• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL THINK-TALK-WRITE BERBASIS KEARIFAN

LOKAL TRI KAYA PARISUDHA TERHADAP HASIL BELAJAR

SAINS SISWA KELAS IV SD DI GUGUS V KECAMATAN

BULELENG

Made Candra Dwi Putra 1, Ni. Kt. Suarni 2, Md. Sulastri3

1

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

23Jurusan Teknologi Pendidikan, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar sains antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan desain Non Equivalent Pos test Only Control Group. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV di SD Gugus V. Sampel ditentukan dengan teknik random sampling dan diperoleh SD No. 1 Nagasepaha sebagai kelompok eksperimen yang berjumlah 31 orang siswa dan SD No. 1 Petandakan sebagai kelompok kontrol yang berjumlah 27 orang siswa. Data hasil belajar Sains siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda. Data yang diproleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial uji-t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan mengenai hasil belajar sains antara siswa yang belajar dengan manggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha berada pada kategori sangat tinggi yaitu 22,29 pada rentangan 20,25  X

27 dan siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional berada pada kategori tinggi, yaitu 19,00 pada rentangan 15,75  X

20,25. Hasil analisisnya menunjukkan t hitung = 2, 963 dan t tabel = 2,000 untuk db = 56 dengan taraf signifikansi 5%

. Berdasarkan kriteria pengujian, karena t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Hal ini berarti model pembelajaran kooperatif Tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar Sains. Kata kunci: think talk write, hasil belajar

Abstract

This study aims to determine the significant different of proceeds of sains use between student wich follow learning by the think talk write model based on local wisdom tri kaya parisudha and to follow learning by convensional. This research as quasi experiences by the desain Non Equivalent Pos test Only. The population of research is the elementary student of four classes the same bunch of five. The sample waved by the simple random sampling and getted by elementary school number one “Nagesepaha” as experiences group by amounts thrty students and elementary school number one “ Petandakan” as control group amounts twenty seven students. From this analyzed used by analyzed statistics descriptive and inferential statistics test. The research getted has significant different learning sains between student with think write model based on local wisdom tri kaya parisudha has very hight catagori has 22,29 creditor 20,25  X

27 and student use convensional research in hight catagori 19,00 in creditor 15,75  X

20,25 this

(2)

test, because t arithematic > t table so H0 refused and Ha accived. That means the think talk

write model based on local wisdom tri kaya parisudha influence the sains proceeds learnings.

Key words: think talk write, proceeds lernings

PENDAHULUAN

Teori konstruktivis menyatakan

bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka

sangat kecil kemungkinan tranfer

pengetahuan dari seseorang kepada yang yang lain. (Endang, 2010). Dengan kata lain bahwa pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer begitu saja dari pikiran yang mempunyai pengetahuan ke pikiran yang belum mempunyai pengetahuan. Hal ini merupakan kelemahan proses pembelajaran di negara kita. Lebih lanjut oleh Sanjaya

(2006), bahwa lemahnya proses

pembelajaran adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita. Proses pembelajaran yang berlangsung

sekarang ini masih berlaku sistem

pembelajaran konvensional, yang mana masih terjadi transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada siswa secara penuh (teacher

centered). Di dalam kelas pembelajaran

tersebut akan mendorong anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai

informasi tanpa dituntut untuk

menghubungkannya dengan kehidupan

mereka sehari-hari. Anak seakan

dieksploitasi menjadi obyek atas

terlaksananya skenario yang telah disusun oleh guru. Kondisi tersebut sebagaimana yang telah diinventarisir oleh Depdiknas

dalam ciri-ciri pembelajaran tradisional

adalah sebagai berikut: 1) siswa adalah penerima informasi secara pasif, 2) siswa belajar secara individual, 3) pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, 4) perilaku dibangun atas kebiasaan, 5) keterampilan dikembangkan atas dasar latihan, 6) hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai

(angka rapor), 7) seseorang tidak

melakukan yang jelek karena takut hukuman, 8) bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill), 9) rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafal, dan dilatihkan, 10) rumus

adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar, 11) siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mencatat, menghafal) tanpa memberikan konstruksi ide dalam proses pembelajaran, 12) pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep atau hukum yang berada di luar diri manusia, 13) kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final, 14) guru adalah penentu proses jalannya pembelajaran, 15)

pembelajaran tidak memperhatikan

pengalaman siswa, 16) hasil belajar diukur hanya dengan tes, 17) pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas, 18) sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek, 19) perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik, 20) seseorang

berperilaku baik karena dia terbiasa

melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan.

