B A B I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang Penelitian
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999-2004
mengamanatkan
bahwa
pembangunan
aparatur
negara
diarah-kan untuk mewujudkan aparatur negara yang andal serta mampu melaksanakan keseluruhan penyelenggaraan tugas
pemerintah umum
dan
pembangunan
dengan
efisien,
efektif
dan terpadu, yang didukung oleh aparat negara yangprofesional,
b^ertanggung jawab,
bersih
dan
berwibawa
serta menjungjung tinggi kejujuran, kebenaran dan keadi-ian. Pendayagunaan aparatur negara terus ditingkatkan terutama yang berkaitan dengan kualitas, efisiensi pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat serta kemam puan profesional dan kesejahteraan aparatnya.
4
Makna yang
terkadung dalam amanat
tersebut
menyata-kan bahwa pelaksanaan pembangunan sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan global. Sosok yang diinginkan haluan negara tersebut erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Peningkatan dan
pengembangan kualitas
sumber daya manusia tersebut
salah
satunya diupayakan melalui pembinaan dan pengembangan
aparatur
yang
berjenjang
dan
berkesinambungan
sesuai
dengan
tuntutan
masyarakat
dan
perubahan
jaman.
Upaya
ini
merupakan
upaya
yang
strategis
mengingat
bahwa
sumberdaya manusia memegang peran yang sangat strategis pula dalam pembangunan nasional, dimana baik hakekat dan tujuan pembangunan nasional, maupun sasaran dan priori-tas pembangunan menyangkut sumberdaya manusia. Sebagai inti pembangunan, sumberdaya manusia merupakan penggerak atau faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan, maupun sebagai sesuatu yang ingin dihasilkan dari proses
pembangunan nasional tersebut.
"Dalam pembangunan pendidikan, tuntutan imperatif yang dijawantahkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang SLstem Pendidikan Nasional (UUSPN) berkai-tan dengan penanganan sistem pendidikan nasional yang semakin profesional. Sekalipun diikuti oleh dike-luarkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan belum sepenuhnya memberi gambaran tentang tugas-tugas ketenagaan, khususnya dalam
pengembangan profesionalisme yang jelas dan gamblang/
Khusus dalam aspek tenaga Pengawas Sekolah, dalam UUSPN dikatakan bahwa pengawas merupakan jabatan profe
sional. Akan tetapi, jabatan tersebut tidak terlepas dari kedudukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pada hakekatnya sebagai aparatur dan abdi negara. Sebagai PNS tidak lepas dari tugas pokok sebagai pelayan masyarakat yang dituntut untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam melaksanakan
tugas-tugas pembangunan; Karena itu, upaya pembinaan dan pengembangan PNS sebagai aparatur negara semakin penting untuk dilembagakan, dikelola dan ditingkatkan dayaguna dan hasilgunanya bagi tujuan-tujuan pembangunan.
Terlepas dari hal tersebut, upaya pengembangan ketenagaan dapat dilihat dari dua sudut pandang. Perta-ma, bahwa pengembangan profesional Pengawas Sekolah akan lebih meningkat dan beradaptasi dengan pembaharuan bila disiapkan melalui pendidikan yang tepat. Dengan kata lain, bahwa pengembangan profesional itu berkaitan dengan operasionalisasi pembaharuan yang menitikberatkan pada kualitas pelaksanaan program pembaharuan pendidikan dan pelatihan ketenagaan. Kedua, lembaga Pendidikan dan Latihan merupakan suatu program pembinaan dan pengem bangan personil dalam suatu organisasi yang bertujuan menambah dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta kecakapan kerjanya; Eksistensi Lembaga Diklat, khususnya di lingkungan PNS diatur berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepega-waian, yang bertujuan untuk meningkatkan pengabdian, mutu, keahlian, kemampuan dan keterampilan, dalam rangka meningkatkan pendayagunaan aparatur negara yang bersih dan berv/ibawa.
