• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH PERKEMBANGAN AJARAN BUDDHISME DI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SEJARAH PERKEMBANGAN AJARAN BUDDHISME DI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PENYEBARAN AJARAN BUDDHISME DI JEPANG

PENDAHULUAN

Istilah Buddhisme ini berasal dari sarjana-sarjana barat yang berusaha untuk mengorganisir gerakan, pemikiran, dan praktek yang dibawa oleh seseorang yang dijuluki Buddha (1989: 120). Dialah Siddartha Gautama yang diberi gelar sebagai Buddha atau orang yang disadarkan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Eckel (2003: 164) bahwa “Buddhism takes its name from Siddartha Gautama (ca. 566-486BCE), who was revered by his disciples as the Buddha, or “Awakened One” ‘Buddhisme diambil dari nama Siddartha Gautama yang dijuluki oleh murid-muridnya sebagai Sang Buddha atau orang yang disadarkan’.

Awalnya Buddhisme ini muncul sebagai sebuah agama atau kepercayaan di India. Buddhisme ini dapat dikatakan sempalan dari Hinduisme yang merupakan agama yang berlaku dalam masyarakat India. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Carmody (1989: 120) bahwasannya “Buddhism began as an Indian sectarian religion, a way of seeking release from life’s problems that clashed at some points with the prevailing Indian (Hindu) patterns” ‘Pada mulanya Buddhisme adalah agama sektarian masyarakat India, yang mana sebagai jalan untuk menyelesaikan problematika kehidupan yang mana dalam beberapa poin, kepercayaan ini bertentangan dengan kepercayaan masyarakat India pada masa itu (Hindhu)’. Oleh sebab itu, beberapa ajaran Buddhisme terlihat berbeda dari ajaran atau doktrin Hinduisme.

Ajaran-ajaran Buddhisme ini tidak hanya menyebar di dalam wilayah India, tetapi juga menyebar luas ke wilayah Afganistan, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Laos, Mongolia, China, Korea, Jepang, dan bahkan Indonesia. Agama ini dengan mudah menyebar ke wilayah lain karena ajaran-ajarannya yang sangat luhur dan juga fleksibel dengan penduduk lokal. Disadari atau tidak, ajaran-ajaran Buddha ini bercampur dengan kebiasaan, tradisi, ataupun adat istiadat penduduk setempat sehingga muncullah beraneka variasi ajaran atau sekte-sekte baru. Eckel (2003: 164) mengatakan bahwa:

“In the course of their migrations, Buddhist practices and teachings have shown a remarkable flexibility and capacity for adaptation to meet the needs of new host cultures and traditions. In fact, Buddhism has produced so many varieties that it is sometimes difficult to recognize particular practices or beliefs as being distinctively Buddhist”.

(2)

penduduk pribumi. Bahkan, Buddhisme memunculkan ragam variasi yang terkadang sulit untuk mengenali praktek-praktek dan kepercayaan-kepercayaan tertentu sebagai ajaran Buddhisme’.

Jepang merupakan salah satu wilayah dimana ajaran-ajaran dan praktek-praktek Buddhisme berakulturasi dengan budaya-budaya dan tradisi-tradisi masyarakat pribumi Jepang, yaitu kepercayaan Shinto. Akulturasi antara Bhuddisme dan Shinto ini melahirkan ajaran-ajaran, praktek, tradisi, dan budaya baru di wilayah tersebut.

SEJARAH KELAHIRAN BUDDHISME

Sejarah Buddhisme ini tidak luput dari Siddartha Gautama sebagai pendirinya. Ia adalah seorang pangeran dari klan Shakyamuni. Ayahnya adalah seorang raja besar bernama Shuddhona dan ibu bernama Maya. Braden (1968: 118) menyatakan bahwa “His mother Maya was a woman of singular grace and pretty. His father was a king of a great wealth and power, as notable for the excellence and benefitcence of his rule” ‘Ibunya, Maya, adalah seorang perempuan yang cantik. Adapun ayahnya seorang raja yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar serta dikenal mementingkan aturan-aturannya’.

Ia lahir di kaki gunung Himalaya, tepatnya di taman Lumbini, pada abad ke-6. Kisah kelahirannya adalah sebuah kisah yang penuh dengan magis. Berawal dari mimpi Ratu Maya, ibunya. Saat itu sang ibu bermimpi bahwa ada seekor gajah putih yang masuk ke dalam pinggangya tanpa rasa sakit. Pada saat bersalin, ia tidak melahirkan seperti kelahiran biasanya. Bayinya, Siddharta, lahir dari pinggangnya. Kemudian bayi itu berputar tujuh kali dan berkata bahwa ia dilahirkan untuk mencapai Bodhi (kesadaran) dan ini adalah kelahiran terakhirnya. Sayangnya, beberapa hari setelah persalinan tersebut, Ratu Maya meninggal dunia dan Siddartha diasuh oleh saudarinya.

Sebelum kelahiran tersebut, Shuddhodana, ayahnya, bertanya kepada orang bijak tentang keajaiban yang dialami oleh sang istri. Orang bijak tersebut mengatakan bahwa ia melihat roda (cakra) di telapak tangan dan telapak kaki si bayi. Orang bijak tersebut meramalkan bahwa Siddharta akan menjadi Chakrawartin, seorang revolusioner. Ia diramalkan akan menjadi seorang raja besar atau bisa menjadi seorang guru spiritual yang agung. Shuddhodana, yang meminginginkan anaknya menjadi seorang raja, memenuhi semua kebutuhan Siddharta dan menjauhkannya dari pemandangan tentang penderitaan.