Proses seperti yang terpapar di atas menyebabkan kurang mendorong anak untuk

mengembangkan kemampuan berpikir.

Akibatnya anak akan menjadi lulusan yang kaya pemahaman teoritis, tetapi miskin penerapan dan pengalaman langsung. Hal seperti itu sudah terjadi untuk semua mata

pelajaran dalam pembelajaran. Tidak

terkecuali pada mata pelajaran sains. Di dalam pembelajaran sains guru harus kaya

strategi yang digunakan dalam

pembelajaran. Selama ini guru di lapangan belum menggunakan strategi pembelajaran secara mendalam setiap pembelajaran di kelas. Pendidikan tidak dikembangkan untuk mengembangkan karakter serta potensi yang dimiliki peserta didik. Dengan kata lain, proses pendidikan belum mengarahkan untuk pembentukan manusia yang cerdas, memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta belum

mengarahkan pembelajaran untuk

membentuk manusia yang kreatif, kritis, dan inovatif. Padahal potensi seorang anak adalah sangat besar. Hal ini sesuai yang

(3)

diungkap oleh Endang (2010:2) bahwa

potensi otak manusia belum dapat

dimanfaatkan secara optimal sehingga

potensi yang hebat tersebut hanya tinggal potensi yang dimiliki tetapi bukan potensi yang dieksploitasi. Bertolak dari hal tersebut, sebagai pendidik tentu memegang peranan yang sangat besar sebagai mediator dan fasilitator bagi peserta didik untuk mencapai eksploitasi potensi diri optimal. Guru mutlak bertanggungjawab bagaimana cara menggali potensi peserta didik menuju optimal. Bagaimana cara memotivasi peserta didik agar potensi yang dimiliki dapat tereksploitasi dengan terarah menuju teraktualisasi secara optimal. Bukan sebaliknya seorang pendidik

menutupi potensi otak peserta didik,

sehingga tidak teraktualisasi dan termotivasi. Sebagai bangsa Indonesia, tentu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia bukan merupakan tanggungjawab sepihak hanya bagi pemerintah. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan tugas besar bagi kita dan

memerlukan waktu yang panjang.

Pendidikan yang baik dan terarah diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara

Indonesia untuk berkembang menjadi

manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah. Jadi pendidikan pada

dasarnya merupakan suatu proses

pembudayaan dan pemberdayaan.

Pemerintah sebagai penentu

kebijakan sudah banyak upaya memperbaiki sistem pendidikan di negara ini. Misalnya yang sudah berlaku, pemerintah telah mengeluarkan sebuah reformasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah. Upaya-upaya inovatif yang terarah yang juga

dilakukan adalah berupa perbaikan

manajemen, asasmen dan persiapan guru

mengajar seperti yang sudah keluar

peraturan menteri nomor 41 tahun 2009

mengenai Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP). Peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Kurikulum pendidikan di Indonesia beberapa kali mengalami pergantian, dan kurikulum yang paling akhir dilancarkan

adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan diberlakukannya KTSP maka diperlukan perubahan pola pikir dalam pembelajaran. Beberapa perubahan pola pikir dalam pembelajaran yang diperlukan menurut Suparya (2010) adalah: (1) dari

peran guru sebagai tenaga pengajar,

berubah dari pentransfer ilmu pengetahuan

menjadi fasilitator, pembimbing, dan

konsultan; (2) dari peran guru sebagai

sumber pengetahuan berubah menjadi

kawan belajar; (3) dari belajar yang dijadwal secara ketat menjadi terbuka fleksibel sesuai keperluan; (4) dari kebiasaan mengulang dan

latihan menuju perancangan dan

penyelidikan; (5) dari kompetitif menuju kolaboratif; (6) dari fokus kelas menjadi fokus masyarakat; (7) dari pembelajaran yang mengikuti norma menjadi keanekaragaman yang kreatif; (8) dari presensi media yang statis menjadi presensi media yang dinamis; (9) dari komunikasi yang sebatas ruang yang terbatas menjadi komunikasi yang tidak terbatas; (10) dari penilaian hasil belajar yang normatif menuju unjuk kerja yang komprehensif.

