• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEMAJUAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI. Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun. Ketua :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KEMAJUAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI. Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun. Ketua :"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

i

Bidang Unggulan : Kesehatan dan Obat-obatan Kode/Nama Bidang Ilmu : 405/Farmasetika dan Teknologi Farmasi

LAPORAN KEMAJUAN

HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI

Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun

Ketua :

Ni Putu Ayu Dewi Wijayanti, S.Farm., M.Si., Apt. (NIDN. 0027078601) Anggota :

Ketut Widyani Astuti, S.Farm., M.Biomed., Apt (NIDN. 0005068201)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA

(2)
(3)

iii DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ... iv

Daftar Gambar ... vi

Daftar Lampiran ... vii

Ringkasan. ... viii

Prakta ... 1

BAB I PENDAHULUAN ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

BAB III MANFAAT DAN TUJUAN ... 12

BAB IV METODE PENELITIAN ... 13

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 17

BAB VI RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ... 32

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(4)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 5.1 Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol 96%

Kulit Buah Manggis ... 18 Tabel 5.2 Hasil Karakterisasi Ekstrak Kulit Buah Manggis ... 19 Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Viskositas Dispersi HPMC dalam

akuades pada menit ke-20 ... 20 Tabel 5.4 Hasil Pengukuran Viskositas Dispersi HPMC dalam

akuades suhu 90°C pada menit ke-10 ... 21 Tabel 5.5 Hasil Pengujian Organoleptis Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades ... 24 Tabel 5.6 Hasil Pengujian Organoleptis Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu

90°C ... 24 Tabel 5.7 Hasil Pengujian Homogenitas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades ... 25 Tabel 5.8 Hasil Pengujian Homogenitas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu

90°C ... 25 Tabel 5.9 Hasil Pengujian Daya Lekat Gel Ekstrak Kulit Buah

Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades ... 28 Tabel 5.10 Hasil Pengujian Daya Lekat Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

(5)

v

(6)

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Buah Manggis ... 4

Gambar 2.2 Struktur Kimia α-mangostin ... 6

Gambar 2.3 Struktur Kimia HPMC ... 9

Gambar 5.1 Kurva Rheologi Pseudoplastis ... 20

Gambar 5.1 Kurva Rheologi Pseudoplastis ... 21

Gambar 5.3 Kurva Hubungan HPMC dengan Rate of Shear ... 22

Gambar 5.4 Profil Viskositas selama Penyimpanan ... 26

Gambar 5.5 Profil Daya Sebar selama Penyimpanan ... 27

Gambar 5.6 Profil Waktu Sediaan Mengering selama Penyimpanan ... 29

(7)

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. LOA Jurnal Farmasi Udayana ...38 Lampiran 2. Jurnal Farmasi Udayana ...39 Lampiran 3. Abstrak Jurnal yang akan disubmit di he 2nd International Symposium on

Traditional and Alternative Medicine” (ISTAM) 2015 to be held in Surabaya City-Indonesia, 23-24 November 2015 ... 44 Lampiran 4. Hasil Determinasi Tanaman Manggis ... 45 Lampiran 5. Hasil Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Kulit Buah Manggis... 47 Lampiran 6. Produk Gel dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades selama

penyimpanan ... 48 Lampiran 7. Produk Gel dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu

90°C selama penyimpanan ... 49

(8)

viii RINGKASAN

Penggunaan antioksidan merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mencegah penuaan (Ardhie, 2011). Salah satu tanaman yang mengandung antioksidan adalah kulit buah manggis yang mengandung senyawa alfa mangosten. Penelitian sebelumnya, ekstrak kulit buah manggis telah diformulasi menjadi bentuk sediaan gel dengan HPMC sebagai gelling agent (Sukmawati et al (2013)). Gelling agent merupakan faktor kritis yang mempengaruhi karakteristik gel. Hidroxy propyl methyl cellulose (HPMC) merupakan gelling agent semi sintetik turunan selulosa yang stabil pada suhu 50-90ºC. Namun, viskositas HPMC akan menurun seiring meningkatnya temperatur (Rowe et al.,2009). Pada penelitian sebelumnya, HPMC didispersikan dalam akuades dengan temperatur yang berbeda-beda yakni (Utamy et al (2014)) menggunakan akuades suhu 300C, sedangkan Sukmawati et al (2013), menggunakan akuades suhu 900C. Penelitian lainnya, basis gel HPMC yang dikembangkan dalam akuades suhu 70oC memiliki kestabilan fisik paling optimal. Perbedaan perlakuan dalam pengembangan gelling agent akan mempengaruhi stabilitas dan jumlah pelepasan zat aktif dalam sediaan (Verma (2013)). Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh variasi metode pembuatan HPMC dalam gel ekstrak kulit buah manggis terhadap karakteristik dan stabilitas. Penelitian ini bersifat eksperimental dimana simplisia kulit buah manggis diekstraksi dalam etanol 96%. HPMC didispersikan dalam akuades dan akuades suhu 80-900C kemudian dioptimasi waktu pengembangannya hingga diperoleh viskositas yang konstan. Hasil pengembangan HPMC optimum kemudian diformulasi menjadi sediaan gel ekstrak kulit buah manggis. Sediaan gel kemudian dievaluasi sifat fisika kimia dan stabilitas penyimpanan selama 1 bulan.

Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didisperiskan dalam akuades dan akuades suhu 90°C, mengalami peningkatan viskositas diluar rentang persyaratan pada hari ke-21 penyimpanan. Sediaan masih dikatakan stabil terlihat dari tidak terjadinya sineresis selama 28 hari pada suhu 30°C.

(9)

1 PRAKATA Om Swastiastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan waktu, kemudahan, dan petunjuk kepada tim peneliti sehingga penulisan Laporan Akhir Penelitian Dosen Muda dengan judul Pengaruh Variasi Metode Pembuatan Gelling Agent terhadap Karakteristik, Stabilitas dan Pelepasan Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dapat terselesaikan.

Laporan kemajuan ini disusun dalam rangka untuk memenuhi prosedur penelitian oleh LPPM Universitas Udayana. Dalam proses hingga terselesaikannya laporan kemajuan ini, dengan kerendahan hati, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Udayana

2. Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam Selaku Pemberi Dana Penelitian Hibah Unggulan Program Studi

3. Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Universitas Udayana atas fasilitas penunjang pelaksanaan penelitian

4. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kebun Raya Eka Karya Bedugul

5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan kemajuan penelitian ini kami ucapkan terima kasih

Besar harapan kami bahwa laporan kemajuan ini dapat kiranya diterima sehingga akan menambah khasanah wawasan dalam kegiatan penelitian khususnya dan Universitas Udayana pada umumnya sebagai lembaga pendidikan dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kritik dan saran atas laporan kemajuan ini sangat kami harapkan untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Atas kerjasama semua pihak yang terlibat hingga selesainya laporan kemajuan ini, kami ucapkan terima kasih.

Bukit Jimbaran, September 2015 Peneliti

(10)

2

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan antioksidan merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan untuk mencegah penuaan (Ardhie, 2011). Antioksidan merupakan suatu substansi yang pada konsentrasi kecil secara signifikan mampu menghambat atau mencegah oksidasi pada substrat (Isnandar et al., 2011). Salah satu tanaman yang mengandung antioksidan adalah tanaman manggis. Kulit buah manggis mengandung antioksidan sebanyak 66,7 kali wortel dan 8,3 kali jeruk (Miryanti dkk., 2011). Senyawa antioksidan yang terdapat pada kulit buah manggis adalah senyawa polifenol berupa xanton dengan senyawa aktif utama yaitu α-mangostin (Evrilia dkk., 2014; Palakawong et al., 2010). Aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah manggis telah diuji dengan menggunakan berbagai macam pelarut, diantaranya air, etanol 50%, etanol 95% dan etil asetat. Dari hasil penelitian, potensi antioksidan paling besar diperoleh menggunakan etanol dan air (Nugroho, 2012).

