• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI TANAMAN VEGETASI TERNAUNGI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IDENTIFIKASI TANAMAN VEGETASI TERNAUNGI (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI TANAMAN VEGETASI TERNAUNGI PADA HUTAN TANAM TAMAN NASIONAL BALI BARAT (TNBB)

A. Tujuan

1. Dapat mengetahui jenis-jenis tanaman vegetasi ternaungi pada hutan tanam di Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

2. Dapat mengidentifikasi jenis- jenis tanaman vegetasi ternaungi pada hutan tanam di Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

3. Dapat mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap keanekaragaman tanaman vegetasi ternaungi pada hutan tanam Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

B. Kajian Pustaka

1. Pengertian Vegetasi

Menurut Soewarno, 1988 (Ivan Siahaan, 1999: 15), menyatakan vegetasi merupakan kumpulan dari keseluruhan tumbuhan yang hidup bersama pada suatu daerah yang khusus, ciri vegetasi ditentukan oleh jenis- jenis tumbuhan penyusun maupun oleh gabungan karakteristik struktur dan fungsional yang memberi fisiognomi atau kenampakan luar tertentu (Soewarno, 1988). Vegetasi adalah jumlah total tumbuhan yang menutupi suatu daerah. Di dalam hutan dapat tersusun pepohonan, semak atau herba, sedangkan pada lantai hutan tersusun atas lumut, jamur. Vegetasi tidak hanya berupa kumpulan dari beberapa individu tambahan tetapi terbentuk akibat dari hubungan beberapa faktor.

2. Tumbuhan Bawah

Tumbuhan bawah adalah komunitas tanaman yang menyusun stratifikasi bawah dekat permukaan tanah. Tumbuhan ini umumnya berupa rumput, herba, semak atau perdu rendah. Jenis-jenis vegetasi ini ada yang bersifat annual, biannual, atau perenial dengan bentuk hidup soliter, berumpun, tegak menjalar atau memanjat. Secara taksonomi vegetasi bawah umumnya anggota dari suku-suku Poaceae, Cyperaceae, araceae, asteraceae, paku-pakuan dan lain-lain. Vegetasi ini banyak terdapat di tempat-tempat terbuka, tepi jalan, tebing sungai, lantai hutan, lahan pertanian dan perkebunan (Nirwani, 2011).

(2)

menimbulkan kerugian, tetapi ada pula manfatnya. Tumbuhan bawah mempunyai kemampuan menahan aliran permukaan sehinga tingkat erosi akan lebih rendah. Tumbuhan bawah menyediakan bahan organik, sehinga menciptakan iklim mikro yang baik bagi seranga pengurai (Setiadi, 1984).

Tumbuhan bawah berfungsi sebagai penutup tanah menjaga kelembaban sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat, sehingga dapat menyediakan unsur hara untuk tanaman pokok. Siklus hara akan berlangsung sempurna dan guguran daun yang jatuh sebagai serasah akan dikembalikan lagi ke pohon dalam bentuk unsur hara yang sudah diuraikan oleh bakteri (Irwanto, 2007).

Hutan yang lapisan pohon-pohon tidak begitu lebat, sehingga cukup cahaya yang dapat menembus lantai hutan, kemungkinan perkembangan vegetasi bawah bersifat terna, sedangkan pada tempat-tempat kering berupa tumbuhan berkayu antara lain rumput-rumputan jenis Pennisetum dan Didymocarpus. Pada hutan yang lebat sehingga intensitas cahaya sedikit, tumbuhan bawah beradaptasi melalui permukaan daun yang lebar untuk menangkap cahaya matahari sebanyak-banyaknya (Hafild & Aniger, 1984).

Komposisi dari keanekaragaman jenis tumbuhan bawah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, kelembaban, pH tanah, tutupan tajuk dari pohon di sekitarnya, dan tingkat kompetisi dari masing-masing jenis. Pada komunitas hutan hujan, penetrasi cahaya matahari yang sampai pada lantai hutan umumnya sedikit sekali. Hal ini disebabkan terhalang oleh lapisan-lapisan tajuk pohon yang ada pada hutan tersebut, sehingga tumbuhan bawah yang tumbuh dekat permukaan tanah kurang mendapat cahaya, sedangkan cahaya matahari bagi tumbuhan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses perkembangan, pertumbuhan dan reproduksi. Keanekaragaman tumbuhan bawah memperlihatkan tingkatan keanekaragaman yang tinggi berdasarkan komposisinya. Perbedaan bentang lahan, tanah, faktor iklim serta perbandingan keanekaragaman spesies vegetasi bawah, memperlihatkan banyak perbedaan, baik dalam kekayaan jenisnya maupun pertumbuhannya (Nirwani, 2011).

