• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran pada Anak Usia Dini Kajian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembelajaran pada Anak Usia Dini Kajian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran pada Anak Usia Dini: Kajian Teoretik Pragmatis

Abstrak

Pendidikan harus melibatkan lingkungan sosial anak atau komunitas dimana ia berada. Pendidikan berlangsung baik bila ada kerjasama yang baik dengan lingkungan disekitar dan orangtua anak. Kondisi kekinian menunjukkan bahwa terjadi berbagai permasalahan, yang hal ini dapat berpengaruh pada perkembangan pendidikan anak. Jadi, perlu dipahami dengan benar khususnya bagi para pendidik dan umunya bagi masyarakat secara umum tentang pembelajaran yang efektif pada anak usia dini. Pembelajaran ini dapat mengacu pada teori-teori belajar yang telah terbukti efektif, juga pada penerapannya di lapangan. Teori-teori psikologi dapat dipergunakan untuk pembelajaran pada anak usia dini. Terlepas dari perbedaan masing-masing, selain telah terbukti efektif, teori-teori ini juga dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan dituasi pembelajaran pada anak usia dini.

1. Pendahuluan

Anak merupakan subjek dan bukanlah sebagai objek pendidikan, yang berarti baik pendidik maupun anak bersifat aktif dan selalu berkomunikasi. 3) Pendidikan harus melibatkan lingkungan sosial anak atau komunitas dimana ia berada. Artinya, proses pendidikan berlangsung baik bila ada kerjasama yang baik dengan lingkungan disekitar dan orangtua anak. Selain itu, contoh program kegiatan yang diberikan hendaknya mencerminkan kehidupan anak sehari-hari.

Kondisi kekinian menunjukkan bahwa terjadi berbagai permasalahan, yang hal ini dapat berpengaruh pada perkembangan pendidikan anak. Thomas Lickona, seorang pakar pendidikan karakter dari Courtland University mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai1. Jika suatu bangsa sudah memiliki

kesepuluh tanda itu, maka berarti sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah: meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayanya ketidakjujuran, sikap fanatik terhadap kelompok (peer-group) dalam tindak kekerasan; rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, semakin kaburnya moral baik dan buruk; penggunaan bahasa yang buruk, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, menurunnya ethos kerja, adanya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian antar sesama.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Semiawan bahwa pengaruh negatif dapat terjadi apabila mengandung unsur kekerasan, seks, dan anti sosial yang akan meracuni kehidupan kejiwaan anak.2 Hal tersebut hampir sempurna dimiliki bangsa

Indonesia.

Berkaitan dengan hal ini, perlu dipahami dengan benar khususnya bagi para pendidik dan umunya bagi masyarakat secara umum tentang pembelajaran yang efektif pada anak usia dini. Pembelajaran ini dapat mengacu pada teori-teori belajar yang telah terbukti efektif, juga pada penerapannya di lapangan.

1 Thomas Lickona, Educating Character: How Our Schools can Teach Respect and Responsibility (USA; Bantam Book, 1992), pp. 12-22

(2)

2. Hakikat Belajar

Berbagai teori tentang belajar terkait dengan penekanan terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi itu biasanya merupakan kemungkinan kemampuan umum. Seseorang secara genetis anak lahir dengan suatu organ yang disebut kemampuan umum (intelegensi) yang bersumber dari otaknya. Apabila struktur otak telah ditentukan secara biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya3. Proses

pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Pembahas tentang teori-teori belajar dan implikasinya dalam proses pembelajaran, di antaranya :

1. Teori Gagne

Belajar menurut Gagne adalah suatu proses yang mampu dilakukan oleh organisme hidup seperti manusia dan hewan bukan tanaman, yang memungkinkan organisme tersebut memodifikasi perilakunya secara relatif cepat dan permanen, sehingga modifikasi yang sama tidak berulang kali terjadi pada situasi baru.4 Gagne

beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak.

Menurut Gagne dalam Pamungkas ada 8 tipe belajar5, yaitu: (1.) belajar isyarat; (2)

belajar stimulus respon; (3) belajar merangkaikan; (4) belajar aosisasi verbal; (5) belajar diskriminasi; (6) belajar konsep; (7) belajar prinsip/hukum; (8) belajar pemecahan masalah.

Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne6 dibedakan

menjadi 5 kategori, yaitu: (a) keterampilan intelektual; (b) informasi verbal; (c) strategi kognitif; (d) keterampilan motorik; dan (e) sikap. Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi (1) menarik perhatian, (2) menjelaskan tujuan, (3) mengingat kembali apa yang telah dipelajari, (4) memberikan materi pelajaran, (5) memberi bimbingan belajar, (6) memberi kesempatan, (7) memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan, (8) menilai hasil belajar, dan (9) mempertinggi retensi dan transfer.

2. Teori Piaget

Prinsip teori Piaget, (a) manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa; (b) pengetahuan datang melalui tindakan; (c) perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.

3 Semiawan C, 1997 4

(3)

Piaget dalam Semiawan7 mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak

terjadi melalui priode: (1) tahap sensori motor, (2) tahap praoperasi, (3) tahap operasi konkrit, dan (4) tahap operasi formal. Piaget dalam Foreman dan Kuschener,8

menjelaskan bahwa otak manusia tahu bagaimana mengendalikan benda melalui input dari indera seperti mata, telinga, kulit, hidung dan mulut yang secara langsung dalam menunjukkan reaksi tertentu terhadap lingkungan sekitar.

Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :

- skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep;

- asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimiliki oleh seseorang;

- akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan

- equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi baru

Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu :

- Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya

- mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan

- memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil

- peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas.

3. Teori Bruner

Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner dalam Pamungkas,9 mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap

representasi yang berurutan, yaitu: (a) enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya; (b) iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan (c) simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa.

Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang berlangsung dalam benak siswa.

Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak.

7 Semiawan Conny R. Pendidikan Tinggi. Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayatb Seoptimal Mungkin (Jakarta: PT. Gasindo 1999) h. 121-122

8 George E. Forman. Davids, Kuchener. The Child’s Construction Of Knowledge: Peaget: For Teaching children (Washington DC: NAECY, 1993). h.h 50-55

(4)

Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).

Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah: (a) menghadapkan anak pada suatu suatu masalah; (b) anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan (c) dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu.

4. Teori Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, yaitu verbal yang bermakna (meaningful verbal instruction). Suhenah merumuskan definisi belajar merupakan suatu aktivitas menimbukan perubahan yang relatif permaqnen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dikakukannya.10

Menurut Ausubel,11 setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang

membentuk dasar sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser). Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan menjadi sistem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya.

5. Teori Vygotsky

Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. Vigostsky dalam Berk dan Winsher, 12mendefinisikan

ZPD sebagai jarak/ kesenjangan antara level perkembangan yang aktual ditujukan dalam pemecahan masalah secara mandiri dan level perkembangan potensialyang ditujukan oleh perkembangan pemecahan masalah dengan bimbingan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya yang lebuh mampu ( the distance between the aktual development level as determinecl by independent problem solving under adult guidence or in colaboration with more capeble press). Zone of proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya.

Van de Stuyf13 mengatakan bahwa strategi pembelajaran pentahapan

(scoffolding) memberkan bantuan secara peragaan berdasarkan ZPD pembelajaran. Di dalam pembelajaran soffolding banyak pengetahuan lain yang memberikan scoffold atau bantuan yang memfasilitasi perkembangan pembelajaran artinya memfasilitasi

10 Ana Suhenah S. Membangun Kompetensi Belajar ( Jakarta; Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas. 2009) p.2

11 Pamungkas. Op.cit .h.5

12 L. E. Berk dan A. Winsler. Scffoldind Children Learning: Vigotsky and Early Childhood Education. (Washington DC: NAECY, 1995). h.h 26

(5)

kemampuan anak untuk membangun petetahuan sebelumnya dan menginternalisasi informasi baru.

Selanjunya Vygorsky lebih menekankan scoffolding, yaitu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.

6. Teori Konstruktivis

Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner, Jhon Dewey dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Semiawan berpendapat 14

bahwa pendekatan kontruktifisme bertolak dari suatu keyakinan bahwa belajar adalah membangun (to construct) pengetahuan itu sendiri, setelah dicernakan dan kemudian dipahami dalam diri individu, dan merupakan perbuatan dr dalam diri seseorang.

Ide utama teori ini adalah: (a) siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri; (b) agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri; (c) belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan (d) belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu di ubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.

Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :

- memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya saja.

- Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran

- Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek

- Menerapkan pembelajaran koperatif 7. Teori Behaviorisme

Belajar menurut visi adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Oleh karena itu lingkungan yang sistematis, teratur dan terencana dapat memberikan pengaruh (stimulus) yang baik sehingga manusia bereaksi terhadap stimulus tersebut dan memberikan respon yang sesuai. Aliran Behaviorisme adalah aliran yang percaya bahwa manusia terutama belajar karena pengaruh lingkungan.

Dua tokoh terkenal dalam Behaviorisme yang mempelopori teori ini dan mempunyai perbedaan dalam menjelaskan proses terjadinya belajar adalah Pavlov15

yang berbicara tentang stimulus yang dipersyaratkan (conditioning reflex) untuk memberikan respons yang diharapkan oleh lingkungan sesuai dengan tuntutan lingkungan (refleks yang dikondisikan) selanjutnya disebut classical conditioning, kedua adalah Skinner yang agak berbeda pendiriannya dengan Pavlov. Skinner beranggapan bahwa perilaku manusia yang dapat diamati secara langsung, adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Kalau konsekuensinya menyenangkan maka hal tersebut akan diulanginya lagi. Konsekuensi-konsekuensi tersebut adalah kekuatan pengulang (reinforcement) untuk berbuat sekali lagi. Teori ini dikenal dengan sebutan operant conditioning.

14 Conny Semiawan, Pembelajaran Pada Taraf Pendidikan Anak Usia Dini ( Jakarta: Prikalindo.2002). h. 3-4 15Robert A. Slavin. Educational Psychology, Theory and Practice (Allyn and Bacon A divion of Paramout Publishing.

(6)

Belajar adalah akibat (konsekuensi, kekuatan pengulang) dari suatu perbuatan yang menghadirkan perbuatan tersebut kembali. Apabila perbuatan tersebut menyenangkan. (apabila seseorang lapar kemudian makan dan kenyang, maka selanjutnya jika lapar maka ia akan makan (positive reinforcement. Sebaliknya, apabila akibatnya adalah tidak nikmat (contoh: jika terlalu kenyang), maka tidak akan terdorong untuk diperbuatnya lagi (negative reinforcement).16

Beranjak dari berbagai teori dan pemikiran para pakar pendidikan seperti yang telah diuraikan sebelumnya, teori belajar yang di gunakan dalam model pendidikan anak usia dini berbasis budaya Aceh adalah teori konstruktivisme. (1) Aliran konstruktivisme menyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak berusaha memahami dunia sekeliling mereka, anak membangun pemahaman mereka sendiri tehadap dunia sekitar dan pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya,, orang dewasa dan linkungan. (2) Setiap anak membangun pengetahuannya sendiri berkat pengalaman-pengalaman dan interaktif aktif dengan lingkungan sekitar dan budaya di mana mereka berada.

3. Pembelajaran pada Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang paling mendasar menempati posisi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia.17 The National for the Educational

of Young Children (NAEYC) mendefinisikan pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang melayani anak usia lahir hingga 8 tahun untuk kegiatan setengah hari maupun penuh, baik di rumah ataupun institusi luar18. Asosiasi para pendidik yang

berpusat di Amerika tersebut mendefinisikan rentang usia berdasarkan perkembangan hasil penelitian di bidang psikologi perkembangan anak mengindikasikan bahwa terdapat pola umum yang dapat diprediksikan menyangkut perkembangan yang terjadi selama 8 tahun pertama kehidupan anak.

Pembagian rentang usia berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, tercantum dalam buku kurikulum dan hasil belajar anak usia dini yang terbagi ke dalam rentang tahapan19: (1).Masa bayi berusia lahir

0– 12 bulan (2), Masa “toddler” atau batita usia 1-3 tahun (3). Masa prasekolah usia 3-6 tahun (4). Masa kelas B TK usia 4-5/3-6 tahun20:

Rentang anak usia lahir sampai dengan 6 tahun merupakan rentang usia kritis dan sekaligus strategis dalam proses pendidikan yang dapat mempengaruhi proses serta hasil pendididkan pada tahap selanjutnya. Artinya periode ini merupakan periode kondusif untuk menumbuh kembangkan berbagai kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosioemosional dan spiritual.

