• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIS-01: Harbul Ishobah As-Siyasiyah, Politik Gerakan Jihad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIS-01: Harbul Ishobah As-Siyasiyah, Politik Gerakan Jihad"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

HIS-01:

Harbul Ishobah As-Siyasiyah,

Politik Gerakan Jihad

KIBLAT.NET- Jagat pemikiran jihad di dunia maya sedang ramai memperbincangkan sebuah gagasan baru dari Abdullah bin Muhammad. Kali ini, pemilik akun @strateeegy tersebut mengusung sebuah ide perlawanan politik (siyasi) dalam serial tulisan yang ia beri judul: Harbul Ishobah As-Siyasiyah (HIS).

Ide tersebut didasari fenomena perjuangan umat Islam di Libya pasca Gadhafi. Di mana sekelompok jihadis tetap fokus dan konsentrasi pada perlawanan senjata, sementara sekelompok jihadis lainnya mulai merambah ke gedung parlemen negeri tersebut, dengan alasan semaksimal mungkin mencegah alat negara menjadi predator gerakan jihad.

Sebagai sebuah ide baru, apalagi terlanjur ada dogma tertentu terkait istilah politik (siyasi), tentu saja mengundang pro dan kontra di kalangan para pemikir jihad lainnya. Namun, sebenarnya apa gagasan Abdullah bin Muhammad dengan Harbul Ishobah As-Siyasiyah-nya itu? Apakah ia mengajak gerakan jihad untuk meletakkan senjata dan membaur dalam parlemen di sebuah system demokrasi sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian aktivis?

(2)

Berikut ini kami turunkan artikel HIS oleh Abdullah bin Muhammad, disusul tanggapan dari beberapa tokoh jihad. Kami sajikan dalam beberapa artikel berseri. Artikel ini kami terjemahkan secara utuh, dengan penambahan gambar ilustrasi dan pemberian sub-judul yang merupakan kreasi kiblat.net agar tulisan tidak melelahkan dan mudah dipahami. Selamat menyimak.

TIDAK DIPERKENANKAN MENGGANDAKAN SEBAGIAN ATAU SELU-RUH NASKAH INI UNTUK TUJUAN KOMERSIAL TANPA IZIN TERTULIS

(3)

Pengantar

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Hukum internasional yang kita saksiakan saat ini adalah buah dari rangkaian pertarungan-pertarungan besar yang dimulai bersamaan dengan revolusi industri yang terjadi beberapa abad lalu. Hal ini membuat negara-negara tertentu bertambah kuat sehingga mampu menjajah negara-negara lain. Munculnya revolusi industri di Eropa membuat orang-orang Eropa keluar dari negara mereka untuk mencari bahan mentah sebagai bahan baku untuk pabrik-pabrik mereka.

Mulai saat itu dimulailah kolonialisme dalam bentuk baru yang berbasis pada kemajuan ilmu pengetahun dan wawasan, sebagai ganti dari banyak dan kuatnya pasukan seperti perang-perang sebelumnya. Sehingga negara kecil seperti Belgia mampu menjajah negara yang luasnya lebih besar 7 kali lipat dari mereka, seperti Zaire. Hal ini karena tentara Belgia menggunakan senjata api melawan (Zaire) yang bersenjatakan tombak-tombak kuno Afrika. Begitu juga dengan Inggris. Dengan politik tingkat tingginya mampu mendominasi di India melalui VOC. Akhirnya orang Hindu memerangi umat Islam dan terjadilah kekacauan sehingga menjadi pintu bagi Inggris memasukkan militernya dengan alasan menjaga perdamaian. Secara bertahap mereka menarik karpet pemerintahan dari raja-raja umat Islam. Dengan demikian orang Hindu menjadi tentara dan pelayan Inggris Raya.

