KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
DAFTAR UNDANGAN
FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir
Gedung Ex MA, 10 Juni 2015
1. Deputi PIP Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan
2. Kepala Direktorat Litbang, Badan Pemeriksa Keuangan
3. Direktur Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Kemendagri
4. Direktur Pendapatan dan Investasi Daerah, Kemendagri
5. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan
6. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
7. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Koperasi dan UKM
8. Kepala Biro Keuangan, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup
9. Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan, Ditjen Kekayaan Negara
10. Direktur Piutang Negara dan Kekayaan Negara Lain-Lain, Ditjen Kekayaan Negara
11. Direktur PPK Badan Layanan Umum, Ditjen Perbendaharaan
12. Kepala BPKD Pemprov DKI
13. Kepala DPKBD Pemerintah Kabupaten Tangerang
14. Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik
15. Direktur Keuangan BLU Lembaga Pengelola Dana Bergulir, Kementerian Koperasi dan
UKM
16. Direktur Keuangan BLU Badan Pengatur Jalan Tol
17. Direktur Keuangan BLU Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan
18. Direktur Keuangan BLU Pusat Pembiayaan Perumahan
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
DAFTAR UNDANGAN
FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir
Gedung Ex MA, 10 Juni 2015
1. Dr. Binsar H. Simanjuntak, CMA, Ketua Komite Kerja
2. Drs. AB Triharta, Ak., MM., Wakil Ketua Komite Kerja
3. Sonny Loho, Ak., MPM., Sekretaris Komite Kerja
4. Dr. Jan Hoesada. , Anggota Komite Kerja
5. Yuniar Yanuar Rasyid, Ak., MM., Anggota Komite Kerja
6. Dr. Dwi Martani, Ak., Anggota Komite Kerja
7. Sumiyati, Ak., MFM, Anggota Komite Kerja
8. Firmansyah N. Nazaroedin, Ak., M.Sc., Anggota Komite Kerja
9. Drs. Hamdani, MM., M.Si., Ak., Anggota Komite Kerja
10. Edward U.P. Nainggolan, Ak., M.Ak., Ketua Kelompok Kerja
11. Mega Meilistya, SE., Ak., MBA., Wakil Ketua Kelompok Kerja
12. Moh. Hatta, Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja
13. Amdi Very Dharma, Ak., M.Acc., Anggota Kelompok Kerja
14. Drs. M. Agus Kristianto, Ak., MA, Anggota Kelompok Kerja
15. Chalimah Pujihastuti, SE., Ak., MAFIS, Anggota Kelompok Kerja
16. Yulia Candra Kusumarini SE, S.Sos, Anggota Kelompok Kerja
17. Hasanuddin, Ak., M., Ak., Anggota Kelompok Kerja
18. Syaiful, SE., Ak, MM., Anggota Kelompok Kerja
19. Hamim Mustofa, Ak., Anggota Kelompok Kerja
20. Heru Novandi, SE., Ak., Anggota Kelompok Kerja
21. Muliani Sulya F., SE., Anggota Kelompok Kerja
22. Zulfikar Aragani, SE., MM., Anggota Kelompok Kerja
23. Mugiya Wardhani, SE, M. Si. Anggota Kelompok Kerja
24. Rahmat Mulyono, SE., Ak., M. Acc. Anggota Kelompok Kerja
25. Lucia Widiharsanti, SE., M.Si., CFE., Anggota Kelompok Kerja
26. Dr. Mei Ling, SE., Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja
27. Jamason Sinaga, Ak., SIP, Anggota Kelompok Kerja
28. Kadek Imam Eriksiawan, M.Sc., Ak., M.Prof., Acc.,BAP., Anggota Kelompok Kerja
29. Slamet Mulyono, SE., Ak., M.Prof.Acc., Anggota Kelompok Kerja
30. Joni Afandi, SE., Ak., M.Si., Anggota Kelompok Kerja
31. Doddy Setiadi, Ak., MM., CPA., Anggota Kelompok Kerja
32. Budiman, SST., SE., MBA., Ak., Anggota Kelompok Kerja
33. Joko Supriyanto, SST.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
34. Mauritz Cristianus Raharjo Meta, SST., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
35. Endah Martiningrum, SE.Ak., MBA, CA., Anggota Kelompok Kerja
36. Dwinanto, SE.,Ak., Anggota Kelompok Kerja
37. Isa Ashari Kuswandono, SE.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
38. Ahmad Fauzi, SE., Anggota Kelompok Kerja
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
SUSUNAN ACARA
FGD Draf Bultek Akuntansi Dana Bergulir
Gedung Ex MA, 10 Juni 2015
WAKTU ACARA NARASUMBER/PETUGAS
12.00 - 13.00 Registrasi dan Santap Siang Panitia
13.00 – 13.15 Pembukaan Panitia
13.15 – 13.45
Sambutan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah selaku Wakil Ketua Komite Konsultatif sekaligus membuka secara resmi acara Limited Hearing
Wakil Ketua Komite Konsultatif KSAP
13.45 – 14.00 Pembacaan Doa Panitia
14.00 – 14.30 Pemaparan Draf Bultek Akuntansi
Dana Bergulir KSAP
14.30 – 16.00 Diskusi dan Tanya Jawab KSAP dan Peserta
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
LEMBAR KONFIRMASI
Instansi : ... Nomor telepon/fax : ... Nomor ponsel : ...
Berikut adalah nama peserta yang akan hadir pada acara
Focus Group Discussion (FGD) Draf
Bultek Akuntansi Dana Bergulir
yang diselenggarakan pada:Hari/tanggal : Rabu, 10 Juni 2015 Waktu : Pukul 12.00 – selesai Tempat : Ruang Ex MA
Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Jalan Lapangan Banteng Timur – Jakarta Pusat
No. NAMA JABATAN
1.
2.
..., Juni 2015
Nama: ...
Catatan: lembar konfirmasi harap difax ke (
021) 3864776
Kontak person: Zulfikar di 081385047137
OMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
AKUNTANSI
DANA BERGULIR
BULETIN TEKNIS
STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAHAN
NOMOR XX
BULETIN TEKNIS
STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAHAN
AKUNTANSI
DANA BERGULIR
NOMOR XX
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
Sekretariat :
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III, Lantai 2
Jl. Budi Utomo No. 6 Jakarta 10710, Indonesia
Telepon/Faksimile : +62 21 3524551
http://www.ksap.org
e-mail : [email protected]
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Dasar Hukum dan Tujuan 2
BAB II PENGERTIAN DAN MEKANISME PENYALURAN DANA BERGULIR 3
A. Pengertian dan Karakteristik Dana Bergulir 3
B. Mekanisme Penyaluran Dana Bergulir 3
BAB III AKUNTANSI DAN PELAPORAN DANA BERGULIR 5
A. Akuntansi Anggaran Dana Bergulir 5
B. Akuntansi Pengeluaran Dana Bergulir 7
C. Akuntansi Perguliran Dana Bergulir 10
D. Akuntansi Penagihan Dana Bergulir 11
E. Akuntansi Perguliran Kembali Dana Bergulir 19
BAB IV AKUNTANSI PIUTANG DANA BERGULIR 25
A. Piutang Pinjaman - Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman B. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir
C. Penyisihan Piutang Dana Bergulir
D. Penghentian Pengakuan Piutang Pinjaman – Dana Bergulir
25 26 27 31 BAB VI KESIMPULAN 35 DAFTAR PUSTAKA 36
BAB I 1 PENDAHULUAN 2 3 A. Latar Belakang 4
Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat maupun 5
peningkatan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah melakukan upaya-upaya untuk 6
mendukung dan memberikan kemudahan bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan 7
adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Pemberdayaan ini diselenggarakan 8
secara menyeluruh, optimal, dan berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang 9
kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan 10
usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha 11
Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan 12
peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan. 13
Untuk itu, dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat, 14
pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengguliran dana untuk membantu permodalan 15
usaha menengah, kecil, mikro dan koperasi. Dalam perkembangannya pengguliran dana ini 16
meliputi usaha skala besar yang dilayani oleh badan usaha khususnya untuk bidang usaha 17
yang pendanaannya tidak menarik bagi lembaga keuangan bank maupun non bank. Selain itu 18
dana bergulir tidak hanya untuk pengembangan usaha, namun juga digunakan untuk beberapa 19
aktivitas lainnya seperti dana bergulir kepemilikan perumahan bagi masyarakat ekonomi lemah, 20
maupun aktivitas lainnya yang mendukung peningkatan pelayanan publik maupun peningkatan 21
kesejahteraan masyarakat. 22
