• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

DAFTAR UNDANGAN

FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir

Gedung Ex MA, 10 Juni 2015

1. Deputi PIP Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Badan Pengawasan Keuangan dan

Pembangunan

2. Kepala Direktorat Litbang, Badan Pemeriksa Keuangan

3. Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Kemendagri

4. Direktur Pendapatan dan Investasi Daerah, Kemendagri

5. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan

6. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

7. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Koperasi dan UKM

8. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup

9. Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan, Ditjen Kekayaan Negara

10. Direktur Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-Lain, Ditjen Kekayaan Negara

11. Direktur PPK Badan Layanan Umum, Ditjen Perbendaharaan

12. Kepala BPKD Pemprov DKI

13. Kepala DPKBD Pemerintah Kabupaten Tangerang

14. Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik

15. Direktur Keuangan BLU Lembaga Pengelola Dana Bergulir, Kementerian Koperasi dan

UKM

16. Direktur Keuangan BLU Badan Pengatur Jalan Tol

17. Direktur Keuangan BLU Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan

18. Direktur Keuangan BLU Pusat Pembiayaan Perumahan

(3)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

DAFTAR UNDANGAN

FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir

Gedung Ex MA, 10 Juni 2015

1. Dr. Binsar H. Simanjuntak, CMA, Ketua Komite Kerja

2. Drs. AB Triharta, Ak., MM., Wakil Ketua Komite Kerja

3. Sonny Loho, Ak., MPM., Sekretaris Komite Kerja

4. Dr. Jan Hoesada. , Anggota Komite Kerja

5. Yuniar Yanuar Rasyid, Ak., MM., Anggota Komite Kerja

6. Dr. Dwi Martani, Ak., Anggota Komite Kerja

7. Sumiyati, Ak., MFM, Anggota Komite Kerja

8. Firmansyah N. Nazaroedin, Ak., M.Sc., Anggota Komite Kerja

9. Drs. Hamdani, MM., M.Si., Ak., Anggota Komite Kerja

10. Edward U.P. Nainggolan, Ak., M.Ak., Ketua Kelompok Kerja

11. Mega Meilistya, SE., Ak., MBA., Wakil Ketua Kelompok Kerja

12. Moh. Hatta, Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja

13. Amdi Very Dharma, Ak., M.Acc., Anggota Kelompok Kerja

14. Drs. M. Agus Kristianto, Ak., MA, Anggota Kelompok Kerja

15. Chalimah Pujihastuti, SE., Ak., MAFIS, Anggota Kelompok Kerja

16. Yulia Candra Kusumarini SE, S.Sos, Anggota Kelompok Kerja

17. Hasanuddin, Ak., M., Ak., Anggota Kelompok Kerja

18. Syaiful, SE., Ak, MM., Anggota Kelompok Kerja

19. Hamim Mustofa, Ak., Anggota Kelompok Kerja

20. Heru Novandi, SE., Ak., Anggota Kelompok Kerja

21. Muliani Sulya F., SE., Anggota Kelompok Kerja

22. Zulfikar Aragani, SE., MM., Anggota Kelompok Kerja

23. Mugiya Wardhani, SE, M. Si. Anggota Kelompok Kerja

24. Rahmat Mulyono, SE., Ak., M. Acc. Anggota Kelompok Kerja

25. Lucia Widiharsanti, SE., M.Si., CFE., Anggota Kelompok Kerja

26. Dr. Mei Ling, SE., Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja

27. Jamason Sinaga, Ak., SIP, Anggota Kelompok Kerja

28. Kadek Imam Eriksiawan, M.Sc., Ak., M.Prof., Acc.,BAP., Anggota Kelompok Kerja

29. Slamet Mulyono, SE., Ak., M.Prof.Acc., Anggota Kelompok Kerja

30. Joni Afandi, SE., Ak., M.Si., Anggota Kelompok Kerja

31. Doddy Setiadi, Ak., MM., CPA., Anggota Kelompok Kerja

32. Budiman, SST., SE., MBA., Ak., Anggota Kelompok Kerja

33. Joko Supriyanto, SST.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

34. Mauritz Cristianus Raharjo Meta, SST., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

35. Endah Martiningrum, SE.Ak., MBA, CA., Anggota Kelompok Kerja

36. Dwinanto, SE.,Ak., Anggota Kelompok Kerja

37. Isa Ashari Kuswandono, SE.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

38. Ahmad Fauzi, SE., Anggota Kelompok Kerja

(4)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

SUSUNAN ACARA

FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir

Gedung Ex MA, 10 Juni 2015

WAKTU ACARA NARASUMBER/PETUGAS

12.00 - 13.00 Registrasi dan Santap Siang Panitia

13.00 – 13.15 Pembukaan Panitia

13.15 – 13.45

Sambutan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah selaku Wakil Ketua Komite Konsultatif sekaligus membuka secara resmi acara Limited Hearing

Wakil Ketua Komite Konsultatif KSAP

13.45 – 14.00 Pembacaan Doa Panitia

14.00 – 14.30 Pemaparan Draf Bultek Akuntansi

Dana Bergulir KSAP

14.30 – 16.00 Diskusi dan Tanya Jawab KSAP dan Peserta

(5)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

LEMBAR KONFIRMASI

Instansi : ... Nomor telepon/fax : ... Nomor ponsel : ...

Berikut adalah nama peserta yang akan hadir pada acara

Focus Group Discussion (FGD) Draf

Bultek Akuntansi Dana Bergulir

yang diselenggarakan pada:

Hari/tanggal : Rabu, 10 Juni 2015 Waktu : Pukul 12.00 – selesai Tempat : Ruang Ex MA

Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Jalan Lapangan Banteng Timur – Jakarta Pusat

No. NAMA JABATAN

1.

2.

..., Juni 2015

Nama: ...

Catatan: lembar konfirmasi harap difax ke (

021) 3864776

Kontak person: Zulfikar di 081385047137

(6)

OMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

AKUNTANSI

DANA BERGULIR

BULETIN TEKNIS

STANDAR AKUNTANSI

PEMERINTAHAN

NOMOR XX

(7)

BULETIN TEKNIS

STANDAR AKUNTANSI

PEMERINTAHAN

AKUNTANSI

DANA BERGULIR

NOMOR XX

(8)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

Sekretariat :

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III, Lantai 2

Jl. Budi Utomo No. 6 Jakarta 10710, Indonesia

Telepon/Faksimile : +62 21 3524551

http://www.ksap.org

e-mail : [email protected]

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Dasar Hukum dan Tujuan 2

BAB II PENGERTIAN DAN MEKANISME PENYALURAN DANA BERGULIR 3

A. Pengertian dan Karakteristik Dana Bergulir 3

B. Mekanisme Penyaluran Dana Bergulir 3

BAB III AKUNTANSI DAN PELAPORAN DANA BERGULIR 5

A. Akuntansi Anggaran Dana Bergulir 5

B. Akuntansi Pengeluaran Dana Bergulir 7

C. Akuntansi Perguliran Dana Bergulir 10

D. Akuntansi Penagihan Dana Bergulir 11

E. Akuntansi Perguliran Kembali Dana Bergulir 19

BAB IV AKUNTANSI PIUTANG DANA BERGULIR 25

A. Piutang Pinjaman - Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman B. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir

C. Penyisihan Piutang Dana Bergulir

D. Penghentian Pengakuan Piutang Pinjaman – Dana Bergulir

25 26 27 31 BAB VI KESIMPULAN 35 DAFTAR PUSTAKA 36

(10)

BAB I 1 PENDAHULUAN 2 3 A. Latar Belakang 4

Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat maupun 5

peningkatan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah melakukan upaya-upaya untuk 6

mendukung dan memberikan kemudahan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan 7

adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pemberdayaan ini diselenggarakan 8

secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang 9

kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan 10

usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha 11

Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan 12

peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. 13

Untuk itu, dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat, 14

pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengguliran dana untuk membantu permodalan 15

usaha menengah, kecil, mikro dan koperasi. Dalam perkembangannya pengguliran dana ini 16

meliputi usaha skala besar yang dilayani oleh badan usaha khususnya untuk bidang usaha 17

yang pendanaannya tidak menarik bagi lembaga keuangan bank maupun non bank. Selain itu 18

dana bergulir tidak hanya untuk pengembangan usaha, namun juga digunakan untuk beberapa 19

aktivitas lainnya seperti dana bergulir kepemilikan perumahan bagi masyarakat ekonomi lemah, 20

maupun aktivitas lainnya yang mendukung peningkatan pelayanan publik maupun peningkatan 21

kesejahteraan masyarakat. 22

Di sisi lain, tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara 23

termasuk dana bergulir semakin meningkat. Pengelolaan Dana bergulir harus 24

dipertanggungjawabkan mulai perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. Dengan 25

diimplementasikannya sistem akuntansi berbasis akrual, Entitas yang ada di Pemerintah Pusat 26

dan Pemerintah Daerah dalam menyusun laporan keuangannya harus berpedoman pada 27

