• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

DAFTAR UNDANGAN

FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan

Gedung Ex MA, 9 Juni 2015

1. Kepala Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi dan Pengembangan Pemeriksaan

Keuangan Negara, Badan Pemeriksa Keuangan

2. Kepala Direktorat Litbang, Badan Pemeriksa Keuangan

3. Deputi PIP Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Badan Pengawasan Keuangan dan

Pembangunan

4. Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Kementerian Keuangan

5. Direktur STAN

6. Direktur Pengelolaan Kas Negara

7. Inspektur I, Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan

8. Inspektur VI, Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan

9. Sekretaris Ditjen Pajak Kementerian Keuangan

10. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan

11. Direktur Teknologi Informasi Perpajakan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan

12. Direktur Pemeriksaan dan Penagihan, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan

13. Direktur Peraturan Perpajakan I, Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan

14. Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan

15. Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeaan dan Cukai, Ditjen Bea dan Cukai

Kementerian Keuangan

16. Kepala BPKD Pemprov DKI

17. Kepala DPKD Pemerintah Kota Depok

18. Kepala DPKD Pemerintah Kota Semarang

19. Kepala DPKD Pemerintah Kota Bandar Lampung

20. Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik

(3)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

DAFTAR UNDANGAN

FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan

Gedung Ex MA, 9 Juni 2015

1. Dr. Binsar H. Simanjuntak, CMA, Ketua Komite Kerja

2. Drs. AB Triharta, Ak., MM., Wakil Ketua Komite Kerja

3. Sonny Loho, Ak., MPM., Sekretaris Komite Kerja

4. Dr. Jan Hoesada. , Anggota Komite Kerja

5. Yuniar Yanuar Rasyid, Ak., MM., Anggota Komite Kerja

6. Dr. Dwi Martani, Ak., Anggota Komite Kerja

7. Sumiyati, Ak., MFM, Anggota Komite Kerja

8. Firmansyah N. Nazaroedin, Ak., M.Sc., Anggota Komite Kerja

9. Drs. Hamdani, MM., M.Si., Ak., Anggota Komite Kerja

10. Edward U.P. Nainggolan, Ak., M.Ak., Ketua Kelompok Kerja

11. Mega Meilistya, SE., Ak., MBA., Wakil Ketua Kelompok Kerja

12. Moh. Hatta, Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja

13. Amdi Very Dharma, Ak., M.Acc., Anggota Kelompok Kerja

14. Drs. M. Agus Kristianto, Ak., MA, Anggota Kelompok Kerja

15. Chalimah Pujihastuti, SE., Ak., MAFIS, Anggota Kelompok Kerja

16. Yulia Candra Kusumarini SE, S.Sos, Anggota Kelompok Kerja

17. Hasanuddin, Ak., M., Ak., Anggota Kelompok Kerja

18. Syaiful, SE., Ak, MM., Anggota Kelompok Kerja

19. Hamim Mustofa, Ak., Anggota Kelompok Kerja

20. Heru Novandi, SE., Ak., Anggota Kelompok Kerja

21. Muliani Sulya F., SE., Anggota Kelompok Kerja

22. Zulfikar Aragani, SE., MM., Anggota Kelompok Kerja

23. Mugiya Wardhani, SE, M. Si. Anggota Kelompok Kerja

24. Rahmat Mulyono, SE., Ak., M. Acc. Anggota Kelompok Kerja

25. Lucia Widiharsanti, SE., M.Si., CFE., Anggota Kelompok Kerja

26. Dr. Mei Ling, SE., Ak., MBA., Anggota Kelompok Kerja

27. Jamason Sinaga, Ak., SIP, Anggota Kelompok Kerja

28. Kadek Imam Eriksiawan, M.Sc., Ak., M.Prof., Acc.,BAP., Anggota Kelompok Kerja

29. Slamet Mulyono, SE., Ak., M.Prof.Acc., Anggota Kelompok Kerja

30. Joni Afandi, SE., Ak., M.Si., Anggota Kelompok Kerja

31. Doddy Setiadi, Ak., MM., CPA., Anggota Kelompok Kerja

32. Budiman, SST., SE., MBA., Ak., Anggota Kelompok Kerja

33. Joko Supriyanto, SST.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

34. Mauritz Cristianus Raharjo Meta, SST., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

35. Endah Martiningrum, SE.Ak., MBA, CA., Anggota Kelompok Kerja

36. Dwinanto, SE.,Ak., Anggota Kelompok Kerja

37. Isa Ashari Kuswandono, SE.Ak., M.Ak., Anggota Kelompok Kerja

38. Ahmad Fauzi, SE., Anggota Kelompok Kerja

(4)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

SUSUNAN ACARA

FGD Draf Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan

Gedung Ex MA, 9 Juni 2015

WAKTU ACARA NARASUMBER/PETUGAS

13.00 - 13.15 Registrasi dan Santap Siang Panitia

13.15 – 13.45

Sambutan Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Ketua Komite Konsultatif sekaligus membuka secara resmi acara FGD

Ketua Komite Konsultatif KSAP

13.45 – 14.00 Pembacaan Doa Panitia

14.00 – 14.30 Pemaparan Draf Bultek Akuntansi

Pendapatan Perpajakan KSAP

14.30 – 16.00 Diskusi dan Tanya Jawab KSAP dan Peserta

(5)

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III Lantai 2

Direktorat Jenderal Perbendaharaan – Kementerian Keuangan RI Jalan Budi Utomo No. 6, Jakarta 10710

Telepon : (021) 352-4551, (021) 344-9230 Ext 5311 / Faksimile : (021) 352-4551 Website : www.ksap.org / E-mail : [email protected]

LEMBAR KONFIRMASI

Instansi : ... Nomor telepon/fax : ... Nomor ponsel : ...

Berikut adalah nama peserta yang akan hadir pada acara

Focus Group Discussion (FGD) Draf

Bultek Akuntansi Pendapatan Perpajakan

yang diselenggarakan pada:

Hari/tanggal : Selasa, 9 Juni 2015

Waktu : Pukul 13.00 WIB – 16.00 WIB Tempat : Ruang Ex MA

Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan Jalan Lapangan Banteng Timur – Jakarta Pusat

No. NAMA JABATAN

1.

2.

..., Juni 2015

Nama: ...

