Daftar Gambar ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
. LATAR BELAKANG ... . TUJUAN DAN SASARAN... . LANDASAN (UKUM ...
BAB II KERANGKA KONSEPTUAL KERANGKA
PENGELUARAN JANGKA MENENGAH ... 5
. KERANGKA KONSEPTUAL KPJM... . PR)NS)P KERJA KPJM...
BAB III PENERAPAN KERANGKA
PENGELUARAN JANGKA MENENGAH DI INDONESIA .... 10
. KERANGKA KPJM ... . )LUSTRAS) KPJM... . CARA KERJA KPJM ... . TA(APAN PENERAPAN KPJM ...
BAB IV LANGKAH AWAL PENERAPAN KPJM ... 22
. PERS)APAN PENERAPAN KPJM... . METODOLOG) PENG()TUNGAN KPJM...
. LANGKA( AWAL PENERAPAN KPJM... . MEKAN)SME PENGALOKAS)AN ANGGARAN... . PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN KPJM...
Gambar . Kerangka KPJM di )ndonesia... Gambar . )lustrasi KPJM... Gambar . Cara Kerja KPJM... Gambar . Tahapan Penerapan KPJM... Gambar . Contoh Parameter‐Parameter Ekonomi ... Gambar . Pengalokasian Anggaran sesuai dengan KPJM... Gambar . Metodologi Penghitungan KPJM... Gambar . Penerapan KPJM... Gambar . Contoh Perhitungan Kegiatan Generik... 9 ambar . Contoh Kegiatan Teknis Fungsional ... ambar . Contoh Kegiatan Prioritas Nasional... G
G
Bab ) Pendahuluan|
nol (zero based budgeting), dan
3. penerapan KPJM pada saat ini baru sebatas mencantumkan
prakiraan maju tiga tahun ke depan, namun belum ada metodologi untuk memberikan justifikasi bahwa prakiraan maju
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Dalam rangka memantapkan tahapan reformasi pengelolaan keuangan negara menuju ke level yang lebih tinggi yaitu fokus pada pencapaian kinerja dan pelimpahan kewenangan sesuai dengan amanat UU dan juga telah dinyatakan dalam nota keuangan dan RAPBN tahun anggaran 9, maka Pemerintah Republik )ndonesia telah berkomitmen untuk melaksanakan pilot project penganggaran berbasis kinerja dengan perspektif jangka menengah terhadap enam kementerian negara/lembaga sebagai tahapan awal pada tahun 9.
Pemantapan reformasi pengelolaan keuangan negara dengan fokus pada pencapaikan kinerja ini dilaksanakan dalam rangka meminimalisir beberapa kelemahan dalam sistem berjalan antara lain:
1. implementasi penganggaran berbasis kinerja dan penganggaran
dalam kerangka jangka menengah selama tahun ini belum mencapai hasil yang optimal karena tidak ada keterkaitan antara dokumen perencanaan dan dokumen anggaran,
2. kebijakan prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah melalui
Bab ) Pendahuluan|
yang dicantumkan tersebut merupakan indikasi awal pendanaan tahun berikutnya.
Untuk itu, langkah awal serangkaian penyempurnaan yang akan dilakukan terhadap kementerian negara/lembaga tersebut adalah melakukan restrukturisasi program dan kegiatan. Restrukturisasi program dan kegiatan merupakan salah satu titik kritis (critical point) yang perlu dilakukan karena pada dasarnya program dan kegiatan merupakan perwujudan dari kebijakan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah dan akan dibiayai oleh dana publik melalui mekanisme anggaran.
Di samping itu, untuk memperkuat keterkaitan antara kebijakan dan alokasi anggarannya maka penyusunan anggaran tahunan seharusnya menggunakan paradigma baru dalam proses penyusunan penganggaran yaitu penganggaran yang lebih berorientasi pada hasil output dan outcome dengan menggunakan prinsip kerangka pengeluaran jangka menengah dan money follows function. Pola penganggaran yang selama ini menggunakan ”zero based budgeting” berubah menjadi ”rolling budget” dengan mengacu pada perhitungan baseline. Melalui penerapan pola ”rolling budget” diharapkan waktu yang tersedia akan lebih banyak didedikasikan untuk membahas program/kegiatan baru sehingga dapat meningkatkan kualitas perencanaan. Perubahan paradigma penganggaran yang berorientasi pada hasil ini akan dilaksanakan secara serentak untuk seluruh KL mulai Tahun dan diharapkan akan memberikan dampak secara signifikan dalam implementasi pengeluaran negara secara lebih efektif dan efisien.
1.2
TUJUAN
DAN
SASARAN
Bab ) Pendahuluan|
LANDASAN
HUKUM
Landasan hukum penerapan KPJM dalam sistem penganggaran di )ndonesia adalah UU No. Tahun tentang Keuangan Negara dan PP No. Tahun tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga RKA‐KL . Di samping itu, sebagai petunjuk teknis dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga maka KPJM juga
1. Transparansi alokasi sumber daya anggaran yang lebih baik
ienc (allocative effic y);
2. Meningkatkan kualitas perencanaan penganggaran (to improve
quality of planning);
3. Fokus yang lebih baik terhadap kebijakan prioritas (best policy
option);
4. Meningkatkan disiplin fiskal (fiscal dicipline); dan
ja ya
5. Men min adan kesinambungan fiskal (fiscal sustainability).
Dalam proyeksi penganggaran jangka menengah, tingkat ketidakpastian ketersediaan alokasi anggaran di masa mendatang dapat dikurangi, baik dari sisi penyediaan kebutuhan dana untuk membiayai pelaksanaan berbagai inisiatif kebijakan prioritas baru maupun untuk terjaminnya keberlangsungan kebijakan prioritas yang tengah berjalan ongoing policies), sehingga pendisain kebijakan dapat menyajikan perencanaan penganggaran yang berorientasi kepada pencapaian sasaran secara utuh, komprehensif dan dalam konteks yang tepat, sesuai dengan kerangka perencanaan kebijakan yang telah ditetapkan.