(3)

radiasi yang diterima daun dan mengurangi kehilangan air sehingga kelayuan dapat dihindari (Sri Haryanti, 2010: 20).

Tanggapan terhadap peningkatan intensitas cahaya berbeda antara tumbuhan yang cocok untuk kondisi ternaungi (shade plant: indor plant) dengan tumbuhan yang bisa tumbuh pada kondisi tidak ternaungi. Tumbuhan cocok ternaungi menunjukkan laju fotosintesis yang sangat rendah pada intensitas cahaya tinggi. Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaungi mencapai titik jenuh pada intensitas cahaya yang lebih rendah, laju fotosintesis lebih tinggi pada intensitas cahaya yang sangat rendah, titik kompensasi cahaya lebih rendah dibandingkan tumbuhan cocok terbuka. Dari uraian di atas menyebabkan tumbuhan cocok ternaungi dapat bertahan hidup pada kondisi ternaungi (intensitas cahaya yang sangat rendah) saat tumbuhan cocok terbuka tidak dapat bertahan hidup (Lakitan, 1993).

Tanaman yang tumbuh pada lingkungan berintensitas rendah memiliki akar yang lebih kecil, jumlahnya sedikit dan tersusun dari sel yang berdinding tipis. Hal ini terjadi akibat terhambatnya translokasi hasil fotosintesis dari akar. Ruas batang tanaman lebih panjang tersusun dari sel-sel berdinding tipis, ruang antar sel lebih besar, jaringan pengangkut dan penguat lebih sedikit. Daun berukuran lebih besar, lebih tipis dan dan ukuran stomata lebih besar, sel epidermis tipis, tetapi jumlah daun lebih sedikit, ruang antar sel lebh banyak. Sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menurunkan laju fotosintesis, hal ini dikarenakan adanya fotooksidasi klorofil yang berlangsung cepat, sehingga merusak klorofil. Intensitas cahaya yang terlalu rendah akan membatasi fotosintesis dan menyebabkan cadangan makanan cenderung lebih banyak dipakai daripada disimpan. Pada intensitas cahaya yang tinggi kelembaban udara berkurang, sehingga proses transpirasi berlangsung lebih cepat (Treshow, 1970).

(4)

1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain: a. Alat tulis

b. Kamera c. Soil tester d. Lux meter e. Anemometer

(5)

l. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

a. Jenis tanaman di vegetasi ternaungi pada lokasi yang sudah ditentukan b. Daun dari masing- masing jenis tanaman

2. Teknik Pengamatan

a. Menentukan lokasi pengamatan, yaitu memilih lokasi yang ternaungi dari sinar matahari secara langsung.

b. Membuat plot berukuran 10x10 m dengan menggunakan tali rafia dan patok yang sudah disediakan.

c. Mengukur parameter lingkungan, antara lain: pH tanah, suhu, kecepatan angin, intensitas cahaya, kelembaban tanah dan kelembaban udara dengan menggunakan alat yang sudah disediakan.

d. Memberi label pada setiap tanaman yang terdapat di area tersebut dengan menuliskan kode tanaman (misalnya: tanaman spesies A, B, C, dst), untuk setiap tanaman satu spesies kode ditulis sama (misalnya: tanaman spesies A1, A2, A3, dst).

e. Mengamati cir i- ciri morfologinya, antara lain: bentuk daun, bentuk tepi daun, dan bentuk batang (herba/berkayu).

f. Menghitung setiap tanaman yang sama jenisnya dan mencatat hasilnya ke dalam tabel pengamatan.

g. Mengidentifikasi spesies tanaman yang ditemukan dengan berbagai sumber, antara lain: buku, internet, ataupun dengan wawancara.

(6)

berwarna putih, dan berduri. ff. Bentuk daun

lonjong dan panjang, tepi daun

rata, dan batang herba, berwarna hijau, dan batang

halus. jj. Daun berbentuk

oval, tepi daun rata, dan batang berkayu,

dan berduri. nn. Daun berbentuk

oval, tepi daun bergelombang bagian ujung, dan

batang berkayu. rr. Daun berbentuk bulat, tepi daun bergerigi, dan batang herba. vv. Daun berbentuk

oval, tepi daun begelombang bagian

ujung, dan batang berkayu, dan berduri

banyak. ww.

yy. zz. Titik

ke-aaa.

