Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
Hak cipta pada penulis Hak penerbitan pada penerbit
Tidak boleh diproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun Tanpa izin tertulis dari pengarang dan/atau penerbit
Kutipan Pasal 72 :
Sanksi pelanggaran Undang-undang Hak Cipta (UU No. 10 Tahun 2012)
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal (49) ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1. 000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 5. 000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau hasil barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaima-na dimaksud ayat (1) dipidasebagaima-na dengan pidasebagaima-na penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd.
MODEL EVALUASI
PROGRAM PEMBELAJARAN
MODEL EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARANPerpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
MODEL EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN Penulis : Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd.
Desain Cover & Layout Team Aura Creative viii+ 110 hal : 15,5 cm x 23 cm Cetakan Pertama : November 2014
ISBN :978-602-1297-62-9
Penerbit
Aura Printing & Publishing Anggota IKAPI
No.003/LPU/2013 Alamat
Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro, Komplek Unila Gedongmeneng - Bandar Lampung
Telp. 0721-758 3211 - HP. 0812 8143 0268 E-mail : [email protected] Website : www.aura-publishing.com
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, Atas segala rahmat dan karunia-Nya pada Penulis, Akhirnya Penulis dapat menyelesaikan buku yang berjudul Model Evaluasi Program Pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa Buku ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi dalam penyelesaian Buku ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak serta suami tercinta Bertoni dan anak semata wayang Chalisha Befa Rayyani yang tersayang, dan keluarga besar yang dengan setia dan kesabarannya mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini.
Harapan penulis Buku ini dapat memberi sumbangan pada pendidikan di Indonesia. Akhirnya penulis menyadari tidak ada gading yang tak retak, untuk itu segala kekurangan dan kecerobohan penulis dalam buku ini adalah nyata kesalahan penulis untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan buku ini.
Bukittinggi, Juli 2014 Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
PEMBELAJARAN
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, Atas segala rahmat dan karunia-Nya pada Penulis, Akhirnya Penulis dapat menyelesaikan buku yang berjudul Model Evaluasi Program Pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa Buku ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi dalam penyelesaian Buku ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak serta suami tercinta Bertoni dan anak semata wayang Chalisha Befa Rayyani yang tersayang, dan keluarga besar yang dengan setia dan kesabarannya mendorong penulis untuk menyelesaikan buku ini.
Harapan penulis Buku ini dapat memberi sumbangan pada pendidikan di Indonesia. Akhirnya penulis menyadari tidak ada gading yang tak retak, untuk itu segala kekurangan dan kecerobohan penulis dalam buku ini adalah nyata kesalahan penulis untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan buku ini.
Bukittinggi, Juli 2014 Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
PEMBELAJARAN
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... vDaftar Isi... vii Bagian Pertama : Konsep Dasar Evaluasi Program
Pembelajaran ... 1
Bagian Kedua : Model Addie ... 17 Bagian Ketiga : Model Evaluasi Berorientasi
Tujuan ... 23
Bagian Keempat : Model Evaluasi Kirkpatrick ... 33 Bagian Kelima : Model Konsep Kubus Tiga
Dimensi Robert L. Hammond ... 57
Bagian Keenam : Model Evaluasi Model Logika ... 63 Bagian Ketujuh : Model Evaluasi The Discrepancy ... 69 Bagian Kedelapan : Model Evaluasi Multiatribut Utility 77 Bagian Kesembilan : Model Evaluasi Goal Free ... 87 Bagian Kesepuluh : Model Evaluasi Maut
(Multi-Attribute Utility Theory)... 97
Bagian Kesebelas : Model Evaluasi Cipp (Context,
Input, Process, Product) ... 103
Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
PEMBELAJARAN
BAGIAN PERTAMA
KONSEP DASAR EVALUASI
PROGRAM PEMBELAJARAN
Salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses pembelajaran yang dilakukan. Selain itu faktor penting untuk efektivitas pembelajaran adalah adanya evaluasi baik terhadap proses maupun hasil pembelajaran. Evaluasi dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar secara terus menerus dan juga mendorong guru untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik tetapi juga mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output, maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
Bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang
direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik.
Di sisi lain evaluasi pada program pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan pembelajaran dan tingkat ketercapaian tujuannya. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program pembelajaran di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan penilaian.
A. Konsep Pembelajaran
Pembelajaran yang sering juga disebut dengan belajar mengajar, sebagai terjemahan dari istilah instructional terdiri dari
dua kata, belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Woolfolk dan Nicolich (1984:159) yang mengatakan bahwa learning is a change in a person that comes about as a result of experience. Belajar adalah perubahan dalam diri seseorang
yang berasal dari hasil pengalaman. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, kecakapan, dan kemampuan, daya reaksi, dan daya penerimaan yang ada pada individu (Sujana dan Ibrahim, 2004:28). Menurut aliran behavioristik, kegiatan belajar terjadi karena adanya kondisi/stimulus dari lingkungan. Kegiatan belajar merupakan respons/reaksi terhadap kondisi/stimulus ling-kungannya. Belajar tidaknya seseorang tergantung kepada faktor kondisional dari lingkungan. Lingkungan dapat berupa lingkungan
keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah terdiri dari guru, media pembelajaran, buku teks, kurikulum, teman sekelas, peraturan sekolah, maupun sumber-sumber belajar lainnya.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisir lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan kegiatan belajar. Hal ini dipertegas oleh Sudjana (2002:29) yang menyatakan bahwa mengajar adalah suatu proses mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan kegiatan belajar.
B. Perbedaan Istilah Tes, Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian (test, measurement, and assessment). Tes
merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Obyek ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun motivasi. Respons peserta tes terhadap sejumlah pertanyaan menggambarkan kemampuan dalam bidang tertentu. Tes merupakan bagian tersempit dari evaluasi.
Pengukuran (measurement) dapat didefinisikan sebagai the process by which information about the attributes or characteristics of thing are determinied and differentiated (Oriondo dan Antonio, 1998:2).
direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik.
Di sisi lain evaluasi pada program pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan pembelajaran dan tingkat ketercapaian tujuannya. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program pembelajaran di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan penilaian.
A. Konsep Pembelajaran
Pembelajaran yang sering juga disebut dengan belajar mengajar, sebagai terjemahan dari istilah instructional terdiri dari
dua kata, belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Woolfolk dan Nicolich (1984:159) yang mengatakan bahwa learning is a change in a person that comes about as a result of experience. Belajar adalah perubahan dalam diri seseorang
yang berasal dari hasil pengalaman. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, kecakapan, dan kemampuan, daya reaksi, dan daya penerimaan yang ada pada individu (Sujana dan Ibrahim, 2004:28). Menurut aliran behavioristik, kegiatan belajar terjadi karena adanya kondisi/stimulus dari lingkungan. Kegiatan belajar merupakan respons/reaksi terhadap kondisi/stimulus ling-kungannya. Belajar tidaknya seseorang tergantung kepada faktor kondisional dari lingkungan. Lingkungan dapat berupa lingkungan
Guilford dalam Griffin dan Nix (1991:3) mendefinisi pengukuran dengan assigning numbers to, or quantifying, things according to a set of rules. Sementara itu Ebel dan Frisbie (1986:14) berpendapat
pengukuran dinyatakan sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya menurut aturan tertentu.