(3)

Kapilavastu. Di sana ia menikah dengan seorang perempuan yang bernama Yashodhara dan dikaruniai seorang anak bernama Rahula. Hidup serba berkecukupan membuat Siddhartha merasa sangat penasaran dengan kehidupan di luar istana. Suatu hari, saat ia keluar dari istana untuk berburu, ia menemukan realitas penderitaan manusia, yaitu seorang bapak tua renta, orang sakit, dan jenazah (orang mati). Di perjalanan selanjutnya, ia bertemu dengan empat pertapa. Ia meyakini bahwa bertapa adalah jalan untuk keluar dari penderitaan dunia. Pada mulanya, Shuddodana tidak membolehkannya untuk keluar dari istana dan mengikuti ritual pertapaan. Akan tetapi pada akhirnya, dengan pertolongan Dewa, ia bisa meinggalkan istana beserta anak dan istrinya. Ia melepaskan gelar kebangsawanannya dan menjadi seorang pengembara. Peristiwa ini disebut dengan Pravrajya. Ia mulai menjauhi masyarakat untuk bertapa dengan berpuasa dan mengendalikan nafsu dirinya.

Selama enam tahun ia berkonsentrasi mencari-cari kedamaian religi. Ia juga mempraktekkan teknik meditasi yang ekstrim, tetapi pada akhirnya ia tidak menemukan jalan kebenaran yang menuju pada kebijaksanaan dan Nibbana (2000: 48). Kemudian Siddharta mengembara lagi hingga sampai di sebuah pohon di sekitar sungai Nairanjana, Bodhi Gaya. Kemudian pohon itu dikenal dengan pohon Bodhi Gaya. Walaupun sempat mendapat godaan dari roh jahat yang bernama Mara, pada akhirnya ia mampu melewati itu sehingga menerima Dharma (kebenaran).

Pada khutbah pertama di wilayah Benares, ia menyampaikan tentang Fourth Noble Truth kepada para pertapa (Braden, 1968: 121). Yang pertama adalah bahwa penderitaan itu ada. Kelahiran, kematian, penyakit, kehilangan orang-orang yang dicintai dan lain sebagainya adalah sebuah bentuk penderitaan. Yang kedua adalah penyebab dari penderitaan itu sendiri. Keinginan yang menggebu-gebu adalah penyebab dari penderitaan itu. Adapun bentuk-bentuk keinginan tersebut adalah keinginan atau hasrat pada kesenangan, kehidupan duniawi, dan kemakmuran. Yang ketiga adalah cara untuk menghentikan penderitaan. Untuk menghentikan penderitaan, manusia harus menghancurkan hasrat dan keinginannya. Adapun yang terakhir adalah jalan untuk mengakhiri penderitaan. Jalan untuk mengakhiri penderitaan ini dibagi menjadi delapan bagian, yaitu, pandangan yang baik, harapan yang baik, perkataan yang baik, prilaku yang baik, mata pencaharian yang baik, usaha yang baik, pikiran yang baik, dan meditasi yang baik.

(4)

not considered to be God or a supernatural being, but a man eho had found the answer to the deepest dilemmas of human life and had made that answer available to others” ‘Buddha tidak dianggap sebagai Tuhan ataupun makhluk gaib, tetapi seorang manusia yang menemukan jawaban atas dilemma terdalam dari kehidupan manusia dan menyampaikan jawaban itu kepada umat manusia’.

BUDDHISME SETELAH KEMATIAN SIDDARTHA GAUTAMA

Setelah kematian Siddartha Gautama, pengikutnya berkumpul dalam sebuah kongres untuk menyusun ajaran-ajarannya yang disebut dengan Dharma. Kongres pertama ini diadakan pada tahun 473 sebelum masehi di Rajagrha. Bermula dari seorang pengikutnya yang bernama Kasyapa. Saat kematian Sang Buddha, Kashyapa sedang bepergian dengan sekelompok biarawan. Segera setelah mendengar kabar tersebut, seorang di antara biarawan tersebut mengatakan bahwa kematian tersebut membebaskan mereka dari paksaan ajaran-ajaran Sang Buddha itu sendiri. Eckel (2003: 172) mengatakan bahwa:

“Fearing breakdown in discipline, Kashyapa proposed the calling of council to restate the Buddha’s teaching and monastic regulations and set down a common body of doctrine and practice to guide the Buddhist community. The council produced what was to become the nucleus of the Buddhist canon”

‘Oleh karena adanya ketakutan tentang kerusakan ajaran-ajaran (Buddha), Kashyapa memberi usul kepada dewan biarawan untuk tetap kembali pada ajaran Buddha dan aturan kebiarawan, dan menyusun kembali landasan doktrin dan praktek untuk memandu komunitas Buddha. Kemudian kongres dewan ini menghasilkan inti aturan Buddha’.

Kongres kedua dilaksanakan satu abad kemudian di Vaishali. Kongres ini membahas tentang varian-varian monastik yang diperkenalkan di bawah tekanan masyarakat yang semakin berkembang. Dari sinilah, Buddhisme terpecah menjadi dua antara Sthaviras dan Mahasanghikas (2003: 172). Perepecahan ini adalah awal pemicu perpecahan yang lainnya, yaitu perpecahan Samgha (pengikut Buddha) menjadi delapan belas aliran. Kemudian membentuk dua sekte besar, yaitu Hinayana (perahu kecil) dan Mahayana (perahu besar). Masing-masing sekte menganggap diri mereka adalah Yana, yaitu perahu atau rakit. Sebuah perahu yang akan membawa pengikutnya mengarungi lautan kehidupan untuk menuju satu tujuan, yaitu sebuah pencerahan.

