KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
DAFTAR UNDANGAN
FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan
Gedung Ex MA, 9 Juni 2015
1. Kepala Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi dan Pengembangan Pemeriksaan
Keuangan Negara, Badan Pemeriksa Keuangan
2. Kepala Direktorat Litbang, Badan Pemeriksa Keuangan
3. Deputi PIP Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan
4. Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Kementerian Keuangan
5. Direktur STAN
6. Direktur Pengelolaan Kas Negara
7. Inspektur I, Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan
8. Inspektur VI, Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan
9. Sekretaris Ditjen Pajak Kementerian Keuangan
10. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan
11. Direktur Teknologi Informasi Perpajakan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan
12. Direktur Pemeriksaan dan Penagihan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan
13. Direktur Peraturan Perpajakan I, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan
14. Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan
15. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeaan dan Cukai, Ditjen Bea dan Cukai
Kementerian Keuangan
16. Kepala BPKD Pemprov DKI
17. Kepala DPKD Pemerintah Kota Depok
18. Kepala DPKD Pemerintah Kota Semarang
19. Kepala DPKD Pemerintah Kota Bandar Lampung
20. Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
DAFTAR UNDANGAN
FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan
Gedung Ex MA, 9 Juni 2015
1. Dr. Binsar H. Simanjuntak, CMA, Ketua Komite Kerja
2. Drs. AB Triharta, Ak., MM., Wakil Ketua Komite Kerja
3. Sonny Loho, Ak., MPM., Sekretaris Komite Kerja
4. Dr. Jan Hoesada. , Anggota Komite Kerja
5. Yuniar Yanuar Rasyid, Ak., MM., Anggota Komite Kerja
6. Dr. Dwi Martani, Ak., Anggota Komite Kerja
7. Sumiyati, Ak., MFM, Anggota Komite Kerja
8. Firmansyah N. Nazaroedin, Ak., M.Sc., Anggota Komite Kerja
9. Drs. Hamdani, MM., M.Si., Ak., Anggota Komite Kerja
10. Edward U.P. Nainggolan, Ak., M.Ak., Ketua Kelompok Kerja
11. Mega Meilistya, SE., Ak., MBA., Wakil Ketua Kelompok Kerja
12. Moh. Hatta, Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja
13. Amdi Very Dharma, Ak., M.Acc., Anggota Kelompok Kerja
14. Drs. M. Agus Kristianto, Ak., MA, Anggota Kelompok Kerja
15. Chalimah Pujihastuti, SE., Ak., MAFIS, Anggota Kelompok Kerja
16. Yulia Candra Kusumarini SE, S.Sos, Anggota Kelompok Kerja
17. Hasanuddin, Ak., M., Ak., Anggota Kelompok Kerja
18. Syaiful, SE., Ak, MM., Anggota Kelompok Kerja
19. Hamim Mustofa, Ak., Anggota Kelompok Kerja
20. Heru Novandi, SE., Ak., Anggota Kelompok Kerja
21. Muliani Sulya F., SE., Anggota Kelompok Kerja
22. Zulfikar Aragani, SE., MM., Anggota Kelompok Kerja
23. Mugiya Wardhani, SE, M. Si. Anggota Kelompok Kerja
24. Rahmat Mulyono, SE., Ak., M. Acc. Anggota Kelompok Kerja
25. Lucia Widiharsanti, SE., M.Si., CFE., Anggota Kelompok Kerja
26. Dr. Mei Ling, SE., Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja
27. Jamason Sinaga, Ak., SIP, Anggota Kelompok Kerja
28. Kadek Imam Eriksiawan, M.Sc., Ak., M.Prof., Acc.,BAP., Anggota Kelompok Kerja
29. Slamet Mulyono, SE., Ak., M.Prof.Acc., Anggota Kelompok Kerja
30. Joni Afandi, SE., Ak., M.Si., Anggota Kelompok Kerja
31. Doddy Setiadi, Ak., MM., CPA., Anggota Kelompok Kerja
32. Budiman, SST., SE., MBA., Ak., Anggota Kelompok Kerja
33. Joko Supriyanto, SST.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
34. Mauritz Cristianus Raharjo Meta, SST., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
35. Endah Martiningrum, SE.Ak., MBA, CA., Anggota Kelompok Kerja
36. Dwinanto, SE.,Ak., Anggota Kelompok Kerja
37. Isa Ashari Kuswandono, SE.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja
38. Ahmad Fauzi, SE., Anggota Kelompok Kerja
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
SUSUNAN ACARA
FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan
Gedung Ex MA, 9 Juni 2015
WAKTU ACARA NARASUMBER/PETUGAS
13.00 - 13.15 Registrasi dan Santap Siang Panitia
13.15 – 13.45
Sambutan Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Ketua Komite Konsultatif sekaligus membuka secara resmi acara FGD
Ketua Komite Konsultatif KSAP
13.45 – 14.00 Pembacaan Doa Panitia
14.00 – 14.30 Pemaparan Draf Bultek Akuntansi
Pendapatan Perpajakan KSAP
14.30 – 16.00 Diskusi dan Tanya Jawab KSAP dan Peserta
KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2
Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710
Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]
LEMBAR KONFIRMASI
Instansi : ... Nomor telepon/fax : ... Nomor ponsel : ...
Berikut adalah nama peserta yang akan hadir pada acara
Focus Group Discussion (FGD) Draf
Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan
yang diselenggarakan pada:Hari/tanggal : Selasa, 9 Juni 2015
Waktu : Pukul 13.00 WIB – 16.00 WIB Tempat : Ruang Ex MA
Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Jalan Lapangan Banteng Timur – Jakarta Pusat
No. NAMA JABATAN
1.
2.
..., Juni 2015
Nama: ...