Hal senada dikemukakan Allen dan Yen dalam Mardapi (2000:1) mendefinisikan pengukuran sebagai penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menyatakan keadaan individu. Dengan demikian, esensi dari pengukuran adalah kuantifikasi atau penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut aturan-aturan tertentu. Keadaan individu ini bisa berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengukuran memiliki konsep yang lebih luas dari pada tes. Guru dapat mengukur karakteristik suatu objek tanpa menggunakan tes, misalnya dengan pengamatan, rating scale atau cara lain untuk
memperoleh informasi dalam bentuk kuantitatif.
Penilaian (assessment) memiliki makna yang berbeda dengan
evaluasi. The Task Group on Assessment and Testing (TGAT) mendeskripsikan asesmen sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja (performance) individu atau kelompok
(Griffin dan Nix, 1991:3). Popham (1995:3) mendefinisikan asesmen dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan berbagai kepentingan pendidikan.
Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan penilaian, pengukuran maupun tes. Stufflebeam (2003) mengemukakan bahwa:
Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing descriptive and judgmental information about the worth and merit of some object’s goals, design, implementation, and impact in order to guide decision making, serve
needs for accountability, and promote understanding of the involved phenomena.
Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa (the worth and merit) dari tujuan yang dicapai, desain,
implementasi, dan dampak untuk membantu membuat keputusan, membantu pertanggung jawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut, inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Sementara itu National Study Committee on Evaluation dalam Stark dan Thomas (1994:12) menyatakan bahwa evaluation is the process of ascertaining the decision of concern, selecting appropriate information, and collecting and analyzing information in order to report summary data useful to decision makers in selecting among alternatives.
Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan pemilihan, pengumpulan, analisis dan penyajian informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta penyusunan program selanjutnya. Hal ini dipertegas oleh Griffin dan Nix (1991:3) menyatakan:
Measurement, assessment, and evaluation are hierarchial. The comparison of observation with the criteria is a measurement, the interpretation and description of the evidence is an assessment and the judgement of the value or implication of the behavior is an evaluation.
Pengukuran, penilaian, dan evaluasi bersifat hierarkis. Evaluasi didahului dengan penilaian (assessment), sedangkan
penilaian didahului dengan pengukuran. Pengukuran diartikan sebagai kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan kriteria, penilaian (assessment) merupakan kegiatan menafsirkan dan
mendeskripsikan hasil pengukuran, sedangkan evaluasi merupakan Guilford dalam Griffin dan Nix (1991:3) mendefinisi pengukuran
dengan assigning numbers to, or quantifying, things according to a set of rules. Sementara itu Ebel dan Frisbie (1986:14) berpendapat
pengukuran dinyatakan sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya menurut aturan tertentu.
Hal senada dikemukakan Allen dan Yen dalam Mardapi (2000:1) mendefinisikan pengukuran sebagai penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menyatakan keadaan individu. Dengan demikian, esensi dari pengukuran adalah kuantifikasi atau penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut aturan-aturan tertentu. Keadaan individu ini bisa berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Pengukuran memiliki konsep yang lebih luas dari pada tes. Guru dapat mengukur karakteristik suatu objek tanpa menggunakan tes, misalnya dengan pengamatan, rating scale atau cara lain untuk
memperoleh informasi dalam bentuk kuantitatif.
Penilaian (assessment) memiliki makna yang berbeda dengan
evaluasi. The Task Group on Assessment and Testing (TGAT) mendeskripsikan asesmen sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja (performance) individu atau kelompok
(Griffin dan Nix, 1991:3). Popham (1995:3) mendefinisikan asesmen dalam konteks pendidikan sebagai sebuah usaha secara formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan berbagai kepentingan pendidikan.
Evaluasi memiliki makna yang berbeda dengan penilaian, pengukuran maupun tes. Stufflebeam (2003) mengemukakan bahwa:
Evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing descriptive and judgmental information about the worth and merit of some object’s goals, design, implementation, and impact in order to guide decision making, serve
penetapan nilai atau implikasi perilaku. Brikerhoff dalam Mardapi (2000) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Lebih lanjut Brikerhoff dalam Mardapi (2000) mengemukakan dalam pelaksanaan evaluasi terdapat tujuh elemen yang harus dilakukan, yaitu: 1)focusing the evaluation (penentuan
fokus yang akan dievaluasi), 2) designing the evaluation (penyusunan
desain evaluasi), 3) collecting information(pengumpulan informasi),
4) analyzing and interpreting (analisis dan interpretasi informasi),
5) reporting information (pembuatan laporan), 6)managing evaluation (pengelolaan evaluasi), dan 7) evaluating evaluation(evaluasi
untuk evaluasi). Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam melakukan evaluasi, evaluator pada tahap awal harus menentukan fokus yang akan dievaluasi dan desain yang akan digunakan.
Ada empat hal yang ditekankan pada rumusan tersebut, yaitu: 1) menunjuk pada penggunaan metode penelitian, 2) menekankan pada hasil suatu program, 3) penggunaan kriteria untuk menilai, dan 4) kontribusi terhadap pengambilan keputusan dan perbaikan program di masa mendatang. Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menyajikan informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya.
Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan obyektif tentang suatu program. Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak/hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program itu sendiri, yaitu untuk
mengambil keputusan apakah dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan. Selain itu, juga dipergunakan untuk kepentingan penyusunan program berikutnya maupun penyusunan kebijakan yang terkait dengan program.
Bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar siswa. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada siswa. Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru (Mardapi, 2000:2).
B. Model-model Evaluasi Program Pembelajaran
Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli yang dapat dipakai dalam mengevaluasi program pembelajaran. Berbagai model sebagaimana yang dikemukakan oleh Kirkpatrick (2009) adalah:
1. Jack PhillPS’ Five Level ROI Model,
2. Daniel Stufflebeam’s CIPP Model (Context, Input, Process, Product),
3. Robert Stake’s Responsive Evaluation Model, 4. Robert Stake’s Congruence-Contingency Model, 5. Kaufman’s Five Levels of Evaluation,
6. CIRO (Context, Input, Reaction, Outcome),
7. PERT (Program Evaluation and Review Technique), 8. Alkins’ UCLA Model,
penetapan nilai atau implikasi perilaku. Brikerhoff dalam Mardapi (2000) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Lebih lanjut Brikerhoff dalam Mardapi (2000) mengemukakan dalam pelaksanaan evaluasi terdapat tujuh elemen yang harus dilakukan, yaitu: 1)focusing the evaluation (penentuan
fokus yang akan dievaluasi), 2) designing the evaluation (penyusunan
desain evaluasi), 3) collecting information(pengumpulan informasi),
4) analyzing and interpreting (analisis dan interpretasi informasi),
5) reporting information (pembuatan laporan), 6)managing evaluation (pengelolaan evaluasi), dan 7) evaluating evaluation(evaluasi
untuk evaluasi). Berdasarkan pengertian tersebut menunjukkan bahwa dalam melakukan evaluasi, evaluator pada tahap awal harus menentukan fokus yang akan dievaluasi dan desain yang akan digunakan.
Ada empat hal yang ditekankan pada rumusan tersebut, yaitu: 1) menunjuk pada penggunaan metode penelitian, 2) menekankan pada hasil suatu program, 3) penggunaan kriteria untuk menilai, dan 4) kontribusi terhadap pengambilan keputusan dan perbaikan program di masa mendatang. Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan dan menyajikan informasi untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya.
Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan obyektif tentang suatu program. Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak/hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program itu sendiri, yaitu untuk
9. Michael Scriven’s Goal-Free Evaluation Approach, 10. Provus’s Discrepancy Model,
11. Eisner’s Connoisseurship Evaluation Models, 12. Illuminative Evaluation Model,
13. Portraiture Model.
Berbagai model tersebut di atas akan diuraikan model yang populer dan banyak dipakai sebagai strategi atau pedoman kerja dalam pelaksanaan evaluasi program pembelajaran, yaitu 1) Evaluasi Model Kirkpatrick (Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model), 2) Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Prosess, and Product), dan 3) Evaluasi Model Stake (Model Couintenance).
1. Evaluasi Model Kirkpatrick
Kirkpatrick salah seorang ahli evaluasi program pelatihan dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Model evaluasi yang dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan istilah Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model. Evaluasi terhadap efektivitas program pelatihan (training) menurut
Kirkpatrick (1998) mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1reaction, level 2 learning, level 3 behavior, dan level 4 result.
1) Evaluasi Reaksi (Evaluating Reaction)
Mengevaluasi terhadap reaksi peserta pelatihan berarti mengukur kepuasan peserta (customer satisfaction). Program
pelatihan dianggap efektif apabila proses pelatihan dirasa menyenangkan dan memuaskan bagi peserta pelatihan sehingga mereka tertarik termotivasi untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain peserta pelatihan akan termotivasi apabila proses pelatihan berjalan secara memuaskan bagi peserta yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari peserta yang
menyenangkan. Sebaliknya apabila peserta tidak merasa puas terhadap proses pelatihan yang diikutinya maka mereka tidak akan termotivasi untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut.
Partner (2009) mengemukakan the interest, attention and motivation of the participants are critical to the success of any training program, people learn better when they react positively to the learning environment. Disimpulkan bahwa keberhasilan proses kegiatan
pelatihan tidak terlepas dari minat, perhatian, dan motivasi peserta pelatihan dalam mengikuti jalannya kegiatan pelatihan. Orang akan belajar lebih baik manakala mereka memberi reaksi positif terhadap lingkungan belajar.
Kepuasan peserta pelatihan dapat dikaji dari beberapa aspek, yaitu materi yang diberikan, fasilitas yang tersedia, strategi penyampaian materi yang digunakan oleh instruktur, media pembelajaran yang tersedia, jadwal kegiatan sampai menu, dan penyajian konsumsi yang disediakan. Mengukur reaksi dapat dilakukan dengan reaction sheet dalam bentuk angket sehingga lebih
mudah dan lebih efektif.
2) Evaluasi Belajar (Evaluating Learning)
Kirkpatrick (1998:20) mengemukakan learning can be defined as the extend to which participans change attitudes, improving knowledge, and/or increase skill as a result of attending the program. Terdapat tiga
hal yang dapat instruktur ajarkan dalam program pelatihan, yaitu pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Peserta pelatihan dikatakan telah belajar apabila pada dirinya telah mengalami perubahan sikap, perbaikan pengetahuan maupun peningkatan keterampilan.
Oleh karena itu untuk mengukur efektivitas program pelatihan maka ketiga aspek tersebut perlu untuk diukur. Tanpa 9. Michael Scriven’s Goal-Free Evaluation Approach,
10. Provus’s Discrepancy Model,
11. Eisner’s Connoisseurship Evaluation Models, 12. Illuminative Evaluation Model,
13. Portraiture Model.
Berbagai model tersebut di atas akan diuraikan model yang populer dan banyak dipakai sebagai strategi atau pedoman kerja dalam pelaksanaan evaluasi program pembelajaran, yaitu 1) Evaluasi Model Kirkpatrick (Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model), 2) Evaluasi Model CIPP (Context, Input, Prosess, and Product), dan 3) Evaluasi Model Stake (Model Couintenance).
1. Evaluasi Model Kirkpatrick
Kirkpatrick salah seorang ahli evaluasi program pelatihan dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM). Model evaluasi yang dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan istilah Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model. Evaluasi terhadap efektivitas program pelatihan (training) menurut
Kirkpatrick (1998) mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1reaction, level 2 learning, level 3 behavior, dan level 4 result.
1) Evaluasi Reaksi (Evaluating Reaction)
Mengevaluasi terhadap reaksi peserta pelatihan berarti mengukur kepuasan peserta (customer satisfaction). Program
pelatihan dianggap efektif apabila proses pelatihan dirasa menyenangkan dan memuaskan bagi peserta pelatihan sehingga mereka tertarik termotivasi untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain peserta pelatihan akan termotivasi apabila proses pelatihan berjalan secara memuaskan bagi peserta yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari peserta yang
adanya perubahan sikap, peningkatan pengetahuan maupun perbaikan keterampilan pada peserta pelatihan maka program dapat dikatakan gagal. Penilaian evaluating learningini ada yang
menyebut dengan penilaian hasil (output) belajar. Oleh karena itu dalam pengukuran hasil belajar (learning measurement) berarti
penentuan satu atau lebih hal berikut: 1) pengetahuan yang telah dipelajari, 2) perubahan sikap, dan 3) keterampilan yang telah dikembangkan atau diperbaiki.
3) Evaluasi Tingkah Laku (Evaluating Behavior)
Evaluasi pada level ke 3 (evaluasi tingkah laku) ini berbeda dengan evaluasi terhadap sikap pada level ke 2. Penilaian sikap pada evaluasi level 2 difokuskan pada perubahan sikap yang terjadi pada saat kegiatan pelatihan dilakukan sehingga lebih bersifat internal, sedangkan penilaian tingkah laku difokuskan pada perubahan tingkah laku setelah peserta kembali ke tempat kerja. Apakah perubahan sikap yang telah terjadi setelah mengikuti pelatihan juga akan diimplementasikan setelah peserta kembali ke tempat kerja, sehingga penilaian tingkah laku ini lebih bersifat eksternal.
Perubahan perilaku apa yang terjadi di tempat kerja setelah peserta mengikuti program pelatihan. Dengan kata lain yang perlu dinilai adalah apakah peserta merasa senang setelah mengikuti pelatihan dan kembali ke tempat kerja? Bagaimana peserta dapat mentrasfer pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan untuk diimplementasikan di tempat kerjanya? Karena yang dinilai adalah perubahan perilaku setelah kembali ke tempat kerja maka evaluasi level 3 ini dapat disebut sebagai evaluasi terhadap outcomes dari kegiatan pelatihan.
4) Evaluasi Hasil (Evaluating Result)
Evaluasi hasil dalam level ke 4 ini difokuskan pada hasil akhir (finalresult) yang terjadi karena peserta telah mengikuti suatu
program. Termasuk dalam kategori hasil akhir dari suatu program pelatihan di antaranya adalah kenaikan produksi, peningkatan kualitas, penurunan biaya, penurunan kuantitas terjadinya kecelakaan kerja, penurunan turnover (pergantian) dan kenaikan
keuntungan.
Beberapa program mempunyai tujuan meningkatkan moral kerja maupun membangun teamwork (tim kerja) yang lebih baik.
Dengan kata lain adalah evaluasi terhadap impact program (pengaruh
program). Tidak semua pengaruh dari sebuah program dapat diukur dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu evaluasi level 4 ini lebih sulit di bandingkan dengan evaluasi pada level-level sebelumnya.
a. Evaluasi Model CIPP
Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Prosess, and Product) pertama kali dikemukakan oleh Stufflebeam tahun
1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (The Elementary and Secondary Education Act). Konsep tersebut ditawarkan Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki. Hal ini dipertegas oleh Madaus dkk (1983:118) yang mengemukakan the CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but to improve.
Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, manajemen, perusahaan serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program maupun institusi. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam (2003) menggolongkan adanya perubahan sikap, peningkatan pengetahuan maupun
perbaikan keterampilan pada peserta pelatihan maka program dapat dikatakan gagal. Penilaian evaluating learningini ada yang
menyebut dengan penilaian hasil (output) belajar. Oleh karena itu dalam pengukuran hasil belajar (learning measurement) berarti
penentuan satu atau lebih hal berikut: 1) pengetahuan yang telah dipelajari, 2) perubahan sikap, dan 3) keterampilan yang telah dikembangkan atau diperbaiki.
3) Evaluasi Tingkah Laku (Evaluating Behavior)
Evaluasi pada level ke 3 (evaluasi tingkah laku) ini berbeda dengan evaluasi terhadap sikap pada level ke 2. Penilaian sikap pada evaluasi level 2 difokuskan pada perubahan sikap yang terjadi pada saat kegiatan pelatihan dilakukan sehingga lebih bersifat internal, sedangkan penilaian tingkah laku difokuskan pada perubahan tingkah laku setelah peserta kembali ke tempat kerja. Apakah perubahan sikap yang telah terjadi setelah mengikuti pelatihan juga akan diimplementasikan setelah peserta kembali ke tempat kerja, sehingga penilaian tingkah laku ini lebih bersifat eksternal.
Perubahan perilaku apa yang terjadi di tempat kerja setelah peserta mengikuti program pelatihan. Dengan kata lain yang perlu dinilai adalah apakah peserta merasa senang setelah mengikuti pelatihan dan kembali ke tempat kerja? Bagaimana peserta dapat mentrasfer pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan untuk diimplementasikan di tempat kerjanya? Karena yang dinilai adalah perubahan perilaku setelah kembali ke tempat kerja maka evaluasi level 3 ini dapat disebut sebagai evaluasi terhadap outcomes dari kegiatan pelatihan.
sistem pendidikan atas empat dimensi, yaitu context,input, process,
dan product, sehingga model evaluasi yang ditawarkan diberi nama
CIPP model yang merupakan singkatan ke empat dimensi tersebut.
Sudjana dan Ibrahim (2004:246) menerjemahkan masing-masing dimensi tersebut dengan makna:
1. Context, situasi atau latar belakang yang mempengaruhi
jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem yang bersangkutan, situasi ini merupakan faktor eksternal, seperti misalnya masalah pendidikan yang dirasakan, keadaan ekonomi negara, dan pandangan hidup masyarakat,
2. Input, sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang
ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan, kompo-nen input meliputi siswa, guru, desain, saran, dan fasilitas,
3. Process, pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/
modal/bahan di dalam kegiatan nyata di lapangan, komponen proses meliputi kegiatan pembelajaran, pembimbingan, dan pelatihan,
4. Product, hasil yang dicapai baik selama maupun pada
akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersang-kutan, komponen produk meliputi pengetahuan, kemampuan, dan sikap (siswa dan lulusan).
b. Evaluasi Model Stake (Model Couintenance)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitudescription (deskripsi) dan judgement (pertimbangan),
serta membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu antecedent (program
pendahulu/masukan/context), transaction (transaksi/kejadian/process
), dan outcomes (hasil/result). Stake dalam Tayibnapis (2000:19)
berpendapat menilai suatu program pendidikan harus melakukan perbandingan yang relatif antara program satu dan program yang lain, atau perbandingan yang absolut yaitu membandingkan suatu program dengan standar tertentu.
Penekanan yang umum atau hal yang penting dalam model ini adalah bahwa evaluator yang membuat penilaian tentang program yang dievaluasi. Lebih lanjut Stake dalam Tayibnapis (2000:20) menyatakan bahwa descriptiondi satu pihak berbeda
dengan judgement di lain pihak. Dalam model ini antecendent
(masukan) transaction (proses) dan outcomes (hasil) data di
bandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan antara tujuan dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang absolut untuk menilai manfaat program.
sistem pendidikan atas empat dimensi, yaitu context,input, process,
dan product, sehingga model evaluasi yang ditawarkan diberi nama
CIPP model yang merupakan singkatan ke empat dimensi tersebut.
Sudjana dan Ibrahim (2004:246) menerjemahkan masing-masing dimensi tersebut dengan makna:
1. Context, situasi atau latar belakang yang mempengaruhi
jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem yang bersangkutan, situasi ini merupakan faktor eksternal, seperti misalnya masalah pendidikan yang dirasakan, keadaan ekonomi negara, dan pandangan hidup masyarakat,
2. Input, sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang
ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan, kompo-nen input meliputi siswa, guru, desain, saran, dan fasilitas,
3. Process, pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/
modal/bahan di dalam kegiatan nyata di lapangan, komponen proses meliputi kegiatan pembelajaran, pembimbingan, dan pelatihan,
4. Product, hasil yang dicapai baik selama maupun pada
akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersang-kutan, komponen produk meliputi pengetahuan, kemampuan, dan sikap (siswa dan lulusan).
b. Evaluasi Model Stake (Model Couintenance)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitudescription (deskripsi) dan judgement (pertimbangan),
serta membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu antecedent (program
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Bandung:
Bumi Aksara.
Daryanto.1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Mardapi, D. 1999. Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi. Makalah
disajikan dalam Penataran Evaluasi Pembelajaran Matematika SLTP untuk Guru Inti Matematika di MGMP SLTP, PPPG Matematika Yogyakarta, Yogyakarta, 8-23 November.
Mardapi, D. 2000. Evaluasi Pendidikan. Makalah disajikan dalam
Konvensi Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 19-23 September.
Soetopo, H. 2007. Evaluasi Program Supervisi Pendidikan. Dalam Imron, A., Burhanuddin, dan Maisyaroh (Eds.), Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional (hlm. 136-149). Malang: Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Sudjana, N. 2002. Dasar-dasar Proses Belajar dan Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, N., dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suhartoyo, E. 2005. Pengalaman Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Pengembangan Budaya Sekolah di SMAN 1 Kasihan Bantul.
Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Pengembangan Budaya Sekolah, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 23 November.
http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/
http://spupe07.wordpress.com/2009/12/29/langkah-langkah-pelaksanaan-dalam-evaluasi-pembelajaran-pai/
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Bandung:
Bumi Aksara.
Daryanto.1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Mardapi, D. 1999. Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi. Makalah
disajikan dalam Penataran Evaluasi Pembelajaran Matematika SLTP untuk Guru Inti Matematika di MGMP SLTP, PPPG Matematika Yogyakarta, Yogyakarta, 8-23 November.
Mardapi, D. 2000. Evaluasi Pendidikan. Makalah disajikan dalam
Konvensi Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta, 19-23 September.
Soetopo, H. 2007. Evaluasi Program Supervisi Pendidikan. Dalam Imron, A., Burhanuddin, dan Maisyaroh (Eds.), Supervisi Pendidikan dan Pengajaran: Konsep, Pendekatan, dan Penerapan Pembinaan Profesional (hlm. 136-149). Malang: Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Sudjana, N. 2002. Dasar-dasar Proses Belajar dan Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, N., dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suhartoyo, E. 2005. Pengalaman Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Pengembangan Budaya Sekolah di SMAN 1 Kasihan Bantul.
Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Pengembangan Budaya Sekolah, Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, 23 November.
Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
PEMBELAJARAN
BAGIAN KEDUA
MODEL ADDIE
Addie adalah istilah yang diberikan pada sebuah model system pembelajaran (program pembelajaran). Dinamakan dengan ADDIE, diambil dari langkah-langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan program tersebut.Yaitu Analisis, Desain, Develop-ment, Implementasi dan Evaluasi.
1. ANALISIS
Langkah pertama dalam model ADDIE ini adalah menganalisis kinerja dan kebutuhan. Hal ini dilakukan untuk menentukan masalah dan solusi yang tepat, selain itu juga dilakukanlah rumusan kompetensi siswa yang diharapkan setelah mengimplementasikan desain yang telah dibuat. Masalah kinerja yang memerlukan solusi, misalnya kurangnya pengetahuan dan ketrampilan. Contoh yang lain, misalnya rendahnya kinerja dan motivasi, terlihat kejenuhan, kebosanan, dll. Solusi yang diambil adalah perlunya sebuah program pembelajaran atau pelatihan yang efektif agar masalah yang dihadapi tersebut dapat teratasi. Dalam menganalisis kebutuhan dalam belajar, berarti kita perlu merumuskan sejumlah kompetensi khusus bagi siswa yang dipercaya sebagai pemecahan masalah, yang akan mereka capai setelah implementasi di lapangan, sesuai desain yang telah dibuat.
Dalam hal ini, analisis siswa juga perlu kita lakukan, artinya, apakah rumusan kompetensi yang kita buat tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang akan mempelajari bahan belajar dalam program tersebut. Analisis siswa ini juga menjaring pengetahuan dan ketrampilan awal siswa yang akan mempelajari bahan ajar. Ketrampilan apa yang telah mereka miliki. Serentak dengan itu, juga ditentukan indicator-indikator apa yang dapat digunakan sebagai criteria ketercapaian kompetensi yang telah terumuskan setelah belajar. Jadi, saat melakukan rumusan kompetensi, dilengkapi dengan criteria dan indicator keberhasilan mencapai kompetensi tersebut. Mirip saat mengembangkan model PPSI tempo doeloe.
Selain itu juga dianalisis setting kebutuhan ruangan, kondisi eksternal lainnya saat implementasi dilakukan. Need asesmen dan need kompetensi.
2. DESAIN
Langkah yang ke dua adalah mendesain program pembelajaran.
Dalam mendesain pembelajaran ini, focus utama kita terletak pada “pengalaman belajar” yang bagaimana yang perlu kita rencanakan bagi siswa. Dalam komponennya, kita sebut saja kegiatan belajar. Jadi kegiatan belajar apa saja yang perlu dialami siswa saat implementasi nanti.Sebagaimana kita telah merumuskan kompetensi pada langlah awal pada analisis, kita perlu pakai kembali saat mendesain. Mulai dari membuat heading, lalu kompetensi umum, kemudian kompetensi khusus, atau sebut saja indicator, materi ajar, metode, media, sumber, kemudian “kegiatan belajar”, alat, dan evaluasi formatif dan sumatif.
Rumusan dari tiap komponen ini haruslah linier. Sebab sebagaimana kita ketahui, sebagai suatu system, desain pembelajaran terdiri dari berbagai komponen. Apabila salah satu komponennya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, maka ia akan mempengaruhi aktivitas komponen lainnya.
Hal-hal yang dirumuskan dalam langkah analisis terdahulu, kita jadikan landasan untuk pembuatan desain ini. Kita catat kembali , hal-hal yang berkenaan dengan kemampuan dan kompetensi khusus yang harus dimiliki siswa setelah implementasi, indicator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai kompetensi tersebut. Sesuaikah kompetensi yang dirumuskan dengan pengalaman belajar yang harus ditempuh siswa ? Apakah media yang dipilih berorientasi dengan kompetensi itu ? dst.
3. DEVELOPMENT
Langkah yang ke tiga adalah Development, atau pengembangan. Langkah pengembangan ini adalah tahap dimana kita memproduksi kelengkapan desain yang telah terumuskan dalam langkah dua. Mulai dari memproduksi bahan ajar, membuat/memilih media, menyusun kegiatan urutan pembe-lajaran, membuat petunjuk-petunjuk, melengkapi instrument evaluasi, yang kesemuanya harus berorientasi pada pencapaian kompetensi. Strategi pembelajaran yang akan diimplementasikan, harus sebesar-besarnya melibatkan siswa dalam beraktivitas belajar. Belajar harus menyenangkan dan bermotivasi tinggi. Penerapan teory belajar konstruktivistik perlu dipertimbangkan dalam hal ini. Pembelajaran harus berpusat pada siswa. Oleh karena itu, sumber-sumber belajar, baik manusia dan non manusia perlu disediakan sedemikian rupa, sehingga siswa dapat Dalam hal ini, analisis siswa juga perlu kita lakukan,
artinya, apakah rumusan kompetensi yang kita buat tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang akan mempelajari bahan belajar dalam program tersebut. Analisis siswa ini juga menjaring pengetahuan dan ketrampilan awal siswa yang akan mempelajari bahan ajar. Ketrampilan apa yang telah mereka miliki. Serentak dengan itu, juga ditentukan indicator-indikator apa yang dapat digunakan sebagai criteria ketercapaian kompetensi yang telah terumuskan setelah belajar. Jadi, saat melakukan rumusan kompetensi, dilengkapi dengan criteria dan indicator keberhasilan mencapai kompetensi tersebut. Mirip saat mengembangkan model PPSI tempo doeloe.
Selain itu juga dianalisis setting kebutuhan ruangan, kondisi eksternal lainnya saat implementasi dilakukan. Need asesmen dan need kompetensi.
2. DESAIN
Langkah yang ke dua adalah mendesain program pembelajaran.
Dalam mendesain pembelajaran ini, focus utama kita terletak pada “pengalaman belajar” yang bagaimana yang perlu kita rencanakan bagi siswa. Dalam komponennya, kita sebut saja kegiatan belajar. Jadi kegiatan belajar apa saja yang perlu dialami siswa saat implementasi nanti.Sebagaimana kita telah merumuskan kompetensi pada langlah awal pada analisis, kita perlu pakai kembali saat mendesain. Mulai dari membuat heading, lalu kompetensi umum, kemudian kompetensi khusus, atau sebut saja indicator, materi ajar, metode, media, sumber, kemudian “kegiatan belajar”, alat, dan evaluasi formatif dan sumatif.
memunculkan kreativitasnya dalam belajar. Kesemuanya agar proses pembelajaran efektif dan efisien.
4. IMPLEMENTASI
Implementasi, merupakan langkah ke empat dari ADDIE. Saatnya mengimplementasikan desain dan pengembangan tadi.Saatnya penyampaian materi pelajaran.Saatnya semua rencana dilaksanakan. Saatnya pelaksanaan program yang telah disusun. Perlu diingat bahwa tugas pembelajar adalah mengawal siswa agar sampai pada kompetensi yang telah dirumuskan. Pembelajar sebagai desainer, sebagai fasilitator, sebagai pembimbing, dan sebagai evaluator, hendaknya selalu focus pada strategi yang dipilih dan ditetapkan, apakah sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Mulai dari metodenya, medianya, sumber belajarnya, urutan belajarnya, kesemuanya dalam rangka mengantarkan siswa mencapai kompetensi yang telah dirumuskan. Harus tetap dijaga agar siswa tetap berminat dan memiliki motivasi tinggi saat belajar. Pembelajaran yang diimplementasikan harus merupakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan.