HARBUL ISHABAH

AS-SIYASIYAH

Oleh : Abdullah bin Muhammad (@strateeegy)

Penerjemah : Miftahul Ihsan, Lc. Editor : Hamdan

(4)

Kilas Sejarah

Ekspansi yang dilakukan negara-negara Eropa bukanlah semata untuk berlomba-lomba mengeruk kekayaan alam saja. Tetapi juga disebabkan oleh perjanjian perdamaian Westphalia pada abad 18 Masehi. Isinya kesepakatan perdamaian antar negara-negara Eropa, menghormati kedaulatan masing-masing dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Sebelumya negara-negara Eropa adalah negara yang paling sering terjadi perang saudara.

Di samping itu mereka juga melihat bahaya yang ditimbulkan Daulah Utsmaniyah yang mampu menguasai beberapa negara Eropa bagian timur. Ini membuat negara-negara Eropa saling berkomunikasi dengan lainnya untuk memulai menghormati kedaulatan agar tidak timbul perang saudara di antara mereka. Pada masa ini Eropa mulai mengalami perkembangan industri dan ilmu pengetahuan yang signifikan. Sementara Turki Utsmani mulai meredup karena mereka tidak sanggup bersaing dalam industry. Negara-negara eropa berkembang pesat terkhusus Inggris dan Prancis mampu membikin kegoncangan di tubuh Turki Utsmani. Pada kondisi ini, meletuslah perang dunia pertama antara Jerman, Swis dan Turki Utsmani melawan Inggris, Perancis , Rusia dan AS. Eropa kembali menjadi ladang pertempuran hingga menjalar ke Afrika bagian utara, Syam dan jazirah Arab. Inilah mengapa disebut sebagai Perang Dunia. Perang ini berakhir dengan tunduknya Jerman dan mau menandatangani perjanjian Versailles tahun 1918 setelah berperang selama 4 tahun.

Jerman sepakat untuk mengganti seluruh kerugian dan mundur dari daerah-daerah yang sempat dikuasai, berjanji untuk tidak mengembangkan industri persenjataan dan membatasi jumlah maksimal pasukan. Perang ini juga berhasil memecah Turki Utsmani dan Swiss karena mereka bersekutu dengan Jerman. Kemudian Baik Inggris maupun Perancis menancapkan kukunya di daerah-daerah yang berhasil mereka pecah.

Cikal Bakal PBB

(5)

Persatuan Bangsa. Ini adalah persatuan negara dunia yang pertama di dunia. Ini juga pertama mereka tidak berhasil mengontrol hasil-hasil perjanjian. Oleh karena itu Jerman berhasil-hasil lolos dari sangsi yang diberikan kemudian kembali mengembangkan industri persenjataan.

Jerman sejak dahulu adalah bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan militer. Sejak dahulu mereka telah terbiasa perang di samping kecerdasan mereka juga membuat mereka lebih maju dari negara Eropa lain sekitar mereka. Karena memiliki rasa bangga terhadap diri sendiri dan merasa lebih tinggi dari orang lain maka sulit bagi rakyat Jerman menerima perjanjian yang menghinakan mereka seperti perjanjian Versailes.

Pada saat itu muncullah Hitler dan partai Nazi yang terus mengatakan bahwa perjanjian Versailees adalah penghinaan bagi bangsa Jerman. Hitler berkata, bahwa Yahudi dan Barat berkonspirasi “melawan mereka” (Jerman) dan sudah seharusnya mereka membangun kembali Jerman yang bermartabat. Hitler mengajak seluruh rakyat Jerman yang menggunakan bahasa Jerman. Seruan Hitler ini sunggu menyentuh perasaan orang-orang Jerman ini sehingga begitu mudah diterima dan menyihir mereka. Akhirnya saat pemilu mereka memilih Hitler, dan jadilah Hitler Presiden Jerman. Hanya dalam beberapa tahun Hitler mampu menjadikan pasukannya sebaga pasukan yang terdepan dalam industri dan keterampilan. Tentara Hitler akhirnya mulai menyerang pasukan Timur dan Barat Eropa. Pasukannya pun bersekutu dengan Itali dan Jepang melawan Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika barulah setelah itu meletus perang dunia kedua pada tahun 1939 dan berakhir dengan menyerahnya Jerman pada tahun 1945. Jerman pun dipisah dan tentara sekutu tetap disiagakan di Jerman agar Jerman tidak menyulut perang lagi.