Catatan: lembar konfirmasi harap difax ke (
021) 3864776
Kontak person: Zulfikar di 081385047137
AKUNTANSI
PENDAPATAN
PERPAJAKAN
BULETIN TEKNIS
STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAHAN
NOMOR XX
BULETIN TEKNIS
STANDAR AKUNTANSI
PEMERINTAHAN
AKUNTANSI
PENDAPATAN
PERPAJAKAN
NOMOR XX
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
Sekretariat :
Gedung Prijadi Praptosuhardjo III, Lantai 2
Jl. Budi Utomo No. 6 Jakarta 10710, Indonesia
Telepon/Faksimile : +62 21 3524551
http://www.ksap.org
e-mail : [email protected]
[email protected]
DAFTAR ISI
BAB I – PENDAHULUAN 1
BAB II - PENDAPATAN PERPAJAKAN 2
II.1. Definisi Pajak 2
II.2. Jenis Pajak 2
II.2.1. Pajak Pusat 2
II.2.2. Pajak Daerah 7
II.3. Sistem Pemungutan Pajak 11
II.4. Pembayaran Dan Pengembalian Pajak 13
II.4.1. Pajak Pusat 13
II.4.2. Pajak Daerah 15
BAB III – AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN PEMERINTAH PUSAT 16
III.1. Akuntansi Pendapatan LRA 16
III.1.1. Pengakuan 16
III.1.2. Pengukuran 17
III.1.3. Ilustrasi Pencatatan 17
III.2. Akuntansi Pendapatan LO 18
III.2.1. Pengakuan 18
III.2.2. Pengukuran 20
III.2.3. Ilustrasi Pencatatan 22
BAB IV – AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN PEMERINTAH DAERAH 31
IV.1. Pengakuan 31
IV.1.1. Pendapatan Pajak Daerah-LRA 31
BAB I
1
PENDAHULUAN
2
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
3
Pemerintahan (SAP) mengatur standar bagi entitas pemerintahan dalam penyusunan
4
dan penyajian laporan keuangan dengan basis akrual yang akan dilaksanakan mulai
5
tahun anggaran 2015. Berdasarkan peraturan tersebut, selain diwajibkan menyusun
6
Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas
7
Laporan Keuangan (CaLK), pemerintah juga diwajibkan menyusun dan menyajikan
8
Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan
9
Laporan Perubahan Ekuitas (LPE). LRA menyajikan pendapatan, belanja, dan
10
pembiayaan dengan basis kas, sedangkan LO menyajikan pendapatan dan beban
11
dengan basis akrual.
12
Salah satu jenis pendapatan yang harus disajikan, baik dalam LRA maupun LO
13
adalah pendapatan perpajakan. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang
14
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-15
Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
16
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pendapatan perpajakan
17
merupakan salah satu sumber pendapatan penting guna membiayai pelaksanaan
18
pemerintahan. Pendapatan perpajakan adalah pendapatan dari transaksi non pertukaran
19
yaitu manfaat ekonomi yang diterima pemerintah tanpa kewajiban pemerintah
20
menyampaikan prestasi balik atau imbalan balik. Pendapatan perpajakan merupakan
21
sumber utama untuk penerimaan negara.
22
Kewenangan untuk memungut pajak ada yang berada di Pemerintah Pusat yang
23
selanjutnya disebut Pajak Pusat dan ada yang berada di Pemerintah Daerah, yang
24
selanjutnya disebut Pajak Daerah.
25
Pendapatan perpajakan pemerintah pusat adalah Pajak Penghasilan, Pajak
26
Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Barang Mewah, Pajak Bumi
27
Dan Bangunan, Cukai, Meterai, Bea Masuk, Dan Bea Keluar. Jenis pendapatan
28
perpajakan pada pemerintah daerah antara lain pajak kendaraan bermotor, bea balik
29
nama kendaraan bermotor, pajak hotel.
30
Banyaknya jenis pajak dan aturan yang mendasarinya membawa konsekuensi
31
bervariasinya saat pemungutan dan terutangnya pendapatan perpajakan. Kondisi
32
tersebut dapat menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para penyusun laporan,
33
pengguna laporan, dan institusi yang melakukan audit atas laporan keuangan
34
pemerintah.
35
Kompleksitas permasalahan pendapatan perpajakan yang timbul dari jumlah
36
pendapatan perpajakan yang sangat signifikan, jenis pajak dan karakteristiknya,
37
ketentuan yang mendasari serta saat pemungutan dan terutangnya pendapatan
38
perpajakan memerlukan pengaturan yang lebih rinci bagaimana cara
39
mengakuntansikannya. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu disusun Buletin Teknis
40
tentang Akuntansi Pendapatan Perpajakan yang diharapkan dapat memberikan panduan
41
agar terdapat kesamaan pemahaman tentang cara mengindentifikasi, mengakui,
42
mengukur, dan menyajikan pos Pendapatan Perpajakan-LRA dan Pendapatan
43
Perpajakan-LO, baik oleh penyusun laporan, pengguna laporan, dan institusi yang
44
melakukan audit atas laporan keuangan pemerintah.
45
46
47
1 BAB II
1
PENDAPATAN PERPAJAKAN
2
II.1.DEFINISI PAJAK
3
Pajak dibedakan menjadi pajak Pemerintah Pusat dan pajak pemerintah daerah.
4
Definisi pajak pada Pajak Pemerintah Pusat diatur dalam Undang-Undang Nomor 28
5
Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Undang-undang Nomor 6 Tahun 2003 tentang
6
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) dan definisi pajak pada pajak
7
pemerintah daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
8
Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD).
9
Menurut Pasal 1 UU KUP, definisi pajak adalah kontribusi wajib kepada negara
10
yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
11
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
12
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
13
Selanjutnya menurut Pasal 1 UU PDRD, definisi pajak daerah adalah kontribusi
14
wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
15
memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
16
langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran
17
rakyat.
18
Berdasarkan definisi-definisi di atas, pemungutan pajak lebih didasarkan pada hak
19
negara/daerah yang didasarkan undang-undang, tanpa imbalan langsung dan digunakan
20
untuk keperluan negara/pemerintah daerah
21
Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang dipungut dan dicatat oleh Pemerintah Pusat
22
yang dalam hal ini dikelola oleh Kementerian Keuangan, sedangkan Pajak Daerah
23
adalah pajak-pajak yang dipungut dan dicatat oleh pemerintah daerah baik di tingkat
24
propinsi, kabupaten atau kota.