Kebijakan operasional penyelenggaraan Lembaga Diklat PNS tertuang dalam Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia diatur berdasarkan Kepprej
Tahun 1972 yang dipercayakan pengelolaannya kepada Lembaga Administrasi Negara, yang fungsi lembaga ini diatur berdasarkan Inpres No.15 Tahun 1974. Pada Pasal 4 Lampiran IV Inpres ini ditegaskan bahwa ruang lingkup Diklat PNS mencakup bidang Teknis Fungsional dan
administrasi.
Suatu contoh kasus kendala yang dihadapi Jawa Barat dalam pembinaan dan pengembangan aparatur masih dihadap-kan banyak tantangan. Pada kasus Laporan Pertanggungja-waban Gubernur kepada Dewan Perwakilan Rakyat Tahun 1995, masih ditemukan 787 kasus penyelewengan yang terjadi di setiap instansi. Dan temuan Inspektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri ditemukan 56 kasus, delapan diantaranya menyangkut bidang pemerintahan dan aparatur.
Hasil penelitian Lembaga Administrasi Negara (LAN) Tahun 1990, ditemukan lima kelemahan aparatur pemerintah dalam aspek penerapan fungsi-fungsi manajemen, khususnya dalam perencanaan unit kerja, lemahnya kegiatan evaluasi program, lemahnya mengikuti perkembangan-perkembangan unit kerja, lemahnya pemberian pedoman pada unit kerja, serta lemah dan kurangnya pembinaan personalia.
Kasus-kasus penyelewengan aparatur pemerintah, dan lemahnya skill yang diwujudkan dalam kinerja aparatur dalam melaksanakan tugas, menunjukkan indikasi bahwa peranan lembaga pembinaan dan pengembangan aparat
melalui Lembaga Pendidikan dan Latihan (Diklat) masih belum efektif. Memang benar, efektivitas program suatu lembaga khususnya Lembaga Diklat PNS ditentukan banyak faktor, dapat disebabkan oleh kelemahan organisasional atau karena kelemahan individual aparat itu sendiri.
Kelemahan organisasional berkaitan dengan lemahnya sistem penyelenggaraan Diklat. Unsur-unsurnya dapat disebabkan oleh sub-sistem masukan (input), atau pro-sesnya. Kelemahan sub-sistem masukan dapat disebabkan oleh komponen peserta diklat (raw input), komponen ketenagaan (Pengawas Sekolah), metode, sarana dan pra-sarana, serta lingkungan pendidikan sebagai "instrumen tal input"; Kelemahan proses dapat disebabkan oleh kesalahan teknik dan strategi manajemen pembelajaran, kemungkinannya dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan
pengendalian diklat.
Aspek-aspek kekurangefektifan peranan Lembaga Diklat PNS ini memang serba memungkinkan. Namun yang paling menonjol untuk dikaji adalah dalam komponen instrumental input, khususnya pada peranan dimensi Pengawas Sekolah sebagai ujung tombak dalam proses pendidikan dan latihan secara operasional. Sinyalemen-sinyalemen tentang kompetensi profesional Pengawas Sekolah masih belum menunjukkan kapabilitas yang tinggi.
Sekalipun kebijakan-kebijakan tentang perekrutan tenaga Pengawas Sekolah telah diatur berdasarkan Surat
Keputusan (SK) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
(Menpan)
No.118/1996.
Menurut
SK Menpan tersebut,
bahwa
Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi
tugas,
tanggungjawab
dan
wewenang
secara
penuh
oleh
pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendi
dikan di sekolah dengan melaksanakan penilaian danpembinaan dari
segi
teknis pendidikan
dan administrasi
pada satuan pendidikan pra sekolah,
dasar dan menengah.
Pegawai
Negeri
Sipil
yang
diangkat
untuk
pertamakali
dalam jabatan Pengawas Sekolah harus memenuhi persyara-tan secara umum, dan khusus. Salah satu persyaratan umum
bagi
pengangkatan
dalam
jabatan
pengawas
disebutkan
dalam Pasal 23 ayat (1) butir (3) yaitu: "telahmengiku-ti
pendidikan
dan
pelatihan
kedinasan
dalam
bidang
pengawasan
sekolah
dan
memperoleh
Surat
Tanda
Tamat
Pendidikan dan Pelatihan".Suatu hal yang telah menjadi rahasia umum di
ling-kungan
kepegawaian
negara,
hampir
setiap mantan
pejabat
struktural yang habis masa jabatannya dan supaya masa kerja dapat diperpanjang menjabat sebagai Pengawas Sekolah. Sehingga banyak tudingan bahwa jabatan Pengawas
Sekolah
merupakan
"terminal"
mantan
pejabat
struktural
yang mendekati
pensiun.
