kota di Indonesia :
Memerangi raja-raja pribumi dan menghancurkan kotakerajaannya.
Membangun kota sebagai benteng pertahanan serta pusatperdagangan dan pemerintahannya (pangkalan pertama Ambon/Benteng
Victoria dan Ternate/ Benteng Oranje).
Karena kuang strategis, tahun 1609 Belanda menyerang danmenghancurkan Jayakarta dan membangun Kota Batavia dengan pola
sebelah timur Sungai Ciliwung. Bentuk kotanya kurang lebih persegi empat
dan di setiap sudutnya di bangun bastion (ditempatkan meriam).
Kota Batavia dikelilingi dengan tembok dan dijadikan pusat pemerintahan VOC serta tempat tinggal VOC. Di kanan kiri kanal-kanal yang dibuat dibangun rumah-rumah seperti rumah-rumah disepanjang kanal-kanal diAmsterdam.
ikan, dan gudang bahan makanan.
Bagian Timur terdapat Stadshuis (museum Fatahilah sekarang) dan
pemukiman orang-orang kaya dengan taman yang luas.
Orang-orang Belanda tinggal di dalam tembok, sedangkan orang-orang
pribumi tinggal di kampung-kampung di luar tembok. Karena kondisi makin
padat, orang-orang Belanda pindah ke arah Selatan yang lebih dingin dan
sejuk di Weltevreden (Lapangan Banteng sekarang) dan Jacatra Weg (Jalan Pangeran Jayakarta sekarang dan berakhir dekat kali Ciliwung) serta
Buitenzorg (sekarang kota Bogor). Sungai Ciliwung dijadikan halaman belakang dan digunakan sebagai tempat pemandian dan pangkalan perahu.
Daendels memindahkan kantor-kantor pemerintah dari Batavia ke
Weltevreden dengan membangun istana baru di Lapangan Banteng. Di
sekeliling Lapangan Banteng di bangun perumahan opsir Belanda dan tangsi
militer. Lapangan Gambir dijadikan tempat latihan militer. Di sekitar lapangan
Gambir dibangun dan bermunculan vila-vila dengan pekarangan yang luas.
Daerah Rijkswijk (Jalan Veteran) dikosongkan dari orang-orang Indonesia
dan Cina dan diperuntukkan untuk orang-orang Eropa. Daerah tersebut
dibangun hotel dan rumah para opsir, dan kemudian sebagian (Jalan
Mojopahit) berubah menjadi pusat perbelanjaan orang-orang Belanda. Pada
awal abad XX, Weltevreden diperluas dengan pemukiman mewah di Menteng
dan Gondangdia.
Terjadi pencampuran budaya Belanda-Indonesia yang disebut Indische Cultuur
(bukan Belanda dan bukan Indonesia). Dengan adanya keluarga-keluaga
bangsa Belanda, masyarakat terbagi dalam empat golongan yaitu : golongan
Kota lama yang ditinggal kemudian ditempati oleh orang Indonesia dan Cina. Sejak pemberontakan Cina pada tahun 1740, daerah Glodog ditetapkan Kompeni sebagai pusat perkampungan Cina (Pecinan). Di sebelah Timut Batavia terdapat kubu pertahanan (Ancol) dan di sebelah Selatannya terdapat pos keamanan (Harmoni dan Pintu Air). Orang-orang Belanda mendominasi kota. Orang-orang Indonesia yang tinggal di
kampung-kampung makin terdesak ke daerah pinggiran, terutama yang tinggal di sepanjang jalan-jalan utama. Kondisi daerah pinggiran kekurangan prasarana dan sarana lingkungan, sehingga kondisinya kumuh. Kekurangan rumah mulai di rasakan. Orang-orang pribumi yang mencari pekerjaan di kota semakin memadati permikiman kumuh tersebut. Undang-undang Desentralisasi (awal abad 20) mengatur kotamadya otonom ubtuk masyarakat Eropa. Baru pada tahun 1918 Pemerintah Kotamadya diizinkan untuk mengatur kampung-kampung pribumi. Tahun 1927 Pemerintah Kotamadya memulai kegiatan perbaikan kampung untuk memperbaiki darah kumuh.