25
II.2.PAJAK PUSAT 2
26
Pajak Pusat adalah pajak yang dipungut oleh Kementerian Keuangan atau otoritas
27
perpajakan lainnya yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
28
Pemungutan Pajak oleh pemerintah diamanatkan oleh Undang-Undang Pajak
29
Penghasilan, Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang
30
Mewah, Undang-Undang Pajak Bumi Bangunan (sektor Perkebunan, Perhutanan, dan
31
Pertambangan), Undang Bea Materai, Undang Pabean dan
Undang-32
Undang Cukai.
33
Sesuai dengan amanat UU PDRD, kewenangan pemungutan PBB Sektor
34
Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang selama ini dimiliki oleh Pemerintah Pusat
35
melalui Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas
Undang-36
Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan berlaku hanya
37
sampai dengan 31 Desember 2013 dan selanjutnya dilimpahkan kepada Pemerintah
38
Daerah.
39
Penyajian pendapatan perpajakan pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
40
dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu: Pendapatan Pajak Dalam Negeri dan
41
Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional.
42
A. Pendapatan Pajak Dalam Negeri
43
Pendapatan Pajak Dalam Negeri terdiri dari pendapatan pajak yang
44
pemungutannya didasarkan pada Undang-Undang Pajak Penghasilan, Undang-Undang
45
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah, Undang-Undang Pajak
46
Bumi Bangunan (sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan), Undang-Undang
1
Bea Materai, dan Undang-Undang Cukai.
2
1. Pendapatan Pajak Penghasilan
3
Pajak Penghasilan diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang
4
Perubahan Keempat atas Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan (UU
5
PPh).
6
Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap setiap tambahan
7
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
8
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
9
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
10
dengan nama dan dalam bentuk apa pun.
11
Jenis Pajak Penghasilan
12
Pembayaran pajak ke kas negara sesuai dengan UU PPh, tidak selalu dilakukan
13
oleh wajib pajak, tetapi dapat dilakukan oleh pihak lain dan merupakan kredit
14
pajak bagi wajib pajak tersebut. Jenis pajak ini antara lain Pajak Penghasilan
15
Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 dan Pasal 26.
16
• Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak yang dipotong oleh:
17
a. pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
18
pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang
19
dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;
20
b. bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan,
21
dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;
22
c. dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan
23
pembayaran lain dengan nama apa pun dalam rangka pensiun;
24
d. badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan
25
sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan
26
pekerjaan bebas; dan
27
e. penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan
28
pelaksanaan suatu kegiatan.
29
Pemotongan pajak tersebut dilakukan atas penghasilan sehubungan dengan
30
pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang
31
diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.
32
• Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah pajak yang dipungut oleh:
33
a. bendahara pemerintah untuk pajak sehubungan dengan pembayaran
34
atas penyerahan barang;
35
b. badan-badan tertentu untuk pajak dari Wajib Pajak yang melakukan
36
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain; dan
37
c. Wajib Pajak badan tertentu untuk pajak dari pembeli atas penjualan
38
barang yang tergolong sangat mewah.
39
• Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah pajak yang dipotong oleh pihak yang
40
membayarkan penghasilan berupa:
41
a. deviden, bunga, royalty dan hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya
42
selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan;
43
b. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
44
kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
45
harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan; dan
46
c. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa
1
konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong
2
Pajak Penghasilan.
3
• Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran pajak dalam tahun pajak
4
berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan
5
sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan
6
Tahunan tahun pajak yang lalu.
7
• Pajak Penghasilan Pasal 26 adalah pajak yang dipotong oleh pihak yang
8
wajib membayarkan penghasilan berupa:
9
a. dividen;
10
b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan
11
jaminan pengembalian utang;
12
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
13
harta;
14
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
15
e. hadiah dan penghargaan;
16
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
17
g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
18
h. keuntungan karena pembebasan utang.
19
20
• Pajak Penghasilan Pasal 29 adalah pembayaran kekurangan pajak yang
21
harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
22
disampaikan.
23
Sesuai UU PPh terdapat pengaturan khusus mengenai pajak dibidang
24
pertambangan minyak dan gas bumi. Pengaturan tersebut terdapat dalam pasal
25
33A ayat 4 dimana Wajib Pajak yang menjalankan usaha dibidang
26
pertambangan minyak dan gas bumi, pertambangan umum, dan pertambangan
27
lainnya berdasarkan Kontrak Bagi Hasil, Kontrak Karya, atau perjanjian
28
kerjasama pengusahaan pertambangan yang masih berlaku pada saat
29
berlakunya Undang-undang PPh, pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan
30
dalam Kontrak Bagi Hasil, Kontrak Karya, atau perjanjian kerjasama
31
pengusahaan pertambangan tersebut sampai dengan berakhirnya kontrak atau
32
perjanjian kerjasama dimaksud.
33
34
2. Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
35
Barang Mewah
36
Pajak Pertambahan Nilai dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah diatur dalam
37
Undang-undang Nomor 42 tahun 2008 Perubahan Ketiga UU Nomor 8 tahun 1983
38
Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang
39
Mewah (UU PPN).
40
Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan terhadap:
41
a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
42
Pengusaha;
43
b. impor Barang Kena Pajak;
44
c. penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
45
Pengusaha;
46
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di
1
dalam Daerah Pabean;
2
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
3
Pabean;
4
f. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;
5
g. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan
6
h. ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
7
8
Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah pajak yang dikenakan terhadap:
9
a. Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dilakukan oleh
10
pengusaha yang menghasilkan barang tersebut di dalam Daerah Pabean dalam
11
kegiatan usaha atau pekerjaannya; dan
12
b. impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah.
13
14
3. Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan
15
Pajak Bumi dan Bangunan diatur dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 1985
16
sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan UU Nomor 12 tahun 1994 tentang
17
Pajak Bumi dan Bangunan (UU PBB).
18
19
Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan terhadap bumi dan
20
bangunan dimana subyek pajaknya adalah orang atau badan yang secara nyata
21
mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau
22
memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.
23
Pendapatan PBB dibedakan menjadi 5 (lima) sektor, yaitu: Perdesaan, Perkotaan,
24
Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan.
