• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDAHULUAN Latar Belakang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki keanekaragaman sumber kekayaan hayati, sekitar 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan terdapat di Indonesia, dan lebih kurang 9.600 termasuk tanaman berkhasiat obat. Jumlah yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional oleh industri obat tradisional baru sekitar 300 spesies (Depkes 2007). Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tanaman, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian, atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (BPOM 2005).

Tanaman obat sudah dikenal masyarakat secara turun temurun sejak dahulu. Penggunaan obat herbal mempunyai efek samping yang minimum jika digunakan secara tepat, yang meliputi kebenaran bahan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara penggunaan, ketepatan telaah informasi, dan tanpa penyalahgunaan obat tradisional itu sendiri. WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (Sari 2006).

Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanaman obat tidak lagi sesuai apabila digunakan dalam bentuk utuh, tetapi dimanfaatkan dalam bentuk ekstrak, yaitu sari yang dibuat dengan menambahkan pelarut yang sesuai. Berdasarkan informasi empiris terdapat beberapa tanaman obat yang memiliki aktivitas diuretik antara lain alang-alang, tempuyung, alpukat, mengkudu, pepaya dan lain-lain (Ceppy 2002). Penggunaan diuretik mampu mengatasi penyakit gagal jantung kongesti, sindrom nefritis, sirosis, gagal ginjal, hipertensi, toksemia kebuntingan (Agunu et al. 2005), edema, diabetes insipidus, batu ginjal, dan hiperkalsemia (Ceppy 2002).

Alpukat merupakan salah satu tanaman yang secara empiris dapat digunakan sebagai diuretikum. Bagian tanaman alpukat yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk peluruh batu ginjal dan rematik adalah bagian

(2)

daunnya (Prihatman 2000). Fungsi lain dari daun alpukat menurut penelitian adalah antimikroba (Flores et al. 2009), menurunkan glukosa darah, mempengaruhi metabolisme lipid saat hiperkolesterolemia (Brai et al. 2007), diuretik (Wientarsih et al. 2008), vasorelaksan (Owolabi et al. 2005), dan menurunkan tekanan darah (Ojewole et al. 2007). Biji buah alpukat juga dapat digunakan menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan kolesterol (Imafidon et al. 2010; Anaka et al. 2009), meningkatkan glukosa darah, antihiperglikemik (Edem 2009), dan antihiperlipidemia (Asaolu et al. 2010).

Bagian tanaman alpukat yang digunakan sebagai diuretik adalah daun. Menurut Adha (2009), kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak etanol daun alpukat adalah flavonoid, tanin, dan kuinon. Penelitian kali ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas diuretik fraksi heksan dan etil asetat ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) pada tikus Sprague-Dawley.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas diuretik dari fraksi heksan dan etil asetat ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) pada tikus galur Sprague-Dawley, melalui parameter volume, pH, dan warna urin, serta melihat pada dosis fraksi heksan dan etil asetat ekstrak etanol daun alpukat berapa yang mampu memberikan aktivitas diuretik terbaik.

Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam pengobatan alterrnatif untuk diuretik dibidang kedokteran hewan dan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang khasiat daun alpukat sebagai obat diuretik.

(3)

Alpukat ( Tana yaitu Mek dunia, ter Meksiko Indian bar apokat (Ja abate (Por Ada K K O F G S (Persea ame aman alpuk ksiko, Peru, rmasuk Indo (Persea dry rat (Persea a awa), alpuke rtugal), dan apun taksono Kingdom : P Kelas : D Ordo : L Famili : L Genus : P Spesies : P

TINJ

ericana Mil kat merupak , hingga Ve onesia. Ter ymifolia), t americana) et (Sunda), n aguacate p omi alpukat Plantae Dicotyledon Laurales Lauraceae Persea Persea amer Gamb

JAUAN P

ll.) kan tanama enezuela. T rdapat tiga tipe Guatem ) (Sunarjono avocado pe palta (Spany t dalam Prih ne ricana Mill bar 1 Tanam

