• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PENGATURAN PENERBANGAN DI I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN PENGATURAN PENERBANGAN DI I"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PENGATURAN PENERBANGAN DI INDONESIA

Diajukan Untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Politik Hukum

Dosen :

Prof. Dr. H Rukmana Amanwinata, S.H., M.H.

Dr. Hernadi Affandi, S.H., L.L.M

Disusun Oleh :

Silvia Handriyanti 110620170045

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PADJAJARAN BANDUNG

(2)

Daftar Isi

Daftar Isi...2

BAB I PENDAHULUAN...3

A. Latar Belakang...3

B. Rumusan Masalah...5

BAB II TINJAUAN TEORITIS...7

A. Tinjauan Umum Mengenai Transportasi Udara ... 7

B. Jasa Penerbangan di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan... 8

C. Wilayah Kedaulatan Negara... 9

D. Hukum Sebagai Alat...10

BAB III PEMBAHASAN...12

A. Pengaruh Politik Hukum Terhadap Peraturan Menegenai Penerbangan...12

B. Perraturan dan Ketentuan Mengenai Penerbangan Belum Cukup Menyelesaikan Masalah Yang Timbul Dalam Kegiatan Penerbanngan...15

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan...18

B Saran...18

(3)

BAB I

PENDAULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kurang lebih

17.508 pulau, 922 pulau diantaranya dihuni secara menetap. Dengan jumlah

penduduk ditaksir sebanyak lebih dari 255 juta jiwa. Sebagian dari

pulau-pulau di Indonesia terkenal sebagai pulau-pulau indah yang biasa dijadikan tempat

wisata seperti pulau Bali, Pulau Belitung, Pulau Pagang, Pulau Lengkuas dan

ada sekitar 50 pulau lainnya yang biasa dijadikan tempat wisata. Pulau

tersebut tidak hanya di datangai oleh berbagai turis mancanegara, melainkan

dengan orang Indonesia sendiri dari pulau yang berbeda untuk menikmati

keindahan pulau di Indonesia.

Untuk menuju pada pulau-pulau tersebut setiap orang dapat

menggunakan jasa transportasi yang disediakan di Indonesia. Di Indoneisa

disediakan 3 jenis transportasi yaitu diantaranya,transportasi darat seperti

kereta api dan bus kendaraan pribadi (mobil dan Motor), transportasi laut

seperti kapal laut dan yang terakhir transportasi udara seperti pesawat terbang.

Sebagaimana halnya di negara-negara berkembang, transportasi di Indonesia

beroperasi dengan tingkat teknologi yang berbeda-beda. Ratusan pesawat

udara bermesin jet produk teknologi tinggi menerbangi jalur penerbangan

dalam negeri yang ratusan jumlahnya. Disamping itu masih ribuan perahu

layar yang mengangkut muatan antar pulau. Juga gerobak barang dan

pikulanmasih melayani kebutuhan transportasi masyarakat pedesaan.1

Untuk menempuh jarak yang cukup jauh dan memakan waktu yang

lama biasanya masyarakat lebih memilih untuk menggunakan jasa

penerbangan. Trayek penerbangan dalam negeri menghubungkan sekitar 60

(4)

kota besar yang tercakup. Dalam jalur penerbangan domestic ada sekitar 80

lokasi bandar udara perintis yang dilayani pula oleh penerbangan perintis

dimulai sejak tahin 1974.2Jasa penerbangan dalam hal ini memiliki peranan

penting untuk menghubungkan ribuan pulau di Nusantara. Berdasarkan Pasal 1

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan:

“Penerbangan adalah suatu kesatuan system yang terdiri atas

pemanfaatan wilayah, udara, pesawat udara, bandar udara, angkutan udara,

navigasi perbangan, keselamata dan keamanan, lingkungan hidup, serta

fasilitas penunjang dan fasilitas umum lainnya.”

