• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT KETUHANAN BERPERSPEKTIF ISLAM S (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FILSAFAT KETUHANAN BERPERSPEKTIF ISLAM S (1)"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

1

FILSAFAT KETUHANAN BERPERSPEKTIF ISLAM SEBAGAI ALTERNATIF PENGKAJIAN PERKEMBANGAN ILMU

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setelah cukup lama mempelajari dan menggeluti ilmu Barat

sekuler, maka ada 2 (dua) jenis reaksi timbul dalam alam fikir kita, yang

berbeda satu sama lainnya. Pertama, akan muncul rasa nyaman

sehingga merasa kagum dengan ilmu Barat sekuler tersebut. Kekaguman

tersebut, karena pemaparan ilmu Barat sekuler dikembangkan

berdasarkan patokan-patokan atau hukum-hukum logika yang ramping,

tegas dan lugas, sehingga ilmu itu dapat berfungsi dalam menentukan

tingkat kebenaran dan kesalahan. Dengan kata lain kebenaran suatu ilmu

terdapat didalam proses berpikir (nalar) yang ada di dalam tubuh ilmu itu

sendiri.

Alasan-alasan tersebut menimbulkan kekaguman terhadap ilmu

yang berasal Barat, dan mengira bahwa hanya patokan-patokan yang

digunakan sebagai dasar ilmu Barat Sekuler itulah yang merupakan

kebenaran yang mutlak dan sejati. Jika bertentangan dengan alasan

keilmuwan tersebut merupakan suatu kekeliruan.

Berdasarkan sejarahnya, perkembangan suatu ilmu, dari ilmu

(2)

2

akhirnya ke pasca-Newtonian. Tentu saja perkembangan ilmu dari bersifat

sangat sederhana ke kompleks atau canggih merupakan hal yang sangat

logis dan wajar. Dalam perkembangan ilmu tersebut apa yang tadinya

dianggap sebagai sebuah kebenaran, setelah mengalami pengkajian dan

muncul teori baru, maka apa yang dianggap sebagai sebuah kebenaran

dari ilmu yang lama itu dapat saja menjadi menolak kebenaran terdahulu

dan kekeliruan yang dimunculkan dari ebuah teori tersebut. Oleh karena

itu apa apa yang hari ini dianggap sebagai sebuah kebenaran maka

mungkin suatu ketika ilmu tersebut ditolak karena terdapat kekeliruan di

dalamnya.

Dalam upaya pemanfaatan ilmu yang ditujukan bagi kenikmatan

hidup manusia, banyak pakar dari “Barat” menyalahkannya “Einstein”.

Mereka menyatakan bahwa “... dalam peperangan ilmu menyebabkan kita

saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membuat

hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Mengapa ilmu yang indah

ini yang menghemat kerja dan membuat hidup kita lebih mudah, hanya

membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita? (dikutip dari

Jujun S., dalam Herman Soewardi)

Selain itu Arthur Schiezinger menyatakan “... we are approaching

the point where science and technology may be creating more difficulties

than they solve” .

Menurut Herman Soewardi, ada kekhawatiran dirinya mengenai

(3)

3

yang fundamental. Kemajuan ilmu yang pesat ini tetap tidak bisa

menerangkan apa sebenarnya yang disebut materi, energi dan “ether”.

Tentang “ether” jika dikatakan bahwa ia itu tiada, maka apa penjelasan

bahwa ia dapat menjalankan getaran (cahaya)? Selain itu banyak sekali

kekurangan-kekurangan ilmu Barat dalam upayanya memecahkan

masalah-masalah penting seperti, penyakit-penyakit yang sudah lama

diketahui tetapi belum ada cara penyembuhannya antara lain, berbagai

penyakit kanker, diabetes, alergi, asma, ginjal, jantung, dan sebagainya.

Penyakit-penyakit tersebut belum dapat disembuhkan, sudah timbul pula

jenis penyakit baru yang ganas, seperti AIDS, dan lain-lain. Apa yang

disebut resistensi terhadap jasad-jasad renik (di bidang ilmu kedokteran),

dan terhadap insekta (wereng coklat) di pertanian, menjadikan balapan

antara survival jasad-jasad itu dengan penemuan-penemuan baru.

Setiap saat perlu ditemukan varietas padi baru di bidang pertanian.

Karena dalam ilmu Barat yang tadinya dimaksudkan menundukkan alam

(untuk kenikmatan hidup manusia) kini telah berubah menjadi

pemerkosaan terhadap alam. Terhadap hal ini termasuk juga pembelahan

(fission) nuklir yang disertai dengan timbulnya radio-aktivitas yang

menyeluruh.

Lebih lanjut Herman Soewardi menyatakan juga kekaguman

manusia terhadap ilmu Barat telah tersapu habis oleh

kekurangan-kekurangan (yang fundamental) yang ada dalam ilmu itu sendiri. Maka

(4)

4

sendiri. Pada dasarnya yang ada itu bukan self correcting, akan tetapi

inconsistency antar disiplin ilmu. Jika kita menghadapi inconsistency maka

manusia dihadapkan kesulitan untuk memilih mana yang benar dan mana

yang salah.

Inilah kelemahan fundamental dan ilmu Barat. Hal ini karena ilmu

ini tidak dapat dinyatakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dugaan Herman sekarang menjadi hal yang lumrah yang benar

dinyatakan salah dan sebaliknya. Ada satu masalah lagi di seputar ilmu

Barat ini : Benarkah ilmu Barat itu, seperti dikatakan oleh “Weber”,

bersifat netral? Bagi Weber, kenetralan ilmu itu mutlak diperlukan. limu

atau logika, harus jauh-jauh disingkirkan dari etika. Karena itu doktrin

Weber adalah kenetralan etis. Hal ini berarti ketika “etika” bercampur dan tidak dapat dilepaskan dalam “ilmu” maka sifat kenetralan sebuah ilmu

tersebut tidak akan sampai kepada sebab-akibat yang tepat.

