• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manuscript. Oleh. Rudi Ksumajaya Semendawai G2A211018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Manuscript. Oleh. Rudi Ksumajaya Semendawai G2A211018"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LATIHAN FISIK SENAM KAKI TERHADAP EFEKTIFITAS FUNGSI SENSORI DI DAERAH TELAPAK KAKI PADA PENDERITA

DIABETES MILITUS DI PUSKESMAS KEDUNG MUNDU KOTA SEMARANG JAWA TENGAH

Manuscript Oleh

Rudi Ksumajaya Semendawai

G2A211018

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

(2)

Pengaruh latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori di daera telapak kaki pada penderita diabetes militus di puskesmas kedung mundu kota

semarang jawa tengah

Rudi ksumajaya semendawai1 , Heryanto Adi Nugroho 2, Ernawati 3 1

Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fikkes UNIMUS, [email protected] 2

Dosen Keperawatan Komunitas Fikkes UNIMUS 3

Dosen Keperawatan Fikkes UNIMUS ABSTRAK

Komplikasi yang lebih sering terjadi pada penderita diabetes militus adalah neurophaty. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah meninggi secara terus-menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks yang terdiri dari gula didalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal. Akibat penebalan ini, maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf, banyak upaya yang bisa dilakukan untuk pengobatan neurophaty salah satunya adalah trapi non pharmakologic yaitu dengan melakukan treatment latihan fisik senam kaki. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori pada penderita DM. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi exsperiment dengan desain penelitian Pre-Post test one gruop design, Tehnik sampling dalam penelitian ini menggunakan total sampling atau sampling jenuh, dengan jumlah sampel sebanyak 10 orang. Hasil penelitian ini diperoleh hasil p value sebesar 0,005 ( p value < α) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan efektifitas fungsi sensori pada pasien yang mengalami neurophaty diabetik sebelum dan sesudah pembeberian treadment latihan fisik senam kaki. Saran bagi Tenaga keperawatan yaitu harus meningkatkan peran dalam asuhan keperawatan non pharmakologic pada penderita neurophaty diabetik melalui aktifitas latihan fisik senam kaki, karena terapi non pharmakologic jauh lebih aman dan tanpa efek samping bila dibandingkan pada terapi pharmakologic yang apabila diterapkan terlalu lama dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Kata kunci : Latihan fisik senam kaki, efektifitas fungsi sensori, neurophaty diabetik

ABSTRACT

Neuropathy is the most common complication of diabetes mellitus patient. It is related to the high of blood sugar levels that damage the artery, neural and other internal structures. Complex substance that containing of sugar round the blood vessel walls makes the vessel becomes thick and slows the bloodstream down, especially towards neural and skin. One of many neuropathy treatments is non pharmacologic therapy by physical foot exercise.

(3)

The aim of this research is to find out the effects of physical foot exercise against sensory function effectiveness of DM patient. This research uses quasi experiment study with Pre- Post test one group design as research design. Sampling technique in this research is total sampling or saturated sampling, with total sample is 10 people. The result of this research is p value 0,005 (p value < α) that shows the differences between sensory function effectiveness of diabetic neuropathy patients with physical foot exercise and without. The suggestion for nursing staff is increasing role in non pharmacologic nursing care against diabetic neuropathy patients by physical foot exercise that is more safety and without side effect than pharmacologic therapy.

Keyword : Physical foot exercise, sensory function effectiveness, diabetic neuropathy

PENDAHULUAN

Jumlah penderita diabetes mellitus menurut data WHO (World Health Organization), Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar di dunia. Setelah india (31,7 juta jiwa), China (20,8 juta jiwa), dan Amerika Serikat (17,7 juta jiwa) (Darmono, 2007). Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita DM di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 % yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 % yang datang berobat teratur. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi dimasyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya (ADA, 2007). Berdasarkan laporan rumah sakit dan puskesmas, prevalensi diabetes militus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2008 sebesar 0,16%, mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2007 sebesar 0,09%. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0,84%. Sementara itu prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2011 sebesar 0,09%, mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar 0,08%. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0,97%. Sedangkan prevalensi kasus DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami penurunan dari 0,70% menjadi 0,63% pada tahun 2011. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7,99% (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2011).

