ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS III ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS III TENTANG
TENTANG OCCUPATIONAL HEALTH NURSINGOCCUPATIONAL HEALTH NURSING DI PT JAPFA
DI PT JAPFA COMFEEDCOMFEED INDONESIA TBK INDONESIA TBK CIREBON
CIREBON
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Komunitas III Keperawatan Komunitas III
LAPORAN TUGAS LAPORAN TUGAS
Dosen pengampu :
Dosen pengampu : Ns. Dewi Erna Marisa, S.Kep., M.KepNs. Dewi Erna Marisa, S.Kep., M.Kep
Disusun Oleh : Disusun Oleh : A
Annddrriiyyaan n LLuuttffi i AArriipp ((221133..CC..00000066)) S
Siitti i RRoohhiimmaahh ((221133..CC..00001133)) S
Siitti i NNuurraaiinna a IInnaayyaahh ((221133..CC..00002222)) E
Elly y FFeerrddiiaannaa ((221133..CC..00002299)) R
Riinna a MMaarryyaattiiaannaa ((221133..CC..00003311))
Neng Ledy Lestary
Neng Ledy Lestary (213.C.0043)(213.C.0043)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA
CIREBON CIREBON
201 201
6 6
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Assalamu’alaikum wr.wr.wb.wb. Puj
Pujii syusyukur kur kakami pmi panjanjatkatkan an kehkehadiadirat rat AllAllah ah SWTSWT. y. yang ang teltelahah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan “Laporan Tugas A
“Laporan Tugas Asuhan Keperawatan Komunitas suhan Keperawatan Komunitas III tentangIII tentang Occupational HealthOccupational Health Nursing
Nursing di di PT PT JaJapfpfa a CoComfmfeeeed d InIndodonenesisia a TbTbk k CiCirerebobonn”.”. LapLaporaoran n tugtugas as iniini disuusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas disuusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Komunitas III pada Program Studi SI Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan III pada Program Studi SI Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mahardika Cirebon.
(STIKes) Mahardika Cirebon.
Selama proses penyusunan laporan tugas ini kami tidak lepas dari bantuan Selama proses penyusunan laporan tugas ini kami tidak lepas dari bantuan berbagai pihak berupa bimbingan, saran dan petunjuk baik berupa moril, spiritual berbagai pihak berupa bimbingan, saran dan petunjuk baik berupa moril, spiritual maupun materi yang berharga dalam mengatasi hambatan yang ditemukan. Oleh maupun materi yang berharga dalam mengatasi hambatan yang ditemukan. Oleh ka
karenrena a ituitu, , sesebagbagai ai rasrasa a syusyukur kur dendengan gan kekerenrendahdahan an hahati, ti, kamkami i menmengucgucapkapkanan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat : 1.
1. Ibu Ns. Dewi Ibu Ns. Dewi Erna Marisa, S,Kep., M.Kep yang telah Erna Marisa, S,Kep., M.Kep yang telah memberikan bimbinganmemberikan bimbingan dan dorongan dalam penyusunan laporan tugas ini sekaligus sebagai dosen dan dorongan dalam penyusunan laporan tugas ini sekaligus sebagai dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Komunitas III.
pengampu mata kuliah Keperawatan Komunitas III. 2.
2. Ibunda dan ayahanda kami yang tercinta serta saudara dan keluarga besarIbunda dan ayahanda kami yang tercinta serta saudara dan keluarga besar kami telah memberikan motivasi/dorongan dan semangat, baik berupa moril kami telah memberikan motivasi/dorongan dan semangat, baik berupa moril maupun materi lainnya.
maupun materi lainnya. 3.
3. Sahabat dan rekan STIKES Mahardika, khususnya Program Studi SI IlmuSahabat dan rekan STIKES Mahardika, khususnya Program Studi SI Ilmu Keperawatan yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Keperawatan yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Se
Semomoga ga AlAllalah h SWSWT. T. MeMembmbalalas as babaik ik bubudi di sesemumua a pipihahak k yayang ng tetelalahh be
berprparartitisisipapasi si memembmbanantu tu kakami mi dadalalam m memenynyususun un lalapoporaran n tutugagas s inini. i. KaKamimi menyadari bahwa laporan tugas ini jauh dari sempurna, serta masih memiliki menyadari bahwa laporan tugas ini jauh dari sempurna, serta masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik serta saran banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik serta saran yang bersifat
yang bersifat membangun untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.membangun untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Penyusun berharap, semoga laporan tugas ini dapat bermanfaat bagi kita Penyusun berharap, semoga laporan tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua Amiin…
semua Amiin…
Wassalamu’alaikum wr. wb. Wassalamu’alaikum wr. wb.
Cirebon,13
Cirebon,13 juni juni 20162016
Penulis Penulis
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 4 1.3 Tujuan Penulisan 4 1.4 Manfaat Penulisan 5
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Teori dan Model Pelayanan Kesehatan Kerja 6 2.2 Ilmu Kesehatan Kerja 7
2.3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja8 2.4 Penyakit Akibat Kerja 9
2.5 Masalah Kesehatan Kerja yng menurunkan Produktivitas Kerja 10 2.6 Kegiatan Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja 11
2.7 Hierarki Pengendalian Bahaya pada Keselamatan, Kesehatan Kerja 12 2.8 Keperawatan Komunitas pada Agregate Kerja 14
2.9 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesehatan Karyawan 16 2.10Strategi Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja19
2.11Level dan Bentuk Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja 21
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KERJA 3.1 Pengkajian 24
3.2 Analisa Data 34
3.3 Diagnosa Keperawatan 36
3.4 Skoring 37 3.5 Intervensi 39 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan43 4.2 Saran 43 DAFTAR PUSTAKA Lampiran
1- Profil Perusahaan PT. Japfa Comfeed Indonesian Tbk. Unit Cirebon 2- Program Kerja P2K3 PT. Japfa Comfeed Indonesian Tbk. Unit Cirebon 3- Kebijakan K3 PT. Japfa Comfeed Indonesian Tbk. Unit Cirebon
4- Sertifikat Zero Accident PT. Japfa Comfeed Indonesian Tbk. Unit Cirebon 5- Dokumentasi Kegiatan Pengkajian
6- Power Point
ii i
DAFTAR TABEL
No. NamaTabel Halaman
Tabel.1 UmurKaryawan 24
Tabel.2 MasaKerja 25
Tabel.3 Hak Cuti Karyawan 33
Tabel.4 Hak Cuti Ekstra Karyawan 33
Tabel.5 AnalisaData 35
Tabel.6 Skoring 37
Tabel.7 Asuhan Keperawatan 38
i v
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persaingan dalam dunia industri semakin ketat. Di dalam negeri maupun di dunia internasional. Persaingan ini menuntut perusahaan mengoptimalkan potensi karyawannya. Karyawan yang berpotensial adalah karyawan yang tidak hanya memiliki pengetahuan ketrampilan dan sikap sebagaimana yang diharapkan oleh perusahaan saja, namun juga memiliki kondisi badan serta jiwa yang sehat (Hardy, 2012).
Tujuan setiap industri adalah lancarnya bisnis dengan perolehan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tujuan semacam ini mustahil tercapai tanpa didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang maksimal dan prima. Perpaduan kompetensi dan kondisi fisik serta mental yang kuat inilah yang diharapkan mampu mendukung terealisasinya tujuan produksi suatu perusahaan (Hardy, 2012).
Jumlah tenaga kerja diseluruh penjuru dunia meningkat secara global menurut organisasi perburuhan dunia/international labour organisation (ILO) saat ini terdapat sekitar 2,6 miliyar angkatan kerja (ILO, 2005., dalam Permatasari, 2010).
Peningkatan jumlah tenaga kerja terjadi sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk didunia dan kebutuhan pekerjaan yang laayk bagi msayarakat. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang juga mengalamai peningkatan jumlah tenaga kerja yang signifikan.
Berdasarkan data dari biro pusat statistik (BPS) pada tahun 2005, terdapat 101,5 juta pekerja, dengan jumlah perusahaan atau institusi kerja berjumlah perusahaan atau institusi kerja berjumlah 120.000 (Permatasari, 2010).
Pekerja merupakan salah satu kelompok dalam masyarakat yang berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan. Menurut ILO (2005) dalam Permatasari (2010) terdapat lebih dari 2 juta kasus kematian tiap tahunnya
karena kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) yang fatl di indonesia, angka kesakitan pekerja pada tahun yang sama adalah 8904. Sedangkan angka kematian pekerja adalah 1699 (Jamsostek, 2005., dalam Permatasari, 2010).
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dan keselamtan,pekerja mendapatkan perhatian dari seluruh dunai dengan diprioritaskanya occupational health / kesehatan kerja bersifat global ini ditunjukkan untukmemperbaiki status kesehatan pekerja mengurangi faktor resiko ditempat kerja, memperbaiki dan meningkatkan pelayanan kesehatan kerja,serta mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Eigsti, Gruire, & Stone, 2002., dalam Permatasari, 2010).
International Labour Organization (ILO) dalam risetnya menyimpulkan rata-rata perhari, sebanyak 6000 buruh meninggal dunia (Suardi, 2005). Itu berarti setiap detik terdapat 1 orang yang meninggal dalam setiap 15 detik. Suardi (2005) juga menyebutkan bahwa kematian buruh pria lebih banyak dibanding wanita, karena pria lebih banyak yang bekerja di sektor industri di mana ekspose terhadap hazards/risk lebih banyak dibanding kaum wanita.
