• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kehilangan, Berduka Dan Kematian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Konsep Kehilangan, Berduka Dan Kematian"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Konsep Kehilangan, Berduka Dan Kematian

Konsep Kehilangan, Berduka Dan Kematian

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN  A.

 A. Latar BelakangLatar Belakang

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.

bentuk yang berbeda.

Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau seseorang. Duka cita adalah suatu proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : menolak (denial), marah bagian dari aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : menolak (denial), marah (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan menerima (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan menerima (acceptance). Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan (acceptance). Pekerjaan duka cita terdiri dari berbagai tugas yang dihubungkan dengan situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek

situasi ketika seseorang melewati dampak dan efek dari perasaan kehilangan yang telahdari perasaan kehilangan yang telah dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.

dialaminya. Duka cita berpotensi untuk berlangsung tanpa batas waktu.

Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun, Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun, bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian secara tiba-tiba.

secara tiba-tiba. B.

B. Rumusan MasalahRumusan Masalah 1.

1. Apa pengertian kehilangan dan dampaknya ?Apa pengertian kehilangan dan dampaknya ? 2.

2. Apa pengertian berduka dan dampaknya ?Apa pengertian berduka dan dampaknya ? 3.

3. Apa pengertian kematian dan dampaknya ?Apa pengertian kematian dan dampaknya ? C.

C. TujuanTujuan 1.

1. Agar pembaca dapat memahami arti kehilangan dan Agar pembaca dapat memahami arti kehilangan dan dampaknya.dampaknya. 2.

2. Agar pembaca dapat memahami arti berduka dan dampaknya.Agar pembaca dapat memahami arti berduka dan dampaknya. 3.

3. Agar pembaca dapat memahami arti kematian dan Agar pembaca dapat memahami arti kematian dan dampaknya.dampaknya.

BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN  A.

 A. KehilanganKehilangan

Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari

Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangankehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau

(2)

mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/did

diharapkan/diduga, sebagian atau uga, sebagian atau total dan bisa kembali total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.atau tidak dapat kembali.

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik

sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.sebagian atau seluruhnya.

Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.

bentuk yang berbeda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung: Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung: 1. Arti dari kehilangan

1. Arti dari kehilangan 2. Sosial budaya 2. Sosial budaya 3. kepercayaan / spiritual 3. kepercayaan / spiritual 4. Peran seks 4. Peran seks

5. Status social ekonomi 5. Status social ekonomi

6. kondisi fisik dan psikologi individu 6. kondisi fisik dan psikologi individu

Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna Kemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi kehilangan. bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social. yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social. a.

a. Bentuk-bentuk kehilanganBentuk-bentuk kehilangan 1.Kehilangan orang yang berarti 1.Kehilangan orang yang berarti 2. Kehilangan kesejahteraan 2. Kehilangan kesejahteraan 3. Kehilangan milik pribadi 3. Kehilangan milik pribadi b.

b. Sifat kehilanganSifat kehilangan

1.

1. TibaTibatiba (Tidak dapat diramalkan) Kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkantiba (Tidak dapat diramalkan) Kehilangan secara tiba-tiba dan tidak diharapkan

dapat mengarah pada pemulihan dukacita yang lambat. Kematian karena tindak dapat mengarah pada pemulihan dukacita yang lambat. Kematian karena tindak kekerasan, bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian diri akan sulit diterima.

kekerasan, bunuh diri, pembunuhan atau pelalaian diri akan sulit diterima.

2.