5. EVALUASI
Langkah ini merupakan langkah ke lima dari ADDIE. Pada langkah ini kita menilai program pembelajaran yang telah diimplementasikan. Mulai dari saat merencanakan, melaksanakan, dan mencek apakah kompetensi siswa telah mereka kuasai. Jadi, dengan mengetahui apakah kompetensi telah dikuasai atau belum, bisa merupakan balikan, komponen mana kiranya yang kurang berjalan dan kurang fungsional.Dalam evaluasi formatif, kita bisa
gunakan untuk merevisi komponen mana yang belum berjalan secara maksimal. Kita bisa melihat dari hasil capaian kompetensi siswa dengan rumusan kompetensi yang terdapat dalam desain. Bila capaiannya maksimal, sesuai dengan yang diharapkan, itu menunjukkan bahwa program pembelajaran tersebut sudah baik. Selain itu juga kita harus dapat melihat impact nya. Bagaimana pengaruh program terhadap system pembelajaran secara keseluruhan. Apakah program disukai oleh siswa ? Bagaimana sikap siswa terhadap proses pembelajaran dalam implementasinya ? Seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh siswa ? Seberapa besar siswa dapat menerapakan ketrampilan, pengetahuan,dan sikap yang telah dipelajari itu ? dst. Hasil evaluasi dapat dipakai untuk merevisi program.
KESIMPULAN
Model ADDIE adalah sebuah model system pembelajaran yang dimulai dengan menganalisa kebutuhan dan diakhiri dengan Evaluasi. Evaluasi ini dapat dilakukan pada seluruh komponen. Dengan begitu revisi juga dilakukan bersamaan dengan evaluasi formatif nya.
DAFTAR PUSTAKA
Dick W. Carey.L. and Carey, J.O. (2006). The Systematic Desain of Instruction. New York: Pearson
Pribadi, A. Benny. (2010). Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta
: Dian Rakyat
Salma, Dewi , Prawiladilaga. (2007). Prinsip Desain Instruksional,
Jakarta. : Prenada
memunculkan kreativitasnya dalam belajar. Kesemuanya agar proses pembelajaran efektif dan efisien.
4. IMPLEMENTASI
Implementasi, merupakan langkah ke empat dari ADDIE. Saatnya mengimplementasikan desain dan pengembangan tadi.Saatnya penyampaian materi pelajaran.Saatnya semua rencana dilaksanakan. Saatnya pelaksanaan program yang telah disusun. Perlu diingat bahwa tugas pembelajar adalah mengawal siswa agar sampai pada kompetensi yang telah dirumuskan. Pembelajar sebagai desainer, sebagai fasilitator, sebagai pembimbing, dan sebagai evaluator, hendaknya selalu focus pada strategi yang dipilih dan ditetapkan, apakah sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Mulai dari metodenya, medianya, sumber belajarnya, urutan belajarnya, kesemuanya dalam rangka mengantarkan siswa mencapai kompetensi yang telah dirumuskan. Harus tetap dijaga agar siswa tetap berminat dan memiliki motivasi tinggi saat belajar. Pembelajaran yang diimplementasikan harus merupakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan.
5. EVALUASI
Langkah ini merupakan langkah ke lima dari ADDIE. Pada langkah ini kita menilai program pembelajaran yang telah diimplementasikan. Mulai dari saat merencanakan, melaksanakan, dan mencek apakah kompetensi siswa telah mereka kuasai. Jadi, dengan mengetahui apakah kompetensi telah dikuasai atau belum, bisa merupakan balikan, komponen mana kiranya yang kurang berjalan dan kurang fungsional.Dalam evaluasi formatif, kita bisa
Model Evaluasi
PROGRAM
Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd
PEMBELAJARAN
BAGIAN KETIGA
MODEL EVALUASI
BERORIENTASI TUJUAN
Secara umum evaluasi merupakan proses yang menentukan pencapaian tujuan pembelajaran. Evaluasi merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan dan didasari dengan tujuan tertentu sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan fungsinya. Dalam program pendidikan, tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mengukur tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Evaluasi program merupakan proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat terealisasi atau belum. Dalam evaluasi program pendidikan terdapat beberapa model evaluasi yang bertujuan menyediakan bahan bagi pengambil keputusan dalam menentukan tindak lanjut dari suatu program.
Model evaluasi adalah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatannya atau tahap pembuatannya. Terdapat beberapa model evaluasi, tetapi dalam hal ini penulis memfokuskan pada model evaluasi yang berorientasi pada tujuan (goal oriented evaluation model). Dalam model ini, seorang evaluator
secara terus menerus melakukan pantauan terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian yang terus-menerus ini menilai
kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program.
Model Evaluasi Berorientasi Tujuan (Goal Oriented Evaluation Model)
Goal oriented evaluation adalah model evaluasi program yang
ditemukan dan dikembangkan oleh Tyler. Model ini merupakan
evaluasi yang muncul paling awal. Adapun yang menjadi pengamatan pada model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi ini dilakukan secara berkesinambungan, terus menerus, mengecek sejauh mana tujuan terlaksana dalam proses pelaksanaan program (Arikunto, 2004). Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluator mencoba mengukur sampai di mana pencapaian tujuan telah dicapai.
Menurut Tyler model ini merupakan pendekatan dari
evaluasi dampak yang bertujuan untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan atau yang menjadi sasaran dari suatu program sudah tercapai. Tujuan suatu program yang ditentukan adalah sama dengan yang ditetapkan, dan keputusan mengenai suksesnya suatu program didasarkan pada sejauh mana tujuan-tujuan itu tercapai, sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.
Pendekatan evaluasi semacam ini bersifat praktis untuk desain dan pengembangan program. Sebab model ini memberi petunjuk kepada pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai sehingga peserta tidak hanya harus menjelaskan hubungan tersebut di atas, tetapi juga harus menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian
ada hubungan yang logis antara kegiatan, hasil, dan prosedur pengukuran hasil.
Pada dasarnya tidak semua program direncanakan sebagaimana tersebut di atas, yaitu dengan merumuskan tujuan dengan sagat jelas. Evaluator yang menganut pendekatan ini akan membantu klien merumuskan tujuannya dan menjelaskan hubungan antara tujuan dan kegiatan. Jika ini sudah tercapai maka pekerjaan evaluasi akan lebih sederhana.
Kalau evaluator berbicara tentang tujauan, klien kebanyakan berbicara tentang hasil. Evaluator dalam hal ini juga dapat membantu klien menerangkan rencana penerapan dan melihat proses pencapaian tujuan yang memperlihatkan kemampuan program menjalankan kegiatan sesuai dengan rencana. Begitu tujuan umum dan tujuan khusus telah terjelaskan, maka tugas evaluator menentukan sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai. Berbagai alat ukur akan dipakai untuk melakukan tugas ini, tergantung pada tujuan yang akan diukur. Hasil evaluasi akan berisi penjelasan tentang status tujuan program. Dalam hal ini keberhasilan diukur dengan kriteria program khusus bukan dengan kelompok kontrol atau dengan program lain seperti halnya dalam pendekatan eksperimen. Tentu saja prosedur untuk mengukur pencapaian tujuan diusahakan sekuat tenaga. Kelebihan dari pendekatan ini adalah terletak pada hubungan antara tujuan, kegiatan serta penekanan pada elemen penting dalam program yang melibatkan individu pada elemen khusus bagi mereka. Namun keterbatasan pendekatan ini adalah memungkinkan evaluasi ini melewati konsekuensi yang tak diharapkan akan terjadi.
