• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi yang dibacakan di Persidangan dalam Tindak Pidana Korupsi Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi yang dibacakan di Persidangan dalam Tindak Pidana Korupsi Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks)"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

DIBACAKAN DI PERSIDANGAN DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI PERSFEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR

33/PID.SUS.TPK/2018/PNMKS)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Jurusan Hukum Tatanegara (Siyasah Syar‟iyyah)

pada Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Oleh :

M. ZULFIKAR MAULANA NIM : 10200115088

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UIN ALAUDDIN MAKASSAR

(2)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : M. Zulfikar Maulana

Nim : 10200115088

Tempat/Tgl. Lahir : Arasoe, 26 Januari 1998

Jur/Prodi/Konsentrasi : Hukum Tatanegara (Siyasah Syar‟iyyah) Fakultas : Syariah dan Hukum

Alamat : Villa Samata Sejahtera

Judul :Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi yang Dibacakan di Persidangan dalam Tindak Pidana Korupsi Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Nomor 33/Pid.Sus.Tpk/2018/PNMks).

Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika di kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil Alamiin Segala puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah Swt.atas berkat dan rahmat-Nya skripsi yang merupakan tugas akhir dari perkuliahan ini dapat penyusun rampungkan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Studi Hukum

Tatanegara (Siyasah Syar‟iyyah) (SI) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.

Dengan rampungnya skripsi ini, besar harapan penyusun agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Ucapan maaf dan terima kasih yang tidak terhingga atas partisipasi para pihak yang telah berjasa membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Teruntuk kepada kedua orang tua saya bapak Guntur, SH dan Ibunda Rosmiati sebagai motivator terbesar yang tidak hentinya bekerja keras dan berdoa demi kelanjutan studi putranya.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

2. Bapak Prof. Dr. Darussalam, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

3. Ibu Dr. Nila Sastrawati, S.H., M.Si dan Dr. Kurniati, M.H.I masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Hukum Tatanegara (Siyasah Syar‟iyyah) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

4. Bapak Dr. Hamzah Hasan, M.H.I dan Bapak Dr. Alimuddin, M.Ag masing-masing selaku Pembimbing I dan II yang senantiasa memberikan bimbingan, saran dan motivasi dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.

(5)

penguji I dan II yang memberikan kritik, saran serta motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

6. Seluruh dosen dan staf Akademik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.

7. Saudara dan saudari penyusun M. Halil Gibran, Nurul Afifah dan Fitra Aulia Rizkillah yang senantiasa mendoakan penyusun dan memberikan motivasi demi kelancaran studi.

8. Bapak Muhammad Ansar Padu, S.H., M.H selaku Panitera Muda Hukum Pengadilan Negeri Makassar yang telah memberikan kesempatan dan arahan kepada penyusun dalam melakukan penelitian di Pengadilan Negeri Makassar

9. Bapak H. Aminuddin Hasanuddin, S.H selaku Kuasa Hukum Terdakwa Hasbullah, S.Sos atas kesediaannya meluangkan waktu untuk memberikan tanggapan atas beberapa pertanyaan yang penyusun ajukan dan atas saran-sarannya yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.

10. Sahabat-sahabat penyusun, Aswar, Akmal, Zulkarnain, Alim, Fahmi, Hendrik, dan paman Zulkifli yang telah memberikan semangat dan dukungan selama ini. Serta adinda Nur Asirah Rivai, yang selalu memberikan dukungan serta motivasi kepada penyusun.

11. Teman-teman seperjuangan HPK 2015 (SOMASI) terkhusus HPK C (KPS SOLID) dan teman-teman yang lain yang tidak sempat disebutkan namanya, terima kasih telah memberikan saran dan semangat kepada penyusun selama ini.

12. Teman-teman KKN-R Angkatan 60 Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang selalu memberikan nasehat dan dukungannya kepada penyusun.

(6)

13. Terima kasih kepada segenap orang-orang yang telah mengambil bagian dalam penyelesaian skripsi ini namun tidak sempat dituliskan namanya. Terima kasih sebesar-besarnya. Jerih payah kalian sangat berarti.

Demikian yang dapat penyusun sampaikan.Besar harapan penulis skripsi ini dapat bermanfaat. Mohon maaf apa bila dalam penulisan ini terdapat banyak ketidak sempurnaan. Olehnya, penyusun menerima kritik dan saran pembaca sebagai acuan penulis agar lebih baik lagi di penulisan selanjutnya.

Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

Makassar, 7 Agustus 2019 Penyusun

M. ZULFIKAR MAULANA

(7)

JUDUL ... i

PENYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN ... iii KATA PENGANTAR ... iv DAFTAR ISI ... vii PEDOMAN TRANSLITERASI ... x ABSTRAK ... xvi BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Kajian Pustaka ... 9

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 11

BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 12

A. Tinjauan Umum Pembuktian ... 12

1. Pengertian Pembuktian ... 12

2. Sistem dan Teori Pembuktian ... 13

B. Pembuktian dalam Hukum Islam... ... 15

C. Tinjauan Umum Alat Bukti Keterangan Saksi ... 18

1. Pengertian Alat Bukti Keterangan Saksi ... 18

2. Syarat-Syarat Seorang Saksi ... 19

3. Isi dan Nilai Keterangan Saksi ... 21

4. Alat Bukti Kesaksian dalam Hukum Islam ... 24

(8)

D. Tinjauan Umum Tindak Pidana ... 30

1. Pengertian Tindak Pidana... 30

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 31

3. Tindak Pidana dalam Islam ... 32

E. Tinjauan Umum Korupsi ... 34

1. Pengertian Korupsi ... 34

2. Subjek Hukum Tindak Pidana Korupsi ... 35

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi ... 36

4. Korupsi dalam Hukum Islam ... 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 44

A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 44

B. Pendekatan Penelitian ... 44

C. Sumber Data ... 44

D. Metode Pengumpulan Data ... 45

E. Instrumen Penelitian... 46

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 47

BAB IV KEKUATAN ALAT BUKTI SAKSI DALAM PERADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI ... 48

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48

B. Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi sebagai Alat Bukti dalam Peradilan Tindak Pidana Korupsi ... 50

C. Analisis Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Putusan Perkara Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks ... 59

D. Pandangan Hukum Islam Terhadap Pembuktian Keterangan Saksi dalam Peradilan Tindak Pidana Korupsi ... 80

(9)

... 84 A. Kesimpulan ... 84 B. Implikasi Penelitian ... 85 DAFTAR PUSTAKA... . ... 87 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... ... 90 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... ... 91

(10)

PEDOMAN TRANSLITERASI 1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

ا

Alif Tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب

Ba B Be

ت

Ta T Te

ث

Sa ṡ es (dengan titik di atas)

ج

Jim J Je

ح

Ha ḥ ha (dengan titk di

bawah)

خ

Kha Kh ka dan ha

د

Dal D De

ذ

Zal Ż zet (dengan titik di atas)

ر

Ra R Er

ز

Zai Z Zet

ش

Sin S Es

ظ

Syin Sy es dan ye

ص

Sad ṣ es (dengan titik di

bawah)

ض

Dad ḍ de (dengan titik di

bawah)

ط

Ta ṭ te (dengan titik di

bawah)

ظ

Za ẓ zet (dengan titk di

bawah)

ع

„ain „ apostrof terbalik

(11)

ف

Fa F Ef

ق

Qaf Q Qi

ك

Kaf K Ka

ه

Lam L El

ً

Mim M Em

ُ

Nun N En

و

Wau W We

ٓ

Ha H Ha

ء

hamzah , Apostof

ٌ

Ya Y Ye

Hamzah (

ء

) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa di eri

tanda apapun Jika ia terletak di tengah atau di akhir maka ditulis dengan tanda ( )

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Vokal tungggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut :

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َ ا

fatḥah A A

َ ا

Kasrah I I

َ ا

ḍammah U U

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu :

(12)

3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf,

transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu :

Harkat dan Huruf

Nama Huruf dan

Tanda

Nama

...

