• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Unsur unsur Integrasi Vertikal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Unsur unsur Integrasi Vertikal"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Hukum Persaingan Usaha

ANALISIS UNSUR-UNSUR INTEGRASI VERTIKAL YANG DILARANG

Dosen Pengampu:

Dr. Paramita Prananingtyas, S.H., LLM.

Disusun oleh : Anny Asiatun Danik Rochmawati

Heni Anggraini Halimatus Sa’adah Muhammad Tizar A Muhammad Ridwan

Yayuk Whindari BSU HET-HKI

FAKULTAS HUKUM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada proses produksi ada beberapa tahap yang harus dilalui mulai dari pengumpulan bahan baku sampai menjadi barang setengah jadi kemudian menjadi barang jadi. Proses produksi ini kemudian dilanjutkan dengan distribusi dari distributor sampai ke konsumen akhir. Setiap tahap yang dilalui mengandung margin antara harga dengan biaya produksi. Dengan demikian konsumen akhir akan membayar sebuah produk dengan harga yang merupakan akumulasi biaya produksi dan margin pada setiap tahap yang dilalui.

Integrasi vertikal merupakan perjanjian yang bertujuan untuk menguasai berapa unit usaha yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan/atau jasa tertentu. Integrasi vertikal bisa dilakukan dengan strategi penguasaan unit usaha produksi ke hulu dimana perusahaan memiliki unit usaha hingga kepenyediaan bahan baku maupun ke hilir dengan kepemilikan milik usaha hingga distribusi barang dan jasa hingga kekonsumen akhir.

Integrasi vertikal mampu menurunkan efek negatif berupa membatasi margin ganda sehingga konsumen dapat diuntungkan karena mendapatkan harga lebih murah. Perusahaan juga melalui pemanfaatan efisiensi teknis dan efisiensi biaya akan mendapatkan laba yang lebih besar. Namun demikian integrasi vertikal juga dapat menghambat persaingan usaha, karena dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung pesaing untuk mengakses bahan baku atau jalur distribusi yang dibutuhkan untuk menjual produknya. Dengan kata lain, integrasi vertikal dapat menimbulkan hambatan dalam menciptakan persaingan usaha sehat.

(3)

Penting kiranya untuk menganalisa faktor-faktor apa sajakah yang dapat membuat sebuah integrasi vertikal itu dapat dikatan dilarang karena bersifat anti persaingan usaha. Pada dasarnya beragam alasan terjadinya integrasi vertikal itu, bahkan ada integrasi vertikal yang terbentuk secara alami dalam pasar dikarenakan kebutuhan baik pelaku usaha maupun konsumen untuk meminimalkan margin biaya suatu barang. Oleh karena itulah penulis tertarik untuk membuat makalah ini yang berjudul “Analisis unsur-unsur Integrasi Vertikal yang Dilarang”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, penulis membatasi pembahasan dalam makalah ini dengan perumusan masalah, yakni sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep terjadinya terjadinya integrasi vertikal?

2. Apa saja hal-hal yang akan diperhatikan terkait dengan analisa Integrasi Vertikal yang dilarang?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisa bagaimana latar belakang terjadinya integrasi vertikal.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa apa saja hal-hal yang akan diperhatikan terkait dengan analisa integrasi vertikal yang dilarang.

D. Manfaat Penulisan

Mengenai manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dalam kerangka teoritis diarahkan mempunyai kegunaan sebagai sumbangan pemikiran bagi pemahaman ilmu pengetahuan di bidang hukum yaitu berhubungan dengan hukum acara persaingan usaha serta bagaimana Analisis unsur-unsur Integrasi Vertikal yang dilarang . Sedangkan secara praktis penulisan ini juga bermanfaat bagi masyarakat hukum, baik mahasiswa, akademisi maupun praktisi hukum, semoga dapat menambah referensi dan cakrawala berpikir mereka, demi membangun hukum ke depan ke arah yang lebih baik.