Di sisi lain, tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara 23
termasuk dana bergulir semakin meningkat. Pengelolaan Dana bergulir harus 24
dipertanggungjawabkan mulai perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. Dengan 25
diimplementasikannya sistem akuntansi berbasis akrual, Entitas yang ada di Pemerintah Pusat 26
dan Pemerintah Daerah dalam menyusun laporan keuangannya harus berpedoman pada 27
Standar Akuntansi Pemerintahan. 28
Namun, pada SAP tidak terdapat Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang 29
secara khusus mengatur akuntansi dana bergulir. Pedoman yang lebih khusus berupa Buletin 30
Teknis Akuntansi Dana Bergulir diharapkan mampu melengkapi dalam usaha untuk 31
meningkatkan akuntanbilitas dan transparansi pengelolaan dana bergulir. 32
33
B. Dasar Hukum dan Tujuan 34
Penyusunan Buletin Teknis ini berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 35
2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan peraturan yang 36
mengatur tentang dana bergulir, pembiayaan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan 37
pelaksanaan anggaran antara lain: 38
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. 39
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 40
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 41
Buletin Teknis ini disusun dengan tujuan agar terdapat kesamaan pemahaman dan 42
persepsi tentang Dana Bergulir pada lingkungan pemerintah dan juga sebagai pedoman 43
dalam mengakui, mengklasifikasikan, mengukur, dan menyajikan serta mengungkapkan Dana 44
Bergulir. Disamping itu, dapat dijadikan acuan bagi instansi pemerintah pusat dan daerah yang 45
menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU/BLUD) dalam melakukan 46
akuntansi dan pelaporan untuk tujuan konsolidasi dengan laporan keuangan kementerian 47
negara/lembaga/pemerintah daerah. 48
Buletin Teknis ini menjelaskan secara detail mengenai: 49 1. Defenisi; 50 2. Pengakuan; 51 3. Pengukuran; dan 52
4. Penyajian dan Pengungkapan. 53
Untuk memberikan gambaran mengenai penerapan akuntansi dana bergulir, Buletin 54
Teknis ini juga dilengkapi dengan contoh transaksi yang dilengkapi dengan ilustrasi jurnal. 55
Ilustrasi jurnal pada Pemerintah Pusat disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, sedangkan 56
untuk ilustrasi jurnal pada pemerintah daerah didasarkan pada praktek akuntansi yang umum 57
berlaku, karena sistem akuntansi pada satu pemerintah daerah dapat berbeda dengan 58
pemerintah daerah lainnya. 59
BAB II 1
PENGERTIAN DAN MEKANISME PENYALURAN DANA BERGULIR 2
3
A. Pengertian dan Karakteristik Dana Bergulir 4
Dana bergulir merupakan dana yang dipinjamkan untuk dikelola dan digulirkan kepada 5
masyarakat oleh Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna Anggaran yang bertujuan 6
meningkatkan ekonomi rakyat dan tujuan lainnya. Adapun karakteristik dari dana bergulir 7
adalah sebagai berikut: 8
1. Dana tersebut merupakan bagian dari keuangan negara/daerah. 9
Dana bergulir dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran 10
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) dan luar APBN/APBD misalnya dari 11
masyarakat atau hibah dari luar negeri. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 12
2003 tentang Keuangan Negara, dana bergulir yang berasal dari luar APBN, diakui sebagai 13
kekayaan negara/daerah jika dana itu diberikan dan/atau diterima atas nama 14
pemerintah/pemerintah daerah. 15
2. Dana tersebut dicantumkan dalam APBN/APBD dan/atau laporan keuangan. 16
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 17
menyatakan semua pengeluaran negara/daerah dimasukkan dalam APBN/APBD. Oleh 18
sebab itu alokasi anggaran untuk dana bergulir harus dimasukkan ke dalam APBN/APBD. 19
Pencantuman alokasi anggaran untuk dana bergulir dapat dicantumkan dalam APBN/APBD 20
awal atau revisi APBN/APBD (APBN-P atau APBD Perubahan) 21
3. Dana tersebut harus dikuasai, dimiliki dan/atau dikendalikan oleh Pengguna 22
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA). 23
Pengertian dikuasai dan/atau dimiliki mempunyai makna yang luas yaitu PA/KPA 24
mempunyai hak kepemilikan atau penguasaan atas dana bergulir, sementara dikendalikan 25
maksudnya adalah PA/KPA mempunyai kewenangan dalam melakukan pembinaan, 26
monitoring, pengawasan atau kegiatan lain dalam rangka pemberdayaan dana bergulir. 27
4. Dana tersebut merupakan dana yang disalurkan kepada masyarakat ditagih kembali dari 28
masyarakat dengan atau tanpa nilai tambah, selanjutnya dana disalurkan kembali kepada 29
masyarakat/kelompok masyarakat demikian seterusnya (bergulir). 30
5. Pemerintah dapat menarik kembali dana bergulir. 31
Dana yang digulirkan oleh pemerintah dapat ditagih oleh Pemerintah baik untuk dihentikan 32
pergulirannya atau akan digulirkan kembali kepada masyarakat. 33
34
B. Mekanisme Penyaluran Dana Bergulir 35
Dana bergulir dapat disalurkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah 36
untuk mendorong pertumbuhan perekonomian, dan peningkatan pelayanan pemerintah. 37
Penyaluran Dana Bergulir dilakukan oleh Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-38
undangan dapat melakukan pengelolaan dana bergulir dengan mekanisme sebagai berikut: 39
1. Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan 40
dana bergulir mendapat alokasi dana dari APBN/APBD yang tercantum dalam dokumen 41
pelaksanaan anggaran (DIPA/DPA). 42
2. Entitas yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan 43
dana bergulir mengajukan pencairan dana kepada Bendahara Umum Negara/Bendahara 44
Umum Daerah (BUN/BUD). 45
3. Penyaluran dana bisa dilakukan secara langsung oleh Entitas yang sesuai dengan 46
ketentuan perundang-undangan dapat melakukan pengelolaan dana bergulir. 47
4. Dana yang disalurkan tersebut merupakan pinjaman yang harus dikembalikan oleh 48
debitur/masyarakat peminjam kepada satuan kerja baik melalui lembaga lain atau langsung 49
kepada satuan kerja pemerintah yang bersangkutan. 50
5. Satuan kerja melakukan pengelolaan dana, pengendalian dan penagihan dana dari 51
masyarakat, menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat/kelompok masyarakat, 52
serta melaporkan dan mempertanggungjawabkan dana tersebut. 53
BAB III 1
AKUNTANSI DAN PELAPORAN DANA BERGULIR 2
3
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
4
mengisyaratkan bahwa setiap pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran (PA/KPA) wajib 5
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan atas transaksi keuangannya. 6
Demikian juga Menteri Keuangan dan Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah 7
selaku Bendahara Umum Negara (BUN)/Bendahara Umum Daerah (BUD) wajib 8
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan arus kas yang berisikan informasi arus 9
masuk dan arus keluar uang ke/dari Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah. Untuk 10
mengakomodasi kebutuhan tersebut, Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah 11
mengembangkan Sistem Akuntansi Pemerintah yang minimal terdiri dari 2 (dua) subsistem 12
akuntansi yaitu sistem akuntansi instansi (akuntansi di PA/KPA) dan sistem akuntansi pada 13
kas umum negara/kas daerah (akuntansi di BUN/BUD). 14
Sistem akuntansi instansi/SKPD merupakan sistem akuntansi yang mencatat transaksi 15
pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) untuk menghasilkan Laporan 16
Realisasi Anggaran, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) dan Neraca 17
termasuk juga PA/KPA yang menguasai transaksi pembiayaan di mana transaksi pembiayaan 18
tersebut harus dikelola tersendiri. Untuk menghasilkan laporan keuangan tersebut, sistem 19
akuntansi instansi/SKPD hendaknya mempunyai dua sub sistem pencatatan yaitu pencatatan 20