(5)

menjadi Rahib (2008: 158). Mereka mengklaim bahwasannya ajaran-ajaran mereka adalah ajaran-ajaran yang murni dari Sang Buddha. Jadi, banyak sekali pengikut sekte ini yang hidup menjadi biarwan atau birawati dan meninggalkan kehidupan duniawi. Sekte Hinayana ini kemudian berganti nama menjadi Theravada, yang juga sering disebut dengan Buddhisme Selatan. Sekte Theravada ini tersebar di wilayah negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Sri Lanka, Myanmar, Laos, dan Kamboja.

Kelompok kedua, Mahayana, adalah sekte yang berpendapat bahwa Buddha tidak menginginkan dirinya saja yang mendapatkan Nibbana, tetapi juga seluruh umat manusia. Dengan kata lain, pengikut sekte ini beranggapan bahwa umat manusia harus bersama-sama untuk mencapi Nibbana. Ajaran sekte Mahayana ini lebih terbuka dan mudah beradaptasi dengan tradisi di wilayah penyebarannya. Mereka juga berpendapat bahwa Siddhartha Gautama, sebagai Buddha, adalah makhluk yang bersifat seperti Tuhan yang sewaktu-waktu akan muncul turut andil untuk membantu umat manusia mendapatkan Nibbana. Mereka mempercayai bahwa ajaran Buddha yang ideal bukanlah dengan menjauhi duniawi dan menjadi biarawan, melainkan menjadi umat awam yang menjalani kehidupan duniawi. Mahayana ini juga dikenal dengan nama Buddhisme Utara. Penyebarannya mencakup negara-negara yang terletak di Asia bagian utara, seperti Nepal, Vietnam, Korea, China, Jepang, dan Mongolia. Saint-Laurent (2000: 197) menembahkan bahwa “Mahayana Buddhism as a category may also include the Vajrayana (“diamond vehicle”) school of Tibet” ‘Mahayana sebagai sebuah kategori juga melingkupi Vajrayana, yaitu aliran Tibet.

Jika dibandingkan dengan sekte Hinayana atau Theravada, maka dapat disimpulkan bahwa sekte Mahayana ini jauh lebih fleksibel, inklusif, dan mudah beradaptasi. Hal ini menjadikan sekte Mahayana dapat diterima oleh tradisi-tradisi dan kepercayaan lokal saat penyebarannya.

AWAL PENYEBARAN BUDDHISME

Setelah kematian Siddhartha Gautama, Buddhisme tidak langsung menyebar begitu saja. Awalnya agama ini menyebar terlebih dahulu di wilayah India bagian barat laut. Hal ini terus berlangsung hingga Raja Ashoka, seorang raja dari kerajaan Mauryan, naik tahta dan memerintah kerajaan India. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Braden (1968: 131) berpendapat bahwa:

(6)

B.C that its rapid extension began. Under his royal patronage it soon permeated his whole dominion”.

‘Ajaran Buddhisme ini tidak begitu saja menyebar dengan cepat setelah kematian Gautama, tetapi memantapkan kemajuannya di India bagian barat laut. Hal ini terjadi hingga adanya konversi Ashoka, seorang kaisar India, pada tahun 270 sebelum masehi dan saat itulah terjadi penyebaran yang sangat cepat. Di bawah perlindungan kekuasannya (Raja Ashoka), Buddhisme menyebar ke seluruh penjuru kekuasaannya’.

Ia menyebarluaskan nilai-nilai ajaran Buddhisme ke seluruh kerajaannya dan ia juga mendukung penyebaran agama tersebut di luar perbatasan wilayahnya (2003: 172). Contohnya saja anak Ashoka yang bernama Mahendra. Saat ia menyampaikan sebuah misi kenegaraan ke wilayah Sri Lanka, ia juga menyebarkan ajaran-ajaran Buddhisme.

Kemudian setelah itu, terdapat beberapa biarawan Buddha yang menetap di wilayah Afganistan dan Asia tengah. Mereka menjalin hubungan dengan kerajaan Hellenis yang berdiri setelah invasi Alexander the Great di India. Buddhisme ini jmendapatkan dukungan yang besar dari suku Scythian dan juga Raja Kanishka yang berdomissili di wilayah Afganistan. Buddhisme ini juga mendapat dukungan dari Dinasti Satavahana yang berada di India bagian selatan sehingga ajaran Buddhisme ini dianggap sebagai pusat kebudayaan masyarakat India. Bahkan kekuasaan Dinasti Gupta, di awal masa pemerintahan Raja Arsha, ajaran-ajaran Buddhisme ini difasilitasi dengan pusat studi filsafat, agama, pengobatan, bahasa, astronomi, dan lain sebagainya.

(7)

pada abad kesebelas, Buddhisme Tibet berkembang dan membentuk beberapa sekte, seperti Nyingmapa, Sakyapa, Kadampa, Kargyupa, dan Gelukpa.