Komplikasi yang lebih sering terjadi pada penderita diabetes militus adalah neuropaty. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah meninggi secara terus-menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks yang terdiri

(4)

dari gula didalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal. Akibat penebalan ini, maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf

(Badawi, 2009). Penderita DM dibandingkan dengan penderita non DM mempunyai kecenderungan 2 kali lebih mudah mengalami trombosis serebral, 2 kali terjadi penyakit jantung koroner, 17 kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 50 kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun DM di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1% (Waspadji, 2006). Penderita DM berisiko 29 kali terjadi komplikasi ulkus diabetika. Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit yang disebabkan adanya makroangiopati sehingga terjadi insusifiensi vaskuler dan neuropati. Ulkus diabetika mudah berkembang menjadi infeksi karena masuknya kuman atau bakteri dan adanya gula darah yang tinggi menjadi tempat yang strategis untuk pertumbuhan kuman (Waspadji, 2006).

Ulkus diabetika tanpa diberikan pengobatan dan perawatan, akan mudah terkena infeksi yang meluas. keadaan lebih lanjut memerlukan tindakan amputasi. Ulkus diabetika merupakan komplikasi kronik yang ditakuti bagi penderita DM, baik ditinjau dari lamanya perawatan, disertai biaya perawatan yang mahal (Waspadji, 2006). Penelitian oleh (Trihastuti, 2008). bahwa faktor risiko yang tidak dapat diubah dan dapat diubah terhadap kejadian ulkus diabetika pada penderita diabetes melitus meliputi faktor risiko tidak dapat diubah umur ≥ 60 tahun dan lama menderita DM ≥ 10 tahun, sedangkan faktor risiko dapat diubah: neuropati, obesitas, hipertensi, tidak terkontrol kadar glikolisasi hemoglobin (HbA1c), kadarglukosa darah, kadar kolesterol total, kadar HDL, kadar trigliserida, kebiasaan merokok, ketidak patuhan diet DM, kurangnya aktivitas fisik, pengobatan tidak teratur, perawatan kaki diabetisi tidak teratur, dan penggunaan alas kaki yangtidak tepat (Trihastuti, 2008). Melihat kondisi tersebut, penanganan diabetes melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi olah raga apabila dilakukan, merupakan langkah awal senam kaki sangat dianjurkan untuk penderita diabetes yang mengalami neuropaty. Olah raga Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki ( Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita diabetes melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada

(5)

seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Didiagnosa menderita diabetes melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009).

METODE

Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi exsperimen untuk mengetahui pengaruh latihan fisik senam kaki terhadap peningkatan efektifitas fungsi sensori di daerah telapak kaki pada penderita diabetes militus dengan menggunakan rancangan penelitian one group pretest-posttest desain. Rancangan ini juga tidak ada kelompok pembanding (kontrol) tetapi paling tidak sudah dilakukan observasi pertama ( Pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan yang telah terjadi setelah adanya eksperiment (Setiadi, 2007). Sampel adalah pasien Diabetes Militus yang mengalami neurophaty diabetik berjumlah 10 orang, dengan metode total sampling, penelitian dilakukan diwilayah puskesmas kedung mudu kota semarang, alat pengumpul data dengan lembar observasi proses penelitian berlangsung selama 2 minggu. Data dianalisi secara univariat ( shapiro-Wilk ) dan bivariat ( non parametrik wilcoxon).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pasien yang mengalami neurophaty disebabkan oleh berbagai penyakit salah satunya adalah diabetes militus kronik yang akan menurunkan bahkan menghilangkan rasa sensifitas saraf sensori di daerah tungkai kaki yang bisa dilihat dari pemeriksaan saraf sensori yaitu hilangnya sensasi rasa sentuhan pada telapak kaki pada saat ditisuk menggunakan benang nilon monofilament, hilangnya kekuatan otot, hilangnya reflek aciles dan reflek tricep. Komplikasi menahun DM di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1% (Waspadji, 2006). Sedangkan metode cara pemeriksaan neurophaty diabetik menggunakan metode Diabetik Neurophaty Examination (DNE), dengan nilai 0 = Normal, 1= Ringan, 2=Buruk.