(7)

ooo.

ppp.

uuu.

vvv.

www. xxx. yyy.

aaaa.

gggg.

mmmm.

qqqq.

rrrr. Lattitude: 580 09.5051 ssss. Longitude: E 1140 28.9261

tttt. Altitude: 33 m uuuu.

vvvv. wwww. E. Pembahasan

xxxx. Pada kegiatan study ekskursi yang berjudul “identifikasi tanaman vegetasi ternaungi pada hutan tanam TNBB” ini bertujuan untuk dapat mengetahui flora spesies apa saja yang terdapat pada vegetasi ternaungi di hutan tanam TNBB dan untuk mengetahui pengaruh faktor abiotik terhadap keanekaragaman tanaman vegetasi ternaungi di hutan tanam TNBB.

(8)

cerah, dikarenakan belum terjadinya musim hujan di daerah ini. Hal ini memudahkan pengamat, untuk melakukan identifikasi tanaman di vegetasi ternaungi. Lokasi yang pengamat pilih adalah lokasi yang memiliki vegetasi terlindungi dari sinar matahari secara langsung. Lokasi pengamatan ini terletak pada garis lintang S8009.505’ dan garis bujur E114028.926’dengan ketinggian 33 meter. Pengamatan ini dilakukan pada plot berukuran 10x10 meter. Pada plot ini terdapat satu jenis pohon yang menaungi plot ini. Identifikasi tanaman dilakukan dengan mengamati morfologi daun dan batang tanaman. Identifikasi tanaman akan lebih mudah jika dilakukan dengan mengamati morfologi bunga tanaman tersebut juga. Namun, pada hutan tanam TNBB, seluruh tanaman yang teramati di plot belum memiliki bunga karena belum datangnya musim hujan pada wilayah ini. Identifikasi tanaman melalui morfologi daun dan batang ini dilakukan berdasarkan acuan buku morfologi tumbuhan Gembong Tjitrosoepomo (2009), dan web serta wawancara dengan ahli botani (Sudarsono).

zzzz. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada plot yang diamati, terdapat 7 jenis spesies, adapun penjelasan dari masing-masing spesies yang ditemukan adalah sebagai berikut:

aaaaa.

1. Spesies A (Euphatorium sp.)

kkkkk. terdapat 35 individu dari spesies ini. a. Nama Indonesia

1) Sunda : teklan 2) Jawa tengah : tekelan ttttt. (Syamsuhidayat & Hutapea, 1991)

b. Klasifikasi

(9)

vvvvv. Kingdom : Plantae

wwwww. Subkingdom : Tracheobionta xxxxx. Super divisi : Spermatophyta yyyyy. Divisi : Magnoliophyta

zzzzz. Kelas : Magnoliopsida-dicotyledonae aaaaaa.Subkelas : Asteridae

bbbbbb. Ordo : Asterales cccccc.Famili : Asteraceae

dddddd. Genus : Euphatorium eeeeee.Spesies : Euphatorium sp. ffffff. (Anonim, 2014)

c. Morfologi

gggggg. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa spesies ini memiliki morfologi daun oval dan ujung meruncing dengan tepi daun bergerigi. Spesies ini memiliki batang herba. Hal ini sesuai dengan Chrystomo dkk (2012); Backer & Van den Brink (1965) yang menyebutkan bahwa:

hhhhhh. “tumbuhan ini berupa semak dengan tinggi mencapai 40-60 cm. Daunnya berbentuk tombak hingga bulat telur taupun oval dengan panjang daun 4-8 cm dan lebar 1-1,5 cm, tepi bergerigi. Bunga majemuk, malai, tumbuh di ujung batang, keopak berbentuk lonceng sedang, mahkota bunga berbentuk jarum berwarna putih. Buah kecil, berbulu, coklat kehitaman dengan biji bentuk jarum kecil, hitam. Akar tunggang dan berwarna coklat muda.”

iiiiii.

