INANG “INOVASI ALAT PENGUTIP” BERONDOLAN PADA PELEPAH POHON KELAPA SAWIT UNTUK EFESIENSI PENGUTIPAN
BERONDOLAN SAWIT
Diusulkan oleh : Dedi Firmansyah/011.15.006 Kohan Pandongani/011.15.017
INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG KOTA DELTAMAS
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Tulisan : Inang “Inovasi Alat Pengutip” Berondolan Pada Pelepah Pohon Kelapa Sawit Untuk Efesiensi Pengutipan Berondolan Sawit 2. Ketua
Nama Lengkap : Dedi Firmansyah
Jurusan/Fakultas : Teknologi Pengolahan Sawit/Diploma Institut : Institut Teknologi dan Sains Bandung
Alamat Rumah : Cluster El Verde G2, Kota Delatmas, Cikarang Nomor ponsel/HP : 082112631097
Email : [email protected] 3. Anggota Penulis
Nama Lengkap : Kohan Pandongani
NIM/Jurusan/Fakultas : 011.15.017/Teknologi Pengolahan Sawit/Diploma 4. Dosen Pembimbing
Nama Lengkap dan Gelar: Listiana Oktavia S.Si, MSc NIP : 19901007201606154
Alamat Rumah : Jalan Cisitu Baru No 42, Bandung Nomor Ponsel/HP : 081220495637
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Inang “Inovasi Alat Pengutip” Berondolan Pada Pelepah Pohon Kelapa Sawit Untuk Efesiensi Pengutipan Berondolan Sawit” untuk mengikuti lomba NATCOM 1.0 (National
Appropriate Technology Competition) yang diadakan oleh Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin pada tahun 2017. Adapun tema dari perlombaan ini adalah “Inovasi Tennologi Tepat Guna Menuju Masyarakat Teknologi Berbasis Madani”.
3. Essa Bella Martheana dan Jeremi Jamski Purba yang telah membantu dalam pembuatan desain produk pada karya tulis ilmiah ini.
4. Saudara Daniel Mordekhai Samjar yang telah membantu dalam menyediaan transportasi survei material.
5. Saudara Mahmud Husain Mubarok yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.
Kami sangat menyadari karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan, karna itu kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan guna perbaikan dalam penulisan karya tulis ilmiah yang selanjutnya. Kiranya karya tulis ilmiah ini dapat berguna untuk perkembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat madani di Indonesia.
Cikarang,20 Maret 2017
DAFTAR ISI
2.2 Proses Panen Buah Kelapa Sawit……….3
ABSTRAK
Dedi Firmansyah, Kohan Pandongani. 2017.
Buah kelapa sawit adalah penghasil CPO (Crude Palm Oil) dan merupakan salah satu komoditas unggul Indonesia. Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Namun besarnya luas wilayah perkebunan di Indonesia belum diimbangi dengan teknologi yang mumpuni terutama dalam hal pengambilan buah sawit dari areal perkebunan. Salah satu jenis kegiatan pada proses panen buah kelapa sawit yang kurang efisien adalah pengutipan berondolan pada sela-sela pohon kelapa sawit yang berusia 3-8 tahun. Total berondolan yang menempel pada sela – sela pelepah pohon kelapa sawit dapat mencapai sekitar 10% - 20% dari total berondolan yang lepas pada buah matang. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peningkatan efisiensi pengutipan berondolan yang tersangkut sangat penting guna meningkatkan produksi dan mengurangi kerugian.
Pada umumnya pengutipan berondolan yang tersangkut ini dilakukan oleh kaum wanita dengan bantuan tongkat besi yang bengkok pada ujungnya, dengan tongkat tersebut berondolan dijatuhkan ke tanah dengan cara dicungkil kemudian dikumpulkan dengan tangan. Kajian ini berfokus pada inovasi pengutipan berondolan dengan menambah pegas dan jaring pada tongkat pengutip tersebut. Berondolan yang tersangkut di sela – sela pelepah kelapa sawit akan dicungkil dan jatuh pada jaring yang sudah di tambahakan pada alat pengutip. Pegas berfungsi sebagai pengatur gerak dari tongkat pengutip yang akan memudahkan proses pengutipan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang di lalui oleh garis khatulistiwa. Hal ini membuat indonesia memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang melimpah di sepanjang tahun tahun. Potensi alam ini menjadikan sebagian besar tanah indonesia cocok di jadikan lahan pertanian. Pertanian di indonesia sendiri telah berkembang sangat lama dan menjadi kawasan pertanian yang menghasilkan beberapa komoditas ekspor yang sangat di butuhkan oleh negara-negara yang lain. Pengembangan bidang pertanian sebagai penunjang ekonomi masyarakat di indonesia di aplikasikan dengan pertanian dalam skala besar atau yang sering kita sebut dengan istilah perkebunan.