25
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 tentang
26
Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan
27
Perkotaan adalah termasuk dalam pajak daerah. Sehingga pendapatan PBB yang
28
dicatat menjadi pendapatan Pemerintah Pusat adalah PBB Perkebunan, PBB
29
Perhutanan, dan PBB Pertambangan.
30
Wajib Pajak membayar PBB berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang
31
(SPPT) yang diterbitkan oleh otoritas perpajakan setiap tahun atau berdasarkan
32
surat ketetapan PBB.
33
34
Otoritas Perpajakan dapat mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak dalam hal-hal
35
sebagai berikut :
36
a. apabila Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP) tidak disampaikan dan
37
setelah ditegor secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam
38
Surat Tegoran;
39
b. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah
40
yang terutang lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP
41
yang disampaikan oleh wajib pajak.
42
43
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Tagihan
44
Pajak merupakan dasar penagihan pajak.
45
46
4. Pendapatan Cukai
47
Cukai diatur dalam Undang-undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Perubahan atas
48
UU Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai (UU Cukai).
49
Definisi Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang
1
tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam
undang-2
undang.
3
Saat pengenaan cukai, mulai berlaku untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di
4
Indonesia pada saat selesai dibuat dan untuk Barang Kena Cukai yang diimpor pada
5
saat pemasukannya ke dalam Daerah Pabean sesuai dengan ketentuan
Undang-6
undang tentang Kepabeanan.
7
Penanggung jawab cukai untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia,
8
berada pada Pengusaha Pajak atau Pengusaha Tempat Penyimpanan, dan untuk
9
Barang Kena Cukai yang diimpor berada pada Importir atau pihak-pihak lain
10
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Kepabeanan.
11
Dokumen yang digunakan untuk pemenuhan ketentuan Undang-undang Cukai
12
dilakukan dengan menggunakan dokumen cukai dan/atau dokumen pelengkap cukai.
13
5. Pendapatan Bea Materai dan Pendapatan dari Penjualan Benda Materai
14
Bea Meterai diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
15
1985 tentang Bea Meterai.
16
Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas pemanfaatan dokumen, seperti surat
17
perjanjian, akta notaris, serta kuitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yang
18
memuat jumlah uang atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.
19
20
Saat terhutang Bea Meterai ditentukan dalam hal:
21
a. dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan;
22
b. dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya
23
dokumen itu dibuat;
24
c. dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.
25
Bea Meterai terhutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat
26
dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.
27
28
B. Pendapatan Perpajakan Internasional
29
Pendapatan Perpajakan Internasional terdiri dari Pendapatan Bea Masuk dan
30
Pendapatan Bea Keluar yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 17 tahun 2006
31
tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan
32
(UU Kepabeanan).33
34
a. Bea Masuk35
Bea Masuk adalah pungutan negara berdasarkan Undang-undang yang dikenakan
36
terhadap barang yang diimpor.
37
Pembayaran Bea Masuk, denda administrasi, dan bunga yang terutang kepada
38
negara dibayar di kas negara atau di tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh
39
Menteri Keuangan.40
41
b. Bea Keluar42
Bea Keluar adalah pungutan negara berdasarkan Undang-Undang yang dikenakan
43
terhadap barang ekspor.
44
Pembayaran Bea Keluar, denda administrasi, dan bunga yang terutang kepada
45
negara dibayar di kas negara atau di tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh
46
Menteri Keuangan (tanyakan ke DJBC, mengapa di UU baru tidak ada kalimat
47
tentang pembayaran bea keluar).
48
1
II.3. Pajak Daerah
2
Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut pemerintah daerah berdasarkan
Undang-3
undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, jenis pajak yang
4
dipungut oleh pemerintah daerah terbagi menjadi:
5
1. Jenis Pajak provinsi terdiri atas:
6
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
7
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
8
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
9
d. Pajak Air Permukaan; dan
10
e. Pajak Rokok.
11
2. Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:
12
a. Pajak Hotel;13
b. Pajak Restoran;14
c. Pajak Hiburan;15
d. Pajak Reklame;16
e. Pajak Penerangan Jalan;
17
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
18
g. Pajak Parkir;
19
h. Pajak Air Tanah;
20
i. Pajak Sarang Burung Walet;
21
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan
22
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
23
Pemerintah daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak di atas. Jenis Pajak
24
Provinsi hanya dapat dipungut oleh pemerintah provinsi, dan jenis Pajak Kabupaten/Kota
25
hanya dapat dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota. Akan tetapi, khusus untuk Daerah
26
yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi tidak terbagi dalam daerah kabupaten/kota
27
otonom, seperti Daerah Khusus Ibu kota Jakarta, jenis Pajak yang dapat dipungut
28
merupakan gabungan dari Pajak untuk daerah provinsi dan Pajak untuk daerah
29
kabupaten/kota.
30
31
B. 1 Pendapatan Pajak Provinsi
32
a. Pajak Kendaraan Bermotor
33
Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan
34
kendaraan bermotor.
35
Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan
36
Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk Masa Pajak 12 bulan
37
berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran Kendaraan Bermotor. Pemungutan Pajak
38
Kendaraan Bermotor dilakukan bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Nomor
39
Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor dibayar sekaligus di muka.
40
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
1
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik
2
kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
3
keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan
4
ke dalam badan usaha.
5
Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan
6
kepemilikan Kendaraan Bermotor. Pembayaran Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
7
dilakukan pada saat pendaftaran.
8
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
9
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar
10
kendaraan bermotor. Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Bahan
11
Bakar Kendaraan Bermotor yang disediakan atau dianggap digunakan untuk
12
kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan di air.
13
Dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Bahan
14
Bakar Kendaraan Bermotor sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
15
d. Pajak Air Permukaan
16
Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air
17
permukaan. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah,
18
tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat. Objek Pajak Air
19
Permukaan adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan.
20
e. Pajak Rokok
21
Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah.
22
Objek Pajak Rokok adalah konsumsi rokok. Rokok meliputi sigaret, cerutu, dan rokok daun.