Akan tetapi karena ideologi yang berbeda dari negara-negara pemenang itu. Usai Perang Dunia II, mereka terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah komunis Uni Soviet bersama negara-negara Eropa Timur. Kubu kedua adalah kapitalis Amerika didukung oleh negara-negara Barat. Adapun negara-negara lainnya melalui PBB memilih untuk non blok.

(6)

Era Perang Dingin

Dengan ini dimulailah perang dingin yang mana negara-negara besar menghindari pertempuran secara langsung. Sebagai gantinya mereka berperang melalui sekutu-sekutu kecil yang mereka miliki. Hal ini dikarenakan munculnya senjata nuklir yang apabila digunakan negara besar dalam berperang maka kehancuran yang ditimbulkan tidak bisa dibayangkan. Para pengamat menilai bahwa nuklir merupakan jaminan keamanan agar tidak terjadi perang dunia ke tiga.

Krisis dan peperangan terus terjadi pasca Perang Dunia II. Akan tetapi keberadaan senjata anti nuklir membuat negara-negara besar urung perang secara langsung. Hal ini demi berlangsungnya perang melalui sekutu, intelijen dan persaingan senjata yang membuat negara besar untuk tidak turun perang langsung dengan nuklir yang bisa menghancurkan apa saja.

Kegagalan pihak yang menang dalam Perang Dunia I dalam mengorganisasi apa yang terjadi pasca perang membuat mereka mempersiapkan diri untuk mengorganisasi kemenangan pasca Perang Dunia II. Oleh karena itu Barat mempersiapkan dengan baik langkah-langkah mereka yang diharapkan mampu menjamin mereka memanfaatkan kemenangan ini untuk memperoleh kekuasaan internasional secara politik, militer dan ekonomi dalam waktu yang panjang.

Sebelum Amerika memasuki kancah Perang Dunia II, dewan penasehat khusus telah menyelesaikan sebuah laporan yang panjang terkait tujuan perang yang wajib Amerika berlakukan bagi negara sekutunya pasca perang.

Dewan penasehat merekomendasikan pendirian PBB untuk menentukan pihak-pihak mana yang diterima dan ditolak dalam setiap kejadian. Dewan juga merekomendasikan mendirikan Dewan Keamanan sebagai alat monopoli perang yang sah. Juga Bank Dunia dan IMF untuk mengendalikan perekonomian dunia. Inilah lembaga-lembaga yang menjamin kekuasaan barat terhadap dunia.

(7)

mendapat persetujuan dari PBB agar diterima oleh negara lain hingga bisa membuka kedutaan di negara lain dan diakui kedaulatannya oleh negara lain.

Jika ada sebuah negara yang menyerang negara lain maka Dewan Keamanan PBB akan mengeluarkan izin dunia internasional untuk menghukum negara tersebut secara militer. Sebagaimana yang terjadi di Irak saat menyerang Kuwait, perang Kosovo dan perang-perang lainya. Dan negara manapun yang mencoba mendapatkan nuklir atau membantu terorisme akan diembargo secara ekonomi hingga nantinya dia tunduk kepada Bank Dunia seperti yang terjadi pada Iran dan Korea Utara. Bahkan pada keadaan tertentu mata uang mereka bisa saja dihilangkan nilainya oleh IMF.

AS Digdaya Tunggal

Bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet pada akkhir dekade 80-an, maka berakhir pula Perang Dingin I. AS menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia, memiliki 700 pleton pasukan militer di seluruh bola bumi. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Amerika terkuras energinya dalam perang melawan Al-Qaidah di Afganistan dan Irak dekade yang lalu. Perang ini mampu menggetarkan kewibawaan politik dan militer Amerika. Dan kekalahan Amerika ini menjadi sebab utama krisis moneter yang menimpa AS.