Orang yang paling banyak pengaruhnya dalam perancangan kotadi Indonesia adalah Thomas Karsten (datang tahun 1914 sebagai seorang arsitek). Ia menyiapkan rencana kota yang lengkap mencakup : rencana umum, rencana rinci dan peraturan bangunan bagi Pemerintah Kota (tahun 1929 menetapkan Garis Sempadan Bangunan dan tahun 1940 menyusun pedoman perancangan kota untuk Indonesia). Menurut Karsten, perancangan kota merupakan upaya untuk membentuk kota secara organis. Pertumbuhan kota secara alamiah dapat merugikan kepentingan umum (dari aspek estetika dan kesehatan). Pembagian kota berdasarkan ekonomi, bukan berdasarkan ras atau etnis.
Perkembangan kota yang pesat didukung oleh perkembangan teknik angkutan.
Semula berupa kahar, sado, dan delman.
Tahun 1869 terdapat trem yang ditarik kuda dengan rute Kota –Harmoni - Tanah Abang – Mester (Jatinegara).
Tahun 1875 diresmikan penggunaan kereta api lintas TanjungPriok – Jakarta Kota, Tanjung Priok – Gambir -Jatinegara dan Jatinegara – Jakarta Kota.
Tahun 1925 beroperasi kereta listrik jurusan Tanjung Priok –Jatinegara, Jatinegara – Manggarai, Tanjung Priok – Jakarta Kota – Gambir – Manggarai, dan Kebayoran – Jakarta Kota. Terakhir dibuka lintasan menuju Bogor.
Tahun 1890 muncul kendaraan pribadi berupa sepeda.
Tahun 1903, mobil pertama muncul di Batavia, dan terus
Pada zaman Hindia Belanda muncul tipe kota yang bersifat khusus yaitu kota yang dibangun dan dikembangkan untuk melayani kebutuhan para pemilik perkebunan terutama di Jawa dan Sumatera untuk bersantai di akhir pekan. Kota ini dilengkapi dengan hotel-hotel mewah serta tempat-tempat hiburan (contoh : Bandung, Sukabumi, Tebing Tinggi).
Zaman pendudukan Jepang yang relatif lebih singkat tidak terjadi perkembanganbaru karena perhatiannya lebih dicurahkan untuk memenangkan perang.
KOTA & PERM. PADA MASA PEM. HINDIA TIMUR S/D BERDAULAT
Pada awal perang kemerdekaan, setelah Jepang dikalahkan oleh Sekutu pada tahun1945, banyak kota-kota besar yang dibakar dan ditinggalkan oleh penduduknya mengungsi ke kota-kota kecil.
Pembangunan kota pada awal pengakuan kedaulatan, tidak banyak yang dilakukan.
Untuk merehabilitasi kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat perang, Belandamengeluarkan Stads Vormings Ordonansi pada tahun 1948 dan Stads Vormings Verordening sebagai peraturan pelaksanaannya.
Belanda mulai mempersiapkan pembangunan kota baru di kebayoran, sebelahSelatan Jakarta, untuk tempat tinggal para pegawai dan menampung pertumbuhan penduduk Jakarta. Namun kota tersebut belum sempat dibangun karena adanya penyerahan kedaulatan pada tahun 1949. Pembangunan kota baru ini dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada awal tahun lima puluhan.
KOTA & PERMUKIMAN PADA MASA KEMERDEKAAN
Terjadinya pemberontakan di beberapa daerah (Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera,Sulawesi Utara, dan Maluku) menyebabkan terjadinya pengungsian besar-besaran ke kota-kota besar. Mereka membentuk perkampungan baru yang padat tanpa dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, sehingga membentuk permukiman kumuh.
Perumahan yang teratur dibangun oleh Pemerintah bagi para pegawai negeri yangterus bertambah atau oleh perusahaan-perusahaan besar untuk karyamawannya. Perumahan-perumahan ini umumnya dibangun di daerah pinggiran kota. Di beberapa kotamadya misalnya Bandung menyediakan Kapling Siap Bangun bagi masyarakat yang memerlukan dengan jumlah yang terbatas.
Setelah gangguan keamanan mereda, penduduk yang sudah masuk kota tidak mauakan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. keadaan bertambah buruk dengan sulitnya kondisi ekonomi (inflasi sekitar 600 %).