Akibatnya,
bukan saja
menumbuh-kan
"image"
negatif
bagi
jabatan
tersebut,
namun
dampaknya
terasa
pada
proses
pembelajaran
dalam
penye-lenggaraan diklat.Perubahan kebijakan dalam penganmgkatan Pengawas Sekolah (SK.Menpan No.118/1996, Keputusan Bersama Men-diknas dan Kepala BAKN No.0322/0/1996 dan No.38 Tahun 1996, serta Keputusan Mendiknas No.020/U/1998) dapat dilihat pada Tabel 1.
T a b e l 1
PERUBAHAN KEBIJAKAN JABATAN PENGAWAS SEKOLAH
NO KEBIJAKAN LAMA KEBIJAKAN BARU 1 Penilik TK/SD Pengawas TK/SD
2 Jabatan struktural (Eselon IV.b):
- Jenjang pangkat tertinggi Ill/d
- Kenaikan pangkat reguler (4 tahun sekali).
Jabatan Fungsional:
- Dapat mencapai pangkat ter-tinggi/puncak (IV/e)
- Kenaikan pangkat bisa kurang dari 4 tahun melalui angka kredit,
3 Untuk menjadi Penilik bisa diangkat dari pejabat struk tural.
Harus dari jabatan guru
(fung-sional.
4
i
Pendidikan tertinggi minimal tingkat SLTA/sederajat.
Pendidikan tertinggi minimal Diploma II.
5 Tidak ada batasan usia ter tinggi (aktif sebagai PNS).
Usia tertinggi 5 (lima) tahun sebelum mencapai batas usia pensiun jabatan Pengawas. 6 Tidak perlu diklat kedinasan
yang berkaitan dengan jabatan.
Telah lulus dari diklat kedi nasan di bidang pengawasan sekolah.
7 Tanpa berpengalaman sebagai guru.
Berpengalaman sebagai guru TK/ SD/RA/MI/SDLB minimal selama 6 (enam) tahun berturut-turut.
Dari
tujuh
aspek
substansi
perubahan
kebijakan
tersebut,
aspek yang paling menarik untuk dikaji
ialah
aspek yang keenam,
yaitu perubahan dalam persyaratan
pengangkatan
jabatan
pengawas
harus
diangkat
dari
guru
yang
telah
lulus
mengikuti
pendidikan
dan
pelatihan
kedinasan dalam bidang pengawasan sekolah. Persyaratan jabatan tersebut, bila ditinjau dari sisi akademik,
merupakan
salah satu upaya profesionalisasi dalam bidang
ketenagaan. Artinya, pengangkatan jabatan pengawas yang profesional memerlukan persyaratan jabatan dalam aspek pendidikan khusus dalam kepengawasan sekolah. Persoalan
muncul:
apakah dalam konteks
implementasi
kebijakan
itu
dilaksanakan sesuai dengan dalam rumusan kebijakan? Sinyalemen di Lapangan menunjukkan indikasi yang tidak konsisten. Sekalipun belum adanya bukti empirik hasil penelitian ilmiah, bahwa implementasi kebijakan dalam pengangkatan Pengawas pada jenjang pendidikan dasar, tidak konsisten, sehingga mengakibatkan mutu (kualitas) kinerja pengawas belum efektif, maka melalui penelitian inilah upaya pembuktian secara ilmiah akan dilakukan.
