725 PROSIDING
Pengaruh Tayangan Laptop si Unyil terhadap Minat Belajar Anak
di SMPN 5 Depok – Jawa Barat
Sumiyati
Pogram Pasca Sarjana Ilmu Komonikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Abstract
Television or what is often called TV is one of the mass media that is very influential on society. One of the television stations that has educational programs for children is Trans7. Trans7 has an educational program for children titled laptop Unyil. Laptop si Unyil Program is a digging program on science and technology and also deals with games related to science. The purpose of this study is to determine the effect of Unyil laptop's Impression on Student Interest. This research is quantitative research using survey method with sample of student / I SMPN 5 DEPOK amounted to 84 people. The sampling technique used is probability sampling that is simple random sampling technique. This research use simple regression analysis. The findings of this study indicate that Impressions unyil laptop has a significant effect on Student interest
Key Word: Impressions Laptop Si Unyil, Student interest
Abstrak
Televisi atau yang sering disebut TV merupakan salah satu media massa yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Salah satu stasiun televisi yang memiliki program edukasi untuk anak adalah Trans7. Trans7 memiliki sebuah program edukasi untuk anak yang berjudul laptop si Unyil. Program laptop si Unyil adalah program yg menggali mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi serta membahas juga mengenai permainan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Tayangan laptop si unyil terhadap Minat belajar Siswa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang menggunakan metode survey dengan sampel siswa/I SMPN 5 DEPOK berjumlah 84 orang.Teknik sampling yang digunakan adalah probability sampling yaitu teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Tayangan laptop si unyil berpengaruh signifikan terhadap Minat belajar Siswa.
Kata Kunci: Tayangan laptop si unyil, Minat belajar Siswa.
Copyright © 2017 Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. All rights reserved Pendahuluan
Pendidikan dan teknologi merupakan dua hal yang saling berjalan beriring. Pertumbuhan teknologi instruksional mengikuti tahap pertumbuhan dari masyarakat tradisional ke kebudayaan teknologi tinggi. Berbicara tentang produk teknologi beserta kaitannya dengan
pembelajaran, televisi (TV) merupakan salah satu produk teknologi modern yang telah mendukung peran teknologi dalam konteks memecahkan masalah pembelajaran. (Ragil dan Gafur, 2014).
Televisi merupakan salah satu jenis media massa yang popular dikarenakan
Konferensi Nasional Komunikasi
726
kemampuannya dalam menarik minat penonton yang melebihi media massa lainnya. Karena televisi bersifat dapat dilihat dan dapat didengar, berbeda dengan media cetak yang menuntut khalayaknya harus bisa membaca karena media cetak hanya terbatas pada tulisan atau teks saja. Menurut survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia berusia 10 tahun keatas, Kebiasaan menonton televisi masyarakat Indonesia sebesar 91,47%, mendengarkan radio 7,54% dan membaca koran sebesar 13,11% . Lebih detailnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa peran radio dan surat kabar sebagai media massa semakin berkurang dibandingkan dengan televisi, dan hal ini menjadikan televisi sebagai media popular yang tersebar dipelosok penjuru dunia termasuk Indonesia.
Tabel 1
Data Kebiasaan Masyarakat Indonesia
Penduduk Tahun (%) Umur > 10 2003 2006 2009 2012 2015 Tahun Mendengar 50,29 40,26 23,5 18,57 7,54 Radio Menonton 84,94 85,86 90,27 91,68 91,47 Televisi Membaca Surat Kabar/Majalah 23,7 23,46 18,94 17,66 13,11 Sumber : BPS (2017)
Secara sederhana kita dapat mendefinisikan televisi sebagai media massa yang menampilkan siaran berupa gambar dan suara dari jarak jauh. Munculnya media televisi sebagai media elektronik memberi pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat saat ini.Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi sumber umum utama
dari sosialisasi dan informasi bagi masyarakat karena televisi membawa berbagai informasi atau pesan-pesan yang dalam waktu yang sangat cepat dapat tersebar di berbagai pelosok dunia. Televisi merupakan produk ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang komunikasi yang sudah ada sejak dahulu sampai saat ini.
Selain itu, dari segi konteks penggunaannya, media televisi di Indonesia telah menjadi bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakat. Televisi memberikan imbas media yang luar biasa besar bagi kehidupan masyarakat (Sunardian Wirodono, 2005:8). Hasil research yang dilakukan oleh AC Nielsen Media Research menyebutkan bahwa pada tahun 2003 penetrasi media televisi pada masyarakat indonesia telah mencapai 90,7% Hal ini mengindikasikan bahwa media televisi telah menjadi media keluarga yang tidak lagi melihat sekat sosial-ekonomi maupun geografis.
