• Tidak ada hasil yang ditemukan

BESTY L. MANIK 21020112120018 BAB 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BESTY L. MANIK 21020112120018 BAB 1"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perkembangan prestasi olahraga di Indonesia belakangan ini kurang memuaskan dalam perolehan medali bahkan cenderung menurun drastis. Tahun 1970-an sampai 1990, olahraga Indonesia masih sangat maju, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang beberapa kali menjadi juara umum dalam multi event SEA Games. Namun belakangan, olahraga Indonesia semakin tertinggal dibanding negara-negara tetangga, dan sulit untuk bisa kembali menjadi juara umum pada SEA Games.

Merosotnya prestasi olahraga Indonesia di dunia internasional, berpengaruh juga pada perkembangan olahraga di Jawa Tengah yang kurang prestasi. Terbukti, dalam beberapa kali PON (Pekan Olahraga Nasional) daerah ini belum mampu naik ke peringkat yang lebih baik. Stagnan hanya pada posisi empat dalam perolehan medali. Kalah dengan DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Dalam meningkatkan prestasi olahraga, banyak aspek yang harus diperhatikan. Termasuk di antaranya adalah aspek sarana, prasarana olahraga. Sebagaimana diutarakan oleh Fu o Hidayatullah dala “eminar Nasional dan Workshop Pembelajaran Pe didika Jas a i Olah aga da Kesehata , 20 Nove be 2012 di Hotel Patra Jasa Semarang. Ada delapan masalah sebagai kendala utama yang menjadikan perkembangan olahraga Indonesia kurang prestasi, salah satunya adalah masih terbatasnya sarana dan prasarana olahraga.(http://unnes.ac.id/berita/seminar-nasional-dan-workshop-fik)

Sarana dan prasarana olahraga dalam hal ini bukan hanya lapangan atau gedung olahraga (Sport Center) untuk berlatih dan bertanding, tetapi juga sarana, prasarana pendukung seperti tempat istirahat yang memadai bagi para atlet. Untuk mencapai prestasi seorang atlet harus siap fisik dan psikis. Untuk itu para atlet membutuhkan tempat istirahat yang memadai.

Di Indonesia, belum semua daerah memiliki wisma atlet yang memadai, hanya Sumatera Selatan (Jakabaring, Palembang), DKI Jakarta (Ragunan dan Hotel Atlet Century) dan Kalimantan Timur di Samarinda yang sudah mempunyai wisma atlet memadai. Jawa Tengah sudah memiliki Wisma Atlet di Jatidiri, Karangrejo, Semarang, namun masih kurang memadai karena hanya mampu menampung atlet pelajar Jawa Tengah. Sebaiknya wisma di kompleks olahraga Jatidiri tersebut, bisa menampung atlet-atlet KONI Jawa Tengah dan luar daerah yang sedang mengikuti event atau pertandingan di kompleks olahraga Jatidiri. Saat ini atlet-atlet dari seluruh Indonesia yang berkompetisi di Jawa Tengah terutama di kawasan olahraga Jatidiri harus menginap di hotel-hotel terdekat. Hal ini kurang efisien dalam hal waktu dan biaya.

(2)

Oleh karena itu diperlukan pengembangan Wisma Atlet Jatidiri mengingat kondisi bangunan saat ini kurang memadai dalam segi kualitas dan kapasitas. Dalam segi kualitas dinding bangunan, pencahayaan, bukaan dan sirkulasi udara kamar, kurang tersedianya air dan juga fasilitas penunjang bagi atlet seperti poliklinik, ruang pertemuan, ruang fisik dan lain-lain. Dari segi kapasitas, wisma atlet ini hanya dapat menampung atlet PPLP dan pelatih PPLP Jawa Tengah saja. Sehingga perlu disediakan juga akomodasi bagi atlet yang berkompetisi dan atlet KONI Jawa Tengah yang berlatih di kompleks olahraga Jatidiri Semarang, apalagi pada tahun 2017 mendatang Jawa Tengah menjadi tuan rumah event

POPNAS XIV yang merupakan kompetisi olahraga antar pelajar di Indonesia, dan juga multi event bergengsi lainnya yakni PON Remaja.