Dengan memusatkan perhatian pada kebijakan‐kebijakan prioritas yang dapat dibiayai, tercapainya disiplin fiskal, yang merupakan kunci bagi efektivitas penggunaan sumber daya publik, diharapkan akuntabilitas pemerintah dalam penyelenggaraan kebijakan fiskal secara makro dapat tercapai.
Bab ) Pendahuluan|
Bab )) Kerangka Konseptual KPJM |
ggaran rgulir rolling dget)
Paradigma sistem penganggaran bergulir (rolling budget) merupakan paradigma baru penganggaran untuk memperbaiki sistem penganggaran zero based yang mengabaikan alokasi anggaran tahun sebelumnya (historical budgetary allocations) yang mengidentifikasi kembali biaya‐biaya yang diperlukan bagi implementasi program dan kegiatan yang telah disetujui. Penerapan paradigma rolling budget dengan baik mempersyaratkan kebijakan sebagai basis utama (policy driven) dalam proses penganggaran (budget alignment). Desain kebijakan yang disusun harus dapat memberikan informasi yang jelas, khususnya menyangkut target
BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL
KERANGKA PENGELUARAN
JANGKA MENENGAH
2.1
Kerangka
Konseptual
KPJM
Untuk menerapkan KPJM dengan baik, maka perlu memahami kerangka konseptual KPJM yang meliputi:
1. Penerapan sistem anggaran bergulir rolling budget); 2. Adanya angka dasar Baseline);
3. Penetapan Parameter;
4. Adanya mekanisme penyesuaian angka dasar; dan
5. Adanya mekanisme untuk pengajuan usulan dalam rangka
tambahan anggaran bagi kebijakan baru additional budget for new initiatives .
Bab )) Kerangka Konseptual KPJM |
rencana penyelesaian kebijakan (policy accomplishment indicator) yang jelas sehingga dampak anggaran yang dibutuhkan melebihi
hun angg ran dapat diproyeksikan secara baik.
satu ta a
Angka dasar (b selinea )
Angka dasar baseline) merupakan jumlah total biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kebijakan Pemerintah pada saat tahun anggaran berjalan dan tahun‐tahun anggaran berikutnya sesuai dengan target waktu penyelesaian kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Misalnya kebijakan pembentukan kantor pajak modern akan dilaksanakan oleh pemerintah khususnya Departemen Keuangan dalam jangka waktu tahun, mulai tahun – . Untuk itu, Departemen Keuangan harus menghitung biaya‐biaya yang diperlukan untuk implementasi kebijakan modernisasi kantor
n , 9, dan .
pajak untuk tahu
Penetapan angka dasar (baseline)
Untuk menetapkan angka dasar masing‐masing kebijakan publik yang akan dilaksanakan harus memperhatikan hal‐hal sebagai berikut:
1. Penetapan kebijakan‐kebijakan yang akan dilanjutkan pada
tahun‐tahun mendatang, dengan indikator penyelesaian yang ator .
jelas Policy Accomplishment Indic
2. Penetapan besaran angka dasar (baseline) kebijakan ini harus
memperhatikan prinsip penghitungan secara keseluruhan (full costing) sehingga pada saat implementasi kebijakan dapat memenuhi seluruh kebutuhan pendanaannya, yang meliputi identifikasi hal‐hal sebagai berikut:
• Biaya tetap dan biaya variabel.
Bab )) Kerangka Konseptual KPJM |
• )tem dan volume biaya input untuk tahun anggaran yang bersangkutan dan tahun‐tahun berikutnya
• Parameter‐parameter ekonomi dan nonekonomi yang berpengaruh terhadap harga‐harga untuk tahun‐tahun berikutnya.
Parameter (assumption)
Parameter adalah nilai‐nilai yang digunakan sebagai acuan. Nilai‐ nilai tersebut dapat berupa keterangan atau informasi yang dapat menjelaskan batas‐batas atau bagian‐bagian tertentu dari suatu sistem. Agar dapat menerapkan KPJM secara efektif maka perlu dilakukan identifikasi terhadap parameter‐parameter yang mempengaruhi proyeksi penghitungan pendanaan pada masa yang akan datang baik berupa parameter ekonomi maupun parameter nonekonomi.
Mekanisme penyesuaian angka dasar (baseline adjustment)
Penyesuaian terhadap angka dasar (baseline) sangat diperlukan bagi kesinambungan implementasi kebijakan yang ditetapkan untuk dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya. Mekanisme penyesuaian ini dilakukan dengan menggunakan parameter‐ parameter yang telah ditetapkan baik parameter ekonomi maupun nonekonomi.
