• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membentuk Karakter Kepribadian Bangsa In

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Membentuk Karakter Kepribadian Bangsa In"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

P

ERILAKU

O

RGANISASI

PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA INDONESIA BERDASARKAN PANCASILA : MENUJU BANGSA MANDIRI DI ERA GLOBALISASI

A.

P

ENDAHULUAN

Fenomena globalisasi merupakan dinamika yang paling strategis dan

membawa pengaruh terhadap perkembangan proses perubahan peradaban

manusia. Globalisasi juga membawa dampak pada semakin pesatnya

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Selain itu,

globalisasi memungkinkan terjadinya perubahan lingkungan strategis yang

berdampak luas terhadap eksistensi dan kelangsungan kehidupan berbangsa

dan bernegara. Dari aspek internal, kondisi objektif bangsa Indonesia sejak

diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan negara dengan

bangsa yang dibangun di atas keragaman dan perbedaan, yaitu perbedaan

suku, agama, ras, etnis, budaya, bahasa dan lain-lain.

Keragaman dan perdedaan tersebut apabila dikelola dengan baik, maka

keragaman itu akan menimbulkan keindahan dan harmoni dalam berbangsa

dan bernegara, tetapi apabila keragaman dan perbedaan tersebut tidak dapat

dikelola dengan baik maka akan berpotensi menimbulkan perselisihan dan

sengketa yang dapat menyebabkan perpecahan atau bahkan disintegrasi

bangsa Indonesia.

Bila ditinjau dari aspek eksternal, globalisasi menyebabkan pertemuan

(2)

bangsa Indonesia. Sehingga, globalisasi tersebut berdampak pada terjadinya

perubahan sosial (social change) secara besar-besaran pada kehidupan

berbangsa dan bernegara. Perubahan sosial yang terjadi tersebut belum tentu

“kongruen” dengan kemajuan sosial (social progress) suatu bangsa. Sehingga

bangsa Indonesia juga harus memiliki antisipasi untuk mengatasi dampak dari

perubahan sosial yang tidak kongruen dengan bangsa Indonesia yang

disebabkan oleh globalisasi yaitu dengan berlandaskan pada nilai-nilai yang

terkandung dalam pancasila.

Pancasila sebagai sebuah ideologi dalam kehidupan berbangsa dan

bernegara bagi bangsa Indonesia, semestinya diamalkan dalam kehidupan

sehari-hari sehingga menjadi landasan nilai dan prinsip yang terus mengalir

bagi setiap generasi. Namun dalam perjalanannya, pembangunan karakter

bangsa Indonesia yang telah dilaksanakan sejak lama sering mengalami

hambatan-hambatan dengan adanya sejumlah kasus yang melibatkan

kehidupan antar umat beragama sekaligus masih banyaknya kekerasan atas

nama golongan dan kelompok tertentu di Indonesia.[1]Terlepas dari masalah

tersebut, penulis melihat bahwa pancasila masih memiliki relavansi dan

kesaktian sebagai landasan pembangunan karakter bangsa Indonesia untuk

menjadikan Indonesia sebagai bangsa mandiri di era globalisasi.

Penulis menggunakan globalisasi sebagai acuan untuk mengkaji

pembangunan karakter bangsa terutama bagi generasi muda Indonesia menuju

pada kemandirian bangsa dengan berlandaskan pada pancasila untuk

menghadapi derasnya arus globalisasi. Dalam proses membangun

(3)

adalah pendidikan baik itu secara formal maupun non formal sehingga

pengaruh negatif dari globalisasi dapat dikurangi terutama bagigenerasi muda

sebagai generasi penerus bangsa yang menentukan masa depan. Generasi

muda sekaligus sebagai generasi yang paling rentan terkena dampaknegatif

dari globalisasi sehingga peran pendidikan karakter bangsa serta

pembangunan karakter bangsa dengan berlandaskan pancasila menjadi suatu

hal yang sangat penting untuk menjadikan bangsa Indonesia mandiri di era

globalisasi.

B.