Telah dilakukan formulasi ekstrak etanol kulit buah manggis menjadi sediaan gel dengan memanfaatkan kandungan antioksidan didalamnya (Evrilia dkk., 2014; Sukmawati dkk, 2013). Formula gel telah diuji sifat fisika kimianya oleh Sukmawati dkk, 2013, aktivitas antioksidan dan penyimpanannya oleh Utami dkk, 2014 , serta uji iritasi pada manusia oleh Laras dkk, 2014. Formula yang dihasilkan memiliki sifat fisika kimia yang sesuai, namun memiliki stabilitas penyimpanan yang rendah dengan aktivitas antioksidan yang fluktuatif (Utami dkk, 2014). Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena ketidakstabilan sistem 3 dimensi rantai polimer hidrofilik yang dihasilkan oleh HPMC sebagai gelling agent saat pengembangan. Sifat hidrofilik yang dimiliki rantai polimer menyebabkan jaringan tersebut mampu menyerap air ke dalam strukturnya dan mengembang tanpa melarutkan serta menjaga keseluruhan strukturnya (Jeong dkk., 2005). Gelling agent merupakan komponen pembentuk gel yang juga dapat meningkatkan viskositas gel (Budiputra, 2013; Mulyono dan Tri, 2010). Pembentukan gel yang baik diperoleh dengan mendispersikan HPMC ke dalam air dengan rentang suhu 50°-90°C (Mulyono dan Tri, 2010). Perbedaan perlakuan dalam pengembangan HPMC dapat mempengaruhi jumlah pelepasan zat aktif dalam sediaan. Ghosal (2011), menyatakan bahwa HPMC dapat mempengaruhi peningkatan nilai fluks pelepasan obat. Berdasarkan latar belakang

(11)

3

tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh variasi metode pengembangan HPMC terhadap karakteristik dan stabilitas sediaan gel ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.)

1.3 Urgensi

Ekstrak kulit buah manggis telah diformulasi menjadi bentuk sediaan gel yang telah memenuhi persyaratan sifat fisika kimia namun memiliki stabilitas penyimpanan yang rendah dan aktivitas antioksidan yang fluktuatif. Selama waktu penyimpanan, sediaan gel mengalami sineresis yakni proses keluarnya air dari sistem polimer hidrofilik yang ditandai dengan penurunan viskositas sediaan. Oleh karena itu perlu untuk diteliti mengenai variasi metode pengembangan HPMC sebagai gelling agent dan melihat pengaruhnya terhadap sifat fisika kimia dan stabilitas penyimpanan sediaan.

(12)

4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manggis (Garcinia mangostana L.)

Manggis merupakan tanaman buah yang berasal dari hutan tropis di kawasan asia tenggara. Manggis dikenal sebagai "Queen of Fruits" karena kandungan xanton pada kulit buah manggis tidak ditemukan pada buah-buahan lain. Kulit buah manggis telah lama digunakan sebagai pengobatan didaerah asia tenggara (Chaverri et al., 2008; Yatman, 2012).

2.1.1 Klasifikasi

Menurut Hutapea (1994), klasifikasi tanaman manggis adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Guttiferanales Famili : Clusiaceae Genus : Garcinia

Spesies : Garcinia mangostana L.

(13)

5 2.1.2 Nama Daerah

Manggoita (Aceh), Manggista (Batak), Manggih (Minangkabau), Manggus (Lampung), Manggu (Sunda), Kirasa (Makasar), dan Manggis (Bali) (Pitojo dan Hesti, 2008).

2.1.3 Morfologi

Tanaman manggis merupakan tanaman tahunan, berbentuk pohon dengan bagian bawah lebar dan bagian ujung menyempit. Tanaman manggis memiliki tinggi kurang lebih 15 meter dengan akar tunggang dan akar berwarna putih kecoklatan. Batang berkayu, bulat, tegak, percabangan simpodial, berwarna hijau. Daun tunggal, lonjong, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, percabangan menyirip, panjang 20-25 cm, lebar 6-9 cm, tangkai silindris, berwarna hijau. Bunga tunggal, berkelamin dua, benang sari berwarna kuning. Buah buni, bulat, diameter 6-8 cm, kulit buah berdinding tebal lebih dari 9 mm, pada waktu muda kulit buah berwarna hijau namun setelah tua berubah menjadi merah tua sampai ungu kehitaman. Daging buah berwarna putih dan mengandung banyak air. Biji bulat dengan diameter 2 cm, dalam 1 buah terdapat 5-7 biji berwarna coklat. Akarnya tunggang berwarna putih kecoklatan (Hutapea, 1994; Pitojo dan Hesti, 2008).

2.1.4 Kandungan Kimia

Kulit buah manggis mengandung senyawa fenol, diantaranya xanton, antosianin, proantosianin, asam fenolik, protocatechuic acid dan flavonoid. Xanton merupakan senyawa fenol utama yang terdapat pada kulit buah manggis (Deylami et al., 2014). Kandungan xanton pada kulit buah manggis mencapai 123,97 mg/100 mL (Yatman, 2014). Xanton pada kulit buah manggis memiliki turunan seperti α-mangostin, β-mangostin, γ-mangostin, gartanine, garcinone E, 8-deoxygartanine, 3-isomangostin dan 9-hydroxycalabaxantone (Chaverri et al., 2008; Deylami et al., 2014). Selain itu, kulit buah manggis juga mengandung saponin dan tanin (Hutapea, 1994). Kandungan utama pada kulit buah manggis adalah α-mangostin (Pothitirat et al., 2009).

(14)

6 2.1.5 α-Mangostin

α-mangostin merupakan komponen utama pada kulit buah manggis yang telah banyak digunakan dalam produk farmasetika dan produk kosmetik. α-mangostin atau merupakan marker kimia untuk kontrol kualitas dari kulit buah manggis (Ahmad et al., 2013; Yodhnu et al., 2009). α-mangostin merupakan turunan senyawa xanton yang memiliki nama IUPAC 9H-xanthen-9-one atau xanton-9-oxo-xanthene dan diphenyline ketine oxide dengan rumus molekul C13H8O2 (Iswari dan Sudaryono, 2007).

Gambar 2.2 Struktur Kimia α-mangostin (Depkes RI, 2010).

2.1.6 Aktivitas farmakologi

Xanton memiliki aktivitas farmakologi sebagai antioksidan, antipoliferasi, anti-inflamasi, antimikrobial, antikarsinogenik, antimalaria, antialergi dan pro-apoptotic (Orozco and Mark, 2013; Yatman, 2013). Palakawong (2010), menyatakan bahwa ekstrak air kulit buah manggis mempunyai aktivitas antioksidan dengan nilai IC

50adalah 5,94 mg/mL. Mardawati (2009), menyatakan bahwa semua fraksi pelarut dari ekstrak kulit manggis memiliki aktivitas antioksidan yang besar dengan nilai Inhibiton Concentration 50% (IC50) kurang dari 50, dimana ekstrak metanol nilai IC

50 sebesar 8,00 mg/L, ekstrak etanol 9,26 mg/L dan ekstrak etil asetat sebesar 29,48 mg/L.

2.2 Metode Ekstraksi Maserasi

Penyarian merupakan kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair, sehingga zat aktif akan berada dalam cairan pelarut tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui

(15)

7

lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut (Dewi, 2013). Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana dan digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung stirak, benzoin, dan lain-lain. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari (DepKes RI, 1986; Dewi, 2013).

Keuntungan cara penyarian menggunakan teknik maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana serta mudah diusahakan. Sedangkan kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama, penyariannya kurang sempurna, cairan penyari yang digunakan lebih banyak dan tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin (DepKes RI, 1986; Dewi, 2013).

2.3 Gel

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli merupakan sistem semipadat terdiri dari suspense yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (Depkes RI, 1995). Berdasarkan fase koloid gel dibedakan menjadi 2, yaitu sistem satu fase dan dua fase. Gel sistem satu fase (fase tunggal) terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik misalnya karbomer atau dari gom alam misalnya tragakan (Depkes RI, 1995). Gel digolongkan sebagai sistem dua fase, jika massa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah, misalnya gel aluminium hidroksida. Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma, misalnya magma bentonit. Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan (Depkes RI, 1995).

Berdasarkan sifat pelarut gel dibedakan menjadi 2, yaitu hidrogel dan organogel. Hidrogel bersifat tiga dimensi dan hidrofilik. Hidrogel adalah polimer cross-linked yang dapat menyerap sejumlah besar air dengan tanpa melarutkannya. Kelompok-kelompok fungsional hidrofilik melekat pada polimer membantu untuk menyerap air. Air didalam hidrogel

(16)

8

memungkinkan difusi bebas dari beberapa molekul zat terlarut, sedangkan polimer berfungsi sebagai matriks untuk menahan air. Porositas dalam hidrogel memungkinkan pemuatan obat ke dalam matriks gel dan pelepasan obat berikutnya bergantung pada koefisien difusi molekul obat atau makromolekul melalui matriks gel (Soni and Singhai, 2013). Manfaat hidrogel sebagai pembawa obat mungkin sebagian besar sebagai tujuan farmakokinetik khusus dalam formulasi yaitu mempertahankan konsentrasi obat yang tinggi di jaringan sekitarnya selama jangka penggunaan, selain itu dapat juga digunakan untuk pengiriman sistemik (Soni and Singhai, 2013).