Standar Akuntansi Pemerintahan. 28

Namun, pada SAP tidak terdapat Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang 29

secara khusus mengatur akuntansi dana bergulir. Pedoman yang lebih khusus berupa Buletin 30

Teknis Akuntansi Dana Bergulir diharapkan mampu melengkapi dalam usaha untuk 31

meningkatkan akuntanbilitas dan transparansi pengelolaan dana bergulir. 32

33

B. Dasar Hukum dan Tujuan 34

Penyusunan Buletin Teknis ini berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 35

2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan peraturan yang 36

mengatur tentang dana bergulir, pembiayaan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan 37

pelaksanaan anggaran antara lain: 38

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. 39

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 40

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 41

Buletin Teknis ini disusun dengan tujuan agar terdapat kesamaan pemahaman dan 42

persepsi tentang Dana Bergulir pada lingkungan pemerintah dan juga sebagai pedoman 43

dalam mengakui, mengklasifikasikan, mengukur, dan menyajikan serta mengungkapkan Dana 44

(11)

Bergulir. Disamping itu, dapat dijadikan acuan bagi instansi pemerintah pusat dan daerah yang 45

menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU/BLUD) dalam melakukan 46

akuntansi dan pelaporan untuk tujuan konsolidasi dengan laporan keuangan kementerian 47

negara/lembaga/pemerintah daerah. 48

Buletin Teknis ini menjelaskan secara detail mengenai: 49 1. Defenisi; 50 2. Pengakuan; 51 3. Pengukuran; dan 52

4. Penyajian dan Pengungkapan. 53

Untuk memberikan gambaran mengenai penerapan akuntansi dana bergulir, Buletin 54

Teknis ini juga dilengkapi dengan contoh transaksi yang dilengkapi dengan ilustrasi jurnal. 55

Ilustrasi jurnal pada Pemerintah Pusat disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, sedangkan 56

untuk ilustrasi jurnal pada pemerintah daerah didasarkan pada praktek akuntansi yang umum 57

berlaku, karena sistem akuntansi pada satu pemerintah daerah dapat berbeda dengan 58

pemerintah daerah lainnya. 59

(12)

BAB II 1

PENGERTIAN DAN MEKANISME PENYALURAN DANA BERGULIR 2

3

A. Pengertian dan Karakteristik Dana Bergulir 4

Dana bergulir merupakan dana yang dipinjamkan untuk dikelola dan digulirkan kepada 5

masyarakat oleh Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran yang bertujuan 6

meningkatkan ekonomi rakyat dan tujuan lainnya. Adapun karakteristik dari dana bergulir 7

adalah sebagai berikut: 8

1. Dana tersebut merupakan bagian dari keuangan negara/daerah. 9

Dana bergulir dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran 10

Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) dan luar APBN/APBD misalnya dari 11

masyarakat atau hibah dari luar negeri. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 12

2003 tentang Keuangan Negara, dana bergulir yang berasal dari luar APBN, diakui sebagai 13

kekayaan negara/daerah jika dana itu diberikan dan/atau diterima atas nama 14

pemerintah/pemerintah daerah. 15

2. Dana tersebut dicantumkan dalam APBN/APBD dan/atau laporan keuangan. 16

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 17

menyatakan semua pengeluaran negara/daerah dimasukkan dalam APBN/APBD. Oleh 18

sebab itu alokasi anggaran untuk dana bergulir harus dimasukkan ke dalam APBN/APBD. 19

Pencantuman alokasi anggaran untuk dana bergulir dapat dicantumkan dalam APBN/APBD 20

awal atau revisi APBN/APBD (APBN-P atau APBD Perubahan) 21

3. Dana tersebut harus dikuasai, dimiliki dan/atau dikendalikan oleh Pengguna 22

Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA). 23

Pengertian dikuasai dan/atau dimiliki mempunyai makna yang luas yaitu PA/KPA 24

mempunyai hak kepemilikan atau penguasaan atas dana bergulir, sementara dikendalikan 25

maksudnya adalah PA/KPA mempunyai kewenangan dalam melakukan pembinaan, 26

monitoring, pengawasan atau kegiatan lain dalam rangka pemberdayaan dana bergulir. 27

4. Dana tersebut merupakan dana yang disalurkan kepada masyarakat ditagih kembali dari 28

masyarakat dengan atau tanpa nilai tambah, selanjutnya dana disalurkan kembali kepada 29

masyarakat/kelompok masyarakat demikian seterusnya (bergulir). 30

5. Pemerintah dapat menarik kembali dana bergulir. 31

Dana yang digulirkan oleh pemerintah dapat ditagih oleh Pemerintah baik untuk dihentikan 32

pergulirannya atau akan digulirkan kembali kepada masyarakat. 33

34

B. Mekanisme Penyaluran Dana Bergulir 35

Dana bergulir dapat disalurkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah 36

untuk mendorong pertumbuhan perekonomian, dan peningkatan pelayanan pemerintah. 37

Penyaluran Dana Bergulir dilakukan oleh Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-38

undangan dapat melakukan pengelolaan dana bergulir dengan mekanisme sebagai berikut: 39

1. Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan 40

dana bergulir mendapat alokasi dana dari APBN/APBD yang tercantum dalam dokumen 41

pelaksanaan anggaran (DIPA/DPA). 42

(13)

2. Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan 43

dana bergulir mengajukan pencairan dana kepada Bendahara Umum Negara/Bendahara 44

Umum Daerah (BUN/BUD). 45

3. Penyaluran dana bisa dilakukan secara langsung oleh Entitas yang sesuai dengan 46

ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan dana bergulir. 47

4. Dana yang disalurkan tersebut merupakan pinjaman yang harus dikembalikan oleh 48

debitur/masyarakat peminjam kepada satuan kerja baik melalui lembaga lain atau langsung 49

kepada satuan kerja pemerintah yang bersangkutan. 50

5. Satuan kerja melakukan pengelolaan dana, pengendalian dan penagihan dana dari 51

masyarakat, menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat/kelompok masyarakat, 52

serta melaporkan dan mempertanggungjawabkan dana tersebut. 53

(14)

BAB III 1

AKUNTANSI DAN PELAPORAN DANA BERGULIR 2

3

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

4

mengisyaratkan bahwa setiap pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran (PA/KPA) wajib 5

menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan atas transaksi keuangannya. 6

Demikian juga Menteri Keuangan dan Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah 7

selaku Bendahara Umum Negara (BUN)/Bendahara Umum Daerah (BUD) wajib 8

menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan arus kas yang berisikan informasi arus 9

masuk dan arus keluar uang ke/dari Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah. Untuk 10

mengakomodasi kebutuhan tersebut, Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah 11

mengembangkan Sistem Akuntansi Pemerintah yang minimal terdiri dari 2 (dua) subsistem 12

akuntansi yaitu sistem akuntansi instansi (akuntansi di PA/KPA) dan sistem akuntansi pada 13

kas umum negara/kas daerah (akuntansi di BUN/BUD). 14

Sistem akuntansi instansi/SKPD merupakan sistem akuntansi yang mencatat transaksi 15

pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) untuk menghasilkan Laporan 16

Realisasi Anggaran, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) dan Neraca 17

termasuk juga PA/KPA yang menguasai transaksi pembiayaan di mana transaksi pembiayaan 18

tersebut harus dikelola tersendiri. Untuk menghasilkan laporan keuangan tersebut, sistem 19

akuntansi instansi/SKPD hendaknya mempunyai dua sub sistem pencatatan yaitu pencatatan 20

Basis Kas untuk menghasilkan menghasilkan LRA yang pengakuan transaksinya berdasarkan 21

uang yang masuk atau keluar dari kas negara/daerah, dan pencatatan Basis Akrual yang 22

dilaksanakan untuk menghasilkan LO, LPE dan Neraca yang mengakui pengaruh transaksi 23

dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat 24

kas atau setara kas diterima atau dibayar. 25

Sistem akuntansi pada kas umum negara/daerah merupakan sistem akuntansi yang 26

mencatat transaksi penerimaan dan pengeluaran uang dari/ke Rekening Kas Umum 27

Negara/Kas Daerah. Sistem akuntansi pada Kas Umum Negara/Kas Daerah akan 28

menghasilkan Laporan Arus Kas. 29

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah yang terdiri dari Laporan Realisasi 30

