• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arief Wicaksono 1 Abstrak. Abstract

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Arief Wicaksono 1 Abstrak. Abstract"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

4i (KENALI-CARI-PAKAI-EVALUASI): USULAN MODEL LITERASI INFORMASI

DI PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA UNTUK PENGENALAN DAN PENGAJARAN LITERASI INFORMASI

BAGI MASYARAKAT INDONESIA

Arief Wicaksono1

[email protected], [email protected]

Abstrak

Masyarakat perlu dikenalkan dan diajarkan tentang kemampuan literasi informasi yang merupakan kemampuan penting dalam masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Model literasi informasi sangat dibutuhkan dalam mengenalkan konsep literasi informasi. Pengembangan model literasi informasi dapat dilakukan untuk memudahkan pengenalan dan pengajaran literasi informasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi dari target lingkungannya. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ( Perpusnas ) sebagai penggiat literasi informasi belum menetapkan secara resmi model literasi informasi yang digunakan dalam mengenalkan dan mengajarkan literasi informasi kepada masyarakat. Kenali-Cari-Pakai-Evaluasi atau disingkat 4i merupakan usulan model informasi yang dapat dipakai dalam mengenalkan dan mengajarkan literasi informasi kepada masyarakat umum di Perpusnas. Usulan model ini dirangkum dari konsep literasi informasi. Pengujian cakupan usulan model ini dilakukan melalui penyandingan dengan kompetensi literasi informasi dari CILIP, model literasi informasi Big6, dan standar literasi informasi dari ACRL, Information Literacy Compentency Standards for Higher Education.

Kata Kunci: literasi informasi, model literasi informasi, perpusnas.

Abstract

This article discuses Indonesian translation of Dewey Decimal Classifi cation (DDC) from historical point of view. Since 1894, DDC has been published in 2 (two) versions: abridged and unabridged. The fi rst abridged edition (1894) was derived from unabridged edition of DDC 15 (1894). The latest abridged version of DDC 15 is the 2012 edition. DDC has been translated into 30 languages including Bahasa Indonesia. Indonesian version of DDC has been published since 1953. This edition was translated from the abridged version of 1935 edition. Since then, the Indonesian translation has been published individually in 1959, 1970 and 1978. In 1979, DDC translation was done by the Center for Library Development. This edition was translated from abridged version of DDC 10. The latest edition is translated from abridged version of DDC 14 (2004) published by the National Library of Indonesia in 2011. Currently, the National Library of Indonesia is working on the latest translation of abridged version of DDC 15 (2012). This article will also discuss the role of the National Library in conduction Indonesian translation of DDC.

(2)

A. Latar Belakang

Istilah literasi informasi diperkenalkan pertama kali oleh Paul G. Zurkowski pada tahun 1974. Saat itu, Zurkowski menjabat sebagai Presiden the Information Industry Association. Zurkowski mengusulkan bahwa prioritas utama program nasional U.S. National Commission

on Libraries and Information Science adalah

membangun sebuah program utama untuk mencapai literasi informasi universal di tahun 1984 (Latuputty, 2013). Masyarakat umum perlu mempunyai kemampuan literasi informasi yang merupakan kompetensi yang dimiliki pustakawan. Sejak itu, pustakawan mulai sadar akan kepentingan literasi informasi bagi masyarakat umum.

Pada tahun 2009, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menyatakan bahwa bulan Oktober merupakan Bulan Penyadaran Literasi Informasi Nasional. Dikatakan pula bahwa kita harus mampu untuk memperoleh, memeriksa, dan mengevaluasi informasi dalam setiap kondisi. Di Indonesia, gaung literasi informasi mendapatkan tanggapan dari berbagai pihak. Perpustakaan menyelenggarakan berbagai pelatihan, seminar, dan pertemuan ilmiah lain mengenai literasi informasi. Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) sejak tahun 2005 mengenalkan literasi informasi kepada pustakawan di perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, dan umum melalui seminar dan lokakarya (Blasius, dkk., 2009:11).