Jenis-jenis latihan fisik senam kaki terdiri dari 14 gerakan yang bebeda yang terdiri dari fase pemanasan yaitu gerakan 1sampai 4, fase inti yaitu gerakan 5-9 dan fase relaksasi yaitu gerakan 10 sampai 14 dari semua fase tersebut saling berterkaitan dan melengkapi dalam sistem latihan yang efektif untuk melancarkan sirkulasi darah dan tentunya efektif juga dalam pemulihan neurophaty diabetik. Dalam penelitian ini peneliti melakukan

(6)

senam kaki kepada responden selama 2 minggu dengan frekuensi 5x/minggu, jumlah set 2x dan jumlah repetisi ( pengulangan ) 20x/ satu jenis bagian dalam latihan. Apabila kondisi individu sudah merasa tidak lelah dan berkeringat akibat dari proses penyesuaian tubuh yang sudah beradaptasi dari latihan yang sebelumnya maka jumlah set repetisi bisa ditambah secara bertahap agar jantung dapat berkerja keras dalam memompa darah sampai ke tungkai kaki agar sirkulasi darah dapat selalu lancar dan tentunya mempercepat peyembuhan neurophaty diabetik.Olah raga latihan fisik senam kaki menurut wibisono (2009) bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita diabetes melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2, sebagai tindakan pencegahan dini untuk komplikasi seperti neurophati diabetik dan luka gangreng

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa skor DNE sebelum dilakukan latihan fisik senam kaki mendapatkan nilai skor 1 sampai 2 atau neurophati derajat ringan sampai berat. Sedankan skor DNE sesudah dilakukan latihan fisik senam kaki mendapatkan nilai skor 0-1 atau neurophaty derajat normal sampai ringan. Dari penelitian didapatkan bahwa rata-rata efektifitas saraf sensori sebelum senam kaki adalah 1.30 dan setelah dilakukan latihan fisik senam kaki turun menjadi 0.20. Skor DNE minimun sebelum senam kaki 1 sedankan skor maksimum 2. Terjadi penurunan nilai DNE setelah dilakukan latihan fisik senam kaki dengan skor minimum 0 dan nilai skor maksimum 1. Ini menandakan bahwa sebelum dilakukan latihan fisik senam kaki respoden mendapatkan derajat neuropaty ringan sampai berat dan setelah dilakukan latihan fisik senam kaki komplikasi neurophaty responden mengalami penurunan menjadi derajat normal sampai ringan.

(7)

Tabel 4.1

Distribusi rata-rata nilai efektifitas saraf sensori sebelum dan sesudah pemberian treadtmen latihan fisik senam kaki di wilayah puskesmas kedung

mundu kota semarang pada tanggal 1 April -14 April tahun 2013. Efektifitas saraf sensori Mean Median Std. Deviasi N DNE Sebelum senam kaki 1.30 1.00 0.483

10 DNE Sesudah senam kaki 0.20 0.00 0.483

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai rata-rata efektifitas saraf sensori pada saat test DNE sebelum latihan fisik senam kaki adalah 1.30 dengan standar deviasi 0.483, sedangkan nilai rata-rata test DNE setelah latihan fisik senam kaki adalah 0.20 dengan standar deviasi 0.422.

Tabel 4.2

Nilai pengaruh latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori pada pasien DM yang terkena komplikasi neurophaty diabetik

di wilayah puskesmas kedung mundu kota semarang pada tanggal 1 april – 14 april 2013.

Efektifitas saraf sensori Mean Median Std. Dev P Value N DNE Sebelum senam kaki 1.30 1.00 0.483

0.005 10 DNE Sesudah senam kaki 0.20 0.00 0.483

Berdasarkan tabel di atas diperoleh hasil P value sebesar 0.005 ( P value < α ) maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh treadment latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori di daerah telapak kaki.

(8)

Pembahasan hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori di daerah telapak kaki pada penderita diabetes militus yang mengalami komplikasi neurophati diabetik. Sesuai dengan Uji Wilcoxon signed ranks test pada metode pengolahan data untuk penelitian ini diperoleh hasil P value sebesar 0.005 (P Value < α) dan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh treadment latihan fisik senam kaki terhadap efektifitas fungsi sensori di daerah telapak kaki pada penderita DM yang mengalami neurophaty diabetik. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode test Diabetik Neurophaty Examination (DNE) untuk menilai efektifitas saraf sensori respondent apakah berat, ringan atau normal gejala neurophaty diabetik yang dialami respodent pada saat sebelum dan sesudah dilakukan latihan fisik senam kaki. Dan setelah dilakukan latihan fisik senam kaki neurophati responden yang semula mengalami derajad ringan sampai berat mengalami penurunan menjadi normal sampai ringan.

