• Tidak ada hasil yang ditemukan

MORFOLOGI BAHASA JEPANG dan di yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MORFOLOGI BAHASA JEPANG dan di yang"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Teguh Santoso
  • Pengajar:
    • Dr. Nani Sunarni, M. A.
  • Sekolah: Universitas Padjajaran
  • Mata Pelajaran: Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Konsentrasi Bidang Ilmu Linguistik Jepang
  • Topik: Morfologi Bahasa Jepang
  • Tipe: tugas uas
  • Tahun: 2014

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya morfologi dalam memahami struktur bahasa Jepang. Morfologi sebagai cabang linguistik berperan dalam memahami bagaimana kata dibentuk dan bagaimana perubahan bentuk kata dapat mempengaruhi makna. Pengenalan terhadap morfologi bahasa Jepang sangat penting bagi pembelajar yang ingin memahami kompleksitas bahasa ini, terutama dalam konteks akademik dan pedagogis.

1.1 Latar Belakang

Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki keterikatan erat dengan penggunanya. Dalam konteks ini, pemahaman morfologi membantu penutur memahami dan menyampaikan maksud dengan lebih efektif. Hal ini penting untuk mencapai tujuan pendidikan dalam penguasaan bahasa, di mana penguasaan struktur kata menjadi kunci dalam komunikasi yang efektif.

1.2 Tipologi Bahasa Jepang

Bahasa Jepang memiliki karakteristik unik dalam hal tipologi, dengan sistem penulisan yang kompleks dan struktur bunyi yang sederhana. Pemahaman tentang tipologi ini sangat relevan dalam pendidikan bahasa Jepang, karena membantu siswa memahami cara penggunaan huruf dan suku kata yang berbeda dalam konteks yang sesuai.

1.3 Morfologi

Morfologi adalah studi tentang struktur kata dan perubahan bentuknya. Dalam konteks pendidikan, pemahaman morfologi memungkinkan siswa untuk menganalisis kata-kata dalam bahasa Jepang secara lebih mendalam, yang sangat penting untuk pengembangan keterampilan bahasa yang baik.

1.3.1 Morfem

Morfem sebagai unit terkecil dalam bahasa yang memiliki makna, menjadi dasar bagi pembentukan kata. Dalam pendidikan, pengenalan morfem membantu siswa dalam memahami bagaimana kata dibentuk dan bagaimana makna dapat berubah dengan penambahan morfem.

1.3.2 Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem menjadi morfem bebas dan terikat penting untuk memahami struktur kata. Dalam pembelajaran, siswa dapat belajar untuk membedakan antara kata dasar dan imbuhan, yang merupakan aspek penting dalam penguasaan bahasa Jepang.

1.3.3 Morf dan Alomorf

Pemahaman tentang morf dan alomorf membantu siswa mengenali variasi bentuk kata yang memiliki makna yang sama. Ini penting dalam konteks pengajaran untuk membantu siswa memahami fleksibilitas bahasa Jepang.

1.4 Proses Morfologis

Proses morfologis dalam bahasa Jepang menjelaskan bagaimana morfem bergabung untuk membentuk kata baru. Dalam pendidikan, pemahaman tentang proses ini mendukung siswa dalam belajar bagaimana kata-kata baru dapat diciptakan dan digunakan dalam konteks yang berbeda.

1.5 Tipologi Morfologis

Tipologi morfologis membagi bahasa ke dalam kategori berdasarkan cara kata dibentuk. Dalam konteks pendidikan, hal ini membantu siswa memahami perbedaan struktural antara bahasa Jepang dan bahasa lainnya, yang sangat penting dalam pengajaran lintas budaya.

1.6 Konjugasi Bahasa Jepang

Konjugasi dalam bahasa Jepang menunjukkan bagaimana verba berubah bentuk berdasarkan waktu dan konteks. Pemahaman ini sangat penting bagi siswa dalam belajar bagaimana menggunakan verba dengan benar dalam kalimat.

1.7 Kedudukan Morfologi Dalam Linguistik

Morfologi sebagai bagian dari linguistik memberikan wawasan tentang bagaimana kata dibentuk dan digunakan. Dalam pendidikan, pemahaman ini membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan analisis bahasa yang lebih baik.

1.8 Satuan Bahasa (Linguistik)

Satuan bahasa seperti fonem, morfem, dan kata menjadi dasar dalam pembelajaran bahasa. Memahami satuan-satuan ini penting bagi siswa untuk membangun keterampilan berbahasa yang solid.

1.9 Komposisi, Gosei, Compounding, Composition

Proses komposisi dalam bahasa Jepang menunjukkan bagaimana kata-kata dapat digabungkan untuk membentuk makna baru. Ini adalah konsep penting dalam pengajaran bahasa yang membantu siswa memahami bagaimana kata-kata dapat berinteraksi satu sama lain.

II. KATEGORI GRAMATIKA NOMINA

Bagian ini membahas tentang kategori gramatikal dalam bahasa Jepang, khususnya yang berkaitan dengan nomina. Pemahaman tentang kategori ini penting untuk membantu siswa dalam mengenali dan menggunakan nomina dengan benar dalam kalimat.