R

UMUSAN

M

ASALAH

Masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini adalah:

Bagaimanakah membangun karakter bangsa Indonesia menuju bangsa yang

mandiri di era globalisasi dengan berlandaskan pada pancasila?

C.

K

ERANGKA

A

NALISIS

Pada awal 1960-an sosiologi pembangunan berkembang pesat dan sangat

dipengaruhi oleh pemikiran para ahli sosiologi klasik seperti Marx Weber dan

Durkheim. Sosiologi pembangunan juga membawa dampak pada lahirnya

dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Pembangunan

adalah suatu bentuk perubahan sosial yang terarah dan terencana melalui

berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf

kehidupan masyarakat. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan

(4)

Indonesia. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu

menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini termasuk juga bangsa Indonesia.

Penulis menggunakan pendekatan sosiologi pembangunan untuk

menganalisa pembangunan karakter bangsa Indonesia yang berfokus pada

pembangunan karakter generasi muda Indonesia dengan berlandaskan pada

nilai-nilai dasar pancasila. Sosiologi pembangunan adalah suatu cara untuk

menggerakkan masyarakat supaya mendukung pembangunan dan masyarakat

itu sendiri sebagai tenaga pembangunan, sekaligus sebagai dampak dari

pembangunan yang dilaksanakan.[2]

Dalam teori sosilogi, pembangunan karakter bangsa merupakan salah satu

unsur penting karena dengan karakter yang bagus maka bangsa tersebut akan

tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang besar dan kuat.[3] Hal tersebut

juga dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dalam pembangunan karakter

generasi muda bangsa Indonesia menuju pada kemandirian di era globalisasi

yang bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan

kuat.

D.

P

EMBAHASAN

Setiap bangsa yang melaksanakan pembangunan selalu menginginkan

perubahan yang mengarah pada kemajuan bangsanya. Dan keberhasilan

pembangunan tersebut tidak akan terlaksana tanpa adanya semangat juang dari

seluruh komponen bangsa untuk maju bersama-sama. Seperti misalnya

semangat perubahan Cina dan India yang dapat sukses membangun negaranya

(5)

ekonomi gaya Deng Xiaoping, India dengan perpaduan serasi antara agama

dengan kasta serta meritrokasi. Semangat juang tersebut seharusnya ditiru oleh

bangsa Indonesia dengan pembangun karakter bangsa yang berdasarkan pada

Pancasila.[4]

Pembangunan karakter suatu bangsa tidak cukup dalam esensi

pembangunan fisik saja tetapi dibutuhkan suatu orientasi yang lebih kuat yaitu

suatu landasan dasar atau pondasi pembangunan karakter bangsa tersebut.

Sehingga esensi fisik dari pembangunan berawal pada internalisasi nilai-nilai

untuk menuju pada pembangunan tata nilai atau sebaliknya pembangunan

yang berorientasi pada tatanan fisik tersebut dijiwai oleh semangat

peningkatan tata nilai sosio-kemasyarakatan dan budaya. Dalam hal ini

Indonesia memiliki landasan pancasila sebagai dasar untuk melakukan

pembangunan karakter bangsa Indonesia.

D.1.

P

EMBINAAN

K

ARAKTER

B

ANGSA

Ketika suatu bangsa mulai membangun, maka yang pertama kali menjadi

korban adalah kelembagaan keluarga berikut seluruh tatanan nilai

kekeluargaan yang ada di dalamnya.[5]

Maksud dari penyataan diatas adalah pembangunan yang dilakukan oleh

suatu bangsa seringkali membutuhkan pengorbanan yang sangat besar

termasuk mengorbankan keluarga atau bahkan kebersamaan dalam keluarga.

Bukti nyata yang dapat kita lihat terutama berada di negara - negara industri

(6)

sejalan dengan semakin meningkatnya modernisasi di negara-negara maju

tersebut.

Pembangunan yang baik tentu tidak harus mengorbankan keluarga atau

bahkan bangsanya sendiri. Sehingga dalam melaksanakan pembangunan dan

pembinaan karakter suatu bangsa dibutuhkan pemahaman yang lebih baik,

khususnya dalam menjadikan pembangunan fisik suatu bangsa sebagai salah

satu instrumen dalam pembinaan karakter bangsanya agar menjadi lebih baik

pula dengan berlandaskan pada suatu nilai.

