HUKUM ACARA PIDANA
TAHAP PERSIDANGAN
Dosen:
Kewenangan Pengadilan untuk
Mengadili Praperadilan (Ps. 77-83)
• Praperadilan = suatu wewenang pengadilan untuk memeriksa dan memutuskan tentang :
– Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian
penyidikan, atau penghentian penuntutan (kecuali penyampingan perkara untuk kep.umum oleh jaksa agung)
– Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan – Sah atau tidaknya benda yang disita sebagai alat bukti
– Ganti kerugian oleh tersangka /ahli waris atas penangkapan atau penahanan yang tidak disetai alasan berdasarkan UU atau
kekeliruan penerapan hukum
– Penetapan Tersangka (Putusan MK)
• Putusan praperadilan sedapat mungkin diajukan sebelum perkaranya diperiksa pengadilan. Sidang praperadilan
harus dibuat seperti pemeriksaan singkat (sumir), bila
Loading…
•
Amar putusan hakim dalam sidang praperadilan :
– Segera harus dibebaskannya tersangka– Wajib dilanjutkan penyidikan atau penuntutan terhadap tersangka
– Besarnya ganti kerugian atau rehabilitasi yang diberikan – Segera dikembalikan benda yang disita tidak termasuk
alat pembuktian kepada tersangka atau pihak yang tersita.
– Segera harus di SP3
•
Terhadap putusan praperadilan tidak dapat
dimintakan banding, kecuali terhdap putusan yang
menetapkan
“tidak sah nya penghentian
Kompetensi Pengadilan
• 2 macam kekuasaan mengadili, yaitu :– Kompetensi absolut, kewenangan mengadili hanya pada pengadilan tertentu
– Kompetensi relatif, kewenangan pembagian kekuasaan pengadilan yang sama.
• KUHAP menganut asas personalitas aktif (asas
kebangsaan) dan personalitas pasif (asas perlindungan)
– Personalitas aktif (Pasal 5 & 7 KUHAP) : UU Pidana yang berlaku di suatu negara tetap dapat diberlakukan terhadap Warga negara nya dimanapun berada (LN)
– Personalitas pasif Pasal 4 & 8 KUHAP) : UU pidana suatu
Loading…
Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
4 macam sikap para pihak dalam persidangan
Pidana :
Terdakwa sikapnya , bebas mengambil sikap
untuk membela kepentingan nya dalam sidang.
Subyektif-Subyektif
Pembela/PH, bersandarkan pada kepentingan
si terdakwa, akan tetapi ia harus objektif mencari
kebenaran. Subyektif-Obyektif
Penuntut Umum, bersandarkan kepada
kepentingan negara dan masyarakat secara
objektif.
Obyektif-Subyektif
•
Dasar pemeriksaan di pengadilan ialah surat
dakwaan PU (Pasal 143 KUHAP)
•
Pasal 84 KUHAP :
–
PN berwenang mengadili perkara tindak pidana
yang dilakukan dalam daerah hukum nya (
forum
delicti commissi
)
•
Sehingga ketua PN dapat menetapkan :
–
PN berwenang mengadili
menunjuk hakim dan
menetapkan hari sidang
Persidangan
•
Ketua PN menunjuk hakim yang akan memeriksa
perkara
•
Majelis hakim (min.3 org) yang ditunjuk
menetapkan hari sidang, memanggil terdakwa &
saksi
•
Sidang lengkap (majelis hakim, PU, panitera, juru
sumpah) dipimpin hakim ketua sidang dengan
menyatakan “..sidang terbuka untuk umum..”
