7
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS DAN PROPOSISI PENELITIAN
2.1 Konsep Dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Entitas Sektor Publik
2.1.1 Pengertian Entitas Sektor Publik dan Badan Layanan Umum
Menurut Rai (2010 : 67) Secara sederhana sektor publik ( public sector ),
dapat diartikan sebagai sektor pelayanan yang menyediakan barang atau jasa bagi
masyarakat umum dengan sumber dana yang berasal dari pajak dan penerimaan
negara lainnya, dimana kegiatannya banyak diatur dengan ketentuan atau
peraturan.
Sedangkan menurut Akadun (2009 : 11) Beberapa hal yang menarik dengan
pengertian sektor publik. Pertama, sektor publik dapat diartikan Aktivitas
pemerintah dan segala konsekuensinya. Kedua, sektor publik merupakan
pengambilan keputusan secara umum oleh negara dan hasil-hasilnya. Ketiga,
sektor publik adalah konsumsi, investasi dan transfer pemerintah (pendekatan
ekonomi). Konsumsi dan transfer pemerintah menggambarkan aktivitas sektor
publik dan pengalokasian sumber daya kedalam anggaran dan belanja negara.
Menurut Nordiawan (2009:183) dalam siklus akuntansi sektor publik, setelah
proses penganggaran selesai, anggaran itu kemudian direalisasikan sebagaimana
yang telah direncanakan organisasi publik. Dengan kata lain, realisasi anggaran
merupakan proses pelaksanaan segala sesuatu yang telah direncanakan dan
dianggarkan oleh organisasi publik.
Menurut Bastian (2010 : 168). dalam proses perencanaan publik dibagi
menjadi dua yaitu:
1. Sistem Perencanaan Publik.
Dalam setiap organisasi, rencana disusun sesuai dengan struktur
organisasinya. Ada dua jenis rencana yaitu :
a. Rencana stratejik, yang sering disebut rencana jangka panjang (long range
planning
) adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut tujuan
jangka panjang organisasi, kebijakan yang harus diperhatikan, serta
strategi yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk
melaksanakan strategi tersebut, program kerja yang terinci harus disusun
yang mencakup kegiatan yang harus dilakukan, kapan harus dimulai dan
kapan harus selesai, siapa yang bertanggung jawab, serta sumber daya
manusia yang diperlukan.
b. Rencana operasional, terdiri dari, rencana sekali pakai yakni rencana yang
disusun untuk mencapai tujuan tertentu dan segera dibubarkan setelah
tujuan itu tercapai. Rencana permanen, yakni pendekatan yang sudah di
standarisasi untuk menghadapi situasi berulang dan dapat diramalkan
sebelumnya.
2. Siklus Perencanaan Publik
Unsur pengambilan yang sangat penting dalam perencanaan adalah proses
mengembangkan dan memilih langkah-langkah yang akan diambil untuk
menghadapi masalah yang dialami oleh organisasi sektor publik. Pemimpin harus
mengambil keputusan tentang ramalan situasi yang akan terjadi dimasa yang akan
datang.
Di dalam kegiatan entitas sektor publik kegiatannya memfokuskan pada
Badan Layanan Umum atau pelayanan umum kepada masyarakat berikut ini
merupakan pengertian mengenai Badan Layanan Umum.
Mursyidi (2009:372) menyatakan bahwa Badan Layanan Umum (BLU)
adalah instansi dilingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
layanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan didalam melakukan kegiatannya
didasarakan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Salah satunya adalah Rumah
Sakit Umum Daerah.
Menurut Nurlan (2009:133) BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa
mengutamakan mencari keuntungan. Rencana kerja dan anggaran serta laporan
keuangan dan kinerja BLU disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja
kementrian negara, lembaga SKPD atau Pemerintah Daerah.
BLU diberikan kewenangan untuk mengelola keuangannya secara
desentralisasi (kewenangan pemerintah pusat kepemerintah daerah).
Menurut Eva (2009) Pengelolaan keuangan BLU disebut dengan pola
pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), yaitu pola
pengelolaan keuangan yang memberikan flesibilitas berupa keleluasaan untuk
menerapkan praktek-prektek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum dan
kecerdasan kehidupan bangsa.
2.1.2 Pengertian Anggaran dan Karakteristik Anggaran
A. Pengertian Anggaran.
Menurut Rudianto (2009:3) Anggaran adalah rencana kerja organisasi dimasa
mendatang yang diwujudkan dalam bentuk kuantitatif, formal, dan sistematis.
Proses penyiapan anggaran disebut penganggaran. Rencana kerja tersebut ditulis
dalam bentuk sederetan angka yang merupakan target pencapaian organisasi.
Rencana kerja merupakan suatu sasaran resmi organisasi yang harus diupayakan
untuk dicapai oleh seluruh anggota organisasi atau organisasi itu sendiri.
Anggaran juga harus disusun menggunakan suatu urutan tertentu, bukan
acak-acakan.
Menurut Sasongko (2010:81)
Penyusunan anggaran yang baik adalah untuk
mempermudah anggota organisasi memahami target yang harus dicapai oleh
perusahaan dan untuk melihat hubungan antara satu begian rencana kerja dengan
bagian lainnya. Dalam pengelolaan organisasi manajemen menetapkan Budget
atau Anggaran. Anggaran merupakan alat penting untuk perencanaan dan
pengendalian jangka pendek dalam organisasi.
Menurut Asri (2011:6) Definisi Anggaran adalah suatu pendekatan yang
formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen didalam
perencanaan, koordinasi dan pengawasan.
Menurut Fardian (2012) Anggaran adalah rencana terperinci tentang
perolehan dan penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya lainnya
selama suatu periode waktu tertentu.
Nordiawan dan Hertianti ( 2010:69) Anggaran juga dapat dikatakan sebagai
pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu
tertentu dalam ukuran finansial. Dalam pembuatan anggaran sektor publik,
terutama pemerintah, merupakan proses yang cukup rumit dan mengandung
muatan politis yang cukup signifikan. Beda dengan penyusunan diperusahaan
suwasta yang muatan politisnya relatif lebih kecil. Bagi sektor publik seperti
pemerintah. Anggaran tidak hanya rencana tahunan, tetapi juga merupakan bentuk
akuntabilitas atas pengelolaan dana publik yang dibebankan kepadanya.
Dalam pengertian lain. Menurut Kurniawan (2011) Anggaran dapat dikatakan
sebagai buah rencana finansial yang menyatakan hal-hal berikut:
1. Rencana-rencana organisasi untuk melayani masyarakat atau aktivitas lain
yang dapat mengembangkan kapasitas organisasi dalam pelayanan.
2. Entitas besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam merealisasikan rencana
tersebut.
3. Perencanaan sumber-sumber yang akan menghasilakan pemasukan serta
besarnya pemasukan tersebut.
Pengertian anggaran (budget) menurut Afiah (2010:166) adalah suatu rencana
keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan.
Anggaran merupakan alat manajemen yang penting dalam perencanaan dan
pengendalian keuangan organisasi. Sebagai alat manajemen, anggaran tidak akan
berfungsi dengan baik apabila manusia yang menggunakan alat tersebut tidak
dapat menggunakannya dengan baik. Oleh karena itu anggaran memiliki fungsi
yang sama dengan manajemen.
Menurut Hartanto (2009:54) anggaran mempunyai beberapa fungsi yang
meliputi, fungsi perencanaan, fungsi pelaksanaan, dan fungsi pengawasan.
1. Fungsi Perencanaan
Anggaran merupakan komponen utama dari perencanaan yang memuat tujuan
dan tindakan dalam mencapai tujuan perusahaan. Anggaran memberikan
gambaran yang lebih nyata atau lebih jelas dalam unit dan uang.
2. Fungsi Pelaksanaan
Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga
pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan.
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengendalian atau pengawasan (controlling),
dilakukan dengan cara membandingkan hasil aktual dengan yang dianggarkan
secara periodik serta dengan melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang
perlu.
B. Karakteristik Anggaran
Anggaran harus disusun dan dihitung dengan cermat agar operasionalisasi
perusahaan dapat berjalan dengan efektif. Untuk mewujudkan hal tersebut
anggaran harus mempunyai karakteristik tertentu.
Menurut Samryn (2010:91) karakteristik-karakteristiknya adalah sebagai
berikut:
1. Anggaran mengestimasikan potensi laba dari unit usaha tersebut.
2. Dinyatakan dalam bentuk moneter, walau jumlah moneter didukung dengan
jumlah nonmoneter (contoh: unit yanbg terjual atau diproduksi).
3. Biasanya meliputi waktu satu tahun.
4. Merupakan komitmen manajemen, manajer setuju untuk menerima tanggung
jawab atas pencapaian tujuan-tujuan anggaran.
5. Usulan anggaran ditinjau dan disetujui oleh penjabat yang lebih tinggi
wewenangnya dari pembuat anggaran.
6. Setelah disetujui, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi-kondisi tertentu.
7. Secara berkala, kinerja keuangan akrual dibandingkan dengan anggaran, dan
varians dianalisis serta dijelaskan.
Menurut Renyowijoyo (2013:4) menyatakan bahwa ada beberapa
karakteristik anggaran, yaitu:
1. Dinyatakan dalam satuan moneter.
2. Umumnya mencakup kurun waktu satu tahun.
3. Mengandung komitmen manajemen.
4. Usulan anggaran disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari pelaksana
anggaran.
5. Harus dianalisis penyebabnya, jika terjadi penyimpangan didalam
pelaksanaannya.
2.1.3 Rencana Bisnis dan Anggaran Badan Layanan Umum Daerah
Menurut Peraturan Mentri Keuangan Nomor 44/PMK.5/2009 Rencana Bisnis
dan Anggaran BLUD atau RBA adalah dokumen perencanaan bisnis dan
penganggaran tahunan yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan anggaran
suatu Badan Layanan Umum Daerah.
Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutanya disingkat BLUD menurut
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2005 adalah Satuan
Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja Perangkat Daerah dilingkungan
pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan
mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip
efisiensi dan produktivitas.
2.1.4 Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran
1. Dasar Penyusunan
Rencana Bisnis dan Anggaran disusun berdasarkan Rencana Strategi Bisnis
(RSB) yang telah ditetapkan dan sebagai upaya mewujudkan bisnis yang sehat
dalam penerapan PPK-BLUD. Menurut Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor
61 tahun 2007. Rencana Strategi Bisnis Adalah dokumen lima tahunan yang
memuat visi misi, program, pengukuran pencapaian kinerja dan arah kebijakan
operasional BLUD.
Sedangkan PPK-BLUD adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan
fleksibilitas berupa keluasan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat
untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian
dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya.
2. Proses Penyusunan
Perencanaan dan penganggaran menjadi hal yang paling penting dalam
menentukan arah organisasi untuk menjalankan aktivitas-aktivitas demi mencapai
tujuan organisasi. Perencanaan yang dibuat tentunya harus selaras dengan visi,
misi dan strategi organisasi sebagai arahan utama yang telah ditentukan
sebelumnya.
Perencanaan merupakan langkah organisasi menentukan kegiatan yang tepat
dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Penganggaran merupakan
rencana keuangan yang secara sistematis menunjukkan alokasi sumber daya
manusia, material, dan sumber daya lainnya. Berbagai variasi dalam sistem
penganggaran pemerintah dikembangkan untuk melayani berbagai tujuan
termasuk guna pengendalian keuangan, rencana manajemen, prioritas dari
penggunaan dana dan pertanggungjawaban kepada publik. Sebagai organisasi
yang akan menerapkan praktek bisnis yang sehat tentunya BLUD menerapkan
pola-pola perencanaan dan penganggaran dengan menjadikan efisiensi dan
produktivitas sebagai hal yang paling utama. Dalam RBA menyajikan
informasi-informasi keuanggan secara komprehensif mencakup proyeksi laporan keuangan
dan kinerja keuangan tahun berjalan. Tentunya Penyusunan RBA akan lebih
praktis jika dihubungkan dengan Teknologi Informasi (TI) yang mendukung dan
mengakomodir data-data yang diperlukan mengingat kompleksitas informasi yang
dibutuhkan dalam penyusunan RBA. Selain dukungan TI dalam pengembangan
manajemen keuangan BLUD juga butuh dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)
yang memadai mengenai akuntansi dan keuangan.
Dalam penyusunan RBA, Badan Layan Umum Dearah harus
mempertimbangkan SPM yang telah ditetapkan, SPM atua Standar Pelayanan
Minimal adalah spesifikasi teknis tentang tolak ukur layanan minimal yang
diberikan oleh BLUD kepada masyarakat.
3. Subtansi Rencana Bisnis dan Anggaran
Subtansi RBA meliputi:
a. Kinerja tahun berjalan.
b. Asumsi makro dan mikro.
c. Sasaran, indikator, target kinerja dan kegiatan.
d. Analisis dan perkiraan biaya satuan.
e. Perkiraan harga.
f. Perkiraan pedapatan, biaya, investasi, dan pendapatan.
g. Presentase ambang batas.
h. Prognosa dan proyeksi laporan keuangan.
i. Perkiraan maju (forward estimate).
j. Ringkasan penerimaan dan pengeluaran
1. Sistematika Dokumen Rencana Bisnis dan Anggara
Tata Cara Penyusunan RBA
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Unit Kerja yang menerapkan
Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD)
menyiapkan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) berdasarkan Rencana Strategis
(Renstra) Bisnis dan Rencana Kerja (Renja) Pemerintah Daerah. RBA disusun
berdasarkan basis kinerja dan disusun dengan sistematika sebagai berikut:
1. Halaman Sampul
Memuat:
1) Nama pemerintah yang bersangkutan.
2) Rencana Bisnis dan Badan Layanan Umum Daerah SKPD atau Unit Kerja
pada SKPD yang bersangkutan.
3) Tahun yang dianggarakan.
2. Kata pengantar
Memuat alasan pokok penyusunan RBA oleh pimpinan BLUD.
3. Ringkasan Eksekutif
Memuat pokok–pokok substansi RBA yang disusun.
4. Daftar Isi
Memuat urutan dan halaman dokumen RBA yang disusun.
5. Bab I Pendahuluan
Memuat:
1) Gambaran umum
Berisi keterangan ringkas mengenai eksitensi dan kegiatan utama atau pokok
BLUD.
2) Maksud dan Tujuan
Memuat maksud dan tujuan BLUD.
3) Susunan Pejabat Pengelola dan Dewan Pengawas
6. Bab II Kinerja Badan Layanan Umum Daerah Tahun Anggaran
Berjalan
Memuat:
1) Kondisi Lingkungan yang Mempengaruhi Pencapaian Kinerja
Digambarkan mengenai hasil kegiatan tahun berjalan secara keseluruhan
yang berisi penjelasan mengenai pencapaian target–target kinerja dan
uraian mengenai faktor–faktor yang mempengaruhi kinerja, meliputi:
a) Faktor Internal
Menggambarkan kondisi internal BLUD yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam mencapai
tujuannya, antar lain berkaitan dengan kondisi:
Pelayanan.
Keuangan.
Organisasi dan Sumber Daya Manusia.
Sarana dan Parasarana
b) Faktor Eksternal
Menggambarkan kondisi di luar BLUD yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam mencapai
tujuannya, antar lain berkaitan dengan kondisi:
Peraturan perundang–undangan yang terkait dengan BULD.
Kebijakan pemerintah pusat atau daerah terhadap BLUD,
menyangkut keuangan, sumber daya manusia, kelembagaan dan lain –
lain.
Perkembangan sosial budaya dan tingkat pendidikan masyarakat.
Perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi.
Keadaan persaingan dengan lembaga pelayanan sejenis.
Keadaan perekonomian baik nasional maupun internasional
2) Perbandingan Asumsi pada Waktu Menyusun Rencana Bisnis dan
Anggaran dengan Fakta yang Terjadi
Meliputi:
a) Aspek Makro, dapat terdiri dari:
Pertumbuhan ekonomi.
Tingkat inflasi.
Perubahan pasar.
Tingkat suku bungan pinjaman.
kurs
b)
Aspek Mikro, dapat terdiri dari:
Kemampuan dan tanggungjawab pemerintah daerah dalam
pembiayaan pelayanan publik sebagai fungsi public service obligation
(PSO).
Perubahan tarif layanan.
Pengembangan atau peningkatan pelayanan.
Asumsi yang berkaitan dengan analisis rasio keuangan
3) Pencapaian Kinerja
Memuat pencapaian kinerja non keuangan dan keuangan, dapat
menggunakan pendekatan Balanced Scorecards, Management By
Objective
(MBO), Result Oriented Management (ROM), Result Based
Management,
atau Outcome Best Performance Management. Jika
menggunakan pendekatan Balanced Scorecards indikator kinerja terdiri
dari:
a) Non Keuangan, terdiri dari pencapaian kinerja berdasarkan unit layanan
dan unit pendukung layanan, anatara lain berkaitan dengan prespektif:
Pelanggan.
Proses bisnis internal.
Pertumbuhan dan pembelajaran
b) Keuangan, memuat pencapaian semua aspek kinerja keuangan, dengan
membandingkan antara prognasa dan anggaran tahun berjalan, sekurang
– kuarngnya meliputi:
Realisasi pendapatan bnerdasarkan unit layanan.
Realisasi biaya berdasarkan unit layanan
.
Realisasi biaya
.
Realisasi investasio
.
Realisasi pendanaan
.
Serta dapat ditambahkan analisis keuangan lainnya , seperti:
a. Likuiditas meliputi rasio lancar, rasio cepat, rasio kas.
b. Solvabilitas meliputi rasio hutang terhadap ekuitas, rasio hutang
terhadap aset.
c. Aktivitas meliputi perputaran aset, perputaran piutang, perputaran
persediaan.
d. Rentabilitas meliputi pendapatan operasional dibagi biaya
operasional (POBO), rasio proporsi pendapatan.
e. Produktivitas ( hasil produksi setiap unit layanan dibagi dengan
sumber daya yang digunakan dalam rupiah).
f. Efisiensi (output dibandingkan input)
4) Prognosa Laporan Keuangan
Memuat:
a) Neraca
Disusun agar dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan
BLUD sampai dengan 30 juni, dan prognosa sampai dengan 31
Desember tahun anggaran berjalan.
b) Laporan Operasional
Disusun untuk mengetahui realisasi sampai dengan 30 Juni dan prognosa
sampai dengan 31 Desember atas jumlah pendapatan yang diakui dan
biaya yang dibebankan pada akhir tahun anggaran berjalan.
c) Laporan Arus Kas
Disusun untuk mengetahui arus kas dan setara kas sampai dengan 30
juni, dan prognosa sampai dengan 31 Desember dari aktivitas
operasional, investasi, pendapatan kenaikan atau penurunan kas dan
setara kas bersih, kas dan setara kas awal, dan jumlah saldo kas dan
setara kas pada akhir tahun anggaran berjalan.
Memuat penjelasan pos – pos laporan keuangan, dan informasi lainnya
yang relevan dengan laporean keuangan
7. Bab III Rencana Bisnis dan Anggaran Tahun yang Dianggarkan
Memuat:
1) Kondisi Lingkungan yang Diprediksi akan Mempengaruhi
Pencapaian Kinerja
a) Faktor Internal
Menggambarkan kondisi internal BLUD yang secara langsung maupun
tidak langsung diprediksi akan mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam
pencapaian tujuan sampai saat disusunnya RBA. Faktor internal antara
lain:
Pelayanan.
Keuangan.
Organisasi.
Sumber Daya Manusia.
Sarana dan Prasarana
b) Faktor Eksternal
Menggambarkan kondisi diluar BLUD yang secara langsung maupun
tidak langsung diprediksi akan mempengaruhi keberhasilan BLUD dalam
pencapaian tujuan sampai saat disusunnya RBA. Faktor eksternal antara
lain:
kebijakan pemerintah pusat atau daerah terhadap BLUD,
menyangkut keuangan, sumber daya manusia, dll.
perkembangan sosial budaya dan tingkat pendidikan masyarakat.
perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi.
keadaan persaingan dengan lembaga pelayanan yang sejenis.
keadaan perekonomian nasional maupun internasional
2) Asumsi yang Digunakan
Menggambarkan asumsi yang digunakan pada waktu menyusun RBA
tahun yang dianggarkan meliputi:
a)
Aspek Makro, dapat terdiri dari:
Pertumbuhan ekonomi.
Tingkat inflasi.
Pertumbuhan pasar.
Tingkat suku bunga pinjaman.
kurs
b)
Aspek Mikro, dapat terdiri dari:
Kemampuan dan tanggungjawab pemerintah daerah dalam
pembiayaan pelayanan publik sebagai fungsi public service
obligation
(PSO).
Proyeksi rata-rata kenaikan tarif layanan.
Peningkatan pelayanan
3) Sasaran, Indikator , Target Kinerja dan Kegiatan
a) Sasaran, indikator, target kinerja, dan kegiatan berdasarkan unit layanan
BLUD dalam meningkatkan mutu/kinerja layanan pada tahun yang
dianggarkan.
b) Sasaran, indikator, target kinerja, dan kegiatan berdasarkan unit
pendukung layanan BLUD dalam menunjang meningkartkan mutu atau
kinerja layanan pada tahun yang dianggarkan.
4) Program Kerja dan Kegiatan
a) Program Kerja
Program kerja diisi 1 (satu) program yaitu “Program peningkatan
kualitas pelayanan..” (disesuaikan dengan tugas dan fungsi BLUD)
b) Kegiatan, meliputi:
Kegiatan pelayanan, memuat produk layanan utama BLUD..
Kegiatan pendukung layanan, memuat produk layanan yang
mendukung layanan utama BLUD
5) Perkiraan Pendapatan
Berisi prognasa pendapatan BLUD tahun anggaran berjalan dan proyeksi
tahun anggaran yang dianggarkan dari setiap sumber pendapatan.
6) Perkiraan Biaya
Biaya berdasarkan unit layanan dan unit pendukung layanan.
7) Perkiraan Penerimaan dan Pengeluaran Investasi
a) Penerimaan investasi untuk unit layanan dan unit pendukung layanan.
b) Pengeluaran investasi untuk unit layanan dan unit pendukung layanan.
8) Perkiraan Penerimaan dan Pengeluaran Pendanaan
a) Penerimaan Pendanaan.
b) Pengeluaran Pendanaan.
9) Anggaran Badan Layanan Umum Daerah
Anggaran BLUD merupakan penjabaran program dan kegiatan dalam
bentuk satuan mata uang berupa pendapatan dan biaya, yang dananya
bersumber dari seluruh pendapatan BLUD
a) Anggaran Pendapatan
Disusun berdasarkan sumber pendapatan yang berasal dari:
Jasa layanan.
Hibah.
Hasil kerjasama.
APBD.
APBN.
Dan lain–lain pendapatan BLUD yang sah baik berbasis akrual
maupun berbasis kas
b) Anggaran Biaya atau Belanja, disusun menurut:
Sumber dan alokasi dana, meliputi anggaran biaya atau belanja
BLUD yang diperinci berdasarkan sumber dana yang diperoleh dan
alokasi dana berbasis akrual.
Pengakuan pendapadan dan perkiraan biaya satuan menggunakan
akuntansi berbasis kas
jenis anggaran, meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa,
dan belanja modal.
c) Anggaran penerimaan dan pengeluaran investasi
Disusun menurut sumber dan alokasi dana
d) Anggaran penerima dan pengeluaran pendanaan
Disusun menurut sumber dan alokasi dana
10) Ambang Batas Rencana Bisnis dan Anggaran
a) Anggaran BLUD yang tercantum dalam RBA dapat bertambah atau
berkurang dari yang direncanakan sepanjang bertambah atau
berkurangnya terkait dengan pendapatan secara proporsional (Flexible
budget).
b) Flexible budget tersebut ditetapkan dengan besaran ambang
batas,dihitung bdengan mempertimbangkan fluktuasi kegiuatan
operasional, antara lain kecenderungan (trend) naik atau turun selisih
antara anggaran dan pendapatan jasa layanan dan realisasi dua tahun
anggaran sebelumnya, serta selisih antara anggaran pendapatan jasa
layanann dan prognosa tahun anggaran berjalan.
c) Ambang batas ditetapkan dengan besaran prosentase dari pendapatan
jasa layanan yang tercantum dalam RBA tahun anggaran yang
dianggarkan . Hal tersebut dapat dilakukan apabila volume kegiatan
pelayanan dan pendapatan jasa layanan, hibah tidak terikat, hasil
kerjasama, dan lain–lain pendapatan yang telah ditetapkan dalam RBA
tahun yang dianggarkan.
8. Bab IV Proyeksi Laporan Keuangan Tahun yang Dianggarkan
Proyeksi sangat diperlukan untuk melihat kondisi dimasa yang akan datang.
Untuk proyeksi keuangan sangat diperlukan karena kondisi perekonomian yang
selalu berubah. Dengan membuat proyeksi, maka Badan Layanan Umum Daerah
dapat memperkirakan berapa pendapatan, biaya, investasi, hibah dan lain-lain
yang akan diterimah dan dikeluarkan oleh rumah sakit.
Proyeksi adalah gambaran laporan keuangan entitas atau Badan Layanan
Umum Daerah yang terjadi pada tahun yang akan dianggarankan.
Proyeksi laporan keuangan BLUD disajikan secara komperatif dengan
membandingkan antara prognosa tahun berjalan dengan proyeksi tahun yang
dianggarkan, trerdiri dari:
1. Proyeksi neraca.
2. Proyeksi Laporan Operasinal.
3. Catatan Laporan Arus Kas.
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Langka-langka dalam menyusun proyeksi laporan keuangan BLUD:
1. Dapatkan pragnosa laporan keuangan tahunan anggaran berjalan
sebagaimana tersaji pada Bab (Kinerja Badan Layanan Umum Daerah
Tahun Anggaran Berjalan), terdiri dari prognosa:
a. Neraca.
b. Laporan Operasional.
c. Laporan Arus kas.
2. Dapatkan kebijakan atau target-target, antara lain:
a. Piutang akhir tahun yang dianggarkan.
b. Persediaan akhir tahun yang dianggarkan.
c. Hutang akhir tahun yang dianggarkan
3. Dapatkan dan analisis rencana kegiatan (usaha) pada tahun yang
dianggarkan, berupa aktivitas-aktivitas (data dari Bab III):
a. Aktivitas Operasinal, terdiri dari:
1) Aktivitas yang berpengaru terhadap akun pendaptan (basis akrual).
2) Aktivitas yang berpengaruh pada akun biaya (basis akrual).
3) Aktivitas yang berpengaruh kewajiban jangka pendek
b. Aktivitas Investasi, terdiri dari:
1) Pembelian atau belanja aset tidak lancar.
2) Penerimaan hasil investasi.
3) Penjualan atau penghentian investasi
c. Aktivitas pendanaan
Aktivitas yang berpengaruh pada keputusan keuangan (sumber dana
eksternal), sepertri penerimaan dan pembayaran utang.
4. Siapkan proyeksi jurnal transaksi tahun yang dianggarakan, untuk mencatat
proyeksi aktivitas operasional, investasi dan pendanaa sebagaimana
direncanakan pada butir 2 dan 3.
5. Siapkan kertas kerja (worksheet) laporan keuangn yang diproyeksikan, baik
kertas kerja laporan operasinal maupun kertas kerja neraca.
6. Siapkan proyeksi jurnal penyesuaian dengan mengguanakan kebijakan
akuntansi yang telah ditetapkan, antara lain:
a. Penyisihan piutang.
b. Pendapatan yang harus masih diterima.
c. Penurunan nilai persediaan.
d. Depresiasi dan amortisasi.
e. Penurunan nilai aset tetap.
f. Provisi atau kewajiban estimasian.
g. Biaya yang masi harus dibayar.
h. Reklasifikasi akun (misalnya utang jangka panjang jatuh tempo dalam satu
tahun)
7. Menyajikan laporan keuangan yang diproyeksikan komparatif dengan
laporan keuangan prognosa, dengan urutan penyesuaian :
a. Proyeksi neraca:
1) Diperoleh dari kertas kerja kolom neraca.
2) Sajikan sesuai format neraca
b. Proyeksi laporan operasinal:
1) Diperoleh dari kertas kerja kolom laporan operasinal.
2) Kolom kredit merupakan pos-pos pendapatan dan keuntungan.
3) Kolom deebit merupakan pos-pos biaya dan kerugian.
4) Sajikan sesuai dengan format laporan operasional.
c. Laporan arus kas:
2) Menggunakan metode langsung.
3) Catatan atas proyeksi laporan keuangan:
Cukup menjelaskan pos-pos proyeksi laporan keuangan yang memuat
info lebih lanjut tentang:
1) Penjelasan atas informasi-informasi keuangan
Menjelaskan pos-pos laporan keuangan, termasuk rincian dan
pengungkapan yang memadai (disclosur). Sebagai contoh pos kas, dan
setara kas, dan piutang usaha.
2) Penjelasan atas infpormasi lainnya.
9. Bab V Penutup
Memuat:
1)
Hal-hal yang yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka
melaksanakan kegiatan Badan Layanan Umum Daerah, antara lain:
penghapusan piutang, penghapusan persedsiaan, penghapusan aset tetap,
penghapusan aset lain-lain, pemberian pinjaman, kerja sama dengan pihak
ketiga, remunerasi pejabat pengelolah dan pegawai serta dewan
pengawas.
2)
Kesimpulan
Berisikan seluruh rangkaian pembahasan dari bab-bab sebelumnya serta
hasil-hasil yang telah dicapai dan hambatan dalam melaksanakan kegiatan
yang sesuai dengan yang telah ditetapkan serta upaya pemecahan masalah
yang dihadapi dan mencoba memberikan saran-saran yang dipandang
perlu.
10. Lampiran
Memuat hal-hal yang perlu dilampirkan sebagai data pendukung dalam
penyusunan RBA.
2.1.5 Mekanisme Pengajuan Rencana Bisnis dan Anggaran
1. Badan Layanan Umum Daerah Satuan Kerja Perangkat Daerah
(BLUD-SKPD)
RBA yang sudah disusun oleh BLUD, disampaikan kepada Penjabat
Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Selanjutnya oleh PPKD disampaikan
kepada Tim Anggaran Pemeritah Daerah (TPAD) untuk dilakukan penelahaan.
2. Badan Layanan Umum Daerah Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (BLUD-Unit Kerja)
RBA yang disusun disampaikan kepada kepala SKPD untuk dikonsolidasi
dengan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah
(RKA-SKPD), dan selanjutnya disampaikan kepada Pejabat Pengelolah Keuangan
Daerah (PPKD). Selanjutnya RKA-SKPD dan RBA yang diterima PPKD
disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) untuk dilakukan
penelahaan.
RBA BLUD-SKPD atau RKA-SKPD beserta RBA BLUD-Unit Kerja yang
telah dilakukan penelahaan oleh TPAD, selanjutnya disampaikan kepada PPKD
untuk dituangkan kedalam Rencana Peraturan Daerah tentang APBD. Setelah
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD ditetapkan menjadi Peraturan
Daerah, pemimpin BLUD melakukan penyesuaina terhadap RBA untuk menjadi
RBA definitif. RBA definitif dipakai sebagai dasar penyusunan DPA-BLUD.
Tabel 1
BAGAN ALUR PENGAJUAN RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN
BLUD-SKPD KE DALAM PERDA TENTANG APBD
URAIAN PEMDA / KDH PEMIMPIN BLUD PPKD TAPD DPRD Pemda menyusun
RPJMD
BLUD menyusun Renstra bisnis BLUD lima tahunan
berdasarkan pada RPJMD dilengkapi dengan rencana
implementasi 5 tahunan Renstra bisnis BLUD lima
tahunan dan rencana implementasi 5 tahunan
dipakai sebagai dasar penyusunan RBA RBA yang telah disusun disampaikan kepada PPKD
Oleh PPKD disampaikan kepada TAPD untuk dilakukan penelaahan RBA yang telah dilakukan
penelaahan oleh TAPD disampaikan ke PPKD untuk
dituangkan ke Rancangan Perda tentang APBD RBA BLUD dipakai sebagai
dasar penyusunan Raperda tentang APBD
Raperda APBD dibahas bersama DPRD Kepadal daerah menetapkan
Raperda APBD menjadi perda APD
IMPLEMENTASI RAPERDA RAPERDA
RPJMD RESNTRA BISNIS RENCANA IMPLEMENTASI 5 TAHUNAN RBA = RKA SKPD RBA RBA RBA RAPERDA APBD RAPERDA APBD RAPERDA APBD PERDA APBD
BLUD melakukan penyesuaian RBA BLUD
dengan Perda APBD RBA BLUD yang telah disesuaikan dengan Perda APBD menjadi RBA BLUD
definitive
RBA BLUD definitif sebagai dasar penyusunan rancangan DPA BLUD
Sumber : Buku panduan penyusunan rencangan bisnis dan anggaran badan layanan umum daerah.
PENYESUAIAN RBA RBA DEFINITIF RANCANGAN DPA-BLUDTabel 2
BAGAN ALUR PENGAJUAN RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN
BLUD-UNIT KERJA KE DALAM PERDA TENTANG APBD
URAIAN PEMDA / KDH PEMIMPIN BLUD PPKD TAPD DPRD Pemda menyusun
RPJMD
BLUD unit kerja menyusun Renstra bisnis BLUD lima
tahunan berdasarkan pada RPJMD dilengkapi dengan
rencana implementasi 5 tahunan
Renstra bisnis BLUD lima tahunan dan rencana implementasi 5 tahunan
dipakai sebagai dasar penyusunan RBA RBA yang telah disusun disampaikan kepada kepala
SKPD untuk di konsolidasikan ke
RKA-SKPD RKA berserta RBA disampaikan kepada PPKD
RKA berserta RBA oleh PPKD disampaikan kepada
TAPD untuk di lakukan penelaahan RKA SKPD berserta RBA
dipakai sebagai dasar penyusunan rancangan Perda
tentang APBD RAPERDA APBD oleh PPKD disampaikan ke KDH
IMPLEMENTASI RAPERDA RAPERDA
RPJMD RESNTRA BISNIS BLUD RENCANA IMPLEMENTASI 5 TAHUNAN RBA BLUD UNIT KERJA RKA-SKPD RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RBA BLUD unit kerja RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RKA-SKPD RBA BLUD unit kerja RAPERDA APBD
Raperda APBD dibahas bersama DPRD Kepala daerah menetapkan
Raperda APBD menjadi perda APBD BLUD melakukan penyesuaian RBA dengan
Perda APBD RBA yang telah disesuaikan dengan perda APBD menjadi
RBA BLUD definitif RBA definitif sebagai dasar penyusunan rancangan DPA
BLUD
Sumber : Buku panduan penyusunan rencangan bisnis dan anggaran badan layanan umum daerah.
RAPERDA APBD RAPERDA APBD PERDA APBD PENYESUAIAN RBA RBA DEFINITIF RANCANGAN DPA-BLUD2.2 Konsep Dasar Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Badan
Layanan Umum Rumah Sakit.
2.2.1 Anggaran Rumah Sakit
Semua perusahaan, baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil,
seharusnya membuat anggaran karena perusahaan dapat menarik keuntungan dari
perencanaan dan pengendalian yang berasal dari anggaran. Rumah sakit juga
memerlukan anggaran, apalagi rumah sakit punya beban hutang sehingga secara
sadar harus dipersiapkan bagaimana caranya agar dapat membayar tanpa
memberatkan. Anggaran diperlukan rumah sakit agar bersiap diri untuk
memenuhi kewajiban, mempersiapkan upaya pemasaran yang agresif, menjadi
tolak ukur aktivitas pada tahun yang akan datang, serta menjadi pengalaman bagi
masa depan.
Menurut Prawironegoro (2009)
anggaran pada rumah sakit selain berfungsi
sebagai pedoman dalam perencanaan keuangan dan kegiatan di masa datang, juga
merupakan bagian dari progam pengendalian keuangan organisasi. Tujuan
pengendalian keuangan rumah sakit yaitu merencanakan dan mengendalikan
kegiatan rumah sakit agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu
pendapatan rumah sakit paling sedikit sama atau lebih besar dari biaya.
Pendapatan harus diamankan baik dari pasien yang berobat jalan, rawat inap,
kamar operasi dan sebagainya, serta adanya pasien-pasien yang tidak mampu.
Menurut Triatmojo (2010) Anggaran pada rumah sakit terdiri atas:
1. Anggaran Statistik, meliputi keadaan volume kegiatan dalam bentuk kuantitatif
untuk kegiatan di masa datang. Anggaran statistik diperlukan untuk
menghitung penerimaan dan pengeluaran. Bila diketahui tarif maka akan dapat
diketahui penerimaan, bila diketahui biaya maka akan dapat diketahui
pengeluaran.
2. Anggaran Operasional, meliputi anggaran penerimaan dan anggaran
pengeluaran.
3. Anggaran uang tunai, yaitu anggaran yang menunjukkan secara nyata
kemungkinan uang tunai yang ada. Anggaran ini penting untuk menjaga
kredibilitas rumah sakit terhadap kewajibannya.
4. Anggaran Modal, merupakan perencanaan untuk pembelian alat- alat,
pembelian bangunan, dan penjadwalan pengeluaran uang.
5. Anggaran Neraca, merupakan perhitungan posisi kekayaan dan hutang pada
akhir tahun yang akan datang.
6. Anggaran Sisa Hasil Usaha, merupakan anggaran yang menggambarkan berapa
kemungkinan hasil usaha yang akan diperoleh.
7. Anggaran Tunai, menggambarkan arus masuk dan keluar uang tunai.
8. Anggaran Fleksibel, digunakan untuk kegiatan yang secara langsung terkait
dengan jumlah orang yang dilayani. Hal ini berarti banyak sedikitnya jumlah
orang yang dilayani akan berpengaruh secara langsung terhadap biaya
variabel. Jadi anggaran fleksibel adalah anggaran yang nilainya pada biaya
variabel sesuai dengan jumlah pelayanan yang dibutuhkan.
9. Anggaran Program, merupakan proses untuk menyusun kegiata dalam
mencapai tujuan program di masa datang dalam bentuk nilai uang. Dalam
pelaksanaannya, anggaran program membutuhkan waktu, keterlibatan
berbagai pihak, kemampuan dan keterampilan tertentu, serta data dan
informasi yang objektif.
2.2.2 Pendapatan dan Belanja Rumah Sakit
Pendapatan Rumah Sakit adalah penerimaan kas yang menambah kekayaan
suatu entitas.
Menurut Waluyo (2011) Rumah sakit umumnya mempunyai prinsip-prinsip
dan standar yang sama dengan entitas non laba dan non pemerintahan yang lain.
Namun rumah sakit mempunyai sumber-sumber pendapatan yang unik seperti
pendapatan pasien dan fee premium, dan klasifikasi biaya relatif khusus.
1. Pendapatan pasien.
Pendapatan pasien termasuk kamar dan ruang perawatan, dan pelayanan
profesi lainnya.
2. Pendapatan premium.
Pendapatan atas perjanjian yang dibuat oleh rumah sakit terhadap suatu
pelayanan pasien (sebagai fee khusus)
3. Rupa-rupa pendaptan operasi.
Yang termasuk dalam pendapatan ini seperti pelayanan kepada pasien selain
masalah kesehatan, atau pendapatan yang berasal dari bukan operasi normal,
seperti tution and fee dari murid sekolah kesehatan, pendaptann sewa ruang
rumah sakit, pendaptan beban adminitrasi (yang diterbitkan) biaya telefon,
beban televisi, pendaptan cavetaria.
Menurut Agusalim, dkk (2013) Rumah sakit pemerintah merupakan lembaga
yang dapat dikelolah sebagai mana rumah sakit swasta yang menerapkan
prinsip-prinsip akuntansi korporat (perbedaan) yang bersifat umum maupun spesifik.
Prinsip ini merupakan gambaran penerapan desentralisasi dalam sebuah
organisasi. Artinya rumah sakit merupakan unit yang tidak terpisahkan dari
departemen kesehatan.
BLU merupakan unit layanan umum yang tidak terpisahkan dari operasional
Negara, seperti karakteristik yang dimiliki oleh organisasi nirlaba, artinya unit ini
tidak mementingkan perolehan profit (keuntungan). Oleh karena itu apabilah
menggunakan standar akuntansi keuangan, maka lebih tepat menggunakan
pernyataan standar (PSAK) nomor 45 tentang pelaporan keuangan organisasi
nirlaba, atau standar akuntansi keuangan yang lebih spesifik, akuntansi untuk
rumah sakit.
Menurut Sandra (2013) menyatakan bahwa
Pendapatan yang diterima oleh
BLU diatur melalui prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN atau APBD diberlakukan
sebagai pendapatan BLU.
2. Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada
masyarakat merupakan pendapatan operasional BLU.
3. Hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain merupakan
pendapatan yang harus diperlakukan sesuai yang diperuntukan.
4. Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan hasil usaha lainnya merupakan
pendapatan bagi BLU.
5. pendapan yang dimaksud dalam angka 1, 2 dan 4 diatas dapat dikelola
langsung untuk membiayai belanja BLU sesuai Rencana Bisnis dan Anggaran
(RBA-nya).
6. Pendapatan yang dimaksud pada angka 2, 3 dan 4 dilaporkan sebagai
pendapatan negara bukan pajak kementrian atau lembaga atau pendapatan
bukan pajak pemerintah daerah.
Menurut Gede (2009) Berdasarkan prinsip-prinsip pengakuan pendapatan,
maka BLU mempunyai kewenangan penuh untuk menggunakan pendapatnya
sesaui dengan RBA-nya. Kewenangan menggunakan pendapatan dan sisa lebih
dapat mendahului dari pengesahan RBA-nya.
Prinsip perlakuan belanja
Menurut Amira, dkk. (2009) Belanja yang dilakukan oleh BLU diatur melali
prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Belanja BLU terdiri dari unsur biaya yang sesuai dengan struktur biaya yang
dituangkan dalam RBA.
2. Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara fleksibel berdasarkan
kesetaraan antara volume kegiatan pelayanan dengan jumlah pengeluaran,
mengikuti praktik bisnis yang sehat.
3. Fleksibilitas pengelolaan belanja sebagai mana yang dimaksud dalam angka 2
berlaku dalam ambang batas sesuai dengan yang ditetapkan dalam RBA.
4. Belanja BLU yang mempunyai ambang batas fleksibilitas sebagai mana
gubenur atau bupati atau walikota atas usulan mentri atau pimpinan lembaga
atau kepala SKPD, sesuai dengan kewenangannya.
5. Dalam hal terjadi kekurangan anggaran, BLU dapat mengajukan usulan
tambahan anggaran dari APBN atau APBD kepada mentri keuangan atau
PPKD melalui mentri atau pimpinan lembaga atau kepala SKPD sesuai
dengan kewenangannya.
6. Belanja BLU dilaporkan sebagai belanja barang dan jasa kemeterian negara
atau lembagaatau SKPDatau pemerintah daerah.
2.2.3 Basis Akuntansi yang Mendasari Penyusunan Laporan Keuangan
Akuntansi berbasis akrual, yaitu suatu basis akuntansi di mana transaksi
ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan
keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas
atau setara kas diterima atau dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu
pencatatan (recording) sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga
dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus
sumber daya dicatat.
IFAC Public Sector Committee (2002) menyatakan bahwa pelaporan berbasis
akrual bermanfaat dalam mengevaluasi kinerja pemerintah terkait biaya jasa
layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan. Dengan pelaporan berbasis akrual,
pengguna dapat mengidentifikasi posisi keuangan pemerintah dan perubahannya,
bagaimana pemerintah mendanai kegiatannya sesuai dengan kemampuan
pendanaannya sehingga dapat diukur kapasitas pemerintah yang sebenarnya.
Akuntansi pemerintah berbasis akrual juga memungkinkan pemerintah untuk
mengidentifikasi kesempatan dalam menggunakan sumberdaya masa depan dan
mewujudkan pengelolaan yang baik atas sumberdaya tersebut. Dengan demikian,
perbedaan kongkrit yang paling memerlukan perhatian adalah jenis atau
komponen laporan keuangan. Perbedaan mendasar SAP PP 24/2005 dengan SAP
Akrual terletak pada PSAP 12 mengenai Laporan Operasional.
Walaupun basis akrual berlaku efektif untuk laporan keuangan atas
pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran mulai tahun 2010, tetapi
apabila entitas pelaporan belum dapat menerapkan PSAP ini, entitas pelaporan
dapat menerapkan PSAP Berbasis Kas Menuju Akrual paling lama 4 (empat)
tahun setelah Tahun Anggaran 2010. Penerapan SAP Berbasis Akrual dapat
dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual
menjadi penerapan SAP Berbasis Akrual. Ketentuan lebih lanjut mengenai
penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap pada pemerintah pusat diatur
dengan Peraturan Menteri Keuangan, sedangkan untuk pada pemerintah daerah
diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (pasal 7 PP 71 tahun 2010).
2.2.4 Langka Penyusunan Anggaran Rumah Sakit
Proses penyusunan anggaran yang berhasil dapat menjadikan setiap manajer
dalam organisasi memiliki persepsi yang jelas mengenai peran mereka
masing-masing dalam mencapai sasaran anggaran.
Mardiasmo (2009:69) mengatakan tahap penyusunan anggaran adalah sebagai
berikut:
1. Penetapan sasaran oleh manajer atas.
2. Pengajuan usulan aktivitas dan taksiran sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan aktivitas tersebut oleh manajer bawah.
3. Review oleh manajer atas terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh
manajer bawah.
4. Persetujuan oleh manajer atas terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh
manajer bawah.
Empat pendekatan penyusunan anggaran menurut Nordiawan, dkk (2010)
yaitu:
1. Pendekatan Tradisional.
Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa setiap jenis biaya akan dinaikan
jumlahnya pada tingkat kenaikan yang relative sama tanpa memperhatikan
kebutuhan yang seharusnya.
2. Pendekatan Kinerja
Pendekatan kinerja diperkenalkan untuk mengatasi berbagai kelemahan yang
terdapat dalam pendekatan anggaran tradisional, khususnya kelemahan yang
disebabkan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
3. Pendekatan Sistem Perencanaan, Program, dan Anggaran Terpadu (Planning,
Programming, and Budgeting System-
PPBS)
PBBS merupakan upaya sistematis yang memperlihatkan integrasi dari
perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran.
Pendekatan pembuatan anggaran ini adalah setiap aktivitas atau program yang
telah diadakan ditahun-tahun sebelumnya tidak secara otomatis dapat
dilanjutkan. Setiap aktivitas harus dievaluasi setiap tahun untuk menentukan
apakah aktivitas itu akan diadakan tahun ini dengan melihat kontribusi yang
diberikan kepada tujuan organisasi.
Menurut Andini (2010) dalam menyusun anggaran pada rumah sakit perlu
diperhatikan tiga ruang lingkup utama, yaitu:
1. Keadaan lingkungan.
Meliputi upaya mengetahui keadaan lingkungan secara jelas dari:
a) Lingkungan eksternal, seperti: tingkat bunga, kebijakan pemerintah, dan
kemajuan teknologi.
b) Lingkungan pemasaran: kontraktor, kompetitor, dan lain-lain.
c) Lingkungan internal: keadaan petugas, nama baik, hasil kerja yang lalu, dan
kebijakan organisasi.
2. Pembuatan program
Meliputi misi yang diemban, tujuan yang ingin dicapai, sarana dan sumber
daya yang diperlukan.
3. Anggaran
Meliputi jenis-jenis:
a) Anggaran statistik
b) Anggaran finansial
c) Financial Statement
Gambar 1
PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN PADA RUMAH SAKIT