PUSTAKA

an yang ber Tanaman ini tipe alpuka mala (Perse o 2008). Alp ear (Inggris) yol) (Dalim hatman (200 l. man alpukat

A

rasal dari A i telah men at yang dik ea guatelam pukat diken ), poire d’av martha 2008) 00) adalah s t. Amerika Te nyebar di se kenal, yaitu mensis), dan nal dengan i vocat (Pera ). sebagai beri ngah, eluruh u tipe n tipe istilah ancis), ikut:

(4)

Alpukat merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 20 m. Pohonnya berkayu dan sosoknya seperti kubah sehingga dari jauh tampak menarik. Kayunya keras dan tidak bergetah. Daunnya panjang (lonjong) tersusun seperti pilin, terpusat pada ujung ranting (Sunarjono 2008). Menurut Dalimartha (2008), daunnya tunggal, tebal seperti kulit, bertangkai dengan panjang 1.5-5 cm, dan terletak berdekatan dengan ujung ranting. Helaian daun berbentuk bulat lonjong sampai bulat telur memanjang, mempunyai ujung dan pangkal daun runcing, bagian tepi rata tetapi kadang-kadang menggulung ke atas. Daun bertulang menyirip dengan panjang 10-20 cm dan lebar 3-10 cm. Daun muda berwarna kemerahan dan berambut rapat, sedangkan daun tua berwarna hijau dan tidak berambut. Umumnya percabangannya jarang dan arahnya horizontal. Bunga alpukat keluar pada ujung cabang atau ranting dalam tangkai panjang. Bunganya sempurna (dalam satu bunga terdapat putik dan benang sari), tetapi tidak serempak. Bunga berwarna putih (Sunarjono 2008).

Kandungan kimia yang terdapat dalam buah adalah saponin, alkaloid, flavonoid, tanin, asam folat, asam pantotenat, niasin, vitamin, dan mineral. Kandungan serat dan asam lemak tak jenuh tunggal dalam buah dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol tinggi dalam darah. Bersama dengan vitamin C, vitamin E dan glutation, asam lemak tak jenuh tunggal dapat melindungi pembuluh darah arteri dari kerusakan oleh adanya timbunan LDL. Niasin bekerja mempengaruhi aktivitas enzim lipoprotein lipase yang mengakibatkan penurunan produksi VLDL di hati yang berakibat penurunan kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida. Selain itu, niasin ini juga dapat meningkatkan HDL. Kandungan yang terdapat dalam daun alpukat adalah saponin, alkaloid, flavonoid, polifenol, quersetin, senyawa sterin, gula d-persit, dan gula alkohol (Dalimartha 2008).

Senyawa-senyawa yang terdapat dalam daun alpukat dapat digunakan sebagai diuretik, mengobati kencing batu, darah tinggi, sakit kepala, nyeri saraf, nyeri lambung, dan pembengkakan saluran nafas (Anonim 2008). Daun alpukat juga mempunyai aktivitas antibakteri dan menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus strain A dan B, Staphylococcus albus, Pseudomonas sp., Proteus sp., Escherichia coli, dan Bacillus subtilis (Dalimartha 2008).

(5)

Hewan Pe Men dipelihara mengemba laboratorik mencit, tik Tiku mudah dip macam pe galur Spra adalah be panjang d besar dan dari tikus (Malole et ercobaan nurut Malo a atau senga angkan ber k. Beberapa kus, marmo Gam us (Rattus n pelihara, me enelitian. T ague-Dawle erwarna alb dari badanny ekor lebih putih dan t al. 1989). ole et al. aja diternakk rbagai bidan a hewan cob t, hamster, mbar 2 Tik norvegicus) erupakan he Terdapat be ey, Wistar, bino putih, ya. Ciri-ciri h pendek. C memiliki w (1989), he kan sebagai ng ilmu da ba yang digu dan primata kus putih ga ) telah dike ewan yang eberapa galu Long-Evan kepala kec i dari tikus Ciri-ciri dari warna hitam ewan perco i hewan mo lam skala p unakan untu a. alur Sprague etahui sifat-relatif seha ur tikus ya ns. Ciri-ciri cil, dan me Wistar ada i tikus Lon m pada kepa obaan adala odel untuk m penelitian a uk penelitia e-Dawley. -sifatnya de at dan cocok ang umum dari tikus empunyai e alah ditanda ng-Evans ad ala dan tubu

