• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASSESMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK US (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASSESMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK US (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ASSESMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

DALAM KURIKULUM 2013

Ernawita

Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

(Email:[email protected])

ABSTRAK

Early childhood assessment is very important to implement in order to know the level of child development. Assessment can be used to determine the level of readiness and maturity in following the learning activities, continuing on the stage of further development and identify problems that will arise in the child. This paper is a review of libraries that examine early childhood learning assessments in the 2013 curriculum. This paper explains the first Definition of Early Childhood Assessment. Both Principles, Benefits and the importance of the Third-Ear Childhood Assessment Assessment clarify the link between Assessment, Evaluation, and Measurements and the four Early Childhood Education Assessment Assessments in the curriculum of 2013. The purpose of this Paper is to determine how important this learning Assessment is in the 2013 curriculum.

Keywords: Assessment, Curriculum 2013, Early Childhood Abstrak

Assesmen anak usia dini sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengetahui tingkat perkembangan anak. Asesmen dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesiapan dan kematangan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, melanjutkan pada tahap perkembangan lanjutan dan mengidentifikasi masalah yang akan muncul dalam diri anak. Paper ini adalah kajian perpustakaan yang mengaji tentang asesmen pembelajaran anak usia dini dalam kurikulum 2013. Paper ini menjelaskan pertama Pengertian Assesmen Anak Usia Dini. Kedua Prinsip, Manfaat dan pentingnya Asesmen Pembelajaran Anak usia Dini Ketiga menjelaskan kaitan antara Asesmen, Evaluasi, dan pengukuran dan ke empat Asesmen Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini dalam kurikulum 2013. Tujuan Paper ini untuk mengetahui pentingnya Assesmen pembelajaran ini dalam kurikulum 2013.

(2)

A. PENDAHULUAN

Kurikulum merupakan seperangkat panduan yang mengatur isi program pendidikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran dan penyelenggaraan pendidikan. Secara sederhana kurikulum dapat dimaknai sebagai perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu preriode pendidikan dan jejang tertentu. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaran pendidikan tersebut.

Kurikulum sebagai arahan muatan pendidikan perlu disusun dengan baik meski setiap sekolah Taman Kanak-Kanak dapat menyusun kurikulum sendiri bukan berarti bisa asal-asal tanpa sistematika dan tujuan yang jelas. Ruang lingkup kurikulum TK mengikuti 6 aspek perkembangan yaitu : moralitas dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/ motorik, dan seni.

Dengan terbitnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), keberadaan pendidikan usia dini diakui secara sah. Hal itu terkandung dalam bagian tujuh, pasal 28 ayat 1-6, di mana pendidikan anak usia dini diarahkan pada pendidikan pra-sekolah yaitu anak usia 0-6 tahun. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisidiknas menyatakan bahwa yang dimaksud pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

(3)

Berdasarkan pengamatan diatas perlu dipertimbangan bahwa apapun yang dilakukan dalam proses pembelajaran anak usia dini perlu menguraikan proses dan hasil kegiatan anak untuk melihat sejauh mana kemampuan perkembangan dan pertumbuhan anak dalam masa pendidikan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam asesmen pembelajaran anak usia dini dituntut keprofesionalan seorang pendidik yang dikemukan Suryana ( 2011) Pendidik yang memiliki kualifikasi akademik S1, menguasai kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian, memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Asesmen

Asesmen merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Asesmen dilaksanakan untuk melihat proses dan produk hasil belajar. Asesmen menentukan output pembelajaran yang dilaksanakan (Uno dan Koni, 2013)

Menurut Suryana ( 2013 ) Perkembangan anak harus mendapatkan pemantauan dari orang dewasa, khususnya dilakukan oleh seorang guru atau pihak sekolah. Hal itu dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian perkembangan.