Penduduk asli kota yang memiliki tanah (pertanian) yang luas membangunrumah-rumah petak kontrakan untuk pendatang baru.
Selain Kebayoran baru, banyak lagi kota-kota baru lainnya yang dibangun, baik dailokasi baru maupun dari perluasan kota kecil yang sudah ada sebelumnya.
Kota tempat tinggal/dormitory town (terdiri dari perumahandengan berbagai fasilitas pelayanannya, tempat kerja berada di luar kota tersebut)
Kota mandiri (disamping menyediakan perumahan, kota etrsebutjuga menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduknya seperti : industri, perdagangan, perkantoran.
Contoh kota baru yang tumbuh di sekitar Jakarta : KebayoranBaru, Depok, dan Serpong; sekitar Bandung : Cileunyi; Surabaya : Driorejo.
Pada awal tahun 1970an pihak swasta mulai membangun perumahan yangdirencanakan dengan baik, namun baru terbatas kepada bangunan-bangunan
mewah. (Pondok Indah) Pemerintah memberlakukan konsep pembangunan 1 : 3 :
6 (luas 36 s/d 72 m2, kepemilikan dengan KPR BTN).
Karena kenaikan harga rumah tidak sebanding dengan kenaikan penghasilanmasyarakat, maka pada tahun 1980 an diperkenalkan rumah inti dengan luas yang lebih kecil lagi yaitu : 18 m2, 15 m2, 12 m2. Luas kapling yang tadinya 90 m2
diperkecil menjadi 60 m2. terjadi perombakan bangunan turn over!
Lokasi pembangunan perumahan berpencar-pencar (‘enclaves’) sehingamenimbulkan kepadatan lalu lintas, banjir atau genangan air hujan, masalah perbaikan dan pemeliharaan prasarana.
Karena keterbatasan tenaga dan dana, baik Pemerintah maupun masyarakat, kotaberkembang secara tidak terkendali.
pola penggunaan tanah dan pola jalannya menjadi kurang teraturdan semrawut.
banyak tumbuh perkampungan yang padat dan kumuh.
Perkembangan kota yang melebar dengan cepat menyebabkanmahalnya biaya investasi serta operasi dan pemeliharaan prasarana, sarana, fasilitas dan utilitas kota.
Kota baru ‘dormitory town’ (contoh : Kebayoran Baru dan Depok) hanyakemacetan lalu lintas terutama jalan masuk ke kota kota baru mandiri. (contoh : Serpong dan Driorejo).
Rumah susun sebagai solusi kebutuhan perumahan daerah perkotaan yanglahannya terbatas jumlahnya masih sedikit (semula dibangun Pemerintah untuk
pegawai awal tahun 1980 an baru muncul rumah susun sedehana untuk
masyarakat berpenghasilan rendah. solusi peremajaan permukiman kumuh.
Rumah susun mewah yang disediakan untuk golongan masyarakat berpenghasilantinggi (terutama untuk orang asing yang bekerja di Indonesia) dibangun oleh swasta di awal tahun 1990 an. Rumah susun mewah ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi, dan tersedia fasilitas rekreasi dan olah raga.
SEJARAH PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI DUNIA MASA PRASEJARAH
Sejarah pemukiman dimulai dari elemen inti yang paling kecil yaitu rumah. Padamasa pra sejarah rumah merupakan :
tempat untuk menyelamatkan diri dari bahaya (binatang,
manusia, dan alam/cuaca).
tempat menetap semntara dan selalu berpindah-pindah
(nomaden) berdasarkan migrasi hewan buruan dan panen bahan makanan (manusia mengumpulkan bahan makanan dari alam).
bentuk hunian masih berupa goa dan pohon.
Perkembangan selanjutnya manusia mulai membuat hunian sendiri denganmemanfaatkan kulit hewan dan kayu yang diberi rangka yang mudah dibongkar
pasang dipakai oleh suku Indian di Amerika pada abad 19 SM.
Selain itu rumah dibuat dengan menggali tanah dan atap dari kulit hewan pemburu Mamont (sejenis gajah di masa pra sejarah) di daerah Tundra Rusia.