ah hewan mempelajar atau pengam an adalah ke engan semp k untuk ber digunakan Sprague-Da ekor yang ai dengan k dalah lebih uh bagian d yang ri dan matan elinci, purna, rbagai yaitu awley lebih kepala kecil depan

(6)

Ginjal

Ginjal mempunyai fungsi utama untuk mengekskresikan produk sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan seperti urea, asam urat, dan kreatinin. Ginjal juga berperan dalam proses homeostasis (pengaturan garam dan kandungan elektrolit serta volume cairan ekstraselular) dan juga keseimbangan asam basa (Rang et al. 1995). Proses homeostasis dapat dipertahankan dengan menyeimbangkan asupan yang masuk dalam tubuh dengan air dan elektrolit yang diekskresikan. Ginjal dapat juga berperan menyeimbangkan asam basa, bersama dengan paru dan sistem dapar cairan tubuh akan mengekskresikan asam seperti asam sulfur dan asam fosfat serta mengatur penyimpanan dapar cairan tubuh (Guyton et al. 2007).

Menurut strukturnya ginjal terdiri dari kortek, medula, dan pelvis yang kosong sampai ureter. Unit terkecil dari ginjal adalah nefron (Gambar 3), berjumlah sekitar 1.3 x 106. Nefron terdiri dari glomerulus, tubulus proksimal, ansa henle, tubulus distal, dan duktus pengumpul (Rang et al. 1995). Ginjal tidak dapat membentuk nefron baru, oleh karena itu saat terjadi trauma ginjal, penyakit ginjal, atau proses penuaan yang normal akan terjadi penurunan jumlah nefron secara bertahap.

Glomerulus

Glomerulus tersusun dari suatu jaringan kapiler glomerulus yang bercabang dan beranastomosis, yang mempunyai tekanan hidrostatik tinggi (kira-kira 60 mm Hg) bila dibandingkan dengan kapiler lain. Kapiler glomerulus dilapisi oleh sel-sel epitel. Secara keseluruhan, glomerulus dibungkus oleh kapsula Bowman. Arteri renalis masuk ke dalam ginjal melalui hilum, kemudian bercabang menjadi arteri interlobularis, arteri arkuata, dan arteriol aferen. Ketiga arteri ini menuju ke kapiler glomerulus. Ujung distal kapiler pada setiap glomerulus begabung membentuk arteriol eferen, yang menuju ke kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus ginjal (Guyton et al. 2007).

(7)

P bebas yang t konsen dengan Bowm reabso dari ka Tubul T yang m yang s tubulu descen di tubu sangat semula Segme B proksi Pembentuka protein dar terdapat dal ntrasi zat p n plasma. C man dan men orpsi air dan apiler peritu lus Proksim Tubulus pro mengalir da sama, sehin us tetap iso nden dari an ulus menca t hipertonik a) (Guyton en Ascende Bagian asc malis yang Gambar 3 an urin dim i kapiler glo lam plasma ada filtrat g Cairan akan ngalir melew n zat larut s ubulus ke da malis oksimalis m ari glomerul gga hanya s oosmotik te nsa Henle, a apai keseim k (sekitar d et al. 2007) en Ansa He cenden dari g banyak m 3 Struktur ne mulai dengan omerulus ke a, kecuali pr glomerulus n mengalam wati tubulu spesifik kem alam tubulu merupakan lus. Zat terl sedikit terja erhadap pla air direabso mbangan den dua sampai ). enle i ansa Hen ereabsorpsi efron (Dave n filtrasi se e kapsula B rotein, difil dalam kap mi perubahan s. Hal ini di mbali ke da us (Guyton e tempat reab arut dan air adi perubah sma. Ketik orpsi melalu ngan cairan i empat ka nle merupa i natrium, k ey 2010). ejumlah cair Bowman. Se ltrasi secara sula Bowm n ketika kel isebabkan k rah atau sek et al. 2007) bsorpsi zat r direabsorp han osmolar ka cairan m ui proses osm n interstisia li osmolari akan lanjut kalium, dan ran yang ha ebagian bes a bebas seh man hampir luar dari ka karena terja kresi zat-za . t terlarut da psi dalam ju ritas, yaitu c melewati se mosis dan c alis medula itas filtrat g tan dari tu n klorida, n ampir ar zat ingga sama apsula dinya at lain an air umlah cairan gmen cairan yang ginjal ubulus amun