Hydrogel turunan selulosa mudah terurai karena reaksi enzimatik dan karena itu harus terlindung dari kontak dengan enzim. Sterilisasi dari sistem dalam air atau penambahan pengawet merupakan cara yang lazim untuk mencegah penurunan viskositas yang disebabkan karena terjadi depolimerisasi akibat pengaruh enzim yang dihasilkan oleh mikroba. Turunan selulosa yang dapat digunakan untuk membentuk gel adalah metilselulosa, Na CMC, hidroksietilselulosa dan hidroksipropilselulosa (larut dalam cairan polar organik) (Agoes & Darijanto, 1993). Sukmawati (2013) dan Evrilia (2014), telah memformulasikan kulit buah manggis menjadi sediaan masker gel peel-off dengan memanfaatkan kandungan antioksidan didalamnya. Utami (2014), telah melakukan pengujian aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah manggis dari sediaan masker gel peel-off yang dibandingkan dengan standar vitamin C. Dari penelitian Utami (2014), diperoleh hasil dimana aktivitas antioksidan masker gel peel-off ekstrak kulit buah manggis lebih besar dan berbeda signifikan dibandingkan dengan standar vitamin C (P<0,05) dan diperoleh formula yang terdiri dari PVA, HPMC, gliserin, ekstrak etanol 96% kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) 0,5%, metil paraben, propil paraben dan air dibuat masker gel peel-off sebanyak 100 mL.

2.4 HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Celulosa)

HPMC merupakan turunan dari metilselulosa berupa serbuk granul atau berserat, berwarna putih atau putih krem, tidak berbau dan tidak berasa (Rowe et al., 2009). HPMC memiliki titik lebur pada suhu 190-200°C dan larut dalam air dingin dan membentuk larutan koloid kental. HPMC praktis tidak larut dalam akuades suhu 90°C , kloroform, etanol 95%, dan

(17)

9

eter, tetapi larut dalam campuran etanol dan diklorometana, campuran metanol dan diklorometana, serta campuran air dan etanol (Rowe et al., 2009).

HPMC digunakan sebagai agen pengemulsi, agen pensuspensi, dan sebagai agen penstabil pada sediaan topikal seperti gel dan salep. Sebagai koloid pelindung yaitu dapat mencegah tetesan air dan partikel dari penggabungan atau aglomerasi, sehingga menghambat pembentukan sedimen (Rowe et al., 2005).

Serbuk HPMC merupakan bahan yang stabil. Larutan HPMC stabil pada pH 3-11 dan dapat disimpan dalam wadah tertutup baik, di tempat sejuk dan kering. HPMC digunakan sebagai gelling agent dalam sediaan gel pada konsentrasi 5-15% (Voigt, 1994). Pada konsentrasi 2-4% HPMC dapat berfungsi sebagai agen peningkat viskositas (Wade and Waller, 1994).

HPMC dikembangkan dalam akuades dan didiamkan selama 30-60 menit kemudian disimpan pada suhu rendah akan membentuk gel (Voigt, 1994). Mekanisme pembentukan gel dari HPMC adalah karena adanya penggabungan antarmolekul polimer yang menyebabkan jarak antar partikel menjadi kecil dan terbentuk ikatan silang antarmolekul yang menyebabkan berkurangnya mobilitas pelarut sehingga terbentuk massa gel (Suyudi, 2014).

Gambar 2.3 Struktur Kimia HPMC (Rowe et al., 2005).

2.5 Metode Uji Pelepasan

Prinsip absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif. Difusi pasif adalah proses dimana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien yang diikuti bergeraknya molekul. Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses transmembran bagi umumnya obat. Difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat,

(18)

10

koefisien difusi, viskositas dan ketebalan membrane. Difusi pasif dipengaruhi oleh koefisien partisi, yaitu semakin besar koefisien pastisi maka semakin cepat difusi obat Daya dorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel. (Martin dkk., 1993).

Evaluasi pelepasan zat aktif pada sediaan topikal dapat digunakan untuk menentukan dosis zat aktif yang dapat terlepas dari basis dan dapat pula mengetahui karakteristik zat aktif yang telah terlepas dari basisnya sehingga dapat memberikan efek biologis tertentu (Marques, 2009). Untuk menimbulkan efek, maka zat aktif dalam sediaan harus terlepas dan terabsorbsi secara perkutan. Absorbsi perkutan merupakan absorbsi yang dapat menembus lapisan stratum korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut menembus lapisan dibawahnya dan akhirnya masuk kedalam sirkulasi darah (Lachman et al., 1994).

Salah satu metode yang sering digunakan untuk menguji pelepasan zat aktif adalah Vertical Diffution Cell (VDC) atau sel difusi Franz. Metode ini digunakan untuk menguji pelepasan zat aktif pada sediaan semisolid secara invitro secara sederhana, reliable dan reproducible (Marques, 2009). Sel difusi Franz dapat memberikan informasi mengenai permeabilitas kulit serta hubungan antara kulit, obat dan formulasi (Frantz, 1990). Sel difusi Franz biasanya terbuat dari kaca borosilikat atau bahan lain yang dapat digunakan namun harus memenuhi syarat, yaitu tidak mengabsorbsi produk uji atau sampel (Marques, 2009).

Pada metode sel difusi Franz digunakan suatu membran yang sebagai simulasi kulit untuk memisahkan kompartemen donor dengan kompartemen reseptor. Membran yang biasa digunakan adalah potongan kulit hewan, manusia dan dapat pula menggunakan membran sintetik berporus (Frantz, 1990). Kompartemen donor merupakan tempat untuk meletakkan sediaan semisolid yang kemudian ditahan oleh membran. Media kompartemen reseptor harus memiliki kapasitas yang cukup untuk melepaskan zat aktif dari sediaan. Pada pengujian pelepasan zat aktif dengan metode ini, digunakan suhu 32±1oC dan disertai pengadukan yang berfungsi memastikan pencampuran zat aktif dengan media selama uji dilakukan. Pengambilan sampel dilakukan selama 4-5 jam dan digantikan dengan media sejumlah sampel yang diambil (Marques, 2009).

Perhitungan pelepasan zat aktif dilakukan dengan menjumlahkan secara kumulatif bahan aktif yang terlepas dari basis per satuan luas membran setiap waktu (μg/cm2) yang dihitung dari konsentrasi yang diperoleh setiap waktu (μg/cm2

(19)

11

dibagi dengan luas permukaan membran. Kemudian dibuat kurva hubungan antar jumlah bahan aktif kumulatif yang lepas (μg/cm2) terhadap akar waktu (menit1/2). Berdasarkan hukum difusi Fick, slope persamaan regresi merupakan kecepatan pelepasan (fluks) bahan aktif dari basis. Slope dihitung dari data pada saat sudah terjadi kondisi steady state (Dewi dkk., 2005).

(20)

12

BAB III. MANFAAT DAN TUJUAN PENELITIAN

3.1 Manfaat

Dapat memberikan informasi ilmiah tentang metode pengembangan HPMC yang sesuai sehingga dihasilkan karakteristik dan stabilitas sediaan gel ekstrak kulit buah manggis yang baik.

3.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui metode pengembangan HPMC yang terbaik dalam media akuades yang dibandingkan dengan media akuades panas suhu 80-900C yang ditandai dengan nilai viskositas yang konstan.

b. Untuk mengetahui pengaruh metode pengembangan HPMC terhadap karakteristik sediaan gel yang meliputi sifat fisika dan kimia.

c. Untuk mengetahui pengaruh metode pengembangan HPMC terhadap stabilitas penyimpanan sediaan gel.

3.3 Tujuan Khusus

Dengan melakukan penelitian optimasi metode pengembangan HPMC sebagai gelling agent diharapkan akan menghasilkan suatu standar operasional prosedur dalam pembuatan gel ekstrak kulit buah manggis agar dihasilkan suatu sediaan yang memenuhi persyaratan sifat fisika dan kimia, memiliki pelepasan yang baik, dan stabil selama penyimpanan. Gelling agent merupakan faktor kritis yang menentukan terbentuknya suatu sediaan gel yang baik. Dengan memperoleh suatu standar operasional prosedur dalam proses pengembangan HPMC diharapkan sediaan yang dihasilkan sama setiap batchnya.

(21)

13

BAB IV. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas, timbangan analitik (Adam AFP-360L), pengayak mess no. 20, desikator, heater (Corning PC-420D), blender (Philips), rotary evaporator (Eyela), waterbath (Memmert), oven (Binder), Tanur (WiseTherm) spektrofotometer UV-visibel (Genesys), incubator (C30), pH meter (Oakton pH 510 series), viskometer Brookfield DV-E, alat uji disolusi sel difusi franz, bejana kromatografi (CAMAG-Muttenz-Switzerland), termometer dan seperangkat alat KLT-Spektrofotodensitometri dengan detektor UV. Bahan-bahan yang digunakan, kulit buah manggis, bahan kimia derajat teknis seperti Polyvinil Alcohol (Bratachem), HPMC (Bratachem), gliserin (Bratachem), metil paraben (Bratachem), propil paraben (Bratachem), akuades (Bratachem), etanol 96% (Bratachem), standar α-mangostin, air bebas CO2, NaH2PO42H2O Na2HPO4, membran selofan berporus, pelarut metanol, kloroform, etil asetat dan fase diam plat KLT silika gel 60 GF254 (Merck-Germany).