.. | َا

َي.

fatḥah dan alif

atau yā‟

ā a dan garis di atas

ي

kasrah dan yā‟ i i dan garis di atas

ىى

ḍammah dan

wau

ū u dan garis di atas

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َ ى

fatḥah dan yā‟ Ai a dan i

َ و ى

fatḥah dan wau Au a dan u

(13)

4. Tā‟ Mar ūṭah

Transliterasi untuk tā’ marbūṭah ada dua, yaitu: tā’ marbūṭah yang hidup

atau mendapat harkat fatḥah, kasrah, dan ḍammah, yang transliterasinya

adalah [t]. Sedangkan tā’ marbūṭah yang mati atau mendapat harkat sukun

transliterasinya adalah [h].

Kalau pada kata yang berakhir dengan tā’ marbūṭah diikuti oleh kata yang

menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka

tā’ marbūṭah itu transliterasinya dengan (h).

5. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan

dengan sebuah tanda tasydid ( ّّ), dalam transliterasinya ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah. Jika huruf

ي

ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf

kasrah

(

ًِّى

)

,maka ia ditransliterasikan seperti huruf maddah menjadi (i). 6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf

ه

ا

(alif lam ma’arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia di ikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya.Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).

(14)

7. Hamzah

Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrop ( ) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.

8. Penulisan Kata Arab yang Lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata,istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sudah sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya kata Al-Qur‟an (dari al-Qur’ān), alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata

tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka mereka harus ditransliterasi secara utuh.

9. Lafẓ al-Jalālah

(

الله

)

Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya

atau berkedudukan sebagai muḍāf ilaih (frase nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.

Adapun tā’ marbūṭah di akhir kata yang disandarkan kepadalafẓ

al-Jalālah ditransliterasi dengan huruf [t]. 10. Huruf Kapital

Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama dari (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang

(15)

huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK,DP, CDK, dan DR).

(16)

ABSTRAK Nama : M. Zulfikar Maulana

Nim : 10200115088

Judul : Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi yang dibacakan di Persidangan dalam Tindak Pidana Korupsi Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks)

Pokok masalah skripsi ini adalah bagaimana kekuatan pembuktian keterangan Saksi yang dibacakan di persidangan dalam tindak pidana korupsi persfektif hukum Islam (Studi kasus putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK.2018/PNMks), dan sub masalahnya yakni : 1). Bagaimana kekuatan pembuktian keterangan saksi sebagai alat bukti dalam peradilan tindak pidana korupsi 2). Bagaimana analisis pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif lapangan (field research), tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan pembuktian keterangan saksi yang dibacakan di persidangan dalam tindak pidana korupsi persfektif hukum Islam (studi kasus putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks), pendekatan yang digunakan yakni pendekatan yuridis normatif. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer berupa Putusan Nomor: 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks dan hasil wawancara. Sumber data sekunder berupa buku, jurnal, dan data di internet yang berkaitan dengan penelitian. Data di kumpul melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Instrumen yang digunakan yaitu peneliti sendiri, pedoman wawancara, alat tulis, kamera, dan alat perekam.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Proses pembuktian pada prinsipnya menganut adanya keharusan menghadirkan saksi-saksi di persidangan Pasal 185 ayat (1) KUHAP, akan tetapi, hal tersebut bukanlah hal yang mutlak. Adapun Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan telah sesuai karena terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan telah memenuhi unsur-unsur dalam pasal 3 UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam Islam pembuktian merupakan kewajiban dari penuntut dan beban sumpah wajib dilakukan bagi orang yang ingkar. Adapun syarat minimum pembuktian yakni minimum dua alat bukti.

Implikasi dari penelitian ini adalah 1) pembuktian harus dijadikan perhatian, karena jika jaksa penuntut umum tidak menghadirkan saksi yang memiliki peran penting dalam suatu perkara pidana, maka hakim maupun kuasa hukum terdakwa tidak dapat melakukan konfrontir terhadap keterangan saksi tersebut. 2) Para aparat penegak hukum haruslah menguasai pengetahuan ilmu hukum yang baik dan mumpuni khususnya tentang hukum pidana korupsi, karena diharapkan pada saat menangani suatu perkara dapat menerapkan ketentuan hukum pidana yang sesuai.

(17)

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Konstitusi menyatakan secara tegas bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Salah satu wujud dari negara hukum Indonesia yaitu terkait dengan penegakan hukum yang berimplikasi pada unsur kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan.

Dalam rangka penegakan hukum diperlukan tindakan dari para penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenangnya masing-masing. Maka dari itu tindakan para penegak hukum secara formal harus ada yang mengatur, agar segala tindakannya tidak bertentangan dengan undang-undang. Artinya, tidak hanya mengarah kepada ketentuan hukum pidana materil, tetapi juga mengarah kepada hukum pidana formil, yang lazim disebut Hukum Acara Pidana.

Hukum pidana formil (hukum acara pidana) mengatur tentang bagaimana para penegak hukum dalam hal ini kepolisian, kejaksaan dan pengadilan menjalankan fungsinya untuk menegakkan hukum pidana materil.1

Dalam perkara pidana, Pembuktian merupakan hal yang mempunyai peranan penting dalam menjatuhkan suatu putusan terhadap terdakwa. Tapi dalam praktiknya tidak sedikit dijumpai masalah dalam hal pembuktian yaitu saksi-saksi, korban maupun pelaku diam (dalam hal tidak mau memberikan keterangan). Pembuktian dijadikan dasar atau patokan bagi penuntut umum untuk mengajukan tuntutan. Pembuktian dipandang sebagai sesuatu yang tidak memihak, objektif dan memberikan informasi yang benar kepada hakim untuk mengambil keputusan.2

1

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika,2014), h. 4.

