11
Profil Pembangunan
Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Gelombang kebangkitan ekonomi yang justru dimulai pasca krisis 2008 lalu menjadikan
Indonesia harus banyak berbenah diri untuk menghadapi tantangan ekonomi kedepan yang tentu
sangat berbeda dibanding fase-fase lalu. Arus globalisasi kini bukan sekedar cerita-cerita dalam
text book yang terasa jauh dari jangkauan. Akan tetapi sebuah tantangan, alih-alih peluang yang harus segera ditangkap.
Statistik ekonomi menunjukkan angka pertumbuhan tahunan kita selalu diatas 6%. Selain itu
angka inflasi juga terus turun secara konsisten, ditengah gegap-gempitanya konsumsi warga
kelas menengah, dengan pendapatan sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Berdasarkan kajian Bank
Dunia sepanjang 2003-2010 jumlah warga kelas menengah ini meningkat sekitar 7 juta per
tahun, dimana pada tahun 2003 saja jumlahnya sudah mencapai 81 juta jiwa. Dalam komposisi
kependudukan, 80% Indonesia diisi oleh para warga muda -sedikitnya untuk 20 tahun
mendatang. Hal inilah yang kemudian menjadikan banyak mata dunia terlirik karenanya.
Terlebih situasi ekonomi yang ‘kurang nyaman’ di Uni Eropa dan Amerika, menjadikan
Indonesia seolah memiliki magnet investasi. Maka wajar bila kemudian lembaga pemeringkat
dunia seperti Fitch Rating, menganugerahkan Investment Grade pada negara ini.
Disinilah tantangannya! Dalam menyambut para ‘tamu’ tadi, tentunya diperlukan fundamental
ekonomi yang benar-benar qualified agar berbagai peluang tersebut bisa diraih secara optimal. Dan sebuah perencanaan yang diterapkan secara terukur merupakan salah satu kunci kesuksesan
tersebut. Dan tentu saja strategi-strategi tersebut perlu dilaksanakan secara komprehensif, bahkan
ii
Untuk mendukung keseuksesan penyusunan strategi-strategi tersebut, data dan informasi
pendukung lainnya merupakan salah-satu hal yang tak boleh tertinggal didalamnya. Hal ini
berguna untuk memberikan parameter-parameter agar strategi-strategi tersebut diharapkan bisa
tepat sasaran. Maka dari itulah kehadiran Buku “Profil Pengembangan Ekonomi Lokal dan
Daerah (PELD) 2011” ini merupakan salah satu dari berbagai langkah yang dilakukan Direktorat
Perkotaan dan Pedesaan -dibawah supervisi Sub Direktorat Agropolitan dan Transmigrasi,
Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (KPPN/Bappenas) Republik Indonesia-untuk mendukung hal tersebut.
Akhir kata, pembuatan buku profil perdana ini diharapkan bisa seterusnya berjalan secara
berkelanjutan demi mencapai tujuan seperti dijelaskan diatas. Selain itu informasi didalamnya
diharapkan juga bisa dimanfaatkan sebagai acuan oleh berbagai stakeholders baik dari kalangan pemerintahan sendiri, akademisi, swasta maupun berbagai pihak yang berkepentingan terhadap
isu-isu pengembangan ekonomi lokal dan daerah.
Jakarta, Desember 2011 Direktur Perkotaan dan Pedesaan
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas
iii
Daftar Isi
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN
Bab I 1.1 Pendahuluan 1
1.2 Latar Belakang 1
1.3 Maksud dan Tujuan 3
1.4 Dua "Kacamata" Dalam Desa-Kota 4
1.5 Kerangka Berpikir 5
1.6 Sistematika Penulisan 6
Bab II Kesenjangan Makro Ekonomi Desa-Kota 8
2.1 Kesenjangan Kawasan Timur dan Barat
Indonesia 8
2.2 Kesenjangan antar Provinsi 10
2.3 Kesenjangan Desa-Kota dan Pembalikan
Ekonomi 12
2.4 Sektor Basis Ekonomi Desa-Kota 13
Bab III Tenaga Kerja, Kependudukan, dan Produktivitasnya 16
3.1 Profil Kependudukan Desa-Kota 19
3.1.1 Keragaman Penduduk Desa Kota 19
3.1.2 Ketenaga Kerjaan 22
3.2 Produktivitas 25
3.2.1 Produktivitas Tenaga Kerja Desa dan Kota 25
3.2.2 Kejenuhan Pertanian 27
Bab IV Produktivitas Kapital 27
Produktivitas Kapital 27
Bab V Fasilitas Publik 37
5.1 Transportasi 39
5.2 Kelistrikan 42
5.3 Perumahan 44
5.4 Sanitasi 50
iv
Bab VI Kesejahteraan dan Sosial Budaya 69
6.1 Pendidikan 69
6.1.1 Angka Partisipasi 72
6.1.2 Angka Putus Sekolah 74
6.1.3 Infrastruktur Pendidikan 77
6.2 Kesehatan 79
6.2.1 Infrastruktur Kesehatan 80
6.2.2 Mengatasi Hambatan Fasilitas 82
6.3 Kesejahteraan dan Peningkatan Kelas Menengah 84
6.3.1 Kemiskinan dan Fenomena Tumbuhnya
Kelas Menengah 85
v
Daftar Gambar
Bab I Gambar 1.1: Angka Kemiskinan Desa-Kota per Maret 2011 1
Gambar 1.2: Kerangka Berpikir Penyusunan Profil PELD 2011 6
Bab II Gambar 2.1: Kesenjangan dan Kontribusi PDRB Non-Migas (%) Kawasan Barat
dan Timur 1975-2008 9
Gambar 2.2: Kuantitas PDRB Non Migas dan Kesenjangan Antara Kawasan
Barat-Timur 1975-2008 (milar Rp) 10
Gambar 2.3: Pertumbuhan PDB Nasional (%) dan Kesenjangan (KV) Antar Provinsi
Non Migas 1975-2008 11
Gambar 2.4: PDRB Non Migas dan Kesenjangannya per Kabupaten-Kota
1983-2009 (Rp Miliar) 13
Gambar2.5: Kontribusi (%) PDB Nasional Lintas Sektor (non migas) 75-08 14
Gambar 2.6: Pertumbuhan (%) Angka Tenaga Kerja Di Perdesaan Pertahun
1996-2009 Februari 15
Bab III Gambar 3.1: Proyeksi Jumlah Penduduk Berdasarkan Gender 2010-2035 (Ribu
Jiwa) 16
Gambar 3.2: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 1996-2009 17
Gambar 3.3: IPM Perbandingan Indonesia dengan IPM dunia, Asia Pasifik, dan
Pembangunan Kelas Menengah versi UNDP 18
Gambar 3.4: Jumlah & Laju Pertumbuhan Penduduk Desa dibandingkan Kota
2005-2010 (Juta Jiwa/%) 19
Gambar 3.5: Perbandingan Jumlah Penduduk Desa-Kota Berdasarkan Jenis Kelamin (Juta Jiwa, Serta Rasio Antar Kedua Jenis Kelamin di Masing-Masing
Daerah (%) 2005-2010 20
Gambar 3.6: Jumlah Rumah Tangga (RT) Desa-Kota (Juta) dan Pertumbuhannya
(%) 2005-2010 21
Gambar 3.7: Jumlah Penduduk Usia Kerja Menurut Desa-Kota 1996-2010 (Ribu
Jiwa) 22
Gambar 3.8: Piramida Penduduk Usia Kerja (>15 tahun) Berdasarkan Golongan
Umurnya Pada Tahun 2010 (Juta Jiwa) 23
Gambar 3.9: Struktur Penduduk Usia kerja Berdasarkan Jenjang Pendidikannya
2010 (Juta Jiwa) 24
Gambar 3.10: Rata-Rata Peran Masing-Masing Sektor Ekonomi dalam PDB Inter
Kabupaten & Kota (%) 1993-2006 26
Gambar 3.11: Chart Perkembangan Persentase Jumlah Lahan di Perdesaan
vi
Gambar 3.12: Grafik Persentase (%) Jumlah Tenaga Kerja di Pedasaan per Sektor
1996-2009 29
Gambar 3.13: Grafik Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor di Pedasaan 1996-2006
(Rp Ribu/Jiwa) 30
Gambar 3.14: Grafik Persentase (%) Jumlah Tenaga Kerja di Perkotaan per Sektor
1996-2009 31
Gambar 3.15: Grafik Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor di Perkotaan 1996-2006
(Rp ribu/Jiwa) 32
Bab IV Gambar 4.1: Posisi Pinjaman Rupiah dan Valas yang diberikan Bank Umum dan
BPR & PDB (Nasional) per Sektor 2002-2011 (QoQ)Rp Miliar 34
Gambar 4.2: Produktivitas (%) Kapital per Sektor Basis kab-Kota 2002-2011** 35
Gambar 4.3: Pertumbuhan PDB dan Pinjaman Terhadap Sektor-Sektor Basis 2002
(Q2) -2011 (Q2) (%) 36
Bab V Gambar 5.1: Pertumbuhan PDB per Triwulan 2007-2011 (%) 37
Gambar 5.2: Jumlah Desa dan Kota Berdasarkan Moda Transportasi yang
Digunakan Sepanjang 2006-2008 (%) 40
Gambar 5.3: Jumlah Desa dan Kota Berdasarkan Jenis Jalan yang Digunakan
Sepanjang 2006-2008 (%) 41
Gambar 5.4: Jumlah Desa dan Kota Pengguna Jalur Darat yang Mampu Dilalui
Kendaraan Roda Empat (%) 42
Gambar 5.5:Perbandingan Jumlah Desa dan Kota Berdasarkan Aksesnya Terhadap Listrik, dan Kemampuan Untuk Memenuhi Kebutuhan Listrik Secara
Mandiri (%) 44
Gambar 5.6: Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen {KPR/KPA}(%) 45
Gambar 5.7: Tingkat Pencemaran Organik Perairan Negara-Negara ASEAN
2001-2007 51