2. Spesies B (Lantana sp.) jjjjjj.

kkkkkk. Dalam plot yang diamati, terdapat 10 individu dari spesies ini.

a. Nama Indonesia

(10)

2) Madura : tamanjho

3) Sumatera : bunga pagar, kayu singapar, lai ayam llllll. (Yohana, 2010 : 4-5).

b. Klasifikasi

mmmmmm. Klasifikasi spesies ini menurut USDA (2006) adalah sebagai berikut :

nnnnnn. Kingdom : Plantae oooooo. Subkingdom : Tracheobionta pppppp. Super divisi : Spermatophyta qqqqqq. Divisi : Magnoliophyta rrrrrr. Kelas : Magnoliopsida

ssssss. Subkelas : Asteridae tttttt. Ordo : Lamiales

uuuuuu. Famili : Verbenaceae vvvvvv. Genus : Lantana wwwwww. Spesies : Lantana sp. xxxxxx. (Yohana, 2010 : 4).

c. Morfologi

yyyyyy. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa spesies ini memiliki morfologi daun oval dan ujung meruncing dengan tepi daun bergerigi. Spesies ini memiliki batang kayu berwarna putih dan berduri. Hal ini sesuai dengan Haryanto (2009) yang menyebutkan bahwa:

zzzzzz.“tembelekan berbentuk perdu tegak, bercabang banyak, dengan ranting berbentuk segi empat dan terdapat varietas yang berduri, tingginya dapat mencapai 2 meter. Daunnya tunggal, duduk berhadapan berbentuk bulat telur atau oval dengan ujung meruncin, tepi bergerigi dan tulang menyirip. Permukaan atas berambut banyak dan terasa kasar. Panjang daun 5-8 cm dan lebar daun 3,5-5 cm dengan warna hijau tua. Jika telah berbunga, bunganya akan terlihat dalam rangkaian yang bersifat rasemos dengan kelopak berbentuk lonceng dan mahkota baian dalam berambut. Buah seperti buah buni berwarna hitam mengkilat bila sudah matang dengan biji bulat hitam. Akar tunggang bulat dengan warna kuning kecoklatan” (Yohana, 2010: 5). aaaaaaa.

(11)

bbbbbbb.

ccccccc. Dalam plot yang diamati, terdapat 26 individu dari spesies ini. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa spesies ini memiliki morfologi daun oval dan panjang dengan tepi daun rata. Tanaman ini belum dapat diidentifikasi karena kurangnya petunjuk selain ketiga ciri tersebut. 4. Spesies D ( Dysoxylum densiflorum)

ddddddd.

eeeeeee. Dalam plot yang diamati, terdapat 45 individu dari spesies ini. a. Nama Indonesia

1.) Jawa : cempaga, cepaga, kraminan 2.) Sunda : apinango, maranginan, pingku 3.) Madura : ampeuluh, kheuruh

4.) Bali : majegau

5.) Minahasa : tumbawa rendai, tumbawa rintek b. Klasifikasi

fffffff. Klasifikasi Ilmiah menurut bpthbalinusra.net adalah: ggggggg. Kerajaan : Plantae (Tumbuhan)

hhhhhhh. Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) iiiiiii. Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

jjjjjjj. Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

(12)

mmmmmmm. Ordo : Sapindales nnnnnnn. Famili : Meliaceae ooooooo. Genus : Dysoxylum

ppppppp. Spesies : Dysoxylum densiflorum Miq. c. Morfologi

qqqqqqq. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa spesies ini memiliki morfologi daun oval dan panjang dengan tepi daun rata. Berkayu putih dan berwarna abu-abu. Menurut website resmi Pemerintah Provinsi Bali tanaman Majegau telah ditetapkan sebagai tumbuhan identitas Provinsi Bali, dengan ciri-ciri pohon selalu hijau, kulit batang berlapis, kayu berwarna kekuning-kuningan. Pucuk muda berambut pendek, daun berselang-seling, panjang 35-46 cm, menyirip ganjil, pelepah daun berambut pendek rapat kekuning-kuningan, anak daun berjumlah 7-15, berhadap-hadapan atau agak berhadap-hadapan, tangkai daun 4-6 mm berambut pendek rapat, helai anak daun berbentuk lanset, tetapi anak daun pada bagian ujung lebih besar dan memanjang, berukuran 9-16 cm x 3-6 cm, seperti kertas, permukaan bawah berambut pendek pada bagian tulang daun, permukaan atas berambut pendek hanya pada tulang daun utama, 10-14 tulang daun sekunder pada kanan dan kiri tulang daun utama, pangkal helai daun mempulat, ujung helai daun lancip.