23
Dikecualikan dari objek Pajak Rokok adalah rokok yang tidak dikenai cukai
24
berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang cukai. Pajak Rokok dipungut oleh
25
instansi Pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan
26
cukai rokok.
27
28
Berdasarkan pasal 94 ayat (1) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009, hasil
29
penerimaan Pajak sebagian diperuntukkan bagi kabupaten/kota di wilayah provinsi yang
30
bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut:
31
a.
hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan32
Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 30% (tiga puluh persen);
33
b.
hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada34
kabupaten/kota sebesar 70% (tujuh puluh persen);
35
c.
hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 70%36
(tujuh puluh persen); dan
37
d.
hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar38
50% (lima puluh persen).
39
B.2 Pendapatan Pajak Kabupaten/Kota
40
a.
Pajak Hotel41
Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel
42
adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya
43
dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata,
44
wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos
45
dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).
46
Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan
1
pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya
2
memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. Jasa
3
penunjang meliputi fasilitas telepon, faksimile, teleks, internet, fotokopi, pelayanan cuci,
4
seterika, transportasi, dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola Hotel.
5
6
b.
Pajak Restoran7
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.
8
Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut
9
bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan
10
sejenisnya termasuk jasa boga/katering.
11
Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran, meliputi
12
pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik
13
dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain. Tidak termasuk objek Pajak
14
Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran yang nilai penjualannya tidak
15
melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dasar pengenaan
16
Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima
17
Restoran.
18
c.
Pajak Hiburan19
Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua
20
jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan
21
dipungut bayaran. Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan
22
dipungut bayaran.
23
Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang
24
seharusnya diterima oleh penyelenggara Hiburan termasuk potongan harga dan tiket
cuma-25
cuma yang diberikan kepada penerima jasa Hiburan.
26
d.
Pajak Reklame27
Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Reklame adalah
28
benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk
29
tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik
30
perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat, dibaca,
31
didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum.
32
Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame. Dasar
33
pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame.
34
e.
Pajak Penerangan Jalan35
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik
36
yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. Objek Pajak Penerangan
37
Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang
38
diperoleh dari sumber lain.
39
40
f.
Pajak Mineral Bukan Logam41
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan
42
mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau
43
permukaan bumi untuk dimanfaatkan. Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral
44
bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan
perundang-45
undangan di bidang mineral dan batubara.
46
Dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Nilai Jual Hasil
47
Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan.
48
1
g.
Pajak Parkir2
Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan
3
jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan
4
sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
5
Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.
6
Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik
7
yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu
8
usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
9
h.
Pajak Air Tanah10
Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah.
11
Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
12
permukaan tanah. Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan
13
Air Tanah.
14
i.
Pajak Sarang Burung Walet15
Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau
16
pengusahaan sarang burung walet. Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah
17
pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet.
18
j.
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan19
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi
20
dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi
21
atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan,
22
perhutanan, dan pertambangan.
23
k.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)24
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas
25
tanah dan/atau bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah
26
perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah
27
dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan.
28
Saat terutangnya pajak BPHTB ditetapkan untuk:
29
a.
jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;30
b.
tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;31
c.
hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;32
d.
hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;33
e.
waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke34
kantor bidang pertanahan;
35
f.
pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal36
dibuat dan ditandatanganinya akta;
37
g.
pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan38
ditandatanganinya akta;
39
h.
putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pangadilan yang mempunyai40
kekuatan hukum yang tetap;
41
i.
pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah42
sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;
43
j.
pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya1
surat keputusan pemberian hak;
2
k.
penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;3
l.
peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;4
m.
pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;5
n.
hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; dan6
o.
lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang.7
8
II.3. Sistem Pemungutan Perpajakan
9
Terdapat 2 (dua) metode yang digunakan untuk pemungutan pajak, yaitu melalui self
10
assessment dan official assessment.
11
Sistem self assesment artinya masyarakat sendirilah yang harus aktif melaksanakan
12
kewajiban pajak yang ditentukan peraturan perundang-undangan, tanpa harus ada
13
inisiatif tindakan lebih dahulu dari otoritas perpajakan. Kewajiban tersebut meliputi
14
mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor identitas perpajakan, menghitung sendiri
15
jumlah kewajiban pajaknya, menyetor sendiri jumlah pajak tersebut ke tempat yang telah
16
ditunjuk dan melaporkannya kepada otoritas perpajakan.
17
Sistem Official Assesment artinya elemen masyarakat baru akan melaksanakan
18
kewajiban pajak setelah ditentukan dan dihitung lebih dahulu oleh pihak otoritas
19
perpajakan. Pada saat wajib pajak telah menerima hasil perhitungan otoritas perpajakan
20
maka masyarakat menyetor ke tempat yang telah ditunjuk oleh otoritas perpajakan.
21
22
C. 1. Pemerintah Pusat
23
Secara umum peraturan perpajakan pada Pemerintah Pusat menganut sistem pemungutan
24
self assesment, antara lain UU PPh dan UU PPN sebagaimana diatur dalam
Undang-25
undang Ketentuan Umum Perpajakan, kecuali Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan
26
menganut sistem official assessement.
27
Dalam UU KUP disebutkan bahwa wajib pajak secara proaktif yang telah memenuhi
28
persyaratan wajib mendaftarkan diri ke kantor pajak dan melaporkan usahanya. Wajib Pajak
29
wajib mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) yaitu surat digunakan untuk melaporkan
30
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, obyek pajak dan/atau bukan obyek pajak, dan
31
atau harta dan kewajiban.
32
Dari hasil perhitungan pajak terutang yang dilakukan wajib pajak, wajib pajak wajib
33
membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak
34
atau dokumen lain yang dipersamakan ke kas negara melalui tempat pembayaran yang
35
telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan tidak menggantungkan pada adanya surat
36
ketetapan pajak.
37
Pajak yang disetorkan ke kas negara adalah pajak yang menjadi kewajibannya sendiri,
38
misalnya PPh Pasal 25 dan pajak-pajak yang dipotong/dipungut dari pihak lain, misalnya
39
PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26.