Melihat keadaan wisma atlet saat ini, diperlukan suatu perbaikan dan pengembangan desain Wisma Atlet Jatidiri yang sesuai dengan kebutuhan sehingga fungsinya sebagai tempat beristirahat para atlet dapat terpenuhi dan bisa mewadahi seluruh aktifitas penggunanya dengan lebih tepat sasaran dan efektif. Juga perlu dilakukan pengkajian ulang tentang pengguna dan aktivitas apa saja yang ada di wisma atlet. Dalam merencanakan Wisma Atlet Jatidiri ini juga perlu memperhatikan lingkungan sekitar dan tampilan bangunan dalam kompleks. Melihat kondisi lingkungan di kompleks olahraga Jatidiri Semarang yang berunsur alam seperti kontur tanah, vegetasi, air sungai perlu diperhatikan dan dimanfaatkan secukupnya tanpa merusak lingkungan tersebut. Selain itu juga memperhatikan tampilan bangunan agar harmonis dengan bangunan lain dalam kompleks. Untuk itu perencanaan dan perancangan wisma atlet ini menekankan pada konsep desain eko-arsitektur.

1.2 TUJUAN DAN SASARAN 1.2.1 Tujuan

Mendapatkan landasan program perencanaan dan perancangan Wisma Atlet Jatidiri Semarang dengan menganalisa kebutuhan dan besaran ruang serta menggunakan penekanan desain Eko-Arsitektur.

1.2.2 Sasaran

Tersusunnya langkah-langkah kegiatan penyusunan Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) sebagai pedoman dalam membuat program ruang dan desain grafis arsitektur untuk Wisma Atlet Jatidiri Semarang dengan penekanan desain Eko-Arsitektur.

1.3 MANFAAT PEMBAHASAN : 1.3.1. Subyektif

 Sebagai salah satu pemenuhan syarat Tugas Akhir di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

 Sebagai acuan dalam penyusunan perencanaan dan perancangan arsitektur yang merupakan rangkaian dari proses pembuatan Tugas Akhir.

1.3.2. Obyektif

(3)

 Sebagai acuan selanjutnya dalam perancangan Wisma Atlet Jatidiri Semarang dengan Penekanan Desain Eko-Arsitektur.

1.4 RUANG LINGKUP :

Pembahasan mengenai hal yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Wisma Atlet Jatidiri Semarang ditinjau dari pendekatan terhadap aspek-aspek perencanaan, perancangan dan pendekatan desain arsitektur. Hal-hal diluar itu akan dibahas seperlunya, sepanjang masih berkaitan dan dapat mendukung pokok pembahasan.

1.5 METODE PEMBAHASAN

Metode pembahasan yang digunakan adalah kombinasi dari metode deskriptif, metode dokumentatif, dan metode komparatif. Hasil kombinasi tersebut diharapkan dapat diperoleh suatu pendekatan untuk selanjutnya digunakan dalam penyusunan laporan. Adapun penjabaran mengenai metode pembahasan adalah:

1.5.1. Metode Deskriptif

Metode deskriptif merupakan metode pembahasan dengan cara mengumpulkan, menggambarkan, menganalisis, dan menyimpulkan data sehingga diperoleh suatu pendekatan untuk selanjutnya digunakan dalam penyusunan laporan. Dengan metode ini dilakukan penjabaran dan pemaparan tentang perencanaan dan perancangan wisma atlet Jatidiri Semarang dengan penekanan desain Eko-Arsitektur dan studi pustaka melalui buku, jurnal, dokumen, dan bahan tulisan lain yang bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu dilakukan wawancara kepada pihak-pihak yang dianggap penting dan bersangkutan dengan obyek desain guna mendukung penyusunan laporan. 1.5.2. Metode Dokumentatif

Metode dokumentatif dilakukan dengan cara mencari, mengumpulkan data-data/dokumen tentang objek dan kebutuhannya serta mendokumentasikan kegiatan survei atau observasi lapangan ke objek bangunan serupa yang relevan dengan cara pengambilan gambar, pencarian data-data/dokumen objek.

1.5.3. Metode Komparatif

Metode komparatif merupakan metode pembahasan yang dilakukan dengan membandingakan hasil data yang diperoleh dari survei atau observasi lapangan yang relevan dan berpotensi mendukung judul untuk mendapatkan data-data primer.

1.6 SISTEMATIKA PEMBAHASAN :

Laporan ini mempunyai sistematika penulisan : BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, ruang lingkup, metode pembahasan, sistematika pembahasan, dan alur pikir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(4)

BAB III TINJAUAN LOKASI

Mengenai tinjauan umum lokasi, kebijakan tata ruang wilayah, data-data pendukung tentang perlunya Wisma Atlet jatidiri semarang, dan perkembangan objek pembahasan di lokasi.

BAB IV PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

Berisi tentang pendekatan untuk menentukan kapasitas, ruang, dan tapak Wisma Atlet.

(5)

ALUR PIKIR

Metode Pembahasan berupa alur pikir/kerangka pemikiran yang bersifat sebagai acuan untuk memudahkan pembahasan. Bagan dibawah ini menunjukan tahapan alur pikir, hubungan antara teori, keadaan eksisting/aktualita dan permasalahan.