rrrrrrr. Rangkai bunga terdapat pada cabang tua, kadang-kadang pada ketiak daun, tunggal atau mengelompok 2 sampai 3-10, panjang 5-9 cm, poros rangkai berambut pendek rapat. Bunga kekuningan, 8-10 mm, tangka berambut pendek rapat. Kelopak bunga berbentuk mangkuk, 3-4 mm, berlekuk 4, lekuk segitiga, bagian luar berambut jarang, bagian dalam tidak berambut. Mahkota bunga 4 helai atau kelipatannya. Benang sari 6-8 c 2 mm, permukaan berambut pendek, sisi berlekuk 8, kepala sari 8, terletak agak di dalam tabung, ovarium di dalam mangkuk bunga, ditutupi trikoma rapat, beruang 4, kepala putik ca. 8 mm, ditutupi rambut halus jarang, berbentuk cakram dengan tangkai di tengah. Buah berupa kapsul, berwarna hijau kekuningan, bulat sampai agak bulat telur, 4-6 x 2,5-4 cm, kulit buah ditutupi rapat oleh trikoma dan tepung kuning. Biji merah cerah, dengan aril berwarna merah salmon. Berbunga Januari-Juli, buah masak Oktober-November. Tumbuh di kawasan hutan hujan musiman, pada umumnya sampai pada ketinggian 500-800 m dpl., tetapi juga bisa sampai pada ketinggian 1.700 m dpl.

(13)

ttttttt. uuuuuuu. vvvvvvv. wwwwwww. xxxxxxx. yyyyyyy. zzzzzzz. 5. Spesies E

aaaaaaaa.

bbbbbbbb. Dalam plot yang diamati, terdapat 6 individu dari spesies ini. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa spesies ini memiliki morfologi daun berbentuk oval, tepi daun bergelombang bagian ujung, dan batang berkayu. Tanaman ini belum dapat diidentifikasi karena kurangnya petunjuk selain ketiga ciri tersebut.

cccccccc. 6. Spesies F dddddddd.

(14)

Tanaman ini belum dapat diidentifikasi karena kurangnya petunjuk selain ketiga ciri tersebut.

ffffffff. gggggggg. hhhhhhhh. iiiiiiii.

7. Spesies G (Lamtana camara Linn) jjjjjjjj.

kkkkkkkk. Dalam plot yang diamati, terdapat 1 individu dari spesies ini. a. Nama Indonesia

1.) Jawa : kembang telek, oblo, puyengan, pucengan, tembelek, tembelekan, teterapan, waung, wileran

2.) Sunda : kembang setek, saliyara, saliyere, tahi ayam, tahi kotok, cente 3.) Madura : kamanco, mainco, tamanjho

4.) Sumatera : tembelekan, kembang telek, bunga pagar, kayu singapur, tahi ayam

b. Klasifikasi

llllllll. Klasifikasi tembelekan hasil identifikasi tumbuhan di laboratorium Herbarium Medanense (MEDA) Universitas Sumatera Utara adalah sebagai berikut:

mmmmmmmm. Kingdom : Plantae nnnnnnnn. Divisi : Spermatophyta oooooooo. Class : Dicotyledonae pppppppp. Ordo : Lamiales qqqqqqqq. Famili : Verbenaceae rrrrrrrr. Genus : Lantana

ssssssss. Spesies : Lantana camara Linn c. Morfologi

(15)

batang mencapai 4 m, daun berhadapan , warna hijau, bundar telur, permukaan atas daun berambut banyak dan permukaan bawah berambut jarang. Pinggir daun bergerigi dan berbulu kasar dengan panjang 5-8 cm dan lebar 3-5 cm.

uuuuuuuu. Perbungaan mengelompok, tersusun dalam bulir yang padat pada ketiak daun. Warna bunga beragam, seperti putih, kuning, merah, merah muda, dan jingga. Buah bergerombol di ujung tangkai, kecil, bulat, warna hijau ketika mentah, hitam kebiruan dan mengkilap ketika matang. Di dalam satu buah terdapat satu biji. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji. Tumbuhan ini ditemukan di daerah tropis pada lahan terbuka sebagai tanaman liar atau tanaman untuk pagar. Tumbuhan dari dataran rendah sampai ketinggian 1700 m di atas permukaan laut (Djauhariya, 2004).

vvvvvvvv.