Lebih dari itu, angka kematian di tempat kerja ini belum termasuk yang meninggal karena sakit yang disebabkan oleh ekspose hazards di tempat kerjanya, semisal zat-zat kimia yang beracun (Suardi 2005). Meningginya angka kematian, baik karena kecelakaan ataupun kesakitan di tempat kerja ini, memperoleh perhatian serius ILO atau WHO sebagai badan dunia yang bertanggungjawab memberikan rekomendasi dalam penaggulangannya. Baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif serta rehabilitative (ILO, 2011., & WHO, 2011., dalam Hardy, 2012).
Masih menurut ILO (2011) dalam Hardy (2012), tragedi kematian tersebut pada prinsipnya dapat dihindari melalui penerapan kegiatan preventif, inspeksi serta pelaporan. ILO mengadopsi tidak kurang dari 40 standard terkait dengan masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ini, yang dikenal dengan Codes of Practice (ILO, 2011., dalam Hardy, 2012).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dikemas untuk pekerja maupun pengusaha dan perusahaan sebagai upaya memaksimalkan produksi dengan cara mencegah timbulnya kecelakaan serta penyakit akibat kerja (Lestari & Trisuliyanti., dalam Hardy, 2012). Upaya ini dilaksanakan dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipasi apabila terjadi kecelakaan dan penyakit (Lestari & Trisuliyanti., dalam Hardy, 2012). Dalam rekomendasi selanjutnya, amat penting peranan karyawan turut serta berpartisipasi aktif serta bekerjasama baik antara sesama karyawan maupun dengan manajemen. Bagi manajemen perusahaan, penyediaan informasi akan langkah-langkah K3 inipun perlu disampaikan melalui pelatihan yang tepat (ILO, 2011., dalam Hardy, 2012).
Dengan begitu, perusahaan yang baik adalah perusahaan yang benar-benar menjaga keselamatan dan kesehatan kerja karyawannya. Karyawan sangat membutuhkan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerjanya. Pemenuhan kebutuhan kesehatan ini akan menimbulkan rasa aman sewaktu melakukan tugas dan tanggungjawabnya pada saat bekerja. Tenaga kerja yang sehat akan produktif (Hardy, 2012).
Memperhatikan hal tersebut di atas, perawat, sebagai bagian integral profesi kesehatan, memiliki peranan yang vital dalam upaya K3. Perawat adalah tenaga professional bidang kesehatan yang memiliki peranan yang amat besar dalam upaya peningkatan kesehatan kerja serta pencegahan kecelakaan atau penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan. Mengingat perusahaan adalah bagian dari komunitas masyarakat dalam ruang lingkup industri, maka dalam pelayanan kesehatan yang menyeluruh, perawat perlu diikut-sertakan program-program K3 dalam pelayanan kesehatan komunitas (Hardy, 2012).
Sebagai tenaga kesehatan professional yang menduduki prosentase terbesar di Indonesia, dibanding tenaga kesehatan lainnya (Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan, 2011), kepemilikan kompetensi yang terkait dengan K3 sangat perlu, sebagaimana yang disarankan oleh WHO (2011) dalam
Hardy (2012). Sayangnya, tujuan ini, belum maksimal tercapai (Hennessy at al, 2006., dalam Hardy, 2012). Dari segi pendidikan, dibutuhkan desain kurikulum tertentu yang terkait dengan integrasi OHN yang proporsional dalam materi Komunitas Keperawatan (Hardy, 2012).
Laporan tugas ini bertujuan untuk menganalisa sejauh mana kebutuhan isi materi occupational health nursing (OHN) yang perlu diselipkan dalam Mata Kuliah Komunitas Keperawatan III (3rd Community of Nursing) sebagai sebuah acuan dalam pengetahuan dan pengembangan kompetensi mahasiswa/I keperawatan STIKes Mahardika Cirebon di era pesatnya dunia keperawatan kesehatan kerja dalam bidang industri ini.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang terdapat dalam laporan tugas ini adalah bagaimana Asuhan Keperawatan Komunitas III tentang Occupational Health Nursing di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui Asuhan Keperawatan Komunitas III tentang
Occupational Health Nursing di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengetahui Teori Asuhan Keperawatan Komunitas III tentang Occupational Health Nursing di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon.
1.3.2.2 Mengetahui Proses Keperawatan Komunitas III tentang Occupational Health Nursingdi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari laporan tugas ini yaitu sebagai bahan materi dan informasi untuk memberikan gambaran secara teori mengenai Asuhan Keperawatan Komunitas III tentang Occupational Health Nursing di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon kepada
mahasiswa/I dalam melaksanakan proses perkuliahan pada Mata Kuliah Keperawatan Komunitas III.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1 PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Cirebon
Laporan ini sebagai bahan evaluasi perusahaan (industri) yang sedang berada pada era persaingan dalam dunia kerja industri pada bidang keperawatan kesehatan kerja.
1.4.2.2 Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
Laporan tugas ini akan berguna bagi Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi untuk dapat mengevaluasi hasil dari penerapan asuhan keperawatan kesehatan kerja di bidang perusahaan (industri).
1.4.2.3 STIKes Mahardika Cirebon
Laporan ini dapat menambah bahan evaluasi dan pertimbangan bagi institusi pendidikan STIKes Mahardika Cirebon terhadap evaluasi proses perkuliahan terhadap dosen dan mahasiswa dalam menempuh perkuliahan Keperawatan Komunitas III.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Teori dan Model Pelayanan Keperawatan Kesehatan Kerja
Pelaksanaan praktek pelayanan keperawatan kesehatan kerja dilakukan dengan mengapilkasikan teori dan model yang berhubungan dengan keperawatan kesehatan kerja. Teori dan model tersebut antara lain adalah: (1) Model Epidemiologi, (2) Model Keperawatan Kesehatan Kerja dari Rogers (1994), (3) Model Promosi Kesehatan untuk Karyawan dari Downie dan Tannahill (1996). Rogers (1994) dalam Permatasari, N (2010) merancang model keperawatan kesehatan kerja dengan memfokuskan kesehatan karyawan yang dipengaruhi oleh lima faktor yang berhubungan langsung dengan kesehatan karyawan. Kelima faktor tersebut adalah:
2.1.1 Praktek pelayanan OHN yang terdiri dari 8 elemen.Kedelapan elemen tersebut merupakan gambaran peran dan tugas OHN, yaitu: menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan kesehatan kerja, menetapkan program perencanaan yang berhubungan dengan manajemen pelayanan keperawatan kesehatan kerja, melakukan pelayanan keperawatan langsung, melakukan surveillans terhadap health hazardsdi tempat kerja, melakukan kerja sama dengan sumber-sumber yang ada di masyarakat pada saat memberikan pelayanan, memberikan pelayanan keperawatan kesehatan kerja berdasarkan aspek etik dan legal, melakukan riset keperawatan kesehatan kerja (Permatasari, N dalam 2010).
2.1.2 Tim kesehatan dan keselamatan kerja yang terdiri dari dokter spesialis kesehatan kerja, dokter umum, ahli kesehatan lingkungan, konsultan gizi, fisioterapist, psikolog, occupational hygienist (Permatasari, N dalam 2010).
2.1.3 Faktor yang ketiga adalah Karyawanan dan health hazards yang terdapat di lingkungan kerja (Permatasari, N 2010).
2.1.4 Sumber-sumber yang ada di masyarakat, baik yang berupa pelayanan kesehatan rujukan karyawan seperti Rumah Sakit, organisasi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memberikan perhatian terhadap populasi karyawan (Permatasari, N dalam 2010). 2.1.5 Visi dan misi dari perusahaan atau institusi kerja yang mencakup
tujuan, kebijakan dan peraturan yang ditetapkan perusahaan baik yang berhubungan dengan aspek bisnis, ekonomi maupun yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk kebijakan perusahaan yang memfasilitasi maupun kurang memfasilitasi peningkatan dan pemeliharaan kesehatan karyawan (Permatasari, N 2010).
2.2 Ilmu Kesehatan Kerja (Occupational Health) 2.2.1 Higiene Perusahaan Kerja (Industri)
Tujuan utama ilmu kesehatan kerja adalah untuk meningkatkan produktifitas kerja, yang meliputi: pencegahan penyakit, pencegahan kelelahan kerja, dan lainnya. Terdapat tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam pencegahan dan pengobatan untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan industri.
2.2.1.1 Hubungan antara karyawanan dan kesehatannya ( relationship of work to helath)
2.2.1.2 Efek dari karyawanan terhadap karyawanannya ( effects of the work up on the worker) efek meningkatnya kebutuhan dasar, dan efek enigkatnya kebutuhan hidup karyawan.
2.2.1.3 Masalah kesehatan pada karyawanan (health problem at work ). (Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011)
Upaya yang dilakukan agar hiegene kerja menjadi baik adalah sebagai berkut:
1 Substitusi, yaitu mengganti bahan berbahaya dengan yang kurang
atau tidak berbahaya.