Perkembangan jasa perbangan di Indonesia sampai saat ini

berkembang cukup pesat karena trasportasi udara dianggap sebagai alat

trasportasi yang paling efisien dan ekonomis apabila diihat dari sisi waktu

tempuh dan biaya mengingat tujuan penrbangan Berdasarkan Pasal 2 huruf b

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan, adalah:3

“memperlacar perpindahan orang dan/atau barang melalui udara

dengan mengutamakan dan melindungi angkutan udara dalam rangka

memperlancar kegiatan perekonomian nasional”

Dari pasal tersebut dinyatakan bahwa tujuan dari penerbangan adalah

unttuk memperlancar perpindahan melalui udara, sehingga beberapa

keuntungan yang dapat diperoleh dari jasa penerbangan antara lain seperti

jangkauan yang cukupluas,waktu tempuh yang cukup singkat, tariff yang

masih dapat dijangkau oleh masyarakat serta keamanan dan kenyamanan yang

diberikan saat berkendara4. Dengan adanya tariff penerbangan cukup murah

yang dapat diperoleh oleh kalangan menengah menjadi salah satu faktor

2 Muchtarudin Siregar, Op.cit, hlm 19.

3 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.

4 Febri Dermawan, Sutiarnoto, & Chairul Bariah, Perlindungan Hukum Dan Tanggung Jawab Terhadap Penumpang Sipil Pada Kecelakaan Pesawat Udara Dalam Lingkup Hukum Internasional, 2013, Volume 1 No.1 Journal Of International Law, hlm 1

(5)

meningkatnya penggunaan jasa penerbagan. Tariff penerbangan yang cukup

murah biasanya dapat diadapatkan pada agen-agen travel yang dinamakan

Final Call. Ditinjau dari kepentingan perusahaan trasportasi, tariff angkutan

haruslah ditentukan pada suatu tingkat dimana perusahaan yang bersangkutan

dapat berusaha degan menguntungkan. Di lain pihak dari kepentingan

konsumen atau pemaka jasa angutan, tariff angkutan yang ditawarkan kepada

masyarakat haruslah serendah mungkin agar dapat dijangkau oleh semua

golongan yang membutuhkannya.5Dengan adanya tariff penerbangan yang

murah membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih mudah untuk

menjalankan perjalannya dengan jasa penerbangan.

. Tetapi dari keuntungan tersebut juga menimbulkan berbagai masalah

dalam kegiatan penerbangan terhadap masyarakatnya. Seperti pada umumnya

yang kita ketahui bahwa ada beberapa masalah penerbangan di Indonesia

seperti misalnya tertundanya keberangkatan (delay), kecelakaan antar pesawat

yang terjadi di udara, dan kejadian tidak terduga lainya yang dapat merugikan

masyarakat sebagai penumpang. Masalah tersebut muncul karena kebutuhan

masyarakat meningkat tetapi hukumnya tidak dapat mengakomodir.Dalam hal

ini suatu produk hukum belum tentu dapat mengakomodir seluruh kebutuhan

manusia jika tidak didampingi oleh manusianya itu sendiri. Sehingga dalam

hal ini tujuan dari penerbangan tersebut menjadi tidak terpenuhi karena

adanya masalah-masalah tidak terduga yang terjadi terhadap jasa

penerbangan.

Melihat masalah tersebut maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang

topik tersebut mengenai “Perkembangan Peraturan Mengenai Penerbangan Di

Indonesia”

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

(6)

1. Bagaimana Pengaruh Politik Hukum Terhadap Peraturan Mengenai

Penerbangan?