Anggaran, Laporan Perubahan SAL, LO, LPE, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas 31

Laporan Keuangan adalah merupakan gabungan laporan keuangan seluruh PA ditambah 32

laporan arus kas yang dihasilkan oleh BUN/BUD. 33

34

A. Akuntansi Anggaran Dana Bergulir 35

Salah satu karakteristik akuntansi pemerintahan adalah peranan anggaran yang sangat 36

penting untuk evaluasi kinerja dan pengendalian. Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu 37

penyelenggaraan akuntansi anggaran. Laporan yang dihasilkan dari akuntansi anggaran 38

adalah Laporan Realisasi Anggaran, yang berisikan informasi realisasi pendapatan, belanja 39

dan pembiayaan diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode. Laporan Realisasi 40

Anggaran tersebut merupakan statutory report atau sering juga disebut budgetary report. 41

Akuntansi anggaran hanya terdapat pada sistem akuntansi instansi/SKPD yang dilaksanakan 42

oleh PA/KPA, meliputi akuntansi anggaran pendapatan, belanja, penerimaan pembiayaan dan 43

pengeluaran pembiayaan. Adapun jurnal untuk akuntansi anggaran adalah sebagai berikut: 44

(15)

Akuntansi anggaran pendapatan: 45

Estimasi Pendapatan Rp xxx

46

Estimasi Perubahan SAL Rp xxx

47

(untuk mencatat alokasi anggaran pendapatan)

48 49

Akuntansi anggaran belanja: 50

Estimasi Perubahan SAL Rp xxx

51

Allotment Belanja Rp xxx

52 53

Akuntansi anggaran penerimaan pembiayaan: 54

Estimasi Penerimaan Pembiayaan Rp xxx 55

Estimasi Perubahan SAL Rp xxx

56 57

Akuntansi anggaran pengeluaran pembiayaan: 58

Estimasi Perubahan SAL Rp xxx

59

Allotment Pengeluaran Pembiayaan Rp xxx 60

61

Jurnal Akuntansi Anggaran di atas adalah ilustrasi, Pemerintah dapat mengembangkan jurnal 62

anggaran sesuai sistem akuntansi yang ditetapkan Pemerintah. 63

Akuntansi anggaran hanya dicatat pada sistem akuntansi instansi/SKPD sedangkan sistem 64

akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah tidak mencatat transaksi anggaran karena alokasi 65

anggaran belum mempengaruhi kas di Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah. 66

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 lampiran I tentang Standar Akuntansi 67

Pemerintahan Berbasis Akrual, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) 6, 68

Akuntansi Investasi, paragraf 16 huruf (c) menyatakan bahwa dana yang disisihkan pemerintah 69

dalam rangka pelayanan masyarakat, seperti bantuan modal kerja secara bergulir kepada 70

kelompok masyarakat, dimasukkan dalam kelompok investasi jangka panjang non permanen. 71

Lebih lanjut Paragraf 21 PSAP 6, Akuntansi Investasi, menyatakan bahwa pengeluaran 72

anggaran untuk perolehan investasi jangka panjang diakui sebagai Pengeluaran Pembiayaan. 73

Konsekuensinya adalah pemerintah harus mengakui pengeluaran untuk dana bergulir sebagai 74

pengeluaran pembiayaan baik dalam dokumen penganggaran, pelaksanaan anggaran maupun 75

laporan keuangan pemerintah. Selanjutnya, pemerintah juga harus mencatat adanya perolehan 76

aset berupa Investasi Jangka Panjang Non Permanen - Dana Bergulir sebesar perolehan atau 77

pengeluaran pembiayaan yang dilakukan. 78

Contoh: Pemerintah Kabupaten ABC mengalokasikan anggaran untuk dana bergulir 79

pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) BUD Kabupaten ABC Tahun Anggaran 2015 80

adalah sebesar Rp 15 miliar. Dana tersebut dimaksudkan untuk perkuatan modal Koperasi, 81

Usaha Kecil dan Menengah (KUKM). Adapun jurnal anggaran pengeluaran dana bergulir yang 82

dibuat pada awal tahun 2015 adalah sebagai berikut: 83

Sistem akuntansi instansi: 84

Estimasi Perubahan SAL Rp 15 miliar 85

Allotment Pengeluaran Pembiayaan Rp 15 miliar 86

87 88

(16)

Sistem akuntansi pada unit perbendaharaan umum: 89

Sistem akuntansi kas daerah tidak mencatat alokasi anggaran untuk dana bergulir karena 90

alokasi anggaran tersebut belum mempengaruhi kas daerah Kabupaten ABC. 91

92

Dalam rangka meningkatkan manajemen dana bergulir, dapat dibentuk Kuasa 93

Pengguna Anggaran (KPA) di kementerian/lembaga/SKPD. KPA tersebut berfungsi sebagai 94

entitas akuntansi yang mempunyai kewajiban secara periodik untuk menyampaikan Laporan 95

Keuangan yang berisikan transaksi dana kepada Pengguna Anggaran (PA). 96

Sesuai dengan karakteristiknya, dana bergulir dikelola oleh satuan kerja dengan pola 97

pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU/BLUD). Satker BLU tersebut dapat 98

merupakan KPA BUN/BUD sebagai pengguna anggaran dana bergulir. 99

100

B. Akuntansi Pengeluaran Dana Bergulir 101

Dana bergulir adalah merupakan salah satu bentuk investasi pemerintah oleh karena 102

itu, sesuai dengan ketentuan, alokasi anggaran dana bergulir berada di BUN/BUD. Namun 103

dalam pelaksanaannya, pengelolaan dana bergulir dapat didelegasikan kepada Kementerian 104

Negara/Lembaga/SKPD. Pengeluaran dana bergulir diakui sebagai pengeluaran pembiayaan 105

pada saat kas keluar dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah 106

107

Ilustrasi jurnal untuk mencatat pengeluaran dana bergulir pada Pemerintah Pusat adalah 108

sebagai berikut: 109

Jurnal ini adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi pengeluaran 110

dana bergulir, Pemerintah Pusat dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem akuntansi yang 111

ditetapkan. 112

Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 113

a. Basis Akrual 114

Pada saat realisasi Pengeluaran Pembiayaan dana bergulir, maka akan dijurnal: 115

116

Investasi Jk Panjang Non Permanen - Dana Bergulir xxx 117 Akun Antara xxx 118 119 b. Basis Kas 120

Pencatatan hanya dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas Umum Negara 121

yaitu saat diterbitkannya SP2D/ dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal yang dibuat 122

adalah 123

124

Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxx 125

Akun Antara xxx

126 127

Pencatatan oleh BLU: 128

a. Basis Kas 129

Satker BLU tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DIPA 130

pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada BA BUN. 131

132

b. Basis Akrual 133

(17)

Pada basis akrual, penerimaan kas pada BLU yang berasal dari pembiayaan dana 134

bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun jurnalnya adalah 135

Kas Lainnya dan Setara Kas BLU xxxx 136

Ekuitas xxxx

137 138

Pencatatan oleh Unit Perbendaharaan Umum/Kas Umum Negara: 139

Pengeluaran Dana Bergulir dari Rekening Kas Umum Negara dicatat untuk menghasilkan 140

Laporan Arus Kas. Adapun jurnalnya adalah : 141

Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxxx

142

Kas di RKUN xxxx

143 144

Contoh : Pada tahun anggaran 2015, APBN melalui Bagian Anggaran Bendahara Umum 145

Negara (BA BUN) mengalokasikan anggaran untuk dana bergulir sebesar Rp 150 miliar. Dana 146

bergulir tersebut akan dikelola oleh BLU A, Kementerian A. Pada tahun 2015, dana bergulir 147

tersebut disalurkan kepada penerima dana. 148

Penjelasan : 149

Atas transaksi pengeluaran investasi ini, BLU A dan Kementerian A tidak akan melakukan 150

pencatatan karena pengalokasian dananya ada pada BA BUN bukan pada Kementerian A. 151

DIPA BLU A sebagai satker Kementerian A hanya mengalokasikan anggaran pendapatan dan 152

belanja BLU. 153

BLU mencatat penerimaan kas atas dana bergulir sebagai kas lainnya dan setara kas pada 154

neraca. Sedangkan BA BUN sebagai KPA pengeluaran pembiayaan dana bergulir akan 155

mencatat investasi tersebut sebagai invesasi jangka panjang non permanen-dana bergulir. 156