Catatan: lembar konfirmasi harap difax ke (

021) 3864776

Kontak person: Zulfikar di 081385047137

(6)

AKUNTANSI

PENDAPATAN

PERPAJAKAN

BULETIN TEKNIS

STANDAR AKUNTANSI

PEMERINTAHAN

NOMOR XX

(7)

BULETIN TEKNIS

STANDAR AKUNTANSI

PEMERINTAHAN

AKUNTANSI

PENDAPATAN

PERPAJAKAN

NOMOR XX

(8)

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

Sekretariat :

Gedung Prijadi Praptosuhardjo III, Lantai 2

Jl. Budi Utomo No. 6 Jakarta 10710, Indonesia

Telepon/Faksimile : +62 21 3524551

http://www.ksap.org

e-mail : [email protected]

[email protected]

(9)

DAFTAR ISI

BAB I – PENDAHULUAN 1

BAB II - PENDAPATAN PERPAJAKAN 2

II.1. Definisi Pajak 2

II.2. Jenis Pajak 2

II.2.1. Pajak Pusat 2

II.2.2. Pajak Daerah 7

II.3. Sistem Pemungutan Pajak 11

II.4. Pembayaran Dan Pengembalian Pajak 13

II.4.1. Pajak Pusat 13

II.4.2. Pajak Daerah 15

BAB III – AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN PEMERINTAH PUSAT 16

III.1. Akuntansi Pendapatan LRA 16

III.1.1. Pengakuan 16

III.1.2. Pengukuran 17

III.1.3. Ilustrasi Pencatatan 17

III.2. Akuntansi Pendapatan LO 18

III.2.1. Pengakuan 18

III.2.2. Pengukuran 20

III.2.3. Ilustrasi Pencatatan 22

BAB IV – AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN PEMERINTAH DAERAH 31

IV.1. Pengakuan 31

IV.1.1. Pendapatan Pajak Daerah-LRA 31

(10)

BAB I

1

PENDAHULUAN

2

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

3

Pemerintahan (SAP) mengatur standar bagi entitas pemerintahan dalam penyusunan

4

dan penyajian laporan keuangan dengan basis akrual yang akan dilaksanakan mulai

5

tahun anggaran 2015. Berdasarkan peraturan tersebut, selain diwajibkan menyusun

6

Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas

7

Laporan Keuangan (CaLK), pemerintah juga diwajibkan menyusun dan menyajikan

8

Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan

9

Laporan Perubahan Ekuitas (LPE). LRA menyajikan pendapatan, belanja, dan

10

pembiayaan dengan basis kas, sedangkan LO menyajikan pendapatan dan beban

11

dengan basis akrual.

12

Salah satu jenis pendapatan yang harus disajikan, baik dalam LRA maupun LO

13

adalah pendapatan perpajakan. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang

14

terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

Undang-15

Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

16

keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pendapatan perpajakan

17

merupakan salah satu sumber pendapatan penting guna membiayai pelaksanaan

18

pemerintahan. Pendapatan perpajakan adalah pendapatan dari transaksi non pertukaran

19

yaitu manfaat ekonomi yang diterima pemerintah tanpa kewajiban pemerintah

20

menyampaikan prestasi balik atau imbalan balik. Pendapatan perpajakan merupakan

21

sumber utama untuk penerimaan negara.

22

Kewenangan untuk memungut pajak ada yang berada di Pemerintah Pusat yang

23

selanjutnya disebut Pajak Pusat dan ada yang berada di Pemerintah Daerah, yang

24

selanjutnya disebut Pajak Daerah.

25

Pendapatan perpajakan pemerintah pusat adalah Pajak Penghasilan, Pajak

26

Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak Penjualan Barang Mewah, Pajak Bumi

27

Dan Bangunan, Cukai, Meterai, Bea Masuk, Dan Bea Keluar. Jenis pendapatan

28

perpajakan pada pemerintah daerah antara lain pajak kendaraan bermotor, bea balik

29

nama kendaraan bermotor, pajak hotel.

30

Banyaknya jenis pajak dan aturan yang mendasarinya membawa konsekuensi

31

bervariasinya saat pemungutan dan terutangnya pendapatan perpajakan. Kondisi

32

tersebut dapat menimbulkan persepsi yang berbeda bagi para penyusun laporan,

33

pengguna laporan, dan institusi yang melakukan audit atas laporan keuangan

34

pemerintah.

35

Kompleksitas permasalahan pendapatan perpajakan yang timbul dari jumlah

36

pendapatan perpajakan yang sangat signifikan, jenis pajak dan karakteristiknya,

37

ketentuan yang mendasari serta saat pemungutan dan terutangnya pendapatan

38

perpajakan memerlukan pengaturan yang lebih rinci bagaimana cara

39

mengakuntansikannya. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu disusun Buletin Teknis

40

tentang Akuntansi Pendapatan Perpajakan yang diharapkan dapat memberikan panduan

41

agar terdapat kesamaan pemahaman tentang cara mengindentifikasi, mengakui,

42

mengukur, dan menyajikan pos Pendapatan Perpajakan-LRA dan Pendapatan

43

Perpajakan-LO, baik oleh penyusun laporan, pengguna laporan, dan institusi yang

44

melakukan audit atas laporan keuangan pemerintah.

45

46

47

(11)

1 BAB II

1

PENDAPATAN PERPAJAKAN

2

II.1.DEFINISI PAJAK

3

Pajak dibedakan menjadi pajak Pemerintah Pusat dan pajak pemerintah daerah.

4

Definisi pajak pada Pajak Pemerintah Pusat diatur dalam Undang-Undang Nomor 28

5

Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Undang-undang Nomor 6 Tahun 2003 tentang

6

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) dan definisi pajak pada pajak

7

pemerintah daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak

8

Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD).

9

Menurut Pasal 1 UU KUP, definisi pajak adalah kontribusi wajib kepada negara

10

yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

11

Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan

12

untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

13

Selanjutnya menurut Pasal 1 UU PDRD, definisi pajak daerah adalah kontribusi

14

wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat

15

memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara

16

langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran

17

rakyat.

18

Berdasarkan definisi-definisi di atas, pemungutan pajak lebih didasarkan pada hak

19

negara/daerah yang didasarkan undang-undang, tanpa imbalan langsung dan digunakan

20

untuk keperluan negara/pemerintah daerah

21

Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang dipungut dan dicatat oleh Pemerintah Pusat

22

yang dalam hal ini dikelola oleh Kementerian Keuangan, sedangkan Pajak Daerah

23

adalah pajak-pajak yang dipungut dan dicatat oleh pemerintah daerah baik di tingkat

24

propinsi, kabupaten atau kota.

25

II.2.PAJAK PUSAT 2

26

Pajak Pusat adalah pajak yang dipungut oleh Kementerian Keuangan atau otoritas

27

perpajakan lainnya yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

28

Pemungutan Pajak oleh pemerintah diamanatkan oleh Undang-Undang Pajak

29

Penghasilan, Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang

30

Mewah, Undang-Undang Pajak Bumi Bangunan (sektor Perkebunan, Perhutanan, dan

31

Pertambangan), Undang Bea Materai, Undang Pabean dan

Undang-32

Undang Cukai.