Teori perkembangan pada Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri)

16 Ibid, 156

17 Depdiknas. Direktorat PAUD, Dirjen PLSP. Acuan Menuju Pembelajaran pada Kelompok Bermain, Jakarta. 2005.p.1

18Carol Seefeldt & Nita Barbour. Early Childhood Education. (New Jersey:PrenticeHall.1998)p.13 19 Depdiknas . Kurikulum Hasil Belajar Anak Usia Dini (Jakarta: Puskur.2002),p.1

(7)

dengan lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu.

Piaget selain meneliti tentang proses berpikir di dalam diri seseorang ia juga dikenal dengan konsep bahwa pembangunan struktur berfikir melalui perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap21: (1) tahap sensori motor (lahir-2 tahun); (2) tahap

praoperasi (usia 2-7 tahun); (3) tahap operasi konkrit (usia 7-11 tahun), dan (4) tahap operasi formal (usia 11-15 tahun).

Tahapan ini sudah baku dan saling berkaitan, tidak dapat ditukar atau dibalik karena tahap sesudahnya melandasi terbentuknya tahap sebelumnya. Akan tetapi terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah menurut situasi sesorang, perbedaaan antar tahap sangat besar, karena ada perbedaan kualitas pemikiran yang lain. Meskipun demikian unsur dari perkembangan sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi ada kesinambungan dari tahap ke tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.

Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi)22.

Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang merubah struktur kognitif. Konsep ini menjelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnya dalam bentuk pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.

Vigotsky memandang bahwa sistem sosial sangat penting dalam perkembangan kognitif anak. Orangtua, guru dan teman berinteraksi dengan anak dan berkolaborasi untuk mengembangkan suatu pengertian. Jadi belajar terjadi dalam konteks sosial, dan muncul suatu istilah zone of Proximal development (ZPD)23. ZPD diartikan sebagai

daerah potensial seorang anak untuk belajar, atau suatu tahap dimana kemampuan anak dapat ditingkatkan dengan bantuan orang yang lebih ahli. Daerah ini merupakan jarak antara tahap perkembangan aktual anak yaitu ditandai dengan kemampuan mengatasi permasalahan sendiri batas tahap perkembangan potensial dimana kemampuan pemecahan masalah harus melalui bantuan orang lain .

Sebagai contoh Anak usia 5 tahun belajar mengunting kertas dengan bantuan pengarahan dari orangtua atau guru bagaimana caranya secara bertahap, sedikit demi sedikit bantuan akan berkurang sampai ZPD berubah menajdi tahap perkembangan aktual saat anak dapat menggunting sendiri.

Oleh karena itu dalam mengembangkan setiap kemampuan anak diperlukan

21 Vasta Ross, Haith Marshall M, Miller Scott A, Child Psychology (The Modern Science)John Wiley & Sons Inc, USA 1999, p 30

22 Mclnerney, Dennis M., Mclnerney Valentine, Educational Psychology (Constructing Learning), Prentice Hall, Australia 1998. P 21

(8)

scaffolding atau bantuan arahan agar anak pada akhirnya menguasai keterampilan tersebut secara independen24. Dalam mengajar guru perlu menjadi mediator atau

fasilitator dimana pendidik berada disana ketika anak-anak membutuhkan bantuan mereka. Mediatoring ini merupakan bagian dari scaffolding. Jadi walaupun anak sebagai pembelajar yang aktif dan ingin tahu hampir segala hal, tetapi dengan bantuan yang tepat untuk belajar lebih banyak perlu terus distimuluasi sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

Vigotsky meyakini bahwa pikiran anak berkembang melalui25: mengambil bagian

dalam dialog yang kooperatif dengan lawan yang terampil dalam tugas di luar zone proximal development dan menggunakan apa yang dikatakan pendidik yang ahli dengan apa yang dlakukan.

Berbeda dengan Piaget yang memfokuskan pada perkembangan berfikir dalam diri anak (intrinsik), Vigotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh sosial dan kebudayaan anak tersebut. Setiap kebudayaan memberikan pengaruh pada pembentukan keyakinan, nilai, norma kesopanan serta metode dalam memecahkan masalah sebagai alat dalam beradaptasi secara intelektual. Kebudayaanlah yang mengajari anak untuk berfikir dan apa yang seharusnya dilakukan.

