• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

89

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN LQ-45

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA) Halimah Tussakdiah, Kamaliah dan Novita Indrawati Program Studi Magister Akuntansi Pasca Sarjana Universitas Riau

Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan di perusahaan LQ45 yang terdaftar di BEI.Variabel Good corporate governance dalam penelitian ini diukur melalui proporsi, kepemilikan institusional, komisaris independen, dewan direksi, dewan komisaris dan komite audit kinerja. Variabel kinerja keuangan diproksikan dengan (ROA). Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah leverage (DER). Penelitian ini menggunakan sampel 45 perusahaan yang termasuk dalam perusahaan LQ45 yang terdaftar di BEI pada tahun 2015. Teknis analisis yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah regresi linier berganda dengan menggunakan alat SPSS 19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewan direksi dan leverage berpengaruh negative terhadap kinerja keuangan. Namun variabel lain yaitu, kepemilikan instutusional, komisaris independen, dewan komisaris dan komite audit tidak terbukti berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Kata kunci : Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kinerja Keuangan.

PENDAHULUAN

Bagi pemodal, Laporan Keuangan merupakan informasi akuntansi yang menggambarkan seberapa besar kekayaan perusahaan, seberapa besar penghasilan yang diperoleh perusahaan serta transaksi-transaksi ekonomi apa saja yang telah dilakukan perusahaan yang bisa mempengaruhi nilai perusahaan. Menurut Fahmi (2011) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakannya dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Maka dari itu kinerja keuangan ini merupakan suatu analisa atau gambaran yang dilakukan oleh perusahaan dalam melihat pencapaian atas pelaksanaan suatu kegiatan program atau kebijaksanaan dalam menjalankan aturan-aturan yang telah di buat agar pelaksanaan perusahaan dapat berkembang dan berjalan dengan baik.

(2)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

90

Selain dari kinerja perusahaan para investor juga tertarik untuk melihat struktur perusahaan dan juga bahagian pengawas independen baik dari internal maupun dari eksternal perusahaan tersebut. Corporate governance merupakan konsep yang dapat dilihat oleh investor dan diajukan demi peningkatan kerja perusahaan melalui supervisi dan monitoring kinerja serta menjamin akuntabilitas management terhadap stakeholders dengan dasar kerangka peraturan. Secara mekanisme corporate governance yang baik merupakan salah satu elemen kunci untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui peningkatan perbaikan hubungan antara pihak managemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Selain itu good corporate governance (GCG) dapat memfasilitasi penentuan sasaran - sasaran suatu perusahaan, dan memonitoring kinerja perusahaan (OECD,2004).

Pada umumnya kinerja keuangan merupakan salah satu alat ukur yang digunakan oleh para pemakai laporan keuangan dalam mengukur atau menentukan sejauh mana kualitas perusahaan tersebut. Hal ini dapat di ketahui dari laporan keuangan dimana dari laporan keuangan tersebut dapat terlihatlah keadaan finansial serta hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan selama periode tertentu.

Pengukuran penilaian kinerja adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas dengan demikian penilaian kinerja dapat diartikan sebagai suatu usaha formal yang dilaksanakan oleh pihak manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil dari aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah satu alat ukur laporan keuangan yang sering digunakan adalah analisis rasio keuangan yang diproksikan dalam ROA .

Return On Assets (ROA)

Menurut Soepardi (2006:124) menyatakan bahwa retrun on asset merupakan rasio yang perbandingan antara tingkat pengendalian setahun dalam bentuk laba bersih yang di bandingkan dengan jumlah asset yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Analisis laporan keuangan rasio ini paling sering disoroti karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, dan rasio ini juga mampu untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk kemudian di proyeksikan di masa yang akan datang. Aset atau aktiva yang dimaksud adalah keseluruhan harta perusahaan yang di perolah dari modal sendiri maupun dari modal asing yang telah diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang di pergunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan.

(3)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

91 Kepemilikan Institusional

Institusioanal merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan oleh investor termasuk didalamnya investasi saham. Menurut Pozen (1994) investor institusi dapat dibedakan menjadi dua yaitu investor pasif dan investor aktif. investor aktif ingin terlibat dan aktif dalam pengambilan keputusan manajerial sedangkan Investor pasif tidak terlalu ingin terlibat atau pasif dalam pengambilan keputusan maajerial. Keberadaan institusional ini yang mampu menjadi alat monitoring efektif bagi perusahaan. Selain itu perusahaan mempunyai kewajiban untuk selalu memenuhi keingin tahuan para pemegang saham mengenai informasi yang berkaitan dengan kinerjanya dan sebagai bahan pertimbangan bagi para calon investor atau para pemegang saham untuk menanamkan modalnya. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan dalam menilai kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan merupakan suatu pengukuran prestasi dari perusahaan yang timbul akibat dari proses pengambilan keputusan manajemen yang kompleks dan sulit, hal ini dikarenakan menyangkut dari efektivitsan terhadap pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari kegiatan perusahaan.