33

Sesuai dengan amanat UU PDRD, kewenangan pemungutan PBB Sektor

34

Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang selama ini dimiliki oleh Pemerintah Pusat

35

melalui Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan atas

Undang-36

Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan berlaku hanya

37

sampai dengan 31 Desember 2013 dan selanjutnya dilimpahkan kepada Pemerintah

38

Daerah.

39

Penyajian pendapatan perpajakan pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

40

dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu: Pendapatan Pajak Dalam Negeri dan

41

Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional.

42

A. Pendapatan Pajak Dalam Negeri

43

Pendapatan Pajak Dalam Negeri terdiri dari pendapatan pajak yang

44

pemungutannya didasarkan pada Undang-Undang Pajak Penghasilan, Undang-Undang

45

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah, Undang-Undang Pajak

46

(12)

Bumi Bangunan (sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan), Undang-Undang

1

Bea Materai, dan Undang-Undang Cukai.

2

1. Pendapatan Pajak Penghasilan

3

Pajak Penghasilan diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang

4

Perubahan Keempat atas Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan (UU

5

PPh).

6

Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap setiap tambahan

7

kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang

8

berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk

9

konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,

10

dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

11

Jenis Pajak Penghasilan

12

Pembayaran pajak ke kas negara sesuai dengan UU PPh, tidak selalu dilakukan

13

oleh wajib pajak, tetapi dapat dilakukan oleh pihak lain dan merupakan kredit

14

pajak bagi wajib pajak tersebut. Jenis pajak ini antara lain Pajak Penghasilan

15

Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 dan Pasal 26.

16

• Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak yang dipotong oleh:

17

a. pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan

18

pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang

19

dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai;

20

b. bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan,

21

dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan;

22

c. dana pensiun atau badan lain yang membayarkan uang pensiun dan

23

pembayaran lain dengan nama apa pun dalam rangka pensiun;

24

d. badan yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan

25

sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan

26

pekerjaan bebas; dan

27

e. penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran sehubungan dengan

28

pelaksanaan suatu kegiatan.

29

Pemotongan pajak tersebut dilakukan atas penghasilan sehubungan dengan

30

pekerjaan, jasa, atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang

31

diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri.

32

• Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah pajak yang dipungut oleh:

33

a. bendahara pemerintah untuk pajak sehubungan dengan pembayaran

34

atas penyerahan barang;

35

b. badan-badan tertentu untuk pajak dari Wajib Pajak yang melakukan

36

kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain; dan

37

c. Wajib Pajak badan tertentu untuk pajak dari pembeli atas penjualan

38

barang yang tergolong sangat mewah.

39

• Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah pajak yang dipotong oleh pihak yang

40

membayarkan penghasilan berupa:

41

a. deviden, bunga, royalty dan hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya

42

selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan;

43

b. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,

44

kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan

45

harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan; dan

46

(13)

c. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa

1

konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong

2

Pajak Penghasilan.

3

• Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran pajak dalam tahun pajak

4

berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan

5

sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan

6

Tahunan tahun pajak yang lalu.

7

• Pajak Penghasilan Pasal 26 adalah pajak yang dipotong oleh pihak yang

8

wajib membayarkan penghasilan berupa:

9

a. dividen;

10

b. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan

11

jaminan pengembalian utang;

12

c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan

13

harta;

14

d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

15

e. hadiah dan penghargaan;

16

f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;

17

g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau

18

h. keuntungan karena pembebasan utang.

19

20

• Pajak Penghasilan Pasal 29 adalah pembayaran kekurangan pajak yang

21

harus dilunasi sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan

22

disampaikan.

23

Sesuai UU PPh terdapat pengaturan khusus mengenai pajak dibidang

24

pertambangan minyak dan gas bumi. Pengaturan tersebut terdapat dalam pasal

25

33A ayat 4 dimana Wajib Pajak yang menjalankan usaha dibidang

26

pertambangan minyak dan gas bumi, pertambangan umum, dan pertambangan

27

lainnya berdasarkan Kontrak Bagi Hasil, Kontrak Karya, atau perjanjian

28

kerjasama pengusahaan pertambangan yang masih berlaku pada saat

29

berlakunya Undang-undang PPh, pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan

30

dalam Kontrak Bagi Hasil, Kontrak Karya, atau perjanjian kerjasama

31

pengusahaan pertambangan tersebut sampai dengan berakhirnya kontrak atau

32

perjanjian kerjasama dimaksud.

33

34

2. Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan

35

Barang Mewah

36

Pajak Pertambahan Nilai dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang Mewah diatur dalam

37

Undang-undang Nomor 42 tahun 2008 Perubahan Ketiga UU Nomor 8 tahun 1983

38

Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Barang

39

Mewah (UU PPN).

40

Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan terhadap:

41

a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh

42

Pengusaha;

43

b. impor Barang Kena Pajak;

44

c. penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh

45

Pengusaha;

46

(14)

d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di

1

dalam Daerah Pabean;

2

e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah

3

Pabean;

4

f. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak;

5

g. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak; dan

6

h. ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.

7

8

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah pajak yang dikenakan terhadap:

9

a. Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dilakukan oleh

10

pengusaha yang menghasilkan barang tersebut di dalam Daerah Pabean dalam

11

kegiatan usaha atau pekerjaannya; dan

12

b. impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah.

13

14

3. Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan

15

Pajak Bumi dan Bangunan diatur dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 1985

16

sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan UU Nomor 12 tahun 1994 tentang

17

Pajak Bumi dan Bangunan (UU PBB).

18

19

Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenakan terhadap bumi dan

20

bangunan dimana subyek pajaknya adalah orang atau badan yang secara nyata

21

mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau

22

memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.

23

Pendapatan PBB dibedakan menjadi 5 (lima) sektor, yaitu: Perdesaan, Perkotaan,

24

Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan.

25

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 tentang

26

Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan

27

Perkotaan adalah termasuk dalam pajak daerah. Sehingga pendapatan PBB yang

28

dicatat menjadi pendapatan Pemerintah Pusat adalah PBB Perkebunan, PBB

29

Perhutanan, dan PBB Pertambangan.

30

Wajib Pajak membayar PBB berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang

31

(SPPT) yang diterbitkan oleh otoritas perpajakan setiap tahun atau berdasarkan

32

surat ketetapan PBB.