wwwwwwww.Faktor abiotik yang terukur pada plot ini adalah sebagai berikut suhu 340C, kecepatan angin 147,93 m/s, intensitas cahaya 345,32 lux, pH 5,47, Nasional Bali Barat (TNBB) ada tujuh jenis, yaitu Euphatorium sp., Lamtana sp., Dysoxylum densiflorum, Lamtana camara, dan tiga jenis lain tidak dapat diidentifikasi. Masing-masing jenis tanaman vegetasi tersebut memiliki ciri Euphatorium sp. bentuk daun oval dan ujung meruncing, tepi daun bergerigi, dan batang herba; Lamtana sp. bentuk daun oval dan ujung meruncing, tepi daun bergerigi, dan batang berkayu, berwarna putih, dan berduri; Dysoxylum densiflorum daun berbentuk oval, tepi daun rata, dan batang berkayu, dan berduri; Lamtana camara daun berbentuk oval, tepi daun begelombang bagian ujung, dan batang berkayu, dan berduri banyak.

zzzzzzzz. Pengaruh faktor abiotik terhadap keanekaragaman tanaman vegetasi ternaungi pada hutan tanam Taman Nasional Bali Barat (TNBB) adalah suhu 340C, kecepatan angin 147,93 m/s, intensitas cahaya 345,32 lux, pH 5,47, kelembaban udara 55%, dan kelembaban tanah 51,67%.

aaaaaaaaa.

bbbbbbbbb.

(16)

eeeeeeeee. Djauhariya, E. dan Sukarman. (2004). Pemanfaatan Plasma Nutfah dalam Industri Jamu dan Komestika Alami. Buletin Plasma Nutfah 8(2):12-13.

fffffffff.

ggggggggg. Haryanti, Sri. (2010). Respon Pertumbuhan Jumlah dan Luas Daun Nilam (Pogostemon cablin Benth) pada Tingkat Naungan yang berbeda. Hal 20- 26.

hhhhhhhhh.

iiiiiiiii. Lakitan. (1993). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

jjjjjjjjj.

kkkkkkkkk. Nirwani. (2011). Keanekaragaman Tumbuhan Bawah. Diakses pada tanggal

17 Desember 2014. Pukul 22. 20 WIB.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22749/4/Chapter%20II.pdf lllllllll.

mmmmmmmmm. Setiadi, D. (1984). Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubunganya dengan Pendugan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat. Bogor. Bogor: Fakultas IPB.

nnnnnnnnn.

ooooooooo. Siahaan, Ivan. (1999). Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Bawah di Hutan Pinus Sekitar Danau Toba Sumatra Utara. Sumatra Utara: UAJY.

ppppppppp.

qqqqqqqqq. Tresow, M. (1970). Environtment and plant respont. New York: Mc Graw Hill Company.

rrrrrrrrr.

sssssssss. Yohana Fillamina Setiawan. (2010). Efek Granul Ekstrak Daun Tembelekan

Referensi

Dokumen terkait

Berikut ini adalah proses pembuatan miniatur kapal kayu mulai dari tahap persiapan yang meliputi 1) mencari ide, 2) memilih contoh gambar yang akan dibuat miniaturnya, 3)

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap pelaku UKM di Kabupaten Banyumas menunjukkan hasil adanya pengaruh positif dari nilai-nilai kewirausahaan yang dimiliki

Lebih mencacatkan lagi sistem perundangan apabila jenayah sihir dilakukan oleh sekumpulan yang terdiri daripada pelbagai agama, maka penganut agama Islam sahaja yang akan dikenakan

Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR), PT. Pupuk Kaltim tidak henti-hentinya berkomitmen terhadap masyarakat di sekitar Perusahaan dengan melakukan

Hal ini sudah merupakan common sense (pendapat umum) yang sering terjadi. Bank syariah menjadi salah satu alternatif populer yang dipilih masyarakat untuk

Variabel hasil karya kreatif dan inovatif dikategorikan dalam himpunan fuzzy sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi. Membership function dengan

Tulisan ini akan membicarakan penggunaan kedua metode di atas untuk menduga parameter dispersi, φ dalam skema Bayes Empirik dan model Poisson-Gamma yang digunakan pada penduga

Perangkat untuk pita 5150-5250 MHz hanya untuk penggunaan dalam ruangan agar dapat mengurangi potensi interferensi berbahaya ke sistem saluran bantuan satelit jauh, antena