MAKALAH
ETIKA DALAM PENDIDIKAN SAINS
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur Filsafat Sains Dosen Pengampu : Prof. H. Dr. Wahidin, M.Pd.
Oleh :
Oleh :
Azzah Laelatussa’adah 1413163057 Biologi B / Semester VII
KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
Manusia, baik sebagai individu atau masyarakat, menyimpan segudang dilema yang sangat menarik jika diperbincangkan. Banyak dimensi yang cukup sulit untuk dipecahkan dalam misteri dari individu bernama manusia. Dilema-dilema itu antara lain terkait masalah ketuhanan, jiwa/roh, kebebasan, dan lain sebagainya.
Dalam menghadapi dilema – dilema tersebut, manusia akan berusaha mencari jalan keluarnya. Dan dalam mencari jalan keluarnya, manusia harus mematuhi berbagai norma, nilai, atau etika. Agar pemecahan tersebut tidak mengalami kontroversi.
Begitu juga dalam hal penelitian ilmu pengetahuan, atau sains. Ada etika – etika tertentu yang harus kita patuhi, agar ilmu yang kita teliti sesuai dengan batas – batas yang telah ditentukan, serta dapat diterima orang lain.
Dalam makalah ini kita akan membahas berbagai etika dalam ilmu pengetahuan dan juga apa hubungannya dengan filsafat.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Etika dan unsur pokok? 2. Apa kegunaan beretika ?
3. Bagaimana hubungan etika dan agama ? 4. Bagaimana hubungan etika dengan filsafat ? 5. Bagaimana hubungan filsafat dengan sains ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui maksud dari etika dan unsure pokok dalam beretika. 2. Untuk mengetahui kegunaan beretika.
BAB II PEMBAHASAN ETIKA DALAM SAINS
A. Etika dan Unsur Pokok 1. Pengertian Etika
Secara etimologi (bahasa) “etika” berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam bentuk tunggal , “ethos” berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, perasaan, cara berfikir. Dalam bentuk jamak, ta etha berarti adat kebiasaan. Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Etika dibedakan dalam tiga pengertian pokok, yaitu ilmu tentang apa yang baik, dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Sifat dasar etika adalah sifat kritis, karenanya etika bertugas (darji Darmodiharjo dan shidarta, 2004) dalam buku Mufid (2009).
1. Untuk mempersoalkan norma yang dianggap berlaku. Diselidikinya apakah dasar suatu norma itu dan apakah dasar itu membenarkan ketaatan yang di tuntut oleh norma itu terhadap norma yang dapat berlaku.
2. Etika mengajukan pertanyaan tentang legitismasinya, artinya norma yang tidak dapat mempertahankan diri dari pertanyaan kritis dengan sendirinya akan kehilangan haknya.
3. Etika mempersoalkan pula hak setiap lembaga seperti orang tua, sekolah, Negara, dan agama untuk memberikan perintah atau larangan yang harus ditaati.
4. Etika member bekal kepada manusia untuk mengambil sikap yang rasional terhadap semua norma.
5. Etika menjadi alat pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab bagi seorang ahli dan bagi siapa saja yang tidak mau diombang-ambingkan oleh norma-norma yang ada.
manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika mempersoalkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak.
Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma. Etika menolong manusia untuk mengambil sikap terhadap semua norma dari luar dan dari dalam, supaya manusia mencapai kesadaran moral yang otonom.
Etika menyelidiki dasar semua norma moral. Dalam etika biasanya dibedakan antara “etika deskriptif” dan “etika normatif”. Etika deskriptif memberikan gambaran dari gejala kesadaran moral, dari norma dan konsep-konsep etis. Etika normative tidak berbicara lagi tentang gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan manusia. Dalam etika normatif, norma dinilai dan setiap manusia ditentukan (mufid, 2009 : 174-175).
Etika adalah kajian atau pemikiran sistematis, kritis dan mendasar tentang moralitas. Berbeda dengan moral, yang dihasilkan etika bukanlah kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis. Salah-satu tujuan etika adalah membantu kita mencari orientasi, agar kita tidak hanya ikut-ikutan saja terhadap berbagai pihak yang mau menetapkan bagaimana kita harus hidup. Karenanya, dengan etika diharapkan kita dengan sadar melakukan segala hal perbuatan dan tatacara hidup. Sehingga kita lebih mampu mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Saat ini, keberadaan etika sangat diperlukan. Bahkan dinyatakan oleh K. Bartens dalam bukunya yang berjudul ’Etika’, saat ini etika sedang naik daun. Masyarakat yang semakin plural, meliputi berbagai suku, bangsa, bahasa, ideologi dan sebagainya. Mereka masing-masing membawa norma-norma moral yang berlainan satu sama lain. Kesatuan tatanan moral hampir tak ada lagi.