(4)

A. Definisi Integrasi Vertikal

Pada proses produksi ada beberapa tahap yang harus dilalui mulai dari pengumpulan bahan baku sampai menjadi barang setengah jadi kemudian menjadi barang jadi. Proses produksi ini kemudian dilanjutkan dengan distribusi dari distributor sampai ke konsumen akhir. Setiap tahap yang dilalui mengandung margin antara harga dengan biaya produksi. Dengan demikian konsumen akhir akan membayar sebuah produk dengan harga yang merupakan akumulasi biaya produksi dan margin pada setiap tahap yang dilalui. dengan kepemilikan milik usaha hingga distribusi barang dan jasa hingga kekonsumen akhir.

Integrasi vertikal mampu menurunkan efek negatif berupa membatasi margin ganda sehingga konsumen dapat diuntungkan karena mendapatkan harga lebih murah. Perusahaan juga melalui pemanfaatan efisiensi teknis dan efisiensi biaya akan mendapatkan laba yang lebih besar. Namun demikian integrasi vertikal juga dapat menghambat persaingan usaha, karena dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung pesaing untuk mengakses bahan baku atau jalur distribusi yang dibutuhkan untuk menjual produknya. Dengan kata lain, integrasi vertikal dapat menimbulkan hambatan dalam menciptakan persaingan usaha sehat.

Undang-undang Nomor 5 Tahun1999 mengatur mengenai larangan mengadakan perjanjian integrasi vertikal yaitu dalam Pasal 14, sebagai berkut:

“Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelak usaha yang lain yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang terrasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu atau yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan baik dalam rangkaian langsung maupun tidak langsung, yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat.”

(5)

barang tertentu mulai dari hulu sampai hilir atau proses yang berlanjut atas suatu layanan jasa tertentu oleh pelaku usaha tertentu.

B. Konsep Integrasi Vertikal

Dengan merujuk kepada ketentuan dalam peraturan KPPU No 5 Tahun 2010 maka integrasi vertikal merupakan perjanjian yang terjadi antara beberapa pelaku usaha yang berada pada tahap produksi/operasi dan/atau distribusi yang berbeda namun saling terkait.

Mekanisme hubungan antara satu kegiatan usaha dengan kegiatan usaha lainnya yang bersifat integrasi vertikal dalam persfektif hukum persaingan usaha khususnya Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 digambarkan dalam suatu rnagkaian produksi/operasi yang merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan, baik dalam suatu rangkaian langsung maupun tidak langsung.

Mekanisme hubungan kegiatan usaha yang bersifat vertikal tersebut dapat dilihat pada skema produksi sebagai berikut yang menggambarkan hubungan dari atas ke bawah, yang sering disebut dengan istilah dari hulu (upstream) ke hilir (downstream).

Backward Integration

Forward Integration

Gambar 1. Skema Hubungan Vertikal

(6)

Sementara itu kegiatan usaha yang dikategorikan sebagai integrasi vertikal ke hilir adalah apabila kegiatan tersebut mengintegrasikan beberapa kegiatan yang mengarah pada penyediaan produk akhir. Sebagai contoh ketika pelaku usaha yang memproduksi minyak goreng tersebut memutuskan untuk memperluas cakupan usahanya dengan mengintegrasikan kegiatan distribusi minyak goreng dan toko swalayan untuk menjual minyak goreng langsung ke konsumen akhir. Perjanjian yang mengikat antara produsen minyak goreng dengan distributornya serta toko swalayan digolongkan sebagai integrasi vertikal ke hilir.

Perjanjian yang mengikat antar pelaku usaha yang berada pada rangkaian produksi yang berurutan dapat mengambil berbagai macam bentuk. Dalam jangka menengah integrasi vertikal dapat dilakukan pelaku usaha dengan mengikat diri pada:

Pelaku-pelaku usaha yang melakukan integrasi vertikal sebenarnya tidak sedang saling bersaing di dalam pasar bersangkutan bersama, sehingga perjanjian integrasi vertikal tidak memiliki pengaruh anti persaingan secara langsung yang berakibat pada berkurangnya pesaing horisontal.

