• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN. Jenis penelitian deskriptif korelatif adalah penelitian yang bertujuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 METODE PENELITIAN. Jenis penelitian deskriptif korelatif adalah penelitian yang bertujuan"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian deskriptif korelatif adalah penelitian yang bertujuan memberikan gambaran atau diskripsi tentang suatu keadaan atau objek, pendekatan yang di gunakan adalah pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang mengukur variabel bebas dan variabel terikat yang dikumpulkan dalam waktu bersamaan. Penelitian adalah merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah di tentukan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun penelitian pada seluruh proses (Wibowo, 2014).

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kecamatan Suka Jaya dan kecamatan Suka Karya Kota Sabang.

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juli 2016. Lokasi dipilih dengan alasan mudah mendapatkan izin penelitian,biaya penelitian terjangkau,serta terbuka menerima perubahan baru dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofernia. kegiatan di mulai dari survey awal, penulusuran bahan, pengambilan data hingga penyajian hasil penelitian.

(2)

3.3. Sumber Informasi

Untuk mendapatkan data tepat maka perlu ditentukan sumber informasi yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan data (purposive) dengan demikian penentuan sumber informasi di lakukan dengan tehnik purposive Purposive sampling adalah tehnik pengambilan sampel yang sering di gunakan dalam penelitian, sumber data sengaja di ambil dengan pertimbangan tertentu yakni sumber data dianggap paling tahu tentang apa yang di harapkan, sehingga mempermudah peneliti menjelajahi objek atau situasi sosial yang sedang di teliti (Sugiyono, 2009).

Sumber informasi data sekunder dalam penelitian ini yaitu 1. Petugas keordinator jiwa dinas kesehatan Kota Sabang 2. Perawat kesehatan jiwa (CMHN) di puskesmas.

3. Kader kesehatan jiwa (KKJ) tiap Desa/Gampong di Kota Sabang.

Sumber informasi data primer di ambil dari keseluruhan penderita gangguan jiwa skizofrenia,melalui wawancara keluarga terdekat.

3.4. Populasi dan Sampel 3.4.1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan gejala/satuan yang ingin di teliti (Prasetyo, 2005) dalam penelitian ini populasi adalah seluruh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofrenia yaitu 82 orang.

(3)

3.4.2. Sampel

Sampel adalah sebagai dari jumlah dan karakteristik populasi yang di teliti (Arikunto,2006) dalam penelitian ini mengambil teknik total sampling. yaitu semua populasi dijadikan sampel penelitian sebanyak 82 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofrenia. Wawancara dilakukan dengan keluarga terdekat yang merawat dan menjaga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofrenia tersebut dan dengan karakteristik sampel untuk keluarga yang dapat di masukkan dalam kriteria peneliti adalah

a. Anggota keluarga yang terdekat dan terlibat merawat klien b. Bertanggung jawab terhadap klien dan tinggal bersama klien c. Berusia lebih dari 18 tahun

d. Bisa membaca dan menulis

e. Bersedia sebagai responden dalam penelitian

3.5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan langsung kepada subyek penelitian dengan teknik wawancara kepada keluarga terdekat yang tinggal serumah dengan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan bantuan kuesioner yang meliputi data primer dan data sekunder yaitu sebagai berikut :

3.5.1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari responden (sampel) secara langsung melalui wawancara dengan responden berpedoman pada kuesioner yang

(4)

telah disusun. Data primer yang dikumpulkan adalah semua data yang termasuk dalam variabel independen.

3.5.2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan dan mempelajari data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Sabang.dukumentasi perawat kesehatan jiwa puskesmas (CMHN), Clinikal Methal Health Nursest dan dokumentasi kader kesehatan jiwa tiap desa di kota Sabang.

3.5.3. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas adalah tingkat keadaan dan kesalahan alat ukur untuk mengukur apa yang di ukur (Sugiyono,2006) alat ukur adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevaliditasannya atau kesahihan sesuatu instrument. Uji Validitas instrument penelitian yang digunakan adalah validitas konstruk dengan mengetahui nilai total setiap item pada analisis reability yang tercantum pada nilai correlation corrected

item. Suatu pertanyaan yang dikatakan valid atau bermakna sebagai alat pengumpul

data bila korelasi hasil hitung hitung) lebih besar dari angka kritik nilai korelasi (r-tabel), pada taraf signifikansi 95% (Riduwan, 2005), alat ukur di gunakan pada setiap pertanyaan yang di lakukan yang dianggap valit dan bermakna untuk pengumpulan data di setiap kuisioner yang di berikan pada responden di setiap kunjungan ke keluarga orang dengan gangguan jiwa skizofrenia di Kota Sabang.

3.5.4. Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas bertujuan untuk melihat bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument

(5)

tersebut sudah baik. Apabila datanya memang benar dan sesuai kenyataan, maka berapa kalipun diambil tetap akan sama. Tehnik yang dipakai untuk menguji kuesioner penelitian adalah tehnik Alpha Cronbach yaitu dengan menguji coba instrument kepada sekelompok responden pada satu kali pengukuran, juga pada taraf kepercayaan pengujian adalah 95% (Riduwan, 2005)

Sebelum di lakukan penelitian kepada responden, terlebih dahulu di lakukan uji validitas dan realibilitas kuesioner kepada 82 responden keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofrenia di Kota Sabang

Uji validitas variabel faktor yaitu faktor somatik dimana yang di ukur adalah Genetik/keturunan, cacat kogenital, jasmaniah, penyalahgunaan obat-obatan, penyakit dan cedera tubuh. Faktor psikologik yang di ukur adalah trauma masa kanak-kanak, hubungan keluarga, struktur keluarga, kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan, dan stres berat. Faktor sosial kultural (budaya) yang di ukur cara membesarkan anak, sistem nilai, kepincangan antara keinginan dengan kenyataan, ketegangan akibat faktor ekonomi, perpindahan keluarga, dan masalah minoritas.

Setelah semua pertanyaan valit, analisis di lanjutkan dengan uji relibialitas, pertanyaan di katakan realibilitas jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau setabil dari waktu ke waktu (Ghozali,2005).

Hasil ui validitas dan realibilitas kuesioner penelitan dapat di lihat pada tabel 3.1 berikut :

(6)

Tabel 3.1. Hasil uji Validitas dan Realibilitas Kuesioner Peneliti

Variabel Pertanyaan Corrected Item- Tital Correlation Cronbach’s Alpha Keterangan Somatik Genetik//keturunan 2 0,829 0,853 Reliabel Valid

Cacat Kogenital 5 0,609 Valid

Jasmani 2 0,451 Valid Penyalahgunaan Obat-obatan 3 0,923 Valid Penyakit dan Cedera tubuh 2 0,746 Valid Psikologi Trauma masa kanak-kanak 5 0,468 0,900 Reliabel Valid

Hubungan keluarga 8 0,747 Valid

Struktur keluarga 2 0,572 Valid

Kekecewaan dan pengalaman

menyakitkan

3 0,489 Valid

Stres berat 3 0,586 Valid

Sosial kultural Cara membesarkan anak

3 0,575 0,882 Reliabel

Valid

Sintem nilai 1 0,772 Valid

Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan 4 0,469 Valid Ketegangan akibat faktor ekonomi 3 0,673 Valid Perpindahan keluarga 3 0,684 Valid

Masalah minoritas 1 0,425 Valid

Hasil uji validitas di peroleh nilai r > r tabel (0,361) sehingga seluruh item pertanyaan di nyatakan valid. Dari hasil uji reliabilitas yang di lakukan di peroleh nilai r cronbach alpha > r (0,60) sehingga seluruh item pertanyaan di nyatakan

(7)

reliabel, dengan demikian kuesioner yang di gunakan untuk penelitian ini valit dan reliabilitas.