2. BerangsurBerangsur    angsur angsur (Dapat (Dapat Diramalkan)Diramalkan)

Penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang Penyakit yang sangat menyulitkan, berkepanjangan, dan menyebabkan yang ditinggalkan mengalami keletihan emosional (Rando:1984). Penelitian menunjukan ditinggalkan mengalami keletihan emosional (Rando:1984). Penelitian menunjukan bahwa yang ditinggalkan oleh klien yang mengalami sakit selama 6 bulan atau kurang bahwa yang ditinggalkan oleh klien yang mengalami sakit selama 6 bulan atau kurang mempunyai kebutuhan yang lebih besar terhadap ketergantungan pada orang lain, mempunyai kebutuhan yang lebih besar terhadap ketergantungan pada orang lain, mengisolasi diri mereka lebih banyak, dan mempunyai peningkatan perasaan marah mengisolasi diri mereka lebih banyak, dan mempunyai peningkatan perasaan marah dan bermusuhan.

dan bermusuhan. Kemampuan untuk meyeleKemampuan untuk meyelesaikan proses berduka bergsaikan proses berduka bergantung padaantung pada makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan makna kehilangan dan situasi sekitarnya. Kemampuan untuk menerima bantuan menerima bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi menerima bantuan mempengaruh apakah yang berduka akan mampu mengatasi

(3)

kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi kehilangan. Visibilitas kehilangan mempengaruh dukungan yang diterima. Durasi peubahan (mis. Apakah hal

peubahan (mis. Apakah hal tersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhitersebut bersifat sementara atau permanen) mempengaruhi jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik, jumlah waktu yang dibutuhkan dalam menetapkan kembali ekuilibrium fisik, pshikologis, dan social.

pshikologis, dan social. c.

c. Tipe kehilanganTipe kehilangan

1. Actual Loss

1. Actual Loss

Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh o

Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan individurang lain, sama dengan individu yang mengalami kehilangan.

yang mengalami kehilangan.

2. Perceived Loss ( Psikologis )

2. Perceived Loss ( Psikologis )

Perasaan individual, tetapi menyangkut hal

Perasaan individual, tetapi menyangkut hal ––  hal yang tidak dapat diraba atau  hal yang tidak dapat diraba atau dinyatakan secara jelas.

dinyatakan secara jelas.

3. Anticipatory Loss

3. Anticipatory Loss

Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi.Individu memperlihatkan Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi.Individu memperlihatkan perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang a

perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung. Seringkan berlangsung. Sering terjadi pada keluarga dengan klien (anggota) menderita sakit terminal. terjadi pada keluarga dengan klien (anggota) menderita sakit terminal. Tipe dari kehilangan dipengaruhi tingkat distres. Misalnya, kehilangan benda mungkin Tipe dari kehilangan dipengaruhi tingkat distres. Misalnya, kehilangan benda mungkin tidak menimbulkan distres yang sama ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan tidak menimbulkan distres yang sama ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Nanun demikian, setiap individunberespon terhadap kehilangan secara kita. Nanun demikian, setiap individunberespon terhadap kehilangan secara berbeda.kematia

berbeda.kematian seorang anggota n seorang anggota keluargamungkin menyebabkan distress lebih besarkeluargamungkin menyebabkan distress lebih besar dibandingkan kehilangan hewan peliharaan, tetapi bagi orang yang hidup sendiri dibandingkan kehilangan hewan peliharaan, tetapi bagi orang yang hidup sendiri kematian hewan peliharaan menyebaabkan disters emosional yang lebih besar kematian hewan peliharaan menyebaabkan disters emosional yang lebih besar dibanding saudaranya yang sudah lama tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. dibanding saudaranya yang sudah lama tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat actual dapat Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang bersifat actual dapat dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang anak yang teman bermainya pindah dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang anak yang teman bermainya pindah rumah. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan dapat di salahartikan ,seperti rumah. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan dapat di salahartikan ,seperti kehilangan kepercayaan diri atau prestise.

kehilangan kepercayaan diri atau prestise. d.

d. Lima kategori kehilanganLima kategori kehilangan

1.

1. Kehilangan Kehilangan objek objek eksternal.eksternal.

Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi usang berpinda tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Kedalaman berduka yang berpinda tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang bergantung pada nilai yang dimiliki dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang bergantung pada nilai yang dimiliki orng tersebut terhadap nilai yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.

orng tersebut terhadap nilai yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.

2.