2.1 Fenomena Perubahan Pembentukan Kata

Pembentukan kata dalam bahasa Jepang melibatkan proses morfologis yang kompleks. Memahami fenomena ini memberikan siswa kemampuan untuk menganalisis dan menciptakan kata baru dengan lebih efektif.

2.2 Tenses

Tenses dalam bahasa Jepang penting untuk menunjukkan waktu terjadinya suatu peristiwa. Penguasaan tenses membantu siswa dalam menyampaikan informasi dengan tepat waktu dan konteks.

2.3 Aspek

Aspek dalam bahasa Jepang berkaitan dengan cara suatu tindakan dilihat dalam waktu. Memahami aspek ini penting bagi siswa untuk mengungkapkan tindakan dengan lebih akurat.

2.4 Modalitas

Modalitas menunjukkan sikap penutur terhadap tindakan. Dalam pengajaran, pemahaman modalitas membantu siswa untuk mengekspresikan keinginan, kemampuan, dan kewajiban dengan lebih jelas.

2.5 Kesantunan

Kesantunan dalam bahasa Jepang mencerminkan budaya dan tata krama. Mengajarkan kesantunan membantu siswa untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dalam konteks sosial yang berbeda.

2.6 Voice

Voice dalam bahasa Jepang menunjukkan hubungan antara subjek dan tindakan. Pemahaman tentang voice penting bagi siswa dalam membangun kalimat yang tepat.

III. KATEGORI GRAMATIKA

Bagian ini membahas kategori gramatika dalam bahasa Jepang, memberikan siswa pemahaman yang lebih dalam tentang struktur kalimat dan penggunaan kata.

3.1 Kategori Gramatika Nomina

Kategori gramatika nomina menjelaskan bagaimana nomina berfungsi dalam kalimat. Ini penting untuk membantu siswa memahami peran nomina dalam struktur kalimat.

3.2 Kategori Gramatika Verba

Kategori gramatika verba membahas bagaimana verba digunakan dalam kalimat. Pemahaman ini memungkinkan siswa untuk menggunakan verba dengan benar dalam konteks yang sesuai.

3.2.1 Tei, Futei dan Kazu

Pembahasan tentang tei, futei, dan kazu memberikan siswa pemahaman tentang variasi dalam penggunaan verba. Ini penting untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan menulis.

3.2.2 Sei dan Kaku

Sei dan kaku dalam konteks gramatika memberikan wawasan tentang bagaimana bentuk kata dapat berubah. Ini penting untuk analisis morfologis dalam pembelajaran bahasa.

IV. PETA KONSEP

Bagian ini menyajikan peta konsep yang merangkum hubungan antara berbagai elemen dalam morfologi bahasa Jepang. Ini berfungsi sebagai alat bantu visual yang mendukung pemahaman siswa.

4.1 Peta Konsep 1

Peta konsep pertama memberikan gambaran umum tentang morfologi dan strukturnya. Ini membantu siswa memahami hubungan antara berbagai konsep dalam morfologi.

4.2 Peta Konsep 2

Peta konsep kedua lebih mendalam dan menunjukkan rincian tentang kategori gramatikal. Ini membantu siswa dalam analisis dan aplikasi konsep dalam konteks yang lebih luas.

Referensi Dokumen

  • Linguistik Umum ( Abdul Chaer )
  • Asas Asas Linguistik Umum ( J. W. M. Verhaar )
  • Nihongo Kyooshi no Tame no Gengogaku Nyuumon. Linguistik Bagi Para Calon Guru Bahasa Jepang ( Tamotsu Koizumi )
  • Linguistik Bahasa Jepang ( Sudjianto & Ahmad Dahidi )
  • Pengantar Linguistik Bahasa Jepang ( Kesaint Blanc )

Referensi

Dokumen terkait

Reduplikasi dalam BBH berdasarkan perulangan kata dasar nya dapat dibedakan atas perulangan seiuruhnya, perulangan sebagian berkombinasi dengan afiksasi dan perulangan

3 Contoh Kata Turunan, Majmuk, dan Ganda melalui Proses Pengimbuhan, Pemajmukan, dan Penggandaan 9 Kata Nama Terbitan KNT 11 Kata Kerja Terbitan KKT 12 Perubahan Morfologi Bahasa

Pada verba AKSI PROSES (V Transitif) seperti ini, hierarki afiksasi yang terjadi adalah tiga kali yakni (1) pengimbuhan afiks derivasi beR–, (2) pengimbuhan afiks derivasi –kan,

Dilain pihak, dalam bahasa Bugis, nomina merupakan morfem bebas yang dapat berubah menjadi morfem terikat jika mengalami afiksasi; Proses pemajemukan verba dalam

Maka penelitian ini akan dibatasi pada proses morfemis yang berupa afiksasi yaitu dengan prefiks dan sufiks, serta reduplikasi dan komposisi yang terdapat pada bahasa Indonesia

Kelas kata yang akan dibahas dalam pembahasan ini adalah terkait pada reduplikasi verba denomina bahasa Banjar Hulu pada aspek bentuk afiksasi pembentuk reduplikasi

Dari penelitian ini diperoleh simpulan bahwa pembentukan verba potensial secara morfologis dalam bahasa Indonesia melibatkan proses afiksasi, sedangkan dalambahasa ]epang melibatkan

Sementara itu, Chaer 2008: 25 mengatakan bahwa proses morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks dalam proses afiksasi,