Sebab-akibat mengikuti hukum inferensi (atau implikasi), dan menurut hukum itu bila sebabnya X, implikasinya harus Y. Menurut pandangan Weber,

dengan turut campurnya etika dengan ilmu, maka sebabnya itu menjadi

bukan X atau akibatnya itu menjadi bukan Y.

Misalnya, pemerintah tidak boleh dipandang sebagai penyebab

hal-hal yang buruk. Jika terjadi keburukan-keburukan dalam tindakan

pemerintah tersebut, maka harus dicarikan kambing hitam. Dalam hal ini

pendapat Weber masih dapat diterima. Namun jika dipahami lebih

(5)

5

“sesuatu tersebut”—(kambing hitam) sesuai dengan nilai yang dianut.

Misalnya karena “tidak menyukai polisi lalu lintas”, maka ketika jalanan

macet, serta merta dikatakan bahwa tugas polisilah yang mengatur atau

polisi penyebab kemacetan.

Contoh lain, di Amerika Serikat tentang Reaganomics dan

Clintonomics. Clintonomics mengklaim bahwa pengaturan pasar yang berasal dari Reaganomics, menimbulkan peningkatan pengangguran. Clintonomics memperbaikinya dengan menghapuskan pengaturan pasar tersebut. Selanjutnya mengembalikan kepada

mekanisme kekuatan pasar. Selanjutnya di Amerika Serikat orang mulai

mempercayai bahwa “hukum pengaturan ekonomi” tersebut menjadi

penyebab peningkatan pengangguran. Orang di Amerika kemudian

menolak hukum pengaturan pasar. Dalam realitanya ternyata, tetap saja

Clintonomics menimbulkan pengangguran yang tinggi dan tidak membawa perubahan dalam hukum ekonomi pasar.

Demikian pula di dalam ilmu kedokteran. Setiap dokter mempunyai

favoritnya sendiri-sendiri. Ada dokter spesialis jantung yang sangat suka

pada zestril, yang lainnya sangat suka pada adalat. Tentu dokterpun tidak

tahu mana diantara keduanya yang lebih efektif dalam mengontrol

jantung.

Karena itu para antropolog menyarakan bahwa tidak ada ilmu yang

etis netral, tetapi semua ilmnu itu dimuati oleh etika (value laden). Maka,

(6)

6

ilmu-ilmu alamiah kita mengenal Teori Relativitas “Einstein” dan “Teori

Mekanika Kuantum” yang berdasarkan pada sudut-sudut pandang yang tidak sama (dan kita tidak tahu sudut pandang mana yang benar),

sedangkan di dalam ilmu-ilmu sosial dikenal Etika Protestan, “Weber,

Etika lingkungan, “Toynbee”, dan sebagainya. Semuanya teori dan etika tersebut tidak bebas nilai.

Sekarang marilah ditinjau lebih mendalam mengenai uraian yang

sebelumnya yaitu “penyakit-penyakit yang belum dapat disembuhkan”,

dan “resistensi dari penyakit tersebut”. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu itu

tidak netral, akan tetapi berpaling menuju ke suatu arah (tanpa disadari).

Dan arahnya adalah arah yang tidak tepat (bila tepat, maka tidak akan

mengalami masalah-masalah itu semua). Karena itu menurut Herman

Soewardi merupakan kesalahan ketika dinyatakan bahwa ilmu tersebut bersifat netral.

Ada yang beranggapan bahwa “ilmu itu ibarat uang”. Uang itu

memiliki kekuatan, dan kekuatan ini bersifat netral. Tergantung tujuan

seseorang untuk menggunakan uang itu. Apakah digunakan untuk

membeli barang-barang keperluan hidup, untuk menyuruh orang

merampok, untuk berjudi, atau apa saja. Karena itu uang itu an sich tak

perlu dipersoalkan. Yang harus diperhatikan adalah menggunakan uang

itu untuk tujuan-tujuan yang benar. Herman berpendapat argumentasi itu

(7)

7

Kembali kepada uraian benar-salah tentang ilmu Barat, maka dapat

di katakan bahwa ilmu yang sekarang ini yang tidak netral, itulah yang

salah. Para filosof dan ilmuwan Barat yang jujur, mengakui bahwa

sekarang mereka sudah sampai pada satu titik yaitu arah yang ditempuh

selama ini adalah arah yang keliru. Arah yang selama ini ditempuh

memang benar telah memberikan kenikmatan, namun kenikmatan yang

diiringi dengan kehancuran.

Bahkan makin lama kehancuran itu dapat berubah lebih besar

daripada kenikmatannya. Namun para ilmuwan Barat, yang merasa

bahwa arah yang ditempuh itu keliru, tidak tahu mencari arah lain, yaitu

arah yang benar. Hal ini merupakan hal yang fundamental dalam cara

pemikiran Barat. Barat sangat mengandalkan diri pada akal. Mereka

katakan bahwa akal itu ialah yang benar dan tidak ada yang lebih benar

daripada akal itu. Jika ternyata akal mereka itu telah membawa pada

sesuatu yang keliru, maka mereka menjadi kalang kabut. Inilah yang

disebut skeptisisme. Mereka mengetahui ilmu yang selama ini diyakini

kebenarannya adalah salah, akan tetapi mereka tidak tahu menunjukkan

mana yang benarnya. Akhirnya upaya mereka menjadi stagnan tidak tahu

apa yang harus dilakukan. Mereka sangat percaya kepada empirisme

dan positivisme, namun tetap dengan skeptisisme. Namun tetap tidak

mampu menunjukkan kebenaran. Hal ini karena yang benar itu satu,

(8)

8

Menyikapi hal tersebut untuk sampai kepada yang benar, maka

harus mengetahui kesalahan dari ilmu Barat itu terlebih dahulu.

Bersyukurlah manusia kepada Tuhan YME, yang menciptakan itu semua.

Ia telah memberitahukan kepada manusia melalui Nabi Muhammad S.a.w.

mana yang benar dan mana yang salah. Kebenaran adalah perintah-Nya

untuk dijalani oleh umat manusia. Kesalahan adalah merupakan

larangan-Nya untuk dihindari oleh umat manusia.

Di antara perintah dan larangan itu adalah apa-apa yang boleh

dilakukan.