2. Kehilangan Kehilangan lingkungan lingkungan yang yang telah telah dikenaldikenal

Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal mencakup lingkungan yang telah dikenal Selma periode tertentu atau kepindahan mencakup lingkungan yang telah dikenal Selma periode tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya pindah ke kota baru atau perawatan diruma sakit. secara permanen. Contohnya pindah ke kota baru atau perawatan diruma sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal dapat terjadi melalui Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah dikenal dapat terjadi melalui situasi maturaasionol, misalnya ketika seorang lansia pindah kerumah perawatan, atau situasi maturaasionol, misalnya ketika seorang lansia pindah kerumah perawatan, atau situasi situasional, contohnya mengalami cidera atau penyakit dan kehilangan rumah situasi situasional, contohnya mengalami cidera atau penyakit dan kehilangan rumah akibat bencana alam.

akibat bencana alam.

3.

3. Kehilangan Kehilangan orang orang terdekatterdekat

Orang terdekat mencakup orangtua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru, Orang terdekat mencakup orangtua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung, guru,

(4)

teman, tetangga, dan rekan kerja.Artis atau atlet terkenal mumgkin menjadi orang teman, tetangga, dan rekan kerja.Artis atau atlet terkenal mumgkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset membuktikan bahwa banyak orang menganggap terdekat bagi orang muda. Riset membuktikan bahwa banyak orang menganggap hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan hewan peliharaan sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan atau kematian.

atau kematian.

4.

4. Kehilangan Kehilangan aspek aspek diridiri

Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis.Kehilangan anggota tubuh dapat mencakup anggota gerak , mata, rambut, psikologis.Kehilangan anggota tubuh dapat mencakup anggota gerak , mata, rambut, gigi, atau payu dara. Kehilangan fungsi fsiologis mencakupo kehilangan control kandung gigi, atau payu dara. Kehilangan fungsi fsiologis mencakupo kehilangan control kandung kemih atau usus, mobilitas, atau fungsi sensori. Kehilangan fungsi fsikologis termasuk kemih atau usus, mobilitas, atau fungsi sensori. Kehilangan fungsi fsikologis termasuk kehilangan ingatan, harga diri, percaya diri atau cinta.Kehilangan aspek diri ini dapat kehilangan ingatan, harga diri, percaya diri atau cinta.Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi akibat penyakit, cidera, atau perubahan perkembangan atau situasi.Kehilangan terjadi akibat penyakit, cidera, atau perubahan perkembangan atau situasi.Kehilangan seperti ini dapat menghilangkan sejatera individu.Orang tersebut tidak hanya seperti ini dapat menghilangkan sejatera individu.Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.

permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.

5.

5. Kehilangan Kehilangan hiduphidup

Kehilangan dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana orang tersebut Kehilangan dirasakan oleh orang yang menghadapi detik-detik dimana orang tersebut akan meninggal. Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang akan meninggal. Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam- hidup kedalam enpat fase. Fase presdiagnostik terjadi ketika diketahui ada mengancam- hidup kedalam enpat fase. Fase presdiagnostik terjadi ketika diketahui ada gejala klien atau factor resiko penyakit. Fase akut berpusat pada krisis diagnosis. Dalam gejala klien atau factor resiko penyakit. Fase akut berpusat pada krisis diagnosis. Dalam fase kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatanya ,yang sering fase kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatanya ,yang sering melibatkan serangkain krisis yang diakibatkan. Akhirnya terdapat pemulihan atau fase melibatkan serangkain krisis yang diakibatkan. Akhirnya terdapat pemulihan atau fase terminal Klien yang mencapai fase terminal ketika kematian bukan hanya lagi terminal Klien yang mencapai fase terminal ketika kematian bukan hanya lagi kemungkinan, tetapi pasti terjadi.Pada setiap hal dari penyakit klien dan keluarga kemungkinan, tetapi pasti terjadi.Pada setiap hal dari penyakit klien dan keluarga dihadapkan dengan kehilangan yang beragam dan terus berubah Seseorsng dapat dihadapkan dengan kehilangan yang beragam dan terus berubah Seseorsng dapat tumbuh dari pengalaman kehilangan melalui keterbukaan, dorongan dari orang lain, tumbuh dari pengalaman kehilangan melalui keterbukaan, dorongan dari orang lain, dan dukungan adekuat.

dan dukungan adekuat. e.

e. Tahapan proses kehilanganTahapan proses kehilangan 1.

