KOMODITI LOKAL POTENSIAL
DI LAHAN GAMBUT
TIM PENELITI:
1.
Dr. Yuprin A.D, SP. MP. (Ketua)2.
Dr. Ir. Wilson Daud, M.Si (Bendahara)3.
Yanetri Asi, SP, M.Si, Ph.D (Anggota)4.
Dr. Ir. Johanna M. Rotinsulu, MP. (Anggota)5.
Dr. Zafrullah Damanik, SP., MP. (Anggota)6.
Maria Haryulin Astuti, S.Pt, MP. (Anggota)7.
Ir. Inga Torang, M.Si. (Anggota)UPT LABORATORIUM LAHAN GAMBUT-CIMTROP
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN ………. 1 1.1. Latar Belakang ………. 1 1.2. Perumusan Masalah ………. 4 1.3. Tujuan ……….. 5 1.4. Luaran ……… 5II. TINJAUAN PUSTAKA ………. 6
2.1. Pengertian Komoditi Lokal Potensial ………. 6
2.2. Ciri-Ciri Lahan Gambut dan Arah Penggunaannya ………. 6
2.3. Persepsi Petani Terhadap Lahan Gambut ………. 7
2.4. Pengelolaan Lahan Gambut ……… 8
2.5. Kriteria Pemanfaatan Gambut ……….. 11
III. METODE PENELITIAN ……….. 12
3.1. Jenis Penelitian ……….. 12
3.2. Waktu dan Tempat ………. 12
3.3. Jenis dan Sumber Data ……… 13
3.4. Cara Pengumpulan Data ……….. 13
3.5. Metode Analisis Data ……….. 14
3.6. Logical Frame Work ………. 15
IV. BIAYA, JADWAL PENELITIAN DAN TIM PELAKSANA ……….. 18
4.1. Anggaran Biaya ………. 18
4.2. Jadwal Penelitian ………. 18
4.3. Tim Pelaksana ………. 20
REFERENSI ………. 21
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Biaya ………. 23
Lampiran 2. Biodata Ketua dan Anggota Tim ……… 25
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kerusakan fungsi ekosistem gambut terjadi akibat dari pengelolaan lahan yang salah karena pemilihan komoditi yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan gambut. Hal ini diperparah dengan pengurasan air gambut yang mengakibatkan kekeringan (kering tak balik) pada gambut sehingga memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun dengan luasan yang selalu bertambah merupakan kenyataan bahwa gambut tidak lagi dalam kondisi alaminya atau sudah mengalami kerusakan.
Mengingat besarnya kerugian akibat kerusakan fungsi ekosistem gambut, maka pemerintah berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya rehabilitasi dan pemulihan fungsi ekosistem gambut sampai pada kondisi alaminya. Upaya pemulihan fungsi ekosistem gambut antara lain dapat dilakukan melalui restorasi ekosistem gambut sehingga dibentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) atas dasar Peraturan Presiden Nomor 1 tahun 2016 memiliki mandat untuk menyelenggarakan koordinasi dan fasilitasi restorasi lahan gambut di 7 provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Dalam kurun waktu 5 tahun (2016-2020) ditargetkan 2,4 juta hektar lahan gambut dapat direstorasi. Pada tahap pertama, kegiatan restorasi lahan gambut diprioritaskan di 4 kabupaten, yaitu Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Meranti dan Pulang Pisau.
Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, menyebutkan bahwa perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut harus memperhatikan: 1) keragaman karakteristik
fisik dan biofisik fungsi ekologis, 2) sebaran potensi sumber daya alam, 3) perubahan iklim, 4) sebaran penduduk, 5) kearifan lokal, 6) aspirasi masyarakat,
7) rencana tata ruang wilayah, dan 8) upaya pemulihan kerusakan ekosistem gambut.
Berdasarkan hasil identifikasi awal bahwa komoditi lokal potensial di lahan gambut pada KHG Kahayan–Sebangau terdiri komoditi kehutanan, komoditi pertanian semusim, komoditi peternakan dan komoditi perikanan. Kelompok komoditi tersebut diperoleh masyarakat sekitar sebagai sumber pendapatan atau mata pencaharian. Masyarakat di Kabupaten Pulang Pisau sebagian besar memiliki mata pencaharian utama sebagai petani karet dan petani padi (padi ladang dan padi lokal/sawah tadah hujan) dan sebagian kecilnya adalah mencari ikan, mencari kayu
gelam, menanam sayuran dan menjadi buruh. Khusus untuk Kecamatan Sebangau Kuala, hampir 80% mata pencaharian utama warga adalah perikanan tangkap, sebagian kecilnya menyadap karet, bercocok tanaman pangan dan hortikultura, mencari kayu gelam dan buruh (baik di dalam kecamatan maupun di luar kecamatan). Sebaliknya masyarakat di Kecamatan Kahayan Kuala, Pandih Batu dan Maliku memiliki mata pencaharian utama sebagai petani padi sawah dan usaha sampingan mereka adalah nelayan tangkap di sungai-sungai. Khusus untuk warga transmigrasi mata pencaharian utamanya adalah padi ladang dan palawija, serta sebagian petani karet dan sayuran. Selanjutnya masyarakat di Kecamatan Kahayan Hilir dan Jabiren Raya, pekerjaan sehari-hari adalah menyadap karet, sedangkan tahunan/bulanan adalah berusahatani padi gunung/sawah non irigasi, sayuran, semangka dan menjual ikan kering. Selain itu, masyarakat di Kecamatan Kahayan Hilir dan Jabiren Raya juga berusaha mencari kayu gelam dan laban.
Menurut Sekretaris Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, sebenarnya berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat, dikatakannya bahwa tidak ada mata pencaharian yang tetap, artinya tergantung dengan pasar. Saat ini, komoditi yang memiliki nilai jual atau pasar adalah kayu
gelam, kalapapa atau halaban dan sengon. Kayu gelam dan kalapapa (laban)
merupakan produksi kayu hutan yang diperoleh secara ekstraktif dari kawasan hutan karena masih tersedia secara alami, sedangkan sengon merupakan kayu yang diperoleh secara budidaya karena tidak tersedia secara alami. Oleh karena itu, sekarang masyarakat setempat sedang gencar-gencarnya menanam kayu sengon yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan industri di desa tetangganya (Desa Mantaren) yang pernah dikunjungi Presiden Republik Indonesia pada tahun 2015. Selain tanaman hutan tersebut di atas, tanaman hutan sebelumnya yang memiliki nilai ekonomi adalah kahui atau balangeran, gemur dan ramin, namun sekarang sudah langka karena tidak ada upaya budidayanya.
Sumber pendapatan lain yang dapat dikatakan sebagai tren bisnis pada akhir-akhir ini adalah pembuatan rumah/gedung burung wallet. Produksi pekerjaan ini adalah sarang wallet yang dijual dengan harga berkisar Rp.10.000.000-12.000.000,-/kg. Eksistensi rumah wallet hampir di semua desa yang berada pada KHG Kahayan-Sebangau.