2 Isolasi, mengisolasi proses-proses berbahaya dari perusahaan.
1 Ventilasi umum, mengalihkan udara sebanyak perhitungan ruangan
kerja.
2 Ventilasi keluar setempat, menghisap udara dari suatu ruang kerja
agar bahan-bahan berbahaya dihisap dan dialihkan ke luar.
3 Alat pelindung perorangan, misalnya masker, kacamata, sarung
tangan, sepatu, topi, penutup telinga, dan pakaian pelindung. 4 Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan berkala.
5 Informasi sebelum bekerja.
6 Pendidikan tentang kesehatan kerja dan keselamatan kerja.
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) 2.3 Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan karyawan adalah dengan cara menerapkan manajemen K3 dengan mencari dan mengungkapkan kelemahan operasional yang memungkinkan terjadinya kecelakaan.
2.3.1 Pada mesin; seperti pada mesin peralatan dan bahan (keadaan mesin yang rusak, licin, longgar, kasar dan tajam); kondisi pengaman mesin (kegiatan dengan kecepatan berbahaya, tidak memanfaatkan perlengkapan, bekerja pada perlengkapan yang bergerak/ berbahaya); kondisi alat-alat kerja; dan kondisi bahan.
2.3.2 Karyawan, yang meliputi: kondisi mental dan fisik, kebiasaan kerja (baik dan aman), penggunaan APD.
2.3.3 Tata cara kerja, yang meliputi: prosedur kerja yang benar, protap untuk kegiatan yang berulang, dan kebiasaan kerja menurut petunjuk manual. Pencegahan kecelakaan kerja dengan memerhatikan pada aspek manusia dan aspek peralatan. Aspek manusia (tenaga kerja) harus memenuhi beberapa syarat, yaitu terampil sesuai jenis karyawanannya.
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) Upaya untuk memantau kesehatan para karyawan antara lain:
• Pemeriksaan melalui skrining (sebelum dikaryawankan)
1 Menjalankan program hidup sehat dengan cara anti rokok, olah
raga, menurunkan stres, memakan makanan sehat, dan menurunkan berat badan (bagi yang overwight )
2 Investigasi adanya bahaya yang ditujukan pada kasus CHD, yang
meningkat pada kelompok-kelompok tertentu, riwayat shest pain, penemuan infark baru atau pembuntuan koroner, dan hubungan paparan kerja dengan faktor predisposi lain (seperti usia, seks, dan cuaca).
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) 2.4 Penyakit Akibat Kerja
Penyebab penyakita akibat kerja, antara lain sebagai berikut: 2.4.1 Faktor fisik, meliputi:
1) Kebisingan 2) Suhu 3) Kelembaban udara 4) Kecepatan angin 5) Getaran 6) Radiasi 7) Tekanan udara 2.4.2 Faktor kimia, meliputi:
1) Gas
2) Uap debu 3) Fume 4) Kabut 5) Asap
2.4.3 Faktor biologis, meliputi: 1) Bakteri
2) Virus 3) Jamur 4) Cacing
2.4.4 Faktor fisiologis, meliputi:
1) Sikap dan cara kerja; 2) Jam kerja;
3) Istirahat; 4) Shift kerja; 5) Lembur.
2.4.5 Faktor mental psikologis, meliputi: 1) Suasana kerja;
2) Hubungan antar karyawan; 3) Pengusaha.
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011)
2.5 Masalah Kesehatan Kerja yang Menurunkan Produktivitas Kerja
2.5.1 Penyakit umum pada karyawan antara lain, kusta, TB paru, penyakit jantung, kanker, kecacatan, dan lain-lain.
2.5.2 Penyakit yang timbul akibat kerja, misalnya pneumokoniosis dan dermatosis. Pneumokoniosis adalah penyakit yang diakibatkan oleh abses, dengan gejala seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, dan sianosis. Pengobatan cukup sulit dan bersifat hanya mengurangi keluhan, seperti jika infeksi diberi antibiotik, gizi ditingkatkan, juga jika kanker diberi obat sitostatika. Upaya preventif meilputi: skrining, promosi kesehatan, penggunaan alat pelindung masker, kaca mata, substitusi untuk menyaring debu seperti cerobong asap, water spray, dan exhauster .
2.5.3 Gizi buruk. Gizi buruk saat ini telah bermunculan hampir di semua kabupaten, hal ini disebabkan:
1) Kurangnya pengetahuan masyarakat akan kebutruha gizi bagi anggota keluarganya.
2) Ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi bagi anggota keluarganya.
3) Pola hidup yang salah.
4) Stok bahan makanan yang tidak ada.
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) 2.6 Kegiatan Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja
Kebersihan perusahaan kerja (industri) juga harus harus memiliki sistem sanitasi demi higiene industri dan lingkungan di sekitar industri.Berikut ini akan disebutkan beberapa dari higiene dan kesehatan kerja:
2.6.1 Higiene perusahaan, merupakan spesialisasi dalam ilmu higiene beserta dengan praktiknya dengan mengadakan penilaian pada faktor penyebab penyakit dalam lingkungan kerja dan perusahaan. Melalui pengukuran yang hasilnya digunakan untuk koreksi lingkungan perusahaan, dengan menitik beratkan pada pencegahan agar karyawan dan masyarakat terhindar dari bahaya akibat kerja.
2.6.2 Kesehatan kerja, merupakan bidang khusus ilmu kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat karyawan dan sekitar perusahaan agar memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial.
2.6.3 Hiegene perusahaan dan kesehatan kerja adalah bagian dari usaha kesehatan masyarakat yang ditujukan kepada masyarakat karyawan, masyarakat sekitar perusahaan, dan masyarakat umum yang menjadi konsumen dari hasil produk perusahaan.
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) Higiene dan kesehatan kerja digunakan sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja yang setinggi-tingginyaserta sebagai alat untuk meningkatkan produksi yang berlandaskan pada meningkatkan efisiensi dan daya produktifitas faktor manusia dalam produksi (Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011).Kegiatan higiene yang dilakukan perusahaan dalam rangka menciptakan kesehatan lingkungan kerja adalah sebagai berikut:
1 1
1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan akibat kerja.
2. Maintenance and increasing kesehatan tenaga kerja.
3. Care, efficiency increasing, dan productifity balance tenaga kerja. 4. Pemberantasan kelelahan tenaga kerja.
5. Meningkatkan semangat dalam bekerja.
6. Perlindungan masyarakat kerja dari pencemaran. 7. Perlindungan masyarakat luas.
8. Pemeliharaan dan peningkatan hiegene sanitasi perusahaan. (Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) 2.7 Hirarki Pengendalian Bahaya pada keselamatan, kesehatan kerja
Hirarki pengendalian ini memiliki dua dasar pemikiran dalam menurunkan resiko yaitu melaui menurunkan probabilitas kecelakaan atau paparan serta menurunkan tingkat keparahan suatu kecelakaan atau paparan.Hirarki pengendalian dalam sistem manajemen keselamatan, kesehatan kerja antara lain:
2.7.1 Eliminasi
Hirarki teratas yaitu eliminasi/menghilangkan bahaya dilakukan pada saat desain, tujuannya adalah untuk menghilangkan kemungkinan kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena adanya kekurangan pada desain. Penghilangan bahaya merupakan metode yang paling efektif sehingga tidak hanya mengandalkan prilaku karyawan dalam menghindari resiko, namun demikian, penghapusan benar-benar terhadap bahaya tidak selalu praktis dan ekonomis.Contoh-contoh eliminasi bahaya yang dapat dilakukan misalnya: bahaya jatuh, bahaya ergonomi, bahaya ruang terbatas, bahaya bising, bahaya kimia.
2.7.2 Substitusi
Metode pengendalian ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses, operasi ataupun peralatan dari yang berbahaya menjadi lebih tidak berbahaya. Dengan pengendalian ini menurunkan bahaya dan resiko minimal melalui disain sistem ataupun desain ulang. Beberapa contoh
aplikasi substitusi misalnya: Sistem otomatisasi pada mesin untuk mengurangi interaksi mesin-mesin berbahaya dengan operator, menggunakan bahan pembersih kimia yang kurang berbahaya, mengurangi kecepatan, kekuatan serta arus listrik, mengganti bahan baku padat yang menimbulkan debu menjadi bahan yang cair atau basah.
2.7.3 Pengendalian tehnik/engineering control
Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk memisahkan bahaya dengan karyawan serta untuk mencegah terjadinya kesalahan manusia. Pengendalian ini terpasang dalam suatu unit sistem mesin atau peralatan.
Contoh-contoh implementasi metode ini misal adalah adanya penutup mesin/machine guard, circuit breaker, interlock system, start-up alarm, ventilation system, sensor, sound enclosure
2.7.4 Sistem peringatan/warning system
Adalah pengendian bahaya yang dilakukan dengan memberikan peringatan, instruksi, tanda, label yang akan membuat orang waspada akan adanya bahaya dilokasi tersebut. Sangatlah penting bagi semua orang mengetahui dan memperhatikan tanda-tanda peringatan yang ada dilokasi kerja sehingga mereka dapat mengantisipasi adanya bahaya yang akan memberikan dampak kepadanya. Aplikasi di dunia industri untuk pengendalian jenis ini antara lain berupa alarm system, detektor asap, tanda peringatan (penggunaan APD spesifik, jalur evakuasi, area listrik tegangan tinggi, dll).