Pengeluaran investasi dana bergulir tersebut akan dicatat sebagai aktivitas investasi pada LAK 157

BUN dan aktivitas pendanaan pada LAK BLU. 158

159

Akuntansi pada BA BUN : 160

a. Basis Kas 161

Pencatatan dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas Umum Negara yaitu 162

saat diterbitkannya SP2D/dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal yang dibuat adalah 163

sebagai berikut : 164

165

Pengeluaran Pembiayaan-Inv Jk Panjang - Dana Bergulir 150 miliar 166

Akun Antara 150 miliar

167 168

b. Basis Akrual 169

Pada Basis akrual, pengeluaran dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun 170

jurnal pengeluaran dana bergulir tersebut sebagai berikut : 171

172

Investasi Jk Panjang Non Permanen - Dana Bergulir 150 miliar 173

Akun Antara 150 miliar

174 175

Akuntansi pada satker BLU A: 176

a. Basis Kas 177

Satker BLU A tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DIPA 178

pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada BA BUN 179

180

b. Basis Akrual 181

(18)

Pada Basis akrual, pengeluaran dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun 182

jurnal penerimaan dana bergulir oleh BLU tersebut sebagai berikut: 183

184

Kas Lainnya dan Setara Kas BLU 150 miliar

185

Ekuitas 150 miliar

186 187

Akuntansi pada unit perbendaharaan umum/kas umum negara: 188

Untuk menghasilkan laporan arus kas, sistem kas umum negara mencatat pengeluaran 189

pembiayaan tersebut sebagai berikut: 190

191

Pengeluaran pembiayaan -Dana Bergulir 150 miliar 192

Kas di RKUN 150 miliar 193

194

Ilustrasi jurnal untuk mencatat pembiayaan dana bergulir pada Pemerintah Daerah adalah 195

sebagai berikut : 196

Pencatatan oleh BUD: 197

a. Basis Kas 198

Pencatatan hanya dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas di Kas Daerah 199

yaitu saat diterbitkannya SP2D/ dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal untuk transaksi 200

tersebut adalah : 201

202

Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxx

203

Estimasi Perubahan SAL xxx

204 205

b. Basis Akrual 206

Pada saat realisasi pengeluaran pembiayaan dana bergulir, maka akan dijurnal : 207

208

Investasi Jangka Panjang Non Permanen - Dana Bergulir xxx 209

Kas di Kas Daerah xxx

210 211 212

Pencatatan oleh BLUD : 213

a. Basis Kas 214

Satker BLUD tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DPA 215

pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada PPKD 216

217

b. Basis Akrual 218

Pada Basis akrual, penerimaan pembiayaan dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. 219

Adapun jurnalnya adalah : 220

221

Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxxx 222

Ekuitas xxxx

223 224

Akuntansi pada unit perbendaharaan umum/kas umum daerah : 225

Untuk menghasilkan laporan arus kas, sistem kas umum daerah mencatat pengeluaran 226

pembiayaan tersebut sebagai berikut: 227

228

Pengeluaran pembiayaan -Dana Bergulir xxxx 229

Kas di RKUD xxxx

230 231

(19)

Jurnal di atas adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi 232

pengeluaran dana bergulir, Pemerintah Daerah dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem 233

akuntansi yang ditetapkan. 234

235

C. Akuntansi Pengguliran Dana Bergulir 236

Setelah BLU menerima kas dari BA BUN/D untuk investasi dana bergulir dari 237

APBN/APBD, dana tersebut harus disalurkan oleh BLU/D kepada masyarakat. Oleh sebab itu, 238

akuntansi atas pengguliran dana bergulir hanya dilakukan oleh BLU/D, tidak mempengaruhi 239

akuntansi pada BA BUN/BUD (pengguna anggaran dana bergulir) dan sistem akuntansi kas 240

umum negara/daerah. 241

Dana bergulir yang disalurkan oleh BLU/D kepada masyarakat diakui sebagai piutang 242

dana bergulir. Piutang dana bergulir diakui pada saat pinjaman diterima oleh debitur dan/atau 243

perjanjian/akad dana bergulir ditandatangani. 244

Adapun Ilustrasi jurnal untuk mencatat pengguliran dana bergulir kepada masyarakat 245

adalah sebagai berikut : 246

247

Pencatatan oleh BLU/D 248

Piutang - Dana bergulir xxx

249

Kas Lainnya Setara kas BLU/D xxx

250 251

Contoh: Unit Pengelola Dana Bergulir (UPDB) Kabupaten ABC yang berstatus BLUD, 252

menerima dana bergulir dari APBD sebesar Rp150 miliar. Dari alokasi dana tersebut, 253

disalurkan kepada masyarakat sebesar Rp100 miliar. Adapun akuntansi penyaluran dana 254

bergulir adalah sebagai berikut: 255 256 Pada UPDB 257 1. Basis Kas 258

BLU UPDB tidak melakukan pencatatan pada sistem akuntansi basis kas karena 259

transaksi tersebut bukan merupakan pengeluaran/belanja yang dialokasikan pada DPA. 260

261

2. Basis Akrual 262

BLU UPDB mencatat penyaluran dana bergulir kepada masyarakat sebagai berikut: 263

264

Piutang - Dana bergulir 100 miliar

265

Kas Lainnya dan setara kas BLUD 100 miliar

266 267

Pada BUD 268

Tidak ada jurnal 269

270

BUD sebagai Pengguna Anggaran pengeluaran pembiayaan dana bergulir tidak mencatat 271

penyaluran dana yang dilakukan oleh BLUD UPDB kepada masyarakat karena dana yang 272

disalurkan oleh BLUD, bukan merupakan pengeluaran yang berasal dari DPA BUD. 273

Pengeluaran dana bergulir telah dicatat oleh BUD pada saat penerbitan SP2D. 274

275

D. Akuntansi Penagihan Dana Bergulir 276

Salah satu karakteristik dana bergulir adalah dana tersebut disalurkan kepada 277

masyarakat dan akan dikembalikan kepada satker yang mengelola dana bergulir. 278

Pengembalian dana tersebut dapat dilakukan dengan cicilan atau pengembalian sekaligus. 279

(20)

Dana bergulir yang ditarik dari masyarakat terdiri dari dua unsur yaitu dana yang berasal dari 280

pinjaman pokok dan pendapatan. Pendapatan dapat berupa bunga, bagi hasil, dan pendapatan 281

lainnya. 282

Besaran cicilan pokok yang dibayar oleh masyarakat adalah sebesar pinjaman dana 283

yang diterima dengan memperhitungkan jangka waktu pengembalian. Sementara itu besaran 284

pendapatan yang dibayar kepada satker pengelola dana bergulir adalah sebesar suku bunga 285

atau bagi hasil yang disepakati antara penerima dana dengan satker pengelola dana bergulir. 286

Perlakuan akuntansi untuk penerimaan cicilan pokok dana bergulir dan pendapatan dari 287

dana bergulir merupakan hal yang berbeda. Satker pengelola dana bergulir menerima 288

pengembalian dana bergulir dari masyarakat, maka satker tersebut harus dapat memisahkan 289

berapa dari dana tersebut yang merupakan cicilan pokok pinjaman dan bunga. Ilustrasi 290

pencatatan akuntansi untuk Pemerintah Pusat dalam mencatat penerimaan ciclian pokok 291

adalah sebagai berikut: 292

293

Pencatatan oleh BLU: 294

295

a. Basis Kas 296

Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir, BLU tidak melakukan pencatatan karena 297

transaksi ini tidak tercantum di DIPA satker BLU. 298

299

b. Basis Akrual 300

301

Kas Lainnya dan Setara Kas xxx

302

Piutang - Dana Bergulir xxx

303 304

Pencatatan oleh BUN : 305

306

a. Basis Kas 307

Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi ini 308

tidak tercantum di DIPA satker BLU. 309

310

b. Basis Akrual 311

Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi 312

tersebut hanya mempengaruhi pencatatan pada BLU. 313

314 315

Pada unit perbendaharaan umum/kas umum negara 316

Tidak ada pencatatan atas transaksi penerimaan dana bergulir oleh BLU/D pada sistem kas 317

umum negara karena tidak ada penerimaan kas pada kas umum negara/daerah atas transaksi 318

tersebut. 319

320

Jurnal di atas adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi 321

pengeluaran dana bergulir, Pemerintah Pusat dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem 322

akuntansi yang ditetapkan. 323

Ilustrasi untuk pencatatan pada Pemerintah daerah adalah sebagai berikut: 324

Pencatatan oleh BLUD: 325

326

a. Basis Kas 327

(21)

Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir, tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok 328

dana bergulir pada akuntansi basis kas karena transaksi ini tidak tercantum di DPA satker 329 BLUD. 330 331 b. Basis Akrual 332 333

Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxx

334

Piutang - Dana Bergulir xxx

335 336

Pencatatan oleh BUD : 337

338

a. Basis Kas 339

Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi ini 340

tidak tercantum di DIPA satker BLUD. 341

342

b. Basis Akrual 343

Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUD karena transaksi 344

tersebut hanya mempengaruhi pencatatan pada BLUD. 345

346

2. Akuntansi Pendapatan dari Dana Bergulir. 347

Pendapatan atas bunga diakui dari piutang dana bergulir yang mempunyai kualitas lancar. 348

Hal ini dilakukan untuk menghindari pengakuan pendapatan yang tidak sesuai dengan 349

keadaan yang sebenarnya. Pendapatan atas bunga dari piutang dana bergulir yang 350

memiliki kualitas selain lancar diakui pada saat kas diterima. Prinsip pengakuan ini sejalan 351

dengan prinsip kehati-hatian dan konservatisme. 352

353

Ilustrasi akuntansi pendapatan dana bergulir untuk Pemerintah Pusat adalah sebagai berikut: 354

355

Pencatatan oleh BLU : 356

357

a. Basis Kas 358

Pengakuan pendapatan dana bergulir dilakukan pada saat pendapatan tersebut disahkan 359

oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (BUN) pada Pemerintah Pusat dengan 360

jurnal sebagai berikut : 361

Akun Antara xxx

362

Pendapatan Bunga - LRA xxx

363 364

Dalam hal pendapatan BLU sudah diterima tetapi belum disahkan maka pendapatan 365

tersebut tidak diakui sebagai pendapatan pada LRA. 366

367

b. Basis Akrual 368

Pengakuan pendapatan-LO dana bergulir dilakukan pada saat BLU sudah mempunyai hak 369

atas pendapatan tersebut. Jurnal untuk mencatat pendapatan tersebut adalah sebagai 370 berikut : 371 372 Piutang Bunga xxx 373 Pendapatan Bunga - LO xxx 374 375

Pada saat pelunasan piutang, BLU akan melakukan pencatatan sebagai berikut : 376

(22)

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 377

Piutang Bunga xxx

378 379

Dalam hal BLU sudah menerima kas dari pendapatan tetapi belum mengesahkannya ke 380

unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan maka jurnalnya sebagai berikut : 381

382

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 383

PendapatanBunga - LO xxx

384 385

Setelah disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, maka jurnalnya 386 adalah: 387 388 Kas di BLU xxx 389

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 390

391

Perlu pembedaan antara penerimaan pendapatan BLU yang sudah disahkan dan yang 392

belum disahkan ke unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, agar BLU segera 393

mengesahkan pendapatannya. 394

395

Pencatatan pada BUN 396

Tidak ada pencatatan penerimaan pendapatan dana bergulir oleh BUN karena pendapatan 397

dimaksud bukan merupakan pendapatan pada BUN sebagai Pengguna Anggaran dana 398

bergulir. 399

400

Pencatatan pada kas umum negara 401

Pencatatan pendapatan pada kas umum negara adalah sebagai berikut: 402 403 Kas di BLU xxx 404 Pendapatan Bunga xxx 405 406

Jurnal di atas dibuat tergantung sistem akuntansi yang diterapkan oleh entitas. Dalam hal 407

laporan arus kas pemerintah pusat/daerah dihasilkan dari konsolidasian laporan arus kas BLU 408

dan laporan arus kas BUN (sebagai pengelola kas), maka jurnal di atas tidak diperlukan. 409

410

Pendapatan BLU yang sudah diterima tetapi belum disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi 411

perbendaharaan, pendapatan tersebut tidak disajikan pada laporan arus kas BUN, tetapi 412

disajikan pada laporan arus kas BLU. Ketika konsolidasian laporan arus kas BLU ke laporan 413

arus kas pemerintah, pendapatan yang belum disahkan tersebut tidak dikonsolidasikan. 414

415

Ilustrasi Akuntansi Pendapatan dari Dana Bergulir untuk Pemerintah Daerah adalah sebagai 416

berikut : 417

418

Pencatatan oleh BLUD : 419

420

a. Basis Kas 421

Pengakuan pendapatan dana bergulir dilakukan pada saat pendapatan tersebut disahkan 422

oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan dengan jurnal sebagai berikut : 423

Estimasi Perubahan SAL xxx

424

Pendapatan Bunga - LRA xxx

425

(23)

Dalam hal pendapatan BLUD sudah diterima tetapi belum disahkan maka pendapatan 426

tersebut tidak diakui sebagai pendapatan pada LRA, tetapi diakui di LO. 427

428

b. Akuntansi Berbasis Akrual 429

Pengakuan pendapatan-LO dana bergulir dilakukan pada saat BLUD sudah mempunyai 430

hak atas pendapatan tersebut. Jurnal untuk mencatat pendapatan tersebut adalah sebagai 431 berikut : 432 Piutang Bunga xxx 433 Pendapatan Bunga - LO xxx 434 435

Pada saat pelunasan piutang, BLUD akan melakukan pencatatan sebagai berikut : 436

437

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 438

Piutang Bunga xxx

439 440

Dalam hal BLUD sudah menerima kas dari pendapatan tetapi belum mengesahkannya ke 441

unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan maka jurnalnya sebagai berikut : 442

443

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 444

Pendapatan Bunga - LO xxx

445 446

Setelah disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, maka jurnalnya 447 adalah : 448 449 Kas di BLUD xxx 450

Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 451

452 453

Pencatatan pada BUD 454

Tidak ada pencatatan penerimaan pendapatan dana bergulir oleh BUD karena pendapatan 455

dimaksud bukan merupakan pendapatan pada BUD sebagai Pengguna Anggaran dana 456

bergulir. 457

458

Pencatatan pada kas umum daerah 459

Pencatatan pendapatan pada kas umum daerah adalah sebagai berikut: 460 461 Kas di BLUD xxx 462 Pendapatan Bunga xxx 463 464

Jurnal di atas dibuat tergantung sistem akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah daerah. 465

Dalam hal laporan arus kas pemerintah daerah dihasilkan dari konsolidasian laporan arus kas 466

BLUD dan laporan arus kas BUD (sebagai pengelola kas), maka jurnal di atas tidak diperlukan. 467

468

Pendapatan BLUD yang sudah diterima tetapi belum disahkan oleh unit yang mempunyai 469

fungsi perbendaharaan, pendapatan tersebut tidak disajikan pada laporan arus kas BUD, tetapi 470

disajikan pada laporan arus kas BLUD. Ketika konsolidasian laporan arus kas BLUD ke laporan 471

arus kas pemerintah daerah, pendapatan yang belum disahkan tersebut tidak dikonsolidasikan. 472

Sesuai dengan ketentuan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan BLU/BLUD, kas 473

yang diterima baik yang berasal dari penagihan dana bergulir dan pendapatan dari dana 474

(24)

bergulir dapat dikelola langsung oleh BLU/BLUD tanpa perlu disetor ke Rekening Kas Umum 475

Negara/Kas Daerah. Dalam rangka pengesahan pendapatan dari dana bergulir oleh BUN/BUD, 476

BLU/BLUD secara periodik perlu menyampaikan surat/dokumen pengesahan kepada 477

BUN/BUD. 478

479

Perhitungan suku bunga dapat dilakukan dengan metode bunga menurun atau bunga 480

tetap. Penerapan bunga tetap akan mengakibatkan besaran cicilan pokok dana bergulir yang 481

akan dikembalikan dan besaran angsuran bunga berjumlah tetap sepanjang masa cicilan. 482

Dengan demikian besaran cicilan (pokok dan bunga) akan tetap. Sebaliknya penerapan bunga 483

menurun akan mengakibatkan besaran cicilan pokok dana bergulir yang akan dikembalikan 484

dan besaran bunga berjumlah tidak sama sepanjang masa cicilan. Besaran cicilan pokok dana 485

bergulir akan sama sepanjang masa pinjaman, besaran bunga yang dibayar pada awal-awal 486

masa cicilan diakui besar, dan akan semakin kecil pada cicilan berikutnya, dengan demikian 487

besaran cicilan (pokok dan bunga) akan semakin kecil. 488

Contoh penerapan suku bunga tetap 489

Pada tahun 2015, Satker B menyalurkan dana kepada A sebesar Rp 10 juta, masa 490

pengembalian selama 10 bulan dengan suku bunga sebesar 12 % tetap. Adapun skema 491

cicilannya adalah sebagai berikut: 492

BULAN CICILAN POKOK BUNGA TOTAL CICILAN

1 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 2 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 3 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 4 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 5 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 6 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 7 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 8 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 9 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 10 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 493