(8)

impermeabel terhadap air walaupun terdapat banyak ADH (anti diuretik hormon). Hal ini menyebabkan cairan menjadi lebih encer (hipoosmotik) ketika memasuki awal tubulus distal (Guyton et al. 2007).

Tubulus Distal

Ketika cairan pada bagian awal tubulus distal melewati bagian akhir tubulus kontortus distal, duktus koligentes kortikolis, dan duktus koligentes mengalami proses reabsorpsi terhadap natrium klorida. Bagian tubulus ini impermeabel terhadap air karena tidak ada ADH. Selain itu, zat-zat terlarut direabsorpsi sehingga cairan tubulus menjadi lebih encer (Guyton et al. 2007). Duktus koligentes

Duktus koligentes terdiri dari dua bagian yaitu, bagian kortikal dan bagian medulla yang akan mengalirkan cairan filtrat dari kortek menuju pelvis renalis. Di duktus koligentes ini akan terjadi perubahan osmolalitas dan volume yang bergantung pada banyaknya vasopresin yang bekerja di duktus ini. Hormon antidiuretik ini berasal dari kelenjar hipofisis yang akan meningkatkan permeabilitas duktus koligentes terhadap air melalui pembentukan cepat kanal air aquoporin-2 di membran luminal sel prinsipal (Ganong 2002).

Diuretik

Diuretik adalah obat yang bekerja pada ginjal untuk meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida. Diuretik dapat meningkatkan penyaringan natrium (natriuresis) yang diikuti ion (biasanya Cl-) pada penggunaan secara klinik. Natrium klorida yang berada dalam tubuh menentukan volume cairan ekstraseluler dan pada pengaplikasian klinis, secara langsung mengurangi volume cairan ekstraseluler dengan menurunkan kandungan NaCl dalam tubuh (Parial et al. 2009).

Secara normal, reabsorpsi garam dan air dikendalikan masing-masing oleh aldosteron dan vasopresin (hormon antidiuretik, ADH). Umumnya diuretik bekerja dengan menurunkan reabsorbsi elektrolit oleh tubulus proksimal. Ekskresi elektrolit yang meningkat diikuti oleh peningkatan ekskresi air, penting untuk mempertahankan keseimbangan osmotik. Diuretik biasanya digunakan untuk

(9)

mengurangi edema pada gagal jantung kongestif, beberapa penyakit ginjal, dan sirosis hepatitis (Neal 2005). Diuretik bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi ion-ion Na+, Cl-, atau HCO3-, yang merupakan elektrolit utama dalam cairan

ekstrasel. Diuretik juga menurunkan reabsorpsi elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan proses pengangkutan aktif (Siswandono et al. 1995). Menurut Sunaryo (2003), fungsi utama diuretik adalah untuk mobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah keseimbangan cairan elektrolit sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal.