Komisaris Independen

Komisaris independen merupakan inti dari pelaksanaan corporate governance. Komisaris independen ditugaskan untuk melakukan fungsi pengawasan dan menjamin pelaksanaan strategi perusahaan. Komisaris independen juga mempunyai tugas untuk mengawasi dan memberi nasehat kepada direksi, untuk mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya fungsi akuntabilitas guna untuk melakukan perlindungan terhadap para stakeholders apakah pengelolaan di lakukan dengan baik. Dalam penerapan CG adalah dengan adanya CEO yang memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan dewan komisaris. Padahal fungsi dari dewan komisaris ini adalah untuk mengawasi kinerja dari dewan direksi yang dipimpin oleh CEO tersebut. Menurut (Lorsch, 1989, Mizruchi 1983; Zahra & Pearce 1989) dalam Corrina (2014) menatakan bahwa efektifitas dewan komisaris dalam menyeimbangka kekuatan CEO tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat independensi dari dewan komisaris.

Dewan Direksi

Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau merupakan strategi perusahaan tersebut baik secara jangka pendek dan jangka panjang, selain itu pentingnya dewan dalam sebuah perusahaan (baik dewan direksi maupun dewan komisaris) tersebut, maka menimbulkan pertanyaan baru yaitu seberapa banyak dewan yang banyak atau ideal di sebuah perusahaan.

(4)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

92

Jadi proporsi dewan direksi mempunyai peran dalam kinerja perusahaan dan dengan adanya dewan direksi maupun dewan komisaris dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya permasalahan agensi perusahaan. Menurut Bugsha (2005) juga menjelaskan bahwa semakin besar kebutuhan akan hubungan ekstenal yang semakin efektif, maka kebutuhan akan jumlah dewan akan semakin besar dan tinggi. Efektifitas direksi dalam menghasilkan kenirja akan berbeda bagi perusahaan yang sehat secara keuangan dibandingkan dengan perusahaan yang sedang dalam masalah keuangan.

Dewan Komisaris

Dewan komisaris memegang peran penting dalam mengarahkan strategi dan mengawasi jalannya perusahaan serta memastikan bahwa para manajer benar-benar meningkatkan kinerja perusahaan sebagai pencapaian tujuan perusahaan, yang terpenting dari hal ini adalah kemandirian dewan komisaris dalam pengertian bahwa dewan komisaris harus mempunyai kemampuan untuk membahas permasalahan tanpa campur tangan manajemen dimana hal ini tentunya dilengkapi dengan informasi yang memadai perihal kinerja perusahaan guna untuk mengambil keputusan, dan berpartisipasi secara aktif dalam penetapan agenda dan strategi. Fungsi dewan komisaris yang dinyatakan dalam National Code For Good Corporate Governance 2001 adalah memasikan bahwa perusahaan telah melakukan tanggung jawab sosial dan mempertimbangkan kepentingan dari berbagai stakeholder perusahaan sebagai monitor terhadap efektifitas pelaksanaan Good Corporate Governance. Dalam mengatasi hal ini maka dewan komisaris diperbolehkan untuk mengakses data informasi yang terdapat di perusahaan, agar dapat mengambil solusi dari kejadian yang terjadi di dalam perusahaan.

Komite Audite

Menurut para ahli komite audit adalah suatu komite yang berpandangan tentang masalah akuntansi, laporan keuangan dan penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor independen (FCGI,2001;11). Sedangakan menurut (Arens at al,2006:124) komite audit adalah suatu komite yang anggotanya merupakan anggoa Dekom yang terpilih yang pertanggungjawabannya antara lain, membantu menetapkan auditor independen terhadap usulan manajemen. Kebanyakan komite audite terdiri dari 3 sampai 5 kadang-kadang sampai 7 orang yang bukan merupakan bagian manajemen perusahaan.

Jadi dari pergertian diatas maka dapat di simpulan bahwa komite audit merupakan suatu kelompok yang sifatnya independen atau tidak memiliki kepentingan terhada manajemen dan diangkat secara khusus serta memiliki pandangan antara lain bidang akuntansi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan sistem pengawasan internal perusahaan.

