• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN SEPTEMBER 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN SEPTEMBER 2011"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KEMISKINAN

DI PROVINSI JAWA TENGAH BULAN SEPTEMBER 2011

No. 05/01/33/Th. VI, 2 Januari 2012

RINGKASAN

ƒ

Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di

Provinsi

Jawa

Tengah pada bulan September 2011

sebesar

5,256 juta orang

(16,21 persen), mengalami kenaikan sebanyak 148,6 ribu orang jika dibandingkan

dengan penduduk miskin pada Bulan Maret 2011 yang berjumlah 5,107 juta orang

(15,76 persen).

ƒ

Jumlah penduduk miskin Bulan September 2011 daerah perkotaan sebanyak 2,176 juta

orang (14,67 persen terhadap jumlah penduduk perkotaan) sedangkan untuk daerah

perdesaan sebanyak 3,080 juta orang (17,50 persen).

ƒ

Garis Kemiskinan di Jawa Tengah kondisi September 2011 sebesar Rp. 217.440,- per

kapita per bulan. Pengeluaran makanan sebesar 73,02 persen dan bukan makanan

(perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan) sebesar 26,98 persen.

ƒ

Untuk daerah perkotaan Garis Kemiskinan Bulan

September

2011 sebesar

Rp. 231.046,- atau naik 3,87 persen dari kondisi Bulan Maret 2011 (Rp. 222.430,-).

Garis Kemiskinan di perdesaan juga mengalami peningkatan sebesar 3,61 persen

menjadi sebesar Rp.

205.981,- dibandingkan dengan Maret

2011 yaitu sebesar

Rp. 198.814,-.

ƒ

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan masih jauh lebih besar

dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Meskipun mengalami sedikit

kenaikan dibandingkan bulan Maret 2011, tercatat pada bulan Maret 2011 sumbangan

Garis Kemiskinan Makanan sebesar 72,98 persen sedangkan pada bulan September

2011 mengalami kenaikan menjadi 73,02 persen.

ƒ

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P

1

) untuk daerah perkotaan sebesar 2,568

sedangkan di daerah perdesaan mencapai 2,589. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah

perdesaan rata-rata pengeluaran penduduk miskin lebih jauh dari Garis Kemiskinan

dibanding di daerah perkotaan.

ƒ

Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P

2

) untuk daerah perkotaan sebesar 0,725 dan

daerah perdesaan sebesar 0,606. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah perkotaan

ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin lebih tinggi dari pada daerah

perdesaan.

(2)

1. Perkembangan Penduduk Miskin Provinsi Jawa Tengah, 1996 - 2010

Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 1996 – 2010 berfluktuasi dari tahun ke tahun (Tabel 1). Pada periode 1996 - 1999 jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 2,338 juta orang karena krisis ekonomi, yaitu dari 6,418 juta orang pada tahun 1996 menjadi 8,755 juta orang pada tahun 1999. Persentase penduduk miskin meningkat dari 21,61 persen menjadi 28,46 persen pada periode yang sama.

Pada periode tahun 2002 – 2005 jumlah penduduk miskin cenderung menurun dari 7,308 juta orang pada tahun 2002 menjadi 6,534 juta orang pada Pebruari 2005. Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 23,06 persen pada tahun 2002 menjadi 20,49 persen pada Pebruari 2005.

Pada tahun 2006, terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin, yaitu dari 6,534 juta orang (20,49 persen) pada Bulan Pebruari 2005 menjadi 7,101 juta (22,19 persen) pada Bulan Maret 2006. Penduduk miskin di daerah perkotaan bertambah 0,287 juta orang, sementara di daerah perdesaan bertambah 0,280 juta orang.

Peningkatan penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah dari Pebruari 2005 ke Maret 2006 disebabkan karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak pada 1 September 2005, yang kemudian memacu kenaikan harga-harga barang kebutuhan lainnya.

Namun pada tahun 2007 hingga tahun 2010, terjadi penurunan jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah, yaitu dari 7,101 juta orang (22,19 persen) pada Bulan Maret 2006 turun menjadi 5,369 juta orang (16,56 persen) pada Bulan Maret 2010. Pada periode yang sama, penduduk miskin di daerah perkotaan turun 0,699 juta orang, sementara di daerah perdesaan turun 1,032 juta orang.