3.6. Variabel dan Definisi Operasional 3.6.1. Variabel

Variabel dependen (terikat) penelitian ini adalah sakit gangguan jiwa skizofrenia dan variable independen (bebas) adalah

1. Faktor Somatik yaitu Genetik/keturunan, Cacat kogenital, Jasmaniah, Penyalahgunaan obat-obatan Penyakit dan cedera tubuh.

2. Faktor Psikologik (Psikogenik) yaitu Trauma masa kanak-kanak, Kehilangan asuh anak, Hubungan keluarga, Struktur keluarga, Kekecewaan dan pengalaman menyakitkan, Stres berat.

3. Faktor Sosial Kultural yaitu Cara-cara membesarkan anak,Sistem nilai, Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan, Ketegangan akibat faktor ekonomi, Perpindahan keluarga dan Keluarga minoritas.

3.6.2. Definisi Operasional 3.6.2.1. Variabel Independen

1. Genetik/Keturunan adalah adanya salah satu dari anggota keluarga yang berhubungan darah yang menderita gangguan jiwa, terutama gangguan persepsi sensorik dan gangguan psikotik, misalnya saudara kembar, individu yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu atau saudara yang mengalami gangguan jiwa

(8)

2. Cacat kogenital adalah cacat yang didapatkan sejak lahir dapat mempengaruhi jiwa anak.

3. Jasmaniah, bentuk tubuh seseorang sangat berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu. Misalnya: yang bertubuh gemuk/endofrom, kurus/ectofrorm, terlalu tinggi badan atau terlalu pendek.

4. Penyalahguaan obat-obatan, Koping yang maladatif yang di gunakan individu untuk menghadapi stressor melalui obat-obatan yang memiliki sifat adiksi (efek ketergantungan)

5. Penyakit dan cedera tubuh,penyakit-penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kangker yang memungkinkan merasa murung dan sedih,demikian juga cedera/cacat tubuh tertentu yang menyebabkan rasa rendah diri.

6. Trauma masa kanak-kanak,Depresi dini biologis maupun psikologik yang terjadi pada masa bayi, anak-anak, misalny anak anak di tolak, menimbulkan rasa tidak nyaman dan dia akan mengembangkan cara penyesuaian yang salah.

7. Hubungan keluarga, dari masa kanak kanak keluarga sudah memegang peranan penting dalam membentukan kepribadian.

8. Struktur keluarga, keluarga kecil atau besar mempengaruhi perkembangan jiwa anak.

9. Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan, kematian, kecelakaan, Peceraian dsb.

10. Stres berat. Tekanan yang timbul bersamaan dan berturut-turut.bisa menyebabkan berkurangnya/hilangnya daya tahan terhadap stress, contoh kasus seseorang yang mengalami penceraian dan kemudian harus juga kehilangan anak-anaknya.

(9)

11. Cara membesarkan anak, yang kaku dan oteriter.di mana hubungan antara orang tua anak menjadi kaku dan tidak hangat.

12. Sistim nilai, perbedaan sistem nilai budaya dan etika serta moral yang sering menimbulkan masalah jiwa di lingkungan sekitarnya.

13. Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan dimana Iklan-iklan di radio, televisi, surat kabar film dan lain –lain menimbulkan bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh dari kenyaat sehari-hari.

14. Ketegangan akibat faktor ekonomi adalah tingkat pendapatan keluarga responden dalam satu bulan yang dihitung berdasarkan UMK Kota Sabang

15. Perpindahan satu keluarga, khusus anak yang sedang berkembang kepribadianya akan berubah

16. Masalah minoritas, tekanan yang di alami golongan ini dari lingkungannya dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan –tindakan yang akan merugikan orang lain. 3.6.2.2. Variabel Dependen

1. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dengan gangguan jiwa skizofrenia yaitu reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi. Menerima dan menginterpretaasikan realitas, merasakan menunjukan emosional dan berprilaku dengan sikap dapat di terima secara social. Gejalanya di tandai penampilan dan prilaku umum,gangguan pembicaraaan, gangguan afek, prilaku, persepsi dan gangguan pikiran.

(10)

3.7. Metode Pengukuran

Pengukuran dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan indikator dari variabel yang telah ditentukan. Bentuk pengukuran yang digunakan yaitu pengukuran nominal dan ordinal.

Tabel 3.2. Aspek Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel Jumlah

Indikator Alat Ukur Hasil Ukur

Nilai 1 Variabel Skala Variabel Dependen Gangguan jiwa skizofrenia 1 Laporan kasus gangguan jiwa -Berat, -Ringan -Sedang 2-1 Nominal Variabel Independen Genetik//keturunan 2 Kuesioner dengan 2 item pernyataan 1 = Ada

0= Tidak ada 0-1 Nominal Cacat Kogenital 5

Kuesioner dengan 5 item pernyataan

1 = Ada

0= Tidak ada 0-1 Nominal

Jasmani 2 Kuesioner dengan 2 item pernyataan 1 = Ya 0= Tidak 0-1 Nominal Penyalahgunaan Obat-obatan 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = Ada

0= Tidak ada 0-1 Nominal Penyakit dan Cedera tubuh 2 Kuesioner dengan 2 item pernyataan 1 = Ada

0= Tidak ada 0-1 Nominal Trauma masa kanak-kanak 5 Kuesioner dengan 5 item pernyataan 1 = Ada

0= Tidak ada 0-1 Nominal Hubungan keluarga 8 Kuesioner dengan 8 item pernyataan 1 = Baik 0= Kurang 0-1 Nominal Struktur keluarga 2 Kuesioner dengan 2 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Kekecewaan dan pengalaman menyakitkan 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Stres berat 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Cara membesarkan anak 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal

(11)

Tabel 3.2. (Lanjutan)

Variabel Jumlah

Indikator Alat Ukur Hasil Ukur

Nilai 1 Variabel Skala Sintem nilai 1 Kuesioner dengan 1 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan 4 Kuesioner dengan 4 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Ketegangan akibat faktor ekonomi 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = Tinggi 0 = Rendah 0-1 Ordinal Perpindahan keluarga 3 Kuesioner dengan 3 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal Masalah minoritas 1 Kuesioner dengan 1 item pernyataan 1 = ya 0= Tidak 0-1 Nominal

3.8. Metode Analisis Data

Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian (Explanatory Rescerch) populasi pada penelitian ini berjumlah 82 orang,menggunakan total samping, data yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah berupa data yang berskala nominal dan ordinal sesuai dengan tujuan penelitian, maka pendekatan analisis yang digunakan adalah secara Analisis univariat, dimana Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran karakteristik masing-masing variabel independen.

Analisa Bivarit di gunakan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan dependen melalui uji statistik Chi-Square (X2). Dalam penelitian ini analisis

Chi-Square dilakukan dengan menggunakan SPSS dengan kaidah pengambilan yang

di inteprestasi dengan jika nilai p < taraf nyata (α= 0,05) maka Ho ditolak dan jika nilai p > taraf nyata (α= 0,05) maka Ho diterima. Ketentuan yang digunakan dalam

(12)

uji Chi-Square adalah sel yang mempunyai nila expected kurang dari 5 maksimal 20% dari jumlah sel.