John Dewey mendalami dunia pendidikan dan menjadi salah satu dari ahli yang selalu memberikan gerakan-gerakan pembaharuan dalam dunia pendidikan. Ada beberapa pendapat dari Dewey26 di dalam memberikan kontribusi besar pada

pendidikan di Taman Kanak-kanak, yaitu: 1) Pendidikan harus dipusatkan pada anak. Artinya dalam proses pembelajaran, fokusnya ada pada anak dari kebutuhan, perkembangan, dan proses yang sedang dijalaninya. Hal senada juga dikatan oleh Santoso, bahwa pendidikan perlu mengikuti sifat bawaan anak, sehingga pengaruh yang diberikan kepada anak tidak bertentangan dengan kemauan dan bakat anak yang berkembang.27

Hal senada juga dikemukan oleh Santoso, bahwa pendidikan perlu mengikuti sifat bawaan anak, sehingga pengaruh yang diberikan kepada anak tidak bertentangan dengan kemauan dan bakat anak yang berkembang.28 Pendidik merupakan fasilitator

yang aktif dalam mendorong dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. 2) Pendidikan harus aktif dan interaktif. Hal ini berarti dalam proses pendidikan harus berlangsung dua arah. Adanya komunikasi antara pendidik dan anak merupakan faktor penting dalam menjalankan program kegiatan dan tujuan pendidikan.

Adapun teori mengenai perkembangan dan pendidikan anak usia dini dari Dewey adalah:29 Pertama, Dewey percaya bahwa proses belajar anak berlangsung paling baik

ketika mereka berinteraksi dengan orang lain, baik bekerja sendiri ataupun bersama-sama dengan teman sebaya dan orang dewasa. Dalam setiap proses perkembangan anak sangat didukung oleh luasnya perkembangan sosial anak-anak tersebut.

24Santrock. John W, Life-Span Development, Brown & Benchmark, Dallas 1997 p 187 25 Solso, Op ci.t p 390

26Santrock, John W.L, op cit, 300

27 Robet M. Gagne, Prenciple of Intructional Design second Edition (New York: Florida Stateb University) p.3-4

28 Santoso Soegeng. Pendidikan Anak Usia Dini, Citra Pendidikan, Jakarta.2004. hal 1

(9)

Dari perkembangan sosial yang baik, anak akan belajar untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dalam berbagai macam area perkembangan seperti kognitif,emosi, dan keterampilan sosial. Kedua, adanya minat anak-anak yang mendasari untuk mepersiapkan perencanaan kurikulum. la percaya bahwa minat dan latar belakang tiap anak dan kelompok harus dipertimbangkan ketika pendidik merencanakan pengalaman pembelajaran.

Ketiga, Dewey percaya bahwa pendidikan merupakan bagian dari hidup. la percaya bahwa selama orang hidup akan selalu belajar, dan pendidikan akan mengarahkan apa yang orang perlu ketahui pada saat itu, bukan mempersiapkannya untuk masa mendatang. Dewey berpikir bahwa kurikulum akan berkembang melampaui situasi-situasi rumah yang riil, dan situasi kehidupan lainnya. Hal ini berarti kurikulum atau program kegiatan belajar merupakan sarana pengembangan keterampilan hidup bagi anak-anak di luar situasi yang biasa dihadapinya di rumah.

Dengan melihat beragam perilaku dalam konteks yang lebih luas, anak-anak diharapkan dapat mempunyai cara pandang yang luwes dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar rumah. Untuk mewujudkan ini, Dewey berpikir bahwa pendidik harus peka pada nilai-nilai dan kebutuhan keluarga. Nilai-nilai dan budaya dari keluarga dan masyarakat akan tercermin dalam situasi-situasi yang terjadi di sekolah dalam bentuk contoh pelaksanaan program kegiatan. Keempat, pendidik bukan hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga mengajarkan bagaimana hidup di dalam masyarakat. Selain itu, Dewey juga berpikir bahwa pendidik bukan hanya mengajar anak-anak secara individu tetapi juga membentuk masyarakat.

