• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kebijakan Pemerintah Tentang La

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Kebijakan Pemerintah Tentang La"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG

LARANGAN EKSPOR BAHAN MENTAH TERHADAP

AKTIVITAS BISNIS PERUSAHAAN

Oleh : Laura Catherine Rawung

A. PENDAHULUAN

Undang–undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara khususnya pasal 170 menyebutkan bahwa dimulai bulan Januari tahun 2014 perusahaan tambang wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil tambangnya terlebih dahulu di dalam negeri sebelum diekspor ke luar negeri. Hal ini berarti ekspor bahan tambang yang masih dalam bentuk bahan mentah dimulai tahun 2014 sudah tidak diperbolehkan lagi. Larangan ekspor sumber daya alam (SDA) dalam bentuk mentah ini selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 sebagai tindak lanjut sekaligus aturan turunan dari Undang-undang tersebut. Larangan ekspor ini merupakan salah satu kebijakan politik pemerintah untuk melindungi sumber daya alam Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pemerintah tersebut akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas bisnis perusahaan khususnya perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan pertambangan mineral dan batubara .

(2)

yakni kebijakan untuk meningkatkan sektor ekonomi, menjami hak-hak ekonomi yang sama yang menekankan kepada ekonomi rakyat untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan berkeadilan untuk kemakmuran rakyat.

B. PEMBAHASAN

Melalui Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, perusahaan pertambangan berkewajiban untuk melakukan pengolahan dan pemurnian hasil tambangnya terlebih dahulu di dalam negeri sebelum diekspor ke luar negeri. Peraturan larangan ekspor bahan tambang mentah ini harus dimulai 5 tahun setelah undang-undang tersebut dikeluarkan pada bulan Januari tahun 2009, sehingga peraturan larangan ini dimulai bulan Januari tahun 2014. Kewajiban pengolahan dan pemurnian bahan tambang mentah di dalam negeri ini selanjutnya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri. Pemberlakuan undang-undang tersebut diikuti oleh Peraturan Menteri ESDM, Peraturan Menteri Perindustrian dan Peraturan Menteri Keuangan untuk hal-hal operasional di lapangan. Penerapan Undang-undang ini selain bertujuan untuk melindungi sumber daya alam Indonesia, tetapi juga untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia, karena perusahaan pertambangan diwajibkan membangun pabrik pengolahan atau smelter di dalam negeri. Dengan dibangunnya pabrik-pabrik pengolahan bahan tambang maka akan terbuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.

(3)

Pemberlakuan larangan ekspor bahan mentah tersebut diharapkan dapat mengatasi lonjakan impor bahan baku dan bahan penolong. Contohnya, Indonesia mengekspor bauksit kemudian mengimpornya kembali dalam bentuk alumina yang digunakan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk memproduksi aluminium batangan. PT Krakatau Steel, Tbk mengimpor bahan baku besi dan baja. Industri petrokimia juga masih tergantung pada bahan baku impor. Bahkan per September 2013, impor petrokimia menguras devisa sebesar US$ 16 miliar. Hampir 80 persen industri besi dan baja Indonesia masih mengandalkan scrap

impor. Indonesia mengimpor 500 ribu ton bahan baku alumina per tahun dan impor produk tembaga sebesar US$ 1,28 miliar. Sehingga dengan melakukan pengolahan sendiri atas bahan tambang menjadi bahan baku, maka dapat mengurangi beban pemerintah terhadap impor bahan baku. Indonesia juga dikenal sebagai eksportir terbesar dunia untuk timah halus, batubara termal dan emas sekaligus tambang tembaga nomor lima terbesar dunia. Ekspor mineral pada tahun 2012 total bernilai 10,4 milyar dollar, sekitar lima persen dari total nilai ekspor Indonesia. Pada periode 2008 – 2011 ekspor bijih bauksit mencapai 40 juta ton, bijih besi 13 juta ton, bijih nikel 33 juta ton dan tembaga 14 juta ton. Indonesia sebagai pemasok sumber daya alam terbesar dunia, menghentikan semua ekspor bijih mineral mentah sebagai upaya untuk mempromosikan pengolahan domestik.

