• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Obesitas

2.1.1 Pengertian obesitas

Obesitas merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh (Pudjiadi, 1990). Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 12-35% pada wanita dan 18-23% pada pria. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti Diabetes Mellitus (DM), penyakit jantung Koroner (PJK) dan Hipertensi (Laurentia, 2004).

Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi perkembangan penyakit ini. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan. Keadaan obesitas ini, terutama obesitas sentral, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom metabolik atau sindrom resistensi insulin yang terdiri dari resistensi insulin/hiperinsulinemia, hiperuresemia, gangguan fibrinolisis, hiperfibrinogenemia dan hipertensi (Sudoyo, 2009).

Penyebab obesitas sangatlah kompleks. Meskipun gen berperan penting dalam menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan faktor lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas. Diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara

(2)

faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktivitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional (Guyton, 2007).

Obesitas sering dijumpai dalam keluarga, dan pewarisan berat badan serupa dengan tinggi badan. Orang yang diadopsi lebih mirip dengan orang tua biologik daripada orang tua angkat mereka dalam kaitannya dengan obesitas, yang memberi dukungan kuat atas pengaruh genetik.

Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan yang berimbas penurunan berat badan (Guyton, 2007).

Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress.

Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah sindrom cuhsing, hipotiroidisme, insulinoma, kraniofaringioma dan penyakit lain yang mengenai hipotalamus. Beberapa anggapan menyatakan bahwa berat badan

(3)

seseorang diregulasi baik oleh endokrin dan komponen neural. Berdasarkan anggapan itu maka sedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan mempunyai efek pada berat badan (Flier, 2010).

2.1.2 Klasifikasi Obesitas

Obesitas bisa terjadi karena tidak seimbangnya antara asupan energi dengan energy expenditures (pengeluaran energi) sehingga berlebihnya asupan tersebut akan menumpuk di jaringan adiposa, penumpukan kelebihan energi tersebut yang akan membuat anak menjadi obesitas. Terdapat dua kemungkinan timbulnya kelebihan energi tersebut yaitu berlebihnya asupan energi atau kurangnya/rendahnya pengeluaran energi. Berlebihnya asupan energi karena masuknya makanan yang terlalu berlebihan dan juga keluarnya energi lebih rendah yang disebabkan oleh rendahnya metabolisme tubuh dan kurangnya aktivitas fisik (Sjarif, 2011).

Tabel 2.1 Klasifikasi Obesitas

Obesitas Idiopatik Obesitas Endogen

>90% kasus

Perawakan tinggi (umumnya >50 Tahun)

Riwayat obesitas umunya positif Fungsi mental normal Usia tulang : normal atau advanced)Pemeriksaan fisis

umumnya normal

<10% kasus

Perawakan pendek (umumnya <50 Tahun)

Riwayat obesitas umumnya negatif Fungsi mental seringkali retardasi

Usia tulang : terlambat (delayed) Terdapat stigmata pada pemeriksaan fisis

2.1.3 Manifestasi klinis obesitas

Seseorang yang menderita obesitas biasanya mudah dikenali, terutama pada anak-anak. Ciri yang khas pada obesitas diantaranya adalah wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher pendek, payudara membesar karena adanya deposit lemak, kedua tungkai membentuk X serta pangkal paha

(4)

bergesekan dan menempel yang akan menimbulkan ulserasi, dan perut yang membuncit. Pada anak laki-laki penis terlihat kecil karena tertutup oleh jaringan lemak (burried penis) (Sjarif, 2011).

Distribusi lemak pada obesitas juga mempengaruhi bentuk fisik seseorang yang menderitanya. Pada obesitas terdapat 3 bentuk distribusi lemak yaitu apple

shape body (andorid), pear shape body (gynoid), dan intermediate. Pada apple shape body, distribusi lemak cenderung bertumpuk pada bagian atas tubuh (dada

dan pinggang), bentuk tubuh seperti ini juga berisiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular hipertensi dan diabetes. Pear shape body distribusi lemak cenderung lebih banyak pada bagian bawah (pinggul dan paha), sedangkan bentuk tubuh intermediate lemak terdistribusi ke seluruh bagian tubuh secara hampir merata (Paramitha, 2013).