Sebaliknya, berdadarkan prinsip dasar teori persaingan dan dampak ekonomi, integrasi vertikal umumnya ditujukan untuk meningkatkan efesiensi yang berakibat pada kedekatan kesejahteraan konsumen akhir. Namun sebaliknya dapat pula menciptakan ekonomi biaya tinggi/ineficiency, harga dan keuntungan tidak wajar melalui praktik anti persaingan/monopoli.

C. Alasan Pelaku Usaha Melakukan Integrasi Vertikal

Terdapat beberapa alasan mengapa pelaku usaha melakukan integrasi vertikal, diantaranya:

(7)

Tujuan pelaku usaha melakukan efisiensi melalui integrasi vertikal adalah mencapai harga yang bersaing dari produk atau jasa yang dipasarkan. Efisiensi dari integrasi vertikal dicapai melalui pengurangan penggunaan suatu proses/peralatan teknis (technical efficiency), penghematan biaya transaksi (transaction cost), dan pengurangan marjin ganda (double marginalization) atau secara keseluruhan meniadakan biaya-biaya yang tidak perlu yang sebenarnya dapat dihindari. Keunggulan teknis dapat dicapai melalui perbaikan atau peningkatan teknologi sehingga proses manufaktur atau proses operasi berjalan lebih efisien (penggunaan input yang lebih kecil dengan hasil yang sama) dan atau lebih produktif (menghasilkan output yang lebih besar dengan input yang sama).

Efisiensi lain yang dihasilkan dari integrasi vertikal adalah berkurangnya biaya transaksi yang muncul akibat dari aktivitas transaksi antar tingkatan produksi dan atau distribusi yang berbeda. Dengan melakukan integrasi vertikal, biaya transaksi tersebut dapat diinternalkan sehingga perusahaan dapat melakukan penghematan biaya. Penghematan biaya transaksi tersebut antara lain muncul dari penghematan biaya ekonomi dalam mencari pasokan bahan baku, melakukan negosiasi, kontrak, dan pengawasan terhadap pemasok atau distributor.

Efisiensi juga dapat muncul dari pengurangan marjin ganda yang dilakukan oleh pelaku-pelaku usaha yang berada pada tingkatan produksi dan atau distribusi yang saling terkait. Marjin ganda muncul ketika perusahaan di tiap tingkatan produksi dan atau distribusi yang berbeda menerapkan marjin untuk memaksimumkan keuntungan. Dengan adanya integrasi vertikal marjin ganda dapat dihilangkan dimana marjin hanya diterapkan oleh satu unit bisnis yang telah melakukan integrasi vertikal.

Efisiensi yang dihasilkan dari kegiatan integrasi vertikal ini berdampak pada biaya produksi dan biaya organisasi yang lebih rendah, sehingga pelaku usaha dapat memproduksi barang dan jasa dengan kualitas yang lebih baik dan biaya yang ditanggung masyarakat menjadi lebih rendah. Keuntungan ini akan membuat kesejahteraan konsumen menjadi lebih tinggi, yang merupakan tujuan dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.

(8)

Salah satu tujuan pelaku usaha untuk melakukan integrasi vertikal adalah upaya untuk mengurangi ketidakpastian pasokan bahan baku yang dapat muncul. Pelaku usaha memutuskan untuk melakukan integrasi vertikal ke hulu dengan maksud untuk mengontrol kepastian pasokan bahan baku. Sedangkan keputusan untuk melakukan integrasi vertikal ke hilir diarahkan untuk meningkatkan kontrol atas jejaring distribusi dan pengecer agar akses terhadap konsumen meningkat. c. Pelaku usaha dapat melakukan transfer pricing