2.7.5 Pengendalian administratif/ administratif control
Kontrol administratif ditujukan pengandalian dari sisi orang yang akan melakukan karyawanan, dengan dikendalikan metode kerja diharapkan orang akan mematuhi, memiliki kemampuan dan keahlian cukup untuk menyelesaikan karyawanan secara aman.Jenis pengendalian ini antara lain seleksi karyawan, adanya
standar operasi baku (SOP), pelatihan, pengawasan, modifikasi prilaku, jadwal kerja, rotasi kerja, pemeliharaan, manajemen perubahan, jadwal istirahat, investigasi dll.
2.7.6 Alat pelindung diri
Pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri merupakan merupakan hal yang paling tidak efektif dalam pengendalian bahaya,dan APD hanya berfungsi untuk mengurangi seriko dari dampak bahaya. Karena sifatnya hanya mengurangi, perlu dihindari ketergantungan hanya menggandalkan alat pelindung diri dalam menyelesaikan setiap karyawanan.
Alat pelindung diri Mandatory adalah antara lain: Topi keselamtan (Helmet), kacamata keselamatan, Masker, Sarung tangan, earplug, Pakaian (Uniform) dan Sepatu Keselamatan. Dan APD yang lain yang dibutuhkan untuk kondisi khusus, yang membutuhkan perlindungan lebih misalnya: faceshield, respirator, SCBA (Self Content Breathing Aparatus),dll.
2.8 Keperawatan Komunitas pada Agregate Karyawan
2.8.1 Pengertian dan Tujuan Keperawatan Kesehatan Kerja
Keperawatan kesehatan kerja/ occupational health nursing (OHN) adalah cabang khusus dari keperawatan komunitas yang merupakan aplikasi dari konsep dan frame work dari berbagai disiplin ilmu (keperawatan, kedokteran, kesehatan masyarakat, ilmu sosial dan perilaku, prinsip-prinsip manajemen) yang bertujuan meningkatkan dan memelihara status kesehatan karyawan serta melindungi karyawan dari kecelakaan kerja dan faktor risiko bahaya di tempat kerja (health hazards) dalam konteks lingkungan kerja yang sehat dan aman ( American Asscociation of Occupational Health Nursing / AAOHN dalam Permatasari, 2010).
Tujuan dari keperawatan industri adalah kesehatan karyawan (workers health), keselamatan karyawan (safety worker ), dan kesejahteraan karyawan (wokers welfare), sehingga tujuan utama
dalam keperawatan industri terwujud, yaitu status kesehatan tinggi (high health satatus) produktifitasnya tinggi (high productivity). Para karyawan merupakan orang yang berada dalam keadaan risiko atau berbahaya (Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011).
Kebutuhan yang diperhatikan dalam kesehatan kerja yang dapat menimbulkan risiko antara lain adalah kebutuhan fisik, kebutuhan kimia, kebutuhan biologis, dan kebutuhan sosial (Permatasari, 2010). 2.8.2 Peran dan Fungsi Perawat Kesehatan Kerja
Pada beberapa dekade sebelumnya peran dan fungsi OHN hanya terfokus pada penanganan kasus kegawatdaruratan dan penyakit akut yang dialami karyawan di tempat kerja maka, saat ini peran dan fungsi OHN menjadi lebih luas dan kompleks (Nies & Swansons, 2002 dalam Permatasari, 2010). Lusk (1990, Permatasari, 2010) mengidentifikasi 8 peran OHN. Kedelapan peran tersebut adalah: (1) Pemberi pelayanan kesehatan ; (2) Penemu kasus; (3) Pendidik kesehatan; (4) Perawat pendidik; (5) Pemberi layanan konseling; (6) Manajemen kasus; (7) Konsultan, serta (8) Peneliti.
Berdasarkan peran tersebut, maka fungsi OHN adalah: (1) Melakukan supervisi terhadap kesehatan karyawan; (2) Melakukan surveilens terhadap lingkungan kerja; (3) Mencegah terjadinya kecelakaan kerja; (4) Mencegah terjadinya penyakit akibat kerja; (5) Penatalaksanaan penyakit baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan karyawanan, kecelakaan di tempat kerja, serta pelayanan kesehatan dasar; (6) Mengatur dan mengkoordinasikan upaya pertolongan pertama di tempat kerja; (7) Melakukan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit di tempat kerja; (8) Melakukan konseling untuk karyawan; (9) Melakukan upaya rehabilitasi untuk karyawan yang kembali bekerja setelah mengalami kecelakaan atau dirawat di rumah sakit; (10) Melakukan pencatatan dan pelaporan kesehatan kerja; (11) Melakukan penatalaksanaan terhadap manajemen pelayanankesehatan kerja termasuk menetapkan
perencanaan,pengembangan kebijakan, pendanaan, staffing dan;(12) melakukan tugas admininstrasi di unit kesehatanatau klinik kesehatan yang tersedia serta;(13) melakukan riset keperawatan kesehatan kerja(AAOHN, 1994, dalam Permatasari, 2010).
Tugas keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat industri adalah sebagai berikut:
1 Kesehatan lingkungan kerja (higiene of work environment ).
Misalnya, lingkungan kerja yang bagaimana yang sesuai dengan karyawanannya.
2 Kesehatan karyawan (occupational health), terutama penyakit
akibat kerja dengan tujuan untuk mencegah, mendiagnosis dan merehabilitasi penyakibat kerja.
3 Keselamatan kerja (safety of work )
(Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul C, 2011) 2.9 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Karyawan
Berdasarkan aplikasi model Epidemiologi, hubungan antara karyawan dan status kesehatan dilihat berdasarkan tiga faktor yang saling mempengaruhi, yaitu karyawan (host ), lingkungan (environment ) dan health hazards (Stanhope & Lancaster, 2004 dalam Permatasari, 2010). Ketiga faktor yang saling berpengaruh tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 2.9.1 Karyawan(Host)
Karyawan merupakan host pada populasi karyawan. Host memiliki karakteristik yang berhubungan dengan meningkatnya risiko untuk terpapar health hazards di tempat kerja. Karakteristik tersebut meliputi: (1) usia; (2) Jenis kelamin; (3) Memiliki atau tidak memiliki penyakit kronis; (3) Aktifitas di tempat kerja; (4) Status imunologi; (5) Etnik; (6) Gaya hidup (Stanhope & Lancaster, 2004 Permatasari, 2010). Sebagai contoh karyawan yang memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan di tempat kerja adalah laki-laki yang berusia antara 18-30 tahun, memiliki pengalaman kerja kurang dari 6 bulan. Karakteristik host seperti usia, jenis kelamin, dan pengalaman kerja, meningkatkan risiko untuk
mengalami kecelakaan kerja akibat kurangnya pengetahuan dan kemampuan mengatasi risiko health hazards serta ketrampilan kerja yang masih rendah. Agregat karyawan ini juga berisiko mengalami penyakit kronis akibat gaya hidup yang kurang sehat seperti perokok, minum alkohol, kurang berolahraga (Stanhope & Lancaster, 2004; Hitchcock, Schubert, & Thomas, 2004; Oakley, 2002 dalam Permatasari, 2010).
2.9.2 Faktor Risiko Bahaya di Tempat Kerja ( Health Hazards)
Health hazards berupa faktor kimia, fisika, biologi, enviromechanical dan psikologi, terdapat pada hampir semua bentuk institusi kerja (Stanhope & Lancaster, 2004 Permatasari, 2010). Tanpa memandang jenis institusi kerja bersifat tradisional atau modern yang menggunakan teknologi tinggi. Perusahaan yang mengelola jasa (bank, institusi pelayanan kesehatan, hotel dan restoran) juga tidak luput dari bahaya health hazards bagi karyawan (Depnakertrans RI, 2005).
1) Health Hazard Kimia
AAOHN (1995) dalam Permatasari, N(2010)menyatakan health hazards kimia berupa debu, asbestos, merkuri, dan zat kimia berbahaya lainnya masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan, absorpsi kulit, dan absorpsi sistem penglihatan. Pengaruh terhadap kesehatan manusia adalah gejala sakit kepala, gangguan sistem syaraf pusat, ataksia, luka bakar, gangguan sistem reproduksi serta, penyakit keganasan.
2) Health Hazards Fisika
Health hazards fisika berupa kebisingan, radiasi, getaran, suhu panas dan dingin, serta gelombang elektromagnetik. Health hazards fisika menimbulkan kerusakan pada sistem pendengaran, gangguan sistem reproduksi, penyakit keganasan, dehidrasi, serta serangan panas (Permatasari, 2010).
1 7
3) Health Hazards Biologi
Health hazards biologi berupa bakteri patogen, jamur,dan virus masuk ke tubuh manusia melalui sistempernafasan, kontak langsung dengan kulit, sistempencernaan, ,penglihatan. Dampak terhadap kesehatanadalah mengalami penyakit infeksi virus, bakteri, jamur,seperti penyakit hepatitis B, kulit, infeksi yangmenyerang sistem organ manusia (Permatasari, 2010).