3.2 Pengumpulan dan Identifikasi Simplisia

Sampel dikumpulkan dari satu wilayah, yaitu kulit buah manggis yang diperoleh dari Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Sampel di determinasi di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan, Bali.

3.3 Ekstraksi

Kulit buah manggis diiris tipis dan dikeringkan dalam oven pada suhu 65°C (Satong and Nomhorn, 2011). Kulit kering kemudian diserbukkan menggunakan blender dan diayak menggunakan pengayak mesh no. 20. Serbuk dimaserasi dengan pelarut etanol 96% selama 3 hari kemudian diremaserasi. Maserat diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 500C hingga diperoleh ekstrak kental.

(22)

14

3.4 Optimasi Waktu Pengembangan Hydroxy Propyl Methyl Cellulose (HPMC)

HPMC didispersikan dalam akuades kemudian diaduk konstan hingga mengembang sempurna. Diukur viskositas HPMC dengan viskometer Brookfield DV-E pada jam ke-0, 1, 3, 5, 7, 9, dst hingga diperoleh viskositas HPMC yang konstan. Dipilih satu waktu pengembangan optimum HPMC kemudian diformulasikan menjadi masker gel peel-off ekstrak kulit buah manggis. Pengembangan HPMC juga dilakukan dalam akuades panas suhu 80-900C dengan prosedur yang sama dengan akuades.

3.5 Formulasi Gel Ekstrak kulit Buah Manggis

Formula terdiri dari PVA, HPMC, gliserin, metil paraben, propil paraben, ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan air dibuat sebanyak 100 mg (Utami dkk., 2013). PVA dikembangkan dalam akuades suhu 80°C dengan pengadukan yang konstan hingga mengembang sempurna (Campuran 1). HPMC dengan metode pengembangan optimum disiapkan (cara kerja 3.4) (Campuran 2). Gliserin dicampurkan dengan ekstrak (Campuran 3). Metil paraben dan propil paraben dilarutkan dalam akuades (Campuran 4). Campuran 1, 2, 3 dan 4 dicampurkan dan diaduk hingga homogen.

3.6 Evaluasi Sediaan Gel

Ekstrak kulit buah manggis yang telah diformulasi menjadi bentuk sediaan gel kemudian dievaluasi sifat fisika kimia, stabilitas dan pelepasan alfa mangostennya.

3.6.1 Sifat Fisika dan Kimia A. Pengujian Viskositas

Pengukuran viskositas dilakukan dengan menempatkan sejumlah sampel dalam viskometer Brookfield DV-E. ukuran spindel dan kecepatan putaran yang digunakan diatur terlebih dahulu untuk menghasilkan torsi 10-100%. Viskometer Brookfield DV-E dijalankan kemudian viskositas dari sediaan masker gel peel-off akan terbaca (Septiani dkk., 2011).

B. Pengujian daya sebar

Sebanyak 1 gram sediaan masker gel peel-off diletakkan diatas kaca berukuran 20×20 cm yang berada diatas sebuah kertas grafik. Selanjutnya ditutup dengan kertas mika dan diberikan

(23)

15

pemberat diatasnya hingga bobot mencapai 125 gram. Diukur diameter yang terbentuk setelah 1 menit (Garg et al., 2012).

C. Pengujian waktu sediaan mengering

Masker gel peel-off yang digunakan adalah masker yang diformulasikan 48 jam sebelumnya. Masker gel peel-off dioleskan sebanyak 0,7 gram dan disebar diatas permukaan kaca dengan ukuran 5×2,5 cm hingga membentuk lapisan tipis seragam dengan tebal kira-kira 1 mm. Kaca yang telah dioleskan masker gel peel-off dimasukkan ke dalam oven pada suhu 36,5 ± 2º C. sediaan diamati hingga proses pengeringan selesai dan memungkinkan untuk mengelupaskan semua lapisan film dari kaca (Vieira et al., 2009).

D. Pengujian sineresis

Gel dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi dan disentrifugasi pada 8000 x g selama 15 menit (Charoenrein et al, 2008). Persentase sineresis kemudian dihitung menggunakan persamaan (1).

E. Pengujian pH sediaan

Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan cara mencelupkan elektroda pH meter ke dalam sediaan masker gel peel-off yang telah dilarutkan dengan akuades. Setelah elektroda tercelup, pH meter dinyalakan kemudian didiamkan hingga layar pada pH meter menunjukkan angka yang stabil (Septiani dkk., 2011).

3.6.2 Stabilitas Penyimpanan

Uji stabilitas penyimpanan sediaan gel dilakukan dengan cara menyimpan sediaan dalam wadah tertutup rapat dalam suhu ruang 290C dan kelembaban selama 1 bulan. Kemudian dilakukan sampling 3x dalam seminggu dan diuji sifat fisika kimia sediaan. Sediaan dikatakan masih stabil dalam penyimpanan apabila masih memenuhi persyaratan sifat fisika kimia sediaan gel.

(24)

16 ROADMAP RISET

Ekstrak etanol kulit buah manggis Uji aktivitas antioksidan ekstrak dan sediaan Gel Formulasi sediaan gel

Uji waktu simpan sediaan gel Uji iritasi sediaan gel Aktivitas antioksidan yang tidak stabil Waktu simpan sediaan yang pendek (< 1 minggu)

Sediaan gel tidak mengiritasi Sediaan gel memenuhi sifat fisika kimia Sediaan Gel Optimasi metode pengembangan gelling

agent dalam sediaan gel

Uji sifat fisika Kimia Uji stabilitas Akan dikerjakan Sudah dikerjakan

(25)

17

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

Buah manggis yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari satu wilayah yakni Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Pengambilan sampel pada satu wilayah bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan variasi kandungan kimia tumbuhan karena perbedaaan iklim dan lingkungan. Perbedaan letak geografis suatu tanaman dapat mengakibatkan bervariasinya kandungan metabolit yang dimiliki sehingga dapat terjadi perbedaan aktivitas farmakologi yang dihasilkan (Collegate dan Molyneux, 2008).

Sampel buah manggis yang telah terkumpul kemudian di determinasi di Balai Konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Kebun Raya Eka Karya Bali. Determinasi tanaman bertujuan untuk mengetahui kebenaran jenis tanaman yang diteliti. Data hasil determinasi menyatakan bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar jenis Garcinia mangostana L. dan termasuk dalam famili Clusiaceae (Lampiran 1).

Simplisia kulit buah manggis diserbukkan dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 65oC (Satong-aun et al., 2011) kemudian ditetapkan kadar airnya dengan metode gravimetri. Metode gravimetri digunakan untuk simplisia yang tidak mengandung senyawa yang mudah menguap seperti minyak atsiri (Depkes RI, 1995). Kulit buah manggis merupakan simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri (Praptiwi, 2010). Berdasarkan hasil penetapan kadar air, diperoleh kadar air simplisia yakni 9,08%±0,31%, hasil ini telah memenuhi persyaratan kadar air simplisia kulit buah manggis yaitu maksimal 10% (Pasaribu et al., 2012). Kadar air simplisia yang tinggi dapat memicu terjadinya reaksi enzimatik maupun pertumbuhan mikroba pada simplisia sehingga dapat mengakibatkan terjadinya degradasi kandungan kimia yang ada di dalam simplisia (Depkes RI, 1995). Selain itu simplisia dengan kadar air yang tinggi dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan jamur (Pasaribu et al., 2012).

Serbuk kulit buah manggis kemudian dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96%, pelarut selanjutnya diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental (Praptiwi, 2010). Rendemen ekstrak kental yang diperoleh sebesar 8,08% dengan organoleptis berwarna coklat, berbau alkohol dan rasa pahit.

(26)

18

Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan skrining fitokimia untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah manggis (Kristanti et al., 2008). Hasil uji fitokimia pada ekstrak etanol kulit buah manggis dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol 96% Kulit Buah Manggis

Uji Hasil Pustaka Kesimpulan

Saponin Terbentuk buih setinggi 0,1 cm.

Terbentuk buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 cm sampai 10 cm1

- saponin

Alkaloid Terbentuk warna kuning tua dengan pereaksi Dragendrof dan tidak ada endapan dengan perekasi Mayer.