Undang Undang No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran pada pasal 4 menyebutkan bahwa penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan. yang sehat, kontrol dan perekat sosial. Dengan demikian sesuai dengan undang undang tersebut fungsi siaran televisi tidak hanya sebagai hiburan saja, namun media informasi bahkan media pendidikan masyarakat. Lebih spesifik lagi UU No 32 tahun 2002 pasal 36 ayat 3 menyebutkan bahwa isi siaran dalam tayangan televisi wajib memberikan perlindungan serta pemberdayaan kepada khalayak khusus yaitu anak-anak dan remaja.
Media televisi memberikan banyak pilihan tayangan dengan informasi yang dikemas secara menarik untuk disaksikan. Salah satu stasiun televisi yang menyajikan program edukasi atau pendidikan adalah Tans7 merupakan stasiun televisi berjaringan di Indonesia yang resmi diluncurkan pada tanggal 15 Desember 2006 yang semula bernama TV7. Trans7 telah menarik hati banyak pemirsanya dengan
727
beragam informasi yang aktual dan sesuai fakta yang dikemas secara menarik seperti Redaksi Pagi, Siang dan Sore dan Malam. Tidak hanya berita, Trans7 juga memberikan program hiburan seperti OVJ, Indonesia Lawak Club dan Hitam Putih. Selain itu, Trans7 juga memberikan tayangan informasi dan pengetahuan seputar anak seperti bocah petualang, laptop si unyil dan unyil keliling dunia.
Laptop si Unyil adalah program Trans7 yang kembali mengangkat karakter klasik Si Unyil karya Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal sebagai Pak Raden. Dalam acara ini Unyil dan kawan-kawan akan mengajak pemirsa menggali mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi serta membahas juga mengenai permainan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Masih dengan tokoh–tokoh yang sama yaitu Unyil dengan karakternya yang pintar dan baik, Pak Raden yang galak, Pak Ogah yang pemalas, pengganggu dan kocak, Laptop Si Unyil alternatif yang mendidik khususnya bagi anak– anak. Dapat dijadikan tontonan memberikan pendidikan kepada anak-anak tidak hanya melalui sekolah formal, melalui program Laptop Si Unyil hal-hal yang sebenarnya sulit dipahami dapat disampaikan dengan penjelasan yang sederhana, menarik dan lugas sehingga lebih mudah dipahami bahkan pertanyaan anak yang terkadang sulit dijawab oleh orang tua. Program ini menyajikan tayangan yang mencerdaskan dan menghibur untuk anak dan keluarga seperti perkenalan tentang benda, ensiklopedi, permainan daerah, kerajinan tangan dan uji ilmiah, bahkan dapat menjadi pembentukan perilaku anak ( www.trans7.com).
Yunanto (2004:20) menyatakan bahwa sumber belajar yang terkoordinir dengan baik akan mampu mebangkitkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Motivasi belajar yang tinggi akan mampu menunjang prestasi belajar siswa. Bahkan Hamzah B. Uno (2011:27)
mengemukakan bahwa belajar tidak dapat terjadi jika tidak ada motivasi dalam diri seseorang untuk belajar.
Minat belajar dapat ditingkatkan melalui latihan konsentrasi. Konsentrasi merupakan aktivitas jiwa untuk memperhatikan suatu objek secara mendalam. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi itu muncul jika seseorang menaruh minat pada suatu objek, demikian pula sebaliknya merupakan kondisi psikologis yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar. Kondisi tersebut amat penting sehingga konsentrasi yang baik akan melahirkan sikap pemusatan perhatian yang tinggi terhadap objek yang sedang dipelajari. Minat belajar membentuk sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi pada setiap siswa. Oleh karena itu, minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing masing siswa. Pihak lainnya hanya memperkuat dan menumbuhkan minat atau untuk memelihara minat yang telah dimiliki seseorang Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu (Slameto, 2007).