Kondisi ini diperparah dengan gelombang globalisasi dan modernisasi yang tiada henti. Gelombang modernisasi telah merasuk ke segala penjuru dan pelosok tanah air. Berbagai perubahan dalam masyarakat pun terjadi. Baik dalam penggunaan teknologi yang semakin canggih, maupun cara berfikir masyarakat pun berubah secara radikal. Rasionalisme, individualisme, sekularisme, kepercayaan akan kemajuan, konsumereisme, pluralisme religius serta sistem pendidikan secara hakiki mengubah budaya dan rohani di Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, etika akan membantu kita agar tak kehilangan orientasi dan mengambil sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan. Etika juga membantu kita menghadapi ideologi-ideologi, yang mengaku sebagai penyelamat itu, secara kritis dan objektif.
2. Unsur pokok dalam Etika
Wacana etika melibatkan perilaku dalam system nilai etis yang dipunyai oleh setiap individu atau kolektif masyarakat. Oleh sebab itu wacana etika mempunyai unsure-unsur pokok. Unsure pokok itu adalah kebebasan, tanggung jawab, hati nurani, dan prinsip-prinsip moral dasar.
Kebebasan adalah unsure pokok dan utama dalam wacana etika. Etika menjadi bersifat rasional, karena etika selalu mengandaikan kebebasan. Dapat dikatakan bahwa kebebasan adalah unsure hakiki etika. Kebebasan eksistensial adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri. Ini berarti bahwa kebebasan ini bersifat positif. Ini berarti kebebasan eksistensial lebih menunjukan kebebasan. Tentu saja, kebebasan dalam praktek hidup sehari-hari mempunyai ragam yang banyak, yaitu kebebasan jasmani, rohani, kebebasan social, kebebasan psikologi, kebebasan moral.
Tangung ajawab adalah kemampuan individu untuk menjawab segala pertanyaan yang mungkin timbul dari tindakan-tindakan tanggung jawab berarti bahwa orang tidak boleh mengejek, bila diminta penjelasan tentang perbuatannya. Tanggung jawab mengandaikan penyebab. Orang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang disebabkan olehnya. Pertanggung jawaban adalah situasi dimana orang menjadikan penyebab bebas. Kebebasab adalah syarat utama dan mutlak untuk bertanggung jawab. Ragam tanggung jawab terdiri dari tanggung jawab retsospektifdan tanggung jawab prospektif.
Hati nurani adalah penghayatan tentang nilai baik atau buruk berhubungan dengan situasi konkret. Hati nurani yang memerintrahkan atau melarang situasi tindakan menurut situasi, waktu, dan kondisi tertentu. Dengan demikian, hati nurani berhubungan dengan kesadaran. Kesadaran adalah kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dank arena itu berefleksi tebntang dirinya. Hati nurani bias sangat bersifat retropektif dalam prospektif. Dengan demikian, hati nurani juga bersifat personal dan adipersonal.
memuat unsure hakiki bagi keseluruh program tindakan moral. Prinsip tindakan moral mengandaikan pemahaman menyeluruh individu atas seluruh tindakan yang dilakukan sebagai seorang manusia. Setidaknya ada 3 prinsip dasar dalam kesadaran moral. Prinsip itu adalah prinsip sikap baik, keadilan dan hormat terhadap diri sendiri serta orang lain. Prinsip hormat dan keadilan pada diri sendiri merupakan syarat pelaksanaan sikap baik, sedangkan prinsip sikap baik menjadi dasar mengapa seseorang untuk bersikap adil dan hormat. (mufid, 2009 : 181-182).
B. Kegunaan Beretika
Berbeda dengan ajaran moral, etika tidak dimaksudkan untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas. Terdapat empat alasan mengapa etika semakin diperlukan pada zaman ini.
Pertama, masyarakat sekarang ini semakin pluralistik atau majemuk, baik dari suku, daerah, agama yang berbeda-beda; demikian pula dalam bidang moralitas. Kita berhadapan dengan sekian banyak pandangan moral yang sering saling bertentangan. Mana yang mau diikuti, apakah yang diterima dari orang tua kita dahulu, moralitas tradisional desa, atau moralitas yang ditawarkan melalui media massa ?