(5)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

93 Teori Keagenan (Agency Theory)

Corporate Governance Jansen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Komflik kepentingan antara pemilik dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya keagenan (agentcy cost). Timbulnya manajemen laba dapat dijelaskan dengan teori agensi. Sebagai agen, manajer secara moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda didalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki (Ali,2002).

Hipotesis

H1: Kepemilikan institusional berpengruh terhadap kinerja keuangan.

H2: Dewan komisaris independen berpengaruh terhadap kinerja keuangan

H3: Dewan direksi berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

H4: Dewan komisaris berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

H5: Komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

METODE PENELITIAN

Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan perusahaan LQ45 yang listing pada periode Agustus 2015 di IDX kantor perwakilan pekanbaru Jl. Jend Sudirman No. 37 (Sudirman bawah) Pekanbaru-Riau. Berdasarkan populasi dan sampel yang ada pada perusahaan LQ45 maka di peroleh data empat puluh lima (45) perusahaan sebagai sampel (Daftar nama perusahaan LQ-45 agustus tahun 2015 terdapat dalam lampiran).

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting karena data yang dikumpulkan dan akan digunakan untuk pemecahan masalah yang sedang diteliti atau untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data dokumentasi yaitu sekunder yang berupa annual report perusahaan LQ45 yang go publik dan yang di publikasikan tahun 2015.

Untuk engujian terhadap variabel-variabel yang akan diteliti maka perlu adanya batasan-batasan serta penentuan indokator-indikatornya. Adapun variabel-variabel yang dipergunakan adalah variabel dependen dan variabel independent yaitu :

(6)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

94 Kepemilikan Institusional

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan adalah kepemilikan institusional. Dengan adanya kepemilikan institusional di suatu perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadap kinerja perusahaan, karena kepemilikan saham mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap kinerja perusahaan.

Komisaris Independen

Komisaris independen ditugaskan untuk melakukan fungsi pengawasan dan menjamin pelaksanaan strategi perusahaan. Komisaris independen juga mempunyai tugas untuk mengawasi dan memberi nasehat kepada direksi, untuk mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya fungsi akuntabilitas guna untuk melakukan perlindungan terhadap para stakeholders apakah pengelolaan di lakukan dengan baik.

Dewan Direksi

Dewan direksi adalah salah satu organ perseroan yang mempunyai wewenag dan tanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan pula hal ini sesuai dengan yang dimaksud tujuan perusahaan yang mewakili perseroan daik didalam maupun diluar perusahaan.Maka dengan tanggung jawab yang diberikan oleh perseroan atau perusahaan maka jumlah anggota direksi disesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat serta bertindak independen. Dewan direksi diukur dengan jumlah anggota dewan direksi.

Dewan Komisaris

Menurut Beiner at all, 2003 Aktifitas dewan komisaris merupakan jumlah rapat dewan komisaris perusahaan. Maka Secara hukum dewan komisaris bertugas melakukan pengawasan dan memberikan nasehat kepada direksi. Menurut Zarkasyi (2008) Dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya harus mampu mengawasi di penuhinya kepentingan semua stakeholders berdasarkan asas kesetaraan.

.

Komite Audit

Menurut (Arens at al,2006:124) komite audit adalah suatu komite yang anggotanya merupakan anggoa Dekom yang terpilih yang pertanggungjawabannya antara lain, membantu menetapkan auditor independen terhadap usulan manajemen.

(7)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

95 Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan, dan kinerja keuangan dapat diukur dengan data dundaamental yaitu data yang berasal dari laporan keuangan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Retrun On Asset (ROA). Maka dirumuskan sebagai berikut:

Laba Bersih sesudah pajak ROA =

Total Aktiva Leverage

Menurut Sugiyono (2006) variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat kostanta sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Maka dari itu variabel kontrol digunakan untuk mengontrol hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, karena variabel kontrol diduga ikut berpengaruh terhadap variabel bebas. Setiap penggunaan utang oleh perusahan akan berpengaruh terhadap rasio dan pengembalian rasio ini dapat digunakan untuk melihat seberapa besar resiko keuangan perusahaan. Maka dirumuskan sebagai berikut :

Total Hutang

DER = x 100% Ekuitas

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif

Analisis data dilakukan terhadap 45 perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode laporan agustus 2015. Data yang diperlukan telah dikumpulkan dan dikalkulasi sesuai dengan formula-formula yang ada untuk masing-masing variabel. Data-data tersebut selanjutnya diolah dengan menggunakan bantuan program SPSS (statistical product and service solution) versi 19. Deskriptif dari keseluruhan data dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