2. Apakah peraturan dan ketentuan mengenai penerbangan sudah cukup

(7)

BAB II

Tinjauan Teoritis Terhadap Hukum Dan Penerbangan

C. Tinjauan Umum Mengenai Transportasi Udara

Transportasi diartikan sebagai kegiatan pemindahan barang dan

manusia dari tempat asal (origin) ke tempat tujuan (destination). Dalam

kergiatan transportasi diperlukan empat komponen, yakni:6

1. Tersedianya muatan yang diangkut;

2. Terdapatnya kendaraan sebagai sarana angkutannya;

3. Adanya jalan yang dapat dilaluinya;

4. Tersedianya terminal.

Transportasi selain memberikan manfaat bagi masyarakat, trasportasi

juga bermnfaat bagi pertumbuhan ekonomi melalui perluasan pasar yang bisa

terbentuk pasar intensif dan pasar ekstensif. Pasar intensif terbentuk karena

lebih banyak yang bisa di angkut dan terjangkau pada biaya yang lebih

rendah. Pasar ekstensif merupakan bertambah luasnya pasar yang dapat

terjangkau dengan perluasan transportasi.7

Pada umumnya dikenal dengan tiga jenis transportasi yaitu

diantaranya adalah:

1. Transportasi Darat, yaitu transportasi yang peruntukanya pada jalur

darat seperti misalnya kereta api, kendaraan pribadi/kendaraan

bermotor, bus, truk dan transportasi lainnya yang berguna untuk

melaksanakan pemindahan barang/orang.

2. Transporasi Air, yaitu transportasi yang peruntuknyan pada jalur

air/laut. Pada umumnya transportasi air ini bergerak di bidang

pelayaran seperti misalnya kapal laut, perahu, kapal selam, kapal

6Ibid, hlm 3.

(8)

pesiar, rakit dan transportasi air lainnya yang berguna untuk

melaksakan pemindahan barang/orang.

3. Transportasi udara, yaitu transportasi yang peruntukannya pada

jalur udara seperti misalnya pesawat udara dan helicopter.

Biasanya jasa transportasi umum disediakan oleh pihak pengankut.

Pihak pengangkut adalah pihak-pihak yang melakukan pengangkutan

terhadap barang dan penumpang (orang)yang mengikatkan diri untuk

meneyelenggarakan pengangkutan baik dengan cara carter menurut

waktu perjalanan.8

D. Jasa Penerbangan di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun

2009 tentang Penerbangan

Jasa pengangkutan udara merupakan jasa angkutan untuk orang

maupun barang yang meliputi pengangkutan melalui jalur udara dan dapat

digunakan untuk kepentingan privat atau pribadi maupun kepentingan umum.9

Dengan adanya transportasi udara maka muncul jasa di bidang

penerbangan yang bertujuan untuk memindahkan barang/orang dari tempat

asalnya ke tempat yang dituju. Jasa penerbangan dalam hal ini memiliki

kelebihan dibandingkan dengan jasa transportasi lainnya dalam kecepatan dan

keluwesan penggunaannya, karena transportsi udara hanya terganggu oleh

hambatan alam seperti gunung meletus. Selain itu transportasi udara juga

dapat menempuh jarak yang jauh atau yang bahkan tidak dapat di tempuh oleh

transportasi lainnya seperti kereta api/kendaraan pribadi hanya saja

transportasi udara ini memiliki keterbatasan daya angkutnya.

8Hasim purba,hukum pengangkutan di laut, Medan : Pustaka Bangsa press, 2005, hlm 135.

(9)

Transportasi udara di Indonesia berdasarkan Pasal 7 dan Pasal

8Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan terdiri dari

pesawat udara negara dan pesawat udara sipil. Pesawat udara negara adalah

pesawat udara yang digunakan untuk tentara nasional Indonesia, kepolisian

Indonesia, kepabeanan, dan instansi pemerintah lainnya untuk menjalankan

fungsi dan kewenangan penegakan hukum, serta tugas lainnya sesuai dengan

peraturan perundang-undangan.10Sedangkan Pesawat udara sipil adalah

pesawat udara yang digunakan untuk kepentingan angkutan udara niaga

danbukan niaga.11

Berdasarkan Pasal 16 dan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 1 Tahun