Esensi dari kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) adalah sistem

pembelajaran berdasarkan paradigma

konstruktivis, yang memandang dan

mengisyaratkan siswa harus aktif

mengkonstruksi pengetahuannya selama

kegiatan pembelajaran berlangsung. Guru yang menggunakan paradigma konstruktivis

dalam proses pembelajaran mampu

meletakkan pengetahuan sekarang dan

sangat kongkrit terhubung dengan

pengetahuan yang telah diperoleh

sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan

oleh Endang (2010:108) bahwa guru

berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar peserta didik belajar dengan baik. Penekanannya pada peserta didik yang belajar dan bukan pada disiplin atau pun guru yang mengajar.

Paul Suparno (1997:66) menjabarkan

beberapa fungsi mediator dan fasilitator yaitu

sebagai berikut: 1) menyediakan

pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik bertanggungjawab membuat rancangan, proses, dan penelitian. Karena itu, jelas memberi kuliah atau ceramah bukanlah tugas utama seorang guru, 2) menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan peserta didik dan membantu mereka untuk

(4)

mengekspresikan gagasan-gagasannya dan

mengkomunikasika ide ilmiah mereka.

Menyediakan sarana yang merangsang peserta didik berfikir secara produktif. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar peserta didik. Guru harus mengamati peserta

didiknya. Guru perlu menyediakan

pengalaman konflik, 3) memonitor,

mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran peserta didik jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan peserta didik itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan peserta didik.

Guru bertugas sebagai fasilitator yang

memungkinkan terjadinya transform

pengetahuan dari pebelajar kepada peserta didik. Guru memfasilitasi siswa untuk belajar

dari permasalahan yang dihadapi di

lingkungan sekitar yang berkaitan dengan pokok bahasan yang sedang dipelajari. Dengan prinsip belajar tersebut, siswa akan memiliki kompetensi berupa pemahaman konsep, ketrampilan berpikir dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Puskur (2006) menyatakan bahwa pembelajaran sains sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja

dan bersikap ilmiah serta

mengkomunikasikannya sebagai aspek

penting kecakapan hidup. Oleh sebab itu

pelaksanaan pembelajaran sains lebih

menekankan pada proses menemukan

sendiri yang memerlukan aktivitas agar anak

dapat mengalami langsung apa yang

dipelajari.

Selama ini keadaan yang

berlangsung di lapangan bukan seperti yang

diharapkan. Pembelajaran sains untuk

meningkatan hasil belajar siswa secara optimal belum ditangani secara sistematis dan terarah di sekolah dasar. Guru kurang kreatif untuk menciptakan kondisi yang

mengarahkan siswa agar mampu

mengkonstruksi pengalaman kehidupan

sehari-hari dengan konstruksi pengetahuan dalam pembelajaran di dalam kelas.

Fenomena kegagalan pencapaian tujuan esensial pembelajaran khususnya meningkatkan minat siswa belajar sains, karena siswa tidak diperlakukan sebagai bagian dari realitas dunia mereka dalam

proses belajar di dalam kelas. Alasan ini diperkuaat dengan observasi peneliti yang dilakukan di Sekolah Dasar Gugus V Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng.

Berdasarkan hasil observasi pada

pembelajaran sains di SD tersebut, guru

belum menerapkan pembelajaran yang

bersifat konstruktivis sesuai dengan

paradigma yang dianut oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Guru di

sekolah tersebut mengalami kekeliruan

dalam memaknai teori konstruktivis dalam

merencanakan dan melaksanakan

pembelajaran. Guru memandang bahwa dalam paradigma konstruktivis hanya siswa yang aktif tanpa ada keterlibatan guru sebagai mediator dan fasilitator bagi siswa. Sebagian besar pembelajaran berorientasi materi, tidak berorientasi kompetensi, dan lebih banyak menggunakan buku ajar atau LKS.

Hasil observasi menunjukan banyak faktor yang menjadi penghalang pencapaian hasil belajar dan motivasi belajar sains, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat faktor, yaitu: (1) pemahaman guru tentang strategi pembelajaran masih kurang (2) pengetahuan awal siswa yang belum terakomodasi dengan baik dalam pembelajaran, (3) guru belum memanfaatkan potensi lingkungan sebagai media dan

sumber belajar, (4) sistem penilaian

digunakan kurang sesuai dengan tujuan esensial pembelajaran sains di sekolah dasar.