Pemberlakuan undang-undang ini tentunya akan berpengaruh bagi perusahaan-perusahaan tambang dalam negeri yang selama ini melakukan ekspor bahan tambangnya dalam bentuk mentah ke luar negeri. Di antara perusahaan – perusahaan tersebut adalah Freeport-McMoRan Copper & Gold (PT. Freeport Indonesia) serta Newmont Mining Corp. (PT. Newmont Nusa Tenggara) yang melakukan penambangan tembaga, bijih besi, timbal dan seng, juga PT. Aneka Tambang (Antam) sebagai perusahaan tambang bauksit dan nikel milik pemerintah serta ratusan perusahaan tambang bauksit, nikel, timah, kromium, emas, perak dan mineral lainnya juga perusahaan-perusahaan batubara.

(4)

terpaksa mengurangi atau menutup operasinya, yang berakibat ribuan pekerja tambang diberhentikan sejak adanya larangan pemerintah tersebut.

Freeport dan Newmont mengajukan keberatan atas diberlakukannya UU Mineral dan Batubara tersebut. Melalui pertemuan-pertemuan intensif yang dilakukan Freeport dan Newmont dengan Pemerintah, selanjutnya pemerintah mengeluarkan kebijakan melakukan penangguhan dan perpanjangan ekspor tembaga, bijih besi, timbal dan seng yang terkonsentrasi sampai dengan tahun 2017 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6/PMK.011/2014 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. Peraturan perubahan tersebut secara signifikan menurunkan persyaratan minimum untuk pengolahan tembaga, mangan, timah, seng dan bijih besi untuk diolah dalam bentuk konsentrat. Dengan perpanjangan ekspor bahan mentah tersebut, maka 66 perusahaan termasuk Freeport dan Newmont, diperbolehkan untuk melanjutkan ekspor dengan syarat perusahaan tambang wajib memberikan jaminan akan membangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri (smelter), membayar jaminan kesungguhan sebesar 5 persen dari nilai investasi pembangunan smelter, serta telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) amandemen kontrak pertambangan. Freeport bekerjasama dengan Newmont dan Aneka Tambang berencana membangun smelter di Gresik, Jawa Timur, berkapasitas 400.000 ton tembaga dan 1,6 juta ton bijih besi per tahun dengan nilai investasi diperkirakan 2,3 miliar dolar AS. Sehingga setelah sempat menghentikan ekspor antara bulan Januari sampai dengan Juni 2014, pada bulan Juli 2014 Freeport kembali melanjutkan ekspor konsentrat tembaga. Pemerintah mengeluarkan ijin ekspor kepada Freeport untuk bulan Juli 2014 sampai Januari 2015 dengan kuota ekspor sebesar 756.300 ton konsentrat tembaga. Newmont juga kembali melanjutkan kegiatan operasi tambangnya secara normal dan melakukan ekspor konsentrat tembaga pada bulan September 2014.

(5)

tinggi, dimana seharusnya kedua perusahaan tersebut tidak mendapat bea keluar, dengan alasan bahwa Freeport dan Newmont telah melakukan pengolahan bijih tembaga di smelter

PT. Smelting. Peraturan ini dimaksudkan sebagai disinsentif supaya perusahaan tambang tersebut membangun instalasi pengolahan atau smelter di dalam negeri. Menteri Keuangan Chatib Basri menegaskan bahwa jika smelter sudah dibagun perusahaan, minimal ditandai dengan groundbreaking, maka otomatis pajak ekspor tidak dikenakan lagi.

C. KESIMPULAN

Faktor politik merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas bisnis perusahaan. Contohnya adalah pemberlakuan undang-undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang membuat perusahaan-perusahaan tambang mineral dan batubara tidak lagi dapat melakukan ekspor bahan mentah ke luar negeri melainkan harus melakukan pengolahan (smelter) tambang di dalam negeri terlebih dahulu sebelum diekspor. Beberapa perusahaan terpaksa mengurangi atau menutup operasi tambangnya dan memberhentikan karyawannya.