Assesmen berasal dari istilah bahasa Inggris, yaitu Assesment, namun istilah assesment sudah ditetapkan menjadi istilah dalam bahasa Indonesia, yaitu asesmen. Asesmen menurut Morrison ( 2007 ). Assesment is prosess of collecting information about children’s development, learning, healting, behavior, academic proses, need for special services and attainment in order to make decisions. Assesmen adalah proses pengumpulan informasi tentang perkembangan, pembelajaran, kesehatan, perilaku, perkembangan akademik, pelayanan kebutuhan anak, dan pencapaian mengambil keputusan pemberian tindakan.

(4)

2. Prinsip Asesmen, Manfaat dan Pentingnya Asesmen Bagi Perkembangan Anak Usia Dini

Asesmen dilakukan untuk mengetahui nilai perkembangan dan pertumbuhan anak yang tidak terlepas pada prinsip- prinsip asesmen anak usia dini ( Yus, 2015) sebagai berikut :

1. Menyeluruhan

Penilaian yang dilakukan terhadap proses dan hasil kegiatan anak yang diharapkan dapat menggambarkan adanya perubahan prilaku anak baik yang menyangkut pengetahuan, sikap, prilaku dan keterampilan.

2. Berkesinambungan

Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus dengan mencatat setiap tahap-tahap kegiatan oleh guru. Hal tersebut dilakukan agar memperoleh betul- betul berasal dari gambaran perkembangan hasil belajar anak sebagai hasil didik dari kegiatan pelaksanaan program.

3. Berorientasi Pada Proses dan Tujuan

Penilaian pada pendidikan anak TK dilaksanakan dengan berorientasi pada tujuan dan proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Penempatan kegiatan disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

4. Objektif

Penilaian yang memberikan informasi yang sebenarnya atau mendekati tentang objek kemampuan dan perkembangan anak. Guru harus dapat menyampingkan perasaan-perasaan suka atau tidak suka, keinginan dan prasangka yang tidak ada kaitannya dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.

5. Mendidik

Hasil penilaian harus dapat membina dan mendorongnya timbulnya keinginan anak untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangannya.

6. Kebermaknaan

(5)

kematangan mental dan emosional dikemas dalam bentuk bermain dan permainan ( Suryana, 2013 )

7. Kesesuaian

Penilaian menunjukan kesesuaian antara hasil atau nilai diperoleh anak dengan apa yang dilakukan atau diajarkan guru.

Manfaat Asesmen dalam Pembelajaran Anak Usia Dini

1. Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian kompetensi anak yang berkaitan dengan bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar.

2. Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.

3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk melakukan kegiatan bimbingan terhadap perrtumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

4. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menempatkan anak dalam kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

5. Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian kompetensi anak yang berkaitan dengan bidang pengembangan pembiasaan dan bidang pengembangan kemampuan dasar.

6. Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran.

7. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk melakukan kegiatan bimbingan terhadap perrtumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menempatkan anak dalam kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Pentingnya Assesmen Bagi Perkembangan Anak Usia Dini

(6)

Penilaian digunakan sebagai patokan untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan individu anak, program dan kurikulum sekolah secara keselurahan, selain itu dengan penilaian dapat diperkirakan seorang siswa mengalami kesulitan belajar atau tidak. Nilai yang diberikan berguna bagi semua pihak yang terlibat dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya orang tua, guru, dan anak sendiri. Bagi orang tua diharapkan dapat menentukan langkah atau upaya apa yang dapat dilakukan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bagi guru sebagai masukan dalam merancang kegiatan belajar selanjutnya untuk setiap anak. Bagi anak sendiri sebagai dorongan atau motivator dalam mengembangkan diri ( Yus, 2015 )

3. Hubungan Antara Assesmen, Pengukuran Testing dan Evaluasi

Evaluasi merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen dan evaluasi dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang diperlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan. Arikunto ( 2004 ) mengunkapkan bahwa evaluasi alah rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan. Tayibnapis ( 2000 ) evaluasi adalah proses menilai sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai.