40
Pajak pada prinsipnya terutang pada saat timbulnya objek pajak yang dapat dikenai pajak,
41
tetapi untuk kepentingan administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah:
42
a. pada suatu saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong pihak ketiga;
43
b. pada akhir masa, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi kerja atau yang
44
dipungut oleh pihak lain atas kegiatan usaha atau oleh Pengusaha Kena Pajak atas
45
pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas
1
Barang Mewah; atau
2
c. pada akhir Tahun Pajak, untuk Pajak Penghasilan.
3
Jumlah pajak yang terutang yang telah dipotong, dipungut ataupun yang harus dibayar oleh
4
Wajib Pajak setelah tiba saat atau masa pelunasan pembayaran, oleh Wajib Pajak harus
5
disetor ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan
6
Peraturan Menteri Keuangan.
7
Otoritas Perpajakan sesuai UU KUP tidak berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan
8
pajak atas semua Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Penerbitan suatu
9
surat ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh
10
ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan atau karena ditemukannya data fiskal
11
yang tidak dilaporkan Wajib Pajak.
12
13
Wajib Pajak yang telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang secara
14
benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, serta
15
melaporkan salam Surat Pemberitahuan, tidak perlu diberikan surat ketetapan pajak
16
ataupun Surat Tagihan Pajak.
17
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang dihitung dan
18
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan yang bersangkutan tidak benar, misalnya
19
pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya, otoritas perpajakan menetapkan
20
besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya sesuai dengan peraturan
perundang-21
undangan perpajakan dalam surat ketetapan.
22
Sistem official assesment terjadi pada saat otoritas perpajakan menerbitkan suatu
23
ketetapan/keputusan/tagihan.
24
Otoritas pajak dapat menerbitkan antara lain: Surat Ketetapan Pajak (meliputi Surat
25
Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
26
Ketetapan Pajak Nihil, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar), Surat Tagihan Pajak, Surat
27
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, Surat Keputusan Imbalan Bunga,
28
Surat Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Pemberitahuan Pajak Terutang atau
29
ketetapan/keputusan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.
30
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar/Kurang Bayar Tambahan diterbitkan apabila
31
berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang
32
dibayar.
33
Surat Ketetapan Pajak Nihil apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain
34
pajak yang terutang sama dengan jumlah kredit pajak.
35
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan apabila berdasarkan hasil pemeriksaan
36
jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang
37
terutang. Apabila Wajib Pajak masih mempunyai utang pajak, kelebihan pembayaran
38
tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak tersebut dan jika masih
39
terdapat sisa lebih, dikembalikan kepada wajib pajak.
40
Surat Tagihan Pajak diterbitkan antara lain apabila wajib pajak dikenai sanksi administrasi
41
berupa denda dan/atau bunga.
42
Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak diterbitkan setelah
43
dilakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari
44
Wajib Pajak dengan kriteria tertentu.
45
Surat Keputusan Imbalan Bunga diterbitkan pada saat pemerintah memberikan imbalan
46
bunga sebesar 2% per bulan atas keterlambatan pengembalian kelebihan pembayaran
47
pajak dihitung sejak berakhirnya jangka waktu (sesuai ketentuan) sampai dengan saat
48
diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak. Jika ternyata
49
wajib pajak mempunyai utang pajak, langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih
1
dahulu utang pajak tersebut.
2
Surat Pembetulan diterbitkan apabila atas permohonan wajib pajak atau karena jabatannya
3
terdapat surat ketetapan/keputusan/tagihan yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan
4
tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu.
5
Surat Keputusan Keberatan diterbitkan atas permohonan keberatan wajib pajak yang
6
dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya
7
jumlah pajak yang masih harus dibayar.
8
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang diterbitkan oleh otoritas pajak untuk
9
memberitahukan pajak terutang atas Bumi dan Bangunan kepada Wajib Pajak
10
11
II. 2 Pemerintah Daerah
12
Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah Yang
13
Dipungut Berdasarkan Penetapan mengatur pemungutan pajak daerah, yaitu berdasarkan:
14
1. Penetapan kepala daerah untuk Pajak Kendaraan Bermotor; Bea Balik Nama
15
Kendaraan Bermotor; Pajak Air Permukaan; Pajak Reklame; Pajak Air Tanah; dan
16
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.
17
2. Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; Pajak
18
Rokok; Pajak Hotel; Pajak Restoran; Pajak Hiburan; Pajak Penerangan Jalan; Pajak
19
Mineral Bukan Logam dan Batuan; Pajak Parkir; Pajak Sarang Burung Walet; dan Bea
20
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
21
22
Pemungutan Pajak terutang berdasarkan surat ketetapan Pajak merupakan
23
pembayaran Pajak terutang oleh Wajib Pajak berdasarkan penetapan Kepala Daerah
24
dengan menggunakan:
25
a. Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan; atau
26
b. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang.
27
Pemungutan Pajak terutang dengan cara dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
28
sebagaimana merupakan pembayaran Pajak terutang oleh Wajib Pajak dengan
29
menggunakan:
30
a. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah;
31
b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar; dan/atau
32
c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan.
33
34
II.4. Pembayaran dan Pengembalian Perpajakan
35
II. 4. a. Pajak Pusat
36
a. Pembayaran Perpajakan
37
38
Wajib Pajak (orang pribadi atau badan) dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya
39
harus sesuai dengan sistem self assessment, yaitu wajib melakukan sendiri penghitungan,
40
pembayaran, dan pelaporan pajak terutang tanpa terlebih dahulu menunggu ketetapan
41
pajak.
42
43
Mekanisme Pembayaran Pajak bagi Wajib Pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:
44
1. Membayar sendiri pajak yang terutang
45
- Wajib Pajak melakukan pembayaran angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal 25) di
1
kas Negara atau tempat lain yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Kewajiban
2
jenis pajak lainnya seperti PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 21, 22, dan 23,
3
serta PPh Pasal 26, dapat dilakukan melalui pemotongan dan pemungutan oleh
4
pihak lain. Pihak lain tersebut adalah: Pemberi Penghasilan, Pemberi Kerja atau
5
Pihak lain yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah.