Tabel 1

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin

di Provinsi Jawa Tengah menurut Daerah Tahun 1996 – 2011 (Maret)

Tahun Jumlah Penduduk Miskin (ribu orang) Persentase Penduduk Miskin

Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1996 1999 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Sept 2011 1.973,4 3.062,2 2.762,3 2.520,3 2.346,5 2.671,2 2.958,1 2,687,3 2.556,5 2.420,9 2.258,94 2.092,51 2.175,82 4.444.2 5.723,2 4.546,0 4.459,7 4.497,3 3.862,3 4.142,5 3.869,9 3.633,1 3.304,8 3.110,22 3.014,85 3.080,17 6.417,6 8.755,4 7.308,3 6.980,0 6.843,8 6.533,5 7.100,6 6.557,2 6.189,6 5.725,7 5.369,16 5.107,36 5.255,99 20,67 27,80 20,50 19,66 17,52 17,24 18,90 17,23 16,34 15,41 14,33 14,12 14,67 22,05 28,05 24,96 23,19 23,64 23,57 25,28 23,45 21,96 19,89 18,66 17,14 17,50 21,61 28,46 23,06 21,78 21,11 20,49 22,19 20,43 19,23 17,72 16,56 15,76 16,21

(3)

2. Perkembangan Penduduk Miskin Provinsi Jawa Tengah Maret 2011 – September 2011

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah pada Bulan September 2011 sebesar 5,256 juta orang (16,21 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Bulan Maret 2011 yang berjumlah 5,107 juta orang (15,76 persen), berarti jumlah penduduk miskin naik sebesar 148,6 ribu orang.

Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin selama Maret 2011 – September 2011 terjadi karena pada Bulan September 2011 adalah pasca lebaran yang secara umum harga berbagai komoditas mengalami kenaikan. Pada Bulan September 2011 terjadi inflasi 0,41 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 125,80 sedangkan pada Bulan Maret 2011 terjadi deflasi 0,25 persen dengan IHK sebesar 123,63.

Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik lebih besar dibanding daerah perdesaan. Selama periode Maret 2011 – September 2011, penduduk miskin di daerah perdesaan bertambah 65,3 ribu orang, sementara di daerah perkotaan bertambah 83,3 ribu orang (Tabel 1).

Selama periode Maret 2011 – September 2011, persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada Bulan Maret 2011, sebagian besar (59,03 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sementara pada Bulan September 2011 persentasenya turun menjadi 58,60 persen.

3. Perubahan Garis Kemiskinan Maret 2011 – September 2011

Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Selama Maret 2011 – September 2011, Garis Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah naik sebesar 3,74 persen, yaitu dari Rp. 209.611,- per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp. 217.440,- per kapita per bulan pada September 2011.

Komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa di Jawa Tengah peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Garis Kemiskinan di Jawa Tengah September 2011 sebesar Rp. 217.440,- per kapita per bulan. Pengeluaran untuk membiayai makanan sebesar 73,02 persen, sedangkan pengeluaran untuk membiayai komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan) hanya sebesar 26,98 persen.

Pada Bulan Maret 2011, sumbangan GKM terhadap Garis Kemiskinan sebesar 72,98 persen, tetapi pada Bulan September 2011, peranannya hanya naik sedikit menjadi sebesar 73,02 persen.

(4)

Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Garis Kemiskinan di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding garis kemiskinan perdesaan yaitu di daerah perkotaan sebesar Rp. 231.046,- per kapita per bulan sedangkan di daerah perdesaan sebesar Rp. 205.981,- per kapita per bulan (Tabel 2).

Tabel 2

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin menurut Daerah di Provinsi Jawa Tengah Maret 2010–September 2011

Daerah/ Tahun

Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bulan) Jumlah Penduduk Miskin (ribu orang) Persentase Penduduk Miskin Makanan Bukan Makanan Total (1) (2) (3) (4) (5) (6) Perkotaan Maret 2010 Maret 2011 September 2011 146.107 158.524 164.893 59.499 63.907 66.153 205.606 222.430 231.046 2.258,94 2.092,51 2.175,82 14,33 14,12 14,67 Perdesaan Maret 2010 Maret 2011 September 2011 133.948 148.287 153.605 46.034 50.526 52.376 179.982 198.814 205.981 3.110,22 3.014,85 3.080,17 18,66 17,14 17,50 Kota + Desa Maret 2010 Maret 2011 September 2011 139.857 152.967 158.766 52.578 56.644 58.675 192.435 209.611 217.440 5.369,16 5.107,36 5.255,99 16,56 15,76 16,21

Sumber : Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Maret dan Susenas TW III 2011

4. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan

Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus dapat mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk daerah perkotaan sebesar 2,568 sedangkan di daerah perdesaan mencapai 2,589. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah perdesaan rata-rata pengeluaran penduduk miskin lebih jauh dari Garis Kemiskinan

(5)

Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk daerah perkotaan sebesar 0,725 dan daerah perdesaan sebesar 0,606. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah perkotaan ketimpangan pengeluaran antar penduduk miskin lebih tinggi dari pada daerah perdesaan.