- Parameter ekonomi terkait erat dengan identifikasi biaya‐biaya
harga bagi implementasi sebuah kebijakan yang harus disesuaikan dengan proyeksi kondisi ekonomi pada masa yang akan datang. Misalnya tingkat biaya‐biaya harga kebijakan harus disesuaikan dengan proyeksi tingkat inflasi.
Bab )) Kerangka Konseptual KPJM |
penerima manfaat kebijakan (beneficieris) sebesar %, maka angka dasar (baseline) harus disesuaikan.
Mekanisme pengajuan usulan anggaran bagi kebijakan baru (new policy proposals)
Pengajuan usulan anggaran untuk kebijakan baru harus diatur untuk memberikan kepastian mekanisme dan prosedural bagi para pihak yang berkepentingan. Usulan anggaran bagi kebijakan baru diajukan setelah diketahui terdapat sisa ruang fiskal (fiscal space) berdasarkan penghitungan terhadap proyeksi sumber daya anggaran yang tersedia (resources availibility) dikurangi dengan kebutuhan angka dasar (baseline) anggaran bagi implementasi kebutuhan dasar, layanan birokrasi/publik dalam kerangka pelaksanaan tugas dan fungsinya dan hasil evaluasi yang menetapkan sebuah kebijakan tetap dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya.
Mekanisme pengajuan usulan kebijakan baru disampaikan kepada Menteri Keuangan dan Bappenas setelah menteri Keuangan melakukan perhitungan sumberdaya anggaran (exercise resources envelop) dan melakukan penyesuaian angka dasar baseline adjustment).
2.2
Prinsip
Kerja
KPJM
Kerangka kerja KPJM yang efektif pada dasarnya terdiri atas tiga komponen penting, meliputi hal‐hal sebagai berikut:
1. Pendekatan TopDown dalam menentukan besaran sumber daya
anggaran resource envelope yang berperan sebagai batas pendanaan tertinggi hard budget constraint bagi setiap institusi/sektor pemerintahan.
2. Pendekatan BottomUp dalam melakukan estimasi kebutuhan
Bab )) Kerangka Konseptual KPJM | 9
ini maupun dalam jangka menengah, untuk membiayai kebijakan yang tengah dilakukan saat ini dan akan terus dilaksanakan beberapa tahun kedepan sesuai dengan amanat perencanaan yang telah diputuskan.
3. Kerangka kerja anggaran yang menghasilkan kesesuaian antara
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
BAB III
PENERAPAN KERANGKA
PENGELUARAN JANGKA
MENENGAH DI INDONESIA
3.1
Kerangka
KPJM
Secara umum kerangka kerja KPJM di )ndonesia didasarkan pada UU No. Tahun tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No. Tahun tentang Keuangan Negara. Dalam UU Tahun tersebut telah diatur mengenai mekanisme penyusunan rencana kerja nasional baik yang bersifat jangka panjang tahunan , jangka menengah tahunan maupun jangka pendek tahunan .
Gambar . Kerangka KPJM di )ndonesia
KAJM
APBN
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
dalam kerangka anggaran jangka menengah maupun rencana kerja jangka pendek dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
3.2
Ilustrasi
KPJM
Agar dapat memahami KPJM secara komprehensif maka dapat diberikan gambaran mengenai KPJM sebagai berikut.
Gambar . )lustrasi KPJM
Pada intinya KPJM adalah alat yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dalam memotret implikasi kebijakan yang disusun dan ditetapkan terhadap dampak anggaran yang akan ditimbulkan pada tahun‐tahun anggaran berikutnya. Misalnya pada tahun pemerintah menetapkan kebijakan A untuk dilaksanakan dan direncanakan untuk dilanjutkan beberapa tahun kedepan. Setelah APBN ditetapkan maka besarnya alokasi anggaran untuk kebijakan A tersebut dijadikan sebagai baseline kebijakan dan indikasi pendanaannya untuk tahun ke depan, yaitu tahun ,
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
3.3
Cara
K
erja
KPJM
KPJM adalah proyeksi berdasarkan baseline untuk seluruh penerimaan dan pengeluaran selama tiga tahun yang melampui anggaran tahun berikutnya. Setelah anggaran ditetapkan, tahun pertama dari prakiraan maju menjadi dasar bagi anggaran tahun berikutnya, dan ditambahkan satu tahun lagi dalam prakiraan maju.
. Cara Kerja KPJM Gambar
TA dan KPJM –
2010 APBN 2011 Prakiraan Maj u 2012 Prakiraan Maj u 2013 Prakiraan Maj u
t 0 t + 1 t + 2 t + 2
TA dan KPJM –
2010 Realisasi 2011 APBN 2012 Prakiraan Maj u 2013 Prakiraan Maj u 2014 Prakiraan Maj u
t – 1 t 0 t + 1 t + 2 t + 3
TA dan KPJM –
2010 Realisasi 2011 Realisasi 2012 APBN 2013 Prakiraan Maj u 2014 Prakiraan Maj u 2015 Prakiraan Maj u
t – 2 t – 1 t 0 t + 1 t + 2 t + 3
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
baru ataupun penyesuaian‐penyesuaian lain seperti standar biaya baru atau indeks volume yang akan dipergunakan maka prakiraan maju tersebut ditetapkan sebagai alokasi anggarannya. Prakiraan maju hanya menghitung biaya‐biaya dari seluruh program yang berjalan tetapi tidak termasuk pengeluaran tambahan untuk program‐program baru pada tahun anggaran berikutnya atau perluasan program karena kebijakan pemerintah.