Transfer pricing adalah saat pelaku usaha memberikan harga yang lebih rendah kepada perusahaan yang terintegrasi dibawahnya dengan tujuan membuat biaya produksi lebih rendah sehingga akan mengakibatkan harga jual yang lebih rendah dibanding pesaingnya karena biaya produksi yang relatif lebih rendah. Tujuannya adalah menekan biaya yang terjadi di level terbawah (dari unit ritel ke tangan konsumen) yang akan menjadi relatif lebih rendah dibandingkan dengan biaya produk yang tidak berasal dari proses integrasi vertikal. Dari sisi mekanisme, tindakan transfer pricing merupakan aplikasi konsep pengurangan marjin ganda yang telah dijelaskan sebelumnya pada bagian efisiensi. Pengurangan marjin ganda dikategorikan sebagai efisiensi karena menguntungkan konsumen karena konsumen membayar barang dan atau jasa dengan harga yang lebih rendah. Transfer pricing dapat memberikan keuntungan kepada pelaku usaha yang melakukannya karena dapat meningkatkan volume penjualan. Melalui integrasi vertikal, pelaku usaha juga dapat melakukan subsidi silang antara perusahaannya. Manfaat subsidi silang didapat ketika pelaku usaha yang terintegrasi membebankan transfer pricing kepada anak perusahaannya yang berbeda (menjadi lebih murah) dibanding dengan biaya yang dibebankan kepada pelaku usaha yang berada di luar jaringannya. Kerugian akibat pembebanan harga subsidi atau harga yang lebih murah tersebut akan dikompensasi melalui keuntungan penjualan bahan baku ke pelaku usaha yang bukan merupakan jaringan integrasinya. Sementara pelaku usaha yang tidak terintegrasi dengan perusahaan tersebut akan menderita kerugian (riil maupun potensial) akibat adanya subsidi silang yang dilakukan oleh perusahaan pesaing yang terintegrasi tersebut.

(9)

kegiatan integrasi vertikal tidak memiliki dampak langsung terhadap proses persaingan yang sedang berjalan di suatu pasar bersangkutan. Namun demikian dalam beberapa kondisi, integrasi vertikal juga dapat menimbulkan permasalahan persaingan berupa dampak tidak langsung pada pasar bersangkutan tertentu. Dalam perspektif persaingan, perusahaan yang melakukan integrasi vertikal akan lebih mudah mendapatkan kekuatan pasar (market power) karena lebih efisien serta dapat menjadikan harga barang/jasa lebih murah dan adanya jaminan distribusi. Oleh sebab itu perusahaan yang terintegrasi secara vertikal akan mempunyai kemampuan lebih besar untuk menciptakan hambatan bagi pesaingnya untuk masuk pasar. Dampak anti persaingan yang muncul berasal dari penyalahgunaan market power yang meningkat dan peningkatan potensi koordinasi melalui harga ataupun output. Dampak anti persaingan yang muncul dari integrasi vertikal akan dibandingkan

dengan efisiensi dan keuntungan lain yang dihasilkan. Tindakan pengaturan akan diambil jika terbukti kegiatan integrasi vertikal menghasilkan dampak anti-persaingan yang lebih besar dibanding efisiensi dan keuntungan lainnya, sehingga menurunkan kesejahteraan konsumen akhir

D. Pengaturan Mengenai Integrasi Vertikal

Selain ketentuan dalam Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 pengaturan mengenai integrasi vertikal dapat juga ditemukan pada berbagai pasal lainnya dalam undang-undang tersebut, yaitu:

1. Pasal 15 mengenai perjanjian tertutup. Integrasi vertikal dapat dianggap melanggar ketentuan dalam Undang-undang Antimonopoli apabila perjanjian tersebut mengakibatkan terjadinya pelanggaran terhadap Pasal 15 yang memuat ketentuan bahwa pihak yang menerima barang dibatasi dalam hal mendistribusikan barang dan jasa atau diwajibkan membeli barnag tersebut.