6
- Wajib Pajak melakukan pembayaran PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa
7
ataupun oleh pihak yang ditunjuk pemerintah.
8
- Wajib Pajak melakukan pembayaran pajak lainnya seperti PBB yaitu pelunasan
9
berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), pembayaran Bea
10
Materai, Cukai, dan Bea Keluar di kas Negara atau tempat lain yang telah ditunjuk
11
oleh Menteri Keuangan.
12
13
2. Pemotongan/Pemungutan Pajak
14
Selain pembayaran bulanan yang dilakukan sendiri, ada pembayaran bulanan yang
15
dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan yang dilakukan oleh pihak pemberi
16
penghasilan. Pihak pemberi penghasilan adalah pihak yang ditunjuk berdasarkan ketentuan
17
perpajakan untuk memotong/memungut, antara lain yang ditunjuk tersebut adalah badan
18
Pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap
19
atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. Untuk subjek pajak badan dalam negeri,
20
maka diwajibkan juga sebagai pemotong/pemungutan pajak. Adapun jenis
21
pemotongan/pemungutan adalah: PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal
22
26, PPh Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15 dan PPN dan PPn BM.
23
Pemungutan/pemotongan oleh Bendahara Umum Negara sebagai wajib pungut yang
24
dimaksud diatas adalah pemungutan/pemotongan atas pembayaran kepada pihak ke-3
25
melalui Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) melalui Kantor Pelayanan
26
Perbendaharaan Negara (KPPN).
27
Pemungutan/pemotongan pajak oleh Bendahara Pengeluaran pada satuan kerja,
28
Bendahara Umum Daerah atau Bendahara Pengeluaran SKPD sebagai wajib pungut, diakui
29
sebagai Pendapatan Perpajakan-LO pada saat Bendahara Pengeluaran tersebut
30
menyetorkan ke kas negara.
31
Wajib Pajak dapat membayar atau menyetor pajak terutang dengan menggunakan Surat
32
Setoran Pajak (SSP) ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau
33
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (Bank/Pos Persepsi). SSP berfungsi sebagai
34
bukti pembayaran pajak.
35
Pada Pemerintah Pusat, Bendahara Umum Negara dapat berfungsi sebagai pemungut dan
36
pemotong pajak atas wajib pajak yang menerima pembayaran atas belanja yang berasal
37
dari APBN. Pembayaran atas belanja yang berasal dari APBN yang diterima oleh pihak
38
yang berhak selaku Wajib Pajak adalah sebesar neto, yaitu jumlah pembayaran dikurangi
39
dengan jumlah pajak yang menjadi kewajiban pihak yang berhak (antara lain PPh Pasal 21,
40
PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (1), dan PPN). Bendahara Umum Negara
41
memberikan SSP kepada Wajib Pajak sebagai bukti pembayaran pajak.
42
Sesuai dengan peraturan perundangan, pada saat otoritas perpajakan menerbitkan Surat
43
Keputusan Pemberian Imbalan Bunga (SKP-IB) dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
44
(SKP LB) juga memperhitungkan kewajiban utang pajak dari wajib pajak tersebut.
45
Kelebihan pembayaran tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak dan
46
jika masih terdapat sisa lebih, dikembalikan kepada wajib pajak. Sehingga yang dibayarkan
47
kepada Wajib Pajak adalah sebesar neto, yaitu jumlah pembayaran imbalan bunga pajak
48
atau kelebihan pembayaran pajak dikurangi dengan jumlah utang pajak Wajib Pajak
1
tersebut.
2
Pembayaran imbalan bunga atau kelebihan pembayaran pajak dicatat sebesar nilai bruto
3
dari ketetapan tersebut. Potongan-potongan yang dilakukan oleh Otoritas Perpajakan
4
seperti piutang pajak dicatat sebagai penerimaan sebesar nilai yang diperhitungkan.
5
Pembayaran pajak oleh wajib pajak yang mempunyai ijin untuk melakukan pembukuan
6
dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan menggunakan mata uang asing.
7
b. Pengembalian Perpajakan
8
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, wajib pajak dapat mengajukan
9
permohonan pengembalian pajak apabila dalam Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
10
diketahui bahwa pajak terutang lebih kecil daripada kredit pajak atau pajak yang telah
11
dibayar.
12
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak
13
atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau
14
telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan Wajib
15
Pajak tidak punya hutang pajak lain.
16
Berdasarkan UU dimungkinkan terjadinya pengembalian penerimaan pajak (restitusi).
17
Resitusi ini dapat terjadi pada periode yang sama ataupun terjadi pada tahun-tahun
18
berikutnya (tahun tidak sama). Hal ini terjadi terus menerus setiap tahun sehingga
19
traksaksi ini merupakan transaksi yang berulang.
20
Oleh karena itu transaksi pengembalian penerimaan perpajakan diperlakukan sebagai
21
pengurang pendapatan pada periode terjadinya pengembalian, tidak perlu ditrasir ke
22
tahun penerimaan pajak yang bersangkutan.
23
24
II. 4. b. Pajak Daerah
25
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal
26
60 mengatur mekanisme pengembalian pendapatan, yaitu:
27
a. Pengembalian atas kelebihan pajak, retribusi, pengembalian tuntutan ganti rugi dan
28
sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang
29
bersangkutan untuk pengembalian penerimaan yang terjadi dalam tahun yang sama.
30
b. Untuk pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya
31
dibebankan pada rekening belanja tidak terduga.
32
BAB III
1
AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN
2
PEMERINTAH PUSAT
3
4
Akuntansi Pendapatan Perpajakan berbasis akrual dicatat/disajikan pada Laporan
5
Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan Operasional (LO) dalam mata uang rupiah.
6
Namun dalam hal tertentu sesuai dengan peraturan perundangan, Otoritas Perpajakan
7
mengizinkan Wajib Pajak untuk melakukan kewajibannya dalam membayar Pajak
8
Penghasilan (PPh) dalam mata uang dolar Amerika Serikat.
9
Pembayaran PPh dalam mata uang dolar Amerika Serikat dilakukan dalam rangka
10
memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak yang menggunakan pembukuan dalam
11
bahasa Inggris dan menggunakan satuan mata uang dolar Amerika Serikat.