Contoh penerapan suku bunga menurun: 494

Pada tahun 2015, Satker C menyalurkan dana kepada A sebesar Rp 10 juta, masa 495

pengembalian selama 10 bulan dengan suku bunga sebesar 12 % menurun. Adapun skema 496

cicilannya adalah sebagai berikut: 497

BULAN BESAR PINJAMAN CICILAN POKOK BUNGA TOTAL CICILAN

1 10,000,000 1,000,000 100,000 1,100,000 2 9,000,000 1,000,000 90,000 1,090,000 3 8,000,000 1,000,000 80,000 1,080,000 4 7,000,000 1,000,000 70,000 1,070,000 5 6,000,000 1,000,000 60,000 1,060,000 15

(25)

6 5,000,000 1,000,000 50,000 1,050,000 7 4,000,000 1,000,000 40,000 1,040,000 8 3,000,000 1,000,000 30,000 1,030,000 9 2,000,000 1,000,000 20,000 1,020,000 10 1,000,000 1,000,000 10,000 1,010,000 498

Berdasarkan ilustrasi di atas (suku bunga menurun), pada saat satker C menerima 499

pengembalian dana bergulir di bulan pertama sebesar Rp1.100.000, maka satker C harus 500

dapat memisahkan penerimaan cicilan pokok sebesar Rp1.000.000 dan penerimaan dari 501

bunga sebesar Rp100.000. 502

503

Adapun akuntansi untuk mencatat transaksi pengembalian pokok tersebut pada Pemerintah 504

Pusat adalah sebagai berikut: 505

506

Pencatatan oleh BLU: 507

508

a. Basis Kas 509

Tidak ada jurnal 510

511

b. Basis Akrual 512

Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 513

Kas di BLU 1.000.000

514

Piutang Dana Bergulir 1.000.000

515 516

Pencatatan oleh BUN/ BUD : 517

Tidak ada jurnal 518

519

Sedangkan pencatatan transaksi pendapatan bunga dana bergulir tersebut pada Pemerintah 520

Pusat adalah sebagai berikut: 521

522

Pencatatan oleh BLU: 523

524

a. Basis Kas 525

Pencatatan dilakukan pada saat diterimanya pembayaran atas pendapatan dari dana 526

bergulir dan sudah disahkan oleh BUN/BUD, dengan melakukan penjurnalan sebagai 527 berikut: 528 529 Akun Antara 100.000 530

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 531

532

b. Basis Akrual 533

Pada saat proses perolehan pendapatan dari dana bergulir selesai misalnya pada tanggal jatuh 534

tempo bunga/bagi, maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 535

536

Piutang Bunga/ Bagi Hasil 100.000

537

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000

(26)

539

Jurnal pada saat piutang tersebut dilunasi dan selanjutnya disahkan pada BUN yang 540

mempunyai fungsi perbendaharaan adalah sebagai berikut: 541

542

Kas Lainnya di BLU 100.000

543

Piutang Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 544

545

Kas di BLU 100.000 546

Kas Lainnya di BLU 100.000 547

548

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 549

550

Kas di BLU 100.000

551

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 552

553

Jurnal pada Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 554

555

Pencatatan oleh BLUD: 556

557

a. Basis Kas 558

Tidak ada jurnal 559

560

b. Basis Akrual 561

Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 562

563

Kas Lainnya di BLUD 1.000.000

564

Piutang Dana Bergulir 1.000.000

565 566

Pencatatan oleh BUD: 567

Tidak ada jurnal 568

569

Sedangkan pencatatan transaksi pendapatan bunga dana bergulir pada Pemerintah Daerah 570

adalah sebagai berikut: 571

572

Pencatatan oleh BLUD: 573

574

a. Basis Kas 575

Pencatatan dilakukan pada saat diterimanya pembayaran atas pendapatan dari dana 576

bergulir dan sudah disahkan oleh BUD, dengan melakukan penjurnalan sebagai berikut: 577

578

Estimasi Perubahan SAL 100.000

579

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 580

581

b. Basis Akrual 582

Pada saat proses perolehan pendapatan dari dana bergulir selesai misalnya tanggal jatuh 583

tempo bunga/bagi hasil dapat diukur dengan memadai, maka akan dibuat jurnal sebagai 584

berikut: 585

Piutang Bunga/ Bagi Hasil 100.000

586

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 587

(27)

588

Jurnal pada saat piutang tersebut dilunasi dan selanjutnya disahkan pada BUD yang 589

mempunyai fungsi perbendaharaan adalah sebagai berikut: 590

591

Kas Lainnya di BLUD 100.000

592

Piutang Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 593

594

Kas di BLUD 100.000 595

Kas Lainnya di BLUD 100.000 596

597 598

Sistem Akuntansi pada unit perbendaharaan umum daerah: 599

600

Kas di BLUD 100.000

601

Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 602

603 604

E. Akuntansi Pengguliran Kembali Dana Bergulir 605

606

Jika satker yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU/BLUD menerima kembali dana yang 607

disalurkan kepada masyarakat baik berupa pokok dana bergulir maupun pendapatan (bunga, 608

bagi hasil dan lain-lain) tidak akan disetor ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah 609

melainkan langsung dikelola oleh BLU/BLUD. Penerimaan cicilan pokok dana bergulir akan 610

digulirkan kepada masyarakat sedangkan pendapatan (bunga, bagi hasil dan lain-lain) selain 611

digunakan untuk pengeluaran operasional dapat juga digulirkan kembali kepada masyarakat 612

613

Sumber dana untuk pengguliran kembali dana bergulir yang dapat dilakukan oleh satker 614

BLU/BLUD dapat berasal dari pengembalian pokok dana bergulir dan pendapatan dana 615

bergulir (bunga, bagi hasil dan lain-lain). 616

617

a. Dana bergulir yang bersumber dari tagihan pokok dana bergulir 618

Penerimaan kembali pokok dana bergulir dari masyarakat dapat dikelola langsung oleh 619

BLU/BLUD tanpa perlu disetor ke Rekening Kas Umum Negara/ Kas Daerah. Dana tersebut 620

dapat langsung digulirkan kembali kepada masyarakat. Pencatatan transaksi pengguliran 621

kembali dana bergulir pada Pemerintah Pusat adalah sebagai berikut: 622

623

Pencatatan oleh BLU: 624

625

1. Basis Kas 626

Tidak ada jurnal 627

628

2. Basis Akrual 629

Pada saat penyaluran dana bergulir ke masyarakat dimana dananya bersumber dari 630

pengembalian cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 631

632

Piutang - Dana Bergulir xxxx 633

Kas Lainnya di BLUD xxxx

634

Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 635

(28)

Tidak ada jurnal 636

637

Pencatatan pada Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 638

Pencatatan oleh BLUD: 639

1. Basis Kas 640

Tidak ada jurnal 641

642

2. Basis Akrual 643

Pada saat penyaluran dana bergulir ke masyarakat dimana dananya bersumber dari 644

pengembalian cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 645

646

Piutang - Dana Bergulir xxxx 647

Kas Lainnya di BLUD xxxx

648 649 650

Contoh: Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) A yang berstatus BLUD dibawah BUD yaitu 651

Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Provinsi ABC yang mempunyai tugas, pokok dan 652

fungsi menyalurkan dana kepada KUKM dengan skim dana bergulir. BLUD tersebut menerima 653

kembali dana bergulir dari masyarakat sebesar Rp 1 miliar pada tahun 2014. Pada tahun yang 654

sama, UPTD tersebut menyalurkan kembali dana tersebut kepada KUKM lainnya. Bagaimana 655

akuntansi pengguliran kembali dana sebesar Rp 1 miliar? 656

657

Atas pengguliran kembali dana bergulir, yang berasal dari penerimaan pokok dana bergulir 658

akan dicatat oleh UPTD A sebagai berikut: 659

660

Piutang - Dana Bergulir Rp 1 milyar

661

Kas Lainya BLUD Rp 1 milyar

662 663 664

Transaksi tersebut hanya dicatat pada BLUD sistem akuntansi berbasis akrual. Pencatatan 665

tidak dilakukan pada sistem akuntansi berbasi kas karena transaksi ini bukan merupakan 666