Selain kepada pustakawan, Perpusnas RI juga perlu meningkatkan perannya dalam mengantarkan literasi informasi menjadi kemampuan dasar masyarakat umum. Pengenalan literasi informasi kepada masyarakat dapat dilakukan melalui kampanye literasi informasi secara nasional atau melalui kelas-kelas kecil dan rutin dengan pemustaka yang berbeda-beda dalam bimbingan pemustaka yang telah dilayanani selama ini. Pendekatan yang berbeda diperlukan

dalam mengenalkan dan mengajarkan literasi informasi kepada masyarakat umum. Perpusnas R.I. perlu mengajarkan literasi informasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum.

B. Permasalahan

Pengajaran literasi informasi kepada masyarakat perlu ditentukan model literasi informasi yang akan dipakai karena itu sangat penting dalam pengajaran. Itu sebabnya bahwa beberapa perguruan tinggi telah mengembangkan teknik dan modul pelatihan untuk mengenalkan kemampuan ini bagi para mahasiswa (Blasius, dkk., 2009:4). Hingga saat ini, Perpusnas RI belum menetapkan dengan resmi model literasi yang akan dipakai dalam pengenalan dan pengajaran literasi informasi kepada masyarakat umum.

C. Tinjauan Pustaka 1. Literasi Informasi

Banyak terdapat defi nisi literasi informasi. Namun, dalam penelitian ini hanya diungkap dua defi nisi saja yang diambil dari standar kompetensi literasi informasi. Literasi informasi (ACRL, 2000:2) adalah sekumpulan kemampuan dari seseorang untuk mengetahui kapan dirinya membutuhkan informasi dan mampu menelusur, mengevaluasi, dan menggunakan informasi tersebut. Menurut Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (2012:13), literasi informasi adalah kemampuan untuk mengenali kebutuhan informasi termasuk pemahaman tentang bagaimana perpustakaan yang terorganisir, mengenal sumber daya yang tersedia (format informasi dan sarana penelusuran secara otomatis) dan pengetahuan terhadap teknik-teknik penelusuran yang biasa digunakan. Literasi informasi berarti juga kemampuan untuk mengevaluasi secara kritis cakupan (isi) informasi dan menggunakannya secara efektif sesuai etika informasi serta memahami infrastruktur informasi

(3)

yang mendasari pengiriman informasi mencakup hubungan dan pengaruh sosial, politik, dan budaya. Dengan kemampuan literasi informasi, sesuai dengan kedua defi nisi tersebut, akan terbentuk masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Diao Ai Lien, dkk. dalam Latuputty dan Mulkan (2012) mengatakan literasi informasi adalah kemampuan melakukan manajemen pengetahuan dan belajar sepanjang hayat. Alexandria Proclamation di tahun 2005 menyatakan bahwa literasi informasi adalah sebagai hak asasi manusia dan elemen yang penting dari pembelajaran sepanjang hayat (UNESCO, 2005). Berikut ini digambarkan siklus manusia pembelajar sepanjang hayat (literasi informasi)

2. Model Literasi Informasi

Ada berbagai model literasi informasi yang dikembangkan untuk mengajarkan literasi informasi kepada masyarakat. Basuki (2013) mengatakan bahwa keberadaan model memungkinkan untuk mengidentifi kasi berbagai komponen dan menunjukkan hubungan antarkomponen. Model dapat juga digunakan untuk menjelaskan apa yang di maksud dengan literasi informasi. Blasius, dkk. (2009:27) mengatakan model-model literasi informasi merupakan cara yang terpola dalam mengajarkan mereka untuk memiliki kemampuan untuk mencari informasi dengan tepat.

Model literasi informasi yang terkenal dan banyak dipakai adalah adalah Big6 dan Empowering8. Latuputty dan Hanna Chaterina (2013) mengatakan bahwa di Indonesia telah lahir

sebuah model model literasi informasi yang baru yang disebut dengan tujuh langkah Knowledge

Management yang dikembangkan oleh Diao

Ai Lien dan kawan-kawan dari Universitas Atmajaya, Jakarta pada tahun 2007. Latuputty, dkk (2012) juga mengembangkan model literasi informasi untuk siswa di pesantren. Namun, dari empat model literasi informasi tersebut, keseluruhannya dikembangkan dalam lingkungan lembaga pendidikan, yaitu sekolah dan perguruan tinggi karena program literasi informasi secara tradisional diselenggarakan oleh perpustakaan akademis (SURE, 2014).