Untuk itu, peneliti tertarik mengambil sampel pelajar SMP kelas VII, VIII dan IX SMPN 5 DEPOK. Karena anak SMP termasuk dalam golongan remaja awal yang memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi. Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak bergantung dengan orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebanyanya (Agustiani, 2006:29). Selain itu, pengetahuannya yang bertambah luas
728
menyebabkan timbulnya cita-cita dan angan-angan yang menjulang tinggi. Sikap kritis dan mempertanyakan kebenaran dari apa yang dihadapi akan mendorong atau mendesak fantasi agar tercapai pikiran yang realistis (Gunarsa, 2000:22)
Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh Tayangan Laptop Si Unyil Terhadap Minat Belajar Siswa SMPN 5 DEPOK”
Tinjauan Pustaka
1. Komunikasi Massa
Massa dalam arti komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap dan perilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh karena itu massa disini menunjuk pada khalayak, audience, penonton, pemirsa, atau pembaca.
Media massa dalam komunikasi massa bentuknya antara lain media elektronik (televisi, radio), media cetak (surat kabar, majalah tabloid), buku dan film (Nurudin, 2007: 4-5).
Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Rakhmat, 2003: 188) dalam buku komunikasi massa suatu pengantar (Ardianto, 2009: 3), yakni: komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Jadi pada penelitian ini, media yang di maksud adalah televisi yang menyebarkan informasi kepada khalayak yang memberitakan berita seputar kejadian pesawat terbang yang jatuh.
2. Media Massa
Media massa (mass media) merupakan berbagai macam media atau wahana komunikasi massa seperti pers (secara sempit diartikan sebagai surat kabar, sedangkan secara luas sebagai media pemberitahuan), media cetak pada umumnya (majalah dan jurnal), dan
berbagai media elektronik seperti radio, bioskop dan televisi yang mampu menjangkau masyarakat luas (Jefkins, 2004:420) dalam buku pengantar ilmu broadcasting dan
cynnematography (Lamintang, 2013: 21).
Karakteristik media massa ialah sebagai berikut (Cangara, 2008: 126-127):
a Bersifat melembaga
b Bersifat satu arah, artinya komunikasi yang dilakukan kurang. c Meluas dan serempak,
d Memakai peralatan teknis atau mekanis,
e Bersifat terbuka.
Sebagai media massa yang tumbuh belakangan, dan merupakan konvergensi dari media radio, surat kabar, industri musik, pertunjukan panggung, dan sebagainya, televisi memiliki kekuatan yang sangat besar dibandingkan jenis media massa lainnya. Kemampuan televisi mendominasi media lain karena media ini mempunyai sejumlah kelebihan, antara lain sebagai berikut (Badjuri, 2010: 14-16).:
a. Bersifat Dengar-Pandang
Tidak seperti halnya media radio yang hanya bisa dinikmati melalui indera dengar, media tv bisa dinikmati pula secara visual melalui indera pengelihatan.
b. Menghadirkan Realitas Sosial
Televisi memiliki kemampuan menghadirkan realitas sosial seolah-olah seperti aslinya. Kemampuan teknogogi kamera dalam merekam realitas sebagaimana aslinya, menjadikan tayangan televisi memiliki pengaruh sangat kuat pada diri khalayak.
c. Simultaneous
adalah kemampuan menyampaikan segala sesuatu secara serempak sehingga mampu menyampaikan informasi kepada banyak orang yang tersebar di berbagai tempat dalam waktu yang bersamaan.
729
d. Memberi Rasa Intim/ Kedekatan Tayangan program tv secara umum disajikan dengan pendekatan yang persuasif terhadap khalayaknya. Dengan menggunaan sapaan yang memberi kesan dekat, tidak berjarak, bahasa tutur sehari-hari, gesture yang wajar menciptakan suasana intim antara presenter program dengan khalayak
e. Menghibur
Meskipun secara konseptual fungsi tv sama dengan media massa lainnya, yaitu informatif, edukatif, dan menghibur, namun fungsi terbesar dari media televisi adalah menghibur. Berbagai studi menunjukkan bahwa motif utama orang menonton televisi adalah mencari hiburan, setelah itu mencari informasi, dan paling akhir adalah mencari pengetahuan/ pendidikan.
3. Terpaan Tayangan Televisi
Terpaan tayangan diartikan sebagai penggunaan media oleh khalayak yang meliputi jumlah waktu yang digunakan, jenis isi media serta hubungan antara khalayak dengan media yang dikonsumsi atau media secara keseluruhan (Rakhmat, 2003: 66). Terpaan media (media
exposure) diukur dengan seberapa banyak waktu
(berapa jam) dalam setiap harinya dihabiskan untuk menonton tayangan tersebut. Untuk masing-masing dari tiga aspek terpaan media (media televisi, media radio, media surat kabar) ini dibuatkan kategori, tingkat terpaan tergolong tinggi dan rendah. Dalam hal ini terpaan tayangan melalui media televisi, tergolong tinggi apabila lebih dari tiga jam sehari dalam menonton televisi, dan rendah apabila tiga jam atau kurang setiap harinya.