Basis Kas untuk menghasilkan menghasilkan LRA yang pengakuan transaksinya berdasarkan 21
uang yang masuk atau keluar dari kas negara/daerah, dan pencatatan Basis Akrual yang 22
dilaksanakan untuk menghasilkan LO, LPE dan Neraca yang mengakui pengaruh transaksi 23
dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa memperhatikan saat 24
kas atau setara kas diterima atau dibayar. 25
Sistem akuntansi pada kas umum negara/daerah merupakan sistem akuntansi yang 26
mencatat transaksi penerimaan dan pengeluaran uang dari/ke Rekening Kas Umum 27
Negara/Kas Daerah. Sistem akuntansi pada Kas Umum Negara/Kas Daerah akan 28
menghasilkan Laporan Arus Kas. 29
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah yang terdiri dari Laporan Realisasi 30
Anggaran, Laporan Perubahan SAL, LO, LPE, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas 31
Laporan Keuangan adalah merupakan gabungan laporan keuangan seluruh PA ditambah 32
laporan arus kas yang dihasilkan oleh BUN/BUD. 33
34
A. Akuntansi Anggaran Dana Bergulir 35
Salah satu karakteristik akuntansi pemerintahan adalah peranan anggaran yang sangat 36
penting untuk evaluasi kinerja dan pengendalian. Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu 37
penyelenggaraan akuntansi anggaran. Laporan yang dihasilkan dari akuntansi anggaran 38
adalah Laporan Realisasi Anggaran, yang berisikan informasi realisasi pendapatan, belanja 39
dan pembiayaan diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode. Laporan Realisasi 40
Anggaran tersebut merupakan statutory report atau sering juga disebut budgetary report. 41
Akuntansi anggaran hanya terdapat pada sistem akuntansi instansi/SKPD yang dilaksanakan 42
oleh PA/KPA, meliputi akuntansi anggaran pendapatan, belanja, penerimaan pembiayaan dan 43
pengeluaran pembiayaan. Adapun jurnal untuk akuntansi anggaran adalah sebagai berikut: 44
Akuntansi anggaran pendapatan: 45
Estimasi Pendapatan Rp xxx
46
Estimasi Perubahan SAL Rp xxx
47
(untuk mencatat alokasi anggaran pendapatan)
48 49
Akuntansi anggaran belanja: 50
Estimasi Perubahan SAL Rp xxx
51
Allotment Belanja Rp xxx
52 53
Akuntansi anggaran penerimaan pembiayaan: 54
Estimasi Penerimaan Pembiayaan Rp xxx 55
Estimasi Perubahan SAL Rp xxx
56 57
Akuntansi anggaran pengeluaran pembiayaan: 58
Estimasi Perubahan SAL Rp xxx
59
Allotment Pengeluaran Pembiayaan Rp xxx 60
61
Jurnal Akuntansi Anggaran di atas adalah ilustrasi, Pemerintah dapat mengembangkan jurnal 62
anggaran sesuai sistem akuntansi yang ditetapkan Pemerintah. 63
Akuntansi anggaran hanya dicatat pada sistem akuntansi instansi/SKPD sedangkan sistem 64
akuntansi Kas Umum Negara/Kas Daerah tidak mencatat transaksi anggaran karena alokasi 65
anggaran belum mempengaruhi kas di Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah. 66
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 lampiran I tentang Standar Akuntansi 67
Pemerintahan Berbasis Akrual, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) 6, 68
Akuntansi Investasi, paragraf 16 huruf (c) menyatakan bahwa dana yang disisihkan pemerintah 69
dalam rangka pelayanan masyarakat, seperti bantuan modal kerja secara bergulir kepada 70
kelompok masyarakat, dimasukkan dalam kelompok investasi jangka panjang non permanen. 71
Lebih lanjut Paragraf 21 PSAP 6, Akuntansi Investasi, menyatakan bahwa pengeluaran 72
anggaran untuk perolehan investasi jangka panjang diakui sebagai Pengeluaran Pembiayaan. 73
Konsekuensinya adalah pemerintah harus mengakui pengeluaran untuk dana bergulir sebagai 74
pengeluaran pembiayaan baik dalam dokumen penganggaran, pelaksanaan anggaran maupun 75
laporan keuangan pemerintah. Selanjutnya, pemerintah juga harus mencatat adanya perolehan 76
aset berupa Investasi Jangka Panjang Non Permanen - Dana Bergulir sebesar perolehan atau 77
pengeluaran pembiayaan yang dilakukan. 78
Contoh: Pemerintah Kabupaten ABC mengalokasikan anggaran untuk dana bergulir 79
pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) BUD Kabupaten ABC Tahun Anggaran 2015 80
adalah sebesar Rp 15 miliar. Dana tersebut dimaksudkan untuk perkuatan modal Koperasi, 81
Usaha Kecil dan Menengah (KUKM). Adapun jurnal anggaran pengeluaran dana bergulir yang 82
dibuat pada awal tahun 2015 adalah sebagai berikut: 83
Sistem akuntansi instansi: 84
Estimasi Perubahan SAL Rp 15 miliar 85
Allotment Pengeluaran Pembiayaan Rp 15 miliar 86
87 88
Sistem akuntansi pada unit perbendaharaan umum: 89
Sistem akuntansi kas daerah tidak mencatat alokasi anggaran untuk dana bergulir karena 90
alokasi anggaran tersebut belum mempengaruhi kas daerah Kabupaten ABC. 91
92
Dalam rangka meningkatkan manajemen dana bergulir, dapat dibentuk Kuasa 93
Pengguna Anggaran (KPA) di kementerian/lembaga/SKPD. KPA tersebut berfungsi sebagai 94
entitas akuntansi yang mempunyai kewajiban secara periodik untuk menyampaikan Laporan 95
Keuangan yang berisikan transaksi dana kepada Pengguna Anggaran (PA). 96
Sesuai dengan karakteristiknya, dana bergulir dikelola oleh satuan kerja dengan pola 97
pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU/BLUD). Satker BLU tersebut dapat 98
merupakan KPA BUN/BUD sebagai pengguna anggaran dana bergulir. 99
100
B. Akuntansi Pengeluaran Dana Bergulir 101
Dana bergulir adalah merupakan salah satu bentuk investasi pemerintah oleh karena 102
itu, sesuai dengan ketentuan, alokasi anggaran dana bergulir berada di BUN/BUD. Namun 103
dalam pelaksanaannya, pengelolaan dana bergulir dapat didelegasikan kepada Kementerian 104
Negara/Lembaga/SKPD. Pengeluaran dana bergulir diakui sebagai pengeluaran pembiayaan 105
pada saat kas keluar dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah 106
107
Ilustrasi jurnal untuk mencatat pengeluaran dana bergulir pada Pemerintah Pusat adalah 108
sebagai berikut: 109
Jurnal ini adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi pengeluaran 110
dana bergulir, Pemerintah Pusat dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem akuntansi yang 111
ditetapkan. 112
Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 113
a. Basis Akrual 114
Pada saat realisasi Pengeluaran Pembiayaan dana bergulir, maka akan dijurnal: 115
116
Investasi Jk Panjang Non Permanen - Dana Bergulir xxx 117 Akun Antara xxx 118 119 b. Basis Kas 120
Pencatatan hanya dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas Umum Negara 121
yaitu saat diterbitkannya SP2D/ dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal yang dibuat 122
adalah 123
124
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxx 125
Akun Antara xxx
126 127
Pencatatan oleh BLU: 128
a. Basis Kas 129
Satker BLU tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DIPA 130
pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada BA BUN. 131
132
b. Basis Akrual 133
Pada basis akrual, penerimaan kas pada BLU yang berasal dari pembiayaan dana 134
bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun jurnalnya adalah 135
Kas Lainnya dan Setara Kas BLU xxxx 136
Ekuitas xxxx
137 138
Pencatatan oleh Unit Perbendaharaan Umum/Kas Umum Negara: 139
Pengeluaran Dana Bergulir dari Rekening Kas Umum Negara dicatat untuk menghasilkan 140
Laporan Arus Kas. Adapun jurnalnya adalah : 141
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxxx
142
Kas di RKUN xxxx
143 144
Contoh : Pada tahun anggaran 2015, APBN melalui Bagian Anggaran Bendahara Umum 145
Negara (BA BUN) mengalokasikan anggaran untuk dana bergulir sebesar Rp 150 miliar. Dana 146
bergulir tersebut akan dikelola oleh BLU A, Kementerian A. Pada tahun 2015, dana bergulir 147
tersebut disalurkan kepada penerima dana. 148
Penjelasan : 149
Atas transaksi pengeluaran investasi ini, BLU A dan Kementerian A tidak akan melakukan 150
pencatatan karena pengalokasian dananya ada pada BA BUN bukan pada Kementerian A. 151