•
Pengecualian bila terdakwa nya anak-anak atau
Sidang Pertama : Pembacaan Dakwaan
Terdakwa Hadir Sidang dilanjutkan hakim Memeriksa identitas Meminta trdakwa fokus Meminta PU mbacakan
Surat dakwaan
Dipanggil tdk sah
Sidang ditunda
Kehadiran terdakwa pada perkaranya bukan suatu hak, melainkan kewajiban (Pasal 154 ayat 4)
- Terdakwa memahami Dakwaan
Eksepsi
Eksepsi
- Diajukan sebelum pemeriksaan perkara pokok - Diajukan pada sidang pertama ssdh dakwaan - Bertujuan menghemat tenaga,waktu bersidang
Alasan mengajukan eksepsi (Ps.156):
- Pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya
- Surat dakwaan tidak dapat diterima
- Surat dakwaan harus dibatalkan
Pertimbangan & Putusan hakim Menerima Eksepsi
Menolak eksepsi Eksepsi diputus setelah perkara selesai diperiksa
PERLAWANAN THDP PUTUSAN EKSEPSI
•
Diajukan kepada ketua PT c/q ketua PN
•
Diajukan + 7 hari setelah diterima penetapan
•
Lewat waktu tsb, maka berakibat batalnya
perlawanan
•
7 hari setelah diterima nya berkas perlawanan,
PN wajib meneruskan nya kepada PT
•
14 hari kemudian PT, wajib mengeluarkan
Loading…
Pasal 157 KUHAP
kewajiban untuk mengundurkan
diri :
1. Hakim
mempunyai hub.keluarga sedarah atau
semenda sampai drajat ketiga, hub.suami-istri
meski pun sudah bercerai dengan salah seorang
hakim anggota,PU atau panitera
2. Hakim Ketua Sidang, hakim anggota, PU,panitera
mempunyai hub.keluarga sedarah atau semenda
sampai drajat ketiga, hub.suami-istri meski pun
sudah bercerai dengan terdakwa atau penasehat
hukum
Mengundurkan diri = diganti susunan nya
•
Untuk keperluan sidang, hakim ketua
membuka sidang dengan
menyatakan”sidang terbuka untuk
umum”
•
Pengecualian bila terdakwa nya
Pembuktian
Dakwaan
Pembuktian
> Tujuannya :
untuk memperoleh kepastian bahwa apa
yang didakwakan JPU dalam Surat Dakwaan
kepada terdakwa adalah benar.
> Dengan cara memeriksa :
# mengenai apakah peristiwa/perbuatan
tertentu sungguh pernah terjadi
Maka dari itu
pemeriksaan
terdiri dari:
➢
Menunjukkan peristiwa-peristiwa
yang dapat diterima oleh panca
indera;
➢
memberikan keterangan tentang
peristiwa-peristiwa yang telah
diterima tersebut;
Manfaat dengan adanya pembuktian
tersebut :
➢
hakim dapat menggambarkan dalam
pikirannya apa yang sebenarnya terjadi;
➢
sehingga memperoleh keyakinan
tentang hal tersebut;
➢
meskipun ia tidak melihat/mendengar
Teori Sistem Pembuktian
•
Teori Keyakinan
–
Hakim mendasari keputusan hanya dengan
keyakinan/perasaan nya semata & kesan pribadi
–
Tanpa terikat oleh aturan hukum tertentu
–
Hakim tidak wajib mengemukakan alasan hukum
yang dipakai dalam memutuskan.
–
Hakim bebas menunjuk alat bukti dalam
persidangan, termasuk upaya pembuktian yang
sulit diterima oleh akal (mis.mistik)
–
Banyak terdapat dalam sistem peradilan juri atau
•
Positive- Wettelijk Theory
–
Alat bukti yang dapat diajukan di persidangan
ditentukan oleh UU
–
Hakim harus & berwenang untuk menetapkan
terbukti atau tidaknya suatu perkara yang
diperiksanya, walaupun berangkali hakim sendiri
belum yakin atas kebenaran putusannya itu.