3.9. Hipotesis

1. Hipotesis nol (Ho)

a. Tidak ada hubungan antara faktor somatik dengan kejadian skizofreni b. Tidak ada hubungan antara faktor psikososial dengan kejadian skizofrenia c. Tidak ada hubungan antara faktor sosialkultural dengan kejadian skizofrenia 2. Hipotesis Alternatif ( Ha)

a. Ada hubungan antara faktor somatik dengan kejadian skizofrenia b. Ada hubungan antara faktor psikologik dengan kejadian skizofrenia c. Ada hubungan antara faktor sosialkultural dengan kejadian skizofrenia.

(13)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1. Kondisi Geografi

Kota Sabang merupakan wilayah paling barat di Republik Indonesia, secara giografi Kota Sabang terletak pada keordinat 050 46’28”-05054’28” lintang utara

(LU) dan 95013’02”-95022”36’ bujur timur (BT).

a. Kota Sabang Sebelah Utara dan Timur berbatasan dengan Selat Malaka, b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Benggala

c. Sebelah Barat di batasi oleh Samudra Indonesia

Secara giografi Kota Sabang sangat strategis karena berbatasan langsung dengan negara-negara lain seperti dengan India, Malasiya dan Thailand serta merupakan alur pelayaran Internasional bagi kapal-kapal yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia dari arah barat.

Kota Sabang terdiri dari 5 buah Pulau yaitu, Pulau Weeh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo, dan di tambah gugusan Pulau-Pulau terluar serta merupakan satu-satunya Pulau yang di jadikan pemukiman, sedangkan Pulau Rondo merupakan salah satu Pulau terluar dan berjarak ± 15,6 Km dari Pulau Weh. Scara admintratif Kota Sabang terbagi dua Kecamatan yaitu Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya serta terbagi menjadi 18 Gampong (Desa).

(14)

Kota Sabang memiliki keseluruhan luas daratan yaitu 153 Km2. Terdiri dari

Kecamatan Sukajaya seluas 80 Km2 dan Kecamatan Sukakarya seluas 73 Km2 (Berdasarkan Analisa data Citra Satelit Tata Ruang Kota.2009).

a. Luas Daratan 121,7.Km2 (12177.18), ha

b. Luas Perairan 920,5 Km2 (92,052,77), ha

Tabel 4.1. Luas Daratan Pulau-pulau di Kota Sabang Tahun 2016

No Nama Pulau Luas, ( ha )

1 Pulau Weh 12,060,56

2 Pulau Klah 18,66

3 Pulau Rubiah 35,75

4 Pulau Seulako 3,5

5 Pulau Rondo 50,67

Total luas daratan 12,177,18.

Sumber : Sabang Dalam Angka Tahun 2016

Data Topografi berdasarkan badan meteorologi dan giofisika.2016. a. Dataran Rendah (3%)

b. Bergelombang (10%) c. Berbukit-bukit (35%) d. Bergunung (52%)

Sepanjang pantai penuh dengan batu-batuan, di Pulau Weh terdapat sebuah Danau air tawar yaitu Danau Aneuk Laut, Pulau Sabang merupakan Pulau vulkanik,sebuah Pulau atol (Pulau Karang) yang proses terjadinya mengalami pengangkatan dari permukaan laut. Terbukti dengan adanya 3 teras yang terletak pada ketinggian yang berbeda.

(15)

Kondisi geologi Kota Sabang, terdapat 70% batu vulkanis, batu vulkanis (andestia 27% ).batu sedimen (line stono 3%) yang merupakan endapan aluvial. Cuaca Pulau Weh mengalami 2 musim yaitu :

a. Hujan bulan September sampai dengan Februari. b. Kemarau bulan Maret sampai dengan Agustus

Curah hujan tercatat rata-rata 1,745,2,232 mm/ tahun terendah bulan Maret 18 mm/tahun, dan tertinggi bulan September 278 mm/tahun.

4.1.2. Demografi a. Jumlah penduduk

Berdasarkan data BPS Kota Sabang 2016, Jumlah penduduk kota sabang adalah: 33215 jiwa

Tabel 4.2. Distribusi Penduduk Sabang Tahun 2016

Tahun 2013 2014 2015 2016

Jumlah Total

Penduduk 29761 31191 32218 33215

Sumber : BPS Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah penduduk mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebanyak 29761 jiwa dan sampai dengan tahun 2016 sebanyak 33215 jiwa.

Tabel 4.3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tiap Desa di Kota Sabang Tahun 2016

No Nama

Kecamatan Nama Desa

Laki-laki Perempuan Jumlah %

1 Sukakarya Paya Seunara 1372 1310 2682 8,07

Krueng Raya 780 807 1587 4,77

Aneuk Laot 513 499 1012 3,04

(16)

Tabel 4.3. (Lanjutan)

No Nama

Kecamatan Nama Desa

Laki-laki Perempuan Jumlah %

Kuta Barat 1575 1694 3269 9,84 Kuta Ateuh 2001 1918 3919 11,79 Batee Shoek 520 512 1032 3,10 Iboih 532 409 937 2,82 2 Sukajaya Balohan 1452 1392 2844 8,56 Anoi Itam 357 342 704 2,11 Ujong Kareng 403 364 767 2,30 Ie Meulee 1910 1845 3755 11,30 Cot Abeuk 255 242 497 1,49 Cot Bau 2942 2779 5721 17,22 Jaboi 302 355 657 1,97 Beurawang 181 169 350 1,05 Keunekai 362 429 791 2,38 Paya Keneukai 252 268 520 1,56 Jumlah 18 Desa 16819 16396 33215 100%

Sumber : BPS Desember Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah penduduk Kota Sabang yaitu 33215 dimana yang laki-laki sebanyak 16819 jiwa (50.63%) dan perempuan 16396 jiwa (49,36%). penduduk di Kecamatan Sukakarya berjumlah 16620 jiwa (50,03%), sedangkan Kecamatan Sukajaya berjumlah 16601 jiwa (49,98%)

b. Kepadatan Penduduk

Di tinjau dari aspek kepadatan penduduk kecamatan Sukakarya paling padat penduduknya yaitu : 243 jiwa/Km², angka ini lebih tinggi dari angka rata Kota Sabang

yaitu: 217 jiwa/ Km². Sedangkan Kecamatan Sukajaya hanya 193 jiwa/Km². c. Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk pada daerah Kota Sabang 8,89%/tahun dengan pertumbuhan rata-rata 4.44%/tahun dengan angka relatif rendah, selama tahun 2013

(17)

sampai sekarang ini peningkatan lebih cepat karena adanya kebijakan perberlakuan dari perdagangan bebas dan pelabuhan bebas serta determinasi wisata baik, lokal, nasional maupun internasinal.

d. Sarana Kesehatan

Berdasarkan profil dinas kesehatan jumlah sarana Rumah Sakit, Puskesmas dan sarana kesehatan lainya di Kota Sabang, 2016.