Adapun “Ilmu” termasuk perintah Allah Swt, yang harus dilakukan sesuia

dengan kemampuan yang ada pada setiap individu. Ilmu itu termasuk

ciptaan Allah Swt, yaitu berupa firman Allah yang tidak berubah-ubah

sepanjang zaman. Hal ini merupakan kebenaran yang diperintahkan

kepada manusia untuk mengungkapkannya. Segala sesuatu yang

menyimpang dari kebenaran merupakan kekeliruan baik yang besar

maupun kecil. Namun kekeliruan dari ilmu Barat makin lama menuju ke

arah yang makin keliru.

Akhir Abad ke-20 atau permulaan Abad ke-21 harus dihentikan

kekeliruan, dan mengembalikannya kembali ke arah yang benar. Ilmu

inilah yang disebut Tauhidullah (di bidang sains). Melalui Tauhidullah

diharapkan akan membebaskan manusia dari kehancuran (seperti yang

(9)

9

Menurut Herman Soewardi, cara untuk mengalihkan ilmu Barat

dari arah yang keliru itu ke arah yang benar harus diubah 180 . Manusia

tidak hanya mengandalkan diri pada akal saja, akan tetapi meletakkan

akal di bawah ketentuan-ketentuan (nash-nash) dari Allah. Dengan kata

lain suatu ilmu harus dipandu dengan normatif dari Allah SWT atau

naqliah memandu aqliah.

Jelas hal ini merupakan gagasan yang baru di bidang ilmiah.

Mungkin banyak muslim yang akan menentangnya, terutama yang

menyatakan ilmu itu netral. Mereka itu yang menyatakan ilmu adalah

uang, maka tidak perlu diganggu gugat. Namun perlu diperhatikan

bagaimana cara penggunannya. Sains murninya dibiarkan saja, yang

diperhatikan segi aksiologisnya. Dari sudut aksiologis inilah inilah

kekurangan ilmu dari orang Barat itu.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan paparan di atas, maka masalah yang akan dibahas

dalam makalah singkat ini dibatasi adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah perkembangan perkembangan ilmu dalam filsafat

Ilmu Barat?

2. Bagaimanakah peranan dan pandangan filsafat Ketuhanan

(10)

10 BAB II

ANALISIS PEMBAHASAN

A. Filsafat Barat dalam Perkembangan Ilmu

Tarnas dalam bukunya yang berjudul “The Passion of the Western Mind” (1993), dalam bab “The Crisis of Modern Science” mengemukakan

hasil pemikiran yang baru dan sangat menarik untuk diulas.

Pandangannya menyatakan tentang kelanjutan dari sains modern itu, atau

sains Barat sekuler. Tarnas merincikan kesalahan-kesalahan ilmu Barat,

ada 6 (enam) hal yang menarik perhatian adalah sebagai berikut:

a. Postulat dasar ilmu Barat, ialah “space”, “matter”, “causality”, dan “obser-vation”. Kesemuanya dibuktikan tidak benar (controverted).

b. Pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa jagat raya

sebenarnya diciptakan oleh pikiran manusia.

c. Deterministik Newton kehilangan dasar, yang menyebabkan

manusia mulai dengan “stochastic”.

d. Partikel-partikel sub-atomik terbuka untuk interpretasi spiritual.

e. Prinsip “uncertainty” yang ditemukan oleh Heisenberg; dan

(11)

11

Tarnas menyimpulkan berdasarkan pandangan Immanuel Kant bahwa: “Orang merasa tahu tentang jagat raya, padahal tidak. Tak ada

jaminan bahwa manusia dapat tahu, apa yang disangkakannya jagat raya,

sebenarnya hanya menunjukkan hubungan orang dengan jagat raya saja,

atau jagat raya sebagai diciptakan oleh pikiran manusia”. Tentu saja

kesimpulan menimbulkan kekeliruan. Pandangan yang sudah lama

dikubur, oleh Tarnas muncul kembali. Berlandaskan pandangan ini,

Tarnas memberikan “vonis”, yaitu landasan (ilmiah) dengan perspektif yang terbatas, “could be a dangerous thing”.

Atas dasar itulah perlu dipertanyakan, bagaimana kelanjutan sains

modern jika postulat-postulat dasarnya ternyata terbukti tidak benar.

Terutama, segala hal upaya manusia yang dilandaskan pada

temuan-temuan ilmiah dengan perspektif terbatas itu dapat atau telah merupakan

suatu hal yang berbahaya.

1. Kesalahan-kesalahan pada Postulat Dasar:

a. Tentang “space” atau jagat raya. Pandangan yang sekarang berlaku

adalah bahwa space” itu terbatas (finite), tapi lepas; bentuknya

lengkung (tidak linier), sehingga garis edar atau orbit benda-benda

angkasa berbentuk elips, bukan karena tertarik oleh gaya gravitasi

ke matahari, tapi memang bentuknya lengkung. Kemudian, kini

berlaku empat dimensi “space-time”, bukan hanya tiga seperti pada

(12)

12

b. Tentang “matter” atau materi. Baik Democritus maupun Newton

memandang materi itu solid, tapi ternyata kosong. Mekanika

kuantum membuktikannya.

c. Kausalitas ternyata terlalu simplisistik. Sekarang, ditemukan

partikel-partikel saling mempengaruhi tanpa dihayati bagaimana

hubungan kausalititas di antara mereka.

d. Dengan ditemukannya prinsip “uncertainty” oleh Heisenberg,

ternyata observasi terhadap elektron hanya dapat dilakukan kepada

salah satu posisi atau kecepatannya. Selain itu observer tidak bisa

mengobservasi obyeknya tanpa merusak obyeknya itu.