Penelitian terpaan tayangan media televisi yakni penelitian yang berusaha mencari data khalayak tentang penggunaan maupun durasi penggunaan. Penulis merumuskan turunan variabel tayangan, yaitu :
a. Intensitas Tayangan
Intensitas tayangan, yaitu jumlah keseluruhan waktu yang digunakan oleh khalayak dalam program acara di media massa. Dalam intensitas terdapat frekuensi dan durasi (Ardianto, 2007: 168). Dari pengertian tersebut maka penulis menurunkan subvariabel menjadi dua indikator yaitu:
1) Frekuensi Menonton Tayangan
Frekuensi yaitu seberapa sering khalayak menonton suatu program televisi (berapa kali dalam seminggu) atau seberapa sering khalayak mengkonsumsi sebuah program dalam setiap bulannya.
2) Durasi Menonton Tayangan
Durasi yaitu berapa lama khalayak bergabung dengan suatu media (berapa jam sehari) atau berapa lama khalayak mengkonsumsi sebuah program dalam setiap penayangannya.
b. Isi Pesan Tayangan
Isi pesan adalah suatu komponen proses komunikasi berupa panduan dari pikiran dan perasaan seseorang yang menggambarkan lambang dan bahasa atau lambang lainnya disampaikan kepada orang lain. Isi pesan menurut DR. Sasa Djuasa Sendjaya didalamnya terdapat hubungan logis dalam alur cerita, irama dramatik, misi dan orientasi, karakter tokoh (narasumber) dan tema aktual dan kontekstual (Kuswandi, 2008: 121).
Berdasarkan pengertian tersebut, peneliti merumuskan indikator isi pesan yaitu (Tan, 1981: 135) :1) Struktur Pesan (Message
Structure) Struktur pesan yaitu susunan
pokok-pokok gagasan yang menyatu menjadi satu kesatuan pesan yang utuh.
2) Gaya Pesan (Message Style)
Gaya pesan adalah mengolah bahasa demi terciptanya gaya dalam upaya menjelaskan isi pesan demi tercapainya efektivitas komunikasi Gaya pesan dimaksudkan agar pesan yang disampaikan komunikator dapat dipahami oleh komunikan. Jika pesan yang disampaikan
730
tersebut tidak dapat dipahami oleh komunikan maka komunikator dapat mengulang materi atau pesannya sampai komunikan mengerti dan memahami pesan yang disampaikan komunikator tersebut. Dan dengan adanya karakteristik pesan serta sumber evaluasi pesan maka komunikator dalam menyampaikan pesannya lebih terarah. Sehingga komunikasi tatap muka yang berlangsung lebih efektif. Namun komunikator juga harus menggunakan daya tarik pesannya agar komunikan dapat mengikuti kehendak komunikator.
3) Daya Tarik pesan (Message Appeals) Daya tarik pesan yaitu meyakinkan khalayak melalui pendekatan rasional dengan memberi bukti empiris dan logika atau pendekatan emosional untuk menarik emosi atau perasaan khalayak dalam suasana menyenangkan. Daya tarik pesan mengacu ada motif-motif psikologis yangm dikandung pesan (rational and emotional
appeals).
4. Teori Kultivasi
Teori Kultivasi adalah teori yang mengatakan bahwa menonton televisi secara berangsur-angsur mengarahkan pada adopsi keyakinan mengenai sifat dasar dari dunia sosial yang mengikuti pandangan akan realitas yang memiliki stereotip, terdistorsi dan sangat selektif sebagaimana yang digambarkan dengan cara yang sistematis difiksi dan berita televisi (McQuail 2011: 257).
Jadi, Kultivasi secara makna kata berarti menanam, sehingga secara makna kata teori kultivasi dapat diartikan sebagai teori yang menfokuskan pada proses penanaman nilai.
Teori Kultivasi (Cultivation Theory)
merupakan salah satu teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan dampak media bagi khalayak.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa penelitian kultivasi yang dilakukan oleh Gerbner (2002) lebih menekankan pada “dampak”. Asumsi mendasar dalam teori ini adalah terpaan
media yang terus menerus akan memberikan gambaran dan pengaruh pada persepsi pemirsanya. Artinya, selama pemirsa melakukan kontak dengan televisi mereka akan belajar tentang dunia, mengubah persepsi mereka akan dunia, belajar bersikap dan nilai-nilai orang.