2009 tentang Penerbangan, kegiatan penerbangan di Indonesia juga meliputi

dua wilayah yaitu:12

1. Penerbangan domestic / dalam negeri, yaitu kegiatan angkutan

udara lain di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Penerbangan Internasional/ luar negero, yaitu kegiatan udara niaga

untuk melayani angkutan udara dari satu bandar udara di dalam

negeri ke bandar udara lain di luar Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

E. Wilayah Udara dan Kedaulatan Negara

Jasa penerbangan dalam hal ini meliputi mengenai wilayah udara.

Mengikuti perkembangan hukum udara, kususnya di bidang tanggung jawab

hukum pengangkut udara komersial terehadap penumpang, kargo, bagasi, dan

lainnya, perlu didahului oleh suatu penerangan dan pengetahuan tenang

perkembangan kedaulaan negara di ruang udara sejak sebelum Perang Dunia I

sampai saat ini. Kedaulaan negara di ruang udara telah di dorong oleh suatu

kenyaaan bahwa hal-hal yang menyangkut keamanan nasional di bidang ruang

10 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. 11Ibid.

(10)

udara tidak bisa melepaskan diri dari perkembangan pembangunan

komersial/ekonomi pengangkutan udara dan pengauran lalu lintas di ruang

tersebut.13

Pada dasarnya wilayah atau ruang udara sulit di definisikan. Tetapi

sebagian orang berpendapat bahwa wilayah udara meurupakan wilayah

dimana penerbangan bisa dilakukan dan dikendalikan. Seiring berembangnya

jaman manusia merasa perlu pengaturan mengenai pengendalian di wilayah

udara. Pengaturan mengenai wilayah udara ini dinamakan dengan hukum

udara. Hukum udara (air law) merupakan hukum dan regulasi yang mengatur

penggunaan ruang udara yang bermanfaat bagi penerbangan, kepentingan

umum dan banga-bangsa dunia.14

F. Hukum Sebagai Alat Penunjang Tujuan Penerbangan

Hukum sebagai alat dapat didefinisikan sebagai alat untuk mencapai

tujuan negara. Maksudnya adalah bahwa negara memiliki tujuan yang harus

dicapai dan upaya untuk mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan

hukum sebagai alatnya melali pemberlakuan dan penidakberlakuan hukum

sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan yang dihadapi oleh masyarakat

negara kita.15

Menurut Sunaryati Hartono, Hukum bukanlah sebuah tujuan yang

harus di capai, melainkan jembatan untuk negara mencapau kepada ide yang

dicita-citakan negara. Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan negara ini

maka terlebih dahulu harus mengetahui terlebih dahulu masyarakat yang

bagaimana yang dicita-citakan negara. Untuk mencari system hukum yang

bagaimana yang dapat menciptakan system hukum nasional yang

dikehendaki. Namun politik hukum tidak dapat dilepaskan daripada realita

13 Priyatna Abdurrasyid, Pertumbuhan Tanggung Jawab Hukum Pengangkutan Udara, Jakarta: PT Fikahati Aneska, 2013, hlm 1

14H.K Martono & Agus Pramono, Hukum Udara Perdata Internasional dan Nasional, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2013, hlm 4.

(11)

sosial dan tradisional yang terdapat dalam suatu negara. Politik hukum di

Indonesia sendiri tidak dapat dilepaskan dari realita dan politik hukum

internasional.16

Dikaitkan dengan hukum mengenai penerbangan, untuk mencapai

tujuan dari penerbangan itu sendiri menurut E. Suherman pembagian

pengaturan penerbangan dan angkutan udara dibagi atas:17

1. Pengaturan dasar

2. Pengaturan teknis mengenai operasional

3. Pengaturan ekonomis komersial

4. Dan pengaturan mengenai masalah administrative

16 Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Suatu Sistem Hukum Nasional, Bandung: Alumni, 1991, Hlm 1.