1. Stressor internal atau eksternalStressor internal atau eksternal –– gangguan dan kehilangan gangguan dan kehilangan –– individu berfikir positif individu berfikir positif ––

kompensasi positif terhadap kegiatan yang dilakukan

kompensasi positif terhadap kegiatan yang dilakukan –– perbaikan perbaikan –– mampu  mampu beradaptasiberadaptasi dan merasa nyaman.

dan merasa nyaman. 2.

2. Stressor internal atau eksternalStressor internal atau eksternal –– gangguan dan kehilangan gangguan dan kehilangan –– individu berfikir negatif individu berfikir negatif ––

tidak berdaya

tidak berdaya ––  marah dan berlaku agresif  marah dan berlaku agresif ––  diekspresikan ke dalam diri ( tidak  diekspresikan ke dalam diri ( tidak diungkapkan)

diungkapkan)–– muncul gejala sakit fisik. muncul gejala sakit fisik. 3.

3. Stressor internal atau eksternalStressor internal atau eksternal –– gangguan dan kehilangan gangguan dan kehilangan –– individuberfikir negatif  individuberfikir negatif ––

tidak berdaya

tidak berdaya ––  marah dan berlaku agresif  marah dan berlaku agresif ––  diekspresikan ke luar diri individu  diekspresikan ke luar diri individu ––

berperilaku konstruktif

berperilaku konstruktif–– perbaikan perbaikan–– mampu beradaptasi dan  mampu beradaptasi dan merasa kenyamanan.merasa kenyamanan. 4.

4. Stressor internal atau eksternalStressor internal atau eksternal –– gangguan dan kehilangan gangguan dan kehilangan –– individuberfikir negatif  individuberfikir negatif ––

tidak berdaya

tidak berdaya ––  marah dan berlaku agresif  marah dan berlaku agresif ––  diekspresikan ke luar diri individu  diekspresikan ke luar diri individu ––

berperilaku destruktif

berperilaku destruktif –– perasaan bersalah perasaan bersalah –– ketidakberdketidakberdayaan.ayaan.

Inti dari kemampuan seseorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah Inti dari kemampuan seseorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah pemberian makna (personal meaning) yang baik terhadap kehilangan (husnudzon) dan pemberian makna (personal meaning) yang baik terhadap kehilangan (husnudzon) dan kompensasi yang positif (konstruktif).

kompensasi yang positif (konstruktif). B.

(5)

Berduka

Berduka adalah adalah respon respon emosi emosi yang yang diekspresikan diekspresikan terhadap terhadap kehilangan kehilangan yangyang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.

lain-lain.

Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.

disfungsional.

Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.

kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,

kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.abnormal, atau kesalahan/kekacauan. a.

a. Teori dari Proses BerdukaTeori dari Proses Berduka

Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.

bentuk empati. 1.

1. Teori EngelsTeori Engels

Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang

diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.ajal.

 Fase I (shock dan tidak percaya)Fase I (shock dan tidak percaya)

Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas, Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.

detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.

 Fase II Fase II (berkembang(berkembangnya kesadaran)nya kesadaran)

Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.

tiba terjadi.

 Fase III (restitusi)\Fase III (restitusi)\

Berusaha mencoba untuk

Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong, karenasepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong, karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.

bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.

 Fase IVFase IV

Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.

terhadap almarhum.

(6)

Kehilangan yang tak dapat dihindari harus

Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. Sehingga pada fasemulai diketahui/disadari. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.

berkembang. 2.