4) Health Hazards Enviromechanical
Sedangkan health hazards enviromechanical adalahsegala sesuatu yang berpotensi menimbulkan penyakit atau kecelakaan di tempat kerja. Faktor risiko bahayaini berhubungan dengan proses kerja atau kondisilingkungan kerja yang berpengaruh terhadapkesehatan ketika aktifitas kerja tertentu dilaksanakansecara berulang-ulang (Stanhope & Lancaster, 2004 dalam Permatasari, 2010).Kategori health hazards enviromechanical berisikomenimbulkan masalah gangguan tulang dan persendian,cidera punggung, serta gangguan tidur.
5) Health Hazards Psikososial
Selain itu faktorpsikologi di tempat kerja seperti stress kerja danhubungan yang kurang harmonis dengan atasan dansesama karyawan dapat menimbulkan health hazardspsikososial. Kategori ini dapat menimbulkan masalahpsikososial kecemasan, konflik di tempat kerja, stresskerja serta penyakit psikosomatik yang mengangguproduktifitas kerja (Permatasari, 2010).
2.9.3 Lingkungan
Faktor lingkungan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi antara host dan agent dan dapat menjadi mediasi antara host dan agent . Lingkungan digolongkan menjadi fisik dan psikologis. Lingkungan fisik berupa panas, bau, ventilasi yang mempengaruhi interaksi host dan agent. (Stanhope & Lancaster, 2004 dalam Permatasari, 2010).). Lingkungan fisik yang kurang nyaman
menimbulkan ketegangan bagi karyawan serta memperberat risiko interaksi negatif antara host dan agent. Misalnya karyawan yang terpapar health hazards kimia berada di lingkungan kerja panas dan kurang ventilasi maka akan memperberat risiko timbulnya masalah kesehatan karyawan tersebut. Adapun lingkungan psikologis berhubungan dengan karakteristik tempat kerja meliputi hubungan interpersonal dan karakteristik karyawanan, berupa rendahnya otonomi, tingkat kepuasan kerja, serta pengawasan yang berlebihan (Eigsti, Guire & Stone, 2004; Oakley, 2002 dalam).
2.10Strategi Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja 2.10.1 Pendidikan Kesehatan
Menurut Anderson dan McFarlane (2000) dalam Permatasari, N (2010), OHN bertanggung jawab terhadap program pendidikankesehatan di tempat kerja. Pendidikan kesehatandirancang sejak awal untuk memberikan promosikesehatan tidak hanya difokuskan pada karyawan tetapijuga diberikan kepada keluarga karyawan. Keluargamemberikan kontribusi besar terhadap statuskesehatan karyawan (Oakley, 2002 dalam Permatasari, 2010).Anderson dan McFarlane (2000) dalam Permatasari, N (2010) menjelaskan,aktifitas pendidikan kesehatan di tempat kerja dimulaidari pengkajian kebutuhan karyawan dan pihakmanajemen terhadap upaya pendidikan kesehatan.Langkah berikutnya menciptakan program pendidikankesehatan yang efisien, efektif untuk diimplementasikandi tempat kerja.
Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada karyawandifokuskan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan karyawan mengenali health hazards ditempat kerja serta upaya mengurangi dampak healthhazards terhadap status kesehatan mereka (Eigsti,Guire & Stone, 2004 dalam Permatasari, 2010). Karyawan biasanya tidak menyadariancaman health hazards yang
tidak bisa dilihat denganmata secara langsung (misalnya gas dan asbestos),sehingga mereka menjadi kurang waspada terhadaphealth hazards tersebut (Eigsti, Guire & Stone, 2002 dalam Permatasari, 2010).
Salah satu tantangan yang dihadapi perawat kesehatankerja untuk memberikan pendidikan kesehatan yangefektif di tempat kerja adalah minimnya waktu luangyang dimiliki karyawan untuk mengikuti pendidikankesehatan. Waktu luang yang dimiliki karyawan hanyapada saat istirahat makan siang atau istirahat minumkopi, sehingga dibutuhkan strategi khusus untukmensiasati permasalahan tersebut (Oakley, 2004 dan Permatasari, 2010).Strategi yang dapat dilakukan adalah membagikanmateri pendidikan kesehatan berupa leaflet, brosurberisi pesan kesehatan saat makan siang di ruangmakan. Metode lain yang efektif dan efisien untukmemberikan pendidikan kesehatan di tempat kerjaadalah dengan penempelan poster, pemutaran videoberdurasi singkat (15- 20 menit) (Eigsti, Guire &Stone, 2002 dalam Permatasari, 2010)..
2.10.2 Proses Kelompok
Proses pembentukan kelompok adalah gabungan dari individu atau organisasi yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan khusus tertentu atau kerjasama yang saling menguntungkan (American Association of University Woman/ AAUW, 1981 dalam Permatasari, 2010). Kelompok karyawan yang berada di satu institusi kerja adalah kelompok yang dapat diberdayakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada melalui berbagai intervensi keperawatan yang sesuai untuk kelompok.
2.10.3 Kemitraan/ Partnership
Partnership adalah hubungan yang terjalin antara profesi kesehatan dan partnernya yaitu individu,keluarga, dan masyarakat yang memiliki kekuatanatau power , hubungan ini bersifat fleksibel,
mengutamakan negosiasi, saling menguntungkan dalam rangkaian proses berubah dan meningkatkan kapasitas dan kemampuan individu, keluarga dan masyarakat untuk mencapai dan atau memperbaiki kesehatan masyarakat (Schuster & Goeppinger, 1995 dalam Permatasari, 2010). Berbagai pihak seperti karyawan, perwakilan manajemen perusahaan serta perawat kesehatan kerja dapat membentuk kemitraan atau partnership untuk melakukan upaya promosi kesehatan yang bertujuan meningkatkan, memelihara kesehatan karyawan, meningkatkan produktifits kerja serta memberikan keuntungan perusahaan (Eigsti, Guire & Stone, 2002; dalam Permatasari, 2010).
2.10.4 Pemberdayaan Masyarakat / Commnunity Empowerment
Menurut Wallerstein (1992)dalam Permatasari, N (2010)pemberdayaan masyarakat adalah proses aksi sosial meningkatkan partisipasi individu, organisasi dan masyarakat mencapai tujuan peningkatan kemampuan individu dan masyarakat dalam rangka memperbaiki kualitas kehidupan dan peran sosial mereka dalammasyarakat.
2.11Level dan Bentuk Intervensi Keperawatan Kesehatan Kerja
Semua bentuk intervensi keperawatan komunitas berdasarkan pada konsep pencegahan, demikian juga bentuk intervensi keperawatan kesehatan kerja (Travers & Doughall, 2000 dalam Permatasari (2010). Promosi kesehatan, proteksi, pemeliharaan dan rehabilitasi kesehatan karyawan adalah tujuan yang harus dicapai oleh perawat kesehatan kerja (AAOHN, 1995 dalam Permatasari, 2010). Saat melaksanakan praktek keperawatan kesehatan kerja, perawat kesehatan kerja menggunakan tiga level strategi pencegahan (Stanhope & Lancaster, 2004 dalam Permatasari, 2010). Penggunaan tiga level pencegahan ini dimaksudkan menjamin perawat lebih berfungsi melakukan pencegahan timbulnya penyakit, serta aktif melakukan
promosi kesehatan terhadap karyawan. Level pencegahan tersebut dikategorikan menjadi tiga bentuk, yaitu; (1) Pencegahan primer; (2) Pencegahan Sekunder; (3) Pencegahan Tersier. Lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
1) Pencegahan Primer ( primary prevention)
Pada level pencegahan primer, perawat kesehatan kerja melakukan health promotion dan pencegahanpenyakit (Nies & Swansons, 2004 dalam Permatasari, 2010). MenurutPatterson (1994) dalam Permatasari, N (2010) health promotion adalah proses meningkatkankesadaran, mempengaruhi sikap, perilaku individumencapai derajat kesehatan yang optimal baik dari segifisik, mental dan sosial. Pencegahan timbulnya penyakitdi tempat kerja diawali dengan meningkatkanpengetahuan karyawan mengenali risiko penyakit akibathealth hazards. Saat melaksanakan praktekkeperawatan kesehatan kerja, perawat menggunakantiga level strategi pencegahan, yaitu primer, sekunderdan tersier (Stanhope & Lancaster, 2004 dalam Permatasari, N 2010).
Melalui area pencegahan primer, bentuk intervensi yangdilakukan perawat adalah melakukan promosikesehatan dan pencegahan penyakit. Perawatkesehatan kerja menggunakan berbagai metodepencegahan primer dengan metode “One and OneInteraction” sebagai strategi
mengevaluasi timbulnyarisiko masalah kesehatan dari prilaku karyawan (Roger2000, dalam Permatasari, 2010). Strategi inidilakukan karena perawat kesehatan kerja setiap hariberinteraksi dengan karyawan karena berbagai alasan,misalnya saat melakukan pengkajian, pelayananterhadap karyawan yang sakit, mengalami kecelakaan,serta melakukan surveillance.
2) Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention)
Upaya pencegahan sekunder yang dilakukan OHNdiberikan melalui berbagai strategi yaitu pelayanankeperawatan langsung ( direct care) untuk kasuspenyakit akut dan kecelakaan serta upaya untukmenemukan penyakit sejak awal, dan intervensi lebihdini untuk
mengurangi risiko timbulnya kecacatan bagikaryawan (Permatasari, 2010).Bentuk intervensi yang dilakukan oleh perawatkesehatan kerja adalah melakukan skreeningkesehatan, pemeriksaan kesehatan secara berkala, dengan cara yang relatif mudah dan biaya yang minimal. Skreening kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan mata, deteksi dini penyakit kanker, tekanan darah tinggi serta, pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi timbulnya penyakit diabetes mellitus. Pencegahan sekunder yang diberikan perawat kesehatan kerja juga berupa penempatan ulang atau evaluasi dan rotasi kerja terhadap karyawan dari satu unit kerja ke unit lain, sehingga karyawan memperoleh situasi yang baru, tidak merasa kejenuhan dengan situasi kerja yang lama (Nies & Ewen, 2001 dalam Permatasari, 2010).
3) Upaya Pencegahan Tersier (Tertiary Prevention)
Pada level pencegahan tersier, OHN berperan dalam upaya rehabilitasi status kesehatan karyawan setelah mengalami sakit yang berat atau masalah kesehatan serius lainnya. Upaya rehabilitasi ditujukan agar karyawan dapat kembali menjalankan tugasnya dengan kemampuan optimal yang dimiliki setelah melewati masa sakitnya (Permatasari, N 2010).
Bentuk intervensinya mengevaluasi status kesehatan karyawan yang baru saja dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit tertentu atau mengalami kecelakaan kerja. Perawat memonitor status kesehatan karyawan (paska di rawat di RS) saat karyawan tersebut kembali bekerja. Termasuk mengidentifikasi kebutuhan khusus karyawan tersebut. Sebagai contoh karyawan yang baru saja dirawat di RS karena myocardial infarction membutuhkan observasi tekanan darah secara teratur serta menghindari aktifitas kerja berat seperti mengangkat beban damendorong (Permatasari, N 2010).
2 3
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian 3.1.1 Identitas
1. Jumlah karyawan: Jumlah karyawan sebanyak 628 orang dengan jumlah karyawan pria 482 dan karyawan wanita sebanyak 147 orang. Untuk karyawan dari PT. JCI sebanyak 242 orang, dari PT. SIGAP 43 dan dari PT. MKK sebanyak 343 orang.
2. Jumlah Perempuan: sebanyak 147 orang. 3. Jumlah Laki-laki: 482 orang
4. Tingkatan pendidikan karyawan PT. JCI adalah sebagai berikut : 1) S2 : 2 orang 2) S1 : 42 orang 3) D3 : 38 orang 4) SMU/SMK : 129 orang 5) SD/SMP : 32 orang 3.1.2 Histori 1. Lama bekerja
Umur Karyawan Berikut adalah data umur karyawan PT. JCI :
Tabel 1Umur Karyawan
2.
2. Masa Kerja, Berikut data masa kerja karyawan PT. JCI :Masa Kerja, Berikut data masa kerja karyawan PT. JCI : Tabel 2
Tabel 2 Masa KerjaMasa Kerja
3.1.3
3.1.3 Unit kerja:Unit kerja: 1.
1. Transportasi yang digunakan untuk menuju ketempat kerja PT. JapfaTransportasi yang digunakan untuk menuju ketempat kerja PT. Japfa Comfe
Comfeed, ed, berdberdasarasarkan kan data karyawan dengan data karyawan dengan berjaberjalan lan kaki kaki yaituyaitu sek
sekitaitar r 5%, 5%, menmengguggunanakan kan sepsepeda eda 5%, 5%, menmengguggunanakan kan kenkendardaraanaan be
bermrmototor or 7575%, %, memengnggugunanakakan n momobibil l 1010% % sesedadangngkakan n yayangng menggunakan angkutan umum 5%.
menggunakan angkutan umum 5%. 2.
2. Lama bekerja dalam 1 minggu yaitu 5 hari mulai dari hari senin-Lama bekerja dalam 1 minggu yaitu 5 hari mulai dari hari senin- jum’at
jum’at.. 3.
3. Pergantian shift dalam bekerja selama 1 hari 3x sift, Jumlah ShiftPergantian shift dalam bekerja selama 1 hari 3x sift, Jumlah Shift Tenaga Kerja : 3 (tiga) shift yaitu:
Tenaga Kerja : 3 (tiga) shift yaitu: 1.
1. Shift I : 06.00 - 14. 00 (plant) / 08.00Shift I : 06.00 - 14. 00 (plant) / 08.00 17.00 (Non plant)17.00 (Non plant) 2.
2. Shift II : 14.00 - 22.00 (plant)Shift II : 14.00 - 22.00 (plant) 3.
3. Shift III : 22.00 - 06.00 (plant)Shift III : 22.00 - 06.00 (plant) 4.
4. Lama bekerja dalam 1 shift 8 jamLama bekerja dalam 1 shift 8 jam 5.
5. Waktu untuk beristirahat 1 jamWaktu untuk beristirahat 1 jam
2 2 5 5
6.
6. PenaPenampilampilan/sern/seragamagam: : semusemua a karykaryawan awan di di wajibkwajibkan an mengmenggunagunakankan seragam, namun para karyawan di bagian loading dok terkadang seragam, namun para karyawan di bagian loading dok terkadang meng
menggunagunakan kan kaos dan kaos dan bahkbahkan an tidak mengguntidak menggunakan kaos akan kaos karekarenana merasa tidak nyaman dan tidak fleksibel dalam bekerja.
merasa tidak nyaman dan tidak fleksibel dalam bekerja. 3.1.4
3.1.4 ErgonomiErgonomi 1.
1. Posisi yang di gunakan karyawan dalam bekerja berdasarkan dataPosisi yang di gunakan karyawan dalam bekerja berdasarkan data yaitu yang duduk
yaitu yang duduk sebanyak 35%, membungkuk 35% sedangkan yangsebanyak 35%, membungkuk 35% sedangkan yang berdiri 30%.
berdiri 30%. 2.
2. Lama ganti posisi dalam bekerja: tidak Lama ganti posisi dalam bekerja: tidak terkajiterkaji 3.
3. MaMasasalalah h kekesesehahatatan n yayang ng timtimbubul l didisesebababkbkan an ololeh eh fafaktktor or yayangng tertinggi adalah emisi dan bau yang
tertinggi adalah emisi dan bau yang dihasilkan produksi pakan ayamdihasilkan produksi pakan ayam 4.
4. KelKeluhauhan n yanyang g ditditimbimbulkulkan an berberupa upa ganganggugguan an perpernapnapasaasan n rinringagann karena produk yang dihasilkan yaitu pakan ayam.
karena produk yang dihasilkan yaitu pakan ayam. 5.
5. Penyakit selama bekerja: tidak ada insiden yang disebabkan secaraPenyakit selama bekerja: tidak ada insiden yang disebabkan secara spesifik oleh perusahaan PT. Japfa
spesifik oleh perusahaan PT. Japfa ComfeedComfeed 3.1.5
3.1.5 Perlindungan DiriPerlindungan Diri 1.
1. PenPengguggunanaan an APD APD : : semsemua ua karkaryawyawan an 100100% % menmengguggunaknakan an APDAPD sesuai dengan APD yang dibutuhkan pada setiap bagian misallnya sesuai dengan APD yang dibutuhkan pada setiap bagian misallnya pad
pada a bagbagian ian gudgudang ang papara ra kakaryaryawan wan menmengguggunanakan kan masmaskeker, r, padpadaa bagian produksi karyawan menggunakan masker dan helm.
bagian produksi karyawan menggunakan masker dan helm. 2.
2. Jenis APD yang disediakan pada perusahaan PT. Japfa ComfeedJenis APD yang disediakan pada perusahaan PT. Japfa Comfeed ber
berupa upa masmaskerker, , helhelm m proproyekyek, , sesepatpatu u safsafetyety, , hanhandgldgloveoves, s, sasafetfetyy glases,wearepack atau jas, safety harness, masker khusus (purifying glases,wearepack atau jas, safety harness, masker khusus (purifying respirator) untuk bagian laboratorium, ear muff, ear plug.
respirator) untuk bagian laboratorium, ear muff, ear plug. 3.
3. Pada perusahaan PT. Japfa comfeed APD yang digunakan sangatPada perusahaan PT. Japfa comfeed APD yang digunakan sangat cukup melindungi bagi
cukup melindungi bagi karyawannnyakaryawannnya.. 4.
4. Karyawan PT. Japfa Comfeed 100% sudah menerima pendidikanKaryawan PT. Japfa Comfeed 100% sudah menerima pendidikan tentang APD yang dilakukan secara rutin yaitu 1 tahun sekali secara tentang APD yang dilakukan secara rutin yaitu 1 tahun sekali secara bergantian, begitupun pada karyawan baru mereka segera diberikan bergantian, begitupun pada karyawan baru mereka segera diberikan informasi mengenai APD dan K3 terlebih
informasi mengenai APD dan K3 terlebih dahulu.dahulu. 3.1.6
3.1.6 Kecelakaan KerjaKecelakaan Kerja
2 2
6 6
1. Karyawan PT. Japfa Comfeed 100% sudah mendapatkan pelatihan mengenai K3 (keselamatan kesehatan kerja), bisa berupa PAK, pemadam api, evakuasi bencana dll. Namun terdapat beberapa karyawan yang tidak mengikuti pelatihan yang telah di programkan, karena terkendala sift kerja yang tidak bisa di tinggalkan, tetapi alternatifnya beberapa karyawan tesrsebut bisa diberikan pelatihan pada waktu tertentu atau didatangi langsung ke tempat mereka bekerja.