2. Hubungan Manusia dengan Jagat Raya

Berdasarkan pandangan Immanuel Kant, terbukti bahwa

penemuan-penemuan mekanika kuantum yang mendukung bahwa jagad

raya bukan ciptaan manusia, tetapi jagad raya itu hanyalah

menggambarkan hubungan manusia dengan jagad raya. Dengan kata

lain jagad raya sebagaimana tampak menurut apa yang dipertanyakan

oleh manusia. Begitupun dengan Hukum Deterministik Newton. Kini

kehilangan dasar. Orang mulai menganggap kebalikannya, bukan pasti,

tapi mungkin (stothastic). Selanjutnya mengenai Partikel-Partikel

(13)

13

memaksanya. Prinsip “Uncertainly” dari Heisenberg menemukan

bahwa gerakan elektron tak bisa keduanya ditetapkan sekaligus, posisi

atau kecepatannya. Hal ini mempertanyakan bagaimana sebenarnya

kemampuan mengobservasi itu.

3. Kerusakan Ekologi

Hal ini merupakan tanda yang konkrit yang dari dampak sains dari

ilmu barat tersebut, seperti kontaminasi air, udara, tanah, efek buruk

berganda pada kehidupan tumbuhan dan hewan, kepunahan

spesics-spesies tumbuhan dan hewan, pengrusakan hutan di seluruh bumi, erosi

tanah, pengurasan air tanah, akumulasi limbah-limbah yang toksik, efek

yang meningkat dan rumah kaca, bolong-bolongnya lapisan ozon pada

atmosfir, kerusakan keseluruhan ekosistem dan planit ini, semua ini

muncul sebagai masalah yang mengangkat kompleksitasnya yang

menjadi semakin serius. Kemudian pengurasan sumber daya alam

menjadikan masalah ekonomi dunia semakin runyam.

Padahal ilmu Barat itu dikatakan memiliki sifat memperbaiki sehingga

mampu mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh ilmu itu.

Namun, cukup paradoksal, yaitu pengetahuan yang terhandal justru

menunjukkan terjadinya perkembangan yang antitetikal, karena dalam

praktiknya ilmu tersebut tidak selalu positif sehingga pikiran modern

(14)

14

Perkembangan sains di berbagai bidang terjadi secara cepat,

terutama di bidang sub-atomik. Namun menghasilkan data-data baru yang

saling simpang-siur, tidak memungkinkan bagi orang lain untuk

merangkum semuanya secara harmonis. Seolah-olah landasan untuk itu

telah renggut (“uprooted”.). Hal inilah yang merupakan fokus tentang

krisis ilmu pengetahuan modern yang digambarkan oleh Tarnas.

4. Ketidakpercayaan Terhadap Sains Modern (Barat).

Berdasarkan 4 (empat) kesalahan postulat dasar yang telah

diuraikan di atas, “observasi” merupakan masalah yang harus

dipecahkan bagi kelanjutan sains dan ilmu modern. Hal ini karena

observasi merupakan landasan timbulnya pengetahuan. Inilah yang

disebut pandangan empirikal, atau pandangan Aristoteles, dengan

landasannya categories”. Jika observasi itu tidak sah, maka pengetahuan yang diperolehpun tidak sah.

Gambaran tersebut menunjukkan sikap skeptisisme dalam

observasi, yang mula-mula dikemukakan oleh Al-Ghazali. Kini

skeptisisme yang diajukan oleh Tarnas merupakan paradigma yang

dianut oleh seorang ilmuwan ketika bertindak untuk menyaring semua

keilmuan melalui observasi. Sejalan dengan hal tersebut Herman

Soewardi bahwa ilmu empirikal (dengan observasi atau pengindraan

sebagai landasannya) secara apriori salah, karena tak ada kepastian

(15)

15

dapat dipercaya. Skeptisisme terhadap observasi kini diterima oleh ilmu

modern. Baik Einstein maupun Heisenberg juga skeptis terhadap

keterandalan observasi. Ada upaya untuk memperbaiki teknik observasi

antara lain seperti yang disebut oleh NUSAP, yaitu bentuk-bentuk notasi

(pencatatan) untuk mengekspresikan ketidak-pastian dan mutu dalam

informasi saintifik (Healy, 1996: 29). Namun untuk membuktikan

kebenaran dan keterandalan sebuah ilmu tidak hanya bagaimana cara

mengobservasinya namun juga bagaimana paradigma yang dianut oleh

seorang ilmuan.

Masalah tersulit dari pada ilmu dewasa ini karena ilmu tersebut

sudah kehilangan kepastian. Pertama, postulat—postulat dasar dalam

ilmu modern klasikal terbukti keliru. Seperti telah diungkapkan di muka,

keempat postulat dasar (“space”, “matter, “causality”, observation”) tak

dapat dipertahankan lagi. Karena itu orang modem sekarang harus

merenungkan kembali kepercayaannya terhadap rasionalitas Yunani

(Greece). Hal itu bermula dari pandangan-pandangan Bangsa Yunani,

yang dikenal disebut “logos “ atau “reason”. Immanuel Kant, yang

percaya pada dasar-dasar Newtonian yang bersifat kepastian itu, yang

mengemukakan berbagai a priori yang pasti space, time, substance,

causality, ternyata bahwa dasar-dasar itu telah jatuh dan kepastian. Oleh

sebab itu kebenaran sains sama sekali tidak mutlak (absolut) juga tidak

obyektif, dan kini harus dibebaskan dari dasarnya. Berlandaskan pada

(16)

16

tak bisa menghasilkan pengetahuan yang pasti, bahkanjuga pengetahuan

yang bersifat kemungkinan (probability). Orang tak akan tahu esensi dan

benda-benda yang sebenarnya. Setiap waktu, suatu uji baru dapat

menyatakan kekeliruan ilmu, maka data-datanya dapat direinterpretasikan

pada suatu jalinan (framework) baru. Karena itu banyak kejadian dalam

sejarah sains bahwa pembuktian kesalahan suatu ilmu tak selalu sejalan

dengan ideal Popper tentang kritik pribadi yang sistematis dan pada

pembuktian kekeliruan suatu sains berdasarkan teoriyang ada.

Kuhn mengemukakan akumulasi dan data-data yang bertentangan akhirnya menimbulkan krisis paradigma dan setelah itu timbullah suatu

sintesis yang imajinatif yang akhirnya memperoleh rekognisi ilmiah.