Pada abad pertama atau kedua masehi, Buddhisme masuk ke wilayah China melalui jalur Sutra. Di bawah kekuasaan Dinasti Tang, ajaran-ajaran Buddhisme diakulturasikan dengan tradisi ataupun kepercayaan masyarakat China. Akulturasi tersebut membuat Buddhisme memiliki peran penting dalam peradaban masyarakat China. Buddhisme disandingkan dengan ajaran Tao dan Konghuchu sehingga terbentuklah Tri Dharma (Tiga Ajaran). Buddhisme yang berkembang di China ini dipengaruhi oleh tradisi meditasi atau Chang dan aliran filsafat Tiantai dan Huayan. Adapun ajaran Buddhisme yang sangat berkembang di wilayah tersebut adalah Buddhisme yang terbentuk dari empat ajaran, yaitu aliran Mahayana, Amithaba, Avalokiteshvara, dan Maitreya. Kemudian ajaran-ajaran Buddha. Pada abad keempat masehi, variasi-variasi ajaran Buddhisme China ini diperkenalkan ke wilayah Korea dan masuk ke Jepang pada abad keenam masehi.

BUDDHISME DI JEPANG

Menurut Hanayama (1966: 3) sesuai dengan Nihonshoki, catatan sejarah kronologi Jepang, ajaran Buddhisme masuk ke wilayah Jepang pada tanggal 13 Oktober 552, di tahun ketigabelas dari Dinasti Kimmei yang merupakan kaisar ke-29Jepang.

Ajaran Buddhisme di Jepang masuk dengan adanya perantaraan bangsa Korea. Pada saat itu, Korea dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu wilayah Koma di utara, Shiragi, dan Kudara yang keduanya terletak di bagian selatan. Penetrasi Buddhisme ini masuk ke Jepang saat seorang penguasa Kudara bernama Seimeio mengirimkan salah seorang duta besarnya ke Jepang. Duta besar ini sengaja diutus untuk menyebarkan ajaran-ajaran Buddhisme dengan membawakan hadiah berupa patung Buddha yang terbuat dari perunggu dan juga bermacam-macam kitab Sutra. Di sana, sang duta besar menceritakan tentang keluhuran ajaran-ajaran Buddhisme dan bagaimana Buddhisme ini menyebar ke penjuru dunia. Kaisar Kimmei sangat terkagum dengan keluhuran ajaran-ajaran Buddhisme dan juga keindahan patung Sang Buddha sehingga dapat diterima.

(8)

mempunyai catatan buruk sepanjang penyebarannya ke wilayah-wilayah lain. Akan tetapi pendapat ini ditentang oleh Mononobe no Okoshi, konselor bidang persenjataan dan Nakatomi no Kamako, pemuka kepercayaan Shinto. Mereka berpendapat bahwa kekaisaran Jepang telah memiliki peribadatan dan kepercayaan sendiri. Jika ajaran Buddhisme ini diterima, ditakutkan akan memicu kemarahan dari masyarakat Jepang itu sendiri. Oleh karena tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak yang bertikai, maka Mikado memutuskan untuk mengkolaborasikan ajaran dan tradisi Shinto dengan ajaran-ajaran Buddhisme. Sayangnya, kolaborasi antara dua ajaran ini hanya terbatas bagi keluarga kekaisaran dan khusus hanya klan Soga yang pro dengan ajaran Buddhisme ini.

Patung Buddha, yang didapat dari utusan Kudara tersebut, diberikan kepada konselor Soga no Iname untuk menjadi sesembahan pribadinya. Dari sini timbullah ketegangan antara dua kubu, yang yang pro dan kontra dalam penerimaan ajaran-ajaran Buddhisme di wilayah mereka. Ketegangan ini berlarut-lrut hingga empat puluh tahun lamanya hingga anak keturunan mereka, yaitu Soga no Umako dan Mononobe no Moriya.

Pada tahun 572, Kaisar Kimmei wafat dan digantikan oleh putra mahkota yang bernama Kaisar Bidatsu. Akan tetapi, Kaisar Bidatsu ini tidak mengacuhkan ajaran-ajaran Buddhisme sehingga agama tersebut tidak terlalu berkembang pada masa pemerintahannya. Pada tahun 585, Kaisar Bidatsu wafat dan digantikan oleh Kaisar Yomei, sebagai Mikado yang ke-31. Kaisar Yomei ini merupakan kaisar pertama yang mengakui dan menganut Buddhisme. Dari masa inilah ajaran-ajaran Buddhisme Jepang mulai berkembang. Akan tetapi, kepemimpinannya tidak begitu lama karena ia jatuh sakit. Pada masa sakitnya, Kaisar Yomei memanggil seorang pendeta Buddhisme yang bernama Kuratsukuri no Tasuna ke istana untuk melakukan ritual sembahyang. Merasa dirinya tidak akan hidup lebih lama lagi, ia berkeingninan untuk memiliki patung Buddha Yakushinyorai, yang nantinya dapat diselesaikan pada periode Nara. Keadaan Kaisar Yomei tidak kunjung membaik, bahkan akhirnya meninggal dunia. Kabar kematiannya ini menimbulkan kesedihan yang mendalam, terlebih pada kelompok-kelompok yang pro akan Buddhisme. Kemudian ia digantikan oleh saudari perempuannya, Ratu Suiko dan dilanjutkan oleh anak laki-lakinya yang bernama Pangeran Shotoku.