2

Eddy O.S Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga,2012), h. 96. 1

(18)

Hukum Acara pidana memberikan ketentuan dan pembatasan mengenai sidang di pengadilan dalam mencari dan mempertahankan kebenaran materil, baik itu oleh hakim, penuntut umum, terdakwa maupun penasihat hukum. Mengenai ketentuan dan tata cara penilaian alat bukti telah ditentukan secara jelas didalam undang-undang, siapapun tidak diperkenankan menilai pembuktian dengan cara dan kehendaknya sendiri, sekalipun terdakwa tidak diperkenankan untuk mempertahankan sesuatu yang di anggapnya benar diluar dari undang-undang. Karenanya hakim harus mempertimbangkan dengan cermat dan sadar dalam menilai kekuatan pembuktian dalam proses persidangan. Hal tersebut mendasar pada alat bukti yang secara limitatif ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.3

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana memberikan penjelasan mengenai alat bukti yang digunakan untuk menyatakan kesalahan terdakwa. Hal tersebut telah diuraikan didalam pasal 184 KUHAP, antara lain :4

a. Keterangan saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa.

Keterangan saksi sebagai salah satu alat bukti dan merupakan hal yang diutamakan dalam proses pembuktian perkara pidana. Karena hampir semua pembuktian perkara pidana selalu bersandar pada Pemeriksaan keterangan saksi. Keterangan saksi berdasarkan pasal 1 angka 27 Undang-Undang Nomor 8 Tahun

3

Ronaldo Ipakit, Urgensi Pembuktian Alat Bukti Dalam Praktek Peradilan Pidana (Lex Crimen Vol. IV,No. 2, 2015), h. 89.

4

Pasal 184 Undang-Undang No. 8 Tahun 1989 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

(19)

1989 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menyatakan sebagai berikut :

“Keterangan saksi merupakan salah satu alat bukti dalam perkara pidana, yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan

dari pengetahuannya itu” 5

Lebih lanjut dalam Qanun Hukum Acara Jinayah memberikan penjelasan mengenai keterangan saksi yang tercantum di dalam pasal 1 angka 31 QHAJ yaitu saksi merupakan orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.6

Menurut penjelasan pasal tersebut memberikan makna bahwa keterangan saksi yang di berikan di persidangan harus saksi lihat sendiri dan alami sendiri serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu. Lebih lanjut dalam pasal 185 ayat (5) KUHAP yang dinyatakan bahwa baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangn saksi. Maksud dari pasal tersebut yaitu keterangan yang diperoleh dari orang lain atau

testimonium de auditu bukanlah merupakan alat bukti yang sah.

Andi Hamzah berpendapat bahwa kesaksian de auditu7 tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti karena hal tersebut selaras dengan tujuan hukum pidana yaitu mencari kebenaran materil. Dan pula untuk perlindungan hak asasi manusia, dimana keterangan saksi yang hanya mendengar dari orang lain, tidak terjamin kebenarannya, maka kesaksian de auditu atau hearsay evidence, patut tidak dipakai di Indonesia pula.8

Dalam perkembangannya definisi saksi sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 1 angka 26 juncto pasal 1 angka 27 juncto pasal 184 ayat (1) huruf a

5

Pasal 1Angka 27 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

6

Pasal 1 angka 31 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2003 tentang Hukum Acara Jinayat.

7

Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007), h. 90.

8

(20)

KUHAP diperluas berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VII/2010 tanggal 8 Agustus 2011 yang dalam pokok amar putusannya yaitu, definisi keterangan saksi sebagai alat bukti adalah keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan pengetahuannya itu, termasuk pula keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri.9

Pada dasarnya, keterangan saksi baru bernilai alat bukti yang sah apabila dinyatakan dalam persidangan sebagaimana yang telah ditentukan dalam pasal 185 ayat 1 KUHAP. Akan tetapi, ketentuan tersebut mempunyai pengecualian dalam hal saksi tidak hadir dipersidangan, Pasal 162 ayat 1 dan 2 KUHAP mengatur bahwa jika saksi sesudah memberi keterangan dalam tahap penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan. Jika keterangan itu sebelumnya telah diberikan di bawah sumpah, maka keterangan itu disamakan nilainya dengan keterangan saksi di bawah sumpah yang diucapkan di sidang.

Mengenai pasal 162 ayat 1 dan 2 KUHAP, menurut Yusril Ihza Mahendra dalam permohonan uji materi di Mahkamah Konstitusi mengatakan bahwa pasal tersebut bertentangan dengan asas kepastian hukum dan keadilan seperti yang dicantumkan dalam Pasal 28D UUD 1945.Ketentuan pasal 162 ayat 1 dan 2 KUHAP berpotensi menghilangkan hak konstitusional seorang terdakwa dikarenakan pasal tersebut rentan diselewengkan oleh jaksa penuntut umum, sebab keterangan saksi tersebut tidak bisa dibantah oleh saksi-saksi yang lain,

9

(21)

tidak bisa dikonfrontir dengan keterangan yang lain, tidak bisa ditanya oleh terdakwa. Bahkan hakim pun tidak bisa bertanya dan melihat ekspresi ketika orang tersebut memberikan kesaksiannya.10

Memberikan kesaksian di pengadilan merupakan kewajiban setiap warga negara Indonesia dan kewajiban pula mengucapkan sumpah sesuai agama yang dianutnya. Dalam pasal 160 ayat 3 KUHAP, sebelum saksi memberikan keterangannya, terlebih dahulu saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut agama dan kepercayaannya, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya, dan tidak lain daripada sebenarnya.

Dengan demikian mengucapkan sumpah merupakan syarat mutlak. Keterangan saksi atau ahli yang tidak disumpah bukanlah merupakan alat bukti yang sah dalam perkara pidana tetapi, hanyalah merupakan keterangan yang dapat memperkuat keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan. Hal lain diuraikan dalam pasal 165 ayat 7 KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan saksi tersebut sesuai dengan keterangan saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai alat bukti sah yang lain.

Kesaksian dalam hukum acara Islam dikenal dengan sebutan as syahadah, menurut bahasa antara lain artinya :11

1. Pernyataan atau pemberitaan yang pasti.

2. Ucapan yang keluar dari pengetahuan yang diperoleh dengan penyaksian langsung.

10

https://nasional.kompas.com/read/2017/10/04/18132281/gugat-pasal-162-kuhap-yusril-tidak-ingin-jaksa-sembunyikan-saksi, diakses pada 13 Desember 2018.

11

Anshoruddin, Hukum Pembuktian menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 73.

(22)

3. Mengetahui sesuatu yang pasti, mengalami dan melihatnya. Seperti perkataan, saya menyaksikan sesuatu artinya saya mengalami serta melihat sendiri sesuatu itu maka saya ini sebagai saksi.

Menurut istilah fuqaha bayyinah dengan syahadah12 itu sama artinya yaitu kesaksian, tetapi Ibnu Qoyyim mengartikan bayyinah dengan segala yang dapat menjelaskan perkara.

Memberikan kesaksian asal hukumnya farḍu kifayah, artinya jika dua

orang telah memberikan kesaksian maka semua orang telah gugur kewajibannya. Dan jika semua orang menolak tidak ada yang mau untuk menjadi saksi maka berdosa semuanya, karena maksud kesaksian itu adalah untuk memelihara hak. Hukumnya dapat beralih menjadi farḍu ‘ain, jika tidak ada lagi orang lain selain mereka berdua yang mengetahui suatu kasus itu. Terhadap saksi seperti ini, jika menolak untuk menjadi saksi, maka boleh dipanggil paksa.13

Kewajiban menjadi saksi didasarkan kepada firman Allah SWT Q.S al-Baqarah/2 : 282 yang berbunyi :

...





























































































...



