Kapitalisme, Akar Persoalan Korupsi
Anita Widyastuti
Permasalahan korupsi bagaikan labirin yang sulit menemui jalan keluar. Saat ini
korupsi dilakukan melalui sistematis, serta hanya berkutat di daerah kekuasaan yang itu-itu
saja. Bagaikan sebuah labirin, saat ini praktek korupsi tidak hanya berada pada pusat
kekuasaan eksekutif seperti zaman Orde Baru, tetapi dapat ditemukan hampir di setiap titik
pemangku jabatan, termasuk legislatif dan yudikatif. Hal ini juga didorong dengan mulai
diterapkannya sistem desentralisasi di Indonesia sehingga korupsi tidak hanya terjadi di
pemerintah pusat, tetapi juga marak di pemerintah daerah.
Menurut Pasal 2 UU No.31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001, korupsi adalah
tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang untuk memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara. Rumitnya
praktek korupsi yang saat ini kerap terjadi sebenarnya dapat dipahami setelah memahami
sistem yang berjalan, baik sistem anggaran negara maupun sistem pada masing-masing
lembaga negara. Hal ini karena korupsi yang terjadi di Indonesia bukan lagi korupsi personal
ataupun organisasional, tapi sudah naik tingkatannya menjadi korupsi sistemik. Korupsi
sistemik yaitu praktek korupsi yang melibatkan lebih dari satu institusi dan dilakukan melalui
kompromi antara pemangku jabatan pada institusi-institusi tersebut untuk bersama-sama
mencari celah dari sistem yang ada (Revrisond Baswir, 2014).
Modus operandi dari praktek korupsi oleh lembaga Legislatif dan Eksekutif yang
umum terjadi di Indonesia antara lain memperbanyak dan memperbesar mata anggaran,
melibatkan tiga pihak, yaitu anggota Eksekutif, Legislatif, dan pengusaha. Praktek ini
dilakukan dengan menyiasati celah pada sistem anggaran. Rencana anggaran (RAPBN)
disusun oleh Lembaga Eksekutif, diajukan oleh kepada DPR (Legislatif), lalu disahkan oleh
DPR. Dari sini sudah terlihat bahwa penyelewengan APBN hanya dapat dilakukan jika
Lembaga Eksekutif selaku pihak yang mengajukan anggaran bekerja sama dengan Lembaga
Legislatif selaku pihak yang mengesahkan anggaran, serta pengusaha sebagai penyedia
barang/jasa yang anggarannya telah disahkan di dalam anggaran. Oleh karena itu, praktek
korupsi saat ini telah masuk ke tingkat yang lebih cerdik, dengan memahami terlebih dahulu
mengenai sistem penganggaran, termasuk periode penyusunan anggaran, untuk
merencanakan celah anggaran yang dapat dikorupsi beserta jumlahnya.
Disadari atau tidak, masuknya pengusaha dalam praktek korupsi oleh penguasa
merupakan sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara sistem
politik dan sistem ekonomi yang saat ini berjalan di Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945
mengamanatkan sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan (demokrasi
ekonomi). Namun pada kenyataannya, demokrasi ekonomi tersebut perlahan mulai luntur,
dan tanpa disadari, masyarakat mulai berjalan ke arah kapitalisme. Hal ini terlihat dari pola
penguasaan ekonomi oleh pemilik modal dan penindasan yang mereka lakukan terhadap
masyarakat kelas bawah dalam memperbesar kekayaan.
Menurut Donny Ardyanto (2002:2), dalam struktur masyarakat yang kapitalistik,
selalu terjadi ketidakadilan dan kecenderungan orang untuk terus melakukan akumulasi
kekayaan (tanpa mempedulikan proses akumulasi kekayaan tersebut). Logika utamanya
dalam persoalan ekonomi adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya dengan biaya produksi yang serendah-rendahnya. Struktur masyarakat ini juga 2 Maharani, Dian, “Kemenag Mengaku Dipaksa Zulkarnaen Djabar Tambah Anggaran Al Quran”,
melahirkan nilai-nilai penghargaan terhadap orang lain berdasarkan kekayaannya semata.