(10)

3. Pasal 26, dimana integrasi vertikal dapat dilakukan melalui rangkap mnguntungkan konsumen akhir. Namun, dilain pihak perjanjian integrasi vertikal juga dapat digunakan pelaku usaha dalam menguasai produksi suatu barang, baik dari hulu maupun hilir yang merupakan sikap anti persaingan usaha. Artinya perjanjian integrasi vertikal tidak serta merta dapat dipersalahkan, kecuali memiliki dampak anti persaingan usaha yang lebih besar dibanding dampak positif yang dihasilkannya.

Penguasaan produksi suatu produk dapat diartikan sebagai usaha dari pelaku usaha untuk menguasai pasar. Terdapat dua kegiatan penguasaan pasar yang paling terkait dengan perjanjian integrasi vertikal yang dilarang, yaitu:

1. Menolak dan/atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang bersangkutan; 2. Melakukan praktik diskriminisasi terhadap pelaku usaha tertentu.

Integrasi vertikal dapat mempengaruhi kinerja pasar dengan cara mempengaruhi persaingan, baik dengan perusahaan yang sudah ada di pasar atau perusahaan potensial yang akan masuk ke pasar. Integrasi vertikal dapat menghasilkan hambatan untuk masuk ke pasar apabila tingkat dari integrasi vertikal sangat besar, sehingga pendatang baru pada suatu pasar hilir harus masuk ke pasar hulu secara bersamaan.

Perusahaan yang melakukan integrasi vertikal dapat membatasi harga sebesar biaya produksi bahan bakunya, sehingga menghalangi masuknya pemain baru ke pasar, misalnya dengan memperbesar kapasitas pasar. Ketika perusahaan potensial yang akan masuk dapat dihalangi maka harga dapat diset ulang dengan tingkat harga lebih tinggi. Dengan demikian kinerja pasar akan menurun, karena terhalangnya pesaing potensial yang seharusnya masuk ke pasar.

(11)

Integrasi vertikal dapat memiliki dampak positif yang dihasilkan dari efisiensi dan dampak negatif yang dihasilkan dari perilaku anti persaingan usaha. Analisis terhadap dampak anti persaingan usaha yang ditimbulkan oleh perjanjian integrasi vertikal harus dilakukan secara hati-hati dan seksama. Untuk membuktikan dugaan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, akan melakukan beberapa tahapan pengujian. Prinsip pengujian yang dilakukan melalui analisis 3 tahap, yaitu: (1) analisis kemampuan, (2) analisis insentif, (3) analisis dampak konsumen.

Adapun dampak anti persaingan usaha yang muncul dari integrasi vertikal sebagai berikut:

a. Dampak Unilateral

Penutupan akses bagi perusahaan asing merupakan bagian dari strategi meningkatkan biaya pesaing. Dengan meningkatnya biaya yang harus ditanggung perusahaan pesaing, maka perusahaan pesaing harus menaikan harga produknya. Penutupan akses ini dapat diakukan melalui strategi penutupan akses terhadap pasokan bahan baku penting. Penutupan akses juga dapat dilakukan terhadap perusahaan yang berperan sebagai pembeli. Penutupan akses di sektor hilir ini ditujukan sebagai bagian strategi penurunan penjualan pesaing.

b. Dampak Koordinasi

Integrasi vertikan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk melakukan koordinasi, baik melalui harga, output, kapasitas maupun kualitas.

Dengan demikian kegiatan integrasi vertikal dapat dilarang menurut ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, yaitu:

a. Integrasi vertikal yang menutup akses terhadap pasokan barang penting,

b. Integrsi vertikal yang menutup akses terhadap pembeli utama,

c. Integrasi vertikal yang digunakan sebagai sarana untuk koordinasi kolusi.

G. Hal-hal yang Diperhatikan Terkait dengan Analisa Integrasi Vertikal yang Dilarang.

Berdasarkan peraturan KPPU Nomor 5 Tahun 2010, terdapat hal-hal yang akan diperhatikan terkait dengan analisa pelarangan integrasi vertikal sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, yaitu sebagai berikut

(12)

Pada analisa pelarangan integrasi vertikal, pemahaman mengenai struktur pasar dan posisi perusahaan yang terkait dalam perjanjian integrasi vertikal dalam sebuah pasar merupakan langkah pertama yang akan dilakukan oleh Komisi.