Proses yang terjadi kearah itu bersifat non rasional. Proses kearah itu

sangat tergantung pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah baku, rasa

indah, keadaan psikologis dan sosial, yang dibentuk berdasarkan

metafora dan analogi yang populer, yang menghasilkan lompatanjauh

yang imajinatif. Paradigma baru yang terbentuk, jarang sekali sebanding

(comparable) dengan paradigma yang lama. Setiap paradigma

membentuk keadaan gestalt (holislik) masing-masing. Karena itu

sebenarnya sejarah ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang meningkat

secara limier dan rasional, tetapi itu merupakan visi yang berubah secara

radikal, di dalam mana terjadi dengan fakta-fakta yang bersifat

non-rasional dan nori-empirikal, yang memainkan peran sangat besar. Karena

(17)

17

Pengetahuan yang diberikan oleh sains secara relatif tergantung kepada

observer, kepada konteks fisiknya, kepada paradigma sebelumnya dan

asumnsi-asumsi teoritis yang menjadi pegangannya.

Alasan tersebut dipengaruhi oleh kultur, sistem kepercayaan, oleh

konteks sosialnya dan predisposisi psikologisnya, yang sangat tergantung

kepada observasinya. Kemudian kebenarannya segera dapat dinyatakan

salah pada setiap langkah dengan timbulnya bukti baru yang

bertentangan. Begitupun juga dengan Teori Evolusi Darwin, sekarang

data-data yang dimunculkannya saling bertentangan (conflicting) dan

teori-teori alternatif. Begitupun juga dengan pandangan dunia mengenai

Cartesian-Newtonian yang telah ditingalkan, namun demikian pandangan dunia pasca-Newtonian, sama sekali bukan kosmos (order) sebagai

penalti Cartesian-Newtonian.

5. Skeptisisme Sains Modern

Skeptisisme merupakan sifat dasar dari ilmu Barat sampai

sekarang skeptisisme itu tetap ada. Hal ini karena faham Barat tidak dapat

mempercayai apa pun sebagai kebenaran. Popper berusaha untuk

meninggalkan skeptisisme dari Hume, akan tetapi sebaliknya Kuhn, justru

(18)

18 6. Dampak-Dampak Sains Barat

Dampak buruk dari sains Barat terlihat pada alam, masyarakat, dan

manusia. Dampak pada alam berupa “planetay ecokgical crisis”, oleh

Tarnas (krisis ekologi seluruh dunia). Dampak buruk itu sangat mengkhawatirkan untuk kehidupan manusia di dunia ini lebih lanjut.

Dampak- dampak sosial pun tidak kurang hebatnya.Tarnas

mengemukakan beberapa hal. Sukses besar yang diraih sains justru

menimbulkan masalah bagi manusia. Pengobatan penyakit-penyakit,

penurunan laju kematian, dan teknologi produksi pangan yang menjadi

canggih ternyata telah menimbulkan kelebihan penduduk di seluruh dunia.

Dan kelebihan penduduk ini dimana-mana merupakan masalah yang

serius.

Budaya ilmiah menimbulkan stres terhadap jalinan sosial seperti

terjadinya kelebihan perkembangan dan kelebihan populasi di daerah

perkotaan, ketidaksabaran kultural dan sosial. Tenaga kerja mekanikal

yang lesu (tak bergairah), peningkatan-peningkatan kecelakaan industrial,

kecelakaan mobil dan perjalanan udara, kangker dan serangan jantung,

alkoholisme dan ketagihan narkotika, televisi yang memiskinkan kultur dan

membekukan pikiran, peningkatan kejahatan dan keganasan,juga

meningkatnya patopsikologis.

Runtuhnya perikemanusian sebagaimana ditimbulkan oleh sains

yang “netral moral”, yang mengatakan sains memiliki kekuatan yang

(19)

19

kerusakkan oleh kegeniusan itu sendiri. Begitupun dengan konsep ilmiah

murni yang dikritik karena bersifat ilusi (keangan-angan).

Dikatakan ilmiah murni memiliki kemampuan untuk

mengungkapkan rahasia dunia seperti suatu cermin yang memantulkan

keobyektifan realitas secara universal, bukan saja dipandang seperti

epistemologi yang naif, tetapijuga sebagai mengabdi kepada tujuan politik

dan ekonomi tertentu, yang ditujukan ke arah dominasi sosial dan

ekonomi. Sains sudah kehilangan kemampuan kognitifnya. Validitas dan

pada “reason” tidak lagi dapat ditunjang oleh data- data empirikal.

B. Peranan dan Pandangan Filsafat Ketuhanan berperspektif Islam dalam Mengkaji Perkembangan Sebuah Ilmu

1. Manusia Sebagai Khalifah di Atas Bumi

Berdasarkan pendapat Bross (1953) dalam bukunya Design for

Decision, mendefinisikan manusia sebagai “hewan yang mengambil keputusan”. Ciri inilah yang membedakan manusia dan “hewan jenis

lainnya”. Ciri ini pula katanya yang membuat manusia akhirnya mampu

menguasai bumi. Ketika Bross menulis buku itu Sputnik masih belum

diontarkan ke ruang angkasa. Kalau ia tahu hal itu akan terjadi pada tahun

1957, mungkin pula ia akan mengatakan bahwa manusia itu pun akan

menguasai bukan saja bumi, melainkan juga ruang angkasa.

Batasan Bross mengenai manusia itu dipengaruhi oleh pelajaran biologi.

Ciri manusia yang beradab selalu berusaha tidak meniru perilaku hewan.

(20)

20

dengan hewan terletak pada kemampuannya untuk membuat dan

mengambil keputusan.

Mengapa hanya manusia yang diberikan kemampuan untuk

mengambil keputusan? Andaikata ada makhluk lain yang diberi

kemampuan mengambil keputusan sebagaimana manusia mungkin sekali

pola susunan populasi makhluk hidup di dunia ini akan sangat berlainan.