Tabel 4.4. Jumlah Sarana Rumah Sakit, Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kota Sabang 2016

Kecamatan Rumah Sakit Puskesmas Pustu

Sukajaya 0 3 8

Sukakarya 2 3 4

Total 2 6 12

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Tabel 4.5. Jumlah Posyandu di Dua Kecamatan Sukajaya dan Sukakarya Pergampong/Desa di Kota Sabang Tahun 2016

Desa/Gampong Jumlah Posyandu

Balohan 2 Anoi Itam 2 Ujong Kareng 3 Ie Meulee 1 Cot Abeuk 4 Cot Bau 1 Jaboi 2 Beurawang 1 Keunekai 1 Paya Keneukai 1 Paya Seunara 3 Krueng Raya 3 Aneuk Laot 2 Kuta Timur 1 Kuta Barat 1 Kuta Ateuh 2 Batee Shoek 4 Iboih 2 Jumlah Total 36

(18)

Berdasarkan profil dinas Kesehatan Kota Sabang Jumlah tenaga kesehatan, baik yang bekerja di Rumah Sakit, puskesmas, Puskesmas pembantu serta Posyandu berjumlah 125 orang di 2 (dua) kecamatan yaitu Sukajaya dan Sukakarya.

Tabel 4.6. Distribusi Tenaga Kesehatan di 2 (dua) Kecamatan Kota Sabang Tahun 2016

Sarana Kesehatan Dokter Perawat Gigi Bidan Perawat

Umum Spesialis

Puskesmas Sukajaya 5 0 2 18 19

Puskesmas Sukakarya 3 0 1 21 22

Rumah Sakit Umum 12 4 2 29 73

Rumah Sakit AL 2 0 0 1 15

Total 22 4 5 69 125

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah tenaga kesehatan yang paling banyak yaitu : Perawat dengan jumlah 125 orang, bidan 69 orang, dokter 22 orang, perawat gigi 5 orang dan dokter spesialis berjumlah 4 orang.

Tabel 4.7. Distribusi Tenaga Kesehatan Jiwa Berdasarkan Jenis Kelamin Kota Sabang Tahun 2016

No Tenaga Kesehatan L P %

1 Jumlah Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) 2 44 85,18

2 Jumlah Perawat Fasilitator Kesehatan Jiwa 0 1 1,85

3 Jumlah Perawat Kes. Jiwa Masyarakat 0 7 12,96

4 Jumlah Dokter Mahir Jiwa (GP+) 0 2 3,70

5 Jumlah Psikiater 0 0 0

Total 2 54 100

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah tenaga kesehatan berdasarkan jenis kelamin adalah kader keswa sebanyak laki-laki 2 orang perempuan 44 orang, perawat

(19)

fasilisator kesehatan jiwa 1 orang perempuan bertugas di dinas kesehatan yang mempunyai tugas

1. Merumus program kegiatan. 2. Melakukan keordinasi kegiatan.

3. Melakukan kerjasama lintas program dan lintas sektor.

4. Membuat jadwal kunjungan ke puskesmas dan rumah pasien gangguan jiwa 5. Menbuat POA dan memonitoring kegiatan perawat CMHN di puskesmas serta

kader desa dalam melakukan pelayanan jiwa

6. Menerima laporan tiap bulan dari perawat CMHN di puskesmas dan menganalisa serta merumuskanya, perawat kesehatan jiwa 7 orang perempuan, jumlah dokter mahir kesehatan jiwa 2 orang perempuan

Tabel 4.8. Distribusi Tenaga Dokter GP Plus dan Tempat Tugasnya di Kota Sabang Tahun 2016

No Jumlah Dokter GP Plus Puskesmas Keterangan

1 1 Puskesmas Sukajaya aktif

2 1 Puskesmas Sukajaya aktif

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas dokter GP plus( General Praktis Plus) adalah dokter umum yang telah di latih tentang masalah penanggulangan pasien gangguan jiwa dan telah mempunya standar pelayanan jiwa, di Kota Sabang jumlah dokter yang mahir kesehatan jiwa sebanyak 2 orang dengan penempatan di Puskesmas Sukajaya 1 orang dan Puskesmas sukakarya 1 orang.

(20)

Tabel 4.9. Distribusi Perawat Kesehatan Jiwa Masyarakat (CMHN) dan Tempat Tugasnya di Kota Sabang Tahun 2016

No Nama Puskesmas Jumlah Perawat CMHN Tingkat Pelatihan

BC IC

1 Puskesmas Sukajaya 4 2 1

2 Puskesmas Cot Ba’u 3 2 1

3 Puskesmas Sukakarya 4 4 1

4 Puskesmas Jaboi 3 2 1

5 Puskesmas Iboih 2 2 0

6 Puskesmas Pria Laot 2 2 0

Total 18 14 4

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah perawat CMHN berjumlah 18 orang, Perawat CMHN adalah perawat yang telah di berikan pelatihan tentang kesehatan jiwa baik pelatihan BC (Basis center) maupun pelatihan intensife center (IC) dan tugasnya yaitu :

1. Menyusun resdas kegiatan jiwa setiap bulan

3. Membuat jadwal kunjungan rumah dan melakukan penyuluhan kesehatan jiwa pada masyarakat setiap bulan melalui pusling

4. Menganalisa lembaran data mengenai hasil kegiatan

5. Melakukan rujukan pada pasien sakit jiwa ke rumah sakit jiwa bila tidak dapat di tanggulang lagi di puskesmas

6. Melaporkan dan menulis hasil kegiatan di laporan keswa secara tertulis kepada petugas keordinator jiwa di dinas kesehatan.

7. Melakukan kerjasama lintas program dan lintas sektor 8. Membuat POA dan memberikan pelayanan pengobatan

(21)

Di Kota Sabang jumlah perawat CMHN dimana puskesmas sukajaya berjumlah berjumlah 4 orang, puskesmas cot bau berjumlah 3 orang, puskesmas Sukakarya berjumlah 4 orang, puskesmas jaboi 3 orang, puskesmas iboih 2 orang dan puskesmas Pria Laut berjumlah 2 orang dimana yang telah mengikuti pelatihan dasar jiwa Basic center.(BC) 14 orang dan yang telah mengikuti intensife canter (IC) 4 Orang.

Tabel 4.10. Distribusi Kader Kesehatan Jiwa dan Tempat Tugasnya di Kota Sabang Tahun 2016

No Wilayah Kerja Puskesmas

Jumlah

Kader Tempat Tugas Keterangan

1 2 3 4 5

1 Iboih 2 Kelurahan Iboih Aktif

2 Pria Laot 2 Kelurahan batee shook Aktif

3 Cot Ba’U 2 Kelurahan Cot Ba’U Aktif

4 Sukajaya 8 Sukajaya Aktif

5 Jaboi 10 Jaboi Aktif

6 Sukakarya 16 Sukakarya Aktif

Jumlah Total 40 Semua Aktif

Sumber : Dinkes Kota Sabang Tahun 2016

Kader keswa adalah petugas yang telah di latih menanggulang kasus jiwa di lingkungan desa dan mempunyai fungsi

1. Mengawasi pasien gangguan jiwa di lingkungan desanya

2. Melakukan kunjungan rumah dalam mengawasi pemberian obat terhadap pasien gangguan jiwa

3. Melakukan monitoring dan memberikan laporan kegiatan ke perawat CMHN di puskesmas.

(22)

Berdasarkan tabel di atas jumlah kader kesehatan jiwa di tiap lorong di Kota Sabang berjumlah 42 orang dengan penempatanya yaitu, Sukakarya 16 orang,Jaboi 10 orang dan Sukajaya 8 orang, Cot Bak”u 2 orang, Pria Laut 2 orang dan Iboih 2 orang dan semuanya aktif.

Tabel 4.11. Distribusi Tingkat Pendidikan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Skizofrenia di Kota Sabang Tahun 2016

No Tingkat pendidikan Jumlah/orang ( % )

1 SD 59 78

2 SMP 12 12

3 SMU 8 8

4 D3 3 2

Total 82 100

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pendidikan orang yang dengan gangguan jiwa di Kota Sabang paling rendah SD 59 responden (78%) dan paling tinggi 3 responden (2%) di jenjang D3.

Tabel 4.12. Distribusi Jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Skizofrenia Berdasarkan Jenis Kelamin di Kota Sabang Tahun 2016

No Alamat Jenis Kelamin

Lk Pr Total 1 Balohan 3 3 6 2 Ie- Meule 7 2 9 3 Ujung Karang 1 0 1 4 Anoi Itam 6 0 6 5 B,Batu 4 0 4 6 Cot Bak’u 4 0 4 7 Cot Mancang 3 0 3 8 Bay Pass 1 0 1 9 Kota Atas 6 1 7 10 KBT 11 3 15 11 Krueng Raya 4 0 4 12 KBB 2 0 2

(23)

Tabel 4.12. (Lanjutan)

No Alamat Jenis Kelamin

Lk Pr Total 13 Paya Senara 1 0 1 14 Iboih 6 1 7 15 Bate Shoek 0 1 1 16 Pria Laut 1 0 1 17 Keneukai 3 0 3 18 Beurawang 2 1 3 19 Paya Keneukai 0 2 2 20 Aneuk laut 1 0 1 21 Alu Jaba 0 1 1 22 Blang Garout 1 0 1 Jumlah Total 68 14 82

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Sabang Tahun 2016

Berdasarkan tabel di atas jumlah pasien skizofrenia berjumlah 82 orang, laki-laki 68 orang (82,92%) dan perempuan 14 orang (17,73%)

Tabel 4.13. Distribusi Jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Skizofrenia berdasarkan Katagori di Kota Sabang Tahun 2016

No Jenis Kelamin Katagori

Ringan Berat Sedang ( %)

1 Laki-laki 43 8 17 82,92%

2 Perempuan 6 4 4 17,73%

Jumlah Total 49 12 21 100

Berdasarkan tabel di atas Skizofrenia Ringan 49 orang, laki-laki 43 orang (87,75%) ringan, perempuan 6 orang (12,24%) ringan, skizofrenia Berat 12 orang laki-laki 8 orang (66,66%), perempuan 4 orang (33,31%). Skizofrenia sedang 21 orang laki-laki 17 orang (80,95%) dan perempuan 4 orang (19,04%).

(24)

4.2. Hasil Penelitian

Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa kuesioner dan analisis data pada penelitian ini adalah analisa univariat dan analisa bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square.

4.1.1. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk melihat gambaran tentang pengetahuan dan sikap keluarga pasien tentang skizofrenia.

Tabel 4.14. Distribusi Responden Berdasarkan Katagori dan Persentasenya

No Skizofrenia Frekuensi Persentase

1 Ringan 49 59,75

2 Berat 12 14,65

3 Sedang 21 25,60

Jumlah 82 100

Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa skizofrenia di Kota Sabang yang ringan 49 responden (59,75%) sedangkan yang berat 12 responden (14,65%) sedang 21 responden (25,60%) dari 82 responden.

Tabel 4.15. Distribusi Faktor Somatik Menurut Pendapat Responden

No Variabel Frekuensi Persentase

1 Genetik Ya 32 39,0 Tidak 50 61,0 2 Cacat Kogenital Ya 4 4,9 Tidak 78 95.1 3 Jasmaniah Ya 6 7,3 Tidak 76 92,7 4 Penyalahgunaan Obat-obatan Ya 27 32,9 Tidak 55 67,1

5 Penyakit dan Cedera Tubuh

Ya 0 0

(25)

Berdasarkan tabel 4.15. dapat diketahui bahwa pendapat responden mayoritas dalam menjawab ya pada pertanyaan tentang faktor somatik dari genetik yaitu sebanyak 32 responden (39,0%), sedangkan dalam menjawab kategori tidak sebanyak 50. responden (61,0%). Dari tabel diatas dapat di ketahui bahwa faktor somatik terutama di sebabkan genetik/keturunan skizofrenia di Kota Sabang pada penyalahgunaan obat-obatan responden yang menjawab ya sebanyak 27 responden (32,9%) sedangkan yang menjawab tidak 55 responden (67,1%) sedangkan cacat kogenital, jasmaniah, peningkatan skizofrenia, faktor dalam peningkatan skizofrenia sedangkan penyakit cedera tubuh skizofrenia di Kota Sabang.

Tabel 4.16. Distribusi Faktor Psikologis Menurut Pendapat Responden

No Variabel Frekuensi Persentase

1 Trauma Masa Kanak-Kanak

Ya 51 62,2 Tidak 31 37,8 2 Hubungan Keluarga Baik 47 57,3 Kurang 35 42,7 3 Struktur Keluarga Ya 0 0 Tidak 82 100,0 4 Pengalaman Menyakitkan Ya 78 95,1 Tidak 4 4,9 5 Stres Berat Ya 46 56,1 Tidak 36 43,9

Berdasarkan tabel 4.16. di atas dapat di ketahui bahwa mayoritas responden berpendapat bahwa faktor Psikologi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) skizofrenia berasal dari pengalaman menyakitkan yang berpendapat ya yaitu

(26)

(56,1%).trauma masa kanak- kanak responden berpendapat ya 51orang (62,2%) responden yang berpendapat ya hubungan keluarga 47 orang (57,3%) struktur keluarga responden tidak ada yang berpendapat pada pertanyaan hubungan keluarga responden yang menjawab baik sebanyak 47 responden (57,3%) yang menjawab kurang sebanyak 35 responden (42,7%), hubungan keluarga dengan skizofrenia, pertanyaan struktur keluarga juga semua reponden sebanyak 82,(100%) menjawab tidak pertanyaan pengalaman menyakitkan responden yang menjawab ya sebanyak 78 responden (95,1%) sedangkan yang menjawab tidak sebanyak 4 responden (4,9%) Sedangkan pertanyaan katagori stres berat responden yang menjawab ya sebanyak 46 responden(56,1%) dan yang menjawab tidak sebanyak 36 responden(43,9%).

Tabel 4.17. Distribusi Faktor Sosial Kultural Menurut Pendapat Responden

No Variabel Frekuensi Persentase

1 Cara Membesarakan anak,kaku/oteriter

Ya 41 50,0

Tidak 41 50,0

2 Sistim Nilai

Ya (+) 29 35,4

Tidak (-) 53 64,6

3 Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan Ya 25 30,5 Tidak 57 69,9 4 Sosial ekonomi Tinggi 5 6,1 Rendah 77 93,9 5 Perpindahan keluarga Ya 0 0 Tidak 82 100 6 Minoritas Ya 0 0 Tidak 82 100

(27)

Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa sebagian besar repsonden yang menjawab ya pada pertanyaan cara membesarkan anak sebanyak 41 responden (50,0%) sedangkan yang menjawab tidak sebanyak 41 responden (50,0%) dan pada pertanyaan sistem nilai menjawab ya tidak mempengaruhi anak sebanyak 29 responden (35,4%) sedangkan yang menjawab tidak mempengaruhi anak 53 responden (64,6 %), pertanyaan kepincangan antara keinginan dengan kenyataan,yang menjawab ya 25 responden (30,5%) sedangkan yang menjawab tidak sebanyak 57 responden (69,9%) pertanyaan sosial ekonomi responden yang menjawab rendah 77 responden (93,9%) dan yang tinggi sebanyak 5 responden (6,1%), sedangkan perpindahan keluarga, minoritas pada umumnya responden 82 orang menjawab tidak.

4.2.2. Analisis Bivariat

Tabel 4.18. Hubungan Faktor Somatik dengan Kejadian Skizofrenia

Variabel Kategori Skizofrenia P value Ringan Berat/ Sedang Total n % n % n % Genetik  ya  Tidak 26 25 81,3 50,0 6 25 18,8 50,0 32 50 100 100 0,004 Cacat kogenital  Ya  Tidak 49 2 50,0 62,8 2 29 50,0 37,2 4 78 100 100 0,606 Jasmaniah  Ya  Tidak 46 5 83,3 60,5 1 30 16,7 39,5 6 76 100 100 0,267 Obat-obatan  Ya  Tidak 1 50 3,7 90,9 26 5 96,3 9,1 27 55 100 100 0,000 Penyakit dan cidera tubuh  Ya  Tidak 51 0 0 62,2 0 31 0 37,6 0 82 0 100

(28)

Berdasarkan tabel di atas di ketahui bahwa sebagian besar responden berpendapat faktor genetik dari 32 responden yang menjawab faktor genetik ya 26 responden (81,3%) skizifrenia ringan, sedangkan dari 50 responden yang menyatakan faktor genetik tidak 25 responden (50%) skizofrenia ringan dan skizofrenia berat/sedang. hasil uji statistik Chi square di ketahui ada hubungan antara genetik dengan skizofrenia (P value= 0,004).

Faktor cacat kogenital ya 2 responden 50,0% skizofrenia ringan sedangkan 49 reponden 62,2% menyatakan tidak ringan, dan 2 responden 50% menyatakan ya berat sedang, juga 29 responden 32,2% menyatakan tidak berat sedang, hasil uji chi squara menunjukan tidak ada hubungan antara cacat kogenital dengan skizofrenia ( p value

= 0,606)

Faktor jasmaniah yang menjawab ya 5 reponden 83,3% ringan, sedangkan tidak ringan 46 responden 60,2%, yang menjawab ya berat/sedang 1 reponden 16,7% sedangkan yang menjawab tdak berat/sedang 35 reponden 39,5%, hasil uji chi squara menunjukan tidak ada hubungan jasmaniah dengan skizofrenia (P value = 0,267 ) faktor penyalahgunaan obat yang menjawab ya ringan 1 responden 3,7%, yang menjawab tidak ringan 50 reponden 90,9%. sedangkan yang menjawab ya berat/sedang 26 reponden 96,3%, dan yang menjawab tidak berat/sedang 5 reponden 9,1%. hasil uji chi square faktor obat-obatan ada hubungan dengan peningkatan skizofrenia di Kota Sabang (P value = 0,000).

(29)

Tabel 4.19. Hubungan Faktor Psikologis dengan Kejadian Skizofrenia Variabel Kategori Skizofrenia P value Ringan Berat/ Sedang Total n % n % n % Trauma masa kanak-kanak  ya  Tidak 30 21 58,8 67,7 21 10 41,2 32,3 51 31 100 100 0,419 Hubungan Keluarga  Baik  Kurang 24 27 51,1 77,1 23 8 48,9 37,2 47 35 100 100 0,016 Struktur keluarga  Ya  Tidak 51 0 0 62,2 0 31 0 37,8 0 82 0 100 Pengalaman menyakitkan  Ya  Tidak 48 3 61,5 75,0 30 1 38,5 25,5 78 4 100 100 0,588 Stres berat  Ya  Tidak 24 27 52,2 75,0 22 9 47,8 25,5 48 82 100 100 0,034 Berdasarkan tabel di atas dapat di ketahui sebagian besar pendapat responden yang di sebabkan faktor Pisikologi dari responden yang menjawab faktor trauma masa kanak-kanak ya 30 responden (58,8%) skizifrenia ringan, sedangkan dari 21 responden (67,7%) yang menyatakan faktor troma masa kanak-kanak tidak, dan 21 responden (41,2%) skizofrenia ringan dan skizofrenia berat/sedang. Beradasarkan hasil uji statistik Chi square menunjukkan tidak ada hubungan antara trauma masa kanak-kanak dengan skizofrenia (P value= 0,419).

Faktor pengalaman menyakitkan responden yang menjawab ya sebanyak 45 responden (61,5%) skizofrenia ringan, sedangkan dari 30 responden (38,5%) menjawab tidak berat/sedang. berdasarkan hasil uji statistik Chi square meunjukan tidak ada hubungan antara pengalaman menyakitkan dengan skizofrenia (P value =0,588).

(30)

Faktor hubungan keluarga yang menjawab ya ringan 24 responden 51,1% yang menjawab tidak ringan 27 responden 77,1%, yang menjawab ya berat/sedang 23 responden 48,9%, sedangkan yang menjawab tidak berat/sedang 8 reponden 37,2% uji Chi square menunjukan ada hubungan antara hubungan keluarga dengan skizofrenia di Kota Sabang ( p value = 0,016).

faktor Stres berat yang menjawab ya 24 responden (52,2%) skizofrenia ringan, 22 responden (47,8%) yang menjawab ya berat/sedang, sedangkan yang menjawab tidak 27 responden (75,0%) ringan dan yang menjawab tidak berat/sedang 9 responden (25,0%). Berdasarkan hasil uji Chi square menunjukan ada hubungan stres berat dengan skizofrenia ( p value = 0,034 ).

Tabel 4.20. Hubungan Faktor Sosial Kultural dengan Kejadian Skizofrenia

Variabel Kategori Skizofrenia P value Ringan Berat/ Sedang Total n % n % n % Cara Membesarkan Anak  Iya  Tidak 25 26 61,0 63,4 16 15 39,0 36,6 41 41 100 100 0,820 Sistem Nilai  Iya

 Tidak 29 22 54,7 75,9 24 7 45,3 24,1 53 29 100 100 0,059 Kepincangan antara keinginan dengan kenyataan  Ya  Tidak 14 37 56,0 64,9 11 20 44,0 35,1 25 57 100 100 0,444 Sosial Ekonomi  Tinggi

 Rendah 47 4 80,0 61,0 1 30 1,9 37,8 5 82 100 100 0,645 Perpindahan  Ya  Tidak 51 0 0 62,2 0 31 0 37,8 0 82 0 100 Minoritas  Ya  Tidak 51 0 0 62,2 0 31 0 37,8 0 82 0 100

(31)

Berdasarkan tabel di atas di ketahui sebahagian besar pendapat responden di sebabkan karena faktor sosial kultural dari responden yang menjawab faktor sistem nilai responden yang menjawab ya 29 responden (54,7%) skizifrenia ringan, sedangkan dari 24 responden (45,3%) yang menyatakan ya berat/sedang dan tidak, ringan 22 responden (52,9%) berdasarkan hasil uji chi square menunjukkan tidak ada hubungan sistem nilai dengan skizofrenia (P value = 0,059).

faktor sosial ekonomi yang menjawab tinggi 4 responden (80,0%) ringan sedangkan yang menjawab tinggi 47 reponden (62,2%), berdasarkan uji Chi Square menunjukan tidak ada hubungan faktor sosial ekonomi dengan skizofrenia (P value = 0,645), sedangkan cara membesarkan anak kepincangan antara harapan dan kenyataan, keluarga pindah dan minoritas tidak ada hubungan.

(32)

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Analisis Univariat 5.1.1. Faktor Somatik 1) Genetik

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor genetik dengan skizofrenia (P value = 0,004). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor genetik menjawab ya adalah 81,3%, pada responden yang menjawab tidak 50%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 18,8% dan pada responden menjawab tidak 50%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yanuar (2013) dalam penelitiannya menemukan faktor genetik merupakan faktor yang berhubungan dengan gangguan jiwa.

Penelitian ini mendukung konsep yang disampaikan oleh Cloninger dalam Yosep (2007) gangguan jiwa, terutama gangguan persepsi sensori dan gangguan psikotik lainnya erat sekali penyebabnya dengan faktor genetik termasuk di dalamnya saudara kembar, individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi di banding dengan orang yang tidak memiliki faktor hereditas.

(33)

2) Cacat Kogenital

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor cacat kogenital dengan skizofrenia (p value = 0,606) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor cacat kogenital menjawab ya adalah 50,0%, pada responden yang menjawab tidak 50%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 50,0% dan pada responden menjawab tidak 60,8%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep, 2007) dalam penelitiannya di mana cacat kogenital/cacat sejak lahir ada hubungan jiwa anak,seperti retardasi mental yang berat.

3) Jasmaniah

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor jasmaniah dengan skizofrenia (p value = 0,265) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor jasmanih menjawab ya adalah 83,3%, pada responden yang menjawab tidak 60,5%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 16,7% dan pada responden menjawab tidak 39,5%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep, 2007) dalam penelitiannya di mana Jasmaniah ada hubungannya dengan jiwa anak, seperti gemuk, pendek, kurus dan tinggi.

(34)

4) Penyalahgunaan Obat-obatan

Hasil penelitian menunjukka ada hubungan antara faktor obat -obatan dengan skizofrenia (P value = 0,00) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor obat-obatan menjawab ya adalah 3,7%, pada responden yang menjawab tidak 90,9%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 96,3% dan pada responden menjawab tidak 9,1%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Patel, 2009) dalam penelitiannya di mana obat-obatan dapat mempengaruhi jiwa, dan penelitian Lubis (2009) dimana menurutnya faktor yang mempengaruhi depresi antara lain:faktor genetik, usia, jenis kelamin, gaya hidup, obat-obatan dan obatan terlarang.

5) Penyakit dan Cidera Tubuh

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor penyakit cedera tubuh dengan skizofrenia (P value = 0) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab ya adalah 0 pada responden yang menjawab tidak 61,2%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 0 dan pada responden menjawab tidak 37,8%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep,2007) dalam penelitiannya di mana cacat tubuh dapat mempengaruhi jiwa anak, penyakit jantung, kangker dan sebagainya.demikian juga cedera/ cacat tertentu.

(35)

5.1.2. Faktor Psikologik 1. Trauma Masa Kecil

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor trauma masa kanak- kanak dengan skizofrenia (P value = 0,419). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor trauma masa kanak-kanak menjawab ya adalah 58,8%, pada responden yang menjawab tidak 67,7%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 41,2% dan pada responden menjawab tidak 32%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Baihaqi (2005) dalam penelitiannya menemukan faktor trauma masa kanak-kanak merupakan faktor yang berhubungan dengan gangguan jiwa. Misalnya anak di tolak (rejected child).

2. Hubungan Keluarga

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor hubungan keluarga dengan skizofrenia ( P value = 0,016 ) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab baik adalah 51,1% pada responden yang menjawab kurang 77,1%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab baik 49,9% dan pada responden menjawab kurang 22,9%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Yosep,2007) dalam penelitiannya di hubungan keluarga dapat mempengaruhi jiwa anak, seperti penolakan, perlindungan berlebihan, manjadikan salah persaingan antara keluarga

(36)

3. Struktur keluaga

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor struktur keluarga dengan skizofrenia (p value = 0) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab ya adalah 0 pada responden yang menjawab tidak 62,2%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 0 dan pada responden menjawab tidak 37,8%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep, 2007) dalam penelitiannya di mana strukur keluarga ada hubungan dengan jiwa anak, seperti, anak tidak dapat kasih sayang, tidak dapat menghayati disiplin, tidak ada panutan, pertengkaran dan keributan yang membingungkan dan penelitian lainya.struktur keluarga kecil atau besar mempengaruhi perkembangan jiwa anak,apalagi bila terjadi ketidak sesuaian perkawinan problem rumah tangga yang berantakan (Baihagi,2005) dan penelitian (Darmono,2008) mengompol, gelisah, ketakutan, sulit tidur, mimpi buruk, bicara gagap.

4. Kekecewaan dan pengalaman menyakitkan

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor kekecewaan dan pengalaman menyakitkan dengan skizofrenia (p value = 0,588). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor kekecewaan menjawab ya adalah 61,5%, pada responden yang menjawab tidak 75,0%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 38,9% dan pada responden menjawab tidak 25%.

(37)

Penelitian ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Yosep (2007) gangguan jiwa, kematian, kecelakaan, sakit berat, penceraian, perpindahan mendadak, kekecewaan yang berlarut, dan sebagainya akan mempengaruhi kepribadian, tapi juga tergantung pada keadaan sekitarnya.

5. Stres Berat

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor stres berat dengan skizofrenia (p value = 0,34). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor stres berat menjawab ya adalah 52,5%, pada responden yang menjawab tidak 75,0%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 47,8% dan pada responden menjawab tidak 25%.

Penelitian ini mendukung konsep yang disampaikan oleh Baihaqi (2005) tekanan stres yang timbul bersamaan dan atau berturut-turut, bisa menyebabkan berkurang nya/hilangnya daya tahan stres.

5.1.3. Faktor Sosial Kultural 1. Cara Membesarkan anak

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor struktur keluarga dengan skizofrenia (P value = 0,820) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab ya adalah 61,0% pada responden yang menjawab tidak 63,4%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 39.0% dan pada responden

(38)

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep, 2007) dalam penelitiannya di mana cara membesarkan anak dapat mempengaruhi jiwa anak, seperti, anak tidak dapat kasih sayang, tidak dapat menghayati disiplin, tidak ada panutan,pertekangkaran dan keributan yang membingungkan.dan penelitian lainya.cara membesarkan anak atau besar mempengaruhi perkembangan jiwa anak, apalagi bila terjadi ketidak sesuaian perkawinanan problem rumah tangga yang berantakan (Baihagi, 2005) dan penelitian (Darmono, 2008) anak korban ADRT tergantung usianya dapat mengalami berbagai bentuk gangguan jiwa di Kota Sabang. 2. Sistem nilai

Hasil penelitian di ketahui tidak ada hubungan antara faktor Sistem nilai dengan skizofrenia (p value = 0,059). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor sistem nilai menjawab ya adalah 54,7%, pada responden yang menjawab tidak 75,9%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 45,3% dan pada responden menjawab tidak 24,1%.

Hasil penelitian ini sependapat dengan penelitian (Sulistyowati,2013) dalam penelitiannya di mana masyarakat sosial ekonomi rendah mempunyai kecendrungan skizofrenia 8 kali lebih tinggi masyarakat yang memiliki status sosial tinggi.

3. Kepincangan anatara keinginan dengan kenyataan

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor kepincangan anatara keinginan dan kenyataan dengan skizofrenia (P value = 0,444) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada

(39)

responden dengan menjawab ya adalah 56,0% pada responden yang menjawab tidak 64,9%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 44.0% dan pada responden menjawab tidak 35,1%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Davidson,2010) dalam penelitiannya di mana masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik sebagai akibat dari pengaruh sosial dan gejala lingkungan sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.

1. Faktor Ekonomi

Hasil penelitian ini di ketahui tidak ada hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan skizofrenia (p value = 0,397). Hasil penelitian ini di ketahui persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan faktor sosial ekonomi menjawab tinggi adalah 80,0%, pada responden yang menjawab rendah 61,0%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 20,0% dan pada responden menjawab rendah 39,8%.

Hasil penelitian ini tidak sesuai menurut WHO krisis keuangan global tampaknya sangat berpengaruh akan meningkatnya gangguan mental seseorang dan bunuh diri, sementara orang berjuang menghadapi kemiskinan dan pengangguran. (Kompas, 2008).masalah keuangan tidak sehat,misalnya pendapatan lebih rendah dari pengeluaran, terlibat utang,kebangkrutan usaha, warisan dan sebagainya,problem keuangan sangat berpengaruh pada jiwa seseorang (Hartono, 2011).

(40)

5. Perpindahan keluarga

Hasil penelitian di ketahui tidak ada hubungan antara faktor perpindahan keluarga dengan skizofrenia (P value = 0) Hasil penelitian ini di ketahui persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab ya adalah 0 pada responden yang menjawab tidak 62,2%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 0 dan pada responden menjawab tidak 37,8%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Davidson, 2010) dalam penelitiannya di mana masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik sebagai akibat dari pengaruh sosial dan gejala lingkungan sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.

6. Masalah Minoritas

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor minoritas dengan skizofrenia (P value = 0 ) Hasil penelitian ini menunjukkan persentase responden dengan skizofrenia ringan pada responden dengan menjawab ya adalah 0 pada responden yang menjawab tidak 62,2%. Sedangkan persentase skizofrenia berat/sedang pada responden menjawab ya 0 dan pada responden menjawab tidak 37,8%.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Yosep, 2007). Tekanan- tekanan perasaan yang di alami golongan ini dari lingkungan dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan-tindakan yang akan merugikan orang banyak.

(41)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Faktor somatik di mana hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor genetik dengan skizofrenia, maka di harapakan kepada petugas kesehatan jiwa agar memberikan pengawasan dan penyuluhan serta pengobatan bagi kasus gangguan jiwa karena genetik, pada pasien karena penyalahgunaan obat-obatan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor obat-obatan dengan skizofrenia.di sini peran petugas kesehatan, kader kesehatan, keluarga serta masyarakat maupun tokoh masyarakat, di harapkan berperan lebih dalam pengawasan dan monitoring terhadap penyalah gunaan obat - obatan

2. Faktor psikologis dari hubungan keluarga, hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor hubungan keluarga dengan skizofrenia.di dalam hubungan keluarga orang tua agar menjaga kerukunan dalam membina keluarga keluarganya dan untuk menciptakan keluarga yang harmonis.

3. Faktor psikologis dari stress berat hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor stres berat dengan skizofrenia.dari faktor sres berat di harapkan peran orang tua, lingkungan serta masyarakat serta tokok agama, tokoh adat agar turut mengawasi dan memberi perlindungan bagi masyarakat yang mengalami tekana stres berat,agar senantiasa dapat hidup kembali normal.

(42)

6.2. Saran

1. Bagi Perawat CMHN agar jadi masukan dalam setiap kali melakukan monitoring, penyuluhan pada pasien dengan gangguan jiwa skizofrenia dan meningkatkan motivasi dalam melayani pasien gangguan jiwa serta mengajak kader melakukan yang terbaik bagi kesembuhan pasien dengan gangguan jiwa khususnya yang di sebabkan karena faktor genetik, penyalah gunaan obat- obatan,stres berat dan hubungan keluarga yang kurang baik.

2. Kader keswa senantiasa memotivasi orang tua atau keluarga pasien agar terus menerus mendukung proses perawatan serta pengawasan pemberian obat pasien di rumah, khususnya yang di sebabkan karena faktor genetik, penyalah gunaan obat- obatan,stres berat dan hubungan keluarga yang kurang baik.

3. Keluarga hendaknya selalu meningkatkan dukungannya kepada pasien anggota keluarganya, dengan memperhatikan perkembangan kesehatan pasiennya, meningkatkan komunikasi keluarga dengan pasien, khususnya yang di sebabkan karena faktor genetik, penyalah gunaan obat- obatan,stres berat dan hubungan keluarga yang kurang baik.

4. Baik Kepala desa/geuchik, tokoh agama, tokoh masyarakat, ketua adat dan Masyarakat hendaknya menghilangkan asumsi bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia tidak dapat sembuh, khususnya yang di sebabkan karena faktor genetik, penyalah gunaan obat- obatan,stres berat dan hubungan keluarga yang kurang baik.

(43)

5. Hasil penelitian dapat di jadikan sebagai landasan dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa yang lebih baik.

Gambar

Tabel 4.19. Hubungan Faktor Psikologis dengan Kejadian Skizofrenia  Variabel  Kategori  Skizofrenia  P value  Ringan  Berat/  Sedang  Total  n  %  n  %  n  %  Trauma masa  kanak-kanak    ya     Tidak   30 21  58,8 67,7  21 10  41,2 32,3  51 31  100 100
Tabel 4.20. Hubungan Faktor Sosial Kultural dengan Kejadian Skizofrenia

Referensi

Dokumen terkait

Menunjukkan posisi strategi pengembangan beras organik di Desa Lubuk Bayas berada pada kuadran III yang artinya petani organik memiliki peluang besar dalam

Berdasarkan analisa hasil perhitungan menggunakan fungsi distribusi Weibull, didapatkan kecepatan rata-rata pertahun pada lokasi yaitu Gedung Syariah Hotel Solo

d Saya puas membaca Kompas karena mendapat informasi tentang politik, budaya, ekonomi, sosial dan teknologi sehingga mempunyai gagasan untuk beropini dalam mengerjakan tugas.. e

Hasil pengolahan data gempa bumi dari jaringan Mini Regional Palu dalam kurun waktu Januari 2012 - Maret 2013 dengan (Gambar 4 dan 5) menunjukkan bahwa sebaran gempa bumi

oleh daerah dengan yang melakukan kerjasama, baik dengan daerah lain maupun dengan pihak lain, dan dituangkan dalam naskah tertulis berdasarkan ketentuan perundang-undangan

Berdasarkan uraian tentang pernyataan tersebut, maka penelitian ini ingin mengkaji tentang analisis terdapat pengaruh antara perkembangan kredit simpan pinjam, pengembangan

Salah satu cabang oulet Kebab Turki Baba Rafi (KTBR) yaitu outlet 253 menghadapi permasalahan yaitu rencana relokasi dengan alasan waktu sewa lokasi yang tidak

Hal tersebut menunjukkan bahwa subtes EAS 4 kecepatan dan ketelitian visual memiliki validitas kriteria yang baik yang ditunjukkan oleh korelasi positif yang sangat