Penilaian adalah penerapan berbagai cara yang dipergunakan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif pernyataan naratif dalam kata-kata dan nilai kuantitatif berupa angka.

(7)

Gambar 1 : Keterkaitan antara evaluasi, asesmen, testing dan pengukuran

Dari gambar 1 dapat dinyatakan bahwa evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan asesmen, tes dan pengukuran. Namun pelaksanaan assessment, tes dan pengukuran mungkin saja tidak berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi. Terdapat data asesmen tidak digunakan sebagai bahan evaluasi.

Bila seorang guru ingin mengetahui bagaimana penguasaan peserta didik terhadap suatu nilai, misalnya menghargai pendapat orang lain maka guru perlu melakukan suatu pengukuran. Data yang diperoleh melalui pengukuran kemudian dideskripsikan atau dijabarkan dalam suatu penjelasan maka guru telah melakukan

4. Asesmen Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Kurikulum 2013

Anak usia dini mengalami perkembangan yang fundamental dalam arti bahwa pengalaman perkembangan pada masa usia dini dapat memberikan pengaruh yang membekas dan berjangka waktu lama sehingga melandasi proses perkembangan selanjutnya. Setiap anak memiliki sejumlah potensi, baik fisik biologis, kognisi maupun sosio-emosional. Anak yang sedang mengalami proses perkembangan sangat pesat sehingga membutuhkan pembelajaran yang aktif dan energik ( Suryana, 2013 )

Dalam rangka mengoptimalkan perkembangan anak melalui pendidikan anak usia dini, program pendidikan harus sesuai dengan karakterisitik yang berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Disetiap proses kegiatan anak tidak terlepas dari Asesmen sebagai alat untuk mengetahuai sejauh mana kemampuan anak Assesmen anak usia dini sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengetahui tingkat perkembangan anak dan mengetahui tingkat

EVALUASI

TESTING PENGUKU

RAN ASSESME

(8)

kesiapan dan kematangan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, melanjutkan pada tahap perkembangan lanjutan serta mengidentifikasi masalah yang akan muncul dalam diri anak. Asesemen bagi anak usia dini fokus kepada tes kemampuan, tes perkembangan setiap aspek perkembangan.

Sedengkan Kurikulum 2013, asesmen dalam pembelajaran anak usia dini mengarah kepada asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan scientific dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, asesmen semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, asesmen autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.

Assesment Autentik adalah penilaian yang dilakukan terhadap anak melalui kegiatan yang diminta oleh penilai untuk melakukan suatu kegiatan yang mampu mereka lakukan. Fakta-fakta dan informasi yang tidak nampak dianggap tidak autentik. ( Marrison, 2007) Kegiatan yang dapat dites dengan penilaian autentik diantaranya :

a. Menilai anak berdasarkan pada kegiatan aktual. Contoh penilaian hasil karya anak, penampilan dalam melakukan suatu kegiatan, keterlibatan siswa dalam pekerjaan yang diinstruksikan guru, cara menceritakan kembali sebuah cerita, percobaan yang dilakukan dan pengamatan guru.

b. Menilai anak berdasarkan kegiatan aktual yang sesuai dengan tujuan kurikulum

c. Membuat penilaian sebagai bagian dari proses pembelajaran mendorong anak untuk menampilkan apa yang mereka ketahui melalui presentasi dan berpartisipasi

d. Mempelajari tentang keseluruhan kemampuan anak. Membuat kesempatan kepada anak untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi.

(9)

Menurut Marrison ( 2012 ) Penilaian Autentik disebut juga sebagai penilaian berbasis performa. Penilaian autentik mengharuskan anak menunjukan apa yang mereka ketahui dan mampu lakukan. Fakta yang tidak berarti dan informasi asing dianggap tidak autentik.