Pendekatan ini mempengaruhi hubungan antara evaluator dan klien, karena proses memperjelas tujuan ini memerlukan kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas
temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program.
Model Evaluasi Berorientasi Tujuan (Goal Oriented Evaluation Model)
Goal oriented evaluation adalah model evaluasi program yang
ditemukan dan dikembangkan oleh Tyler. Model ini merupakan
evaluasi yang muncul paling awal. Adapun yang menjadi pengamatan pada model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi ini dilakukan secara berkesinambungan, terus menerus, mengecek sejauh mana tujuan terlaksana dalam proses pelaksanaan program (Arikunto, 2004). Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Evaluator mencoba mengukur sampai di mana pencapaian tujuan telah dicapai.
Menurut Tyler model ini merupakan pendekatan dari
evaluasi dampak yang bertujuan untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan atau yang menjadi sasaran dari suatu program sudah tercapai. Tujuan suatu program yang ditentukan adalah sama dengan yang ditetapkan, dan keputusan mengenai suksesnya suatu program didasarkan pada sejauh mana tujuan-tujuan itu tercapai, sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.
Pendekatan evaluasi semacam ini bersifat praktis untuk desain dan pengembangan program. Sebab model ini memberi petunjuk kepada pengembangan program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai sehingga peserta tidak hanya harus menjelaskan hubungan tersebut di atas, tetapi juga harus menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian
interaksi yang sering dengan klien, maka sifat independent evaluator tidak seperti pada pendekatan eksperimen. Jadi dalam pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini, evaluator lebih bersifat sebagai mentor atas kliennya.
Adapun langkah-langkah pada pendekatan evaluasi yang berorientasi pada tujuan, menurut Tyler adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan tujuan b. Mengklasifikasikan tujuan
c. Mendefinisikan tujuan dalam istilah perilaku
d. Menentukan situasi dimana hasil prestasi belajar dapat ditujukan
e. Mengembangkan atau memilih tekhnik pengukuran f. Mengumpulkan data kinerja
g. Membandingkan data kerja dengan tujuan yang dinyatakan dengan perlakuan.
Tyler mendiskripsikan enam kategori tujuan dari sekolah, yaitu: a. Menguasai informasi
b. Mengembangkan kebiasaan kerja dan keterampilan belajar
c. Mengembangkan cara berfikir yang efektif
d. Menginternalisasi sikap, minat, apresiasi, dan kepekaan sosial
e. Menjaga kesehatan badan
f. Mengembangkan philosophi hidup.
Berikut ini ada studi-studi evaluasi yang berbasiskan pada tujuan yang cocok dalam sebuah kerangka kerja dari pihak luar untuk pihak dalam. Dalam kedua hal itu, evaluator mengadopsi suatu penggunaan yang terfokus pada pendekatan yang mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Membantu stakeholder bertugas sebagai pengawas (komisi) evaluasi dan/atau audien evaluasi, untuk mengidentifikasi isu-isu pokok dari evaluasi
2. Bekerjasama dengan stakeholder dalam mengem-bangkan desain evaluasi
3. Membuat keputusan tentang aturan-aturan dalam mana-jemen data, mengumpulkan dan menganalisis informasi yang relevan
4. Terlibat dalam strategi-strategi yang mendukung peng-gunaan terhadap temuan-temuan evaluasi.
Tyler menggunakan aturan ini untuk menyusun deskripsi dari masing-masing studi.
Pada contoh yang pertama, tujuan program digunakan sebagai basis untuk perencanaan studi dan membuat keputusan mengenai manajemen deta. Meskipun demikian, tujuan-tujuan ini tidak jelas atau eksplisit. Mereka harus ditentukan oleh evaluator sebelum penyelidikan terhadap hasil yang diharapkan. Ini adalah situasi yang bukan luar biasa, sering para pengembang tidak menyediakan dengan baik dokumentasi program dari tujuan yang dikembangkan.
Contoh
Evaluasi mengenai program informasi kehamilan di pusat kesehatan masyarakat Richmond
Ketika manajemen dari RCHC mendapatkan dana untuk evaluasi, pemberi dana program menunjuk dua pesawat dan seorang dokter. Topik utama yang menjadi bahan diskusi awal dari pemberi dana evaluator adalah potensi penggunaan informasi dari studi tersebut. Hal ini akan menjadi jelas bahwa pemberi dana interaksi yang sering dengan klien, maka sifat independent
evaluator tidak seperti pada pendekatan eksperimen. Jadi dalam pendekatan yang berorientasi pada tujuan ini, evaluator lebih bersifat sebagai mentor atas kliennya.
Adapun langkah-langkah pada pendekatan evaluasi yang berorientasi pada tujuan, menurut Tyler adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan tujuan b. Mengklasifikasikan tujuan
c. Mendefinisikan tujuan dalam istilah perilaku
d. Menentukan situasi dimana hasil prestasi belajar dapat ditujukan
e. Mengembangkan atau memilih tekhnik pengukuran f. Mengumpulkan data kinerja
g. Membandingkan data kerja dengan tujuan yang dinyatakan dengan perlakuan.
Tyler mendiskripsikan enam kategori tujuan dari sekolah, yaitu: a. Menguasai informasi
b. Mengembangkan kebiasaan kerja dan keterampilan belajar
c. Mengembangkan cara berfikir yang efektif
d. Menginternalisasi sikap, minat, apresiasi, dan kepekaan sosial
e. Menjaga kesehatan badan
f. Mengembangkan philosophi hidup.
Berikut ini ada studi-studi evaluasi yang berbasiskan pada tujuan yang cocok dalam sebuah kerangka kerja dari pihak luar untuk pihak dalam. Dalam kedua hal itu, evaluator mengadopsi suatu penggunaan yang terfokus pada pendekatan yang mempunyai empat fungsi, yaitu:
tertarik untuk mendapatkan bukti yang bisa digunakan dalam Negosiasi di RCHC dengan agen-agen pemberi dana supaya memperluas pengaruh dari program mereka. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam studi ini adalah:
1. Membantu para pemberi dana mengidentifikasi mengenai isu-isu utama evaluasi
Ini merupakan dasar yang penting dipertimbangkan untuk meliput komponen hasil yang kuat dan untuk memperluas upaya yang masih kecil pada sebuah pengujian proses program. Dalam hal ini yang menjadi isu-isu utama hasil adalah apakah program memberikan dampak terhadap para siswa mengenai Ilmu dan pengetahuan mereka yang berhubungan dengan keadaan sebelum kehamilan.
2. Mengembangkan desain evaluasi bersama dengan pemberi dana
Kebutuhan untuk mengumpulkan bukti tentang manfaat program mendorong evaluator untuk merekomendasikan penggunaan dari pre-test dan post test hasil belajar yang sederhana dan pengumpulan surat keterangan dari para siswa dan para guru yang terlibat. Kenyataan, bahwa saat sebelum merencanakan evaluasi dulu, program yang dilaksanakan harus diperhitungkan dengan cermat, sesuai dengan manajemen data pada daftar isu-isu yang diangkat oleh pemberi dana.