–
Apabila hal di atas terjadi, hakim akan
mengambil putusan yang sejajar. Artinya bahwa
putusannya itu harus berbunyi tentang sesuatu
yang tidak dapat dibuktikan adanya;
–
Misal 2 saksi disumpah mengatakan seseorang
itu salah, maka hakim harus menjatuhkan
•
Negative-Wettelijk Theorie
–
Positive wettelijk theory
+ keyakinan hakim yang
didapat dari alat bukti
–
Terdapat dalam Pasal 183 KUHAP
• “ hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada
seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya duat alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya”
•
Negatif maksudnya ialah
walaupun dalam
•
Vrije Bewijs Theorie / Conviction Raissonee
(Pembuktian Bebas)
–
Ditentukan bahwa hakim dalam menyebutkan
alasan-alasan mengambil putusan sama sekali
tidak terikat pada penyebutan alat bukti yang
telah diatur dalam UU
–
Alat dan cara pembuktian tidak disebutkan
dalam UU
–
Melainkan hakim secara bebas diperkenankan
memakai alat bukti lain, asalkan semua itu
Yang diungkap dari Pembuktian
•
Alat Pembuktian (
bewijsmiddel
) ;
–
Benda & lisan :
•
alat yang digunakan untuk melakukan
tindak pidana
•
Hasil yang diperoleh dari tindak pidana
•
Ket. Saksi
•
Penguraian Pembuktian (
bewijsvoering
) ;
–
Cara-cara menggunakan alat-alat bukti
dalam T.Pidana
•
Kekuatan Pembuktian (
bewijskracht
) ;
Yang diungkap dari Pembuktian
•
Dasar Pembuktian (
bewijsgrond
) ;
–
Keadaan yang dialami yang
diterangkannya dalam kesaksian disebut
Dasar Pembuktian
•
Beban Pembuktian (
bewijslast
).
–
Mengenai siapakah yang mempunyai
beban untuk membuktikan mengenai
unsur-unsur tindak pidana
–
Pasal 66 KUHAP “..tersangka/terdakwa
tidak dibebani kewajiban pembuktian..”
–
Merupakan wujud konkret asas
Alat Pembuktian (Ps 184)
•
Keterangan Saksi (Ps. 185)
–
Syarat formil :
•
Ket.seorang saksi dianggap sah bila
diberikan dibawah sumpah (Pasal 160
ayat 3). Ket.saksi yang tidak disumpah
tidak merupakan alat bukti, hanya
sebagai tambahan ket.biasa (Pasal 185
ayat 7).
•
Ket.seorang saksi saja tidak cukup
menyatakan seseorang bersalah
terhadap perbuatan yang didakwa
padanya (Pasal 185 ayat 2). (Unus
Alat Pembuktian (Ps 184)
•
Keterangan Saksi (Ps. 185)
–
Syarat Materill
•
Ket.saksi sebagai alat bukti apabila
keterangan tsb dinyatakan di sidang
pengadilan, mengenai suatu
peristiwa pidana, yang ia alami,
lihat, dengar sendiri
•
Kesaksian
testimonium de audito
Saksi ..??
•
Semua orang dapat menjadi saksi
•
Saksi adalah orang yang memberikan
keterangan tentang suatu perkara pidana
berdasarkan apa yang ia lihat, yang ia
dengar & ia alami.(Pasal 1 butir 26 KUHAP)
•
KUHAP tidak mengakui ket.
testimonium de
audito
Saksi ..??
•
3 kelompok orang yang dikecualikan dari
kewajiban menjadi saksi, yaitu :
–
Mereka yang mempunyai hubungan
keluarga sedarah dan Semenda dengan
terdakwa (Pasal 168 KUHAP)
–
Mereka yang karena jabatan/pekerjaan
yang mewajibkan menyimpan rahasia.
hakim yang menilainya.
Keterangan Ahli (Ps. 186)
•
ahli, yang ditanya mengenai sesuatu soal,
hanya mengemukakan pendapatnya tanpa
melakukan suatu pemeriksaan.
•
(Saksi) ahli (getuige deskundige), yang
ditanya mengenai suatu perkara, melakukan
pemeriksaan “saksi diam” atau barang bukti
dan mengemukakan pendapatnya
berdasarkan hasil pemeriksaan.