Kebijakan pemerintah tentang larangan ekspor bahan tambang mentah ini selain bertujuan untuk melindungi sumber daya alam Indonesia, juga untuk meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia, mengurangi beban impor bahan baku, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia melalui pembangunan perusahaan pengolahan dan pemurnian bahan tambang. Kebijakan larangan ekspor tersebut merupakan langkah pemerintah untuk kepentingan rakyat dan negara Indonesia demi tercapainya demokrasi ekonomi Indonesia.

(6)

D. SARAN

Pemerintah Indonesia sebaiknya bersikap tegas dalam menjalankan peraturan yang telah dikeluarkan yang mendukung kepentingan rakyat, dan tidak bersikap lunak atau mudah terpengaruh dari pendekatan, ancaman atau lobi-lobi bisnis yang dilakukan perusahaan besar yang hanya mencari keuntungan perusahaan semata dan kepentingan negara asalnya.

(7)

REFERENSI

______. “Pengertian Politik Menurut Para Ahli”. Diunduh pada tanggal 28 Maret 2015 dari

http://fatih-io.biz/pengertian-politik-menurut-para-ahli.html.

Undang–undang Republik Indonesia No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1 Tahun 2014 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di Dalam Negeri.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.011/2014 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan menteri Keuangan Nomor 75/PMK.11/2012 Tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

______. 2014. “Larangan Ekspor Bahan Mentah akan Diperluas”. Diunduh pada tangggal 15

Maret 2015 dari

http://www.kemenperin.go.id/artikel/8245/Larangan-Ekspor-Bahan-Mentah-akan-Diperluas.

______. 2014. “Kontroversi seputar larangan ekspor bahan mineral mentah”. Diunduh pada tanggal 15 Maret 2015 dari http://www.merdeka.com/uang/4-kontroversi-seputar-larangan-ekspor-bahan-mineral-mentah.html.

(8)

Wicaksono, Pebriant Eko. 2014. “Ahli Metalurgi: Larangan Ekspor Mineral Jangan Ditunda”. Diunduh pada tanggal 03 April 2015 dari http://www.liputan6.com/ bisnis/read/793802/ahli-metalurgi-larangan-ekspor-mineral-jangan-ditunda.

Gera, Iris. 2014. Pemerintah akan Tinjau Kebijakan untuk Freeport dan Newmont. Diunduh pada tanggal 28 Maret 2015 dari http://www.voaindonesia.com/content/pemerintah-akan-tinjau-kebijakan-untuk-freeport-dan-newmont/1926199.html.

Referensi

Dokumen terkait

Cal on Peser ta Pel el angan yang ber minat wajib menyampaikan Pakta Integr itas sesuai dengan For mulir yang ter dapat dalam Dokumen Kualifikasi.. Hal – hal yang

Penelitian ini dilaksanakan di Badan Pusat Statistik Jakarta, metode yang digunakan adalah metode jaringan dengan sistim berbasis LAN dengan menggunkan 4 komputer, dimana 1

Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2017 Berdasarkan tabel IV.10 diketahui bahwa nilai F hitung sebesar 2,727 dengan nilai signifikan 0,041 (0,041 < 0,05)

Perasan buah strawberry dapat menurunkan kadar asam urat antara lain karena adanya kandungan flavonoid, dengan mekanisme menghambat kerja enzim xantin oksidase

(2012) menunjukkan bahwa pengkajian komunitas kupu-kupu secara spasial (berdasarkan perbedaan lokasi) serta temporal (berdasarkan perbedaan periode) memberikan informasi

“Pengaruh Kinerja Keuangan TErhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Coporate Social Responsibility Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Perusahaan MAnufaktur yang Terdaftar

Berdasarkan penelitian yang dilakukan ibu yang bekerja memiliki lebih banyak waktu diluar dibandingkan dengan ibu rumah tangga atau ibu yang tidak bekerja, hal seperti ini

Misalnya penumpang pesawat dari luar negeri yang turun di Terminal 2 Bandara Narita dan ingin menuju Kota Tokyo dapat berjalan menuju Narita Airport Terminal 2·3 Station jika