Berdasarkan ‘The National Education Goals Panel’ penggunaan asesmen yang tepat adalah (1) mengakses untuk meningkatkan perkembangan dan belajar anak; (2) mengakses untuk mengidentifikasi kesehatan dan pelayanan yang di berikan pada anak; (3) mengakses untuk memonitor kecendrungan dan mengevaluasi program dan pelayanan dan (4) mengakses prestasi akademik untuk akuntabilitas anak, guru dan sekolah, memperbaiki cara mengakses kesiapan anak untuk masuk sekolah (Lara, 2008). Asesmen tidak digunakan untuk mengukur suatu keberhasilan suatu program tetapi untuk mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar anak. Dalam aplikasinya di PAUD asesmen tersebut tidak dilakukan di kelas pada akhir program atau akhir tahun tetapi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan cara misalnya, saat anak bermain, mengambar, atau dari karya yang dihasilkan. Dengan asesmen guru dapat mengetahui bakat,minat, kelebihan,dan kelemahan anak.Guru bersama orang tua siswa dapat memberi bantuan belajar yang tepat untuk anak sehingga dapat diperoleh hasil belajar yang optimal.

Menurut Munif Chatib dalam buku Kelasnya Manusia menjelaskan bahwa Assesmen autentic memiliki ciri (1) Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu (2) Mencerminkan masalah dunia nyata (3) Menggunakan berbagai cara dan kriteria ( 4 ) Holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap,) Jenis assesmen autentic yaitu :

a. Unjuk Kerja yaitu cara mengumpulkan data yang menuntut anak didik untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat diamati, misalnya praktek menyanyi, olah raga dan memperagakan sesuatu.

(10)

c. Portofolio yaitu arsip kumpulan tugas atau hasil karaya anak yang dicatat oleh guru dalam waktu tertentu

d. Diri (Self Assessment) yaitu penilaian tentang kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri. Penilaian ini meliputi semua hasil kerja anak. Anak diminta oleh guru untuk menilai karya baik berupa hasil ataupun saat proses.

Berikut ini beberapa pedoman penilaian autentik menurut Marisson ( 2012 )

1. Nilai anak berdasarkan karya merekayang sebenarnya. Gunakan contoh karya, pertunjukan, performa, buku harian pembelajaran, jurnal, proyek, presentasi, percobaan dan observasi guru.

2. Nilai anak berdasarkan apa yang sebenarnya mereka kerjakan dalam kurikulum.

3. Nilai apa yang dapat dilakukan masing-masing anak. Evaluasi apa yang dipelajari setiap anak, dan bukan membandingkan satu anak dengan yang lain atau satu kelompok anak dengan kelompok yang lain.

4. Jadikan penilaian sebagai bagian dari proses belajar. Dorong anak untuk menunjukan apa yang mereka ketahui melalui prestasi dan partisipasi. 5. Pelajari anak secara menyeluruh. Jadikan proses penilaian sebagai

kesempatan utuk mempelajari lebih dari penguasaan anak akan serangkaian keterampilan.

6. Libatkan anak dan orang tua dalam proses penilaian yang kooperatif dan kolaboratif. Penilaian autentik bersifat terpusat pada anak.

7. Berikan penilaian berklelanjutan disepanjang tahun pelajaran. Nilai anak secara berkelanjutan sepanjang tahun, bukan hanya pada akhir semester atau tahun pelajaran.

KESIMPULAN

Assesmen adalah proses pengumpulan informasi tentang perkembangan, pembelajaran, kesehatan, perilaku, perkembangan akademik, pelayanan kebutuhan anak, dan pencapaian mengambil keputusan pemberian tindakan.

(11)

Penilaian yang dilakukan terhadap proses dan hasil kegiatan anak yang dihapkan dapat menggambarkan adanya perubahan prilaku anak baik yang menyangkut pengetahuan, sikap, prilaku dan keterampilan. Berkesinambungan Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus dengan mencatat setiap tahap-tahap kegiatan oleh guru. Berorientasi Pada Proses dan Tujuan, Objektif, Mendidik, Kemermaknaan dan Kesesuaian. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan asesmen, tes dan pengukuran. Namun pelaksanaan assessment, tes dan pengukuran mungkin saja tidak berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi. Terdapat data asesmen tidak digunakan sebagai bahan evaluasi.