Terjemahnya :” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang -orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (mem eri keterangan) apa ila mereka dipanggil ”14 Ayat diatas memberi penjelasan bahwa barangsiapa yang enggan menjadi saksi dan dalam kesaksiannya menyembunyikan kebenaran/hak, maka Allah mengecamnya dengan memberikan dosa kepadanya.

12

Asad M. Alkalali, kamus indonesia-arab, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1993), h. 465.

13

Anshoruddin, Hukum Pembuktian menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif, h. 74.

14

(23)

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis berinisiatif untuk menuangkan sebuah penulisan berbentuk skripsi dengan judul “Kekuatan Pembuktian Keterangan Saksi yang Dibacakan di Persidangan dalam Tindak Pidana Korupsi Persfektif Hukum Islam (Studi Kasus Putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks)”.

B.Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus

1. Fokus Penelitian

a. Pembuktian Keterangan Saksi b. Tindak Pidana Korupsi

2. Deskripsi Fokus

a. Pembuktian adalah proses, cara, perbuatan membuktikan; usaha menunjukkan benar atau salahnya si terdakwa dalam sidang pengadilan.15

b. Keterangan Saksi menurut pasal 1 angka 27 KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri,lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.16

c. Tindak Pidana menurut Wirjono Prodjodikoro merupakan suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenai hukuman pidana.17

d. Korupsi adalah penyelewengan dan penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.18

Tabel Fokus Penelitian :

15

Kementerian Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 218.

16

Pasal 1 angka 27 Undang-undang No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum acara Pidana (KUHAP).

17

Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia,(Jakarta : Rajawali Pers, 2013), h. 58.

18

(24)

No Fokus Penelitian Deskripsi Fokus 1. Pembuktian Keterangan Saksi a. Pengertian pembuktian

b. Sistem atau teori pembuktian c. Pembuktian dalam hukum islam d. Pengertian alat bukti keterangan saksi e. Alat bukti kesaksian dalam hukum islam 3. Tindak Pidana Korupsi a. Pengertian tindak pidana

b. Tindak pidana dalam Islam c. Pengertian korupsi

d. Korupsi dalam hukum islam

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok masalah adalah bagaimana kekuatan pembuktian keterangan saksi yang dibacakan di persidangan dalam tindak pidana korupsi persfektif hukum Islam (studi kasus putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks) ?

Dari pokok masalah tersebut dapat dijabarkan ke dalam sub-sub masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kekuatan pembuktian keterangan saksi sebagai alat bukti dalam peradilan tindak pidana korupsi?

2. Bagaimana analisis pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan perkara Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks ?

3. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap pembuktian keterangan saksi dalam peradilan tindak pidana korupsi ?

D.Kajian Pustaka

a. Eddy O.S. Hiariej “Teori dan Hukum Pembuktian”buku ini membahas mengenai beberapa istilah dan arti penting pembuktian, karakter dan

(25)

parameter pembuktian, beberapa asas terkait pembuktian, alat-alat bukti, pembuktian dalam perkara perdata di Indonesia dan pembuktian dalam perkara pidana di Indonesia. Dalam buku ini di jelaskan bahwa pembuktian merupakan elemen yang sangat penting dalam perkara pidana karena pembuktian memberikan landasan dan argumen yang kuat kepada penuntut umum untuk mengajukan tuntutan. Pembuktian dipandang sebagai sesuatu yang tidak memihak, objektif, dan memberikan informasi kepada hakim untuk mengambil kesimpulan terhadap suatu kasus yang sedang disidangkan.

b. Anshoruddin “Hukum Pembuktian menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif” buku ini membahas mengenai pembuktian dalam hukum islam dan hukum positif yang mencakup pengertian pembuktian, dasar hukum pembuktian, dan kewajiban pembuktian. Selain itu buku ini juga memaparkan macam-macam alat bukti dalam hukum islam dan hukum positif serta buku ini juga mengidentifikasi perbedaan dan persamaan hukum pembuktian dan alat-alat bukti menurut hukum islam dan hukum positif.

c. Andi Hamzah ”Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia” buku ini menjelaskan mengenai sistem atau teori pembuktian. Dalam menilai kekuatan pembuktian alat-alat bukti dikenal beberapa sistem dan teori pembuktian. Indonesia menganut teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif, dalam teori ini dijelaskan bahwa pemidanaan didasarkan pada pembuktian yang berganda yaitu pada peraturan perundang-undangan dan keyakinan hakim. Syarat dari pembuktian ini ketika diperolehnya dua alat bukti yang sah dan keyakinan hakim bahwa terdakwalah yang melakukan tindak pidana.

d. Rahman Syamsuddin “Hukum Acara Pidana dalam Integrasi Keilmuan” uku ini menjelaskan mengenai pembuktian yang berisi ketentuan dan pedoman

(26)

tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Selain itu pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan boleh digunakan hakim membuktikan kesalahan yang didakwakan. e. Andi Hamzah “Pemberantasan Korupsi melalui Hukum Pidana Nasional dan

Internasional” uku ini menjelaskan secara lengkap berbagai hal berkaitan dengan korupsi. Diawali dengan pengertian mendasar tentang korupsi dan gambaran sebab akibatnya. Kemudian dipaparkan secara lengkap mengenai sejarah panjang perundang-undangan pidana korupsi di indonesia. Selain itu juga dibahas keberadaan konvensi internasional mengenai korupsi, dan perbandingannya dengan UU PTPK. Serta ditutup dengan menawarkan strategi pemberantasan korupsi.

E.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum

Berdasarkan pokok masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan pembuktian keterangan saksi yang dibacakan dipersidangan dalam tindak pidana korupsi persfektif hukum Islam (studi kasus putusan Nomor 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks).

b. Tujuan Khusus

Berdasarkan sub masalah tersebut, maka dapat diuraikan tujuan khusus penelitian ini diantaranya :

a. Untuk mengetahui dan menganalisis kekuatan pembuktian keterangan saksi sebagai alat bukti dalam peradilan tindak pidana korupsi.

(27)

b. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan perkara Nomor. 33/Pid.Sus.TPK/2018/PNMks.

c. Untuk mengetahui dan menganalisis pandangan hukum islam terhadap pembuktian keterangan saksi dalam peradilan tindak pidana korupsi. 2. Kegunaan Penelitian

a. Penelitian ini diharapkan mampu menambah khazanah ilmu pengetahuan mahasiswa hukum khususnya mngenai pembuktian keterangan saksi di persidangan.

b. Dapat memberikan masukan kepada masyarakat maupun praktisi hukum terkait dengan permasalahan-permasalahan yang sering terjadi dalam proses persidangan.

c. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pertimbangan Jaksa Penuntut Umum dalam tugasnya menghadirkan saksi di persidangan sehingga tidak menghilangkan hak konstitusional seorang terdakwa.