3.4
Tahapan
Penerapan
KPJM
Untuk menerapkan KPJM sesuai dengan kerangka konseptual dan kerangka kerja KPJM, maka diperlukan tahapan implementasi KPJM secara operasional. Secara umum, implementasi sistem penganggaran dalam KPJM secara operasional memerlukan tahapan‐tahapan yang sistematis dan bersifat runtut (sequential), meliputi:
jalan . Evaluasi Kebijakan ber
. Penyusunan Prioritas
. Proses Penganggaran
r . Penetapan baseline angga an
. Penetapan Parameter / indikator yang akan mempengaruhi besaran alokasi
. Penetapan tiga tahun prakiraan maju
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
Gambar . Tahapan Penerapan KPJM
Evaluasi kebijakan berjalan
Evaluasi kebijakan merupakan prasyarat mutlak bagi implementasi KPJM. (al ini terkait erat dengan penerapan paradigma rolling budget. Rolling budget dapat diimplementasikan dengan baik jika dalam proses perencanaan terdapat mekanisme untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang telah ditetapkan untuk mengetahui apakah pada tahun anggaran selanjutnya masih tetap dilaksanakan atau dihentikan.
ndonesia | Bab ))) Penerapan KPJM di )
mewujudkan pencapaian outcome secara nasional.
Untuk melaksanakan penilaian dan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah, maka pemerintah dapat menggunakan metodologi evaluasi sebagai berikut:
1. Fokus pada kebijakan dengan alokasi anggaran yang sangat
besar, bersifat sensitif, kompleks, dan mengandung risiko yang besar;
2. Kewajaran Appropriatness
Menilai apakah kebijakan dimaksud telah didukung lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi unit
intah yang melaksanakan; kerja pemer
3. Efektivitas
Menilai bagaimana rencana disusun dan penggunaan dana yang telah dialokasikan untuk menghasilkan output serta mencapai
ecara riil; outcome s
4. Efisiensi
Menilai berapa besar anggaran yang digunakan untuk menghasilkan output dengan memperhatikan kualitas output
ilkan. yang dihas
5. )ntegrasi
Bagaimana menilai penciptaan sinergi dalam menyatukan berbagai program dan kegiatan yang mendukung pelaksanaan
. kebijakan tersebut
6. Penilaian Kinerja
Mempertimbangkan realisasi pencapaian kinerja dibandingkan dengan rencana yang ditetapkan dan menganalisis faktor‐faktor yang terkait.
7. Penyelarasan dengan Kebijakan Strategis (Strategic Policy
Alignment)
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
quasi‐experimental evaluation
Metode evaluasi ini menyediakan bukti yang valid dan dapat diandalkan mengenai keefektifan relatif sebuah intervensi kebijakan dibandingkan dengan intervensi kebijakan lainnya
1. Evaluasi berba is teo Theory‐based evaluation s ri
Evaluasi ini fokus pada logika sekuensial dimana sebuah intervensi kebijakan diharapkan dapat memberikan sebuah tahapan efek yang diinginkan. Di samping itu, evaluasi ini juga berusaha untuk mengidentifikasi mekanisme bagaimana sebuah kebijakan/program‐program dapat menghasilkan sebuah dampak positif seperti yang diinginkan oleh perencana kebijakan
policy planner .
2. Evaluasi berdasarkan tujuan (Goalsbased evaluation)
Evaluasi ini merupakan evaluasi yang paling sering mengemuka dalam menilai tingkat keberhasilan sebuah kebijakan publik public policy effectiveness , yaitu menanyakan/memonitor apakah outcome dampak positif yang diharapkan dari sebuah/beberapa inisiatif kebijakan pemerintah telah dapat dicapai. Pada dasarnya evaluasi ini secara sederhana mengukur apakah tujuan‐tujuan dan target‐target yang ditetapkan oleh pembuat kebijakan dapat dicapai melalui sebuah atau beberapa parameter tertentu. Misalnya: meningkatkan kemampuan baca
icapai. dan tulis anak‐anak dan dewasa telah d
3. Evaluasi bebas Goals‐free evaluation
Pembuat kebijakan dan evaluator biasanya tertarik terhadap konsekuensi atau outcome kebijakan/program/kegiatan yang tidak diharapkan. Outcome yang tidak diharapkan ini kemungkinan juga menghasilkan manfaat atau justru berdampak negatif. Metode evaluasi ini fokus pada pencapaian efek yang aktual atau outcome kebijakan/program/kegiatan tanpa perlu mengetahui apakah tujuan yang diharapkan telah dicapai.
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
kepentingan.
Terdapat beberapa jenis penilaian ekonomi dan evaluasi ekonomi yang berbeda. Tipe yang paling sederhana adalah penilaian dan evaluasi biaya, yaitu secara sederhana membandingkan antara biaya dari kebijakan‐kebijakan yang berbeda tanpa mempertimbangkan hasil pencapaian outcome. Kelemahannya adalah sangat sedikit informasi mengenai keefektifan relatif atau keuntungan dari kebijakan‐kebijakan yang berbeda. Tipe penilaian dan evaluasi ekonomi lainnya yang atau dibandingkan jika tidak ada intervensi kebijakan. Di samping itu, metode ini juga menyediakan bukti yang tepat mengenai pertanyaan‐pertanyaan seperti apakah penyediaan jasa konsultasi untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah lebih efektif atau kurang efektif dibandingkan dengan misalnya menyediakan training keterampilan atau tidak melakukan apapun.