(12)

BAB III

Pembahasan

A. Pengaruh Politik Hukum Terhadap Peraturan Mengenai Penerbangan

Jasa penerbangan pada saat ini merupakan salah satu penunjang dalam

kegiatan ekonomi dan pembangunan dalam masyarakat karena dengan

banyaknya peminat yang ingin meggunakan jasa penerbangan saat ini dapat

membantu tercapainya alokasi sumber daya ekonomi secara optimal, selain itu

jasa penerbangan juga dapat menekan kesenjangan antar daerah. Dalam hal ini

tujuan diadakannya jasa penerbagan adalah untuk menmbantu kegiatan

perpindahan manusia atau barang yang jaraknya cukup jauh dan memakan

waktu.

Tetapi, seiring berjalannya waktu timbul masalah-masalah yang dapat

merugikan pihak penyedia jasa penerbangan ataupun penumpang sebagai

konsumen. Dimulai dari masalah kecil seperti keterlambatan penerbangan

hingga masalah besar yang menyangkut nyawa penumpang. Pada dasarnya

berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang

PenerbanganPenerbangan diselenggarakan dengan tujuan salah satunya adalah

memperlancar arus perpindahan orang dan/atau barang melalui udara yang

tertib,teratur, selamat, aman, nyaman, dengan harga yang wajar,dan

menghindari praktek persaingan usaha yang tidak sehat.

Perpindahan tempat tersebut dapat dilakukan dari dalam negeri ke dalam

negeri (antar pulau) ataupun dari dalam negeri ke luar negeri (antar negara).

Hal tersebut menimbulkan perbedaan waktu yang menyebabkan perbedaan

waktu yang dituju sehingga dapat menimbulkan keterlambatan.

Yang termasuk dalam keterlambatan berjadwal berdasarkan Peraturan

Mentri Nomor 89 Tahun 2015 Tentang Penanganan Keterlambatan

Penerbangan Pada Badan Usaha angkutan Udara Niaga Berjadwal Indonesia

(13)

penumpang dengan alasan kapasitas pesawat udara. pembatalan penerbangan.

Dalam hal ini apabila terjadi keterlambatan yang dimaksud diatas maka pihak

penyedia jasa penerbangan harus bertanggung jawab atas kerugian yang di

derita oleh penumpang.

Tanggung jawab yang di berikan oleh pihak penerbangan dalam hal ini

biasanya memberikan ganti rugi berupa makan malan/makan siang,

memberikan sejumlah uang,mencarikan jadwal penerbangan lainnya.

Selain kerugian karena keterlambatan penerbangan, kegiatan penerbangan

juga dapat merugikan penumpangnya karena adanya kecelakaan udara. dalam

hal ini menyangkut nyawa para penumpangnya. Tanggung jawab pihak

penerbangan diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 77

Tahun 2011 tentang Tanggung jawab pengangkutan udara.

Berdasarkan pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan tersebut, pengangkut

yang mengoperasikan pesawat udara wajib bertanggung jawab atas kerugian

terhadap :

1. Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka.

2. Hilang atau rusaknya bagasi kabin.

3. Hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat.

4. Hilang, musnah, atau rusaknya kargo.

5. Keterlambatan angkutan udara.

6. Kerugian yang diderita oleh pihak ketiga.

Berdasaran hal tersebut, jelas bahwa undnag-undnag maupun peraturan/

kebijakan mentri mengenai penerbangan disebabkan dan berkaitan dengan

keselamatan penerbangan. Dalam hal ini dengan dibentuknya segala peraturan

yang berguna mengenai penerbangan dan tanggung jawab transportasi udara,

menunjukan bahwa hukum merupakan suatu alat untuk memenuhi tujuan /

cita-cita yang hendak dibangun oleh negara. Undang-undang tentang

perbangan disini pada dasarnya belum mencakup semua masalah yang terjadi

(14)

maka pemerintah mulai memikirkan segala sesuatu agar tujuan penerbangan

yang sudah disebutkan diatas menjadi tercapai. Salah satunya adalah dengan

cara menerbitkan kebijakan-kebijakan baru untuk melengkapi UU

Penerbangan.