(28)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Tinjauan Umum Pembuktian

1. Pengertian Pembuktian

Dalam perkara pidana, pembuktian selalu penting dan krusial. Terkadang dalam menangani suatu kasus, saksi-saksi, para korban dan pelaku diam (dalam pengertian tidak mau memberikan keterangan) sehingga membuat pembuktian menjadi hal yang penting. Pembuktian memberikan landasan dan argumen yang kuat kepada penuntut umum untuk mengajukan tuntutan. Pembuktian dipandang sebagai sesuatu yang tidak memihak, objektif, dan memberikan informasi kepada hakim untuk mengambil kesimpulan terhadap suatu kasus yang sedang disidangkan.19

Berbeda dengan pembuktian perkara lainnya, pembuktian dalam perkara pidana sudah dimulai dari tahap pendahuluan, yakni penyelidikan dan penyidikan. Pada tahap pendahuluan tersebut, tata caranya jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan hukum acara lainnya. Penyelesaian perkara pidana meliputi beberapa tahap, yakni tahap penyelidikan dan penyidikan di tingkat Kepolisian, tahap penuntutan di Kejaksaan, tahap pemeriksaan perkara tingkat pertama di Pengadilan Negeri, tahap upaya hukum di pengadilan tinggi serta Mahkamah Agung, kemudian tahap eksekusi oleh eksekutor jaksa penuntut umum. Dengan demikian, pembuktian dalam perkara pidana menyangkut beberapa institusi, yakni Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan.

M. Yahya Harahap mendefinisikan pembuktian sebagai ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada

19

Eddy O.S Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, h. 96. 12

(29)

terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan mengatur mengenai alat bukti yang boleh digunakan hakim guna membuktikan kesalahan terdakwa.20

Dalam pasal 183 KUHAP menyatakan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Asas minimum pembuktian merupakan prinsip yang mengatur batas yang harus dipenuhi untuk membuktikan kesalahan terdakwa yaitu :

- Dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah (dengan hanya satu alat bukti belum cukup).

- Kecuali dalam pemeriksaan perkara dengan cara pemeriksaan “cepat” dengan satu alat bukti sah saja sudah cukup mendukung keyakinan hakim.21 2. Sistem atau Teori Pembuktian

Dalam menilai kekuatan pembuktian alat-alat bukti yang ada, dikenal beberapa sistem atau teori pembuktian yaitu :

a. Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka (conviction Intime) Sistem pembuktian ini menentukan terbukti tidaknya kesalahan terdakwa semata-mata ditentukan atas penilaian keyakinan hati nurani hakim. Pembuktian ini tidak perlu didasarkan pada alat bukti yang ada, hakim langsung dapat menarik kesimpulan dari keterangan terdakwa yang diberikan di persidangan.

Sistem ini memberikan kebebasan kepada hakim terlalu besar, sehingga sulit diawasi. Disamping itu, terdakwa atau penasihat hukumnya sulit untuk melakukan pembelaan. Dalam hal ini hakim dapat memidana terdakwa berdasarkan

20

Eddy O.S Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, h. 4.

21

Rahman Syamsuddin, Hukum Acara Pidana dalam integrasi keilmuan, (Makassar : Alauddin University Press, 2013), h. 135.

(30)

keyakinannya bahwa ia telah melakukan apa yang didakwakan.22 Begitu pula sebaliknya hakim juga dapat membebaskan terdakwa dari apa yang didakwakan meskipun terdakwa telah cukup terbukti dengan bukti yang lengkap, selama hakim tidak yakin atas perbuatan terdakwa.

b. Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positive

wettelijk bewijstheorie)

Pembuktian yang didasarkan melulu kepada alat-alat pembuktian yang disebut sistem atau teori pembuktian berdasar undang-undang secara positif (positive

wettelijk bewijstheorie). Dikatakan secara positif, karena hanya didasarkan kepada

undang-undang melulu. Artinya, jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh undang-undang, maka keyakinan hakim tidak diperlukan sama sekali.23

c. Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (conviction rasionnee)

Menurut teori ini, hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasar keyakinannya, keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian disertai dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berdasarkan kepada peraturan-peraturan pembuktian tertentu.24

Dalam konteks hukum acara pidana di indonesia, conviction rasionnee digunakan dalam persidangan tindak pidana ringan, termasuk perkara lalu lintas dan persidangan perkara pidana dalam acara cepat yang tidak membutuhkan jaksa penuntut umum untuk menghadirkan terdakwa, tetapi polisi yang mendapat kuasa dari jaksa penuntut umum dapat menghadirkan terdakwa dalam sidang pengadilan.25

22

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, h. 252.

23

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, h. 251.

24

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, h. 253.

25

(31)

d. Sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif (negatif

wettelijk bewis theorie)

1) Sistem pembuktian ini berada diantara sistem positif wettelijk dan sistem

conviction resionnee.

2) Salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan pada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Jadi sistem pembuktian yang dianut peradilan pidana Indonesia adalah sistem

pem uktian “Negatif wettelijk stelsel” atau sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif yang harus :26

- Kesalahan terbukti dengan sekurang-kurangnya “dua alat ukti yang sah” - Dengan alat bukti minimum yang sah tersebut hakim memperoleh keyakinan

bahwa telah terjadi tindak pidana dan terdakwalah pelakunya.

B.Pembuktian dalam Hukum Islam

Pada setiap proses perkara yang penyelesaiannya melalui pengadilan pada asasnya diperlukan pembuktian baik itu terjadi dalam proses perkara perdata ataupun dalam proses perkara pidana. Hukum pembuktian dalam hukum acara merupakan suatu hal yang sangat penting, karena tugas hukum acara yang sangat penting adalah menentukan kebenaran dalam suatu pertentangan kepentingan. Dalam menentukan kebenaran itulah dicari bukti-bukti yang turut memberi penerangan bagi hakim dalam mengambil putusan akhir.27

Pembuktian dalam hukum Islam dikenal dengan istilah al-bayyinah. Secara etimologi berarti keterangan, yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menjelaskan yang hak (benar). Secara teknis berarti alat-alat bukti dalam sidang pengadilan. Dengan demikian dapat juga dipahami bahwa alat bukti adalah cara

26

Rahman Syamsuddin, Hukum Acara Pidana dalam integrasi keilmuan, h. 134.

27

(32)

atau alat yang digunakan dalam pembuktian. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah,

al-bayyinah mengandung pengertian yang lebih luas dari definisi mayoritas ulama

yang dapat digunakan untuk mendukung dakwaan seseorang. Ia mendefinisikan

al-bayyinah sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menjelaskan yang

hak (benar) di depan majelis hakim, baik berupa keterangan, saksi dan berbagai indikasi yang dapat dijadikan pedoman oleh majelis hakim untuk mengembalikan hak pada pemiliknya.28

Secara terminologis, pembuktian berarti memberikan keterangan dengan dalil hingga meyakinkan. Beberapa pakar hukum Indonesia memberikan berbagai macam pengertian mengenai pembuktian. Prof. Dr. Supomo misalnya, dalam bukunya Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri menerangkan bahwa pembuktian mempunyai arti luas dan arti terbatas. Dalam arti luas, pembuktian berarti memperkuat kesimpulan dengan syarat-syarat bukti yang sah, sedangkan dalam arti terbatas pembuktian itu hanya diperlukan apabila yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat.29

Dalam Hukum Islam, keyakinan hakim memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan keyakinan hakim tersebut adalah sebagai berikut:

1. Yaqiin : meyakinkan, yaitu si hakim benar-benar yakin (terbukti 100%).

2. Zhaan : sangkaan yang kuat, yaitu lebih condong untuk membenarkan

adanya pembuktian (terbukti 75-99%). 3. Syubhat : ragu-ragu (terbukti 50%).