2. Teori Kubler-RossTeori Kubler-Ross

Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:

pada perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:

 Penyangkalan (Denial)Penyangkalan (Denial)

Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk

mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti “Tidak, tidak mungkin mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti “Tidak, tidak mungkin seperti itu,” atau “Tidak akan

seperti itu,” atau “Tidak akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien.terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien.

 Kemarahan (Anger)Kemarahan (Anger)

Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih”

Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orangpada setiap orang

dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan.

menghadapi kehilangan.

 Penawaran (Bargaining)Penawaran (Bargaining)

Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain. mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain.

 Depresi (Depression)Depresi (Depression)

Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.

dan mulai memecahkan masalah.

 Penerimaan (Acceptance)Penerimaan (Acceptance)

Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.

menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa. 3.

3. Teori MartocchioTeori Martocchio

Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun.

mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun. 4.

4. Teori RandoTeori Rando

Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori: Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori:

 PenghindaranPenghindaran

Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya. Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.

 KonfrontasiKonfrontasi

Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.

paling akut.

(7)

Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.

menjalani hidup dengan kehidupan mereka. C.

C. KEMATIANKEMATIAN

Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun, Kematian merupakan peristiwa alamiah yang dihadapi oleh manusia. Namun, bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian bencana gempa di Bantul memaksa anak untuk melihat dan atau mengalami kematian secara tiba-tiba. Pemahaman akan kematian mempengaruhi sikap dan tingkah laku secara tiba-tiba. Pemahaman akan kematian mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep kematian juga seseorang terhadap kematian. Selain pengalaman, pemahaman konsep kematian juga dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial budaya. Kebudayaan dipengaruhi oleh perkembangan kognitif dan lingkungan sosial budaya. Kebudayaan Jawa yang menjadi latar tumbuh kembang anak menjadi penting untuk diperhatikan. Jawa yang menjadi latar tumbuh kembang anak menjadi penting untuk diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman anak usia sekolah dan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman anak usia sekolah dan praremaja tentang kematian dengan mengacu pada tujuh subkonsep kematian, praremaja tentang kematian dengan mengacu pada tujuh subkonsep kematian, yakni

yakniirreversibility, irreversibility, cessation, cessation, inevitability, inevitability, universability, universability, causality,causality, unpredictability,

unpredictability, dandan personal  personal mortalitymortality dari Slaughter (2003). Penelitian dilakukandari Slaughter (2003). Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara yang dilakukan pada tiga melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara yang dilakukan pada tiga anakanak usia (6-7 tahun) dan 4

usia (6-7 tahun) dan 4 praremaja (10-11 tahun).praremaja (10-11 tahun).

Hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep kematian yang berbeda-beda Hasil penelitian menunjukkan pemahaman konsep kematian yang berbeda-beda pada ketiga subjek yang berusia 6-7 tahun. Dua subjek belum memahami pada ketiga subjek yang berusia 6-7 tahun. Dua subjek belum memahami subkonsep

subkonsepunpredictabilityunpredictabilitydandancausality causality , sedangkan kelima subkonsep lainnya sudah, sedangkan kelima subkonsep lainnya sudah dipahami oleh anak. Satu subjek lainnya hanya memahami dipahami oleh anak. Satu subjek lainnya hanya memahami subkonsep

subkonsepinevitability inevitability ,,universality universality , , dan personal dan personal mortality mortality , , sedangkan sedangkan empatempat subkonsep lainnya belum dipahami sama sekali. Secara umum ketiga subjek belum subkonsep lainnya belum dipahami sama sekali. Secara umum ketiga subjek belum memahami kematian sebagai fenomena biologis. Partisipan yang berusia 10-11 tahun memahami kematian sebagai fenomena biologis. Partisipan yang berusia 10-11 tahun sudah memiliki ketujuh subkonsep kematian walaupun belum bisa sudah memiliki ketujuh subkonsep kematian walaupun belum bisa mendeskripsikannya secara utuh. Hasil penelitian ini disoroti dari teori kematian, teori mendeskripsikannya secara utuh. Hasil penelitian ini disoroti dari teori kematian, teori perkembangan dan budaya Jawa. Hasil penelitian ini berimplikasi pada teori perkembangan dan budaya Jawa. Hasil penelitian ini berimplikasi pada teori perkembangan konsep kematian pada anak, dan juga pada seberapa jauh budaya Jawa perkembangan konsep kematian pada anak, dan juga pada seberapa jauh budaya Jawa memberikan kesempatan pada anak untuk memiliki pemahaman yang utuh tentang memberikan kesempatan pada anak untuk memiliki pemahaman yang utuh tentang kematian.