Kelima, pendidik perlu memiliki keyakinan tentang keterampilan dan kemampuannya. Dewey menjelaskan bahwa penting bagi pendidik untuk mengamati anak-anak dan untuk mengetahui keadaan anak. Hasil observasi atau pengamatan, pendidik dapat mengetahui jenis-jenis pengalaman apa yang menjadi minat dan siap dilalui anak-anak. Hal ini menuju pendidikan yang bermutu adalah mengenal anak-anak dengan baik, membangun pengalaman mereka atas pembelajaran yang lalu, menjadi terorganisir, dan merencanakannya dengan baik. la juga percaya bahwa tuntutan atas metode baru ini membuat pengamatan, dokumentasi dan pencatatan kejadian di ruang kelas menjadi lebih penting daripada jika digunakan metode tradisional.

Menurut Dewey, suatu pengalaman hanya dapat disebut “pendidikan” jika memenuhi kreteria: 1) Didasarkan pada minat anak-anak dan berkembang dari pengetahuan dan pengalaman mereka yang ada. 2) Mendukung pengembangan anak-anak. 3) Membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru. 4) Menambah pemahaman anak mengenai dunia mereka. 5) Mempersiapkan anak-anak untuk lebih siap beradaptasi dalam berbagai macam lingkungan30.

Montessori percaya bahwa pembelajaran anak-anak berlangsung dengan baik melalui pengalaman sensory (panca indera) 31. la berpikir bahwa pendidik memiliki

tanggung jawab untuk memberikan pengenalan tekstur, bunyi, dan bau yang luar biasa bagi anak-anak. la juga percaya bahwa bagian dari pengalaman panca indera untuk anak-anak adalah mengenalkan alat dan perkakas yang cocok dengan tangan mereka dan

30 Westbrook,loc cit, p7

(10)

meja kursi yang sesuai dengan tubuh yang kecil lingkungan yang indah, teratur, permainan sensory merupakan bagian dari warisan buah pemikiran Montessori.

Secara tegas, Montessori menekankan pentingnya pendidikan motorik, sensori, dan bahasa bagi anak prasekolah. Gerakan-gerakan motorik akan membuat anak mengarahkan kebebasan yang berarti dan membuat anak menjadi lebih tenang, gembira, dan merasakan kepuasan. Pada pengembangan sensori anak, pendidikan diarahkan mampu meletakkan dasar kemampuan intelektual anak melalui pengamatan dan latihan yang terus menerus sambil melakukan perbandingan dan penilaian.

Para pendidik anak usia dini hendaknya terlibat aktif dalam proses pendidikan anak. Pemberian kesempatan yang luas untuk anak-anak mengenali lingkungannya dengan cara bereksplorasi merupakan tugas utama para pendidik. Pemaksaan dan pengekangan daya eksplorasi dapat mematikan pengembangan potensi anak bahkan dapat menyebabkan anak mengalami tekanan dan kebingungan dalam melakukan sesuatu bila ia tidak menyukainya. Hal yang menjadi fokus utama bagi para pendidik adalah mengelola proses pendidikan dalam pelaksanaan program kegiatan yang membuat setiap anak merasa senang dengan apa yang dilakukannya dan baik pendidik maupun anak-anak selalu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang baru.

Untuk itu, Montessori menyatakan,32 bahwa pendidik anak-anak usia dini harus

memberikan pengenalan alat yang ril yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti; pisau, gunting, alat-alat kebersihan dan alat-alat pertukangan. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak secara bertahap mengenali alat-alat yang membantu kelancaran proses kehidupan, selain itu dalam memberikan akses yang mudah bagi anak, maka apabila menyimpan dan meletakkan bahan-bahan serta peralatan di tempat yang dapat dijangkau anak-anak dan ditata secara teratur, sehingga mereka dapat menemukan dan mengambil apa yang mereka butuhkan.

Merancang ruang kelas dengan rak-rak yang rendah dan terbuka berarti anak-anak dapat melihat apa yang ada dan mendapatkan apa yang diinginkan tanpa bantuan dari pendidik. Mereka tidak perlu mengganggu pekerjaan mereka untuk mendapatkan perhatian dari pendidik yang sibuk atau meminta ijin untuk menggunakan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Seringkali dalam anak-anak usia dini di Amerika, persediaan bahan-bahan kegiatan disimpan di tempat yang tidak terjangkau oleh anak-anak.