4. Waham : sangsi, lebih banyak tidak adanya pembuktian dari pada adanya

(terbukti < 50%), maka pembuktiannya lemah.

28

Taufiqul Hadi, Sistem Pembuktian Perkara di dalam Hukum Acara Peradilan Islam, Sekolah

Tinggi Ilmu Syari’ah Nahdatul Ulama, h. 3-4.

29

Sulaikhan Lubis, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2015), h. 135.

(33)

Suatu pembuktian diharapkan dapat memberikan keyakinan hakim pada tingkat yang meyakinkan (terbukti 100%) dan dihindarkan pemberian putusan apabila terdapat kondisi syubhat atau yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan dalam pengambilan keputusan berdasar kondisi syubhat ini dapat memungkinkan adanya penyelewengan. Nabi Muhammad SAW, lebih cenderung mengharamkan atau menganjurkan untuk meninggalkan perkara syubhat.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam Alquran maupun sunah Rasulullah saw tidak ada penjelasan yang menyatakan bahwa al-bayyinah itu khusus untuk kesaksian. Alquran dan sunah hanya menjelaskan bahwa al-bayyinah itu adalah dalil, hujjah, dan keterangan yang dapat dijadikan alasan.

Dalam hukum acara peradilan Islam para fuqahah tidak membedakan hukum-hukum bayyinah (pembuktian) dalam perkara perdata dan perkara pidana. Semuanya mereka bahas dalam kitab syahadat (kesaksian). Dalam hal membuktikan kebenaran dakwaan merupakan kewajiban dari penggugat, sebab menurut asal segala urusan itu diambil yang lahirnya. Maka wajib atas orang yang mengemukakan dakwaannya atas sesuatu yang lahir, untuk membuktikan kebenaran dakwaannya itu. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw dengan lafaz :

َرَنَّْا ٍَِْ ًَيَػ ََُُُِِْْى َو , ًِػَّدَُىا ًَيَػُةََُِّْثْىا : ٍخُْ ِحَص ٍد اَْْض ِإِت ٍِِّقَهَُْثْيِى َو

Artinya : Menurut riwayat Baihaqi dengan sanad shahih : Bukti diwajibkan atas pendakwa dan sumpah diwajibkan atas orang yang ingkar. (HR. Al-Baihaqi).30

Hadis ini sebagai dasar hukum pembebanan pembuktian, artinya pendakwa harus dapat membuktikan bahwa isi dakwaannya itu benar, dan sebaliknya bagi pihak yang terdakwa sebelumnya menyampaikan jawaban atas dakwaannya akan dikenakan beban sumpah. Pentingnya sumpah terhadap

30

Ahmad bin Farh Al Ahmari Al Isbili, Mukhtar Khilafiyat Al Baihaqi, (Riyadh : Maktabah Arrusydi, 1997), h. 144.

(34)

terdakwa adalah agar jawaban-jawaban yang disampaikannya memberikan keterangan yang senyatanya dan tidak dibuat-buat.31

Inilah suatu kaidah umum, walaupun kaidah ini kadang-kadang menimbulkan bahaya, artinya : kadang-kadang sesuatu dakwaan yang sebenarnya benar, harus ditolak apabila si pendakwa tidak dapat membuktikan tentang kebenarannya.

C.Tinjauan Umum Alat Bukti Keterangan Saksi

1.Pengertian Alat Bukti Keterangan Saksi

Definisi saksi dan definisi keterangan saksi secara tegas diatur dalam

KUHAP Berdasarkan pasal 1 angka 26 KUHAP dinyatakan “saksi adalah orang

yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia

alami sendiri” Sementara itu pasal 1 angka 27 KUHAP menyatakan

“Keterangan saksi adalah salah satu alat ukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari

pengetahuannya itu”

Konstruksi pasal 1 angka 26 juncto pasal 1 angka 27 juncto pasal 184 ayat (1) huruf a KUHAP pada intinya mendefinisikan saksi sebagai seorang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, lihat sendiri, dan alami sendiri. Jika diterjemahkan secara a contrario, keterangan saksi atas suatu peristiwa yang tidak dilihat, didengar, atau dialami sendiri bukanlah keterangan saksi.32

2.Syarat-syarat seorang saksi

Pada umumnya semua orang dapat menjadi saksi. Pengecualian menjadi saksi tercantum dalam pasal 168 KUHAP :

31

Anshoruddin, Hukum Pembuktian menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif, h. 43.

32

(35)

a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa ;

b. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan keturunan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;

c. Suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.33

Disamping karena hubungan kekeluargaan (sedarah atau semenda), ditentukan oleh pasal 170 KUHAP bahwa juga mereka karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat diminta dibebaskan dari kewajiban memberi keterangan sebagai saksi.

Menurut penjelasan pasal tersebut, pekerjaan atau jabatan yang menentukan adanya kewajiban untuk menyimpan rahasia ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Selanjutnya dijelaskan bahwa jika tidak ada ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang jabatan atau pekerjaan yang dimaksud, maka seperti ditentukan oleh ayat ini, hakim yang menentukan sah atau tidaknya alasan yang dikemukakan untuk mendapatkan kebebasan tersebut.34

Selain itu, kewajiban saksi mengucapkan sumpah atau janji juga diatur dalam KUHAP yang telah ditentukan bahwa pengucapan sumpah merupakan syarat mutlak suatu kesaksian sebagai alat bukti.

Dalam pasal 160 ayat (3) KUHAP dijelaskan bahwa sebelum memberikan keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya

33

Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1987), h. 237.

34

(36)

masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya.

Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di muka sidang pengadilan. Dengan perkataan lain hanya keterangan saksi yang diberikan dalam pemeriksaan di muka sidang pengadilan yang berlaku sebagai alat bukti yang sah (pasal 185 ayat (1) KUHAP). Kalau demikian bagaimana nilai pembuktian keterangan saksi yang diberikan kepada penyidik dalam pemeriksaan penyidikan dan mengenai hal tersebut, KUHAP tidak memberikan secara tegas, namun dalam pasal 185 ayat (7) diterangkan bahwa keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain tidak merupakan alat bukti yang sah. Dan apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang

disumpah dapat dipergunakan se agai “tam ahan” alat ukti yang sah yang lain 35

Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan apabila keterangan saksi yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan tersebut diberikan dibawah sumpah, maka keterangan saksi itu berlaku sebagai alat bukti yang sah. Sedangkan keterangan saksi kepada penyidik yang dituangkan dalam BAP berlaku sebagai

alat ukti “surat” (pasal 187 huruf atau d KUHAP) Dengan demikian

keterangan saksi yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan juga berlaku dan mempunyai kekuatan pembuktian sebagai alat bukti yang sah sebagaimana yang dimaksud dalam KUHAP pasal 187 huruf b.