Gambar 2.1 Perbandingan Apple Shape Body dengan Pear Shape Body (Paramitha, 2013)

2.1.4 Pengukuran obesitas

Pengukuran Antropometri sebagai Skrining Obesitas dapat dinilai dengan berbagai cara atau metode antara lain pengukuran IMT (Index Massa Tubuh), serta perbandingan lingkar pinggang dan panggul.

(5)

a. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks massa tubuh (IMT) adalah ukuran yang menyatakan komposisi tubuh, perimbangan antara berat badan dengan tinggi badan. Metode ini dilakukan dengan cara menghitung BB/TB dimana BB adalah berat badan dalam kilogram dan TB adalah tinggi badan dalam meter (Arora, 2008).

Tabel 2.2 Klasifikasi IMT menurut WHO Kriteria Asia Pasifik Klasifikasi IMT (kg/m2)

Berat badan kurang Kisaran Normal Berat Badan Lebih Berisiko Obes I Obes II < 18,5 18,5–22,9 ≥ 23,0 23,0–24,9 25,0–29,9 ≥ 30,0

Sumber: WHO WPR/ IASO/ IOTF dalam The Asia Pacific Perspective: Redefening Obesity and its Treatment dalam Sudoyo, 2009.

b. Rasio lingkar pinggang –panggul (RLPP)

Pola penyebaran lemak tubuh tersebut dapat ditentukan oleh rasio lingkar pinggang dan panggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan panggul diukur pada titik yang terlebar lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran Panggul (Arora, 2008).

Rasio Lingkar Pinggang (LiPi) dan Lingkar Panggul (LiPa) merupakan cara sederhana untuk membedakan obesitas bagian bawah tubuh (panggul) dan bagian atas tubuh (pinggang dan perut). Jika rasio antara lingkar pinggang dan lingkar panggul untuk perempuan diatas 0.85 dan untuk laki-laki diatas 0.95 maka berkaitan dengan obesitas sentral / apple shaped obesity dan memiliki faktor resiko stroke, DM, dan penyakit jantung koroner. Sebaliknya jika rasio lingkar pinggang dan lingkar panggul untuk perempuan dibawah 0,85 dan untuk laki-laki dibawah 0,95 maka disebut obesitas perifer / pear shaped obesity (WHO, 2008).

(6)

2.1.5 Penatalaksanaan obesitas

Penatalaksaan obesitas dapat dilakukan dengan cara : a. Merubah gaya hidup

Diawali dengan mengubah kebiasaan makan. Mengendalikan kebiasaan ngemil dan makan bukan karena lapar tetapi karena ingin menikmati makanan dan meningkatkan aktifitas fisik pada kegiatan sehari-hari. Meluangkan waktu berolahraga secara teratur sehingga pengeluaran kalori akan meningkat dan jaringan lemak akan dioksidasi (Sugondo, 2008).

b. Terapi Diet

Mengatur asupan makanan agar tidak mengkonsumsi kalori yang berlebih, dapat dilakukan dengan diet yang terprogram secara benar. Diet rendah kalori dapat dilakukan dengan mengurangi nasi dan makanan berlemak, serta mengkonsumsi makanan yang cukup memberikan rasa kenyang tetapi tidak menggemukkan karena jumlah kalori sedikit, misalnya yang mengandung serat tinggi seperti sayur dan buah yang tidak terlalu manis (Sugondo, 2008).

c. Aktifitas fisik

Peningkatan aktifitas fisik merupakan komponen penting dari program penurunan berat badan, walaupun aktifitas fisik tidak menyebabkan penurunan berat badan lebih banyak dalam jangka waktu enam bulan. Untuk penderita obesitas, terapi harus dimulai secara perlahan, dan intensitas sebaiknya ditingkatkan secara bertahap. Penderita obesitas dapat memulai aktifitas fisik dengan berjalan selama 30 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu

(7)

dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu (Sugondo, 2008).

d. Farmakoterapi

Farmakoterapi merupakan komponen penting dalam memanajemen berat badan. Sirbutramine dan orlistat merupakan obat penurun berat badan. Sirbutramine ditambah diet rendah kalori dan aktifitas fisik efektif menurunkan berat badan dan mempertahankannya. Orlistat menghambat absorpsi lemak sebanyak 30 persen. Dengan pemberian orlistat, dibutuhkan penggantian vitamin larut lemak karena terjadi malabsorpsi parsial (Sugondo, 2008).

e. Pembedahan

Tindakan pembedahan merupakan pilihan terakhir untuk mengatasi obesitas. Pembedahan dilakukan hanya kepada penderita obesitas dengan IMT ≥40 atau ≥35 kg/m2 dengan kondisi komorbid. Bedah gastrointestinal (restriksi gastrik/ banding vertical gastric) atau bypass gastric adalah suatu intervensi penurunan berat badan dengan resiko operasi yang rendah (Sugondo, 2008).