2. Mengalami kecelakaan kerja : PT. Japfa Comfeed sudah mendapatkan resertifikasi zero Accident yang dilakukan setiap 3 tahun sekali, pada perusahaan ini tidak ada kecelakaan yang berat, namun sering terjadi kecelakaan ringan seperti tergores. Untuk mengetahui banyaknya kecelakaan kerja dilihat dari habisnya atau banyaknya pemakaian obat tersebut, seperti contohnya di bagian produksi dan teknik sering menghabiskan hansaplast pada bagian itu sering karyawan terjadi kecelakaan tergores atau lecet, pada bagian gudang sering menghabiskan tetes mata (y-rins) karena pada bagian gudang sering terpajan oleh debu.
3. Mengetahui P3K : para karyawan mengetahui tentang P3K karena sering dilakukan training dimana training tersebut diadakan bersama dengan PMI.
4. Fasilitas P3K : Fasilitas yang tersedia di perusahaan disesuaikan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : Per.15/Men/Viii/2008 Tentang
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Di Tempat Kerja. Pada PT. Japfa Comfeed menyediakan fasilitas P3K sebanyak 17 kotak dan setiap bagian atau bidang seperti gudang, teknik, produksi diberikan P3K yang P3Knya berisi 12 macam obat. Selain itu disediakan satu mobil ambulance khusus untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja. Sedangkan untuk pertolongan pertama, perusahaan tidak menyediakan klinik namun terdapat empat dokter serta bermitra
dengan 4 rumah sakit yaitu: Rumah sakit Sumber kasih, Rumah sakit Ciremai, Rumah sakit Pelabuhan dan Rumah sakit Putra Bahagia. 5. Terdapat Asuransi dalam perusahaan 100% menggunakan asuransi
BPJS ketenagakerjaan.
6. Pendidikan kesehatan dilakukan secara rutin yaitu dalam 1 tahun sekali ataupun secara incidental yang bekerjasama dengan PMI, pemadam Kebakaran dan KPA.
7. Terpajan zat-zat berbahaya: para karyawan dibagian laboratorium, beresiko terpajan zat-zat berbahaya karena adanya penggunaan bahan kimia cair atau padat, asam atau basa di laboratorium tersebut, selain itu para karyawan dibagian produksi pun rentan terpajan zat kimia.
3.1.7 Lingkungan
1. Polusi ditempat kerja: perusahaan PT. Japfa Comfeed tidak menghasilkan polusi namun hanya menghasilkann emisi dari produk yang dihasilkan. Perusahaan sudah mendapatkan penilaian dari KLHK proper (program penilaian peringkat kinerja perusahaan) berdasarkan peraturan PPLH No.27 tahun 2012 tentang izin lingkungan hidup yang mendapatkan zona warna biru dengan kriteria:
Memilki dokumen lingkungan/izin lingkungan.
Melaksanakan ketentuan dalam dokumen lingkungan/izin lingkungan :
2. Luasan area dan kapasitas produksi masih sesuai dokumen lingkungan/izin lingkungan.
3. Jika pengelolaan lingkungan terutama aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan LB3 memiliki dasar ketentuan dalam AMDAL/UKL-UPL/RKL-RPL/Laporan pelaksanaan UKL-UPL.Melaporkan pelaksanaan dokumen lingkungan/izin lingkungan (terutama aspek pengendalian
pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan LB3)
4. Sistem pemadam kebakaran: terdapat satu titik hidran serta tersedia 82 alat pemadam api ringan yang tersebar di setiap bagian perusahaan.
5. Binatang berbahaya: tidak terdapat binatang-binatang berbahaya bagi para karyawan, namun terdapat binatang-binatang yang dapat membahayakan produksi untuk pakan, sehingga produksi menjadi kurang optimal yaitu seperti tikus, kucing, burung, hama dan kutu karena bahan produksi berbau anyir yang menyebabkan binatang tersebut tercium dan ingin memakannya, untuk mencegah binatang tersebut maka terpasang alat perangkap tikus yang bekerjasama dengan PT. Terminiks.
6. Suhu tempat kerja: perusahaan ini terdapat 2 tipe suhu yaitu suhu dingin dan suhu panas. Suhu panas terdapat di area produksi dan area mesin, pada area produksi akan sangat panas karena terdapat boyler (pesawat uap), sedangkan di area mesin menghasilkan kalor yang digunakan untuk memanaskan pakan. Suhu dingin terdapat pada Cool Room yang menjadi tempat untuk menyimpan bahan baku yang memang harus dibawah suhu sekian drajat.
7. Kondisi penerangan: Pada sebagian besar area gudang dan produksi memiliki cukup penerangan tanpa ada lampu sekalipun, hal ini dikarenakan tersedianya ventilasi yang cukup masuknya masuknya cahaya. Sedangkan di area kantor dan area mesin tetap menggunakan lampu, terutama di area mesin yang membutuhkan penerangan yang cukup untuk mengoperasikan beberapa mesin. Penggunaan energi listrik bersumber dari PLN dengan kapasitas terpasang 1.730 Kilo Volt Ampere (KVA), serta genset yang dipergunakan sebagai cadangan jika ada pemadaman listrik PLN. Kapasitas terpasang genset adalah 2.000 KVA, dengan banyaknya genset 4 (empat) unit.
8. Ventilasi: Pada perusahaan ini memiliki ventilasi yang baikTingkat kebisingan: Pada area tertentu terdapat tingkat kebisingan yang cukup tinggi yaitu sampai 92dB, maka karyawan yang berada di area tersebut wajib menggunakan air maff ataupun air plug.
9. Pengolahan limbah: Perusahaan menyesuaika dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3). PT. Japfa Comfeed memiliki limbah padat dan cair, dimana limbah padat pun dibagi kembali menjadi 2 bagian yaitu limbah (Bahan Berbahaya dan Beracun) B3 dan limbah domestik. Limbah domestik langsung di buang ke TPA yang sudah bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon. Sedangkan untuk limbah B3 ini di simpan di TPS perusahaan terlebih dahulu dan kembali bekerjasama dengan pihak ketiga. Limbah B3 tersebut seperti limbah sisa percikan neon yang mengandung merkuri, oli, bekas bahan kimia, aki, batu baterai mulai dari yang besar sampai yang kecil. Pembuangan limbah oli bekerjsama dengan PT. Gemilang indonesia, sedangkan sisanya seperti neon, bahan kimia, batu baterai perusahaan ini bekerjasama yang ada di bogor yaitu PT. Andika makmur persada perusahaan yang berijin untuk mengangkut limbah B3. Adapun limbah cair yang di hasilkan perusahaan akan dibuang dan diolah terlebih dahulu dalam IPAL (instalasi pengolahan air limbah) sebelum memenuhi 33 mutu, limbah cair ini berasal dari boiler dan laboratorium yang kemudian akan diuji setiap 1 bulan sekali.
3.1.8 Perilaku Hidup Sehat
1. Olahraga: Pada perusahaan PT. Japfa Comfeed memfasilitasi 4 jenis olahraga yaitu Aerobik, Pingpong, Badminton, dan Futsal.
2. Sarapan: perusahaan PT. Japfa Comfeed mewajibkan karyawan untuk sarapan pagi dengan makanan bergizi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas.
3. Luas tempat kerja: pada perusahaan PT. Japfa Comfeed memiliki luas bangunan sekitar 4,3 Hektar.
4. Makan saat istirahat: Karyawan PT. Japfa sebagian besar makan pada saat istirahat di Koperasi perusahaan, sebagiannya lagi ada yang memilih membeli makan di luar.
5. Cuci tangan sebelum makan: Perusahaan menyediakan 2 tabung yang dikhususkan untuk cuci tangan dan cuci kaki para karyawannya.
6. Makan pakai sendok: tidak terkaji
7. Minum saat bekerja: Perusahaan menyediakan air suling yang gratis setiap hari bagi karyawan, namun untuk tempat minumnya sendiri mereka membawa tempat minum dari rumahnya masing-masing. 8. Banyak minum: tidak terkaji
9. Mendapatkan penkes gizi: Selain menganjurkan sarapan dengan makanan bergizi, perusahaan memberikan satu susu bantal real good per orang pada seluruh karyawan setiap hari.
10. Merokok saat kerja: Perusahaan melarang keras pada seluruh karyawan untuk tidak merokok karena merukapan kawasan tanpa rokok, jika melanggar makan akan dikenakan denda sebesar Rp.100.000-,. Selain itu tersedia pula tiga titik tempat khusus untuk merokok, namun sering sekali ditemukannya beberapa batang rokok di tempat loker/tempat ganti baju yang kurang diketahui oleh atasannya, karena pada ruangan untuk loker/ganti baju tidak terpasang CCTV jadi.
3.1.9 Ekonomi
1. Penghasilan: perusahaan PT. Japfa Comfeed tidak menjelaskan secara detail mengenai gaji karyawan, namun di perusahaan tersebut menggaji karyawannya minimal sesuai UMR kota cirebon (1,6 juta). 2. Pemenuhan pangan: pada saat istirahat karyawan ada yang sebagian
membeli makan di warteg sekitar pabrik dan ada juga yang membeli
3 1
makan di koperasi, selain itu perusahaan setiap hari memberikan satu susu bantal real good.