3.Isi dan Nilai Keterangan Saksi

Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah telah melakukan perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa (unus testis nullus testis = satu saksi bukan saksi). Namun apabila keterangan seorang saksi tersebut didukung setidak-tidaknya dengan satu alat bukti yang sah

35

(37)

lainnya, maka keterangan seorang saksi itu dinilai cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa terhadap perbuatan yang didakwakan (pasal 183 juncto pasal 185 ayat (2) dan (3) KUHAP). Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu (pasal 185 ayat (4) KUHAP).36 Secara prinsip unus testis nullus testis mengisyaratkan bahwa untuk menentukan kebenaran suatu peristiwa hukum menjatuhkan lebih dari satu orang saksi. Kalaupun hanya terdapat satu saksi, kesaksian tersebut harus ada persesuaian dengan alat bukti lainnya. Dengan demikian, nilai pembuktian keterangan saksi tidak terletak pada banyaknya, tetapi kualitasnya.37

Menurut KUHAP, keterangan satu saksi bukan saksi hanya berlaku bagi pemeriksaan biasa dan pemeriksaan singkat, tidak berlaku bagi pemeriksaan cepat. Hal ini dapat disimpulkan dari penjelasan pasal 184 KUHAP sebagai berikut :

“Dalam acara pemeriksaan cepat keyakinan hakim cukup didukung satu alat ukti yang sah”

Jadi, ini berarti satu saksi, satu keterangan ahli, satu surat, satu petunjuk, atau keterangan terdakwa disertai keyakinan hakim cukup sebagai alat bukti untuk memidana terdakwa dalam perkara cepat. Acara pemeriksaan cepat ini terbagi dua, paragraf 1, mengenai acara pemeriksaan tindak pidana ringan dan paragraf 2, mengenai acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas.38

Keterangan saksi yang merupakan pendapat atau rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran, bukan merupakan keterangan saksi (pasal 185 ayat (5)

36

H.M.A. Kuffal, Penerapan KUHAP dalam praktik hukum, h. 16.

37

Eddy O.S. Hiariej, Teori dan Hukum Pembuktian, h. 61.

38

(38)

KUHAP). Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi hakim harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan :

a) Persesuaian antara keterangan saksi yang satu dengan yang lain;

b) Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti yang sah lainnya;

c) Alasan yang mungkin dipergunakan saksi untuk memberi keterangan yang tertentu;

d) Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya (pasal 185 ayat (6) KUHAP).

Di dalam penjelasan pasal 185 ayat (1) KUHAP dikatakan: “Dalam

keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari orang lain atau

testimonium de auditu” Dengan demikian, terjawablah dengan tegas bahwa keterangan saksi yang diperoleh dari orang lain bukanlah alat bukti yang sah. Keterangan demikian berupa keterangan saksi yang mendengar orang lain mengatakan atau meenceritaan sesuatu, atau yang didalam ilmu hukum acara pidana disebut testimonium de auditu atau hearsay evidence.39

Andi Hamzah berpendapat bahwa sesuai dengan penjelasan KUHAP yang mengatakan kesaksian de auditu tidak diperkenankan sebagai alat bukti, dan selaras pula dengan tujuan hukum acara pidana yaitu mencari kebenaran material, dan pula untuk perlindungan terhadap hak asasi manusia, dimana keterangan seorang saksi yang hanya mendengar dari orang lain, tidak terjamin kebenarannya, maka kesaksian de auditu atau hearsay evidence patut tidak dipakai di indonesia pula.40 Kendatipun testimoni de auditu bukan sebagai keterangan saksi, jika testimoni de auditu berhubungan dan selaras dengan

39

Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, h. 241-242.

40

(39)

kenyataan yang didapat dari alat bukti yang lainnya, testimoni de auditu perlu dipertimbangkan dalam rangka menambah keyakinan hakim.

Dalam hukum acara pidana pasal 160 ayat (1) KUHAP dikenal adanya saksi-saksi yang memberatkan terdakwa (saksi a charge)41 dan saksi-saksi yang meringankan/menguntungkan terdakwa (saksi a de charge). Perlu diketahui bahwa kedudukan sebagai saksi merupakan kewajiban bagi setiap orang. Karena itu saksi yang dipanggil oleh penyidik/penuntut umum/pengadilan wajib memenuhi panggilan itu dan jika ia menolak untuk memenuhi panggilan/memberikan keterangan ia dapat dituntut dan diancam pidana berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Saksi yang tidak memenuhi panggilan/tidak mau/menolak memberikan keterangan kepada penyidik atau penuntut umum diancam pidana penjara selama empat bulan dua minggu (pasal 216 KUHP). Saksi yang tidak mau/menolak memenuhi panggialn/memberikan keterangan dimuka sidang pengadilan diancam pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan untuk perkara pidana, dan dalam perkara lainnya diancam pidana selama 6 (enam) bulan (pasal 224 KUHP).42

Jika saksi sesudah memberikan keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena berhalangan yang sah tidak hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh kediamannya/tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikan (kepada penyidik) dibacakan. Apabila keterangan itu sebelumnya telah diberikan dibawah sumpah, maka keterangan itu disamakan nilainya dengan keterangan saksi dibawah sumpah yang diucapkan di sidang pengadilan (pasal 162 KUHAP). Apabila keterangan saksi yang diberikan dibawah sumpah itu palsu (tidak benar) maka terhadap saksi yang memberikan sumpah palsu itu diancam pidana

41

Sudarsono, Kamus Hukum, h. 13.

42

(40)

penjara maksimal selama 9 (sembilan) tahun. Demikian pula janji yang di ucapkan sebagai pengganti sumpah, kalau terbukti janji yang diberikan itu adalah palsu (tidak benar) maka kepada saksi yang memberikan janji palsu itu diancam dengan pidana yang sama dengan sumpah palsu.43

4.Alat Bukti Kesaksian dalam Hukum Islam a. Arti dan Dasar Alat bukti saksi

Bayyinah dalam istilah fuqaha, sama dengan syahadah (kesaksian). Tetapi

ibnu Al-Qayyim memaknakan “Bayyinah” dengan “segala yang dapat

menjelaskan perkara” Sedang syahadah, ialah mengemukakan syahadah

(kesaksian) untuk menetapkan hak atas diri orang lain. Dengan kesaksian yang cukup syarat, nyatalah kebenaran bagi hakim dan wajiblah dia memutuskan perkara sesuai dengan kesaksian itu.44

Alat bukti saksi, dalam hukum Islam disebut dengan syahid (saksi lelaki) atau syahidah (saksi perempuan) yang terambil dari kata musyâhadah yang artinya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Jadi saksi yang dimaksudkan adalah manusia hidup.45 Dasar alat bukti saksi menurut Islam QS. al-Baqarah/2 : 282

...





























































































...



Terjemahnya :” dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil ”46

43

H.M.A. Kuffal, Penerapan KUHAP dalam praktik hukum, h. 18.

44

T.M Hasbi Ash Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Yogyakarta : pt alma’arif, 1964), h.

119.

45

Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta : Rajawali Pers, 2015), h. 159.