Indonesia adalah negara yang memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Tercatat dari data statisitik Direktorat Jendral Perkebunan tahun 2014-2016, Indonesia memiliki luas total perkebunan kelapa sawit 11.672.861 ha. Luas wilayah perkebunan sawit yang sangat luas menjadikan indonesia sebagai produsen minya sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data Direktorat Jendral Perkebunan Department Pertanian RI ( 2016 ), total produksi minyak sawit kasar
(crude palm oil atau CPO) dan minyak kernel sawit ( Palm Kernel Oil atau PKO
) Indonesia yag di ekspor tahun 2016 sekitar 20,32 juta ton, dengan volume ekspor sebesar ini pada tahun 2016 perkebunan kelapa sawit menghasilkan 12,74 juta US$. Dengan sedemikian besarnya volume produksi dan ekspor CPO dan PKO Indonesia ,maka upaya peningkatan efesiensi serta penanganannya perlu terus di lakukan. Namun, dengan produktifitas dan luas lahan yang besar tidak di imbangi dengan penerapan teknologi yang mumpuni untuk menunjang efesiensi kerja yang lebih, khususnya di dalam proses pemanenan buah kelapa sawit. Sebagian besar petani kelapa sawit di indonesia masih menggunakan cara konvensional untuk mengambil buah kelapa sawit dan berondolan yang terlepas dari tandan dan tersangkut di sela – sela pelepah sawit. Sehingga waktu dan tenaga yang dikeluarkan besar.
memodifikasi alat kutip yang telah ada dengan menambah pegas keranjang guna mempercepat proses pengutipan berondolan sisa dan akan berakibat pada peningkatan produksi minyak.
1.2Batasan Masalah
Penulisan karya ilmiah ini terbatas dalam pembahasan masalah mengenai alat pengutip berondolan kelapa sawit yang tersangkut di sela-sela pelepah.
1.3Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari karya tulis ilmiah ini adalah 1. Bagaimana desain “INANG” dalam karya tulis ini?
2. Apa material yang di gunakan dalam pembuatan “ INANG “? 3. Bagaimana cara kerja “ INANG” ?
1.4Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah :
1. Memodifikasi alat pengutip berondolan yang digunakan masyarakat petani sawit
2. Meningkatkan efesiensi dalam proses pengutipan berondolan sawit
1.5Manfaat Penulisan
Manfaat dari karya tulis ilmiah ini adalah :
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk tumbuhan kelas Angiospermae, ordo Cocoideae, famili Palmae, dan genus Elaeis (Harley). Menurut Pahan (2010), ada beberapa spesies dalam genus ini antara lain
Elaeis guineensis, Elaeis melanococca dan Elaeis odora (tidak ditanam di
Indonesia). Klasifikasi tanaman kelapa sawit menurut Lubis (1992) adalah : Kingdom : Plantae
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.
Kelapa sawit merupakan ordo Cocoideae yang paling besar habitusnya. Organ tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif. Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi akar, batang dan daun, sedangkan generatif yang merupakan alat perkembangbiakan terdiri dari bunga dan buah (Purwanto, 2009).
2.2Proses Panen Buah Kelapa Sawit
mempengaruhi kuantitas produksi (ekstrasi), sedangkan waktu panen yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi (Pahan, 2010).
Kegiatan panen meliputi pemotongan TBS, pengutipan berondolan, dan pemotongan pelepah. Jumlah buah yang terluka diusahakan seminimal mungkin pada proses pemotongan TBS, pengangkutan ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) maupun pengangkutan ke dump truck, berondolan juga dijaga supaya buah tidak kotor karena tanah atau debu. Pengutipan berondolan harus dilakukan karena berondolan juga akan diolah menjadi Minyak Kelapa Sawit (MKS). Pemotongan pelepah tidak disarankan untuk tanaman yang masih rendah (panen dengan dodos). Untuk tanaman tinggi (panen dengan egrek) pelepah harus dipotong untuk mencegah tersangkutnya berondolan dan menghindarkan kesulitan pemanenan atau tunas berikutnya.
Gambar 1. proses pemotongan pelepah pohon kelapa sawit Sumber : Setyamidjaja, D.1991. Budidaya Kelapa Sawit
ALB yang terlalu tinggi, maka buah yang telah dipanen harus diproses dengan kurun waktu tidak lebih dari 8 jam setelah TBS tersebut dipanen.