Pada periode Maret 2011 – September 2011, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami sedikit kenaikan sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) mengalami sedikit penurunan. Indeks Kedalaman Kemiskinan naik dari 2,562 keadaan Bulan Maret 2011 menjadi 2,579 pada keadaaan Bulan September 2011. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 0,663 menjadi 0,660 pada periode yang sama (Tabel 3).

Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di daerah perdesaan lebih tinggi sedikit dibandingkan di daerah perkotaan sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perkotaan jauh lebih tinggi dari pada perdesaan. Pada Bulan September 2011, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan 2,568 sementara di daerah perdesaan sebesar 2,589. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk daerah perdesaan sebesar 0,606 dan di daerah perkotaan mencapai 0,725.

Tabel 3

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

menurut Daerah di Provinsi Jawa Tengah Maret 2010–September 2011

Tahun Perkotaan Perdesaan Kota + Desa

(1) (2) (3) (4)

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)

Maret 2010 2,090 2,862 2,487 Maret 2011 September 2011 2,464 2,568 2,644 2,589 2,562 2,579

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Maret 2010 0,505 0,689 0,599 Maret 2011 September 2011 0,662 0,725 0,664 0,606 0,663 0,660

(6)

5. Penjelasan Teknis dan Sumber Data

a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk.

b. Garis kemiskinan adalah rupiah yang diperlukan agar penduduk dapat hidup layak secara minimum yang mencakup pemenuhan kebutuhan minimum pangan dan non pengan essential.

c. Garis kemiskinan adalah harga yang dibayar oleh kelompok acuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sebesar 2.100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan non pangan essensial seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi dan lainnya.

d. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

e. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.

f. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

g. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan bulan September 2011 adalah Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Kor dan Modul Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang dilaksanakan pada triwulanan III (bulan September). Jumlah sampel secara nasional sebanyak 75.000 Rumah Tangga (Sampel Provinsi Jawa Tengah adalah 7.160 Rumah Tangga).

h. Sumber data Utama Kemiskinan : Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Mulai tahun 2011 pendataan Susenas dilakukan Triwulanan :

- Triwulan I (Bulan Maret) Triwulan III (Bulan September) - Triwulan II (Bulan Juni) Triwulan IV (Bulan Desember)

(7)

i. Data Kemiskinan Nasional dan Provinsi mulai tahun 2012 akan disajikan 2 (dua) kali :

- Data Kemiskinan kondisi Bulan Maret, disajikan pada Berita Resmi (BRS) Bulan Juli

- Data Kemiskinan kondisi Bulan September, disajikan pada Berita Resmi (BRS) Bulan Januari tahun berikutnya

Referensi

Dokumen terkait

Semakin tinggi indeks kedalaman kemiskinan, mengindikasikan semakin besar jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan  Semakin Buruk. Indeks

 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) September 2014 (5,92%) mengalami penurunan dari kondisi Maret 2014 (6,20%) yang mengindikasikan ada perbaikan kondisi ekonomi/

 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) September 2015 (5,29%) mengalami penurunan dari kondisi Maret 2015 (6,24%) yang mengindikasikan ada perbaikan kondisi ekonomi/

Kedalaman kemiskinan menunjukkan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap batas miskin (garis kemiskinan), sedangkan keparahan kemiskinan menunjukkan

Lima Provinsi dengan kasus virus corona (Covid 19) tinggi juga mengalami peningkatan pada persentase penduduk kemiskinan (P0), indeks kedalaman (P1) dan indeks keparahan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah pemodelan kemiskinan dengan tiga indikator yaitu persentase penduduk miskin, indeks kedalaman kemiskinan, dan indeks

Data panel yang digunakan berupa data persentase penduduk miskin, garis kemiskinan, jumlah penduduk miskin, Indeks Keparahan Kemiskinan, dan Indeks Kedalaman

ABSTRAK PERAN DINAS SOSIAL KABUPATEN ACEH TENGAH DALAM UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN DITINJAU DARI INDEKS KEPARAHAN DAN KEDALAMAN KEMISKINAN Kemiskinan menjadi salah satu ukuran