kematian.

Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari perkembangan konsep tentang Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari perkembangan konsep tentang kematian. Usaha manusia untuk

kematian. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematianmemperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan mempergunakan kemajuan iptek kedokteran telah membawa masalah baru dengan mempergunakan kemajuan iptek kedokteran telah membawa masalah baru dalam euthanasia, terutama berkenaan dengan penentuan kapan seseorang dinyatakan dalam euthanasia, terutama berkenaan dengan penentuan kapan seseorang dinyatakan telah mati. Berikut ini beberapa konsep tentang mati yaitu :

telah mati. Berikut ini beberapa konsep tentang mati yaitu : a.

a. Mati sebagai berhentinya darah mengalirMati sebagai berhentinya darah mengalir

Konsep ini bertolak dari criteria mati berupa berhentinya jantung. Dalam PP No. Konsep ini bertolak dari criteria mati berupa berhentinya jantung. Dalam PP No. 18 tahun 1981 dinyatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan 18 tahun 1981 dinyatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru. Namun criteria ini sudah ketinggalan zaman. Dalam pengalaman kedokteran, paru. Namun criteria ini sudah ketinggalan zaman. Dalam pengalaman kedokteran, teknologi resusitasi telah memungkinkan jatung dan paru-paru yang semula terhenti teknologi resusitasi telah memungkinkan jatung dan paru-paru yang semula terhenti dapat dipulihkan kembali.

(8)

b.

b. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuhMati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh

Konsep ini menimbulkan keraguan karena, misalnya, pada tindakan resusitasi Konsep ini menimbulkan keraguan karena, misalnya, pada tindakan resusitasi yang berhasil, keadaan demikian menimbulkan kesan seakan-akan nyawa dapat ditarik yang berhasil, keadaan demikian menimbulkan kesan seakan-akan nyawa dapat ditarik kembali.

kembali. c.

c. Hilangnya kemampuan tubuh secara permanenHilangnya kemampuan tubuh secara permanen

Konsep inipun dipertanyakan karena organ-organ berfungsi sendiri-sendiri Konsep inipun dipertanyakan karena organ-organ berfungsi sendiri-sendiri tanpa terkendali karena otak telah mati. Untuk kepentingan transplantasi, konsep ini tanpa terkendali karena otak telah mati. Untuk kepentingan transplantasi, konsep ini menguntungkan. Namun, secara moral tidak dapat diterima karena kenyataannya menguntungkan. Namun, secara moral tidak dapat diterima karena kenyataannya organ-organ masih berfungsi meskipun tidak terpadu lagi.

organ-organ masih berfungsi meskipun tidak terpadu lagi. d.

d. Hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukanHilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi social

interaksi social

Bila dibandingkan dengan manusia sebagai makhluk social, yaitu individu yang Bila dibandingkan dengan manusia sebagai makhluk social, yaitu individu yang mempunyai kepribadian, menyadari kehidupannya, kemampuan mengingat, mengambil mempunyai kepribadian, menyadari kehidupannya, kemampuan mengingat, mengambil keputusan, dan sebagainya, maka penggerak dari otak, baik secara fisik maupun sosial, keputusan, dan sebagainya, maka penggerak dari otak, baik secara fisik maupun sosial, makin banyak dipergunakan. Pusat pengendali ini terletak dalam batang otak. Olah makin banyak dipergunakan. Pusat pengendali ini terletak dalam batang otak. Olah karena itu, jika batang otak telah mati, dapat diyakini bahwa manusia itu secara fisik karena itu, jika batang otak telah mati, dapat diyakini bahwa manusia itu secara fisik dan social telah mati. Dalam keadaan seperti ini, kalangan medis sering menempuh dan social telah mati. Dalam keadaan seperti ini, kalangan medis sering menempuh pilihan tidak meneruskan resusitasi, DNR (