Pendidik yang mengikuti pedoman Montessori memiliki banyak sekali perbekalan yang tersedia untuk penggunaan anak. Dengan bantuan dari anak-anak, mereka menyimpan perbekalan tersebut secara teratur sehingga pilihan dan kesempatan secara terus-menerus mengundang anak-anak untuk menjadi kreatif. Montessori juga sangat memperhatikan bagaimana menciptakan keindahan dan kerapian di ruang kelas. Menurut Montessori, mengetahui bagaimana merancang lingkungan yang indah dan menarik bagi anak-anak sama pentingnya dengan bagian pengajaran seperti mengetahui bagaimana memilih buku anak-anak yang baik untuk perpustakaan.

Dari pikiran Montessori di atas, secara umum pada dasarnya pendidik anak usia dini adalah mempersiapkan lingkungan, kondusif atau yang mendukung proses belajar, pertumbuhan pengembangan diri anak. Dalam hal ini pendidik tidak perlu memaksa atau membuat peraturan-peraturan yang mengikat anak tidak bebas dalam berekspresi. Montessori percaya bahwa anak-anak ingin membutuhkan perhatian bagi diri dan

(11)

lingkungan sekitarnya. Montessori berpendapat bahwa anak-anak belajar yang terbaik adalah dengan sesuatu dan melalui pengulangan. Anak-anak akan mampu melakukan segala hal yang mereka mampu. la yakin bahwa salah satu tanggung jawab pendidik adalah untuk meningkatkan kompetensi atau kecakapan anak semaksimal mungkin.

Pakar Psikologi perkembangan Erikson memfokuskan pada perkembangan psikososial sejak kecil hingga dewasa dalam delapan tahap. Setiap orang akan melewati tahapan dan setiap tahapan akan mendapatkan pengalaman positif dan negatif. Kepribadian yang sehat akan diperoleh apabila seseorang dapat melewati krisis dalam tugas perkembangan dengan baik. Bagi anak usia dini, inisiatif vs merasa bersalah (3-6 tahun)33. Anak memerlukan pengasuhan yang penuh perhatian dan

bimbingan yang baik sehingga ia merasa aman baginya. Ketidak konsistenan dan penolakan pada masa usia dini pada pengasuhnya berlanjut pada orang lain dan lingkungan yang lebih luas. Pada masa usia dini banyak hal yang menarik dia sehingga akan menjadikan dia ingin selalu mencoba terkadang berbahaya. Pada tahap ini orang dewasa harus memberikan dukungannya dan Erikson mengingatkan pembatasan dan kritik yang berlebihan akan menyebabkan tumbuh rasa ragu, tidak percaya terhadap kemampuan dirinya.

Penelitian tentang kecerdasan lebih jauh lagi diungkapkan Gardner yang dikenal konsep kecerdasan Jamak atau Multiple Intelegence (MI)34 ia mengidentifikasikan

kecerdasan sebagai kemampuan untuk menemukan dan mencari pemecahan masalah serta membentuk suatu produk yang mempunyai nilai di pandang dari kebudayaan seseorang. Kesembilan kecerdasan tersebut adalah: Linguistik, logika, matematika, spasial, kinestetik, musik, intrapersonal, interpersonal serta naturalis. Tambahan dari ketujuh kecerdasan ini adalah Spiritual, di mana anak juga memiliki kecerdasan yang sifatnya vertikal, yaitu kecerdasan yang terkait dengan Tuhan. Setiap orang mempunyai berbagai potensi tersebut dan masing-masing dapat dikembangkan ke tahap tertentu.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan. Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memilikii kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

4. Penutup

Berbagai teori tentang belajar terkait dengan penekanan terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi itu biasanya merupakan kemungkinan kemampuan umum. Artinya, proses pendidikan berlangsung baik bila ada kerjasama yang baik dengan lingkungan disekitar dan orangtua anak. Selain itu, contoh program kegiatan yang diberikan hendaknya mencerminkan kehidupan anak sehari-hari. Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan.

33 Slavin, Educational Psychology (Theory and Practice), p.55

(12)

Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memilikii kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Daftar Catatan Kaki

1 Thomas Lickona, Educating Character: How Our Schools can Teach Respect and Responsibility (USA; Bantam Book, 1992), pp. 12-22

2 Conny R. Semiawan. Landasan Pembelajaran dalam Perkembangan Manusia. (Jakarta: Pusat Pengembangan Kemampuan Manusia, 2007) . p. 38.