Katakanlah misalnya bahwa harimau pun telah dilengkapi dengan

kemampuan mengambil keputusan. Apa jadinya dengan kita di dunia ini ?

dalam hal ini Tuhan Yang Maha Mengetahui telah menetapkan manusia

sebagai pewaris-Nya di bumi. Kedudukan sebagai pewaris mendudukkan

manusia pada posisi penanggung jawab kelestarian semua macam

kehidupan di bumi. Untuk itulah manusia diciptakan dengan kemampuan

mengambil putusan agar ia dapat memelihara semua titipan Tuhannya di

bumi dan ruang angkasa ini dan tetap terurus dengan baik. Kelengkapan

lainnya dari manusia yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, selain

dapat mengambil keputusan juga diberikan kemampuan berpikir dan

bernalar. Karena itu manusia diciptakan dengan memiliki susunan otak

yang paling sempurna dibandingkan dengan otak jenis makhluk hidup

lainnya, termasuk hewan-hewan yang bentuk tubuhnya sangat dekat

(21)

21 2. Manusia Mahluk Berakal dan Bersosial

Tuhan Yang Maha Esa memberikan otak kepada manusia agar

dapat berpikir dan bernalar untuk mengumpulkan pengetahuan yang

tersembunyi di di alam ini. Proses mengumpulkan pengetahuan itu adalah

suatu proses belajar yang dialami manusia sejak ia lahir hingga ia masuk

ke liang lahat. Oleh karena itu manusia tidak dikeluarkan dalam bentuk

telur ke muka bumi seperti kebanyakan ikan dan binatang melata,

melainkan dilahirkan sebagai bayi setelah berada sembilan bulan sebagai

janin di dalam rahim ibunya. Berlainan dengan hewan menyusui yang

setelah lahir dapat berdiri sendiri walaupun tertatih-tatih, bayi manusia

masih memerlukan pertolongan ibu dan bapaknya.

3. Manusia Pewaris di Bumi Yang Cerdas dan Bermasyarakat

Kelahiran manusia di muka bumi telah diatur di muka bumi

sedemikian rupa agar ia berkesempatan memiliki alat berpikir dan bernalar

serta peluang mendapatkan pendidikan, bermasyarakat dengan baik.

Hanya manusia cerdas yang dapat bermasyarakat dengan baik dan

mampu menjadi pewaris Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi, di dalam

bumi, dan di antariksa. Tanpa kecerdasan, manusia tidak mampu

menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola tugas

ini. Tanpa rasa kasih sayang yang diungkapkan melalui hubungan

(22)

22

kecerdasannya sebagai kekuasaan untuk memenuhi kepentingan

pribadinya saja.

4. Pengetahuan Manusia Menjadi Kekuasaan

Kecerdasan diperlukan oleh manusia untuk mengelola bumi milik

Tuhan Yang Maha Kuasa dan memanfaatkan seluruh sumber daya alam

yang ada sebanyak-banyaknya bagi kemanfaatan manusia. Manusia

berdasarkan akalnya mendapatkan pengetahuan yang dipakai untuk

keuntungan sebagian umat manusia, akan tetapi dapat juga merugikan

kehidupan sebagian umat manusia lainnya. Akibatnya timbullah

ketegangan yang tidak menguntungkan kehidupan di bumi ini. Contoh

mengenai hal ini dapat kita ambil dan berbagai macam perang yang timbul

di dunia. Negara-negara “Selatan” menguasai sumber daya energi fosil

yang terbesar cadangannya dipakai untuk menekan negara-negara

“Utara”.

Dengan demikian ketika manusia diberikan oleh Tuhan, sebagai

manusia yang dapat memutuskan sekaligus mahluk yang memiliki

pengetahuan maka pengetahuan yang didapat oleh manusia itu selain

bermanfaat, juga dapat menimbulkan mudarat.

Sebaliknya, jika diberikan ketentuan-ketntuan yang terlalu ketat

dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan baru akan

mengakibatkan pemikiran manusia menjadi terhambat. Rasa tanggung

(23)

23

pengetahuan yang dibenarkan, mengembangkan akalnya untuk dapat

mengetahui hal yang baru secara bertangungjawab. Hal ini akan

menunjukkan bahwa pengetahuan yang ditemukan bukan kepentingan

dirinya sendiri, bukan pula untuk keluarga dan bangsanya, melainkan

untuk seluruh umat manusia.

5. Tuhan Maha Mengetahui, Manusia Ingin Tahu

Manusia yang ingin tahu akan sesuatu peristiwa berusaha

menerangkan menngapa peristiwa itu muncul dengan akal pikirannya.

Sifat manusia yang mencari cara menerangkan seperti itu hingga kini

masih berlaku dan diikuti oleh para ilmuwan biologi sebagai tahap

pertama pemburuan pengetahuan. Tetapi perlu diketahui bagaimana

mekanisme kejadian yang sebenarnya dari proses kehidupan dan diatur

oleh kesimbangan fisiko-kimia. Mengapa terdapat mekanisme fisiko-kimia

seperti itu hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui. Kalau kita coba lagi

menerangkannya maka kita akan kembali lagi terjebak dalam lumpur

teleologi.

Walaupun tidak ada nilainya secara ilmiah, keterangan yang

muncul berdasarkan teleologi cukup jelas sebagai pembuka mata bahwa

semua yang ada di bumi ini dan antariksa, keteraturan dan

ketidakteraturan yang ada dan saling kait-mengait yang terdapat di

antaranya adalah pengetahuan yang hanya dikuasai oleh Tuhan Yang

(24)

24

banyaknya dan yang batas-batasnya tidak dapat diketahui maupun diduga

dan hanya dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Mengetahu disebut al-’Ilm,

atau Pengetahuan Tuhan. Oleh karena itu pula di dalam Agama Islam

salah satu nama lain dan Allah ialah al- ‘Alim yang artinya ialah “Yang

Maha Mengetahui”.

Mengikuti jalan pemikiran Ibn Khaldun (732-808 Hi 1332- 1406 M.;

Nasr, 1968) kepada manusia Tuhan yang Maha Mengetahui menurunkan

sebagian ilmu-Nya melalui wahyu. Ilmu ini disebut ilmu naqliah atau “ilmu

yang diturunkan”. Ilmu ini adalah kumpulan petunjuk Tuhan yang

membimbmg manusia bagaimana seharusnya berperilaku baik pada jalan

yang diridai-Nya, karena bumi dan antariksa sebenarnya adalah milik-Nya

yang dititipkan-Nya kepada manusia untuk dipelihara.