Terbentuk endapan putih kekuningan pada pereaksi Meyer dan endapan Jingga pada pereaksi Wagner

- alkaloid

Flavonoid Terbentuk fluoresensi kuning intensif di UV 366 nm

Terbentuk fluoresensi kuning intensif di UV 366 nm1

+ flavonoid

Fenolik Terbentuk warna hijau kehitaman

Terbentuk warna hijau kehitaman2

+ fenolik Terpenoid

dan Steroid

Terbentuk warna merah kecoklatan

Terpenoid: terbentuk warna merah;

Steroid: terbentuk warna biru3

+ terpenoid

Glikosida Tidak terbentuk warna hijau

terjadi warna biru atau hijau (reaksi Liebermann Burchard)4

- glikosida

Keterangan: 1: (Depkes RI, 1979);2: (Jones and Kinghorn, 2006);3: (Kristanti dkk., 2008);4: (Depkes RI, 1995); +: mengandung senyawa; -: tidak mengandung senyawa.

Berdasarkan hasil skrining fitokimia yang diperoleh ekstrak etanol 96% kulit buah manggis mengandung flavonoid, fenolik dan terpenoid. Pemilihan pelarut ekstraksi umumnya mengunakan prinsip like dissolves like, dimana senyawa yang non polar akan larut dalam pelarut nonpolar sedangkan senyawa yang polar akan larut pada pelarut polar (Siedel, 2008). Flavonoid memiliki ikatan dengan gugus gula yang menyebabkan flavonoid bersifat polar (Markham, 1988). Golongan senyawa fenolik cenderung larut dalam air dan pelarut polar (Harborne, 1996). Senyawa terpenoid ada yang memiliki struktur siklik berupa alkohol yang menyebabkan senyawa ini cenderung bersifat semipolar (Titis dkk., 2013). Seluruh golongan senyawa tersebut dapat ditemukan dalam ekstrak uji dikarenakan pelarut etanol memiliki indeks polaritas sebesar 5,2 dan pelarut etanol dalam ekstraksi dapat meningkatkan permeabilitas dinding sel simplisia

(27)

19

sehingga proses ekstraksi menjadi lebih efisien dalam menarik komponen polar hingga semi polar (Siedel, 2008).

5.2 Karakterisasi Ekstrak Kulit Buah Manggis

Karakterisasi bertujuan untuk menjaga mutu, keamanan, dan keseragaman kadar kandungan senyawa aktif yang terdapat di dalam ekstrak kulit buah manggis. Hasil karakterisasi dari ekstrak kulit buah manggis dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Hasil Karakterisasi Ekstrak Kulit Buah Manggis

Parameter Hasil (%) Nilai FHI (%) Kesimpulan

Kadar Air 4,95 ± 0,187 <10 Memenuhi

Kadar Abu Total 0,785± 0,059 <2,9 Memenuhi Kadar Abu Tidak Larut

Asam

0,785 ± 0,187 <0,04 Tidak Memenuhi Kadar Sari Larut Air 2,903 ± 0,087 >24,6 Tidak Memenuhi Kadar Sari Larut Etanol 79,313 ± 0,07 >24,3 Memenuhi Keterangan: FHI (Farmakope Herbal Indonesia)

(DepKes RI, 2010) Penetapan kadar abu total dilakukan untuk mengetahui kadar zat anorganik yang terdapat pada simplisia. Penetapan kadar abu tidak larut asam untuk mengetahui kadar zat anorganik yang tidak larut dalam asam. Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa kimia yang bersifat polar. Penetapan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam pelarut polar baik senyawa polar maupun non polar (Pasaribu dkk., 2012). Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa kadar abu total, kadar air dan kadar sari larut etanol memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Sedangkan kadar abu tidak larut asam dan kadar sari larut air tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Ketidak sesuaian kadar ini kemungkinan disebabkan oleh faktor eksternal dalam perlakuan pasca panen seperti pasir dari tanah dan debu yang melekat saat pengeringan dan faktor internal seperti mineral-mineral yang diserap akar tanaman (Isnawati dkk., 2004; Isnawati dan Kelik, 2006; DepKes RI, 1995).

5.3 Optimasi Waktu Pengembangan Hydroxy Propyl Methyl Cellulose (HPMC) dalam Akuades dan Akuades suhu 90°C

Sebelum dilakukan formulasi gel ekstrak kulit buah manggis, dilakukan optimasi waktu pengembangan dengan mendispersikan HPMC ke dalam akuades dan akuades suhu 90°C . Pendispersian HPMC menggunakan akuades dengan suhu yang berbeda dilakukan untuk

(28)

20

menghasilkan basis gel dengan waktu pengembangan paling optimal, sehingga dapat dihasilkan sediaan gel ekstrak kulit buah manggis yang memenuhi karakteristik gel yang baik.

HPMC yang telah didispersikan dalam akuades dan akuades suhu 90°C diaduk menggunakan stirrer dengan kecepatan 500 rpm selama 5 menit, kemudian diukur viskositasnya pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50 dan 60.

Berdasarkan pengukuran viskositas HPMC yang didispersikan dalam akuades, diperoleh hasil bahwa pada pada menit ke-20 HPMC telah mengembang optimum yang ditandai dengan viskositas sebesar 9311±99,71 cPs dan kurva rheologi telah mengikuti rheologi pseudoplastis. Hasil pengukuran viskositas HPMC yang didispersikan dalam akuades serta kurva rheologi pada menit ke-20 dapat dilihat pada tabel 5.3 dan gambar 5.1.

Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Viskositas Dispersi HPMC dalam Akuades pada Menit ke-20 Rate of Shear (Rpm) Viskositas (cPs) ( ± SD) Shearing Stress (Dyne/cm2) 10 24583±76,38 245830 20 22453±83,87 449060 30 19367±104,08 581010 50 14915±18,03 745750 60 13327±25,17 799620 100 9311±99,71 931100

Keterangan: = Rata-rata viskositas; SD= Standar deviasi viskositas HPMC

Gambar 5.1 Kurva Rheologi Pseudoplastis Keterangan: (A) Kurva Berdasarkan Pustaka (Martin et al., 1993);

(B) Kurva Rheologi HPMC pada menit ke-20

(29)

21

Sedangkan, pada pengembangan HPMC dalam akuades suhu 90°C diperoleh hasil yang menunjukan bahwa pada menit ke-10 HPMC telah mengembang optimum dengan nilai viskositas yaitu 3366,66±115,47 cPs dan telah terbentuk rheologi pseudoplastis. Hasil pengukuran viskositas HPMC pada menit ke-10 dapat dilihat pada tabel 5.4 dan gambar 5.2. Tabel 5.4 Hasil Pengukuran Viskositas Dispersi HPMC dalam Akuades suhu 90°C pada Menit ke-10

Keterangan: = Rata-rata viskositas; SD= Standar deviasi

Gambar 5.2 Kurva Rheologi Pseudoplastis. Keterangan: (A) Kurva Berdasarkan Pustaka (Martin et al., 1993);

(B) Kurva Rheologi HPMC pada menit ke-10

Rheologi pseudoplastis umumnya dimiliki oleh polimer-polimer yang terdispersi dalam larutan. HPMC merupakan polimer hidrofilik yang dapat mengembang terbatas dalam air, oleh karena itu HPMC mengikuti rheologi pseudoplastis (Lieberman and Banker, 1969; Martin et al., 1993). Berdasarkan gambar 5.1 dapat dilihat bahwa pengembangan HPMC dalam akuades telah membentuk rheologi pseudoplastis pada menit ke-20. Hal yang sama dapat dilihat pada gambar

Rate of Shear (Rpm) Viskositas (cPs) ( ± SD) Shearing Stress (dyne/cm2) 10 8183,33±175,59 81833,3 20 7356,66±81,44 147133,2 30 6750±216,56 202500 50 5120±30 256000 60 4616±100 276960 100 3366,66±115,47 336666 A B

(30)

22

5.2 yang menunjukkan bahwa pengembangan HPMC dalam akuades suhu 90°C telah membentuk rheologi pseudoplastis pada menit ke-10.

Rheologi pseudoplastis termasuk dalam sistem non-newton. Berbeda dengan sistem Newton, pada sistem Non-Newton kurva rheologi tidak dapat ditentutkan hanya dalam satu titik rate of share. Hal ini disebabkan karena pada sistem Non-Newton, tidak terdapat viskositas yang konstan. Viskositas yang diperoleh tergantung dari besarnya shearing stress yang diberikan. Sehingga pada pengukuran viskositas HPMC dilakukan diberbagai titik rate of share (Voigt, 1994).

(A)

(B)

Gambar 5.3 Kurva Hubungan Viskositas HPMC dengan Rate of Shear

Keterangan: (A) Kurva Hubungan Viskositas HPMC dengan Rate of Shear pada pengembangan HPMC dalam akuades di menit ke-20;

(B) Kurva Hubungan Viskositas HPMC dengan Rate of Shear pada pengembangan HPMC dalam akuades suhu 90°C di menit ke-10.