Secara umum diuretik dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu diuretik osmotik dan penghambat mekanisme transport elektrolit dalam tubuli ginjal. Diuretik osmotik merupakan zat bukan elektrolit yang mudah dan dapat diekskresikan oleh ginjal (Sunaryo 2003), sedangkan menurut Siswandono et al. (1995) diuretik osmotik merupakan senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi urin dengan mekanisme kerja berdasarkan perbedaan tekanan osmosa (menghambat reabsorpsi air dan zat elektrolit). Diuretik osmotik mempunyai efek samping berupa gangguan keseimbangan elektrolit, pandangan kabur, dehidrasi, takikardia, dan nyeri kepala (Siswandono et al. 1995).

Beberapa jenis obat yang menghambat transport elektrolit di tubuli ginjal dalam Sunaryo (2003) terdiri dari:

a) Penghambat karbonik anhidrase

Kabonik anhidrase adalah enzim yang mengatalisis reaksi antara karbondioksida dan uap air ( CO2 + H2O H2CO3 ). Enzim ini terdapat

dalam sel korteks renalis, pankreas, mukosa lambung, mata, eritrosit, dan sistem saraf pusat, namun tidak terdapat di dalam plasma. Enzim ini dapat dihambat aktivitasnya oleh sianida, azida, dan sulfida, serta derivat sulfonamide seperti asetazolamid dan diklorofenamid (Sunaryo 2003). Kerugian dari inhibitor karbonik anhidrase dapat menyebabkan asidosis akibat hilangnya ion-ion bikarbonat yang keluar bersama urin secara berlebihan (Guyton et al. 2007).

b) Benzotiadiazid

Senyawa benzotiazid atau tiazid dapat berfungsi untuk meningkatkan ekskresi natrium, klorida, dan sejumlah air. Peningkatan natrium dan klorida

(10)

dalam urin disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada tubuli distal (Sunaryo 2003).

c) Diuretik hemat kalium

Diuretik ini bekerja pada segmen yang berespon terhadap aldosteron pada tubulus distal. Aldosteron menstimulsi reabsorpsi Na+ yang mengarahkan ion K+ dan H+ ke dalam lumen. Diuretik menurunkan reabsropsi Na+ dengan mengantagonis aldostreron atau memblok kanal Na+. Hal ini menyebabkan potensial listrik epitel tubulus menurun sehingga eksresi K+ berkurang (Neal 2005). Diuretik hemat kalium mempunyai beberapa kelompok, diantaranya antagonis aldosteron, triamteren, dan amilorid (Sunaryo 2003). Kerugian dari diuretik ini dapat menyebabkan hiperkalemia akut, terutama pada pasien gangguan gagal ginjal (Neal 2005). d) Diuretik kuat

Diuretik kuat mempunyai daya kerja yang sangat kuat daripada diuretik lainnya. Diuretik kuat disebut juga sebagai loop diuretik, karena bekerja di segmen epitel tebal ansa Henle ascenden. Beberapa contoh kelompok ini diantaranya adalah asam etakrinat, furosemid, dan bumetanin. Secara umum diuretik kuat bekerja dengan cara menghambat reabsropsi elektrolit di ansa Henle ascendens segmen epitel tebal (Sunaryo 2003).

Ekstraksi

Ekstraksi adalah peristiwa pemindahan zat terlarut (solut) diantara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi dapat memindahkan dua atau lebih zat berdasar perbedaan koefisian distribusi. Bila zat yang satu memiliki koefisien distribusi yang jauh lebih besar dari yang satu, sedangkan yang lainnya jauh lebih kecil dari yang satu, pemisahan yang hampir sempurna sudah dapat dicapai hanya dengan ekstraksi tunggal (Nur et al. 1989).

Fraksinasi

Fraksinasi adalah proses pemisahan komponen dalam suatu ekstrak menjadi kelompok-kelompok senyawa yang memiliki kemiripan karakteristik secara kimia. Beberapa metode yang digunakan untuk fraksinasi yaitu presipitasi, ekstraksi pelarut, destilasi, dialisis, elektroforesis, dan kromatografi. Penentuan

(11)

metode fraksinasi tergantung beberapa faktor diantaranya, adanya substansi alami yang terdapat dalam ekstrak, pemisahan fraksi seketika, manfaat, harga peralatan dan bahan yang diperlukan, serta keamanan (Houghton et al. 1998).