Hal ini berbarengan dengan meningkatnya perekonomian Cina dan Rusia yang mulia menggeliat. Seolah mengembalikan keseimbangan kekuatan dunia yang dengannya berakhirlah dominasi Amerika yang hanya mampu bertahan selama 20 tahun. Rusia kembali menggunakan hak vetonya melawan kebijakan-kebijakan AS di Dewan Keamanan. Padahal 20 tahun yang lalu, pasca runtuhnya Uni Soviet, waktu masih lemah Rusia sama sekali tidak mampu melawan keinginan Amerika.

Akan tetapi sekarang angkatan laut Rusia sudah kembali mengarungi berbagai samudera. Rusia kembali bersikap laksana kekuatan super power seperti sebelumnya yang menjadikan negara itu semakin menjalin kekuatan dengan sekutu-sekutunya seperti Iran, Suriah, Ukraina dan Serbia. Keadaan ini menandakan bahwa secara resmi dunia telah masuk pada Perang Dingin jilid 2.

(8)

Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat di abad lalu membuat fungsi dan tugas negara-negara berubah baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dahulu negara hanya bertanggung jawab menjaga keamanan rakyatnya, keamanan, memutuskan sengketa dan mengambil pajak. Adapun hari ini, negara bertanggung jawab atas semua hal. Bisa kita lihat bagaimana tingginya tingkat pengangguran di negara Eropa dibebankan kepada negara.

Kondisi ini tentunya berbeda antar negara-negara Eropa tergantung perkembangan ilmu pengetahuan dan tabiat hukum yang berlaku di negara. Akan tetapi poinnya adalah tugas pemerintah berbeda antara dulu dan sekarang, dikarenakan perubahan yang terjadi pada kebutuhan-kebutuhan rakyat.

Makanan, obat-obatan, senjata, listrik, bahan bangunan, dan bahan bakar merupakan komoditi pokok yang untuk mendapatkannya harus menjalin kesepakatan dengan negara-negara lainnya. Kesepakatan-kesepakatan ini tergantung kepada kemampuan suatu pemerintahan dalam mengatur kesepakatan tersebut agar tidak bertentangan dengan kemaslahatan negara-negara besar yang menguasai bank Dunia, IMF dan WTO (World Trade Oragnization). Ketersedian kekayaan alam seperti minyak dan barang tambang pada sebuah negara bukan jaminan membuat negara tersebut kaya dan menjadikan pemerintahnya berhasil. Sebab, dominasi negara-negara Barat terhadap hukum internasional membuat mereka mampu mengatur negara yang kaya hasil alam menjadi miskin dan terus berada dalam permasalahan ekonomi dan politik sebagaimana yang mereka lakukan kepada Sudan.

Sudan memiliki sumber minyak, dialiri sungai Nil, berada di sepanjang laut (memiliki bibir pantai panjang—Edt), memiliki lahan-lahan pertanian dan bebagai kekayaan lainnya yang mampu membuat Sudan lebih maju. Akan tetapi karena diperintah oleh kubu Islamis akhirnya Barat memberikan hukuman ekonomi kepada Sudan. Alasannya, Sudan menampung Usamah Bin Ladin dan Aiman Al-Zawahiri, mensponsori perang saudara dan mendukung pemisahan Sudan selatan. Oleh karena itu sampai saat ini Sudan masih berada dalam krisis.

(9)

Utara. Pada setiap negara tersebut, Barat senantiasa menghalangi kesuksesan mereka agar bisa menundukkan mereka. Perlawanan yang dilakukan oleh negara-negara tadi berbeda sesuai dengan kondisi politik internasional. Saat dunia masih dikuasai dua negara adidaya negara-negara tadi mampu bertahan dengan baik.

Akan tetapi setelah AS mendominasi, keadaan negara-negara tadi menjadi semakin sulit. Maka kita bisa saksikan bagaimana Goerge W Bush dengan pongahnya berkata, “Bersama kami atau bersama teroris”; dengan seenaknya melancarkan perang tanpa persetujuan dewan keamanan PBB—karena dia tahu tidak akan ada negara yang mampu menentang kebijakan mereka.