2.2 Uraian Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.)

Uraian tanaman meliputi sistematika tanaman, nama daerah, morfologi, habitat dan daerah tumbuh, kandungan kimia dan khasiat.

2.2.1 Klasifikasi tanaman

Klasifikasi tanaman jati belanda (Sulaksana dan Dadang, 2005) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

(8)

Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Malvales Famili : Sterculiaceae Genus : Guazuma

Spesies : Guazuma ulmifolia Lamk. 2.2.2 Nama lain

Nama daerah dari tanaman jati belanda adalah jati londo (Jawa Tengah), jati belanda (Melayu), jati landi dan jatos landi (Jawa), bastard cedar (Inggris),

guacimo (Spanyol), bois d’orme (Perancis), hapayillo (Peru), tapaculo (Tamil), ibixuma (Brazil), guasima (Meksiko), guacimobaba (Cuba) (Andriani, 2005).

2.2.3 Morfologi tanaman

Jati belanda merupakan tanaman semak atau pohon dengan tinggi 10 - 20 m, berbatang keras, bulat, permukaan kasar, beralur banyak, berkayu, bercabang, berwarna hijau keputih-putihan. Bunga tunggal, muncul dari ketiak daun, panjang 2 - 4 cm, berjumlah banyak, bentuk agak ramping, memiliki tangkai bunga sekitar 5 mm, kelopak bunga lebih kurang 3 - 4 mm, warna kuning dan berbau wangi. Berakar tunggang dengan warna putih kecoklatan. Berdaun tunggal dengan warna hijau, berbentuk bulat telur dengan permukaan kasar, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, panjang 4 - 22,5 cm, dan lebar 2 - 10 cm, panjang tangkai daun 5 - 25 mm, mempunyai daun penumpu berbentuk lanset atau berbentuk paku yang panjangnya 3- 6 mm. Buah berbentuk kotak, bulat, keras, permukaan berduri, warna hijau dan menjadi hitam jika tua (Sulaksana dan Dadang, 2005).

(9)

2.2.4 Habitat dan daerah tumbuh

Tanaman jati belanda berasal dari Amerika yang beriklim tropis, kemudian dibawa oleh Portugis ke Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jati belanda tumbuh secara liar terutama di pulau Jawa dan penyebarannya pada daerah dataran rendah hingga 800 m di atas permukaan laut (Sulaksana dan Dadang, 2005).

2.2.5 Kandungan tanaman

Seluruh bagian tanaman jati belanda mengandung senyawa aktif seperti tanin. Kulit batang juga mengandung damar, tanin dan beberapa zat pahit, glukosa dan asam lemak (Sulaksana dan Dadang, 2005). Daun jati belanda juga mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, damar, fenol, triterpen, glikosida sianogenik, dan steroid. Buah mengandung saponin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, glikosida jantung. Bunga segar jati belanda mengandung kaemferitin, kuersetin, dan kaemfenol (Kemenkes RI, 2011).

2.2.6 Khasiat tanaman

Daun, buah, biji dan kulit kayu bagian dalam merupakan bagian tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat (Jasaputra, 2011). Daun jati belanda mengandung zat lendir dan serat untuk melicinkan sehingga mengurangi penyerapan lemak, glukosa, kolesterol yang terdapat dalam makanan atau minuman sehingga memperlancar buang air besar (Mun’im dan Hanani, 2011).