5. Evaluasi Kualitatif Qualitative evaluation
Metode ini dibuat untuk mempelajari isu‐isu yang dipilih secara mendalam dan mendetail. Kedalaman analisis dan tingkat kedetailan tinggi sangat diperlukan untuk menentukan pertanyaan‐pertanyaan yang tepat dalam melakukan evaluasi dan untuk mengidentifikasi kondisi situasional dan kontekstual, di mana kebijakan/program/kegiatan yang telah dilaksanakan menghasilkan suatu parameter tertentu yang akan menunjukkan secara jelas tingkat keberhasilan/dampak positif yang dihasilkan atau justru gagal untuk mencapai tujuan yang didisain untuk dicapai.
6. Penilaian dan evaluasi ekonomi Economic appraisal and
evaluation
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
berguna bagi pembuatan keputusan, misalnya analisis biaya‐ keefektifan costeffectiveness analysis dan analisis biaya‐ manfaat cost –benefit analysis .
- Costeffectiveness analysis membandingkan biaya‐biaya yang berbeda meliputi biaya‐biaya dalam mencapai target yang diberikan. Sementara costbenefit analysis mempertimbangkan manfaat yang berbeda yang dapat diperoleh dengan pengeluaran sumber daya tertentu. Analisis ini juga mempertimbangkan alternatif‐alternatif penggunaan sumber daya atau biaya kesempatan yang hilang opportunity cost dalam melaksanakan
program/kegiatan dibandingkan dengan
program/kegiatan lainnya.
- Penilaian ekonomi lainnya yang dapat digunakan adalah analisis biaya utilitas cost utility analysis yaitu menilai kegunaan dari outcome‐outcome yang berbeda bagi pengguna yang berbeda dan konsumen dari kebijakan
pelayanan yang diberikan. atau
Penyusunan rioritas P
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia | 9
an Parameter
Parameter adalah variabel ekonomi atau spesifik terkait program dimana pengelola/pelaksana operasional kebijakan & pemerintah Untuk keperluan itu, maka pada tahapan ini hal yang paling penting dilakukan oleh pemerintah adalah menyusun sebuah daftar prioritas kebijakan‐kebijakan yang akan dilaksanakan agar dalam proses berikutnya Pemerintah, dalam hal ini adalah Menteri Keuangan sebagai otoritas fiskal, dapat melakukan penghitungan alokasi pendanaan yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan sumber daya
tersedia (resources availability). anggaran yang
Proses Penganggaran
Dalam tahapan ketiga ini, akan dilakukan proses penghitungan alokasi pendanaan masing‐masing kebijakan berdasarkan daftar prioritas kebijakan yang ada sesuai dengan sumber daya anggaran yang tersedia. Proses penganggaran akan dilaksanakan dengan mempe mbangkan h hal sebaga erikut: rti al‐ i b
1. Jika merupakan kebijakan lanjutan maka identifikasi
pendanaannya menggunakan asumsi pendanaan tahun sebelumnya ditambah dengan penyesuaian‐penyesuaian terhadap parameter‐parameter yang ada.
2. Jika merupakan kebijakan baru maka identifikasi pendanaannya
menggunakan metodologi penilaian kebutuhan (need assesment) ian ekonomi (economic appraisal).
dan penila
Penetapan Baseline
Yang dimaksud dengan Baseline dalam konteks ini adalah seluruh biaya yang ditimbulkan untuk melaksanakan kebijakan Pemerintah pada saat Tahun Anggaran ini dan tahun‐tahun berikutnya dalam jangka menengah. Untuk itu pemerintah akan menetapkan baseline berdasarkan penjumlahan antara pendanaan kegiatan berjalan dan
usulan kegiatan baru. pendanaan atas
) P KPJ
tidak memiliki kendali untuk mempengaruhi harga atau biaya dari keluaran. Dalam rangka menetapkan angka‐angka untuk prakiraan maju (forward estimate) digunakan jenis parameter, yaitu parameter ekonomi dan parameter nonekonomi. Kesepakatan dibutuhkan untuk menghasilkan dan mengaplikasikan perkiraan parameter untuk prakiraan maju. Pada dasarnya penetapan parameter ini akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan resources envelope yang merupakan estimasi topdown mengenai ketersediaan sumber daya untuk pengeluaran publik yang konsisten dengan stabilitas makro‐fiskal.
Gambar 3.5 Contoh ParameterParameter Ekonomi
Sumber: Data Pokok APBN
Di samping itu hal yang sangat penting adalah penyesuaian tersebut dilakukan pada Prakiraan Maju, jika tidak maka pendanaan yang disediakan tidak akan mencukupi untuk melaksanakan program
pemerintah. sesuai dengan yang direncanakan oleh
Penetap k
Bab )) enerapan M di )ndonesia |
an Pra iraan Maju Tahun Anggaran
Bab ))) Penerapan KPJM di )ndonesia |
mempertimbangkan kondisi dan lingkungan makroekonomi nasional yang begitu dinamis, akan relatif sulit untuk menyajikan indikasi ketersediaan sumber daya anggaran (resource envelope) yang relatif akurat sebagai indikasi pendanaan jangka menengah.