(8)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

96

Tabel 1 : Statistik Deskriptif

Max Min Mean Std. Deviation N

ROA 17.78 0.53 4.0067 3.49949 45 Kepemilikan_Institusional 96.12 20.48 61.2871 14.07894 45 Komisaris_Independen 6.00 1.00 2.5111 1.10005 45 Dewan_Direksi 11.00 2.00 6.1778 1.81269 45 Dewan_Komisaris 11.00 4.00 6.9333 1.8876 45 Komite Audit Leverage 6.00 11,22 3.00 0,1 3.5111 3.8189 0.78689 12.74307 45 45

Sumber : Data Olahan

Dari Tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa nilai max, min, rata-rata (mean) dan standar deviasi dari setiap variabel. Nilai max, min, rata-rata (mean) dan standar deviasi diperlukan guna untuk mengetahui data dari seluruh periode analisa yang dilakukan. Hasil deskriptif variabel ROA yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diketahui, bahwa nilai max dari ROA adalah sebesar 17.78, atau 17.78%, sedangkan untuk nilai min sebesar 0.53 dan untuk nilai mean atau rata-rata dari ROA pada bulan agustus tahun 2015 adalah sebesar 4.0067 yang berarti secara rata-rata besar ROA selama 6 bulan ditahun 2015 adalah sebesar 4.0067. Sedangkan nilai standar deviasi variabel ROA adalah sebesar 3.49949. Dengan demikian, nilai mean lebih besar dari nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukkan bahwa data variabel ROA yang digunakan dalam penelitian ini cukup baik untuk kinerja keuangan. Hasil deskriptif variabel kepemilikan institusional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diketahui, bahwa nilai max dari kepemilikan institusional sebelum data dinormalkan adalah sebesar 96.12 sedangkan nilai min sebesar 20.48 dan untuk nilai mean atau rata-rata dari kepemilikan institusional pada tahun 2015 adalah sebesar 61.2871 yang berarti secara rata-rata besar variabel kepemilikan institusional selama 6 bulan ditahun 2015 adalah sebesar 61.2871.

Hasil deskriptif variabel komisaris independen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diketahui, bahwa nilai max dari komisaris independen adalah sebesar 6, sedangkan untuk nilai min sebesar 1 dan untuk nilai mean atau rata-rata dari komisaris independen pada tahun 2015 adalah sebesar 2,5111 yang berarti secara rata-rata besar variabel komisaris independen selama 6 bulan ditahun 2015 adalah sebesar 2.5111. Sedangkan nilai standar deviasi variabel komisaris independen adalah sebesar 1.10005. Dengan demikian, nilai mean lebih besar dari nilai standar deviasin.

(9)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

97

Hal ini menunjukkan bahwa data variabel komisaris independen yang digunakan dalam penelitian ini kurang baik karena jumlah untuk dewan komisaris sangat sedikit sehingga tidak dapat melakukan pengawasan secara optimal. Hasil deskriptif variabel dewan komisaris yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diketahui, bahwa nilai max dari dewan komisaris adalah sebesar 11, sedangkan untuk nilai min sebesar 4 dan untuk nilai mean atau rata-rata dari dewan komisaris pada tahun 2015 adalah sebesar 6.9333 yang berarti secara rata-rata besar variabel dewan komisaris selama 6 bulan ditahun 2015 adalah sebesar 6.9333. Sedangkan nilai standar deviasi variabel dewan komisaris adalah sebesar 1.8876. Dengan demikian, nilai mean lebih besar dari nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukkan bahwa data variabel dewan komisaris yang digunakan dalam penelitian ini kurang baik karena dari data di peroleh bahwa hanya beberapa perusahaan saja yang mempunyai jumlah dewan komisaris yang lebih dari mean atau rata – rata yang seharusnya di punyai oleh perusahaan sehingga tugas dari dewan komisaris dikatakan kurang dalam melakukan pengawasan.

Hasil deskriptif variabel leverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diketahui, bahwa nilai max dari komite audit adalah sebesar 11.22, sedangkan untuk nilai min sebesar 0.1 dan untuk nilai mean atau rata-rata dari leverage pada tahun 2015 adalah sebesar 3.8189 yang berarti secara rata-rata besar variabel leverage selama 6 bulan ditahun 2015 adalah sebesar 3.8189. Nilai standar deviasi variabel komite audit adalah sebesar 12.74307. Dengan demikian, nilai mean lebih besar dari nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukkan bahwa data variabel leverage yang digunakan dalam penelitian ini dirasa baik, jika di lihat dari standart deviasinya.

Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui distribusi data dalam suatu variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Untuk melihat normalisasi data dalam penelitian ini dapat dilihat dari normalitas Probability Plot. Berdasarkan distribusi normalitas probability plot data tersebut dapat dikatakan normal jika data menyebar disekitar garis diagonal atau juga mengikuti arah pada garis diagonal. Dan hal ini juga akan terjadi sebaliknya jika data tersebut tersebar secara acak atau tidak berada disekitar garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas tidak terpenuhi. Berikut adalah hasil garafik probability plot sebelum transformasi data :

(10)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

98

Gambar 1: Probability plot sebelum transformasi data

Uji normalitas data pada Gambar 4.1 diatas menunjukkan data penelitian tidak berdistribusi dengan normal karena sebaran data yang tampak diatas tidak menyebar di sekitar garis normal. Sebagian data yang tampak pada gambar diatas menyebar jauh dari garis diagonal. Hal ini berarti data tidak berdistribusi normal. Untuk memperoleh kesimetrisan dan menstabilkan sebaran data maka dilakukan transformasi data yaitu dengan cara melakukan transformasi logaritma. Transformasi data disini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan interpretasi serta kecocokan dengan kumpulan data lainnya untuk memperoleh kesimetrisan, menstabilkan sebaran dan juga untuk meningkatkan hubungan linier diantara variabel lainnya. Tranformasi logaritma terhadap data memperlihatkan hasil normal probability plo sebagaimana yang terlihat pada grafik dibawah ini :

Gambar 2 : Normal Probability plot setelah tranformasi data

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa sebaran data berada disekitar garis lurus diagonal (tidak terpencar jauh dari garis diagonal) pada grafik normal prbability plot, maka dari grafik diatas dapat terlihat bahwa data berdistribusi secara normal. Sehingga uji statistik dapat dilakukan pada penelitian ini untuk menguji hipotesis.

(11)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

99 Hasil Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi ini dilakukan guna untuk menguji apakah model regresi linier berganda dapat diterima secara ekonometri. Syarat untuk memenuhi uji asumsi ini adalah data harus bebas dari multikolinearitas, heteroskedastisitas dan otokolerasi.

Hasil Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independent). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variable bebasnya. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 : Hasil Pengujian Multikolinearitas Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 4,008 1,859 2,155 ,038 Ln_Kepemilikan_Ins -,454 ,353 -,156 -1,286 ,206 ,836 1,196 Ln_Komisaris_Indep ,264 ,361 ,140 ,733 ,468 ,339 2,946 Ln_Dewan_Direksi -1,205 ,461 -,494 -2,615 ,013 ,346 2,887 Ln_Dewan_Komisaris ,584 ,388 ,202 1,504 ,141 ,687 1,456 Ln_Komite_audit -,130 ,497 -,033 -,262 ,795 ,801 1,249 Ln_Laverage -,485 ,083 -,742 -5,807 ,000 ,756 1,322

a. Dependent Variable: Ln_ROA Sumber : Data Olahan

Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari analisis dengan menggunakan SPSS. Apabila nilai tolerance value lebih tinggi dari pada 0,10 atau VIF lebih kecil dari pada 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas (Santoso, 2004: 206). Dari Tabel 4.2 diatas, nilai VIF dibawah 10 dengan nilai toleransi diatas 0,10, maka dapat diartikan bahwa penelitian ini bebas dari pengaruh multikolinieritas.

Hasil Uji Autokolerasi

Uji autokolerasi dalam penelitian ini dideteksi dengan nilai uji Durbin-watson (Uji Dw) dimana: Jika nilai Dw dibawah -2, berarti terdapat autokorelasi positif (+), Jika nilai Dw diantara -2 sampai +2, berarti tidak terdapat autokolerasi, Jika nilai Dw diatas +2, berarti ada outokolerasi negative (-). Dan batasan tidak terjadinya autokolerasi adalah berada diantara -2 sampai dengan +2. Hasil uji autokolerasi dapat dilihat pada Tabel 3.

(12)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

100

Tabel 3 : Hasil Pengujian Autokolerasi Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of

the Estimate Durbin-Watson

1 ,729a ,531 ,457 ,59333 2,063

a. Predictors: (Constant), Ln_Laverage, Ln_Kepemilikan_Ins, Ln_Komite_audit, Ln_Dewan_Komisaris, Ln_Dewan_Direksi, Ln_Komisaris_Indep

b. Dependent Variable: Ln_ROA Sumber : Data Olahan

Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi terjadi ketidak samaan dalam variance dan residual pada satu pengamatan ke pengamatan lainnya dan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dari ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Jika membentuk pola tertentu, maka terdapat heteroskedastisitas dan jika titik-titiknya menyebar, maka tidak terdapat heteroskedastisitas. Untuk menguji heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 3 : Scatterplot

Hasil Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil dari pengujian SPSS (statistical product and service) versi 19, maka didapat hasil pengujian hipotesis yang terlihat pada Tabel 4.