(9)

Pada tanggal 1 Januari 594, diberlakukan Imeperial Ordinance for Upholding the Three Treasure, yaitu (1) Sang Buddha, (2) Dharma (aturan atau kebenaran), dan Samgha (persaudaraan) (1966: 9). Pada tahun yang sama ini juga, Pangeran Shotoku berhasil mempersatukan dua klan yang terlibat perselisihan. Masyarakat Jepang bersatu menganut Buddhisme dengan tetap mengkolaborasikannya dengan kepercayaan Shinto yang mereka anut sebelumnya. Pangeran Shotoku sendiri banyak menulis tentang ajaran Three Treasure dan keharmonisan antara dua ajaran tersebut. Mulai tahun 606, Ia juga memeberikan ceramah di beberapa tempat tentang Sutra ajaran-ajaran Buddhisme di beberapa wilayah bagian Jepang yang lain. Dari utusan-utusan dan murid-murid yang dikirim ke China, ia menerima banyak buku tentang ajaran-ajaran Buddhisme yang penting. Dua tahun berikutnya, salah seorang sarjana yang dikirimnya ke China, yaitu Ono no Miko, kembali ke Jepang dengan membawa beragam Sutra Mahayana dan beberapa di antaranya ditulis kembali dalam bahasa Jepang. Beberapa nama Sutra tersebut di antaranya adalah Kegongyo, Nehangyo, Hannyagyo, Hokekgyo, Yuimagyo, dan Shomangyo.

Pada tahun 622, Pangeran Shotoku meninggal dunia. Sepeninggalannya terjadilah kekacauan yang ditimbulkan oleh klan Soga. Puncaknya, pada tahun 643, anak keturunan Pangerang Shotoku dibantai oleh Soga no Iruka yang menjabat sebagai seorang menteri. Pembantaian itu dilakukan di Istana pribadi mendiang Pangeran Shotoku, Ikaruga no Miya. Sebenarnya, anak keturunan Pangeran Shotoku bisa saja menyerang balik klan Soga. Akan tetapi hal itu tidak mereka lakukan karena mereka adalah pemeluk Buddhisme yang taat. Hanayama (1966: 15) mengatakan bahwa:

“Those related to the prince could well win over the Soga clan if they but so wished and fought. But this meant the death of many who would be involved in the struggle, all to add suffering upon suffering. Instead of bringing misery to others, they met the sword and chose a nobler death. So it would seem. To some their action too passive. But to fight and kill was against what the Buddha taught”.

(10)

mereka bertarung dan membunuh, mereka merasa bertentangan dengan ajaran Sang Buddha’.

Dua tahun kemudian, Soga no Iruka dibunuh oleh Naka no Oe no Oji dan Nakatomi no Kamako. Pembunuhan tersebut dilakukan saat seorang utusan dari negeri Korea datang ke istana untuk mempersembahkan hadiah kepada Ikura. Setelah kematian Ikura, Soga no Emishi, ayah Ikura, melakukan bunuh diri dengan membakar rumahnya. Setelah itu, kepemimpinan dikembalikan pada Kekaisaran. Perombakan pemerintahan ini dikenal dengan Reformasi Taika (perubahan besar-besaran).

Nakatomi no Kamako dinobatkan sebagai Kaisar Kotoku, sedangkan Naka no Oe no Oji dinobatkan sebagai putra mahkota. Selama kepemimpinan tersebut, Buddhisme makin berkembang dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan Sang Kaisar. Pada masa itu juga, marak sekali pembangunan kuil-kuil dan juga sentra pengajaran Sutra Ulambana. Untuk mengapresiasi hal ini, maka diadakan Festival Urabon’e yang diadakan setiap musim panas di Jepang. Kemudian kemempinan ini dilanjutkan oleh Ratu Saimei, ibu Naka no Oe no Oji. Pada tahun 661, Naka no Oe no Oji naik tahta dan dinobatkan sebagai Kaisar Tenchi. Dengan dukungan yang besar dari Kekaisaran Jepang ini, Buddhisme terus menerus berkembang dan membentuk sekte-sekte baru.

PERIODE BUDDHISME NARA

Pada periode ini, Jepang dan China memiliki hubungan bilateral yang sangat baik terlebih hubungan pada sektor keagamaan. Banyak sekali pelajar-pelajar Jepang yang dikirim ke negeri China untuk mempelajari dan memperdalam ajaran Sang Buddha. Setelah itu mereka kembali ke Jepang dengan membawa ajaran dari sekte-sekte yang berbeda, yaitu Sanron, Hosso, Kegon, Ritsu, Jojitsu, dan Kusha. Enam sekte ini kemudian dikenal dengan nama Nanto Rokushu, Enam Sekte Nara.

Sekte Sanroshu

(11)

ajaran mereka melampaui sekte Mahayana dan Hinayana, yaitu sebuah kemutlakan tertinggi. Hanayama (1966: 21) berpendapat bahwasannya:

“Their doctrine stood on attaining the highest absolute, which is Dharma or Enlightenment, through negation that stands on ‘nonness’ or ‘voidness’. Because of this, their philosophy of life naturally tended to be passive. Often passages go in their writings which bitterly criticize the way of the Hosso sect who were wont to have connections with politic, and criticism against the Hosso school was aimed at the principle by which the Hosso classifies man into five categories and designates a certain class as one devoid of the Buddha Nature or as one not able to attain Buddhahood”.

‘Doktrin mereka berpijak pada tercapainya kemutlakan tertinggi, yaitu Dharma atau pencerahan, melalui penyangkalan adanya sebuah kekosongan. Oleh karena itu, filsafat hidup mereka cenderung pasif. Beberapa tulisan mereka kerap mengkritik dengan pedas praktek-praktek sekte Hosso yang cenderung mempunyai hubungan dengan politik, dan mereka juga mengkritik ajarana aliran Hosso yang berprinsip bahwasannya manusia diklasifikasikan menjadi lima kategori dan menunjuk salah satu kelas tertentu sebagai kelompok Buddha atau yang dapat mencapai persaudaraan Sang Buddha’.

