CATATAN SEJARAH SISWA PROGRESIF
FORUM KOMUNIKASI SISWA PROGRESIF
KISAH SISWA YANG MENOLAK PENDIDIKAN KAPITALISME
Catatan Untuk : Forum Komunikasi Siswa Progresif (FKSP)
“jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kalau sendiri pernah bercerita padakau: nenek moyang kita menggunakan
nama yang hebat-hebat dan dengannya ingin mmengsani dunia
dengan kehebatan-kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak
berhebat-hebat dengan nama dia berhebat-hebat dengan ilmu
pengetahuan . tetapi sipenipu tetaplah sipenipuh, sipembohong
tetaplah si pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”
(Pramoedya ananta toer).
KISAH ANAK-ANAK REMAJA PROGRESIF DARI HARI KEHARI
Sebenarnya ada kemajuan meskipun belum berarti, dikalangan manusia-manusia diatas bumi diatas
upaya memikirkan kembali suatu pemikiran dan gerakan untuk menjawab sebagai macam kontradiksi
yang menjangkiti tatanan kapitalis yang kian menglobal. Berbagai macam kontradiksi itu du tangkap dan
ekspresikan dalam berbagai macam gerakan yang menghendaki perubahan dam tentu saja seiring dana
protes yang kian berbunyi.
Kita tidak hanya mmelihat anak-anak muda yang frustasi karena tidak mendapatkan hak-hakya di bidang
pendidikan. Di antara mereka, ada yang lari kebudaya negative dan justru menjadi bagian dramatis dari
musibah kapitalisme, yang tak jarang di eksploitasi dalam kisah-kisah sinetron dan film Hollywood yang
menghibur. Sebagian lagi, ada yang menangkap ketidakpuasannya dan di ekspresikan melalui lirik-lirik
lagu yang mereka nyanyikan di bus-bus dan kereta-kereta.
Sebagian dari mereka, mesipun ,mereka adalah anak-anak remaja yang tak dapat mmasuk kesukolah,
tetap saja dapat memahami betapa pendidikan itu tidak adil buat mereka. Tentunya, menghendaki
sekolah yang adil, seringkali kita mendengar anak-anak kecil kotor dan dekil menyanyikan lagu yang
“belajar sama-sama
Bekerja sama-sama
Semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejaterahlah bangsaku
Di tempat lain, juga kita sering mendengar lagu-lagu
yang sangat menunjukkan kontradiksi kapitalisme
terhadap pendidikan. Berikut ini liriknya
yaitu mahasiswa yang kadang juga tak puas terhadap kebijakan Negara dan kampus. Berbagai macam
aksii radikal anak-anak mudah kampus sering kali terjadi, yaitu menuntut adanya kenaikan SPP dan
sekolah mahal, hingga menolak kebijakan privatisasi pendidikan tinggi yang benar-benar akan
mengancam masa depan negeri Indonesia ini.
Para remaja sekolah yang usia yang begitu rendah, seperti anak-anak SD,SMP,dan SMU, belakangan ini
juga suka turun kejalan, terutama menolak adanya penyimpangan yang dilakuakan oleh pihak sekolah.
anak remaja sekolahan dan di kemudian hari akan tersimpan dalam memori mereka watak krititisme
yang dibangun semenjak remaja sampai pada ketika mereka menjadi mahasiswa intelektual. Dengan
prtatek seperti itulah mereka akan tidak terasing lagi dengan suasana demonstran bahkan terlibat
langusung dalam garis massa demonstran yang progresif revolusioner.
CERITA ANAK SEKOLAHAN
Aku sedikit punya cerita tentang gerakan
remaja sekolahan yang masih berusia
dibawah, seperti di daerah kelahiranku
Polewali Mandar, ada sekelompok remaja
yang mengorganisasikan dirinya dalam
forum-forum diskusi dan mengikuti
beberapa aksi massa, katakanlah FKSP
(forum komunikasi siswa progresif) yang
terdiri dari beberapa sekolah-sekolah
menegah atas (SMA) di daerah polewali
mandar, informasi yang aku terimah dari
kawan-kawan remaja progresif ini, ada 17
sekolah-sekolah menengah atas yang
bergabung didalam organisasi mereka, ku
ajungkan empat jempol buat mereka,
yang begitu siap bergerak untuk
melakukan penyadaran-penyadaran kritis
Kepada teman sebanyanya.
Awal dari terbentukanya organisasi remaja ini aadalah bentuk kajian-kajian kritis yang begitu menyebar
di daerah ketika itu, yang dilakuakan para pemuda-pemuda desa yang lebih duluan mengkonsumsi
pemikiran kritis dan pembacaan yang berlandaskan pada kebutuhan rakyat.
Dari pengalaman kawan-kawan remaja progresif kita dapat melihat betapa gelisahnya mereka
yang masih bayak teman-teman sebaya mereka yang tidak mampu menikmati pendidikan formal,
dengan pemikiran yang maju pula organisis remaja ini membnentuk forum-forum kajian agar
teman-teman sebaya mereka dapat mendapat ilmu yang lebih bermanfaat dibandingkan yang ada di
sekolah-sekolah yang berwatak kapitalistik, feodalistik, dan militeristik.