46

(41)

Masih banyak lagi ayat dan hadis tentang saksi tapi ayat yang disebutkan di atas adalah menjadi dasar umumnya, yaitu saksi itu secara umum terdiri dari dua orang lelaki atau seorang lelaki bersama dua orang permpuan, yang semuanya beragama islam.

Kesaksian merupakan kewajiban peradilan atas hakim yang mewajibkannya, hukum mendatangkan kesaksian dengan segala syarat-syaratnya merupakan keharusan, jika kewajiban menghadirkan saksi ditinggalkan semuanya akan berakibat menghilangkan hak atau kebenaran, memberi kesaksian hukumnya fardlu ‘ain, seorang saksi harus memberikan kesaksiannya dan tidak boleh menyembunyikan jika penggugat memintanya.47

Seseorang yang hendak memberikan kesaksian menurut Abdul Karim Zaidan harus dapat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.48

1) Dewasa 2) Berakal

3) Mengetahui apa yang disaksikan 4) Beragama islam

5) Adil

6) Saksi itu harus dapat melihat 7) Saksi itu harus dapat berbicara

Nashr Farid Washil, menambahkan tidak adanya paksaan dan Sayyid Sabiq, menambahkan pula yaitu saksi itu harus memiliki ingatan yang baik dan bebas dari tuduhan negatif. Syarat tidak adanya paksaan bagi saksi maksudnya orang yang memberikan kesaksian atas dasar intimidasi demi orang lain bisa

47

Aris Bintania, Hukum Acara Peradilan Agama dalam kerangka Fiqh al-Qadha, (Jakarta : Rajawali Pers, 2013), h. 72.

48

(42)

mendorongnya untuk mempersaksikan hal yang bukan pengetahuannya. Oleh karenanya dapat mempengaruhi kepercayaan terhadap kesaksiannya.49

b. Variasi Alat Bukti Saksi

Hukum asal saksi sebagai alat bukti, cukup 2 orang lelaki sebagaimana sudah dijelaskan, tetapi dalam beberapa jenis perkara, tampaknya alat bukti itu bervariasi, seperti berikut ini :50

1) Dalam perkara zina atau tuduhan zina, saksinya 4 orang lelaki yang beragama Islam.

2) Jika menuduh isteri sendiri telah berzina (tidak berlaku bagi tuduhan terhadap perempuan selain isteri) tetapi tidak mampu mendatangkan 4 orang saksi lelaki yang beragama Islam, dapat dibuktikan dengan suami

mengucapkan sumpah li‟an

3) Pembuktian saksi bagi wasiat harta dalam perjalanan (musafir) oleh 2 orang saksi yang beragama Islam, atau oleh seorang lelaki bersama dua orang perempuan beragama Islam semua, atau boleh 2 orang lelaki yang bukan beragama Islam, atau oleh seorang lelaki bersama 2 orang perempuan yang semuanya bukan beragama Islam.

4) Pembuktian perkara hudud selain zina termasuk hudud qisas badan atau jiwa, dengan 2 orang saksi yang beragama Islam.

5) Pembuktian saksi yang terdiri cukup oleh seorang lelaki bersama 2 orang perempuan yang beragama Islam, yaitu dalam perkara harta benda, perkawinan, wasiat, hibah, waqaf, iddah, perwakilan, perdamaian, pengakuan, pembebasan dan lain-lain yang sejenis itu, yang pada umumnya bersifat hak keperdataan.

49

Anshoruddin, Hukum Pembuktian menurut Hukum Acara Islam dan Hukum Positif, h. 76.

50

(43)

6) Pembuktian dengan perempuan semua, 2 orang atau 4 orang dalam perkara-perkara yang lazimnya hanya diketahui oleh kaum hawa, seperti tentang keperawanan, susuan, kelahiran (termasuk soal bayi bersuara atau tidak ketika lahir), cacat-cacat perempuan dan sebagainya yang sejenis itu. Dasar yang mengatakan dengan 2 orang perempuan karena di jenis perkara seperti itu pengetahuan peremuan sama dengan pengetahua lelaki sedangkan dasar yang mengatakan 4 orang perempuan karena Rasulullah Saw mengatakan bahwa kesaksian perempuan setengah kesaksian lelaki.

7) Pembuktian dengan seorang saksi ditambah sumpah dari pihak yang memiliki saksi itu (al-yamin ma’a asy-syâhid). Ini pernah dilakukan oleh

Rasulullah Saw. dalam hal seorang telah mengaku masuk islam dengan seorang saksi dengan sumpahnya.

8) Ada pula ahli hukum Islam (fuqaha‟) yang mem olehkan pem uktian dengan seorang saksi saja, yaitu dalam kesaksian awal bulan Ramadhan. 9) Ada pula ahli hukum Islam yang membolehkan pembuktian hanya dengan

seorang saksi saja terhadap jenis-jenis perkara yang tersebut di butir 6) diatas.

Bila kita perhatikan dengan cermat kedudukan saksi yang tertera di butir 1) sampai 9), tentulah kita dapat menentukan sendiri mana kedudukan saksi sebagai syarat pembuktian, mana kedudukan saksi sebagai syarat hukum dan mana kedudukan saksi sebagai syarat pembuktian sekaligus sebagai syarat hukum. Selain dari itu, mengukur kedudukan saksi juga harus kontekstual, artinya dalam hubungan apa dan untuk keperluan apa saksi diajukan dimuka sidang pengadilan agama. Penggunaan saksi untuk syarat hukum terhadap saksi untuk syarat pembuktian atau sebaliknya, tentu saja menyebabkan kacaunya mengartikan saksi dan oleh karenanya harus hati-hati jangan terbalik atau salah

Gambar

Foto pada saat Melakukan wawancara dengan Kuasa Hukum Terdakwa 91

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 184 KUHAP, bahwa alat bukti yang sah dalam persidangan dapat. berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk,

alternatif peneyelesaian masalah jika pada suatu hal jaksa penuntut umum atau hakim tidak dapat menghadirkan saksi ke persidangan karena alasan tertentu.Jadi, tidak selamanya

Keterangan saksi dianggap sebagai alat bukti tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) huruf a, sedangkan keterangan lebih rinci mengenai keterangan saksi dijelaskan pada

Skripsi ini membahas tentang bagaimanakah penerapan hukum pembuktian dalam hukum acara pidana, bagaimanakah kedudukan keterangan saksi sebgaai alat bukti dalam KUHAP, dan

Berdasarkan Pasal 188 ayat (1) KUHAP, petunjuk didefinisikan sebagai perbuatan, kejadian, atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain

Penuntut umum telah mengajukan keberatan atas disumpahnya kedua saksi tersebut karena bertentangan dengan pasal 168 dan 169 KUHAP, namun hakim tetap

Kehadiran saksi testimonium de auditu di persidangan dalam perkara pencabulan yang dilakukan terdakwa tidak sesuai dengan Pasal 1 angka 27 KUHAP yang menyatakan

Dalam penjelasan Pasal 171 KUHAP bahwa telah ditentukan nilai pembuktian yang melekat pada keterangan saksi yang tidak disumpah dapat digunakan sebagai petunjuk