33

34

Otoritas Perpajakan dapat mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak dalam hal-hal

35

sebagai berikut :

36

a. apabila Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP) tidak disampaikan dan

37

setelah ditegor secara tertulis tidak disampaikan sebagaimana ditentukan dalam

38

Surat Tegoran;

39

b. apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah

40

yang terutang lebih besar dari jumlah pajak yang dihitung berdasarkan SPOP

41

yang disampaikan oleh wajib pajak.

42

43

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Tagihan

44

Pajak merupakan dasar penagihan pajak.

45

46

4. Pendapatan Cukai

47

Cukai diatur dalam Undang-undang Nomor 39 tahun 2007 tentang Perubahan atas

48

UU Nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai (UU Cukai).

49

(15)

Definisi Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang

1

tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam

undang-2

undang.

3

Saat pengenaan cukai, mulai berlaku untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di

4

Indonesia pada saat selesai dibuat dan untuk Barang Kena Cukai yang diimpor pada

5

saat pemasukannya ke dalam Daerah Pabean sesuai dengan ketentuan

Undang-6

undang tentang Kepabeanan.

7

Penanggung jawab cukai untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia,

8

berada pada Pengusaha Pajak atau Pengusaha Tempat Penyimpanan, dan untuk

9

Barang Kena Cukai yang diimpor berada pada Importir atau pihak-pihak lain

10

sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Kepabeanan.

11

Dokumen yang digunakan untuk pemenuhan ketentuan Undang-undang Cukai

12

dilakukan dengan menggunakan dokumen cukai dan/atau dokumen pelengkap cukai.

13

5. Pendapatan Bea Materai dan Pendapatan dari Penjualan Benda Materai

14

Bea Meterai diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun

15

1985 tentang Bea Meterai.

16

Bea Meterai adalah pajak yang dikenakan atas pemanfaatan dokumen, seperti surat

17

perjanjian, akta notaris, serta kuitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yang

18

memuat jumlah uang atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.

19

20

Saat terhutang Bea Meterai ditentukan dalam hal:

21

a. dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan;

22

b. dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya

23

dokumen itu dibuat;

24

c. dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.

25

Bea Meterai terhutang oleh pihak yang menerima atau pihak yang mendapat manfaat

26

dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.

27

28

B. Pendapatan Perpajakan Internasional

29

Pendapatan Perpajakan Internasional terdiri dari Pendapatan Bea Masuk dan

30

Pendapatan Bea Keluar yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 17 tahun 2006

31

tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan

32

(UU Kepabeanan).

33

34

a. Bea Masuk

35

Bea Masuk adalah pungutan negara berdasarkan Undang-undang yang dikenakan

36

terhadap barang yang diimpor.

37

Pembayaran Bea Masuk, denda administrasi, dan bunga yang terutang kepada

38

negara dibayar di kas negara atau di tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh

39

Menteri Keuangan.

40

41

b. Bea Keluar

42

Bea Keluar adalah pungutan negara berdasarkan Undang-Undang yang dikenakan

43

terhadap barang ekspor.

44

Pembayaran Bea Keluar, denda administrasi, dan bunga yang terutang kepada

45

negara dibayar di kas negara atau di tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh

46

Menteri Keuangan (tanyakan ke DJBC, mengapa di UU baru tidak ada kalimat

47

tentang pembayaran bea keluar).

48

(16)

1

II.3. Pajak Daerah

2

Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut pemerintah daerah berdasarkan

Undang-3

undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, jenis pajak yang

4

dipungut oleh pemerintah daerah terbagi menjadi:

5

1. Jenis Pajak provinsi terdiri atas:

6

a. Pajak Kendaraan Bermotor;

7

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

8

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

9

d. Pajak Air Permukaan; dan

10

e. Pajak Rokok.

11

2. Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:

12

a. Pajak Hotel;

13

b. Pajak Restoran;

14

c. Pajak Hiburan;

15

d. Pajak Reklame;

16

e. Pajak Penerangan Jalan;

17

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;

18

g. Pajak Parkir;

19

h. Pajak Air Tanah;

20

i. Pajak Sarang Burung Walet;

21

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan

22

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

23

Pemerintah daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak di atas. Jenis Pajak

24

Provinsi hanya dapat dipungut oleh pemerintah provinsi, dan jenis Pajak Kabupaten/Kota

25

hanya dapat dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota. Akan tetapi, khusus untuk Daerah

26

yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi tidak terbagi dalam daerah kabupaten/kota

27

otonom, seperti Daerah Khusus Ibu kota Jakarta, jenis Pajak yang dapat dipungut

28

merupakan gabungan dari Pajak untuk daerah provinsi dan Pajak untuk daerah

29

kabupaten/kota.

30

31

B. 1 Pendapatan Pajak Provinsi

32

a. Pajak Kendaraan Bermotor

33

Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan

34

kendaraan bermotor.

35

Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan

36

Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk Masa Pajak 12 bulan

37

berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran Kendaraan Bermotor. Pemungutan Pajak

38

Kendaraan Bermotor dilakukan bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Nomor

39

Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan Bermotor dibayar sekaligus di muka.

40

(17)

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

1

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik

2

kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau

3

keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan

4

ke dalam badan usaha.

5

Objek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan

6

kepemilikan Kendaraan Bermotor. Pembayaran Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

7

dilakukan pada saat pendaftaran.

8

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

9

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar

10

kendaraan bermotor. Objek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Bahan

11

Bakar Kendaraan Bermotor yang disediakan atau dianggap digunakan untuk

12

kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan di air.

13

Dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Bahan

14

Bakar Kendaraan Bermotor sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.

15

d. Pajak Air Permukaan

16

Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air

17

permukaan. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah,

18

tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat. Objek Pajak Air

19

Permukaan adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan.

20

e. Pajak Rokok

21

Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah.

22

Objek Pajak Rokok adalah konsumsi rokok. Rokok meliputi sigaret, cerutu, dan rokok daun.

23

Dikecualikan dari objek Pajak Rokok adalah rokok yang tidak dikenai cukai

24

berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang cukai. Pajak Rokok dipungut oleh

25

instansi Pemerintah yang berwenang memungut cukai bersamaan dengan pemungutan

26

cukai rokok.

27

28

Berdasarkan pasal 94 ayat (1) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009, hasil

29

penerimaan Pajak sebagian diperuntukkan bagi kabupaten/kota di wilayah provinsi yang

30

bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut:

31

a.

hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan

32

Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 30% (tiga puluh persen);

33

b.

hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada

34

kabupaten/kota sebesar 70% (tujuh puluh persen);

35

c.

hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 70%

36

(tujuh puluh persen); dan

37

d.

hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar

38

50% (lima puluh persen).