Sebagai salah satu alternatif untuk

mengatasi kelemahan-kelemahan yang

dihadapi oleh guru di lapangan, peneliti mencoba menerapkan strategi pembelajaran untuk mengoptimalkan proses pembelajaran

guna meningkatkan hasil belajar dan

motivasi belajar sains. Strategi tersebut adalah model pembelajaran kooperatif tipe

Think-Talk-Write (TTW) yang berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha. Model pembelajaran tipe TTW pada dasarnya adalah strategi pembelajaran yang dibangun dengan proses berpikir, berbicara dan menulis. Alur strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau memproses informasi dalam dirinya sendiri

setelah malalui proses membaca.

Selanjutnya proses berbicara dengan

membagi ide (sharing) dengan teman kelompok sebelum melangkah ke proses yang terakhir yaitu menulis (Suparya, 2010).

(5)

Siswa pada tahap aktivitas berfikir atau think melakukan proses membaca suatu wacana atau teks mata pelajaran sains yang dilanjutkan dengan pembuatan catatan dari apa yang dibaca. Siswa dalam membuat catatan, mempersatukan antara ide yang dimiliki dengan informasi yang didapat melalui membaca yang kemudian disajikan dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa sendiri agar mudah dipahami.

Setelah tahap think kemudian pada

tahap talk. Pada tahap ini siswa

mengeksplorasi diri dengan berkomunikasi menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Siswa secara individu dapat merancang kata-kata sendiri yang digunakan untuk berkomunikasi dengan teman dikelompok kerja masing-masing dan anggota kelompok yang lain dalam situasi pembelajaran. Hal ini akan dapat membuat siswa merasa belajar bermakna karena dapat mengekspresikan diri dengan kemampuan yang dirancang sendiri. Baik itu pada saat demonstrasi maupun saat menjelaskan yang lain terkait pembelajaran sains.

Setelah tahap talk selanjutnya tahap yang terakhir adalah write, yaitu menuliskan hasil diskusi atau dialog pada lembar kerja yang disediakan. Pada aktivitas menulis siswa secara individu akan mengkonstruksi ide-ide setelah menulis. Karena setelah menulis siswa menata kalimat dengan baik dan sistematis, sehingga apa yang kurang lengkap dalam tulisan hasil diskusi atau

dialog akan ditambahkan berikutnya.

Sehingga siswa akan memahami secara bermakna dan mendalam dalam proses pembelajaran sains berlangsung.

Berangkat dari paparan latar

belakang permasalahan di atas, maka perlu

suatu upaya yang dilakukan untuk

pengomptimalan proses pembelajaran sains di sekolah dasar. Dengan penerapan strategi

pembelajaran Think-Talk-Write yang

berbasis kearifan lokal Tri Kaya Pasrisudha,

diduga dapat digunakan sebagai alternatif

pemecahan masalah belajar dan

pembelajaran sains di SD. Dalam penelitian

ini, pengujian keunggulan strategi

pembelajaran TTW berbasis kearifan lokal tri

kaya parisudha terhadap hasil belajar sains

di Sekolah Dasar Gugus V Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar Sains

antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran

konvensional pada siswa kelas IV SD di Gugus V Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng tahun pelajaran 2013/2014.

METODE

Jenis penelitian yang dilakukan adalah termasuk penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Gugus V Kecamatan

Buleleng. Pelaksanaan penelitian ini

dirancang pada kelas IV semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas IV di SD Gugus V yang berjumlah 5 sekolah dasar. Jumlah seluruh populasi adalah 145 siswa.

Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Teknik ini digunakan karena individu-individu pada populasi telah terdistribusi kedalam kelas-kelas, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengacakan terhadap individu-individu dalam populasi. Tahap pertama dilakukan dengan melakukan uji

kesetaraan dengan rumus ANAVA

klasifikasi tunggal. Pemilihan kelas

eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan teknik undian. Melalui random sampling tersebut ditetapkan kelas IV di SD No. 1 Nagasepaha yang berjumlah 31 orang sebagai kelompok eksperimen yang diberi

perlakuan berupa model pembelajaran

kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan kelas IV SD No. 1 Petandakan yang berjumlah 27 orang sebagai kelompok kontrol yang diberi perlakuan berupa model pembelajaran konvensional.