Warga desa pada umumnya menjual hasil karet berupa gumpalan getah karet atau latek (lump) kepada pedagang pengumpul yang ada di dalam desa dan dari luar desa. Harga karet ditingkat petani pada saat survei (Juni 2017) berkisar antara Rp.5.000-Rp.6.000,-/kg dengan penjualan 1 kali seminggu atau tergantung
kebutuhan keuangan petani. Terkait dengan hasil panen padi, jika sedikit maka disimpan untuk kebutuhan keluarga saja dan jika banyak maka sebagian dijual ke pedagang dari luar desa dengan harga berkisar Rp. 15.000-17.000,-/kg. Jenis padi yang sering ditanam adalah jenis Garagai, Sampui, Tambagan, Printi, Siam dan Serawuk dengan panen 1 kali dalam setahun. Demikian juga terkait dengan hasil panen sayuran sebagian besar hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan jika ada lebih maka akan dijual juga, baik di dalam desa maupun di luar desa.
Terkait dengan hasil ikan biasanya dijual dalam bentuk ikan segar dan ikan kering langsung ke pembeli yang berasal dari Pulang Pisau dan Palangka Raya. Jenis ikan yang dijual seperti ikan gabus, betok, kapar, sepat, lele dan tapah dengan harga yang berbeda. Misalnya harga di tingkat nelayan, ikan gabus (Rp.20.000,-/kg), betok (Rp.30.000,-/kg), kapar (Rp.15.000,-/kg), sepat (Rp.10.000,-/kg) dan tapah (Rp.40.000,-(Rp.10.000,-/kg). Kemudian jika dijadikan ikan kering atau wadi, harganya menjadi lebih mahal. Misalnya ikan sepat kering (Rp.25.000,-/kg), wadi tapah (Rp.70.000,-/kg).
Terkait dengan kayu gelam dijual kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit sekitar dan ke luar wilayah. Misalnya dijual ke Banjar Masin dan Palangka Raya. Harga kayu gelam tergantung diameternya, misalnya kayu gelam yang memiliki panjang 4 m dan berdiameter 3-4 cm (Rp.3.000,-/batang), berdiameter 6-7 cm (Rp.6.000,-/batang), berdiameter 8-9 cm (Rp.8.000,-/batang). Produksi kayu gelam di Kecamatan Sebangau Kuala berkisar antara 20.000-30.000 batang per bulan. Terkait dengan kayu laban dijual dalam bentuk kayu gelondongan kepada pedagang pengumpul dengan harga Rp.2.000.000/truk, selanjutnya akan dijual lagi kepada perusahaan di Banjar Masin (tentu dengan harga yang lebih mahal).
Menurut USAID LESTARI (2015) bahwa komiditi unggulan yang diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Pulang Pisau, khususnya 15 desa, meliputi komoditi karet, sawit, sengon, padi, jagung, semangka, ikan segar dan ikan kering. Komoditi tersebut secara rinci disajikan pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1. Komoditi Lokal Menurut Desa/Kelurahan
Sumber: USAID LESTARI, 2015
1.2. Perumusan Masalah
Salah satu pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan adalah pemilihan komoditi yang tidak sesuai dengan karakteristik gambut, antara lain sebaran potensi sumber daya alam, kearifan lokal dan aspirasi masyarakat. Sedangkan Peraturan Pemerintah No. 57 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, menyebutkan bahwa perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut antara lain harus memperhatikan sebaran potensi sumber daya alam, kearifan lokal dan aspirasi masyarakat. Dengan kata lain bahwa komoditi yang dikembangkan oleh masyarakat setempat merupakan komoditi lokal potensial. Masalahnya adalah bahwa beberapa komoditi lokal potensial yang dikelola oleh masyarakat setempat masih belum optimal. Optimalisasi komoditi lokal potensial dapat dilakukan melalui aktivitas pertanian secara integrasi atau sering dikenal dengan istilah integrated
farming yang berorientasi pasar (market oriented). Oleh karena itu perlu
merumuskan kelompok model pengembangan komoditi lokal potensial berdasarkan analisis potensi dan peluang pasar serta memberikan rekomendasi intervensi pengembangannya agar Misi BRG terealisasi, terutama 2 R (revegetasi dan revitalisasi).
1.3. Tujuan
Riset tentang komoditi lokal yang potensial di lahan gambut, bertujuan: 1. Menganalisis pasar komoditi lokal potensial di lahan gambut
2. Merumuskan kelompok model pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut
3. Memberikan rekomendasi intervensi pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut.
1.4. Luaran
Riset tentang komoditi lokal yang potensial di lahan gambut, mempunyai luaran:
1. Pasar komoditi lokal potensial di lahan gambut
2. Rumusan kelompok model pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut.
3. Rekomendasi intervensi pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Komoditi Lokal Potensial
Komoditi atau komoditi lokal potensial adalah komoditi daerah yang memiliki potensi untuk berkembang karena keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif terjadi misalnya karena kecukupan ketersediaan sumberdaya, seperti bahan baku lokal, keterampilan sumberdaya lokal, teknologi produksi lokal serta sarana dan prasarana lokal lainnya. Komoditi lokal potensial adalah menyangkut pertanian dalam arti luas, meliputi: kehutanan, perikanan, peternakan, perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura. Selanjutnya komoditi potensial memiliki keunggulan pada masing-masing wilayah. Produk unggulan merupakan produk hasil usaha masyarakat desa yang memiliki peluang pemasaran yang tinggi dan menguntungkan bagi masyarakat desa. Beberapa kriteria dari produk unggulan adalah (a) mempunyai daya saing yang tinggi di pasaran (keunikan/ciri spesifik, kualitas bagus, harga murah); (b) memanfaatkan potensi sumberdaya lokal yang potensial dapat dikembangkan; (c) mempunyai nilai tambah tinggi bagi masyarakat perdesaan; (d) secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan sumberdaya manusia; (e) secara administrasi layak didukung oleh modal bantuan atau kredit (Sulastri et al. 1999).
2.2. Ciri-Ciri Lahan Gambut dan Arah Penggunaannya
Menurut Radjagukguk (2003) lahan gambut tropika yang terdapat di Indonesia dicirikan oleh antara lain: 1) Biodiversitas (keragaman hayati) yang khas dengan kekayaan keragaman flora dan fauna 2) Fungsi hidrologisnya, yakni dapat menyimpan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Satu juta lahan gambut tropika setebal 2 m ditaksir dapat menyimpan 1,2 juta m3. 3) Sifatnya yang rapuh
(fragile) karena dengan pembukaan lahan dan drainase (reklamasi) akan mengalami pengamblesan (sub-sidence), percepatan peruraian dan resiko pengerutan tak balik (irreversible) serta rentan terhadap bahaya erosi 4. Sifatnya yang praktis tidak terbarukan karena membutuhkan waktu 5000-10.000 tahun untuk pembentukannya sampai mencapai ketebalan maksimum sekitar 20 m, sehingga taksiran laju pelenggokannya adalah 1 cm/5 tahun, di bawah vegetasi hutan 5.
Bentuk lahan dan sifat-sifat tanahnya yang khas, yakni lahannya berbentuk kubah keadaannya yang jenuh atau tergenang pada kondisi alamiah serta tanahnya mempunyai sifat-sifat fisika dan kimia yang sangat berbeda dengan tanah-tanah mineral. Lahan gambut terdiri 3 jenis yaitu gambut dangkal dengan lapisan <50 cm,
gambut sedang dengan tebal lapisan 50–100 cm dan gambut dalam dengan lapisan >200 cm (Widjaja Adhi, 1992).