Aspek lain yang tidak kalah penting untuk diperhitungkan dalam

melakukan pembinaan karakter bangsa adalah pengaruh dari kemajuan

kapasitas berpikir manusia itu sendiri yang pada umumnya diartikulasikan

dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu teknologi

informasi dan telekomunikasi. Kedua jenis teknologi tersebut secara radikal

telah mengakselerasi proses interaksi antar manusia dari berbagai bangsa dan

memberikan dampak adanya amalgamasi berbagai kepentingan lintas bangsa

(globalisasi).[6] Dan salah satu unsur yang ada dalam proses amalgamasi

kepentingan antar manusia adalah daya saing ataucompetitiveness. Pentingnya

kemampuan daya saing bagi suatu bangsa untuk dapat menjadi bangsa yang

mandiri di era globalisasi tersebut sehingga dibutuhkan suatu pembinaan

karakter bangsa termasuk juga bagi bangsa Indonesia.

Menurut Michael Porter (1999), dalam bukunya Daya Saing sebuah

Bangsa (The Competitiveness of A Nation), pemahaman daya saing sebagai

salah satu keunggulan yang dimiliki suatu entitas dibandingkan dengan entitas

(7)

pengertian maupun penerapan. Keunggulan tersebut dapat diartikan sebagai

keunggulan ekonomi, keunggulan politik, keunggulan militer dan lain-lain.

Sedangkan, daya saing pada esensinya dapat diartikan sebagai sebuah rantai

dari suatu nilai proses yang dapat dikendalikan dengan proses pembelajaran

kontinyu atau continuous learning.Sehingga, arti dan makna pembinaan

karakter bangsa di era globalisasi yang sarat dengan daya saing adalah

menyangkut tiga hal pokok yaitu:[7]

1. Artikulasi karakter bangsa adalah mengacu pada tingkat peningkatan

kapasitas pengetahuan dari bangsa tersebut untuk terus melakukan

pembelajaran agar semakin meningkat daya saingnya di era

globalisasi.

2. Pembinaan karakter bangsa akan diarahkan agar kapasitas pengetahuan

yang terbangun dapat meningkatkan daya saing suatu bangsa, dengan

kondisi dimana daya saing tersebut akan memungkinkan adanya

kemajuan kolektif atau kemajuan bersama bagi bangsa Indonesia.

3. Pemaknaan dari karakter positif bangsa seharusnya diarahkan untuk

mencapai dua hal pokok di atas.

Sebenarnya bangsa Indonesia telah memiliki karakter positif bangsa yang

seharusnya terus ditumbuh-kembangkan untuk menjadi bangsa yang mandiri

di era globalisasi ini. Karakter positif yang telah dimiliki oleh bangsa

Indonesia tersebut antara lain adalah karakter pejuang yang juga telah diakui

oleh masyarakat internasional karena Indonesia mendaparkan

kemerdekaannya melalui perjuangan tumpah darah bangsa Indonesia. selain

(8)

positif lainnya yang harus ditumbuh-kembangkan sebagai bekal untuk

menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan mandiri di era

globalisasi. Seluruh karakter positif yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia

tersebut harus dimaknai dalam konteks peningkatan daya saing untuk

menghadapi globalisasi. Sehingga pembinaan karakter positif bangsa

dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dalam era

globalisasi.

Namun disisi lain, bangsa Indonesia masih didera oleh sejumlah

permasalahan dalam pembinaan karakter bangsa bahkan yang paling kritis

justru yang menyangkut masalah daya saing bangsa Indonesia, sebuah

parameter yang semakin meningkat nilai pentingnya di era globalisasi saat ini.

Meskipun demikian, pembinaan karakter bangsa Indonesia terus dilaksanakan

secara terus-menerus demi terciptanya generasi muda penerus bangsa yang

memiliki mental saing kuat dalam menghadapi globalisasi. Pembinaan

karakter bangsa Indonesia juga dilandasi oleh nilai-nilai dasar pancasila yang

akan penulis kaji dalam pembahasan berikutnya.