3. Model Literasi Informasi Perpustakaan Nasional

Di Singapura, National Library Board

(NLB) mempunyai program kampanye literasi informasi secara nasional. Dalam program tersebut, NLB mengembangkan model literasi informasi sendiri. Agar mudah dimengerti, NLB menyaring konsep literasi informasi ke dalam

tagline Source, Understand, Research, Evaluate

(SURE, 2014). Source berarti pastikan sumber informasi yang digunakan kredibel dan reliabel.

Understand berarti lihat kepada fakta dari pada

opini. Research berarti lakukan investigasi secara menyeluruh sebelum membuat kesimpulan, cek, dan bandingkan dengan berbagai sumber;

Evaluate berarti lihat dari sudut pandang yang

berbeda.

Seperti yang telah dilakukan NLB, selain melakukan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), Perpusnas RI dapat melangkah juga untuk melakukan Gerakan Pemasyarakatan Literasi Informasi (GPLI). Untuk itu, Perpusnas RI perlu mengembangkan sendiri model literasi informasi yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Model literasi informasi diperlukan untuk pengenalan dan pengajaran literasi informasi kepada masyarakat umum. Model literasi informasi yang akan dikembangkan harus mampu

Kebutuhan

Penelusuran

Evaluasi

(4)

Tabel 1:

Perbandingan Model Literasi Informasi Diao Ai Lie, dkk.

Model Literasi Informasi George Latuputty dan Mulkan, dan SURE

Diao Ai Lien, dkk. dalam Latuputty (2013) Hanna Chaterina George-Latuputty dan Dede Mulkan dalam Latuputty, (2013) SURE (SURE, 2014) - Merumuskan masalah -Mengidentifikasi dan mengakses informasi - Mengevaluasi sumber informasi dan informasi - Menggunakan informasi - Menciptakan karya - Mengevaluasi karya - Menarik - Need ‘kebutuhan informasi ‘ - Access ‘akses Informasi -Locate/penelus uran -Synthesize/pen yelarasan -Create/pencipt aan -Evaluate/penge valuasian - Source ‘sumber’ -Understan d ‘dipahami ’ -Research/ ‘penelitian -Evaluate’ evaluasi’ - Merumuskan masalah - Mengidentifi kasi dan mengakses informasi - Mengevaluasi sumber informasi dan informasi - Menggunakan informasi - Menciptakan karya - Mengevaluasi karya - Menarik Pelajaran - Need ‘kebutuhan informasi ‘ - Access ‘akses Informasi - Locate / penelusuran - Synthesize / penyelarasan - Create / penciptaan - Evaluate / pengevaluasian

Diao Ai Lien dan kawan-kawan membuat model literasi informasi untuk perpustakaan perguruan tinggi. Sementara itu, Latuputty,

dkk. (2012) membuat model literasi informasi untuk perpustakaan sekolah atau pesantren. SURE adalah model literasi informasi yang dikembangkan NLB untuk masyarakat umum.

Model literasi informasi disesuaikan dengan tujuan penerapan. Model yang dikembangkan untuk perpustakaan sekolah lebih sederhana jika dibandingkan dengan model untuk perpustakaan perguruan tinggi. Model yang dikembangkan NLB lebih sederhana karena memang diperuntukkan untuk masyarakat umum. Dengan tagline SURE, NLB menginginkan literasi informasi mudah diingat, dipahami, dan diterapkan.

D. Metode Penelitian

Konsep literasi informasi dapat digambarkan melalui defi nisi literasi informasi, model literasi informasi, kompetensi yang dilingkup literasi informasi, dan standar literasi informasi. Defi nisi, model, kompetensi, dan standar literasi informasi saling menguatkan akan konsep literasi informasi itu sendiri. Pengujian model literasi informasi yang diusulkan dilakukan dengan menyandingkan kompetensi literasi informasi dari Chartered Institute of Library

and Information Professionals (CILIP), model

Iiterasi Informasi Big6, dan standar literasi dari

Association of College and Research Libraries

(ACRL), dan Information Literacy Compentency

Standards for Higher Education.