Langkah Awal Penerapan KPJM | Bab )V
tugas dan fungsinya.
- belanja yang terdapat dalam kegiatan yang bersifat penugasan yaitu kegiatan prioritas nasional dan prioritas kementerian negara/lembaga.
BAB IV
LANGKAH AWAL PENERAPAN
KPJM
4.1
Persiapan
Penerapan
KPJM
Dalam rangka penerapan KPJM untuk kementerian negara/lembaga seiring dengan pelaksanaan restrukturisasi program/kegiatan dan penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja, maka pengeluaran/belanja akan dibedakan menjadi kelompok besar, yaitu:
1. Pengeluaran/belanja yang ditetapkan sebagai anggaran belanja
dasar (fixed cost).
Termasuk dalam kelompok belanja jenis ini adalah belanja yang terdapat dalam komponen anggaran belanja dasar. Komponen anggaran belanja dasar meliputi:
- Gaji dan Tunjangan.
.
- Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran
2. Pengeluaran/belanja yang dikelompokkan sebagai kelompok
anggaran belanja tidak tetap (variable cost).
Termasuk dalam kelompok belanja tidak tetap adalah komponen anggaran belanj yang meliputi: a
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM | Gambar 4.1 Pengalokasian Anggaran sesuai dengan KPJM
4.2
Metodologi
Penghitungan
KPJM
Desain kegiatan sesuai dengan restrukturisasi program dan kegiatan dalam rangka penerapan penganggaran berbasis kinerja dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Kegiatan teknis
Kegiatan teknis merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh unit eselon )) ataupun satuan kerja di daerah. Tipe kegiatan ini dapat berupa kegiatan teknis yang bersifat generik dan kegiatan teknis yang bersifat fungsional.
2. Kegiatan prioritas nasional.
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
Dalam rangka melakukan penghitungan dalam kerangka pengeluaran jangka menengah terhadap kedua jenis kegiatan di atas, maka metodologi penghitungan biayanya diatur sebagai berikut:
1. Kegiata Generikn
Untuk kegiatan generik, komponen anggaran yang harus diprioritaskan penghitungannya adalah gaji dan tunjangan, dan operasional dan pemeliharaan kantor.
a. Untuk gaji dan tunjangan dihitung berdasarkan data base
b. Untuk operasional dan pemeliharaan kantor dihitung dengan:
- menggunakan indeks biaya seperti tercantum dalam standar biaya umum yang disesuaikan dengan besaran inflasi tahunan
- memperhitungkan tunggakan operasional dan pemeliharaan kantor pada tahun sebelumnya, misalnya: tunggakan daya dan jasa
- memperhitungkan penambahan aset tahun sebelumnya.
- memperhitungkan pengurangan/penghapusan aset yang pkan oleh satuan kerja yang bersangkutan.
telah diteta
2. Kegiatan Teknis
Kegiatan teknis dikelompokkan menjadi kegiatan Teknis Fungsional dan Kegiatan Prioritas Nasional.
Untuk kegiatan teknis yang bersifat fungsional, yaitu dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya masing‐masing, maka mekanismenya adalah:
a. Menggunakan standar biaya khusus, jika satuan kerja yang bersangkutan sudah menetapkan SBK.
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
- Parameter ekonomi khususnya besaran inflasi.
- Parameter nonekonomi yang bersifat spesifik kegiatan yang telah diidentifikasi, khususnya menyangkut:
•
Tunggakan terhadap pihak ketiga terkait dengan pelaksanaan kegiatan teknis yang bersifat fungsional, misalnya: tunggakan terhadap pihak penyedia bahan makanan untuk para narapidana di Lapas.•
penambahan jumlah/target volume output kegiatan yang akan dicapai pada tahun anggaran berikutnya.•
pengurangan jumlah/target volume output kegiatan yang akan dicapai pada tahun anggaran berikutnya.•
satuan biaya/harga untuk mencapai jumlah/target volume output kegiatan yang direncanakan.- penyesuaian satuan biaya/harga dengan parameter ekonomi inflasi tahunan dan parameter nonekonomi parameter spesifik kegiatan yang telah diidentifikasi .
Gambar 4.2 Metodologi Penghitungan KPJM
Metodologi
Penghitungan Penyesuaian Jenis Kegiatan
Volume Biaya Tipe Parameter Ekonomi Parameter mi Nonekono
Baseline Baru
Gaji dan
Tunjangan Data base i pegawa
Kebijakan
baru di bidang Kepegawaian Baseline Baru Gaji dan Tunjangan 1. Kegiatan yang bersifat generik Operasional dan Pemeliharaan Kantor Jumlah Aset
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
Layanan
irokrasi/publik b
Output Layanan
SBK )nflasi Baseline Baru
2. Kegiatan yang bersifat teknis
Output
Kegiatan SBU )nflasi Parameter spesifik egiatan k
Baseline baru kegiatan
rioritas p
SBK )nflasi
Untuk kegiatan yang bersifat penugasan yaitu kegiatan prioritas nasional, yang harus diperhatikan dalam menghitung biaya untuk KPJM adalah:
a. Apakah prioritas nasional yang ditugaskan tersebut bersifat multi tahun?
b. Jangka waktu pencapaian output yang direncanakan apakah melebihi satu tahun anggaran.
c. Parameter ekonomi khususnya besaran inflasi yang
r s nasional.
mempenga uhi harga dan biaya kegiatan priorita
d. Parameter nonekonomi yang bersifat spesifik kegiatan yang telah diidentifika i, khususnya menyangkut: s
- penambahan jumlah/target volume output kegiatan yang akan dicapai pada tahun anggaran berikutnya.