Komisi akan memulai analisis dengan menitikberatkan pada strutur pasar dan aspek pasar lainnya yang berkaitan dengan perolehan dan pengelolaan market power. Unsur-unsur pasar yang menjadi pokok analisis sebagai berikut, namun tidak terbatas pada:

1. Pasar

Besarnya market power yang dimiliki oleh suatu perusahaan dapat dilihat dari besarnya penguasaan pasar oleh perusahaan tersebut. Indikator penguasaan pasar terletak pada besarnya pangsa pasar perusahaan di pasar bersangkutan. Untuk menilai seberapa besar tingkat dominasi yang dimiliki oleh perusahaan yang terintegrasi vertikal diperlukan pendefinisian pasar bersangkutan yang tepat. Cakupan pasar yang bersangkutan dapat dilihat dari dimensi produk dan dimensi wilayah.

2. Tingkatan hambatan masuk

Market power yang dimiliki oleh perusahaan juga dapat dinilai dengan tingkat hambatan masuk ke dalam pasar. Jika perusahaan potensi dapat masuk ke dalam pasar tanpa kesulitan , maka perusahaan potensial dapat menjadi pesaing perusahaan dominan yang ada di pasar. Hal itu akan membatasi penyalahgunaan posisi dominan . perjanjian integrasi vertikal akan menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat apabila perusahaan yang terintegrasi vertikal tersebut melakukan perbuatan yang menghambat masuknya perusahaan potensial ke dalam pasar. 3. Karakteristik produk dan biaya

Unsur yang menjadi pokok analisa misalnya apakah input yang terintegrasi vertikal adalah input yang sangat penting , apakah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh input tersebut mendominasi penentuan harga pokok penjualan, dan apakah terdapat alternatif lain untuk mendapatkan input tersebut.

b. Analisis biaya dan manfaat

(13)

Analisis biaya manfaat yang diperoleh perusahaan, diperlukan untuk melihat apakah strategi yang dilakukan perusahaan yang terintegrasi vertikal untuk mengurangi tingkat persaingan usaha di pasar secara ekonomi adalah rasional. Dalam hal ini komisi akan melakukan analisis biaya manfaat ini untuk menilai apakah perusahaan yang terintegrasi vertikal mempunyai insentif untuk melakukan tindakan penutupan akses terhadap input.

(14)

BAB III KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah sebagai berikut:

1. Dengan merujuk kepada ketentuan dalam peraturan KPPU No 5 Tahun 2010 maka integrasi vertikal merupakan perjanjian yang terjadi antara beberapa pelaku usaha yang berada pada tahap produksi/operasi dan/atau distribusi yang berbeda namun saling terkait. Mekanisme hubungan antara satu kegiatan usaha dengan kegiatan usaha lainnya yang bersifat integrasi vertikal dalam persfektif hukum persaingan usaha khususnya Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 digambarkan dalam suatu rnagkaian produksi/operasi yang merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan, baik dalam suatu rangkaian langsung maupun tidak langsung.Mekanisme hubungan kegiatan usaha yang bersifat vertikal tersebut dapat dilihat pada skema produksi sebagai berikut yang menggambarkan hubungan dari atas ke bawah, yang sering disebut dengan istilah dari hulu (upstream) ke hilir (downstream).

2. Berdasarkan peraturan KPPU Nomor 5 Tahun 2010, terdapat hal-hal yang akan diperhatikan terkait dengan analisa pelarangan integrasi vertikal sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, yaitu sebagai berikut

a. Analisa Struktur

Pada analisa pelarangan integrasi vertikal, pemahaman mengenai struktur pasar dan posisi perusahaan yang terkait dalam perjanjian integrasi vertikal dalam sebuah pasar merupakan langkah pertama yang akan dilakukan oleh Komisi.