3. Membuat aturan-aturan dalam pengambilan keputusan mengenai manajemen data
Instrumen pengumpulan data dirancang oleh evaluator, dan juga melakukan analisis untuk semua tahap studi. Metode-metode dan hasil ini meliputi:
1) Sebuah analisis permintaan terhadap program diatas beberapa tahun yang lalu. Ini memperlihatkan bahwa para siswa yang datang dari di luar wilayah kependidikan dimana pusat itu berada lebih banyak dari pada dari dalam, dan diatas 15 persen adalah para siswa dari daerah.
2) Pengembangan dan pengambilan tes yang valid dari isi program (terlampir) tes ini dikumpulkan segera sebelum kursus dan langsung satu hari sesudah kursus.
Pendapat-pendapat mengenai program juga disampaikan oleh para siswa dan para guru mereka, terutama pada aspek-aspek yang paling buruk dan paling baik. Siswa paling sering menanggapi kategori yang pertama, yaitu appresiasi terhadap gaya presentasi. Para siswa menyukai suasana/atmospir kelas yang ramah, informal dan tata cara pembicaraan yang menghadap lurus ke depan.
4. Menggunakan strategi-strategi yang mendorong penggunaan temuan-temuan
Dalam hal ini temuan-temuan digunakan untuk berdebat saat pengenalan kursus di pusat kesehatan yang lain. Para evaluator sepakat untuk bekerja sama dengan pemberi dana untuk mempresentasikan temuan-temuan kepada berbagai agen-agen kesehatan. Besarnya komitmen evaluator pada tahap ini ditentukan oleh kekuatan dari temuan-temuan jika dampak dari program kecil atau negatif, evaluator tidak boleh keras mengambil pengembangan tugas.
tertarik untuk mendapatkan bukti yang bisa digunakan dalam Negosiasi di RCHC dengan agen-agen pemberi dana supaya memperluas pengaruh dari program mereka. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam studi ini adalah:
1. Membantu para pemberi dana mengidentifikasi mengenai isu-isu utama evaluasi
Ini merupakan dasar yang penting dipertimbangkan untuk meliput komponen hasil yang kuat dan untuk memperluas upaya yang masih kecil pada sebuah pengujian proses program. Dalam hal ini yang menjadi isu-isu utama hasil adalah apakah program memberikan dampak terhadap para siswa mengenai Ilmu dan pengetahuan mereka yang berhubungan dengan keadaan sebelum kehamilan.
2. Mengembangkan desain evaluasi bersama dengan pemberi dana
Kebutuhan untuk mengumpulkan bukti tentang manfaat program mendorong evaluator untuk merekomendasikan penggunaan dari pre-test dan post test hasil belajar yang sederhana dan pengumpulan surat keterangan dari para siswa dan para guru yang terlibat. Kenyataan, bahwa saat sebelum merencanakan evaluasi dulu, program yang dilaksanakan harus diperhitungkan dengan cermat, sesuai dengan manajemen data pada daftar isu-isu yang diangkat oleh pemberi dana.
3. Membuat aturan-aturan dalam pengambilan keputusan mengenai manajemen data
Instrumen pengumpulan data dirancang oleh evaluator, dan juga melakukan analisis untuk semua tahap studi. Metode-metode dan hasil ini meliputi:
Metode Empiris goal oriented research
Dalam melakukan evaluasi program pada model ini ada metode yang dipakai untuk melihat keberhasilan dari suatu program yang berorientasi tujuan dengan menggunakan pende-katan metode empiris mencakup;
1. Mengumpulkan data untuk mendiskripsikan keputusan nilai tujuan.
2. Pengaturan ahli, dengar pendapat, panel untuk mereview dan mengevaluasi tujuan.
3. Melaksanakan studi terhadap cacatan, arsip, editorial, newsletter.
4. Melaksanakan pilot studi untuk melihat apakah tujuan dapat tercapai.
Pengembangan taksonomi belajar oleh Bloom dan Krathwohl dipengaruhi oleh pendekatan evaluasi berorientasi tujuan.
Ukuran Pengganti Hasil
Dalam suatu prosedur standar dalam evaluasi berbasis tujuan adalah mengembangkan ukuran hasil yang mempunyai validitas awal yang kuat. Bagaimana pun juga, ada situasi dimana orang harus berkompromi, itulah kadang-kadang perlu menggunakan ukuran pengganti yang mana digantikan untuk atau bertindak sebagai pengganti ukuran ideal atau yang lebih disukai, jika menggunakan ukuran pengganti, ukuran validitasnya harus dipertahankan manakala mempresentasikan temuan-temuan evaluasi. Kasus berikut ini adalah contoh dimana sebuah indikator hasil digunakan sebagai pengganti untuk menunjukkan
pengetahuan di dalam mengevaluasi dampak dari program pendidikan kesehatan.
Keunggulan Goal Oriented Evaluaation
Kekuatan utama dalam pendekatan evaluasi yang berorientasi tujuan terletak pada:
1. Kesederhanaan
2. Pendekatan ini mudah dipahami, mudah untuk diikuti dan diterapkan.
Serta menghasilkan informasi yang pada umumnya pendidik setuju, bahwa pendekatan ini sesuai dengan misi mereka.
3. Banyak bahan pustaka tentang evaluasi berorientasi tujuan penuh dengan ide kreatif untuk menerapkan ini dalam kelas, sekolah, atau di suatu wilayah.
4. Menurut Mager, pendekatan evaluasi berorientasi tujuan menyebabkan pendidik dapat merefleksikan apa yang dimaksudkan dan menjelaskan generalisasi yang rancu tentang hasil pendidikan.
Kelemahan Goal Oriented Evaluation
Disamping keunggulan terdapat juga beberapa kelemahan yakni: 1. Lemah dalam komponen evaluasi yang sebenarnya
2. Lemah dalam standar untuk menilai kesenjangan antara tahap kinerja dan tujuan
3. Mengabaikan alternatif penting yang seharusnya dipertimbangkan dalam merencanakan program pendidikan
Metode Empiris goal oriented research
Dalam melakukan evaluasi program pada model ini ada metode yang dipakai untuk melihat keberhasilan dari suatu program yang berorientasi tujuan dengan menggunakan pende-katan metode empiris mencakup;
1. Mengumpulkan data untuk mendiskripsikan keputusan nilai tujuan.
2. Pengaturan ahli, dengar pendapat, panel untuk mereview dan mengevaluasi tujuan.
3. Melaksanakan studi terhadap cacatan, arsip, editorial, newsletter.
4. Melaksanakan pilot studi untuk melihat apakah tujuan dapat tercapai.
Pengembangan taksonomi belajar oleh Bloom dan Krathwohl dipengaruhi oleh pendekatan evaluasi berorientasi tujuan.
Ukuran Pengganti Hasil
Dalam suatu prosedur standar dalam evaluasi berbasis tujuan adalah mengembangkan ukuran hasil yang mempunyai validitas awal yang kuat. Bagaimana pun juga, ada situasi dimana orang harus berkompromi, itulah kadang-kadang perlu menggunakan ukuran pengganti yang mana digantikan untuk atau bertindak sebagai pengganti ukuran ideal atau yang lebih disukai, jika menggunakan ukuran pengganti, ukuran validitasnya harus dipertahankan manakala mempresentasikan temuan-temuan evaluasi. Kasus berikut ini adalah contoh dimana sebuah indikator hasil digunakan sebagai pengganti untuk menunjukkan