Gambar 5.8: Jumlah Desa dan Kota yang Dialiri Oleh Sungai (Unit/%) 52
Gambar 5.9: Persentase Desa/Kota yang Dilalui Sungai Berdasarkan Jenis
Penggunaan(sungai)nya (%) 53
Gambar 5.10: Jumlah dan Angka Kerusakan Air di Perdesaan dan Perkotaan (Unit
dan %) 54
Gambar 5.11: Angka Pencemaran Dalam Berbagai Medium di desa dan Kota (%) 55
Gambar 5.12: Angka Perdesaan/Perkotaan Berdasarkan Moda Mayoritas Fasilitas
BAB yang Digunakan Oleh Warganya 2003-2008 (%) 57
Gambar 5.13: Jumlah Desa/Kota Berdasarkan Ketersediaan Fasilitas Kantor Pos dan
Pos Keliling 64
Gambar 5.14: Jumlah Desa/Kota Berdasarkan Ketersediaan Fasilitas Telepon
Umum 65
Gambar 5.15: Jumlah Keluarga Desa/Kota Menurut Kepemilikan Telepon Rumah,
vii
Gambar 5.16: Jumlah Keluarga Pengguna Internet, Berdasarkan Fasilitas Akses
yang Digunakan (%) 68
Bab V Gambar 6.1: Indeks Pendidikan ASEAN versi UNDP 2009 70
Gambar 6.2: Jumlah Penduduk Usia Sekolah SD, SMP dan, SMA Berdasarkan Jenis
Kelamin per Daerah 2005-2010 (Juta Jiwa) 71
Gambar 6.3: Perbandingan APM dan APK Desa-Kota 2005-2010 (%) 73
Gambar 6.4: Jumlah Anak Usia Wajib sekolah 9 Tahun (7-15 Tahun) Berdasarkan
jenis Kelamin di desa-Kota 2005-2010 (Juta Jiwa) 74
Gambar 6.5: Tingkat Anak Putus Sekolah per Jenis kelamin di Perkotaan dan
Perdesaan 2005-2010 (%) 75
Gambar 6.6: Tingkat Anak yang Bersekolah per Jenis kelamin di Perkotaan dan
Perdesaan 2005-2010 (%) 76
Gambar 6.7: Tingkat Anak Belum Pernah Sekolah per Jenis kelamin di Perkotaan
dan Perdesaan 2005-2010 (%) 77
Gambar 6.8: Jumlah Desa dan Kota yang Tidak Memiliki Fasilitas Pendidikan
Menurut Jenis Sekolah 2003-2008 78
Gambar 6.9: Rasio Kasar Daya Tampung Tiap Sekolah Terhadap Siswa di Kota dan
Desa Berdasarkan Jenjang Pendidikannya 2006-2008 80
Gambar 6.10: Indeks Kesehatan ASEAN versi UNDP 2009 81
Gambar 6.11: Rasio Jumlah Orang Sakit yang Harus Ditanggung oleh Tiap-Tiap
Tenaga Medis di Kota dan Desa Tahun 2008 82
Gambar 6.12: Jumlah Desa dan Kota Tanpa Fasilitas Kesehatan (%) 83
Gambar 6.13: Indeks Kesejahteraan ASEAN versi UNDP 2009 84
Gambar 6.14: Angka Kemiskinan di Desa dan Kota 2002-2011 (Juta Jiwa/%) 85
Gambar 6.15: Garis Kemiskinan Makanan dan non-makan di Desa dan Kota
(RP/Kapita/Bln) 86
Gambar 6.16: Garis Kemiskinan Makanan dan non-makan di Desa dan Kota
(Rp/Kapita/Bln) 87
Gambar 6.17 : Jumlah Desa Dengan Keberadan Pasar Permanen/Semi Permanen
Dan Desa Dengan Kelompok Pertokoan Tahun 2003-2008 (Unit/%) 90
Gambar 6.18 : Jumlah dan Pertumbuhan Industri Kecil dan Menengah/Mikro di
viii
Daftar Tabel
Bab II Tabel 2.1: Perbandingan Pertumbuhan Daerah Baru, Terhadap Daerah Dengan
Kuantitas PDRB Tertinggi (Periode 2004-2008)
12
Bab V Table 5.1: Index Kompetisi Infrastruktur ASEAN 2011 38
Tabel 5.2:Jumlah Rumah Tangga Pengguna Listrik Berdasarkan Penyedianya di Desa
dan Kota (Juta Rumah Tangga) 43
Tabel 5.3: Proporsi Jenis Kepemilikan Rumah Tangga Terhadap Tempat Tinggal di
Daerah Kota dan Desa Sepanjang 2005-2010 (%) 46
Tabel 5.4: Jumlah dan Persentase Rumah Tangga di Desa dan Kota Berdasarkan Ciri
Lantai Rumah yang Dimilikinya Tahun 2006-2010 47
Tabel 5.5: Jumlah dan Persentase Rumah Tangga di Desa dan Kota Berdasarkan
Jenis Tembok Rumah yang Dimilikinya Tahun 2006-2010 48
Tabel 5.6: Jumlah dan Persentase Rumah Tangga di Desa dan Kota Berdasarkan
Jenis Atap Rumah yang Dimilikinya Tahun 2006-2010 49
Tabel 5.7: Angka Penggunaan Moda Fasilitas BAB oleh Rumah Tangga di Perdesaan
dan Perkotaan 2005-2010 (%) 56
Tabel 5.8: Angka Penggunaan Kloset Berdasarkan Jenisnya oleh Rumah Tangga di
Perdesaan dan Perkotaan 2005-2010 (%) 58
Tabel 5.9: Angka Jenis Tempat Pembuangan Akhir Tinja oleh Rumah Tangga di
Perdesaan dan Perkotaan 2005-2010 (%) 59
Tabel 5.10: Jumlah Keluarga Menurut Sumber Air Minum yang Digunakan di
desa-Kota 2005-2010 (%) 60
Bab VI Tabel 5.1: Jumlah Unit Usaha di Perdesaan Tahun 2003-2008 88
ix
Daftar Lampiran
LAMPIRAN TEKS A: GEOGRAFIS DAN KAWASAN DI DESA-KOTA L-1
Lampiran 1: Pertumbuhan PDRB non Migas KTI-KBI 1975-2008 (%) L-9
Lampiran 2: Perbandingan PDB Kabupaten-Kota per Sektor 93-06 (Rp Miliar) L-10
Lampiran 3: Pergerakan Penduduk Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kegiatannya di
Desa dan Kota 2005-2010 (Juta jiwa) L-11
Lampiran 4: Perbandingan Produktivitas, PDB, dan Volume Pinjaman (Rp Miliar)
Masing-Masing Sektor Basis (Desa-Kota) {QoQ} L-12
Lampiran 5: Perkembangan Jumlah Luas Lantai Tempat Tinggal di Perkotaan dan
Perdesaan 2005-2010 (m2/ %) L-14
Lampiran 6: Tingkat Pelaporan desa/Kota Berdasarkan Pencemaran yang Terjadi di
Daerahnya Tahun 2008 (%) L-15
Lampiran 7: Data Pengguna Internet di Asia L-16
Lampiran 8: Perbandingan APK dan APM per Jenis Kelamin Desa Kota 2005-2010 L-17
1
Bab I
Pendahuluan
1.1Latar Belakang
Desa selalu saja memegang peranan penting dalam kehidupan dihampir disemua Negara di
dunia.Beberapa sumber literasi menyebut desa sebagai penunjang daerah Perkotaan.
Sumber-sumber primer umumnya berasal dari daerah perdesaan, baik itu Sumber-sumber alam maupun Sumber-sumber
daya manusia.
Beberapa literasi menyebutkan bahwa desa setidaknya memiliki 4 fungsi: (1) Desa sebagai
Hinterland (pemasok kebutuhan bagi kota); (2) Desa sebagai sumber tenaga kerja kasar bagi
perkotaan; (3) Desa sebagai mitra bagi pembangunan kota; dan (4) Desa sebagai bentuk
pemerintahan terkecil di wilayah kesatuan Negara. Namun demikian desa juga kerap
menimbulkan beberapa masalah. Dalam kasus Indonesia misalnya, desa menjadi penyumbang
utama jumlah orang miskin, bila dibandingkan dengan kota. Pada berita resmi statistik yang
dikeluarkan BPS pada Juli (2011) lalu misalnya. Tercatat 17,5 juta jiwa penduduk miskin di
perdesaan. Angka ini lebih tinggi hampir dua kali lipat jumlah penduduk miskin perkotaan yang
hanya sebesar 11 juta jiwa.
Gambar 1.1: Angka Kemiskinan Desa-Kota per Maret 2011
2 Hal inilah yang kemudian memunculkan ide untuk menyelaraskan ketimpangan ekonomi –yang
bermuara pada kesejahteraan- antar kedua entitas ini (desa-kota) demi tercapainya tujuan
pembangunan Indonesia yang berkelanjutan sesuai dengan sasaran yang telah dirumuskan.
Penyelarasan ekonomi ini bukanlah sekedar untuk menjaga kestabilan internal yang bersifat
politis penguasa belaka. Akan tetapi lebih dari itu adalah untuk menyelamatkan keberlanjutan
bangsa ini dalam menjalankan roda kenegaraannya baik dalam kacamata nasional, maupun
ditengah percaturan global.
Krisis yang terjadi saat ini di belahan dunia Eropa tentu akan berpengaruh terhadap kinerja
perdagangan nasional. Meski Eropa bukan partner dagang utama, namun rantai perdagangan
juga akan menyampaikan ekonomi kita kesana. Alhasil bila perekonomian internal tidak terlalu
kuat fondasinya tentu akan berefek pada bubble ekonomi bila hanya mengandalkan ‘anugerah’
baiknya ekonomi tanpa adanya pengelolaan yang baik.
Dalam pelaksanaannya muncul beberapa masalah teknis dalam mengintervensi kesenjangan
tersebut. Salahsatunya dalam menentukan definisi “apa itu kota?” dan “apapula yang dinamakan
desa?”Sebagai contoh desa.Definisi Desa yang bermunculan di dunia boleh dikatakan
beragam.Hal tersebut dikarenakan perbedaan struktur geografis, maupun sosio-ekonomis dari
masing-masing negara. USDA, Departemen Pertanian Amerika Serikat, mendefinisikan desa
(Rural) melalui pendekatan kewilayahan. Meskipun 84 warga AS tinggal di perkotaan, namun
secara geografis 90 persen tanah amerika merupakan perdesaan.