Menurut Alihamsyah dan Ananto (1998) sifat lahan rawa mempunyai sifat marginal dan rapuh, maka dalam pengembangannya dalam skala luas perlu kehati-hatian. Kesalahan dalam reklamasi dan pengelolaan lahan mengakibatkan rusaknya lahan dan lingkungan. Luas lahan gambut yang terlantar (bongkor) di beberapa lokasi transmigrasi Barambai akibat kebakaran sehingga lahan tidak bisa ditanami semakin luas. Akibat lahan terbakar, permukaan lahan tidak rata. Topografi lahan juga dipengaruhi oleh besarnya subsiden (amblasan) dari gambut akibat kebakaran dan intensifikasi pengelolaan.
Dradjat et al (1986) dalam Noor (2001) melaporkan laju amblesan 0,36 cm/bulan pada tanah gambut Saprik di Barambai (Kalimantan Selatan) selama 12-21 bulan setelah reklamasi, sedang untuk gambut Saprik di Talio (Kalimantan Tengah) lajunya 0,178 cm/bulan dan bahan gambut Hemik Saprik 0,9 cm/bulan. Demikian juga pada lokasi yang sama penurunan muka lahan di Desa Babat Raya dan Kolam Kanan Kecamatan Barambai Kalimantan Selatan mencapai antara 75-100 cm dalam masa 18 tahun, yakni periode April 1978-September 1996 (Noorginayuwati et al.1996). Amblesan di atas akibat pengatusan yang berlebih, kebakaran atau pembakaran, intensifikasi pemanfaatan dan upaya konservasi yang kurang memadai. Oleh karena itu untuk pemanfaatan lahan rawa perlu disesuaikan tipologi dan tipe luapan.
2.3. Persepsi Petani Terhadap Lahan Gambut
Hasil studi menunjukkan bahwa tanggapan atau persepsi yang berbeda antara petani etnis Banjar (penduduk lokal) dengan petani etnis Jawa (transmigran) dalam usaha menjinakkan kendala-kendala lahan dalam budidaya tanaman di lahan gambut. Pada tahun awal kedatangan petani transmigrasi masih kurang mengenal tentang lahan gambut. Hal ini karena mereka umumnya berasal dari lahan kering yang jauh berbeda keadaannya dengan lahan rawa. Selain itu, orientasi usahatani yang mereka terapkan adalah semata mata tanaman pangan sehingga sistem tebas-bakar merupakan usaha yang paling dominan dalam menjinakkan lahan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa dengan dibakar maka diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman (seperti jagung, padi dan lainnya) yang lebih baik. Sistem tebas-bakar juga dimaksudkan untuk dapat lebih hemat dan cepat dalam penyiapan lahan sehingga dapat menepati waktu tanam dengan intensitas tanam 2-3 kali setahun (Idak, 1992).
Pemanfaatan lahan gambut bagi etnis Banjar diprioritaskan untuk tanaman perkebunan seperti karet, kelapa dan sebagainya. Tanaman pangan umumnya padi lokal hanya sebagai sisipan. Pada desa-desa sepanjang Anjir Serapat (Desa Gandaria dan sekitarnya) setelah terjadi kebakaran besar-besaran tahun 1927 maka sebagian besar kebun karet rakyat dijadikan persawahan. Namun dalam budidaya petani lokal berbeda dengan yang diterapkan para petani transmigran, mereka hanya mengenal sistem tanam pindah dengan pengolahan tanah minimum (dengan tajak) dan sistem pengembalian jerami tanaman (tebas-puntalampar) secara berkesinambungan. Selain itu intensitas tanam setahun sekali karena padi lokal (photoperiod sensitive) yang berumur panjang antara 8 – 11 bulan. Sistem ini menunjukkan sistem recycling hara yang cukup baik (Rina et al 1996). Selanjutnya hasil penelitian Noorginayuwati et al. (2006) melaporkan bahwa persepsi petani mengenai lahan gambut cukup baik karena 82% responden tahu tentang karakteristik lahan gambut tentang klasifikasi lahan gambut, ciri lahan gambut yang cocok untuk pertanian, perbedaan dari segi kesuburan, tanaman yang dapat diusahakan, pemasalahan yang dihadapi dan cara mengatasinya. Persepsi seseorang dipengaruhi oleh faktor personal dan factor situasionalnya dan suatu inovasi akan diadopsi oleh petani apabila petani mempunyai persepsi yang baik terhadap inovasi tersebut.
Menurut Littlejohn (1987) persepsi yang keliru dapat terjadi karena kurang tepatnya pengetahuan atau pengertian terhadap objek persepsi. Secara teoritis persepsi petani tentang lahan dan degradasi yang mungkin terjadi mempengaruhi perilaku mereka dalam mengusahakan lahan. Pada keadaan musim kemarau panjang seperti pada tahun 1972, 1982, 1985 dan 1992 hampir semua lahan gambut termasuk di UPT Pangkoh Kalimantan Tengah terbakar secara besar-besaran. Apabila tidak terjadi kemarau panjang petani yang sadar melakukan pembakaran terbatas atau terkendali. Mnururt Noorginayuwati et al (2006), di Desa Siantan Hulu Kalimantan Barat, petani membakar lahan gambut terkendala pada tempat tertentu dan hasil pembakaran diperjual belikan sebagai pupuk tanaman sayuran. Menurut petani lokal (Banjar), Melayu maupun transmigran mempunyai kesamaan pendapat yang menyatakan bahwa lapisan atas berupa gambut harus dipertahankan antara 15 cm (petani lokal) dan 25-50 cm (petani transmigran).
2.4. Pengelolaan Lahan Gambut
Pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan sangat perlu dipraktekan mengingat lahan gambut merupakan salah satu lahan untuk masa
depan apabila diperhatikan cara pengelolaan yang tepat. Menurut Sabiham (2007) melaporkan bahwa beberapa kunci pokok penggunaan gambut berkelanjutan: (1) Legal aspek yang mendukung pengelolaan lahan gambut, (2) Penataan ruang berdasarkan satuan system hidrologi, (3) Pengelolaan air yang memadai sesuai tipe luapan dan hidro topografi, (4) Pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik tanah mineral di bawah lapisan gambut, (5) Peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut. Selain itu dalam pengelolaan lahan gambut haruslah didukung dengan teknologi budidaya spesifik lokasi dan ketersediaan lembaga pendukung.
Salah satu upaya dapat dilaksanakan untuk memanfaatkan lahan gambut dan mengurangi resiko terjadinya kebakaran di lahan gambut/bergambut adalah memperpendek masa bera. Pengaturan pola tanam dan pola usahatani merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan intensitas pertanaman dan memperpendek masa bera. Pola usahatani yang diterapkan petani dapat berupa monokultur seperti padi-bera, padi+palawija/sayuran, sayuran+palawija, sayuran-sayuran, sangat tergantung pada tipologi gambut. Sistem usahatani lahan rawa menurut Suprihatno et al. (1999) dan Alihamsyah et al. (2000) hendaknya didasarkan kepada sistem usahatani terpadu yang bertitik tolak kepada pemanfaatan hubungan sinergik antar subsistemnya agar pengembangannya tetap menjamin kelestarian sumberdaya alamnya. Secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang cocok dikembangkan di lahan rawa, yaitu sistem usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditi andalan (Alihamsyah dan Ananto 1998; Suprihatno et al., 1999; Alihamsyah et al., 2000). Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan petani sedangkan sistem usahatani berbasis komoditi andalan dapat dikembangkan dalam skala luas dalam perspektif pengembangan sistem dan usaha agribisnis.