Nilai-nilai tersebut yang membuat orang cenderung untuk terus memperkaya diri dan tidak
memperdulikan orang lain. Hal ini tentu menimbulkan kontradiksi dengan sistem politik yang
diterapkan di Indonesia, yaitu demokrasi, dimana sistem demokrasi bermaksud untuk dapat
mengakomodasi dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan umum (public). Sementara
itu, sistem ekonomi dalam kapitalisme selalu memperjuangkan kepentingan-kepentingan
pribadi (private). John Girling dalam bukunya Corruption, Capitalism, and Democracy (2007)
menekankan bahwa korupsi dihasilkan oleh benturan antara demokrasi dan kapitalisme.
Power corruption atau korupsi kekuasaan, misalnya, terjadi akibat disalahgunakannya
kepentingan publik untuk keuntungan yang bersifat privat.
Keterlibatan pengusaha dalam praktek korupsi oleh penguasa sebenarnya bahkan
telah dimulai sejak proses perolehan kekuasaan tersebut. Tingginya biaya politik di Indonesia
(high political cost) sering dimanfaatkan oleh pengusaha dengan menjadi sponsor bagi calon
anggota Legislatif maupun Eksekutif. Sebagai timbal baliknya, mereka akan meminta
pemberian izin atau proyek tertentu. Dengan kata lain, sistem politik membutuhkan
ekonomi untuk mencapai kekuasan dan ekonomi membutuhkan kekuasaan untuk
memperlancar pengakumulasian modal (John Girling, 1997). Oleh karena itu, pengawasan
terhadap politisi yang merangkap peran sebagai pengusaha harus dilakukan secara ketat.
Dalam hal proses perolehan kekuasaan, para politisi yang ingin mendapatkan jabatan
tertentu melalui pemilihan umum harus mengeluarkan biaya yang besar untuk kampanye
agar mendapatkan banyak suara dari masyarakat. Setelah mereka mendapatkan jabatan
kampanye. Siklus ini akan terus berputar dari pergantian pemerintahan yang satu ke
pemerintahan berikutnya. Oleh karena itu, salah satu pendekatan untuk mengatasi korupsi
sistemik ini adalah menurunkan biaya politik melalui perbaikan sistem kampanye dan
pemilihan umum.
Sebagai contoh, hal ini terjadi pada kasus pengadaan Al-Qur’an oleh Kementrian Agama
pada bulan April yang lalu. Berikut adalah cuplikan kronologi kasusnya.
“Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama (Kemenag) Syamsuddin mengaku
dipaksa mantan anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Zulkarnaen
Djabar, untuk menambahkan anggaran sebesar Rp 130 miliar dari APBN tahun 2012.
Anggaran proyek pengadaan Al Quran sebenarnya sudah ditentukan sebesar Rp 9
miliar. Dengan adanya penambahan tersebut, anggaran menjadi Rp 59 miliar.
Penambahan anggaran tersebut tentu saja berlebihan. Meskipun begitu, Syamsuddin
tidak bisa menolak penambahan anggaran tersebut. Menurutnya, DPR sendiri telah
mengusulkan program dan mengajukannya ke kementerian. Jika permintaan itu
ditolak, lanjut Syamsuddin, DPR akan membintangi program anggaran Kemenang.
Dengan demikian, anggaran tidak bisa dicairkan di Kementerian Keuangan karena
belum ada persetujuan dari DPR”2.
Perancangan praktek korupsi tersebut mencerminkan sebuah ironi, mengingat sistem
politik maupun anggaran yang dibuat tersebut sebenarnya merupakan bentuk penerapan
check and balances antarlembaga pemerintahan. Namun pada kenyataannya justru
dimanfaatkan untuk mengadakan persekongkolan pencurian uang negara.
2 Maharani, Dian, “Kemenag Mengaku Dipaksa Zulkarnaen Djabar Tambah Anggaran Al Quran”,
Paparan di atas merupakan contoh praktek korupsi pada sisi pengeluaran anggaran.
Dari sisi penerimaannya pun tidak sedikit ditemukan adanya penyimpangan. Sektor pajak
selaku penyumbang terbesar penerimaan negara menjadi sektor yang paling rentan akan
terjadinya tindak korupsi. Praktek korupsi pada sisi ini dilakukan melalui penyuapan pegawai
pajak oleh pembayar pajak yang biasanya juga adalah perusahaan. Contohnya seperti kasus
yang cukup fenomenal yaitu mafia pajak Gayus Tambunan atau yang baru-baru ini
terungkap, yaitu suap yang dilakukan oleh Bank BCA terhadap mantan ketua BPK, Hadi
Poernomo, yang pada saat itu menjabat sebagai Dirjen Pajak.