(15)

dan pengelolaan market power. Unsur-unsur pasar yang menjadi pokok analisis sebagai berikut, namun tidak terbatas pada:

1. Pasar

Besarnya market power yang dimiliki oleh suatu perusahaan dapat dilihat dari besarnya penguasaan pasar oleh perusahaan tersebut. Indikator penguasaan pasar terletak pada besarnya pangsa pasar perusahaan di pasar bersangkutan. Untuk menilai seberapa besar tingkat dominasi yang dimiliki oleh perusahaan yang terintegrasi vertikal diperlukan pendefinisian pasar bersangkutan yang tepat. Cakupan pasar yang bersangkutan dapat dilihat dari dimensi produk dan dimensi wilayah.

2. Tingkatan hambatan masuk

Market power yang dimiliki oleh perusahaan juga dapat dinilai dengan tingkat hambatan masuk ke dalam pasar. Jika perusahaan potensi dapat masuk ke dalam pasar tanpa kesulitan , maka perusahaan potensial dapat menjadi pesaing perusahaan dominan yang ada di pasar. Hal itu akan membatasi penyalahgunaan posisi dominan . perjanjian integrasi vertikal akan menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat apabila perusahaan yang terintegrasi vertikal tersebut melakukan perbuatan yang menghambat masuknya perusahaan potensial ke dalam pasar. 3. Karakteristik produk dan biaya

Unsur yang menjadi pokok analisa misalnya apakah input yang terintegrasi vertikal adalah input yang sangat penting , apakah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh input tersebut mendominasi penentuan harga pokok penjualan, dan apakah terdapat alternatif lain untuk mendapatkan input tersebut.

b. Analisis biaya dan manfaat

Ada dua analisis biaya dan manfaat yang dipergunakan; pertama, analisis biaya manfaat yang difokuskan pada biaya dan manfaat yang diperoleh perusahaan; kedua, analisis niaya dan manfaat yang diperoleh oleh masyarakat.

(16)

Analisis biaya manfaat yang diperoleh oleh masyarakat dilakukan untuk menilai apakah tindakan anti persaingan usaha yang dilakukan oelh perusahaan yang terintegrasi vertikal memiliki dampak anti persaingan usaha lebih besar dibanding dampak positif yang muncul dari adanya efisiensi. Analisis ini terutama ditujukan untuk melihat apakah perusahaan yang terintegrasi vertikal telah melakukan perbuatan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat dan/atau merugikan masyarakat.

(17)

http://www.kppu.go.id/docs/Pedoman/draft_pedoman_larangan_integrasi_vertik al.pdf

Rahadi Usma, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia. Sinar Grafika, Jakarta: 2013.

Referensi

Dokumen terkait

Consider Urban Flooding Atlantic City, New Jersey, US... One Neighborhood

Olahraga adalah gerakan-gerakan yang dapat menyehatkan tubuh.Dengan olahraga tubuh akan merasa segar dan bugar. Oleh karena itu, olahraga sangat penting dalam kehidupan ini.

12). Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial, 15). Program  Keserasian  Kebijakan   Peningkatan  Kualitas Anak dan Perempuan..

• Oleh yang demikian, kehilangan sumber pendapatan negara ekoran kejatuhan harga minyak akan ditampung melalui kos operasi kerajaan (seperti subsidi minyak) yang berkurangan...

Berdasarkan tabel 4.15 dapat dilihat bahwa variabel dewan komisaris memiliki nilai t hitung -2,060 dengan signifikansi sebesar 0,040 lebih rendah dari 0,05 yang

Penggunaan Susu Bubuk Afkir sebagai Suplemen pada Pakan Komersial terhadap Karkas dan Persentase Lemak Abdominal Ayam Broiler Jantan. Pengaruh Pemberian Ragi Tape pada Tepung

Adanya permasalahan seperti itu, pengasuh mengambil tindakan untuk penguatan mentalitas mereka seperti membangun pengetahuan, pengalaman, skill , moralita dll. Adanya

Didasari atas latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana praktek subordinasi pada WhatsApp Group serta hal-hal yang melatarbelakangi penghuni