Dilain pihak Department for Environment, Food and Rural Affairs (DEFRA) milik Inggris
menggunakan pendekatan sebaliknya.Mereka mengukur desa berdasarkan data populasi dari
hasil sensus aktual.Meski pada faktanya definisi mereka memiliki tingkatan yang bervariasi,
namun secara umum kriterianya didasarkan pada jumlah penduduk dengan jumlah kurang dari
3 Di Indonesia sendiri, definisi tentang desa lebih cenderung kepada pendekatan administratif. Dan
dalam perjalanannya sempat mengalami beberapa penyempurnaan. Sebagai contoh pada era
tahun 70-an.Dalam UU no.5 Tahun 1979 tentang pemerintahan daerah, desa didefinisikan
sebagai suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat
hukum langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam
ikatan negara kesatuan Republik Indonesia.
Pada alam demokrasi saat ini, semangat desentralisasi makin marak dihembuskan tidak hanya
pada taraf pemerintahan tingkat I maupun II, yang oleh sebagian pihak masih dianggap sebagai
struktur ‘elit’, akan tetapi juga telah diusahakan untuk bisa mencapai ranah desa. Oleh karena
itulah pada 2004 lalu disahkan UU 32 tentang Pemerintahan Daerah.
Dalam UU tersebut disebutkan bahwa desa merupakan suatu kesatuan masyarakat hukum yang
memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional
dan letaknya berada didaerah kabupaten.
Namun demikian ruh otonomi desa ini rupanya kembali mengundang multi tafsir.Hal ini
dikarenakan sebagian pihak merasa perlu untuk menyempurnakan lagi otoritas desa karena
dianggap kurang akomodatif dalam rangka mencapai tujuan demokrasi dan kesejahteraan desa
itu sendiri.
1.2Maksud dan Tujuan
Dengan tidak ingin terlibat pada perdebatan yang bukan pada tempatnya, maka dalam penulisan
profil kali ini akan digunakan definisi-definisi yang sifatnya mainstream(umum) dan berlaku
sebelum ada perubahan dari UU tadi. Bukan ingin meniadakan ‘ruh’ dari otonomi, namun
dengan segala keterbatasan (baik dari isi maupun data yang tersedia) penulisan profil ini akan
mencoba mengambil versi paling dekat untuk menggambarkan kondisi desa-desa dan kota-kota
tersebut. Karena informasi tentang kedua entitas inilah sebenarnya yang dibutuhkan “segera”
ditengah krisis yang mengancam diatas. Informasi yang bisa dipakai segera untuk
4
1.3Dua ‘Kacamata’ dalam Desa-Kota
Dalam menyelesaikan profil ini –sebagaimana disebutkan diatas, ditemui beberapa kendala
untuk bisa menggambarkan desa sesuai dengan definisi yang kita inginkan. Kendala itu adalah
data. Namun demikian hal ini bukan menjadi alasan untuk tidak bisa terselesaikannya profil ini.
Perlu diketahui para pembaca sebelumnya, bahwa data utama yang digunakan dalam profil ini
adalah data Sensus Potensi Desa (Podes), Survei Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Tenaga
Kerja Nasional (sakernas), data PDB/PDRB, dan data-data keuangan keluaran Bank Indonesia
(BI). Ada sebuah kendala ketika kita menyandingkan 3 data yang pertama dengan 2 data yang
terakhir.
Data Podes, Susenas, dan Sakernas telah memiliki variabel tersendiri yang mampu memisahkan
antara desa dengan kota. Baik itu tingkat provinsi, kabupaten, bahkan hingga pada skup
kecamatan. Definisi kota dan desa dalam ketiga data ini tidak jauh berbeda dari apa yang
dijelaskan dalam UU 32/2004 diatas. Yakni yang secara umum bisa dikatakan sebagai sebuah
unit satu tingkat dibawah kecamatan, dan biasa disebut desa/kelurahan. Sementara itu dalam
data-data yang sering dijadikan indikatorpada pembahasan yang sifatnya makro (terutama pada
bab I), seperti PDB/PDRB, dan data keuangan BI, umumnya hanya mencapai tingkat
kabupaten/kota.
Kondisi ini tentu memerlukan sebuah kesepakatan –ketika akan membuat sebuah narasi tentang
kota dan desa –Lebih baik ktimbang hanya pasrah dan tidak meneruskan pembahasan
tentangnya. Maka dari itulah dalam pembuatan profil kali ini pembaca diharapkan memakai
“dua kacamata” dalam memandang desa dan kota dalam buku ini.
Pertama, saat menemukan deskripsi-deskripsi tentang desa dan kota yang sumber datanya
berasal dari Podes; Susenas; maupun Sakernas, pembaca diharapkan memahami bahwa kondisi
tersebut adalah gambaran desa/kota pada tingkat administratif dibawah kecamatan. Dimana desa
merupakan suatu kesatuan hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui
5 Memang dalam realitanya masih saja ada kota yang memiliki daerah administratif desa, dalam
penulisan kali ini hal itu tetap masuk dalam perhitungan desa. Sedangkan kelurahan adalah suatu
wilayah yang dipimpin oleh seorang lurah sebagai perangkat daerah kabupaten maupun kota
yang posisinya (secara struktur birokrasi) berada dibawah kecamatan (UU 32/2004). Dalam hal
ini kelurahan diasumsikan sebagai entitas kota, meskipun dalam kenyataannya corak ekonomi
masyarakatnya masih menunjukkan corak hidup desa.
Kedua, ketika menemukan data-data yang mendeskripsikan kondisi desa kota berdasarkan data
non-Podes, non-Susenas, maupun non-Sakernas, maka bisa dipastikan data yang digunakan
berada dalam skup Kabupaten/Kota. Dimana kabupaten (yang mewakili kategori ekonomi
perdesaan) dikategorikan sebagai desa. Dan kotamadya dikategorikan sebagai entitas kota.
Sebenarnya ada kategori desa dan kota berdasarkan kecenderungan produksi ekonomi sektoral
yang akan kita temui dalam Bab II dan,III. Namun demikian hal ini akan dijelaskan spesifik
dalam bab-bab yang bersangkutan.
1.4Kerangka Berpikir
Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa dalam pembangunan yang komprehensif dalam konteks
desa dan kota, korelasi yang positif antar dua entitas ini sangat dibutuhkan. Kesenjangan antar
kedua entitas ini merupakan suatu masalah yang harus diselesaikan, yang metoda
penyelesasiannya bisa dilakukan dengan memperbaiki saluran hubungan antar keduanya
tersebut. Disinilah dibutuhkan sebuah intervensi bagi berbagai stakeholders yang berkepentingan
terhadap pembangunan keduanya.
Dalam prosesnya, informasi yang dibutuhkan untuk menganalisis isu pembangunan khususnya
masalah kesenjangan ini bisa digolongkan kedalam tiga kategori. Secara ringkas gambaran
6 Gambar 1.2: Kerangka Berpikir Penyusunan Profil PELD 2011
Hal yang pertama akan dilihat adalah kondisi makro dari perekonomian kita, dalam konteks
hubungan antara pembangunan di kota dan desa. Isu yang menjadi perhatian utama adalah
masalah kesenjangan ekonomi yang selama ini sering didengungdengunkan khalayak antara
kedua entitas ini. Kacamata yang akan digunakan dalam bagian awal ini (sekaligus akan menjadi
pijakan keseluruhan isi buku) adalah kacamata produktivitas ekonomi dari kota dan desa. Dari
titik inilah kita akan melhit faktor-faktor yang diasumsikan menjadi penyebab dari kesenjangan
antar kedua entitas itu. isu-isu yang akan ditampilkan dalam bagian kedua ini seputar
produktivitas tenaga kerja, serta capital yang dimiliki oleh masing-masing desa dan kota. Selain
itu gambaran mengenai kondisi infrastruktur juga akan masuk didalamnya.
Pada bagian akhir, kita akan melihat kondisi dilapangan yang merupakan efek dari berbagai
kesenjangan yang telah digambarkan dari bagian-bagian sebelumnya. Dalam bagian ini kita akan
ditampilkan kondisi-kondisi social masyarakat yang meliputi aspek kesehatan, pendidikan, dan
kesejahteraan ekonomi yang menjadi parameter kesejahteraan suatu masyarakat.
Dari pembagian ketiga bagian inilah, diharapkan akan tercapai sebuah pandangan mengenai isu
utama yang diangkatkan dalam buku profil kali ini yakni Kesenjangan di desa dan kota. Indikator Kesenjangan
Makro (Indeks Williamson, dan Kontribusi PDRB per wilayah terhadap
1. Prasarana dan Sarana Ekonomi
2. Kesehatan 3. Pendidikan Kondisi Makro
(Kesenjangan Kota-Desa) Faktor Penyebab Sosial Ekonomi Desa-Kota) Kondisi Mikro (Kondisi
Profil PELD dan Desa
7
1.5Sistematika Penulisan
Penulisan Profil Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah (PELD) 2011 kali ini akan dibagi
dalam tiga bagian yang tersebar dalam lima Bab yang ada. Bagian Pertama (Aspek Makro)
terdiri atas Bab I yang berjudul “Kesenjangan Makro Ekonomi Desa-Kota”. Pada Bab inilah
sebenarnya yang menjadi isu utama dalam buku profil kali ini. Dimana didalamnya akan dibahas
seperti apa kesenjangan ekonomi yang sedang terjadi antara daerah perdesaan dan perkotaan
dalam perspektif ekonomi makro. Dalam bagian ini akan dilihat bagaimana sektor-sektor yang
dianggap mewakili daerah desa maupun kota, berperan dalam ekonomi nasional.
Pada Bagian Kedua kita akan melihat faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan
antara desa dan kota pada bagian pertama, melalui tiga sudut pandang. Ketiga sudut pandang
tersebut meliputi: Isu kependudukan dalam kaitannya dengan masalah produktivitas
ketenagakerjaan (Bab II); Isu produktivitas dan distribusi kapital yang diwakili oleh distribusi
pinjaman pada berbagai sektor perekonomian (Bab III) dan; Isu terkait perkembangan
infrastruktur di desa dan kota (Bab IV).