B. Rumusan Masalah
Latar belakang penelitian menunjukkan gambaran bahwa masalah utama penelitian adalah: Seberapa jauh
tingkat keterhubungan antara efektivitas implementasi
perubahan kebijakan tentang jabatan Pengawas Sekolah
terhadap kualitas kinerja para Pengawas Taman
Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (Pengawas TK/SD) di lingkungan
Berdasarkan pokok masalah tersebut, maka
problema-tik
yang
perlu
dijawab
melalui
penelitian
ini
adalah
sebagaimana tertera di bawah ini.1.
Bagaimana
gambaran
umum
implementasi
kebijakan
tentang
pengangkatan
Pengawas
TK/SD
di
lingkungan
Kantor Depdiknas Kabupaten Lebak?2.
Bagaimana
gambaran
umum
kinerja
Pengawas
TK/SD
di
lingkungan Kantor Depdiknas Kabupaten Lebak?
3. Apakah perubahan kebijakan tentang jabatan Pengawas sekolah di lingkungan Kantor Depdiknas Kabupaten Lebak berpengaruh terhadap kualitas kinerja Pengawas TK/SD?
4. Seberapa tinggi derajat keternubungannya antara
perubahan
kebijakan
tentang
jabatan Pengawas
sekolah
di
lingkungan
Kantor
Depdiknas
Kabupaten
Lebak
terhadap kualitas kinerja Pengawas TK/SD?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji perubahan kebijakan tentang jabatan Pengawas sekolah dan
penga-ruhnya
terhadap
kinerja
Pengawas
TK/SD
di
lingkungan
Kantor Depdiknas Kabupaten Lebak.Berdasarkan maksud tersebut, maka tujuan pokok yang
ingin dicapai
melalui
penelitian ini adalah:
1.
Dapat
diperoleh
gambaran
umum
mengenai
implementasi
kebijakan
tentang
pengangkatan
Pengawas
TK/SD
di
10
lingkungan Kantor Departeman Diknas Kabupaten Lebak. 2. Dapat mengetahui tentang kinerja Pengawas TK/SD di
lingkungan Kantor Departeman Diknas Kabupaten Lebak. 3. Dapat mengetahui pengaruh perubahan kebijakan tentang
jabatan Pengawas sekolah di lingkungan Kantor Depar-temen Diknas Kabupaten Lebak terhadap kualitas kinerja Pengawas TK/SD.
4. Dapat mengetahui derajat keterhubungan antara peru bahan kebijakan tentang jabatan Pengawas sekolah di
lingkungan Kantor Departemen Diknas Kabupaten Lebak terhadap kualitas kinerja Pengawas TK/SD.
D. Kegunaan Penelitian
Masalah ini menuntut pemecahan yang didukung hasil penelitian, karenanya hasil penelitian ini merupakan salah satu bentuk pemecahan dari masalah tersebut, di samping turut merangsang peneliti lain untuk turut mengembangkan pemikiran lebih lanjut; Dan pemecahan masalah ini berkaitan dengan disiplin ilmu administrasi, karenanya melalui penelitian ini turut pula mengembang kan dan memperkaya khazanah ilmu administrasi, khsusnya
dalam bidang kajian Pengelolaan Tenaga Kependidikan dan Kebijakan Pendidikan;
Di samping itu, hasil penelitian ini dapat diguna-kan sebagai bahan rujukan bagi para pembuat kebijakan
11
publik di lapangan, khususnya dalam pembenahan, pembi naan dan pengembangan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kantor Depdiknas Kabupaten Lebak.
E. Kerangka Pikir Penelitian
Merujuk pada masalah pokok dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian, maka analisis permasalahan penelitian menggunakan pendekatan yang komprehensif, mulai dari rumusan kebijakan, implementasi kebijakan dan penilaian kebijakan.
Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka pemikiran yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat diilustra-sikan pada Gambar 1.
Kajian pertama, diarahkan pada kajian terhadap komponen-komponen yang secara eksplisit termuat dalam rumusan kebijakan tentang jabatan pengawas. Komponen-komponen tersebut dianalisis berdasarkan kriteria suatu rumusan kebijakan yang mencakup di dalamnya kriteria empirik, evaluatif dan normatif.