Zat lendir adalah suatu polisakarida heterogen dengan struktur polimer bercabang yang tersusun atas berbagai macam gula dan asam uronat. Zat lendir bersifat hidrofilik dan mampu menangkap air untuk membentuk gel. Sifat zat lender yang mampu menangkap air tersebut menyebabkan zat lender berfungsi

(10)

sebagai pembentukan massa feses (Utomo, 2008). Serat bersifat menyerap air dalam usus sehingga menimbulkan efek rasa kenyang (Peter dan Billintong, 1989). Daun jati belanda memiliki rasa agak kelat karena mengandung tanin. Tanin merupakan senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi dan dapat membentuk kompleks dengan protein (Utomo, 2008). Tanin yang terdapat dalam daun berfungsi sebagai astringen dan merupakan zat yang dapat mengendapkan protein makanan yang terdapat pada mukosa yang melapisi bagian dalam usus sehingga lapisan ini sulit ditembus maka dapat mengurangi lemak yang masuk ke dalam tubuh. Daun jati belanda juga banyak dimanfaatkan untuk mengatasi kolesterol dan menurunkan berat badan (Jasaputra, 2011).

Selain daun jati belanda tanaman daun jati cina juga banyak dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan. Senyawa golongan antrakinon pada kandungan daun jati cina seperti sennosida, aloe-emodin, rhein dan krisofanol dilaporkan memiliki aktivitas laksatif. Sennosida merupakan glikosida golongan antrakinon yang memiliki aktivitas paling aktif sebagai laksatif, dimana di dalam tubuh mengalami reaksi hidrolisis enzimatis dan reduksi oleh bakteri flora usus menjadi rheinantron. Daun jati cina digunakan sebagai antiobesitas dengan bekerja sebagai laksansia dan juga di ketahui dapat berfungsi sebagai laksatif stimulan yang dapat meningkatkan aktivitas saluran pencernaan dan dapat menyebabkan pergerakan usus, peningkatan motilitas usus akan memperpendek durasi makanan di usus. Hasilnya, usus akan mengabsorpsi nutrisi lebih sedikit dari makanan. Nutrisi tersebut termasuk di antaranya protein, lipid, karbohidrat, kolesterol, LDL, dan trigliserida. Maka dari itu antrakinon dapat menurunkan kadar kolesterol dan kadar trigliserida serta mempertahankan berat badan. Hal inilah yang mendasari

(11)

digunakannya daun jati cina sebagai alternatif untuk mengatasi obesitas (Anonim, 2011).

Metabolisme lemak melalui 3 fase yaitu oksidasi, siklus kreb, dan fosforilasi oksidatif. Oksidasi yaitu proses mengubah asam lemak menjadi asetil Co-A, Siklus Kreb yaitu proses merubah asetil Co-A menjadi H, dan Fosforilasi Oksidatif yaitu proses mereaksikan H + O menjadi H2O + ATP (Guyton, 2007).

Di mulut lemak mulai mengalami tahapan pencernaan, terjadi penyesuaian suhu tertentu pada saat lemak di kunyah di mulut. Pada lambung, lemak mengalami proses pencernaan dengan bantuan asam dan enzim menjadi bentuk yang lebih sederhana. Selanjutnya lemak akan memasuki hati, empedu, dan masuk ke dalam usus kecil. Dari kantung empedu lemak akan bergabung dengan bile yang merupakan senyawa yang penting untuk proses pencernaan pada usus kecil. Selanjutnya hasil pemecahan tersebut akan diubah oleh enzim lipase pankreas menjadi asam lemak dan gliserol (Guyton, 2007)

2.2.7 Data keamanan dan manfaat

Ekstrak etanol daun jati belanda adalah bahan yang praktis tidak toksik dan bermakna menurunkan berat badan pada kelompok tikus wistar yang mendapat perlakuan dengan dosis sama atau lebih dari dosis yang lazim dipakai di masyarakat (Utomo, 2008) dan dapat menurunkan aktivitas enzim lipase (Rahardjo, dkk., 2005).

Pemberian ekstrak etanol daun jati belanda dosis bertingkat selama 7 hari terhadap gambaran histologi duodenum tikus tidak menunjukkan adanya erosi maupun perubahan pada mukosa duodenum (Gumay dan Noor, 2008). Pemberian ekstrak kering daun jati belanda dosis 2,4 dan 8 g/kgBB pada tikus jantan sekali

(12)

sehari selama 3 bulan tidak menaikkan kadar kreatinin dan urea plasma serta ukuran diameter rata-rata glomerulus ginjal tikus. Hasil pengamatan mikroskopik preparat histologi ginjal juga tidak memperlihatkan adanya perbedaan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jangka panjang daun jati belanda tidak mengganggu fungsi ginjal (Harahap, dkk., 2005).