Dominasi Amerika runtuh dan keseimbangan kekuatan dunia telah kembali. AS enggan turun perang lagi—setelah energi mereka terkuras melawan Al-Qaidah ditambah efek krisis moneter yang menimpa Amerika membuat mereka tidak mampu bergerak (perang) sendirian. Dengan begitu kestabilan negara-negara yang menjadi musuh Amerika meningkat. Tentunya peningkatan ini sesuai keadaan masing-masing.

Bentuk dan tanggung jawab baru yang dimiliki pemerintah setiap negara disertai dengan aturan-aturan dunia yang dikuasai oleh barat pasca kemenangan mereka dalam perang dunia kedua membuat mereka menemukan sarana baru untuk menjatuhkan dan melemahkan negara-negara yang melawan Barat.

Sarana yang digunakan tidak hanya kekuatan militer akan tetapi Barat juga menggunakan lembaga-lembaga PBB, media, kekuatan ekonomi dan intelijen untuk melemahkan negara yang melawan mereka dan mampu membuat negara lain mendukung Barat. Di samping itu barat juga akan senantiasa membuat keadaan di negara lawan berada dalam kekacauan internal dan senantiasa dalam krisis yang berkepanjangan.

Pada kondisi seperti ini, perlawanan dan ketangguhan negara yang berlawanan dengan Barat tergantung pada kemampuan mereka dalam mengatasi krisis-krisis yang ditimbulkan oleh Barat. Kita melihat negara-negara Komunis di Eropa Timur runtuh tanpa adanya satupun peluru yang ditembakkan, akan tetapi lebih disebabkan oleh tekanan rakyat sebagai buah dari kegagalan ekonomi dan perang media yang dilakukan Amerika.

(10)

Adapun negara-negara lain seperti Kuba, Iran, Korea Utara dan Sudan berhasil mengamankan negara mereka dari kegoncangan keamanan dan ekonomi yang membuat mereka berhasil bertahan dari embargo yang dilakukan oleh negara regional dan internasional. Negara-negara lainnya seperti negara-negara yang didirikan mujahidin di Afganistan, Chechnya dan Somalia dengan mudah dihancurkan karena karena tidak memiliki daya tahan militer dan politik yang kuat.

Kondisi Berubah, Strategi Al-Qaidah pun Berubah

Perubahan yang drastis terhadap hukum internasional dan tatanan pemerintahan inilah yang membuat Syaikh Usamah bin Ladin RHM membuat strategi agar fokus kepada pihak yang memimpin hukum internasional yaitu Amerika, untuk melemahkan lembaga-lembaga dan negara-negara yang berada di bawah kendalinya sebagai ganti dari strategi bentrok melawan rezim. Hal inilah yang membuat beliau menasihati Amir AQAP Nashir al-Wuhaisyi untuk tidak terburu-buru menaklukkan Shan’aa ibukota Yaman.

Syaikh Usamah RHM menjelaskan bahwa jama’ah jihad belum mampu untuk memegang kekuasaan di negara-negara moderen. Bahkan redaksi yang beliau sampaikan kepada Syaikh al-Wuhaisyi cukup tegas: keadaan negara-negara telah berubah.

Kesimpulan ini dipegang oleh Syaikh Usamah setelah menjalani berbagai macam proyek jihad dalam tiga dekade terakhir. Kesimpulan ini juga bersumber spesialisasi beliau yang alumni fakultas manajemen. Oleh karena itu pendapat beliau ini didasarkan kepada pengalaman dan ilmu, saat beliau mengatakan “Mendirikan sebuah negara sebelum terpenuhinya sarana dan prasarana seringkali mengaborsi hasil amal jihad.”

Faktor penting bagi kesuksesan sebuah negara adalah memiliki daya tahan politik, ekonomi, dan militer. Hal ini belum dimiliki oleh para mujahidin. Oleh karena itu mereka harus berkoalisi dengan harakah-harakah Islamiyah di bawah satu legitimasi syar’i yang disepakati. Hal ini akan menimbulkan politik yang fleksibel yang mampu meredam gejolak dari dalam dan juga menutup pintu masuk pihak-pihak luar dan konfrontasi bersama Barat. Pada poin inilah para jihadis gagal melewatinya dikarenakan sempitnya

(11)

pemahaman siyasah syar’iyyah mereka.