Bagan 1.1. Alur Pikir (Sumber: Analisa Pribadi, 2016) LATAR BELAKANG

Aktualita

 Di Indonesia khususnya Jawa Tengah perkembangan olahraga berjalan lambat bahkan mengalami kemunduran hal ini dikarenakan kendala –kendala dalam pembinaan salah satunya adalah ketersediaan dan kualitas sarana prasarana olahraga yang kurang karena sarana dan prasarana olahraga yang representatif akan meningkatkan prestasi atlet

 Keberadaan wisma atlet di kompleks olahraga Jatidiri ini belum memadai dalam segi kualitas dan kuantitas bangunan. Salah satunya karena kurangnya kualitas kamar dan fasilitas pendukung bagi atlet

 Kondisi asrama atlet di komplek olahraga Jatidiri masih memprihatinkan menurut Gubernur Jawa Tengah, H Ganjar Pranowo SH MIP, Contohnya adalah kamar yang kondisi udaranya sangat pengap karena kurangnya sirkulasi udara. Selain itu, tidak tersedianya meja belajar untuk atlet, dan kondisi tempat tidur yang belum bagus.

 Pemprov Jateng mulai merencanakan revitalisasi kompleks olahraga Jatidiri termasuk didalamnya wisma atlet guna menjadi Tuan Rumah POPNAS XIV tahun 2017

Urgensi

Dibutuhkan pengembangan wisma atlet Jatidiri Semarang yang sesuai dengan kebutuhan jumlah atlet Jawa Tengah saat ini dan mendatang dengan fasilitas dan ruang kamar yang memadai untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah event olahraga nasional (POPNAS, PEPARPENAS dan PON Remaja tahun 2017)

Originalitas

Merencanakan dan merancang wisma atlet Jatidiri Semarang yang sesuai kebutuhan kapasitas, hemat energi, berkelanjutan dengan penekanan desain eko-arsitektur dan memenuhi kaidah aspek perencanaan dan perancangan arsitektur.

PERMASALAHAN

Bagaimana merencanakan dan merancang wisma atlet Jatidiri Semarang yang tepusat, dan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas, sehingga fungsinya sebagai tempat beristirahat atlet provinsi Jawa Tengah tersebut bisa mewadahi seluruh aktifitas atlet dengan lebih tepat sasaran, efektif., nyaman dan hemat energi dengan penekanan desain eko-arsitektur?

TINJAUAN PUSTAKA

(Studi Literatur, Wawancara, Surfing Internet)

Tinjauan Wisma Atlet

Tinjauan Penekanan Desain Eko-Arsitektur

Studi Banding (Incheon Asiad Athlete Village, London Athlete Villages, Wisma Atlet Jakabaring)

Studi Banding Lokasi (Wisma Atlet Ragunan) TINJAUAN LOKASI

KONSEP DASAR, PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Berisi program dasar perencanaan dan perancangan yang akan menjadi acuan dalam proses desain grafis. PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Analisa terhadap pendekatan aspek-aspek perencanaan dan perancangan yang digunakan Redesain Wisma Atlet Jatidiri Semarang, meliputi: EVALUASI KONDISI KOMPLEKS OLAHRAGA JATIDIRI

Referensi

Dokumen terkait

Adapun alasan pemilihan rencana tempat-tempat penelitian ini adalah dikarenakan memiliki kriteria yang sama yakni sebagai ruang tinggal atlet (karakterisitik sama dengan kelas

Proyek tugas akhir ini merencanakan dan merancang Pasar Tulung sebagai sebuah destinasi pariwisata yang beorientasi pada alam dengan pendekatan arsitektur biophilic yang

Metode yang digunakan dalam penyusunan Landasan Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) Hunian Bertingkat Lansia Modern di Jakarta Selatan dengan penekanan..

Tujuan dari penyusunan landasan program perencanaan dan perancangan Arsitektur (LP3A) ini adalah Memperoleh dasar – dasar dalam merencanakan dan merancang City

Persamaan pada tugas akhir ini adalah sama-sama menggunakan pendekatan arsitektur ekologis sebagai penekanan disain, dan sama-sama merancang desa (tugas akhir yang

Adapun maksud dari perancangan Wisma Atlet Senayan ini adalah untuk menyediakan hunian atau tempat tinggal yang layak untuk para atlet dengan pengolahan layout ruang yang

2.1.2 Sasaran Pembahasan Proposal untuk pengembangan dasar perancangan dan perencanaan Pasar Sayung Modern di Kabupaten Demak menjadi Pasar Modern dengan penekanan Arsitektur Modern

Aspek Persoalan Perancangan Terdapat beberapa masalah ditinjau dari aspek perancangan yaitu penerapan Arsitektur Minimais, yaitu bagaimana merancang sebuah apartemen dengan desain