Seiring dengan bertambahnya umur dan kurangnya olahraga aktifitas fisik menyebabkan kadar gula darah meninggi secara terus-menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya. Zat kompleks yang terdiri dari gula didalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal. Akibat penebalan ini, maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf (Badawi, 2009). Komplikasi yang lain muncul secara kronik yaitu timbul secara perlahan, kadang tidak diketahui, tetapi akhirnya berangsur menjadi makin berat dan membahayakan. Komplikasi ini meliputi: makrovaskuler, mikrovaskuler dan Diabetik Retinopati, Nephropathy, ulkus kaki diabetes, Neuropathy. (Tjokroprawiro, 1997). Oleh karna itu pengobatan alternatif untuk neurophati diabetik yang sangat dianjurkan adalah latihan fisik senam kaki untuk memperlancar peredaran darah sehingga mengurangi bahkan menghilangkan neurophati diabetik.

Hasil penelitian yang terkait yaitu penelitian yang dilakukan Nasution (2010) yang melakukan latihan fisik senam kaki terhadap peningkatan sirkulasi darah di tungkai kaki pada penderita diabetes militus, Penelitian yang sama juga dilakukan oleh andarwati (2009) yaitu pengaruh senam kaki diabetes terhadap neurophaty sensorik pada kaki pasien diabetes militus di wilayah kerja puskesmas tegalrejo. Menurut penelitian ilyas (2007) latihan jasmani secara langsung dapat menyebabkan terjadi peningkatan pemakaian glukosa oleh otot yang aktif, dan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka sehingga lebih banyak tersedia sereptor insulin dan reseptor insulin menjadi lebih aktif yang akan

(9)

berpengaruh terhadap penurunan glukosa darah dan juga mengaktifkan pompa vena pada pasien diabetes sehingga tidak terjadi komplikasi atau gangguan sirkulasi pembuluh darah perifer. Selain menurunkan kadar gula darah manfaat lain dari gerakan senam kaki ini dapat melenturkan otot dan sendi serta ligamen disekitar kaki, pembuluh darah balik akan lebih aktif memompa darah ke jantung sehingga sirkulasi darah di kaki menjadi lebih lancar yang membawa nutrisi dan oksigen ke pembuluh darah perifer. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor kontuinitas atau keteraturan pasien dalam mengikuti senam kaki diabetes sehingga terjadi perbaikan pada sirkulasi darah, menurut (guyton & Hall, 2006) Kondisi ini akan mempermudah saraf menerima nutrisi dan oksigen yang mana dapat meningkatkan fungsi saraf.

Penyembuhan yang paling efektif untuk neurophaty diabetik adalah dengan melakukan berbagai jenis latihan yang memacu kardio vaskular seperti senam kaki, erobik dan latihan beban. Penelitian tentang manfaat latihan jasmani adalah penelitian yang dilakukan oleh Patricia dkk (2012) yaitu dengan judul Pengaruh olahraga pada gejala neuropati, fungsi saraf, dan persarafan kulit pada orang dengan neuropati diabetes perifer hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh /hubungan latihan fisik erobik dan latihan beban terhadap pemulihan neurophaty, fungsi syaraf dan persyarafan kulit pada penderita neurophaty diabetik dengan nilai p value pada nyeri (P = 0.05), gejala neurophaty (P = 0.01), dan peningkatan serat saraf intraepidermal percabangan (P = 0,008).