39

B.2 Pendapatan Pajak Kabupaten/Kota

40

a.

Pajak Hotel

41

Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel

42

adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya

43

dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata,

44

wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos

45

dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).

46

(18)

Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan

1

pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya

2

memberikan kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. Jasa

3

penunjang meliputi fasilitas telepon, faksimile, teleks, internet, fotokopi, pelayanan cuci,

4

seterika, transportasi, dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola Hotel.

5

6

b.

Pajak Restoran

7

Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.

8

Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut

9

bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan

10

sejenisnya termasuk jasa boga/katering.

11

Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran, meliputi

12

pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik

13

dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain. Tidak termasuk objek Pajak

14

Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran yang nilai penjualannya tidak

15

melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dasar pengenaan

16

Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima

17

Restoran.

18

c.

Pajak Hiburan

19

Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua

20

jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan

21

dipungut bayaran. Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan

22

dipungut bayaran.

23

Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang

24

seharusnya diterima oleh penyelenggara Hiburan termasuk potongan harga dan tiket

cuma-25

cuma yang diberikan kepada penerima jasa Hiburan.

26

d.

Pajak Reklame

27

Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Reklame adalah

28

benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk

29

tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik

30

perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat, dibaca,

31

didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum.

32

Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame. Dasar

33

pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame.

34

e.

Pajak Penerangan Jalan

35

Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik

36

yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. Objek Pajak Penerangan

37

Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang

38

diperoleh dari sumber lain.

39

40

f.

Pajak Mineral Bukan Logam

41

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan

42

mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau

43

permukaan bumi untuk dimanfaatkan. Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral

44

bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan

perundang-45

undangan di bidang mineral dan batubara.

46

Dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Nilai Jual Hasil

47

Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan.

48

(19)

1

g.

Pajak Parkir

2

Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan

3

jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan

4

sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.

5

Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.

6

Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik

7

yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu

8

usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.

9

h.

Pajak Air Tanah

10

Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah.

11

Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah

12

permukaan tanah. Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan

13

Air Tanah.

14

i.

Pajak Sarang Burung Walet

15

Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau

16

pengusahaan sarang burung walet. Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah

17

pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet.

18

j.

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

19

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi

20

dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi

21

atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan,

22

perhutanan, dan pertambangan.

23

k.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

24

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas

25

tanah dan/atau bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah

26

perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah

27

dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan.

28

Saat terutangnya pajak BPHTB ditetapkan untuk:

29

a.

jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

30

b.

tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

31

c.

hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

32

d.

hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

33

e.

waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke

34

kantor bidang pertanahan;

35

f.

pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal

36

dibuat dan ditandatanganinya akta;

37

g.

pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan

38

ditandatanganinya akta;

39

h.

putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pangadilan yang mempunyai

40

kekuatan hukum yang tetap;

41

i.

pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah

42

sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;

43

(20)

j.

pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya

1

surat keputusan pemberian hak;

2

k.

penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

3

l.

peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

4

m.

pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;

5

n.

hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; dan

6

o.

lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenang lelang.

7

8

II.3. Sistem Pemungutan Perpajakan

9

Terdapat 2 (dua) metode yang digunakan untuk pemungutan pajak, yaitu melalui self

10

assessment dan official assessment.

11

Sistem self assesment artinya masyarakat sendirilah yang harus aktif melaksanakan

12

kewajiban pajak yang ditentukan peraturan perundang-undangan, tanpa harus ada

13

inisiatif tindakan lebih dahulu dari otoritas perpajakan. Kewajiban tersebut meliputi

14

mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor identitas perpajakan, menghitung sendiri

15

jumlah kewajiban pajaknya, menyetor sendiri jumlah pajak tersebut ke tempat yang telah

16

ditunjuk dan melaporkannya kepada otoritas perpajakan.

17

Sistem Official Assesment artinya elemen masyarakat baru akan melaksanakan

18

kewajiban pajak setelah ditentukan dan dihitung lebih dahulu oleh pihak otoritas

19

perpajakan. Pada saat wajib pajak telah menerima hasil perhitungan otoritas perpajakan

20

maka masyarakat menyetor ke tempat yang telah ditunjuk oleh otoritas perpajakan.

21

22

C. 1. Pemerintah Pusat

23

Secara umum peraturan perpajakan pada Pemerintah Pusat menganut sistem pemungutan

24

self assesment, antara lain UU PPh dan UU PPN sebagaimana diatur dalam

Undang-25

undang Ketentuan Umum Perpajakan, kecuali Undang-Undang Pajak Bumi dan Bangunan

26

menganut sistem official assessement.

27

Dalam UU KUP disebutkan bahwa wajib pajak secara proaktif yang telah memenuhi

28

persyaratan wajib mendaftarkan diri ke kantor pajak dan melaporkan usahanya. Wajib Pajak

29

wajib mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) yaitu surat digunakan untuk melaporkan

30

penghitungan dan/atau pembayaran pajak, obyek pajak dan/atau bukan obyek pajak, dan

31

atau harta dan kewajiban.

32

Dari hasil perhitungan pajak terutang yang dilakukan wajib pajak, wajib pajak wajib

33

membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak

34

atau dokumen lain yang dipersamakan ke kas negara melalui tempat pembayaran yang

35

telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan tidak menggantungkan pada adanya surat

36

ketetapan pajak.

37

Pajak yang disetorkan ke kas negara adalah pajak yang menjadi kewajibannya sendiri,

38

misalnya PPh Pasal 25 dan pajak-pajak yang dipotong/dipungut dari pihak lain, misalnya

39

PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26.

40

Pajak pada prinsipnya terutang pada saat timbulnya objek pajak yang dapat dikenai pajak,

41

tetapi untuk kepentingan administrasi perpajakan saat terutangnya pajak tersebut adalah:

42

a. pada suatu saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong pihak ketiga;

43

b. pada akhir masa, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong pemberi kerja atau yang

44

dipungut oleh pihak lain atas kegiatan usaha atau oleh Pengusaha Kena Pajak atas

45

(21)

pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas

1

Barang Mewah; atau

2

c. pada akhir Tahun Pajak, untuk Pajak Penghasilan.

3

Jumlah pajak yang terutang yang telah dipotong, dipungut ataupun yang harus dibayar oleh

4

Wajib Pajak setelah tiba saat atau masa pelunasan pembayaran, oleh Wajib Pajak harus

5

disetor ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan

6

Peraturan Menteri Keuangan.

7

Otoritas Perpajakan sesuai UU KUP tidak berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan

8

pajak atas semua Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Penerbitan suatu

9

surat ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh

10

ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan atau karena ditemukannya data fiskal

11

yang tidak dilaporkan Wajib Pajak.