DIPA BLU A sebagai satker Kementerian A hanya mengalokasikan anggaran pendapatan dan 152
belanja BLU. 153
BLU mencatat penerimaan kas atas dana bergulir sebagai kas lainnya dan setara kas pada 154
neraca. Sedangkan BA BUN sebagai KPA pengeluaran pembiayaan dana bergulir akan 155
mencatat investasi tersebut sebagai invesasi jangka panjang non permanen-dana bergulir. 156
Pengeluaran investasi dana bergulir tersebut akan dicatat sebagai aktivitas investasi pada LAK 157
BUN dan aktivitas pendanaan pada LAK BLU. 158
159
Akuntansi pada BA BUN : 160
a. Basis Kas 161
Pencatatan dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas Umum Negara yaitu 162
saat diterbitkannya SP2D/dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal yang dibuat adalah 163
sebagai berikut : 164
165
Pengeluaran Pembiayaan-Inv Jk Panjang - Dana Bergulir 150 miliar 166
Akun Antara 150 miliar
167 168
b. Basis Akrual 169
Pada Basis akrual, pengeluaran dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun 170
jurnal pengeluaran dana bergulir tersebut sebagai berikut : 171
172
Investasi Jk Panjang Non Permanen - Dana Bergulir 150 miliar 173
Akun Antara 150 miliar
174 175
Akuntansi pada satker BLU A: 176
a. Basis Kas 177
Satker BLU A tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DIPA 178
pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada BA BUN 179
180
b. Basis Akrual 181
Pada Basis akrual, pengeluaran dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. Adapun 182
jurnal penerimaan dana bergulir oleh BLU tersebut sebagai berikut: 183
184
Kas Lainnya dan Setara Kas BLU 150 miliar
185
Ekuitas 150 miliar
186 187
Akuntansi pada unit perbendaharaan umum/kas umum negara: 188
Untuk menghasilkan laporan arus kas, sistem kas umum negara mencatat pengeluaran 189
pembiayaan tersebut sebagai berikut: 190
191
Pengeluaran pembiayaan -Dana Bergulir 150 miliar 192
Kas di RKUN 150 miliar 193
194
Ilustrasi jurnal untuk mencatat pembiayaan dana bergulir pada Pemerintah Daerah adalah 195
sebagai berikut : 196
Pencatatan oleh BUD: 197
a. Basis Kas 198
Pencatatan hanya dilakukan berkenaan dengan keluarnya uang dari Kas di Kas Daerah 199
yaitu saat diterbitkannya SP2D/ dokumen lain yang dipersamakan. Jurnal untuk transaksi 200
tersebut adalah : 201
202
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir xxx
203
Estimasi Perubahan SAL xxx
204 205
b. Basis Akrual 206
Pada saat realisasi pengeluaran pembiayaan dana bergulir, maka akan dijurnal : 207
208
Investasi Jangka Panjang Non Permanen - Dana Bergulir xxx 209
Kas di Kas Daerah xxx
210 211 212
Pencatatan oleh BLUD : 213
a. Basis Kas 214
Satker BLUD tidak mencatat pengeluaran pembiayaan dana bergulir karena DPA 215
pengeluaran pembiayaan tersebut berada pada PPKD 216
217
b. Basis Akrual 218
Pada Basis akrual, penerimaan pembiayaan dana bergulir hanya mempengaruhi neraca. 219
Adapun jurnalnya adalah : 220
221
Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxxx 222
Ekuitas xxxx
223 224
Akuntansi pada unit perbendaharaan umum/kas umum daerah : 225
Untuk menghasilkan laporan arus kas, sistem kas umum daerah mencatat pengeluaran 226
pembiayaan tersebut sebagai berikut: 227
228
Pengeluaran pembiayaan -Dana Bergulir xxxx 229
Kas di RKUD xxxx
230 231
Jurnal di atas adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi 232
pengeluaran dana bergulir, Pemerintah Daerah dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem 233
akuntansi yang ditetapkan. 234
235
C. Akuntansi Pengguliran Dana Bergulir 236
Setelah BLU menerima kas dari BA BUN/D untuk investasi dana bergulir dari 237
APBN/APBD, dana tersebut harus disalurkan oleh BLU/D kepada masyarakat. Oleh sebab itu, 238
akuntansi atas pengguliran dana bergulir hanya dilakukan oleh BLU/D, tidak mempengaruhi 239
akuntansi pada BA BUN/BUD (pengguna anggaran dana bergulir) dan sistem akuntansi kas 240
umum negara/daerah. 241
Dana bergulir yang disalurkan oleh BLU/D kepada masyarakat diakui sebagai piutang 242
dana bergulir. Piutang dana bergulir diakui pada saat pinjaman diterima oleh debitur dan/atau 243
perjanjian/akad dana bergulir ditandatangani. 244
Adapun Ilustrasi jurnal untuk mencatat pengguliran dana bergulir kepada masyarakat 245
adalah sebagai berikut : 246
247
Pencatatan oleh BLU/D 248
Piutang - Dana bergulir xxx
249
Kas Lainnya Setara kas BLU/D xxx
250 251
Contoh: Unit Pengelola Dana Bergulir (UPDB) Kabupaten ABC yang berstatus BLUD, 252
menerima dana bergulir dari APBD sebesar Rp150 miliar. Dari alokasi dana tersebut, 253
disalurkan kepada masyarakat sebesar Rp100 miliar. Adapun akuntansi penyaluran dana 254
bergulir adalah sebagai berikut: 255 256 Pada UPDB 257 1. Basis Kas 258
BLU UPDB tidak melakukan pencatatan pada sistem akuntansi basis kas karena 259
transaksi tersebut bukan merupakan pengeluaran/belanja yang dialokasikan pada DPA. 260
261
2. Basis Akrual 262
BLU UPDB mencatat penyaluran dana bergulir kepada masyarakat sebagai berikut: 263
264
Piutang - Dana bergulir 100 miliar
265
Kas Lainnya dan setara kas BLUD 100 miliar
266 267
Pada BUD 268
Tidak ada jurnal 269
270
BUD sebagai Pengguna Anggaran pengeluaran pembiayaan dana bergulir tidak mencatat 271
penyaluran dana yang dilakukan oleh BLUD UPDB kepada masyarakat karena dana yang 272
disalurkan oleh BLUD, bukan merupakan pengeluaran yang berasal dari DPA BUD. 273
Pengeluaran dana bergulir telah dicatat oleh BUD pada saat penerbitan SP2D. 274
275
D. Akuntansi Penagihan Dana Bergulir 276
Salah satu karakteristik dana bergulir adalah dana tersebut disalurkan kepada 277
masyarakat dan akan dikembalikan kepada satker yang mengelola dana bergulir. 278
Pengembalian dana tersebut dapat dilakukan dengan cicilan atau pengembalian sekaligus. 279
Dana bergulir yang ditarik dari masyarakat terdiri dari dua unsur yaitu dana yang berasal dari 280
pinjaman pokok dan pendapatan. Pendapatan dapat berupa bunga, bagi hasil, dan pendapatan 281
lainnya. 282
Besaran cicilan pokok yang dibayar oleh masyarakat adalah sebesar pinjaman dana 283
yang diterima dengan memperhitungkan jangka waktu pengembalian. Sementara itu besaran 284
pendapatan yang dibayar kepada satker pengelola dana bergulir adalah sebesar suku bunga 285
atau bagi hasil yang disepakati antara penerima dana dengan satker pengelola dana bergulir. 286
Perlakuan akuntansi untuk penerimaan cicilan pokok dana bergulir dan pendapatan dari 287
dana bergulir merupakan hal yang berbeda. Satker pengelola dana bergulir menerima 288
pengembalian dana bergulir dari masyarakat, maka satker tersebut harus dapat memisahkan 289
berapa dari dana tersebut yang merupakan cicilan pokok pinjaman dan bunga. Ilustrasi 290
pencatatan akuntansi untuk Pemerintah Pusat dalam mencatat penerimaan ciclian pokok 291
adalah sebagai berikut: 292
293
Pencatatan oleh BLU: 294
295
a. Basis Kas 296
Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir, BLU tidak melakukan pencatatan karena 297
transaksi ini tidak tercantum di DIPA satker BLU. 298
299
b. Basis Akrual 300
301
Kas Lainnya dan Setara Kas xxx
302
Piutang - Dana Bergulir xxx
303 304
Pencatatan oleh BUN : 305
306
a. Basis Kas 307
Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi ini 308
tidak tercantum di DIPA satker BLU. 309
310
b. Basis Akrual 311
Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi 312
tersebut hanya mempengaruhi pencatatan pada BLU. 313
314 315
Pada unit perbendaharaan umum/kas umum negara 316
Tidak ada pencatatan atas transaksi penerimaan dana bergulir oleh BLU/D pada sistem kas 317
umum negara karena tidak ada penerimaan kas pada kas umum negara/daerah atas transaksi 318
tersebut. 319
320
Jurnal di atas adalah ilustrasi untuk memudahkan pemahaman terhadap akuntansi 321
pengeluaran dana bergulir, Pemerintah Pusat dapat mengembangkan jurnal sesuai sistem 322
akuntansi yang ditetapkan. 323