Menurut Limin (2006), pemanfaatan lahan gambut untuk tetap dipertahankan sebagai habitat ratusan species tanaman hutan, merupakan suatu kebijakan yang sangat tepat. Disamping kawasan gambut tetap mampu menyumbangkan fungsi ekonomi bagi manusia di sekitarnya (produk kayu dan non kayu) secara berkelanjutan, fungsi ekologi hutan rawa gambut sebagai pengendali suhu, kelembaban udara dan hidrologi kawasan akan tetap berlangsung sebagai konsekuensi dari ekosistemnya tidak berubah. Hutan rawa gambut memiliki jenis pohon bernilai ekonomis tinggi, demikian pula satwa. Berdasarkan data pada salah satu HPH yang berlokasi di lahan gambut, diketahui bahwa populasi 10 jenis pohon
bernilai ekonomis tinggi dan jenis yang dilindungi dengan diameter ≥ 20 cm rata-rata 21 pohon/ha dengan volume rata-rata 30,94 m3/ha. Diantara ke-10 jenis pohon
tersebut terdapat 67,83% adalah ramin (Gonystylus bancanus Kurz). Berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan alami pohon-pohon bernilai ekonomis tersebut, maka “Wise Use of Tropical Peatland” hendaknya tidak lagi harus dipaksa untuk melakukan perubahan yang justru mengakibatkan munculnya permasalahan baru yang berdampak negatif bagi manusia dan lingkungan.
Menurut Limin (2006), pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian termasuk perkebunan dan tanaman industri tergolong sangat rawan, terutama jika dilaksanakan pada gambut tebal di daerah pedalaman (disebut gambut pedalaman). Kenapa? Jawaban yang pasti adalah jika lahan gambut pedalaman dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi-komoditi diatas, maka mengharuskan adanya upaya menyesuaikan kondisi air lahan atau mengeringkan lahan dengan cara membuat saluran drainase atau kanal. Sedangkan untuk jenis gambut pantai di daerah pasang surut, pembuatan drainase atau kanal ditujukan untuk menyalurkan air ke bagian dalam (beberapa kilometer dari tepi sungai atau laut). Tanpa membuat saluran drainase atau kanal pada gambut pedalaman, dipastikan hanya jenis pohon asli setempat (ramin, meranti rawa, jelutung, gemor, dll) yang bisa tumbuh dalam kondisi jenuh air atau daerah yang dominan basah. Dibalik pembuatan drainase yang menyebabkan penurunan air tanah, maka terjadi perubahan suhu dan kelembaban di lapisan gambut dekat permukaan, sehingga mempercepat proses pelapukan dan permukaan gambut semakin menurun. Limin et al. (2000) melaporkan bahwa penurunan permukaan lahan gambut di daerah Kalampangan (eks UPT Bereng Bengkel) paling sedikit 1-3 cm tiap tahun. Limin (1998) menyatakan walaupun pelapukan bahan organik tersebut menghasilkan hara bagi tanaman, pelapukan juga menghasilkan asam organik yang berpengaruh lebih kuat dan dapat menyebabkan keracunan bagi tanaman.
Pembuatan saluran drainase atau kanal-kanal melintasi lapisan gambut tebal, tampaknya belum banyak diketahui oleh banyak pihak akan berdampak negatif jangka panjang. Contoh nyata adalah proyek PLG sejuta hektar yang mulai dibangun tahun 1996. Dengan program kanalisasi yang mencincang habis hamparan gambut diantara 4 sungai besar (Sabangau, Kahayan, Kapuas dan Barito), sejak itu pula terjadi perubahan drastis neraca air pada 4 (empat) daerah aliran sungai (DAS) tersebut, sehingga kawasan eks PLG merupakan penghasil asap terbesar di Kalimantan Tengah. Selain itu, kerugian besar telah diderita oleh masyarakat asli setempat akibat perubahan ekosistem, karena usaha tradisional
yang telah diandalkan sebagai sumber pendapatan tetap mengalami penurunan produktivitas hingga hilang (tidak dapat diusahakan lagi).
2.5. Kriteria Pemanfaatan Gambut
Menurut Limin (2006), kegagalan pemanfaatan gambut tidak lain disebabkan banyak faktor yang dilangkahi dan tidak dipertimbangkan sebagai kriteria dalam pemanfaatannya. Dasar pemanfaatan lahan gambut yang selama ini hanya mengandalkan KEPPRES No. 32 Tahun 1990 yang menyatakan bahwa ketebalan gambut lebih dari 3 meter untuk dikonservasi atau untuk kehutanan dan kurang dari 3 meter dapat dijadikan kawasan produksi, tampaknya harus ditinjau kembali. Mengacu dari pertemuan Tim Ad Hoc di BAPPENAS, Limin et al (2003) menyatakan bahwa KEPPRES No. 23/1990 ditetapkan tidak berdasarkan hasil riset dan fakta lapangan, melainkan hanya mengakomodir pendapat para peserta rapat yang hadir dalam penetapannya. Apabila tetap memberlakukan KEPPRES No. 23/1990 tersebut dipastikan akan menyebabkan kerusakan hebat pada lahan gambut yang tersisa, dan menyulitkan restorasi lahan gambut yang telah rusak. Oleh karena itu, selain harus mempertimbangkan aspek budaya masyarakat dan aspek pasar, Limin et al. (2000) mengajukan kriteria pemanfaatan gambut seperti diperincikan pada Tabel 2.1.
III. METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif. Dikategorikan sebagai penelitian kualitatif karena hasil akhir penelitian adalah menemukan rumusan kelompok model dan rekomendasi intervensi dalam pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut. Menurut Sukmadinata (2006), penelitian kualitatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan pemikiran orang secara individu ataupun kelompok. Menurut Bogdan dan Taylor (1975) dalam Moleong (2012), penelitian kualitatif (naturalistic inquiry) adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
3.2. Waktu dan Tempat
Penelitian membutuhkan waktu selama 6 (enam) bulan, terhitung sejak Juli - Desember 2017, yang mencakup penelitian pendahuluan atau pra survei hingga penyusunan laporan akhir dan memulai proses jurnal atau journal submission. Penelitian dilakukan di KHG Kahayan-Sabangau yang secara administrasi termasuk di dalam Wilayah Kabupaten Pulang Pisau. Kabupaten Pulang Pisau merupakan wilayah prioritas tahap pertama dalam restorasi lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah.
Obyek penelitian adalah masyarakat yang telah mengusahakan komoditi pertanian (dalam arti luas) di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) pada KHG Sungai Kahayan-Sebangau yang secara administratif meliputi: Kecamatan Jabiren Raya, Kahayan Hilir, Maliku, Pandih Batu, Kahayan Kuala dan Sebangau Kuala berdasarkan tiga tipologi gambut, yakni: gabut pedalaman, gambut transisi dan gambut pantai.