Pada Bagian Terakhir buku ini akan ditutup oleh Bab V yang akan menggambarkan fenomena
kualitas sosial masyarakat penyusun daerah desa-kota. Tujuan pencantuman bagian ini tidak lain
untuk memberikan gambaran kapasitas sosial yang menyebabkan, sekaligus sebagai sumberdaya
pendukung dalam mengatasi kesenjangan yang terjadi di kedua daerah tersebut (desa-kota).
Untuk mendeskripsikannya kita akan menggunakan tiga parameter Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang meliputi kapasitas pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan ekonomi
8
BAB II
KesenjanganMakroEkonomiDesa-Kota
Ditengahkecemasanterhadapkejatuhanekonomi global
(meskibeberapakalanganmenilaikrisisresesiseperti 2008 tidakakanterjadipadatahunini)
pemerintah, melaluiMenteriKeuangan, mengakumentargetkanpetumbuhanekonomi 2012
mendatangsebesar 6,7%. Walaupundemikiankemungkinanmemangkas target tersebuttetapada,
bilakrisisinisemakinmemburukkedepan. Hal inimengingatduadaritiganegara-negaratujuanekspor
(yakni AS, UniEropa. Meskipun China jugatergolongrawan) sedangmengalamiresesi.
Pemerintah optimiskarenasejauhinikondisiperekonomian Indonesia
secaraumummasihmenunjukkanperkembangan yang positif. Padapengumuman BPS triwulan
II-2011 (Agustus) lalu, pertumbuhanPDB per triwulanIndonesia masihnaik tipis menjadi 2,86%
(hargakonstan) dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2010 yaitu 2,85%.
Penguatanfaktor-faktor fundamental dalammenciptakaniklimekonominasional yang
kondusifkedepannyamerupakansalahsatuisustrategis yang mestidikerjakanolehsegenappihak
(stakeholders) yang berkepentingan, terutamapemerintah. Dalampenciptaaniklimperekonomian
yang kondusifitumasalah yang perlusegeraditangani (kalautidakdiminimalisir)
adalahterkaitkesenjanganekonomi, baikitudalamkontekskewilayahan (timur-barat), provinsi,
hinggaantaradesa-kota (metodepengukurankesenjangandalam Bab inibisadilihatdalam
LAMPIRAN TEKS A).
2.1 KesenjanganKawasanTimurdanKawasan Barat Indonesia
Dalamtatarankewilayahan (Timur-Barat) terdapatsebuahfenomenamenarik. Gambar 2.1
menunjukkanbahwadarisebelumhinggaperiodemenjelangkrisis 1997/1998
kesenjanganantarwilayahinimenunjukkantren yang kianmenurun. Hal inimenunjukkanbahwa
KTI –yang meliputiKalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat-Timur, danPapua-
semakinberdayasaing (competitive) dalamkancahperekonomiannasional. Sedangkankontribusi
9
selamainicenderungmendominasi) makinterseimbangkandengankontribusi KTI dalamperannya
di perekonomiannasional. Bilapadaparuhakhirtahun 1970an Indeks Williamson (KV) mencapai
0,7 sampai 0,6;nilainyaturunmenjadisekitar0,59sampai0,54 padapenghujung di sekitar
1997/1998. Hal initidakterlepasdarirelatiflebihtingginyapertumbuhan KTI dibandingkan KBI
denganperbandingan rata-rata pertumbuhansepanjang 1990-1997 sebesar 8,79 : 7,77.
Gambar 2.1: KesenjangandanKontribusi PDRB Non-Migas (%) Kawasan Barat danTimur 1975-2008
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
Catatan: KBI TerdiridariProvinsi-provinsi di Sumatera, Jawa, dan Bali. KTI TerdiridariProvinsi-provinsi di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.
Kondisiini (kesenjangan yang menurun) rupanyatakbertahan lama. Sejak 2003,
indekskesenjangan Williamson antarwilayahinikembalimenginjakangka 0,6
danterusmenunjukkantren yang meningkathinggamencapai 0,62 pada 2008.
Perbandinganpertumbuhanantara KTI dengan KBI justruberbalikdenganbesar 3,35 : 7,71
(lihatLampiran 1). Hal inilah yang kemudianmenyebabkankontribusi KTI
0
1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Kontribusi PDRB Barat Kontribusi PDRB Timur KV Barat _Timur
10
terhadapperekonomiannasionalkembalimerosot. Pelebaranjurangkontribusi KTI
inibisadilihatdarirasio PDRB KBI terhadap KBI yang melebarsemenjaktahun 2003
(yakniperiodepascakrisis). Tercatat rata-rata rasionyasepanjang 2003-2008 melebarmenjadi 4,13
dibandingkanperiode 1990-1997 (sebelumkrisis) yang hanya 3,93.
Gambar 2.2: KesenjanganAntaraKawasan KBI-KTI yang ditunjukkandenganrasio PDRB KBI terhadap KTITahun1975-2008 (%)
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
2.2 KesenjanganantarProvinsi
Berbedapadaanalisisantarkawasandiatas, kesenjanganantarprovinsijustrucenderungmeningkat.
Bilapada era sebelumkrisis (tahun 1997 kebawah) indeks KV stabildenganhanyasekitar 1,46
meningkatjadi 1,56 padaperiodepascakrisis (2003 keatas). Faktorkrisispada 1997-1998 lalu,
nampaknyamemangmemegangperandalammemperlebarjurangketimpanganekonomiantarprovinsi
ini. Memangsaatresesiterjadi (1997-2002) kesenjangansempatmenurun.
0 1 2 3 4 5 6 7
1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
11
Namunkemudianmelonjakkembalipadaperiodesetelahnya,
bahkanmelampauikesenjangansebelumnya.
Gambar 2.3: Pertumbuhan PDB Nasional (%) danIndek Williamson AntarProvinsi Non MigasThn1975-2008
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
Senadadenganapa yang disebutkandalampembukaanbabdiatas, pertumbuhanekonomi Indonesia
pascakrisismenunjukkankeoptimisannya, meskipunkualitasnyamasihdibawahperiodeprakrisis.
Ada halunikdalamanalisis di tingkatprovinsiterkaittingginyapertumbuhanini.
Terutamapadadaerah-daerahbaruhasilpemekaran. Pertumbuhansepertipadadaerah Sulawesi
Barat, Kepulauan Riau, dan Papua Barat cenderunglebihtinggidibandingangkapertumbuhan
rata-rata pertahunnasional yang hanyasebesar 5.9% untukperiode 2004-2008. Bahkanpadaperiode
yang sama, pertumbuhandaerahbaruseperti Sulawesi Barat, Kepulauan Riau dan Papua Barat
memilikikualitasdiatasdaerah-daerah yang memilikikuantitasPDRB terbesarsekalipun (Tabel
2.1).
-15 -10 -5 0 5 10 15 20
1.25 1.3 1.35 1.4 1.45 1.5 1.55 1.6
KV pertumbuhan
12 Tabel 2.1: PerbandinganPertumbuhan Daerah Baru, Terhadap Daerah DenganKuantitas PDRB Tertinggi
(Periode 2004-2008) Rata2 per tahun
(%) Prov dg PDRB
Tertinggi
PDRB rata2 per tahun (jutaRp)
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
2.3 KesenjanganDesa-Kota danPembalikanEkonomi
Kesenjangan yang kianmeningkat,
padaperiodepascakrisisjugaterjadidalamkontekspembangunandesa-kota.
DenganmengasumsikanKabupatensebagairepresentasidesadankotamadyasebagairepsentasikota,
Indeks Williamson (KV) meningkathinggasekitar 0,5.
Setelahsebelumnyaindekskesenjanganinimengalamitrenpenurunan, bahkanmenginjak level 0,15
pada 1995 lalu.
Fenomenamenarikbisakitalihatdalamgrafikdibawah (Gambar 2.4)
terkaitkesenjangandanposturekonomidesa-kota. Padaperiodesebelumkrisis (tahun 1997-1998),
perekonomiandesamemegangkontribusilebihtinggiterhadapperekonomiannasionaldibandingkank
ota. Hal inijuganampaknyamenyebabkankesenjanganantarkeduaentitasini (perkotaan-Perdesaan)
mengalamipenurunan. Namundemikian, halsebaliknyaterjadipadaperiodepascakrisis.
Terlihatbahwaperekonomiankotalebihmendominasidibandingkandesadalamkancahperekonomian
nasional. Hal inijugadiikutiolehmelonjaknyatingkatkesenjangandesa-kota,
dimanatelahdidahuluiolehpergeseranekonomidaridesakekota.
Fenomenainimenjadikanpenguatankembaliekonomiperdesaandirasapentinguntukmenekantingkat
13 Gambar 2.4: PDRB Non MigasdanKesenjangannya per Kabupaten-Kota Tahun1983-2009 (RpMiliar)
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
2.4 Sektor Basis EkonomiDesa-Kota
Secarastatistik, sejak 1993 hingga 2006
daerahperdesaanunggulsignifikanpadasektor-sektorpertaniandanpertambangan. Sementara,
daerahperkotaanunggulpadasektor-sektortransportasi, konstruksi, danfinansial. (lampiran 2). Sedangkansektor-sektor lain –
sepertiperdagangan, listrik-air-gas, jasapublik, danmanufaktur-
tidakterlalusignifikanperbedaannya. Hal
inijugabisadisimpulkanbahwasektor-sektorinimemilikidayasaingantarasatudan yang lainnya (desadankota).
0
1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
2008*
)
2009*
*)
KV_kabkota PDB Kabupaten PDB Kota
14
Bilakitamenggunakananalisissektoralini, kesimpulan yang
kitabisalihatdaripembalikanekonomiberbasisdesa, menjadiekonomiberbasiskotajugabisadilihat.
Gambar 2.5menunjukkanbahwakontribusisektorpertanian –yang
menjadiciriperekonomianperdesaan-
terusmengalamipenurunan.Peranpertaniankiantergeserolehsektor-sektor lain sepertiperdagangan,
listrik-air-gas, jasapublik, danmanufaktur. Hal sebaliknyaditunujukkanolehsektor-sektor yang
menjadicirikhasperkotaan. Meskitidakterlaludrastis, sektor-sektortransportasi, konstruksi,
danfinansialterusmenunjukkanpeningkatannyadalamkancahperekonomiannasional.