Jadi, sekte Sanroshu ini dapat disebut sebagai aliran Buddhisme Mahayana dan Hinayana. Mereka dapat dikatakan mengikuti ajaran Mahayana karena mereka berprinsip bahwasannya seluruh umat manusia dianggap berderajat sama untuk mencapai Nibbana. Adapun dari aliran Hinayana, mereka mengambil jalan untuk meninggalkan duniawi dan tidak mencampuri dunia perpolitikkan.

Sekte Hossoshu

(12)

Adapun doktrin sekte ini adalah bahwasannya hakikat segala sesuatu di dunia ini ada di luar nalar ilmu pengetahuan dan penjelasan. Umat manusia hanya dapat mengetahui dan menerangkan sedikit saja dari aspek-aspek eksternal yang ada. Kebenaran hanya terdapat di luar pengalaman manusia (1966: 26). Oleh sebab ini, maka kehidupan dan dunia adalah dua hal yang menjadi concern sekte ini.

Sekte Kegonshu

Sekte ini berpegang pada ajaran-ajaran yang terdapat dalam Sutra Avatansaka, sebuah Sutra dari aliran Mahayana. Sekte ini dipelopori oleh Genju Daishi di negeri China dan menyebar ke wilayah Jepang sekitar tahun 722 Masehi. Sekte ini berpedoman pada Ekayana, yaitu teori ‘satu perahu’ yang berpendapat bahwa semua bentuk kehidupan manusia, baik maupun buruk, layak mendapatkan kesempatan untuk mengalami pencerahan. Oleh karena itu, sekte Kegonshu ini mempercayai kebenaran akhir. Di Jepang sendiri ajaran ini berkembang di tangan seorang sarjana bernama Hozo. Ia juga menulis tentang ajaran-ajaran Buddhisme yang dikenal dengan nama Kegongokyoshoshijiki atau Kegongkyosho.

Sesuai dengan Kegongokyosho, Hozo mengklasifikasikan seluruh sistem Buddhisme dalam Shojo (Buddhisme Hinayana), Daijoshikyo (Ajaran pertama Mahayana), Daijohugyo (ajaran terakhir Mahayana), Tongyo (ajaran tentang kebangkitan yang spontan), dan Engyo (seluruh ajaran yang sempurna) (1966: 28-29).

Sekte Ritsushu

Ritsushu adalah sebuah sekte yang memusatkan kajiannya pada Vinayana atau aturan moral yang diberikan oleh Sang Buddha kepada pengikutnya (1966: 30). Vinaya sendiri merupakan salah satu dari Tri Pitaka yang terdiri dari Sutra (ajaran-ajaran Buddha Shakyamuni), Vinaya (Tanggapan-tanggapan Sang Buddha), dan Abhidharma (interpretasi ajaran-ajaran Sutra dan Vinaya).

(13)

tempat tidur yang tinggi dan mempraktekkan Jikkai, larangan pada hal-hal dalam Gokkai, Hakkai, larangan untuk makan di luar jam makan yang sudah ditentukan, serta memiliki banyak harta.Tahapan yang ketiga adalah orang-orang yang mempraktekkan Nihyakugokjikkai atau 250 aturan Bhikshu. Tahapan keempat adalah orang-orang yang tidak melanggar Gohyakkai, lima ratus aturan Bhikshu. Adapun tingkatan kelima adalah orang-orang yang menerima aturan Bodhisattva dan kemudian mendapatkan pencerahan.

Sekte Kushashu dan Sekte Jojitsushu

Dua sekte ini adalah aliran Buddhis yang berdasar pada risalah Hinayana, yaitu Abhidharmakosha Shastra (Kusharon) dan Satyasiddhi Shastra (Jojitsuron) yang dibawa dari India. Kedua sekte ini tidak jauh berbeda dengan empat sekte lainnya karena ajaran-ajarannya diambil dan diterjemahkan oleh Kumarajiva dan Hsuan Tsang. Dua sekte ini lebih fleksibel karena dapat dipelajari oleh sarjana-sarjana dari sekte yang lain. Hanayama (1966: 37) menyatakan bahwa “Although there were six Buddhist sects in the Nara periode, the Jojitsuron was actually studied by the scholars of the Sanron sect and the Kusharon by those of the Hosso, and there were no scholars who has studied the Jojitsuron or the Kushanron singly and evclusively” ‘Walaupun pada periode Nara terdapat enam sekte Buddhis, Jojitsuron dipelajari oleh biarawan sekte Sanronshu dan Kusharon dipelajari oleh biarawan dari sekte Hosso. Tidak ada satupun biarawan yang hanya mempelajari Jojitsuron ataupun Khusaron saja’.

PERIODE BUDDHISME HEIAN

(14)

Sekte Tendaishu

Sekte ini dipelopori oleh Saicho yang mempelajari ajaran-ajaran Buddhis dari Nara. Pada umur delapan belas tahun, ia meninggalkan Nara dan bertapa di gunung Hiei. Di sana ia belajar dan mempraktekkan sendiri ajaran yang ia terima dari Kegon dan Sandaibu, seorang pendiri sekte Tendai di China.