Berdasarkan tipologi pembentukan gambut tersebut dan status kawasan APL, maka ditetapkan 1 (satu) desa sebagai sampel untuk masing-masing kecamatan. Desa-desa sampel untuk masing-masing kecamatan menurut tipologi pembentukan gambut disajikan dalam Tabel 3.1. Lokasi sampel dapat dilihat pada Peta Lampiran 1-9.
Tabel 3.1. Desa-desa Sampel di Setiap Kecamatan Menurut Tipologi Gambut pada KHG Sungai Kahayan-Sebangau
No. Tipologi Pembentukan Kecamatan Desa
13. Gambut pedalaman (Inland peat) 1. Jabiren Raya Jabiren 2. Kahayan Hilir Buntoi 2. Gambut transisi (Transition peat) 1. Maliku Garantung
2. Pandih Batu Kantan Muara 1. Gambut pantai (Coastal peat) 1. Kahayan Kuala Sei Pasanan
2. Sebangau Kuala Sei Hambawang
3.3. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari informan. Menurut Herdiansyah (2012), pada penelitian kualitatif tidak mempersoalkan berapa jumlah informan yang dijadikan sumber data penelitian, tetapi tergantung dari ketepatan penentuan informan kunci dan kompleksitas fenomena yang diteliti. Informan penelitian terdiri dari yaitu informan kunci (key informant) dan informan lanjutan. Informan kunci terdiri dari pihak-pihak atau orang-orang yang dianggap mengetahui secara secara umum tentang kondisi dan potensi wilayah, terdiri dari aparatur pemerintah daerah yang menguasai lokasi penelitian. Informan lanjutan diperoleh secara snowball informant dari informan kunci. Data sekunder adalah data penunjang yang diperolah dari SKPD atau LSM/NGO terkait serta hasil-hasil penelitian sebelumnya yang telah dipublikasi.
3.4. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data primer dilakukan dengan pendekatan observasi, wawancara, dan diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD). Observasi dilakukan pada situs-situs komoditi lokal potensial yang telah dikembangkan masyarakat. Wawancara dilakukan pada informan perorangan, dan diskusi kelompok dilakukan bersama dengan pihak-pihak yang terkait dengan komoditi potensial yang dikembangkan.Terkait dengan cara pengumpulan data pada setiap tujuan penelitian, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Analisis pasar, yakni meliputi saluran dan marjin pemasaran hasil. Analisis pasar pengadaan faktor produksi dan pemasaran hasil menggunakan data sekunder yang diperkuat dengan wawancara dan FGD dengan pihak-pihak terkait.
2. Rumusan kelompok model pengembangan komoditi lokal di lahan gambut disusun berdasarkan komoditi tanaman tahunan usaha masyarakat di lokasi penelitian yang dipadukan komoditi pertanian, peternakan dan perikanan yang layak secara teknis, ekonomi, dan sosial, serta cepat menghasilkan sebagai sumber pendapatan masyarakat sebelum tanaman tahunan menghasilkan. Kelompok model ini dirumuskan melalui hasil observasi, wawancara dan FGD. 3. Rekomendasi intervensi pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut
disusun berdasarkan hasil analisis pasar dan rumusan kelompok model dan ditujukan kepada pengambil kebijakan dalam pengembangan wilayah KHG Kahayan-Sebangau.
3.5. Metode Analisis Data
Analisis data penelitian kualitatif merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi secara terus menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis, dan menulis catatan singkat sepanjang kegiatan penelitian (Creswell, 2012). Tujuan penelitian ini dianalisis menggunakan komponen model analisis interaktif. Menurut Miles dan Huberman (1992), model interaktif adalah pelaksanaan analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara interaktif, dan saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data, seperti Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman (1992) 1. Analisis pasar, meliputi saluran dan marjin pemasaran hasil
2. Rumusan kelompok model pengembangan komoditi potensial di lahan gambut disusun berdasarkan pendekatan struktur peristiwa, yaitu sesuai dengan tahapan pelaksanaan usaha komoditi lokal potensial yang dikembangkan di setiap wilayah melalui domain sub-sistem agribisnis. Analisis struktur peristiwa
jalan mengorganisasikan urutan kejadian dengan cara-cara tertentu sehingga mempermudah mencari hubungan kausal. ESA tidak hanya sekedar mengulang cerita atau kejadian, tetapi juga menguraikan rangkaian hubungan antara kejadian yang berlangsung. ESA dipermudah melalui penentuan domain peristiwa yang terjadi terlebih dahulu (Ahmadi, 2014). Analisis ESA diperkuat dengan analisis klasifikasi stakeholders yang menintegrasikan antara kekuatan dan keinginan stakeholders yang terlibat dalam kelompok model.
3. Rekomendasi intervensi pengembangan komoditi lokal di lahan gambut dianalisis secara deskriptif komponensial berdasarkan hasil analisis pasar dan rumusan kelompok model pengembangan komoditi lokal di lahan gambut serta kesesuaian lahannya. Rekomendasi intervensi ditujukan kepada pemangku kepentingan terkait yang berkompeten sebagai penentu kebijakan dalam perencanaan pembangunan daerah, khususnya berkaitan dengan restorasi gambut tingkat nasional dan daerah.
a.
Logical Frame Work
Logika pelaksanaan kegiatan penelitian secara ringkas dituang dalam bentuk
Tabel 3.2. Logical Frame Work
Uraian Singkat Indikator Sumber Pembuktian Asumsi Penting
I. Outcome:
Misi BRG terealisasi (Revegetasi dan Revitalisasi, 2 R)
✓ Luas lahan yang ditanami bertambah
✓ Pendapatan masyarakat meningkat
▪ Penerapan hasil riset selanjutnya berupa pilot proyek pada tahun anggaran berikutnya
• Hasil riset ini dapat diaplikasi di daerah setempat
II. Tujuan:
1. Menganalisis pasar komoditi lokal potensial di lahan gambut
✓ Komoditi lokal yang memiliki saluran pemasaran yang pendek dan marjin yang kecil
▪ Hasil wawancara, FGD, observasi lapangan, data sekunder dan analisis pasar
• Semakin pendek saluran pemasaran dan semakil kecil marjinnya, maka semakin efisien pasar komoditi
tersebut sehingga harga produk murah dan dapat bersaing.
2. Merumuskan kelompok model pengembangan komiditi lokal potensial di lahan gambut.
✓ Komoditi lokal yang secara teknis, ekonomis, dan sosial layak dikembangkan di lahan gambut
▪ Hasil wawancara, observasi lapangan, FGD dan analisis ESA
• Kelompok model yang baik berkriteria: ➢ layak secara teknis
➢ layak secara financial/ ekonomis ➢ layak secara sosial atau sesuai
kearifan lokal 3. Memberikan rekomendasi intervesi
pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut
✓ Adanya poin-poin perbaikan pada masing-masing kelompok model
▪ Hasil wawancara, observasi lapangan, data sekunder, FGD dan analisis deskriptif komponensial
• Kelompok model yang ada memiliki kelemahan tertentu sehingga perlu perbaikan dengan intervensi di bagian tetrtentu oleh pihak terkait.
Lanjutan Tabel 3.2.