Ilustrasi untuk pencatatan pada Pemerintah daerah adalah sebagai berikut: 324
Pencatatan oleh BLUD: 325
326
a. Basis Kas 327
Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir, tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok 328
dana bergulir pada akuntansi basis kas karena transaksi ini tidak tercantum di DPA satker 329 BLUD. 330 331 b. Basis Akrual 332 333
Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxx
334
Piutang - Dana Bergulir xxx
335 336
Pencatatan oleh BUD : 337
338
a. Basis Kas 339
Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUN karena transaksi ini 340
tidak tercantum di DIPA satker BLUD. 341
342
b. Basis Akrual 343
Tidak ada pencatatan penerimaan cicilan pokok dana bergulir oleh BUD karena transaksi 344
tersebut hanya mempengaruhi pencatatan pada BLUD. 345
346
2. Akuntansi Pendapatan dari Dana Bergulir. 347
Pendapatan atas bunga diakui dari piutang dana bergulir yang mempunyai kualitas lancar. 348
Hal ini dilakukan untuk menghindari pengakuan pendapatan yang tidak sesuai dengan 349
keadaan yang sebenarnya. Pendapatan atas bunga dari piutang dana bergulir yang 350
memiliki kualitas selain lancar diakui pada saat kas diterima. Prinsip pengakuan ini sejalan 351
dengan prinsip kehati-hatian dan konservatisme. 352
353
Ilustrasi akuntansi pendapatan dana bergulir untuk Pemerintah Pusat adalah sebagai berikut: 354
355
Pencatatan oleh BLU : 356
357
a. Basis Kas 358
Pengakuan pendapatan dana bergulir dilakukan pada saat pendapatan tersebut disahkan 359
oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (BUN) pada Pemerintah Pusat dengan 360
jurnal sebagai berikut : 361
Akun Antara xxx
362
Pendapatan Bunga - LRA xxx
363 364
Dalam hal pendapatan BLU sudah diterima tetapi belum disahkan maka pendapatan 365
tersebut tidak diakui sebagai pendapatan pada LRA. 366
367
b. Basis Akrual 368
Pengakuan pendapatan-LO dana bergulir dilakukan pada saat BLU sudah mempunyai hak 369
atas pendapatan tersebut. Jurnal untuk mencatat pendapatan tersebut adalah sebagai 370 berikut : 371 372 Piutang Bunga xxx 373 Pendapatan Bunga - LO xxx 374 375
Pada saat pelunasan piutang, BLU akan melakukan pencatatan sebagai berikut : 376
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 377
Piutang Bunga xxx
378 379
Dalam hal BLU sudah menerima kas dari pendapatan tetapi belum mengesahkannya ke 380
unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan maka jurnalnya sebagai berikut : 381
382
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 383
PendapatanBunga - LO xxx
384 385
Setelah disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, maka jurnalnya 386 adalah: 387 388 Kas di BLU xxx 389
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLU xxx 390
391
Perlu pembedaan antara penerimaan pendapatan BLU yang sudah disahkan dan yang 392
belum disahkan ke unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, agar BLU segera 393
mengesahkan pendapatannya. 394
395
Pencatatan pada BUN 396
Tidak ada pencatatan penerimaan pendapatan dana bergulir oleh BUN karena pendapatan 397
dimaksud bukan merupakan pendapatan pada BUN sebagai Pengguna Anggaran dana 398
bergulir. 399
400
Pencatatan pada kas umum negara 401
Pencatatan pendapatan pada kas umum negara adalah sebagai berikut: 402 403 Kas di BLU xxx 404 Pendapatan Bunga xxx 405 406
Jurnal di atas dibuat tergantung sistem akuntansi yang diterapkan oleh entitas. Dalam hal 407
laporan arus kas pemerintah pusat/daerah dihasilkan dari konsolidasian laporan arus kas BLU 408
dan laporan arus kas BUN (sebagai pengelola kas), maka jurnal di atas tidak diperlukan. 409
410
Pendapatan BLU yang sudah diterima tetapi belum disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi 411
perbendaharaan, pendapatan tersebut tidak disajikan pada laporan arus kas BUN, tetapi 412
disajikan pada laporan arus kas BLU. Ketika konsolidasian laporan arus kas BLU ke laporan 413
arus kas pemerintah, pendapatan yang belum disahkan tersebut tidak dikonsolidasikan. 414
415
Ilustrasi Akuntansi Pendapatan dari Dana Bergulir untuk Pemerintah Daerah adalah sebagai 416
berikut : 417
418
Pencatatan oleh BLUD : 419
420
a. Basis Kas 421
Pengakuan pendapatan dana bergulir dilakukan pada saat pendapatan tersebut disahkan 422
oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan dengan jurnal sebagai berikut : 423
Estimasi Perubahan SAL xxx
424
Pendapatan Bunga - LRA xxx
425
Dalam hal pendapatan BLUD sudah diterima tetapi belum disahkan maka pendapatan 426
tersebut tidak diakui sebagai pendapatan pada LRA, tetapi diakui di LO. 427
428
b. Akuntansi Berbasis Akrual 429
Pengakuan pendapatan-LO dana bergulir dilakukan pada saat BLUD sudah mempunyai 430
hak atas pendapatan tersebut. Jurnal untuk mencatat pendapatan tersebut adalah sebagai 431 berikut : 432 Piutang Bunga xxx 433 Pendapatan Bunga - LO xxx 434 435
Pada saat pelunasan piutang, BLUD akan melakukan pencatatan sebagai berikut : 436
437
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 438
Piutang Bunga xxx
439 440
Dalam hal BLUD sudah menerima kas dari pendapatan tetapi belum mengesahkannya ke 441
unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan maka jurnalnya sebagai berikut : 442
443
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 444
Pendapatan Bunga - LO xxx
445 446
Setelah disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan, maka jurnalnya 447 adalah : 448 449 Kas di BLUD xxx 450
Kas Lainnya dan Setara Kas di BLUD xxx 451
452 453
Pencatatan pada BUD 454
Tidak ada pencatatan penerimaan pendapatan dana bergulir oleh BUD karena pendapatan 455
dimaksud bukan merupakan pendapatan pada BUD sebagai Pengguna Anggaran dana 456
bergulir. 457
458
Pencatatan pada kas umum daerah 459
Pencatatan pendapatan pada kas umum daerah adalah sebagai berikut: 460 461 Kas di BLUD xxx 462 Pendapatan Bunga xxx 463 464
Jurnal di atas dibuat tergantung sistem akuntansi yang diterapkan oleh pemerintah daerah. 465
Dalam hal laporan arus kas pemerintah daerah dihasilkan dari konsolidasian laporan arus kas 466
BLUD dan laporan arus kas BUD (sebagai pengelola kas), maka jurnal di atas tidak diperlukan. 467
468
Pendapatan BLUD yang sudah diterima tetapi belum disahkan oleh unit yang mempunyai 469
fungsi perbendaharaan, pendapatan tersebut tidak disajikan pada laporan arus kas BUD, tetapi 470
disajikan pada laporan arus kas BLUD. Ketika konsolidasian laporan arus kas BLUD ke laporan 471
arus kas pemerintah daerah, pendapatan yang belum disahkan tersebut tidak dikonsolidasikan. 472
Sesuai dengan ketentuan yang mengatur tentang pengelolaan keuangan BLU/BLUD, kas 473
yang diterima baik yang berasal dari penagihan dana bergulir dan pendapatan dari dana 474
bergulir dapat dikelola langsung oleh BLU/BLUD tanpa perlu disetor ke Rekening Kas Umum 475
Negara/Kas Daerah. Dalam rangka pengesahan pendapatan dari dana bergulir oleh BUN/BUD, 476
BLU/BLUD secara periodik perlu menyampaikan surat/dokumen pengesahan kepada 477
BUN/BUD. 478
479
Perhitungan suku bunga dapat dilakukan dengan metode bunga menurun atau bunga 480
tetap. Penerapan bunga tetap akan mengakibatkan besaran cicilan pokok dana bergulir yang 481
akan dikembalikan dan besaran angsuran bunga berjumlah tetap sepanjang masa cicilan. 482
Dengan demikian besaran cicilan (pokok dan bunga) akan tetap. Sebaliknya penerapan bunga 483
menurun akan mengakibatkan besaran cicilan pokok dana bergulir yang akan dikembalikan 484
dan besaran bunga berjumlah tidak sama sepanjang masa cicilan. Besaran cicilan pokok dana 485
bergulir akan sama sepanjang masa pinjaman, besaran bunga yang dibayar pada awal-awal 486
masa cicilan diakui besar, dan akan semakin kecil pada cicilan berikutnya, dengan demikian 487
besaran cicilan (pokok dan bunga) akan semakin kecil. 488
Contoh penerapan suku bunga tetap 489