D.2.

P

ANCASILA SEBAGAI

L

ANDASAN

P

EMBANGUNAN

Pancasila sebagai landasan pembangunan berarti nilai-nilai dasar pancasila

secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur segenap aspek

pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai

konsekuensi logis terhadap pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas

(9)

Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar

negara Indonesia termasuk dalam melaksanakan pembangunan karakter

bangsa. Nilai-nilai dasar Pancasila dikembangkan atas dasar hakikat manusia.

Sedangkan Pembangunan nasional Indonesia diarahkan pada upaya

peningkattan harkat dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa, raga,

pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan. Sehingga, pembangunan nasional bangsa

Indonesia dapat dimaknai sebagai upaya peningkatan harkat dan

martabat manusia secara total atau menyeluruh berdasarkan pada nilai-nilai

yang ada dalam pancasila.

Dalam melaksanakan pembangunan sosial berdasarkan pancasila maka

pembangunan sosial tersebut harus bertujuan untuk mengembangkan harkat

dan martabat manusia secara total. Oleh karena itu, pembangunan yang

berdasarkan pancasila harus dilaksanakan di berbagai bidang yang mencakup

seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan dengan berlandaskan pada

pancasila tersebut meliputi bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan

pertahanan keamanan. Penulis akan dijelaskan mengenai pancasila sebagai

landasan pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia sesuai

dengan aspek-aspek yang telah disebutkan sebelumnya pada pembahasan

berikutnya.

D.3.

P

ANCASILA

S

EBAGAI

L

ANDASAN

P

EMBANGUNAN

P

OLITIK

I

NDONESIA

Pembangunan politik yang berdasarkan pada pancasila harus dapat

(10)

dan martabat manusia tersebut adalah dengan menjunjung tinggi hak asasi

manusia. Sehingga, sistem politik Indonesia harus mampu menempatkan

kekuasaan tertinggi pada rakyat yang sesuai dengan pancasila yaitu sistem

politik demokrasi (kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk

rakyat). Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia

dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan,

moral kerakyatan, dan moral keadilan.

Sebagai konsekuensi logis dari sistem politik demokrasi yang

berlandaskan pada moral pancasila maka perilaku politik, baik perilaku politik

warga negara maupun penyelenggara negara dikembangkan atas dasar moral

tersebut sehingga menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral.

D.4.

P

ANCASILA

S

EBAGAI

L

ANDASAN

P

EMBANGUNAN

E

KONOMI

I

NDONESIA

Sistem dan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan pancasila yaitu

berlandaskan pada nilai moral dari pancasila itu sendiri. Secara khusus, sistem

ekonomi pancasila harus didasari oleh moralitas ketuhanan dan kemanusiaan.

Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dan kemanusiaan

(humanistis) akan menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan.

Sistem ekonomi yang menghargai hakikat manusia, baik sebagai makhluk

individu, sosial, makhluk pribadi maupun makhluk Tuhan adalah sistem

ekonomi pancasila. Sistem ekonomi pancasila harus dikembangkan menjadi

sistem dan pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat

(11)

Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah sistem ekonomi

kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga

tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral kemanusiaan. Pembangunan

ekonomi bangsa Indonesia harus mampu menghindarkan diri dari

bentuk-bentuk persaingan bebas, monopoli dan bentuk-bentuk lainnya yang hanya akan

menimbulkan penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan bagi

rakyat Indonesia.

D.5.

P

ANCASILA

S

EBAGAI

L

ANDASAN

P

EMBANGUNAN

S

OSIAL

B

UDAYA

Pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan

martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab.

Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu

meningkatkan derajat kemanusiaannya.

Berdasarkan sila persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya

dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan

budaya-budaya di seluruh Indonesia menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai

bangsa Indonesia. Dengan kata lain, pembangunan sosial budaya berdasarkan

pada pancasila tidak menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi,

(12)

D.6.