Uraian Singkat Indikator Sumber Pembuktian Asumsi Penting
III. Output:
Rumusan kelompok model komoditi lokal potensial dan intervensi perbaikannya
✓ Terbentuknya beberapa kelompok model komoditi lokal potensial dan poin-poin bentuk intervensi perbaikannya
▪ laporan akhir • kelompok model merupakan cluster pengembangan model pengelolaan lahan gambut berbasis komoditi lokal potensial
IV. Aktivitas: Input: Kendala
1. Analisis pasar komoditi lokal potensial di lahan gambut
✓ Beberapa komoditi lokal potensial ▪ laporan pendahuluan • data sekunder kurang mendukung kebutuhan analisis data
• pasar konkrit tidak tersedia 2. Perumusan kelompok model
pengembangan komoditi lokal potensial di lahan gambut
✓ Beberapa komoditi lokal potensial ✓ Adanya pasar hasil
✓ Beberapa pemangku kepentingan
▪ laporan akhir
▪ publikasi ilmiah • pemahaman masyarakat setempat terbatas • lokasi sulit dijangkau
• data sekunder kurang mendukung kebutuhan analisis data
IV. BIAYA, JADWAL PENELITIAN DAN TIM PELAKSANA
4.1. Anggaran Biaya
Anggaran biaya untuk kegiatan penelitian selama 6 bulan disajikan pada Tabel 4.1, sedangkan justifikasi anggaran tersebut disajikan pada Lampiran 1. Tabel 4.1. Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian
No. Jenis Pengeluaran Biaya yang Diusulkan (Rp)
Biaya yang Diusulkan (%)
1 Honorarium 186.600.000 37,32
2 Survei pendahuluan 10.140.000 2,03 3 Sewa alat dan ATK 56.750.000 11,35 4 Bahan/perlengkapan penunjang 20.270.000 4,05 5 Pengumpulan data dan FGD 155.770.000 31,15 6 Koordinasi dan rapat tim 29.830.000 5,97 7 Proposal/seminar/laporan/jurnal 40.640..000 8,13
Total 500.000.000 100,00
4.2. Jadwal Penelitian
Peaksanaan penelitian dilakukan untuk jangka waktu 6 bulan, atau kurang lebih selama 24 minggu, sebagaimana disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Jadwal Penelitian
No. Bulan\Minggu
Kegiatan
Juni Juli Agustus September Oktober November
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 1. Persiapan penyusunan proposal
-Pra survey √
-Pengumpulan data sekunder √ 2 Penyusunan proposal
-Penyusunan draft proposal √
-Revisi proposal √ √ √ √ √ √ √
2. Pengumpulan & pengolahan data
-Kec. Jabiren Raya √
Pengolahan data/analisis √
-Kec. Kahayan Hilir √
Pengolahan data/analisis √
-Kec. Maliku √
Pengolahan data/analisis √
-Kec. Pandih Batu √
Pengolahan data/analisis √
-Kec. Kahayan Kuala √
Pengolahan data/analisis √
3. Draft laporan √
4. Paparan hasil penelitian √
5. Revisi laporan akhir √
6. Penyerahan laporan akhir √
4.3. Tim Pelaksana
Tim pelaksana terdiri dari pengarah, penanggung jawab, ketua dan 5 orang anggota sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Tim Pelaksana Kegiatan
No. Nama Jabatan Bidang Ilmu
1. Rektor UPR Pengarah -
2. Kepala UPT-LLG/CIMTROP. Penanggung jawab -
3. Dr. Yuprin A.D, SP. MP. Ketua Ekonomi Pertanian 4. Dr. Ir. Wilson Daud, M.Si Bendahara Manajemen
Agribisnis 5. Yanetri Asi, SP, M.Si, Ph.D Anggota 1 Agrotek/HPT 6. Dr. Ir. Johanna M. Rotinsulu, MP Anggota 2 Agroforestry dan
Silvikultur 7. Dr. Zafrullah Damanik, SP., MP. Anggota 3 Tanah/Lahan 8. Maria Haryulin Astuti, SPt, MP Anggota 4 Produksi Tenak 9. Ir. Inga Torang, M.Si. Anggota 5 Perikanan
REFERENSI
Ahmadi, R. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan I. Arr-Ruzz Media, Yogyakarta
Alihamsyah, T. EE Ananto. 1998. Sintesis Hasil Penelitian Budidaya Tanaman dan Alsintan pada Lahan Pasang Surut. Dalam Sabran et al. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Menunjang Akselerasi Pengembangan Lahan Pasang Surut. Balittra. Banjarbaru.
Alihamsyah, T.,E.E.Ananto, H.Supriadi, I.G.Ismail dan D.E.Sianturi. 2000. Dwi Windu. Penelitian Lahan rawa: Mendukung Pertanian Masa Depan. ProyekPenelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP.
Bogdan, R. and S. J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Method. John Willey and Sons, New York
Creswell, J. W. 2012. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Edisi Ketiga. Terjemahan Achmad Fawaid. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
Herdiansyah, H. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Cetakan Ketiga. Salemba Humanika, Jakarta
Idak, H. 1992. Perkembangan dan Sejarah perswahan di Kalimantan Selatan. Pemda Tingkat I. Kalimantan Selatan. Banjarmasin Littlejohn, S.W. 1987. Theorities of Human Communication. 2nd ed. Wordsworth Publishing Comp. Belmont. California.
Littlejohn, S.W. 1987. Theorities of Human Communication. 2nd ed. Wordsworth Publishing Comp. Belmont. California.
Limin, S. H. 1998. Residual Effect of Lime, Phospahate and Manure on Crops
Commodities in Inland Peat. The University of Palangka Raya.
Limin, S. H., Tampung N. Saman., Patricia E. Putir., Untung Darung, dan Layuniyati. 2000. Konsep Pemanfaatan Hutan Rawa Gambut di Kalimantan Tengah. Disampaikan pada “Seminar Nasional Pengelolaan Hutan Rawa Gambut dan ekspose hasil Penelitian di Lahan Basah”, diselenggarakan oleh Balai Teknologi Reboisasi Banjarbaru, Istana Barito Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 9 Maret 2000.
Limin, S. H., Saman, T. N. and Alim, S. 2003. Forest Fires Suppression Activities
in Kalampangan Zone and the Natural Laboratory of Peat Swamp Forest (NLPSF) in Central Kalimantan. Presented in Hokkaido University,
Limin, S.. H. 2006. Pemanfaatan Lahan Gambut dan Permasalahannya. Masukan Singkat dalam Workshop Gambut dengan Tema: Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pertanian, Tepatkah? Kerjasama antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jakarta, 22 November 2006.
Miles, M. B. dan A. M. Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Universitas Indonesia Press, Jakarta
Moleong, L. J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. PT. Remaja Rodakarya, Bandung
Noor, Muhammad 2001. Pertanian Lahan Gambut: Potensi dan Kendala. Kanisius. Yogyakarta.
Noorginayuwati, A.Rafiq, Yanti R., M. Alwi, A.Jumberi, 2006. Penggalian Kearifan Lokal Petani untuk Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan. Laporan Hasil Penelitian Balittra 2006.
Radjaguguk, B. 2003. Perspektif Permasalahan dan Konsepsi Pengelolaan Lahan Gambut Tropika untuk Pertanian berkelanjutan. Pidato Pengukuhan Guru Besar. UGM.