A

(31)

23

Berdasarkan gambar 5.3 dapat dilihat bahwa pada waktu pengembangan optimum HPMC dalam akuades dan akuades suhu 90°C telah membentuk rheologi pseudoplastis. Rheogram lengkung pada kurva pseudoplastis disebabkan oleh adanya aksi shearing terhadap molekul-molekul yang berantai panjang seperti polimer. Dengan meningkatnya shearing stress, rantai-rantai polimer yang tergulung secara acak mulai menyusun sumbu yang panjang menyerupai benang. Perubahan ini menyebabkan pengurangan tahanan untuk mengalir dari bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang lebih besar pada tiap shearing stress berikutnya. Viskositas zat dengan aliran pseudoplastis akan berkurang dengan meningkatnya rate of shear (Martin et al., 1993).

5.4 Formulasi, Evaluasi Sifat Fisika Kimia dan Penetapan Profil Stabilitas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis

HPMC dengan waktu pengembangan optimum dalam akuades dan akuades suhu 90°C kemudian diformulasikan dengan bahan lainnya menjadi gel ekstrak kulit buah manggis. Formulasi gel ekstrak kulit buah manggis mengacu pada penelitian Sukmawati (2013). Sediaan gelekstrak kulit buah mangis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades dan akuades suhu 90°C selanjutnya dilihat stabilitasnya pada penyimpanan jangka panjang. Profil stabilitas masing-masing sediaan ditetapkan dengan melakukan evaluasi sifat fisika kimia yang disimpan dalam inkubator selama 28 hari pada suhu 30°C (Abdassah dkk., 2009), dengan kelembaban yang terukur yakni 55%. Proses ini diharapkan menjadi simulasi penyimpanan jangka panjang pada iklim tropis khususnya Indonesia. Evaluasi sifat fisika yang dilakukan meliputi pengujian organoleptis, homogenitas, viskositas, daya sebar, daya lekat, waktu sediaan mengering dan sineresis sedangkan evaluasi sifat kimia yang dilakukan adalah pengujian pH.

5.4.1 Uji Organoleptis

Pengujian organoleptis dilakukan dengan mengamati warna dan bau yang dihasilkan pada sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades mapun dalam akuades suhu 90°C selama 28 hari penyimpanan. Hasil pengujian organoleptis gelekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades dan dalam akuades suhu 90°C dapat dilihat pada tabel 5.5 dan 5.6

(32)

24

Tabel 5.5 Hasil Pengujian Organoleptis Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades

Hari Ke Pengamatan Organoleptis Sediaan GelKulit Buah Manggis Selama 28 hari Replikasi I Replikasi II Replikasi III

0 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 1 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 7 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 14 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 21 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 28 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau

Tabel 5.6 Hasil Pengujian Organoleptis Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades suhu 90°C

Hari Ke Pengamatan Organoleptis Sediaan Gel Kulit Buah Manggis Selama 28 hari Replikasi I Replikasi II Replikasi III

0 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 1 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 7 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 14 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 21 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau 28 Warna Bau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau Kuning kecoklatan Tidak berbau

Berdasarkan tabel 5.5 dan 5.6, dapat dilihat bahwa selama penyimpanan sediaan gel baik dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C tidak mengalami perubahan warna dan bau, yakni berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau. Warna kuning kecoklatan yang dimiliki sediaan berasal dari komponen metabolit sekunder yaitu α-mangostin dan β-mangostin yang terdapat pada kulit buah manggis (Praptiwi dan Poeloengan, 2010).

(33)

25 5.4.2 Uji Homogenitas

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui homogenitas sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C selama penyimpanan. Sediaan diharapkan memiliki homogenitas yang baik untuk dihasilkannya pengobatan yang baik karena setiap sediaan yang dioleskan memiliki komponen yang sama (Anief, 2007). Hasil pengujian homogenitas masing-masing sediaan dengan perbesaran 10x dapat dilihat pada tabel 5.7 dan 5.8.

Tabel 5.7 Hasil Pengujian Homogenitas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades

Hari ke- Pengamatan Homogenitas

0 Homogen 1 Homogen 7 Homogen 14 Homogen 21 Homogen 28 Homogen

Tabel 5.8 Hasil Pengujian Homogenitas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang dikembangkan dalam akuades suhu 90°C

Hari ke- Pengamatan Homogenitas

0 Homogen 1 Homogen 7 Homogen 14 Homogen 21 Homogen 28 Homogen

Berdasarkan hasil uji homogenitas yang dapat dilihat pada tabel 5.7 dan 5.8, masing-masing sediaan memiliki homogenitas yang baik selama penyimpanan. Hal ini dapat dilihat dari penyebaran globul yang merata. Sediaan yang homogen akan terdistribusi merata saat diaplikasikan pada kulit sehingga dapat dihasilkan efek farmakologis yang baik karena setiap sediaan yang dioleskan memiliki komponen yang sama (Anief, 2007). Gambar pengamatan homogenitas dari masing-masing sediaan dengan perbesaran 10x dapat dilihat pada lampiran 7 dan 8.

5.4.3 Uji Viskositas

Uji viskositas dilakukan untuk mengetahui konsistensi sediaan gel. Viskositas merupakan faktor yang penting karena mempengaruhi parameter daya sebar dan pelepasan zat aktif dari

(34)

26

suatu sediaan gel. Selain itu, sediaan gel yang memiliki viskositas optimum akan mampu menahan zat aktif tetap terdispersi dalam basis gel dan meningkatkan konsistensi gel (Madan dan Singh, 2010). Rentang viskositas yang baik yakni 2000-4000 Cp. Profil viskositas sediaan gelekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang dikembangkan ke dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C selama penyimpanan dapat dilihat pada gambar 5.4.

Gambar 5.4 Profil Viskositas Selama Penyimpanan

Keterangan: (A) Profil Viskositas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades;

(B) Profil Viskositas Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C

Berdasarkan gambar 5.4 profil viskositas sediaan baik pada sediaan dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C , mengalami peningkatan selama penyimpanan. Perubahan viskositas gel dapat disebabkan oleh gelling agent dan lamanya penyimpanan. HPMC akan membentuk ikatan silang antar molekul yang dapat mengurangi mobilitas pelarut dan membentuk massa gel. Banyaknya jumlah ikatan silang antar molekul dapat mengurangi mobilitas pelarut dan mengalami peningkatan viskositas selama penyimpanan

A

(35)

27

(Suyudi, 2014). Sediaan gel memiliki sifat tiksotropi, yaitu sifat formulasi yang apabila dibiarkan dan tidak mengalami gangguan seperti pengadukan akan meningkat viskositasnya (Ansel, 1989). Gel didiamkan selama penyimpanan akan mengalami peningkatan viskositas, namun setelah diberikan perlakuan seperti pengadukan viskositas akan kembali seperti semula.

5.4.4 Uji Daya Sebar

Uji daya sebar pada sediaan gel diharapkan mampu memberikan gambaran penyebaran sediaan apabila nantinya dioleskan pada kulit. Gel yang baik membutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk tersebar dan akan memiliki nilai daya sebar yang tinggi (Madan and Singh, 2010). Profil daya sebar pada sediaan gelekstrak kulit buah manggis dengan pengembangan HPMC dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C dapat dilihat pada gambar 5.5.

Gambar 5.5 Profil Daya Sebar Selama Penyimpanan

Keterangan: (A) Profil Daya Sebar Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades;

(B) Profil Daya Sebar Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C

A

(36)

28

Berdasarkan gambar 5.5 terjadi penurunan daya sebar baik pada sediaan dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C selama penyimpanan. Penurunan daya sebar terjadi seiring dengan meningkatnya viskositas sediaan gel selama penyimpanan, dimana viskositas berbanding terbalik dengan daya sebar yang dihasilkan. Daya sebar dari masing-masing sediaan masih memenuhi rentang daya sebar yang baik yakni 5-7 cm meskipun mengalami penurunan selama penyimpanan (Garg et al., 2002).

5.4.5 Uji Daya Lekat

Uji daya lekat dilakukan untuk mengetahui lama perlekatan sediaan yang nantinya akan menunjukan lama perlekatan sediaan pada kulit. Diharapkan perlekatan sediaan menghasilkan waktu kontak yang efektif dengan kulit sehingga tujuan terapi tercapai (Betageri dan Prabhu, 2002). Pengaplikasian sediaan masker umumnya selama 15-30 menit. Hasil pengujian daya lekat sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C selama penyimpanan dapat dilihat pada tabel 5.9 dan tabel 5.10

Tabel 5.9 Hasil Pengujian Daya Lekat Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades

Hari Ke- Daya Lekat ( )(detik)

0 14 ±2,08 1 14 ± 0,57 7 18 ± 2,51 14 19 ± 3.51 21 19 ± 0.11 28 25 ± 4.04

Tabel 5.10 Hasil Pengujian Daya Lekat Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C

Hari Ke- Daya Lekat ( )(detik)

0 12 1 12,83 7 14,91 14 15,89 21 30,9 28 40,7

Keterangan: = Rata-rata daya lekat dari tiga kali replikasi

Berdasarkan tabel 5.9 dan 5.10 terjadi peningkatan daya lekat sediaan gel selama penyimpanan. Kemampuan daya lekat gel akan mempengaruhi efek terapi. Secara umum,

(37)

29

semakin lama kemampuan gel melekat pada kulit, maka gel dapat memberikan efek terapi yang lebih lama (Ansel, 1989). Sediaan gel mengalami peningkatan daya lekat selama penyimpanan. Hal ini berbanding lurus dengan viskositas gel dimana daya lekat meningkat seiring dengan meningkatnya viskositas gel.