•
Untuk membuat terang suatu perkara pidana
Surat (Pasal 187)
Surat dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan
dengan sumpah, yaitu :
–
BA dan surat surat resmi dalam
bentuk resmi yang
di buat oleh pejabat umum yang berwenang atau
dibuat dihadapannya
, mengenai keadaan yang
didengar, dilihat, dialaminya sendiri berikut alasan
yang jelas mengenai keterangan itu.
–
Surat yang di buat
menurut ketentuan peraturan
per-UU-an atau surat yang di buat oleh pejabat
mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana
yang menjadi tanggung jawabnya bagi
pembuktian sesuatu hal/keadaan.
–
Surat keterangan
dari seorang ahli
yang memuat
pendapat berdasarkan keahlian nya ttg sesuatu
hal/keadaan yang diminta resmi kepadanya.
–
Surat lain yang hanya dapat
berlaku jika ada
•
Petunjuk (Pasal 188 KUHAP)
–
Pada dasarnya adalah hal-hal
yang disimpulkan dari alat-alat
pembuktian yang lain yang
diperoleh dari Ket.Saksi, Surat
dan/atau Ket.Terdakwa.
–
Perbuatan/keadaan yang
karena persesuaiannya
Loading…
•
Keterangan Terdakwa (
erkentenis
) (Ps 189)
–
Beda, Pengakuan Terdakwa (
bekentenis-HIR
)
–
Pernyataan pemungkiran pun dapat dijadikan
alat bukti, sehingga penertian nya lebih luas
–
Apa yang dinyatakan terdakwa
di dalam sidang
tentang perbuatan yang dilakukan nya atau yang
diketahui nya sendiri atau diklaimnya sendiri.
–
Sedangkan
ket.terdakwa diluar sidang
dapat
dipergunakan untuk membantu menemukan
bukti disidang asalkan didukung alat pembuktian
lain.
Pemeriksaan Saksi
-
Saksi yang hadir dicegah jangan ada pertemuan
sebelum memberikan ket.dalam sidang.
agar tidak
saling mempengaruhi
-
Pemeriksaan saksi Pasal 160 (1) b KUHAP :
- Korban yang menjadi saksi - Saksi yang memberatkan - Saksi yang meringankan
-
Pasal 160 (2) : hal yg ditanyakan hakim ketua
sidang adalah identitas dan hub.dengan
terdakwa.
-
Pasal 160 (3) : saksi wajib mengangkat sumpah
Menurut agamanya masing-masing
-
Ket.saksi yang dibawah sumpah yang mempunyai
Saksi menolak di sumpah ..?
• Pemeriksan terhadap saksi tetap dilaksanakan
• Hakim dengan surat penetapan dapat mengenakan sandera selama 14 hari di rutan negara (Pasal 161 ayat 1 KUHAP) • Apabila tenggat waktu 14 hari berlalu,saksi tetap tidak mau
disumpah,maka ket.yg diberikan merupakan ket.yg dapat menguatkan keyakinan hakim (Pasal 161 ayat 2 KUHAP) • Dengan kata lain, ket.saksi/ahli tsb mempunyai kekuatan
pembuktian yang sama dengan keterangan dibawah sumpah
• Penyumpahan saksi ;
– Dilakukan sebelum saksi memberikan keterangan di pengadilan
(Promisoris,secara sanggup akan berbicara benar)
Saksi dibawah sumpah Vs Saksi yang tidak disumpah
•
Saksi dibawah sumpah
–
Apabila tidak dapat hadir (misal:
meninggal,domisili jauh) pada sidang
lanjutan,maka keterangan saksi ini
mempunyai nilai yang sama dengan ket.saksi
di depan sidang pengadilan.
•
Saksi yang tidak disumpah
–
Ket.saksi hanya merupakan ket.tambahan
yang berarti keterangan tsb tidak dapat
•
Sumpah saksi : “..memberikan keterangan
yang benar tidak lain dari yang
sebenarnya.”