Rina, Y, M. Noor dan A. Jumberi. 1996. Konservasi Lahan Dalam Usahatani Tanaman Pangan di Lahan Gambut Kalimantan Selatan dan Tengah. Makalah disajikan pada Kongres III dan Seminar Nasional MKTI di Universitas Brawijaya Malang tanggal 4-5 desember 1996.
Sabiham, S. 2007. Pengembangan Lahan Secara berkelanjutan Sebagai Dasar dalam Pengelolaan Gambut di Indonesia. Makalah Utama disimpulkan pada Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa di kapuas, 3-4 juli, 2007. Sukmadinata, N. S. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Remaja Rosda Karya,
Bandung.
Sulastri, Hasyim, Sofwani, dan Soemarno. 1999. Analisis Potensi Produk Unggulan Bidang Agrokompleks Di Wilayah Kabupaten Kediri.Jurnal Agritek, Volume 7, Nomor 4.
Suprihatno B, T Alihansyah, EE Ananto. 1999. Teknologi Pemanfaatan Lahan Pasang Surut dan Lebak untuk Pertanian Tanaman Pangan. Makalah Disajikan pada Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV di Bogor tanggal 22-24 November 1999.
Widjaya-Adhi. I.P.G., Nugroho, Didi Ardi dan A.S. Karama. 1992. Sumberdaya Lahan Pasang Surut, Rawa dan Pantai.: Potensi, Keterbatasan Dan Pemanfaatan. Dalam S. Partohardjono dan M. Syam (Eds). Pengembangan Terpadu Pertanian Lahan Pasang Surut dan Lebak. Risalah Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa. Cisarua, 3 – 4 Maret 1992. Puslitbangtan. Bogor.
Biodata Bendahara
N a m a : Dr. Ir. Wilson Daud, M.Si Tempat/tanggal lahir : Gunung Mas, 8 November 1965
Alamat rumah : Jl. B. Koetin No. 108 Palangka Raya, Kalimantan Tengah Telp. 081349252227, 087804891008, 085700331008 Email: [email protected],
Pendidikan : 1. Sarjana Pertanian (S1), Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Winaya Mukti – Sumedang, 1991.
2. Pascasarjana (S2), Magister Manajemen Agribisnis, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2002.
3. Pascasarjana (S3), Konsentrasi Corporate Social Responsibility (CSR), Program Studi Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2017.
Pekerjaan : Tenaga Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.
NIP : 19651108 199302 1 001
NIDN : 0008116502
Pangkat/Golongan : Pembina / IV a Jabatan : Lektor Kepala
Alamat Kantor : Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
Jl. H. Timang, Kampus Universitas Palangkaraya, Tunjung Nyaho. Telp. (0536) 3306890, 3227863
Pernah melakukan penelitian di tahun 2007: Profil Investasi dan Rencana Bisnis Komoditi Potensial, Rancang Bangun Pengembangan Komoditi Unggulan; di tahun 2009: Rencana Strategis Penanggulangan Kemiskinan Daerah di Gunung Mas; di tahun 2010: Kajian Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah; di tahun 2013: Penyusuan Profil Kelompok Usaha Agribisnis Perkebunan di Provinsi Kalimantan Tengah; di tahun 2015: Pengembangan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Murung Raya, Kajian Penciptaan Klaster Ekonomi di Kabupaten Murung Raya; di tahun 2016: Penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal Kabupaten Pulang Pisau.
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Biodata Anggota 1
N a m a : Yanetri Asi Nion, SP, M.Si, Ph.D Tempat/tanggal lahir : Palangka Raya, 3 Januari 1974
Alamat rumah : Jl. Paus Raya, A/406 Palangka Raya, Kalimantan Tengah Hp. 085249090376
E-mail: [email protected]
Pendidikan : 1. Sarjana Pertanian (S1), Jurusan Budidaya Pertanian, minat Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya, Palangka Raya,1991-1996. 2. Pascasarjana (S2), Magister Sains Program Studi Bioteknologi, minat Penyakit Tanaman, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1997-2000.
3. Pascasarjana (S3), Doktor Mikrobiologi Pertanian, minat Penyakit Tanaman pada Bioapplication and Systems Engineering (BASE), Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Jepang, 2005-2008.
Pekerjaan : Tenaga Pengajar Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.
NIP : 19740103 199903 2 003
NIDN : 0003017404
Pangkat/Golongan : Penata Tk.1/IIId Jabatan : Lektor
Alamat Kantor : Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
Jl. H. Timang, Kampus Universitas Palangkaraya, Tunjung Nyaho.
Pernah melakukan penelitian Kombinasi Limbah Sampah Dan Trichoderma Sp G11.3 Serta Burkholderia Nodosa G5.2rif1 untuk Menekan Penyakit Layu Fusarium dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Cabe Pada Tanah Gambut (2012), Biochar Plus dari Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk meningkatkan Produksi Pertanian Berkelanjutan (2013), Variasi Berbagai Media PertumbuhanTrichoderma sp dan Burkholderia nodosa G5.2 untuk Produksi Pupuk Hayati dan Pengendali Penyakit Tanaman (2014), dan Potensi rumput, semak dan kayu asal Kalimantan Tengah dalam menekan patogen jamur Sclerotium rolfsii dan bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (2016).
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Biodata Anggota 2
N a m a : Dr.Ir. Johanna Maria Rotinsulu, M.P Tempat/tanggal lahir : Balikpapan, 8 Agustus 1962
Alamat rumah : Jl. Jalak II No. 9 Palangka Raya, Kalimantan Tengah Hp. 085233300452
E-mail: [email protected]
Pendidikan : 1. Sarjana kehutanan (S1), Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjar Baru Kalimantan Selatan. 1987
2. Pasca Sarjana (S2) Magister Pertanian, Bidang Keahlian Silvikultur, Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, 2000.
3. Pasca Sarjana (S3), Doktor Bidang Agroforestri dan Silvikultur, Program Pasca Sarjana, Minat Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, 2014.
Pekerjaan : Tenaga Pengajar Jurusan / Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.
NIP : 19620808 198903 2 006
NIDN : 0008086213
Pangkat/Golongan : Pembina /IVa Jabatan : Lektor Kepala
Alamat Kantor : Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
Jl.H.Timang, Kampus Universitas Palangkaraya, Tunjung Nyaho.
Pernah melakukan penelitian Diversitas Pohon dan Keragaman Lingkungan Tempat Tumbuh dalam Mempengaruhi Kualitas Produksi Rotan Sega (Calamus caesius BL) (2013), Pengaruh Bentuk Tajuk Pohon Terhadap Faktor Lingkungan Dan Pertumbuhan Rotan Pada Sistem Agroforestri (2014); Agroforestri Berbasis Rotan Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Barito Selatan, (2015), Peningkatan Produktivitas Belangeran (Shorea Balangeran Korth) Di Persemaian Melalui Pemupukan (2016).
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Biodata Anggota 3
N a m a : Dr. Zafrullah Damanik, SP, M.Si Tempat/tanggallahir : Banjarmasin, 7 April 1979
Alamat rumah : Jl. Kapur Naga I No. 11 Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Hp. 081351911869
E-mail: [email protected]
Pendidikan : 1. Sarjana Pertanian (S1), Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto,1996-2001.