2.3 Serbuk Efervesen

Serbuk efervesen adalah serbuk yang mengandung unsur obat dalam campuran yang kering, biasanya terdiri dari natrium bikarbonat, asam sitrat, asam tartrat, yang jika ditambah dengan air maka asam dan basanya bereaksi membebaskan karbon dioksida sehingga menghasilkan gelembung gas yng menimbulkan efek menyegarkan di sediaan serbuk efervesen. salah satu bentuk sediaan yang menghasilkan gelembung gas dibuat dengan cara pengempaan bahan-bahan aktif dengan campuran asam-basa organik seperti asam sitrat atau asam tartrat dan natrium bikarbonat. Bila serbuk ini dimasukkan ke dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan natrium sehingga terbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan gas karbondioksida serta air. Reaksinya cukup cepat dan biasanya berlangsung dalam waktu satu menit atau kurang. Disamping menghasilkan larutan yang jernih, serbuk juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat membantu memperbaiki rasa beberapa obat tertentu (Banker dan Anderson, 1994).

Reaksi yang terjadi pada pelarutan efervesen adalah reaksi antara senyawa asam dan senyawa karbonat untuk menghasilkan gas CO2. CO2 yang terbentuk dapat memberikan rasa segar, sehingga rasa getir dapat tertutupi dengan adanya

(13)

CO2 dan pemani. Reaksi ini dikehendaki terjadi secara spontan ketika efervesen

dilarutkan ke dalam air. Garam-garam efervesen biasanya diolah dari suatu kombinasi asam sitrat dan asam tartarat daripada hanya satu macam asam saja, karena penggunaan bahan asam tunggal saja akan menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartarat sebagai asam tunggal, granul yang dihasilkan akan mudah kehilangan kekuatannya dan akan menggumpal. Asam sitrat saja akan menghasilkan campuran lekat dan sukar menjadi granul (Ansel, 1989). Reaksinya adalah sebagai berikut :

H3C6H5O7.H2O + 3 NaHCO3 → Na3C6H5O7 + 4 H2O + 3 CO2 asam sitrat Na-bikarbonat Na-sitrat

H2C4H4O6 + 2 NaHCO3 → Na2C4H4O6 + 2 H2O + 2 CO2 asam tartarat Na-bikarbonat Na-tartarat

Gambar 2.2 Reaksi asam-basa pada sediaan efervesen (Ansel, 1989).

Keuntungan serbuk efervesen sebagai bentuk sediaan obat adalah pembentukan larutan dalam waktu cepat dan mengandung dosis obat yang tepat. Kerugian serbuk efervesen adalah kesukaran menghasilkan produk yang stabil secara kimia. Kelembaban udara selama pembuatan produk sudah dapat untuk memulai reaksi efervesen. Selama reaksi berlangsung air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalis (Banker dan Anderson, 1994).

2.4 Monosodium glutamat

Bumbu penyedap merupakan zat terbanyak dalam zat tambahan makanan, umumnya digunakan dalam jumlah sedikit sekali dalam makanan. Sebagian di antaranya zat sintetis (terutama ester, aldehid dan kolesterol dan keton) dan sumber alami (misalnya oleoresin, ekstrak tumbuhan dan minyak esensial).

(14)

monosodium glutamate (MSG) dapat meningkatkan rasa makanan yang diberi zat ini ( Lu, 2006).