12

13

Wajib Pajak yang telah menghitung dan membayar besarnya pajak yang terutang secara

14

benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, serta

15

melaporkan salam Surat Pemberitahuan, tidak perlu diberikan surat ketetapan pajak

16

ataupun Surat Tagihan Pajak.

17

Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang dihitung dan

18

dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan yang bersangkutan tidak benar, misalnya

19

pembebanan biaya ternyata melebihi yang sebenarnya, otoritas perpajakan menetapkan

20

besarnya pajak yang terutang sebagaimana mestinya sesuai dengan peraturan

perundang-21

undangan perpajakan dalam surat ketetapan.

22

Sistem official assesment terjadi pada saat otoritas perpajakan menerbitkan suatu

23

ketetapan/keputusan/tagihan.

24

Otoritas pajak dapat menerbitkan antara lain: Surat Ketetapan Pajak (meliputi Surat

25

Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat

26

Ketetapan Pajak Nihil, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar), Surat Tagihan Pajak, Surat

27

Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, Surat Keputusan Imbalan Bunga,

28

Surat Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Pemberitahuan Pajak Terutang atau

29

ketetapan/keputusan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.

30

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar/Kurang Bayar Tambahan diterbitkan apabila

31

berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang

32

dibayar.

33

Surat Ketetapan Pajak Nihil apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain

34

pajak yang terutang sama dengan jumlah kredit pajak.

35

Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar diterbitkan apabila berdasarkan hasil pemeriksaan

36

jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang

37

terutang. Apabila Wajib Pajak masih mempunyai utang pajak, kelebihan pembayaran

38

tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak tersebut dan jika masih

39

terdapat sisa lebih, dikembalikan kepada wajib pajak.

40

Surat Tagihan Pajak diterbitkan antara lain apabila wajib pajak dikenai sanksi administrasi

41

berupa denda dan/atau bunga.

42

Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak diterbitkan setelah

43

dilakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari

44

Wajib Pajak dengan kriteria tertentu.

45

Surat Keputusan Imbalan Bunga diterbitkan pada saat pemerintah memberikan imbalan

46

bunga sebesar 2% per bulan atas keterlambatan pengembalian kelebihan pembayaran

47

pajak dihitung sejak berakhirnya jangka waktu (sesuai ketentuan) sampai dengan saat

48

diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak. Jika ternyata

49

(22)

wajib pajak mempunyai utang pajak, langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih

1

dahulu utang pajak tersebut.

2

Surat Pembetulan diterbitkan apabila atas permohonan wajib pajak atau karena jabatannya

3

terdapat surat ketetapan/keputusan/tagihan yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan

4

tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu.

5

Surat Keputusan Keberatan diterbitkan atas permohonan keberatan wajib pajak yang

6

dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya

7

jumlah pajak yang masih harus dibayar.

8

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang diterbitkan oleh otoritas pajak untuk

9

memberitahukan pajak terutang atas Bumi dan Bangunan kepada Wajib Pajak

10

11

II. 2 Pemerintah Daerah

12

Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah Yang

13

Dipungut Berdasarkan Penetapan mengatur pemungutan pajak daerah, yaitu berdasarkan:

14

1. Penetapan kepala daerah untuk Pajak Kendaraan Bermotor; Bea Balik Nama

15

Kendaraan Bermotor; Pajak Air Permukaan; Pajak Reklame; Pajak Air Tanah; dan

16

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

17

2. Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; Pajak

18

Rokok; Pajak Hotel; Pajak Restoran; Pajak Hiburan; Pajak Penerangan Jalan; Pajak

19

Mineral Bukan Logam dan Batuan; Pajak Parkir; Pajak Sarang Burung Walet; dan Bea

20

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

21

22

Pemungutan Pajak terutang berdasarkan surat ketetapan Pajak merupakan

23

pembayaran Pajak terutang oleh Wajib Pajak berdasarkan penetapan Kepala Daerah

24

dengan menggunakan:

25

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan; atau

26

b. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang.

27

Pemungutan Pajak terutang dengan cara dibayar sendiri oleh Wajib Pajak

28

sebagaimana merupakan pembayaran Pajak terutang oleh Wajib Pajak dengan

29

menggunakan:

30

a. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah;

31

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar; dan/atau

32

c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan.

33

34

II.4. Pembayaran dan Pengembalian Perpajakan

35

II. 4. a. Pajak Pusat

36

a. Pembayaran Perpajakan

37

38

Wajib Pajak (orang pribadi atau badan) dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya

39

harus sesuai dengan sistem self assessment, yaitu wajib melakukan sendiri penghitungan,

40

pembayaran, dan pelaporan pajak terutang tanpa terlebih dahulu menunggu ketetapan

41

pajak.

42

43

Mekanisme Pembayaran Pajak bagi Wajib Pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:

44

1. Membayar sendiri pajak yang terutang

45

(23)

- Wajib Pajak melakukan pembayaran angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal 25) di

1

kas Negara atau tempat lain yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Kewajiban

2

jenis pajak lainnya seperti PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 21, 22, dan 23,

3

serta PPh Pasal 26, dapat dilakukan melalui pemotongan dan pemungutan oleh

4

pihak lain. Pihak lain tersebut adalah: Pemberi Penghasilan, Pemberi Kerja atau

5

Pihak lain yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah.

6

- Wajib Pajak melakukan pembayaran PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa

7

ataupun oleh pihak yang ditunjuk pemerintah.

8

- Wajib Pajak melakukan pembayaran pajak lainnya seperti PBB yaitu pelunasan

9

berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT), pembayaran Bea

10

Materai, Cukai, dan Bea Keluar di kas Negara atau tempat lain yang telah ditunjuk

11

oleh Menteri Keuangan.

12

13

2. Pemotongan/Pemungutan Pajak

14

Selain pembayaran bulanan yang dilakukan sendiri, ada pembayaran bulanan yang

15

dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan yang dilakukan oleh pihak pemberi

16

penghasilan. Pihak pemberi penghasilan adalah pihak yang ditunjuk berdasarkan ketentuan

17

perpajakan untuk memotong/memungut, antara lain yang ditunjuk tersebut adalah badan

18

Pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap

19

atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. Untuk subjek pajak badan dalam negeri,

20

maka diwajibkan juga sebagai pemotong/pemungutan pajak. Adapun jenis

21

pemotongan/pemungutan adalah: PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal

22

26, PPh Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15 dan PPN dan PPn BM.