2. Pascasarjana (S2), Magister Sains Program Studi Ilmu Tanah, minat Kimia dan Kesuburan Tanah, Program Pascasarjana Institut Pertanian, Bogor, 2002-2005. 3. Pascasarjana (S3), Doktor Ilmu Pertanian, minat Ilmu
Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2008-2015.
Pekerjaan : Tenaga Pengajar Program Studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya.
NIP : 197904072005011 001
NIDN : 0007057904
Pangkat/Golongan : Penata /IIIc Jabatan : Lektor
Alamat Kantor : Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya
Jl. H. Timang, Kampus Universitas Palangkaraya, Tunjung Nyaho.
Pernah melakukan penelitianTropical Peat Biochemical Interactions with Acid Sulphate Soils(Tropeass) (2008-2010), Kajian Kimia Air Gambut pada Lahan Gambut dengan Substratum Bahan Sulfidik (2015), Carbon Dynamics in Tropical Peatland under Different Land Use (2016), dan Uji Coba Penanaman Napier Grass pada Lahan Bergambut (2016).
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Biodata Anggota 4
Nama : Maria Haryulin Astuti, SPt, MP Nip : 19690718 200501 2 001 Tempat/Tgl Lahir : Banjarmasin, 18 Juli 1969 Agama : Kristen Protestan
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Patimura 10 Palangka Raya 73112 No. Telp : (0536) , 3236427
No. Hp : 08175409369, 085345494001 Jurusan/Prodi : Budidaya Pertanian/Peternakan Tk. Pendidikan : Pasca Sarjana (S-2)
Gelar : Spt, MP Golongan : III/D Jbt. Fungsional : Lektor
Tmt. Pns : 01 Pebruari 2006 Pendidikan :
JENJANG JURUSAN PERGURUAN TINGGI TAHUN
LULUS
DIPLOMA - - -
STRATA 1 Produksi Ternak Fapet/Universitas Brawijaya Malang 1995 STRATA 2 Produksi Ternak Universitas Brawijaya Malang 2001
STRATA 3 - - -
Riwayat Pekerjaan :
1. PNS di Faperta UNPAR terhitung mulai tanggal 1 April 2006–sekarang.
2. DosenTidakTetap di Fakultas Peternakan Universitas Kristen Palangka Raya tahun 1995–2010.
3. Pernah menjadi Sekretaris dan Penerjemah pada PT. Waseco Tirta Palangka Raya tahun 1996–1997.
4. Ketua Jurusan Nutrisidan Makanan Ternak di Fapet UNKRIP tahun 2007–2010. 5. Ketua Program Studi Peternakan Universitas Palangka Raya tahun 2015-2018 Pengalaman Penelitian :
1. Pengaruh Pola Pemberian Pakan Konsentrat dan Hijauan Terhadap Penampilan Produksi Susu Sapi Perah Peranakan Friesian Holstein (1995).
2. Penampilan Produksi Susu Sapi Perah Friesian Holstein dengan Berbagai Rasio Hijauan dan Konsentrat (2001).
3. Pengaruh Beberapa Macam Bokashidan Pupuk Kalium Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Nilam (Pogostemonhcablin Benth) (2007).
4. Kajian Partisipasi Perempuan dalam Program Mamangun dan Mahaga Lewu (PM2L) Di Kabupaten Gunung Mas (2009)
5. Perencanaan/Desain Budidaya dan Manajemen Usaha Peternakan Sapi Potong di Kabupaten Gunung Mas (2010)
6. Karakteristik Jenis dan Kualitas Pakan, Pemeliharaan dan Lingkungan Terhadap Sapi Berpotensi Beranak Kembar di Provinsi Kalimantan Tengah (2010)
Demikian biodata ini saya buat dengan keadaan yang sebenarnya.
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Biodata Anggota 5
1. Nama Lengkap : Ir. INGA TORANG, M.Si 2. Nomor Induk Kependudukan : 6271030611570001
3. Tempat dan Tanggal Lahir : Tumbang Kajuei, 6 Nopember 1957 4. Jenis Kelamin : Laki-laki
5. Alamat :
a. Rumah : Jl. Bukit Raya VI No.: 212 RT 002/RW 016 Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah Telp. (0536) 3227019
b. Kantor : Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya, Jl. H. Timang, Palangka Raya, Telp. (0536) 3228524
c. Email : [email protected]
Inga,torang@pasca,upr.ac.id d. HP : 0822 5122 2898
6. Pendidikan : 1. Sarjana Perikanan (Ir.), Fakultas Perikanan UNLAM Banjarbaru Jurusan Budidaya Perairan. 2. Pascasarjana (S2), Jurusan
Agroklimatologi, Program Pascasarjana IPB, Bogor. Pengalaman Kursus/Pelatihan, dan Penelitian
A. Kursus/Pelatihan
2000. Pelatihan Management Monitoring Consultant (MMC) Budidaya Tambak dan Pembenihan Udang Provinsi Kalimantan Tengah.
2000. Coaching Clinic MMC Daerah, Manajemen dan Monitoring SPL-OECF/JBIC INP 23 Budidaya Tambak dan Pembenihan.
B. Penelitian
Pengalaman penelitian terdiri dari (1) Pola Pemanfaatan Air Gambut Pedalaman untuk Budidaya Benih Ikan Patin (Pangasius sp.); (2) Kajian Domestikasi dan Pemeliharaan Induk Ikan Lokal; (3) Penggunaan Biomedia yang Berbeda dan Pengaruhnya Terhadap Kualitas Air dan Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius sp.) yang Dipelihara di Air Gambut dengan Sistem Resirkulasi; dan (4) Kajian Kawasan Budidaya Perikanan
Demikian biodata ini saya buat dengan keadaan yang sebenarnya.
Palangka Raya, 30 Mei 2017 Penyusun,
Lampiran 3. Perbaikan terhadap Catatan dari Reviewer Jakarta, 22 Juni 2017
No. Catatan Perbaikan
1. Komoditi disesuaikan dengan fungsi lahan (lindung atau budidaya)
Fokus pada kawasan Area Penggunaan Lain (APL) 2. Tetapkan lokasi penelitian,
jangan di lahan konsesi, tapi pilih yang ada masyarakatnya.
Halaman 12
Masyarakat yang mengusahakan komoditi pertanian adalah pada kawasan APL yang secara administrasi, meliputi Kecamatan Jabiren Raya, Kahayan Hilir, Maliku, Pandih Batu dan Kahayan Kuala. 3. Tambahkan tenaga peneliti
yang disesuaikan dengan bidang yang diutuhkan
Halaman sampul atau halaman 20 Sudah ditambah 4 orang: Johanna Maria Rotinsulu, Zafrullah Damanik, Maria Haryulis Astuti dan Inga Torang 4. Ada tambahan poin 3.6.
Logical Frame Work
Halaman 16-17 (Tabel 3.1)
Banjar Baru, 15 Juli
No. Catatan Perbaikan
1. Proposalnya seperti baru di mulai dari awal oleh karena itu perlu dimasukkan hasil-hasil riset sebelumnya yang dilakukan oleh lembaga lain dan data-data statistik terkait dengan komoditi lokal
hasil-hasil riset sebelumnya yang dilakukan oleh lembaga lain sudah dicantumkan pada halaman 1-4