Kedua, masa transformasi (perubahan) masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan yang diakibatkan gelombang modernisasi merupakan kekuatan yang menghantam semua segi kehidupan manusia. Kehidupan di kota sudah jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam transformasi ekonomi, sosial, intelektual dan budaya itu nilai-nilai budaya tradisional ditantang semuanya. Dalam situasi inilah etika membantu kita agar jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan antara apa yang hakiki dan apa yang boleh saja berubah, dan dengan demikian tetap sanggup untuk mengambil sikap-sikap yang dapat kita pertanggungjawabkan.
Ketiga, perubahan sosial budaya yang terjadi itu dapat dipergunakan oleh pelbagai pihak untuk memancing di air keruh. Mereka menawarkan ideologi-ideologi mereka sebagai obat penyelamat. Etika dapat membuat kita sanggup untuk menghadapi ideologi tersebut secara kritis dan objektif, dan untuk membentuk penilaian kita sendiri, agar tidak terlalu mudah terpancing. Etika juga membantu kita jangan naif atau ekstrem, yaitu jangan cepat-cepat memeluk segala pandangan yang baru, tetapi juga jangan menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa.
sekaligus mau berpartisipasi tanpa takut-takut dengan tidak menutup diri dari semua dimensi kehidupan masyarakat yang sedang berubah itu.
C. Etika dan Agama
1. Hubungan Etika dan Agama
Selama ini agama sering dianggap sebagai sebuah institusi moral. Para agamawan, dengan penguasaan terhadap wahyu Tuhan, menjadi legalisator hukum moral. Umumnya para agamawan itupun mendapat kepercayaan dari umatnya. Para agamawan tersebut selalu mampu menjelaskan moral versi mereka dihadapan umatnya. Bagi umat yang taat, setiap kata agamawan itu adalah firman Tuhan yang harus dipatuhi.
Tapi bukan berarti moral agama tanpa masalah. Interpretasi terhadap wahyu Tuhan menjadi masalah yang selalu dihadapi para ulama atau semacamnya. Hingga kini, telah terbit puluhan tafsir dari kitab suci, misalnya Al-Quran. Dan terkadang masing-masing madzhab memiliki tafsir yang berbeda terhadap kitab suci. Maka tak jarang apa yang menurut kita adalah tafsir atau maksud dari kitab suci, ternyata hanya penafsiran satu madzhab belaka.
Disamping itu, dalam pluralnya masyarakat saat ini, moral agama hanya bersifat ekslusif. Ia tak mampu menjelaskan moral terhadap orang diluarnya. Dan walaupun mampu mendoktrin pengikutnya tentang moral, tapi mereka tak punya dasar yang kuat sebagai pertanggungjawaban di hadapan publik umum. Ketika ditanya mengapa mereka melakukan perbuatan ini itu dan melarang yang lainnya, mereka hanya mengutarakan jawaban bahwa ini yang diperintahkan Tuhan dalam kitab suci. Karena itu, penting kiranya etika untuk mempertanggungjawabkan itu semua secara universal dan inklusif.
Etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi di lain pihak etika juga tidak bertentangan dengan agama, malahan diperlukan oleh agama. Terdapat 2 masalah dalam bidang moral agama yang tidak dapat dipecahkan tanpa menggunakan metode-metode etika.
tepat. Karena keterbatasan pengetahuan manusia itu, dapat saja ia keliru dalam membaca wahyu. Dan justru yang menyangkut kebijaksanaan hidup, para ahli dari agama yang sama pun sering berbeda pendapatnya tentang apa yang sebenarnya diharuskan atau dilarang dalam kitab wahyu. Untuk memecahkan masalah itu perlu diadakan interpretasi yang dibahas besama sampai semua sepakat bahwa itulah yang mau disampaikan Allah kepada manusia. Dalam usaha untuk menemukan apa pesan wahyu yang sebenarnya bagi kehidupan manusia itulah perlu digunakan metode-metode etika. Begitu juga etika merangsang kita untuk mempertanyakan kembali pandangan-pandangan moral agama kita. Tidak jarang ditemukan bahwa sesuatu yang kita anggap sebagai ajaran agama kita, ternyata hanyalah pendapat satu aliran teologis atau mazhab hukum tertentu, sedangkan apa yang dikatakan dalam kitab suci ternyata mengizinkan interpretasi yang lain.
Kedua ialah bagaimana masalah-masalah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam wahyu, dapat dipecahkan sesuai dengan semangat agama itu. Bagaimana menanggapi dari segi agama masalah moral yang belum terfikirkan pada waktu wahyu diterima. Contohnya ialah misalnya bayi tabung atau pencangkokan ginjal. Kedua contoh itu dalam kitab wahyu apapun tidak dibicarakan secara eksplisit., jadi paling-paling dapat ditangani melalui kias. Untuk mengambil sikap yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap masalah-masalah itu diperlukan etika.
Sebenarnya tidak perlu heran bahwa kaum agama pun memerlukan etika. Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana orang harus hidup apabila ia mau menjadi baik. Akal budi itu ciptaan Allah, dan tentunya diberikan kepada manusia untuk dipergunakan dalam semua dimensi kehidupan, bukannya disimpan saja. Karena itu orang beragama pun hendaknya mempergunakan anugerah Sang Pencipta itu, bukannya dikesampingkan dari bidang agama. Itu sebabnya mengapa justru kaum agama diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.
2. Perbedaan Etika dan Agama
Dalam agama dan etika dan sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika. Kedua berkaitan, namun terpisahkan secara teoritis. Dalam tataran praktis kita tidak bias mengesampingkan salah satu diantara. Misalnya, tidak bisa berbuat suatu hal yang lantas banyak didasarkan pada agama saja tanpa memerhatikan etika atau sebaliknya. Keberagaman pada dasarnya memperhatikan etika yang berlaku, dan sebaliknya seseorang akan dikatakan memilki etika, jika kemudian memerhatikan agama yang ada.
3. Perbedaan Etika dan Moral
Etika lebih condong kearah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kodeetik. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk.
Dua kaidah dasar moral adalah :
a. Kaidah sikap baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik itu harus dinyatakan dalam bentuk yang konkret.tergantung dari apa yang baik dalam situasi konkret itu.
b. Kaidah keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dikumpulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing. (mufid, 2009 : 180)
D. Etika dan Filsafat
Etika merupakan salah-satu cabang tertua dari filsafat. Hal itu bisa dinyatakan setidaknya melalui tiga sudut pandang. Tiga sudut pandang tersebut adalah sejarah, tema-tema yang dikaji dan definisi. Dari sudut pandang sejarah telah dimulai dari zaman klasik sejarah filsafat, yang selalu dipenuhi dengan pembahasan tentang etika. Setidaknya terhitung sejak masa hidup Sokrates.
Sokrates dan para Kaum Shopis adalah orang-orang yang memindahkan filsafat dari kosmosentris ke antroposentris. Dan di antara tema-tema yang menjadi objek kajian adalah etika, misalnya nilai, kebebasan, suara hati, jiwa, ego, super ego dan sebagainya.
keadilan, dan kebajikan. Di zaman modern, tampil Immanuel Kant sebagai tokoh yang membahas moralitas dengan menulis Critique of Practical Reason.
Filsafat pada umumnya didefinisikan sebagai suatu tindak pemikiran yang logis, kritis, mendasar hingga ke akar-akar permasalahan. Dalam buku Persoalan-Persoalan Filsafat yang diterjemahkan oleh H. M. Rasjidi, salah-satu definisi filsafat yang diajukan adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan yang sangat kita junjung tinggi.
Dalam hal ini, norma dan moral secara tak langsung menjadi objek yang harus dikaji oleh filsafat. Sebab sebagai mahluk sosial, manusia tak habis-habisnya menghadapi bermacam problema. Dalam hubungan antar manusia, moralitas menjadi persoalan pokok yang amat mengusik. Masalah ini tak habis-habisnya untuk dibahas dari zaman dahulu hingga sekarang. Sebagaiman telah dijelaskan dalam pendahuluan makalah ini. Dan etika adalah cabang yang mengkaji moral secara kritis, sistematis dan mendasar. Oleh karena itu, layak disebut sebagai cabang dari filsafat.
Di sini tak akan dibahas cabang dan pemabagian-pembagian etika. Namun, sebagaimana telah disinggung, bahwa etika adalah bagian dan sangat penting menjadi kajian filsafat.
Etika sebagai ilmu melanjutkan kecendrungan kita dalam hidup sehari-hari. Etika mulai, jika kita merefleksikan unsur-unsur etis dari pendapat-pendapat yang spontan. Kebutuhan refleksi ini dirasakan manakala pendapat kita berbeda dengan orang lain. Maka timbulah pertanyaan, siapa yang paling benar? Apa dasar objektifitas dari argumen kita? Dan lain sebagainya. Tugas etika adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Dengan demikian, filsafat merupakan sebuah refleksi kritis, metodis, dan sistematis tentang tingkah laku manusia, sejauh berkaitan dengan norma atau dari sudut baik dan buruk.