Pelarut

Pelarut adalah cairan yang digunakan dalam proses pemecahan ikatan suatu persenyawaan untuk selanjutnya membentuk suatu larutan. Energi yang dibutuhkan untuk memecahkan ikatan ini diambil dari energi yang dilepaskan karena terbentuknya ikatan antara partikel yang dilarutkan dengan pelarut. Pemecahan ikatan persenyawaan membutuhkan energi yang cukup besar karena persenyawaan yang berikatan ion hanya larut di dalam air atau pelarut yang sangat polar lainnya. Hal itu juga terjadi pada persenyawaan kovalen polar yang hanya larut dalam pelarut polar dan persenyawaan kovalen non polar hanya larut dalam persenyawaan non polar (Winarno et al. 1973).

Etil asetat

Etil asetat merupakan senyawa ester dengan rumus kimia CH3COOC2H5.

Etil asetat dihasilkan dari reaksi antara etanol (etil alkohol) dengan asam asetat. Pelarut ini digunakan sebagai pelarut dan obat-obatan (Basri 2005) dengan berat jenis 0.90 pada suhu 27 0C (Patil et al. 2009). Menurut Wilson et al. (1982), etil asetat, ester asetat, nafta vinegar, di dapat secara destilasi lambat campuran etil alkohol, asam asetat, dan asam sulfat. Cairan tidak berwarna, transparan, bau harum, segar dan sedikit seperti aseton dan rasa aneh, seperti aseton dan membakar. Etil asetat dapat bercampur dengan eter, alkohol dan minyak lemak dan atsiri. Etil asetat sekarang digunakan secara luas dalam industri sebagai pelarut. Etil asetat merupakan pelarut semi polar dan dapat melarutkan senyawa semipolar pada dinding sel (Harborne 1987).

Heksan

Heksan merupakan hidrokarbon alifatik tak jenuh dengan rumus kimia CH3(CH2)4CH3. Termasuk dalam alkana, berbentuk cairan beruap, tidak

berwarna, mudah terbakar, larut dalam alkohol, eter, dan aseton namun tidak larut dalam air. Heksana didapat dari penyulingan bertingkat petroleum. Heksana digunakan sebagai pelarut dan pengencer cat (Basri 2005). Heksan

(12)

termasuk dalam senyawa non polar sehingga gaya tarik antara molekul lemah. Heksan memiliki berat yang lebih ringan dari air dan titik didihnya adalah 69

0

C (Brieger 1969). Berat jenis pelarut heksan adalah 0.659 pada suhu 20 0C (Cheremisinoff et al. 2003). Pelarut heksan dapat melarutkan senyawa non polar seperti lilin, lemak, dan terpenoid (Nurmillah 2009).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji aktivitas antimikroba ekstrak metanol, etil asetat dan n-heksana biji alpukat (Persea americana Mill.) menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan mikroba patogen Candida

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antidiabetes ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill) terhadap tikus galur wistar yang

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian fraksi n-butanol ekstrak etanol daun alpukat ( Persea americana Mill.) terhadap penurunan glukosa darah pada

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pemberian fraksi n-butanol ekstrak daun alpukat (Persea americana Mill.) memiliki aktivitas dalam menurunkan

etil asetat ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) secara oral dengan peningkatan efek penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan..

Setiap kelompok tikus laktasi (n=5), galur Sprague dawley dengan enam ekor anak tikus, diberikan fraksi etil asetat dari daun torbangun (FEA) dosis 30 mg/kg BB, dibandingkan

Pemanfaatan Tepung Biji Alpukat ( Persea americana Mill .) dalam Ransum terhadap Performa Ayam Ras Pedaging Utilization of Avocado Seed Flour ( Persea americana Mill .)

6 menggunakan ekstrak etil asetat biji alpukat (Persea americana Mill.) 3,25 gram terhadap Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes menunjukkan adanya