Asam glutamat, asam bebas dari MSG adalah unsur pokok dari protein yang terdapat pada bermacam-macam sayuran daging, seafood, dan air susu ibu. Asam glutamat digolongkan pada asam amino non essensial karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat. Asam glutamat terdiri dari 5 atom karbon dengan 2 gugus karboksil yang pada salah satu karbonnya berkaitan dengan NH2 yang menjadi ciri pada asam amino. Struktur kimia MSG sebenarnya tidak banyak berbeda dengan asam glutamat, hanya pada salah satu gugus karboksil yang mengandung hidrogen diganti dengan natrium. Gugus karboksil setelah diionisasi dapat mengaktifkan stimulasi rasa pada alat pengecap (Sukawan, 2008)

Rumus bangun asam glutamat dan MSG adalah seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

COOH – CH2 – CH2 – CH2 – COOH NH2 Asam Glutamat

COOH – CH2 – CH2 – CH2 – COONa.H2O NH2 Monosodium Glutamat (MSG)

Asam glutamat dan MSG mempunyai sifat kimia yang sama, yaitu berbentuk tepung kristal berwarna putih yang mudah larut dalam air dan tidak berbau. Pemberian MSG secara parenteral akan memberikan reaksi yang berbeda dengan pemberian MSG per oral karena pada pemberian secara parenteral, MSG tidak melalui usus dan vena portal. Sedangkan pada pemberian per oral, MSG akan melalui usus ke sirkulasi portal dan hati. Hati mempunyai kesanggupan

(15)

untuk metabolisme asam glutamat ke metabolit lain. Oleh karena itu, apabila pemberian glutamat melebihi kemampuan kapasitas hati untuk metabolismenya, maka dapat menyebabkan peningkatan glutamat plasma. Penyuntikan MSG secara subkutan akan menyebabkan kadar glutamat plasma pada neonatus mencit lebih tinggi daripada mencit dewasa. Jadi, kapasitas metabolisme glutamat oleh hati meningkat sejalan dengan meningkatnya umur. Pemberian MSG dosis besar bersama makanan pada manusia, kera dan mencit hanya menghasilkan sedikit kenaikan kadar glutamat plasma. Pemberian MSG yang dilarutkan dalam air, menghasilkan kadar glutamat plasma yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian MSG bersama makanan dalam dosis yang sama (Sukawan, 2008).

Studi hewan menunjukkan bahwa monosodium glutamat (MSG) dapat menyebabkan lesi hipotalamus dan leptin perlawanan, mungkin mempengaruhi keseimbangan energi, yang menyebabkan kegemukan. Sebuah penelitian meneliti hubungan antara konsumsi MSG dan kelebihan berat badan pada manusia. Dimana penelitian ini melibatkan 752 sehat cina (48,7% wanita), usia 40-59 tahun, secara acak sampel dari tiga daerah pedesaan di Utara dan Selatan Cina. Sebagian besar peserta menyiapkan makanan di rumah, tanpa penggunaan komersial makanan olahan. Peserta diminta untuk menunjukkan jumlah MSG ditambahkan dalam persiapan makanan. Asupan rata-rata adalah 0,33 g / hari (sd = 0,40). Prevalensi kelebihan berat badan secara signifikan lebih tinggi pada pengguna MSG daripada yang tidak menggunakan MSG. Penelitian ini memberikan data bahwa asupan MSG dapat berhubungan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan independen dari aktivitas fisik dan asupan energi total pada manusia (He, 2008).

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Obesitas
Gambar 2.1 Perbandingan Apple Shape Body dengan Pear Shape Body  (Paramitha, 2013)
Tabel 2.2 Klasifikasi IMT menurut WHO Kriteria Asia Pasifik  Klasifikasi  IMT (kg/m 2 )

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian yang menunjukkan bahwa konsentrasi total protein dalam saliva penderita diabetes lebih rendah adalah empat penelitian, sementara yang meningkat

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan peneliti dengan guru matematika kelas XA SMA Muhammadiyah Plus Salatiga menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran

menggunakan tes formatif guru akan melihat sejauh mana siswa telah memahami suatu materi pelajaran yang diajarkan guru, dalam penelitian ini akan dilakukan penyusunan

[r]

Data Pendapatan Petani Kopi Arabika Kecamatan Lintongnihuta Pada Bulan Januari 2013

The Effect of pH, Sucrose and Ammonium Sulfate on The Production of Bacterial Cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum.. Cosmetic

Penentuan kadar protein pada tauco dilakukan dengan metode kjeldahl yang meliputi tiga tahap yaitu Tahap Destruksi, Destilasi dan Titrasi.. Kadar protein pada

Penerapan orientasi bukaan pada bangunan rumah susun cingised blok 3 terdapat pada jalur stack effect (lihat Gambar 9) serta inlet dan outlet yang mengikuti arah