Sebelum manusia akhirnya kembali menghadap kepada-Nya. Ilmu

naqliah itu tidak dapat dipertanyakan dan diperdebatkan kebenarannya

dengan akal karena adalah kebenaran yang mutlak. Demikian pula,

menurut alam pikiran Al-Ghazali (wafat 505 H./1111 M.; Madjid, 1984),

ilmu naqliah wajib dipelajari oleh setiap manusia. Jadi dalam agama Islam

misalnya, fardu ‘ain hukumnya untuk mempelajari ilmu syari‘ah sehingga

selaku orang yang bertakwa ia selalu berusaha di dalam hidupnya untuk

selalu berjalan di atas jalan yang diridhai Allah, agar sewaktu ia

menghadap kembali kepada-Nya berada dalam keadaan disenangi

(25)

25

Sudah dikemukakan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk

yang dititipi pengelolaan bumi. Untuk itulah manusia diberi akal untuk

memburu pengetahuan mengenai alam di sekitarnya, termasuk hubungan

antara manusia dengan makhluk hidup lain, dan hubungan dengan

lingkungan fisik, baik di daratan, di lautan, di dalam perut bumi, maupun di

ruang angkasa. Dengan akalnya inilah manusia kemudian dapat belajar

dan mengajari sesamanya memburu sebagian rahasia pengetahuan alam,

sosial, dan budaya dan Khazanah Pengetahuan yang disebut al-Ilm tadi,

yaitu Maha Kumpulan Pengetahuan milik Tuhan Yang Maha Mengetahui.

6. Sains atau Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia melalui akalnya

inilah kemudian disusun menjadi bentuk yang berpola. Pengetahuan

dikumpulkan dalam suatu bentuk yang teratur. Kumpulan itu disebut ilmu

aqliah atau ilmu falsafiyyah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui penggunaan

akal dan kecendikiawan. Ilmu inilah pula yang dinamakan sains dan

disebut juga ilmu pengetahuan.

Walaupun ilmu makna aslinya sama dengan pengetahuan,

sehingga istilah “ilmu pengetahuan” seakan-akan terasa berlebihan. Kalau

makna ilmu dibatasi sebagai Maha Kumpulan Pengetahuan yang dikuasai

Tuhan, maka ilmu pengetahuan dapat kita pakai menunjukkan sebagian

dan ilmu itu yang diperoleh manusia melalui akal dan daya nalarnya. Beda

(26)

26

pengetahuan itu telah disusun dan butir-butir pengetahuan yang

ditemukan secara bersistem, sedangkan Ilmu Tuhan tidak perlu disusun

bersistem karena Yang Memilikinya Maha Tahu dan dapat memancing

setiap butir pengetahuan dan Maha Khazanah Pengetahuan itu dalam

sekejap mata.

Tidak demikian halnya dengan kumpulan pengetahuan yang

akhirnya dikuasai oleh manusia. Tanpa ada usaha menata butir-butir

pengetahuan itu menjadi suatu bentuk yang bersistem dan kemudian

dinamakan sains, manusja tidak dapat menemukan butir pengetahuan

yang ingin digunakannya itu dalam waktu yang singkat. Tidak pula ia

dapat mengajar butir-butir pengetahuan itu seluruhnya kepada angkatan

manusia yang lebih muda daripadanya. Menurut al-Ghazali lagi, ilmu

pengetahuan itu wajib hukumnya dipelajari tidak oleh setiap anggota

masyarakat, melainkan oleh sebagian orang saja yang memiliki

kemampuan mempelajarinya.Tingkat wajib seperti itu dinamakan fardu

kifayah.

Jika di kalangan masyarakat di negara itu tidak seorang pun yang

berminat mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu, maka

kelompok masyarakat itu secara keseluruhan harus memikul dosanya.

Oleh karena itu penting sekali bagi orang yang berkemampuan

memahami ilmu-ilmu yang sulit akan tetapi kurang menarik untuk

mempelajari ilmu itu dan tidak mempelajari ilmu lain yang lebih mudah

(27)

27 7. Metode Sains Falsafiyyah

Berlainan halnya dengan ilmu naqliah, ilmu aqliah itu dapat

dijadikan bahan perdebatan oleh karena nilai kebenaran pengetahuan

yang diterima atas dasar akal tidaklah mutlak. Ada peluangnya untuk

salah, terutama setelah orang mendapatkan kesempatan mengadakan

pengamatan tambahan. Suatu pengetahuan dapat ditemukan

berdasarkan nalar dan tingkat kebenarannya ada pada taraf ‘ilmul yaqin.’

Kalau pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan maka tingkat

kebenarannya ada pada taraf ainul yaqin.

Pembuktian kesalahan seorang terdakwa misalnya dapat dilakukan

melalui penyajian bahan bukti (ainul yaqin), yang kemudian disimpulkan

berdasarkan nalar (‘ilmul yaqin), tetapi kita juga dapat menyajikan contoh

betapa orang yang sudah menjalani hukum gantung sampai mati, setelah

limapuluh tahun kemudian ternyata tidak berdosa, karena pelaku aslinya

akhirnya mengakui segala kesalahannya. Dengan demikian mata dan akal

pun kadang-kadang salah lihat atau salah pikir.

Dengan demikian, apa yang menjadi keyakinan yang berdasarkan

pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar

manusia itu yang salah. Demikian pula apa yang menjadi keyakinan

berdasarkan pengamatan belum tentu benar karena penglihatan manusia

mungkin saja mengalami penyimpangan. Karena itu kebenaran mutlak

(28)

28

haqqul yaqin hanyalah ada pada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Itulah

sebabnya ilmu pengetahuan selalu berubah-ubah dan berkembang.

Berdasarkan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa jika

manusia ingin menjadi pengelola bumi yang baik maka ia harus selalu tak

henti-hentinya belajar, karena ilmu pengetahuan itu berubah. Ada diantara

pengetahuan itu terdapat kesalahan dan harus dibuang dan ada pula

pengetahuan yang baru yang harus ditambahkan.