PR Besar: Negara Islam yang Diakui Internasional

Masalah jama’ah-jama’ah jihad bukan terletak pada kemampuan melawan hukum internasional—karena Al-Qaidah melalui perang gerilya mampu melakukan hal itu. Tetapi masalahnya ada pada ketidakmampuan mereka dalam menghadirkan sebuah negara Islam di bawah hukum internasional. Oleh sebab itu diperlukan sebuah proyek yang saya beri nama Harbul Ishobah as-Siyasihah (Perang Gerilya Politik).

Sebagaimana dalam kajian militer para komandan-komandan jihad, melakukan perang terbuka melawan musuh yang jauh lebih unggul militernya seperti Amerika adalah upaya bunuh diri. Strategi perang gerilya adalah cara yang cocok untuk memberikan perlawanan balasan. Begitu juga dengan kajian politik yang menghasilkan rekomendasi yang sama bahwa menghadapi Barat dengan politik terbuka (mendeklarasikan sebuah negara) sama saja dengan bunuh diri secara politik.

Karena Barat, dengan kekuasaannya terhadap hukum internasional, mampu menggagalkan atau melemahkan dan menundukkan keberhasilan-keberhasilan yang kita raih dalam menerapkan hukum (deklarasi negara). Barat dengan usahanya mampu membuat kegaduhan politik, tersebarnya penyakit, kemiskinan, dan kemarahan rakyat sampai akhirnya mereka mendapatkan momen terbaik untuk mencabut kekuasaan Islam sampai ke akar-akarnya dengan kekuatan militer. Sebagaimana yang mereka lakukan di Afghanistan dan Irak.

Oleh karena itu sebagaimana dalam perang militer kita melakukan gerilya maka dalam hal politik kita juga harus melakukan perang gerilya sehingga memungkinkan kita untuk kuat secara politik di hadapan hukum internasional. Terkonsentrasikannya kita pada satu titik bernama militer membuat Barat punya kesempatan untuk menghajar kita dengan telak. Begitu juga dengan keberadaan kita menguasi sebuah negara, memberikan peluang kepada Barat untuk meruntuhkan negara kita dengan berbagai macam cara.

Oleh karena itu seyogyanya kita harus menjauh dari penguasaan tunggal terhadap negara-negara yang mampu dikuasai. Sebagai gantinya hendaklah kita mengadakan persekutuan di dalam bingkai

(12)

kerakyatan yang bernaung di bawah atap syar’i yang diterima. Di samping itu juga harus fokus untuk mengembangkan kemampuan militer negara agar kita memiliki jaminan bahwa tidak adanya elemen-elemen negara yang masih loyal kepada Barat. Contoh ini adalah kesimpulan yang telah dicapai oleh komandan-komandan dan masayikh jihad di Libya.

Pilot Project Libya

Sejarah panjang mereka dalam memerangi rezim Ghadafi selama 30 tahun, peran aktif mereka dalam revolusi dan serangan terhadap Tripoli serta keberhasilan mereka dalam menguasai sebagian besar wilayah ibukota, ditambah keberhasilan mereka menaklukan batalion-batalion dan markas militer musuh tidak membuat mereka tergesa-gesa dalam mendeklarasikan sebuah negara.

Mereka justru membuat persekutuan bersama dengan kekuatan-kekuatan revolusi Islam lainnya dan mereka memperlihatkan fleksibilitas mereka dalam berinteraksi dengan pihak di luar mereka. Kemudian mereka berijtihad dengan memperbolehkan masuk dalam tatanan demokrasi tentunya setelah mereka mengumumkan secara resmi bahwa syariat adalah satu-satunya sumber hukum (payung syar’i).