•
Kesaksian palsu :
–
Hakim memperingatkan
–
Hakim karena jabatan atau permintaan
terdakwa dapat memerintahkan saksi
agar dituntut atas dakwaaan melakukan
sumpah palsu
–
Panitera membuat berita acaranya,
Pemeriksaan Ahli
•
Ahli ..?
•
Pasal 179 ayat 1 KUHAP ; seorang wajib
memberikan keterangan ahli demi keadilan
•
Yang dimaksud dengan ahli adalah ahli
forensik, dokter, ahli lainnya
•
Keterangan ahli adalah
–
informasi oleh seorang yang mewakili keahlian
khusus
–
tentang yang diperlukan untuk membuat terang
suatu perkara pidana
Pemeriksaan Terdakwa
•
Terdakwa yang tidak mau menjawab
pertanyaan tidak ada sanksi pidananya
(Pasal 175 KUHAP);
•
Tanya-jawab hakim dan terdakwa hanya
terbatas pada identitas dan isi surat
dakwaan
hakim memeriksa para saksi
barulah terdakwa didengar secara
tanya-jawab;
Terdakwa Berulah ( Ps.176)
•
Jika terdakwa bertingkah laku yang tidak patut
sehingga mengganggu ketertiban sidang, hakim
ketua sidang menegurnya dan jika teguran itu
tidak diindahkan ia memerintahkan supaya
terdakwa dikeluarkan dari ruang sidang,
kemudian pemeriksaan perkara pada waktu itu
dilanjutkan tanpa hadirnya terdakwa.
•
Dalam hal terdakwa secara terus menerus
bertingkah laku yang tidak patut sehingga
Kondisi Tertentu Pemeriksaan
saksi/Terdakwa
• Terdakwa & saksi tidak dapat berbahasa indonesia ..?
Pengadilan menunjuk seorang juru bahasa sebagai penghubung antara jaksa, hakim dan terdakwa;
• Juru bahasa harus disumpah;
• Pasal 77 KUHAP, seorang tidak dapat menjadi saksi tidak
dapat pula menjadi juru bahasa;
• Terdakwa/saksi bisu, tuli, tidak dapat menulis …?
pengadilan mengangkat seseorang yang dapat berkomunikasi dengan mereka;
• Namun apabila saksi / terdakwa ybs dapat menulis, maka
Barang Bukti
•
Barang Bukti adalah :
– Barang yang dipergunakan oleh terdakwa untuk
melakukan tindak pidana atau
– Barang sebagai hasil dari suatu tindak pidana
– Barang-barang yang disita oleh penyidik
– Untuk dijadikan sebagai bukti di persidangan
•
Barang bukti diberi nomor sesuai nomor perkara,
disegel, dan hanya dapat dibuka di persidangan
•
Barang tersebut diperlihatkan kepada terdakwa
Tuntutan Pidana (
Requistoir
)
•
Pemeriksaan terhadap diri terdakwa dan
saksi cukup, maka kepada penuntut
umum dipersilahkan menyampaikan
tuntutan pidana nya.
•
JPU menguraikan segala sesuatu selama
berlangsungnya pemeriksaan apakah
Diagram Alir Tuntutan Perkara
JPU membacakan tuntutan pidana
Hakim berikan kesempatan kepada terdakwa/PH
Pembelaan
(Pledoi)
JPU memberikan jawaban atas Pledoi
(Replik)
Tdw/PH menjawab Replik
(Duplik)
Tuntutan Pidana, Pledoi, Replik dan Duplik
Hakim ketua majelis
Salinan nya
•
Apabila pemeriksaan dianggap selesai,
hakim ketua sidang menyatakan bahwa
pemeriksaan selesi dan dinyatakan ditutup
•
Pemeriksaan yang telah ditutup dapat
dibuka kembali atas kewanangan hakim
ataupun permintaan JPU/terdakwa dengan
menyebutkan alasan-alasannya
•
Dimaksudkan untuk menampung data-data
tambahan sebagai bahan
musyawarah
hakim
.