Sudut kajian kedua, adalah tahap implementasi kebijakan pengangkatan pengawas, yang diduga pada tahap inilah penyimpangan terjadi, karena dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal, baik yang berkenaan dengan persyaratan, kriteria, maupun tujuan pengangkatan pengawas tidak dipedulikan lagi, sehingga diperkirakan berpengaruh terhadap kinerja pengawas.
Gambar 1
KERANGKA PEMIKIRAN PENELITIAN
KEBIJAKAN FUNGSIONALISASI JABATAN PENGAWAS SEKOLAH RUANG LINGKUP RUMUSAN PERUBAHAN KEBIJAKAN JABATAN PENGAWAS SEKOLAH .]_ KEBIJAKAN LAMA KEBIJAKAN BARU FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERNAL EKSTERNAL IMPLEMENTASI KE BIJAKAN PENGANG-BIJAKAN PENGANC-KATAN PENGAWAS TUJUAN 4 SASARAN KRITERIA/ LANDASAN ACUAN V KEMAMPUAN DALAM MELAKSANAKAN TUGAS PROSEDUR OPERASIONAL - r -J 12 GAMBARAN MUTU KINERJA PENGAWAS TK/SD
Untuk membuktikan dugaan tersebut, maka pada kajian
ketiga, diarahkan pada pengukuran efektivitas pengangka
tan pengawas melalui pelaksanaan pendidikan dan pelati han yang diduga perpengaruh terhadap komponen kinerja pengawas. Komponen kinerja ini akan berkaitan erat
13
dengan variabel kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas kepengawasan, dan motivasi dalam melakukan pekerjaan kepengawasan.
F. Hipotesis
Hipotesis umum yang ingin diuji adalah: Terdapat hubungan fungsional antara perubahan kebijakan tentang
jabatan Pengawas Sekolah
dengan
kualitas kinerjanya.
Berdasarkan hipotesis umum tersebut secara spesifik dirumuskan hipotesis berikut:1. Perubahan kebijakan tentang jabatan pengawas sekolah
dalam
pengangkatan Pengawas
TK/SD
di
Kabupaten Lebak
belum diimplementasikan secara optimal.2.
Pengangkatan Pengawas TK/SD di Kabupaten Lebak
belum
menunjukkan
tingkat
kinerja yang
memadai•berdasarkan
pada perubahan kebijakan jabatan Pengawas sekolah.
3.
Arah
hubungan
kinerja
Pengawas
TK/SD
yang
telah
mengikuti
diklat
berdasarkan
perubahan
kebijakan
jabatan Pengawas
sekolah
di
Kabupaten
Lebak
berpola
linier dan signifikan ke arah yang positif;
4.
Derajat
determinasi
antara
implementasi
perubahan
kebijakan
jabatan Pengawas
sekolah dengan variabel
kualitas
kinerja
Pengawas
TK/SD
telah
mengikuti
diklat
di Kabupaten Lebak
adalah positif dan signifi
kan.14
q. Sistimatika Tesis
Isi tesis ini dibagi ke dalam lima bagian, yaitu
bagian:
pendahuluan,
kajian
teoritis,
metodologi,
hasil
penelitian, dan kesimpulan.
Bagian pendahuluan, merupakan gambaran umum tentang
permasalahan
penelitian,
yang
mencakup:
latar
belakang
permasalahan,
rumusan masalah,
tujuan penelitian,
kegu-naan
penelitian,
kerangka
pikir
penelitian,
hipotesis,
dan sistimatika laporan. Bagian kajian teori, merupakan landasan teoritis yang dibangun untuk mengkaji permasa
lahan
penelitian dari
pandangan
litelatur.
Kajian
teori
ini berkenaan dengan: (1) Konsep analisis implementasi
kebijakan;
(2) Kebijakan pendidikan dan pelatihan penga
was
sekolah;
(3)
Inkonsistensi
dalam
implementasi
kebi
jakan
pengangkatan
pengawas
sekolah;
(4)
Konsep
super-visi
pendidikan
bagi
pengawas
sekolah;
(5)
Pengembangan
kemampuan
profesional
supervisor
pendidikan;
Dan
(6)
Hasil-hasil penelitian lain yang relevan. Bagian Meto