Saat berada di China, ia belajar bermacam-macam ajaran Buddhis, seperti Esoterisme (mistis) Buddhis, Buddhisme Zen, Buddhisme Amithaba, dan juga Buddhisme Tiantai. Ia juga mempelajari Sutra Brahmajala (Bonmokyo), yaitu sebuah modifikasi dari aturan Buddhisme Hinayana (2004: 7). Saicho mencoba untuk menyatukan semua konsep pemikiran Bhuddisme tersebut. Selain itu, ajarannya berdasar pada Sutra Saddharma Pundarika yang menegaskan bahwa semua manusia mempunyai kesetaraan untuk mencapai Buddha, bahkan jika ajaran Buddhis dikolaborasikan dengan keyakinan Shinto.

Sekte Shingonshu

Sekte Shingoshu ini didirikan oleh Kukai atau Kobo Daishi (1966: 50). Pada mulanya ia mempelajari ajaran-ajaran Konfusius dan Lao Tse di sebuah universitas di Nara. Kemudian, ia mempelajari ajaran-ajaran Buddhisme. Pada tahun 804 Masehi, ia berangkat ke wilayah China bersama dengan Saicho, pendiri sekte Tendashu.

Sekte ini mengakui aturan Buddhisme Hinayana dan juga Mahayana serta membagi ajaran Buddhis menjadi dua bagian, yaitu eksoteris Buddhis dan esoteris Buddhis. Sekte ini juga beranggapan bahwasannya mereka adalah satu-satunya sekte esoteris karena mereka tidak dikenal dari sejarah Buddha Shakyamuni. Mereka lebih identik dengan Buddha Vairochana yang mementingkan praktek mantra (doa-doa) dan mudra (gestur tangan) untuk mempersatukan alam semesta dalam sebuah harmoni.

PERIODE BUDDHISME KAMAKURA

Periode ini bermula dari peristiwa kemenangan Minomoto no Yoritomo atas klan Taira dalam perang Gempei. Pada tahun 1192, ia diangkat menjadi Shogun dan mendirikan pemerintahan baru yang diberi nama Kamakura Bakufu. Pada periode ini, pengaruh Buddhisme China sangat kuat sehingga berkembanglah dua aliran besar Buddhis, yaitu aliran Pure Land (Buddha Amithaba) dan Buddhisme Zen.

(15)

Aliran Pure Land atau Buddha Amithaba ini sebenarnya telah ada pada periode Nara. Hanya saja, aliran ini terdominasi oleh aliran-aliran Buddhis periode Nara. Akan tetapi, pada periode Kamakura, aliran ini terus berkembang dan memunculkan sekte-sekte baru, seperti Sekte Honen.

Akan tetapi sebelum sekte Honen muncul, terdapat dua orang, Kuya dan Ryonin, yang menyebarkan ajaran Nembutsu. Secara harfiah, Nembutsu ini berarti ‘melafalkan Sang Buddha’ (2008: 361). Ajaran ini berasal dari konsep Mantra (doa-doa) yang mana mengajarkan pengikutnya untuk melafalkan ‘Amithaba’. Sayangnya, ajaran ini tidak mengalami perkembangan di Jepang seperti perkembangan sekte Honen. Sekte Honen ini dipelopori oleh Honen yang mempelajari ajaran-ajaran Buddhisme di gunung Hiei dan di berbagai kuil yang terletak di wilayah Nara. Ia berpendapat bahwa permasalahan yang paling penting adalah pertanyaan tentang kehidupan dan kematian. Pertanyaan ini kemudian menuntunnya pada petikan Sutra Amitayurdhyana kemudian ia memperkenalkan praktek Nembutsu yang berbunyi Namu Amita Butsu. Dalam bukunya, a History of Japanese Buddhism, Hanayama (1966: 73) menuliskan petikan isi Sutra tersebut:

“If one thinks of and pronounces the name of Amita Buddha and if the practice is done regardless of manner and time, and if this is constant, this called the Right Action because it accord with the Vow of Amita Buddha”.

‘Jika seseorang memikirkan dan melafalkan nama Amita Buddha, dan jika ritual ini dilakukan dengan spontan dan terus menerus, maka ini dikatakan sebagai perbuatan yang benar karena selaras dengan janji Amita Buddha’.

Setelah Honen meninggal, para pengikutnya melanjutkan dan mengembangkan ajaran-ajarannya sehingga muncullah sekte-sekte baru, seperti Sekte Benna, Shokku, Shinran, dan Jishu. Tiga sekte ini meneruskan tentang pentingnya Nembutsu.

Buddhisme Zen

(16)

Nichirenshu

Sekte Buddhisme lain yang muncul pada periode Kamakura. Nichiren banyak memperhatikan berbagai macam ajaran Buddhis, seperti aliran Pure Land, praktek aturan moral, Zen, dan juga Buddhisme Mikkyo. Ia juga memperdalam Buddhisme di wilayah Nara, gunung Hiei, dan gunung Koya. Ia memilih Sutra Saddharma Pundarika (Sutra Lotus) sebagai pedoman ajarannya. Ia menyerukan bahwa kehidupan yang kekal Sang Buddha dapat terungkap dari diri kita masing-masing. Ia juga menekankan pada pelafalan Mantra yang berbunyi Namu Myohorenge Kyo.

PERIODE MUROMACHI HINGGA TOKUGAWA

Pada rentan periode ini, agama Buddha mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak biarawan Sekte Zen dari wilayah China datang ke Jepang. Pada masa itu juga, banyak sekali kuil-kuil Sekte Zen dibangun. Salah satunya Kuil Ryuanji. Kuil tersebut dimanfaatkan sebagai sentra kebudayaan Buddhisme dan tempat pembelajaran ajaran Zen dan Konfusius. Para biarawan Zen ini juga menulis buku-buku tentang syair dan kesusastraan China klasik. Sekte lainnya yang berkembang adalah Sekte Shinran dan Sekte Nichirenshu. Ajaran kedua sekte tersebut menyebar luas dan diterima oleh masyarakat.