12
Sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), pengaturan penggunaan mata uang
13
asing adalah sebagai berikut:
14
- Dalam hal tersedia dana dalam mata uang asing yang sama dengan yang digunakan
15
dalam transaksi, maka transaksi dalam mata uang asing tersebut dicatat dengan
16
menjabarkannya ke dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral
17
pada tanggal transaksi.
18
III.1 Akuntansi Pendapatan-LRA Perpajakan
19
III.1.1. Pengakuan
20
Pendapatan Perpajakan-LRA adalah seluruh penerimaan uang yang masuk
21
ke kas negara yang berasal dari perpajakan yang diakui sebagai penambah
22
SAL yang menjadi hak pemerintah dalam periode tahun anggaran yang
23
bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.
24
Pendapatan Perpajakan-LRA diakui pada saat kas tersebut diterima di
25
rekening kas umum negara.
26
27
Dokumen sumber pencatatan Pendapatan Perpajakan-LRA adalah bukti
28
pembayaran pajak yang telah dilakukan oleh wajib pajak ke kas negara
29
melalui tempat pembayaran yang ditunjuk Menteri Keuangan. Contoh
30
dokumen sumber antara lain Surat Setoran Pajak (SSP) dan Surat Setoran
31
Cukai Pabean (SSCP).
32
33
Jurnal untuk mengakui Pendapatan Perpajakan-LRA, sebagai berikut:
34
Uraian Jurnal Debet Kredit
Akun antara (D)
Pendapatan Pajak – LRA (K)
XXX
XXX
35
Jurnal tersebut diatas dapat dikembangkan sesuai dengan sistem akuntansi
36
pada Pemerintah Pusat.
37
Sistem perpajakan secara self assessment yang berlaku di Indonesia sesuai
38
dengan UU KUP, dimungkinkan wajib pajak membayar pajak ke kas negara
39
lebih besar daripada kewajibannya pada suatu masa atau tahun pajak,
40
sehingga wajib pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian atas
41
kelebihan pembayaran pajaknya. Atas permohonan pengembalian kelebihan
42
pembayaran pajak setelah dilakukan pemeriksaan oleh pemerintah dapat
43
menghasilkan lebih bayar atau nihil, sehingga pengembalian Pendapatan
44
Perpajakan-LRA merupakan pengembalian yang sifatnya normal dan
45
berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode penerimaan
46
maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang
1
pendapatan.
2
Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA diakui pada saat kas keluar dari
3
rekening kas umum negara.
4
Dokumen sumber pencatatan pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA
5
adalah dokumen pencairan dana yang diterbitkan oleh Bendahara Umum
6
Negara. Contoh dokumen sumber antara lain Surat Perintah Pencairan
7
Dana (SP2D).
8
Jurnal untuk mengakui Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA, sebagai
9
berikut:
10
Uraian Jurnal Debet Kredit
Pendapatan Pajak – LRA (D) Akun antara(K)
XXX
XXX
Jurnal tersebut diatas dapat dikembangkan sesuai dengan sistem akuntansi
11
pada Pemerintah Pusat.
12
13
III.1.2 Pengukuran
14
Pendapatan Perpajakan-LRA diukur sebesar nominal uang yang masuk ke
15
kas negara dari sumber pendapatan dengan menggunakan asas bruto, yaitu
16
pendapatan dicatat tanpa dikurangkan/ dikompensasikan dengan belanja
17
yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.
18
19
Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA diukur sebesar nominal uang
20
yang keluar dari kas negara.
21
22
Dalam hal wajib pajak diijinkan untuk melakukan pembukuan dalam mata
23
uang asing dan pembayarannya dalam mata uang asing, maka Pendapatan
24
Perpajakan-LRA dinilai sebesar kurs tengah bank sentral pada tanggal
25
transaksi.26
27
III.1.3. Penyajian28
Pendapatan Perpajakan-LRA disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran dan
29
Laporan Arus Kas per jenis pajak dalam mata uang rupiah. Apabila penerimaan kas
30
atas Pendapatan Perpajakan-LRA dalam mata uang asing, maka penerimaan
31
tersebut dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang
32
asing tersebut menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
33
Ilustrasi penyajian:
34
Laporan Realisasi Pendapatan Perpajakan-LRA
35
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0
36
Akun Uraian Anggaran
20X1 Realisasi 20X0 (%) Realisasi 20X0 xxx Pendapatan Perpajakan Dalam Negeri xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Pajak Penghasilan xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx
Akun Uraian Anggaran 20X1 Realisasi 20X0 (%) Realisasi 20X0 xxx
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah
xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx
xxx
Pajak Bumi dan Bangunan xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Cukai xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Pendapatan Perpajakan Internasional xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Bea Masuk xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Bea Keluar xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx
1
2
III.1.4. Pengungkapan3
Pendapatan Perpajakan-LRA yang dilaporkan pada Laporan Realisasi Anggaran
4
diungkapkan secara cukup dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Informasi
5
tersebut antara lain:
6
- Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengakuan dan pengukuran
7
PendapatanPerpajakan-LRA.
8
- Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target
9
APBN, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target,
10
serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka yang dianggap perlu
11
untuk dijelaskan.
12
- Perubahan undang-undang perpajakan.
13
14
III.2. Akuntansi Pendapatan Perpajakan-LO
15
III.2.1. Pengakuan
16
Sesuai dengan paragraf 19 PSAP 12, dinyatakan bahwa:
17
Pendapatan-LO diakui pada saat:
18
a. Timbulnya hak atas pendapatan;
19
b. Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
20
Sesuai dengan paragraf 20, Pendapatan-LO yang diperoleh berdasarkan peraturan
21
perundang-undangan diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan.
22
Selanjutnya sesuai dengan paragraf 22, Pendapatan-LO yang diakui pada saat
23
direalisasi adalah hak yang telah diterima oleh pemerintah tanpa terlebih dahulu
24
adanya penagihan.
25
Pengakuan Pendapatan-LO dibedakan berdasarkan sistem pemungutan pajak, yaitu
26
secara Self Assessment dan Official Assessment.