5.4.6 Uji Waktu Sediaan Mengering

Uji waktu sediaan mengering dilakukan dengan mengamati waktu yang diperlukan sediaan untuk mengering saat dioleskan pada permukaan kaca setelah dipanaskan dalam oven pada suhu 36,5±2°C (Vieira et al, 2009). Kecepatan sediaan untuk mengering cenderung mengalami peningkatan seiring penyimpanan namun masih berada dalam rentang waktu yang baik yakni 15-30 menit (Shai et al., 2009). Profil waktu sediaan mengering pada masing-masing sediaan selama penyimpanan dapat dilihat pada gambar 5.6.

Gambar 5.6 Profil Waktu Sediaan Mengering Selama Penyimpanan

Keterangan: (A) Profil Waktu Sediaan Mengering Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades;

(B) Profil Waktu Sediaan Mengering Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C

B A

(38)

30

Dari gambar 5.6, dapat dilihat bahwa pada sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades, membutuhkan waktu mengering yang semakin panjang selama 28 hari penyimpanan. Sedangkan, pada sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C , membutuhkan waktu mengering yang semakin singkat selama 28 hari penyimpanan.

Waktu pengeringan lebih cepat terjadi seiring dengan peningkatan viskositas sediaan selama penyimpanan. Peningkatan viskositas terjadi karena HPMC akan membentuk massa gel dan terjadi ikatan silang antar molekul yang dapat mengurangi mobilitas pelarut. Selama penyimpanan jumlah ikatan silang antar molekul semakin meningkat menyebabkan pelarut semakin terjebak didalam massa gel sehingga mempercepat sediaan masker gel untuk mengering.

5.4.7 Uji Sineresis

Sineresis merupakan peristiwa keluarnya air dari dalam gel dimana gel mengerut secara alamiah sehingga cenderung memeras air keluar dan berada di permukaan gel. Hasil pengujian sineresis masing-masing sediaan selama penyimpanan ditampilkan pada lampiran 9 dan 10. Berdasarkan hasil yang diperoleh, baik pada sediaan dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C tidak mengalami sineresis selama penyimpanan. Hal ini terlihat dari tidak adanya air yang keluar diatas permukaan gel setelah dilakukan sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 8000 rpm. Salah satu faktor yang mempengaruhi ada tidaknya sineresis adalah gelling agent. Sineresis akan tampak menjadi lebih jelas apabila menggunakan gelling agent dengan konsentrasi yang kecil (Bhasha, 2013). Sediaan gel yang diformulasikan pada penelitian ini menggunakan gelling agent yakni HPMC dengan konsentrasi optimal hasil optimasi penelitian sebelumnya yakni 3% b/v, sehingga tidak mengalami sineresis selama penyimpanan.

5.4.8 Uji pH

Penetapan profil stabilitas kimia sediaan gel ekstrak kulit buah manggis berupa pengujian pH yang dilakukan untuk mengetahui apakah pH gel sesuai dengan pH kulit (Aulton, 1988). Profil pH gelekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades maupun dalam akuades suhu 90°C dapat dilihat pada gambar 5.7.

(39)

31

Gambar 5.7. Profil pH Selama Penyimpanan

Keterangan: (A) Profil pH Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades;

(B) Profil pH Gel Ekstrak Kulit Buah Manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades suhu 90°C

Berdasarkan gambar 5.7, nilai pH pada masing-masing sediaan selama penyimpanan masih berada pada rentang pH fisiologis yakni 4-8 (Aulton, 1988). Jika pH sediaan tidak sesuai dengan pH fisiologis kulit, maka akan menimbulkan dampak negatif pada kulit. Sediaan topikal yang memiliki pH lebih rendah dari pH fisiologis kulit akan mengakibatkan iritasi kulit. Sediaan topikal yang memiliki pH lebih tinggi dari pH fisiologis kulit akan mengakibatkan iritasi dan kulit kering (Young et al., 2002).

A

(40)

32

BAB VI. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Dilakukan penetapan kadar α-mangostin dalam ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan sediaan gel ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.)

(41)

33

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan

7.1.1 Waktu pengembangan optimum HPMC terdispersi dalam akuades adalah selama 20 menit yang ditandai dengan viskositas 9311±99,71 cPs sedangkan, waktu optimum yang dibutuhkan untuk mendispersikan HPMC dalam akuades suhu 90°C adalah 10 menit ditandai dengan viskositas 3366,66 ± 115,47.

7.1.2 Karakteristik sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades dan akuades suhu 90°C telah memenuhi persyaratan karakteristik gel yang baik.

7.1.3 Sediaan gel ekstrak kulit buah manggis dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades dan akuades suhu 90°C tidak mengalami perubahan organoleptis dan sineresis, daya sebar, pH, sedangkan daya lekat dan viskositas mengalami peningkatan. Viskositas mengalami peningkatan diluar rentang persyaratan namun sediaan masih dikatakan stabil terlihat dari tidak terjadinya sineresis selama 28 hari peyimpanan pada suhu 30°C. Pada sediaan gel dengan HPMC yang diddispersikan dalam akuades mengalami peningkatan nilai pada waktu sediaan mengering, sedangkan pada sediaan dengan HPMC yang didispersikan dalam akuades 90°C mengalami penurunan nilai pada waktu sediaan mengering.

7.2 Saran

Perlu dilakukan uji stabilitas pada suhu ruang dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mengetahui profil stabilitas dan menetapkan expired date produk.

(42)

34

DAFTAR PUSTAKA

Abdassah, M., T. Rusdiana, A. Subghan dan G. Hidayati. 2009. Formulasi Gel Pengelupas Kulit Mati yang Mengandung Etil Vitamin C dalam Sistem Penghantaran Macrobead. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. Vol. 7, No. 2. Hal. 105-111.

Ahmad, M., B. M. Yamin and A. M. Lazim. 2013. A Study on Dispersion and Characterisation of α-Mangostin Loaded pH Sensitive Microgel Systems. Chemistry Central Journal. Vol. 7(1), 1-6.

Anief, M. 2007. Farmasetika, Cetakan Keempat. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 156-181.

Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi 4. Penerjemah: Farida Ibrahim. Jakarta: UI Press. Hal. 390-391.

Ardhie, M.A. 2011. Radikal Bebas dan Peran Antioksidan dalam Mencegah Penuaan. Jakarta. Scientific Journal Of Pharmaceutical Development and Medical Application.

Aulton, M. E. 1988. Pharmaceutics The Science of Dosage Form Design. Edinburgh: Churchil Livingstone. P. 244.

Betageri, G and S. Prabhu. 2002. Semisolid Preparation, dalam J. Swarbick and J. C. Boylan., (Eds.). Encyclopedia of Pharmaceutical Technology 2nd Ed. Vol 3. P. 2436, 2453-2456. Marcel Dekker Inc: New York.

Bhasha, S. A., S. A. Khalid, S. Duraivel, D. Bhowmik and K. P. Samapth Kumar. 2013. Recent Trends in Usage of Polymera in The Formulation of Dermatological Gels. Indian Journal of Research in Pharmacy and Biotechnology. Vol. 1, No. 2. P. 161-168.

Chaverri, J. P., N. C. Rodriguez, M. O. Ibarra and J. M. P. Rojas. 2008. Medical Properties of Mangosteen (Garcinia mangostana). Food and Chemical Toxicology. Vol. 46, 3227-3229. Collegate, S.M. and R. J. Molyneux. 2008. Bioactive Natural Product. Second Edition. New

York: CRC Press. P. 3.

DepKes RI. 1979. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman: 36-39; 141-145.

DepKes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departeman Kesehatan Republik Indonesia.

DepKes RI. 2010. Suplemen I Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman: 66-67.

Dewi, I. D. A. D. Y. 2013. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antidislipidemia Ekstrak Etanol 95% Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) pada Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Makanan Diet Lemak Tinggi. (Skripsi). Bali: Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana.