(13)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

101

Tabel 4 : Pengujian HipotesisCoefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 4,008 1,859 2,155 ,038 Ln_Kepemilikan_Ins -,454 ,353 -,156 -1,286 ,206 ,836 1,196 Ln_Komisaris_Indep ,264 ,361 ,140 ,733 ,468 ,339 2,946 Ln_Dewan_Direksi -1,205 ,461 -,494 -2,615 ,013 ,346 2,887 Ln_Dewan_Komisari s ,584 ,388 ,202 1,504 ,141 ,687 1,456 Ln_Komite_audit -,130 ,497 -,033 -,262 ,795 ,801 1,249 Ln_Laverage -,485 ,083 -,742 -5,807 ,000 ,756 1,322

a. Dependent Variable: Ln_ROA Sumber: Data Olahan

Acuan dalam penelitian ini adalah :

- Jika thitung > ttabel atau p value< α (0.05), maka H0 ditolak dan Ha diterima.

- Jika thitung < ttabel atau p value > α (0.05), maka H0 diterima dan Ha ditolak

Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipoteses dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji signifikan t. Uji signifikan t dilakukan untuk menguji hipotesis pertama sampai keenam. Pengujian masing-masing hipotesis dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4.menunjukkan bahwa t hitung Kepemilikan

Institusional adalah sebesar -1,286 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung

(-1,286) < ttabel (1,671). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima dan

hipotesis alternative yang pertama ditolak. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,206,

sedangkan α = 0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,206) >0,05. Hal ini berarti

Kepemilikan Institusional tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan Retrun On Asset. Sehingga hiotesis pertama (H1) tidak dapat dibutikan.

Menurut Pozen (1994) mengungkapkan beberapa metode yang digunakan oleh pemilik institusional dapat mempengaruhi pengambilan keputusan manajerial, dengan adanya kepemilikan oleh investor institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen perusahaan, sehingga kinerja perusahaan akan meningkat.

(14)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

102

2. Pengaruh Komisaris Independen Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4.menunjukkan bahwa t hitung Komisaris Independen

adalah sebesar -0,593 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung (0,733) <

ttabel (1,671). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis

alternative yang kedua ditolak. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,468 sedangkan α =

0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,468) > 0,05. Hal ini berarti komisaris

independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan Retrun On Asset. Sehingga hiotesis kedua (H2) tidak dapat dibutikan. Sedangkan

berdasarkan data deskriptif Tabel 1 menunjukkan bahwa data variabel komisaris independen yang digunakan dalam penelitian ini kurang baik karena jumlah untuk dewan komisaris sangat sedikit sehingga tidak dapat melakukan pengawasan secara optimal, dan dikarenakan kurangnya anggota komisaris independen di suatu perusahaan, maka akan berdampak pada lemahnya pengawasan yang dilakukan untuk internal perusahaan. Dimana salah satu tugas komisaris independen adalah melakukan pengawasan terhadap akivitas perusahaan yang mana dari aktivitas ini akan berdampak pada pengendalian akan kinerja keuangan perusahaan.

3. Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4. menunjukkan bahwa thitungDewan Direksi adalah

sebesar -0,595 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung (-2,615) < ttabel

(1,671). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternative yang ketiga diterima. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,013 sedangkan α

= 0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,13) > 0,05. Hal ini berarti dewan direksi

memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap Retrun On Asset. Sehingga hipotesis ketiga (H3) dapat dibutikan. Maka dengan adanya dewan direksi yang

ideal akan membuat ativitas perusahaan akan lebih baik dan optimal, tentunya hal ini akan berdampak pada kinerja keuangan yang semakin baik.

4. Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4. menunjukkan bahwa thitungDewan Komisaris

adalah sebesar 1,504 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung (1,504) < ttabel

(1,671). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternative yang keempat ditolak. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,141, sedangkan

α = 0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,141) >0,05. Hal ini berarti dewan

komisaris tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Retrun On Asset. Sehingga hipotesis keempat (H4) tidak dapat dibutikan. Hasil penelitian mereka

(15)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

103

Perbedaan hasil penelitian ini terjadi dikarenakan jumlah dewan komisaris di beberapa perusahaan yang di tarik sampelnya masih dirasa cukup, karena masih adanya beberapa perusahaan yang jumlah dewan komisarisnya sangat kurang untuk perusahaan yang listing di bursa efek indonesia karena tugas dari dewan komisaris adalah melakukan pengawasan terhadap kinerja keuangan perusahaan. 5. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4.menunjukkan bahwa thitung Komite Audit adalah

sebesar -0,262 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung (-0,262) < ttabel

(1,671). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima dan hipotesis alternative yang kelima ditolak. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,795, sedangkan α

= 0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,795) > 0,05. Hal ini berarti komite audit

tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan Retrun On Asset. Sehingga hipotesis kelima (H5) tidak dapat dibutikan.