Teori Kultivasi dijelaskan bahwa bahwa pada dasarnya ada 2 (dua) tipe penonton televise yang mempunyai karakteristik saling bertentangan/bertolak belakang, yaitu :
a. Para pecandu/penonton fanatik (heavy
viewers) adalah mereka yang menonton televisi
lebih dari 4 (empat) jam setiap harinya. Kelompok penonton ini sering juga disebut sebagai khalayak “the television type”.
b. Penonton biasa (light viewers), yaitu mereka yang menonton televisi 2 jam atau kurang dalam setiap harinya.
5. Minat Belajar
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibbin, 2011: 152). Minat merupakan suatu dorongan yang kuat dalam diri seseorang terhadap sesuatu. Minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2007: 121). Minat dapat timbul dengan sendirinya, yang ditengarai dengan adanya rasa suka terhadap sesuatu. Minat belajar adalah kecenderungan yang mengarahkan siswa terhadap bidang-bidang yang ia sukai dan tekuni tanpa adanya keterpaksaan dari siapapun untuk meningkatkan kualitasnya dalam hal pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, minat, apresiasi, logika berpikir, komunikasi, dan kreativitas.
Indikator minat ada empat, yaitu (Safari, 2003):
a. Perasaan Senang
Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap suatu mata pelajaran, maka siswa tersebut akan terus mempelajari
731
ilmu yang disenanginya. Tidak ada perasaan terpaksa pada siswa untuk mempelajari bidang tersebut.
b. Ketertarikan Siswa
Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau bisa berupa pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
c. Perhatian Siswa
Perhatian merupakan konsentrasi atau aktivitas jiwa terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Siswa yang memiliki minat pada objek tertentu, dengan sendirinya akan memperhatikan objek tersebut.
d. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan suatu objek yang mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari objek tersebut Menurut (Hurlock, 2010:120) mengemukakan bahwa minat mempunyai dua aspek, yaitu :
a. Aspek Kognitif (berpikir)
Aspek kognitif minat didasarkan pada konsep yang dikembangkan anak mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Misalnya apek kognitif dari minat anak terhadap sekolah. Seorang anak yang menganggap sekolah sebagai tempat mereka dapat belajar tentang hal-hal baru yang bisa menimbulkan rasa ingin tahu mereka. Menurut (Hurlock, 2010:121) mengukur aspek kognitif dapat dilihat dari :
1) Kebutuhan akan informasi
Anak yang berminat terhadap sesuatu akan menggali sebanyak mungkin informasi yang berkaitan dengan apa yang diminatinya.
2) Rasa ingin tahu
Besarnya rasa ingin tahu seseorang terhadap sesuatu dapat menentukan tingkat ketertarikan seseorang terhadap sesuatu tersebut. Semakin besar ketertarikan sesorang untuk tahu dan memperoleh pengetahuan maka semakin besar
pula minat mereka dalam keingintahuan dalam suatu hal.
b. Aspek Afektif
Aspek afektif minat berkembang dari pengalaman pribadi yang berasal dari sikap orang yang penting seperti orang tua, guru, dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut (Hurlock, 2010:122).
1) Pengalaman dari sikap orang tua
Sikap orang tua yang memperhatikan dan mendukung keinginan anak dalam suatu hal, dan semakin besar perhatian dan dukungan orang tua, maka anak akan semakin senang dan semakin besar minatnya, sebaliknya semakin kurang perhatian dan dukungan orang tua, Minat pun akan semakin kurang. Sikap orang tua yang berupa perhatian dan dukungan akan menjadi pengalaman pribadi bagi anak yang bisa mempengaruhi minat mereka
2) Pengalaman dari sikap guru
Guru yang merupakan orang tua anak ketika berada disekolah juga sangat menentukan besarnya minat siswa. Hubungan baik siswa dan guru tanpa mengurangi rasa hormat siswa ke guru sangat menentukan pola pikir siswa, karena sosok guru sebagai panutan siswa
3) Pengalaman teman sebaya
Anak selalu mencari lingkungan yang sesuai dengan dirinya, dalam hal ini anak akan menghubungkan diri dengan teman sebayanya, itu menjadi pengalaman yang mempengaruhi pola pikirnya
Dari beberapa aspek tersebut, maka disimpulkan bahwa semakin besar keinginan seseorang untuk memperoleh apa yang diinginkan maka akan semakin besar pula minatnya dan semakin besar perhatian dukungan orang tua, maka anak akan semakin senang dan semakin besar minatnya
6. Kerangka Berpikir
732
7. Hipotesis Penelitian
Sugiyono (2013) menyatakan bahwa "Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Hipotesis adalah pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan antara dua variabel atau lebih (Kerlinger, 2006). Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan (declarative) dan menghubungkan secara umum maupun khusus-variabel yang satu dengan variabel yang lain. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga tayangan laptop si unyil berpengaruh terhadap minat belajar
Metode penelitian
1. Gambaran Populasi
MenurutSugiyono(2014:115)
mendefinisikan populasi yaitu “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Jumlah populasi yang akan diteliti dalam penulisan ini adalah seluruh siswa/I SMPN 5 Depok berjumlah 519 siswa.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2013) berpendapat "Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut". Sedangkan menurut Arikunto (2010:174) memberikan definisi bahwa "Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti".
Pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin untuk menentukan jumlah sampel.
Keterangan :
n = jumlah sampel N = jumlah populasi
e = tingkat kesalahan atau ketidaktelitian karena pengambilan sampel yang masih dapat ditoleransi atau diinginkan. Dalam penelitian ini tingkat kesalahan yang diambil 10%.
Populasi sebanyak 519 siswa dengan asumsi taraf kesalahan sebesar 0,1 maka jumlah sampel (n) adalah :
n = 519 1 + 519 (0,1)2
n = 83,844 ≈ 84 orang.
Jumlah sampel yang akan diambil dalam melakukan penelitian ini adalah 84 orang.
3. Uji Instrumen Penelitian
a. Uji Validitas
Menurut Juliansyah (2012) “Validitas atau keabsahan adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang diukur. Validitas ini menyangkut akurasi instrumen”. Uji
Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Kriteria penilaian uji validitas adalah: 1) Apabila Signifikansi variabel > Signifikansi 0,05, maka kuesioner tersebut tidak valid.
2) Apabila Signifikansi variabel < Signifikansi 0,05, maka kuesioner
tersebut dikatakan valid. b. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2012) reliabilitas adalah derajat konsistensi/ keajengan data dalam interval waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk menilai kestabilan ukuran dan konsistensi responden dalam menjawab kuesioner.
Kriteria pengujian reliabilitas sebagai berikut:
733
1) Apabila hasil koefisien Alpha lebih besar dari tahap signifikansi 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut reliabel.
2) Apabila hasil koefisien Alpha lebih kecil dari taraf signifikansi 60% atau 0,6 maka kuesioner tersebut tidak reliabel.
4. Regresi Linier Sederhana
Teknik ini digunakan bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen, bila hanya satu variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Jadi analisis regresi linear sederhana akan dilakukan bila jumlah variabel independennya hanya satu (Riduwan, 2009). Rumusnya adalah:
Ŷ = a+ b1X Keterangan:
Ŷ = Minat belajar Siswa a = Bilangan Konstan b = Koefisien Regresi
X = Skor variabel Tayangan laptop si unyil
5. Pengujian Hipotesis a. Uji Koefisien Pengaruh (t)
Uji parsial ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Tayangan laptop si unyil dengan Minat belajar Siswa Proses penilaiannya menggunakan software SPSS. Kaidah pengujian Signifikasi :
1) jika nilai signifikansi t < 0,05 maka , H0 ditolak dan H1 diterima (signifikan).
2) jika nilai signifikansi t > 0,05 maka , H0 diterima dan H1 ditolak (non signifikan).
b. Uji Hipotesis Koefisen Determinasi
Koefisien determinasi (R2) adalah untuk menafsirkan signifikansi koefisien korelasi yang dinyatakan dalam persen (%) variasi yang terjadi
dalam variabel disebabkan oleh variasi yang terjadi dalam variabel X.
Hasil Penelitian
Dilihat dari profil responden penelitian ini, responden gender wanita lebih sedikit dari responden pria yaitu sebesar 60 % untuk responden laki-laki dan 40% untuk responden perempuan, untuk berapa kali menonton dalam satu minggu sebanyak > 3 kali sebanyak 30 %.
1. Uji Validitas dan Reliabilitas
Indikator Penenelitian
Tabel 1. Variabel dan dimensi penelitian
VariabelDimensi
Tayangan laptop Intensitas si unyil Isi Pesan
Minat belajar Kognitif
Siswa Afektif
Hasil Uji Validitas dengan menggunakan SPSS dari pernyataan variabel Tayangan laptop si unyil (X), dan Minat belajar Siswa (Y) pada kuesioner menunjukkan bahwa nilai signifikan (2-tailed) kurang dari 0,05 untuk keseluruhan pernyataan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa semua butir pernyataan adalah valid.
Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
No Variabel Alpha Keterangan 1 Tayangan 0,782 Reliabel
laptop si unyil
3 Minat belajar 0,840 Reliabel Siswa
Sedangkan koefisien alpha cronbach > 0,60, berarti kuesioner yang disebarkan terhadap siswa adalah sah artinya pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan apa yang diukur oleh kuesioner tersebut, dan handal
734
karena jawaban tiap responden dianggap konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
2. Analisis Regresi Linear Sederhana
Perhitungan regresi linier berganda digunakan untuk memprediksi besarnya hubungan antara variabel terikat (dependen) yaitu Minat belajar Siswa (Y), dengan variabel bebas (independen) yaitu Tayangan laptop si unyil (X). Hasil regresi linier berganda dapat dilihat dibawah ini :
Tabel 3 Hasil Regresi Sederhana Coefficientsa
Unstandardized
Model Coefficients t Sig. B Std. Error (Constant) 1,124 0,247 4,541 0,000 1 Tayangan 0,529 0,107 4,956 0,000 laptop si unyil
a. Dependent Variable: Minat belajar Siswa Dari hasil pengolahan data diperoleh koefisien regresi dari tabel diatas sebagai berikut:
Ŷ = 1,124 + 0,529 (X)
Dari hasil persamaan regresi linier berganda diatas maka dapat diketahui bahwa :
a. Nilai konstanta 1,124, artinya jika Tayangan laptop si unyil (X) bernilai nol, maka nilai Minat belajar Siswa (Y) sebesar 1,124.
4. a.
b. Koefisien regresi variabel Tayangan laptop si unyil (X) menunjukan nilai positif yaitu 0,529. Hal ini menunjukan bahwa variabel Tayangan laptop si unyil (X) berpengaruh positif
terhadap peningkatan Minat belajar Siswa (Y), artinya semakin tinggi tingkat Tayangan laptop si unyil (X) akan menyebabkan semakin meningkatnya pula Minat belajar Siswa (Y).
3. Pengujian Hipotesis a. Uji Hipotesis t
Pengujian hipotesis ini untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh sendiri-sendiri terhadap variabel terikat
Tabel 4 Hipotesis t Coefficientsa Model Standardized t Sig
Coefficients Beta
1 (Constant) 4,541 0,000 Tayangan laptop ,480 4,956 0,000 si unyil
a. Dependent Variable: Minat belajar Siswa Dari hasil Uji t dari tabel 4 menujukkan bahwa terdapat 1 variabel independen (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen (Y). Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
Untuk variabel Tayangan laptop si unyil (X) memiliki nilai signifikansi 0,000. Nilai Sig t < 5 % (0,000 < 0,05). Dengan demikian pengujian Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini memperlihatkan bahwa Tayangan laptop si unyil (X) berpengaruh signifikan terhadap Minat belajar Siswa (Y). Adapun besarnya pengaruh adalah sebesar 0,480.
b. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi berganda (R2) digunakan untuk mengetahui besarnya sumbangan atau kontribusi dari keseluruhan variabel bebas pengaruhnya terhadap variabel terikat (Y), sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Hasil koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel berikut
735
Tabel 5 Hasil Koefisien Determinasi Model Summary
Model R R Square Adjusted R Std. Error of
Square the Estimate 1 ,480a ,230 ,221 0,5487
a. Predictors: (Constant), Tayangan laptop si unyil.
b. Dependent Variable: Minat belajar Siswa Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa
koefisien determinasi (R square) sebesar 0,480 atau 48%. Artinya variabel Y dijelaskan sebesar 48% oleh variabel Tayangan laptop si unyil (X), sedangkan sisanya sebesar 52% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini hanya terbatas pada 1 Tayangan televisi. Diharapkan peneliti – peneliti berikutnya melakukan penelitian dengan program tayangan yang berbeda
b. Penelitian yang kami lakukan terbatas pada Tayangan laptop si unyil untuk menilai Minat belajar Siswa
c. Sesuai dengan uji hipotesis di atas masih banyak variabel – variabel lain yang belum diteliti seperti identitas perusahaan, reputasi dll
d. Kuesioner yang kami lakukan sepenuhnya mendapatkan jawaban dari responden dan jawaban kuesioner tersebut tidak mendapatkan perasaan emosional dari responden.
e. Teori yang kami kaji terbatas pada 1 teori yang berasal dari penelitian para ahli, penambahan yang lebih lanjut
IV. PENUTUP 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pengaruh Tayangan laptop si unyil,
terhadap Minat belajar Siswa, maka dapat ditarik kesimpulan Variabel Tayangan laptop si unyil mempunyai pengaruh positif terhadap Minat belajar Siswa karena dari hasil uji hipotesis t nilai signifikansinya 0,000 < sig. 0,05 dan besar pengaruhnya sebesar 0,480.