APBD. Demikian pula sistem akuntansi kas daerah tidak akan mencatat transaksi tersebut 667

karena tidak mempengaruhi kas daerah. 668

669

b. Dana bergulir yang bersumber dari Pendapatan 670

671

Dana yang digulirkan oleh satker dapat dikenakan bunga atau hasil lainnya kepada 672

penerima dana bergulir sesuai dengan perjanjian/kesepakatan/aturan yang berlaku antara 673

kedua belah pihak. Pendapatan dari dana bergulir tersebut dapat dikelola langsung oleh satker 674

berstatus BLU/BLUD dan dapat digunakan untuk membiayai operasional BLU/BLUD maupun 675

untuk digulirkan kembali. Jika pendapatan tersebut digulirkan kembali maka aset dana bergulir 676

yang dikelola oleh satker akan bertambah. 677

Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, setiap penerimaan dan 678

pengeluaran negara harus melaui APBN/D. Satuan kerja BLU/BLUD sebagai bagian dari 679

keuangan negara diwajibkan untuk mencatat pendapatan dan belanjanya dalam APBN/D. 680

Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan dana bergulir dan digulirkan kembali harus 681

dialokasikan dalam APBN/D sebagai anggaran pengeluaran pembiayaan pada BUN/BUD. 682

(29)

Pengalokasian dana tersebut dapat dilakukan dengan mekanisme pengesahan oleh unit yang 683

mempunyai fungsi perbendaharaan dan selanjutnya pengeluaran pembiayaan tersebut akan 684

dicatat sebagai investasi jangka panjang non permanen – dana bergulir pada BUN/BUD. 685

Akuntansi anggaran dan realisasinya serta penyalurannya adalah seperti pada uraian 686

sebelumnya. 687

688

Berikut adalah ilustrasi jurnal atas transaksi dana bergulir yang berasal dari Pendapatan BLU 689

pada Pemerintah Pusat: 690

• Akuntansi pada saat diterimanya pendapatan dan dilakukan pengesahan atas pendapatan 691

tersebut kepada unit yang meiliki fungsi perbendaharaan. 692

693

Pencatatan oleh Satker BLU: 694 695 a. Basis Kas 696 697 Akun Antara xxxx 698

Pendapatan Bunga – LRA xxxx

699 700

b. Basis Akrual 701

Pada saat diterima pendapatan baik berupa bunga atau bagi hasil atau pendapatan lainnya 702

dan selanjutnya disahkan adalah sebagai berikut: 703

704

Kas Lainnya di BLU xxxx 705 Pendapatan Bunga - LO xxxx 706 707 Kas di BLU xxxx 708

Kas Lainnya di BLU xxxx

709 710

Pencatatan oleh BUN Sebagai Pengguna Anggaran: 711

Tidak ada jurnal 712

713

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 714 715 Kas di BLU xxxx 716 Pendapatan Bunga-LRA xxxx 717 718

Akuntansi pada saat dilakukan pengesahan atas Kas BLU dari pendapatan untuk selanjutnya 719

disalurkan sebagai dana bergulir. 720

721

Pencatatan oleh BLU: 722

723

a. Basis Kas 724

Tidak ada Jurnal. 725

726

b. Basis Akrual 727

728

Kas Lainnya di BLU xxxx 729

Kas di BLU xxxx 730

Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 731

(30)

732

a. Basis Kas 733

Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 734 Akun Antara xxxx 735 736 b. Basis Akrual 737 738

Investasi Jk Panjang – Dana Bergulir xxxx 739

Akun Antara xxxx 740

741

Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 742

743

Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 744

Kas di BLU xxxx 745

746

Akuntansi pada saat dilakukan Penyaluran Dana Bergulir kepada Masyarakat . 747

748

Pencatatan oleh BLU: 749

750

a. Basis Kas 751

752

Pada saat penyaluran dana bergulir, tidak ada pencatatan penyalurannya pada akuntansi basis 753

kas karena transaksi ini tidak tercantum dalam DIPA satker BLU. 754

755

b. Basis Akrual 756

757

Piutang - Dana Bergulir xxxx

758

Kas Lainnya di BLU xxxx 759

760

Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 761

762

a. Basis Kas 763

Tidak ada jurnal 764

765

b. Basis Akrual 766

Tidak ada jurnal 767

768

Pada sistem kas umum negara 769

Tidak ada jurnal 770

771

Berikut adalah ilustrasi jurnal atas transaksi dana bergulir yang berasal dari Pendapatan pada 772

Pemerintah Daerah: 773

774

Akuntansi pada saat diterimanya pendapatan dan dilakukan pengesahan atas pendapatan 775

tersebut kepada unit yang meiliki fungsi perbendaharaan. 776

777

Pencatatan oleh BLUD: 778

779

a. Basis Kas 780

(31)

781

Estimasi Perubahan SAL xxxx 782

Pendapatan Bunga – LRA xxxx

783 784

b. Basis Akrual 785

Pada saat diterima pendapatan baik berupa bunga ata bagi hasil atau pendapatan lainnya 786

adalah sebagai berikut: 787

788

Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxxx 789 Pendapatan Bunga - LO xxxx 790 791 Kas di BLUD xxxx 792

Kas Lainnya di BLUD xxxx

793 794

Pencatatan oleh BUD Sebagai Pengguna Anggaran: 795

Tidak ada jurnal 796

797

Akuntansi pada saat dilakukan pengesahan atas Kas BLUD dari pendapatan untuk selanjutnya 798

disalurkan sebagai dana bergulir. 799

800

Pencatatan oleh BLUD: 801

802

a. Basis Kas 803

Tidak ada Jurnal 804

805

b. Basis Akrual 806

807

Kas Lainnya di BLUD xxxx 808

Kas di BLUD xxxx 809

810

Pencatatan oleh BUD sebagai Pengguna Anggaran: 811

812

a. Basis Kas 813

814

Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 815

Estimasi Perubahan SAL xxxx 816

817

b. Basis Akrual 818

819

Investasi Jk Panjang – Dana Bergulir xxxx 820

Kas di Kas Daerah xxxx 821

822

Pencatatan pada unit perbendahraan umum daerah : 823

824

Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 825

Kas di BLUD xxxx 826

827 828

Akuntansi pada saat dilakukan Penyaluran Dana Bergulir kepada Masyarakat . 829

(32)

830

Pencatatan oleh BLUD: 831

832

a. Basis Kas 833

Pada saat penyaluran dana bergulir, tidak ada pencatatan penyalurannya pada akuntansi basis 834

kas karena transaksi ini tidak tercantum dalam DPA satker BLUD. 835

836

b. Basis Akrual 837

838

Piutang - Dana Bergulir xxxx

839

Kas Lainnya di BLUD xxxx

840 841

Pencatatan oleh BUD sebagai Pengguna Anggaran: 842

843

a. Basis Kas 844

Tidak ada jurnal 845

846

b. Basis Akrual 847

Tidak ada jurnal 848

849

Contoh: Pada Tahun 2014, UPTD A, yang berstatus BLUD dibawah BUD (BKPD) Provinsi 850

DEF, mempunyai tugas pokok dan fungsi menyalurkan dana bergulir untuk sektor KUKM, 851

memperoleh pendapatan berupa bunga dari dana bergulir sebesar Rp 1 miliar. Pada tahun 852

anggaran 2015, UPTD A menggunakan pendapatan tersebut untuk keperluan operasionalnya 853

sebesar Rp 400 juta dan digulirkan kembali sebesar Rp 600 juta dengan mencantumkannya 854

dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) UPTD A. Pengeluaran untuk operasional 855

diperuntukkan untuk perjalanan dinas dan pembelian alat tulis kantor (ATK) masing-masing 856

sebesar Rp100 juta dan Rp300 juta. Pengeluaran untuk operasional dan pengguliran kembali 857

dana bergulir dilakukan pada bulan Maret 2015. Bagaimana akuntansi dan pelaporan 858

pendapatan sebesar Rp 1 miliar, pengeluaran belanja sebesar Rp 400 juta dan pengguliran 859

kembali dana sebesar Rp 600 juta yang berasal dari pendapatan UPTD A? 860

Jawaban: 861

1. Penerimaan pendapatan sebesar Rp 1 miliar yang berasal dari pendapatan bunga dana 862

bergulir akan dicatat sebagai berikut: 863

864

Pencatatan pada BLUD: 865

866

a. Basis Kas 867

868

Estmasi Perubahan SAL Rp 1 miliar

869

Pendapatan Bunga BLUD - LRA Rp 1 miliar

870 871

b. Basis Akrual 872

873

Kas di BLUD Rp 1 miliar

874

Pendapatan Bunga BLUD – LO Rp 1 miliar

875 876

2. Penggunaan pendapatan sebesar Rp 1 milyar adalah untuk digulirkan kembali sebesar 877

Rp600.000 dan digunakan untuk perjalanan dinas dan pembelian alat tulis kantor (ATK) 878

(33)

masing-masing sebesar Rp100 juta dan Rp300 juta, akan dicatat dengan jurnal sebagai 879

berikut: 880

881

Pencatatan pada BLUD: 882

883

a. Basis Kas 884

885

Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Rp 600 juta

886

Estimasi Perubahan SAL Rp 600 juta

887 888

Belanja Barang dan Jasa Rp 400 juta

889

Estimasi Perubahan SAL Rp 400 juta.