Kebijakan-kebijakan tersebut diciptakan agar kedudukan penumpang dan

pihak penerbangan seimbang , maksudnya dalam hal ini pihak penumpang

yang sudah membayar degan tariff yang cukup mahal untuk menggunakan

jasa transportasi harus mendapatkan keamanan dan kenyamanan sesuai

dengan harga yang di bayarkannya, sedangkan bagi pihak penerbangan yang

sudah menerima pembayaran harus memberikan pelayanan yang baik pada

penumpang untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, keselamatan,

keteraturan dalam proses perpindahan orang/ barang terebut.

Kebijakan-kebijakan, undang-undang, peraturan-peraturan yang

menyangkut penerbangan dalam hal ini merupakan suatu produk hukum.

Produk hukum ini berkaitan erat dengan politik hukum pada umumnya. Sri

Soermantri menyatakan bahwa hubungan antara hukum dan politik

diibaratkan perjalanan lokomotif kereta api yang keluar dari relnya. Jika

hukum diibaratkan rel dan politik diibaratkan lokomotif maka sering terlihat

lokomotif itu kerual dari rel yang seharusnya di lalui. Prinsip tersebut

menunjukan bahwa politik dan hukum harus bekerja sama dan saling

menguatkan melalui ungkapan “hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan,

kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman”.18

Dalam hal ini, perauran yang efektif adalah undang-undang yang dapat

merespon keinginan masyarakatnya atau yang disebut sebagai hukum

responsib.19 Dalam hal ini peraturan-peraturan mengenai penerbangan yang

pada saat ini berlaku adalah hasil perubahan dari peraturan-peraturan yang

(15)

sudah tidak berlaku lagi karena kondisi dan kebutuhan penyelenggaraa

penerbangan. seperti Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang

Penerbangan yang telah diganti menjadi undang-undang Nomor 1 Tahun 2009

tentang Penerbangan. Sedangkan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya

yakni, PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung jawab pengangkutan udara,

Peraturan Mentri Nomor 89 Tahun 2015 Tentang Penanganan Keterlambatan

Penerbangan Pada Badan Usaha angkutan Udara Niaga Berjadwal Indonesia

selain itu dibentuk juga peraturan pemerintah Nomor 21 Tahun 2015 Tentang

Keselamatan Penerbangan dan lain-lain dibentuk untuk melaksanakan

pasal-pasal yang tercantum dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang

Penerbangan dan juga dibentuk karena pelanggaran-pelanggaran yang terjadi

dalam penerbangan. Sehingga berdasarkan hal tersebut peraturan-peraturan

mengenai penerbangan tersebut pada dasarnya sudah cukup mengakomodir

kebutuhan masyarakat terhadap penerbangan dan dapat menjadi bagi kegiatan

penerbangan dan juga sebagai jembatan memberikan manfaat yang

sebesarbesarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan

pengembangan bagi warga negara, serta upaya peningkatan pertahanan dan

keamanan negara.

B. Peraturan dan Ketentuan Mengenai Penerbangan Belum Cukup

Menyelesaikan Masalah Yang Timbul Dalam Kegiatan Penerbangan

Menurut pandangan hukum, sebenarnya hukum yang ada sudah cukup

baik dan sudah dapat menjadi jembatan/alat/tools untuk mencapai tujuan

terterntu yaitu keselamatan, keamanan dan kenyamanan para penumpangnya.

Namun pada perkembangannya saat ini hukum saja tidak cukup

mengakomodir mengenai permsalahan pada penerbangan jika tidak

didampingi oleh perilaku masyarakatnya.