- pengurangan jumlah/target volume output kegiatan yang akan dicapai pada tahun anggaran berikutnya.
e. Satuan biaya/harga untuk mencapai jumlah/target volume output kegiatan yang direncanakan.
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
4.3
Langkah
Awal
Penerapan
KPJM
Gambar 4.3 Penerapan KPJM
Sebagai langkah awal penerapan KPJM maka kementerian negara/lembaga diminta untuk melaksanakan hal‐hal sebagai berikut:
1. Pagu program dan kegiatan dalam pagu definitif tahun anggaran
ditetapkan sebagai angka dasar baseline untuk masing‐ masing kementerian negara/lembaga.
2. Lakukan evaluasi terhadap program dan kegiatan‐kegiatan tahun
untuk menentukan program dan kegiatan‐kegiatan beserta dengan subkegiatan‐subkegiatan yang akan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya.
3. ( l evaluasi terhadap keg atan harus dapat menunjukkan:asi i
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
b. Komponen‐komponen subkegiatan dan anggarannya yang tidak dialokasikan kembali untuk tahun anggaran berikutnya karena sudah tercapai subkeluarannya.
4. Lakukan penghitungan terhadap kegiatan yang komponen‐
komponen subkegiatannya harus tetap dialokasikan pendanaannya pada tahun anggaran berikutnya. Kebutuhan‐ kebutuhan tersebut meliputi:
a. Kebutuhan anggaran untuk subkegiatan pembayaran gaji dan tunjangan dengan melakukan penyesuaian terhadap data base kepegawaian jika terdapat kebijakan baru di bidang kepegawaian.
b. Kebutuhan anggaran untuk subkegiatan operasional dan pemeliharaan kantor, termasuk di dalamnya jika terdapat tunggakan‐tunggakan pada pihak ketiga, dengan melakukan penghitungan berdasarkan indeks biaya yang berlaku.
c. Kebutuhan anggaran untuk melaksanakan tugas dan fungsi dihitung dengan:
- menggunakan standar biaya khusus yang berlaku,
- jika belum menggunakan standar biaya khusus, maka menggunakan rencana anggaran biaya RAB yang disesuaikan dengan standar biaya umum yang berlaku dan target jumlah layanan publik/birokrasi yang akan dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
d. Kebutuhan anggaran untuk melaksanakan kegiatan prioritas nasional (on going policies) yang ditetapkan berlanjut pada tahun anggaran berikutnya, dengan melakukan penghitungan berdasarkan:
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM | 9
- alokasi anggaran tahun sebelumnya,
- dilakukan penyesuaian terhadap satuan biaya/harga yang digunakan sesuai dengan indeks yang berlaku dan besaran
inflasi,
- target output yang akan dicapai parameter nonekonomi /spesifik kegiat priorita nasio al . an s n
5. (asil penghitungan tersebut akan dijadikan angka dasar
anggaran baru yang ditetapkan untuk prakiraan maju tahun utnya.
berik Con hto :
. Kegiatan Generik
Gambar 4.4 Contoh Perhitungan Kegiatan Generik
Realisasi Anggaran Prakiraan Maju No. Program/ Kegiatan
2010 2011 2012 2013 2014
1. Pengelolaan Anggaran Negara
Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Anggaran
90 99 99 99 99
- Subkegiatan Pengelolaan Gaji, Honorarium dan Tunjangan
50 55 55 55 55
- Subkegiatan Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Kantor
40 44 44 44 44
Keterangan:
Kegiatan generik pada DJA, yaitu Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Sekretariat Direktorat Jenderal Anggaran TA mendapatkan alokasi sebesar Rp 9 . Alokasi sebesar Rp 9 menjadi angka dasar bagi alokasi tahun
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
Pada TA , pemerintah menetapkan kebijakan kenaikan gaji pegawai sebesar % dan menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang SBU disesuaikan dengan besaran inflasi
sebesar %.
Berdasarkan kebijakan tersebut maka, Sekretariat Dijten Anggaran akan melaksanakan penyesuaian terhadap Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya untuk
h dan lihat tabel di atas .
ta un anggaran , ,
. Kegiatan Teknis Fungsional
Kegiatan Teknis Fungsional pada Direktorat Sistem Penganggaran, DJA.