Dalam konteks Yunani kuno, etika telah berbentuk dengan kematangan. Etika adalah ilmu yang tidak merupakan suatu ilmu empiris. Filsafat tidak membatasi diri pada gejala-gejala kongkret belaka sebagaimana sains. Filsafat memberanikan diri juga untuk melampau taraf kongkret dengan seolah-olah menanyakan dibalik gejala-gejala konkret.
Ciri khas filsafat juga tampak dalam etika yang juga tak terhenti pada hal-hal konkret, pada yang secara faktual dilakukan. Tapi ia bertanya tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang baik atau buruk dilakukan.
alasan apa saja yang menyebabkan mereka melakukan korupsi. Ini semua merupakan pertanyaan sosiologi. Dalam kasus ini, etika akan menyibukan diri dengan segi normatif dan evaluatif. Misalnya, apakah korupsi dapat dibenarkan atau tidak? Bagaimana argumen mereka yang menolak dan mendukung korupsi? Apakah argumen mereka dapat dipertanggungjawabkan? Dan tentu saja etika terlebih dulu harus menyelidiki apa yang persisnya disebut dengan korupsi.
Etika bisa disebut juga sebagai filsafat praktis, karena ia membahas ”yang harus dilakukan”. Selain itu, etika juga langsung berhubungan dengan prilaku manusia. Tetapi etika tidak merupakan filsafat praktis dalam arti menyajikan resep-resep yang siap pakai. Bidangnya tidak teknis melainkan reflektif. Etika merefleksi tema-tema yang menyangkut prilaku manusia. Tema-tema yang dianalisis seperti yang disebut di atas antara lain, hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban dan keutamaan. Pendek kata, etika bergerak dibidang intelektual yang objeknya langung berkaitan dengan praktek kehidupan kita. Nilai dan norma etis dalam moralitas yang terdapat dalam agama, kebudayaan, nasionalisme, pergaulan anak muda dan lain-lain, menjadi objek kajian intelektual etika yang langsung dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, M. T. Misbah Yazdi dalam bukunya ’Falsafeh ye Akhlak’, yang diterjemahkan Amar Fauzi H. dan diterbitkan Al-Huda dengan judul ’Meniru Tuhan’, menjelaskan bahwa salah-satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagiaan dunia ahirat adalah akhlak mulia. Yang dimaksud dengan akhlak di sini tak lain adalah moral. Mengingat dalam definisi akhlak dalam buku ini mengacu pada arti etika pada umumnya. Disebutkannya bahwa ilmu akhlak (filsafat etika) adalah pengetahuan tentang tradisi, adat istiadat, dan sifat-sifat manusia. Selain itu, pembagian-pembagian akhlak juga sama dengan pembagian etika pada umumnya, seperti akhlak deskriptif dan normatif. Misbah Yazdi menjelaskan bahwa menurut Islam, akhlak adalah satu ajaran fundamental di samping akidah dan syariat. Ia adalah jalan hidup dan arah gerak lurus menuju kesempurnaan sejati. Bagi Misbah Yazdi, ahklak (moral) adalah satu-satunya jalan menuju kebahagian dunia akhirat.
Florence Kluckholn, mengidentifikasikan sejumlah orientasi nilai yang tampaknya berkaitan dengan masalah kehidupan dasar :
1. Manusia berhubungan dengan alam atau lingkungan fisik, dalam arti mendominasi, hidup dengan atau ditaklukan alam.
2. Manusia menilai sifat/hakikat manusia sebagai baik, atau campuran baik dan buruk.
3. Manusia hendaknya bercermin pada masa lalu, masa kini, dan masa yang kan dating.
4. Manusia lebih menykkai aktivitas yang sedang dilakukan, akan dilakukan, atau telah dilakukan.
E. Sains dan Filsafat
Pembahasan terakhir dalam makalah ini adalah tentang hubungan sains dengan filsafat. Sains atau ilmu pengetahuan pada zaman klasik tak terpisah dengan filsafat. Para filsuf terdahulu seperti Aristoteles dan Plato selalu mendasarkan penyelidikannya pada metafisika. Plato misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan yang kita punya saat ini adalah bawaan dari alam idea. Proses berfikir ia samakan dengan proses mengingat apa-apa yang pernah dilihat oleh manusia di alam idea dahulu. Baginya, pengetahuan manusia bersifat apriori (mendahului pengalaman). Begitu pula dengan para filsuf-filsuf sebelumnya. Sejak Thales dan para pemikir sebelum Sokrates dan Kaum Shopis, mereka menumpahkan perhatian filsafatnya pada proses kejadian alam semesta, yang berarti objek fisik.
Tapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, yang diawali oleh renaisans yang kemudian disambut hangat oleh kaum empirisme, peta sains mulai bergeser. Namun metodelogi rasionalisme yang dimotori Descrates sebagai penggerak renaisans berbeda dengan empirisme. Jika rasionalisme beranggapan bahwa pengetahuan yang sahih hanya diperoleh melalui rasio, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan yang sahih bersumber dari pengalaman. Menurut empirisme, pengetahuan tidak diperoleh secara apriori melainkan aposteriori (melalui pengalaman).
pengetahuan berkembang melalui tiga tahap. Dari tahap teologis, metafisis dan terahir positifis. Baginya perkembangan ini layaknya perkembangan kehidupan manusia, mulai dari anak-anak, remaja, kemudian dewasa.
Pada tahap dewasa ini, manusia tidak lagi mengamati objek-objek yang tak teramati, melainkan semua objek yang dapat diindra. Akhirnya, pada tahap positifis ini, organisasi masyarakat industri menjadi pusat perhatian. Ekonomi menjadi primadona dan kekuasaan elit intelektual muncul. Bagi Comte, sosiologi merupakan ilmu baru untuk mengorganisasikan masyarakat industri.
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, doktrin positifisme yang hanya memusatkan diri pada hal yang faktual pun mulai merajarela. Ia semakin perkasa dan seakan-akan membenarkan bahwa teologis, metafisis adalah masa kanak-kanak pertumbuhan masyarakat dunia. Apalagi teknologi yang semakin membantu manusia dalam berbagai aktivitasnya, misalnya mobil, telepon, internet dan sebagainya, memberantas penghalang hubungan manusia modern. Sehingga jarak dan waktu bukan jadi masalah lagi.
Tetapi di tengah kemajuan teknologi tersebut, ada masalah yang mulai menyelimuti manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk melayani dan mempermudah manusia pada perjalanannya lain. Kini teknologi mulai berbalik menyerang manusia. Manusia mulai kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Banyak kemajuan teknologi yang justru merusak lingkungan dan nilai kemanusiaan.
Jika menilik pada sejarah sebelumnya, sains atau ilmu pengetahuan, selalu berhubung erat dengan filsafat dan cabang-cabang lain seperti metafisika, etika dan sebagainya. Terlebih dalam tradisi filsafat Islam. Sains masih terkait erat dengan filsafat bahkan theologi. Dalam karya Mulyadi Kartanegara yang berjudul ’Gerbang Kearifan’ dijelaskan, tak ada objek ilmu satu pun yang tak berhubungan dengan dunia metafisik. Para filsuf muslim memandang bahwa terdapat sumber abadi dan sejati bagi apapun yang terjadi di jagad raya ini, yang pada gilirannya akan dijadikan objek penelitian.
Menilik sejarah peradaban keilmuan Islam, sains memang tak bisa dilepaskan dari filsafat. Dari masa ke masa, baik pemerintahan Bani Umayyah dan Abasiyah, tak ada beda antara sains dan filsafat. Bahkan dalam tradisi Islam, filsafat disebut sebagai induk dari ilmu aqliah. Pada tahun 700 dalam pemerintahan Dinasti Umayyah, terbangun observatorium astronomi di Damaskus. Begitu pula pada Dinasti Abasiyah, Khalifah Al-Mansyur diriwayatkan pernah mengumpulkan ilmuan, termasuk dokter-dokter dari Persia sampai India. Ini membuktikan, bahwa dalam Islam, sains dan filsafat tetap berdampingan. Dan hingga kini, hal itu tetap terjaga.
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. Etika, 2007. Gremedia Cet. Ke 9, Jakarta.
Hardiman, F. Budi, 2004. Filsafat Modern, Gramedia, Jakarta.
Mufid M, 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Prenata Media Grup, Jakarta. Suseno, Fran Magnis, 1987. Etika Dasar, Kanisius, Yogyakarta.
Titus, Harold H., Marilyn S. Smith, Ricard T. Nolan, 1984. Persoalan-Persoalan Filsafat, Bintang Terang, Jakarta.
Yazdi, M. T. Misbah, 2006. Meniru Tuhan, Al-Huda, Jakarta.