890 891

Pengeluaran untuk pengguliran kembali dana bergulir yang berasal dari pendapatan, akan 892

dicatat dan dilaporkan sebagai pengeluaran pembiayaan. Selanjutnya laporan keuangan 893

BLUD tersebut akan dikonsolidasi dengan laporan keuangan PPKD. Pengeluaran tersebut 894

juga mengakibatkan kenaikan Investasi Jangka Panjang – Dana Bergulir. 895

896

b. Basis Akrual 897

898

Kas Lainnya di BLUD Rp 600 juta

899

Kas di BLUD Rp 600 juta.

900 901

Beban Persediaan Rp 100 juta

902

Beban Perjalanan Dinas Rp 300 juta

903

Kas di BLUD Rp 400 juta.

904 905 906

Pencatatan pada unit perbendaharaan umum Daerah: 907

908

Belanja Barang Rp 100 juta

909

Belanja Perjalanan Dinas Rp 300 juta

910

Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Rp 600 juta 911

Kas di BLUD Rp 1 miliar

912 913 914

Walaupun tidak terjadi pengeluaran kas dari Rekening Kas Daerah untuk pengeluaran 915

operasional, tetapi Sistem Akuntansi Kas Umum Daerah harus mencatat transaksi tersebut 916

sehingga transaksi dimaksud tercantum dalam Laporan Arus Kas Pemerintah Daerah. 917

(34)

BAB IV 1

AKUNTANSI PIUTANG PINJAMAN DANA BERGULIR 2

3

Transaksi piutang pinjamanan dana bergulir adalah merupakan salah satu transaksi terpenting 4

dalam sebuah entitas dana bergulir. Entitas Dana Bergulir mengelola transaksi terkait piutang 5

tersebut dalam jumlah paling besar dalam asetnya. Disamping itu, frekuensi transaksi terkait 6

piutang pinjamanan dana bergulir adalah transaksi yang relatif sering terjadi. Para pengguna 7

laporan akan memberikan perhatian khusus terkait penyajian dan pengungkapan piutang pada 8

entitas dana bergulir. 9

Manajemen harus menyajikan informasi keuangan khususnya piutang secara transparan dan 10

akuntabel. Informasi keuangan khususnya piutang diharapkan akan dapat memberikan 11

informasi yang andal terkait kondisi keuangan entitas. Informasi yang andal dan transparan 12

terkait piutang akan dapat memberikan informasi bahwa entitas telah melakukan praktek-13

praktek yang sehat dalam pengelolaan keuangannya. 14

Secara umum, piutang yang timbul dari kegiatan dana bergulir berasal dari berbagai transaksi. 15

Transaksi-transaksi tersebut antara lain pelunasan pinjaman dana bergulir dan pendapatan 16

bunga pinjaman yang belum dibayar oleh debitur. Disamping transaksi-transaksi lainnya terkait 17

kewajiban debitur yang belum diselesaikan. 18

Penyajian piutang dana bergulir pada neraca hendaknya dapat mencerminkan keadaan yang 19

sebenarnya. Piutang yang disajikan pada neraca adalah piutang yang dapat direalisasikan 20

menjadi kas (net realizable value). Untuk mewujudkan hal tersebut, entitas harus melakukan 21

penyisihan piutang tak tertagih. Sikap kehati-hatian sangat diperlukan dalam merumuskan 22

kebijakan penyisihan piutang tak tertagih sehingga mampu menyajikan nilai yang diharapkan 23

dapat ditagih atas piutang dana bergulir yang ada per tanggal neraca. 24

25

A. Piutang Pinjaman - Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman 26

1. Pengakuan 27

Piutang Pinjaman Dana Bergulir diakui pada saat pinjaman dana bergulir diterima oleh 28

debitur atau perjanjian/akad kredit ditanda tangani oleh kedua belah pihak. 29

2. Pengukuran 30

Piutang Pinjaman Dana Bergulir atas pokok pinjaman dicatat sebesar nilai Pokok 31

Pinjaman Dana Bergulir yang belum dibayar. 32

3. Penyajian 33

Piutang Pinjaman Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman diklasifikasikan berdasarkan 34

periode jatuh temponya sehingga disajikan pada kelompok aset lancar maupun aset 35

non lancar. Piutang pinjaman Dana Bergulir yang cicilannya akan jatuh tempo dalam 36

jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan disajikan sebagai aset 37

lancar. Sedangkan, Piutang Pinjaman Dana Bergulir yang cicilannya akan jatuh tempo 38

melebihi jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan dikelompokkan 39

disajikan sebagai aset non lancar. 40

41 42

(35)

Neraca 43 Per 31 Desember 20XX 44 Aset Kewajiban Aset Lancar ...

Piutang Bunga xxxx Kewajiban Jangka

Pendek

xxxx Piutang Pinjaman – Pokok

Dana Bergulir - Lancar

xxxx Kewajiban Jangka Panjang xxxx Penyisihan Piutang Pinjaman-Dana Bergulir - Lancar (xxxx)

Aset Non Lancar

Piutang Pinjaman – Pokok Dana Bergulir – Non Lancar xxxx Penyisihan Piutang Pinjaman-Dana Bergulir – Non Lancar (xxxx)

Aset Lainnya xxxx Ekuitas xxxx

45

4. Pengungkapan 46

Informasi dimaksud dapat berupa: 47

• Kebijakan akuntansi berkenaan dengan Piutang-Pinjaman Dana Bergulir 48

• Rincian dan saldo piutang beserta anggunan (jika ada) menurut kualitasnya 49

• Penjelasan atas usaha-usaha yang dilakukan untuk penyelesaian piutang pinjaman 50

dana bergulir dengan kualitas macet. 51

• Piutang Pinjaman Dana- Bergulir yang penagihannya telah diserahkan kepada 52

PUPN 53

54

B. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir 55

1. Pengakuan 56

Piutang atas Bunga/Bagi Hasil diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan 57

bunga/bagi hasil. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir timbul dari penyaluran 58

Dana Bergulir yang pada perjanjiannya memuat ketentuan bahwa debitur diwajibkan 59

untuk membayar/memberikan bunga bagi hasil dengan nilai tertentu kepada penyalur 60

Dana Bergulir. 61

2. Pengukuran 62

Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir diakui sebesar nilai Bunga/Bagi Hasil 63

yang sudah jatuh tempo namun belum dibayarkan penerima Dana Bergulir. 64

3. Penyajian 65

Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir disajikan pada kelompok aset lancar di 66 neraca. 67 68 69 70 71

Gambar

Ilustrasi transaksi atas penerimaan piutang Pinjaman Dana - Bergulir yang telah 268  dihapusbuku: 269              Neraca 270  31 Desember 20X2 271  Aset   Kewajiban  .......

Referensi

Dokumen terkait

d. Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biayai untuk menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal. Jenis layanan instansi pemerintah sangat

untuk laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam 21. suatu laporan tahunan atau dokumen lainnya. Oleh karena itu, penting bagi

Pengeluaran Dana Tidak Bergulir berupa hewan ternak yang dikelola oleh masyarakat yang dinilai dengan uang diakui atau dikelompokkan sebagai Pengeluaran Pembiayaan

Kas dan setara kas pada neraca BLU merupakan kas yang berasal dari pendapatan BLU baik yang telah dan yang belum diakui oleh unit yang mempunyai fungsi

laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam

Depkeu, Lembaga Keuangan Mitra BLU, Lembaga penjaminan kredit, unit eselon I pengelola dana bergulir mengelola kesinambungan program dana bergulir6. telah disalurkan

laporan keuangan dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam

Aset Nonkas xxx Bagian dana infaq/sedekah yang disalurkan untuk amil diakui sebagai penambahan dana amil Penentuan jumlah atau persentase bagian untuk para penerima infaq/sedekah