Gambar 2.5: Kontribusi (%) PDB NasionalLintasSektor (non migas) 1975-2008
Sumber : Data PDB/PDRB BPS (diolah)
Fenomenapenurunandayasaingpertanian, khususnya di perdesaan,
inijugaditunjukkandengantrenpenurunanpertumbuhantenagakerja yang bekerja di
sektorpertanian, danmeningkatnyapertumbuhan di sektor-sektorlainnya –
0 5 10 15 20 25 30
1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Pertanian Pertambang dan Penggalian Manufaktur
Listrik, Gas, dan Air Konstruksi Perdagangan, Restoran, dan Hotel Transportasi dan Komunikasi Keuangan Jasa
15
termasukdidalamnyasektormanufaktur, danperdagangan. Olehkarenaitulah, pada Bab II
16 Gambar 2.6: Pertumbuhan (%) AngkaTenagaKerja Di PerdesaanPertahun 1996-2009 Februari
Sumber: BPS Sakernas (diolah)
16
BAB III
Tenaga Kerja, Kependudukan, dan Produktivitasnya
Baru-baru ini Bappenas melakukan workshop tentang kependudukan, yang salah satunya untuk
mengapresiasi atas diluncurkannya Sensus Penduduk 2010. Berdasarkan hasil sensus Penduduk
2010, BPS menyatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini telah mencapai 237,6 juta
jiwa. Dengan angka seperti ini Bappenas memperkirakan total penduduk Indonesia akan terus
bertambah menjadi 268,7 juta jiwa pada 2020, dan menembus angka 305,7 juta jiwa pada 2030
nanti.
Gambar 3.1: Proyeksi Jumlah Penduduk Berdasarkan Gender 2010-2035 (Ribu Jiwa)
Sumber: BPS disampaikan melalui Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan BAPPENAS. Dalam Workshop Pemanfaatan Hasil Proyeksi Penduduk 2010-2035 Berdasarkan SP 2010untuk Perencanaan Pembangunan. Hotel Sari Pan Pacific – Kamis, 27 Oktober 2011.
Berbicara angka kependudukan, berdasarkan data perhitungan BPS, Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat sejak periode krisis 1999 lalu
hingga 2009 lalu. Bila pada 1999 IPM Indonesia menunjukkan angka 64,3, meningkat menjadi
69,57 pada 2005, dan menjadi 71,76 pada 2009. Hal ini tentu merupakan berita yang positif. 115000
120000 125000 130000 135000 140000 145000 150000 155000
2010 2015 2020 2025 2030 2035
Perempuan Laki-laki
Rib
u J
iw
17 Gambar 3.2: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 1996-2009
Sumber:Website BPS (2011)
Namun demikian sebagai pembanding, perlu diketahui bahwa UNDP (Lembaga Pembangunan
PBB) memosisikan Indonesia saat ini pada peringkat 124 dari 187 negara yang di ranking dalam
rilisnya tentang IPM. Dengan menduduki kategori Medium Human Devfelopment (Pembangunan
Manusia Tingkat Menengah), Indonesia berada dibawah rekan sesamanya di ASEAN, Thailand
yang mendudki posisi 103, dan Malaysia pada psosi 61, hingga Singapura pada posisi 26. Atau
masih dibawah standar IPM Dunia, Negara Asia Pasifik, maupun Pembangunan Manusia
Negara-Negara Kelas Menengah -dimana Indonesia berda didalamnya.
Gambar 3.3: IPM Perbandingan Indonesia dengan IPM dunia, Asia Pasifik, dan Pembangunan Kelas Menengah versi UNDP Tahun 1980-2010
Sumber: Website UNDP (2011)
64 65 66 67 68 69 70 71 72 73
1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009
IP
18 Kondsi ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri yang harus disikapi dengan berbagai
langkah strategis dari seluruh aspek kehidupan. Isu-isu strategis tentang kependudukan seperti
penyediaan pangan, antisipasi kemiskinan , pendidikan, hingga kesehatan merupakan kerja berat
yang harus disikapi secara tepat sasaran dengan memperhatikan berbagai keterbatasan sumber,
maupaun potensi-potensi bangsa yang dimiliki. Termasuk dalam rangka pengelolaan desa-kota.
Dalam Bab IItelah dijelaskan bahwa fenomena pembalikan struktur ekonomi nasional dari
ekonomi berbasis perdesaan, menjadi berbasis perkotaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang
tidak pernah diprediksi sebelumnya. Bila kita melihat literatur-literatur, terutama teori
pertumbuhan Rostow, fenomena pembalikan ini sebenarnya adalah sebuah kewajaran dalam
pembangunan. Namun demikian pembalikan yang disertai meningkatnya kesenjangan antara
desa dan kota merupakan sesuatu hal yang harus diwaspadai. Ketimbang telah terjadi trasformasi
ekonomi, pembalikan ini justru menjadi keran dibukanya pintu masalah sosial-ekonomi yang
baru.Hal ini menjadikan pembahasan mengenai isu-isu kependudukan menjadi bertambah
penting. Hal ini terutama dalam kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan. Oleh karena itu
dalam pembahasan Bab III ini kita akan melihat profil dari penduduk serta ketenaga kerjaan,
serta produktivitasnya dalam konteks desa dan kota.
3.1 Profil Kependudukan Desa-Kota
3.1.1 Keragaman Penduduk Desa Kota
Hingga2010 sebagian besar penduduk, atau sekitar 120 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di
daerah perdesaan. Angka ini mengungguli jumlah penduduk kota yang berjumlah sekitar 112
juta jiwa. Meski demikian ada kecenderungan kondisi tersebut akan membalik dalam beberapa
tahun kedepan. Dalam Gambar 3.4 ditunjukkan bagaimana proporsi penduduk kota kian lama
kian meningkat, dan sebaliknya terjadi pada penduduk desa.Hal ini terutma terjadi saat 2008,
dimana pertumbuhan penduduk perkotaan melonjak tajam menjadi 11,83%, sedangkan
19 Gambar 3.4: Jumlah & Laju Pertumbuhan Penduduk Desa dibandingkan Kota 2005-2010 (Juta Jiwa/%)
Sumber: Susenas2005-2010 (diolah)
Komposisi penduduk laki-laki dan perempuan di desa hingga 2010 berjumlah sekitar 60 juta
jiwa. Sedangkan di kota berjumlah sekitar 56 juta untuk laki-laki, dan 57 juta jiwa untuk
penduduk perempuan. Namun demikian dari sisi rasionya, beberapa tahun belakangan jumlah
penduduk perempuan cenderung mengungguli dibandingkan laki-laki. Fenomena yang lebih
kentara terutama ditunjukkan pada daerah perkotaan.Sejak 2007 lalu, rasio perbandingan antara
jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan menunjukkan angka dibawah 1.
Gambar 3.5: Rasio Jumlah Penduduk Desa-Kota Berdasarkan Jenis Kelamin Antara Laki-laki dengan Perempuan Tahun 2005-2010 (%)
Sumber: Sakernas 2005-2010 (diolah)
-10
2005 2006 2007 2008 2009 2010
Jml Pddk desa Jml Pddk Kota Pertumbuhan Pddk Desa Pertumbuhan Pddk Kota
Jm
2005 2006 2007 2008 2009 2010
20 Terkait jumlah rumah tangga, tren kuantitas antara rumah tangga perdesaan dan rumah tangga
perkotaan memiliki pola yang sama dengan tren kuantitas Perdesaan dan Perkotaan (pola
penyempitan). Namun demikian, pertumbuhan rumah tangga pertahun (baik desa maupun kota)
terlihat lebih fluktiatif.
Gambar 3.6: Jumlah Rumah Tangga (RT) Desa-Kota (Juta) dan Pertumbuhannya Tahun 2005-2010 (%)
Sumber: Susenas (diolah)
Adapun Berdasarkan jumlah rumah tangga, desa juga masih lebih unggul dibandingkan kota.
Komposisi jumlah anggota rumah tangga, baik di desa maupun kota per tahunnya relatif stabil.
Hal ini disebabkan pertumbuhan pertahun dari rumah tangga baik di desa maupun kota terlihat
fluktuatif. Meskipun di daerah kota pertumbuhannya menunjukkan kecenderungan yang
meningkat, dibandingkan desa (yang cenderung stabil). Berdasarkan data diatas rata-rata rumah
tangga di desa maupun kota terdiri atas 4-5 jiwa per Rumah Tangga. Jumlah ini masih diatas
target dua anak yang dicanangkan dalam program Keluarga Berencana.
33
2005 2006 2007 2008 2009 2010
RT Desa RT Kota
-15
2005 2006 2007 2008 2009 2010
21
3.1.2 Ketenaga Kerjaan
Sementara itu dari sisi ketenaga kerjaaan, penduduk yang tergolong pada usia kerja (sama
dengan diatas 15 tahun) dapat digambarkan sebagai berikut. Data terakhir Sakernas (hingga
Agustus 2010) jumlah penduduk usia kerja di perdesaan masih melebihi di perkotaan. Dimana
jumlah berturut-turut untuk desa dan kota adalah 96.000.016 jiwa dan 76.070.323 jiwa.
Gambar 3.7: Jumlah Penduduk Usia Kerja Menurut Desa-Kota 1996-2010 (Ribu Jiwa)
Sumber: Sakernas (diolah)
Catatan: Usia Diatas Mencakup Usia Lebih Dari Sama Dengan 65 Tahun
Berdasarkan kategori umurnya, angka diatas dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada 2010, jumlah
penduduk di perdesaan paling banyak diisi oleh penduduk usia muda yang berusia sekitar 15-19
tahun dengan jumlah 12,89 juta jiwa (13%). Diikuti usia 30-34 dan 25-29 tahun dengan jumlah
11,12 juta dan 11,09 juta, atau masing-masing sekitar 12%. Dan penduduk usia 35-39 tahun
dengan jumlah 10,02 juta (11%).
0
1996 1997 1998 1999
2000 *
)
2001 2002 2003 2004 Fe
b
2005 2006 2007 2008 2009 2010
22 Sementara itu, komposisi penduduk usia kerja yang tak jauh berbeda juga ditunjukkan pada
daerah perkotaan. Dimana posisi pertama diduduki penduduk usia 15-19 tahun sebanyak 10, 45
juta jiwa (14%). Diikuti oleh penduduk berusia 25-29 tahun sebanyak 9,87 juta (13%). Dan usia
30-34 serta 20-24 dengan jumlah 9,34 juta dan 9,2 juta atau masing-masing sekitar 12%.