23

Pemungutan/pemotongan oleh Bendahara Umum Negara sebagai wajib pungut yang

24

dimaksud diatas adalah pemungutan/pemotongan atas pembayaran kepada pihak ke-3

25

melalui Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) melalui Kantor Pelayanan

26

Perbendaharaan Negara (KPPN).

27

Pemungutan/pemotongan pajak oleh Bendahara Pengeluaran pada satuan kerja,

28

Bendahara Umum Daerah atau Bendahara Pengeluaran SKPD sebagai wajib pungut, diakui

29

sebagai Pendapatan Perpajakan-LO pada saat Bendahara Pengeluaran tersebut

30

menyetorkan ke kas negara.

31

Wajib Pajak dapat membayar atau menyetor pajak terutang dengan menggunakan Surat

32

Setoran Pajak (SSP) ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau

33

berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (Bank/Pos Persepsi). SSP berfungsi sebagai

34

bukti pembayaran pajak.

35

Pada Pemerintah Pusat, Bendahara Umum Negara dapat berfungsi sebagai pemungut dan

36

pemotong pajak atas wajib pajak yang menerima pembayaran atas belanja yang berasal

37

dari APBN. Pembayaran atas belanja yang berasal dari APBN yang diterima oleh pihak

38

yang berhak selaku Wajib Pajak adalah sebesar neto, yaitu jumlah pembayaran dikurangi

39

dengan jumlah pajak yang menjadi kewajiban pihak yang berhak (antara lain PPh Pasal 21,

40

PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (1), dan PPN). Bendahara Umum Negara

41

memberikan SSP kepada Wajib Pajak sebagai bukti pembayaran pajak.

42

Sesuai dengan peraturan perundangan, pada saat otoritas perpajakan menerbitkan Surat

43

Keputusan Pemberian Imbalan Bunga (SKP-IB) dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar

44

(SKP LB) juga memperhitungkan kewajiban utang pajak dari wajib pajak tersebut.

45

Kelebihan pembayaran tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan utang pajak dan

46

jika masih terdapat sisa lebih, dikembalikan kepada wajib pajak. Sehingga yang dibayarkan

47

kepada Wajib Pajak adalah sebesar neto, yaitu jumlah pembayaran imbalan bunga pajak

48

(24)

atau kelebihan pembayaran pajak dikurangi dengan jumlah utang pajak Wajib Pajak

1

tersebut.

2

Pembayaran imbalan bunga atau kelebihan pembayaran pajak dicatat sebesar nilai bruto

3

dari ketetapan tersebut. Potongan-potongan yang dilakukan oleh Otoritas Perpajakan

4

seperti piutang pajak dicatat sebagai penerimaan sebesar nilai yang diperhitungkan.

5

Pembayaran pajak oleh wajib pajak yang mempunyai ijin untuk melakukan pembukuan

6

dalam mata uang asing dapat dilakukan dengan menggunakan mata uang asing.

7

b. Pengembalian Perpajakan

8

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, wajib pajak dapat mengajukan

9

permohonan pengembalian pajak apabila dalam Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)

10

diketahui bahwa pajak terutang lebih kecil daripada kredit pajak atau pajak yang telah

11

dibayar.

12

Pengembalian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) terjadi apabila jumlah kredit pajak

13

atau jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang atau

14

telah dilakukan pembayaran pajak yang tidak seharusnya terutang, dengan catatan Wajib

15

Pajak tidak punya hutang pajak lain.

16

Berdasarkan UU dimungkinkan terjadinya pengembalian penerimaan pajak (restitusi).

17

Resitusi ini dapat terjadi pada periode yang sama ataupun terjadi pada tahun-tahun

18

berikutnya (tahun tidak sama). Hal ini terjadi terus menerus setiap tahun sehingga

19

traksaksi ini merupakan transaksi yang berulang.

20

Oleh karena itu transaksi pengembalian penerimaan perpajakan diperlakukan sebagai

21

pengurang pendapatan pada periode terjadinya pengembalian, tidak perlu ditrasir ke

22

tahun penerimaan pajak yang bersangkutan.

23

24

II. 4. b. Pajak Daerah

25

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal

26

60 mengatur mekanisme pengembalian pendapatan, yaitu:

27

a. Pengembalian atas kelebihan pajak, retribusi, pengembalian tuntutan ganti rugi dan

28

sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang

29

bersangkutan untuk pengembalian penerimaan yang terjadi dalam tahun yang sama.

30

b. Untuk pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya

31

dibebankan pada rekening belanja tidak terduga.

32

(25)

BAB III

1

AKUNTANSI PENDAPATAN PERPAJAKAN

2

PEMERINTAH PUSAT

3

4

Akuntansi Pendapatan Perpajakan berbasis akrual dicatat/disajikan pada Laporan

5

Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan Operasional (LO) dalam mata uang rupiah.

6

Namun dalam hal tertentu sesuai dengan peraturan perundangan, Otoritas Perpajakan

7

mengizinkan Wajib Pajak untuk melakukan kewajibannya dalam membayar Pajak

8

Penghasilan (PPh) dalam mata uang dolar Amerika Serikat.

9

Pembayaran PPh dalam mata uang dolar Amerika Serikat dilakukan dalam rangka

10

memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak yang menggunakan pembukuan dalam

11

bahasa Inggris dan menggunakan satuan mata uang dolar Amerika Serikat.

12

Sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), pengaturan penggunaan mata uang

13

asing adalah sebagai berikut:

14

- Dalam hal tersedia dana dalam mata uang asing yang sama dengan yang digunakan

15

dalam transaksi, maka transaksi dalam mata uang asing tersebut dicatat dengan

16

menjabarkannya ke dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral

17

pada tanggal transaksi.

18

III.1 Akuntansi Pendapatan-LRA Perpajakan

19

III.1.1. Pengakuan

20

Pendapatan Perpajakan-LRA adalah seluruh penerimaan uang yang masuk

21

ke kas negara yang berasal dari perpajakan yang diakui sebagai penambah

22

SAL yang menjadi hak pemerintah dalam periode tahun anggaran yang

23

bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

24

Pendapatan Perpajakan-LRA diakui pada saat kas tersebut diterima di

25

rekening kas umum negara.

26

27

Dokumen sumber pencatatan Pendapatan Perpajakan-LRA adalah bukti

28

pembayaran pajak yang telah dilakukan oleh wajib pajak ke kas negara

29

melalui tempat pembayaran yang ditunjuk Menteri Keuangan. Contoh

30

dokumen sumber antara lain Surat Setoran Pajak (SSP) dan Surat Setoran

31

Cukai Pabean (SSCP).