Dalam hal ini pada prakteknya masih ada beberapa pelaku usaha

penerbangan yang tidak memberikan ganti rugi yang sudah ditentukan dalam

(16)

309/PDT.G/2007/PN.Jkt.Pst, hal tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus

2007, pada saat itu, David sebagai penumpang hendak melakukan perjalanan

ke Surabaya untuk menghadiri persidangan menggunakan Wings Air IW 8985

keberangkatan pukul 08.35 WIB. Setelah sejam menunggu, David diberitahu

petugas bahwa keberangkatan pesawatnya akan terlambat selama 90 menit

karena pesawat masih berada di Yogyakarta. Namun, pegawai kantor tidak

dapat memastikan jadwal tersebut. Ia hanya meminta maaf dan mengatakan

kepada David bahwa keterlambatan adalah hal lumrah dan harus diterima

semua penumpang.Dalam putusan tersebut dinyatakan bahwa pihak maskapai

harus mengganti rugi kepada pihak maskapai akibat keterlambatan yang

terjadi. 20

Seharusnya pihak bandara/pihak penerbangan memberitahukan adanya

keterlambatan itu 45 Menit sebelum keberangkatan tetapi hal terebut tidak

dilakukan oleh petugas dan membuat para penumpang harus menunggu.

Selain itu, ganti rugi yang di berikan pihak penerbangan pun terkadang

tidak sesuai dengan yang ditentukan. Seperti misalnya keterlambatan lebih

dari 2 jam (240 menit) seharusnya kompensasi yang di berikan adalah uang

sebesar Rp. 300.000,- tetapi pada prakteknya ada sebagian maskapai yang

hanya memberikan makanan berat dan makanan ringan saja. Dan masih ada

beberapa kendala yang terjadi dalam penerbangan seperti misalnya Perlakuan

Diskriminatif Terhadap Penyandang Cacat, Pesawat Tak Sesuai dengan yang

tercantum dalam tiket, Kecelakaan Pesawat disebabkan kelalaian pilot, dan

Bawaan Hilang dari Bagasi Pesawat.

Dengan demikian, penerapan undang-undang pada prakteknya masih

belum dapat dikatakan berhasil padahal tujuan dari diciptakannya UU

penerbangan ini adalah untuk memantapkan ketahanan nasional diperlukan

sistem transportasi nasional yang mendukung pertumbuhan ekonomi,

(17)

pengembangan wilayah, mempererat hubungan antarbangsa, dan

memperkukuh kedaulatan Negara. Dengan demikian sebenarnya tujuan dari

dibentuknya hukum mengenai penerbangan tersebut sudah sesuai dengan

kebutuhaan masyarakatnya tetapi masih belum di seimbangi dengan perilaku

masyarakatnya. Hal ini dapat menjadi penghambat tujuan hukum yang hendak

(18)

BAB IV

Penutup

A. Kesimpulan

Undnag-Undnag maupun peraturan/ kebijakan mentri mengenai

penerbangan disebabkan dan berkaitan dengan keselamatan dalam proses

penerbangan. Sebagai produk hukum, undang-undang dan

peraturan/kebijakan mengenai penerbangan tersebut sudah sesuai dengan

kebutuhan masyarakatnya. Dalam hal ini segala peraturan menenai

penerbangan tersebut sudah bisa menjadi jembatan untuk menuju hal yang

dicita-citakan negara berkaitan dengan penerbangan di Indonesia.