2. Saran - saran
a. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap Minat belajar Siswa, disarankan Siswa perlu meningkatkan intensitas menonton dan focus terhadap isi pesan dari tayangan laptop si unyil agar Minat belajar Siswa dimata masyarakat meningkat.
b. Pihak Trans7 juga lebih meningkatkan durasi penayangan program laptop si unyil serta variasi isi tayangan sehingga para penonton khususnya anak-anak lebih tertarik untuk belajar ilmu pengetahuan
c. Penelitian mendatang sebaiknya menggunakan subyek penelitian yang tidak hanya satu program tayangan saja, untuk memungkinkan generalisasi hasil-hasil penelitian.
d. Penelitian mendatang sebaiknya menambahkan variabel lain yang mempengaruhi Minat belajar Siswa.
Ucapan Terima Kasih :
Kepada Allah SWT, Pihak Civitas Akademika Universitas Jenderal Soedirman, Anak, Suami, Orang Tua, Keluarga Besar Harian Pos Kota dan Para Sahabat; Wildan (Dosen), Romi (Wartawan Harian Terbit) dan Ikatan Sarjana KomUnikasi Indonesia (ISKI)).
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, Hendriati. 2006. Psikologi
Perkembangan. Bandung : PT Refika
Aditama. Ardianto, Elvinaro. 2007.
736
Suatu Pengantar. Bandung : Simbosa
Rekatama Media.
Ardianto, Elvinaro. 2009.
Public Relations
Praktis. Bandung : Widya Pajajaran.
Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian:
Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revisi).
Jakarta : Rineka Cipta.
Badjuri, Adi. 2010. Jurnalistik Televisi.
Yogyakarta Graha Ilmu
Cangara, H Hafied. 2008. Pengantar Ilmu
Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers
Gunarsa, D. Singgih. 2000. Psikologi
Praktis:
Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: PT
BPK Gunung Mulia.
Gerbner, Gross, Morgan, dan Signorielli, “Growing Up with Television: Cultivation Process” dalam Bryant, Jennings & Zillmann, Dolf (2002) Media Effects: Advances in Theory
and Research. New Jersey & London: Lawrance
Erlbaum Associates Publisher.
Hamzah B. Uno. 2007. Teori
motivasi &
pengukurannya: analisis bidang pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Hurlock, E. B. 2010. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Alih Bahasa Istiwidayanti dkk. Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
Jefkins, Frank. 2004. Public Relations (Edisi
Kelima). Jakarta: Erlangga.
Juhaya S Praja & Usman Efendi, Pengantar
Psikologi, (Bandung: Angkasa, 1984). hal
89
Kuswandi, Wawan, 2008. Komunikasi
massa, Sebuah Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Lamintang, Franciscus Theojunior 2013.
Pengantar Ilmu Broadcasting Dan Cinematography. Jakarta: Penerbit In Media.
McQuail, Dennis. 2011. Teori Komunikasi
Massa. Jakarta : Salemba Humanika
Muhibbin Syah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
Noor, Juliansyah. (2012). Metodologi Penelitian Skripsi. Tesis. Disertasi dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi
Massa.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Ragil, Muhammad Kurniawan., Gafur, Abdul. 2014. Peranan Siaran Televisi Edukasi Dalam Mendukung Terciptanya Sumber Dan Motivasi Belajar Bagi Siswa Smp Di Yogyakarta. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, Volume 1 - Nomor 1
Rakhmat, Jalaludin, 2003. Psikologi
Komunikasi, Bandung : Remaja Rosdakarya
Safari. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga kependidikan Slameto. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Sunardian Wirodono. 2005. Matikan Tv-Mu
Teror Media Televisi Di Indonesia. Yogyakarta:
Resist Book
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta. Sugiyono.
(2013). MetodePenelitian
Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,
737
Kualitatif, dan R & D. Bandung: Penerbit
Alfabeta
Tan, Alexis S. 1981. Mass communication
theories and research. Columbus: Grid
Publishing.
Undang Undang No 32 tahun 2002 tentang
Penyiaran
Yunanto, Sri J. 2004. Sumber belajar
anak