Dalam keadaan yang optimal, proses produksi kelapa sawit dapat mencapai 20-25 ton TBS/ha/tahun atau sekitar 4-5 ton minyak sawit. Gambaran umum produksi minyak sawit mentah (CPO) dan munyak inti sawit (PKO) per hektar. Sebagai gambaran produksi TBS, minyak sawit dan inti sawit berbagai umur tanaman per hektar, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkiraan produksi TBS, minyak sawit dan inti sawit pada berbagai umur tanaman kelapa sawit
2.3Proses Pengutipan Berondolan
Gambar 2. Berondolan pada sela – sela pelepah pohon kelapa sawit sumber : www.ipni.net
Gambar 3. Proses pemanenan berondolan pada sela – sela pelepah pohon kelapa sawit
disebelah TBS pada TPH (tempat pengumpulan hasil). Pengutipan brondolan pada saat pemanenan harus dilakukan dengan seksama karena brondolan memiliki rendemen minyak yang tinggi. Berikut adalah gambar proses pengutipan berondolan yang berada di tanah dan di sela – sela pelepah:
Gambar 4. Proses pengutipan berondolan 2.4Faktor Kerugian Saat Panen
Pada perkebunan sawit rakyat, permasalahan umum pemanenan buah sawit
adalah rendahnya produktivitas dan mutu produksinya. Produktivitas kebun sawit
rakyat rata-rata adalah 16 ton TBS per ha, sementara potensi produksi bila
menggunakan bibit unggul sawit bisa mencapai 30 ton TBS/ha. Produktivitas CPO
(Crude Palm Oil) perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 5 ton CPO per ha dan
0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha, sementara di perkebunan negara rata-rata
menghasilkan 4,82 ton CPO per hektar dan 0,91 ton PKO per hektar, dan
perkebunan swasta rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton
PKO per hektar.
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut
adalah karena teknologi penghasil kelapa sawit yang diterapkan masih sederhana,
mulai dari pembibitan sampai dengan panennya. Dengan penerapan teknologi
budidaya yang tepat, maka jumlah produksi minyak kelapa sawit berpotensi untuk
Jenis peralatan yang digunakan pada proses pemanenan akan berdampak pada jumlah produksi. Banyaknya kehilangan bahan baku saat panen terutama untuk pohon tua yang terlalu tinggi sehingga pemanen sering melewati pokok yang alat panennya tidak dapat mencapai TBS tersebut.
Faktor lahan juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kehilangan produksi. Contohnya adalah kondisi lahan yang banyak ditumbuhi semak (gulma) di daerah piringan ataupun pasar pikul, sehingga pemanen terkadang lalai untuk masuk ke lahan untuk mengutip brondolan.
Faktor keadaan tanaman juga dapat menyebabkan kehilangan produksi. Faktor ini dapat menyebabkan kehilangan produksi seperti tanaman under
pruning ataupun masih adanya pelepah sengkleh. Pelepah sengkleh umumnya
BAB III
PEMBAHASAN
3.1Inovasi Alat Pengutip
INANG (inovasi alat pengutip) adalah modifikasi dari alat pencungkil yang biasa digunakan untuk mengeluarkan berondolan dari sela – sela pelapah pohon kelapa sawit. Ide pembuatan alat ini terinsiprasi dari kurangnya efisiensi kerja alat pencungkil yang ada saat ini, pada alat tersebut, tenaga yang di butuhkan lebih besar karna buah yang sudah dicungkil kemudian dikutip kembali dengan tangan, tetapi dengan INANG ini kerja yang ditimbulkan lebih sedikit dibanding alat konvensional karna buah yang dicungkil langsung masuk pada jaring dan tidak diperlukan pengutipan lagi.
3.2Desain dan Penggunaan Material
Desain INANG ini terdiri dari beberapa komponen yaitu tongkat utama, tabung, pegas, jaring. Pemilihan material dari masing – masing komponen adalah material yang mudah didapatkan atau pasaran agar INANG ini menjadi teknologi tepat guna bagi petani sawit.
Pada tongkat utama ini menggunakan besi beton berbahan billet yang merupakan campuran antara carbon, silicon, mangan dengan diameter 8mm dan panjang 1 meter. Material billet ini dipilih sebagai material dasar pembentuk tongkat, dikarenakan material ini cukup kuat dan kaku untuk dijadikan tongkat utama.
Gambar 5. Rancangankomponen tabung
Tabung ini berbahan alumunium dengan diameter 1 inch dan panjang tabung 75 cm. Sifat aluminium yang ringan menjadi penyebab pemilihan alumunium sebagai bahan dasar dalam pembuatan tabung pada INANG. Pemilihan diameter tabung 1 inch yang mudah untuk digenggam sehingga membuat pengguna alat ini merasa nyaman.