E. Pembahasan

4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai)

Berdasarkan hal-hal tadi, Perpusnas mengembangkan sendiri model literasi informasi menampung konsep literasi informasi. Menurut

Dhama (2014), model itu bersifat sederhana, generik, fl eksibel, dan merupakan panduan dan dinyatakan pula bahwa model ini berbeda dengan standar yang bersifat kompleks, permanen, kaku, dan merupakan suatu pengukuran.

(5)

yang akan digunakan dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep literasi informasi kepada masyarakat umum. Untuk itu, 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) diusulkan sebagai model literasi informasi yang dapat digunakan Perpusnas RI Model literasi informasi ini pernah disampaikan dalam Modul Penelusuran Internet: Modul

Layanan Perpustakaan Elektronik Keliling

(Wicaksono, 2014). Modul tersebut menguraikan tentang pengenalan kebutuhan informasi, penelusuran informasi di internet, evaluasi informasi, dan penggunaan informasi (Wicaksono, 2014:1). Berikut adalah model literasi informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai), yaitu model literasi informasi yang diusulkan:

1. Kenali/mengenali kebutuhan informasi

Begitu banyak pertanyaan dalam kehidupan, yaitu mulai dari yang sederhana hingga ke bentuk pertanyaan yang kompleks. Pertanyaan adalah kebutuhan informasi. Dalam mengenali kebutuhan informasi dapat dibuat pertanyaan yang lebih dalam jika diperlukan. Dengan demikian, dapat diketahui dengan jelas apa sebenarnya kebutuhan informasi yang ingin diketahui.

2. Cari/menelusuri informasi

Setelah mengetahui dengan jelas kebutuhan informasi, perlu ditelusuri informasi yang dapat menjawab pertanyaaan tersebut. Penelusuran informasi dapat menggunakan sumber informasi, baik yang ada dalam perpustakaan maupun di luar perpustakaan. Dalam melakukan penelusuran informasi diperlukan strategi agar penelusuran dilakukan dengan efektif dan efi sien.

3. Evaluasi/mengevaluasi informasi

Informasi yang didapat dari hasil penelusuran dievaluasi. Dalam mengevaluasi perlu memperhatikan kualitas informasi, yaitu mengenai kemutakhiran informasi, otoritas informasi, dan tujuan informasi. Selain itu, juga perlu membedakan fakta, opini, dan melakukan perbandingan. Dalam melakukan perbandingan dapat dilakukan penelitian “kecil” dengan menggunakan informasi dari berbagai sumber dan dari berbagai sudut pandang. Evaluasi informasi dilakukan untuk mendapatkan informasi yang valid dan terpercaya.

4. Pakai/menggunakan informasi

Saatnya menentukan jawaban dari informasi yang telah dievaluasi dan menggunakannya untuk menjawab pertanyaan atau kebutuhan informasi. Dalam penggunaan informasi juga harus melihat etika yang ada, terlebih lagi ketika informasi tersebut dikomunikasikan kepada orang lain. Misalnya, jika informasi yang dikomunikasikan adalah pendapat orang, perlu diperjelas siapa yang mengungkapkannya (otoritas).

Untuk menguji apakah usulan model literasi informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) telah memenuhi konsep literasi informasi digunakan tiga cara, yaitu (i) disandingkan dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam literasi informasi, (ii) disandingkan dengan model literasi informasi, dan (iii) disandingkan dengan

information literacy compentency standards for higher education.

(6)

Kemampuan

Literasi Informasi

dari CILIP

Model Literasi

Informasi 4i

(Kenali-Cari-

Evaluasi-Pakai)

1. Kebutuhan

informasi

1. Kenali

2. Sumber daya

tersedia

3. Bagaimana

menemukan

informasi

2. Cari

4. Mengevaluasi hasil

temuan

3. Evaluasi

5. Bagaimana bekerja

dengan atau

mengekploitasi hasil

temuan

6. Penggunaan yang

beretika dan

bertanggungjawab

7.