pilihan tidak meneruskan resusitasi, DNR (do not resuscitationdo not resuscitation).).

Bila fungsi jantung dan paru berhenti, kematian sistemik atau kematian sistem Bila fungsi jantung dan paru berhenti, kematian sistemik atau kematian sistem tubuh lainnya terjadi dalam beberapa menit, dan otak merupakan organ besar pertama tubuh lainnya terjadi dalam beberapa menit, dan otak merupakan organ besar pertama yang menderita kehilangan fungsi yang ireversibel, karena alasan yang belum jelas. yang menderita kehilangan fungsi yang ireversibel, karena alasan yang belum jelas. Organ-organ lain akan mati kemudian.

Organ-organ lain akan mati kemudian.

BAB III BAB III PENUTUP PENUTUP  A.

 A. KESIMPULANKESIMPULAN

Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan suatu yang Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan suatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik

sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.sebagian atau seluruhnya.

Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.

disfungsional.

Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,

(9)

hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadon hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.

batas normal.

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,

kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau keslahan/kekacauan.abnormal, atau keslahan/kekacauan. Peran perawat ad

Peran perawat adalah untuk mendapatkalah untuk mendapatkan gambaran an gambaran tentang perilaku bertentang perilaku berduka,duka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan meberikan dukungan dalam mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan meberikan dukungan dalam bentuk empati.

bentuk empati.

Kehilangan dibagi dalam 2 tipe : aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 Kehilangan dibagi dalam 2 tipe : aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 kategori kehilangan, yaitu : kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan kategori kehilangan, yaitu : kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan yang ada pada diri yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan yang ada pada diri sendiri/aspek diri, dan

sendiri/aspek diri, dan kehilangan kehidupan/meninggal.kehilangan kehidupan/meninggal.

Elizabeth Kubler-rose, 1969.h.51, membagi respon duka dalam lima fase, yaitu : Elizabeth Kubler-rose, 1969.h.51, membagi respon duka dalam lima fase, yaitu : pengikaran, marah, tawar-menawarn, depresi dan penerimaan.

Referensi

Dokumen terkait

yang hilang, namun pada kasus kedukaan yang dialami anak karena kehilangan kedua.. Wiryasaputra, Mengapa Berduka...,

Seseorang yang memiliki hubungan yang erat dan baik dengan orang yang meninggal akan mengalami rasa berduka yang berbeda dibandingkan dengan orang yang memiliki hubungan

Respons berduka ibu yaitu menyalahkan diri sendiri, suami dan Tuhan, merasakan kehadiran orang yang meninggal, merasa rindu bahkan berbicara dengan orang yang

Pengalaman psikologis yang dimaksud adalah bagaimana proses berduka yang dialami anak setelah kehilangan ibu akibat bunuh diri, bagaimana anak memaknai

Dari berbagai definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa berduka merupakan suatu reaksi psikologis sebagai respon kehilangan sesuatu yang dimiliki yang berpengaruh

2 Proses kedukaan dapat dikatakan selesai apabila orang yang berduka sudah dapat mengingat dan menceriterakan dengan jelas peristiwa kehilangan tanpa perasaan

Perasaan sedih, menangis, perasaan putus asa, kesepian, mengingkari kehilangan, kesulitan mengekspresikan perasaan, konsentrasi menurun, kemarahan yang berlebihan,

Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti, kehilangan yang ada pada diri sendiri, kehilangan objek eksternal misalnya