Pada komponen tutup tabung di pasang dudukan bahu yang berfungsi sebagai tempat bertumpu alat ini pada bahu pengguna. Dudukan bahu dimaksudkan agar meringankan pemakaian alat INANG ini, karena beban tidak hanya ditumpu pada tangan tetapi pada bahu sehingga tidak memerlukan kinerja otot yang berat.
Gambar 6. Rancangan komponen pegas
Pegas yang digunakan untuk alat INANG ini adalah jenis pegas ulir tarik. Pemilihan pegas jenis ini adalah karna paling sering dijumpai dan murah. Letak pegas ada di dalam komponen tabung dan tersangkut pada tabung dan tongkat utama. Pegas ini berfungsi untuk menggerakkan tongkat utama untuk selalu kembali ke posisi semula, dengan demikian pengguna tidak perlu untuk mengembalikan posisi tongkat utama lagi.
Dudukan jaring ini memiliki diameter 24 cm karena dengan diameter ini berondolan yang jatuh diharapkan dapat langsung masuk dengan sempurna. Jaring yang di pilih berbahan plastik karena memiliki massa yang ringan, tidak menyerap air, dan tahan terhadap beban dari berondolan yang akan terkumpul. Jaring yang dipakai juga mudah di dapatkan, biasanya digunakan dalam menangkap ikan, bisa didapatkan di toko – toko material maupun tempat penjualan alat pancing. Dudukan jaring ini di ikat oleh pengaman di selang pada regulator di kompor gas. Tujuan dari penggunaan pengaman regulator adalah supaya jarak antara jaring dengan tongkat utama dapat di atur.
Gambar 8. Assembly komponen INANG
3.3Cara Kerja
3.4Keunggulan Alat INANG
Pada umumnya pengutipan berondolan pada sela – sela pelepah pohon kelapa sawit dilakukan oleh kaum wanita, maka dari itu dibutuhkan alat yang ringan dan tidak membutuhkan tenaga yang besar dalam menggunakannya. Perancangan alat INANG ini didasarkan pada material yang ringan, mudah digunakan, dan sangat aplikatif bagi petani sawit. Berondolan yang langsung tertampung pada jaring, membuat pengutipan tidak membutuhkan waktu yang lama, dibandingkan jika harus mengutip secara manual kembali berondolan yang jatuh ke tanah setelah keluar dari sela – sela pelepah. Panjang alat INANG ini yang mencapai 1 meter supaya penguna tidak perlu jongkok untuk mengutip berondolan yang berada pada pelepah pohon sawit yang pendek berumur sekitar 3-4 tahun. Pembuatan alat INANG ini juga cukup mudah, hanya membutuhkan peralatan tukang sederhana seperti palu, gergaji, pahat dll, sehingga masyarakat petani sawit bisa membuatnya sendiri.
BAB IV
PENUTUP
4.1Kesimpulan
Inovasi teknologi tepat guna dalam proses panen buah kepala sawit sangat penting guna meningkatkan produktifitas petani sawit. Proses panen kelapa sawit terdiri atas pemotongan buah, pengutipan berondolan dan pemotongan pelepah. Dalam pengutipan berondolan di sela – sela pelepah masih menggunakan peralatan konvensional, berupa tongkat yang bengkok pada ujungnya guna mencungkil berondolan. Namun dengan alat INANG (inovasi alat pengutip) tongkat tersebut dimodifikasi dengan pegas dan jaring di desain sedimikian rupa untuk mempermudah pengutipan.
alat yang relatif murah dan mudah untuk dibuat sangat cocok untuk dipakai petani sawit. Diharapkan dengan alat INANG ini, proses pengutipan berondolan menjadi lebih efektif dan efisien dan dapat berpengaruh pada peningkatan jumlah hasil panen buah kelapa sawit dari para petani sawit.
4.2Saran
1. Perlu adanya penyempurnaan model dari alat INANG ini, karna masih sulit dalam menjangkau berondolan pada sela – sela kelapa sawit yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Pahan, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta : Penebar Swadaya. 412 hal.
Hartley, C.W.S. 1967. The Oil Palm. Associated Companies, branches, and Representatives throuhout the World. London. Hlm. 609
Lubis, A. U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat-Bandar Kuala. Marihat Ulu. 435 hal Purwanto, H.2009. Pengelolaan Pemupukan pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) di perkebunan PT Cipta Futura Plantation Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 80 hal. Direktorat Jendral Perkebunan. 2010. Statistik Perkebunan Indonesia 2007-2010.
Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian. Jakarta Kiswanto., Jamhari, H.P., Bambang, W. Teknologi Budidaya KELAPA SAWIT.
Bogor : Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. 21 hal. Aulia, A. 2010. Pelaksanaan Kegiatan Magang, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
37 hal.
LAMPIRAN
Rancangan alat INANG