• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iman Mendasari Aktivitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Iman Mendasari Aktivitas"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Iman Mendasari Aktivitas M. MUCHLAS ABROR

Muhammadiyah adalah Gerakan Islam. Segenap warga dan Pimpinaan Persyarikatan mestilah beragama Islam. Dengan demikian, kita, warga dan Pimpinan Persyarikatan, adalah orang-orang yang beriman. Keimanan kita harus senantiasa dijaga, dipelihara, ditingkatkan, dan ditajdidkan. Karena, I,am itu fluktuatif, mengenal pasang dan surut, dapat naik dan turun, bisa bertambah dan berkurang.

Pengajian aanggota dan pimpinan Muhammadiyah mempunyai arti dan kedudukan penting. Karena itu, pengajian dalam Muhammadiyah harus ditumbuhkembangkan, dihidupsuburkan, dan ditingkatkan. Melalui pengajian yang diselenggarakan secara baik, kita menjadi faham tentang Islam, mengamalkan, mendakwahkan, dan membelanya. Setelah menghadiri atau mengikuti pengajian, iman pada diri kita terasa naik dan bertambah, tidak turun dan berkurang. Dalam pengajian itu pula, kita memperoleh berbagai informasi dan bermacam bekal berharga sehingga baik sebagai warga maupun Pimpinaan Persyarikatan kita semoga dapat melaksanakan tuagas masing-masing di tengah masyarakat dengan baik dan bertanggung jawab.

Setelah kembali paada fitrah atau kesucian, mari pengajian dalam Muhammadiyah kita gerakkan kembali. Suasana yang kondusif itu selain harus kita jaga supaya lestari, juga merupakan momentum baik yang harus diisi dan dimanfaatkan. Suasana dan momentum itu merupakan tanah yang subur untuk menanamkan menerimaa keimanan. Siapa yang dapat menanam bibit selagi tanah masih subur, ia akan menuai hasil keuntungan yang besar.

Dalam tahun ini, kita masih berada dan menghadapi kehhidupan yang belum menggembirakan dan menentramkan. Dalam kondisi seperti ini, kita sangat perlu memiliki keimanan yang mantap kepada Allah, kepada risalah-Nya, dan kepada hari Akhirat. Keimanan yang mantap akan memberi sinar dan cahaya terang bagi kita dalam menempuh perjalanan hidup sehingga selamat dan tidak tersesat. Sebab, iman pada diri kita membentuk dua kesadaran, yaitu: pertama, percaya kepada hari Akhirat yang mengharuskan kita untuk mempertanggungjawabkan hayat kita selagi di dunia; kedua, kesadaran yang mengharuskan kita menjadikan seluruh hidup dan kehidupan semata-mata untuk beribadah hanya kepada Allah dan beramal shalih dengan mengharapkan keridhaan-Nya belaka.

Sesungguhnya iman bukan hanya penting agar kita bisa selamat dari neraka dan masuk surga. Iman juga penting untuk dua kehidupan sekaligus. Kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Maka, siapa yang meninginkan akhirat, ia harus memiliki iman dan siapa yang menginginkan dunia, wajib baginya memiliki iman. Dengan demikian, siapa yang menginginkan keduanya wajib baginya untuk memiliki iman.

Keimanan itu sangat penting bagi individu dan masyarakat. Siapa yang beriman, ia akan merasa tenang, damai, dan bahagia. Demikian pula bagi masyarakat yang beriman, keimanannya itu akan menggerakkan orang-orang yang ada di dalamnya untuk bersatu, bersaudara, saling menolong, saling menepati dan menetapi hak dan kewajiban, dan dalam pergaulan antar warga yang tua dihormati dan yang muda disayangi.

Iman itu sangat penting pula untuk pendidikan hawa nafsu lawwamah. Ia penting untuk membina kalbu yang hidup. Ia penting untuk menguatkan motivasi dalam menghadapi dorongan hawa nafsu. Ia penting untuk menjadi senjata hidup, membangkitkan semangat melakukan kebaikan dan mengubur kecenderungan untuk berbuat jahat. Bahkan lebih dari itu, iman juga akan melipatgandakan kekuatan untuk bekerja dan membangun.

Dari keimanan yang tumbuh subur itu akan melahirkan amal shalih, membentuk akhlak mulia lagi terpuji, mewariskan pembangunan sarana prasarana kehidupan, dan memberikan manfaat kepada manusia. Dari suara iman yang terdengar nyaring dari dalam diri, manusia akan memiliki keyakinan mantap yang menyandarkan ketakwaan pada Allah, yang menyandarkan pada harapan dan rahmat-Nya, serta rasa takut pada siksa-Nya.

Apabila suara iman dari dalam diri manusia melemah dan sunyi, sepi, maka melemah dan sunyi sepilah suara moral dan nilai-nilai kebaikan. Yang mengemuka adalah syahwat dan kekejian. Yang menguat adalah duara yang mengajak pada perilaku hedonis. Itulah yang sekarang sedang terjadi.

Melihat menurun dan merosotnya akhlak mulia yang makin meluas dan membiarkan, apalagi memberi kesempatan. Kita harus berbuat mencegah kemunkaran.

Muhammadiyah, dalam hal ini para anggota dan pimpinannya, dalam berkiprah di tengah masyarakat harus mendasari segenap aktivitasnya dengan iman kepada Allah. Benarnya keyakinan itu akan memancarkan amal shalih dalam ibadah, mu’amalah, dan akhlak. Amal shalih itu merupakan terjemah dan bukti iman. Suatu amalan tidak akan menjadi shalih, baik dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, maupun perilaku, kecuali apabilaa ikhlas karena Allah.

Referensi

Dokumen terkait

dunia tidak terlepas dari tantangan, baik yang bersifat membangun atau memotivasi maupun yang menghambat. Oleh sebab itu, perlunya kesadaran dari kita semua untuk memperdalam

Pengharapan adalah sauh (jangkar) yang kuat bagi jiwa kita. Dengan pengharapan dan iman, orang percaya tetap menanti kedatangan Yesus Kristus. Sebab Dia akan datang untuk

Menurut istilah iman kepada kitab Allah adalah sikap percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan kita- kitabNya kepada para rasul dan nabinya untuk dijadikan

Pnt : Saudaraku, dengan terus meyakini bahwa Kristus telah melakukan karya bagi keselamatan dunia ini, maka mari kita mengakui iman percaya kita, dengan mengatakan