Musyawarah Hakim
•
Dilakukan tanpa kehadiran JPU,
terdakwa/penasehat hukum serta hadirin
•
Musyawarah untuk mengambil keputusan
•Musyawarah didasarkan pada:
–
surat dakwaan,
–
segala sesuatu yang terbukti dalam sidang,
–
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada
seorang kecuali apabila dengan
sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia
memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana benar benar terjadi dan bahwa
Musyawarah Hakim
•
Cara musyawarahnya:
– Hakim ketua mengajukan pertanyaan kepada hakim termuda dahulu dst hingga hakim yang tertua disertai dengan alasannya. hakim ketua giliran terakhir.
•
Cara pengambilan keputusan:
– Mufakat ;
– Suara terbanyak ;
– Putusan dipilih adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan terdakwa
•
Pencatatan Keputusan:
– Pelaksanaan pengambilan keputusan dicatat dalam buku himpunan putusan pengadilan (vonis) bersifat rahasia
Pembacaan Putusan
•
Pasal 196 KUHAP, putusan (vonis)
disampaikan dengan hadirnya terdakwa,
kecuali ditentukan lain oleh UU.
Putusan-Putusan Pengadilan
• 2 jenis Putusan pengadilan :– Putusan yang bersifat formil, Putusan pengadilan yang bukan merupakan putusan akhir, yaitu :
• Pasal 148 ayat 1 KUHAP. Pernyataan tidak berwenangnya pengadilan untuk memeriksa suatu perkara (onbevoegde verklaring).
misalnya : salah mengajukan berkas perkara
• Pasal 143 ayat 3 KUHAP. Pernyataan dakwaan PU batal (nietig
verklaring van de acte van verwijzing)
misalnya : locus delicti tidak dicantumkan di surat dakwaan
• Pasal 156 ayat 1 KUHAP. Pernyataan dakwaan PU tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard)
misalnya : perkara daluarsa, nebis in idem, persyaratan aduan (klacht delict)
• Putusan berisikan penundaan pemeriksaan perkara oleh adanya perselisihan kewenangan (prejudisiel)
Putusan yang bersifat materil, putusan pengadilan yang
merupakan putusan akhir (einds vonnis), yaitu :
1. Pasal 191 ayat 1 KUHAP. Putusan yang menyatakan terdakwa dibebaskan dari dakwaan (vrijspraak).
Maksudnya ialah pengadilan berpendapat bahwa kesalahan/perbuatan yang didakwakan terhadap
terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan di dalam pemeriksaan persidangan.
misalnya : minimnya alat pembuktian yang ditetapkan oleh UU tidak terpenuhi.
➢ Putusan ini bersifat negatif, artinya putusan tidak menyatakan terdakwa tidak melakukan perbuatan yang didakwakan itu, melainkan menyatakan bahwa kesalahan terdakwa tidak terbukti di persidangan.
➢ See negatief-wettelijk sistem pembuktian KUHAP, dalam Pasal 183 KUHAP 2 alat bukti+ keyakinan hakim.
2.
Putusan Lepas dari segala tuntutan (
ontslag
van alle rechtsvervolging
).
Maksudnya ialah
Perbuatan yang didakwakan kepada
terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak
merupakan suatu tindak pidana, dikarenakan
adanya alasan pembenar
(
rechtvaardigingsgrond
) dan/atau alasan
pemaaf (
fait dixcuse
).
➢
Alasan pembenar : Pasal 48, 49(1), 50 &
51(1) KUHAP
➢
Alasan pemaaf : Pasal 49(2) & 51(2)
KUHAP
➢
Dapat dimintakan banding baik oleh
3. Putusan Pemidanaan
Apabila kesalahan terdakwa terhadap perbuatan
yang didakwakan kepadanya terbukti dengan
sah dan meyakinkan. Pasal 193 (1) KUHAP,
apabila terdakwa terbukti bersalah, maka harus
dijatuhi pidana.kecuali apabila terdakwa pada
waktu melakukan tindak pidana itu belum
berumur 16 tahun.maka hakim dapat memilih
ketentuan didalam Pasal 45 KUHAP, yaitu :
•
Menyerahkan kembali kepada orang tua/wali
nya tanpa sanksi pidana
•
Diserahkan kepada pemerintah agar
dipelihara dalam suatu tempat pendidikan
negara sampai dengan usia 18 tahun (Pasal 46
KUHAP).