Deylami, M. Z., R. A. Rahman. C. P. Tan. J. Bakar and L. Olusegun. 2014. Thermodynamics and Kinetics of Thermal Inactivation of Perosidase From Mangosteen (Garcinia mangostana L.) Pericarp. Journal of Engineering Science and Technology. Vol. 9 (3), 374-375.

Evrilia, S. R., H. Nopia dan S. Yannika. Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Dalam Sediaan Masker Peel Off Sebagai Antioksidan. BIMFI. Vol. 2 (2), 94-100.

(43)

35

Garg, A., D. Aggarwal, S. Garg and A. K. Sigla. 2002. Spreading of Semisolid Formulation.USA: Pharmaceutical Technology. P. 84-104.

Hadriyono, K. R. P. 2011. Karakter Kulit Manggis, Kadar Polifenol dan Potensi Antioksidan Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Pada Berbagai Umur Buah dan Setelah Buah Dipanen. (Skripsi). Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern MenganalisisTumbuhan, Edisi Kedua, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soedira. Bandung: ITB Press. Hal. 69-76.

Hutapea. 1994. Investaris Tanaman Obat Indonesia (III). Jakarta: Departemen Kesehatan RI dan Kesejahteraan Sosial RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Halaman: 69.

Isnawati, A., Sukmayati A., Mariana R., dan Nikmah B. 2004. Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Strobilanthus Crispus. Media Litbang Kesehatan.Volume XIV Nomor 2 Tahun 2004.Hal. 22-25.

Isnawati, A. dan Kelik M. A. 2006. Karakterisasi Daun Kembang Sungsang (Gloria superba L.) Dari Aspek Fisiko Kimia. Media Litbang Kesehatan.XVI Nomor 4 Tahun 2006. Hal. 10-11.

Isnindar., Wahyuno, S., Setyowati. 2011. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Antioksidan Daun Kesemek (Diospyros kaki thunb.) dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Majalah Obat Tradisional, 16(3): 158

Iswari K dan Sudaryono T. 2007. Empat Jenis Olahan Manggis, Si Ratu Buah Dunia dari Sumbar. Di dalam Tabloid Sinar Tani. BPTP Sumbar.

Jones, W. P. and A. D. Kinghorn. 2006.Extraction of Plant SecondaryMetabolites. In: Sarker, S. D., Latif, Z.and Gray, A. I., eds. Natural ProductsIsolation. 2nd Ed. New Jersey: HumanaPress. P.341-342.

Kristanti, A. N., N. S. Aminah., M. Tanjung dan B. Kurniadi. 2008. Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Jurusan Kimia Laboratorium Kimia Organik FMIPA Universitas Airlangga. Halaman: 47.

Lachman, C. L., H. A. Lierberman, dan J. L. Kanig. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Kedua. Penerjemah: Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press. Hal. 697-703.

Lieberman, H.A., Rieger, and Banker. G. S. 1969a. Pharmaceutical Dosage Form: Disperse System Volume 1. New York: Marcel Dekker Inc. Page: 287-313.

Lieberman, H.A., Rieger, and Banker. G. S. 1969b. Pharmaceutical Dosage Form: Disperse System Volume 2. New York: Marcel Dekker Inc. Page: 399-414.

Madan, J and R. Singh. 2010. Formulation and Evaluation of Aloe Vera Topical Gel. J. Pharm Sci. Vol 2. P. 551-555.

Mardawati, E., Filianty F., dan Marta H. 2009. Kajian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) dalam Rangka Pemanfaatan Limbah Kulit Manggis di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya. Padjajaran: FTIP Universitas Padjajaran. Markham, K. R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh Kosasih

Padmawinata, 15. Bandung: Penerbit ITB.

Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik: Dasar-dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Ketiga. Penerjemah: Yoshita. Jakarta: UI-Press. Hal. 1124-1187.

(44)

36

Miryanti, Y. I. P. A., L. Sapei, K. Budiono dan S. Indra. 2011. Ekstraksi Antioksidan Dari Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Bandung: Universitas Katolik Parahyangan. Nugroho, A. E. 2012. Manggis (Garcinia mangostana L. ): Dari Kulit Buah Yang Terbuang

Hingga Menjadi Kandidat Suatu Obat. (Skripsi). Jurusan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Orozco, F. G and M. L. Failla. 2013. Biological Activities and Bioavailability of Mangosteen Xanthones: A Critical Review of The Current Evidence. Nutrients. Vol. 5, 3164-3165.

Pasaribu, F., Panal S. dan Saiful B. 2012. Uji Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah. Journal of Pharmaceutics and Pharmacology. Vol.1 (1): 1-8.

Palakawong, C., P. Sophanodora, S. Pisuchpen and S. Phongpaichit. 2010. Antioxidant and Antimicrobial Activities of Crude Extracts From Mangosteen (Garcinia mangostana L.) Parts and Some Essential Oils. International Foor Research Journal. Vol. 17, 583-589. Pitojo, S., H. N. Puspita. 2007. Budidaya Manggis. Semarang: Aneka Ilmu. Halaman: 15-21. Praptiwi dan M. Poeloengan. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis.

Media Litbang Kesehatan. 20(2). Hal. 65-69.

Pothitirat, W., M. T. Chomnawang and W. Gritsanapan. 2009. Anti-acne Inducing Bacteria Activity and α-Mangostin Content of Garcinia mangostana Fruit Rind Extracts From Different Provenience. Songklanakarin J. Sci. Technol. Vol. 31 (1), 41-43. Rowe, R.C., P. J. Sheskey and Owen, S.C. 2005. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Fifth

Edition. Hal. 346, 466, 624.

Rowe, R. C., P. J. Sheskey and M. E. Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition. USA: Pharmaceutical Press. Hal. 326-329; 441-444; 592-594; 596-598.

Santoso, S. 2010. Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Hal. 96-105.

Satong-aun,W., R., E. Assawarachan, and A. Noomhorm. 2011. Influence of Driying Temperature and Extraction Method on α-Mangostin in Mangosteen Pericarp. Journals of Food Science and Engineering. Volume: 1. Page: 85-92.

Seidel, V. 2008. Initial and Bulk Extraction. In: Sarker, S. D., Latif, Z. and Gray, A. I., editors. Natural Products Isolation. 2nd Ed. New Jersey: Humana Press. P.33-34.

Shai, A., H. I. Maibach and R. Baran. 2009. Handbook of Cosmetic Skin Care Second Edition. USA: Informa UK. P. 4-11; 34-39.

Sukmawati, N. M. A. 2013. Pengaruh Variasi Konsentrasi PVA, HPMC dan Gliserin Terhadap Sifat Fisika Masker Wajah Gel Peel Off Ekstrak Etanol 96% Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). (Skripsi). Bali: Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana.

Suyudi, S. D. 2014. Formulasi Gel Semprot Menggunakan Kombinasi Karbopol 940 dan Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) Sebagai Pembentuk Gel. (Skripsi). Jakarta: Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.

Titis, M. B. M., E. Fachriyah, dan D. Kusrini.2013. Isolasi, Identifikasi dan UjiAktifitas Senyawa Alkaloid DaunBinahong (Anredera cordifolia (Tenore)Steenis). Chem. Info., 1 (1):196 – 201.

Gambar

Gambar 2.1. Buah Manggis (Hadriyono, 2011)
Gambar 2.3 Struktur Kimia HPMC (Rowe et al., 2005).
Tabel 5.1 Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol 96% Kulit Buah Manggis
Tabel 5.2. Hasil Karakterisasi Ekstrak Kulit Buah Manggis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing – masing formula sediaan gel masker peel off serbuk getah buah pepaya yang diformulasikan dengan kombinasi PVA dan HPMC

Hasil dari optimasi, memberikan formula optimum sediaan masker wajah gel peel-off dapat diperoleh menggunkan konsentrasi kombinasi PVA 9,08%, HPMC 0,95%, dan etanol 18,77%

Untuk mengetahui efektivitas perlindungan masker gel peel off ekstrak etanol 96% kulit buah manggis terhadap penuaan kulit akibat paparan sinar UV-B maka dilakukan

pada formula masker wajah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia. mangostana L.) dalam bentuk gel peel off

Dapat memberikan informasi ilmiah tentang efek antioksidan dari masker gel peel off ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dalam mengatasi penuaan kulit

Dapat memberikan informasi ilmiah tentang efek antioksidan dari masker gel peel off ekstrak etanol 96% kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dalam

Perbedaan konsentrasi ekstrak kulit biji pinang Yaki ( Areca vestiaria Giseke) pada sediaan masker gel peel-off mempengaruhi efektivitasnya dalam melembabkan kulit

Pada penelitian ini dilakukan optimasi konsentrasi gelling agent xanthan gum dan Hydroxypropyl Methylcellulose HPMC dalam sediaan masker gel peel-off ekstrak kulit buah kakao.. Metode