Di sana sempurnalah sebuah negara islam melalui amandemen yang menjamin penerapan syariat dan bertahap dalam menerapkannya kepada masyarakat. Ijtihad yang mereka lakukan ini memberikan mereka kesempatan untuk menjadi elemen penting dalam sebuah tatanan nagara baru. Sehingga negara baru ini tidak digunakan untuk melawan mereka para jihadis (karena mereka menjadi elemen penting dalam negara tersebut).

Inilah sebenarnya yang diusahakan oleh Barat, akan tetapi mereka tidak berhasil. Mereka harus menggunakan Haftar untuk mengeleminasi Islamis setelah Barat gagal menyingkirkan Islamis dengan cara politik melalui antek mereka, Mahmud Jibril.

Keberhasilan Islamis menguasai Tripoli dan Misrata melalui jalur parlemen dan keberhasilan mereka dalam menguasai perangkat negara yang penting seperti intelijen, tentara, garda keamanan, penjara-penjara, pasukan tank, menjadikan mereka pihak yang sulit

(13)

dikalahkan. Bahkan kaum Islamis telah menyusun rencana dalam melawan makar-makar Barat dan revolusi yang menentang mereka. Hal ini bisa terjadi karena takdir Allah sehingga mereka menggunakan strategi gerilya politik yang dengan itu mereka tidak memberikan kesempatan kepada Barat untuk menjadikan perangkat negara melawan islamis.

Sehingga terjadilah keseimbangan politik (anatara Islamis dan sekuler) sehingga mau tidak mau Barat memberikan lampu hijau kepada Mesir, Saudi dan Uni Emirat Arab untuk membuat revolusi tandingan di bawah slogan perang terhadap terorisme.

Beruntung, perkembangan kemampuan militer para mujahid Libya membuat musuh-musuh kesulitan mengalahkan mereka secara militer setelah sebelumnya musuh juga gagal menyingkirkan mereka secara polotik.

Ijtihad poilitk syar’i yang dihadirkan oleh Jama’ah Muqotilah Libya memberikan daya tahan politik, militer dan ekonomi yang membantu para Islamis untuk tetap berdiri kokoh melawan strategi-strategi Barat. Dari sanalah terlihat jelas bahwa meruntuhkan rezim Ghadafi kemudian menjatuhkan revolusi sekuler akan melepaskan Libya dari hegemoni Barat sehingga terciptalah sebuah keadaan yang representatif untuk berdirinya negara Islam.

Keberhasilan para Islamis mempertahankan eksistensi mereka sebagai kekuatan politik dan militer berhasil menciptakan sebuah suasana yang kondusif untuk menegakkan negara Islam—juga disebabkan keberhasilan mereka menutup peluang Barat untuk menyingkirkan mereka dari hati rakyat secara politik, selain dikerenakan keberhasilan mereka menutup kesempatan Barat menyingkirkan mereka agar mereka tidak menjadi elemen penting negara.

Mengunci Kebijakan Barat

Kesadaran politik di kalangan para jihadis Libya inilah yng menjadikan Barat tidak bisa berbuat apa-apa melawan mereka. Barat terbiasa merampas kemenangan yang dihasilkan para jihadis di tempat-tempat konflik dengan cara membiarkan daerah konflik dalam beberapa waktu kemudian mereka membikin kegaduhan

(14)

dalam negeri, embargo dan pembunuhan, agar rakyat berada dalam kesempitan dan merasa di pinggirkan.

Kemudian Barat mulai mencitrakan buruk penerapan hudud yang dilakukan yang merupakan impian jama’ah-jama’ah jihad lewat media. Setelah itu semua sebelum perang berakhir, sebelum tamkin (eksis menguasai sebuah wilayah) maka media Barat memberitakan bahwa rakyat sipil menentang segala tindak terorisme yang bengis. Dengan demikian Barat berhasil mengkondisikan rakyat setempat dan dunia internasional agar mereka menerima intervensi militer yang akan Barat lakukan.