•
Terdakwa < 16 tahun
– Maximal pidana pokok harus dikurangi 1/3 nya (Pasal
47 (1) KUHAP).
– Ancaman pidana mati/seumur hidup 15 tahun
– Perintah “segera dilakukan penahanan” hanya dapat
dikeluarkan apabila terdakwa dipersalahkan terhadap tindak pidana yang diancam pidana penjara minimum > 5 tahun atau Tindak pidana yang disebut kan satu per satu dalam Pasal 21 KUHAP.
– Pasal 194 ayat 1KUHAP, dalam hal putusan
pemidanaan, bebas,atau lepas, hakim akan
memerintahkan supaya barang bukti diserahkan kepada pihak yang paling berhak , kecuali UU
menentukan lain barang tersebut harus dirampas, dimusnahkan atau dirusak sehingga tidak dapat lagi dipergunakan.
– Semua putusan pengadilan hanya sah dan
Kewajiban Hakim setelah Putusan
•
Memberitahukan kepada terdakwa tentang segala
sesuatu yang menjadi hak nya, yaitu :
– Hak segera menerima atau menolak putusan
– Hak mempelajari putusan sebelum menerima atau
menolak hasil putusan dalam batas waktu yang ditentukan UU
– Hak meminta penangguhan pelaksanaan putusan untuk
mengajukan grasi dalam hal ia menerima putusan
– Hak minta diperiksa perkaranya dalam tingkat banding,
dalam hak ia menolak putusan
– Hak mencabut pernyataan (point 1), dalam waktu yang
ditentukan oleh UU.
EKSEKUSI & UPAYA HUKUM
Eksekusi = pelakasanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde).
In kracht van gewijsde adalah :
– Apabila baik terdakwa maupun jaksa telah menerima putusan
– Apabila tenggang waktu untuk mengajukan banding telah lewat batas waktu tanpa dipergunakan oleh yang berhak.
– Apabila permohonan banding telah diajukan, kemudian permohonan tersebut dicabut kembali.
– Apabila ada permohonan grasi yang diajukan disertai permohonan penangguhan eksekusi.
Pelaksana putusan pengadilan adalah jaksa (Pasal 270 KUHAP)
Pelaksanaan pidana mati tidak dilaksanakan di depan umum dan menurut ketentuan per-UU-an (Pasal 270 KUHAP).
Apabila putusan penagdilan menetapkan perampasan atas barang bukti, maka jaksa menguasakan kepada Kantor Lelang Negara (KLN) untuk menjual barang tersebut dalam waktu 3 bulan+ 1 bulan, hasil lelang dimasukkan dalam kas negara.
UPAYA HUKUM
•
Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut
umum untuk melawan putusan pengadilan (vonnis)
untuk tidak menerima putusan pengadilan.
•
Maksud dari upaya hukum adalah untuk
memperbaiki kesalahan yang diperbuat oleh
instansi hukum sebelumnya.
•
2 macam upaya hukum dalam KUHAP :
– Upaya hukum biasa :
• Verzet (perlawanan)
• Banding
• Kasasi
– Upaya hukum luar biasa :
• Kasasi demi kepentingan hukum
•
Verzet / Perlawanan (Pasal 214 KUHAP)
–
Merupakan upaya hukum untuk melawan
putusan pengadilan yang dijatuhkan di luar
hadirnya terdakwa (
verstek
).
–
Yang berhak melakukannya dalah terdakwa
–
Perlawanan ini diajukan terhadap putusan yang
dijatuhkan diluar hadirnya terdakwa yang berupa
pidana perampasan kemerdekaan.
–
Dengan adanya
verzet
ini, putusan diluar
hadirnya terdakwa (verstek) menjadi gugur.