Penelitian yang dilakukan merupakan eksperimen semu dengan desain penelitian

yang digunakan adalah “Non Equivalent

Postest Only Control Group Desain “.Desain

ini dipilih karena penelitian yang dilakukan hanya ingin mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol, dan bukan untuk

mengetahui peningkatan hasil belajar pada kedua kelompok, sehingga dalam penelitian ini tidak menggunakan pre-test. Rancangan ini menggunakan dua kelompok subjek,

(6)

salah satunya diberikan perlakuan sedangkan kelompok lain ditetapkan sebagai kelompok pengendali atau kontrol. Pada akhir perlakuan, kedua kelompok dikenai pengukuran yang sama. Dalam penelitian ini

variabel bebasnya adalah model

pembelajaran kooperatif tipe TTW dan

model pembelajaran konvensional

sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar sains pada aspek kognitif.

Data yang dikumpulkan dalam

penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang dikumpulkan dengan metode tes. Tes yang digunakan untuk menggumpulkan data tentang hasil belajar sains adalah tes pilihan ganda yang terdiri dari 30 soal. Sebelum digunakan, instrumen diuji dengan

menggunakan uji validitas tes, uji

reliabilitas, uji daya beda, dan uji tingkat kesukaran.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik analisis, yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis

statistik inferensial. Analisis deskriptif

dilakukan untuk mengetahui tinggi

rendahnya kualitas hasil belajar siswa yang

belajar dengan menggunakan model

pembelajaran tipe TTW maupun yang

menggunakan model pembelajaran

konvensional. Analisis statistik deskriptif meliputi mean, median, modus, standar

deviasi. Analisis statistik inferensial

digunakan untuk uji hipotesis. Sebelum dilakukan uji hipotesis, maka dilakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Jika terbukti bahwa data berdistribusi normal dan varians homogen,

maka untuk menguji hipotesis pada

penelitian ini menggunakan uji statistik parametrik, yaitu uji-t (t-test) pada taraf signifikansi 5%

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil rekapitulasi analisis data hasil belajar sain kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada Tabel 1 dibaw ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Data Hasil Belajar Sains Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Perhitungan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mean 22,29 19,00

Median 22,75 18,13

Modus 22,90 16,67

Rentangan 15 15

Hasil Uji Prasyarat Analisis

Sebelum melakukan uji hipotesis, maka dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Dari hasil

perhitungan di ketahui bahwa data

kemampuan pemecahan masalah

matematika kelompok kontrol dan kelompok

eksperimen berdistribusi normal serta

variansnya homogen. Adapun hasil

perhitungandari uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini

Tabel 2 Hasil Uji Normalitas Data Hasil Belajar Sains

No Kelompok Data Hasil Belajar

2

χ

Nilai Kritis dengan Taraf Signifikansi 5% Status

1 Eksperimen 6,907 7,82 Normal

2 Kontrol 3,982 7,82 Normal

Berdasarkan hasil perhitungan

dengan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh

2hit hasil belajar Sains siswa

pada kelompok eksperimen adalah 6,907 dan

2tab dengan taraf signifikansi 5% dan

db = 3 adalah 7,82. Hal ini berarti,

2hit hasil

belajar Sains siswa pada kelompok

eksperimen lebih kecil dari

2tab (

tab hit 2

2

), sehingga data hasil belajar

Sains siswa pada kelompok eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan,

2hit hasil

belajar Sains siswa pada kelompok kontrol

(7)

signifikansi 5% dan db = 3 adalah 7,82. Hal ini berarti,

2hit hasil post-test kelompok

kontrol lebih kecil dari

2tab (

2hit

2tab),

sehingga data hasil hasil belajar Sains siswa

pada kelompok kontrol berdistribusi normal. Hasil perhitungan dari uji homogenitas data hasil belajar sains dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3 Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Belajar Sains

Kelompok Data

Hasil Belajar F-hitung

F-tabel dengan Taraf Signifikansi 5%

Status

Eksperimen dan

Kontrol 1,0234 1,80 Homogen

Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhit hasil hasil belajar Sains siswa pada

kelompok eksperimen dan kontrol adalah 1,0234. Sedangkan Ftab dengan dbpembilang =

30, dbpenyebut = 26, pada taraf signifikansi 5%

adalah 1,80. Hal ini berarti, varians data hasil hasil belajar Sains siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen

Hasil Uji Hipotesis

Berdasarkan uji prasyarat analisis data, diperoleh bahwa data hasil belajar Sains

siswa pada kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen. Setelah diperoleh hasil dari uji prasyarat analisis data, dilanjutkan dengan pengujian hipotesis penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0).