Mengkomunikasikan

atau berbagi temuan

8. Mengelola temuan

4. Pakai

Menurut CILIP (2013), sandingan model literasi informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) dengan dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam literasi informasi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

1. Kebutuhan

Informasi

3. Bagaimana

Menemukan

Informasi

2. Sumber Daya

Tersedia

5. Bagaimana bekerja

dengan atau

mengekploitasi hasil

temuan

6. Penggunaan

yang beretika dan

bertanggung jawab

7. Mengkomunikasikan

atau berbagai temuan

8. Mengelola temuan

Menurut Dhama (2009), sandingan Model Literasi Informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) dengan Model Literasi Informasi Big6 dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3:

Sandingan Model Literasi Informasi Big6 dan Model Literasi Informasi Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai Model Literasi Informasi Big6 Model Literasi Informasi 4i (Kenali- Cari- Evaluasi-Pakai) 1. Definisi tugas - Definisikan permasalahannya - Mengidentifikasi kebutuhan informasi 1. Kenali 2. Strategi pencarian informasi - Melakukan brainstorm terhadap semua sumber informasi pendukung yang mungkin untuk digunakan

- Memilih sumber-sumber yang terbaik. 3. Lokasi dan akses

- Mencari sumber-sumber informasi - Mencari informasi dalam sumber 2. Cari 3. Evaluasi Defi nisikan

(7)

Menurut ACRL (2000:8--14), sandingan Model Literasi Informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) dengan information literacy compentency

standards for higher education dapat dilihat pada

Tabel 4 berikut.

4. Penggunaan informasi - Menangani informasi yang tersimpan, dengan

cara membaca, mendengarkan, mewawancarai, mengamati dan mengobservasi informasi tersebut - Menyarikan informasi yang ada 5. Sintesa - Mengorganisasikan berbagai sumber yang terpisah-pisah menjadi satu bentuk 4. Pakai produk/hasil yang sitematis - Menunjukkan, menyebarkan informasi yang tersimpan dalam produk kita kepada orang lain

6. Evaluasi

- Evaluasi mengenai bentuk hasil/produk dari kegiatan riset yang dilakukan

- Evaluasi yang lebih mengarah pada: cara dan proses pembuatan tulisan tersebut

Informaton Literacy Compentency Standards for

Higher Education Model Literasi Informasi 4i (Kenali-Cari- Evaluasi-Pakai)

1. Mahasiswa yang literat informasi mampu menentukan jenis dan sifat informasi yang dibutuhkan

1. Kenali

2. Mahasiswa yang literat informasi mengakses kebutuhan informasi secara efektif dan efisien

2. Cari

Tabel 4:

Sandingan Information Literacy Compentency

Standards for Higher Education

dan Model Literasi Informasi Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai

3. Mahasiswa yang literat mengevaluasi informasi dan sumber informasi secara kritis dan menjadikan informasi yang dipilih sebagai dasar

pengetahuan

3. Evaluasi

4. Mahasiswa yang literat menggunakan dan

mengkomunikasikan informasi dengan efektif dan efisien 5. Mahasiswa yang literat informasi memahami isu ekonomi, hukum dan sosial sekitar penggunaan dan pengaksesan informasi secara etis dan hukum

4. Pakai

F. Penutup 1. Kesimpulan

Model literasi informasi yang dikembangkan sendiri oleh Perpusnas RI hanya sebagai cara mempermudah pemahaman akan

(8)

konsep literasi informasi untuk masyarakat umum. 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) hanya sebatas usulan model literasi informasi yang dapat digunakan oleh Perpustakaan Nasional RI yang belum menetapkan model literasi informasi yang ingin digunakan. Jika disandingkan dengan kompetensi literasi informasi, model literasi informasi yang lain dan standar literasi informasi yang ada, Model Literasi Informasi 4i (Kenali-Cari-Evaluasi-Pakai) dapat mencakup konsep literasi informasi yang ada.

2. Saran

Model Literasi Informasi 4i ( Kenali - Cari - Evaluasi - Pakai) perlu diuji dalam penggunaan sehari-hari untuk mencapai model yang terbaik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi studi pendahuluan.

Daftar Pustaka

ACRL (Association of College and

ResearchLibraries). 2000.