Setelah korupsi Eksekutif dan Legislatif, Lembaga Yudikatif pun tidak mau absen dari
tindakan korupsi. Kasus penyuapan hakim atau jaksa sudah biasa terjadi. Jika aparatur
penegak hukumnya saja sudah bermasalah, maka semakin jelas bahwa persoalan korupsi ini
semakin sulit menemukan ujungnya.
Menurut Revrisond Baswir (2014), masih maraknya kasus korupsi yang terjadi
disebabkan masih adanya beberapa masalah pada sisi pengendalian, yaitu sebagai berikut.
1. Sistem Anggaran Negara mencakup nominal yang sangat besar, sektor yang sangat
luas, dan melibatkan pelaksana yang banyak pula.
2. Rumitnya berbagai sistem yang ada sehingga justru menimbulkan banyak celah bagi
koruptor.
3. Kontrol yang kurang oleh DPR selaku pihak yang mengesahkan RAPBN, misalnya
mengenai waktu pembahasan RAPBN yang terlalu singkat sehingga pembahasan
tidak dapat menyentuh sektor yang lebih rinci dan mendalam.
4. Kurangnya partisipasi masyarakat, sebagai pemegang kekuasaan terbesar dalam
Menurut Donny Ardyanto (2002:2), secara mendasar, setiap orang punya potensi
untuk melakukan kejahatan. Juga, setiap orang punya potensi untuk haus akan kekuasaan.
Berdasarkan itu, pemberantasan korupsi (dan juga kejahatan-kejahatan yang lain) terbukti
tidak bisa berjalan efektif apabila dilihat sebagai persoalan yang bersifat personal seperti
halnya bila kita melihat maling ayam atau copet. Di samping itu, tindak korupsi di Indonesia
memang sudah naik ke level sistemik, sehingga penanganannya pun harus melalui
pendekatan sistemik pula.
Ada ungkapan terkenal dari Lord Acton, bahwa "Kekuasaan cenderung korup, dan
kekuasaan yang absolut dipastikan korup" (power tends to corrupt, absolute power corrupt
absolutely). Oleh karena itu, pada dasarnya, sistem demokrasi yang memberikan kekuasaan
terbesar pada masyarakat sengaja diciptakan untuk memerangi adanya korupsi itu sendiri.
Akhirnya korupsi sistemik hanya dapat diatasi dengan dukungan dan kekuatan bersama dari
masyarakat luas. Jika merujuk pada pandangan Karklins dimana, “Anti-corruption work
among public administrator and high level official can help, but in the long run, the
mobilization of democratic forces from below and the forging of civil society is the decisive
way to contain corruption in democratic society”, maka dapat disimpulkan bahwa
berdasarkan pengalaman berbagai negara, terlepas dari sistem pemerintahan yang
diterapkan, menguatnya partisipasi publik akan berdampak pada terjadinya transparansi dan
akuntabilitas pemerintahan.” (Taufik Rinaldi, 2007:19).
Daftar Pustaka
2 Maharani, Dian, “Kemenag Mengaku Dipaksa Zulkarnaen Djabar Tambah Anggaran Al Quran”,
Renaldy, Purnomo, Damayanti, (2002), Memerangi Korupsi di Indonesia yang
Terdesentralisasi, dalam http://siteresources.worldbank.org, diakses pada 14 Juni 2014.
Ardyanto, Donny, (2002), Korupsi, Demokrasi, dan Kapitalisme: Sebuah
Manifesto Bagi Gerakan Sosial Anti Korupsi, dalam http://journal.ui.ac.id, diakses pada
14 Juni 2014.
Izzati, Fathimah Fildzah, (2013), Korupsi: Akibat Persekongkolan Demokrasi
dengan Kapirtalisme, Harian Indoprogress.
Maharani, Dian, Kemenag Mengaku Dipaksa Zulkarnaen Djabar Tambah Anggaran
Al Quran, dalam http://nasional.kompas.com/, diakses pada 14 Juni 2014.