PERIODE MEIJI

Pada tahun 1868, pemerintahan Jepang melakukan perubahan besar-besaran, yang mana perubahan ini disebut dengan Restorasi Meiji. Perubuhan ini terjadi di seluruh lini Jepang. Dari peraturan negara hingga masalah keagamaan. Saat itu, Jepang mulai membuka diri dengan negara-negara lain termasuk juga negara-negara Barat. Secara tidak langusng hal ini berdampak juga dalam masalah keagamaan. Ajaran-ajaran Buddhisme mulai digabungkan dengan kepercayaan Shinto, seperti Ritual, keyakinan, dan objek sesembahan dibuat menyerupai inkarnasi dari dewa-dewa Shinto (Kami).

Periode ini juga dikenal dengan istilah Haibutsu Kisashu atau Pembubaran Buddhisme. Para biarawan yang menjauh dari kehidupan duniawi, harus kembali kepada kehidupan sekuler. Kuil-kuil Buddha banyak yang dimusnahkan. Pemerintahan pada periode ini juga melarang adanya pengajaran ajaran Buddhisme di dalam lingkungan sekolah. Ajaran-ajaran dan falsafah Sang Buddha tergantikan dengan doktrin-doktrin Kristiani dari benua Eropa.

BUDDHISME JEPANG PADA SAAT INI

(17)

beberapa perubaha aturan di Jepang. Salah satunya adalah izin untuk mendirikan sekte, agama, dan kuil (1966: 100). Sayangnya, ajaran-ajaran luhur Buddhisme tidak lagi menjadi sebuah dasar yang berlaku dalam masyarakat Jepang. Kini Buddhisme bukan sebuah jalan hidup bagi mereka, tetapi hanya bagian dari budaya yang berakulturasi dengan kepercayaan Shintoisme dan Kristiani.

KESIMPULAN

Buddhisme mengalami sebuah perjalanan panjang hingga dapat masuk mencapai wilayah Jepang. Setiba di Jepang pun, ajaran ini awalnya tidak terlalu diterima oleh seluruh kalangan di Jepang. Terutama kalangan prajurit perang dan juga pemuka kepercayaan Shintoisme. Oleh karena ajarannya yang luhur dan damai, akhirnya Buddhisme diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat Jepang. Di sana, Buddhisme aliran Mahayanalah yang tumbuh dan terus berkembang. Walaupun aliran-aliran tersebut perpihak pada Mahayana, tetapi aliran-aliran tersebut tetap menggunakan sedikit ajaran dan pemikiran Buddhisme Hinayana. Mereka dikatakan aliran Mahayana karena mereka, dengan tangan terbuka, menerima bahkan mengkolaborasikan ajaran-ajaran Sang Buddha dengan kepercayaan setempat seperti Shinto, Konfusius, ataupun Tao. Di sisi lain, mereka dapat juga disebut Hinayana karena mereka memilih untuk meninggalkan gemerlapnya kehidupan duniawi.

Saat Restorasi Meiji terjadi, ajaran Buddhisme mengalami kemunduran. Para biarawan dipaksa untuk meningglkan kehidupan mereka dan menjalani hidup duniawi. Bahkan banyak hazanah peninggalannya dimusnahkan. Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, ajaran Buddhisme diperbolehkan kembali di Jepang, tetapi kebanyakan penduduk Jepang modern hanya menganggap ajaran Buddhisme sebagai bagian dari budaya dan bukan menjadi jalan hidup bagi mereka.

REFERENSI

Braden, Charles Samuel. 1968. The World’s Religions a Short History. New York: Abingdon Press.

(18)

Coogan, Michael D. (ed). 2003. The Illustrated Guide to World Religions. United State of America: Oxford University Press.

Hanayama, Shinsho. 1966. A History of Japanese Buddhism (diterjemahkan oleh Kosho Yamamoto). Tokyo: Bukkyo Dendo Kyokai.

Irons, Edward A. 2008. Encyclopedia of Buddhism. New York: an Imprint of Infobase Publishing.

Matsunami, Kodo (ed). 2004. A Guide to Japanese Buddhism. Tokyo: Japan Buddhist Federation.

Saint-Laurent, George E. 2000. Spirituality and World Religions: Comparative Introduction. California: Mayfield Publishing Company.

Referensi

Dokumen terkait

“Modal ditempatkan atau seringkali juga disebut dengan modal dikeluarkan atau modal yang diambil bagian adalah modal perseroan yang telah disepakati untuk dimasukkan ke

Analisa teknikal memfokuskan dalam melihat arah pergerakan dengan mempertimbangkan indikator-indikator pasar yang berbeda dengan analisa fundamental, sehingga rekomendasi yang

BSRE1 - BSR

Pada tahap ini tanaman lebih banyak memerlukan unsur hara P dibanding unsur hara N, sebab unsur hara P selain berperan dalam meningkatkan jumlah anakan, juga untuk

Kualitas pembelajaran di sekolah latihan sudah cukup baik, di SMP Negeri 4 Batang ini para guru dapat bekerjasama dan berinteraksi dengan para siswa-siswi

[r]

menyelesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh Faktor Pendidikan, Penilaian Prestasi Kerja Dan Pengalaman Kerja Terhadap Promosi Jabatan (Studi Kasus pada KJKS BMT

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan Penelitian skripsi di