P

ANCASILA

S

EBAGAI

L

ANDASAN

P

EMBANGUNAN

P

ERTAHANAN

K

EAMANAN

I

NDONESIA

Sistem pertahanan dan keamanan sesuai pancasila adalah mengikut

sertakan seluruh komponen bangsa untuk melindungi seluruh tumpah darah

Indonesia. Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia disebut

sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).

Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga negara,

wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh

pemerintah dan diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan berlanjut

untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan

segenap bangsa dari segala ancaman.

Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran

atas hak dan kewajiban warga negara, serta keyakinan pada kekuatan bangsa

sendiri. Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana

pemerintahan dari rakyat memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam

masalah pertahanan negara dan bela negara.

UU No. 3 Tahun 2002 tentang pertahanan Negara sangat sesuai dengan

nilai-nilai pancasila. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa

pertahanan negara bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup bangsa

Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan

Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

(13)

D.7.

P

EMBANGUNAN

K

EMANDIRIAN

B

ANGSA

“ The core of any army is its soldiers, no matter how sophisticated its equipment, its performance is solely dependent on its soldiers.”

-Douglas MacArthur, General, US Army, 1945-.[8]

Penggalan kalimat di atas memberikan esensi pada peran Sumber Daya

Manusia sebagai unsur yang paling kritis dalam setiap proses pengembangan

suatu entitas tertentu. Penggalan kalimat tersebut ikut menekankan pentingnya

faktor manusia atau SDM sebagai komponen terpenting dalam setiap proses

atau rantai nilai apapun juga. Dalam kasus pembangunan karakter bangsa

Indonesia, Sumber Daya Manusia terutama generasi muda Indonesia juga

merupakan komponen penting bagi keberhasilan pembangunan karakter

bangsa itu sendiri dengan mengngimplementasikan rantai nilai dari pancasila.

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan suatu hal yang sangat krusial,

sekaligus potensi bangsa yang paling strategis yang harus dimobilisir dan

dikembangkan. Ralph S. Larsen (2004), CEO dari Johnson & Johnson

mengatakan bahwa, tingkat kedewasaan suatu organisasi ditentukan dari

persepsinya terhadap Sumber Daya Manusia yang dimilikinya.

Permasalahan utama bagi pembangunan karakter bangsa Indonesia adalah

bagaimana mendorong agar pengembangan sumber daya manusia tersebut

dapat menghasilkan suatu pencapaian yaitu tingkat kemandirian yang

berkesinambungan. Era globalisasi menuntut adanya parameter daya saing

sebagai satu hal penting untuk menjamin suatu kemandirian bangsa. Sehingga,

(14)

adanya sejumlah prasyarat pokok yang harus dijadikan acuan dalam setiap

proses pembangunan sesuai dengan rantai nilai dalam pancasila.

Sejalan dengan hal tersebut, maka unsur pokok pembangunan kemandirian

bangsa terfokus pada tiga aspek penting yaitu:[9]

1. Peran kritis sumber daya manusia sebagai sumber daya yang terus terbarukan untuk melakukan pembangunan bangsa yang

berkesinambungan.

2. Peningkatan daya saing dari sumber daya manusia tersebut, sebagai jaminan dari kemandirian bangsa yang berkesinambungan.

3. Pemahaman mengenai pentingnya mencetak mentalitas daya saing yang berdasarkan pada suatu rantai nilai (pancasila) dengan tatanan

dan urutan tertentu. Sehingga keberhasilan pembangunannya

tergantung dari tingkat pemenuhan kriteria dan persyaratan tersebut.

Ketiga aspek pembangunan kemandirian bangsa tersebut tentu

membutuhkan suatu agents yang dapat mengimplementasikan hal tersebut

diatas. Dan agents itu adalah generasi muda yang dimiliki oleh bangsa

Indonesia. Generasi muda yang umumnya masih berusia produktif diharapkan

dapat memiliki kemampuan yang tanggap khususnya dalam mengakselerasi

proses internalisasi pengetahuan dan menjadi motor penggerak perubahan

atau generator of change sesuai dengan cita-cita pembangunan berdasarkan

(15)

D.8.