Anak-anak remaja dan pemudah itu tentu saja marah, justru karena mereka sadar atas apa yang
sebenarnya terjadi di dunia ini. Tampaknya, mereka paham akan kemunafikan system kapitalisme
bahwa tak mungkin kapitalisme butuh anak-anak remaja pintar dan cerdas (berpengetahuan dan
berteknologi) karena kalau itu terjadi, pendidikan dan ilmu pengetahuan tak bisa lagi di
komersialisasikan oleh ideology kapitalisme.
Dengan kegelisahan para remaja-remaja ini, dan sampai pada waktunya mereka turun langsung kejalan
dengan massa yang terorganisir oleh organiasasi mereka, membentengkan poster-poster tentang
penolakan kebijakan-kebijakan sekolah yang sungguh memberatkan mereka dan orang tua mereka baik
itu secara langsung maupun yang tidak langsung.
Anak-anak itu adalah anak kandung kapitalisme. Mereka dilahirkan dari ibu kapitalisme, tetapi ketika
tumbuh mulai tahu bahwa kapitalisme berusaha menyuapinya dengan racun atau zat-zat yang akan
membuat anak-anak itu bodoh dan cepat mati. Makanya, anak-anak yang menyadari bahwa ia hanya
akan di manfaatkan ibu kandung itu dengan tegas segera membangkang terhadap orang tua dan kadang
memang di cap sebagai anak durhaka oleh anak-anak dan saudara-saudaranya yang lahir dari rahim
kapitalisme lain.
Mereka tahu bahwa kapitalisme ingin terlalu berkuasa. Dan mereka yang masih percaya dengan sekolah,
anak-anak itu juga menolak kampus dikuasai. Sebelum para mahasiswa daerah mereka (kabupaten
Polewai Mandar) ramai-ramai menolak privatisasi kampus belakangan ini, anak-anak remaja/ sekolahan
di derah Polewal Mandar (SULBAR) telah memulai aksi lebih dulu disbandingkan dengan mahasiswa
yang katanya lebih progresif tapi tidak revolusioner akhirnya menjadi reformis berwatak borjuis penjilat
pantat kapitalisme.
Polewali Mandar tercatat aksi disini pada bulan-bulan maret 2008 lebih dari 5 sekolah menengah atas
kampus dan mengajak para mahasiswa untuk ikut aksi bersama mereka. Salah satu kampus utama di
daerah polewali mandar menjadi sasaran untuk memasak bayak pamphlet penolakan UU BHP yang
menurut surat kabar fajar yang mengatakan bahwa semua perguruan tinggi negri maupun swasta harus
menjalankan yang namanya badan hukum pendidikan (BHP) dan UNASMAN yang menjadi sasaran di
SULAWESI BARAT tepatnya di Polewali Mandar nantinya sasaran utama komersialisasi system
pendidikan.
Kaum remaja berani menyatakan pikiran dan orientasi gerakan yang berbeda. Pertanyaan tersebut
diwakili lagu the police yang berjudul “born in the 50’s”, we are the class, they couldn’t teach, cause we
know better!’ ( kami adalah generasi yang tak dapat mereka didik, karena kami memahami lebih baik).
Dominan yang menyebar dianggap tidak mampu memberikan apa-apa karena hanya dangkal beku,
sedangkan kaum remaja yang mampu meresakan dan mengetahui lebih baik ini menginginkan gaya
hidup yang berbeda.
Di Indonesia secara umum, budaya tanding juga menjadi ciri khas dari gerakan kaum muda yang dimulai
dari kemampuan untuk merasakan kontradiksi yang muncul. Gerakan mahasiswa melawan orde baru
merupakan fakta sejarah yang paling menonjol. Pengaruh budaya tandingan tahun 1960-an. dan juga
berimbas pada kaum remaja di daerah polewali manda (SULBAR) yang mampu mengakses informasi dan
ilmu pengetahuan ini. Gerakan kaum remaja pun harus ada dalam sejarah gerakan di Sulawesi Barat di
daerah Polewali Mandar dimana kebudayaan dijadikan topeng kekuasaan yang menindas rakyat sendiri
TO MANDAR.
Demikian aku tulis beberapa kisah anak pelajar dari tanah mandar yang menginginkan suatu perubahan
pada dunia pendidikan. Secara filosofi sekolah tak harus di bangku sekolah, bangku perkuliahan tetapi
seperti lagu yang aku tulis sedikit diatas.. yang memandang bahwa sekolah adalah alam raya kita dan
guru kita adalah orang-orang/lingkungan disekitar kita.
Salam demokrasi pembebasan buat kawan-kawan (forum komunikasi siswa progresif) FKSP, belajarlah
selagi muda berjuanglah selagi bisa, mereka pribumi terpelajar, kalau pribumi itu tidak terpelajar, kau
harus, harus, dan harus membuat mereka menjadi terpelajar. Dengan bahasa yang mereka ketahui