Tentunya dalam hal ini latihan fisik senam kaki dan latihan erobik lainnya harus disiplin dan rutin dilaksanakan oleh individu yang terkena neurophati diabetik jadikan olah raga sebagai kebiasaan hidup bukan hobi atau ingin cepat sembuh semata karena dengan frekuensi yang lama sangat berpengaruh bagi kebugaran tubuh dan tentunya dapat menyembuhkan neurophati diabetik dan penyakit lainnya, manfaat olah raga terus menerus secara rutin dapat mempengaruhi kesehatan tubuh dan, menyembuhkan neurophaty diabetik telah dibuktikan lewat penelitian yang dilakukan oleh stefano dkk (2006) yaitu Olahraga fisik dapat memodifikasi perjalanan secara alami pada perbaikan neurophati diabetik perifer, penelitian ini dilakukan selama 4 tahun secara disiplin dan konsisten dengan jenis latihan kardiovaskular ( erobik ) seperti berjalan cepat menggunakan treatmil dengan HR (heart rate ) 80%, setelah dilakukan penelitian terdapat perubahan pada neurophaty diabetik perifer. Ini membuktikan bahwa latihan dengan frekuensi yang semakin lama dapat berpengaruh terhadap penyembuhan neurophaty

(10)

diabetik Dengan demikian latihan fisik senam kaki dan latihan erobik lainnya tidak hannya dapat diterapkan dalam waktu yang singkat tapi dapat juga diterapkan dalam waktu yang lama agar memperoleh kebugaran fisik yang bertahan lama dan tentunya berpengaruh terhadap kesembuhan neurophaty dalam waktu yang lama pula.

(11)

KEPUSTAKAAN

Aktyo, 2009 . Senam kaki diabetes militus . http://www akhtyo.blogspot.com//senam-kaki-diabetes-melitus. Di akses pada 17 desember 2012.

ADA. 2007. Standards of Medical Care in Diabetes. http://www.Care. Diabetes journal. Org/content/30/suppl_l/S4. Di akses pada 18 desember 2012. Calle, Pascual, Duran A. 2001. Reduction in Foot Ulcer Incidence, Diabetes Care, : Spain.

Dinas kesehatan provinsi jateng. 2011. Profil kesehatan jawa tengah http://www.dinas kesehatan jateng.co.id. Diakses pada 9 Januari 2013. Diabetes militus. 2012. komplikasi penyakit diabetes militus.

www.diabetesmilitus.com/komplikasi-penyakit-diabetes. diakses pada 10 januari 2013.

Manganti, A. 2012. Panduan hidup sehat bebas diabetes. Araska. Yogyakarta. Notoatmojo, S. 2005. Metodologi penelitian kesehaan. PT Rineka cipta. Jakarta. Nabyl, R. A. 2012. Panduan hidup sehat : mencegah dan mengobati diabetes militus.

Aulia publising. Yogyakarta.

Price, S. A dan Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit. EGC. Jakarta.

Prasetyo. M. A. 2011. Pemeriksaan sistem syaraf sensory pada neurophaty diabetik. http://www. eprints.undip.ac.id/30687/3/Bab_2.pdf. Di akses pada 16 Desember 2012

Setiadi. 2007. Konsep dan penulisan riset keperawatan. Graha ilmu. Yogyakarta. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah ( 8 ed.,

Vol.1 ). EGC. Jakarta.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah ( 8 ed., Vol.2 ). EGC. Jakarta.

Tjokroprawiro A. 2000. Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes, PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Vita Health, T. R. 2004. Diabetes (4 ed. ). PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengujian skrining fitokimia infusa daun belimbing wuluh dengan suhu 55 0 C, 60 0 C, 65 0 C, senyawa yang terkandung

Muncul layar konfirmasi, pastikan data yang telah dimasukkan sesuai dengan data Pemberi Kerja/Badan Usaha dan tekan tombol angka “1 (satu)” lalu pilih “YA” untuk melanjutkan

Diagram blok sistem terdiri dari blok rangkaian sensor pergeseran tanah (terdiri dari sensor jarak VL53L0X yang dipasang bersamaan dengan pegas) untuk mengontrol

Adapun strategi politik hukum untuk meningkatkan kualitas produktifitas legislasi DPR adalah mengubah haluan politik dari agent/delegate ke trustee, menghilangkan fungsi

Data Transportasi: Maksud Perjalanan, perjalanan anggota keluarga, jenis kendaraan yang dipakai, jenis kendaraan yang digunakan, waktu perjalanan, Ketersediaan tempat

SIDOARJO Disusun Oleh: Maharani Inas M...

dari total 38 mahasiswa. Secara umum dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian tindakan kelas pada siklus II, untuk ketuntasan secara NODVLNDO WHUPDVXN NH GDODP NDWHJRUL

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa rancangan modul pembelajaran matakuliah Anatomi Tumbuhan berbasis riset menurut penilaian ahli, dan