Pada tahun 2015, Satker B menyalurkan dana kepada A sebesar Rp 10 juta, masa 490
pengembalian selama 10 bulan dengan suku bunga sebesar 12 % tetap. Adapun skema 491
cicilannya adalah sebagai berikut: 492
BULAN CICILAN POKOK BUNGA TOTAL CICILAN
1 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 2 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 3 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 4 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 5 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 6 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 7 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 8 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 9 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 10 1,000,000.00 100,000.00 1,100,000.00 493
Contoh penerapan suku bunga menurun: 494
Pada tahun 2015, Satker C menyalurkan dana kepada A sebesar Rp 10 juta, masa 495
pengembalian selama 10 bulan dengan suku bunga sebesar 12 % menurun. Adapun skema 496
cicilannya adalah sebagai berikut: 497
BULAN BESAR PINJAMAN CICILAN POKOK BUNGA TOTAL CICILAN
1 10,000,000 1,000,000 100,000 1,100,000 2 9,000,000 1,000,000 90,000 1,090,000 3 8,000,000 1,000,000 80,000 1,080,000 4 7,000,000 1,000,000 70,000 1,070,000 5 6,000,000 1,000,000 60,000 1,060,000 15
6 5,000,000 1,000,000 50,000 1,050,000 7 4,000,000 1,000,000 40,000 1,040,000 8 3,000,000 1,000,000 30,000 1,030,000 9 2,000,000 1,000,000 20,000 1,020,000 10 1,000,000 1,000,000 10,000 1,010,000 498
Berdasarkan ilustrasi di atas (suku bunga menurun), pada saat satker C menerima 499
pengembalian dana bergulir di bulan pertama sebesar Rp1.100.000, maka satker C harus 500
dapat memisahkan penerimaan cicilan pokok sebesar Rp1.000.000 dan penerimaan dari 501
bunga sebesar Rp100.000. 502
503
Adapun akuntansi untuk mencatat transaksi pengembalian pokok tersebut pada Pemerintah 504
Pusat adalah sebagai berikut: 505
506
Pencatatan oleh BLU: 507
508
a. Basis Kas 509
Tidak ada jurnal 510
511
b. Basis Akrual 512
Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 513
Kas di BLU 1.000.000
514
Piutang Dana Bergulir 1.000.000
515 516
Pencatatan oleh BUN/ BUD : 517
Tidak ada jurnal 518
519
Sedangkan pencatatan transaksi pendapatan bunga dana bergulir tersebut pada Pemerintah 520
Pusat adalah sebagai berikut: 521
522
Pencatatan oleh BLU: 523
524
a. Basis Kas 525
Pencatatan dilakukan pada saat diterimanya pembayaran atas pendapatan dari dana 526
bergulir dan sudah disahkan oleh BUN/BUD, dengan melakukan penjurnalan sebagai 527 berikut: 528 529 Akun Antara 100.000 530
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 531
532
b. Basis Akrual 533
Pada saat proses perolehan pendapatan dari dana bergulir selesai misalnya pada tanggal jatuh 534
tempo bunga/bagi, maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 535
536
Piutang Bunga/ Bagi Hasil 100.000
537
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000
539
Jurnal pada saat piutang tersebut dilunasi dan selanjutnya disahkan pada BUN yang 540
mempunyai fungsi perbendaharaan adalah sebagai berikut: 541
542
Kas Lainnya di BLU 100.000
543
Piutang Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 544
545
Kas di BLU 100.000 546
Kas Lainnya di BLU 100.000 547
548
Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 549
550
Kas di BLU 100.000
551
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 552
553
Jurnal pada Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 554
555
Pencatatan oleh BLUD: 556
557
a. Basis Kas 558
Tidak ada jurnal 559
560
b. Basis Akrual 561
Pada saat diterima cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 562
563
Kas Lainnya di BLUD 1.000.000
564
Piutang Dana Bergulir 1.000.000
565 566
Pencatatan oleh BUD: 567
Tidak ada jurnal 568
569
Sedangkan pencatatan transaksi pendapatan bunga dana bergulir pada Pemerintah Daerah 570
adalah sebagai berikut: 571
572
Pencatatan oleh BLUD: 573
574
a. Basis Kas 575
Pencatatan dilakukan pada saat diterimanya pembayaran atas pendapatan dari dana 576
bergulir dan sudah disahkan oleh BUD, dengan melakukan penjurnalan sebagai berikut: 577
578
Estimasi Perubahan SAL 100.000
579
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 580
581
b. Basis Akrual 582
Pada saat proses perolehan pendapatan dari dana bergulir selesai misalnya tanggal jatuh 583
tempo bunga/bagi hasil dapat diukur dengan memadai, maka akan dibuat jurnal sebagai 584
berikut: 585
Piutang Bunga/ Bagi Hasil 100.000
586
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 587
588
Jurnal pada saat piutang tersebut dilunasi dan selanjutnya disahkan pada BUD yang 589
mempunyai fungsi perbendaharaan adalah sebagai berikut: 590
591
Kas Lainnya di BLUD 100.000
592
Piutang Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir 100.000 593
594
Kas di BLUD 100.000 595
Kas Lainnya di BLUD 100.000 596
597 598
Sistem Akuntansi pada unit perbendaharaan umum daerah: 599
600
Kas di BLUD 100.000
601
Pendapatan Bunga/ Bagi Hasil Dana Bergulir-LRA 100.000 602
603 604
E. Akuntansi Pengguliran Kembali Dana Bergulir 605
606
Jika satker yang menerapkan pengelolaan keuangan BLU/BLUD menerima kembali dana yang 607
disalurkan kepada masyarakat baik berupa pokok dana bergulir maupun pendapatan (bunga, 608
bagi hasil dan lain-lain) tidak akan disetor ke Rekening Kas Umum Negara/Kas Daerah 609
melainkan langsung dikelola oleh BLU/BLUD. Penerimaan cicilan pokok dana bergulir akan 610
digulirkan kepada masyarakat sedangkan pendapatan (bunga, bagi hasil dan lain-lain) selain 611
digunakan untuk pengeluaran operasional dapat juga digulirkan kembali kepada masyarakat 612
613
Sumber dana untuk pengguliran kembali dana bergulir yang dapat dilakukan oleh satker 614
BLU/BLUD dapat berasal dari pengembalian pokok dana bergulir dan pendapatan dana 615
bergulir (bunga, bagi hasil dan lain-lain). 616
617
a. Dana bergulir yang bersumber dari tagihan pokok dana bergulir 618
Penerimaan kembali pokok dana bergulir dari masyarakat dapat dikelola langsung oleh 619
BLU/BLUD tanpa perlu disetor ke Rekening Kas Umum Negara/ Kas Daerah. Dana tersebut 620
dapat langsung digulirkan kembali kepada masyarakat. Pencatatan transaksi pengguliran 621
kembali dana bergulir pada Pemerintah Pusat adalah sebagai berikut: 622
623
Pencatatan oleh BLU: 624
625
1. Basis Kas 626
Tidak ada jurnal 627
628
2. Basis Akrual 629
Pada saat penyaluran dana bergulir ke masyarakat dimana dananya bersumber dari 630
pengembalian cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 631
632
Piutang - Dana Bergulir xxxx 633
Kas Lainnya di BLUD xxxx
634
Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 635
Tidak ada jurnal 636
637
Pencatatan pada Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut: 638
Pencatatan oleh BLUD: 639
1. Basis Kas 640
Tidak ada jurnal 641
642
2. Basis Akrual 643
Pada saat penyaluran dana bergulir ke masyarakat dimana dananya bersumber dari 644
pengembalian cicilan pokok dana bergulir maka akan dibuat jurnal sebagai berikut: 645
646
Piutang - Dana Bergulir xxxx 647
Kas Lainnya di BLUD xxxx
648 649 650
Contoh: Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) A yang berstatus BLUD dibawah BUD yaitu 651
Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Provinsi ABC yang mempunyai tugas, pokok dan 652
fungsi menyalurkan dana kepada KUKM dengan skim dana bergulir. BLUD tersebut menerima 653
kembali dana bergulir dari masyarakat sebesar Rp 1 miliar pada tahun 2014. Pada tahun yang 654
sama, UPTD tersebut menyalurkan kembali dana tersebut kepada KUKM lainnya. Bagaimana 655
akuntansi pengguliran kembali dana sebesar Rp 1 miliar? 656
657
Atas pengguliran kembali dana bergulir, yang berasal dari penerimaan pokok dana bergulir 658
akan dicatat oleh UPTD A sebagai berikut: 659
660