Gambar 3.8: Piramida Penduduk Usia Kerja (>15 tahun) Berdasarkan Golongan Umurnya Pada Tahun 2010
(Juta Jiwa)
Sumber: Kemenakertrans, Sakernas (diolah)
Berdasarkan jenjang pendidikannya pada 2010 lalu, penduduk usia kerja dapat digambarkan
sebagai berikut. Baik di perkotaan maupun perdesaan didominasi oleh penduduk dengan tingkat
pendidikan dasar. Kemudian diikuti oleh pendidikan-pendidikan diatasnya. Namun demikian,
margin/ratio jumlah penduduk dengan pendidikan dasar terhadap tingkat pendidikan lain pada
daerah perdesaan, lebih tinggi dibandingkan kota. Tercatat ada sekitar 61,79% (59 juta)
penduduk dengan tingkat pendidikan SD di desa, sementara dikota hanya 33,5% (25 juta).
15 10 5 0 5 10 15
15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 >=65
Juta Jiwa
U
si
a
23 Gambar 3.9: Struktur Penduduk Usia kerja Berdasarkan Jenjang Pendidikannya 2010 (Juta Jiwa)
Sumber: Sakernas (diolah)
Kondisi jumlah penduduk jenjang SD yang relatif kecil pada daerah perkotaan, menyebabkan
tingkat sebaran penduduk antar jenjang pendidikan pada daerah kota lebih merata dibandingkan
desa. Bahkan pada kasus penduduk dengan jenjang penbdidikan menengah atas (SMTA
Umum/SMTA Kejuruan) jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah penduduk dengan jenjang
pendidikan dibawahnya (SMTP). Bila pada perdesaan rasio antara penduduk dengan jenjang
pendidikan SMTA per SMTP hanya sebesar 0,65. Sementara rasio di perkotaan mencapai 1,4.
Dominasi penduduk usia muda yang jumlahnya besar ini tentu menjadi peluang sekaligus
tantangan terkait sumberdaya manusia yang patut diperhitungkan dan ditangani secara strategis.
Hal itu dilakukan dengan cara menciptakan lapangan kerja baru yang bisa menyerap potensi
tenaga kerja tersebut. Hal ini dilakukan melalui melalui pengembangan usaha kecil dan
menengah. Maupun srategi dukungan investasi langsung asing.
Penyerapan ini tentu dengan memperhatikan aspek produktifitas dari ketenaga kerjaan tersebut.
Karena meskipun angka pengangguran sejak lima tahun terakhir menunjukkan tren yang
menurun (lihat Lampiran 3), produktifitas tenaga kerja di perdesaan (sebagaimana dibahas
70 60 50 40 30 20 10 0 10 20 30
≤ SD SMTP SMTA Umum SMTA Kejuruan Diploma I/II/III/Akademi Universitas
Juta Jiwa
24 singkat pada bab II diatas) tergolong relatif masih rendah, dibandingkan perkotaan. Pertanian
cenderung dijadikan sebagai tempat “pelarian” atas luangnya waktu masyarakat. Sementara itu
pemberian bantuan kredit keberbagai sektor perekonomian, belum juga mampu meningkatkan
daya produktifitas sektor-sektor tersebut.
3.2 Produktivitas
3.2.1 Produktivitas Tenaga Kerja Desa dan Kota
Sebagaimana disebutkan pada bab sebelumnya, sejak 1993 hingga 2006 perekonomian daerah
perdesaan unggul terhadap perkotaan pada sektor-sektor seperti Pertanian, dan
Pertambangan/Galian (lampiran 2). Dalam konteks ke ekonomian Indonesia, ketergantungan
dalam dua sektor ini memiliki masalah tersendiri dalam upaya peningkatan ekonomi lokal.
Minimal ada dua alasan untuk itu. Pertama, berdasarkan Peraturan pemerintah No 55 2005
tentang Dana Perimbangan.Struktur keekonomian di Indonesia memiliki rasionalisasi tersendiri
dalam perhitungan sektor migas tersebut pada masing-masing daerah. Hal ini menyebabkan
analisis makro terhadap kesenjangan desa kota ini menjadi sulit diukur, bila sektor ini
dimasukkan kedalamnya.
Kedua, dalam bab I dibahas, kontribusi pertanian dalam kontribusi nasional, terus mengalami
penurunan. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa pertanian terus mengalami
penurunan dalam hal daya saingnya. Menurnnya daya saing ini salah satunya tak bisa dilepaskan
dari ketidak stabilan harga-harga komoditas mentah tersebut dalam pasar global.
Perlu diketahui, konsumen barang-barang mentah tersebut umumnya adalah industri yang
letaknya di negar-negara maju. Untuk kasus Indonesia, konsumennya adalah AS, Uni Eropa, dan
China. Ketiga negara ini menggunakan barang-barang mentah asal negara-negara berkembang
seperti Indonesia, untuk tujuan diolah lagi menjadi barang yang mempunyai nilai tambah.
Permasalahan timbul ketika negara-negara importir tersebut mengalami gangguan dalam
perekonomiannya, seperti yang terjadi saat ini di belahan Uni Eropa dan Amerika. Permasalahan
ekonomi inilah yang dikhawatirkan akan mempengaruhi permintaan terhadap barang-barang
25 Gambar 3.10: Rata-Rata Peran Masing-Masing Sektor Ekonomi dalam PDB Inter Kabupaten & Kota (%)
1993-2006
Sumber: BPS (Susenas & PDRB (diolah))
Dilema muncul ketika kita berbicara pembangunan perdesaan dalam skup regional (dalam
kaitannya dengan kota). Meski sektor pertanian dan pertambangan ini unggul dibandingkan
sektor-sektor lain di dalam skup perdesaaan, levelnya masih berada dibawah sektor-sektor
unggul yang ada di perkotaan dalam skala nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas
ekonomi desa masih rendah. Ironisnya (ditengah rendahnya kualitas ekonomi perdesaan tersebut)
sektor-sektor non pertanian dan pertambangan justru menjadi penyerap tenaga kerja utama bagi
masyarakat lokal (perdesaan). Hal ini bisa dilihat dari tingginya ketergantungan masyarakat desa
pada kedua sektor tersebut (sebagaimana akan dibahas pada Sub-bab produktivitas tenaga kerja
nanti).
0 5 10 15 20 25
Pe
ra
n (
%
)
26 Ditengah dilemma ini ada sedikit harapan yang diberikan sektor manufaktur dan perdagangan.
Ditengah makin menurunnya kedua pertanian dan pertambangan, dua sektor ini hadir memberi
alternatif perekonomian masyarakat. Meski tidak bisa menunjukkan keunggulan komparatifnya
terhadap kota, (sebagaimana dijelaskan dalam Bab II) sektor perdagangan dan manufaktur
bahkan melampaui kontribusi pertanian dan pertambangan dalam kancah ekonomi nasional. Bila
pertambangan hanya menyumbang sekitar 14,85%, sektor manufaktur dan
perdaganganberturut-turut menyumbang sekitar 22,4% dan 15,4% dalam postur ekonomi di kabupaten. Hal ini
kemudian menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan kualitas
perekonomian lokal, untuk terus digenjot pertumbuhannya.
Oleh karena itulah, pembahasan mengenai isu produktivitas menjadi sesuatu keharusan disini.
Dalam bab III ini akan dilihat bagaimana produktivitas Tenaga Kerja Perdesaan dan Perkotaan.
Sedangkan dari sisi Kapitalisasinya, kita akan bahas pada Bab IV. Pembahasan pada bab III ini
akan kita lihat berdasarkan sektor-sektor yang menjadi lapangan dari para pekerja tersebut. Hal
ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara makro mengenai bagaimana pola produktivitas
di perdesaan, dan perkotaan.
3.2.2 Kejenuhan Pertanian
Pertanian yang menjadi cirkhas ekonomi perdesaan menunjukkan indikasi kejenuhan dalam
menjadi tumpuan utama para masyarakatnya dalam mencari penghidupan. Dari sisi lahan,
selama periode 2003 hingga 2008 saja dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan lahan pertanian
(baik itu sawah, maupun non-sawah) di perdesaan terus digeser oleh meningkatnya proporsi
lahan non-pertanian (Gambar 3.11).
Pada 2003 tercatat ada sekitar 95% lahan pertanian perdesaan dari total lahan yang ada. Hal ini
terdiri atas 88% lahan sawah dan 7% lahan non sawah. Pada 2005, proporsi lahan pertanian ini
turun menjadi 87%. Dan turun kembali menjadi 85% pada 2008. Lambatnya pertumbuhan lahan
pertanian inilah yang ditakutkan akan berimplikasi terhadap ketahanan pangan dan kerawanan
27 Gambar 3.11: Chart Perkembangan Persentase Jumlah Lahan di Perdesaan Berdasarkan Jenis
Penggunaannya Tahun 2003-2008
Sumber: Podes 2003-2008 (diolah)
Keterbatasan lahan ini berimplikasi terhadap penyediaan lapangan kerja. Bila kita melihat
proporsi jumlah penduduk di perdesaan, jumlah penduduk yang menggantungkan hidupnya pada
sektor pertanian terlihat kontras bila dibandingkan pada penduduk yang bergantung pada sektor
lain. Pada 2009 lalu, penduduk perdesaanyang menggantungkan hidupnya pada sektor ini
tercatat mencapai sekitar 61,9% atau berada pada angka 37,8 juta jiwa. Angka ini jauh
meninggalkan jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan di posisi kedua yang berjumlah sekitar
13,32% (sekitar 8,3 juta jiwa), dan sektor idustri dengan jumlah 8,56% (5,3 juta jiwa).
Lahan
2003
SawahLahan28 Sedangkan sektor paling sepi peminat di perdesaan ini adalah sektor Listrik, gas, dan air dengan
jumlah hanya sekitar 0,09% (54,7 ribu jiwa).