Semua pengetahuan yang telah diyakini kebenarannya

berdasarkan nalar ditolak kebenarannya jika muncul pengetahuan baru

yang bertentangan dengan nalar manusia sebelumnya. Penolakan

kebenaran itu menimbulkan pengetahuan yang baru. Inilah yang menjadi

dasar pemikiran Ibnu Khaldun sewaktu ia menyusun metode

pengembangan sains falsafiyyah, yang membatasi pada hal-hal yang ada

dengan menggunakan tiga tingkat kecerdasan manusia, yaitu melihat,

mencoba, dan menyusun teori. Buah pikiran Ibnu Khaldun inilah yang akhirnya dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Pemikiran ini kemudian menjadi metode penelitian ilmiah modern.

Secara operasional Mohr (1977) mendefinisikan Sains atau Ilmu

Pengetahuan itu sebagai suatu usaha akal manusia yang tekun dan

teratur untuk menemukan pengetahuan yang benar Pengetahuan ilmiah

yang benar ini diungkapkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan khusus

(29)

29

pengamatan yang dilakukan dengan cara yang baku dan lingkungan

pengamatan seseorang.

Pengaruh pemikiran Ibnu Khaldun dalam penggunaan tiga tingkat

kecerdasan, yaitu mengamati, membuat percobaan dan menyusun teori.

Teori itu kemudian digunakan lagi untuk menerangkan kejadian-kejadian

nyata, proses-proses, dan gejala-gejala yang dapat diamati di alam fisik

maupun sosial.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pencarian ilmu pengetahuan

oleh manusia dibatasi oleh kendala kemampuan manusia berpikir dan

bernalar. Selalu mempertahankan itikad baik melihat kebenaran dan

nalarnya, yan diperoleh dari belajar berdasarkan lingkungan di mana dia

hidup, kemampuan untuk menemukan dan merancang, mengumpulkan

keterangan, serta bahan yang menjadi sumber pengamatan dan

penalarannya, serta rasa tanggung jawabnya terhadap perikemanusiaan

dalam penerapan pengetahuan yang telah ditemukannya.

Oleh karena seorang ilmuan sewaktu-waktu akan terbentur pada

kendala-kendala. Sebaiknya seorang ilmuan juga mencoba memahami

Filsafat Sains. Hal ini karena filsafat menurut Immanuel Kant (Britannica,

1982) merupakan dasar semua pengetahuan yang mempersoalkan

cara-cara untuk mengetahui dan mengembangkan pemikiran, mencakup

sampai batas apa diketahui segala sesuatu, tentang perilaku manusia,

(30)

30

Pembahasan ini berhubungan dengan Epistemologi. Yaitu

pembahasan tentang bagaimana caranya orang menjadi maklum, etika,

membahas perilaku manusia yang dianggap dapat diterima oleh

masyarakat, Agama, mempertanyakan sampai berapa jauh orang dapat

mengetahui semua rahasia alam tanpa harus menempatkan dirinya dalam

suatu keadaan bertentangan dengan ketakwaan terhadap Tuhan Yang

Maha Esa, dan Antropologi, yang mencoba menempatkan manusia

sebagai sasaran keingintahuan manusia itu sendiri.

Filsafat Sains menurut Andi Hakim Nasution, “filsafat sains”

adalah tempat yang netral untuk menjadi menara pengamatnya. Apa

sebenarnya yang dimaksudkan dengan sains itu, sesuai dengan asal kata

filsafat itu sendiri yang berasal dan dua kata Yunani philein yang artinya

(31)

31 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Perkembangan ilmu dalam filsafat Ilmu Barat mengalami kemunduran

dengan adanya perubahan persepsi tentang mana yang salah dan

mana yang benar. Kebenaran yang diyakini selama ini ternyata

merupakan sebuah pemikiran yang salah. Karena tidak ada kekuatan

yang self correcting akan tetapi inconsistency antar disiplin ilmu. Ilmu

Barat terjebak dalam skeptisisme yang menjadikannya tidak tahu arah

yang benar.

2. Filsafat Islam menghasilkan ilmu Tauhidullah. Manusia menjadi pewaris

Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi yang diberikan nalar berfikir

dan tingkat kecerdasan sehingga dapat mengambil keputusan. Inilah

yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Penggunaan tingkat kecerdasan, melalui tahap pengamatan,

melakukan percobaan dan penyusunan teori. Teori ini jika digunakan

dengan tepat akan membawa manfaat bagi kesejahteraan manusia,

akan tetapi kejeniusan manusia yang salah akan berdampak pada

(32)

32 B. Saran

1. Seharusnya pemikiran Ilmu Barat tidak hanya berlandaskan pada akal

saja yang membuat keraguan tetapi harus mulai memikirkan kehendak

ketuhanan (God interest).

2. Filsafat tauhidullah adalah solusi untuk memecahkan permasalahan

Referensi

Dokumen terkait

Program Jum’at sehat juga dilaksanakan pada hari Jum’at pada pagi hari yaitu dengan melaksanakan senam aerobik bersama antara siswa, para guru dan para karyawan sekolah.

Excel visual basic tutorial free download : free top selling pc / laptop software training microsoft office word excel 2007 free,macros in excel 2007 tutorial pdf free for

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan pertolongan-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Faktor

Masing-masing parameter memiliki 3 level dan pada penelitian ini menggunakan metode ANOVA untuk menganalisis data hasil percobaan dan optimasi kekasaran minimum

MATA Bisa menyebabkan iritasi mata pada orang yang rentan.. Efek spesifik

Preheating ini dilakukan selama 180 jam pada sagger 1-5 dan ini dilakukan hingga suhu mencapai 800 o C imana akan terjadi pencairan pitch, penguapan pitch hal ini bertujuan

4.8 Menyajikan hasil penalaran dalam bentuk tulisan tentang nilai-nilai dan unsur budaya yang berkembang pada masa kerajaan Islam dan masihD. berkelanjutan dalam kehidupan bangsa

Agar subsektor kerajinan dapat menjadi efisien maka yang harus dilakukan adalah dengan menaikkan target pasar (PDB) dari subsektor kerajinan sebesar 38,84%, hal