6. Pengaruh Leverage Terhadap Kinerja Keuangan.

Hasil pengujian pada Tabel 4.4.menunjukkan bahwa thitung variabel kontrol

Leverage adalah sebesar -5,807 dan ttabel adalah 1,671. Dengan demikian thitung

-5,807 > ttabel 1,671. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak dan

hipotesis alternative yang keenam diterima. Jika dilihat dari pvalue sebesar 0,000,

sedangkan α = 0,05, maka dapat dilihat bahwa pvalue (0,000) > 0,05. Hal ini berarti

laverage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Retrun On Asset. Sehingga hipotesis keenam (H6) dapat dibutikan.

7. Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) dapat mencerminkan besarnya pengaruh perubahan variabel - variabel bebas (independent variable) dalam menjelaskan perubahan pada variabel tidak bebas (dependent variable) secara bersama-sama, dengan tujuan untuk mengukur kebenaran dan kebaikan hubungan antara variabel dalam model yang digunakan. Hasil SPSS dari koefisien determinasi adalah sebagai berikut :

Tabel 5 : Koefisien Determinasi Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,729a ,531 ,457 ,59333 2,063

a. Predictors: (Constant), Ln_Laverage, Ln_Kepemilikan_Ins, Ln_Komite_audit, Ln_Dewan_Komisaris, Ln_Dewan_Direksi, Ln_Komisaris_Indep

b. Dependent Variable: Ln_ROA Sumber: Data Olahan

(16)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

104

Dari tabel diatas dapat dilihat Standar Error of The Estimated (SEE) yang menunjukkan nilai sebesar 0.59333. Hal ini menunjukkan bahwa nilai SEE kecil sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi layak digunakan untuk memprediksi variabel dependen. Uji koefisien korelasi (R2) dalam penelitian ini digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel independen (kepemilikan institusional, komisaris independen, dewan komisaris, dewan direksi, komite audit dan leverage) terhadap variabel dependen (retrun on asset). Hasil pengujian menunjukkan R2 sebesar 0.531 atau 53,1 % yang menunjukkan besarnya hubungan antar setiap variabel independen dan variabel kontrol terhadap variabel dependen diperusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan untuk koefisien determinasi Adj (R²) adalah sebesar 0,457 yang menunjukkan bahwa sekitar 45,7% Retrun On Asset dipengaruhi oleh kepemilikan instirusional, komisaris independen, dewan komisaris, dewan direksi, komite audit dan leverage sekitar 54,3% (100% - 45,7%) dipengaruhi oleh variabel lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemilikan instirusional, komisaris independen, dewan komisaris, dewan direksi, komite audit dan leverage berpengaruh terhadap Retrun On Asset sebesar 45,7%.

Rendahnya nilai Adj R² jika dilihat dari Tabel 4.5 ini dapat disebabkan karena terdapatnya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi variabel ROA. Rendahnya nilai Adj R² ini bukan berarti bahwa model penelitian yang digunakan tidak bagus. Akan tetapi rendahnya nilai Adj R² ini mungkin dikarenakan pada penelitian ini hanya melihat beberapa faktor variabel saja seperti kepemilikan instirusional, komisaris independen, dewan komisaris, dewan direksi, komite audit dan Leverage. Sedangkan faktor-faktor variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan sangatlah banyak.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka penulis menyimpulkan pertama, dewan direksi dan leverage sebagai variabel kontrol berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan. Kedua, kepemilikan institusional, komisaris independen, dewan komisaris dan komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan serta kesimpulan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka penulis memberikan saran sebagai berikut: 1) Bagi para calon investor, hendaknya lebih hati – hati dalam menanamkan modalnya terlebih dahulu melihat track record kinerja perusahaan selama beberapa tahun belakangan untuk melihat kemampuan operasional perusahaan dalam mengelola usahanya selain itu juga memperhatikan sistem pengawasan yang ada di perusahaan.