P

ERAN

G

ENERASI

M

UDA

D

ALAM

P

EMBANGUNAN

B

ANGSA

M

ANDIRI

Pembentukan karakter generasi muda bangsa merupakan hal yang sangat

penting bagi suatu bangsa dan bahkan menentukan nasib bangsa itu di masa

depan termasuk juga Indonesia. Namun pada kenyataannya, di era globalisasi

yang telah menempatkan generasi muda Indonesia pada derasnya arus

informasi yang semakin bebas, sejalan dengan kemajuan teknologi informasi

dan telekomunikasi sebagai akibat dari globalisasi.

Akibat dari globalisasi tersebut, nilai-nilai asing secara disadari maupun

tidak disadari telah memberi pengaruh langsung maupun tidak langsung

kepada generasi muda Indonesia.

Sehingga upaya strategis yang harus dilakukan oleh generasi muda

Indonesia untuk menghadapi globalisasi adalah dengan melakukan sebuah

koordinasi gerakan revitalisasi kebangsaan yang diarahkan terutama pada

penguatan ketahanan masyarakat dan bangsa terhadap segenap upaya

nihilisasi dari pihak luar terhadap nilai-nilai budaya bangsa. Berikut 3 peran

penting generasi muda dalam melaksanakan koordinasi gerakan revitalisasi

kebangsaan:[10]

1. Generasi muda sebagai pembangun-kembali karakter bangsa

(character builder). Di era globalisasi ini, peran generasi muda adalah

membangun kembali karakter positif bangsa seperti misalnya

meningkatkan dan melestarikan karakter bangsa yang positif sehingga

pembangunan kemandirian bangsa sesuai pancasila dapat tercapai

(16)

2. Generasi muda sebagai pemberdaya karakter (character enabler).

Pembangunan kembali karakter bangsa tentu tidak cukup, jika tidak

dilakukan pemberdayaan secara terus menerus. Sehingga generasi

muda juga dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya

karakter atau character enabler. Misalnya dengankemauan yang kuat

dan semangat juang dari generasi muda untuk menjadi role model dari

pengembangan dan pembangunan karakter bangsa Indonesia yang

positif di masa depan agar menjadi bangsa yang mandiri.

3. Generasi muda sebagai perekayasa karakter (character engineer)

sejalan dengan dibutuhkannya adaptifitas daya saing generasi muda

untuk memperkuat ketahanan bangsa Indonesia. Character

engineer menuntut generasi muda untuk terus melakukan

pembelajaran. Pengembangan dan pembangunan karakter positif

generasi muda bangsa juga menuntut adanya modifikasi dan rekayasa

yang sesuai dengan perkembangan dunia. Contohnya adalah karakter

pejuang dan patriotism yang tidak harus diartikulasikan dalam konteks

fisik, tetapi dapat dalam konteks lainnya yang bersifat non-fisik.

Esensinya adalah peran genarasi muda dalam pemberdayaan karakter

tersebut.

Generasi muda Indonesia memiliki tugas yang berat untuk dapat

melaksanakan ketiga peran tersebut secara simultan dan interaktif. Tetapi hal

tersebut bukan suatu hal yang tidak mungkin sebab generasi muda

mendapatkan dukungan dan bantuan dari pemerintah dan seluruh komponen

(17)

E.

P

ENUTUP

Demarkasi atau garis pembatas yang tegas untuk menghadapi dampak

globalisasi adalah daya saing bangsa (national competitiveness) yang kuat

untuk menjadi bangsa yang mandiri dengan berlandaskan pada pancasila.

Pembangunan berdasarkan pancasila yang dilakukan oleh bangsa Indonesia

melalui pembangunan di bidang ekonomi, politik, sosial-budaya dan

pertahanan-keamanan dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing bangsa

Indonesia dalam menghadapi globalisasi. Namun untuk mencapai daya saing

yang kuat tersebut dibutuhkan upaya besar dan peran aktif seluruh komponen

bangsa Indonesia beserta pemerintah.

Salah satu komponen yang berperan penting dalam upaya besar tersebut

adalah pembinaan karakter generasi muda bangsa Indonesia sesuai dengan

pancasila, khususnya karakter positif bangsa yang harus terus

ditumbuh-kembangkan untuk memperkuat kemampuan adaptif dari daya saing

bangsa sehingga dapat menjadi bangsa yang mandiri di era globalisasi.