Tetapi, pada prakteknya segala aturan tersebut harus didukung juga

dengan perilaku manusianya sendiri. Karena suatu peraturan dapat dikatakan

berhasil apabila masyarakat dapat menaatinya. Dalam hal ini pada prakteknya

masih ada beberapa maskapai yang hanya memenuhi sebagian kewajibannya,

atau bahkan tidak memenuhi kewajibannya sehingga itulah yang dapat

diperlukan sistem transportasi nasional yang mendukung pertumbuhan

ekonomi, pengembangan wilayah, mempererat hubungan antarbangsa, dan

memperkukuh kedaulatan Negara. Untuk itu peraturan mengenai penerbangan

harus disesuaikan dengan kondisi, perubahan lingkungan strategis, dan

kebutuhan penyelenggaraan penerbangan saat ini sehingga perlu diganti

(19)

Untuk membantu Negara mencapai tujuannya maka dibutuhkan

kedaran masyarakat untuk menaati hukumnya dan melaksanakan hukum yang

berlaku agar tidak terjadi pertentangan atau permasalahan yang dapat

(20)

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU :

Artijo Alkstar, Pembangunan Hukum Dalam Prespektif Politik Hukum Nasional,

Jakarta: CV Rajawali, 1986.

E.Suherman, Penerbangan dan Angkuta Udara dan Pengaturannya, Jakatra: Majalah Hukum dan Penerbangan, 1983.

Hasim purba,hukum pengangkutan di laut, Medan : Pustaka Bangsa press, 2005.

H.K Martono & Agus Pramono, Hukum Udara Perdata Internasional dan Nasional,

Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2013.

Muchtarudin Siregar, Beberapa Masalah Ekonomi Dan Manajemen Transpotasi,

Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2012.

Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia, Jakarta: Pustaa LP3ES Indonesia, 1998

Moh. Mahfud MD, (Edisi Revisi) Politik Hukum Di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009.

Priyatna Abdurrasyid, Pertumbuhan Tanggung Jawab Hukum Pengangkutan Udara,

Jakarta: PT Fikahati Aneska, 2013

Rahardjo Adisasmita, Dasar-Dasar Ekonomi Transportasi, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.

Rustian Kamaluddin, Ekonomi, Transportasi Karakteristik, Teori dan Kebijakan, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003.

Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Suatu Sistem Hukum Nasional, Bandung: Alumni, 1991.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN:

Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

Peraturan Mentri 77 Tahun 2011 tentang Tanggung jawab pengangkutan udara.

(21)

SUMBER LAIN :

Febri Dermawan, Sutiarnoto, & Chairul Bariah, Perlindungan Hukum Dan Tanggung Jawab Terhadap Penumpang Sipil Pada Kecelakaan Pesawat Udara Dalam Lingkup Hukum Internasional, 2013, Volume 1 No.1 Journal Of International Law, hlm 1 https://jurnal.usu.ac.id/index.php/jil/article/view/1268, terakhir diakses pada tanggal 18 November 2017 pukul 23.27 WIB

Referensi

Dokumen terkait

Badan usaha angkutan udara niaga berjadwal dapat. melakukan pengembangan usaha angkutan

1/ Tahun 2009 tentang penerbangan mengatur bahwa “Angkutan Udara Perintis adalah kegiatan angkutan udara niaga dalam negeri yang melayani jaringan dan rute penerbangan

(4) Besaran tarif batas atas penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri setiap rute penerbangan untuk pelayanan dengan menggunakan pesawat udara

(3) Kegiatan angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan secara berjadwal dan/atau tidak berjadwal oleh badan usaha angkutan udara niaga

(1) Badan Usaha Angkutan Udara Niaga berjadwal yang telah menetapkan standar pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat ( 1), wajib mempublikasikan maklumat

(3) Kegiatan angkutan udara niaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan secara berjadwal dan/atau tidak berjadwal oleh badan usaha angkutan udara

Pelaksanaan Tanggung Jawab Perusahaan Pengangkut Angkutan Udara Niaga Berjadwal Domestik Terhadap Penumpang yang Mengalami Keterlambatan Keberangkatan Dari Bandar

11 inovasi baru dari perusahaan perawatan pesawat udara yang merupakan daya tarik tersendiri bagi perusahaan angkutan udara niaga berjadwal yang dalam melaksanakan