Pengujian hipotesis tersebut dilakukan

dengan menggunakan uji-t sampel

independent (tidak berkorelasi) dengan

rumus polled varians dengan kriteria H0

ditolak, jika thit > ttab dan H0 diterima, jika thit <

ttab. Rangkuman uji hipotesis disajikan pada

Tabel 4 berikut ini Tabel 4 Ringkasan Hasil Uji Hipotesis

Kelompok Data Hasil

Belajar

n db thitung ttabel Kesimpulan

Kelompok Eksperimen 31 56 2,963 2,000 thitung > ttabel H0 ditolak Kelompok kontrol 27

Berdasarkan hasil perhitungan

dengan menggunakan uji-t, diperoleh thit

sebesar 2,963, sedangkan, ttab dengan db =

56 dan taraf signifikansi 5% adalah 2,000. Hal ini berarti, thit lebih besar daripada ttab (thit

> ttab), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.

Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Sains antara kelompok siswa

yang dibelajarkan dengan model

pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD di Gugus V Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng.

Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Sains yang signifikan antara

kelompok siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe Think Talk Write Berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dengan kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar Sains yang dicapai oleh siswa. Secara deskriptif, hasil

belajar Sains siswa pada kelompok

eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan siswa pada kelompok kontrol. Tinjauan ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar Sains pada kelompok eksperimen dan kecenderungan skor hasil belajar Sains pada kelompok kontrol. Rata-rata skor hasil belajar Sains yang diperoleh siswa pada kelompok eksperimen adalah 22,29 berada pada kategori sangat tinggi, sedangkan skor hasil belajar Sains yang diperoleh siswa pada

(8)

kelompok kontrol adalah 19,00 berada pada kategori tinggi.

Apabila skor hasil belajar Sains siswa pada kelompok eksperimen digambarkan ke dalam grafik poligon, tampak bahwa kurva sebaran data menunjukkan kurva juling negatif, yang artinya sebagian besar skor siswa cenderung tinggi. Skor hasil belajar Sains yang diperoleh siswa pada kelompok kontrol, apabila digambarkan ke dalam grafik poligon tampak, bahwa kurva sebaran data menunjukkan juling positif yang artinya sebagian besar skor siswa cenderung rendah.

Berdasarkan analisis data

menggunakan uji-t yang ditunjukkan pada Tabel 4.7 diketahui thit = 2,963 dan ttab (db =

dengan taraf signifikansi 5%) = 2,000. Hasil

perhitungan tersebut menunjukkan bahwa thit

lebih besar dari ttab (thit > ttab), sehingga hasil

penelitian yang diperoleh adalah signifikan. Hal ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Sains antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think

Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan siswa yang dibelajarkan

dengan menggunakan model pembelajaran

konvensional. Adanya perbedaan yang

signifikan menunjukkan, bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think

Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha berpengaruh terhadap hasil belajar Sains siswa.

Besarnya pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan model pembelajaran konvensional dapat

dilihat dari analisis deskriptif. Analisis

deskriptif menunjukkan, bahwa skor hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik daripada siswa kelompok kontrol.

Hasil penelitian ini telah membuktikan hipotesis yang diajukan, yaitu terdapat perbedaan hasil belajar Sains yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan siswa

yang dibelajarkan dengan model

pembelajaran konvensional. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha berpengaruh positif terhadap hasil belajar

Sains siswa kelas IV semester II di SD Gugus V Kabupaten Buleleng dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Temuan penelitian yang menunjukkan, bahwa model pembelajaran kooperatif tipe

Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha berpengaruh positif terhadap

hasil belajar Sains dengan kecenderungan sebagian besar skor siswa tinggi disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan pada langkah-langkah pembelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think

Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dalam pembelajaran Sains lebih

menekankan pada aktivitas siswa, melalui

enam langkah, yaitu: (1) background

readings, (2) case study discussions, (3) inquiry labs, (4) inquiry lessons, (5) historical studys, dan (6) Multiple Assesment. Dengan

enam langkah tersebut, pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan lebih melekat dalam pikiran siswa, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

Pembelajaran kooperatif tipe Think

Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha memberikan kesempatan pada

siswa untuk membangun latar belakang pengetahuan melalui kegiatan membaca buku dan memfasilitasi/ menyediakan ruang diskusi seluas-luasnya bagi siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasan mereka untuk menjelaskan suatu fenomena. Guru berperan sebagai fasilitator dan mediator dengan memberikan pijakan, pemodelan,

dan penjelasan seperlunya untuk

membangun pengetahuan siswa mengenai

Sains. Kegiatan praktikum (percobaan)

beranjak dari permasalahan kontekstual yang mengkaji realitas alam, sehingga

menuntut aplikasi latar belakang

pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa

dalam menyusun dugaan sementara

(hipotesis) untuk menjelaskan fenomena tersebut. Selanjutnya siswa menjadi lebih termotivasi untuk menguji hipotesis melalui kegiatan mengumpulkan data, interpretasi

data, dan menarik kesimpulan.

Mendeskripsikan/membacakan hasil

percobaan merupakan langkah yang tepat

dalam mengungkapkan pemahaman

terhadap konsep yang dipelajari dan

mengelaborasi berbagai gagasan untuk menghasilkan konsepsi ilmiah.

Selain perbedaan pada

langkah-langkah pembelajaran, secara teoritik model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write

(9)

berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha merupakan pembelajaran dengan paradigma kostruktivistik yang menekankan pada peran aktif siswa dalam pembelajaran untuk mengkontruksi pengetahuan secara mandiri sesuai dengan pengalaman, kemampuan, dan tingkat perkembangan individual siswa, baik perkembangan kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pembelajaran kooperatif tipe

Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha mengakomodasi siswa

untuk meraih pemahaman (understanding), wawasan (insight), dan kearifan (wisdom) dalam rangka mengungkap dan memahami realitas alam, serta menitik beratkan pada manfaat pengetahuan yang mereka pelajari bagi masyarakat dan lingkungannya.

Perbedaan pembelajaran antara model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya Parisudha dan pembelajaran konvensional tentunya akan memberikan dampak yang berbeda

pula terhadap hasil belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif tipe Think Talk

Write berbasis kearifan lokal Tri Kaya parisudha melibatkan operasi mental kompleks yang menjadikan pemahaman atas konsep ilmiah berada pada tingkat yang lebih dalam. Dengan model pembelajaran ini siswa dapat belajar konsep, prinsip, dan model ilmiah dengan penuh arti untuk dapat digunakan dalam menjelaskan dan membuat

prediksi dari suatu cakupan tentang

fenomena. Melalui pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write berbasis kearifan lokal

Tri Kaya Parisudha siswa dapat mempertahankan pengetahuan lebih lama

dalam struktur kognitifnya, karena

merupakan proses konstruksi sendiri dalam kelompok-kelompok belajar yang kooperatif.

Berbeda halnya dalam proses

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Pada model pembelajaran ini, guru berperan penting dan dominan dalam proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran ini, siswa tidak dituntut untuk menemukan materi. Guru secara

langsung menyampaikan objek materi,

sedangkan siswa dianggap hanya datang

menerima materi secara langsung.

Pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas guru, menyebabkan siswa menjadi

pasif, sehingga pembelajaran menjadi

kurang bermakna dan membosankan bagi siswa.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sejalan dengan dua penelitian yang

relevan mengenai penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe Think Talk

Write, yaitu sebagai berikut. Ambari (2013)

dengan judul penelitian “Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV Gugus I Kecamatan Tegalalang. Hasil penelitiannya diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model TTW dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dengan M = 51,13 tergolong pada kriteria tinggi dan hasil belajar IPA siswa kelompok kontrol dengan M = 39,54 tergolong pada kriteria sedang. Adanya perbedaan yang signifikan ditunjukkan dengan nilai uji-t = 12,46 ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TTW lebih berpengaruh

positif terhadap hasil belajar IPA

dibandingkan dengan model pembelajaran

konvensional. Novitasari (2014), pada

penelitiannya yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Think Talk Write terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Bendar Juwana”. Hasil analisis data penelitian uji hipotesis diperoleh harga t hitung sebesar 8,327 dan t tabel sebesar 1,701 dengan demikian t hitung > t tabel.