Melalui PBB, Barat mulai menggunakan perangkat negara setempat untuk menetapkan bahwa apa yang dilakukan oleh jama’ah jihad adalah sebuah tindak kriminal. Akhirnya sebuah jama’ah jihad dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris. Kemudian mulailah pembekuan asset setiap pihak yang membantu jama’ah tersebut dan mengkriminalkannya. Demikianlah mereka (para jihadis) dipersempit geraknya. Kemudian keluarlah keputusan PBB untuk melancarkan serangan militer dalam rangka membasmi mereka. Dibentuklah koalisi militer untuk melawan jihadis.

Faidah Gerilya Politik

Inilah cerita yang terus berulang terjadi pada jama’ah jihad. Akan tetapi kesadaran politik yang dimiliki oleh Jama’ah Muqotilah Libya membuat Barat tidak mampu melakukan hal yang serupa kepada mereka. Oleh karena itu sekarang Barat tidak bisa mencemarkan nama baik jihadis Libya melalui media, sebagaimana mereka juga tidak bisa mengeluarkan keputusan PBB melawan jihadis Libya yang memungkinkan mereka membuat koalisi militer.

Inilah faedah dari perang gerilya politik. Perang gerilya politik membuat Barat gagal menguasai sarana kekuasaan politik (media, intelejen, tentara dll) sebagaimana yang Barat lakukan pasca Perang Dunia II. Sehingga memaksa Barat untuk mengambil pilihan lain yang mana pilihan tersebut bisa kita lawan secara politik, sebagaimana kita bisa melawan mereka dalam perang gerilya militer yang membuat Barat tidak boleh menggunakan kemajuan teknologi nuklir mereka, tidak boleh menggunakan kapal-kapal induk dan tidak boleh menggunakan rudal balistik. Akhirnya mereka akan

(15)

mengambil pilihan serangan darat yang bisa kita hadapi.

Inilah, setiap konflik manusia terdapat kunci-kunci keberhasilan yang sesuai waktunya. Sebagaimana senjata kuno seperti pedang, tombak tidak cocok untuk zaman sekarang dikarenkan perkembangan industri alat perang, maka begitu jug acara-cara penegakkan hukum (negara) masa lalu tidak relevan dengan zaman modern sekarang ini, seiring dominasi hukum internasional dan perkembangan pemikiran politik pada peran, fungsi dan tugas-tugas negara terhadap rakyatnya []

TIDAK DIPERKENANKAN MENGGANDAKAN SEBAGIAN

ATAU SELURUH NASKAH INI UNTUK TUJUAN

(16)

http://goo.gl/U3pO7I

[Video] Wawancara Eksklusif Ust. Abu Rusydan :

HARBUL ISHOBAH AS-SIYASIYAH;

JAMAAH JIHAD KOK BERPOLITIK?

Simak pendapat pengamat jihad

global tentang wacana

Referensi

Dokumen terkait

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2017 sebesar 5,07 persen didukung oleh pertumbuhan seluruh komponen, yaitu Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah

Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan aplikasi data warehouse yang mengintegrasikan data demografi penduduk, data anggaran, data potensi dan data usulan

Walaupun anda berhati-hati dalam menguruskan aliran tunai bulanan anda bagi bayaran pinjaman dan hutang kad kredit, namun kejadian atau keadaan yang tidak diduga mungkin berlaku

Penulisan ini akan membahas tentang pembuatan situs Sistem Informasi Geografis Usaha Kecil dan Menengah Kota Depok dengan menggunakan data-data yang didapatkan dari

Obat makan yang sering digunakan. Dosis yang dianjurkan adalah 0,5mg/kgBB sampai 20mg/kgBB. Dosis ini hamper selalu efektif dan mempunyai batas aman yang luas. Patel dan Meakin 5

Pembersihan liang telinga yang tidak tepat (khususnya dengan kapas telinga) dapat mengganggu mekanisme pembersihan serumen normal dan mendorong serumen ke arah

Jadi, Cos Effectiveness Analysis adalah metode manajemen guna menilai efektifitas dari suatu program atau intervensi dengan membandingkan nilai biaya (cost)