(17)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

105

2) Bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan agar lebih memperluas variabel dan juga populasi dan sampel karena pada penelitian ini sampel masih terbatas pada perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia, dan dimungkinkan untuk mengganti dengan perusahaan lain untuk melihat pengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan. Selain itu hendaknya peneliti juga memperpanjang tahun pengamatan untuk mempertinggi daya uji empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Irfan (2002). Pelaporan Keuangandan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi. Lintas EonomiVol.XIX No 2 Juli 2002.

Arens, Alvin A., Randal J. Elder and Mark S. Beasley., 2006, Auditing danJasa Insurance, Perjemahan HermawanWibowo, Erlangga. Jakarta.

Beiner.S, W. Drobetz, F. Schmid dan H. Zimmermann(2003). Is Board Zise An

Independent Corporate Governance Mechanism?

.http://www.wwz.unibaz.ch/cofi/publications/papers/2003/06.03.pdf. Bugshan, Turki, 2005, Corporate Governance, Earing Management and the

Information Content of Accounting Earnings, Theoritical Model and Empirical Tests, A Dissertation, Bond University Quensland, Australia Corrina Fatti. 2014. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap kinerja

keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2011-2013. Universitas Riau

Fahmi, Irham. 2011, Pengaruh Model Prediksi Kebangkrutan Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta), Desertasi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya.

FCGI, 2001.Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan. Edisi Ketiga Jakarta.

Harahap, Sofyan, Safri. 2005. Analisis Krisis atas Laporan Keuangan.Edisi 1-7 Penerbit PT. Raja GrafindoPersada Jakarta.

Jensen, MC dan William H. Meckling, 1976, “Theory of the frim: managerial Behaviour, Agency costs and Oweship Structure”, Journal Of Finacial Economic, Vol. 3, No 4, pp 305-360, www.ssrn.com.

Komite National Kebijakan Governance (KNKG), 2004.Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia: Jakarta.

Pozen Robert C. 1994. Institutional Investor; the Reluctant activists; Hardvard Busines Review, Boston; Jan/ Feb 1994. Vol 72

Soepardi, Eddy, Mulyadi. 2006. Mamahami Akuntansi Keuangan. Ed.1 Penerbit Raja wali Grafindo Persada: Jakarta.

(18)

JURNAL EKONOMI Volume 24, Nomor 3 September 2016

106

Syamsuddin, Lucman. 2009. Managemen Keuangan Perusahaan. Raja wali Pers: Jakarta.

Sugiyono.(2006). Metode Penelitian Bisnis. CV Alfabeta, Bandung

Zakasyi, M Wahyudin. 2008. Good Corporate Governance pada Badan Usaha Manufaktur, Perbankan dan Jasa Keuangan Lainnya. Bandung: Alfabeta,CV.

Yulianawati Ika (2014). Pengaruh GCG dan Leverage Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI, Tahun 2011 – 2012). Naskah Publikasi.

Gambar

Tabel 1 : Statistik Deskriptif
Gambar 1: Probability plot sebelum transformasi data
Tabel 2 : Hasil Pengujian Multikolinearitas Coefficients a
Tabel 3 : Hasil Pengujian Autokolerasi Model Summary b
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan Koefisien determinasi (R 2 ), dapat dijelaskan bahwa Kualitas Pelayanan memiliki pengaruh sebesar 61,2% terhadap Minat Beli Ulang pada Olshop

Uji koefisien determinasi yang dilakukan dengan menghitung adjusted R 2 menunjukan bahwa nilai Adjusted R 2 sebesar 0,484 yang mengartikan bahwa pengaruh variabel

Koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0,561, artinya 56,1% Kepuasan Konsumen dapat dijelaskan oleh variabel Experiental Marketing dan Brand Image. Sedangkan sisanya 43,9%

dan income sebesar -95,4%. Untuk hasil penelitian secara parsial menunjukkan variabel Locus of Control tidak berpengaruh terhadap Financial Management

Pengujian secara simultan, diperoleh F hitung adalah sebesar 56.373 dengan nilai probabilitas sebesar 0.000, dengan demikian variabel kapasitas sumber daya manusia,

Sebesar 70% umur responden dalam kategori Ibu Rumah Tangga Muda yaitu ≤ 45 tahun, sebesar 53% responden berpendidikan dasar (tidak sekolah, SD, SMP), sebesar

Hasil koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,171, artinya Corporate Social Responsibility Disclosure pada perusahaan manufaktur yang tercantum di Bursa Efek

a) Berdasarkan hasil analisis, Dipero leh angka koefisien determinasi sebesar 98,2%, dala m hal in i bera rti 98,2% dari volu me penjualan hanya bisa dije laskan