Dalam upaya untuk mengaktualisasikan kemandirian tersebut, maka

dituntut peran penting dari generasi muda Indonesia sebagai character

enabler, character builders dan character engineer. Meskipun untuk

menjalankan ketiga peran tersebut, generasi muda masih membutuhkan

dukungan serta bantuan dari seluruh elemen bangsa termasuk pemerintah,

namun esensi utama dari pembangunan karakter bangsa Indonesia menuju

bangsa mandiri adalah pentingnya peran generasi muda sebagai komponen

bangsa yang paling strategis posisinya dalam memainkan proses transformasi

(18)

D

AFTAR

P

USTAKA

Buku

Soyomukti, Nurani. 2008. Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.

Internet

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/499885/ [ diakses pada tanggal 23 april 2015 pukul 11:09 WIB ]

http://birokrasi.kompasiana.com/2012/01/11/arsip-sebagai-media-membangun- karakter-bangsa-suatu-catatan-kritis-atas-peningkatan-peran-lembaga-kearsipan-oleh-peter-ahab/ [ diakses pada tangggal 23 april 2015 pukul 10:55 WIB ]

http://www.setneg.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=529&Itemid=116 [ diakses pada tanggal 23 april 2015 pukul 10:46 WIB. ]

Lain – lain

Pernyataan retorik tentang pembinaan karakter suatu bangsa yang diungkapkan oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Dr. Mahathir Muhammad.

[1]

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/499885/ [ diakses pada tanggal 23 april 2015 pukul 11:09 WIB ]

[2] Nurani Soyomukti, Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2008.

[3]

(19)

[4] Disampaikan oleh Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Letjen, TNI Moeldoko, M.Si dalam Kuliah Umum “Pembangunan Karakter Bangsa” di Gedung Soetarjo Universitas Jember.

[5] Sebuah pernyataan retorik tentang pembinaan karakter suatu bangsa yang diungkapkan oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Sri Dr. Mahathir Muhammad.

[6] Nurani Soyomukti, Op.Cit, hal 149

[7]

http://www.setneg.go.id/index.php?

option=com_content&task=view&id=529&Itemid=116 [ diakses pada tanggal 23 april 2015 pukul 10:46 WIB. ]

[8] Penggalan kalimat diambil dari ungkapan salah seorang komandan militer yaitu Jendral MacArthur. Seorang Jendral AS yang pernah menjadi panglima mandala Pasukan Sekutu di Pasifik pada era Perang Dunia ke-2 (1941-1945) dan selanjutnya menjadi panglima mandala Pasukan Gabungan PBB semasa Perang Korea (1951-1955).

[9] www.sekneg.com, Loc.Cit.

[10] www.sekneg.com, Loc.Cit.

[11] Disampaikan oleh M. Hatta Rajasa (Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia) pada Selasa 19 Juni 2007 http://www.setneg.go.id/index.php?

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Soft handoff sebagai salah satu alternatif handoff baru yang mendukung mobilitas user pada teknologi UMTS ini adalah salah satu aspek yang dapat

di Tsanawiyah Piraya Nawin Klonghin Wittaya Patani Selatan Thailand. Bab VI Penutup terdiri dari a) Kesimpilan tentang Upaya guru PAI. dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan siswa

[r]

Hasil simulasi dan estimasi implikasi UU nomor 25 tahun 1999 untuk Jawa Barat menunjukkan Pemerintah Propinsi harus menyerahkan/mengurangi peran dan kewenangannya ke

Tanah dari sudut pandang geomorfologi merupakan akumulasi tubuh alam yang memiliki sifat lepas-lepas yang menempati hampir seluruh bagian bumi, hasil lapukan bahan

belajar yang di peroleh dari nilai pre test peserta didik yang tuntas tidak ada (0%) dan setelah di berikan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran

Pada fase ini, anda membuat audiens untuk mengubah keinginannya dengan menjelaskan bagaimana yang dilakukan dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi