• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PROPOSISI PENELITIAN. 2.1 Konsep Dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Entitas Sektor Publik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PROPOSISI PENELITIAN. 2.1 Konsep Dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Entitas Sektor Publik"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB 2

TINJAUAN TEORITIS DAN PROPOSISI PENELITIAN

2.1 Konsep Dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Entitas Sektor Publik

2.1.1 Pengertian Entitas Sektor Publik dan Badan Layanan Umum

Menurut Rai (2010 : 67) Secara sederhana sektor publik ( public sector ),

dapat diartikan sebagai sektor pelayanan yang menyediakan barang atau jasa bagi

masyarakat umum dengan sumber dana yang berasal dari pajak dan penerimaan

negara lainnya, dimana kegiatannya banyak diatur dengan ketentuan atau

peraturan.

Sedangkan menurut Akadun (2009 : 11) Beberapa hal yang menarik dengan

pengertian sektor publik. Pertama, sektor publik dapat diartikan Aktivitas

pemerintah dan segala konsekuensinya. Kedua, sektor publik merupakan

pengambilan keputusan secara umum oleh negara dan hasil-hasilnya. Ketiga,

sektor publik adalah konsumsi, investasi dan transfer pemerintah (pendekatan

ekonomi). Konsumsi dan transfer pemerintah menggambarkan aktivitas sektor

publik dan pengalokasian sumber daya kedalam anggaran dan belanja negara.

Menurut Nordiawan (2009:183) dalam siklus akuntansi sektor publik, setelah

proses penganggaran selesai, anggaran itu kemudian direalisasikan sebagaimana

yang telah direncanakan organisasi publik. Dengan kata lain, realisasi anggaran

merupakan proses pelaksanaan segala sesuatu yang telah direncanakan dan

dianggarkan oleh organisasi publik.

(2)

Menurut Bastian (2010 : 168). dalam proses perencanaan publik dibagi

menjadi dua yaitu:

1. Sistem Perencanaan Publik.

Dalam setiap organisasi, rencana disusun sesuai dengan struktur

organisasinya. Ada dua jenis rencana yaitu :

a. Rencana stratejik, yang sering disebut rencana jangka panjang (long range

planning

) adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut tujuan

jangka panjang organisasi, kebijakan yang harus diperhatikan, serta

strategi yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk

melaksanakan strategi tersebut, program kerja yang terinci harus disusun

yang mencakup kegiatan yang harus dilakukan, kapan harus dimulai dan

kapan harus selesai, siapa yang bertanggung jawab, serta sumber daya

manusia yang diperlukan.

b. Rencana operasional, terdiri dari, rencana sekali pakai yakni rencana yang

disusun untuk mencapai tujuan tertentu dan segera dibubarkan setelah

tujuan itu tercapai. Rencana permanen, yakni pendekatan yang sudah di

standarisasi untuk menghadapi situasi berulang dan dapat diramalkan

sebelumnya.

2. Siklus Perencanaan Publik

Unsur pengambilan yang sangat penting dalam perencanaan adalah proses

mengembangkan dan memilih langkah-langkah yang akan diambil untuk

menghadapi masalah yang dialami oleh organisasi sektor publik. Pemimpin harus

(3)

mengambil keputusan tentang ramalan situasi yang akan terjadi dimasa yang akan

datang.

Di dalam kegiatan entitas sektor publik kegiatannya memfokuskan pada

Badan Layanan Umum atau pelayanan umum kepada masyarakat berikut ini

merupakan pengertian mengenai Badan Layanan Umum.

Mursyidi (2009:372) menyatakan bahwa Badan Layanan Umum (BLU)

adalah instansi dilingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan

layanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa

mengutamakan mencari keuntungan dan didalam melakukan kegiatannya

didasarakan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Salah satunya adalah Rumah

Sakit Umum Daerah.

Menurut Nurlan (2009:133) BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa

mengutamakan mencari keuntungan. Rencana kerja dan anggaran serta laporan

keuangan dan kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak

terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja

kementrian negara, lembaga SKPD atau Pemerintah Daerah.

BLU diberikan kewenangan untuk mengelola keuangannya secara

desentralisasi (kewenangan pemerintah pusat kepemerintah daerah).

Menurut Eva (2009) Pengelolaan keuangan BLU disebut dengan pola

pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), yaitu pola

pengelolaan keuangan yang memberikan flesibilitas berupa keleluasaan untuk

menerapkan praktek-prektek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan

(4)

kepada masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum dan

kecerdasan kehidupan bangsa.

2.1.2 Pengertian Anggaran dan Karakteristik Anggaran

A. Pengertian Anggaran.

Menurut Rudianto (2009:3) Anggaran adalah rencana kerja organisasi dimasa

mendatang yang diwujudkan dalam bentuk kuantitatif, formal, dan sistematis.

Proses penyiapan anggaran disebut penganggaran. Rencana kerja tersebut ditulis

dalam bentuk sederetan angka yang merupakan target pencapaian organisasi.

Rencana kerja merupakan suatu sasaran resmi organisasi yang harus diupayakan

untuk dicapai oleh seluruh anggota organisasi atau organisasi itu sendiri.

Anggaran juga harus disusun menggunakan suatu urutan tertentu, bukan

acak-acakan.

Menurut Sasongko (2010:81)

Penyusunan anggaran yang baik adalah untuk

mempermudah anggota organisasi memahami target yang harus dicapai oleh

perusahaan dan untuk melihat hubungan antara satu begian rencana kerja dengan

bagian lainnya. Dalam pengelolaan organisasi manajemen menetapkan Budget

atau Anggaran. Anggaran merupakan alat penting untuk perencanaan dan

pengendalian jangka pendek dalam organisasi.

Menurut Asri (2011:6) Definisi Anggaran adalah suatu pendekatan yang

formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen didalam

perencanaan, koordinasi dan pengawasan.

(5)

Menurut Fardian (2012) Anggaran adalah rencana terperinci tentang

perolehan dan penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya

selama suatu periode waktu tertentu.

Nordiawan dan Hertianti ( 2010:69) Anggaran juga dapat dikatakan sebagai

pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu

tertentu dalam ukuran finansial. Dalam pembuatan anggaran sektor publik,

terutama pemerintah, merupakan proses yang cukup rumit dan mengandung

muatan politis yang cukup signifikan. Beda dengan penyusunan diperusahaan

suwasta yang muatan politisnya relatif lebih kecil. Bagi sektor publik seperti

pemerintah. Anggaran tidak hanya rencana tahunan, tetapi juga merupakan bentuk

akuntabilitas atas pengelolaan dana publik yang dibebankan kepadanya.

Dalam pengertian lain. Menurut Kurniawan (2011) Anggaran dapat dikatakan

sebagai buah rencana finansial yang menyatakan hal-hal berikut:

1. Rencana-rencana organisasi untuk melayani masyarakat atau aktivitas lain

yang dapat mengembangkan kapasitas organisasi dalam pelayanan.

2. Entitas besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam merealisasikan rencana

tersebut.

3. Perencanaan sumber-sumber yang akan menghasilakan pemasukan serta

besarnya pemasukan tersebut.

Pengertian anggaran (budget) menurut Afiah (2010:166) adalah suatu rencana

keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan.

Anggaran merupakan alat manajemen yang penting dalam perencanaan dan

pengendalian keuangan organisasi. Sebagai alat manajemen, anggaran tidak akan

(6)

berfungsi dengan baik apabila manusia yang menggunakan alat tersebut tidak

dapat menggunakannya dengan baik. Oleh karena itu anggaran memiliki fungsi

yang sama dengan manajemen.

Menurut Hartanto (2009:54) anggaran mempunyai beberapa fungsi yang

meliputi, fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, dan fungsi pengawasan.

1. Fungsi Perencanaan

Anggaran merupakan komponen utama dari perencanaan yang memuat tujuan

dan tindakan dalam mencapai tujuan perusahaan. Anggaran memberikan

gambaran yang lebih nyata atau lebih jelas dalam unit dan uang.

2. Fungsi Pelaksanaan

Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga

pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan.

3. Fungsi Pengawasan

Anggaran merupakan alat pengendalian atau pengawasan (controlling),

dilakukan dengan cara membandingkan hasil aktual dengan yang dianggarkan

secara periodik serta dengan melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang

perlu.

B. Karakteristik Anggaran

Anggaran harus disusun dan dihitung dengan cermat agar operasionalisasi

perusahaan dapat berjalan dengan efektif. Untuk mewujudkan hal tersebut

anggaran harus mempunyai karakteristik tertentu.

Menurut Samryn (2010:91) karakteristik-karakteristiknya adalah sebagai

berikut:

(7)

1. Anggaran mengestimasikan potensi laba dari unit usaha tersebut.

2. Dinyatakan dalam bentuk moneter, walau jumlah moneter didukung dengan

jumlah nonmoneter (contoh: unit yanbg terjual atau diproduksi).

3. Biasanya meliputi waktu satu tahun.

4. Merupakan komitmen manajemen, manajer setuju untuk menerima tanggung

jawab atas pencapaian tujuan-tujuan anggaran.

5. Usulan anggaran ditinjau dan disetujui oleh penjabat yang lebih tinggi

wewenangnya dari pembuat anggaran.

6. Setelah disetujui, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi-kondisi tertentu.

7. Secara berkala, kinerja keuangan akrual dibandingkan dengan anggaran, dan

varians dianalisis serta dijelaskan.

Menurut Renyowijoyo (2013:4) menyatakan bahwa ada beberapa

karakteristik anggaran, yaitu:

1. Dinyatakan dalam satuan moneter.

2. Umumnya mencakup kurun waktu satu tahun.

3. Mengandung komitmen manajemen.

4. Usulan anggaran disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari pelaksana

anggaran.

5. Harus dianalisis penyebabnya, jika terjadi penyimpangan didalam

pelaksanaannya.

(8)

2.1.3 Rencana Bisnis dan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah

Menurut Peraturan Mentri Keuangan Nomor 44/PMK.5/2009 Rencana Bisnis

dan Anggaran BLUD atau RBA adalah dokumen perencanaan bisnis dan

penganggaran tahunan yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran

suatu Badan Layanan Umum Daerah.

Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutanya disingkat BLUD menurut

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005 adalah Satuan

Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja Perangkat Daerah dilingkungan

pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada

masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan

mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip

efisiensi dan produktivitas.

2.1.4 Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran

1. Dasar Penyusunan

Rencana Bisnis dan Anggaran disusun berdasarkan Rencana Strategi Bisnis

(RSB) yang telah ditetapkan dan sebagai upaya mewujudkan bisnis yang sehat

dalam penerapan PPK-BLUD. Menurut Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor

61 tahun 2007. Rencana Strategi Bisnis Adalah dokumen lima tahunan yang

memuat visi misi, program, pengukuran pencapaian kinerja dan arah kebijakan

operasional BLUD.

Sedangkan PPK-BLUD adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan

fleksibilitas berupa keluasan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat

untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan

(9)

kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian

dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.

2. Proses Penyusunan

Perencanaan dan penganggaran menjadi hal yang paling penting dalam

menentukan arah organisasi untuk menjalankan aktivitas-aktivitas demi mencapai

tujuan organisasi. Perencanaan yang dibuat tentunya harus selaras dengan visi,

misi dan strategi organisasi sebagai arahan utama yang telah ditentukan

sebelumnya.

Perencanaan merupakan langkah organisasi menentukan kegiatan yang tepat

dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Penganggaran merupakan

rencana keuangan yang secara sistematis menunjukkan alokasi sumber daya

manusia, material, dan sumber daya lainnya. Berbagai variasi dalam sistem

penganggaran pemerintah dikembangkan untuk melayani berbagai tujuan

termasuk guna pengendalian keuangan, rencana manajemen, prioritas dari

penggunaan dana dan pertanggungjawaban kepada publik. Sebagai organisasi

yang akan menerapkan praktek bisnis yang sehat tentunya BLUD menerapkan

pola-pola perencanaan dan penganggaran dengan menjadikan efisiensi dan

produktivitas sebagai hal yang paling utama. Dalam RBA menyajikan

informasi-informasi keuanggan secara komprehensif mencakup proyeksi laporan keuangan

dan kinerja keuangan tahun berjalan. Tentunya Penyusunan RBA akan lebih

praktis jika dihubungkan dengan Teknologi Informasi (TI) yang mendukung dan

mengakomodir data-data yang diperlukan mengingat kompleksitas informasi yang

dibutuhkan dalam penyusunan RBA. Selain dukungan TI dalam pengembangan

(10)

manajemen keuangan BLUD juga butuh dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)

yang memadai mengenai akuntansi dan keuangan.

Dalam penyusunan RBA, Badan Layan Umum Dearah harus

mempertimbangkan SPM yang telah ditetapkan, SPM atua Standar Pelayanan

Minimal adalah spesifikasi teknis tentang tolak ukur layanan minimal yang

diberikan oleh BLUD kepada masyarakat.

3. Subtansi Rencana Bisnis dan Anggaran

Subtansi RBA meliputi:

a. Kinerja tahun berjalan.

b. Asumsi makro dan mikro.

c. Sasaran, indikator, target kinerja dan kegiatan.

d. Analisis dan perkiraan biaya satuan.

e. Perkiraan harga.

f. Perkiraan pedapatan, biaya, investasi, dan pendapatan.

g. Presentase ambang batas.

h. Prognosa dan proyeksi laporan keuangan.

i. Perkiraan maju (forward estimate).

j. Ringkasan penerimaan dan pengeluaran

1. Sistematika Dokumen Rencana Bisnis dan Anggara

Tata Cara Penyusunan RBA

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Unit Kerja yang menerapkan

Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD)

menyiapkan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) berdasarkan Rencana Strategis

(11)

(Renstra) Bisnis dan Rencana Kerja (Renja) Pemerintah Daerah. RBA disusun

berdasarkan basis kinerja dan disusun dengan sistematika sebagai berikut:

1. Halaman Sampul

Memuat:

1) Nama pemerintah yang bersangkutan.

2) Rencana Bisnis dan Badan Layanan Umum Daerah SKPD atau Unit Kerja

pada SKPD yang bersangkutan.

3) Tahun yang dianggarakan.

2. Kata pengantar

Memuat alasan pokok penyusunan RBA oleh pimpinan BLUD.

3. Ringkasan Eksekutif

Memuat pokok–pokok substansi RBA yang disusun.

4. Daftar Isi

Memuat urutan dan halaman dokumen RBA yang disusun.

5. Bab I Pendahuluan

Memuat:

1) Gambaran umum

Berisi keterangan ringkas mengenai eksitensi dan kegiatan utama atau pokok

BLUD.

2) Maksud dan Tujuan

Memuat maksud dan tujuan BLUD.

3) Susunan Pejabat Pengelola dan Dewan Pengawas

(12)

6. Bab II Kinerja Badan Layanan Umum Daerah Tahun Anggaran

Berjalan

Memuat:

1) Kondisi Lingkungan yang Mempengaruhi Pencapaian Kinerja

Digambarkan mengenai hasil kegiatan tahun berjalan secara keseluruhan

yang berisi penjelasan mengenai pencapaian target–target kinerja dan

uraian mengenai faktor–faktor yang mempengaruhi kinerja, meliputi:

a) Faktor Internal

Menggambarkan kondisi internal BLUD yang secara langsung maupun

tidak langsung mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam mencapai

tujuannya, antar lain berkaitan dengan kondisi:

Pelayanan.

Keuangan.

Organisasi dan Sumber Daya Manusia.

Sarana dan Parasarana

b) Faktor Eksternal

Menggambarkan kondisi di luar BLUD yang secara langsung maupun

tidak langsung mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam mencapai

tujuannya, antar lain berkaitan dengan kondisi:

Peraturan perundang–undangan yang terkait dengan BULD.

Kebijakan pemerintah pusat atau daerah terhadap BLUD,

menyangkut keuangan, sumber daya manusia, kelembagaan dan lain –

lain.

(13)

Perkembangan sosial budaya dan tingkat pendidikan masyarakat.

Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi.

Keadaan persaingan dengan lembaga pelayanan sejenis.

Keadaan perekonomian baik nasional maupun internasional

2) Perbandingan Asumsi pada Waktu Menyusun Rencana Bisnis dan

Anggaran dengan Fakta yang Terjadi

Meliputi:

a) Aspek Makro, dapat terdiri dari:

Pertumbuhan ekonomi.

Tingkat inflasi.

Perubahan pasar.

Tingkat suku bungan pinjaman.

kurs

b)

Aspek Mikro, dapat terdiri dari:

Kemampuan dan tanggungjawab pemerintah daerah dalam

pembiayaan pelayanan publik sebagai fungsi public service obligation

(PSO).

Perubahan tarif layanan.

Pengembangan atau peningkatan pelayanan.

Asumsi yang berkaitan dengan analisis rasio keuangan

3) Pencapaian Kinerja

Memuat pencapaian kinerja non keuangan dan keuangan, dapat

menggunakan pendekatan Balanced Scorecards, Management By

(14)

Objective

(MBO), Result Oriented Management (ROM), Result Based

Management,

atau Outcome Best Performance Management. Jika

menggunakan pendekatan Balanced Scorecards indikator kinerja terdiri

dari:

a) Non Keuangan, terdiri dari pencapaian kinerja berdasarkan unit layanan

dan unit pendukung layanan, anatara lain berkaitan dengan prespektif:

Pelanggan.

Proses bisnis internal.

Pertumbuhan dan pembelajaran

b) Keuangan, memuat pencapaian semua aspek kinerja keuangan, dengan

membandingkan antara prognasa dan anggaran tahun berjalan, sekurang

– kuarngnya meliputi:

Realisasi pendapatan bnerdasarkan unit layanan.

Realisasi biaya berdasarkan unit layanan

.

Realisasi biaya

.

Realisasi investasio

.

Realisasi pendanaan

.

Serta dapat ditambahkan analisis keuangan lainnya , seperti:

a. Likuiditas meliputi rasio lancar, rasio cepat, rasio kas.

b. Solvabilitas meliputi rasio hutang terhadap ekuitas, rasio hutang

terhadap aset.

c. Aktivitas meliputi perputaran aset, perputaran piutang, perputaran

persediaan.

(15)

d. Rentabilitas meliputi pendapatan operasional dibagi biaya

operasional (POBO), rasio proporsi pendapatan.

e. Produktivitas ( hasil produksi setiap unit layanan dibagi dengan

sumber daya yang digunakan dalam rupiah).

f. Efisiensi (output dibandingkan input)

4) Prognosa Laporan Keuangan

Memuat:

a) Neraca

Disusun agar dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan

BLUD sampai dengan 30 juni, dan prognosa sampai dengan 31

Desember tahun anggaran berjalan.

b) Laporan Operasional

Disusun untuk mengetahui realisasi sampai dengan 30 Juni dan prognosa

sampai dengan 31 Desember atas jumlah pendapatan yang diakui dan

biaya yang dibebankan pada akhir tahun anggaran berjalan.

c) Laporan Arus Kas

Disusun untuk mengetahui arus kas dan setara kas sampai dengan 30

juni, dan prognosa sampai dengan 31 Desember dari aktivitas

operasional, investasi, pendapatan kenaikan atau penurunan kas dan

setara kas bersih, kas dan setara kas awal, dan jumlah saldo kas dan

setara kas pada akhir tahun anggaran berjalan.

(16)

Memuat penjelasan pos – pos laporan keuangan, dan informasi lainnya

yang relevan dengan laporean keuangan

7. Bab III Rencana Bisnis dan Anggaran Tahun yang Dianggarkan

Memuat:

1) Kondisi Lingkungan yang Diprediksi akan Mempengaruhi

Pencapaian Kinerja

a) Faktor Internal

Menggambarkan kondisi internal BLUD yang secara langsung maupun

tidak langsung diprediksi akan mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam

pencapaian tujuan sampai saat disusunnya RBA. Faktor internal antara

lain:

Pelayanan.

Keuangan.

Organisasi.

Sumber Daya Manusia.

Sarana dan Prasarana

b) Faktor Eksternal

Menggambarkan kondisi diluar BLUD yang secara langsung maupun

tidak langsung diprediksi akan mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam

pencapaian tujuan sampai saat disusunnya RBA. Faktor eksternal antara

lain:

(17)

kebijakan pemerintah pusat atau daerah terhadap BLUD,

menyangkut keuangan, sumber daya manusia, dll.

perkembangan sosial budaya dan tingkat pendidikan masyarakat.

perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi.

keadaan persaingan dengan lembaga pelayanan yang sejenis.

keadaan perekonomian nasional maupun internasional

2) Asumsi yang Digunakan

Menggambarkan asumsi yang digunakan pada waktu menyusun RBA

tahun yang dianggarkan meliputi:

a)

Aspek Makro, dapat terdiri dari:

Pertumbuhan ekonomi.

Tingkat inflasi.

Pertumbuhan pasar.

Tingkat suku bunga pinjaman.

kurs

b)

Aspek Mikro, dapat terdiri dari:

Kemampuan dan tanggungjawab pemerintah daerah dalam

pembiayaan pelayanan publik sebagai fungsi public service

obligation

(PSO).

Proyeksi rata-rata kenaikan tarif layanan.

Peningkatan pelayanan

(18)

3) Sasaran, Indikator , Target Kinerja dan Kegiatan

a) Sasaran, indikator, target kinerja, dan kegiatan berdasarkan unit layanan

BLUD dalam meningkatkan mutu/kinerja layanan pada tahun yang

dianggarkan.

b) Sasaran, indikator, target kinerja, dan kegiatan berdasarkan unit

pendukung layanan BLUD dalam menunjang meningkartkan mutu atau

kinerja layanan pada tahun yang dianggarkan.

4) Program Kerja dan Kegiatan

a) Program Kerja

Program kerja diisi 1 (satu) program yaitu “Program peningkatan

kualitas pelayanan..” (disesuaikan dengan tugas dan fungsi BLUD)

b) Kegiatan, meliputi:

Kegiatan pelayanan, memuat produk layanan utama BLUD..

Kegiatan pendukung layanan, memuat produk layanan yang

mendukung layanan utama BLUD

5) Perkiraan Pendapatan

Berisi prognasa pendapatan BLUD tahun anggaran berjalan dan proyeksi

tahun anggaran yang dianggarkan dari setiap sumber pendapatan.

6) Perkiraan Biaya

Biaya berdasarkan unit layanan dan unit pendukung layanan.

7) Perkiraan Penerimaan dan Pengeluaran Investasi

a) Penerimaan investasi untuk unit layanan dan unit pendukung layanan.

b) Pengeluaran investasi untuk unit layanan dan unit pendukung layanan.

(19)

8) Perkiraan Penerimaan dan Pengeluaran Pendanaan

a) Penerimaan Pendanaan.

b) Pengeluaran Pendanaan.

9) Anggaran Badan Layanan Umum Daerah

Anggaran BLUD merupakan penjabaran program dan kegiatan dalam

bentuk satuan mata uang berupa pendapatan dan biaya, yang dananya

bersumber dari seluruh pendapatan BLUD

a) Anggaran Pendapatan

Disusun berdasarkan sumber pendapatan yang berasal dari:

Jasa layanan.

Hibah.

Hasil kerjasama.

APBD.

APBN.

Dan lain–lain pendapatan BLUD yang sah baik berbasis akrual

maupun berbasis kas

b) Anggaran Biaya atau Belanja, disusun menurut:

Sumber dan alokasi dana, meliputi anggaran biaya atau belanja

BLUD yang diperinci berdasarkan sumber dana yang diperoleh dan

alokasi dana berbasis akrual.

Pengakuan pendapadan dan perkiraan biaya satuan menggunakan

akuntansi berbasis kas

(20)

jenis anggaran, meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa,

dan belanja modal.

c) Anggaran penerimaan dan pengeluaran investasi

Disusun menurut sumber dan alokasi dana

d) Anggaran penerima dan pengeluaran pendanaan

Disusun menurut sumber dan alokasi dana

10) Ambang Batas Rencana Bisnis dan Anggaran

a) Anggaran BLUD yang tercantum dalam RBA dapat bertambah atau

berkurang dari yang direncanakan sepanjang bertambah atau

berkurangnya terkait dengan pendapatan secara proporsional (Flexible

budget).

b) Flexible budget tersebut ditetapkan dengan besaran ambang

batas,dihitung bdengan mempertimbangkan fluktuasi kegiuatan

operasional, antara lain kecenderungan (trend) naik atau turun selisih

antara anggaran dan pendapatan jasa layanan dan realisasi dua tahun

anggaran sebelumnya, serta selisih antara anggaran pendapatan jasa

layanann dan prognosa tahun anggaran berjalan.

c) Ambang batas ditetapkan dengan besaran prosentase dari pendapatan

jasa layanan yang tercantum dalam RBA tahun anggaran yang

dianggarkan . Hal tersebut dapat dilakukan apabila volume kegiatan

pelayanan dan pendapatan jasa layanan, hibah tidak terikat, hasil

kerjasama, dan lain–lain pendapatan yang telah ditetapkan dalam RBA

tahun yang dianggarkan.

(21)

8. Bab IV Proyeksi Laporan Keuangan Tahun yang Dianggarkan

Proyeksi sangat diperlukan untuk melihat kondisi dimasa yang akan datang.

Untuk proyeksi keuangan sangat diperlukan karena kondisi perekonomian yang

selalu berubah. Dengan membuat proyeksi, maka Badan Layanan Umum Daerah

dapat memperkirakan berapa pendapatan, biaya, investasi, hibah dan lain-lain

yang akan diterimah dan dikeluarkan oleh rumah sakit.

Proyeksi adalah gambaran laporan keuangan entitas atau Badan Layanan

Umum Daerah yang terjadi pada tahun yang akan dianggarankan.

Proyeksi laporan keuangan BLUD disajikan secara komperatif dengan

membandingkan antara prognosa tahun berjalan dengan proyeksi tahun yang

dianggarkan, trerdiri dari:

1. Proyeksi neraca.

2. Proyeksi Laporan Operasinal.

3. Catatan Laporan Arus Kas.

4. Catatan atas Laporan Keuangan

Langka-langka dalam menyusun proyeksi laporan keuangan BLUD:

1. Dapatkan pragnosa laporan keuangan tahunan anggaran berjalan

sebagaimana tersaji pada Bab (Kinerja Badan Layanan Umum Daerah

Tahun Anggaran Berjalan), terdiri dari prognosa:

a. Neraca.

b. Laporan Operasional.

c. Laporan Arus kas.

(22)

2. Dapatkan kebijakan atau target-target, antara lain:

a. Piutang akhir tahun yang dianggarkan.

b. Persediaan akhir tahun yang dianggarkan.

c. Hutang akhir tahun yang dianggarkan

3. Dapatkan dan analisis rencana kegiatan (usaha) pada tahun yang

dianggarkan, berupa aktivitas-aktivitas (data dari Bab III):

a. Aktivitas Operasinal, terdiri dari:

1) Aktivitas yang berpengaru terhadap akun pendaptan (basis akrual).

2) Aktivitas yang berpengaruh pada akun biaya (basis akrual).

3) Aktivitas yang berpengaruh kewajiban jangka pendek

b. Aktivitas Investasi, terdiri dari:

1) Pembelian atau belanja aset tidak lancar.

2) Penerimaan hasil investasi.

3) Penjualan atau penghentian investasi

c. Aktivitas pendanaan

Aktivitas yang berpengaruh pada keputusan keuangan (sumber dana

eksternal), sepertri penerimaan dan pembayaran utang.

4. Siapkan proyeksi jurnal transaksi tahun yang dianggarakan, untuk mencatat

proyeksi aktivitas operasional, investasi dan pendanaa sebagaimana

direncanakan pada butir 2 dan 3.

5. Siapkan kertas kerja (worksheet) laporan keuangn yang diproyeksikan, baik

kertas kerja laporan operasinal maupun kertas kerja neraca.

(23)

6. Siapkan proyeksi jurnal penyesuaian dengan mengguanakan kebijakan

akuntansi yang telah ditetapkan, antara lain:

a. Penyisihan piutang.

b. Pendapatan yang harus masih diterima.

c. Penurunan nilai persediaan.

d. Depresiasi dan amortisasi.

e. Penurunan nilai aset tetap.

f. Provisi atau kewajiban estimasian.

g. Biaya yang masi harus dibayar.

h. Reklasifikasi akun (misalnya utang jangka panjang jatuh tempo dalam satu

tahun)

7. Menyajikan laporan keuangan yang diproyeksikan komparatif dengan

laporan keuangan prognosa, dengan urutan penyesuaian :

a. Proyeksi neraca:

1) Diperoleh dari kertas kerja kolom neraca.

2) Sajikan sesuai format neraca

b. Proyeksi laporan operasinal:

1) Diperoleh dari kertas kerja kolom laporan operasinal.

2) Kolom kredit merupakan pos-pos pendapatan dan keuntungan.

3) Kolom deebit merupakan pos-pos biaya dan kerugian.

4) Sajikan sesuai dengan format laporan operasional.

c. Laporan arus kas:

(24)

2) Menggunakan metode langsung.

3) Catatan atas proyeksi laporan keuangan:

Cukup menjelaskan pos-pos proyeksi laporan keuangan yang memuat

info lebih lanjut tentang:

1) Penjelasan atas informasi-informasi keuangan

Menjelaskan pos-pos laporan keuangan, termasuk rincian dan

pengungkapan yang memadai (disclosur). Sebagai contoh pos kas, dan

setara kas, dan piutang usaha.

2) Penjelasan atas infpormasi lainnya.

9. Bab V Penutup

Memuat:

1)

Hal-hal yang yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka

melaksanakan kegiatan Badan Layanan Umum Daerah, antara lain:

penghapusan piutang, penghapusan persedsiaan, penghapusan aset tetap,

penghapusan aset lain-lain, pemberian pinjaman, kerja sama dengan pihak

ketiga, remunerasi pejabat pengelolah dan pegawai serta dewan

pengawas.

2)

Kesimpulan

Berisikan seluruh rangkaian pembahasan dari bab-bab sebelumnya serta

hasil-hasil yang telah dicapai dan hambatan dalam melaksanakan kegiatan

yang sesuai dengan yang telah ditetapkan serta upaya pemecahan masalah

yang dihadapi dan mencoba memberikan saran-saran yang dipandang

perlu.

(25)

10. Lampiran

Memuat hal-hal yang perlu dilampirkan sebagai data pendukung dalam

penyusunan RBA.

2.1.5 Mekanisme Pengajuan Rencana Bisnis dan Anggaran

1. Badan Layanan Umum Daerah Satuan Kerja Perangkat Daerah

(BLUD-SKPD)

RBA yang sudah disusun oleh BLUD, disampaikan kepada Penjabat

Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Selanjutnya oleh PPKD disampaikan

kepada Tim Anggaran Pemeritah Daerah (TPAD) untuk dilakukan penelahaan.

2. Badan Layanan Umum Daerah Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat

Daerah (BLUD-Unit Kerja)

RBA yang disusun disampaikan kepada kepala SKPD untuk dikonsolidasi

dengan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

(RKA-SKPD), dan selanjutnya disampaikan kepada Pejabat Pengelolah Keuangan

Daerah (PPKD). Selanjutnya RKA-SKPD dan RBA yang diterima PPKD

disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) untuk dilakukan

penelahaan.

RBA BLUD-SKPD atau RKA-SKPD beserta RBA BLUD-Unit Kerja yang

telah dilakukan penelahaan oleh TPAD, selanjutnya disampaikan kepada PPKD

untuk dituangkan kedalam Rencana Peraturan Daerah tentang APBD. Setelah

Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD ditetapkan menjadi Peraturan

(26)

Daerah, pemimpin BLUD melakukan penyesuaina terhadap RBA untuk menjadi

RBA definitif. RBA definitif dipakai sebagai dasar penyusunan DPA-BLUD.

(27)

Tabel 1

BAGAN ALUR PENGAJUAN RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN

BLUD-SKPD KE DALAM PERDA TENTANG APBD

URAIAN PEMDA / KDH PEMIMPIN BLUD PPKD TAPD DPRD Pemda menyusun

RPJMD

BLUD menyusun Renstra bisnis BLUD lima tahunan

berdasarkan pada RPJMD dilengkapi dengan rencana

implementasi 5 tahunan Renstra bisnis BLUD lima

tahunan dan rencana implementasi 5 tahunan

dipakai sebagai dasar penyusunan RBA RBA yang telah disusun disampaikan kepada PPKD

Oleh PPKD disampaikan kepada TAPD untuk dilakukan penelaahan RBA yang telah dilakukan

penelaahan oleh TAPD disampaikan ke PPKD untuk

dituangkan ke Rancangan Perda tentang APBD RBA BLUD dipakai sebagai

dasar penyusunan Raperda tentang APBD

Raperda APBD dibahas bersama DPRD Kepadal daerah menetapkan

Raperda APBD menjadi perda APD

IMPLEMENTASI RAPERDA RAPERDA

RPJMD RESNTRA BISNIS RENCANA IMPLEMENTASI 5 TAHUNAN RBA = RKA SKPD RBA RBA RBA RAPERDA APBD RAPERDA APBD RAPERDA APBD PERDA APBD

(28)

BLUD melakukan penyesuaian RBA BLUD

dengan Perda APBD RBA BLUD yang telah disesuaikan dengan Perda APBD menjadi RBA BLUD

definitive

RBA BLUD definitif sebagai dasar penyusunan rancangan DPA BLUD

Sumber : Buku panduan penyusunan rencangan bisnis dan anggaran badan layanan umum daerah.

PENYESUAIAN RBA RBA DEFINITIF RANCANGAN DPA-BLUD

(29)

Tabel 2

BAGAN ALUR PENGAJUAN RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN

BLUD-UNIT KERJA KE DALAM PERDA TENTANG APBD

URAIAN PEMDA / KDH PEMIMPIN BLUD PPKD TAPD DPRD Pemda menyusun

RPJMD

BLUD unit kerja menyusun Renstra bisnis BLUD lima

tahunan berdasarkan pada RPJMD dilengkapi dengan

rencana implementasi 5 tahunan

Renstra bisnis BLUD lima tahunan dan rencana implementasi 5 tahunan

dipakai sebagai dasar penyusunan RBA RBA yang telah disusun disampaikan kepada kepala

SKPD untuk di konsolidasikan ke

RKA-SKPD RKA berserta RBA disampaikan kepada PPKD

RKA berserta RBA oleh PPKD disampaikan kepada

TAPD untuk di lakukan penelaahan RKA SKPD berserta RBA

dipakai sebagai dasar penyusunan rancangan Perda

tentang APBD RAPERDA APBD oleh PPKD disampaikan ke KDH

IMPLEMENTASI RAPERDA RAPERDA

RPJMD RESNTRA BISNIS BLUD RENCANA IMPLEMENTASI 5 TAHUNAN RBA BLUD UNIT KERJA RKA-SKPD RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RBA BLUD unit kerja RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RAPERDA APBD

(30)

Raperda APBD dibahas bersama DPRD Kepala daerah menetapkan

Raperda APBD menjadi perda APBD BLUD melakukan penyesuaian RBA dengan

Perda APBD RBA yang telah disesuaikan dengan perda APBD menjadi

RBA BLUD definitif RBA definitif sebagai dasar penyusunan rancangan DPA

BLUD

Sumber : Buku panduan penyusunan rencangan bisnis dan anggaran badan layanan umum daerah.

RAPERDA APBD RAPERDA APBD PERDA APBD PENYESUAIAN RBA RBA DEFINITIF RANCANGAN DPA-BLUD

(31)

2.2 Konsep Dasar Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Badan

Layanan Umum Rumah Sakit.

2.2.1 Anggaran Rumah Sakit

Semua perusahaan, baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil,

seharusnya membuat anggaran karena perusahaan dapat menarik keuntungan dari

perencanaan dan pengendalian yang berasal dari anggaran. Rumah sakit juga

memerlukan anggaran, apalagi rumah sakit punya beban hutang sehingga secara

sadar harus dipersiapkan bagaimana caranya agar dapat membayar tanpa

memberatkan. Anggaran diperlukan rumah sakit agar bersiap diri untuk

memenuhi kewajiban, mempersiapkan upaya pemasaran yang agresif, menjadi

tolak ukur aktivitas pada tahun yang akan datang, serta menjadi pengalaman bagi

masa depan.

Menurut Prawironegoro (2009)

anggaran pada rumah sakit selain berfungsi

sebagai pedoman dalam perencanaan keuangan dan kegiatan di masa datang, juga

merupakan bagian dari progam pengendalian keuangan organisasi. Tujuan

pengendalian keuangan rumah sakit yaitu merencanakan dan mengendalikan

kegiatan rumah sakit agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu

pendapatan rumah sakit paling sedikit sama atau lebih besar dari biaya.

Pendapatan harus diamankan baik dari pasien yang berobat jalan, rawat inap,

kamar operasi dan sebagainya, serta adanya pasien-pasien yang tidak mampu.

Menurut Triatmojo (2010) Anggaran pada rumah sakit terdiri atas:

1. Anggaran Statistik, meliputi keadaan volume kegiatan dalam bentuk kuantitatif

untuk kegiatan di masa datang. Anggaran statistik diperlukan untuk

(32)

menghitung penerimaan dan pengeluaran. Bila diketahui tarif maka akan dapat

diketahui penerimaan, bila diketahui biaya maka akan dapat diketahui

pengeluaran.

2. Anggaran Operasional, meliputi anggaran penerimaan dan anggaran

pengeluaran.

3. Anggaran uang tunai, yaitu anggaran yang menunjukkan secara nyata

kemungkinan uang tunai yang ada. Anggaran ini penting untuk menjaga

kredibilitas rumah sakit terhadap kewajibannya.

4. Anggaran Modal, merupakan perencanaan untuk pembelian alat- alat,

pembelian bangunan, dan penjadwalan pengeluaran uang.

5. Anggaran Neraca, merupakan perhitungan posisi kekayaan dan hutang pada

akhir tahun yang akan datang.

6. Anggaran Sisa Hasil Usaha, merupakan anggaran yang menggambarkan berapa

kemungkinan hasil usaha yang akan diperoleh.

7. Anggaran Tunai, menggambarkan arus masuk dan keluar uang tunai.

8. Anggaran Fleksibel, digunakan untuk kegiatan yang secara langsung terkait

dengan jumlah orang yang dilayani. Hal ini berarti banyak sedikitnya jumlah

orang yang dilayani akan berpengaruh secara langsung terhadap biaya

variabel. Jadi anggaran fleksibel adalah anggaran yang nilainya pada biaya

variabel sesuai dengan jumlah pelayanan yang dibutuhkan.

9. Anggaran Program, merupakan proses untuk menyusun kegiata dalam

mencapai tujuan program di masa datang dalam bentuk nilai uang. Dalam

pelaksanaannya, anggaran program membutuhkan waktu, keterlibatan

(33)

berbagai pihak, kemampuan dan keterampilan tertentu, serta data dan

informasi yang objektif.

2.2.2 Pendapatan dan Belanja Rumah Sakit

Pendapatan Rumah Sakit adalah penerimaan kas yang menambah kekayaan

suatu entitas.

Menurut Waluyo (2011) Rumah sakit umumnya mempunyai prinsip-prinsip

dan standar yang sama dengan entitas non laba dan non pemerintahan yang lain.

Namun rumah sakit mempunyai sumber-sumber pendapatan yang unik seperti

pendapatan pasien dan fee premium, dan klasifikasi biaya relatif khusus.

1. Pendapatan pasien.

Pendapatan pasien termasuk kamar dan ruang perawatan, dan pelayanan

profesi lainnya.

2. Pendapatan premium.

Pendapatan atas perjanjian yang dibuat oleh rumah sakit terhadap suatu

pelayanan pasien (sebagai fee khusus)

3. Rupa-rupa pendaptan operasi.

Yang termasuk dalam pendapatan ini seperti pelayanan kepada pasien selain

masalah kesehatan, atau pendapatan yang berasal dari bukan operasi normal,

seperti tution and fee dari murid sekolah kesehatan, pendaptann sewa ruang

rumah sakit, pendaptan beban adminitrasi (yang diterbitkan) biaya telefon,

beban televisi, pendaptan cavetaria.

(34)

Menurut Agusalim, dkk (2013) Rumah sakit pemerintah merupakan lembaga

yang dapat dikelolah sebagai mana rumah sakit swasta yang menerapkan

prinsip-prinsip akuntansi korporat (perbedaan) yang bersifat umum maupun spesifik.

Prinsip ini merupakan gambaran penerapan desentralisasi dalam sebuah

organisasi. Artinya rumah sakit merupakan unit yang tidak terpisahkan dari

departemen kesehatan.

BLU merupakan unit layanan umum yang tidak terpisahkan dari operasional

Negara, seperti karakteristik yang dimiliki oleh organisasi nirlaba, artinya unit ini

tidak mementingkan perolehan profit (keuntungan). Oleh karena itu apabilah

menggunakan standar akuntansi keuangan, maka lebih tepat menggunakan

pernyataan standar (PSAK) nomor 45 tentang pelaporan keuangan organisasi

nirlaba, atau standar akuntansi keuangan yang lebih spesifik, akuntansi untuk

rumah sakit.

Menurut Sandra (2013) menyatakan bahwa

Pendapatan yang diterima oleh

BLU diatur melalui prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN atau APBD diberlakukan

sebagai pendapatan BLU.

2. Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada

masyarakat merupakan pendapatan operasional BLU.

3. Hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain merupakan

pendapatan yang harus diperlakukan sesuai yang diperuntukan.

4. Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan hasil usaha lainnya merupakan

pendapatan bagi BLU.

(35)

5. pendapan yang dimaksud dalam angka 1, 2 dan 4 diatas dapat dikelola

langsung untuk membiayai belanja BLU sesuai Rencana Bisnis dan Anggaran

(RBA-nya).

6. Pendapatan yang dimaksud pada angka 2, 3 dan 4 dilaporkan sebagai

pendapatan negara bukan pajak kementrian atau lembaga atau pendapatan

bukan pajak pemerintah daerah.

Menurut Gede (2009) Berdasarkan prinsip-prinsip pengakuan pendapatan,

maka BLU mempunyai kewenangan penuh untuk menggunakan pendapatnya

sesaui dengan RBA-nya. Kewenangan menggunakan pendapatan dan sisa lebih

dapat mendahului dari pengesahan RBA-nya.

Prinsip perlakuan belanja

Menurut Amira, dkk. (2009) Belanja yang dilakukan oleh BLU diatur melali

prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Belanja BLU terdiri dari unsur biaya yang sesuai dengan struktur biaya yang

dituangkan dalam RBA.

2. Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara fleksibel berdasarkan

kesetaraan antara volume kegiatan pelayanan dengan jumlah pengeluaran,

mengikuti praktik bisnis yang sehat.

3. Fleksibilitas pengelolaan belanja sebagai mana yang dimaksud dalam angka 2

berlaku dalam ambang batas sesuai dengan yang ditetapkan dalam RBA.

4. Belanja BLU yang mempunyai ambang batas fleksibilitas sebagai mana

(36)

gubenur atau bupati atau walikota atas usulan mentri atau pimpinan lembaga

atau kepala SKPD, sesuai dengan kewenangannya.

5. Dalam hal terjadi kekurangan anggaran, BLU dapat mengajukan usulan

tambahan anggaran dari APBN atau APBD kepada mentri keuangan atau

PPKD melalui mentri atau pimpinan lembaga atau kepala SKPD sesuai

dengan kewenangannya.

6. Belanja BLU dilaporkan sebagai belanja barang dan jasa kemeterian negara

atau lembagaatau SKPDatau pemerintah daerah.

2.2.3 Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan

Akuntansi berbasis akrual, yaitu suatu basis akuntansi di mana transaksi

ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan

keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas

atau setara kas diterima atau dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu

pencatatan (recording) sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga

dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus

sumber daya dicatat.

IFAC Public Sector Committee (2002) menyatakan bahwa pelaporan berbasis

akrual bermanfaat dalam mengevaluasi kinerja pemerintah terkait biaya jasa

layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan. Dengan pelaporan berbasis akrual,

pengguna dapat mengidentifikasi posisi keuangan pemerintah dan perubahannya,

bagaimana pemerintah mendanai kegiatannya sesuai dengan kemampuan

pendanaannya sehingga dapat diukur kapasitas pemerintah yang sebenarnya.

(37)

Akuntansi pemerintah berbasis akrual juga memungkinkan pemerintah untuk

mengidentifikasi kesempatan dalam menggunakan sumberdaya masa depan dan

mewujudkan pengelolaan yang baik atas sumberdaya tersebut. Dengan demikian,

perbedaan kongkrit yang paling memerlukan perhatian adalah jenis atau

komponen laporan keuangan. Perbedaan mendasar SAP PP 24/2005 dengan SAP

Akrual terletak pada PSAP 12 mengenai Laporan Operasional.

Walaupun basis akrual berlaku efektif untuk laporan keuangan atas

pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran mulai tahun 2010, tetapi

apabila entitas pelaporan belum dapat menerapkan PSAP ini, entitas pelaporan

dapat menerapkan PSAP Berbasis Kas Menuju Akrual paling lama 4 (empat)

tahun setelah Tahun Anggaran 2010. Penerapan SAP Berbasis Akrual dapat

dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual

menjadi penerapan SAP Berbasis Akrual. Ketentuan lebih lanjut mengenai

penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah pusat diatur

dengan Peraturan Menteri Keuangan, sedangkan untuk pada pemerintah daerah

diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (pasal 7 PP 71 tahun 2010).

2.2.4 Langka Penyusunan Anggaran Rumah Sakit

Proses penyusunan anggaran yang berhasil dapat menjadikan setiap manajer

dalam organisasi memiliki persepsi yang jelas mengenai peran mereka

masing-masing dalam mencapai sasaran anggaran.

Mardiasmo (2009:69) mengatakan tahap penyusunan anggaran adalah sebagai

berikut:

(38)

1. Penetapan sasaran oleh manajer atas.

2. Pengajuan usulan aktivitas dan taksiran sumber daya yang diperlukan untuk

melaksanakan aktivitas tersebut oleh manajer bawah.

3. Review oleh manajer atas terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh

manajer bawah.

4. Persetujuan oleh manajer atas terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh

manajer bawah.

Empat pendekatan penyusunan anggaran menurut Nordiawan, dkk (2010)

yaitu:

1. Pendekatan Tradisional.

Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa setiap jenis biaya akan dinaikan

jumlahnya pada tingkat kenaikan yang relative sama tanpa memperhatikan

kebutuhan yang seharusnya.

2. Pendekatan Kinerja

Pendekatan kinerja diperkenalkan untuk mengatasi berbagai kelemahan yang

terdapat dalam pendekatan anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang

disebabkan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan untuk

mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.

3. Pendekatan Sistem Perencanaan, Program, dan Anggaran Terpadu (Planning,

Programming, and Budgeting System-

PPBS)

PBBS merupakan upaya sistematis yang memperlihatkan integrasi dari

perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran.

(39)

Pendekatan pembuatan anggaran ini adalah setiap aktivitas atau program yang

telah diadakan ditahun-tahun sebelumnya tidak secara otomatis dapat

dilanjutkan. Setiap aktivitas harus dievaluasi setiap tahun untuk menentukan

apakah aktivitas itu akan diadakan tahun ini dengan melihat kontribusi yang

diberikan kepada tujuan organisasi.

Menurut Andini (2010) dalam menyusun anggaran pada rumah sakit perlu

diperhatikan tiga ruang lingkup utama, yaitu:

1. Keadaan lingkungan.

Meliputi upaya mengetahui keadaan lingkungan secara jelas dari:

a) Lingkungan eksternal, seperti: tingkat bunga, kebijakan pemerintah, dan

kemajuan teknologi.

b) Lingkungan pemasaran: kontraktor, kompetitor, dan lain-lain.

c) Lingkungan internal: keadaan petugas, nama baik, hasil kerja yang lalu, dan

kebijakan organisasi.

2. Pembuatan program

Meliputi misi yang diemban, tujuan yang ingin dicapai, sarana dan sumber

daya yang diperlukan.

3. Anggaran

Meliputi jenis-jenis:

a) Anggaran statistik

b) Anggaran finansial

c) Financial Statement

(40)

Gambar 1

PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN PADA RUMAH SAKIT

Sumber: jurnal ilmia

EVALUASI PENGANGGARAN BIAYA RUMAH SAKIT

(STUDI KASUS RUMAH SAKIT UMUM PALANG MERAH INDONESIA

(RSU PMI) BOGOR)

oleh Prita Andini

PENGUMPULAN

DATA

PENYUSUNAN

PROGRAM

ANGGARAN

STATISTIK

KEGIATAN SUMBERDAYA MISI TUJUAN

INTERNAL

EKSTERNAL

FINANCIAL

STATEMENT

ANGGARAN

FINANSIAL

(41)

Penyusunan anggaran dilaksanakan secara bertahap dan melibatkan

pihak-pihak antara lain:

1. Bagian Keuangan

Bagian keuangan bertugas menyiapkan data-data historis seperti anggaran

tahun lalu dan kewajiban keuangan yang harus dibayar tahun yang akan

datang.

2. Petugas Pelaksana Pelayanan

Berupa pertanggung jawaban dari petugas pelaksana pelayanan bersama

dengan bagian medical record dalam rangka penyusunan anggaran statistik.

3. Bagian Pemasaran

Bagian pemasaran bertugas memberi masukan mengenai kecenderungan

masa datang dan upaya pemasaran yang ditujukan dalam rangka peningkatan

pemanfaatan.

4. Direksi

Direksi menentukan kebijakan dan arah pengembangan dan penghematan.

5. Organisasi

Organisasi bersama dengan Dewan Penyantun dan Dewan Medis melakukan

tindakan koreksi, menyetujui dan memberikan dukungan yang diperlukan.

2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitia terdahulu yang sesuai dengan penelitian ini sehingga dapat

digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian adalah penelitian yang

dilakukan oleh Liya Andriyani (2012) dengan judul “ Proses Penyusunan Rencana

(42)

Bisnis Anggaran Pada Badan Layanan Umum Daerah Pada Rumah Sakit Umum

Haji Surabaya”. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang dapat dikemukakan

adalah:

1. Rumah Sakit Umum Haji Surabaya telah membuat Rencana Strategis Bisnis

(RSB) untuk periode 2009-2014. Hal ini disebabkan karena Rumah Sakit

Umum Haji Surabaya baru dinyatakan oleh pemerintah sebagai Badan

Layanan Umum Daerah pada tahun 2008.

2. Mekanisme pembuatan RBA pada Rumah Sakit Haji Surabaya menggunakan

pendekatan buttom-up yaitu dari usulan daru bawahan disampaikan keatasan,

dan menggunakan pendekatan top-down yaitu dari bagian atasan disampaikan

kebawahannya.

3. Rencana Strategi Bisnis (RSB), Renacan Bisnis dan Anggaran (RBA) dan

Standar Pelayanan Minimum (SPM) saling berkaitan. Indikator keberhasilan

dan tolak ukur kinerja yang tertuang dalam RSB dan RBA dengan

mempertimbangkan SPM yang telah ditetapkan.

2.4 Rerangka Pemikiran

Berdasarkan tinjauan teoretis serta permasalahan yang telah dikemukakan,

berikut ini digambarkan model (bagan) rerangka Proses Penyusunan Rencana

Bisnis Dan Anggaran.

Rerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam suatu

bagan seperti yang tersaji pada Gambar I berikut ini:

(43)

Gambar 2

Rerangka Pemikiran

Sumber: Oleh Penulis

Rerangka pemikiran yang melandasi penelitian ini adalah apakah proses

penyusunan rencana bisnis dan anggaran pada Rumah Sakit Sumberglagah sudah

berjalan sesuai prosedur-prosedurnya atau belum. Dengan membandingkan proses

penyusunan rencana bisnis dan anggaran yang diterapkan pada Rumah Sakit

dengan teori-teori yang ada dalam literatur, sehingga kemudian dapat ditarik suatu

Proses Penyusunan Rencana

Bisnis Dan Anggaran

Sumber Daya

Manusia yang

Kompeten

Menghasilkan Proses Penyusunan Rencana

Bisnis dan Anggaran Yang Baik

PERMENDAGRI NOMOR 61 TAHUN 2007 TENTANG

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN KEUANGAN BLUD

Penyusunan Rencana

Bisnis dan Anggaran

(RBA)

Alur atau mekanisme

Penyusunan Rencana

Bisnis dan Anggaran

(RBA)

Komponen-komponen Rencana

Bisnis dan

(44)

analisis deskriptif tentang bagaimana proses penyusunan rencana bisnis dan

anggaran itu dijalankan meliputi: Komponen-komponen Rencana Bisnis dan

Anggaran, Alur atau mekanisme Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran

(RBA), Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) dan Sumber Daya

Manusia yang Kompeten.

Dengan berdasarkan pada unsur-unsur proses penyusunan rencana bisnis dan

anggaran diharapkan untuk proses penyusunan rencana bisnis dan anggaran pada

Rumah Sakit Sumberglagah berjalan dengan baik. Sehingga dapat menciptakan

Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLUD) dengan baik

dan tujuan Rumah Sakit dapat tercapai.

2.5 Proposisi Penelitian

Dalam setiap penelitian ilmiah setelah menentukan rumusan masalah, maka

perlu mengajukan proposisi. Proposisi adalah jawaban sementara yang perlu diuji

kebenarannya dalam penelitian ilmiah tersebut. Berdasarkan rumusan masalah dan

tinjauan teoritis yang telah disampaikan penulis tersebut diatas maka peneliti

mengajukan proposisi sebagia berikut:

Rumuah Sakit Umum Daerah Sumberglagah memanfaatkan Rencana Bisnis

dan Anggaran (RBA) sebagai sarana dasar untuk Penyusunan Anggaran. Sehingga

dengan penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran di Rumuah Sakit Umum

Daerah Sumberglagah yang maksimal dalam pengaplikasiannya, maka dapat

menciptakan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLUD)

dengan baik dan tujuan Rumah Sakit dapat tercapai.

Gambar

Gambar 2  Rerangka Pemikiran  Sumber: Oleh Penulis

Referensi

Dokumen terkait

STUDI KOMPARASI IMPLEMENTASI SOFT TOTAL QUALITY MANAGEMENT PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI DI KOTA BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia

Pesawaran APBD Perubahan November November November Desember 20 Bagian Perlengkapan

"Hasil analisa saham pada laporan ini murni merupakan hasil analisa teknikal dengan jangka waktu investasi efektif di bawah 1 bulan.. Analisa teknikal memfokuskan dalam

maka Pejabat Pengadaan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Telematika Aceh Tahun Anggaran 2015 menyampaikan Pengumuman Pemenang pada paket tersebut diatas sebagai berikut

(Menjaga ucapan seperti ini, saya ketika kecil dulu sering dinasihati orang tua saya mas. Kalau berbicara dengan orang harus sopan, tidak menyinggung perasaannya orang

 Saling tukar informasi tentang materi verba material dan verba tingkah laku teks prosedur dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya

Jadwal distribusi media utama dan penyebaran link youtube melalui poster Terdapat jadwal pendistribusian media utama video profil sebagai informasi situs Situ Sipatahunan

Hasil pengujian mutu terhadap kualitas pisang Raja Bulu selama 15 hari penyimpanan oleh 10 orang panelis menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh pada hari ke-9,12 dan 15 terhadap