Gambar 4.5 Contoh Kegiatan Teknis Fungsional
Realisasi Anggaran Prakiraan Maju No. Program/ Kegiatan
2010 2011 2012 2013 2014
1. Pengelolaan Anggaran Negara
Kegiatan Pengembangan Sistem Penganggaran
200 200 200 200 200
Subkegiatan Pengembangan Sistem Penganggaran
50 50 50 50 50
- Penyusunan Buku Pedoman Penerapan PBK
20
- Penyusunan Buku Pedoman Penerapan KPJM
20
- Penyusunan Buku Petunjuk Teknis Penyusunan RKA-KL
10 10 10 10 10
- Evaluasi Penerapan PBK (new initiatives)
10 10 10 10
- Evaluasi Penerapan KPJM (new initiatives)
10 10 10 10
- Penyusunan Pedoman Monitoring dan Evaluasi PBK dan KPJM (new initiatives)
20 20 20 20
Subkegiatan Penyusunan Standar Biaya 40 40 40 40 40
Subkegiatan Harmonisasi Kebijakan Penganggaran
60 60 60 60 60
Subkegiatan Pengembangan Teknologi Informasi Penganggaran
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
Keterangan:
Kegiatan pada Direktorat Sistem Penganggaran adalah Kegiatan Sistem Penganggaran. Kegiatan tersebut didukung oleh subkegiatan‐subkegiatan sebagai berikut:
anggaran . Subkegiatan Pengembangan Sistem Peng
. Subkegiatan Penyusunan Standar Biaya
. Subkegiatan (armonisasi Kebijakan Penganggaran
.Subkegiatan Pengembagan Teknologi )nformasi Penganggaran Masing‐masing subkegiatan didukung oleh beberapa aktivitas dalam rangka mencapai target output masing‐masing. Misalnya dalam co toh ini: n
- Pada tahun anggaran subkegiatan Pengembangan Sistem Penganggaran didukung dengan aktivitas‐aktivitas sebagai berikut:
•
Penyusunan Buku Pedoman Penerapan PBK•
Penyusunan Buku Pedoman Penerapan KPJM•
Penyusunan Buku Petunjuk Penyusunan RKA KL- Pada tahun anggaran berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh Dit. Sistem Penganggaran untuk subkegiatan Pengembangan Sistem Penganggaran sebagai berikut:
•
terdapat aktivitas‐aktivitas yang dinyatakan telah selesai, yaitu penyusunan buku pedoman penerapan PBK dan penyusunan buku pedoman KPJM•
terdapat aktivitas yang dilanjutkan, yaitu penyusunan buku petunjuk teknis penyusunan RKA KL danpenerapan KPJM dan monitoring evaluasi pelaksanaan PBK dan KPJM
. Kegiatan Prioritas Nasional
Gambar 4.6 Contoh Kegiatan Prioritas Nasional
Realisasi Anggaran Prakiraan Maju No. Program/ Kegiatan Prioritas Nasional
2010 2011 2012 2013 2014
Prioritas 1
Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat, serta Penataan Kelembagaan dan Pelaksanaan Sistem Perlindungan Sosial
Fokus 1
Perluasan akses pelayanan dasar masyarakat miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS)
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
Mekanisme
Pengalokasian
Anggaran
Dengan penerapan KPJM maka mekanisme pengalokasian anggaran berubah secara signifikan, khususnya menyangkut pengalokasian
Keterangan:
Dari contoh tabel kegiatan prioritas di atas, pada tahun anggaran pemerintah menetapkan kegiatan prioritas , fokus , terdiri atas kegiatan prioritas nasional. Pada tahun anggaran pemerintah menetapkan kegiatan tersebut dilanjutkan dengan melakukan penyesuaian terhadap volume output dan harga satuan biaya yang digunakan.
4.4
- Penyelenggaraan Program Keluarga Harapan
1.000 1.100 1.100 1.100 1.100
- Beasiswa untuk siswa miskin MI 200 230 230 230 230
- Beasiswa untuk siswa miskin SMA 170 193 193 193 193
- Pelayanan Kesehatan untuk penduduk miskin di kelas III rumah sakit
4.300 4.584 4.584 4.584 4.584
- Penyediaan subsidi beras untuk rakyat miskin (RASKIN)
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
anggaran yang telah ditetapkan sebagai baseline. Perubahan dalam pengalokasian anggaran tersebut secara detail meliputi hal‐hal sebagai berikut:
- Pengalokasian anggaran diprioritaskan untuk memenuhi hal‐hal yang bersifat wajib dan sudah ditetapkan dalam angka dasar baseline , yang meliputi: gaji dan tunjangan, operasional dan pemeliharaan kantor, tunggakan pada pihak ketiga, dan kegiatan yang ditetapkan dilanjutkan pada tahun
b
anggara erikutnya multi tahun .
- Rincian penggunaan anggaran yang termasuk dalam baseline tidak perlu dibahas kembali. (al ini merupakan wujud penerapan dari prinsip rolling budget, yaitu anggaran yang ditetapkan sebagai baseline merupakan angka dasar untuk rencana anggaran tahun berikutnya dan hanya perlu dilakukan penyesuaian kembali angka dasarnya (baseline adjustment) dengan parameter‐parameter baru baik ekonomi maupun nonekonomi yang ditetapkan oleh
n d g e
pemeri tah pa a tahun an garan b rikutnya.
- Untuk usulan tambahan alokasi anggaran kegiatan baru dapat diberikan kepada kementerian negara/lembaga berdasarkan hasil penilaian dan evaluasi atas proposal kegiatan baru yang diajukan dengan tetap mengacu pada prioritas pembangunan nasional dan kemampuan keuangan negara (national priority and fiscal space).
4.5
Peluang
dan
Tantangan
Penerapan
KPJM
Bab )V Langkah Awal Penerapan KPJM |
- Pembahasan di DPR harus fokus terhadap program dan kegiatan‐kegiatan baru yang diusulkan oleh pemerintah.
- Secara teknis, pembahasan anggaran dititikberatkan pada efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran yang dikaitkan dengan target kinerja yang akan dicapai.