Jadi kesimpulannya ada pengaruh

penerapan model pembelajaran TTW

terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Bendar Juwana.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan, hasil penelitian, dan pembahasan seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan terdapat perbedaan hasil belajar Sains yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe think talk write berbasis kearifan lokal tri kaya parisudha dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model pembelajaran

konvensional. Hal ini dibuktikan dengan hasil

belajar Sains siswa pada kelompok

eksperimen dengan rata-rata (M) = 22,29 tergolong kategori sangat tinggi dan hasil belajar Sains siswa pada kelompok kontrol dengan rata-rata (M) = 19,00 tergolong

(10)

kategori tinggi. Adanya perbedaan yang signifikan menunjukkan, bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think talk write berbasis kearifan lokal tri kaya parisudha berpengaruh positif terhadap hasil belajar Sains siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Saran-saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Sekolah yang mengalami

permasalahan mengenai hasil belajar Sains, dapat mengambil suatu kebijakan untuk mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe think talk write berbasis kearifan lokal tri kaya parisudha dalam pembelajaran Sains.

2) Guru di sekolah dasar, agar lebih

berinovasi dalam menerapkan model

pembelajaran inovatif lainnya, termasuk model pembelajaran kooperatif tipe think talk write berbasis kearifan lokal tri kaya parisudha pada mata pelajaran Sains, sehingga dapat meningkatkan aktivitas siswa di dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.

3) Siswa hendaknya dapat menjadikan

model pembelajaran kooperatif tipe think talk write berbasis kearifan lokal tri kaya parisudha sebagai salah satu cara belajar yang menyenangkan, sehingga hasil belajar Sains menjadi lebih baik.

4) Peneliti yang berminat untuk

mengadakan penelitian lebih lanjut tentang model pembelajaran kooperatif tipe think talk write pada mata pelajaran Sains, agar

memperhatikan kendala-kendala yang

dialami dalam penelitian ini sebagai bahan

pertimbangan untuk perbaikan dan

penyempurnaan penelitian yang nantinya akan dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN

Depdiknas. 2008. Rancangan Penilaian Hasil

Belajar. Jakarta: Depdiknas.

Endang & Nuryata. 2010. Pembelajaran

Masa Kini. Jakarta: Business Center

SMKN 7 Jakarta Timur.

Paul Suparno. 1997. Filsafat Kontruktivisme

dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Puskur. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Suparya, I Kt. 2010. Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think talk write (ttw) terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis pada pembelajaran sains di sekolah dasar,

Tesis (tidak diterbitkan) Universitas

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang lebih baik dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap pemahan

Terlihat pada grafik bar diatas bahwa hasil dari pengujian sampel secara kontinyu dengan pengambilan sampel tiap 10 menit dengan total waktu selama 70 menit memiliki hasil

Kajian ini juga menyiasat apakah tafsiran guru tentang komponen KBAT dalam Sukatan Pelajaran Sejarah Tingkatan Empat dan apakah masalah-masalah yang dihadapi oleh guru dalam membuat

(200 M x 106 M) dan 1 (satu) pintu rumah papan yang terletak di atas tanah tersebut dengan ukuran 4 x 3 M sama dengan luas 12 M, yang terletak di kampung Pilar Jaya, Kecamatan

Lembar Tugas Siswa (LTS) berisikan indikator dan kegiatan yang berisikan langkah-langkah kegiatan atau petunjuk tugas siswa yang harus dikerjakan oleh masing-masing

Dalam penulisan ilmiah ini, penulis membuat situs (website) dengan menggunakan program aplikasi Macromedia Flash MX, dengan tujuan membantu bagi para penggemar anime dan manga

Situs web FcChelsea Indonesia Fans Club sangat membantu masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai FcChelsea dengan mudah, dimana masyarakat dapat mengakses dimana pun

Stres kerja adalah stres yang dialami oleh karyawan akibat adanya ketidaksesuaian antara tuntutan akan pekerjaan dan kemampuan karyawan untuk melakukan pekerjaan itu sendiri..