Gambar 3.12: Grafik Persentase (%) Jumlah Tenaga Kerja di Pedasaan per Sektor 1996-2009
Sumber: Sakernas (diolah)
Meski porsinya terbesar, kenyataan sebaliknya ditunjukkan bila kita melihat produktivitas sektor
pertanian ini. Jumlah tenaga kerja yang banyak, justru menghasilkan output yang terletak pada
peringkat paling bawah secara rata-rata -paling tidak sampai tahun 2006. Tercatat hingga 2006
sumbangan produktivitas pertanian berada pada urutan terakhir hanya sekitar 1,02% (sekitar Rp
19 ribu per jiwa). Sementara itu produktivitas tertinggi diduduki oleh sektor pertambangan
dengan nilai Rp 677 ribu/jiwa (35,1%), diikuti oleh sektor Listrik, Gas, dan Air dengan nilai Rp
470,42 ribu/jiwa (24,4%), dan sektor jasa keuangan dengan nilai Rp 417,79 ribu/jiwa (21,65%)
1996 1997 1998 1999 2000 *) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
PERTANIAN 60.61 57.94 62.86 61.71 65.94 65.36 65.65 67.86 63.91 64.80 64.29 62.57 61.97 61.09 PERTAMBANGAN 0.96 1.11 0.71 0.80 0.66 0.74 0.69 0.77 1.11 0.90 1.12 1.14 1.20 1.30 INDUSTRI 10.58 10.59 9.02 10.44 9.52 8.93 8.76 8.22 8.06 8.15 8.46 8.55 8.52 8.56 LISTRIK, GAS DAN AIR 0.08 0.11 0.09 0.06 0.07 0.07 0.09 0.05 0.08 0.08 0.10 0.10 0.10 0.09 KONSTRUKSI 3.84 4.30 3.36 3.26 2.98 3.18 3.55 3.16 3.96 3.61 3.70 4.09 4.21 4.09 PERDAGANGAN 12.79 13.87 12.91 12.89 12.13 11.86 11.94 11.09 13.01 12.29 11.87 12.81 12.89 13.32 TRANSPORTASI 3.24 3.44 3.30 3.24 3.22 3.24 3.27 3.51 3.97 4.04 4.08 3.89 4.06 3.82 KEUANGAN 0.18 0.19 0.15 0.19 0.18 0.27 0.28 0.33 0.31 0.34 0.33 0.36 0.41 0.42 JASA KEMASYARAKATAN 7.71 8.44 7.60 7.40 5.30 6.35 5.77 5.02 5.60 5.80 6.04 6.48 6.66 7.29
29 Gambar 3.13: Grafik Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor di Pedasaan 1996-2006 (Rp Ribu/Jiwa)
Sumber: BPS, Sakernas (diolah)
Pemandangan berbeda diperlihatkan berbeda bila kita melihat fenomena yang terjadi di daerah
Perkotaan. Jumlah tenaga kerja di berbagai sektor Perkotaan coraknya lebih beragam. Hingga
2009, mayoritas penduduknya bekerja pada sektor perdagangan dengan jumlah 13,66 juta jiwa
(sekitar 31,85%), disusul Jasa Publik berjumlah 9,30 juta jiwa(21,7%), dan Manufaktur dengan
jumlah 7,44 juta jiwa (17,34%). Meskipun jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian
juga masih cukup tinggi dengan jumlah 4,58 juta jiwa(10,67%).
1996 1997 1998 1999 2000 *) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PERTANIAN 21.46 22.85 19.43 20.67 17.08 18.15 18.56 17.85 18.85 19.17 19.74 PERTAMBANGAN 616.20 488.36 989.33 874.86 912.06 861.22 945.57 855.96 669.72 858.78 677.15 INDUSTRI 108.44 110.75 103.78 93.31 84.67 95.60 102.04 110.69 122.78 126.34 126.03 LISTRIK, GAS DAN AIR 472.01 375.53 382.49 634.57 499.80 518.34 452.54 786.78 566.72 606.37 470.42 KONSTRUKSI 67.29 61.96 52.70 54.88 51.47 52.73 50.10 57.48 40.47 46.89 48.64 PERDAGANGAN 55.26 52.66 48.76 51.31 47.43 51.73 53.75 59.24 52.29 58.44 63.76 TRANSPORTASI 48.99 50.43 45.77 49.14 43.56 46.74 48.24 45.78 42.13 43.51 45.58 KEUANGAN 753.01 753.17 797.45 615.46 593.17 427.33 419.05 372.40 413.10 396.33 417.79 JASA KEMASYARAKATAN 41.26 38.96 39.15 42.09 51.86 46.60 53.03 61.89 59.56 60.10 60.42
30 Gambar 3.14: Grafik Persentase (%) Jumlah Tenaga Kerja di Perkotaan per Sektor 1996-2009
Sumber: BPS, Sakernas (diolah)
Sementara itu dari sisi produktivitasnya hingga 2006, posisi tertinggi ditempati sektorkeuangan
yang dengan nilai sekitar Rp 1,26 juta/jiwa (39,34%). Hal ini diikuti sektor Listrik, Gas, dan Air
sebesar Rp 676,54 ribu/jiwa (21,17%). Dan Industri yang mencapai Rp 341,5 ribu/jiwa
(10,69%). Sementara itu sektor dengan produktivitas terkecil di tempati oleh dengan nilai
produktivitas hanya sebesar Rp 26,95 ribu/jiwa
1996 1997 1998 1999 2000 *) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
PERTANIAN 8.30 7.88 11.07 10.89 11.21 11.34 12.99 14.11 12.13 12.55 11.71 11.87 10.65 10.67 PERTAMBANGAN 0.77 0.85 0.87 0.84 0.90 0.86 0.69 0.82 1.09 0.92 0.77 0.84 0.82 0.80 INDUSTRI 16.75 17.28 15.70 17.38 18.43 20.01 19.77 18.64 17.50 19.06 18.09 18.21 17.59 17.34 LISTRIK, GAS DAN AIR 0.44 0.59 0.32 0.48 0.42 0.40 0.35 0.33 0.50 0.39 0.42 0.38 0.35 0.38 KONSTRUKSI 5.87 6.04 5.26 4.87 5.34 5.83 6.30 6.19 6.19 6.49 6.35 6.09 6.09 5.87 PERDAGANGAN 31.42 31.27 31.05 31.70 34.12 30.49 30.42 29.85 31.60 30.37 31.73 31.52 31.54 31.85 TRANSPORTASI 7.69 7.49 7.45 7.34 8.03 7.44 7.79 8.04 8.69 8.79 8.47 8.80 8.72 8.56 KEUANGAN 2.13 1.87 1.76 1.62 2.28 2.72 2.26 3.03 2.55 2.39 2.78 2.83 2.89 2.86 JASA KEMASYARAKATAN 26.63 26.72 26.52 24.88 19.28 20.91 19.44 18.98 19.74 19.03 19.69 19.47 21.37 21.68
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00
Jml
Ten
aga
Ker
ja
(%
31 Gambar 3.15: Grafik Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor di Perkotaan 1996-2006 (Rp ribu/Jiwa)
Sumber: BPS, Sakernas (diolah)
1996 1997 1998 1999 2000 *) 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PERTANIAN 41.34 41.20 27.85 26.84 24.12 23.22 20.15 19.22 25.53 24.85 26.95 PERTAMBANGAN 121.34 144.05 122.79 108.81 111.63 112.96 145.92 132.11 73.67 88.93 109.23 INDUSTRI 458.62 440.88 413.62 359.05 298.97 273.34 273.12 298.59 339.54 317.82 341.50 LISTRIK, GAS DAN AIR 735.38 556.69 1003.56 649.63 654.79 714.97 841.86 955.04 511.19 688.62 676.54 KONSTRUKSI 543.09 495.47 349.27 349.00 268.68 244.07 226.49 242.19 251.49 254.11 274.70 PERDAGANGAN 184.36 182.18 149.68 143.22 113.73 126.51 129.61 140.45 139.07 153.53 155.19 TRANSPORTASI 251.26 254.13 222.49 220.54 177.21 191.69 189.03 192.69 205.13 220.17 247.35 KEUANGAN 1627.66 1760.34 1521.10 1477.79 865.78 708.79 873.25 682.19 1263.34 1409.53 1256.88 JASA KEMASYARAKATAN 77.49 72.04 64.84 66.90 73.70 67.52 73.80 78.85 98.28 106.26 106.89
0.00 200.00 400.00 600.00 800.00 1000.00 1200.00 1400.00 1600.00 1800.00 2000.00
Pr
oduk
tiv
ita
s (
Rp
rib
u/
Jiw
33
BAB IV
ProduktivitasKapital
Dalamrangkameningkatkanproduktivitas,selain parameter tenagakerja,
jugaperludilihattingkatproduktivitasataspinjaman yang diberikanpadamasing-masingsektor.
Dikarenakanketerbatasan data, makadalamAnalasisKapital kali inientitasDesadan Kota
diwakiliolehsektor-sektor yang unggulsecarasignifikan -sebagaimanadijelasakanpada Bab II
(Lampiran 2).
Kapitaldalam Sub-babinitidak lain adalahpinjaman yang bersumberdarikreditvalasdan rupiah
perbankankomersialmaupun bank-bank mikro. PinjamaninikemudiandipadankandenganPDB
(nasional) sektor basis tersebut. Tujuannyatidak lain untukmelihatefektivitaspenambahan modal
dalamupayamenggenjotperekonomianlokaltersebut.
ProduktivitasKapital
Secaraumum, volume pinjaman-pinjaman yang diberikanpadasektor-sektor basis di
perkotaandanperdesaanterusmengalamipeningkatan. Hal iniselarasdenganpeningkatan volume
PDBsektor basis. DalamGambar 4.1posisipinjamantertinggi yang diberikan Bank Umummaupun
BPR hingga Q2-2011 didudukiolehsektorfinansialdenganjumlahRp 162,32 triliun,
dimanalebihtinggidariperiode yang sama di tahun 2010 sebesarRp 127,92.
SedangkandalamposisikeduadidudukisektorpertaniandenganjumlahRp 98,96 triliun,
halinilebihtinggidibandingkanperiode yang samapada 2010 denganjumlahRp 88,43 triliun.
Sedangkanposisiterendahdidiudukiolehsektorkonstruksidanpertambangandenganjumlahpinjaman
hingga Q2 mencapai 70,82 triliundanRp 70,43 triliun. Hal
inilebihtinggidibandingkantahunsebelumnyapadaperiode yang samasebesarRp 62,70
triliundanRp 51,64 triliun.