3 Semiawan C, 1997

4 Pamungkas Dudi. www.diecoach.com/pdf/2009070682/teori-belajar-yang-melandasi-rosespembelajaran 5 Ibid

6 Semiawan Conny R. Pendidikan Tinggi. Peningkatan Kemampuan Manusia Sepanjang Hayatb Seoptimal Mungkin (Jakarta: PT. Gasindo 1999) h. 121-122

7 George E. Forman. Davids, Kuchener. The Child’s Construction Of Knowledge: Peaget: For Teaching children (Washington DC: NAECY, 1993). h.h 50-55

8 Pamungkas. Op,cit. 3

9 Ana Suhenah S. Membangun Kompetensi Belajar ( Jakarta; Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas. 2009) p.2

10 Pamungkas. Op.cit .h.5

11 L. E. Berk dan A. Winsler. Scffoldind Children Learning: Vigotsky and Early Childhood Education. (Washington DC: NAECY, 1995). h.h 26

12 Rachel R.Van De Stuyf, Scoffolding as a Teaching Strategy (http//condor.admin.ceny.edu).

13 Conny Semiawan, Pembelajaran Pada Taraf Pendidikan Anak Usia Dini ( Jakarta: Prikalindo.2002). h. 3-4

14 Robert A. Slavin. Educational Psychology, Theory and Practice (Allyn and Bacon A divion of Paramout Publishing. 1986), p155

15 Ibid, 156

16 Depdiknas. Direktorat PAUD, Dirjen PLSP. Acuan Menuju Pembelajaran pada Kelompok Bermain, Jakarta. 2005.p.1

17 Carol Seefeldt & Nita Barbour. Early Childhood Education. (New Jersey:PrenticeHall.1998)p.13 18 Depdiknas . Kurikulum Hasil Belajar Anak Usia Dini (Jakarta: Puskur.2002),p.1

19 Cathy Malley. National Network for Child Care. Avalaible at: http://www.nncc.org/child.dev.html

20 Vasta Ross, Haith Marshall M, Miller Scott A, Child Psychology (The Modern Science)John Wiley & Sons Inc, USA 1999, p 30

21 Mclnerney, Dennis M., Mclnerney Valentine, Educational Psychology(Constructing Learning), Prentice Hall, Australia 1998. P 21

22 Solso Robert L, Maclin M.Kimberly, Maclin Otto H, Cognitive Psychology, Pearson Education, Boston, 2005 p391

23 Santrock. John W, Life-Span Development, Brown & Benchmark, Dallas 1997 p 187 24 Solso, Op ci.t p 390

25 Santrock, John W.L, op cit, 300

26 Robet M. Gagne, Prenciple of Intructional Design second Edition (New York: Florida Stateb University) p.3-4 27 Santoso Soegeng. Pendidikan Anak Usia Dini, Citra Pendidikan, Jakarta.2004. hal 1

28 Melnerney & Melnerney Op. cit. p 233 29 Westbrook,loc cit, p7

30 Tina Bruce & Carolyn Maggit, Child Care & Education (Hodder & Stoughton, London,2005) p 326 31 Tina Bruce & Carolyn Maggit, op.cit. p 329

32 Slavin, Educational Psychology (Theory and Practice), p.55

Referensi

Dokumen terkait

manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek. Indonesia

Penelitian ini bertujan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kemampuan rata-rata nilai antara model pembelajaran Eliciting Activities (MEAs) dengan pembelajaran

• Apakah ada pengaruh yang signifikan secara parsial antara tingkat suku bunga terhadap Return saham pada perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Hasil yang sama juga diperoleh oleh Cho dan Dslinger (1980) diacu dalam Afandi dan Usman (2002), bahwa semakin tinggi nilai suhu maka kebutuhan energi untuk

Amerika Serikat Indonesia Redefinisi money transmission services (dibawah kerangka peraturan Bank Secrecy Act ) Memberi definisi terhadap „penyelenggara kegiatan usaha

Adalah Muhammad Quthb, saudara kandung Sayyid Quthb yang juga merupakan ulama terkemuka, mencoba meluruskan beberapa kesalahfahaman para pembaca yang tidak

Nakon toga, tu su brojni pedagozi i skladatelji koji su mi nesebično poklonili svoje vrijeme pomažući mi u pisanju ovoga rada, te osobe od kojih sam štošta naučio, tim više što

Sehingga esensi dan nilai dari program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLP–BK) di Desa Sengguruh belum dapat dipahami oleh sebagian