3. Pemenuhan pendidikan anak: Perusahaan tersebut memiliki program beasiswa Japfa For Kids untuk anak-anak karyawan yang berprestasi. Selain itu, menyisihkan dana CSR (pertanggung jawaban kerja lingkungan) untuk sekolah-sekolah yang mengalami bencana, sekolah yang ambruk, sekolah yang mengalami keretakan dan maupun sekolah yang memang harus di renovasi.
4. Pemenuhan rekreasi: PT. Japfa Comfeed merutinkan rekreasi seperti gathering, outbound, dll. Selain itu jika terdapat departemen ataupun divisi yang ingin mengadakan rekreasi akan diizinkan dan diberi fasilitas mobil ataupun bus karyawan jika dibutuhkan.
5. Pemenuhan kesehatan : Setiap satu tahun sekali perusahaan mengadakan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kondisi seluruh karyawan.
6. Tabungan : PT. Japfa Comfeed memiliki koperasi perusahaan yang memfasilitasi penggunaan simpanan wajib maupun simpanan sukarela.
7. Jaminan kesehatan yang di peroleh: Semua karyawan PT. Japfa Comfeed mendapatkan jaminan asuransi untuk anggota keluarga seperti istri, suami dan tiga anak yang di tanggung oleh perusahaan jika membutuhkan pelayanan kesehatan.
8. Hak Cuti dan Cuti Ekstra
Jika terdapat karyawan yang cuti, perusahaan memotong gaji atau diberikan dispensasi. Karyawan perempuan yang menjalani proses kehamilan-persalinan diberi cuti selama 3 bulan, karyawan yang keluarga inti meninggal boleh cuti selama 3 hari, dan jika keluarga lain yang meninggal boleh cuti selama 2 hari.
Pemberian cuti di PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Unit Cirebon diberikan setelah karyawan bekerja satu tahun. Sistem pemberian upah
3 2
berdasarkan golongan. Berikut golongan dan jumlah cuti diperoleh karyawan :
Tabel 3 Hak Cuti Karyawan
Selain hak cuti yang diperoleh karyawan memperoleh cuti ekstra sebagai berikut :
Tabel 4 Hak Cuti Ekstra Karyawan
i. Jaminan hari tua: Tunjangan hari tua atau pensiun dan THR perusahaan mengikuti peraturan tentang jaminan ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan) dan peraturan pemerintah republik
Indonesia Nomor 45 tahun 2015 menjelaskan tentang Penyelenggaraan Program jaminan Pensiun.
3.1.10 Potensial Hazard
1. Hazard fisik: Terdapat getaran dari pengoperasian mesin, alat-alat mekanis, suhu panas mesin dan kebisingan.
2. Hazard Biologi: Terdapat tikus, kucing, burung, hama dan kutu
3. Hazard Kimia: Hasil bahan kimia di timbulkan dari laboratorium dan produksi pakan ayam tersebut seperti emisi udara dan limbah produk.
4. Hazard Enviromechanical/ergonomik: Posisi manual handling, Posisi Duduk pada staff yang berada di kantor.
5. Hazard Psikososial: Banyak masyarakat sekitar PT.Japfa Comfeed yang komplen dan mengkritik mengenai pencemaran udara
3.2 Analisa Data
Tabel 5 Analisa Data
NO Data Masalah
1 Hasil Wawancara : Resiko Kecelakaan
1- Beberapa karyawan gudang Kerja berpendapat bahwa jika menggunakan sepatu boot maka berpotensi untuk terjadi kecelakaan
kerja karena menyebabkan kondisi menjadi licin
Hasil Observasi :
1- Terdapat alat-alat berat
2- Para karyawan terlihat berdiri di atas tumpukan karung produk pakan ayam
- Menurut head section HSE, Pernapasan beberapa karyawan tampak sering
batuk dan bersin Hasil Observasi :
1- Area gudang dan produksi tercium bau pakan ayam yang menyengat
3 Hasil Wawancara : Resiko Penyakit
- Menurut head section HSE, Muskuloskeletal beberapa karyawan tampak sering
mengeluh nyeri punggung dan pinggang
Hasil Observasi :
1- Posisi manual handling yang dilakukan para karyawan untuk
memanggul atau memindahkan barang
Data Sekunder :
1- Posisi yang di gunakan karyawan dalam bekerja berdasarkan data yaitu yang duduk sebanyak 35%, membungkuk 35% sedangkan yang berdiri 30%.
4 Hasil Wawancara : Resiko Penyakit
1- Head section HSE mengungkapkan Pendengaran terdapat kebisingan yang
ditimbulkan mesin, namun dapat diatasi dengan penggunaan ear muff atau ear plug.
3 5
Data Sekunder :
1- Mesin penggiling / grinding menimbulkan suara mesin 92 dB
3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Kecelakaan Kerja pada karyawan di PT jafpa comfeed berhubungandenganfaktor lingkungan yang beresiko
dimanifestasikan dengan : Terdapat alat-alat berat, karyawan terlihat berdiri di atas tumpukan karung produk pakan ayam,dan sepatu boot berpotensi untuk terjadi kecelakaan kerja karena menyebabkan kondisi menjadi licin.
2. Resiko Gangguan Pernapasan pada karyawan di PT jafpa comfeed berhubungan dengan adanya emisi produk pakan ternak yang dimanifestasikan dengan : beberapa karyawan tampak sering batuk dan bersin, Area gudang dan produksi tercium bau pakan ayam yang menyengat.
3. Resiko Penyakit Muskuloskeletal pada karyawan di PT jafpa comfeed berhubungan dengan teknik ergonomi yang kurang tepat yang dimanifestasikan dengan beberapa karyawan tampak sering mengeluh nyeri punggung dan pinggang, Posisi manual handling, dan posisi duduk sebanyak 35%, membungkuk 35% sedangkan yang berdiri 30%.
4. Resiko Penyakit Pendengaran pada karyawan di PT jafpa comfeed berhubungandenganpengoprasian mesin produksi yang
dimanifestasikan dengan terdapat kebisingan yang ditimbulkan mesin, namun dapat diatasi dengan penggunaan ear muff atau ear plug, Mesin penggiling / grinding menimbulkan suara mesin 92 dB.
3 6
3.4 Skoring Tabel.6 Skoring
No Masalah KRITERIA Score Keterangan
. Kesehatan 1 2 3 4 5 6 7 8
1. Resiko 4 3 2 4 3 4 4 3 27 Keterangan kriteria:
Kecelakaan Kerja 1.Kesesuaian dg peran
perawat komunitas 2.Resiko terjadi/jumlah 2. Resiko Gangguan 4 4 4 4 3 3 4 3 29 yang beresiko Pernapasan 3.Resiko parah
4.Potensi utk pendidikan kesehatan
3. Resiko Penyakit 4 4 3 4 3 3 4 3 28
Muskuloskeletal 5.Interest utk komunitas
6.Kemungkinan diatasi 7.Relevan dg program 4. Resiko Penyakit 4 2 2 4 4 4 4 4 28 8.Tersedianya sumber Pendengaran daya Keterangan Pembobotan: 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Cukup 4. Tinggi 5. Sangat tinggi 3 7
Tabel.7 Asuhan Keperawatan
3 8
Dx Sasaran Tujuan Strategi Rencana Kegiatan Sumber Tempat Waktu Kriteria Standar evaluasi
1 Para Setelah Berkolabora - Berikan Mahasiswa Area Selasa - Tidak - Para karyawan
Karyawan dilakukan si dengan pengetahuan bekerjasa PT. Japfa Kamis, 14 terjadi menggenakan
di PT. Japfa tindakan Tim P2K3 tentang ma dengan Comfeed 16 Juni kecelakaan APD
Comfeed keperawatan Perusahaan pentingnya K3 P2K3 Indonesi 2016 kerja di - Para karyawan
Indonesian selama 3 hari untuk - Anjurkan an Tbk. Pukul 10.00 lingkungan menerapkan
Tbk. Unit diharapkan memberi karyawan untuk Unit 12.00 perusahaan posisi kerja
Cirebon kecelakaan penyuluhan menerapkan Cirebon WIB yang
kerja dapat mengenai konsep K3 ergonomis
dihindari Keselamata dalam bekerja - P2K3
ndan - Anjurkan memfasilitasi
Kesehatan karyawan untuk P3K dan APD
selalu untukseluruh
Kerja(K3) menggunakan karyawan
APD dalam bekerja - Lakukan mini simulasi dalam penerapan konsep K3
Para Setelah Penerapan - Buat poster Mahasiswa Area Selasa - Tidak - Para karyawan
2
Karyawan dilakukan Komunikasi pentingnya bekerjasa PT. Japfa Kamis, 14 terjadi menggunakan
di PT. Japfa tindakan , Informasi penggunaan ma dengan Comfeed 16 Juni penyakit masker dengan
Comfeed keperawatan dan Edukasi masker P2K3 Indonesi 2016 akibat kerja patuh
Indonesian selama 3 hari (KIE) - Beri pendidikan an Tbk. khususnya - P2K3
3 9