“Information Literacy Competency Standards for Higher Education”. [http://www.ala.org/acrl/sites/ala.org.ac rl/

files/content/standards/standards.pdf],d iakses 28 Januari 2015.

Baskoro, Dhama Gustiar. 2009. “Literasi Informasi 6: BIG6 sebagai salah satu metode Literasi Informasi”.

[http://dbaskoro.blogspot.com/2009/03 /literasi-informasi-6-big6- sebagai-salah.html], diakses 6 Februari 2015. ... 2014. “Pengantar literasi informasi”,

dalam Pelatihan Literasi Informasi

untuk Pustakawan Layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 18--22 Agustus 2014.

CILIP (Chartered Institute of Library and

Information Professionals). 2013. “Information Literacy-Definition”. [http://www.cilip.org.uk/cilip/advocacy -campaigns-awards/ advocacy- campaigns/information-literacy/information-literacy], diakses 3 Februari 2015.

Latuputty, George dan Hanna Chaterina. (2013). “Cerdas di Era Informasi: Penerapan Literasi Informasi di Sekolah untuk Menciptakan Pembelajar Seumur Hidup”.

[http://halatuputty.blogspot.com/2013/1

2/cerdas-di-era-informasi-penerapan.html], diakses 28 Januari 2015.

Latuputty, George, dkk. 2012. “Developing a Media and Information Literacy Program: a MIL Program Guide for Teachers and Librarians on Elementary School in Indonesia. Paper disajikan pada The 15th Consal Meeting and General Conference”. [http://consalxv.pnri.go.id/uploaded_fil es/pdf/papers/normal/Id_Hanna_Dede_ Media InformationLiteracy_fullpaper.pdf], diakses 13 Januari 2015.

Indonesia. Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2012. Keputusan

Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi Nomor 83 Tahun 2012 tentang Penetapan Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Jasa Kemasayrakatan, Hiburan dan Perorangan Lainnya Bidang Perpustakaan menjadi Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

Jakarta: Perpustakaan Nasional.

(9)

Obama, Barack. “2009. National Information Literacy Awareness Month, 2009”. [http://www.whitehouse.gov/assets/doc uments/2009literacy_prc_rel.pdf],diaks es 6 Februari 2015.

Basuki, Sulistyo. 2013. “Literasi Informasi dan Literasi Digital”.

[https://sulistyobasuki.wordpress.com/ 2013/03/25/literasi-informasi-dan-literasi-digital],diakses 2 Februari 2015.

SURE. 2014. “Developing Discerning

Information Users”. Singapore:

National Library Board. Diunduh dari [http://www.nlb.gov.sg/sure/wp-content/uploads/2014/01/NILB_About _lowres_ FA.pdf], diakses 31 Januari 2015.

UNESCO. 2005. “Information Literacy”. [Http://Portal.Unesco.Org/Ci/En/Ev.Ph p

-Url_Id=27055&Url_Do=Do_Topic&U rl_Section=201.Html], diakses 31 Januari 2015.

Wicaksono, Arief. (2014). Modul Penelusuran

Internet: Modul Layanan

Perpustakaan Elektronik Keliling.

Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas mengenai tanggung jawab keperdataan dari pihak PT KAI atas kecelakaan yang terjadi saat mengangkut penumpang

Untuk tujuan pendugaan biomassanya maka dilakukan penyusunan model penduga biomassa yang terdiri dari : model penduga biomassa daun, model penduga biomassa ranting, model

Ketika suatu molekul zat cair mendekati perbatasan fasa uap-cair, maka molekul tersebut, jika memiliki energi yang cukup, dapat berubah dari fasa cair menjadi

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah beberapa kali

5) Memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pimpinan yang berwenang dari

b) tanda “rumah sakit” (E, 12b), terdiri dari palang merah atau bulan sabit merah di atas dasar biru dengan tempat tidur putih, karena ini adalah pemakaian pamakaian lambang

Knowledge Management adalah suatu metode pengumpulan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh suatu individu dalam bentuk Tacit atau Explicit yang nantinya dapat

Kes Baharu Kumulatif Kes Jumlah Individu Masih menunggu Keputusan Ujian Saringan Jumlah Individu Negatif Ujian rT-PCR 339 Jumlah Individu Disaring Bilangan