Penilaian Autentik disebut juga sebagai penilaian berbasis performa. Penilaian autentik mengharuskan anak menunjukan apa yang mereka ketahui dan mampu lakukan. Fakta yang tidak berarti dan informasi asing dianggap tidak autentik.

Penilaian digunakan sebagai patokan untuk pengambilan keputusan yang berkaitan dengan individu anak, program dan kurikulum sekolah secara keselurahan, selain itu dengan penilaian dapat diperkirakan seorang siswa mengalami kesulitan belajar atau tidak. Nilai yang diberikan berguna bagi semua pihak yang terlibat dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya orang tua, guru, dan anak sendiri. Bagi orang tua diharapkan dapat menentukan langkah atau upaya apa yang dapat dilakukan dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bagi guru sebagai masukan dalam merancang kegiatan belajar selanjutnya untuk setiap anak. Bagi anak sendiri sebagai dorongan atau motivator dalam mengembangkan diri

Referensi

Arikunto, S. 2004. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara Chatib, M. 2013. Kelasnya Manusia, Bandung : PT Kaifa

Fridani, lara,dkk. 2008. Evaluasi Perkembangan Anak Usia Dini.Jakarta: Universitas Terbuka

Morrison, G.S.2012. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta : PT Indek

Morrison. G.S. ( 2007 ) Fundamentals of Early Childhood Education, USA : Prentice Hall

(12)

Suryana, D. 2013. Profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Peraturan Menteri No. 58 Tahun 2009, XII no 2, 53- 61, Retrieved from http://ejournal.unp.ac.id/index.php/pedagogi

Suryana, D. 2013 Pendidikan Anak Usia Dini ( Teori dan Praktik Pembelajaran Padang : UNP Press

Suryana, D. 2013. Pengetahuan Tentang Strategi Pembelajaran, Sikap dan Motivasi Guru, Jilid 19 no 2, 196-201

Tayibnapis, F.Y. 2002, Evaluasi Program, Jakarta : Rineka Cipta

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Uno, Hamzah B & Koni, Satria. 2013. Assessment Pembelajaran.Jakarta: PTBumi

Aksara

Gambar

Gambar 1 : Keterkaitan antara evaluasi, asesmen, testing dan pengukuran

Referensi

Dokumen terkait

masalah-masalah yang terjadi pada anak usia dini melalui kegiatan pelatihan yang diberikan. • Pihak pemerintah atau LSM: memberikan ide untuk pengembangan pelatihan pada

Maka penelitian ini dilakukan untuk melihat adanya peningkatan keaktifan mahasiswa Pendidikan Islam anak usia dini terhadap penerapan model pembelajaran daring

Asmah dan Yulianti (2016) menjelaskan bahwa proses pembelajaran pada anak usia dini bertumpu pada aktivitas belajar anak secara aktif (active learning) memberikan anak

Penelitian ini akan coba melihat proses internalisasi pendidikan karakter pada anak usia dini dan penelitian ini mengambil lokasi di Satuan PAUD Sejenis (SPS) Mawar 2

Anak usia dini yang mengikuti pembelajaran di PAUD berpeluang mempunyai perkembangan kognitif yang baik sekitar 3,96 kali dibandingkan dengan anak usia dini yang tidak ikut

Dari semua uraian diatas, maka keberadaan Pusat Pendidikan Anak Usia Dini perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta, namun dengan

Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Anak Usia Dini Langkah-langkkah yang perlu dilakukan dalam pendekatan proyek yaitu memilih topik, eksplorasi, rencana kegiatan,

Dokumen ini membahas tentang metode pembelajaran konvensional, khususnya metode ceramah, yang sering digunakan dalam proses pembelajaran di Pendidikan Anak Usia Dini