Piutang - Dana Bergulir Rp 1 milyar
661
Kas Lainya BLUD Rp 1 milyar
662 663 664
Transaksi tersebut hanya dicatat pada BLUD sistem akuntansi berbasis akrual. Pencatatan 665
tidak dilakukan pada sistem akuntansi berbasi kas karena transaksi ini bukan merupakan 666
APBD. Demikian pula sistem akuntansi kas daerah tidak akan mencatat transaksi tersebut 667
karena tidak mempengaruhi kas daerah. 668
669
b. Dana bergulir yang bersumber dari Pendapatan 670
671
Dana yang digulirkan oleh satker dapat dikenakan bunga atau hasil lainnya kepada 672
penerima dana bergulir sesuai dengan perjanjian/kesepakatan/aturan yang berlaku antara 673
kedua belah pihak. Pendapatan dari dana bergulir tersebut dapat dikelola langsung oleh satker 674
berstatus BLU/BLUD dan dapat digunakan untuk membiayai operasional BLU/BLUD maupun 675
untuk digulirkan kembali. Jika pendapatan tersebut digulirkan kembali maka aset dana bergulir 676
yang dikelola oleh satker akan bertambah. 677
Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, setiap penerimaan dan 678
pengeluaran negara harus melaui APBN/D. Satuan kerja BLU/BLUD sebagai bagian dari 679
keuangan negara diwajibkan untuk mencatat pendapatan dan belanjanya dalam APBN/D. 680
Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan dana bergulir dan digulirkan kembali harus 681
dialokasikan dalam APBN/D sebagai anggaran pengeluaran pembiayaan pada BUN/BUD. 682
Pengalokasian dana tersebut dapat dilakukan dengan mekanisme pengesahan oleh unit yang 683
mempunyai fungsi perbendaharaan dan selanjutnya pengeluaran pembiayaan tersebut akan 684
dicatat sebagai investasi jangka panjang non permanen – dana bergulir pada BUN/BUD. 685
Akuntansi anggaran dan realisasinya serta penyalurannya adalah seperti pada uraian 686
sebelumnya. 687
688
Berikut adalah ilustrasi jurnal atas transaksi dana bergulir yang berasal dari Pendapatan BLU 689
pada Pemerintah Pusat: 690
• Akuntansi pada saat diterimanya pendapatan dan dilakukan pengesahan atas pendapatan 691
tersebut kepada unit yang meiliki fungsi perbendaharaan. 692
693
Pencatatan oleh Satker BLU: 694 695 a. Basis Kas 696 697 Akun Antara xxxx 698
Pendapatan Bunga – LRA xxxx
699 700
b. Basis Akrual 701
Pada saat diterima pendapatan baik berupa bunga atau bagi hasil atau pendapatan lainnya 702
dan selanjutnya disahkan adalah sebagai berikut: 703
704
Kas Lainnya di BLU xxxx 705 Pendapatan Bunga - LO xxxx 706 707 Kas di BLU xxxx 708
Kas Lainnya di BLU xxxx
709 710
Pencatatan oleh BUN Sebagai Pengguna Anggaran: 711
Tidak ada jurnal 712
713
Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 714 715 Kas di BLU xxxx 716 Pendapatan Bunga-LRA xxxx 717 718
Akuntansi pada saat dilakukan pengesahan atas Kas BLU dari pendapatan untuk selanjutnya 719
disalurkan sebagai dana bergulir. 720
721
Pencatatan oleh BLU: 722
723
a. Basis Kas 724
Tidak ada Jurnal. 725
726
b. Basis Akrual 727
728
Kas Lainnya di BLU xxxx 729
Kas di BLU xxxx 730
Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 731
732
a. Basis Kas 733
Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 734 Akun Antara xxxx 735 736 b. Basis Akrual 737 738
Investasi Jk Panjang – Dana Bergulir xxxx 739
Akun Antara xxxx 740
741
Sistem Akuntansi Kas Umum Negara: 742
743
Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 744
Kas di BLU xxxx 745
746
Akuntansi pada saat dilakukan Penyaluran Dana Bergulir kepada Masyarakat . 747
748
Pencatatan oleh BLU: 749
750
a. Basis Kas 751
752
Pada saat penyaluran dana bergulir, tidak ada pencatatan penyalurannya pada akuntansi basis 753
kas karena transaksi ini tidak tercantum dalam DIPA satker BLU. 754
755
b. Basis Akrual 756
757
Piutang - Dana Bergulir xxxx
758
Kas Lainnya di BLU xxxx 759
760
Pencatatan oleh BUN sebagai Pengguna Anggaran: 761
762
a. Basis Kas 763
Tidak ada jurnal 764
765
b. Basis Akrual 766
Tidak ada jurnal 767
768
Pada sistem kas umum negara 769
Tidak ada jurnal 770
771
Berikut adalah ilustrasi jurnal atas transaksi dana bergulir yang berasal dari Pendapatan pada 772
Pemerintah Daerah: 773
774
Akuntansi pada saat diterimanya pendapatan dan dilakukan pengesahan atas pendapatan 775
tersebut kepada unit yang meiliki fungsi perbendaharaan. 776
777
Pencatatan oleh BLUD: 778
779
a. Basis Kas 780
781
Estimasi Perubahan SAL xxxx 782
Pendapatan Bunga – LRA xxxx
783 784
b. Basis Akrual 785
Pada saat diterima pendapatan baik berupa bunga ata bagi hasil atau pendapatan lainnya 786
adalah sebagai berikut: 787
788
Kas Lainnya dan Setara Kas BLUD xxxx 789 Pendapatan Bunga - LO xxxx 790 791 Kas di BLUD xxxx 792
Kas Lainnya di BLUD xxxx
793 794
Pencatatan oleh BUD Sebagai Pengguna Anggaran: 795
Tidak ada jurnal 796
797
Akuntansi pada saat dilakukan pengesahan atas Kas BLUD dari pendapatan untuk selanjutnya 798
disalurkan sebagai dana bergulir. 799
800
Pencatatan oleh BLUD: 801
802
a. Basis Kas 803
Tidak ada Jurnal 804
805
b. Basis Akrual 806
807
Kas Lainnya di BLUD xxxx 808
Kas di BLUD xxxx 809
810
Pencatatan oleh BUD sebagai Pengguna Anggaran: 811
812
a. Basis Kas 813
814
Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 815
Estimasi Perubahan SAL xxxx 816
817
b. Basis Akrual 818
819
Investasi Jk Panjang – Dana Bergulir xxxx 820
Kas di Kas Daerah xxxx 821
822
Pencatatan pada unit perbendahraan umum daerah : 823
824
Pengeluaran Pembiayaan – Dana Bergulir xxxx 825
Kas di BLUD xxxx 826
827 828
Akuntansi pada saat dilakukan Penyaluran Dana Bergulir kepada Masyarakat . 829
830
Pencatatan oleh BLUD: 831
832
a. Basis Kas 833
Pada saat penyaluran dana bergulir, tidak ada pencatatan penyalurannya pada akuntansi basis 834
kas karena transaksi ini tidak tercantum dalam DPA satker BLUD. 835
836
b. Basis Akrual 837
838
Piutang - Dana Bergulir xxxx
839
Kas Lainnya di BLUD xxxx
840 841
Pencatatan oleh BUD sebagai Pengguna Anggaran: 842
843
a. Basis Kas 844
Tidak ada jurnal 845
846
b. Basis Akrual 847
Tidak ada jurnal 848
849
Contoh: Pada Tahun 2014, UPTD A, yang berstatus BLUD dibawah BUD (BKPD) Provinsi 850
DEF, mempunyai tugas pokok dan fungsi menyalurkan dana bergulir untuk sektor KUKM, 851
memperoleh pendapatan berupa bunga dari dana bergulir sebesar Rp 1 miliar. Pada tahun 852
anggaran 2015, UPTD A menggunakan pendapatan tersebut untuk keperluan operasionalnya 853
sebesar Rp 400 juta dan digulirkan kembali sebesar Rp 600 juta dengan mencantumkannya 854
dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) UPTD A. Pengeluaran untuk operasional 855
diperuntukkan untuk perjalanan dinas dan pembelian alat tulis kantor (ATK) masing-masing 856
sebesar Rp100 juta dan Rp300 juta. Pengeluaran untuk operasional dan pengguliran kembali 857
dana bergulir dilakukan pada bulan Maret 2015. Bagaimana akuntansi dan pelaporan 858
pendapatan sebesar Rp 1 miliar, pengeluaran belanja sebesar Rp 400 juta dan pengguliran 859
kembali dana sebesar Rp 600 juta yang berasal dari pendapatan UPTD A? 860
Jawaban: 861
1. Penerimaan pendapatan sebesar Rp 1 miliar yang berasal dari pendapatan bunga dana 862
bergulir akan dicatat sebagai berikut: 863
864
Pencatatan pada BLUD: 865
866
a. Basis Kas 867
868
Estmasi Perubahan SAL Rp 1 miliar
869
Pendapatan Bunga BLUD - LRA Rp 1 miliar
870 871
b. Basis Akrual 872
873
Kas di BLUD Rp 1 miliar
874
Pendapatan Bunga BLUD – LO Rp 1 miliar
875 876
2. Penggunaan pendapatan sebesar Rp 1 milyar adalah untuk digulirkan kembali sebesar 877
Rp600.000 dan digunakan untuk perjalanan dinas dan pembelian alat tulis kantor (ATK) 878
masing-masing sebesar Rp100 juta dan Rp300 juta, akan dicatat dengan jurnal sebagai 879
berikut: 880
881
Pencatatan pada BLUD: 882
883
a. Basis Kas 884
885
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Rp 600 juta
886
Estimasi Perubahan SAL Rp 600 juta
887 888
Belanja Barang dan Jasa Rp 400 juta
889
Estimasi Perubahan SAL Rp 400 juta.