–
Apabila setelah
verzet
, terdakwa tidak hadir lagi,
maka
verstek
kuat kembali
mengajukan
Banding (Pasal 19, UU No.14 tahun 1970)
• “Atas semua putusan pengadilan tingkat pertama yang tidak merupakan pembebasan dari tuduhan, dapat dimintakan banding oleh pihak-pihak ybs, kecuali UU menentukan lain”
• Pasal 67 KUHAP, permohonan atas banding tidak dapat diajukan atas : – Putusan pembebasan (vrijspraak)
– Putusan pelepasan dari semua tuntutan hukum menyangkut kurang tepatnya penerapan hukumnya
– Petusan pengadilan dalam acara cepat
• Wewenang Pengadilan Tinggi
• Pada dasarnya adalah pemeriksaan ulangan semua fakta dari
pemeriksaan yang telah dilakukan PN (judex facti).
• Permohonan banding diajukan melalui panitera PN dengan mengeluarkan Akte Permohonan Banding
• Max. 7 hari setelah putusan PN
• Selama perkara belum diputus, pemohon dapat mencabut permohonan bandingnya dengan konsekuensi membayar biaya perkara sebagnayk yang tekah dikeluarkan oleh PN sampai saat pencabutan.
• Pemeriksaan didasarkan pada :
– Berkas perkara (berita acara penyidik & pemeriksaan sidang)
– Surat-surat yang timbul di sidang yang berhubungan dengan perkara
•
PT akan memutuskan :
– Menguatkan putusan PN
– Mengubah putusan PN
– Membatalkan putusan PN, PT mengadakan putusan sendiri.
•
Pemeriksaan Kasasi
– Arti kasasi adalah pembatalan oleh raja
– 1790, diserahkan wewenang pada lembaga Tribunale Cassation
– Code d’ instruction criminelle (KUHAP Prancis) KUHAP Belanda KUHAP Hindia Belanda
•
Alasan-alasan nya :
– Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan
atau diterapkan sebagaimana mestinya
– Apakah benar cara megadili tidak dilaksanakan menurut
UU
– Apakah benar pengadilan tidak melampaui
wewenangnya.
•
Yang berhak mengajukan kasasi adalah Terdakwa
atau JPU
•
Yang dapat dimintakan kasasi :
– Putusan yang mengajukan pemidanaan
– Putusan yang mengandung pelepasan
•
Putusan MA (Pasal 254 KUHAP)
– MA dapat memutus menolak kasasi
UPAYA HUKUM LUAR BIASA
KASASI DEMI KEPENTINGAN HUKUM (Pasal 259
KUHAP)
•
Dapat diajukan terhadap semua putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap
•
Oleh Jaksa Agung kepada Makhamah Agung
melalui panitera PN yang memutus perkara (Pasal
260 ayat 1 KUHAP) mengirimkan nya adalah ketua
PN.
•
Tujuan nya adalah supaya hukum diterapkan
dengan benar sehingga ada kesatuan dalam
peradilan
•
Tidak boleh bertentangan dengan pihak yang
Perbedaan Kasasi Pihak & Kasasi
demi kep.Hukum
•
Diajukan terhadap putusan pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap ><
belum incraht
•
Diajukan oleh Jaksa Agung kepada MA ><
diajukan oleh terdakwa/JPU
•
Tenggang waktu mengajukan kasasi tidak
terbatas >< 14 hari seteah putusan banding
•
Kasasi demi kepentingan hukum meskipun dapat
Peninjauan Kembali putusan
pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap (
herzeining
)
• Pasal 263 KUHAP putusan incracht tidak dapat
dilakukan PK
• Putusan pengadilan yag telah mempunyai kekuatan
hukum tetap dapat dimintakan PK
• PK tidak dapat dilakukan terhadap putusan bebas dan
lepas dari tuntutan hukum
• Sejarahnya diawali oleh kasus Sengkon & Karta tahun
1980.
• MA mengeluarkan peraturan MA No.1 tahun 1980 yaitu