32

33

Jurnal untuk mengakui Pendapatan Perpajakan-LRA, sebagai berikut:

34

Uraian Jurnal Debet Kredit

Akun antara (D)

Pendapatan Pajak – LRA (K)

XXX

XXX

35

Jurnal tersebut diatas dapat dikembangkan sesuai dengan sistem akuntansi

36

pada Pemerintah Pusat.

37

Sistem perpajakan secara self assessment yang berlaku di Indonesia sesuai

38

dengan UU KUP, dimungkinkan wajib pajak membayar pajak ke kas negara

39

lebih besar daripada kewajibannya pada suatu masa atau tahun pajak,

40

sehingga wajib pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian atas

41

kelebihan pembayaran pajaknya. Atas permohonan pengembalian kelebihan

42

pembayaran pajak setelah dilakukan pemeriksaan oleh pemerintah dapat

43

menghasilkan lebih bayar atau nihil, sehingga pengembalian Pendapatan

44

Perpajakan-LRA merupakan pengembalian yang sifatnya normal dan

45

berulang (recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode penerimaan

46

(26)

maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang

1

pendapatan.

2

Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA diakui pada saat kas keluar dari

3

rekening kas umum negara.

4

Dokumen sumber pencatatan pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA

5

adalah dokumen pencairan dana yang diterbitkan oleh Bendahara Umum

6

Negara. Contoh dokumen sumber antara lain Surat Perintah Pencairan

7

Dana (SP2D).

8

Jurnal untuk mengakui Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA, sebagai

9

berikut:

10

Uraian Jurnal Debet Kredit

Pendapatan Pajak – LRA (D) Akun antara(K)

XXX

XXX

Jurnal tersebut diatas dapat dikembangkan sesuai dengan sistem akuntansi

11

pada Pemerintah Pusat.

12

13

III.1.2 Pengukuran

14

Pendapatan Perpajakan-LRA diukur sebesar nominal uang yang masuk ke

15

kas negara dari sumber pendapatan dengan menggunakan asas bruto, yaitu

16

pendapatan dicatat tanpa dikurangkan/ dikompensasikan dengan belanja

17

yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.

18

19

Pengembalian Pendapatan Perpajakan-LRA diukur sebesar nominal uang

20

yang keluar dari kas negara.

21

22

Dalam hal wajib pajak diijinkan untuk melakukan pembukuan dalam mata

23

uang asing dan pembayarannya dalam mata uang asing, maka Pendapatan

24

Perpajakan-LRA dinilai sebesar kurs tengah bank sentral pada tanggal

25

transaksi.

26

27

III.1.3. Penyajian

28

Pendapatan Perpajakan-LRA disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran dan

29

Laporan Arus Kas per jenis pajak dalam mata uang rupiah. Apabila penerimaan kas

30

atas Pendapatan Perpajakan-LRA dalam mata uang asing, maka penerimaan

31

tersebut dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang

32

asing tersebut menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.

33

Ilustrasi penyajian:

34

Laporan Realisasi Pendapatan Perpajakan-LRA

35

Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0

36

Akun Uraian Anggaran

20X1 Realisasi 20X0 (%) Realisasi 20X0 xxx Pendapatan Perpajakan Dalam Negeri xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Pajak Penghasilan xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx

(27)

Akun Uraian Anggaran 20X1 Realisasi 20X0 (%) Realisasi 20X0 xxx

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah

xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx

xxx

Pajak Bumi dan Bangunan xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Cukai xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Pendapatan Perpajakan Internasional xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Bea Masuk xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx xxx Bea Keluar xxxxxxxx xxxxxxxx xx xxxxxxxx

1

2

III.1.4. Pengungkapan

3

Pendapatan Perpajakan-LRA yang dilaporkan pada Laporan Realisasi Anggaran

4

diungkapkan secara cukup dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Informasi

5

tersebut antara lain:

6

- Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengakuan dan pengukuran

7

PendapatanPerpajakan-LRA.

8

- Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target

9

APBN, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target,

10

serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka yang dianggap perlu

11

untuk dijelaskan.

12

- Perubahan undang-undang perpajakan.

13

14

III.2. Akuntansi Pendapatan Perpajakan-LO

15

III.2.1. Pengakuan

16

Sesuai dengan paragraf 19 PSAP 12, dinyatakan bahwa:

17

Pendapatan-LO diakui pada saat:

18

a. Timbulnya hak atas pendapatan;

19

b. Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.

20

Sesuai dengan paragraf 20, Pendapatan-LO yang diperoleh berdasarkan peraturan

21

perundang-undangan diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan.

22

Selanjutnya sesuai dengan paragraf 22, Pendapatan-LO yang diakui pada saat

23

direalisasi adalah hak yang telah diterima oleh pemerintah tanpa terlebih dahulu

24

adanya penagihan.

25

Pengakuan Pendapatan-LO dibedakan berdasarkan sistem pemungutan pajak, yaitu

26

secara Self Assessment dan Official Assessment.

27

Gambar

Ilustrasi penyajian:
Ilustrasi penyajian 28
Ilustrasi Penyajian Pendapatan Pajak Daerah-LRA 35
Ilustrasi Penyajian Pendapatan Pajak Daerah-LO  29
+3

Referensi

Dokumen terkait

tegangan pada poros bertangga atau alur pasak dengan faktor ditaksir terdahulu, maka α atau β sering kali menghasilkan diameter poros yang lebih besar.. Periksalah

Allah SWT berfirman: Dan dirikanlah sholat itupada kedua tepi siang (Zhuhur, Asar) dan pada waktu-waktuyang dekat dengan tepi malam (Maghrib, Isya dan Shubuh) (Hud)

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1.49 persen per tahun yang tidak diikuti oleh peningkatan produksi padi Indonesia serta peningkatan harga beras eceran

Pajak daerah adalah pungutan wajib atas orang pribadi atau badan yang dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan

Beberapa parameter yang mempengaruhi respon arus biosensor telah diteliti yaitu potensial yang digunakan, konsentrasi silika, dan jumlah enzim. Arus respon cenderung

Aspek desain teknis mempunyai 8 butir yang dinilai. Aspek ini setelah dikonversikan dalam skala 5 maka item- item yang dinilai oleh ahli media termasuk dalam kategori “

Sebaliknya, apabila tingkat kecemasan akademik melebihi batas normal bagi seorang siswa maka yang terjadi adalah hilangnya motivasi belajar; timbulnya perilaku prokrastinasi;

Kegiatan ini dilakukan dalam satu hari kerja atau jika terdapat pesanan. Kegiatan pemotongan selain bertujuan untuk mendapatkan ukuran yang dibutuhkan juga bertujuan untuk