890 891
Pengeluaran untuk pengguliran kembali dana bergulir yang berasal dari pendapatan, akan 892
dicatat dan dilaporkan sebagai pengeluaran pembiayaan. Selanjutnya laporan keuangan 893
BLUD tersebut akan dikonsolidasi dengan laporan keuangan PPKD. Pengeluaran tersebut 894
juga mengakibatkan kenaikan Investasi Jangka Panjang – Dana Bergulir. 895
896
b. Basis Akrual 897
898
Kas Lainnya di BLUD Rp 600 juta
899
Kas di BLUD Rp 600 juta.
900 901
Beban Persediaan Rp 100 juta
902
Beban Perjalanan Dinas Rp 300 juta
903
Kas di BLUD Rp 400 juta.
904 905 906
Pencatatan pada unit perbendaharaan umum Daerah: 907
908
Belanja Barang Rp 100 juta
909
Belanja Perjalanan Dinas Rp 300 juta
910
Pengeluaran Pembiayaan-Dana Bergulir Rp 600 juta 911
Kas di BLUD Rp 1 miliar
912 913 914
Walaupun tidak terjadi pengeluaran kas dari Rekening Kas Daerah untuk pengeluaran 915
operasional, tetapi Sistem Akuntansi Kas Umum Daerah harus mencatat transaksi tersebut 916
sehingga transaksi dimaksud tercantum dalam Laporan Arus Kas Pemerintah Daerah. 917
BAB IV 1
AKUNTANSI PIUTANG PINJAMAN DANA BERGULIR 2
3
Transaksi piutang pinjamanan dana bergulir adalah merupakan salah satu transaksi terpenting 4
dalam sebuah entitas dana bergulir. Entitas Dana Bergulir mengelola transaksi terkait piutang 5
tersebut dalam jumlah paling besar dalam asetnya. Disamping itu, frekuensi transaksi terkait 6
piutang pinjamanan dana bergulir adalah transaksi yang relatif sering terjadi. Para pengguna 7
laporan akan memberikan perhatian khusus terkait penyajian dan pengungkapan piutang pada 8
entitas dana bergulir. 9
Manajemen harus menyajikan informasi keuangan khususnya piutang secara transparan dan 10
akuntabel. Informasi keuangan khususnya piutang diharapkan akan dapat memberikan 11
informasi yang andal terkait kondisi keuangan entitas. Informasi yang andal dan transparan 12
terkait piutang akan dapat memberikan informasi bahwa entitas telah melakukan praktek-13
praktek yang sehat dalam pengelolaan keuangannya. 14
Secara umum, piutang yang timbul dari kegiatan dana bergulir berasal dari berbagai transaksi. 15
Transaksi-transaksi tersebut antara lain pelunasan pinjaman dana bergulir dan pendapatan 16
bunga pinjaman yang belum dibayar oleh debitur. Disamping transaksi-transaksi lainnya terkait 17
kewajiban debitur yang belum diselesaikan. 18
Penyajian piutang dana bergulir pada neraca hendaknya dapat mencerminkan keadaan yang 19
sebenarnya. Piutang yang disajikan pada neraca adalah piutang yang dapat direalisasikan 20
menjadi kas (net realizable value). Untuk mewujudkan hal tersebut, entitas harus melakukan 21
penyisihan piutang tak tertagih. Sikap kehati-hatian sangat diperlukan dalam merumuskan 22
kebijakan penyisihan piutang tak tertagih sehingga mampu menyajikan nilai yang diharapkan 23
dapat ditagih atas piutang dana bergulir yang ada per tanggal neraca. 24
25
A. Piutang Pinjaman - Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman 26
1. Pengakuan 27
Piutang Pinjaman Dana Bergulir diakui pada saat pinjaman dana bergulir diterima oleh 28
debitur atau perjanjian/akad kredit ditanda tangani oleh kedua belah pihak. 29
2. Pengukuran 30
Piutang Pinjaman Dana Bergulir atas pokok pinjaman dicatat sebesar nilai Pokok 31
Pinjaman Dana Bergulir yang belum dibayar. 32
3. Penyajian 33
Piutang Pinjaman Dana Bergulir atas Pokok Pinjaman diklasifikasikan berdasarkan 34
periode jatuh temponya sehingga disajikan pada kelompok aset lancar maupun aset 35
non lancar. Piutang pinjaman Dana Bergulir yang cicilannya akan jatuh tempo dalam 36
jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan disajikan sebagai aset 37
lancar. Sedangkan, Piutang Pinjaman Dana Bergulir yang cicilannya akan jatuh tempo 38
melebihi jangka waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan dikelompokkan 39
disajikan sebagai aset non lancar. 40
41 42
Neraca 43 Per 31 Desember 20XX 44 Aset Kewajiban Aset Lancar ...
Piutang Bunga xxxx Kewajiban Jangka
Pendek
xxxx Piutang Pinjaman – Pokok
Dana Bergulir - Lancar
xxxx Kewajiban Jangka Panjang xxxx Penyisihan Piutang Pinjaman-Dana Bergulir - Lancar (xxxx)
Aset Non Lancar
Piutang Pinjaman – Pokok Dana Bergulir – Non Lancar xxxx Penyisihan Piutang Pinjaman-Dana Bergulir – Non Lancar (xxxx)
Aset Lainnya xxxx Ekuitas xxxx
45
4. Pengungkapan 46
Informasi dimaksud dapat berupa: 47
• Kebijakan akuntansi berkenaan dengan Piutang-Pinjaman Dana Bergulir 48
• Rincian dan saldo piutang beserta anggunan (jika ada) menurut kualitasnya 49
• Penjelasan atas usaha-usaha yang dilakukan untuk penyelesaian piutang pinjaman 50
dana bergulir dengan kualitas macet. 51
• Piutang Pinjaman Dana- Bergulir yang penagihannya telah diserahkan kepada 52
PUPN 53
54
B. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir 55
1. Pengakuan 56
Piutang atas Bunga/Bagi Hasil diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan 57
bunga/bagi hasil. Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir timbul dari penyaluran 58
Dana Bergulir yang pada perjanjiannya memuat ketentuan bahwa debitur diwajibkan 59
untuk membayar/memberikan bunga bagi hasil dengan nilai tertentu kepada penyalur 60
Dana Bergulir. 61
2. Pengukuran 62
Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir diakui sebesar nilai Bunga/Bagi Hasil 63
yang sudah jatuh tempo namun belum dibayarkan penerima Dana Bergulir. 64
3. Penyajian 65
Piutang atas Bunga/Bagi Hasil Dana Bergulir disajikan pada kelompok aset lancar di 66 neraca. 67 68 69 70 71