Sementaraitudarisisi PDB, hingga 2011 (Q2)
sumbangantertinggiditempatiolehsektorpertaniandenganjumlahRp 81,57 triliun.
Lebihtinggidibandingkantahunsebelumnyauntukperiode yang sama(Q2-2010)
34 Sementaraituposisikeduadidudukiolehsektortransportasi/komunikasidanfinansial (tahunQ2-2011)
denganjumlahmasing-masingRp58,87 triliundanRp58,46 triliun.
Jumlahnyameningkatdibandingkantahunsebelumnyapadaperiode yang
samasebesarmasing-masingRp53,2triliundanRp54,69triliun.
Sedangkanjumlahkontribusiterkecilpada 2011 (Q2) ditempatisektorkonstruksidenganjumlahRp
39,39 triliun, meningkatdibandingkantahun 2010 padaperiode yang samasebesarRp 36,67 triliun.
Gambar4.1: PosisiPinjaman Rupiah danValas yang diberikan Bank Umumdan BPR &PDB (Nasional) per
35 Sumber: Bank Indonesia
Catatatn: ***Hingga Q2
36 Namundemikiankondisipeningkatanpinjamaninitidakdibarengidenganmeningkatnyaproduktivitas
.Denganmengabaikanfaktor-faktordiluarpinjaman,
tingkatproduktivitaspemberianpinjamanterhadappeningkatanPDBP sektoral (desa-kota)
cenderungmenurun. Bilapada Q1-2002 tingkatproduktivitassektor-sektor di perdesaansebesar
17,6% jumlahnya di 2011 berkurangsebesar 91,32% menjadi 0,76% padaperiode yang sama.
Sedangkansektor-sektor di perkotaan yang pada Q1-2002 produktivitasnyasebesar 3,43 ,
turunmenjadi 0,85 (75,2%)
Gambar4.2: Produktivitas (%) Kapital per Sektor Basis kab-Kota 2002-2011**
Sumber: Bank Indonesia (diolah) Catatatn: ***Hingga Q2
Pemberianpinjamanseolahmenjadibebandarikalkulasimatematisterhadapproduksisektor-sektortersebut yang cenderungkonstan.Sehinggamakinmeningkat volume pinjaman,
makaproduktivitasakansemakinturun. (Lampiran4a)
37 Rendahnyaproduktivitassektor-sektor basis
inijugabisadilihatdarirendahnyapertumbuhansektor-sektor basis tersebut, biladibandingkanjumlahpinjaman yang diberikan. Bilapertumbuhan
rata-rata pertumbuhanpemberianpinjaman per triwulanadalahsebesar 5,72%,
pertumbuhanPDBpertriwulan (akumulasisektor basis desa-kota) 1,49%.
Gambar 4.3: PertumbuhanPDBdanPinjamanTerhadapSektor-Sektor Basis 2002 (Q2)-2011(Q2) (%)
Sumber: Bank Indonesia (diolah)
Sementaraitubilakitamelihatlebihdalam,
sebenarnyapengaruhpemberianpinjamaniniterhadapkinerjapertumbuhansektor-sektor basis (baik
di desamaupunkota) tidaklahterlalusignifikan. Berdasarkananalisisyang dilakukan (lampiran 4b),
tingkatpengaruhpemberianpinjamantertinggidipegangolehsektorkonstruksi. Dan
itupunhanyasebesar 39,65%. Sedangkanpertambanganhanyadipengaruhi 6% saja,
38 Tabel 4.1: PengaruhPertumbuhanPinjamanTerhadapPeningkatan PDB Sektor Basis Tahun 2002-2011
Sektor Basis Tingkat Pengaruh {(R²)%} Hubungan
Konstruksi 39.65 +
Pertanian, Peternakan, KehutanandanPerikanan 6.2
-Pengangkutandankomunikasi 2.74 +
Keuangan, real estatdanjasaperusahaan 1.53 +
Pertambangandanpenggalian 1.24
-Sumber: Ditkotdes
Catatan: UntuklebihjelasnyalihatLampiran 4b.
Kondisiinimenyimpulkanbahwapenambahanpinjamanterhadapberbagaisektor-sektorinitidakbisadilakukansecaraparsial,
tanpaadaupayauntukmembantumasyarakatmeningkaatkankualitasproduksisektor-sektor basis
tersebut. Etoskerjadanketerampilan SDM,
37
Bab V
Fasilitas Publik
Infrastruktur merupakan isu paling sentral dalam perekonomian negara manapun, demi menjaga
ritme serta keberlanjutan geraknya. Ditengah gejolak perekonomian dunia, khususnya eropa,
Indonesia justru kian dielu-elukan. Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat rata-rata diatas
6% menjadikan Indonesia perhatian para investor dunia untuk masuk dan berbisnis di dalamnya.
Fundamental ekonomi Indonesia juga dikabarkan kuat. Dengan inflasi bulanan yang terus
menurun (hingga November ini 4,15%), serta tingginya angka konsumsi oleh penduduk kelas
menengah, menjadikan Indonesia sebagai kandidat baru para macan ekonomi dunia baru
layaknya Brazil India, Rusia, dan China.
Gambar 5.1: Pertumbuhan PDB per Triwulan 2007-2011 (%)
Sumber: BPS, Kementerian Perdagangan
Meski demikian ada beberapa hal yang mesti di perhatikan ditengah segala berita postif tersebut.
Bila kita melihat data PDB triwulan kita tren yang ditunjukkan sejak beberapa tahun terakhir
justru cenderung turun (ditengah grafiknya yang fluktiatif). Kondisi ini menunjukkan bahwa ada
yang perlu diperhatikan terkait performa ekonomi yang sedang berlangsung saat ini. Hal ini
sepertinya makin memiliki keselarasan dengan pembahasan bab II soal terjadinya kesenjangan
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
TW
1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW 2 TW 3 TW 4 TW 1 TW 2
2007 2008 2009 2010 2011
Pertumbuhan (%)
38 antara daerah Perdesaan dengan Perkotaan. Terlebih pada Bab IV juga telah dibahas mengenai
masih belum efektifnya peran arus kapital dalam menunjang produktifitas, baik di desa, bahkan
kota sekalipun. Maka dari itulah pembahasan mengenai isu-isu infrastruktur perlu dikedepankan.
Berdasarkan hasil Laporan Persaingan Global (Global Copetitiveness Report) 2011, kualitas
infrastruktur Indonesia masih jauh tertinggal, baik dalam percaturan dunia, maupun tingkat
ASEAN. Dari 142 negara yang diperingkat, Indonesia tertinggal pada posisi 76. Sedangkan
Singapura berada pada posisi 3, Malaysia peringkat 26, dan Thailand pada posisi 42.
Table 5.1: Index Kompetisi Infrastruktur ASEAN 2011
Kategori
Indonesia Malaysia Thailand Singapore
Nilai
Source: Global Competitiveness Index
Beberapa ekonom termasuk Cahtib Basri mengingatkan pentingnya mengejar ketertinggalan ini,
39 infrastruktur tersebut. Tren penyediaan infrastruktur oleh berbagai organisasi privat atas ketidak
tersediaan fasilitas infrastruktur publik oleh negara ini dikhawatirkan hanya akan meningkatkan
kesenjangan antara pebisnis besar, dengan pebisnis kecil (Kompas, 28 November 2011).
Asumsi Basri ini mungkin bisa dipakai untuk mengatakan ancaman terhadap kesenjangan antara
desa dan kota. Pasalnya akumulasi modal dari para pebisnis besar ini umumnya akan bermuara
(minimal mampir) di perkotaan juga. Maka dalam bab ini kita akan melihat bagaimana kondisi
infrastruktur di perkotaan dan perdesaan Indonesia. Kondisi ketersediaan infrastruktur yang akan
dilihat meliputi Sarana Transportasi, Kelistrikan, Sanitasi dan Limbah, Komunikasi, serta
Perumahan.
5.1 Transportasi
Dilihat dari medan transportasi yang digunakan, jalur darat paling banyak digunakan baik warga
di perkotaan maupun perdesaan. Namun demikian, sepanjang 2006-2009 terdapat pergeseran
moda transportasi disini. Di perkotaan jalur darat sebagai moda transportasi utama pada periode
tersebut semakin banyak digunakan. Tercatat pada 2008 proprsi jumlah desa yang menggunakan
jalur ini sebagai jalur utama mencapai 93,83%, dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar
85,68%. Sementara itu penggunaan jalur air sebagai jalur transportasi utama makin berkurang
dari 4,33% pada 2006, menjadi tinggal 0,52% pada 2008. Penyusutan juga terjadi pada kota
pengguna jalur kombinasi Darat dan Air, dari 9,99% pada 2006, menjadi hanya tinggal 5,65%
pada 2008.
Hal sebaliknya terjadi pada daerah perdesaan. Jumlah pengguna jalur darat justru semakin
menurun pada periode 2006-2008 tersebut. Bila pada 2006 pengguna jalur darat mencapai
88,76% dari jumlah total seluruh desa. Pada 2008 turun menjadi 97,3%. Sementara jumlah
pengguna jalur air sebagai moda transportasi utama cenderung konstan, pengguna jalur Darat
dan Air justru semakin meningkat. Jika pada 2006 jumlah desa pemakai utama jalur kombinasi
40
Gambar 5.2: Jumlah Desa dan Kota Berdasarkan Moda Transportasi yang Digunakan Sepanjang 2006-2008 (%)
Sumber: Podes (diolah)
Dari gambaran diatas, desa/kota dengan jalan darat tersebut bisa dikelompokkan lagi berdasarkan
lapisan jalan daratnya tersebut. Hal ini meliputi Jalan Aspal, Diperkeras, Tanah, dan lainnya.
Untuk daerah perkotaan, sepanjang 2006-2008, jumlah kota dengan jalan beraspal semakin
meningkat dari 56,81%, menjadi 92,75%. Sementara jumlah jalan yang diperkeras, dan berlapis
tanah semakin menurun keberadaanya. Dimana untuk kota dengan jalan diperkeras, pada periode
yang sama, menurun dari 25,45% menjadi 5,16%. Sedangkan yang berlapis tanah menurun dari
16,70%, menjadi 1,97%.
2006 2008
Darat 85.68 93.83
Air 4.33 0.52
Darat & Air 9.99 5.65 0.00