Pola hidup dari pengumpul bahan makanan berkembang menjadi petani danpeternak
berpengaruh pada bentuk hunian
bentuk rumah menjadi lebih permanen dan mulai terbentuk
desa yang merupakan kumpulan dari beberapa rumah karena
manusia hidup menetap di suatu daerah. adanya taman
dalam/’courtyard’) rumah mengelilingi jalan cikal bakal kota.
pada masa ini rumah terdiri dari satu ruangandengan jendela yang kecil, konstruksi dari bata lumpur
rumah berkembang dengan penambahanruang penyimpanan dan ruang tidur (rumah menjadi tempat
tinggal dan bekerja) desa merupakan tempat untuk tinggal
dan bekerja.
MASA YUNANI DAN ROMAWI
Pada masa Yunani, rumah tetap menghadap ke dalam, tetapi bagian dalam tersebutdimodifikasi dengan penambahan kolom-kolom yang mengelilingi taman dan adanya altar sebagai tempat pemujaan.
Terdapat pemisahan antara ruang publik untuk pria dan wanita. (masa itu wanitadianggap sebagai warga negara kelas dua).
Pada masa Romawi, rumah tetap diorientasikan ke dalam dengan penambahanjendela yang lebih banyak dan dibuat lebih rumit. Pintu masuk dibuat lebih menonjol dengan penambahan hiasan. Di samping itu bangsa Romawi membuat taman sekunder yang digunakan hanya untuk penghuni rumah yang dikelilingi oleh ruang pribadi (ruang tidur, ruang makan, dan ruang keluarga).
Bangsa Romawi mengenal rumah bertingkat untuk memenuhi pertumbuhanpenghuninya. pembangunan apartemen berlantai 6 – 7 dan bentuk bangunan ini
mendominasi rumah-rumah pada kota-kota Romawi.
MASA ABAD PERTENGAHAN (MEDIEVAL)
Pada masa medievel, perdagangan hasil pertanian menciptakan kota-kota kecil yangmemiliki benteng karakter kota medievel.
Bentuk baru dari rumah adalah berbentuk 2 lantai dimana lantai 1 merupakan tempatuntuk berusaha (seperti kantor, toko dan gudang), dan di lantai atasnya untuk tempat tinggal.
Orientasi rumah menghadap ke jalan, bukan lagi ke bagian dalam
Pertumbuhan kota membuat masyarakat membangun rumah yang salingberdempetan sepanjang jalan.
Rumah sangat bergantung pada cahaya dan sirkulasi udara dari muka dan belakangrumah
Pada akhir masa pertengahan (abad 19) tercipta prototipe rumah yang dipakai olehMASA RENAISSANCE
Kaum bangsawan mulai membuat rumah dengan satu fungsi yang menjadi karakterrumah di masa modern, dengan terpisahnya tempat kerja dan rumah.
Tampilan rumah pada masa itu adalah jendela kaca yang besar dan pemakaianfasade yang seragam berbentuk hiasan garis-garis lurus, jendela dan pintu.
MASA INDUSTRIALISASI
Ekonomi berdasarkan manufaktur dan pergerakan yang dinamis.
Pemisahan rumah dan tempat kerja merata pada semua lapisan masyarakat.
Pertumbuhan daerah bisnis di tengah kota membuat daerah perumahan tergeser kearah luar kota, sehingga menyebabkan terjadinya variasi tempat tinggal rumah
bergaya victorian (jumlah ruangan banyak, sehat, nyaman) VS rumah di daerah kumuh (satu rumah ditinggali oleh beberapa keluarga, tidak permanen, kurang sehat, tidak nyaman).
Perkembangan teknologi membawa pengaruh pesat pada bentuk dan lokasi rumah penemuan baja dan elevator pembangunan apartemen berlantai banyak.
penemuan angkutan massal dan mobil menyebabkan lokasi rumah berlaih ke
pinggiran kota. rumah-rumah bermassa tunggal penambahan ruang garasi
untuk tempat penyimpanan mobil.
MASA MODERN
Perumahan di masa modern merupakan produk dari perkembangan permukimanpada masa sebelumnya.
Adanya keseragaman bentuk rumah (rumah bermassa tunggal, rumah deret,apartemen).
Adanya beberapa orientasi baik ke jalan maupun ke taman dalam.
Fungsi rumah bervariasi (rumah sebagai tempat tinggal atau rumah sebagai tempattinggal dan bekerja).